Anda di halaman 1dari 9

PKM-P 2014

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM
OPTIMASI PEMBUATAN CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC)
SEBAGAI BAHAN PENSTABIL EMULSI BERBASIS SELULOSA
LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN
Diusulkan oleh:
Siti Zuhrotul Munawaroh
(1214051067 angkatan 2012)
Armalinda Pertiwi
(1114051009 angkatan 2011)
Citra Prima Putri
(1214051015 angkatan 2012)
Muhammad Nurreza Hidayat (1314051031 angkatan 2013)

UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN
RINGKASAN
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang dan Masalah ....................................................................... 1
1.2. Tujuan .......................................................................................................... 2
1.3. Manfaat dan Luaran Penelitian .................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tandan Kosong Kelapa Sawit ...................................................................... 2
2.2. Selulosa ........................................................................................................ 3
2.3. Carboxy Methyl Cellulose (CMC) ............................................................... 3
BAB III. METODE PELAKSANAAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................................... 5
3.2. Bahan dan Alat ............................................................................................. 5
3.3. Metode Penelitian ......................................................................................... 5
3.4. Pelaksanaan Penelitian ................................................................................. 5
3.5. Pengamatan .................................................................................................. 6
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1. Anggaran Biaya ............................................................................................ 7
4.2. Jadwal Kegiatan ........................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii

RINGKASAN

Carboxy Methyl Cellulose atau Karboksimetil selulosa merupakan zat aditif yang
biasa ditambahkan pada bahan pangan sebagai pengental atau penstabil emulsi
yang berupa eter polimer selulosa linear dan senyawa anion, yang bersifat
biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk
yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang
pH sebesar 6.5 sampai 8.0, stabil pada rentang pH 2 10, bereaksi dengan garam
logam berat membentuk film yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak
bereaksi dengan senyawa organik. Karboksimetil selulosa berasal dari selulosa
kayu dan kapas yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam
monokloroasetat, dengan katalis berupa senyawa alkali. Pencarian sumber bahan
baku pembuatan CMC selain dari selulosa kayu dan kapas merupakan alternatif
untuk memanfaatkan selulosa non kayu yang belum dimanfaatkan. Bahan
selulosa non kayu sesungguhnya tersedia di Indonesia dalam jumlah yang
berlimpah, salah satunya tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Faktor yang
perlu diperhatikan dalam proses pembuatan CMC adalah alkalisasi dan
karboksimetilasi yang nantinya menentukan karakteristik dari CMC yang
dihasilkan. Permasalahan yang timbul ialah belum diketahui kondisi optimum
pembuatan CMC dengan bahan baku TKKS. Tujuan dari penelitian ini adalah
mendapatkan komposisi reagen alkalisasi dan reagen karboksimetilasi yang
menghasilkan karakteristik CMC terbaik. Metode yang digunakan adalah
perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap
(RAKL) 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi asam
Trikloroasetat yang terdiri dari 2 taraf yaitu 20% dan 30% dan faktor kedua adalah
lama agitasi yang terdiri dari 3 taraf yaitu 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Data yang
didapatkan dianalisis menggunakan Analysis of Variance dan Zeleny untuk
mendapatkan perlakuan terbaik. Target yang ingin dicapai adalah mendapatkan
komposisi reagen alkalisasi dan reagen karboksimetilasi terbaik dalam pembuatan
CMC dari TKKS sehingga nantinya dapat dijadikan teknologi tepat guna dalam
produksi CMC.

