Anda di halaman 1dari 22

REFERAT GRANULOMA INGUINALE

REFERAT GRANULOMA INGUINALE OLEH: AFIATI 1111103000002 Pembimbing : dr. Retno Sawitri, Sp.KK dr. Shinta J. B.

OLEH:

AFIATI

1111103000002

Pembimbing :

dr. Retno Sawitri, Sp.KK dr. Shinta J. B. T. R., Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KULIT DAN KELAMIN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BEKASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI UIN SYARIF HIDATULLAH JAKARTA 1435 H/2015

1

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama

: AFIATI

NIM

: 1111103000002

Judul Referat

: Granuloma Inguinale

Telah menyelesaikan tugas referat dalam rangka kepaniteraaan klinik pada bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bekasi, Juli 2015

Pembimbing I

dr. Retno Sawitri, Sp.KK

Pembimbing II

dr. Shinta J. B. T. R, Sp.KK

1

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim. Puji Syukur kita panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah memberikan nikmat islam, iman, dan ikhsan sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Granuloma Inguinale” ini tepat pada waktunya. Terima kasih penulis ucapkan kepada dr. Retno Sawitri, Sp.KK dan dr. Shinta J. B. T. R., Sp.KK yang telah memberi kesempatan dan waktunya untuk menjadi pembimbing dalam menyelesaikan referat ini. Penulis menyadari bahwa referat ini masih banyak kekurangan. Kritik dan saran yang membangun penulis harapkan dari semua pihak demi kesempurnaan referat ini. Demikian semoga referat ini dapat bermanfaat.

Bekasi, Juni 2015

Penulis

2

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………….

1

KATA PENGANTAR………………………………………………………………….

2

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………

3

DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………… ..

4

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………

6

  • 2.1 Definisi……………………………………………………………………….

6

  • 2.2 Epidemiologi……………………………………………………………… ...

6

  • 2.3 Etiologi……………………………………………………………………….

7

  • 2.4 Patogenesis………………………………………………………………… ..

8

  • 2.5 Manifestasi Klinis………………………………………………………… ...

9

  • 2.6 Pemeriksaan Penunjang……………………………………………………

11

  • 2.7 Diagnosis…………………………………………………………………… ..

12

  • 2.8 Diagnosis Banding………………………………………………………… ..

13

  • 2.9 Tatalaksana………………………………………………………………….

16

  • 2.10 Komplikasi………………………………………………………………….

17

  • 2.11 Prognosis…………

...

18

  • 2.12 Pencegahan………… …………………………………………………

...

18

BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………

19

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….

20

3

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Donovan bodies dalam makrofag dengan pewarnaan Giemsa.....

8

Gambar 2.2 Granuloma Inguinale.……………………………… ………… ..

..

10

Gambar 2.3 Ulkus Durum Pada Sifilis Primer……………………………… ..

14

Gambar 2.4 Ulkus Mole..……………………………………………………..

15

Gambar 2.5 Limfogranuloma Vereneum…………………………………… ..

16

4

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu penyebab masalah

kesehatan, sosial, dan ekonomi di banyak negara, termasuk di Indonesia. IMS

menempati peringkat 10 besar alasan berobat di negara berkembang, dimana

granuloma inguinale merupakan salah satu dari penyakit menular seksual. 1

Granuloma inguinale pertama kali ditemukan oleh McLeod, profesor dari

Calcutta, India tahun 1882 dengan gambaran klinis berupa ulkus serpiginosa. 2,3

Granuloma inguinale merupakan penyakit kelamin dengan gambaran klinis

berupa ulkus yang granulomatosa, kronik, progresif lambat, yang disebabkan oleh

Klebsiella granulomatis yang mengenai daerah genital, perianal, dan inguinal. 4

Granuloma inguinale ditularkan melalui hubungan seksual dan non seksual yaitu

pada keadaan higiene buruk melalui autoinokulasi feses pada kulit yang tidak

utuh. 3

Penyakit ini terutama terdapat di daerah tropis dan subtropis. 3 Pada tahun

1992 dan 1952 dilaporkan insidensi puncak yaitu terdapat 10.000 kasus dari

15.000 populasi di Papua New Guinea. 3 Namun saat ini insidensi granuloma

inguinale sudah sangat jarang ditemukan, termasuk di daerah yang sebelumnya

endemis yaitu Papua New Guinea, Afrika Selatan, Australia Tengah, Brazilia,

Karibia, beberapa bagian India dan Indonesia dimana kejadiannya ditemukan

kurang dari 100 kasus setiap tahunnya. 3,5 Penyakit ini terjadi pada kelompok usia

