Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PEMANTAUAN TERAPI OBAT

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)


DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG

Di susun oleh:
Debora Marsalinda Momay, S.Farm

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2015

PEMANTAUAN TERAPI OBAT

1. Latar Belakang
Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang mencakup
kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi
pasien. Kegiatan tersebut mencakup: pengkajian, pilihan obat, dosis, cara
pemberian obat, respons terapi, Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD),
dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi. Pemantauan terapi obat harus
dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada periode
tertentu agat keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui.
Pasien yang mendapatkan terapi obat mempunyai risiko mengalami
masalah terkait obat. Kompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta respons
pasien yang sangat individual meningkatkan munculnya masalah terkait obat. Hal
tersebut menyebabkan perlunya dilakukan PTO dalam praktek profesi untuk
mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki.
Hasil meta-analisis yang dilakukan di Amerika Serikat pada pasien rawat
inap didapatkan hasil angka kejadian ROTD yang serius sebanyak 6,7% dan
ROTD yang fatal sebanyak 0,32%. Sementara penelitian yang dilakukan di rumah
sakit di Perancis menunjukkan: masalah terkait obat yang sering muncul antara
lain: pemberian obat yang kontraindikasi dengan kondisi pasien (21,3%), cara
pemberian yang tidak tepat (20,6%), pemberian dosis yang sub terapeutik
(19,2%), dan interaksi obat (12,6%). Data dari penelitian yang dilakukan di satu
rumah sakit di Indonesia menunjukkan 78,2% pasien geriatri selama menjalani
rawat inap mengalami masalah terkait obat.
Beberapa masalah yang ditemukan dalam praktek apoteker komunitas di
Amerika Serikat, antara lain: efek samping obat, interaksi obat, penggunaan obat
yang tidak tepat. Sementara di Indonesia, data yang dipublikasikan tentang
praktek apoteker di komunitas masih terbatas.
Keberadaan apoteker memiliki peran yang penting dalam mencegah
munculnya masalah terkait obat. Apoteker sebagai bagian dari tim pelayanan
kesehatan memiliki peran penting dalam PTO. Pengetahuan penunjang dalam
melakukan PTO adalah patofisiologi penyakit; farmakoterapi; serta interpretasi

hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, dan diagnostik. Selain itu, diperlukan


keterampilan berkomunikasi, kemampuan membina hubungan interpersonal, dan
menganalisis masalah. Proses PTO merupakan proses yang komprehensif mulai
dari seleksi pasien, pengumpulan data pasien, identifikasi masalah terkait obat,
rekomendasi terapi, rencana pemantauan sampai tindak lanjut. Proses tersebut
harus dilakukan secara berkesinambungan sampai tujuan terapi tercapai. Untuk
itu, diperlukan proses PTO di dalam rumah sakit.
2. Tujuan
Dengan dilakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO), maka dapat diketahui
terapi obat yang diberikan aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Hasil PTO ini
untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak
dikehendaki
3. Data Pasien
Data Pasien
No. MR
: 00-72-34-41
BB / TB
:
Nama Pasien : Ny Sopiah
Tgl masuk
: 31 Oktober 2015
Jenis Kelamin : Perempuan
Ruang Rawat : SW3 357/1
Tanggal lahir : 04 November 1951
Dokter :dr Eddy T
Usia : 64 tahun
Askes/ Umum/ Kontraktor/ Tidak mampu
Tanda Vital
Riwayat konsumsi obat :
Nadi
: 98x/menit
Fasgo Forte 550 mg
Tekanan darah : 90/50
Pernafasan
: 20x/menit
Alergi
o
Suhu
: 38,9 C
Tidak ada alergi
Catatan
Nilai Normal;
Nadi
: 60-100x/menit
Tekanan darah : <120/80
Pernafasan
: 12-18x/menit
Suhu
: <37oC
Pemeriksaan Penunjang Awal :
Pemeriksaan laboratorium tanggal 31/10/2015 dari Rumah Sakit Advent Bandung
Hematologi:
WBC

Nilai Normal
5.000-10.000

Hasil
15.690

Hemaglobin

12,00-16,00

11,8

Hematokrit

37,0-47,0

36,0

Platelet

150.000-440.000

157.000

Alasan masuk RS/ keluhan utama


Demam
Anamnesis :
Demam panas satu minggu, nyeri ulu hati, mual muntah satu kali, lemas, cemas.
Riwayat Penyakit Dahulu :
sakit maag
Riwayat Penyakit Keluarga/kerabat :
Diagnosis Awal : Observasi Febris + Dispepsia
Diagnosis kerja : Febris + Dispepsia
Diagnosis Akhir : Febris
Catatan Pengobatan Pasien
Nama Obat
Ranitidin
Paracetamol
Ceftriakson inj
Dexamethasone

Dosis
2 x 1 tablet
3 x 1 tablet
2 x 1 gram
3 x 1 ampul

31 Okt

01 Nov

02 Nov

inj

4. Tinjauan tentang Febris dan Dispepsia.


1. Febris
a. Pengertian
Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal seharihari
yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di
hipotalamus. Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5-37,2C. Derajat

suhu yang dapat dikatakan demam adalah rectal temperature 38,0C


atau oral temperature 37,5C atau axillary temperature 37,2C.
Istilah lain yang berhubungan dengan demam adalah hiperpireksia.
Hiperpireksia adalah suatu keadaan demam dengan suhu >41,5C yang
dapat terjadi pada pasien dengan infeksi yang parah tetapi paling sering
terjadi pada pasien dengan perdarahan sistem saraf pusat.
b. Etiologi
Substansi yang menyebabkan demam disebut pirogen dan berasal baik
eksogen maupun endogen. Mayoritas pirogen endogen adalah
mikroorganisme atau toksik, pirogen endogen adalah polipeptida yang
dihasilkan oleh jenis sel penjamu, terutama monosit makrofag, pirogen
memasuki

sirkulasi

dan

menyebabkan

demam

pada

tingkat

termoregulasi di hipotalamus.
Selain pirogen latihan fisik yang berlebihan dapat menimbulkan panas,
tetapi terdapat peningkatan kompensator dalam kehilangan panas.
Aliran darah melalui kulit meningkat mengarah pada terjaidnya
peningkatan suhu, kulit kehilangan panas utama pada latihan
disebabkan peningkatan sekresi dan penguapan keringat.
Peningkatan kecepatan dan pireksi / demam akan mengarah pada
meningkatnya kehilangan cairan dan elektrolit, padahal cairan dan
elektrolit dibutuhkan dalam metabolisme diotak untuk menjaga
keseimbangan termoregulasi di hipotalamus anterior.
Apabila tubuh kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi), maka
elektrolit-elektrolit yang ada pada pembuluh darah berkurang padahal
dalam proses metabolisme di hipotalamus anterior membutuhkan
elektrolit tersebut, sehingga kekurangan cairan dan elektrolit
mempengaruhi fungsi hipotalamus anterior, dalam mempertahankan
keseimbangan termoregulasi dan akhirnya menyebabkan demam.
Macam Demam :
1. Demam Persisten (menetap ).
Keadaan demam dimana kenaikan suhunya menetap dengan variasi
yang minimal
2. Demam Intermiten.
Kenaikan suhunya menetap dengan variasi yang sangat luas, kalau
serangan demam terjadi pada hari ke I dan II dinamakan Tertier

(pada penyakit malaria ). Selebihnya hari ke III merupakan penyakit


jenis limfoma.
3. Demam Remiten
Suhu tubuh menurun setiap hari, tetapi tidak pernah mencapai titik
normal merupakan demam yang khas untuk penyakit TBC, penyakit
virus, infeksi bakteri dan keadaan infeksius.
Tanda dan Gejala
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri
punggung, anoreksia dan somnolen. Batasan mayornya yaitu suhu
lebih tinggi dari 37,8C 40C. Kulit hangat, takichardi, sedangkan
batasan karakteristik minor yang muncul yaitu kulit kemerahan,
peningkatan kedalaman pernapasan, menggigil / merinding perasaan
hangat dan dingin, nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal :
sakit kepala vertigo), keletihan, kelemahan, dan berkeringat.
c. Patofisiologi
Demam terjadi karena adanya suatu zat yang dikenal dengan nama
pirogen. Pirogen adalah zat yang dapat menyebabkan demam. Pirogen
terbagi dua yaitu pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar
tubuh

pasien.

