Anda di halaman 1dari 5

BAB 4

B. PEMBUKTIAN MALAPRAKTIK DI BIDANG PELAYANAN KESEHATAN


Dari defenisi malapraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat menggunakan
tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazin di
pergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama.
(Valentine v. La society de bienfaisance mutuelle de Los Angelos, California, 1956).
Dari defenisi tersebut malapraktik harus di buktikan bahwa apakah benar telah terjadi
kelalaian tenaga kesehatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
ukurannya adalah lazim di gunakan di wilayah tersebut.
Sebagai contoh adanya complain terhadap tenaga perawatan dari pasien yang menderita
radang uretra setelah pemasangan keteter. Apakah hal ini dapat di minta pertanggung jawaban
hukum kepada tenaga perawatan? Yang perlu di pahami semua yaitu uretritis bukan merupakan
resiko yang melekat terhadap pemasangan kateter? Apakah tenaga perawatan dalam memasang
kateter sesuai dengan prosedur professional? Hal hal inilah yang menjadi pegangan untuk
menentukan ada dan tidaknya malapraktik.
Dalam hal tenaga perawatan didakwa telah melakukan criminal malapractice, harus
dibuktikan memenuhi unsur sebagai berikut, yakni :
1. Apakah perbuatan (positive act atau negative act) merupakan perbuatan yang berbeda
2. Apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (means rea) yang salah (sengaja,
ceroboh, atau adanya kealpaan).
Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktiannya dapat dilakukan dengan
dua cara, yakni :
1. Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni :
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga perawatan dengan pasien, tenaga
perawatan haruslah bertindak berdasarkan
1) Adanya indikasi medis
2) Bertindak secara hati-hati dan teliti
3) Bekerja sesuai standar profesi

4) Sudah ada informed consent.


b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)
Jika seorang tenaga perawatan melakukan asuhan keperawatan menyimpang dari apa yang
seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya,
maka tenaga perawatan tersebut dapat dipersalahkan.
c. Direct Causation (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
Tenaga perawatan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara
penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa
atau tindakan sela diantaranya., dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome)
negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan tenaga perawatan.
Sebagai adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka pembuktiannya adanya kesalahan
dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien).
2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi
pasien, yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya
sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur).
Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria:
a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai
b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory
negligence.

D. SENGKETA DAN TINDAK PIDANA MALAPRAKTIK


Sengketa dalam bidang kesehatan merupakan bagian yang tidak pernah dapat dilepaskan
dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Dugaan malpraktek, ketidakpuasan pelayanan,
pembiayaan kesehatan yang mahal, pelanggaran disiplin dan pelanggaran etika profesi
merupakan isu yang sering dipermasalahkan dalam sengketa medik kesehatan. Penyelesaian
segketa yang dilakukan melalui lembaga peradilan bersifat terbuka dan mengadili dengan hasil
akhir kalah dan menang memberikan kerugian pada para pihak khususnya dalam hubungan antar
para pihak pasca proses peradilan. Mediasi sebagai bentuk alternatif penyelesaian sengketa
merupakan pendekatan yang tepat. Dilegalkan oleh sistem hukum di Indonesia. Peraturan
Mahkamah Agung RI (Perma) Nomor 1 Tahun 2008 memberikan pengaturan pada lembaga
peradilan bahwasanya semua sengketa perdata sebelum dilakukan proses persidangan terlebih
dahulu wajib dilakukan mediasi dan bila tidak dilakukan maka putusannya batal demi hukum.
Dalam hal sengketa medik kesehatan ketentuan mengenai mediasi dalam penyelesaian sengketa
medik kesehatan diamanahkan dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009.
Secara umum yang dikatakan malapraktik adalah keteledoran seorang professional, biasanya
dokter, yang akibat tindakannya terjadi kerusakan pada kliennya, atau pasiennya. Misalnya,
seorang pasien tiba-tiba kolaps akibat tidak tahan obat suntik yang di berikan. Jika hal ini terjadi
dokter harus bertindak cepat memberikan obat lain. Apabila dokter tidak member obat, atau obat
itu tidak ada, maka pasien akan meninggal, maka dokter tersebut dapat dipidana, karena kealpaan
dan kelalaiannya.
Secara yuridis kasus tersebut dapat di ajukan ke pengadilan pidana maupun perdata sebagai
malapraktik untuk di lakukan pembuktian berdasarkan standar profesi kedokteran. Seorang
dokter antara lain dapat dikenakan pasal 359, 360, dan 361 KUHP bila melapraktik itu dilakukan
dengan sangat tidak berhati-hati (culpa lata), kesalahan serius, dan sembrono.
Unsur-unsur dalam pasal 359 dan 360 KUHP menurut Adami Chazawi, sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Adanya unsure kelalaian.


Adanya wujud perbuatan tertentu.
Adanya akibat luka berat atau matinya orang lain.
Adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dan akibat kematian orang lain itu.

Hukum pidana digunakan apabila timbul akibat berupa kematian atau cacatnya seseorang.
Hukum pidana berperan sebagai hukum sanksi (sanctie recht). Pelaksanaan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat menggunakan norma hukum kesehatan, sedangkan terhadap penyimpangan
digunakan hukum pidana dalam bidang kesehatan. Dasar utama hukum pidana yaitu orang
jangan melakukan kesalahan.
Unsur untuk menentukan kelalaian yang di lakukan oleh dokter dalam melaksanakan
tindakan medis Sofyan Dahlan mengemukakan dengan cara membuktikan 4D-nya:
1. Duty, yaitu adanya kewajiban yang timbul dari hubungan terapeutis.