produktif yaitu kelompok usia 20-40 tahun. 3 Berdasarkan jenis kelamin, kejadian

granuloma inguinale lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan

dengan rasio 6:1. 3

Perjalanan penyakit granuloma inguinale bersifat kronik, progresif dan

terkadang timbul residif setelah 6-18 bulan diberikan pengobatan, oleh karena itu

diperlukan kontrol dalam jangka waktu yang lama yakni beberapa bulan sampai

beberapa tahun setelah pengobatan berhasil. 6,7

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1 Definisi

Granuloma inguinale atau nama lainnya Donovanosis adalah suatu

penyakit infeksi bakteri kronik yang bersifat progresif lambat, dengan

gambaran klinis berupa ulkus granulomatosa ditularkan melalui hubungan

seksual dan hiegine yang buruk disebabkan oleh Klebsiella granulomatis

yang mengenai regio anogenital, perianal, dan inguinal. 4

  • 2.2 Epidemiologi

Granuloma inguinale terutama terdapat di daerah tropis dan subtropis. 3

Penyakit ini endemis pada negara Australia Tengah, Papua New Guinea,

India Selatan, Indonesia, Afrika Selatan, Karibean, Peru, Argentina, Brazil

dan Amerika Selatan. 2,8 Pada awal abad 20 yaitu tahun 1974 di Amerika

Serikat dilaporkan terdapat sekitar 5.000-10.000 kasus granuloma inguinale

dan terjadi penurunan kejadian setelah penggunaan antibiotik yang efektif

yaitu kurang dari 20 kasus setiap tahunnya. 8 Papua New Guinea adalah area

dengan kejadian terbanyak penyakit granuloma inguinale. Tahun 1980

terdapat 46% kasus ulkus genitalia pada perempuan disana. Penelitian di 5

pusat kesehatan tahun 1989-1990 melaporkan granuloma inguinale

merupakan penyebab ulkus genitalia tersering kedua setelah herpes genital

dan penyebab tersering dari IMS pada tahun 1992-1993 di provinsi Porgera

Enga, Papua New Guinea. Dan tahun 1952-1992 terjadi insidensi puncak

granuloma inguinale yaitu 10.000 kasus dari 15.000 populasi di Papua New

Guinea. 3 Di India tahun 1993-1997, sekitar 14% kasus ulkus genitalia

disebabkan oleh granuloma inguinale dan 15% diantaranya penderita HIV

positif. 3

Saat ini insidensi granuloma inguinale sudah sangat jarang ditemukan,

termasuk di daerah yang sebelumnya endemis. Di Australia tahun 1998

6

terjadi penurunan insidensi granuloma inguinale setelah didirikannya

National Donovanosis Eradication Andvisory Committee dan pada tahun

2004 hanya terdapat 5 kasus disana. 3,8 Tahun 2006, CDC (Center for Disease

Control and Prevention) melaporkan bahwa Brazil sudah tidak termasuk area

endemis untuk IMS. 2

Penyakit ini sering dijumpai pada usia produktif, yaitu usia 20-40 tahun. 3

Berdasarkan jenis kelamin, kejadian granuloma inguinale lebih sering terjadi

pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 6:1. 3 Hasil studi Rajam

dan Rangiah di Zimbabwe dan India Selatan menyatakan kejadian granuloma

inguinale lebih banyak pada laki-laki yaitu 1.350 kasus dari pada perempuan

562 kasus. 3

2.3 Etiologi

Pada tahun 1905 Donovan menemukan adanya badan intraseluler pada

sediaan apus bahan yang diambil dari ulkus penderita granuloma inguinale di

Madras, India. Badan intraseluler ini disebut Donovan bodies (badan-badan

Donovan). 3 Donovan bodies berukuran 1.5 x 0.7 µm dalam makrofag dan sel

epitel pada stratum malpighi. 3 Aragao dan Vianna berhasil mengidentifikasi

bakteri hasil kultur dari ulkus penderita granuloma inguinale yaitu

Calymmatobacterium granulomatis. 3

Dalam buku FitzPatricks, donovanosis disebabkan oleh Klebsiella

granulomatis, sebelumnya disebut dengan Calymmatobacterium

granulomatis. Pergantian nama spesies tersebut dikarenakan terdapat

kesamaan >99% morfologi dan karakter serologis dengan Klebsiella sp dan

setelah dilakukan pemeriksaan PRC bakteri tersebut memiliki gen phoE dan

gen 16S ribosomal RNA yang homolog dengan Klebsiella pneumoniae dan

Klebsiella rhinoscleromatis. 6

Klebsiella granulomatis merupakan bakteri gram negatif, berbentuk

batang pendek, intraseluler, pleomorfik, tidak motil, dan termasuk organisme

fakultatif. Klebsiella granulomatis bersifat patogen hanya pada manusia dan

dapat berkembang dalam embrio ayam. Hasil pemeriksaan dengan mikroskop

7

elektron menggambarkan Klebsiella granulomatis memiliki kapsul yang

besar, tidak berflagel, dan terdapat filiform pada dinding selnya. 8 Basil

dikelilingi oleh kapsul yang berbatas tegas dapat dilihat dengan pewarnaan

Wright, kapsul berwarna merah muda dan berbentuk bipolar. Reproduksi

bakteri terjadi dalam fokus multiple pada sel-sel sampai vakuol berisi 20-30

organisme, kemudian tejadi lisis, dan keluar organisme yang mature. 9

elektron menggambarkan Klebsiella granulomatis memiliki kapsul yang besar, tidak berflagel, dan terdapat filiform pada dinding selnya.

