Anda di halaman 1dari 22

Pengaruh Bahasa Gaul terhadap perkembangan Bahasa Indonesia

Rabu,, 05 Oktober 2011


Pengaruh Bahasa Gaul terhadap perkembangan Bahasa
Indonesia
I. Latar belakang
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat
komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran
berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang
disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran
berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa
konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan
kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan
bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan
bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus
dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh
adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih
kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam
komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi
tidak baik.
Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau
pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya.
Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa
baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul.
Dewasa ini pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa
anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul
kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi
yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar.
Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai

bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan
atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai
preman.
Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang
digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari
semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang
merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar
dalam dunia pendidikan.
Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa
rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul
merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan
di suatu daerah atau komunitas tertentu. Penggunaan bahasa gaul
menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian
mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan
menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.
II. Pembahasan
Munculnya Bahasa Gaul Di Kalangan Masyarakat (Remaja)
Salah satu dampak dari pembangunan dan perkembangan jaman adalah
modernisasi, di mana segala hal yang ada di lingkungan kita harus selalu
ter up-to date. Dampak dari modernisasi yang paling terlihat adalah gaya
hidup, seperti cara berpakaian, cara belajar, aplikasi teknologi yang makin
maju maupun cara bertutur kata (pemakaian bahasa). Dilihat dari cara
bertutur kata atau dalam pemakaian bahasa, dewasa ini munculnya
Bahasa Gaul sangat fenomenal terutama terlihat pada kalangan
masyarakat (remaja) khususnya yang ingin diakui sebagai remaja jaman
sekarang yang gaul, funky, dan keren. Kemunculan bahasa gaul ini dapat
menggeser penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki
sejarah sebelum penggunaannya populer seperti sekarang ini. Berikut ini
merupakan sejarah bahasa gaul tersebut, antara lain yaitu :

1. Nih Yee
Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama
kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama
Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular
hingga saat ini.
2. Memble dan Kece
Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece
merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986,
muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja
Mihardja ditemani oleh Dorce Gamalama.
3. Boo
Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata
Booadalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina
Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan
menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang
artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar
mempopulerkan kata ini.
4. Nek
Setelah kata Boo populer, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek
yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek
pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan
kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang
latah tersebut sering mengucapkan kata Nek
5. Jayus
Di akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular.
Kata ini dapat berarti sebagai lawakan yang tidak lucu, atau tingkah
laku yang disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru
membosankan. Kelompomk yang pertama kali mengucapkan kata ini
adalah kelompok anak SMU yang bergaul di kitaran Kemang.
Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh temantemannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang
pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal
yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru

menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama


Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus kepada
Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya
di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan
anak-anak SMU sekitar.
6. Jaim
Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito,
seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada
anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image.
7. GituLoh(GL)
Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di
kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny
Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman
kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah
Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas
Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan
latah dia ngucapin kata Gitu Lohdi tiap akhir pembicaraan.

2.1 Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja


Bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan
oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan (KBBI,
2008: 116). Bahasa gaul identik dengan bahasa percakapan (lisan).
Bahasa gaul muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya
penggunaan teknologi komunikasi dan situs-situs jejaring sosial.
Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di
antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan,
remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri.
Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan
hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak
lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa
remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan,
dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan
untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan
bahasa rahasia (Sumarsana dan Partana, 2002:150).

Menurut Owen (dalam Papalia: 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata
yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metafora,
ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat,
bahkan perasaan mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapanungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang
kemudian banyak dikenal dengan istilah Bahasa Gaul atau Bahasa Alay.
Indra Sarathan, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas
Sastra Universitas Padjadjaran berpendapat, munculnya fenomena bahasa
alay di kalangan generasi muda adalah sebuah bentuk pemberontakan.
Pemberontakan hanya akan terjadi jika ada sesuatu yang salah. Lalu apa
yang salah ? Bukan karena bahasa Indonesia yang kaku, melainkan
metode pembelajaran di kelas yang mungkin kaku. Padahal tata bahasa
Indonesia termasuk yang fleksibel dan mudah dipelajari, ujarnya.
Sobana Hardjasaputra dalam sebuah tulisannya yang berjudul Bahasa
Nasional yang Belum Menasional menyebutkan sejumlah hal yang
menyebabkan bahasa Indonesia bisa semakin tidak menasional, di
antaranya pengaruh bahasa media massa dan bahasa gaul bagi
kalangan remaja. Oleh karena terbiasa menggunakan Bahasa Gaul,
dalam pembicaraan formal pun para remaja lupa untuk berbicara dalam
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Inilah yang gawat. Selain itu,
pengaruh budaya Barat yang sulit dibendung, akibat perkembangan
teknologi juga akan berpengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia
yang semakin tidak merakyat.