Contoh

dari

pirogen

eksogen

adalah

produk

mikroorganisme seperti toksin atau mikroorganisme seutuhnya. Salah


satu pirogen eksogen klasik adalah endotoksin lipopolisakarida yang
dihasilkan oleh bakteri gram negatif. Jenis lain dari pirogen adalah
pirogen endogen yang merupakan pirogen yang berasal dari dalam
tubuh pasien. Contoh dari pirogen endogen antara lain IL-1, IL-6,
TNF-, dan IFN. Sumber dari pirogen endogen ini pada umumnya
adalah monosit, neutrofil, dan
limfosit walaupun sel lain juga dapat mengeluarkan pirogen endogen
jika
terstimulasi.
Proses terjadinya demam dimulai dari stimulasi sel-sel darah put ih
(monosit, limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa
toksin, mediator inflamasi, atau reaksi imun. Sel-sel darah putih
tersebut akan mengeluarkan zat kimia yang dikenal dengan pirogen
endogen (IL-1, IL-6, TNF-, dan IFN). Pirogen eksogen dan pirogen

endogen akan merangsang endotelium hipotalamus untuk membentuk


prostaglandin.

Prostaglandin

yang

terbentuk

kemudian

akan

meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus.


Hipotalamus akan menganggap suhu sekarang lebih rendah dari suhu
patokan yang baru sehingga ini memicu mekanisme-mekanisme untuk
meningkatkan panas antara lain menggigil, vasokonstriksi kulit dan
mekanisme volunter seperti memakai selimut. Sehingga akan terjadi
peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan panas yang
pada akhirnya akan menyebabkan suhu tubuh naik ke patokan yang
baru tersebut.
Demam memiliki tiga fase yaitu: fase kedinginan, fase demam, dan
fase
kemerahan. Fase pertama yaitu fase kedinginan merupakan fase
peningkatan suhu tubuh yang ditandai dengan vasokonstriksi
pembuluh darah dan peningkatan aktivitas otot yang berusaha untuk
memproduksi panas sehingga tubuh akan merasa kedinginan dan
menggigil.

Fase

kedua

yaitu

fase

demam

merupakan

fase

keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas di titik


patokan suhu yang sudah meningkat. Fase ketiga yaitu fase kemerahan
merupakan fase penurunan suhu yang ditandai dengan vasodilatasi
pembuluh darah dan berkeringat yang berusaha untuk menghilangkan
panas sehingga tubuh akan berwarna kemerahan.
Kekurangan cairan dan elektrolit dapat mengakibatkan demam, karena
cairan dan elektrolit ini mempengaruhi keseimbangan termoregulasi di
hipotalamus anterior. Jadi apa bila terjadi dehidrasi atau kekurangan
cairan dan elektrolit maka keseimbangan termoregulasi di hipotalamus
anterior akan mengalami gangguan. Pada pasien febris / demam
pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan, yaitu dengan pemeriksaan
darah lengkap misalnya: Hb, Ht, dan leukosit. Pada pasien febris /
demam biasanya kadar Hb akan mengalami penurunan, sedangkan Ht
dan leukosit nya akan mengalami peningkatan. LED akan meningkat
pada pasien observasi febris yang tidak diketahui penyebabnya,

(pemeriksaan sputum diperlukan untuk pasien yang menderita demam


dan disertai batuk-batuk).
d. Penatalaksanaan demam
Demam merupakan mekanisme pertahanan diri atau reaksi fisiologis
terhadap perubahan titik patokan di hipotalamus. Penatalaksanaan
demam bertujuan untuk merendahkan suhu tubuh yang terlalu tinggi
bukan untuk menghilangkan demam. Penatalaksanaan demam dapat
dibagi menjadi dua garis besar yaitu: non-farmakologi dan farmakologi.
Akan tetapi, diperlukan penanganan demam secara langsung oleh
dokter apabila penderita dengan umur <3 bulan dengan suhu rektal
>38C, penderita dengan umur 3-12 bulan dengan suhu >39C,
penderita dengan suhu >40,5C, dan demam dengan suhu yang tidak
turun dalam 4872 jam.
Terapi non-farmakologi
Adapun yang termasuk

dalam

terapi

non-farmakologi

dari

penatalaksanaan
demam:
1. Pemberian cairan dalam jumlah banyak untuk mencegah dehidrasi
dan beristirahat yang cukup.
2. Tidak memberikan penderita pakaian panas yang berlebihan pada
saat menggigil. Kita lepaskan pakaian dan selimut yang terlalu
berlebihan. Memakai satu lapis pakaian dan satu lapis selimut sudah
dapat memberikan rasa nyaman kepada penderita.
3. Memberikan kompres hangat pada penderita. Pemberian kompres
hangat efektif terutama setelah pemberian obat. Jangan berikan
kompres dingin karena akan menyebabkan keadaan menggigil dan

meningkatkan kembali suhu inti.


Terapi farmakologi
Obat-obatan yang dipakai dalam mengatasi demam (antipiretik)
adalah parasetamol (asetaminofen) dan ibuprofen. Parasetamol cepat
bereaksi dalam menurunkan panas sedangkan ibuprofen memiliki
efek kerja yang lama. Pada anak-anak, dianjurkan untuk pemberian
parasetamol

sebagai

antipiretik.

Penggunaan

OAINS

tidak

dianjurkan dikarenakan oleh fungsi antikoagulan dan resiko sindrom


Reye pada anak-anak.
2. Dispepsia
1. Pengertian
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani yang berarti pencernaan yang
tidak baik. Dispepsia mengacu pada nyeri atau rasa tidak nyaman pada
perut bagian atas; meliputi nyeri epigastrium, perasaan cepat kenyang
(tidak dapat menyelesaikan makanan dalam porsi yang normal), rasa
penuh setelah makan.
Kebanyakan pasien dengan keluhan dispepsia pada saat pemeriksaan
tidak ditemukan kelainan organik yang dapat menjelaskan keluhan
tersebut seperti chronic peptic-ulcer disease, gastro-oesophageal reflux,
malignancy, sekitar 60% keluhan-keluhan tersebut tidak dapat
dijelaskan, keadaan ini disebut fungsional, atau non-ulcer dyspepsia.
Pasien dengan penyebab yang jelas tidak dimasukkan dalam kategori
dispepsia fungsional.
2. Epidemiologi
Pada dispepsia fungsional, umur penderita dijadikan pertimbangan, oleh
karena 45 tahun ke atas sering ditemukan kasus keganasan, sedangkan
dispepsia fungsional diatas 20 tahun. Begitu pula wanita lebih sering
dari pada laki-laki.
Pada ulkus peptik perbandingan laki-laki dan wanita 2 : 1. Insiden ulkus
meningkat pada usia pertengahan. Penyakit ulkus memperlihatkan
interaksi kompleks dari berbagai faktor lingkungan dan genetik yang
menghasilkan penyakit ;
a. Genetik dan faktor yang berhubungan dengan penyakit.
Insiden akan meningkat pada keadaan :
Sanak keluarga tingkat pertama dari penderita, peningkatannya 3 kali
lebih besar.
Penderita ulkus yang kembar meningkat 3 kali lebih besar.
Golongan darah O, meningkat 30 %
b. Perokok : Merokok berkaitan dengan peninggian frekuensi ulkus 33110% dibandingkan dengan yang tidak merokok.
c. Aspirin : Penggunaan yang kronis meningkatkan insiden ulkus