Gambar 2.1 Donovan bodies dalam makrofag dengan pewarnaan Giemsa

Sumber : Handsfield Hunter, 2011

2.4 Patogenesis

Penularan granuloma inguinale melalui hubungan seksual, baik genital-

genital, oral-genital, maupun ano-genital dan non seksual yaitu pada keadaan

higiene buruk melalui autoinokulasi feses pada kulit yang tidak utuh atau kulit

yang mudah terkena trauma. 3 Selain itu penularanya dapat melalui transmisi

perinatal, dari ibu dengan granuloma inginale ke neonatus. 8

Klebsiella granulomatis merupakan flora normal pada usus manusia, dapat

ditransmisikan ke regio anogenital melalui autoinokulasi atau hubungan

seksual. 11 Pada dinding bakteri Klebsiella granulomatis terdapat

Lipopolysaccharides (LPS) sebagai faktor patogen, yang akan mengaktivasi

sel-sel inflamasi dan komplemen, serta dapat menyebabkan deposisi

8

komplemen C3b sehingga menghambat pembentukan MAC (Membrane

Attack Complex) yang mencegah kerusakan membran dan kematian sel

bakteri. Selain itu, bakteri ini memiliki kapsul polisakaria yang merupakan

lapisan proteksi dari fagositosis polimorfonuklear granulosit dan dapat

menghambat aktivasi C3b. Bakteri ini juga memproduksi adhesin yang akan

membantu bakteri untuk penetrasi pada sel host. 12 Setelah penetrasi pada kulit,

Klebsiella granulomatis dapat menyebabkan respon inflamasi yang

menstimulus pelepasan mediator inflamasi sehingga terjadi destruksi

jaringan. 11

Lesi primer dimulai sebagai satu nodus yang keras (berindurasi), kalau

terjadi kerusakan pada permukaanya terjadi ulkus yang berwarna seperti

daging dan granulomatosa. Biasanya berkembang perlahan-lahan, sering

menjadi satu dengan lesi yang berhubungan atau membentuk lesi baru dengan

autoinokulasi, terutama pada daerah perianal. Timbul akantosis hebat dan

terdapat banyak histiosit. Beberapa leukosit PMN terdapat dalam fokus

infiltrat atau tersebar, limfosit jarang ditemukan. 9

Gambaran patognomonik donovanosis adalah sel mononuklear besar yang

terinfeksi berisi banyak kista intrasitoplasmik yang diisi oleh badan-badan

Donovan. Infeksi sekunder akan menimbulkan destruksi jaringan kemudian

terjadi sikatriks. 9

2.5 Manifestasi Klinis

Masa inkubasi berkisar antara 3 hari sampai 3 bulan, umumnya 2-3

minggu dan dapat sampai 1 tahun. 6,8 Lesi kulit ditemukan pada neonatus

sekitar 6 minggu sampai 6 bulan setelah lahir. 8 Umumnya tidak dijumpai

demam atau gejala sistemik lain. Penyakit diawali dengan nodul subkutan

tunggal atau multipel, kemudian mengalami erosi, menimbulkan ulkus