2.3 Pengaruh Media Terhadap Perkembangan Bahasa


Indonesia
Menjamurnya internet dan situs-situs jejaring sosial juga berdampak
signifikan terhadap perkembangan bahasa gaul. Penikmat situs-situs
jejaring sosial yang kebanyakan adalah remaja, menjadi agen dalam
menyebarkan pertukaran bahasa gaul. Tulisan seorang remaja di situs
jejaring sosial yang menggunakan bahasa ini, akan dilihat dan bisa jadi
ditiru oleh ribuan remaja lain.
Bila ditelusuri, bahasa gaul juga muncul di kalangan anak sekolah dasar
karena pengaruh lingkungan. Umumnya mereka menyerap dari

percakapan orang-orang dewasa di sekitarnya. Atau meniru dari media


massa, semisal dari adegan percakapan di televisi maupun mengikuti tren
bahasa gaul di media cetak. Yang pasti, bahasa gaul akan selalu muncul
dan berkembang sesuai zaman masing-masing. Beberapa tahun lalu,
istilah memble aje atau Biarin, yang penting kece sempat ngetren.
Istilah-istilah tersebut lantas tenggelam dengan sendirinya, tergantikan
oleh istilah lain. Di antaranya, so what gitu loh, jayus, dan Kesian deh
lo!
Mengapa anak usia SD? Tak lain karena dorongan untuk meniru
lingkungan amat kuat dalam diri anak usia sekolah dasar. Ini merupakan
tanda bahwa mereka tengah berusaha untuk beradaptasi dan
bersosialisasi dengan lingkungannya. Tak heran kalau ada temannya yang
menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari biasanya ia juga
akan menggunakan bahasa yang sama saat berkomunikasi dengan
teman-temannya.
Untuk itu perlu dipahami bahwa menyerap bahasa gaul yang tengah
menjadi tren merupakan bagian dari konformitas terhadap lingkungan.
Pahami pula jika hal ini merupakan salah satu tahapan perkembangan
kepribadian anak usia sekolah. Yang dimaksud konformitas adalah
meleburkan diri pada lingkungan agar mendapat pengakuan. Dalam
perkembangan sosial anak usia SD, konformitas memang amat diperlukan
karena akan meningkatkan self esteem (harga diri) anak. Jadi, biarkan saja
anak ikut tren yang memang diperlukan bagi perkembangan sosialnya.
Yang harus diajarkan pada anak adalah soal penempatan, dalam arti
kapan dan kepada siapa bahasa tersebut boleh digunakan.

2.4 Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul


Pada dasarnya ragam bahasa gaul remaja memiliki ciri khusus, singkat,
lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek,
sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses
morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Kalimatkalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentukbentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat
menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang

tidak lengkap. Hal itu dapat dilihat dari :


Pengunaan awalan e
Kata emang itu bentukan dari kata memang yang disisipkan bunyi e.
Disini jelas terlihat terjadi pemendekan kata berupa mengilangkan huruf
depan (m). Sehingga terjadi perbedaan saat melafalkan kata tersebut dan
merancu dari kata aslinya.
Kombinasi k, a, g
Kata kagak bentukan dari kata tidak yang bunyinya tid diganti kag. Huruf
konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vocal i diganti a.
Huruf konsonan kedua diganti g. sehingga kata tidak menjadi kagak.
Sisipan e
Kata temen merupakan bentukan dari kata teman yang huruf vocal a
menjadi e. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan.
Contoh lain yang merupakan jenis-jenis padanan kata yang ada dalam
kamus alay:
Barang abal yang dipamerin ketemen terus dia ngaku beli di singapore.
amrik . dan sbgainya. eh liat nih gue beli gelang dijerman gituloh asli
kalo ga salah sih dirupiahin 500 ribu ya. padahal dia beli di itc aja!! yang
10 ribu 5 hahaha.
Tulisan gede-kecil. aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!! atau dengan a
ngggka K4Ng3nZ dWEcChh NNNNNZZZZZ
- minta di add di shotout, j9n lupa ett ghw
-gaya dengan bibir monyong, telunjuk nempel bibir, gaya tangan dengan
oke dipinggir kepala dan foto dari atas
-.nge post bulbo cuma buat kasih tau dia lagi online & minta comment.
- iya : ia
- kamu: kamuh,kammo,kamoh,kamuwh,kamyu,qamu,etc
- aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,etc
- maaf: muuph,muphs,maav,etc
- sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
- add : ett,etths,aad,edd,etc
- for : vo,fur(zz),pols,etc
- lagi : agi,agy

