Anda di halaman 1dari 30

HPV, Vaksin,

Paps Smear dan


Penilaiaannya
Created by:
Dr jose tymothy manuputty

Human Papilloma Virus

HPV adalah virus DNA sirkuler dengan untaian ganda


yang tidak berselubungkan virion anggota famili
Papoviridae, genus papillomavirus

Pada proses karsinogenesis, asam nukleat virus dapat


bersatu ke dalam gen dan DNA manusia sehingga
menyebabkan mutasi sel HPV memproduksi

Protein E6 pada HPV tipe 18


Protein E7 pada HPV tipe 16

Masing-masing mensupresi gen P53 dan gen Rb yang


merupakan gen penghambat perkembangan tumor.

Human Papilloma Virus


Protein E6
mengikat p53

Tumor
supressorgen
(TSG) P53 tidak
berfungsi

Hilangnya
fungsi P53
untuk
apoptosis

Protein E7
mengikat TSG
Rb

Terlepasnya
E2F (faktor
transkripsi)

Terjadinya
siklus sel tidak
terkontrol

Cara Penularan

Faktor Risiko
Aktivitas seksual yang dapat meningkatkan risiko infeksi HPV dan kanker serviks
meliputi :

Mempunyai multipel partner seksual atau berhubungan seks dengan partner yang
mempunyai multipel partner seks.

Sejarah mempunyai penyakit sexually transmitted disease (STD)

Hubungan

seksual pertama pada usia muda (sebelum usia 18)

Pasien atau seksual partner mempunyai penyakit kondiloma genitalia (kutil).

Tidak menggunakan kondom pada hubungan seksual dengan partner baru.

Pasangan yang lalu dari partner seks menderita kanker serviks atau sel2 abnormal.

Sexual partner menderita kanker penis.

Penyakit HPV Lainnya

Kutil kelamin (genital


warts)

Sering kambuh

Beban psikologis bagi


penderitanya

Tingkat kesembuhan
bervariasi.

Human Papilloma Virus

Kekuatan ikatan protein E7 dengan pRb berbeda-beda


pada beberapa tipe virus HPV, misalnya: ikatan E7 HPV 6
dan 11 kurang kuat dibandingkan dengan HPV 16
ataupun 18.

Kelompok HPV risiko rendah (HPV tipe 6, 11, 42, 43 dan


44), dan risiko tinggi (HPV tipe 16, 18, 31, 33 , 35, 39,
45, 51, 52, 56 dan 58).

Vaksin HPV

Vaksin HPV sebagai vaksin kanker serviks adalah vaksin kedua di dunia yang
dapat mencegah terjadinya kanker

Teknologi untuk memproduksi vaksin HPV adalah rekombinan DNA. 3,4


1. Viral Like Particles Vaccines (VLP):
Vaksin dibentuk dengan protein virus, L1, yang bertanggungjawab dalam membentuk
kapsid virus. Protein tersebut memiliki fungsi untuk membentuk dirinya sendiri
menjadi partikel yang menyerupai virus. Partikel tersebut tidak mengandung DNA
virus sehingga tidak bersifat infeksius dan dapat menghilangkan risiko seseorang
terkena infeksi dari vaksin itu sendiri.

Vaksin HPV
2. Recombinant Fusion Proteins and Peptides. Merupakan gabungan ekspresi
antigen dengan peptida sintetik yang dapat berrespons terhadap epitop
imunogenik protein virus. Vaksin ini diharapkan dapat memberikan efek
terapeutik terhadap subyek yang sudah terinfeksi.
3. Live Recombinant Vectors. Vaksin berasal dari virus hidup yang
direkombinan dengan virus vaccinia untuk mengekspresikan gen HPV tipe 16
dan 18.

Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman


Vaksinasi HPV yang Disusun HOGI)

Perjalanan penyakit kanker serviks invasif


Sel epitel serviks normal terinfeksi HPV risiko tinggi berdegenerasi
menjadi lesi prakanker bergenerasi menjadi kanker serviks invasif.

Vaksin
Vaksin dibuat dengan teknologi rekombinan, vaksin berisi VLP (virus like
protein) yang merupakan hasil cloning dari L1 (viral capsid gene) yang
mempunyai sifat imunogenik kuat.

Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman


Vaksinasi HPV yang Disusun HOGI)

Pencegahan

Vaksinasi HPV pencegahan primer kanker serviks uterus (vaksinasi profilaksis


HPV 16,18).

Pap smear pencegahan sekunder.

