Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

DEMAM (Febris)
27 NOVEMBER 2013 | RIEZKHYAMALIA

A. DEFINISI
Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu
tubuh secara abnormal.
Febris/ demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas variasi sirkardian yang
normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang
terletak dalam hipotalamus anterior (Isselbacher, 1999).
Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 380 C
atau lebih.Adajuga yang yang mengambil batasan lebih dari
37,80C.Sedangkan bila suhu tubuh lebih dari 400C disebut demam tinggi
(hiperpireksia)(Julia, 2000).
Demam adalah kenaikan suhu tubuh karena adanya perubahan pusat
termoregulasi hipotalamus (Berhman, 1999). Seseorang mengalami
demam bila suhu tubuhnya diatas 37,8C (suhu oral atau aksila) atau
suhu rektal (Donna L. Wong, 2003).
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain :
1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari
dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai
keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut
turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu
badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai
dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam
septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam

satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut
tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan
demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada
tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh
beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian
diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit
tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien
dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan
suatu sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran
kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan
segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para
pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan
suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus
sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada
terhadap infeksi bakterial.
B. ETIOLOGI
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam
dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan,
penyakit metabolik maupun penyakit lain. (Julia, 2000).Menurut Guyton
(1990) demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri atau
zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit
bakteri, tumor otak atau dehidrasi.
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan
toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada
gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma).
Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam

diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien,


pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan
evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan
holistik.
Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul
demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang
menyertai demam.
Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien
mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan
diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya
walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan
menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya.
C. PATOFISIOLOGI
Demam terjadi sebagai respon tubuh terhadap peningkatan set point,
tetapi ada peningkatan suhu tubuh karena pembentukan panas
berlebihan tetapi tidak disertai peningkatan set point(Julia, 2000).Demam
adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) anak
terhadap infeksi atau zatasing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada
infeksi atau zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem
pertahanan tubuh dengan dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat
penyebab demam, ada yang berasal dari dalam tubuh (pirogen endogen)
dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal dari infeksi oleh
mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing
(non infeksi).Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima
(reseptor) yang terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat
pengatur panas di hipotalamus. Dalam hipotalamus pirogen ini akan
dirangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan
produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan
suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan
menghambat sekresi kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun,
terjadilah ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas.Inilah

yang menimbulkan demam pada anak. Suhu yang tinggi ini


akanmerangsang aktivitas tentara tubuh (sel makrofag dan sel limfosit
T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan meningkatkan proteolisis
yang menghasilkan asam amino yang berperan dalam pembentukan
antibodi atau sistem kekebalan tubuh. (Sinarty, 2003).
Sedangkan sifat-sifat demam dapatberupa menggigil atau krisis/flush.
Menggigil.Bila pengaturan termostat dengan mendadak diubah dari
tingkat normal ke nilai yang lebih tinggi dari normal sebagai akibat dari
kerusakan jaringan,zat pirogen atau dehidrasi. Suhu tubuh biasanya
memerlukan beberapa jam untuk mencapai suhu
baru.Krisis/flush.Bila faktor yang menyebabkan suhu tinggi dengan
mendadak disingkirkan, termostat hipotalamus dengan mendadak berada
pada nilai rendah, mungkin malahan kembali ke tingkat normal.(Guyton,
1999).
D. MANIFESTASI KLINIS
tanda dan gejala demam antara lain :
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8 C 40 C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri punggung,
anoreksia dan somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih tinggi
dari 37,5 C-40C, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan
karakteristik minor yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan
kedalaman pernapasan, menggigil/merinding perasaan hangat dan
dingin, nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala
verigo), keletihan, kelemahan, dan berkeringat (Isselbacher. 1999,
Carpenito. 2000).

