Anda di halaman 1dari 3

Tabel 3.

Durasi rawat inap


Penemuan bakteri yang diambil dari kultur telinga tengah dan superiosteal dalam 21
kasus telah dilaporkan dalam tabel 2. Streptococcus pneumoniae adalah organism yang paling
banyak didapat, dan disertai oleh Staphylococcus aureus dalam 2 kasus. Streptococcus
pneumoniae ditemukan sensitive terhadap penisilin dalam 9 sampel, dimana dalam 9 sampel itu
didapatkan, 1 sensitive sedang dan 1 sampel resisten terhadap penisilin. Pada 4 pasien terdapat
infeksi Pseudomanas Aeruginosa.
Pengobatan yang dini akan berimplikasi kepada angka kesembuhan yang tinggi pada fase
akut mastoiditis (95%). Pada 3 pasien dengan kolesteatoma, semuanya kemudian menjalani
radical mastoidectomy. 2 pasien membutuhkan managemen operatif yang lebih jauh pada
mastoiditis akut yang rekuren atau persisten yang akan dijelaskan dibawah.
Perempuan berumur 1 tahun mendapatkan terapi awal dengan antibiotik IV dan dipasang
selang ventilasi. 4 hari kemudian, pasien mengalami demam persisten dan bengkak pada regio
post auricular. Abses subperiosteal didrainase tanpa operasi mastoidektomi, dan proses
penyembuhannya cepat.
Laki-laki berumur 4 tahun mendapatkan terapi awal dengan dengan antibiotik IV dan
dipasang selang ventilasi. Gejalanya menghilang perlahan dan pemeriksaan CT-Scan
dipertimbangkan; namun, demam dan kesakitannya menghilang setelah 4 hari, dan itu
menunjukkan bahwa anastesi umum untuk pemeriksaan CT-Scan tidak menjamin. Pasien datang
minggu kemudian dengan akut mastoiditis rekuren dan menjalani pemeriksaan CT-Scan, dimana
hasilnya menunjukkan perpaduan antara sistem mastoid dan erosi tulang yang mencakup telinga
tengah dan cellulae mastoid. Operasi cortical mastoidectomy dilakukan, dan ditemukan
kolesteatom yang luas. Pasien kemudian menjalani modified radikal mastoidektomi.
Rata-rata lama rawat inap yang dijalani sekitar 4,4 hari; yang berkisar antara 1 sampai 9
hari. Rata-rata lamanya rawat inap diperpendek karena terapi awal, yang ditunjukkan pada tabel

3. 26 pasien (65%) di follow up selama 11,8 bulan. Tidak satu pun dari mereka yang
mengalami mastoiditis rekuren.

DISKUSI
Dalam studi ini, 4 dari 40 anak-anak (10%) yang mengalami mastoiditis akut menjalani
mastoidektomi sebagai terapi awal. 3 dari 4 pasien ini mempunyai kolesteatom. Pada 36 anak, 1
pasien datang kembali 2 minggu kemudian dengan mastoiditis akut yang berhubungan dengan
tanda-tanda kolesteatom. Hasil ini mengindikasikan bahwa anak-anak dengan mastoiditis akut
yang tidak mempunyai gejala klinis kolesteatom, dan tanpa bukti komplikasi supuratif yang
signifikan, dapat diterapi dengan cara lain selain mastoidektomi. Adanya abses subperiosteal
tidak selalu dilakukan mastoidektomi.
Rata-rata melakukan mastoidektomi sebagai penanganan primer operasi untuk mastoiditis
akut pada anak-anak berlawanan dengan studi lain, dimana bervariasi dari 9% hingga 88%
(Tabel 1). Mastoidektomi adalah terapi andalan untuk mastoiditis akut di zaman antibiotik belum
sering digunakan. Bioavailabilitas antibiotik mengubah terapi secara radikal, dan antibiotik IV
yang dikombinasikan dengan selang ventilasi telah terlihat efektif dalam terapi kasus mastoiditis
tanpa berkomplikasi dalam beberapa kasus.
Abses subperiosteal telah menjadi indikasi mastoidektomi oleh beberapa penulis.
Didasarkan dari 3 pasien , Bauer dkk menganjurkan terapi abses subperiosteal dengan insisi dan
drainase, sama baiknya dengan selang ventilasi. Dalam studi kita, 11 pasien dengan abses
subperiosteal dilakukan terapi operatif dengan selang timpanostomi, insisi dan drainase tanpa
dilakukan mastoidektomi, berhasil seluruhnya. Tidak ada komplikasi intrakranial pada
mastoiditis akut dalam studi ini. Studi lain menunjukkan komplikasi intrakranial antara 0% dan
18,8%.
Kolesteatom adalah kondisi yang jarang ditemukan pada anak-anak yang mengalami
mastoiditis akut. Hawkin dkk menegaskan bahwa kolesteatom harus dicurigai pada saat
mastoiditis akut timbul pada anak lebih dewasa. Studi kami, dimana ditemukan 4 anak-anak
menderita kolesteatom antara umur 4 sampai 11 tahun, mendukung observasi studi ini dan yang
lain. 10% insidens kolesteatom pada studi ini sangat dibandingkan dengan yang lain (0% sampai
3%). Pada studi sebelumnya dengan 58 anak dengan mastoiditis akut, ditemukan 2 kasus
kolesteatom (3%)
8 dari 40 pasien (20%) dilakukan pemeriksaan CT-Scan. Studi lain melaporkan bahwa
pemeriksaan CT-Scan jauh lebih baik pada anak-anak dengan mastoiditis akut. Suatu kelompok
studi menekankan pentingnya mengkategorisasikan pasien dengan pergabungan atau tidak
pergabungan mastoiditis pada pemeriksaan CT-Scan dan berdasarkan keputusan operatif dalam
perbedaan ini. Pada anak yang lebih muda, biasanya CT Scan membutuhkan anastesi umum.
Studi kami menyarankan bahwa CT-Scan hanya diperlukan bila adanya kecurigaan kolesteatom
atau komplikasi supuratif

Kultur bakteri dari 21 pasien (52,5%). Seperti studi lain, S.pneumoniae adalah organisme
dominan yang paling sering ditemukan (11 dari 21), sedangkan H.influenza jarang ditemukan (1
dari 21). Penemuan ini sudah diketahui secara luas. 2 dari pembiakan S.pneumoniae resisten
terhadap penisilin. Antonelli dkk melaporkan terjadi resistensi penisilin pada 7 dari 8 pembiakan
(88.5%) yang diperiksa dalam studi mastoiditis akut dalam florida.
Kesimpulannya, mastoiditis akut tanpa komplikasi tidak harus dilakukan mastoidektomi
sebagai terapi awal. Anak-anak yang menunjukkan gejala mastoiditis akut seharusnya menjalani
mastoidektomi bila adanya gejala komplikasi supuratif, termasuk thrombosis sinus sigmoid dan
infeksi intrakranial, atau dicurigai adanya kolesteatom. Kecurigaan utama pada kolesteatom
adalah usia pasien yang lebih dewasa. CT-Scan temporal tidak selalu diperlukan kecuali ada
indikasi klinis untuk mempertimbangkan mastoidektomi.