Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KEJANG PADA NEONATUS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu
rektal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (diluar rongga
kepala). Kejang demam ini biasanya terjadi bayi atau anak-anak antara umur 3 bulan dan
5 tahun yang berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi
intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi yang
berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dibedakan dengan
epilepsi,

yaitu

yang

ditandai

dengan

kejang

berulang

tanpa

demam.

Faktor resiko kejang demam yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor
riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat,
problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah.
Setelah kejang demam pertama kira kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi
(kekambuhan), dan kira kira 9 % anak mengalami recurensi 3 kali atau lebih, resiko
rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam
timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat
keluarga epilepsi.
Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam. Demam sering
disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, radang telinga tengah, infeksi saluran cerna

dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang
kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf yang paling sering dijumpai
pada bayi dan anak. Sekitar 2,2% hingga 5% anak pernah mengalami kejang demam
sebelum mereka mencapai usia 5 tahun. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan
pendapat mengenai akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini namun pendapat yang
dominan saat ini kejang pada kejang demam tidak menyebabkan akibat buruk atau
kerusakan pada otak namun kita tetap berupaya untuk menghentikan kejang secepat
mungkin. Dan bagi beberapa orang tua, kejang demam pada anak sering menimbulkan
fobia tersendiri. Keyakinan untuk segera menurunkan panas ketika anak demam sudah
melekat erat dalam benak orang tua. Demam diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat
demam berhasil diturunkan, orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan
segera pergi bersama turunnya panas badan.

1.2 Rumusan Masalah


a)

Apa yang di maksud dengan kejang neonatus ?

b)

Apa saja klasifikasi dari kejang neonatus ?

c)

Apa saja factor dari kejang neonatus ?

d)

Bagaimana dan apa saja penatalaksanaan dari kejang neonatus ?

1.3 Tujuan
a)

Untuk mengetahui definisi kejang neonatus.

b)

Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari kejang neonatus

c)
d)

Untuk mengetahui apa saja factor dari kejang neonatus


Untuk mengetahui apa saja dan bagaimana penatalaksanaan kejang pada neonatus.

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Kejang pada neonatus ialah suatu gangguan terhadap fungsi neurologis seperti
tingkah laku, motorik, atau fungsi otonom. Periode bayi baru lahir (BBL) dibatasi sampai
hari ke-28 kehidupan pada bayi cukup bulan, dan untuk bayi prematur, batasan ini
biasanya digunakan sampai usia gestasi 42 minggu.Kebanyakan kejang pada BBL timbul
selama beberapa hari. Sebagian kecil dari bayi tersebut akan mengalami kejang lanjutan
dalam kehidupannya kelak. Kejang pada neonatus relatif sering dijumpai dengan
manifestasi klinis yang bervariasi. Timbulnya sering merupakan gejala awal dari gangguan
neurologi dan dapat terjadi gangguan pada kognitif dan perkembangan jangka panjang.
kejang pada bayi baru lahir adalah
a)

kejang yang terjadi pada bayi sampai dengan usia 28 hari

b)

Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang merupakan suatu tanda
adanya penyakit sistem sayarf pusat (SSP), kelainan metabolik atau penyakit lain.

c)

Sering tidak dikenali karena berbeda dengan kejang pada anak

d)

Kejang umum tonik klonik jarang terjadi pada BBL

e)

Kejang berulang menyebabkan berkurangnya oksigenisasi, ventilasi dan nutrisi otak

Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul masa neonatus atau dalam 28
hari sesudah lahir (Buku Kesehatan Anak) Menurut Brown (1974) kejang adalah suatu
aritma serebral. Kejang adalah perubahan secara tiba-tiba fungsi neurology baik fungsi
motorik maupun fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak (Buku
Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Dasar). Kejang bukanlah suatu penyakit tetapi
merupakan gejala dari gangguan saraf pusat, lokal atau sistemik. Kejang ini merupakan
gejala gangguan syaraf dan tanda penting akan adanya penyakit lain sebagai penyebab
kejang tersebut, yang dapat mengakibatkan gejala sisa yang menetap di kemudian hari.
Bila penyebab tersebut diketahui harus segera di obati. Hal yang paling penting dari
kejang pada bayi baru lahir adalah mengenal kejangnya, mendiagnosis penyakit
penyebabnya dan memberikan pertolongan terarah, bukan hanya mencoba menanggulangi
kejang tersebut dengan obat antikonvulsan.
Kejang pada bayi baru lahir sering tidak dikenali karena bentuknya berbeda
dengan kejang pada anak atau orang dewasa.Hal ini disebabkan karena ketidakmatangan
organisasi korteks pada bayi baru lahir.Kejang umum tonikklonik jarang pada bayi baru
lahir.Manifestasi kejang pada bayi baru lahir dapat berupa tremor ,hiperaktif,kejangkejang,tiba-tiba menangis melengking,tonus otot hilang disertai aatau tidak dengan
hilangnyakesadaran, tidak menentu,i(nvoluntary movement),nistagmus,(fenomena oral
dan bukal),bahkan apnu oleh karena manifestasi klinik yang berbeda-bada dan
bervariasi,sering kali pada bayi baru lahir tidak dikenali oleh yang belum berpengalaman .
Dalam prinsip ,setiap gerakan yang tidak biasa pada bayi baru lahir apabila
berlangsung berulang-ulang dan periodic ,harus dipikirkan kemungkinan merupakan
manifestasi kejang.

Perbedaan kejang dan spasme


Masala

Temuan khusus

h
Kejang

Gerakan wajah dan ekstermitas yang teratur dan berulang

umum

Ekstensi atau fleksi tonik lengan atau tangkai,baik


sinkron maupun tidak sinkron

Perubahan status kesadaran (bayi mungkin tidak sadar


atau tetap bangun tetapi tidak responsive/apatis)

Kejang

suble

Apnea(nafas spontan berhenti lebih 20 detik)


Gerakan mata berkedip,berpudar dan dan juling yang
berulang

Gerakan mulut dan lidang berulang


Gerakan tangkai tidak terkendali, gerakan seperti
mengayuh sepeda

Spasme

Bayi bias masih sadar


Kontraksi otot tidak terkendali paling tidak beberapa
detik sampai beberapa menit

Dipicu oleh sentuhan, suara maupun cahaya

Bayi tetap sadar,sering menangis kesakitan

Trismus (rahang kaku,mulut tidak dapat di buka,bibir


mencuci seperti mulut ikan

Opitotonus

Gerakan tangan seperti meninju dan mengepal

2.2 Klasifikasi Kejang

Volpe (1977) membagi kejang pada bayi lahir sebagai berikut :


A.

Bentuk kejang yang hampir tidak kelihatan (subtle) yang sering tidak diketahui sebagai
kejang. Terbanyak di neonatus berupa :

1)

Deviasi horizontal bola mata.

2)

Getaran dari kelopak mata/berkedip-kedip

3)

Gerakan dari pipi dan mulut, seperti menghisap-hisap,mengunyah, mengecap, dan


menguap
4)

Apnea berulang

5)

Gerakan tonik tungkai

6)

Gerakan mengunyah , salivasi berlebihan, perubahan pola pernafasan termasuk

apneu, berkedip, nistagmus, gerakan bersepeda atau mengayuh pedal , dan perubahan
warna.
Setiap gerakan yang tidak biasa pada neonatus, bila berlangsung beurlang-ulang dan
periodic perlu dipikirkan kemungkinan dari kejang.

B.

Kejang Klonik Multifocal (migratory)


Gerakan klonik berpindah-pindah dari satu anggota gerak ke anggota gerak lainnya
secara tidak teratur. Kadang-kdang kejang yang satu dengan yang lainnya bersambungan,
dapat menyerupai kejang umum.

C.
1)

Kejang Tonik
Ekstensi kedua tungkai, kadang-kadangan disertai fleksi kedua lengan menyerupai
keadaan dekortikasi.

2)

Ditandai dengan postur tungkai dan badan yang kaku, dan kadang disertai dengan
deviasi mata yang tetap.

D.
1)
2)

Kejang Mioklonik
Berupa gerakan fleksi seketika seluruh tubuh, jarang terlihat pada neonatus.
Jingkatan jingkatan setempat atau menyeluruh tungkai atau badan sebentar yang
cenderung melibatkan kelompok otot distal.

Berdasarkan gambaran klinisnya, kejang dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga)


yaitu kejang tonik, kejang klonik dan kejang mioklonik.
1.

Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terjadi pada bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi
prenatal berat. Bentuk klinis kejang tonik yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstremitas
atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai
desebrasi, atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortifikasi.
Bentuk kejang tonik yang menyerupai desebrasi haris dibedakan dengan sikap epistotonus
yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus.

2.