10

d. Obat anti peradangan non steroid :


Obat-obat seperti indometasin,

ibuprofen

dan

lain-lain,

menyebabkan perubahanmekanisme pertahanan lambung.


e. Kopi dan alkohol
Kafein yang terkandung dalam kopi merupakan stimulan kuat dari
sekresi asam, seperti susu, bir dan minuman ringan.
f. Kortikosteroid : Sifat ulserogenik dari kortikosteroid secara umum
masih kontroversial
g. Stress
Peran stress dan tipe personal masih kontroversial, meskipun
beberapa penelitian menghubungkan pepsinogen serum yang tinggi.
Dasar patofisiologi dispepsia fungsional adalah sangat kompleks dan
belum
dapat dipastikan. Beberapa hal yang dianggap menyebabkan antara lain :
a. Dismotilitas lambung : perlambatan dari masa pengosongan lambung
dan

gangguan

motilitas

lain,

seperti

abnormalitas

kontraksi,

abnormalitas mioelektrik lambung, refluks gastroduodenal.


b. Asam lambung : dapat dijumpai kadarnya meninggi, normal atau
hyposekresi.
c. Helikobakter pylori : peran helikobakter pylori dalam menimbulkan
berbagai patologis saluran cerna bagian atas sudah banyak diteliti. Akan
tetapi dari beberapa penelitian yang dilakukan, bahwa keberadaan
helikobakter pylori pada pasien non dispepsia dengan dispepsia
fungsional tidak berbeda.
d. Psikis : gangguan psikis, stress, dan faktor lingkungan dapat
menimbulkan dispepsia fungsional. Stress mengubah sekresi asam
lambung, motilitas, dan vaskularisasi saluran pencernaan. Pada
beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien-pasien dispepsia
fungsional lebih cemas atau depresi dibandingkan dengan kontrol.
e. Penggunaan obat-obatan secara menetap seperti : aspirin, steroid, obat
antiinflamasi, makanan tertentu, kopi dan merokok dikatakan
berhubungan dengan dispepsia fungsional. Akan tetapi bukti secara
ilmiah masih kurang.
Patofisiologi ulkus peptik diperkirakan akibat ketidak seimbangan antara

11

tekanan agresif (HCL dan pepsin) yang menyebabkan ulserasi dan tekanan
defensif yang melindungi lambung ( barier mukosa lambung, barier mukus
lambung, sekresi HCO3).
3. Penatalaksanaan.
Terapi non-farmakologi
Merubah Kebiasaan Hidup
Diet dan obat-obatan harus ditinjau untuk faktor-faktor yang akan
menimbulkan kembali simtom dispepsia.

Terapi farmakologi
Obat-obatan
Obat-obatan yang sering dipakai antara lain :
a. Antasida : Golongan ini banyak jenisnya dan mudah didapat,
pemakaian obat ini cendrung ke arah simptomatik. Pemakaian
obat ini jangan terus menerus dan harus diperhatikan efek
sampingnya serta penyakit lain yang diderita oleh pasien.
b. Anti Kolinergik : Pemakaian obat ini harus diperhatikan sebab
kerja obat ini tidak begitu selektif.
c. Antagonis reseptor H2 : Golongan obat ini antara lain : simetidin,
ranitidine; famotidin, roksatidin, nizatidin, dan lain-lain.
Pemakaiannya lebih banyak ke arah kausal disamping bersifat
simtomatik. Sebaiknya diberikan pada organik dan ulkus.
d. Penghambat pompa asam : Obat ini sangat bermanfaat pada
kasus kelainan saluran cerna bagian atas yang berhubungan
dengan asam lambung. Dengan berkembangnya penemuan
etiologi ulkus peptikum khususnya ulkus duodeni yaitu
didapatkan Helikobakter Pylori, penggunaan obat penghambat
pompa ini dengan kombinasi antibiotik dan Metronidazol
memberikan hasil yang cukup memuaskan.
e. Prokinetik : Golongan obat ini sangat baik dalam mengobati
pasien dispepsia yang disertai disebabkan gangguan motilitas.
Jenis obat ini antara lain metoklopamid, dompreridon, dan
cisapride.

12

f. Golongan lain : Yaitu obat-obat seperti sukraflat, bismuth


subsitrat.

Golongan

ini

mempunyai

efek

melenyapkan

helikobakter pylori .
g. Psikofarmakoterapi : Terapi ini khususnya pada pasien dengan
sindrom dispepsia fungsional, memberi hasil yang cukup
memuaskan terutama untuk mengurangi atau menghilangkan
gejala / keluhan. Pada kasus ini terapi dengan anti depresan atau
anti anxietas dapat membantu mengurangi gejala klinis .
Preparat dan dosis antidepresan :
a. Siklik antidepresan : Antidepresan trisiklik yang pertama
ditemukan adalah impramine dan memiliki sedikit kegunaan
sejak tahun 1950. Trisiklik seperti : amitriptiline, imipramine,
trimipramine dan dispramine, dengan dosis 150300 mg/hari.
Amoxapine dan trazodone dosis efektifsecara klinis : 150 600
mg/hari. Efek amping yang sering dijumpai : sedasi, mulut
kering, konstipasi dan hipotensi postural.
b. Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)
MAOI memiliki kekurangan, dimana pasien harus melakukan
diet bebas tiramine, untuk menghindari krisis hipertensi, yang
disebut reaksi keju(chese rection). Moclobemide (Reversible
MAOI =RIMA) dapat menghindari beberapa masalah yang
dimiliki MAOI yang lainnya.
c. Selective Serotonin re-uptake inhibitors (SSRI)
Yang termasuk SSRI adalah : fluoxetin, fluvoxamine, sentraline,
citalopram dan paraxetine. Dosis fluoxetin 20-80 mg/hari,
sentraline 50-200mg/hari.
5. Monografi Sediaan
1. Ceftriaksone
Indikasi :
Indikasi Ceftriaxone adalah infeksi-infeksi berat dan yang disebabkan oleh
bakteri gram positif maupun gram negatif yang resisten atau kebal
terhadap antibiotika lain :
Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran kemih
Infeksi gonore

13

Sepsis
Meningitis
Infeksi tulang dan jaringan lunak
Infeksi kulit
Mekanisme kerja :
Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin generasi ketiga. Ceftriaxone
mempunyai spektrum luas dan waktu paruh eliminasi 8 jam. Ceftriaxone
efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif.
Ceftriaxone juga sangat stabil terhadap enzim beta laktamase yang
dihasilkan oleh bakteri.
Dosis: Dewasa
Rentang dosis : dosis Biasa: 1-2 g setiap 12-24 jam, tergantung pada

jenis dan beratnya infeksi


Arthritis (septic ) : IV : 1-2 g sekali sehari
Abses otak : IV : 2 g setiap 12 jam dengan metronidazol
Trombosis sinus kavernosus : IV : 2 g sekali sehari dengan vankomisin

atau linezolid
Chancroid : IM : 250 mg sebagai dosis tunggal
Kemoprofilaksis untuk kontak berisiko tinggi dan orang-orang dengan

penyakit invasif meningokokus : IM : 250 mg dalam dosis tunggal


Infeksi gonokokal :
Konjungtivitis, rumit : IM , IV : 1 g dalam dosis tunggal
Disebarluaskan : IM , IV : 1 g sekali sehari selama 7 hari
Endokarditis : IM , IV : 1-2 g setiap 24 jam selama minimal 28 hari
Epididimitis, akut : IM : 250 mg dalam dosis tunggal dengan

doxycycline
Prostatitis : IM : 125-250 mg dalam dosis tunggal dengan

doxycycline
Tidak rumit : I.M : 125-250 mg dalam dosis tunggal
Endokarditis infektif: I.M., I.V .:
Katup asli: 2 g sekali sehari selama 2-4 minggu; Catatan: Jika

menggunakan 2-minggu rejimen, gentamisin bersamaan dianjurkan


Katup prostetik: IM, IV: 2 g sekali sehari selama 6 minggu (dengan
atau tanpa 2 minggu gentamisin [tergantung pada penisilin MIC]);
Catatan: Untuk organisme HACEK, durasi terapi adalah 4 minggu

14

Enterococcus faecalis (tahan terhadap penisilin, aminoglikosida, dan


vankomisin), asli atau palsu katup: 2 g dua kali sehari untuk 8

minggu diberikan bersamaan dengan ampisilin


Profilaksis: IM, IV: 1 g 30-60 menit sebelum prosedur. Suntikan
intramuskular harus dihindari pada pasien yang menerima terapi
antikoagulan. Dalam keadaan ini, rejimen oral harus diberikan bila
memungkinkan. Antibiotik intravena harus digunakan untuk pasien

yang tidak dapat mentolerir atau menyerap obat-obatan oral.