Pencegahan TERBAIK melakukan vaksinasi dan pap smear untuk menjangkau


infeksi HPV risiko tinggi lainnya), karena jangkauan perlindungan vaksinasi tidak
mencapai 100% (89%).

Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman


Vaksinasi HPV yang Disusun HOGI)

Jenis vaksin

Bivalen (16, 18)

Quadrivalen (16, 18, 6, 11)

HPV 16 dan HPV 18 merupakan HPV risiko tinggi (karsinogen)


HPV 6 dan 11 merupakan HPV risiko rendah (non-karsinogen).

Cara pemberian
Vaksin diberikan secara suntikan intramuskular. Diberikan pada bulan 0, 1, 6
(dianjurkan pemberian tidak melebihi waktu 1 tahun)

Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman


Vaksinasi HPV yang Disusun HOGI)

Tujuan vaksinasi
Mencegah infeksi HPV 16, 18 (karsinogen kanker serviks), Vaksinasi tidak
bertujuan untuk terapi. Lama proteksi vaksin bivalen 53 bulan, dan vaksin
quadrivalen berkisar 36 bulan.

Indikasi

Perempuan yang belum terinfeksi HPV 16 dan HPV 18

Usia pemberian vaksin (disarankan usia >12 thn

Belum cukup data efektivitas pemberian vaksin HPV pada laki-laki.

Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman


Vaksinasi HPV yang Disusun HOGI)

Efektivitas
Pada penelitian fase II proteksi NIS 2/3 karena HPV 16 dan 18 pada yang
divaksinasi mencapai 100% dan proteksi 100% dijumpai sampai 2-4 tahun
pengamatan (follow up).

Proteksi silang
Vaksin bivalen (HPV tipe 16 dan 18) mempunyai proteksi silang terhadap HPV
tipe 45 (dengan efektivitas 94%) (cross protection) dan HPV tipe 31 (dengan
efektivitas 55%).

Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman


Vaksinasi HPV yang Disusun HOGI)

Deteksi HPV

Pemeriksaan pap smear dapat mendiagnosis infeksi HPV secara umum, tidak dapat
mendiagnosis infeksi HPV risiko tinggi. Diagnosis infeksi HPV risiko tinggi dapat
diketahui dengan pemeriksaan hybrid capture (HC) atau polymerase chain
reaction (PCR).

Kontraindikasi

Vaksinasi pada ibu hamil tidak dianjurkan, sebaiknya

vaksinasi diberikan setelah persalinan. Sedangkan pada ibu menyusui


vaksinasi belum direkomendasikan. Hipersensitivitas.

Paps Smear

Pap Smear atau tes Pap adalah suatu prosedur untuk memeriksa kanker
serviks pada wanita. Pap Smear meliputi pengumpulan sel-sel dari leher
rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi lesi
kanker atau prakanker.

Paps Smear

Tujuan dan manfaat pap smear, yaitu:

Evaluasi sitohormonal

Mendiagnosis peradangan

Identifikasi organisme penyebab peradangan

Mendiagnosis kelainan prakanker (displasia) leher rahim dan kanker leher rahim
dini atau lanjut (karsinoma/invasif).

Memantau hasil terapi

Paps Smear

Tujuan dan manfaat pap smear, yaitu:

Evaluasi sitohormonal

Mendiagnosis peradangan

Identifikasi organisme penyebab peradangan

Mendiagnosis kelainan prakanker (displasia) leher rahim dan kanker leher rahim
dini atau lanjut (karsinoma/invasif).

Memantau hasil terapi

Paps Smear
Indikasi

tes pap smear

Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya mereka yang

wanita di bawah usia 21 tahun


terhitung hanya 0,1% yang mengidap kanker
serviks
tinggi aktifitas seksualnya,

ACOG merevisi pedoman skrining kanker serviks, yaitu dimulai saat usia 21 tahun,
tanpa mempertimbangkan riwayat seksual sebelumnya

Parameter

American Cancer Society Rekomendasi


Paps Smear

Usia memulai skrining

Usia 21 tahun, tanpa mempertimbangkan


riwayat seksual sebelumnya.

Skrining antara usia 2129

Skrining dengan sitologi saja setiap 3


tahun. Pemeriksaan HPV tidak harus
dilakukan pada kelompok umur ini.

Skrining antara usia 30-65

Skrining dengan kombinasi sitologi dan


pemeriksaan HPV setiap 5 tahun
(dianjurkan) atau sitologi saja setiap 3
tahun.

Skrining antara usia 30-65 .