- makan: mums,muumhs,etc
- lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
- siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
- apa : uppu,apva,aps,etc
- narsis: narciezt,narciest,etc
Tulisannya gede kecil dan pake angka (idihh) sebenarnya masih banyak
kata-kata atau frase yang belum aku tuliskan, paling tidak contoh diatas
itu membuktikan bahwa memang adanya kata-kata alay.

2.5 Langkah Langkah Pencegahan Pergeseran


Pemakaian Bahasa Indonesia
a) Menjadikan Lembaga Pendidikan Sebagai Basis Pembinaan Bahasa
Bahasa baku sebagai simbol masyarakat akademis dapat dijadikan sarana
pembinaan bahasa yang dilakukan oleh para pendidik. Para pakar
kebahasaan, misalnya Keraf, 1979:19; Badudu, 1985:18; Kridalaksana,
1987:4-5; Sugono, 1994:8, Sabariyanto, 2001:3; Finoza, 2002:7; Alwi dkk.,
(eds.) 2003:5; serta Arifin dan Amran, 2004:20 memberikan batasan
bahwa bahasa Indonesia baku merupakan ragam bahasa yang digunakan
dalam dunia pendidikan berupa buku pelajaran, buku-buku ilmiah, dalam
pertemuan resmi, administrasi negara, perundang-undangan, dan wacana
teknis yang harus digunakan sesuai dengan kaidah bahasa yang meliputi
kaidah fonologis, morfologis, sintaktis, kewacanaan, dan semantis.
b) Perlunya Pemahaman Terhadap Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang
digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dan sesuai dengan kaidahkaidah bahasa Indonesia (Sugono, 1994: 8). Bahasa Indonesia yang baik
adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan
yang berlaku. Sedangkan Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa
Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa
Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah
pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan
paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan
dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten,
pemakaian bahasa dikatakan benar, begitu juga sebaliknya.

c) Diperlukan Adanya Undang-Undang Kebahasaan


Dengan adanya undang-undang penggunaan bahasa diarapkan
masyarakat Indonesia mampu menaati kaidahnya agar tidak mencintai
bahasa negara lain di negeri sendiri. Sebagai contoh nyata, banyak orang
asing yang belajar bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka
berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang
mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia
berbicara dengan bahasa informal dan gaul.
d) Peran Variasi Bahasa dan Penggunaannya
Variasi bahasa terjadi akibat adanya keberagaman penutur dalam wilayah
yang sangat luas. Penggunaan variasi bahasa harus disesuaikan dengan
tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi atau bahasa tidak resmi.
Variasi bahasa tinggi (resmi) digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato
kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, khotbah, suat menyurat
resmi, dan buku pelajaran. Variasi bahasa tinggi harus dipelajari melalui
pendidikan formal di sekolah-sekolah. Sedangkan variasi bahasa rendah
digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di
jalan, dalam surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri. Variasi
bahasa ini dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum, dan tidak
pernah dalam pendidikan formal.
e) Menjunjung Tinggi Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri
Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu
sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia
merupakan bahasa pertama dan utama di negara Republik Indonesia.
Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik bertugas sebagai
penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa
nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di
sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa
Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara
sosial politik merupakan bahasa kedua.
Selain bahasa daerah, bahasa-bahasa lain seperti bahasa Cina, bahasa
Inggris, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan bahasa
Perancis berkedudukan sebagai bahasa asing. Di dalam kedudukannya

sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa terebut bertugas sebagai sarana