Penyakit Lyme : IV: 2 g sekali sehari untuk 14-28 hari
Mastoiditis : IV: 2 g sekali sehari; Berusia> 60 tahun: 1 g sekali sehari
Meningitis: IV: 2 g setiap 12 jam selama 7-14 hari (kursus lagi mungkin

diperlukan untuk organisme yang dipilih)


Selulitis orbita dan endophthalmitis: IV: 2 g sekali sehari
PID: I.M : 250 mg dalam dosis tunggal
Pneumonia, masyarakat yang didapat: IV: 1 g sekali sehari, biasanya
dalam kombinasi dengan makrolida sebuah; pertimbangkan 2 g / hari
untuk pasien berisiko untuk infeksi yang lebih parah dan / atau

organisme resisten (status ICU, usia> 65 tahun, infeksi disebarluaskan)


Septic / toxic shock / necrotizing fasciitis: IV: 2 g sekali sehari; dengan

klindamisin untuk syok toksik


STD profilaksis pada korban kekerasan seksual: IM: 125 mg sebagai

dosis tunggal
Bedah profilaksis: IV: 1 g 30 menit sampai 2 jam sebelum operasi
Sifilis : IM, IV: 1 g sekali sehari selama 8-10 hari
Demam tifoid : IV: 2 g sekali sehari selama 14 hari
Penyakit Whipplea : Awal: 2 g sekali sehari selama 10-14 hari, terapi

kemudian oral selama ~ 1 tahun.


Kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap natrium ceftriaxone, setiap komponen dari
formulasi, atau sefalosporin lainnya; tidak menggunakan pada neonatus
hyperbilirubinemic, terutama mereka yang prematur sejak ceftriaxone
dilaporkan

menggantikan

bilirubin

dari

albumin

situs

mengikat;

penggunaan bersamaan dengan intravena yang mengandung kalsium solusi


/ produk pada neonatus ( 28 hari )
Peringatan :

15

Kekhawatiran terkait dengan efek samping:


Peningkatan INR: Mungkin berhubungan dengan peningkatan INR
(jarang), terutama pada pasien gizi-kekurangan, pengobatan jangka

panjang, hati atau penyakit ginjal.


Pankreatitis: Secondary obstruksi bilier, pankreatitis telah dilaporkan

jarang.
Alergi Penisilin: Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
riwayat alergi penisilin, reaksi terutama IgE-mediated (misalnya,

anafilaksis, angioedema, urtikaria).


Superinfeksi: berkepanjangan digunakan dapat menyebabkan jamur
atau superinfeksi bakteri, termasuk diare C. difficile terkait (Cdad)
dan kolitis pseudomembran; Cdad telah diamati> 2 bulan

pengobatan postantibiotic.
Penyakit terkait kekhawatiran:
Penyakit kandung empedu: sonogram kandung empedu Abnormal
telah dilaporkan, mungkin karena ceftriaxone-kalsium endapan;
menghentikan pada pasien dengan tanda dan gejala penyakit

kandung empedu.
Penyakit Gastrointestinal: Gunakan dengan hati-hati pada pasien

dengan riwayat penyakit GI, terutama kolitis.


Gangguan ginjal: Tidak ada penyesuaian umumnya diperlukan pada
pasien dengan gangguan ginjal; jika gangguan ginjal berat, terutama
dengan disfungsi hati bersamaan, tidak melebihi 2 g / hari tanpa

pemantauan konsentrasi serum.


Populasi khusus:
Neonatus: Gunakan sangat hati-hati pada neonatus karena risiko
hiperbilirubinemia, khususnya pada bayi prematur (kontraindikasi pada
neonatus hyperbilirubinemic). Reaksi presipitasi yang fatal pada
neonatus karena coadministration solusi yang mengandung kalsium
telah dilaporkan; Penggunaan bersamaan pada neonatus merupakan

kontraindikasi.
Peringatan lain / pencegahan:
Ceftriaxone mungkin kompleks dengan kalsium menyebabkan endapan.
Paru-paru dan ginjal yang fatal terkait dengan endapan kalsium-

16

ceftriaxone telah diamati pada neonatus prematur dan jangka. Karena


laporan dari reaksi presipitasi pada neonatus, tidak menyusun kembali,
mempercampurkan, atau coadminister dengan kalsium mengandung
solusi (misalnya, LR, Hartmanna solusi, nutrisi parenteral), bahkan
melalui terpisah infus garis / situs atau pada waktu yang berbeda di
setiap pasien, tanpa memandang usia (kontraindikasi pada neonatus).
Rekomendasi lanjut menyatakan untuk menghindari pemberian solusi
yang mengandung kalsium intravena dan ceftriaxone dalam waktu 48
jam dari satu sama lain pada semua pasien. Namun, memperluas
rekomendasi ini untuk semua pasien hanya didasarkan pada data
teoritis, seperti tidak ada laporan efek samping endapan-diinduksi pada
pasien non-neonatal.
Efek samping :
Dermatologic: Ruam
Gastrointestinal: Diare
Hematologi: Eosinophilia, trombositosis, leukopenia
Hati: transaminase meningkat
Lokal: Nyeri pada bekas suntikan.
Ginjal: BUN meningkat
Perut nyeri, agranulositosis, alkali fosfatase meningkat, pneumonitis
alergi, anafilaksis, anemia, basophilia, lithiasis empedu, bilirubin
meningkat, bronkospasme, menggigil, kolitis, kreatinin meningkat,
diaphoresis, pusing, dysgeusia, dispepsia, epistaksis, demam, perut
kembung, pembilasan, kandung empedu lumpur, batu empedu,
glikosuria, sakit kepala, hematuria, anemia hemolitik, penyakit kuning,
leukositosis, limfositosis, limfopenia, monositosis, moniliasis, mual,
nefrolitiasis,

neutropenia,

palpitasi,

pankreatitis,

flebitis,

berkepanjangan atau menurun PT, pruritus, kolitis pseudomembran,

kejang, serum sickness, trombositopenia, gips kemih, vaginitis, muntah.


Postmarketing dan / atau kasus laporan: dermatitis alergi, edema,
eritema multiforme, eksantema, glositis, Lyella syndrome, oliguria,
ginjal dan paru menjatuhkan hujan ceftriaxone-kalsium (neonatus;

17

termasuk beberapa korban jiwa), sindrom Stevens-Johnson, stomatitis,

beracun nekrolisis epidermal, urtikaria.


Reaksi dilaporkan dengan sefalosporin lainnya: Angioedema, reaksi
alergi, anemia aplastik, asteriksis, kolestasis, ensefalopati, perdarahan,
disfungsi hati, hiperaktivitas (reversibel), hypertonia, nefritis interstitial,
LDH meningkat, neuromuskuler rangsangan, pansitopenia, paresthesia,

disfungsi ginjal, superinfeksi, nefropati toksik.