berbatas tegas, berkembang lambat dan mudah berdarah. Ulkus dapat

dijumpai di regio genital 90% yaitu penis (glans, preputium, batang penis,

pertemuan penis-skrotum), vulva, labia mayora, serviks, mons pubis, regio

anal dan perianal 5-10% dan regio inguinal 10%. 8,9

9

Ulkus di daerah mukokutan yang progresif lambat dan dapat meluas.

Ulkus tanpa rasa nyeri. Tepi ulkus dapat meninggi, tidak teratur, batas tegas,

dan berindurasi. Dasar ulkus yang masih baru dipenuhi cairan berwarna merah

darah. Pada ulkus yang sudah lama, dasar ulkus berupa jaringan granulasi,

berwarna merah, mudah berdarah, dengan cairan seropurulen yang berbau

busuk. Adanya pus menandakan terjadi infeksi sekunder. Ulkus yang luas

dapat menetap dan bertambah luas selama beberapa tahun, menyerupai

kanker. Limfadenopati jarang terjadi kecuali terdapat superinfeksi bakteri. 6,9

Terdapat empat varian klinis 8,9 :

Ulsero granulomatosa atau nodular : berupa jaringan granulasi merah dan

hipertropik yang mudah berdarah.

Hipertropik : berupa lesi-lesi eksofitik menyerupai veruka dalam jumlah

banyak (cauliflower or wartlike lession).

Nekrotik : berupa ulkus dalam dengan destruksi jaringan yang luas,

dengan eksudat yang berbau busuk.

Sklerotik : berupa fibrosis dengan dasar yang mengering.

Ulkus pada ekstra genital ditemukan pada 6% kasus. Donovanosis oral

merupakan manifestasi klinis tersering dari ulkus ekstra genital. Ulkus mudah

berdarah, terdapat rasa nyeri, biasanya ulkus terjadi pada bibir, terjadi edema

kelenjar liur dan edema palatum. Donovanosis juga dapat mengenai tulang,

dimana pada 50% kasus mengenai tulang tibia. Gejalanya berkaitan dengan

simptom konstitusional (berat badan turun, demam, keringat malam hari, dan

lemas) dan ini biasanya terjadi pada perempuan. 8

Ulkus di daerah mukokutan yang progresif lambat dan dapat meluas. Ulkus tanpa rasa nyeri. Tepi ulkus

Gambar 2.2 Granuloma Inguinale

Sumber : Hart G, 2012

10

2.6 Pemeriksaan Penunjang

  • 2.6.1 Apusan Jaringan (Tissue Smear)

Apusan jaringan yang diperoleh dari kerokan tepi jaringan

ulkus dan diwarnai dengan Giemsa, Wright, atau pewarnaan

Leisman. Identifikasi organisme secara histologis dalam vakuol di

dalam sitoplasma makrofag (Donovan bodies). Organisme

berbentuk seperti peniti atau pegangan telepon. 7,13

  • 2.6.2 Kultur

Pemeriksaan kultur dengan bahan feses dilaporkan dapat

ditemukan Klebsiella granulomatis dengan monocyte co-culture

system dan modified Chlamydia culture. 15 Dapat digunakan media

biakan jaringan dan telur ayam. 9

  • 2.6.3 PCR (Polymerase Chain Reaction)