iv

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Masalah


Perkembangan gaya hidup masyarakat membuat produk pangan saat ini
dituntut tidak hanya memenuhi kuantitas yang dibutuhkan, namun juga memenuhi
kualitas yang diinginkan konsumen. Guna meningkatkan kualitas ini, berbagai zat
aditif ditambahkan dalam proses produksi. Salah satu zat aditif yang lazim
digunakan dalam beberapa bidang industri adalah karboksimetil selulosa, yang
juga dikenal sebagai CMC (Carboxy Methyl Cellulose).
Karboksimetil selulosa berasal dari selulosa kayu dan kapas yang
diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam monokloroasetat, dengan katalis
berupa senyawa alkali. Karboksimetil selulosa juga merupakan senyawa
serbaguna yang memiliki sifat penting seperti kelarutan, reologi, dan adsorpsi di
permukaan. Selain sifat-sifat itu, viskositas dan derajat substitusi merupakan dua
faktor terpenting dari karboksimetil selulosa (Rosnah Mat Som et al, 2004).
Berdasarkan Foodchem International Coorporation harga Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) tahun 2014 relatif mahal yaitu $2000 USD dengan Shipping
dari China ke Indonesia menjadi $2180,36 USD (Zhai, 2014). Kebutuhan CMC di
Indonesia sementara hanya dipenuhi oleh 2 pabrik dengan kapasitas 6.000 ton per
tahun dan 500 ton per tahun (BPS, 2003). Dari data ekspor impor yang disediakan
oleh BPS, Indonesia masih mengimpor lebih banyak CMC daripada mengekspor
CMC.
Pencarian sumber bahan baku pembuatan CMC selain dari selulosa kayu
dan kapas merupakan alternatif untuk memanfaatkan selulosa non kayu yang
belum dimanfaatkan. Bahan selulosa non kayu sesungguhnya tersedia di
Indonesia dalam jumlah yang berlimpah, diantaranya tandan kosong kelapa
sawit (TKKS). Jumlah limbah TKKS seluruh Indonesia pada tahun 2012
diperkirakan mencapai 26,5 juta ton (Ditjen Perkebunan 2012). Komponen
utama limbah pada tandan kosong kelapa sawit ialah selulosa dan lignin,
sehingga limbah ini disebut sebagai limbah lignoselulosa (Widiastuti dan Tri,
2007). Pemanfaatan limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai bahan baku
pembuatan CMC diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomis yang
cukup besar.
Berdasarkan metode Wijayani et al (2005) dan Nisa et al (2014) faktor
yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan CMC adalah alkalisasi dan
karboksimetilasi yang nantinya menentukan karakteristik dari CMC yang
dihasilkan.

1.2. Tujuan Penelitian


Tujuan utama penelitian ini adalah Mendapatkan komposisi reagen
alkalisasi dan reagen karboksimetilasi yang menghasilkan karakteristik CMC

terbaik.
1.3. Manfaat dan Luaran Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diantaranya memanfaatkan limbah selulosa
TKKS dan mendapatkan nilai tambah TKKS sebagai bahan baku pembuatan
CMC.
Luaran yang diharapkan dari pelaksanaaan program ini yakni menemukan
teknologi tepat guna untuk produksi CMC serta artikel ilmiah untuk publikasi.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tandan Kosong Kelapa Sawit


Berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2013, dewasa ini luas perkebunan
kelapa sawit di Indonesia mencapai 6170,7 Ha. Semakin luasnya perkebunan
kelapa sawit akan diikuti dengan peningkatan produksi dan jumlah limbah kelapa
sawit.
Tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah utama dari industri
pengolahan kelapa sawit, dengan potensi cukup besar (2,5 juta ton per tahun),
yang dewasa ini hanya dimanfaatkan untuk lahan, kompos, produksi etanol skala
kecil, produksi kayu serat dan bahkan dibuang ditempat, atau dibakar sehingga
menimbulkan pencemaran lingkungan (Roliadi et al, 2011). Selain itu juga karena
potensi ketersediaannya yang besar, penggunaan tandan kosong kelapa sawit
sebagai bahan kertas telah diinisiasi oleh Purwanto dan Sparingga (2000) dan
Roliadi (2009). Namun, belum ada yang memanfaatkannya dalam pembuatan
Carboxy Methyl Cellulose.
Persentase serat dan cangkang biji masing-masing sebesar 13% dan 5.5%
dari tandan buah segar (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2008). Tandan kosong
kelapa sawit memiliki tiga komponen utama yaitu selulosa, hemiselulosa, dan
lignin. Hasil penelitian Richana et al (2011) menunjukkan hasil yang tidak
berbeda, yaitu TKKS memiliki kandungan selulosa 50.29%, hemiselulosa

