Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Glukosa Darah Puasa
Kadar glukosa darah memuncak pada sekitar 1 jam setelah makan,
kemudian menurun seiring dengan oksidasi atau perubahan glukosa menjadi
bentuk simpanan bahan bakar oleh jaringan. Dua jam setelah makan, kadar
kembali ke rentang puasa.
Penurunan glukosa darah ini menyebabkan pancreas menurunkan sekresi
insulinnya, dan kadar insulin turun. Hati berespon terhadap sinyal hormon ini
dengan memulai degradasi simpanan glikogen dan melepaskan glukosa ke dalam
aliran darah. Apabila kita terus berpuasa selama 12 jam, kita masuk ke keadaan
basal. Pada saat ini kadar insulin serum rendah dan glukagon meningkat.
Pada pokoknya selama fase awal puasa, kadar glukosa dipertahankan
dalam rentang 80 100 mg/dl, dan kadar asam lemak serta badan keton
meningkat. Hati berperan penting dalam mempertahankan kadar glukosa darah,
yakni dengan glikogenolisis dan glukoneogenesis.
Uji Toleransi Glukosa Oral (UTGO)
Harus dicurigai adanya diabetes mellitus (DM) apabila kadar glukosa
plasma vena yang diambil tanpa memandang kapan saat makan terakhir jelas
meningkat ( 220 mg/dl), terutama pada seseorang yang memperlihatkan tanda
dan gejala klasik dari hiperglikemia kronik. Untuk memastikan diagnosis tersebut,
penderita harus berpuasa satu malam (10 16 jam), dan pengukuran gula darah
harus diulang. Nilai yang kurang dari 110 mg/dl masih dianggap normal. Nilai
yang lebih dari 140 mg/dl mengisyaratkan diabetes mellitus.
Dalam uji ini penderita yang tidak hamil dan telah berpuasa semalam,
minum 50 gram glukosa dalam bentuk larutan. Dilakukan pengambilan sampel
darah sebelum pemberian glukosa darah oral dan pada 30, 60, 90 dan 120 menit
kemudian. Apabila salah satu dari sampel lebih besar dari 120 mg/dl,
diindikasikan adanya diabetes mellitus.
Penetapan kadar gula/glukosa darah merupakan salah satu pemeriksaan
kimia darah paling sering dilakukan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan terhadap
darah, plasma atau serum.
Bermacam-macam cara digunakan dalam penetapan kadar gula darah, baik
secara makro (dengan menggunakan darah vena), maupun secara mikro (darah
kapiler). Cara yang sering digunakan pada dasarnya dapat dibedakan dalam
beberapa golongan.
1.
Penetapan kolorimetri berdasarkan sifat mereduksi glukosa, misalnya
metode Folinwu dan Somogyi nelson
2.
Penetapan dengan cara titrasi berdasarkan sifat mereduksi glukosa
(iodometri), misalnya metode Hagedord-Jensen dan Somogyi-SchafferHartmann

3.

Pembentukan kompleks berwarna oleh glukosa dengan suatu zat misalnya


o-tolouidin (kolorimetri)
4.
Reaksi enzim dengan menggunakan glukosa-oksidase. Hidrogen peroksida
yang terbentuk akan mengoksidasi zat kromogen seperti o-dianisidin
(CH3O.C6H3.(NH2)2).
B.Metabolisme Lemak
Triasilgliserol (trigliserida) adalah lemak utama dalam makanan manusia,
terutama dicerna dilumen usus. Produk-produk pencernaan tersebut diubah
kembali menjadi triasilgliserol di dalam epitel usus, yang dikemas dalam
lipoprotein yang dikenal sebagai kilomikron, yang dieksresikan ke dalam limfe.
Akhirnya kilomikron masuk ke dalam darah dan berfungsi sebagai salah satu
lipoprotein utama di dalam darah.
Kolesterol yang mengalir dalam darah dalam bentuk lipoprotein, berfungsi
sebagai komponen stabilisasi membran sel dan sebagai precursor garam empedu
serta hormone steroid. Precursor kolesterol diubah menjadi ubikuinon, dolikol,
dan di kulit menjadi kolekalsiferol yaitu bentuk aktif vitamin D.
Peningkatan kadar kolesterol dalam darah dikaitkan dengan pembentukan plak
aterosklerotik yang dapat menyumbat pembuluh darah, menimbulkan serangan
jantung dan stroke. Kolesterol LDL bersifat aterogenik, namun kadar kolesterol
HDL yang tinggi bersifat protektif karena partikel HDL berperan mengeluarkan
kolesterol dari jaringan dan mengeluarkannya ke hati.
Kolesterol terdapat dalam jaringan dan dalam lipoprotein plasma, bisa sebagai
kolesterol bebas atau tergabung dengan asam lemak rantai panjang, sebagai ester
kolesteril. Kolesterol adalah hasil khas metabolisme hewan dan dengan demikian
terdapat dalam segala makanan yang berasal dari hewan seperti merah telur,
daging, hati dan otak.
Kolesterol merupakan lipid amfipatik dan dalam keadaan demikian menjadi
komponen structural penting yang membentuk membran sel dan lapisan luar
protein plasma. Ester kolesteril merupakan bentuk simpanan kolesterol yang
ditemukan dalam sebagian besar jaringan tubuh.
Kolesterol dalam tubuh berasal dari 2 sumber :
1.
Sintetis dalam tubuh kira-kira 500 mg/hari
2.
Berasal dari makanan, jumlahnya tergantung susunan makanan
Sintetis dalam tubuh terjadi pada jaringan hati, korteks suprarenal, kulit, usus,
testis dan aorta. Pengeluaran kolesterol tubuh berlangsung melalui 3 cara :
1.
Sebagai kolesterol yang dikeluarkan bersama empedu ke lumen usus
2.
Setelah diubah menjadi asam empedu dikeluarkan ke lumen usus
3.
Diubah menjadi hormon steroid dan setelah berfungsi hormon-hormon ini
dan metabolitnya dikeluarkan melalui urin

