Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Stomatitis aphtosa atau yang di kenal dengan sariawan adalah radang non traumatik
pada mukosa mulut yang paling sering terjadi

1.

Biasanya ditandai dengan bercak putih

kekuningan dengan permukaan yang agak cekung, bercak ini dapat berupa bercak tunggal
atau multiple 2.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan tidak mengenal usia maupun jenis
kelamin, termasuk bayi yang masih berusia 6 bulan. Di Amerika Serikat, lebih kurang 1%
warganya pernah mengalami serangan sebelum usia 5 tahun 2. Kelainan ini mempunyai
prevalensi dua kali lebih banyak pada murid sekolah dibanding populasi pada umumnya.
Gangguan ini dapat mengenai sekitar 20% dari populasi umum dan dapat berulang sekitar
50% dalam 3 bulan 2,3.
Sinonim dari stomatitis aphtosa ini adalah recurrent aphthous ulcers, cancer sore,
dyspeptic ulcer, habitual ulcer, ulcer mukosa, mikulicz ulcer, ulcer nekrotikum mukosa
oris. . Daerah yang paling sering timbul stomatitis aphtosa ini adalah pada mukosa pipi
bagian dalam, lidah, gusi serta langit-langit dalam rongga mulut. Etiologi stomatitis aphtosa
sampai saat ini masih belum jelas. Faktor pencetus terjadinya stomatitis aphtosa
kemungkinan dikarenakan faktor herediter, trauma atau stress. Faktor lain yang
berhubungan seperti penyakit sistemik, defisiensi nutrisi, alergi makanan dan lain lain.
Begitu banyak pengobatan yang telah dilakukan tetapi tujuan utama pengobatan adalah
untuk mengurangi rasa sakit dan mengembalikan fungsi normal mulut 2,3.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI CAVUM ORIS


Rongga mulut (cavum oris) adalah sebuah ruangan yang dimulai dari bibir sampai
perbatasan antara rongga mulut dan faring. Rongga mulut terdiri dari 2 ruang yaitu
vestibulum dan cavum oris proprium. Vestibulum merupakan ruangan yang dibatasi antara
mukosa pipi bagian dalam dengan gigi. Adapun cavum oris proprium merupakan ruang
dalam rongga mulut yang dibatasi antara permukaan palatal gigi, lengkung alveolus, dasar
mulut dan palatum durum hingga palatum mole 3.
Rongga mulut ini mempunyai batas yaitu: batas anterior adalah bibir, batas posterior
adalah arkus anterior, batas inferior adalah dasar mulut, dan batas superior adalah palatum
mole 3. Rongga mulut dibatasi oleh organ-organ pembentuk rongga mulut, yang terdiri dari
mukosa, otot, dan kulit atau organ lain. Adapun mukosa yang melapisi lidah, pipi, bibir,
palatum, processus alveolaris (gingiva) terdiri dari: epithelium squamosum kompleks
membrana propria, lamina propria (terdapat glandula) 3.
Di dalam rongga mulut ini juga terdapat lidah dan gigi. Muara duktus kelenjar parotis
menghadap gigi molar kedua atas. Gigi ini ditunjang oleh krista alveolar mandibula di
bagian bawah dan krista alveolar maksila di bagian atas. Gigi pada bayi terdiri dari dua gigi
seri, satu gigi taring dan dua gigi geraham. Sedangkan gigi pada orang dewasa terdiri dari
dua gigi seri, satu gigi taring, dua gigi premolar dan tiga gigi molar. Permukaan oklusal dari
gigi seri berbentuk menyerupai pahat, dan gigi taring tajam, sedang premolar dan molar
mempunyai permukaan oklusal yang datar. Daerah di antara gigi molar paling belakang atas
dan bawah dikenal dengan trigonum retromolar 3.
Palatum terbagi menjadi 2 yaitu hard palate dan soft palate. Palatum ini dibentuk oleh
tulang dari palatum durum di bagian depan dan sebagian otot palatum mole dibagian
belakang. Batas antara palatum durum dan palatum mole dapat dibedakan dari warnanya.
Pada palatum durum berwarna merah muda, sedangkan pada palatum mole berwarna merah
kekuningan. Ketidakmampuan palatum mole untuk menutup akan mengakibatkan bicara
yang abnormal dan kesulitan untuk menelan 3.