Skrining dengan kombinasi sitologi dan


pemeriksaan HPV setiap 5 tahun
(dianjurkan) atau sitologi saja setiap 3
tahun

Usia berhenti skrining

Usia 65 tahun, jika wanita memiliki


skrining awal negatif dan tidak dinyatakan
risiko tinggi kanker serviks.

Skrining setelah histerektomi

tidak diindikasikan untuk wanita tanpa


leher rahim dan tanpa riwayat lesi
prakanker grade tinggi (misalnya, CIN2
atau CIN3) dalam 20 tahun terakhir atau
kanker serviks

Paps Smear
Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Pap Smear

Perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim paling sering


ditemukan pada usia 35-55 tahun dan memiliki resiko 2-3 kali lipat
untuk menderita kanker leher rahim

Umur

Sosial ekonomi

Paritas

Usia wanita saat nikah

Golongan sosial ekonomi yang rendah sering kali


terjadi keganasan pada sel-sel mulut rahim, hal ini karena ketidak
mampuan melakukan pap smear secara rutin.
dengan jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak persalinan
terlampau dekat mempunyai resiko terhadap timbulnya perubahan
sel-sel abnormal pada leher rahim.
Usia menikah <20 tahun mempunyai resiko lebih
besar mengalami perubahan sel-sel mulut rahim. Hal ini karena pada
saat usia muda sel-sel rahim masih belum matang, maka sel-sel
tersebut tidak rentan terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh
sperma dan segala macam perubahanya

Paps Smear

Paps Smear
Syarat

Pengambilan Bahan :

Bahan pemeriksaan harus berasal dari porsio leher rahim.

Pengambilan pap smear dapat dilakukan setiap waktu diluar masa haid, yaitu
sesudah hari siklus haid ketujuh sampai dengan masa pramenstruasi.

Apabila klien mengalami gejala perdarahan diluar masa haid dan dicurigai
penyebabnya kanker leher rahim, sediaan pap smear harus dibuat saat itu walaupun
ada perdarahan.

Pada peradangan berat, pengambilan sediaan ditunda sampai selesai pengobatan.

Klien dianjurkan untuk tidak melakukan irigasi vagina (pembersihan vagina dengan
zat lain), memasukkan obat melalui vagina atau melakukan hubungan seks
sekurang-kurangnya 24 jam, sebaiknya 48 jam.

Klien yang sudah menopause, pap smear dapat dilakukan kapan saja

Paps Smear
Interpretasi

Hasil Pap Smear :

Sistem

Papanicolaou

Sistem

Cervical Intraepithelial

Neoplasma (CIN),
Sistem

Bethesda.

Paps Smear
Klasifikasi

Papanicolaou membagi hasil


pemeriksaan menjadi 5 kelas, yaitu:
Kelas I

: tidak ada sel abnormal.

Kelas II : terdapat gambaran sitologi atipik,


namun tidak ada indikasi adanya keganasan.
Kelas III : gambaran sitologi yang dicurigai
keganasan, displasia ringan sampai sedang.
Kelas IV : gambaran sitologi dijumpai displasia
berat.
Kelas V : keganasan.

Paps Smear
Sistem

CIN

CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada kurang
dari sepertiga lapisan epitelium.

CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium.

CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah
melibatkan sampai ke basement membrane dari epitelium.9

Paps Smear
Klasifikasi
Sel

Bethesda 2001 adalah sebagai berikut :

skuamosa

Atypical Squamous Cell of Undetermined Significance (ASC-US) yaitu sel skuamosa


atipikal yang tidak dapat ditentukan secara signifikan. Sel skuamosa adalah datar, tipis
yang membentuk permukaan serviks.

Low-grade Squamous Intraephitelial Lesion (LSIL) , yaitu tingkat rendah berarti


perubahan dini dalam ukuran dan bentuk sel. Lesi mengacu pada daerah jaringan
abnormal, intaepitel berarti sel abnormal hanya terdapat pada permukaan lapisan selsel.

High-grade Squamosa Intraepithelial (HSIL) berarti bahwa terdapat perubahan yang jelas
dalam ukuran dan bentuk abnormal sel-sel (prakanker) yang terlihat berbeda dengan selsel normal.

Squamous Cells Carcinoma

Paps Smear
Sel

glandular

Atypical Glandular Cells (AGC), specify endocervical, endometrial or not otherwise


specified (NOS)

Atypical Endocervical Cells, favor neoplastic, specify endocervical or not otherwise


specified (NOS)

Endocervical Adenocarcinoma In situ (AIS)

Adenocarcinoma.

Paps Smear