Kejang Klonik
Kejang klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan permulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinik kejang fokal berlangsung antara 1 - 3
detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran, dan biasanya tidak

diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini disebabkan oleh kontusio serebri akibat trauma
fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensefalopati metabolik.

3.

Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai gerakan
refleks moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan
hebat. Gambaran EEG kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

Epidemiologi
1.

Mortalitas/Morbiditas

a)

Kejang demam biasanya tidak berbahaya.

b) Anak dengan kejang demam memiliki resiko epilepsy sedikit lebih tinggi dibandingkan
yang tidak (2% : 1%).
c)

Faktor resiko untuk epilepsy di tahun-tahun berikutnya meliputi kejang demam


kompleks, riwayat epilepsy atau kelainan neurologi dalam keluarga, dan hambatan
pertumbuhan. Pasien dengan 2 faktor resiko tersebut mempunyai kemungkinan 10%
mendapatkan kejang demam.

2.

Ras
Kejang demam terjadi pada semua ras.

3.

Jenis kelamin
Beberapa penelitian menunjukkan kejadian lebih tinggi pada pria.

4.

Usia
Kejang demam terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun.

Etiologi
1.

a.

Metabolik

Hipoglikemia
Bila kadar darah gula kurang dari 30 mg% pada neonatus cukup bulan dan kurang
dari 20 mg% pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Hipoglikemia dapat dengan/tanpa
gejala. Gejala dapat berupa serangan apnea, kejang sianosis, minum lemah, biasanya
terdapat pada bayi berat badan lahir rendah, bayi kembar yang kecil, bayi dari ibu
penderita diabetes melitus, asfiksia.

b.

Hipokalsemia
Yaitu: keadaan kadar kalsium pada plasma kurang dari 8 mg/100 ml atau kurang
dari 8 mg/100 ml atau kurang dari 4 MEq/L
Gejala: tangis dengan nada tinggi, tonus berkurang, kejang dan diantara dua serangan bayi
dalam keadaan baik.

c.

Hipomagnesemia
Yaitu kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,2 mEg/l. biasanya terdapat
bersama-sama dengan hipokalsemia, hipoglikemia dan lain-lain.
Gejala kejang yang tidak dapat di atasi atau hipokalsemia yang tidak dapat sembuh dengan
pengobatan yang adekuat.

d.

Hiponatremia dan hipernatremia

Hiponatremia adalah kadar Na dalam serum kurang dari 130 mEg/l. gejalanya
adalah kejang, tremor. Hipertremia, kadar Na dalam darah lebih dari 145 mEg/l. Kejang
yang biasanya disebabkan oleh karena trombosis vena atau adanya petekis dalam otak.
e.

Defisiensi pirodiksin dan dependensi piridoksisn


Merupakan akibat kekurangan vitamin B6. gejalanya adalah kejang yang hebat dan
tidak hilang dengan pemberian obat anti kejang, kalsium, glukosa, dan lain-lain.
Pengobatan dengan memberikan 50 mg pirodiksin

f.

Asfiksia
Suatu keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir
etiologi karena adanya gangguan pertukaran gas dan transfer O2 dari ibu ke janin.

2.

Perdarahan Intrakranial
Dapat disebabkan oleh trauma lahir seperti asfiksia atau hipoksia, defisiensi
vitamin K, trombositopenia.

Perdarahan dapat terjadi sub dural, dub aroknoid,

intraventrikulus dan intraserebral. Biasanya disertai hipoglikemia, hipokalsemia.


Diagnosis yang tepat sukar ditetapkan, fungsi lumbal dan offalmoskopi mungkin dapat
membantu diagnosis. Terapi : pemberian obat anti kejang dan perbaikan gangguan
metabolism bila ada.

3.

Infeksi
Infeksi dapat menyebabkan kejang, seperti : tetanus dan meningitis

4.

Genetik/kelainan bawaan

5.

Penyebab lain
a.

Polisikemia

Biasanya terdapat pada bayi berat lahir rendah, infufisiensi placenta, transfuse dari
bayi kembar yang satunya ke bayi kembar yang lain dengan kadar hemoktrokit di atas
65%
b.

Kejang idiopatik
Tidak memerlukan pengobatan yang spesifik, bila tidak diketahui penyebabnya

berikan oksigen untuk sianosisnya


c.