Pemeriksaan PCR lebih dipilih untuk penelitian dan

hasilnya lebih sensitif. 15 Pada penyakit ulkus genital pemeriksaan

PCR sudah berkembang dengan teknik amplifikasi asam nukleat

Klebsiella granulomatis primer. 13

  • 2.6.4 Serologis

Teknik pemeriksaan immunofluoresensi tidak langsung

menggunakan bagian tipis dari lesi granuloma inguinale sebagai

sumber antigen. Dapat ditemukan antibodi ikatan komplemen

terhadap Klebsiella granulomatis, tetapi sensitivitas dan

spesifisitas rendah untuk infeksi awal. 9,15

  • 2.6.5 Biopsi

Hasil pemeriksaan mikroskopik pada lesi yang aktif berupa

gambaran hiperplasia epitel pada tepi ulkus yang menyerupai

gambaran mikroskopik karsinoma (pseudoepitheliomatous

hyperplasia). Pada dermis terlihat infiltrate padat yang terdiri dari

11

histiosit dan sel plasma. Ditemukan Donovan bodies, neutrofil dan

sel-sel inflamasi mononuklear pada basal ulkus dan sekitar

epitel. 9,14

2.7 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaa fisik dan

pemeriksaan penunjang. Masa inkubasi granuloma inginale berkisar antara

3 hari sampai 3 bulan, umumnya 2-3 minggu dan dapat berlangsung lama

hingga 1 tahun. 6,8

  • 2.7.1 Anamnesis

Insidensi tinggi pada kelompok usia dengan aktivitas

seksual paling banyak yaitu usia 20-40 tahun, pada kelompok

homoseksual, dan pada sexual workers. 3,16 Pada anamnesis

terdapat kontak seksual sebelum timbulnya lesi, lesi tidak terasa

nyeri, umumnya tidak terdapat demam atau gejala sistemik

lainnya. 7

  • 2.7.2 Pemeriksaan Fisik

Penyakit diawali dengan papul pada kulit atau nodus

subkutan tunggal atau multipel, kemudian mengalami erosi,

menimbulkan ulkus berbatas tegas, berkembang lambat dan mudah

berdarah. 2,7 90% ulkus terjadi pada regio genital, 10% regio

inguinal, dan 5-10% region anal-perianal. 8 Pada laki-laki regio

genital tersering terjadinya ulkus yaitu penis, skrotum, dan glans,

sedangkan pada perempuan yaitu labia dan perineum. 6 Empat

varian klinis berupa ulsero granulomatosa, hipertropik, nekrotik,

dan sklerotik. 10 Ulkus dapat meluas, persisten, dan progesif lambat

dalam beberapa tahun menyerupai karsinoma. 10

  • 2.7.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dapat berupa apusan jaringan,

kultur, PCR, biopsi, dan serologis. Ditemukan Donovan bodies

12

pada pemeriksaan apusan jaringan dari kerokan tepi jaringan ulkus

yang diwarnai dengan Giemsa, Wright, atau pewarnaan Leisman.

Terkadang diperlukan biopsi bila terdapat kasus dengan dugaan

granuloma inguinale secara klinis, namun sediaan apusan jaringan

secara berulang tidak ditemukan Donovan bodies, hal ini juga

dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan. 7 Hasil

pemeriksaan histologi berupa gambaran proliferasi epitel,

hiperplasia epitel, infiltrate sel-sel inflamasi, neutrofil, dan sedikit

ditemukan limfosit. Ukuran diameter sel mononuklear sekitar 25-

90 µm dengan lebih dari 20 intrasitoplasma vakuol terdapat

Donovan bodies. 8

2.8 Diagnosis Banding

Pada tahap awal granuloma inguinale dapat didiagnosis banding dengan

ulkus sifilis primer dan ulkus mole. Pada tahap lanjut, dapat didiagnosis

dengan limfogranuloma venereum. 7

2.8.1 Sifilis Primer

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema

palidum, sangat kronik dan bersifat sistemik. Dalam perjalanannya

dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dapat menyerupai banyak

penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin.

Masa tunas biasanya 2-4 minggu. Treponema palidum invasi ke

dalam selaput mukosa atau kulit yang telah mengalami lesi atau

mikrolesi secara langsung, biasanya melalui kontak seksual. T.Pallidum

akan berkembang biak kemudian menyebar secara limfogen dan

hematogen.

Kelainan kulit diawali dengan papul lentikular yang permukaannya

segera menjadi erosi kemudian menjadi ulkus. Ulkus tersebut biasanya

bulat, solitary, dasarnya ialah jaringan granulasi berwarna merah dan

bersih. Dindingnya tidak bergaung, kulit disekitarnya tidak

menunjukkan tanda-tanda inflamasi akut. Yang khas adalah ulkus

13

tersebut indolen dan teraba indurasi karena itu disebut ulkus durum.