F. PENATALAKSANAAN
1. Secara Fisik
Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap
4-6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau
mengigau.Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas
atau apakah anak mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang
yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena
oksigen tidak mampu mencapai otak. Terputusnya suplai oksigen ke otak
akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam keadaan demikian, cacat
seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi intelektual tertentu.
a. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
b. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
c. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen
ke otak yang akan berakibat rusaknya sel sel otak.
d. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak banyaknyaMinuman
yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan),
air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang
menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.
e. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
f. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk
menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh
dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk
menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena
justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat
keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi
(keracunan).
g. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suamsuam kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar
terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar
cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur
suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di

samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah
tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat
pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas
dari tubuh.
2. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur
suhu di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan
prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga
set point hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana
diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi
pengeluaran panas tidak ada lagi. Petunjuk pemberian antipiretik:
a. Bayi 6 12 bulan : 1 sendok the sirup parasetamol
b. Anak 1 6 tahun : parasetamol 500 mg atau 1 1 sendokteh
sirup parasetamol
c. Anak 6 12 tahun : 1 tablet parasetamol 5oo mg atau 2 sendok the
sirup parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan
dengan air atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali
sehari.Gunakan sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap
sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam
menurunkan demam dan sangat berguna khususnya pada pasien
berisiko, yaitu anak dengan kelainan kardiopulmonal kronis kelainan
metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang berisiko
kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan antipiretik terdiri
dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda dalam
susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek
pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui
pencegahan pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat
enzim cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para

-aminofenol yang bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang


disintesis dalam susunan saraf pusat. Dosis terapeutik antara 10-15
mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90
mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini dapat d itoleransi
dengan baik.Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan intoksikasi dan
kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara per oral maupun
rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n
pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik
dan antiinflamasi.Efek samping yang timbul berupa mual, perut kembung
dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin.Efek samping
hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan
anemia aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama
bila dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10
mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja
menekan pembentukkan prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik,
analgetik da n antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa
agranulositosis, anemia aplast ik dan perdara han saluran cerna. Dosis
terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam dan tidak dianjurkan unt uk
anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara per oral, intramuskular
atau intravena. Asam mefenamat suatu obat gol ongan fenamat.Khasiat
analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagaiantipiretik.Efek sampingnya
berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosispemberiannya 20
mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak
boleh diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.
G. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi : demam penguapan cairan tubuh
2. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering
terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam
pertama demam dan umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam
ini juga tidak membahayan otak

H. PENGKAJIAN FOKUS
1. Pengkajian
a. Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b. Riwayat kesehatan
c. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) :
panas.
d. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien
saat masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala
lain yang menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makn,
eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
e. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau
penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
f. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit
lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat
genetik atau tidak)
2. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
3. Pemeriksaan persistem
a. Sistem persepsi sensori
b. Sistem persyarafan : kesadaran
c. Sistem pernafasan
d. Sistem kardiovaskuler
e. Sistem gastrointestinal
f. Sistem integumen
g. Sistem perkemihan
3. Pada fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola tidur dan istirahat

f. Pola kognitif dan perseptual


g. Pola toleransi dan koping stress
h. Pola nilai dan keyakinan
i. Pola hubungan dan peran
4. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. foto rontgent
c. USG
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi atau inflamasi
2. Resiko defisit volume cairan yang berhubungan dengan intake tidak
adekuat dan diaporesis
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan keinginan untuk makan (anoreksia).
4. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
(Carpenito, 2000 & Doengoes, 2000)

A.

Definisi

Demam (Febris) adalah meningkatnya suhu tubuh yang tidak normal yang merupakan
tanda klinis terjadinya gangguan fisiologi tubuh (Buku Saku Prosedur Kep. Medical Bedah : Dra.
Elly Nur Achmah DNSc, Ratna S. Sudarsono. Skp. MAPPSc)

B.
1.

Tipe-Tipe Demam

Demam septik
Suhu tubuh berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke
tingkat diatas normal pada pagi hari disertai keluhan menggigil dan berkeringat

2.

Demam remiten
Suhu badan dapat turun tiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal.

3.

Demam intermitten
Suhu badan turun tingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari.

4.

Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajad.

5.

Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas demam
untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula (IPD Jilid 1 th
1999 Arjatmo Tjokronegoro Prof. Dr. Ph D dan Hendra Utama)

C.