25.54%, dan lignin 24.15%. Berdasarkan kandungan selulosanya yang cukup


tinggi, tandan kosong kelapa sawit berpotensi sebagai bahan baku pembuatan
CMC.
2.2. Selulosa
Selulosa merupakan unsur struktural dan komponen utama dinding sel dari
pohon dan tanaman tinggi lainnya.Selulosa ditemukan sebagai kulit bagian dalam
yang terdapat pada kayu yang berserat (serat batang) dan sebagai komponen
berserat dari beberapa tangkai daun (serat-serat daun). Jumlah selulosa dalam

serat bervariasi menurut sumbernya dan biasanya berkaitan dengan bahan-bahan


lain seperti air, lilin, pektin, protein dan mineral-mineral pada tanaman.Selulosa
bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia.
(Nuringtyas, 2010)
Beberapa tanaman yang telah diteliti dan diketahui mengandung kadar
selulosa yang cukup tinggi antara lain kapas, umbi bit, tandan kosong dan pelepah
kelapa sawit, serat tebu, kulit pisang, kulit kakao, dan enceng gondok. Sebelum
digunakan sebagai bahan dasar untuk berbagai keperluan, selulosa perlu diisolasi
dari tanaman agar didapatkan selulosa yang bebas dari komponen lainnya seperti
hemiselulosa dan lignin. Secara umum, isolasi selulosa dilakukan melalui proses
ekstraksi dengan menggunakan larutan alkali (Abe, 2009).
Pada proses pemurnian selulosa dikenal 2 macam proses yaitu proses
mekanis dan kimia. Pada proses mekanis dilakukan pencacahan untuk pengecilan
ukuran, sedangkan pada proses kimia dapat dibedakan menjadi berbagai macam
cara, yaitu: proses soda, proses sulfat, proses sulfit, proses soda-khlor dan proses
soda-nitrat (Purnawan, 2010).
2.3. Carboxy Methyl Cellulose (CMC)
Carboxy Methyl Cellulose atau Karboksimetil selulosa merupakan
merupakan eter polimer selulosa linear dan berupa senyawa anion, yang bersifat
biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk
yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang
pH sebesar 6.5 sampai 8.0, stabil pada rentang pH 2 10, bereaksi dengan garam
logam berat membentuk film yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak
bereaksi dengan senyawa organik. Karboksimetil selulosa berasal dari selulosa
kayu dan kapas yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam
monokloroasetat, dengan katalis berupa senyawa alkali. Karboksimetil selulosa
juga merupakan senyawa serbaguna yang memiliki sifat penting seperti kelarutan,
reologi, dan adsorpsi di permukaan. Selain sifat-sifat itu, viskositas dan derajat

substitusi merupakan dua faktor terpenting dari karboksimetil selulosa. (Rosnah


Mat Som et al, 2004).
Proses pembuatan karboksi metil selulosa melalui 2 (dua) tahap reaksi,
yaitu pertama reaksi alkalisasi dan kedua reaksi eterifikasi. Pada reaksi tahap
pertama, yaitu alkalisasi merupakan reaksi antara selulosa dengan larutan soda
(basa) menjadi alkali selulosa (selulosa bersifat larut dalam larutan soda).
Sedangkan tahap kedua, yaitu eterifikasi merupakan reaksi antara alkali selulosa
dengan senyawa natrium kloro asetat menjadi natrium karboksi metil selulosa
(Na.CMC) yang membentuk larutan kental (Linda, 2012).
Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan CMC diantaranya :
Alkalisasi dilakukan sebelum karboksimetilasi menggunakan NaOH yang
tujuannya mengaktifkan gugus-gugus OH pada molekul selulosa yang berfungsi
sebagai pengembang agar memudahkan difusi reagen karboksimetilasi.
Karboksimetilasi digunakan reagen
asam monokloroasetat
yang nantinya

berpengaruh terhadap subtitusi dari unit anhidroglukosa pada selulosa.