Interaksi Obat:
Garam kalsium ( intravena ) : Meningkatkan efek toksik ceftriaxone.
Ceftriaxone mengikat kalsium membentuk endapan tidak larut. Risiko

X : Hindari kombinasi
Ringer Injection ( Lactated ) : Meningkatkan efek toksik ceftriaxone.
Ceftriaxone mengikat kalsium dalam Lactated Ringer membentuk

endapan tidak larut. Risiko X : Hindari kombinasi


Vaksin tifoid : Antibiotik dapat mengurangi efek terapeutik Vaksin
tifoid. Hanya hidup yang dilemahkan Ty21a regangan dipengaruhi.

Risiko D : Pertimbangkan modifikasi terapi


Agen uricosuric : Semoga menurunkan ekskresi sefalosporin. Risiko C :

Terapi Memantau
Vitamin K antagonis ( misalnya warfarin ) : sefalosporin dapat
meningkatkan efek antikoagulan dari vitamin K antagonis. Risiko C :
Terapi Memantau

2. Dexametazone.
Indikasi :
Sebagai agen anti-inflamasi atau imunosupresan dalam pengobatan
berbagai penyakit termasuk alergi, Dermatologic, hematologi, inflamasi,
neoplastik, sistem saraf, ginjal, pernapasan, asal rematik, dan autoimun,
dapat digunakan dalam pengobatan edema serebral, syok septik,
pembengkakan kronis, antiemetik.
Mekanisme :
Mengurangi inflamasi dengan menekan migrasi neutrofil, mengurangi
produksi mediator inflamasi, dan menurunkan permeabilitas kapiler yang
semula tinggi dan menekan respon imun.
Dosis :

18

Dewasa :
Anti-inflamasi: Oral, IM, IV: 0,75-9 mg / hari dalam dosis terbagi tiap
6-12 jam.
Intra-artikular jaringan, intralesi, atau lembut: 0,4-6 mg / hari.
Ekstubasi atau saluran napas edema: Oral, IM, IV: 0,5-2 mg / kg / hari

dalam dosis terbagi tiap 6 jam mulai 24 jam.


Infus kontinu rejimen: Oral atau IV: 10 mg setiap 12 jam setiap hari.
Untuk pengobatan syok anafilaksis : IV. Dosis bervariasi 1-6 mg/kg IV
atau 40 mg IV tiap 4-6 jam. Alternatif lain, 20 mg IV dilanjutkan

dengan infus IV 3 mg/kg dalam waktu 24 jam.


Peringatan :
Gunakan hati-hati pada pasien hipotiroid, sirosis, hipertensi, gagal jantung
atau gangguan tromboemboli, pasien diabetes, glaukoma, katarak, TBC atau
pasien berisiko osteoporosis. Hati-hati pada pasien dengan gangguan
pencernaan (divertikulitis, ulkus peptik, kolitis ulseratif) karena potensial
terjadi

perforasi.

Hati-hati

digunakan

pada

infark

miokard

akut

(kortikosteroid dikaitkan dengan ruptur miokard). Gunakan hati-hati pada


penurunan fungsi ginjal dan hati. Karena risiko efek samping pada usia,
gunakan kortikosteroid dengan dosis sekecil mungkin dan periode sesingkat
mungkin.

Kontraindikasi :
Hipersensitif terhadap dexametason atau komponen lain dalam formulasi;
infeksi jamur sistemik cerebral malaria; jamur, atau penggunaan pada mata
dengan

infeksi

virus

(active

ocular

herpes

simplex).

Pemberian

kortikosteroid sistemik dapat memperparah sindroma Cushing. Pemberian


kortikosteroid sistemik jangka panjang atau absorpsi sistemik dari preparat
topikal dapat menekan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) dan atau
manifestasi sindroma Cushing pada beberapa pasien. Namun risiko
penekanan HPA pada penggunaan deksametason topikal sangat rendah.
Insufisiensi adrenal akut dan kematian dapat terjadi apabila pengobatan

sistemik dihentikan mendadak.


Efek samping:

19

Kardiovaskuler : Aritmia, bradikardi, kardiomiopati, CHF, kolaps


sirkulasi, edema, hipertens, ruptur miokardial (post-MI), syncope,

tromboembolisme, vasculitis.
Susunan saraf pusat : Depresi, instabilitas emosional, euforia, sakit
kepala, peningkatan tekanan intracranial, insomnia, malaise, neuritis,

pseudotumor cerebri, perubahan psikis, kejang, vertigo.


Dermatologis : Akne, dermatitis alergi, alopecia, angioedema, kulit
kering, erythema, kulit pecah-pecah, hirsutism, hiper-/hipopigmentasi,
hypertrichosis, perianal pruritus (pemberian IV), petechiae, rash, atrofi

kulit, striae, urticaria, luka lama sembuh.


Imunosupresi: penggunaan kortikosteroid berkepanjangan

dapat

meningkatkan kejadian infeksi sekunder, masker infeksi akut (termasuk


infeksi jamur), memperpanjang atau memperburuk infeksi virus, atau

membatasi respons terhadap vaksin.


Miopati: miopati akut telah dilaporkan dengan kortikosteroid dosis
tinggi, biasanya pada pasien dengan gangguan transmisi neuromuskuler,
mungkin melibatkan okular dan / atau otot-otot pernafasan, memantau

kreatin kinase, pemulihan mungkin tertunda.


Interaksi obat:
Aminoglutethimide : Dapat menurunkan kadar/efek deksametason,

melalui induksi enzim mikrosomal.


Antasida : Meningkatkan absorpsi kortikosteroid, selang waktu

pemberian 2 jam.
Antikolinesterase : Pemberian bersama akan menimbulkan rasa lemah

pada penderita myasthenia gravis.


Anti jamur Azole : Dapat meningkatkan kadar kortikosteroid.
Barbiturat : Akan menurunkan kadar/efek deksametason.
Penghambat saluran kalsium (nondihidropiridin) : Kemungkinan

meningkatkan kadar kortikosteroid.


Siklosporin : Kortikosteroid dapat meningkatkan kadar siklosporin dan

sebaliknya, siklosporin dapat meningkatkan kadar kortikosteroid.


Estrogen : Kemungkinan meningkatkan kadar kortikosteroid.
Fluorokuinolon : Penggunaan bersamaan akan meningkatkan risiko

ruptur tendon, terutama pada usia lanjut.


Isoniazid : Konsentrasi isoniazid akan turun.

20

Antibiotika

deksametason.
Penghambat neuromuskuler : Pemberian bersama akan meningkatkan

risiko miopati.
Antiinflamasi non steroid : Hati-hati karena meningkatkan efek samping

pada saluran pencernaan.


Rifampisin : Menurunkan kadar/efek deksametason.
Dengan Makanan : Makanan : Deksametason akan berinterferensi

makrolida

Kemungkinan

meningkatkan

kadar/efek

dengan kalsium. Batasi minum kopi.


3. Ranitidin
Indikasi:
Terapi jangka pendek dan pemeliharaan untuk tukak lambung, tukak

duodenum, tukak ringan aktif.


Terapi jangka pendek dan pemeliharaan untuk refluks gastroesofagus dan

esofagitis erosif.
Terapi jangka pendek dan pemeliharaan kondisi hipersekresi patologis.
Sebagai bagian regimen multiterapi eradikasi H. pylori untuk mengurangi

risiko kekambuhan tukak.


Meringankan heartburn, acid indigestion, dan asam lambung.
Mekanisme kerja:
Menghambat reseptor histamin 2 secara selektif dan reversibel sehingga
dapat menghambat sekresi cairan lambung. Ranitidin mengurangi volume
dan kadar ion hidrogen dai sel parietal akan menurun sejalan dengan

penurunan volume cairan lambung.


Dosis :
Dewasa:
Ulkus duodenum: Oral: Pengobatan: 150 mg dua kali sehari, atau 300 mg
sekali sehari setelah makan malam atau sebelum tidur, pemeliharaan: 150

mg sekali sehari pada waktu tidur.


