Anda di halaman 1dari 8

SISTEM ENDOKRIN

TERAPI RELAKSASI OTOT TERHADAP INSOMNIA

DISUSUN OLEH :
Nama : IRFAN SETIAWAN
Nim

: I1032141045

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2016

TERAPI RELAKSASI OTOT TERHADAP INSOMNIA

1.

Pengertian
Relaksasi sebagai kembalinya otot ke keadaan istrahat setelah kontraksi. Atau relaksasi

adalah suatu keadaan tegang yang rendah dengan tanpa adanya emosi yang kuat. Selanjutnya, ia
juga memberii batasan tentang terapi relaksasi, sebagai suatu bentuk terapi yang menekankan
pada mengajarkan konseli tentang bagaimana relaks, dengan asumsi bahwa keadaan otot yang
relaks akan membantu mengurangi ketegangan.
Relaksasi (otot) sebagai usaha mengajari seseorang untuk relaks, dengan menjadikan orang
itu sadar tentang perasaan tegang dan perasaan-perasaan relaks kelompok-kelompok otot utama
seperti tangan, muka, leher, dada, bahu, punggung, dan perut serta kaki. Tujuan jangka panjang
dari relaksasi otot adalah agar tubuh dapat memonitor sesegera mungkin semua signal kontrolnya
dan secara otomatis membebaskan tegangan yang tidak diinginkan.
1. Jenis jenis Relaksasi
Lichstein (1988), mengemukakan jenis-jenis teknik relaksai antara lain:
1. Autogenic Training
Suatu prosedur relaksasi dengan membayangkan (imagery) sensasi-sensasi yang
meyenagkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari
kaki atau tangan, pantan, pergelangan tangan. Sensasi-sensasi yang dibayangkan itu
sepert rasa hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena
nafas yang dalam dan pelan. Sensasi yang dirasakan ini diiringi dengan imajinasi yang
meyenangkan misalnya tentang pemandangan yang indah, danau, yang tenang dan
sebagainya.
2. Progressive Training
Prosedur teknik relaksasi dengan melatih otot-otot yang tegang agar lebih rileks, terasa
lebih lemas dan tidak kaku. Efek yang diharapkan adalah proses neurologis akan berjalan
dengan lebih baik. Karena ada beberapa pendapat yang melihat hubungan tegangan otot
dengan kecemasan, maka dengan mengendurkan otot-otot yang tegang diharapkan
tegangan emosi menurun dan demikian sebaliknya.

3.

Meditation

Prosedur klasik relaksasi dengan melatih konsentrasi atau perhatian pada stimulus yang
monoton dan berulang (memusatkan pikiran pada kata/frase tertentu sebagai focus
perhatiannya ), biasanya dilakukan dengan menutup mata sambil duduk, mengambil
posisi yang pasif dan berkonsentrasi dengan pernafasan yang teratur dan dalam.
Ketenangan diri dan perasaan dalam kesunyian yang tercipta pada waktu meditasi harus
menyisakan suatu kesadaran diri ynag tetap terjaga, meskipun nampaknya orang yang
melakukan meditasi sedang berdiam diri/terlihat pasif dan tidak bereaksi terhadap
lingkungannya.
Selain ketiga jenis di atas relaksasi juga dapat menggunakan media aroma, suara, cita
rasa makanan, minuman, keindahan panorama alam dan air. Semua itu merupakan teknik
relaksasi fisik/tubuh.
2.

Relaksasi pada insomnia


Salah satu cara untuk mengatasi insomnia ini adalah dengan metode relaksasi. Relaksasi

adalah salah satu teknik di dalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson,
seorang psikolog dari Chicago, yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan
dan kecemasan. Teknik ini disebutnya relaksasi progresif yaitu teknik untuk mengurangi
ketegangan. Jacobson berpendapat bahwa Semua bentuk ketegangan termasuk ketegangan
mental didasarkan pada kontraksi otot (Utami, 1993). Jika seseorang dapat diajarkan untuk
merelaksasikan otot mereka, maka mereka benar-benar relaks.
Latihan relaksasi dapat digunakan untuk memasuki kondisi tidur karena dengan
mengendorkan otot secara sengaja akan membentuk suasana tenang dan santai. Suasana ini
diperlukan untuk mencapai kondisi gelombang alpha yaitu suatu keadaan yang diperlukan
seseorang untuk memasuki fase tidur awal. Sebagai dasar teori relaksasi adalah sebagai berikut.
Pada sistem saraf manusia terdapat sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Fungsi sistem
saraf pusat adalah mengendalikan gerakan-gerakan yang dikehendaki, misalnya gerakan tangan,
kaki, leher, jari-jari dan sebagainya. Sistem saraf otonom berfungsi mengendalikan gerakan
gerakan yang otomatis.
Sistem saraf otonom terdiri dari sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang
kerjanya saling berlawanan. Sistem saraf simpatis bekerja meningkatkan rangsangan atau