Dasar mulut terbagi menjadi 2 bagian oleh frenulum lingual. Pada dasar mulut ini
terdapat

sublingual papilae yang merupakan

tempat masuknya duktus glandula

submandibularis, dan disebelahnya terdapat sublingual fold yang merupakan jalur dari
glandula sublingual. Di antara lidah dan gigi terdapat kelenjar sublingual dan bagian dari
kelenjar submandibula.. Kegagalan kelenjar liur untuk mengeluarkan liur menyebabkan
mulut menjadi kering atau xerostomia.3.
Lidah merupakan organ muscular yang aktif. Dua pertiga bagian depan dapat
digerakkan, sedangkan pangkalnya terfiksasi. Pada lidah ada dua permukaan yaitu dorsal
dan ventral. Dibagian dorsal terdapat sulcus terminalis yang berbentuk huruf V. Disebelah
depan dari sulcus terdapat papilla sirkumvalata, dan puncak dari sulcus terdapat foramen
caecum yang merupakan tempat asal dari duktus tiroglosus. Bagian ventral dari lidah
terdapat mukosa membrane yang halus1,3. Cita rasa dua pertiga bagian depan dipersarafi
oleh saraf korda timpani dan nervus glosofaringeus pada sepertiga lidah bagian belakang.
Fungsi dari lidah adalah untuk bicara dan menggerakkan bolus makanan pada waktu
mengunyah dan menelan 3.
B. Vaskularisasi
Vaskularisasi lidah disuplai oleh arteri lingualis. Sedangkan vaskularisasi palatum
oleh

cabang-cabang palatina

yaitu A. palatina

major, Aa palatinae minores yang

merupakan cabang dari arteri maxillaries interna. Aliran vena maksila dan mandibula ini
berkumpul di vena plexus pterigoideus dan masuk ke dalam vena jugularis interna1.
C. Inervasi
Persarafan rongga mulut yang sensorik berasal dari cabang nervus trigeminal, nervus
maksilaris dan nervus mandibula. Pada bagian anterior palatum durum dipersarafi oleh
nervus nasopalatina, sedang bagian lain dari palatum durum dipersarafi dari nervus
maksilaris. Dua pertiga anterior lidah dipersarafi oleh

nervus lingualis dan sepertiga

posterior lidah dipersarafi oleh nervus glosofaringeus 1.

D. Sistem Limfatik
Pada drainase limfatik bagian atas bibir drainasenya ke preaurikuler, infratiroid, dan
submandibular nodes. Bibir bagian bawah dimana bagian medialnya ke submental dan
bagian lateralnya ke submandibular nodes. Mukosa bukal drainasenya ke submental dan
3

submandibular nodes. Langit-langit mulut (palatum durum) drainasenya ke deep cervical


bagian atas dan lateral retropharingea nodes, bagian anterior palatum durum ke
submandibular nodes. Pada dasar mulut bagian anterior ke submandibular nodes dan bagian
posterior kearah deep cervical nodes bagian atas. Aliran limfe pada lidah sedikit lebih
kompleks. Pada duapertiga anterior lidah terbagi menjadi pembuluh-pembuluh marginal dan
sentral. Pembuluh marginal tersebut akan menuju ke nodus submandibula dan pembuluhpembuluh sentral pada puncak lidah akan menuju ke nodus submental. Sepertiga posterior
dari lidah drainasenya melalui nodus jugulodigastricus 4,5.

B. STOMATITIS APHTOSA
1. Definisi
Stomatitis aphtosa adalah radang non traumatic pada mukosa mulut. Biasanya berupa
bercak putih kekuningan dengan permukaan yang agak cekung, bercak ini dapat berupa
bercak tunggal atau multiple dan ada sebagian yang menyebutkan sebagai ulserasi pada
mukosa mulut nonkeratinisasi yang rekuren, terasa sakit dan tidak diketahui penyebabnya
1,4

.
2. Etiologi
Etiologinya belum diketahui dengan pasti. Ada beberapa faktor pencetus yang dapat

mengakibatkan terjadinya stomatitis aphtosa ini, diantaranya : hygiene gigi yang buruk
sering dapat menjadi penyebab timbulnya sariawan yang berulang, luka tergigit,
mengkonsumsi air dingin atau air panas, alergi makanan bisa terjadi karena kenaikan kadar
Ig E dan keterkaitan antara beberapa jenis makanan dan timbulnya ulser, herediter biasanya
kesamaan yang tinggi pada anak kembar, dan pada anak-anak yang kedua orang tuanya
menderita stomatitis aphtosa, kelainan pencernaan, faktor psikologis (stress), komplikasi
tindakan radioterapi, gangguan hormonal seperti sebelum dan sesudah menstruasi, merokok,
jamur, penggunaan obat kumur yang mengandung bahan-bahan pengering (misalnya
alkohol, lemon, gliserin), kekurangan vitamin C, dan kekurangan vitamin B 1,2,6.
Stomatitis aphtosa mempunyai 2 jenis tipe penyakit, yaitu :
Sariawan akut bisa disebabkan oleh trauma sikat gigi, tergigit, dan lain-lain. Pada sariawan
akut ini bila di biarkan saja akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.
Sariawan kronis akan sulit sembuh jika dibiarkan tanpa di beri tindakan apa-apa. Sariawan
jenis ini disebabkan oleh xerostomia (mulut kering). Pada keadaan mulut kering, kuantitas
saliva berkurang. Akibatnya kualitasnya pun juga akan berkurang. Penyebab dari
4

xerostomia adalah gangguan psikologis (stress), perubahan hormonal, gangguan


pencernaan, sensitive terhadap makanan tertentu dan terlalu banyak mengkonsumsi anti
histamine atau sedative 2.
3.