Pemberantasan kuman Helicobacter pylori: Oral: 150 mg dua kali

sehari.
IV: infus terus-menerus untuk Zollinger-Ellison: 1 mg / kg / jam;
ukuran lambung asam output pada 4 jam, jika> 10 mEq atau jika pasien
bergejala, meningkatkan dosis secara bertahap dari 0,5 mg / kg / jam;
dosis hingga 2,5 mg /kg/jam telah digunakan.

21

Erosif esofagitis: Oral: Pengobatan: 150 mg 4 kali / hari, pemeliharaan:

150 mg dua kali sehari.


Pencegahan mulas: Oral: 75 mg 30-60 menit sebelum makan makanan
minuman atau minum yang menyebabkan mulas, maksimum: 150 mg

dalam 24 jam, jangan menggunakan lebih dari 14 hari.


I.M.: 50 mg setiap 6-8 jam.IV: bolus intermiten atau infus: 50 mg setiap

6-8 jam.
Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap ranitidin atau bahan-bahan lain dalam formulasi.

Peringatan :
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati;
dibutuhkan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal;
hindari penggunaan pada pasien dengan sejarah porfiria akut (dapat memicu
serangan); terapi jangka panjang mungkin berhubungan dengan defisiensi
vitamin B12; keamanan dan efikasi belum ditetapkan untuk pasien anak-

anak usia<1 bulan.


Efek samping :
Kardiovaskular: bradycardia, denyut ventrikel prematur, takikardia,

vaskulitis.
Sistem saraf pusat: Agitasi, pusing, depresi, halusinasi, sakit kepala,

insomnia, malaise, kebingungan mental, mengantuk, vertigo.


Dermatologic: Alopecia, eritema multiforme, ruam.
Endokrin & metabolik: Peningkatan kadar prolaktin.
Gastrointestinal: perut ketidaknyamanan / nyeri, sembelit, diare, mual,

pankreatitis, muntah.
Hematologi: anemia

granulocytopenia, leukopenia, pansitopenia, trombositopenia.


Hepatic: kegagalan hepatik, hepatitis.
Lokal: Transient nyeri, terbakar atau gatal di tempat suntikan.
Neuromuskular & rangka: arthralgia, gangguan motorik paksa, mialgia.
Okular: Penglihatan kabur.
Ginjal: Serum kreatinin meningkat.
Pernafasan: Pneumonia (hubungan kausal tidak didirikan).
Miscellaneous:
Anafilaksis,
angioneurotic
edema,
reaksi
hipersensitivitas.

hemolitik,

agranulositosis,

anemia

aplastik,

22

Interaksi obat:
Dengan Obat Lain :
Meningkatkan efek/toksisitas

siklosporin

(meningkatkan

serum

kreatinin), gentamisin (blokade neuromuskuler), glipizid, glibenklamid,


midazolam (meningkatkan

konsentrasi), metoprolol,

pentoksifilin,

fenitoin, kuinidin, triazolam. Mempunyai efek bervariasi terhadap


warfarin. Antasida dapat mengurangi absorpsi ranitidin. Absorpsi
ketokonazol dan itrakonazol berkurang; dapat mengubah kadar
prokainamid

dan

ferro

sulfat

dalam

serum,

mengurangi

efek

nondepolarisasi relaksan otot, cefpodoksim, sianoklobalamin (absorpsi


berkurang), diazepam dan oksaprozin, mengurangi toksisitas atropin.
Penggunaan etanol dihindari karena dapat menyebabkan iritasi mukosa

lambung.
Dengan Makanan : Makanan tidak mengganggu absorpsi ranitidin.
4. Paracetamol
Indikasi :
Mengurangi nyeri sedang & demam (Anlgetik-antipiretik).
Dosis :
Dewasa :
Nyeri atau demam: Oral, dubur: 325-650 mg setiap 4-6 jam atau 1000

mg 3-4 kali/hari, tidak melebihi 4 g / hari.


Anak:
Nyeri atau Demam: Oral, dubur: Anak-anak <12 tahun: 10-15 mg / kg /

dosis setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.


Kontra Indikasi:
Hypersensitivity terhadap asetaminofen atau komponen formulasi.
Efek Sampiing:
Dermatologic: Ruam.
Endokrin metabolik & Dapat meningkatkan klorida, asam urat, glukosa,

dapat menurunkan natrium, bikarbonat, kalsium.


Hematologi: Anemia, darah diskrasia (neutropenia, pansitopenia,

leukopenia).
Hepatic: Bilirubin meningkat, alkali fosfatase meningkat.
Ginjal: Amonia meningkat, nefrotoksisitas dengan overdosis kronis,

nefropati analgesik.
Perhatian :
Dapat menyebabkan toksisitas hati yang parah pada overdosis akut.

23

Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati alkoholik.


Defisiensi G6PD: Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan

defisiensi G6PD dikenal.


Pengobatan sendiri (OTC

penggunaan):

Bila

digunakan

untuk

pengobatan sendiri, pasien harus diinstruksikan untuk menghubungi


penyedia hari atau nyeri yang berlangsung > 10 hari.
Interaksi Obat:
pelayanan kesehatan jika digunakan untuk demam berlangsung lebih dari

3
Antikonvulsan

(Hydantoin):

Acetaminophen. Sehingga

Dapat

meningkatkan

metabolisme

efek acetaminophen berkurang dan

meningkatkan risiko kerusakan hati.


Barbiturat: Dapat meningkatkan metabolisme Acetaminophen. Sehinga

efek acetaminophen berkurang dan meningkatkan risiko kerusakan hati.


Carbamazepine: Dapat meningkatkan metabolisme Acetaminophen.
Resin cholestyramine: Dapat mengurangi penyerapan Acetaminophen.

Efek minimal jika cholestyramine diberikan 1 jam setelah asetaminofen.


Imatinib: Dapat meningkatkan konsentrasi serum Acetaminophen.
Isoniazid: Dapat meningkatkan efek merugikan atau toksik dari

Acetaminophen.
Vitamin K Antagonis (misalnya, warfarin): Asetaminofen dapat

meningkatkan efek antikoagulan dari Antagonis Vitamin K.


Etanol: asupan yang berlebihan dari etanol dapat meningkatkan risiko
acetaminophen-induced hepatotoksisitas. Hindari etanol atau membatasi
untuk <3 minuman / hari.

5. Metoda SOAP (Subjektif, Objektif, Assessment, dan Plan)


6.
7.

A. Parameter Subjektif
8. Paramet

9. 2

10. 2

11. 2

33

er
12. Demam
16. Dispepsi
a
20. Nyeri
lambung

t
13. +

t
14. -

t
15. -

17. +

18. +

19. -

21. +

22. -

23. -

24.
25. B. Parameter Objektif
1. Data Laboratorium.
26.
N

27. Tan
ggal

28. Te
ka
na
n

31. S
29. Nad

30. Respi

Da

rasi

ra

(kali

(kali/

/me

menit

(m

nit)

u
h
u
32. (0
C
)

m
Hg
33.

34. Nor

)
35. <

36. 60-

mal

12

100

18x /

0/8

x/

menit

men

it

37. 12-

40. 31
Okt
ober

Hg
41. 90/
50

42. 98

3
70
C

m
39.
1

38. <

43. 20

44. 3
8,
9

34

201
5
45. 46. 01
2
nov
emb
er
201
5
51. 52. 02
3
nov
emb
er
201
5
57. C. Assessment
58.

47. 80/
50

48. 92

49. 20

50. 3
6,
5

53. 12
0/8
0

54. 80

55. 20

56. 3
6,
0

1. Kesesuaian Indikasi
59. Tabel I Kesesuaian Indikasi
60. Nama

61. Indikasi (literatur)

62. Indikasi (pasien)

Obat

63. Kete
rang
an
67. Sesu

64. Acetamino

65. Analgetik antipiretik

66.

Demam

fen
68. Ceftriaxon

70. Infeksi :

71.

Tidak

sesuai

ai
72. Sesu

untuk

observasi

febris

ai

e
69.