Didalam darah kolesterol terdapat dalam 2 bentuk, yaitu kolesterol bebas dan
sebagai ester. Ester kolesterol mempunyai hubungan dengan fungsi hati, sehingga
kadang-kadang perlu ditetapkan tersendiri. Penetapan kadar kolesterol total
dilakukan dengan beberapa cara, pada umumnya lebih mudah dari pada penetapan
ester kolesterol pada umumnya penetapan dilakukan setelah diekstraksi dengan
pelarut lemak.
3. Metabolisme Protein
- Protein Plasma
Protein plasma merupakan bagian utama zat plasma, protein plasma
sebenarnya merupakan campuran yang sangat kompleks yang tidak hanya
terdiri dari protein sederhana tetapi juga protein campuran atau conjugated
protein seperti glikoprotein dan berbagai jenis lipoprotein.
Plasma normal mengandung 60 sampai 80 g/l protein. Dari jumlah ini,
30 50 gram adalah albumin dan 15 sampai 30 gram tersusun atas campuran
globulin. Asam amino, yang dihasilkan dari pencernaan protein makanan,
diserap melalui epitel usus dan masuk kedalam darah. Berbagai sel
mengandung asam amino ini yang kemudian masuk menjadi simpanan di
dalam sel. Asam amino tersebut digunakan untuk membentuk protein dan
senyawa lain yang mengandung nitrogen atau dioksidasi untuk menghasilkan
energi.
Fibrinogen adalah prazat fibrin, zat bekuan darah, fibrinogen dapat
diendapkan dengan ammonium sulfat setengah jenuh sehingga menyerupai
globulin dan akan berbeda dengan globulin jika diendapkan dengan 0,75
molar Na2SO4 atau NaCl setengah jenuh. Dalam penetapan fibrinogen
kuantitatif. Reaksi-reaksi ini dipergunakan untuk memisahkan protein ini dari
globulin yang mempunyai hubungan erat lainnya.
Protein serum terutama adalah fraksi albumin dan globulin, juga dalam
analisis protein serum total, bila dikoreksi untuk nitrogen non protein dapat
dipergunakan untuk mengirakan seluruh albumin dan globulin total. Dalam
larutan Na-sulfat 27% globulin akan mengendap sedang albumin akan tetap
tinggal dalam larutan.
Cara-cara menentukan/pemisahan protein plasma :
- Dengan analisis nitrogen
- Dengan cara kalorimetri langsung
- Dengan cara elektroforesis tiselius, elektroforesis zone, imunoelektroforesis
- Dengan cara ultrasentrifuge
- Dengan cara presipitasi alcohol
- Dengan analisis imunologi
Konsentrasi kedua fraksi utama protein sering dinyatakan sebagai rasio
albumin terhadap globulin (A/G), nilai normal 1,2 : 1
-

Albumin
Albumin merupakan protein globosa yang terdiri dari rantai
polipeptida tunggal dan mempunyai berat molekul kurang lebih 66.300. Dua

fungsi utama albumin adalah mengangkut molekul-molekul kecil melewati


plasma dan cairan ekstrasel serta memberikan tekanan osmotic di dalam
kapiler.
Banyak metabolit seperti asam lemak bebas dan bilirubin, kurang
dapat larut dalam air. Namun metabolit ini harus diangkut bolak-balik melalui
darah dari suatu alat lain yang melalui medium air sehingga dapat di
metabolisis atau diekskresi.
Albumin mengisi tugas ini dan berperan sebagai protein pengangkut
nonspesifik. Selain itu albumin mengikat obat-obat yang tidak mudah larut
seperti aspirin, digitalis, antikoagulan koumarin serta obat-obat tidur, sehingga
obat-obat ini dapat dibawa secara efisien melalui peredaran darah.