2. Dereliction of duty, yaitu tidak melaksanakan kewajiban yang seharusnya dilaksanakan.


3. Damage, yaitu timbulnya kerugian atau kecederaaan.
4. Direct causation, yaitu adanya hubungan langsung antara kecederaan atau kerugian itu
dengan kegagalan melaksanakan kewajiban.
Tentang ganti rugi disinggung dalam pasal 55 ayat 1 UU kesehatan yang berbunyi. : setiap
orang berhak ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.
Menurut Guwandi hubungan kepercayaan dokter dan pasien, sebagai berikut:
1. Pasien percaya bahwa dokter mempunyai ilmu pengetahuan tentang kedokteran yang
dapat dipakai untuk upaya penyembuhan dirinya.
2. Pasien percaya bahwa dokter mampu dan terampil dalam penerapan ilmunya dalam
rangka usaha penyembuhan dirinya.
3. Pasien percaya bahwa dokter akan melakukan pekerjaan-nya berdasarkan standar profesi
medic yang telah ditentukan oleh ikatan profesinya.
Kelemahan sementara dokter yaitu enggan mengubah diagnosis, pada saat dokter tersebut
menegakkan diagnosisnya. Mempertahankan diagnosis yang salah merupakan suatu bentuk
kelalaian. Sehingga upaya penyelesaian sengketa antara dokter dan pasien, baik secara etika
maupun hukum selama ini dinilai tidak memuaskan pihak pasien karena putusan pengadilan
yang sering tidak mencerminkan keadilan bagi sang pasien. Sampai saat ini kasus malapraktik
belum mendapat tempat yang selayaknya dalam kerangka hukum.
Penyelesaian sengketa medic melalui jalur etika diatur dalam undang-undang republic Indonesia
nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran. Apabila tindakan dokter bertentangan dengan
etika dan moral serta kode etik kedokteran Indonesia (Kodeki) yang telah di buktikan oleh
Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK), maka bisa dikatakan malapraktik dan diajukan
gugatan hukum. Namun demikian, undang-undang ini menuai banyak kriktik karena kentalnya
nuansa perlindungan kepentingan dokter yang dicerminkan oleh putuskan yang berupa sanksi
administrasi.
Menurut Bambang Purnomo, tanggung jawab kesehatan di dalam rumah sakit menurut doktrin
kesehatan, yaitu :
a. Personal liability, yaitu tanggung jawab tanpa kesalahan.
b. Strict liability, yaitu tanggung jawab tanpa kesalahan
c. Vicarius liability, yaitu tanggung jawab yang timbul akibat kesalahan yang dilakukan
bawahannya
d. Respondent liability, yaitu tanggung jawab tanggung renteng.
e. Corporate liability, yaitu tanggung jawab yang berada pada pemerintah.
Menurut Bambang Purnomo kesalahan melaksanakan tugas profesi dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Kesalahan medis yaitu kesalahan melaksanakan profesi atas dasar ketentuan profesi
medis yang professional.

b. Kesalahan yuridis yaitu kesalahan melaksanakan tugas profesi atas dasar ketentuan
peraturan undang-undang atau hukum.
Menurut Rita Triana Budiarti, sangar sulit membuktikan kesalahan dokter. Sebagian besar kasus
malapraktik diselesaikan secara damai yang dilakukan di luar jalur litigasi, karena dokter tidak
menghendaki reputasinya rusak apabila dipublikasikan negatif, walaupun ada kemungkinan
dokter yang bersangkutan tidak bersalah.
Soedjono Dirjosisworo mengemukakan tujuan hukum. Sebagai berikut: setiap kesalahan yang
diperbuat oleh seseorang tentunya harus ada sanksi yang layak untuk diterima oleh orang yang
membuat kesalahan, agar terjadi keseimbangan dan keserasian di dalam kehidupan sosial.
Menurut Guwandi, malapraktik ditinjau dalam hukum pidana, di antaranya:
1. Pasal 322 KUHP, yaitu membocorkan rahasia kedokteran yang di adukan oleh penderita
2. Pasal 359, 360, 361 KUHP, yaitu karena kelalaianya sehingga mengakibatkan kematian
atau luka-luka.
3. Pasal 531 KUHP, yaitu tidak memberikan pertolongan kepada orang yang berada dalam
keadaan bahaya maut.
Tentang ketentuan pidana Nyoman Serikat Putra Jaya menyatakan : Dengan adanya ketentuan
pidana dalam Undang-undang Kesehatan berarti sanksi pidana diharapkan dipanggil untuk
memperkuat atau mempertahankan norma-norma administrative agar masyarakat menaatinya,
namun harus selalu diingat bahwa sanksi pidana itu merupakan upaya yang terakhir atau obat
terakhir (ultimum remedium) artinya sanksi pidana itu baru digunakan apabila cabang hukum
lainnya atau upaya lainnya sudah tidak mempan.
Berkaitan dengan penegakan hukum, Berda Namawi Arief berpendapat bahwa penegakan hukum
adalah menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Disini berarti bahwa penegak hukum di
percaya oleh masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang terkandung
di dalam hukum.
Untuk di pidanya suatu kesalahan yang dapat di artikan sebagai pertanggung jawaban dalam
hukum pidana haruslah memenuhi tiga unsur, sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada petindak artinya keadaan jiwa petindak
haruslah normal.
2. Adanya hubungan batin antara petindak dan perbuatannya yang dapat berupa kesengajaan
(dolus) atau kealpaan (culpa).
3. Tidak adanya alas an penghapusan kesalahan atau pemaaf.
Oleh karena itu perlu di ketahui apa sesungguhnya malapraktik itu, bagaimana penanggulan
tindak pidana malapraktik kedokteran dan apa criteria serta bagaimana pengaturannya selama ini
di dalam KUHP, Undang-Undang praktik Dokter yang di golongkan sebagai kelalaian dokter
dalam tugasnya secara professional.