Toksin estrogen
Misalnya : hexachlorophene

Penyebab

Tak jarang bayi Indonesia mengalami kejang dan hal ini sangat mengkhawatirkan
bagi para orangtua. Sebenarnya apa yang menjadi penyebab bayi kejang? Kejang demam
atau kejang yang disertai demam biasanya terjadi karena bayi memang mengalami suatu
penyakit. Contohnya, bayi terkena infeksi pada saluran pencernaannya yang menyebabkan
dia demam dan kemudian kejang. Penyakit lainnya yang bisa menyebabkan kejang pada
bayi adalah penyakit radang telinga, infeksi pada paru dan infeksi lainnya.
Penyakit diabetes mellitus yang diderita oleh ibu bisa juga menjadi penyebab bayi
kejang. Ibu yang terkena penyakit kencing manis ini bisa menyebabkan bayi mengalami
kekurangan kadar gula darah. Selain itu, bayi yang pada saat lahir memiliki berat badan
lebih dari 4 kg memiliki resiko terkena kejang hingga hari ke-28 dia dilahirkan. Kejang
yang timbul karena dua hal di atas biasanya tidak disertai demam.

Kejang yang tidak disertai demam biasanya juga terjadi karena kelainan di otak.
Penyakit yang mengganggu fungsi otak bayi bisa membangkitkan kejang. Misalnya
perdarahan, tumor dan radang yang terjadi di otak. Dalam hal ini kejang berkaitan dengan
otak karena di dalam otak terdapat pusat syaraf tubuh.
Kondisi pada saat hamil juga bisa menyebabkan kejang pada bayi jika ibu
terinfeksi salah satu dari virus TORCH. Selain itu, proses kelahiran juga bisa
mempengaruhi kejang pada bayi Indonesia. Seperti misalnya pada saat menjelang
kelahiran, bayi mengalami infeksi atau cedera. Demikian pula dengan proses kelahiran
yang sulit dan bayi yang lahir kuning. Hal-hal ini membuat asupan oksigen ke otak
berkurang sehingga bayi mengalami kejang.
Kejang pada bayi juga bisa disebabkan karena bayi memang menderita penyakit
epilepsi. Biasanya kejang karena epilepsi lama. Penyebab lain seperti terjadinya gangguan
pada peredaran darah dan gangguan metabolisme. Demikian pula karena keracunan
makanan, alergi terhadap sesuatu serta cacat bawaan bisa membuat bayi kejang.
Memang ada banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan bayi kejang. Bisa juga
karena bayi demam. Tingginya suhu tubuh bayi bisa menyebabkan dia menjadi kejang.
Sebaiknya bila anak pernah mengalami kejang, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui
penyebab pastinya.

Kejang neonatal bisa disebabkan oleh beberapa faktor,

antara lain sebagai berikut:


1.

bayi yang tidak menangis pada waktu lahir adalah penyebab yang paling sering.
timbul pada 24 jam kehidupan pada kebanyakan kasus.

2.

Perdarahan otak dapat timbul sebagai akibat dari kekurangan oksigen atau trauma pada
kepala. perdarahan ini biasanya diakibatkan oleh trauma dapat menimbulkan kejang.

3.

Kekurangan gula darah (hipoglikemia) sering timbul dengan gangguan pertumbuhan


dalam kandungan dan pada bayi dengan ibu penderita DM (Diabetes Mellitus). jarak
waktu antara hipoglikemia dan waktu sebelum pemberian awal pengobatan merupakan
waktu timbulnya kejang. kejang lebih jarang timbul pada ibu pendeita diabetes,
kemungkinan karena waktu hipoglikemia yang pendek.

4.

infeksi sekunder akibat bakteri dan nonbakteri dapat timbul pada bayi dalam kandungan,
selama persalinan, atau pada periode perinatal. seperti bakteri meningitis, toksoplasmosis,
sifilis, atau rubella (campak). resiko kejang adalah lebih tinggi jika bayi prematur atau
BBLR.

5.

adanya cedera jika persalinan

6.

bayi kuning disebut sebagai resiko bila terjadi pada hari pertama kelahiran. bayi kuning
akan normal bila terjadi dalam tiga hari.

7.

infeksi saat kehamilan (TORCH). terutama pada trimester pertama dikatakan sebagai
penyebab kejang.

2.3 Faktor Resiko


faktor yang mempengaruhi kejang demam adalah:
1.