Etiologi
Yang sering; infeksi saluran nafas atas, otitis media, sinusitis, bronchiolitis, pneumonia,

pharingitis, abces gigi, gingivostomatitis, gastroenteritis, infeksi saluran kenih, reaksi imun,
neoplasma, osteomilitis.
Suatu tipe demam (febris) kadang-kadang dapat dihubungkan dengan suatu penyakit
tertentu, seperti misalnya tipe demam intermitten untuk malaria. Seorang pasien dengan
keluhan utama demam mungkin dapat dihilangkan dengan suatu penyebab yang jelas, seperti
misalnya abses pneumonia, infeksi saluran kencing atau malaria, tetapi terkadang sama sekali
tidak dapat dihubungkan dengan suatu sebab yang tidak jelas. (IPD Jilid 1 th 1999 : Prof. Dr. Ph
D dan Hendra Utama)

D.

Patofisiologi

Demam terjadi karena pengelepasan pisogen dari leukosit yang sebelumnya telah
terangsang oleh pisogen oksogen yang dapat dari mikroorganisme atau merupakan hasil reaksi
imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi. (IPD Jilid 1 th 1999 Arjatmo Tjokronegoro Prof.
Dr. Ph D dan Hendra Utama)

E.

Tanda Dan Gejala

Demam diartikan suhu tubuh di atas 37,5 C (normal 36,5 37,5 C).

Pasien banyak berkeringat dan menggigil.

Gelisah atau lethargy.

Rasa lemas.

Tidak nafsu makan.

Nadi dan pernafasan cepat.

Batuk.

Tenggorokan sakit

F.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan fisik

Laboratorium : pemeriksaan darah rutin, kultur urin dan kultur darah

Hemato : CRP (C. reaktif protein) : meningkat


SGOT/SGPT : memberi petunjuk mengenai fungsi sel hati.

Lumbal fungsi.

G.

Penatalaksanaan Terapeotik

Antipiretik

Antibiotik intravena sesuai program.

Hindari kompres alkohol dan air es.

Hindari penggunaan aspirin karena potensial reyes synrome

Kloramfesikol untuk demam lifoid obat anti tuberkulosis

Aspirin untuk demam theumatik.

Antikagulasi untuk emboli paru.

H.

Komplikasi

Kejang.

Resiko persisten bakteremia.

Resiko meningitis.

Resiko ke arah keseriusan penyakit.


ASUHAN KEPERAWATAN

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien yang menderita observasi febris
meliputi beberapa tahap :
I.

Pengkajian

A.
1.

Pengumpulan Data

Identitas penderita
Meliputi : mana, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, status perkawinan, suku
bangsa, no register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis.

2.

Keluhan Utama
Orang yang menderita observasi febris biasanya mengeluh suhu badannya naik (panas), keluar
banyak keringat, batuk-batuk dan tidak nafsu makan.

3.

Riwayat Kesehatan

a.

Riwayat penyakit sekarang


Pada umumnya didapatkan peningkatan suhu tubuh di atas 37,50C (N 36,5 37,5 C) atau
ada masalah psikologis ( rasa takut dan cemas terhadap penyakitnya)

b.

Riwayat penyakit dahulu


Umumnya dikaitkan dengan riwayat medis yang berhubungan dengan penyakit febris.

c.

Riwayat penyakit keluarga


Dalam susunan keluarga adalah riwayat penyakit febris yang pernah diderita atau penyakit
turunan dan menular yang pernag diderita atau anggota keluarga.

4.
a.

Pola-Pola Fungsi Kesehatan

Pola persepsi dan tata laksan hidup sehat


Umumnya pada pola ini penderita penyakit febris mengalami perubahan dalam perawat dirinya
yang diakibatkan oleh penyakitnya

b.

Pola nutrisi dan metabolisme


Umumnya terjadi penurunan nafsu makan atau tidak.

c.

Pola eliminasi

Pada pola ini bisa terjadi perubahan karena asupan yang kurang sehingg klien tidak bisa BAB /
BAK secara normal.

d.

Pola istirahat tidur


Pada pola ini tidur kx biasanya mengalami gangguan karena adanya rasa tidak nyaman dengan
meningkatnya suhu

e.