Manifestasi Klinis
Secara klinis stomatitis aphtosa ini dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu :stomatitis

aphtosa minor(MiRAS), stomatitis aphtosa mayor (MaRAS), dan ulserasi hepertiformis


(HU). Sebagian besar pasien menderita stomatitis aphtosa minor. Biasanya terjadi hampir
85% kasus. Yang ditandai dengan luka (ulkus) bulat atau oval, dangkal, dengan diameter
0,3-1 cm dan dikelilingi oleh tepi yang eritematous. Ulserasi pada MIRAS cenderung
mengenai daerah-daerah non-keratin seperti mukosa labial, mukosa bukal, dan dasar mulut.
Ulserasi ini bisa tunggal atau berkelompok yang terdiri dari empat atau lima. Dan akan
sembuh dalam jangka waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas 1.
Hanya sebagian kecil dari pasien yang terjangkit stomatitis aphtosa mayor.. Namun
jenis ini lebih hebat dibandingkan dengan stomatitis aphtosa minor. Secara klasik ulkus ini
berdiameter 1-5 cm, dan berkembang lebih dalam. Berlangsung selama 4 minggu atau lebih
dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut termasuk daerah yang
berkeratin.Stomatitis jenis ini meninggalkan bekas 1.
Istilah herpetiformis digunakan karena bentuk klinis dari HU (yang dapat terdiri
atas 100 ulkus kecil-kecil pada satu waktu) berdiameter 1-3 mm, mirip dengan
gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virus-virus herpes ini tidak mempunyai peran
etiologi pada HU dalam setiap bentuk ulserasi aphtosa 1.
Secara histopatologi stomatitis aphtosa ini merupakan diagnosis klinis, dan tidak ada
gambaran mikroskopis sebagai petunjuk diagnosa ulkus aphtosa. Mononukler sel, terutama
T-helper sering ditemukan sebelum stadium ulcerasi. Makrofag dan mast sel sering
ditemukan pada bagian dasar ulkus. Extravasasi sel darah merah dan neutrofil sering
ditemukan pada stadium awal dari ulkus 1.

4. Diagnosis

Diagnosis stomatitis ini ditegakkan berdasarkan dari gejala dan pemeriksaan fisik.
Adapun gejala yang timbul pada stomatitis aphtosa ini adalah rasa panas atau terbakar
dimana dalam 1 atau 2 hari akhirnya terjadi luka. Susah untuk makan, minum, maupun
untuk berbicara. Sehingga banyak mengeluarkan air liur. Ulkus ini dapat sembuh sendiri
dalam waktu 4 20 hari. Faktor penyebab terjadinya stomatitis adalah herediter, trauma
mekanik, difisiensi nutrisi, alergi, kontak dgn radioterapi dll. Sedangkan pada pemeriksaan
fisik dapat ditemukan ulkus, baik pada Miras, Maras, atau HU 1.
5. Diagnosa banding.
Stomatitis aphtosa ini terdapat diagnosa banding yaitu herpetic stomatitis, reaksi
obat, eritema multiformis, bechet sindrom.
Aphthous ulcers

dapat dibedakan dengan lesi herpetic secara klinis. Biasanya

aphthous ulcers tidak didahului dengan pembentukan vesikel dan terjadi pada mukosa oral
yang bebas bergerak. Sedangkan lesi herpetic ini didahului dengan pembentukan vesikel
pada mukosa yang terikat kuat dengan gingiva dan jaringan palatum 1.
6. Penatalaksanaan
Pengobatan pada stomatitis aphtosa ini adalah medikamentosa dan edukasi. Dalam
mengatasi sariawan ini dapat menggunakan beberapa jenis obat baik dalam bentuk salep
(yang mengandung antibiotika dan penghilang rasa sakit), obat tetes, maupun obat kumur.
Stomatitis ini dapat di terapi dengan antibiotika, anti inflamasi, vitamin, suplemen. Seperti
tetracycline oral suspensi (200mg/5ml) setiap 6 jam selama 5 sampai 7 hari. Bila ulkus
tersebut jenisnya yang minor dan tidak terdapat nyeri maka tidak perlu pengobatan, tetapi
bila disertai nyeri maka dapat dilakukan cauter dengan perak nitrat. Bila lesi tersebut berupa
minor aphthae dan masih dalam stadium prodormal maka dapat digunakan steroid topical
yang seringkali dicampur dengan orabase. Pada tomatitis aphtosa yang berat maka perlu
diberikan steroid sistemik 1,4,5.