perhubungan antarbangsa, sarana pembantu pengembangan bahasa
Indonesia, dan alat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern bagi kepentingan pembangunan nasional. Jadi, bahasa-bahasa
asing ini merupakan bahasa ketiga di dalam wilayah negara Republik
Indonesia.
b. Struktur Bahasa Gaul yang digunakan ketua HMI
Ragam bahasa gaul remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan
kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata
yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau
menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti memang
emang.
Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal.
Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan
kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat
yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek,
pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat
pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami
kesulitan untuk memahaminya. (Nyoman Riasa)
1) Pengunaan awalan e
Kata emang itu bentukan dari kata memang yang disispi bunyi e. Disini
jelas terjadi pemendekan kata berupa mengilangkan huruf depan (m).
Sehingga terjadi perbedaan saat melafalkan kata tersebut dan merancu
dari kata aslinya.

2) Kombinasi k, a, g
Kata kagak bentukan dari kata tidak yang bunyinya tid diganti kag. Huruf
konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vocal i diganti a.
Huruf konsonan kedua diganti g. sehingga kata tidak menjadi kagak.
3) Sisipan e
Kata temen merupakan bentukan dari kata teman yang huruf vocal a
menjadi e. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan.
c. sms menggunakan bahasa gaul yang merusak bahasa indonesia

Maraknya pemakaian jalur komunikasi yang murah, efisien, dan murah,


juga dapat melahirkan dampak yang negatif dalam penggunaan tata
bahasa. Pemakaian singkatan di dalam menggunakan sms kerap kali
membuat masyarakat menjadi terbawa arus di dalam menuliskan katakata baku, sepeti menulis surat, catatan dan sebagainya.
Terkadang pemakaian kata yang tak baku di dalam memanfaatkan
layanan sms sering kali menimbulkan keraguan atau makna ganda bagi si
penerima, tak heran pesan yang kita kirim lewat sms bisa menghasilkan
arti yang berbeda dari yang kita maksudkan, mungkin bagi mereka yang
mengerti mungkin dengan mudah ia dapat mengartikannya, tapi bagi
mereka yang baru pertamakali melihat singkatan seperti ini mungkin ia
akan akan bertanya-tanya apa maksud yang hendak di sampaikan oleh si
pengirim.
Contohnya saja adalah :
KTG KMU DI SKLH
PD TGL 120307 SSDH
ISTHT JAM 11.00
Bagi si penulis mungkin dengan mudah ia dapat mengartikan yaitu,
Kutungu kamu di sekolah pada tanggal 12-03-2007 sesudah istirahat jam
11.00. Tapi bagi mereka yang tidak mengerti mungkin ia akan kesulitan
dalam mengartikannya atau dari singkatan-singkatan di atas akan lahir
arti yang berbeda-beda.
Dampak dari pemakaian singkatan pada sms adalah, banyak orang yang
menulis surat dan sebagainya menggunakan singkatan yang tak baku.
Contohnya mempergunakan singkatan kata yang menjadi yg dan
terkadang di dalam instansi pemerintahan juga masih di temukan
pemakaian singkatan yang tak baku, kecuali Telegram. Karena pada
pemakaian telegram kita di haruskan untuk membuat kata sesingkatsingkatnya, hal ini di karenakan setiap huruf di kenakan biaya. Seiring
waktu berlalu sangat jarang sekali orang yang mau mempergunakan
telegram, karena pemakaian layanan sms selain efisien, murah, dan
cepat.

III. Kesimpulan
Dapat kita simpulkan banyaknya kalangan remaja menggunakan bahasa
gaul adakah akibat dari perkembangan zamanyang kian mengalami
kamjuan baik dari dunia pendidikan sampai teknologi.
Gejala bahasa yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan
bahasa Indonesia dianggap sebagai penyimpangan terhadap bahasa.
Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri
berdampak pada tergilasnya atau lunturnya bahasa Indonesia dalam
pemakaiannya dalam masyarakat terutama dikalangan remaja.
Apalagi dengan maraknya dunia kalangan artis menggunakan bahasa
gaul di media massa dan elektronik, membuat remaja semakin sering
menirukannya di kehidupan sehari-hari hal ini sudah menjadi wajar karena
remaja suka meniru hal-hal yang baru.
by : Roy Salomo