Pola aktifitas dan latihan


Aktivitas kx bergantung karena biasanya klien lemah karena kurangnya asupan serta
meningkatnya suhu.

f.

Pola persepsi dan konsep diri


Kx merasa cemas dengan keadaan suhu tubuhnya yang meningkat dan ketakutan sehingga
mengalami perubahan metabolisme (ex : mencret)

g.

Pola sensori dan kognitif


Tidak terjadi gangguan pada pola ini dan biasanya hanya sebagian kx yang dapat
mengetahuinya.

h.

Pola reproduksi dan sexual


Pada pola ini biasanya kx tidak mengalami gangguan.

i.

Pola hubungan peran


Bisa terjadi hubungan yang baik atau kekeluargaan dan tidak mengalami gangguan.

j.

Pola penanggulangan stres


Dukungan keluarga sangat berarti untuk kesembuhan klien.

k.

Pola tata nilai dan kepercayaan


Adanya perubahan dalam melaksanakan ibadah sebagai dampak dari penyakitnya.

5.
a.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum

Kesadaran (baik, gelisah, apatis / koma), badan lemahm frekuensi pernafasan tinggi, suhu
badan meningkat dan nadi meningkat
b.

Kepala dan leher


Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma atau tidak

c.

Kulit, rambut, kuku


Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan / kelainan.

d.

Mata
Umumnya mulai terlihat cowong atau tidak.

e.

Telingga, hidung, tenggorokan dan mulut


Bentuk, kebersihan, fungsi indranya adanya gangguan atau tidak.

f.

Thorak dan abdomen


Tidak didapatkan adanya sesak, abdomen biasanya nyeri dan ada peningkatan bising usus.

g.

Sistem respirasi
Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam.

h.

Sistem kardiovaskuler
Pada kasus ini biasanya denyut pada nadinya meningkat

i.

Sistem muskuloskeletal
Terjadi gangguan apa tidak.

j.

Sistem pernafasan
Pada kasus ini tidak terdapat nafas yang tertinggal / gerakan nafas dan biasanya kesadarannya
gelisah, apatis atau koma

B.

Analisa Data

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dikelompokkan meliputi data subyektif dan obyektif
untuk menentukan masalah data yang telah dikelompokkan, ditentukan masalah
keperawatannya. Kemudian ditentukan penyebabnya serta dirumuskan ke dalam diagnosa
keperawatan (Lismidar, 1990)
II.

Diagnosa Keperawatan

1.

Peningkatan suhu tubuh b/d proses infeksi.

2.

Kurang pengetahuan mengenai penyakitnya b/d kurang informasi.

3.

Nutrisi kurang dari kebutuhan.

III. Perencanaan
Diagnosa Keperawatan I
Peningkatan suhu tubuh b/d proses penyakitnya.
Tujuan

: kenaikan suhu tubuh dapat teratasi.

KH

: suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5 C).


tidak terjadi tanda-tanda hypertensi.

Rencana tindakan :
1.

Jelaskan pada kx dan keluarga tentang terjadinya peningkatan suhu tubuh akibat-akibat dari
suhu tubuh yang tinggi.

2.

Berikan kompres kompres dingin pada daerah axila.

3.

Anjurkan kx untuk menggunakan baju yang tipis dan longgar serta menyerap keringat.

4.

Obs. gejala kordinal tiap 2 jam atau bilamana diperlukan.

5.

Anjurkan pada klien minum 2-3 liter/hari.

6.

Berikan kesempatan pada kx untuk beristirahat.

7.

Ciptakan suasana yang aman dan nyaman.

8.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.


Rasional :

KH

1.

Dengan penjelasan maka kx dan keluarga dapat diajak untuk bekerja sama dalam mengatasi
masalah tersebut.

2.

Daerah axila banyak terdapat pembuluh darah dan saraf yang dapat mempengaruhi
hipotalamus.

3.

Pakaian longgar dan tipis menimbulkan proses penguapan panas akan lebih cepat.

4.

Dapat diketahui perkembangan kondisi dan adanya kelainan secara dini.

5.