BAB II
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

A. GLUKOSA DARAH
Perhitungan
Absorban sampel
Kadar glukosa = ----------------------- x 100 mg/dl
Absorban standar
B. Nilai Normal
Normoglikemia
GDPT atau TGT
Diabetes
GDP < 100 mg/dl
GDP 100 mg/dl dan GDP 126 mg/dl
< 126 mg/dl (GDPT)
2 jam PP < 140 mg/dl 2 jam PP 140 mg/dl 2 jam PP 200 mg/dl
dan < 200 mg/dl symptom diabetes dan
(TGT)
GDS 200 mg/dl

BAB III
PROSES BIOKIMIA
1. Nafsu Makan Berkurang
Nafsu makan (appetite) adalah keinginan untuk makan, dirasakan
sebagai rasa lapar. Nafsu makan terdapat pada semua bentuk kehidupan
dan berfungsi mengatur asupan energi yang adekuat untuk
mempertahankan kebutuhan metabolisme. Ini diatur oleh interaksi antara
saluran cerna, jaringan adiposa, dan otak. Napsu makan yang berkurang
dinamakan anoreksia.
Pengaturan nafsu makan telah menjadi subyek penelitian luas
dalam dasa warsa terakhir. Terobosoan-terobosan yang ada meliputi
temuan pada tahun 1994, tentang leptin, suatu hormon yang terlibat dalam
umpan-balik negatif. Kajian-kajian berikutnya memperlihatkan bahwa
regulasi napsu makan merupakan proses yang sangat kompleks dan
melibatkan saluran cerna, banyak hormon, susunan saraf pusat dan
susunan saraf otonom
Hipotalamus, suatu bagian otak merupakan pusat pengatur utama
dari napsu makan. Neuron-neuron yang mengatur napsu makan tampaknya
didominasi oleh neuron serotoninergik, walaupun neuropeptidea Y (NPY)
dan Agouti-related peptide (AGRP) juga memainkan peran penting.
Cabang-cabang Hypothalamocortical dan hypothalamolimbic
projections berkontribusi terhadap kesadaran adanya rasa lapar. Prosesproses somatik yang dikendalikan oleh hipotalamus meliputi tonus vagus
(aktivitas sistem saraf parasimpatis), stimulasi tiroid (tiroksin mengatur
laju metabolisme), poros hipotalamus-hipofisis-adrenal serta sejumlah
mekanisme lain
Hipotalamus merasakan rangsang-rangsang eksternal melalui
sejumlah hormon, seperti leptin, ghrelin, PYY 3-36, orexin dan CCK
(cholecystokinin); semua ini memodifikasi respon hipotalamus. Beberapa
diproduksi di saluran cerna dan lainnya oleh jaringan adiposa (leptin).

2. Kelelahan, polidipsi, polifagi, poliuri


Hiperglikemia yang terjadi pada pasien akan menyebabkan terjadinya
komplikasi akut seperti :
1. Peningktan osmolaritas di tubulus ginjal. Adanya glukosa dalam darah
yang berlebihan, menyebabkan proses reabsorbsi glukosa dalam tubulus
ginjal tidak optimal. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan kadar
glukosa di tubulus ginjal, sehingga osmolaritaasnya meningkat. Hal ini
menyebabkan terjadinya penarikan air dari interstisiel ke dalam tubulus
ginjal, sehinggavolume urin menjadi berlebihan (poli uri)
2. Dehidrasi. Poli uri menyebabkan volume cairan berkurang, serta adanya
hiperglikemia menyebabkan konsentrasi cairan tubuh semakin kental
sehingga osmolaritas cairan darah meingkat. Hal ini akan merangsang
pusat haus di hipotalamus. Sehingga pasien akan merasa haus dan banyak
minum air (Poli dipsi)
3. Adanya hiperglikemi seharusnya meingkatkan produksi insulin, Namun
karena sel beta banyak mengalami kerusakan, makasekresi insulin menjadi
menurun tetapi terjadi sekresi glukagon yang meningkat. Hal ini
menyebabkan tidak adanya aktifasi pusat kenyang di Hipotalamus, tetapi
terjadi aktifasi pusat lapar, yang menghambat melanocortin. Hal ini
menyebabkan sekresi CRH dan TSH menurun maka terjadi intake makan
meningkat (polifag\i).
4. Dengan berkurangnya produksi insulin, maka glukosa dalam darah tidak
dapat digunakan oleh sel untuk membentuk energy. Hal ini menyebabkan
sel akan kekurangan ATP, sehingga terjadi kelemahan
5. Adanya peningkatan hormon glukagon menyebabkan terjadinya lipolisis
dan glukoneogenesis. Hasil samping dari glukoneogenesis dan lipolisis
adalah terbentuknya benda keton sehingga darah mengalami asidosis.
Penurunan pH darah akan menyebabkan terjadinya rangsangan pusat nafas
sehingga terjadi hiperventilasi. Hiperventilasi akan menyebabkan
terjadinya kekurangan cairan . Apabila kekurangan cairan berlangsung
lama akan menyebabkan terjadinya dehidrasi berat sehingga sel neuron
banyak yang negalami kerusakan dan menyebabkan penurunan kesadaran
sampai koma.