Pada laki-laki tempat yang sering terkena adalah sulkus koronarius,

sedangkan pada perempuan di labia minor dan labia mayor. Ini dapat

sembuh sendiri antara 3-10 minggu, dan biasanya setelah 1 minggu

terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional di inguinalis

medialis.

tersebut indolen dan teraba indurasi karena itu disebut ulkus durum. Pada laki-laki tempat yang sering terkena

Gambar 2.3 Ulkus Durum Pada Sifilis Primer

Sumber : Sanchez Miguel, 2008

2.8.2 Ulkus Mole

Ulkus mole atau sering disebut chancroid adalah penyakit

ulkus genital akut, setempat, dan dapat autoinokulasi yang

disebabkan oleh Haemophillusducreyi dengan gejala klinis berupa

ulkus di tempat masuknya kuman dan seringkali disertai supurasi

kelenjar getah bening.

Masa inkubasi berkisar 3-7 hari, tanpa gejala prodromal.

Diawali dengan papul inflamasi yang cepat berkembang menjadi

ulkus nyeri dalam 1-2 hari. Ulkus multiple, dangkal, tidak terdapat

indurasi, sangat nyeri, bagian tepi bergaung, rapuh, tidak rata, kulit

dan mukosa di sekililing ulkus eritematosa. Dasar ulkus dilapisi

oleh eksudat nekrotik kuning keabu-abuan dan mudah berdarah.

Ulkus dapat menyebar ke perineum, anus, skrotum, tungkai atas,

abdomen bagian bawah sebagai akibat autoinokulasi.

14

Ulkus pada laki-laki berlokasi di preputium, frenulum, dan

sulkus koronarius, sedangkan pada perempuan terdapat di introitus,

vestibulum, dan labia minor. Pasien perempuan terkadang tidak

menyadari dirinya telah terinfeksi, keluhan pada perempuan

seringkali tidak berhubungan dengan ulkus, seperti disuria, nyeri

saat defekasi, dispareunia, atau leukorea. Beberapa varian ulkus

mole diantaranya dwarf chancroid, follicular chancroid, giant

chancroid, transient chancroid, phagedenic chancroid,

serpigenous chancroid, popular chancroid, dan mixed chancroid.

Ulkus pada laki-laki berlokasi di preputium, frenulum, dan sulkus koronarius, sedangkan pada perempuan terdapat di introitus,

Gambar 2.4 Ulkus Mole

Sumber : Lautenschlager Stephan, 2008

2.8.3 Limfogranuloma Vereneum

Limfogranuloma vereneum adalah infeksi menular seksual

sistemik yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serovar L1,

L2 dan L3. Bentuk yang tersering ialah sindrom inguinal, berupa

limfadenitis dan periadenitis beberapa kelenjar getah bening

inguinal medial dengan lima tanda inflamasi akut dan disertai

gejala konstitusi.

Masa tunas penyakit ini 1-4 minggu. Gejala konstitusi

timbul sebelum penyakitnya mulai dan biasanya menetap selama

sindrom inguinal. Gejala tersebut berupa malaise, nyeri kepala,

atralgia, anoreksia, mual, dan demam. Gambaran klinisnya dapat

dibagi menjadi bentuk dini, yang terdiri dari afek primer serta

sindrom inguinal dan bentuk lanjut yang terdiri dari sindrom

15

genital, anorektal, dan uretral. Waktu terjadinya afek primer hingga

sindrom inguinal 3-6 minggu, sedangkan dari bentuk dini hingga

bentuk lanjut satu sampai beberapa tahun.

genital, anorektal, dan uretral. Waktu terjadinya afek primer hingga sindrom inguinal 3-6 minggu, sedangkan dari bentuk

Gambar 2.5 Limfogranuloma Vereneum

Sumber : Ghosn Samer, 2008.

2.9 Tatalaksana

  • 2.9.1 Prinsip pengobatan 7 :

Lama pengobatan antara 3 minggu sampai 3 bulan, hingga sembuh.

Bila bersamaan dengan infeksi HIV, diperlukan waktu pengobatan

yang lebih panjang.

  • 2.9.2 Pengobatan spesifik 17

Lini pertama

  • - Azitromisin 1 gram per oral 1x/minggu atau 500 mg/hari

selama 3 minggu.