BAB III

LAPORAN KASUS
A. Anamnesa
Identitas
Nama

Tn. A.F.

Jenis kelamin

Laki-laki

Usia

22 tahun

Pekerjaan

Mahasiswa

Alamat

Mlati Sleman

RM

1.06.25.41

Keluhan utama : nyeri pada bibir bawah bagian dalam


Riwayat penyakit sekarang :
Pasien merasakan bibir bawah bagian dalam nyeri sejak 3 hari yang lalu, terasa panas atau
terbakar. Selama sakit belum pernah berobat. Keluhan perut disangkal, tidak ada mual, tidak
muntah. Pasien jarang mengkonsumsi sayur dan buah. Dalam 1-2 bulan kambuh 1 kali.
Pasien mengeluh stress akan menghadapi ujian. Tidak demam, tidak ada keluhan sakit gigi.
Pasien tidak merokok. Tidak ada keluhan telinga, hidung dan tenggorokan.
Riwayat penyakit dahulu :

Riwayat dengan keluhan serupa 3 bulan yang lalu

Riwayat penyakit keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit yang sama.
B. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital :
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Frekuensi nadi

: 88 x/menit

Frekuensi nafas

: 20 x/menit

Suhu

: 36,8 0C
7

Pemeriksaan THT
Telinga

: Dalam batas normal

Hidung

: Dalam batas normal

Tenggorokan

: Dalam batas normal

Status lokalis (bibir)

: Terdapat 1 ulkus dibibir bawah bagian dalam, diameter 1 cm,


bulat, dangkal, tepi kemerahan.

C. Diagnosa
Dari anamnesa dan pemeriksaan ditegakkan diagnosa stomatitis aphtosa.
D. Terapi

Triamcinolon topical 3 x 1

Vitamin C 1 x 500 mg

Paracetamol 3 x 500 mg

E. Masalah
Rekurensi
F. Rencana
Edukasi

BAB IV
DISKUSI

Stomatitis aphtosa adalah ulkus non traumatic yang sering terjadi. Meskipun
karakteristik dari stomatitis aphtosa ini sangat jelas, tetapi etiologi dan patogenesisnya
masih belum jelas. Beberapa teori menyebutkan, bukti terbaik ditujukan pada mekanisme
imunologi dimana auto antibodi membran mukosa mulut atau sirkulasi antibodi dari
Streptococcus sanguis membentuk suatu antigen antibodi kompleks yang mengaktifkan
komplemen yang pada akhirnya menyebabkan respon inflamasi yang terus-menerus. Sekresi
dari enzim sitopatik yang dikeluarkan oleh neutrofil dan lekosit yang lain menyebabkan
kerusakan jaringan dan nekrosis epitel yang pada akhirnya menghasilkan sebuah ulcer
aphthous1.
Stomatitis aphtosa ini seringkali dianggap sebagai penyakit yang ringan, sehingga
kurang diperhatikan. Padahal stomatitis aphtosa ini tingkat kekambuhannya cukup tinggi.
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya sariawan ini, seperti trauma, stress,
kekurangan vitamin B dan C, merokok, dan lain sebagainya. Bila kita melihat dari faktor
penyebabnya sebenarnya tidaklah sulit bagi kita untuk dapat mencegah agar hal tersebut
tidak terjadi.

BAB V
KESIMPULAN
Telah dilaporkan, pasien laki-laki usia 22 tahun dengan diagnosa stomatitis aphtosa
rekuren. Pada pasien ini diberikan terapi triamsinolon salep yang dioleskan 3 kali sehari
setelah makan dan menjelang tidur, vitamin C 1 x 500 mg, parasetamol tablet 3 x 500 mg.
Untuk mencegah kekambuhan pasien diberi edukasi.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Bailey BJ, Johnson JT. Stomatitis. In: Head and Neck Surgery Otolaryngology
Fourth Edition. Lippincott Williams & Wilkins 2006;42:579-597.
2. Recurrent
Aphthous
Ulceration.
Anonim.
Available

in

http://www.healthmantra.com/ypb/recurrent-aphthous-stomatitis.htm
3. Effendi H, Santoso RAK. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta. EGC.
1997.
4. Sariawan Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. Avalaible
in : http://www.id.wikipedia.org/wiki/Sariawan

5. Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery Eighth Edition. USA.
McGraw-Hill. 2003.
6. Bhargava KB, et al. A Short Textbook of ENT Disease. Sixth Edition. Mumbai. Usha
Publishers. 2002.

11