SELESAI
PENGARUH BAHASA ALAY TERHADAP KEMAMPUAN REMAJA
BERBAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1

Latar Belakang Permasalahan


Sebagai bangsa yang terdiri atas ratusan suku bangsa dengan ratusan bahasa dan
aneka ragam kebudayaan yang tersebar luas di atas untaian belasan ribu pulau, bangsa
Indonesia patut berbangga hati atas bahasa Melayu yang secara alami telah menyebar ke
seluruh Nusantara dan secara perlahan-lahan tetapi mantap tumbuh subur dan berkembang
sampai akhirnya menjadi Bahasa Indonesia.
Namun sayang, rasa kebanggaan itu ternyata tidak diikuti dengan penguasaan
akan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di era globalisasi seperti ini, kemajuan dan
perkembangan teknologi sangatlah pesat. Kemajuan dan perkembangan tersebut tentunya

sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Apalagi dengan masuknya budaya asing
yang akan semakin mempengaruhi kehidupan dan pergaulan, terutama pada remaja. Dengan
semakin majunya teknologi dan ditambah dengan pengaruh budaya asing tersebut, maka akan
mengubah sikap, perilaku serta kebiasaan mereka. Hal tersebut tidak hanya mengubah gaya
hidup, seperti cara berpakaian, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang (dalam hal ini
remaja) dalam berinteraksi serta berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini tentunya berkaitan
erat dengan penggunaan bahasa.
Seiring perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan
benar pada masyarakat terutama pada kalangan remaja secara perlahan mulai tidak nampak.
Hal itu terjadi karena munculnya modifikasi bahasa, yang sering disebut dengan bahasa
alay. Bahasa alay mulai muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan
jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan lain sebagainya. Bahkan bukan hanya dalam
dunia maya (seperti facebook dan twitter), bahasa alay juga banyak ditemukan di televisi,
radio, majalah, bahkan koran. Terutama pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan remaja,
misalnya acara-acara ditelevisi yang menjadi totonan utama dan memang ditujukan kepada
para remaja. Hal tersebut membuat penyebaran bahasa alay di kalangan remaja menjadi
semakin pesat.
Masa remaja merupakan masa-masa dimana seseorang sedang mencari identitas,
ingin mendapat pengakuan, dan masih sangat labil sehingga remaja sering memiliki hasrat
untuk meniru segala sesuatu yang dianggapnya menarik tanpa melihat sisi negatif yang akan
ditimbulkan. Menurut Erikson (1968), Remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut
sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah
pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang
memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan
bahasa baru ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas
independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak. Hal itulah yang mendorong
remaja untuk menggunakan bahasa alay. Mereka menganggap bahwa bahasa alay itu sangat
menarik. Pada awalnya mungkin mereka hanya mendengar bahasa alay dari orang lain dan
tidak mengerti apa maksud dari bahasa alay yang orang lain katakan tersebut, namun karena
mereka merasa bahasa alay tersebut sangat menarik, maka mereka berusaha untuk mencari
tahu dan mempelajarinya. Setelah itu mereka akan merealisasikan bahasa alay tersebut dalam
kehidupan sehari-hari mereka.
Selain itu, remaja tidak ingin selalu terpaku dalam bahasa baku, yang harus
digunakan dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah yang dianjurkan. Seperti yang

diketahui bahwa remaja tidak begitu suka dengan adanya aturan-aturan. Itulah sebabnya
mengapa mereka lebih banyak memilih menggunakan bahasa alay daripada bahasa Indonesia.
Apalagi beberapa dari mereka beranggapan bahwa bahasa alay adalah bahasa gaul, sehingga
seseorang yang tidak menggunakannya akan dianggap kuno, ketinggalan jaman, bahkan
ndeso yang berarti kampungan. Dengan adanya pernyataan tersebut, maka remaja akan
semakin tertantang dan berlomba-lomba untuk mencari tahu bahkan menciptakan sendiri
bahasa-bahasa yang menurut mereka pantas untuk disebut sebagai bahasa alay dan dapat
digunakan oleh remaja-remaja lainnya.
Kebanyakan dari mereka yang menggunakan bahasa alay tidak begitu mengerti
dan memahami pentingnya berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jika hal itu dibiarkan,
maka akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia di
negara ini. Antara lain, remaja akan sulit untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Padahal disekolah maupun ditempat kerja nanti kita diharuskan untuk menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Tidak mungkin jika ulangan atau tugas dikerjakan
menggunakan bahasa alay. Selain itu, penggunaan bahasa alay dapat mengganggu siapapun
yang membaca dan mendengar kata-kata yang dimaksud. Bahkan bisa terjadi
kesalahpahaman antar orang yang berkomunikasi atau bisa saja terjadi salah persepsi, karena
sulit dipahami saat bahasa tersebut digunakan sebagai pengucapan dan sulit dibaca saat
digunakan sebagai penulisan. Karena tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata
alay tersebut. Hal itu sangat memusingkan dan membutuhkan waktu yang lama untuk sekedar
memahaminya.
Dengan penggunaan bahasa alay oleh remaja yang semakin berkembang ini, bisa
jadi suatu saat nanti anak cucu kita (masyarakat) sudah tidak lagi mengenal bahasa baku dan
tidak lagi memakai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) sebagai pedoman dalam berbahasa,
kemudian menganggap remeh bahasa Indonesia. Jika hal ini terus berlangsung,
dikahawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja bahkan
dikalangan anak-anak. Padahal bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara kita dan
juga sebagai identitas bangsa. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa,
harusnya mampu menjadi tonggak dalam mempertahankan bangsa Indonesia ini. Salah satu
yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga, melestarikan, dan menjunjung tinggi bahasa
Indonesia. Seperti dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi, Kami putra-putri
Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