Umur

a)

3% anak berumur di bawah 5 tahun pernah mengalami kejang demam.

b) Insiden tertinggi terjadi pada usia 2 tahun dan menurun setelah 4 tahun, jarang terjadi
pada anak di bawah usia 6 bulan atau lebih dari 5 tahun.
c)

Serangan pertama biasanya terjadi dalam 2 tahun pertama dan kemudian menurun
dengan bertambahnya umur.

2.

Jenis kelamin
Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dengan
perbandingan 2 : 1. Hal ini mungkin disebabkan oleh maturasi serebral yang lebih cepat
pada perempuan dibandingkan pada laki-laki.

3.

Suhu badan
Kenaikan suhu tubuh adalah syarat mutlak terjadinya kejang demam. Tinggi suhu
tubuh pada saat timbul serangan merupakan nilai ambang kejang. Ambang kejang
berbeda-beda untuk setiap anak, berkisar antara 38,3C 41,4C. Adanya perbedaan
ambang kejang ini menerangkan mengapa pada seorang anak baru timbul kejang setelah
suhu tubuhnya meningkat sangat tinggi sedangkan pada anak yang lain kejang sudah
timbul walaupun suhu meningkat tidak terlalu tinggi. Dari kenyataan ini dapatlah
disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam akan lebih sering pada anak dengan nilai
ambang kejang yang rendah.

4.

Faktor keturunan
Faktor keturunan memegang peranan penting untuk terjadinya kejang demam. Beberapa
penulis mendapatkan bahwa 25 50% anak yang mengalami kejang demam memiliki
anggota keluarga ( orang tua, saudara kandung ) yang pernah mengalami kejang demam
sekurang-kurangnya sekali.
Faktor faktor lain diantaranya:

a. riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung,


b.

perkembangan terlambat,

c. problem pada masa neonatus,


d.

anak dalam perawatan khusus, dan

e. Kadar natrium rendah.


Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali
rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Risiko
rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam
timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat
keluarga epilepsi.Sekitar 1/3 anak dengan kejang demam pertamanya dapat mengalami
kejang rekuren.
Faktor

resiko

untuk

kejang

demam

rekuren

a. Usia muda saat kejang demam pertama


b. Suhu yang rendah saat kejang pertama
c. Riwayat kejang demam dalam keluarga
d. Durasi yang cepat antara onset demam dan timbulnya kejang

DIAGNOSIS
Anamnesa

meliputi

berikut

ini:

1.

Riwayat kehamilan
Bayi kecil untuk masa kehamilan

a)

Bayi kurang bulan

b)

Ibu tidak disuntik TT

c)

Ibu menderita DM

2.

Riwayat persalinan

a)

Persalinan dengan tindakan

b)

Persalinan presipitatus

c)

Gawat janin

3.

Riwayat kelahiran

a)

Trauma lahir

b)

Lahir asfiksia

c)

Pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril


Pemeriksaan kelainan fisik

1.

Kesadaran

2.

Suhu tubuh

3.

Tanda-tanda infeksi lain

Penilaian kejang
1.

Bentuk kejang : gerakan bola mata abnormal, nistagmus, gerakan mengunyah,

gerakan otot-otot muka, timbulnya episode apnea, adanya kelemahan umum yang
periodik, tremor, gerakan klonik sebagian ekstremitas, tubuh kaku

2.

Lama kejang
Pemeriksaan Diagnostik
1.

Pemeriksaan gula darah, elektrolit darah, AGD, darah tepi, lumbal pungsi

2.

EKG

3.

EEG

4.

Biakan darah

5.

Titer untuk toksoplasmosis, rubela, citomegalovirus, herpes

6.

Foto rontgen kepala

7.

USG kepala

2.4 Penatalaksanaan
Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang
1.

Menjaga jalan nafas tetap bebas

2.

Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang

3.

Mengobati penyebab kejang

Dosis 0,1-0,3 mg/kg BB IV disuntikan perlahan-lahan sampai kejang hilang atau


berhenti. Dapat diulangi pada kejang beruang, tetapi tidak dianjurkan untuk digunakan
pada dosis pemeliharaan

Obat anti kejang (Buku Acuan Nasional Maternatal dan Neonatal, 2002)
1.

Diazepam
2.

Fenobarbital Dosis 5-10 mg/kg BB IV disuntikkan perlahan-lahan, jika

kejang berlanjut lagi dalam 5-10 menit. Fenitoin diberikan apabila kejang tidak dapat di
berikan 4-7 mg/kg BB IV pada hari pertama di lanjutkan dengan dosis pemeliharaan 4-7
mg/kg BB atau oral dalam 2 dosis.