Bertambahnya jumlah alkali yang digunakan mengakibatkan naiknya asam
kloroasetat yang mampu mempercepat difusi garam asetat ke pusat reaksi yaitu
gugus hidroksi (Wijayani, 2005). Penentuan derajat substitusi (DS) dilakukan
dengan menggunakan metode response surface methodology (RSM). Dari kondisi
optimal yang diperoleh berdasarkan DS food grade, kemudian dilakukan
karakterisasi pH, kemurnian, dan viskositas. DS menentukan kelarutan CMC dan
merupakan parameter utama dalam penggunaanya dalam industri pangan. CMC
komersial mempunyai derajat subtitusi 0,4-0,8. pH CMC menjadi pertimbangan
dalam penggunaannya karena berpengaruh terhadap viskositas CMC. Kemurnian
CMC menentukan parameter mutu dari CMC yang dihasilkan (Lestari et al,
2012). Untuk menguji kualitas CMC yang dihasilkan dapat digunakan beberapa
standar diantaranya standar persyaratan CMC mutu I dari SNI dan Food chemical
Codex. (Tabel.1)
Tabel 1. Standar persyaratan CMC mutu I dari SNI dan Food chemical
Codex.
SNI CMC
Food Chemical
No
Parameter
CMC
Mutu 1
Codex
Komersial
1.
2.
3.
4.

DS
Kemurnian (%)
pH
Viskositas cps

0.84
99.63
8.79
7574.67

<0.96
>99.6
>26

0.7-1.2
99.5
6-8
-

Sumber: Lestari et al, 2012

BAB III. METODE PELAKSANAAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia, Biokimia Hasil
Pertanian dan Limbah Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Lampung pada bulan April-Juli 2015.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan baku utama yang digunakan adalah tandan kosong kelapa sawit
yang berasal dari Bekri, Lampung Tengah sedangkan bahan pendukung yaitu:
H2O2, etanol 96%, aquadest, NaOH 1M, asam trikloroasetat, asam asetat glasial,
dan 2-propanol 87%. H2SO4, Indikator PP, Asam Oksalat, kertas saring dan
alumunium foil. Alat yang digunakan untuk pembuatan CMC yaitu: oven
kering, pengering cabinet, desikator, pH meter, seperangkat pengaduk (magnetic
stirer), Shaker Waterbath, seperangkat alat glassware, kompor, panci, loyang,
gelas plastik, autoklaf, corong plastik, ember, pisau, sendok, corong Buchner,
pompa vakum, pipet tetes, dan pipet volume. timbangan analitik, oven listrik,
desikator, tanur, lemari asam, refluk (pendingin balik), seperangkat glassware,

vortex, pH meter, viscometer, magnetic stirrer, buret, kompor listrik, sentrifuse,


dan alat analisis lainnya.

3.3. Metode Penelitian


Perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok
Lengkap (RAKL) 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi
asam Trikloroasetat yang terdiri dari 2 taraf yaitu 20% dan 30% dan faktor kedua
adalah lama agitasi yang terdiri dari 3 taraf yaitu 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Data
yang didapatkan dianalisis menggunakan Analysis of Variance dan Zeleny
untuk mendapatkan perlakuan terbaik.

3.4. Pelaksanaan Penelitian


3.4.1.

Persiapan Bahan

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dikumpulkan dan dijemur di


bawah sinar matahari hingga kering. Tandan kosong sawit yang kering
dihaluskan dengan penepung halus sampai ukuran yang lebih halus. Setelah

TKKS cukup halus, dilakukan pengayakan dengan ukuran 80 mesh sehingga


TKKS berbentuk serbuk (Richana et al. 2011).
3.4.2.