Saluran pernapasan.
Infeksi saluran kemih
Infeksi gonore
Sepsis
Meningitis
Infeksi tulang dan jaringan

tetapi

jika

dikaitkan

dengan

infeksi

kholesirsiti sesuai

lunak
Infeksi kulit
73. Ranitidin

74.

Terapi jangka 75.

pendek

Meringankan

dan heartburn,

pemeliharaan

indigestion,

untuk :

lambung.

Tukak lambung, tukak

77. Sesu
acid

dan

asam

ai

33

duodenum,

tukak

76.

ringan aktif.
pemeliharaan

untuk

refluks gastroesofagus
dan esofagitis erosif.

Kondisi

hipersekresi

patologis.
Sebagai

bagian

regimen

multiterapi

eradikasi

H.

pylori

untuk

mengurangi

risiko

kekambuhan

tukak.
Meringankan

heartburn,

acid

indigestion, dan asam


78. Dexametaz
on

lambung.
79. Sebagai

agen

inflamasi

anti- Sebagai agen antiatau

imunosupresan
pengobatan

dalam
berbagai

penyakit :
alergi.
Dermatologic.
Hematologi.

ginjal,
pernapasan,
rematik,
dapat

dan

autoimun,

digunakan

dalam

pengobatan edema serebral,


syok septik, pembengkakan
kronis, antiemetik.

inflamasi dalam
pengobatan penyakit
pernapasan.
80.
81.
82.
83.
84.

85. Sesu
ai

34

86.
87. 2. Kesesuaian Dosis
88. Tabel II Kesesuaian Dosis
89. Nama

Obat
Acetaminofe
n

90. Dosis (literatur)

91. Dosis (resep)

Oral, dubur: 325-650 mg

93. 500 mg 3 kali

92. Ketera
ngan
94. sesuai

sehari

setiap 4-6 jam atau 1000


mg 3-4 kali/hari, tidak

melebihi 4g/ hari


95. Ceftriaxo IM, IV: 1-2 g setiap 12-24 IV: 2g 2 kali sehari
97.
ne
jam, tergantung pada jenis
dan beratnya infeksi
96.
99. Ranitidin oral: 150 mg setiap 6-8 150 mg 2 kali sehari
jam
D Anti-inflamasi: Oral, IM,

101.

exametaz
on
104.

102.

IV : 5

mg 3 kali sehari

IV: 0,75-9 mg / hari dalam


dosis terbagi tiap 6-12 jam.

105.

3. Interaksi Obat
106.
108.

Tabel III Interaksi Obat


110.
Ranit

107.
113.
Ceftriaxo
ne
114.

109.

Ceftria

111.

112.

xon

Paraseta

Dexamet

mol

ason

115.

116.

117.

118.

98. Sesuai

100.

esuai
103.
S
esuai

35

119.

120.

Ranitidin

122.

123.

127.

128.

121.

124.
Paraseta

125.

mol

126.

129.
Dexamet

130.

ason

134.

131.

132.

133.

Interaksi obat yang terjadi yaitu:

Antibiotik macrolide: Dapat menurunkan metabolisme Kortikosteroid.


135.
136.
137.
138.
139.
140.
141.
142.

D. Plan

1. Pemberian Konseling, Informasi, dan Edukasi kepada pasien, dokter, dan


perawat

perlu

dilakukan

sebagai

tindak

lanjut

apoteker

untuk

mengoptimalkan pencapaian tujuan terapi pasien.


2. Monitoring munculnya efek samping.
3. Pemantauan terhadap dosis dan waktu pemberian obat.
4. Memberi informasi jika terjadinya interaksi obat kepada dokter.
143.

Komunikasi, Informasi, dan Edukasi

a. Kepada pasien:
Furosemida
Obat furosemid dapat diminum pada pagi hari sesudah makan sehari
144. 1 x 1 tab.
Makan makanan yang mengandung kalium tinggi seperti kentang
panggang, pisang, melon, alpukat, jus jeruk, semangka.
Parasetamol
Obat parasetamol dapat diminum sehari 3 x 1 tab.

36

Informasi tambahan:
Memberikan informasi bahwa pasien tidak boleh lupa minum obat dan
meminum obat sesuai dengan dosisnya, serta tidak boleh berhenti
meminum obat walaupun kondisi sudah membaik.
Menganjurkan pasien untuk istirahat yang cukup .
b. Kepada Perawat:

Memberi informasi mengenai interaksi obat yang terjadi, yaitu pada


penggunaan obat bersamaan antara obat Furosemida dengan Captopril,
furosemid dengan dexametason, eritromisin dengan dexametason. Untuk
itu, perlu adanya selang waktu pemberian obat.

Obat cefotaxime dilarutkan dalam 4 ml air steril untuk injeksi dan

diberikan melalui suntikan secara perlahan-lahan selama 3 - 5 menit.


Stabilitas penyimpanan setelah di rekonstruksi 24 jam dalam lemari es.
Penggunaan Antibiotik harus secara teratur dan dihabiskan sesuai
anjuran dokter, sebab jika tidak bisa menimbulkan kekebalan atau

resistensi kuman.
c. Kepada Dokter :

Memberitahukan adanya interaksi obat pada pemberian obat secara


bersamaan yaitu obat furosemid dengan captopril, eritromisin dengan
dexametason. Selain itu juga, pemberian dexametason secara iv dengan
furosemid. Untuk itu perlu adanya penyesuaian waktu pemberian.

Memberitahukan adanya duplikasi terapi antara penggunaan obat


ranitidin dengan omeprazol.

Memberitahukan untuk memonitoring fungsi ginjal dan elektrolit tubuh.


145.

146.

PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh, pasien masuk ke rumah sakit

dengan keluhan utama demam panas satu minggu, nyeri ulu hati, mual
muntah satu kali, lemas, dan cemas. Pasien memiliki riwayat sakit maag
dan pasien sering mengkonsumsi fasgo forte untuk mengatasi demamnya
di rumah sebelum ke Rumah Sakit. Berdasarkan anamnesa tersebut dokter

37

mendiagnosa pasien mengalami demam atau febris. Pilihan terapi yang


dianjurkan untuk penanganan kasus febris di rumah sakit antara lain terapi
antipiretik, H-2 bloker, kortikosteroid intravena dan antibiotik bilamana
ada indikasi yang menunjukkan adanya infeksi (Dipiro).
147.

Untuk medukung hasil diagnosa diatas, maka pada tanggal

17/09/2012 dilakukan uji laboratorium dengan sampel sputum. Uji laboratorium


tersebut dimaksudkan untuk melihat kultur bakteri yang menginfeksi sehingga
tindakan terapi dengan antibiotik bisa disesuaikan dengan pola kuman setempat
dan komposisi kombinasi antibiotik yang mutakhir. Setelah dilakukan
pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil yaitu pada sputum pasien ditemukan
kultur kuman Coccus gram (+).
148.

Secara empirik obat obat antibiotika

diberikan kepada pasien

untuk mengatasi penyakit paru obstruktif yang dideritanya. Dari hasil


pemeriksaan dapat dipertegas bahwa pasien terinfeksi kuman streptococcus (gram
positif) sehingga pilihan terapi kombinasi antara eritromisin dengan cefotaxime
dinilai sangat rasional (BNF 56). Pengobatan PPOK pada pasien ini dimulai
dengan pemberian obat antibiotika yang terdiri dari cefotaxime 2 x 1g tiap 12
jam/hari yang diberikan secara iv selama 7 hari dan eritromisin 500mg sehari 4x1
secara oral selama 12 hari. Dosis tersebut sudah sesuai dengan data literatur.
Kombinasi antibiotik ni sangat penting berhubungan dengan PPOKnya sudah
bersifat eksaserbasi akut dimana dapat di jumpai

pada pasien ini terjadi

peningktana volume sputum, sputum menjadi semakin purulen, dan peningkatan


sesak. Pemberian secara bersamaan obat eritromisin dengan kortikosteroid perlu
dihindari dengan diberi jarak waktu minum karena Antibiotik makrolida dapat
menurunkan metabolisme dari kortikosteroid.
149.