Lini kedua

  • - Doksisiklin 2 x 100mg/hari minimal selama 3 minggu

  • - Ciprofloksasin 2 x 750mg/hari minimal selama 3 minggu

  • - Eritromisin 4 x 500mg/hari minimal selama 3 minggu

  • - Trimethoprim-sulfamethoxazole (160mg/800mg) tablet per oral 2x/hari minimal selama 3 minggu

16

2.9.3 Keadaan Khusus

Granuloma inguinale dengan Kehamilan

Doksisiklin tidak boleh diberikan pada trimester kedua dan ketiga

kehamilan karena dapat menyebabkan diskolorasi gigi dan tulang.

Ciprofloksasin dilaporkan dapat merusak kartilago pada animal

studi. Oleh karena itu, perempuan yang hamil dan menyusui dapat

diberikan pengobatan golongan makrolide (azitromisin atau

eritromisin).

Infeksi HIV

Pasien dengan infeksi granuloma inguinale dan HIV memperoleh

pengobatan yang sama dengan pasien granuloma inguinale tanpa

HIV. Antibiotik tambahan dapat diberikan jika tidak ada perbaikan

dalam beberapa hari setelah pengobatan. Antibiotik yang menjadi

pilihan yaitu aminoglikosida (gentamisin 1mg/kgBB intravena

setiap 8 jam).

2.10 Komplikasi

Komplikasi genital dari granuloma inguinale adalah edema genital yang

dapat menjadi pseudoelephantiasis, fimosis, parafimosis, dan destruksi

progresif jaringan sehingga dapat terjadi deformitas genital, pada bentuk

sklerotik terjadi stenosis uretra, vagina, dan lubang anus. Lesi dapat menetap

pada regio genital dan regio perianal. Dapat terjadi hiperplasia

pseudoepiteliomatosa, yang sulit dibedakan dengan karsinoma baik secara

klinis maupun histologis. Keganasan dapat berupa karsinoma sel basal atau

karsinoma sel skuamosa. 6,9

Komplikasi ekstragenital dilaporkan terjadi sekitar 6% dari seluruh kasus

granuloma inguinale yang menyebar secara hematogen dari infeksi primer.

Umumnya komplikasi ektragenital terjadi pada mukosa mulut, leher, kulit

kepala, toraks, lengan dan tungkai. Pada mukosa mulut dapat menimbulkan

edema, ulkus, dan perdarahan pada kelenjar parotis dan palatum serta dapat

menyebabkan hilangnya gigi. Pada kasus yang berlangsung lama dapat

menyebabkan adanya fibrosis dan mikrostomia. Penyebaran secara

17

hematogen akan menimbulkan manifestasi klinis berupa gejala sistemik yaitu

demam, anoreksia, dan penurunan berat badan. Lesi metastatik ini dapat

mengenai tulang dimana 50% kasus paling sering mengenai tulang tibia, dan

organ-organ viseral seperti usus, hati, limpa, dan paru-paru. 6,8,9

  • 2.11 Prognosis

Pada kasus dini, prognosis baik untuk kesembuhan total dan dapat kambuh

setelah 6-18 bulan diberikan pengobatan, oleh karena itu diperlukan kontrol

dalam jangka waktu yang lama yakni beberapa bulan sampai beberapa tahun

setelah pengobatan berhasil. 6,7 Pada kasus yang sudah lanjut dapat terjadi

destruksi jaringan yang memerlukan pembedahan radikal. 7

  • 2.12 Pencegahan 10

Tidak melakukan kontak seksual baik secara genital-genital, oro-genital,

maupun ano-genital dengan banyak partner. Melakukan kontak seksual

hanya dengan satu orang.

Melakukan tes untuk PMS termasuk HIV.

Setiap individu yang melakukan kontak seksual dengan penderita

granuloma inguinale dalam 60 hari harus melakukan pemeriksaan dan

diberikan pengobatan.

Jika seorang perempuan berencana untuk hamil atau sedang hamil

dilakukan tes untuk PMS dan HIV segera mungkin sebelum bayi lahir.

Anak yang dilahirkan dari ibu penderita granoloma inguinale yang tidak

diobati diberikan profilaksis azitromisin 20mg/kg selama 3 hari.

Memberikan penyuluhan dan pendidikan mengenai PMS dan HIV serta

layanan untuk mencegah IMS. Jika terinfeksi maka sangat penting untuk

mengurangi penyebaran PMS dan HIV serta memastikan bahwa pasien

yang berisiko tinggi tertular atau menularkan penyakit diberi alat untuk

melindungi diri sendiri dan orang lain dari infeksi.