memacu organ-organ tubuh, memacu meningkatnya detak jantung dan pernafasan, menurunkan
temperatur kulit dan daya hantar kulit, dan juga akan menghambat proses digestif dan seksual.
Sistem saraf parasimpatetis menstimulasi turunnya semua fungsi yang dinaikkan oleh sistem
saraf simpatis, dan menstimulasi naiknya semua fungsi yang diturunkan oleh sistem saraf
simpatis. Selama sistem-sistem tersebut befungsi normal dalam keseimbangan, bertambahnya
akfivitas Sistem yang satu akan menghambat atau manaikan efek sistem yang lain.
Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem
saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah system saraf para simpatis,
dengan demikian relaksasidapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok,
sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan (Prawitasari, 1988).
Apabila Individu melakukan relaksasi ketika ia mengalami ketegangan atau kecemasan,
maka reaksi-reaksi fisiologis yang dirasakan individu akan berkurang, sehingga la akan merasa
rileks. Apabila kondisi fisiknya sudah rileks, maka kondisi psikisnya juga tenang (Lichstein,
1993). Teknik relaksasi sudah dikenal lama dan banyak digunakan dalam berbagai terapi baik
terapi permasalahan fisik maupun psikologis. Ada beberapa jenis relaksasi yang sudah dikenal
antara lain relaksasi progresif, relaksasi diferensial dan relaksasi via letting go.
Relaksasi ini merupakan pengembangan dari respon relaksasi yang dikembangkan oleh
Herbert Benson. relaksasi religius ini merupakan gabungan antara model relaksasi dengan
keyakinan yang dianut. Respon relaksasi yang melibatkan keyakinan yang dianut menurut
Benson (2000) akan mempercepat terjadinya keadaan relaks, dengan kata lain kombinasi respon
relaksasi dengan melibatkan keyakinan akan melipat gandakan manfaat yang didapat dari respon
relaksasi. Sehingga diharapkan dengan semakin cepat mencapai kondisi relaks maka seseorang
akan lebih cepat untuk memasuki kondisi tidur yang berarti akan dapat mengatasi gangguan
insomnia yang dialami.

3.

Mekanisme Kerja
Respon tubuh ketika relaksasi otot

Kerja relaksasi otot pada insomnia atau tidur pada dasarnya Muscular junction melepas
asetilkolin ke motorik dan plate sehingga membangkitkan potensial aksi pada membrane plasma
sel otot . Asetilkolin membuat ion Na dapat masuk ke membrane plasma sel otot sehingga
terjadi perubahan muatan (depolarisasi).
Impuls elektrik disebarkan pada membrane plasma sel otot dan pada serabbut sel otot
melalui tubulus transverses.ion Na bersifat impermeable terhadap membrane plasma sel otot
sedangkan ion K bersifat permeable terhadap membrane plasma sel otot. Sehingga dampak dari
relaksasi otot dapat mengurangi terjadinya insomnia atau lebih mudah terasa ngantuk dan
meningkatkan tidurnya.
4.

Prosedur Relaksasi Otot


1. Melemaskan otot tangan dilakukan dengan cara membuat kepalan di tangan kiri dan
menggenggam semakin kuat
2. Tekuklah kedua lengan ke belakang pada pergelangan tangan sehingga otot-otot di tangan
bagian belakang dan lengan bawah menegang dan jari-jari menghadap ke atas
3. Gerakan ketiga yaitu menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian
membawa kedua kepalan ke pundak sehingga akan membuat otot-otot biceps akan
menjadi tegang
4. Gerakan ke empat yaitu mengangkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu
akan dibawa hingga menyentuh kedua telinga.
5. gerakan kelima yaitu melemaskan otot wajah caranya kerutkan dahi dan alis sampai ototototnya terasa dan kulitnya keriput
6. Gerakan keenam yaitu menutup mata secara kuat-kuat sehingga di rasakan ketegangan di
sekitar otot mata.
7. Menutup atau mempertemukan kedua rahang bawah dan atas disertai dengan menggigit
gigi sampai terasa ketegangan otot di rahang.
8. Gerakan kedelapan bertujuan melemaskan otot bibir dan sekitar mulut caranya majukan
bibir anda kuat-kuat sampai otot menegang.
9. Gerakan kesembilan bertujuan untuk melemaskan leher caranya taruh kedua tangan di
atas kepala kemudian hadapkan muka kebawah sambil tangan menekan kepala kebawah.