Peresepan kortikosteroid secara intravena direkomendasikan

sebagai tambahan terapi pada penanganan eksaserbasi PPOK dimana tujuannya


untuk mengurangi hiperactivitas bronchi selain itu berfungsi untuk melawan
reaksi peradangan akibat infeksi bakteri (ISO farmakoterapi). Pada kasus ini dosis
dexametason yang diberikan adalah 3x1 ampul yang diberikan secara iv selama 9

38

hari. Namun

yang perlu diperhatikan disini adalah waktu pemberian obat

furosemid dengan dexametason harus diberi jarak atau dipisahkan karena terjadi
interaksi dimana obat dexametason dapat meningkatkan efek hipokalemia dari
furosemid, untuk itu perlu ada pemantauan kadar elektroli (Kalium) pada tubuh
pasien.
150.

Pasien

juga

dipastikan

mengalami

gangguan

serius

(decompensatio cordis) dimana jantungnya tidak mampu memelihara selayaknya


peredaran darah, hingga volume menit menurun dan arteri mendapat terlalu
sedikit. Sebagai akibat kelemahan jantung ini, darah terbendung di kaki, yang
menimbulkan udema pada pergelangan kaki. Furosemid merupakan golongan
obat diuretik yang sering digunakan dalam penanganan kasus hipertensi, pada
kasus ini pasien dinyatakan menderita hipertensi disertai dengan gagal ginjal akut
sehingga dapat diberikan obat furosemida untuk mengeluarkan cairan yang
berlebihan, dengan demikian diharapkan tekanan darah penderita menjadi normal
kembali. Pemilihan furosemid pada kasus ini dapat dianggap rasional. Dari segi
dosis pasien menerima Furosemid 40mg sekali sehari yang diberikan secara oral
dan iv, maka dosis tersebut masih dapat diterima sebagai dosis lazim. Perlu
diingatkan juga pada pasien, agar jangan sampai megkonsumsi Furosemid pada
waktu sore hari atau malam, karena menimbulkan efek diuresis, yang akan sangat
mengganggu waktu istirahat pasien pada malam hari. Pada kasus ini Waktu
pemberian furosemid juga masih aman, yaitu pada pagi dan siang hari.
151.

Captopril merupakan obat antihipertensi dengan mekanisme

kerjanya yaitu menghambat perubahan angiotensin 1 menjadi angiotensin II


dimana angiotensin II merupakan vasokonstriktor poten yang merangsang sekresi
aldosteron. ACEI juga memblok degradasi bradikinin dan merangsang sintesa zatzat yang menyebabkan vasodilatasi, termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin.
Pada pemeriksaan fisik pada tanggal 24-29 hasilnya menunjukkan bahwa pasien
mangalami hipertensi sehingga dokter memberikan instruksi untuk diberikan obat
captorpil. Pada penanganan kasus ini, dosis yang diberikan sudah sesuai dengan
data literatur yaitu 12,5 mg tiga kali sehari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

39

pemberian obat pada pasien ini sudah tepat indikasi dan tepat dosis, namun yang
perlu diperhatikan disini adalah waktu pemberian obat captopril dengan furosemid
harus diberi jarak atau dipisahkan karena karena terjadi interaksi obat dimana obat
furosemida dapat meningkatkan efek hipotensi dari captopril, untuk itu harus
dilakukan monitoring tekanan darah.
152.

Ranitidin

merupakan

kelompok

obat

H-2

bloker

dengan

mekanisme kerja utamanya yaitu menghambat reseptor histamin 2 secara selektif


dan reversibel sehingga dapat menghambat sekresi cairan lambung. Pemberian
ranitidin pada kasus ini

sangat diperlukan

untuk mangatasi keluhan

nyeri

lambung yang diderita pasien. Dosis yang diberikan adalah 50 mg yang diberikan
2 x sehari secara iv. Selain itu dapat dinilai waktu pemberian obat ranitidin juga
sudah sesuai yaitu pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur.
153.

Parasetamol atau acetaminofen adalah obat analgesik dan

antipiretik yang populer dan digunakan untuk mengatasi nyeri dan demam.
Peresepan obat parasetamol pada kasus ini dinilai kurang signifikan
dimana pasien tidak mengalami demam ataupun nyeri, selain itu
pemberian obat parasetamol tidak disesuai dengan instruksi dokter yang
terdapat di rekam medik. Dari segi dosis, pasien menerima parasetamol
500mg 3 kali sehari yang diberikan secara oral. Dosis tersebut masih
diterima sebagai dosis lasim.
154.

Setelah melakukan metode SOAP, kita dapat menentukan masalah

yang terkait dengan obat (Drug Related Problems), sehingga diharapkan tujuan
terapi tercapai yaitu pasien dapat sembuh dari penyakitnya dan mencegah
kegagalan terapi dengan meminimalkan masalah-masalah baru yang dapat timbul
akibat pengobatan yang salah. Masalah-masalah yang terkait obat tersebut adalah
sebagai berikut:
Adanya indikasi penyakit yang tidak tertangani
155.
Pada kasus ini, tidak ada indikasi yang tidak tertangani.
2. Pemberian obat tanpa indikasi

40

156.

Pada kasus ini, pemberian obat parasetamol sebenarnya tidak perlu

karena tidak ada instruksi dari dokter pada rekam medik dan tidak tepat
indikasi.
3.

Penggunaan obat tidak tepat atau salah obat


157.

Pada pasien ini, penggunaan obat kurang tepat dimana penggunaan

obat ranitidin sebaiknya dihentikan ketika diberikan obat omeprazole karena


terjadi duplikasi terapi.
4.

Dosis obat yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.


158.

5.

Pada pasien ini, Dosis obat sudah tepat.

Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD)


159.

Pada pasien ini, tidak ada terjadi reaksi obat yang tidak

dikehendaki.
6.

Interaksi obat.
160.

Terjadi interaksi obat yaitu:

Pemberian Furosemid dan captopril secara bersamaan dapat meningkatkan

efek captopril sehingga timbul efek hipotensi.


Pemberian Eritrimisin dengan dexametason perlu dihindari dengan diberi
jarak waktu minum karena Antibiotik makrolida dapat menurunkan

metabolisme dari kortikosteroid.


Pemberian furosemid dengan dexametason perlu dihindari dengan diberi

jeda waktu.
Pasien tidak menggunakan obat karena suatu sebab.

7.

161.

Pasien patuh dalam minum obat.

162.
163.
164.
165. DAFTAR PUSTAKA
166.

41

1. AHFS, 2006, AHFS Drug Information, American Society of Health Sistem


Pharmacist, Wisconsin, USA.
2. Lacy, Charles. Dkk. Drug Information Handbook. 18th. Edition Lexi Comp is
the official refrence for the American Pharmachist Assosiation.
3. A Marie,et all . 2008. Pharmacotherapy Principle and Practice. Mc Graw
Hill:London hal 9, 443, 643.
4. Anonim, 2008, British National Formulary 56th edition, Alexandria university
faculty of pharmachy. BMJ Group and RPS Publishing .
5. David S. Tatro, Larry R. Borgsdorf. 2000. Drug Facts. Universitas
Michigan: London.
6. Tan dan Raharja, 2010, Obat-obat penting, Khasiat, Penggunaan, dan efek-efek
sampingnya. Edisi ke 6. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
7. Sukandar, Y, Elin, 2011, ISO FARMAKOTERAPI 2, Jakarta: Ikatan Apoteker
Indonesia.
8. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdl-siswanto025263-2-bab2.pdf

9. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38021/4/chapter
%20II.pdf
10. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31365/4/Chapter
%20II.pdf

11. http://library.usu.ac.id/download/fk/psikiatri-citra.pdf
167.
168.