Anda di halaman 1dari 3

Lumpur Aktif

Teknik dasar pada pengolahan metode lumpur aktif


1. BOD beban volume (load of BOD) 0.4-1 (kg BOD/m3/hari)
(BOD beban volume adalah factor penting untuk menentukan besarnya bak aerasi)

Lv = (CxQ)/V
Kg BOD/m3.hari = (kg BOD/m3)*(m3/hari)/m3
Lv = BOD beban volume
C = Konsentrasi BOD input
Q = Debit air limbah yang masuk bak aerasi setiap hari
V = Volume bak aerasi

2. BOD beban lumpur 0.2-0.4 (kg BOD/kg MLSS.hari)


(besaran yang menunjukan jumlah BOD yang dapat diolah oleh lumpur dalam bak aerasi
MLSS satu kilo sehari, biasanya untuk mengolah BODair limbah hingga 90%)

Ls = (CxQ)/(VxMLSS)
Kg BOD/kg MLSS.hari = (kg BOD/m3)x(m3/hari)/(m3)/(kg MLSS/m3)
MLSS = konsentrasi MLSS dalam bak aerasi (kg MLSS/m3)

3. Rasio lumpur umpan balik dan volume umpan balik


o Dalam operasi pengolahan limbah metode lumpur aktif, BOD beban lumpur
dalam bak aerasi harus dijaga konstan dengan mengatur jumlah volume umpan
balik agar konsentrasi MLSS dapat dikontrol sehingga beban lumpur terjaga pada
kondisi yang sesuai
o Rasio umpan balik lumpur (RUBL) atau (r) adalah perbandingan antara volume
umpan balik lumpur terhadap volume air limbah yang masuk

%r

( MLSS dalam bak aerasi ) x( SS dari air lim bah masuk )


( SS umpan balik lumpur ) x( MLSS dari bak aerasi )

MLSS, SS dalam mg/l


o Volume Lumpur umpan balik (R) = rxQ
4. Pengeluaran Lumpur berlebih
o Jasad renik yang dipakai untuk mengolah lumpur aktif memanfaatkan energy
yang terbentuk dari dekomposisi oksidasi zat organic untuk berkembang biak
o Lumpur yang timbul karena perkembangbiakan ini disebut lumpur berlebih
sehingga jumlah lumpur dalam bak pengendapan dari system pengolahan lumpur
aktif bertambah terus
o Untuk menjaga agar konsentrasi MLSS terjaga pada nilai yang diinginkan
maka lumpur berlebih yang ada dalam bak pengendapan harus dibuang , bila tidak
akan meninggi sehingga suatu saat lumpur akan naik kepermukaan dan akan
terbawa dalam aliran air hasil olahan sehingga memperburuk mutu air hasil
olahan
o Volume lumpur berlebih yang dibuang
= Vol tangki Aerasi x (MLSS/SS return sludge)
5. Sludge Volume Index (SVI dan SV30)
o Sludge volume (SV) pengambilan air limbah pada bak aerasi sebesar 1000 mL
dimasukkan dalam gelas ukuran 1 liter, diamkan 30 menit dan lihat volume
lumpur yang telah mengendap selama waktu tersebut SV30 (%)
o SVI = SV30 /(MLSSx10-4)
o Sludge volume index adalah jika 1 gram lumpur yang larut dalam 1000 mL
dibiarkan selama 30 menit

a = lumpur terendapkan
o Nilai SVI 50-150 kondisi baik
400-500 kondisi bulking timbulnya bakteri sphaerotilus
pengendapan lumpur jelek dan mengalir keluar sehingga sifat-sifat air
yang diolah menjadi sangat rusak.
o MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid atau SS cairan campuran) adalah jumlah
SS dalam cairan campuran tangki aerasi (mg/L), jika SS dipertimbangkan sebagai
m.o. mengidentifikasikan secara tidak langsung volume m.o. (1500-4500
mg/L)
o MLVSS (mixed Liquor Volatile Suspended Solid) menunjukan jumlah
kehilangan pembakaran dalam MLSS. 75-80% MLSS. Per minggu harus data
teoritis perhitungannya.

6. Umur Lumpur () adalah


o Waktu selama SS dalam air limbah (kelompok m.o. dalam air limbah) berada
dalam tangki aerasi 3-4 hari umur lumpur yang baik
Umur Lumpur = (MLSSxV)/(SS air limbah xQ)
Dimana :
Q = jumlah air limbah yang masuk (m3/hari)
V = volume tangki aerasi (m3)
MLSS = Mixed Liquor Suspended Solid (mg/L)
SS = Suspended Solid (mg/L)
7. Retention time (Waktu Aerasi [t])
o Selama waktu air limbah masuk ke tangki aerasi sampai air mengalir keluar
setelah tinggal di tangki dalam kurun waktu tertentu dimana aerasi terjadi pada
waktu tersebut
t = (V/(Q/24))
dimana Q = Q air masuk + Q umpan balik
MLSS : Mixed Liquor Suspended Solid (merupakan campuran dari SS, m.o dan air limbah)
diukur dengan cara gravimetric pada suhu 105 oC.
MLVSS : Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (merupakan zat organic yang menguap) diukur
dengan cara furnace pada suhu 600 oC
8. Rasio Feed/Microorganism
Q( S 0 S )
F /M
MLSS V
S0 = BOD influen
S = BOD efluen
F/M minimum 0.2