18

BAB III

KESIMPULAN

Granuloma inguinale merupakan salah satu penyakit menular seksual yang

disebabkan oleh Klebsiella granulomatis. Penyakit ini dijumpai pada kelompok

usia dengan aktivitas seksual paling banyak yaitu usia 20-40 tahun, pada

kelompok homoseksual, dan pada sexual workers.

Granuloma inguinale biasanya tidak terasa nyeri dan umumnya tidak

terdapat demam atau gejala sistemik lainnya. Masa inkubasi granuloma inguinale

berkisar antara 3 hari sampai 3 bulan, umumnya 2-3 minggu dan dapat

berlangsung hingga 1 tahun. Granuloma inguinale dapat mengenai regio genitalia,

perinanal dan inguinal. Penyakit ini diawali dengan papul pada kulit atau nodus

subkutan tunggal atau multipel, kemudian mengalami erosi, menimbulkan ulkus

berbatas tegas, berkembang lambat dan mudah berdarah. Penyakit ini bersifat

kronik dan dapat residif, oleh karena itu diperlukan kontrol beberapa bulan setelah

pengobatan selesai.

Penularan penyakit granuloma inguinale terjadi melalui kontak seksual

baik secara genital-genital, oral-genital, maupun anal-genital. Salah satu cara

untuk menghindari penularan penyakit seksual adalah tidak melakukan kontak

seksual dengan banyak orang atau dengan kata lain hanya melakukan kontak

seksual dengan satu orang yang telah diketahui status kesehatannya.

19

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Aditama, Tjandra Yoga. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2011. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI; 2011. h 1-3.

  • 2. Velho P, Elemir M, Junior WB. Donovanosis. Brazilian Journal of Infectious Diseases 2008; 12(6) : 521-25.

  • 3. O’Farrel N. Donovanosis. In : Holmes K, Sparling PR, Stamm WE, Corey L, Cohen M, Watts D, editors. Sexual Transmitted Diseases. United States of America: Mc Graw Hill; 2008.p.1990-1993. 703-706.

  • 4. Dorland W. Kamus Saku Kedokteran Dorland. 28 th ed. Hartanto YB, editor. Jakarta: EGC; 2012.

  • 5. Barroso LF, Wispelwey B. Donovanosis presenting as a pelvic mass mimicking ovarian cancer. South Med J. 2009; 102(1): 104-5.

  • 6. Kibbi A, Shareef M. Granuloma Inguinale. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th edition. United States of America: Mc Graw Hill; 2011.p.1990-1993.

  • 7. Indriatmi, Wresti. Granuloma Inguinale. Dalam : Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. Jakarta : EGC; 2015. h 488-89.

  • 8. Hart G. Donovanosis. In : Longo D.L, Fauci A.S., Kasper D.L, Hauser S.L, Jameson J.L, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine.

    • 18 th ed. United States of America; Mc Graw Hill Companies; 2012.p 932-

34.

  • 9. Judanarso J. Granuloma Inguinale. Dalam : Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta : EGC; 2013. h 422-25.

10. Hansfield H. Donovanosis. In : Hunter H, editor. Color Atlas & Synopsis

of Sexually Transmitted Disease. 3 rd ed. United States of America; Mc

Graw Hill Companies; 2011.p 99-101.

20

11.

Hof H. Calymmatobacterium Granulomatis. (updated 2014 May 9; cited

2015 June 11).Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/

  • 12. Mandell. Enterobacteriaceaec. In : Mandell, Douglas, and Bennett’s Principles and Practice of Infectious Disease. 7 th ed. Churchill Livingstone, An Imprint of Elsevier; 2009.

  • 13. O’Farrell N. 2010 European guideline on donovanosis. London : European guideline 2015;1-6.

  • 14. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi robbins. 7th ed. Jakarta: EGC; 2009.

  • 15. Sardana K. Donovanosis. Dermatol Online J. 2008;14(9):8.

  • 16. Richens J. Donovanosis (granuloma inguinale). Sex Transm Infect 2006;8(4) : 21-22.

  • 17. Workowski K, Bolan G. Sexual Transmitted Disease Treatment Guideline. Donovanosis. (updated 2014 August 20; cited 2015 June 11).Available from: http://www.cdc.gov/std/treatment/resources.htm

21