10. Gerakan kesepuluh adalah taruh kedua tangan di bawah dagu selanjutnya dorong kepala
ke atas sampai maksimal dan rasakan ketegangan otot di sekitar leher.
5.

Penelitian Yang Terkait


1) Penelitian yang dilakukan Erliana, Haroen, Susanti (2008), yaitu penelitian untuk
mencari perbedaan tingkat insomnia lansia sebelum dan sesudah latihan relaksasi otot
progresif, dari penelitian tersebut didapatkan perbedaan yang signifikan terhadap tingkat
insomnia lansia sebelum dan sesudah latihan relaksasi progresif.
2) penelitian yang digunakan adalah pra eksperimental dengan One Group Pre-test-Posttest design. Penelitian ini di laksanakan di BPLU Senja Cerah Paniki Kecamatan
Mapanget Manado dan Panti Werdha Damai Ranomuut Manado pada bulan November
2014-Maret 2015. Populasi pada penelitian ini adalah semua lanjut usia yang
mengalami insomnia di Panti Werdha Manado yang berjumlah 36 orang. Teknik
pengambilan sampel dilakukan dengan Total Sampling yang disebut sampling jenuh
yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel
(Setiadi, 2013). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 36 responden.
3) Penelitian terhadap kelompok anakanak muda di Denpasar menunjukkan 30-40 persen
aktivitas mereka untuk tidur. Dalam jajak pendapat yang dilakukan Galup terhadap
orang dewasa di Amerika menyebutkan bahwa 49% menderita gangguan insomnia dan
beberapa gangguan lain yang berkaitan dengan tidur. Sedangkan penelitian
yangdilakukan di Jepang disebutkan 29% responden tidur kurang dari 6 Jam, 23%
merasa kekurangan dalam jam tidur, 6% menggunakan obat tidur, kemudian 21%
memiliki prevalensi insomnia dan 15% kondisi mengantuk yang parah pada siang
harinya (Purwanto, 2007).
4) penelitian ini yaitu tentang adanya pengaruh terapi relaksasi otot progresif sesuai
dengan hasil penelitian Widastra (2009) tentang terapi relaksasi progresif sangat efektif
mengatasi keluhan insomnia pada lanjut usia. Penelitian ini merupakan penelitian pre
eksperimental design dengan rancangan the one group pretest-posttest design. Populasi
penelitian adalah lansia di Seksi Pelayanan Lanjut Usia Wana Seraya Denpasar. Hasil
penelitian ini membuktikan bahwa terapi relaksasi efektif terhadap berkurangnya
keluhan insomnia pada lansia di Seksi Pelayanan Lanjut Usia Wana Seraya Denpasar

DAFTAR PUSTAKA
Erliana, E. 2007. Perbedaan Tingkat Insomnia Lansia Sebelum dan Sesudah Latihan Relaksasi
Otot Progresif (Progresif Muscle Relaxation) di Badan Pelayanan Sosial Tresna Wreda
(BPSTW) Ciparay Bandung.Jurnal
Lichstein, Kenneth L., Johnson, Ronald S., 1993. Relaxation for Insomnia and Hypnotic
Medication Use in Older Women. Psychology and Aging vol 8 No. 1 103-111
Borkovec TD,. 1982. Insomnia. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Vol 50, No 6
880-895
Widastra, I Made. 2009. Terapi Relaksasi Progresif Sangat Efektif Mengatasi Keluhan
Insomnia Lanjut Usia. Jurnal. Gempar: Jurnal Ilmiah Keperawatan Volume 2. No. 1 Juni
2009
Austaryani, N.P & Widodo, A. 2010. Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap
Perubahan Tingkat Insomnia Pada Lansia Di Posyandu Lansia Desa Gonilan, Kartasura