Pemurnian Selulosa TKKS Menggunakan Basa

Perlakuan awal dengan menggunakan basa dilakukan dengan


menggunakan metode Mission et al (2009) dan Sutikno et al (2010) yang di
modifikasi. Sampelserbuk TKKS ukuran 40 mesh ditimbang sebanyak 2 g
dimasukan dalam erlenmayer ukuran 100mL, kemudian ditambahkan larutan
NaOH 1Msebanyak 40 mL. Setelah itu, jerami dihomogenisasi menggunakan
shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 3 menit dan dipanaskan dalam
autoclave pada suhu 121oC. Setelah itu, sampel disaring dan dibilas mengunakan
air suling sebanyak 400 mL. Kemudian bagian padat dikeringkan dalam oven
pada suhu 105oC sampai berat konstan.
3.4.3.

Alkalisasi dan Karboksimetilasi

Proses alkalisasi dan karboksimetilasi dilakukan dengan menggunakan


metode Nisa et al (2014) yang dimodifikasi. Lima gram (5g) gram berat kering
serbuk TKKS dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 mL (Misson, et al, 2009)
ditempatkan pada hotplate stirer kemudian ditambah 200 mL 2-propanol, 25
mL etanol, 25 mL aquades dan diaduk selama 10 menit. Selanjutnya
ditambahkan larutan NaOH 15 % tetes demi tetes sebanyak 20 mL dan proses
alkalisasi ini berlangsung selama 1 jam pada suhu 24 C. Setelah selesai
dilanjutkan proses karboksimetilasi yang ditempatkan kedalam waterbath
dengan menambahkan asam trikloroasetat (20% dan 30%) sebanyak 20 mL
sedikit demi sedikit. Proses ini berlangsung selama (1 jam, 2 jam, 3 jam) pada
suhu 75 C. Selama kedua proses ini berlangsung pengaduk tetap berputar.

Setelah itu dilakukan analisis selulosa metode Chesson.


3.4.4.

Proses netralisasi dan pengeringan.

Setelah proses karboksimetilasi selesai, proses selanjutnya dilakukan


menurut metode Wijayani et al (2005) dan Nisa et al (2014). Waterbath dimatikan
kemudian campuran ini dipindahkan kedalam gelas kimia dan diukur
pHnya.Selanjutnya ditambah asam asetat glasial sampai pH netral dan
didekantasi.Residu yang didapatkan ditambah 200 mL etanol dan diaduk
kemudian disaring menggunakan pompa vakum. Akhirnya dibungkus dalam
aluminium foil dikeringkan dalam oven selama 4 jam pada suhu 60oC. CMC yang
telah kering ini kemudian dihaluskan dan disimpan dalam tempat tertutup.
3.4.5.

Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi sejumlah


analisis untuk mengetahui hasil sudah memenuhi syarat utama untuk CMC teknis.

Analisis
yang dilakukan
analisis kadar air (MetodeBiaya
Termogravimetri),
No.
Jenis meliputi
Pengeluaran
(Rp)
analisis selulosa (Metode Chesson), analisis penentuan derajat subtitusi dengan
1.
Peralatan Penunjang
3.121.000
titrasi, indeks kelarutan dalam air (Metode Oven kering), analisis viskositas
2.
Bahan Habis
Pakai
4.312.000
menggunakan
viscometer,
analisis pengukuran pH larutan
CMC 1%
menggunakan pH meter (Wijayani, 2005).
3.
Perjalanan
3.116.000
4.

Lain lain
Total

1.740.000
12.289.000

BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya


Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
Tabel
2.1 Format Ringkasan
Anggaran
Kegiatan
Minggu
ke- Biaya
MingguPKM-P
ke- Minggu ke1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Konsultasi Dengan
Dosen Pembimbing

Bulan ke-4
Minggu ke1 2 3 4

Persiapan Bahan dan


Peralatan
Pelaksanaan
Penelitian
Analisis/Pengamatan
Pengumpulan Data
Analisis
dan
4.2
Jadwaldata
Kegiatan
laporan akhir
Kegiatan akan dilaksanakan selama empat bulan dengan rincian kegiatan sebagai
berikut :