Penanganan Kejang Pada BBL


1.

Bayi diletakan dalam tempat yang hangat.pastikan bahwa bayi tidak kedinginan.suhu
bayi dipertahankan 36,50C-370C.

2.

Jalan nafas bayi dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir diseputar mulut hidung
sampai nasofaring.

3.

Bila bayi apnea,dilakukan pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat bantu balon
dan sungkup,diberi oksigen dengan kecepatan 2L/menit

4.

Dilakukan pemasangan infus intravena di pembuluh darah


perifer,diangan,kaki atau kepala.bila bayi diduga dilahirkan oleh ibu berpenyakit diabetes
mellitus,dilakukan pemasangan infuse melalui vena umbilikalis.

5.

Bila infus sudah terpasang diberi obat anti kejang diazevam 0,5 Mg/Kg supositoria/Im
setiap 2 menit sampai kejang teratasi.kemudian ditambahkan luminal (fenobarbital)30Mg
I.M/I.V

6.

Nilai kondisi bayi selama 15 menit.perhatikan kelainan fisik yang ada.

7.

Bila kejang sudah teratasi diberi cairan infuse dextrose 10% dengan kecepatan 60 Ml/Kg
bb/hari.

8.

Dlakukan anamesis mengenai keadaan bayi untuk mencari factor penyebab


kejang(perhatikan riwayat kehamilan,persalinan dan kelahiran)

Apakah kemungkinan bayi di lahirkan oleh ibu berpenyakit DM

Apakah kemungkianan bayi premature

Apakah kemungkinan bayi mengalami aspeksia

Apakah kemingkinan ibu bayi pengidap atau menggunakan bahan narkotika.

Kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk mencari
faktor penyebab, misalnya : darah tepi, elektrolit darah, gula darah, kimia darah, kultur
darah, pemeriksaan TORCH

Kecurigaan kearah sepsis (pemeriksaan pungsi lumbal)

Kejang berulang, diazepam dapat diberikan sampai 2 kali

Masih kejang : dilantin 1,5 mg/kgBB sebagai bolus iv diteruskan dalam dosis 20 mg iv
setiap 12 jam

Belum teratasi : phenytoin 15 mg/kgBB iv dilanjutkan 2 mg/kg tiap 12 jam

Hipokalsemia (hasil lab kalsium darah <8mg .="" 10="" 25-50="" 2="" 5-10="" :=""
apabila="" belum="" dalam="" diberi="" glukonas="" juga="" kalsium="" kg="" menit=""
mg="" ml="" o:p="" pyridoxin="" teratasi="" waktu="">

Hipoglikemia (hasil lab dextrosit/gula darah < 40 mg%) : diberi infus dextrose 10%

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul masa neonatus atau dalam 28
hari sesudah lahir (Buku Kesehatan Anak) Menurut Brown (1974) kejang adalah suatu
aritma serebral. Kejang adalah perubahan secara tiba-tiba fungsi neurology baik fungsi
motorik maupun fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak (Buku
Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Dasar).
Klasifikasi kejang
Bentuk kejang yang hampir tidak kelihatan (subtle) yang sering tidak diketahui
sebagai

kejang,Kejang

klonik

multifocal

(migratory),Kejang

tonik,Kejang

mioklonik,Kejang mioklonik
Faktor Resiko
Umur,Jenis kelamin,Faktor keturunan,Suhu badan
Penatalaksanaan
(Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang)
Menjaga jalan nafas tetap bebas,Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti
kejang,Mengobati penyebab kejang
Obat anti kejang (Buku Acuan Nasional Maternatal dan Neonatal, 2002)
1.

Diazepam

2.

Fenobarbital

3.2 Saran

Setiap bayi baru lahir beresiko mengalami kejam untuk itu diharapkan kepada
bidan dan ibu hamil untuk mengetahui gejala dari kejang dan pencegahannya.

DAFTAR PUSTAKA

Markum, A. H. dkk. 1981. Kegawatan Anak. Jakarta: Nuha Medika


Price, S. 1995. Patofisiologi. Jakarta:EGC
Saifudin,abdul bari.2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
Neonatal.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sudarti,Afroh Fauziah.2012.Asuhan Kebidanan Neonatus,Bayi dan Anak
Balita.Yogyakarta : Nuha Medika.

dan

Staf pengajar IKA FKUI.1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:bagian IKA FKU