Minum air yang cukup dapat mengganti cairan yang hilang akibat penguapan yang meningkat.

6.

Istirahat dapat menurunkan metabolisme tubuh bekerja karena dengan peningkatan


metabolisme dapat menimbulkan panas.

7.

Ketegangan

dan

kecemasan

menimbulkan

peningkatan

metabolisme

tubuh

yang

mempengaruhi hipotalamus yang berhubungan dengan stres adaptasi.


8.

Membantu mempercepat penurunan suhu tubuh.

Diagnosa Keperawatan II
Kurang pengetahuan mengenai penyakitnya b/d kurang informasi.
Tujuan : rasa cemas berkurang atau hilang.
: Kx mampu mengungkapkan tentang proses penyakit dan perawatannya.
Kx mampu mengidentifikasi faktor penyebab penyakit.
Rencana tindakan :
1.

Jelaskan pada klien tentang penyakit dan gejala-gejala dan perawatan yang akan dilakukan.

2.

Bantu kx untuk mengungkapkan perasaannya dan identifikasikan kecemasan.

3.

Alihkan perhatian kx dan melakukan aktifitas yang diperbolehkan.

4.

Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman.


Rasional

1.

Diharapkan kx dapat mengerti tentang penyakitnya dan juga dapat melakukan perawatan
serta bersifat kooperatif.

2.

Diharapkan dapat mengurangi beban perasaan dan untuk mengetahui tingkat kecemasan.

3.

Dengan melakukan aktivitas dapat melupakan masalah yang dihadapi.

4.

Diharapkan dapat memberikan ketenangan perasaan yang dapat mendukung proses


kesembuhan.

Diagnosa Keperawatan III


Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d nafsu makan menurun.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi, dapat menstabilkan berat badan secara bertahap.
KH :

- Kx dapat menghabiskan porsi yang disediakan.

- BB meningkat.
Rencana tindakan :
1.

Jelaskan pada kx tentang pentingnya nutrisi dan akibat bila kekurangan nutrisi.

2.

Sajikan makanan dalam porsi kecil dan sering.

3.

Anjurkan pada kx untuk mengkonsumsi makanan tambahan tetapi yang tidak bertentangan
dengan diet.

4.

Obs. Intake dan output dalam 24 jam.

5.

Hidangkan menu dalam keadaan hangat.

6.

Kolaborasi dengan tim dokter.


Rasional :

1.

Diharapkan kx dapat mengerti dan mau bekerja sama dalam pemberian askep.

2.

Rasa mual dan muntah dapat berkurang.

3.

Dapat menambah kebutuhan zat makanan.

4.

Mengatur makanan yang dimakan oleh kx dalam sehari, sehingga mempermudah dideteksi
dini pemasukan yang adekuat.

5.

Diharapkan mampu merangsang nafsu makan kx.

6.

Dapat memberikan diet yang sesuai dengan penyakit dan kondisi kx.

IV. Implementasi
Pelaksanaan m,erupakan pengelolaan dari perwujudan rencna tindakan yang meliputi beberapa
kegiatan yaitu velidasai rencana keperawatan, mendokumentasikan rencana tindak
keperawatan, memberikan asuhan keperawatan dan mengumpulkan data. (Lismidar, 1990 :
60).

V. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap atau langkah dalam proses keperawatan yang dilaksanakan dengan
sengaja dan terus menerus yang dilakukan oleh perawat dan anggota tim kesehatan lainnya
dengan tujuan untuk memenuhi apakah tujuan dan rencana keperawatan terapi atau tidak serta
untuk melakukan pengkajian ulang.
Sehingga dapat penilaian sebagai berikut :
1.

tujuan tercapai : Kx mampu melakukan / menunjukkan prilaku pada waktu yang telah
ditentukan sesuai dengan pernyataan tujuan yang telah ditentukan.

2.

tujuan tercapai sebagian : Kx mampu menunjukkan prilaku tetapi hanya sebagian dari tujuan
yang diharapkan.

3.

tujuan tidak tercapai : Bila kx tidak mampu atau tidak sama sekali menunjukkan prilaku yang
digarapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. (H. Lismidar, 1989).

Anda mungkin juga menyukai