1. 4.1

1. 4.2

Berdasarkan latar belakang di atas, itulah penulis tertarik untuk mengetahui


bagaimana pengaruh bahasa alay terhadap kemampuan remaja berbahasa Indonesia yang baik
dan benar.
1. 2

Batasan Masalah
Batasan masalah bertujuan untuk membatasi hal-hal yang akan dibahas. Adapun
batasan masalah yaitu:

a.

Awal mula digunakannya bahasa alay dikalangan remaja.

b. Perkembangan bahasa alay dikalangan remaja.


c.

Karasteristik bahasa alay dikalangan remaja.

d. Upaya-upaya tiap individu dalam meningkatkan penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar guna meninggalkan bahasa alay.
1. 3

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, maka dapat saya
rumuskan masalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Bagaimana awalmula digunakannya bahasa alay dikalangan remaja?


Bagaimana perkembangan bahasa alay dikalangan remaja saat ini?
Bagaimana karasteristik bahasa alay dikalangan remaja?
Apa saja upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam meningkatkan penguasaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar guna meninggalkan bahasa alay?

1. 4

Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian Secara Umum
a. Menjelaskan awal mula digunakannya bahasa alay di kalangan remaja.
b. Menjelaskan perkembangan bahasa alay di kalanagan remaja saat ini.
c. Menjelaskan karasteristik bahasa alay di kalangan remaja.
d. Mengetahui upaya-upaya yang ditempuh dalam meningkatkan penguasaan bahasa Indonesia
guna meninggalkan bahasa alay.
Tujuan Penelitian Secara Khusus
Tujuan penelitian secara khusus ialah supaya para pembaca dan terutama saya pribadi
dapat mengetahui pengaruh bahasa alay terhadap kemampuan remaja berbahasa indonesia
yang baik dan benar.

1. 5
Manfaat Penelitian
1. 5.1 Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini, dapat dijadikan acuan bagi masyarakat (dalam hal ini remaja)
akan pengaruh bahasa alay terhadap kemampuan remaja berbahasa Indonesia yang baik dan
benar.
1. 5.2 Manfaat Praktis
1.5.2.1
Bagi Remaja
Manfat yang diperoleh bagi remaja sebagai berikut :
a. Menambah pengetahuan bagi remaja.
b. Memberikan pemahaman kepada remaja akan pengaruh bahasa alay.
1.5.2.2
Bagi Peneliti
Sebagai tambahan refrensi bagi semua pihak yang bermaksud
melakukan penelitian di masa yang akan datang.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Bahasa
Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga
membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Fonem
adalah unsur terkecil dari bunyi ucapan yang bisa digunakan untuk membedakan arti dari satu
kata. Sintaks adalah penggabungan kata menjadi kalimat berdasarkan aturan sistematis yang
berlaku pada bahasa tertentu (dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).
Sedangkan menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi
antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat
untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang
mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati
bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi
mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat
komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa bahasa, kita tidak akan bisa hidup dengan orang lain. Karena kita berkomunikasi
dengan orang lain menggunakan bahasa. Sebagai masyarakat Indonesia, tentunya kita
memiliki bahasa negara yaitu bahasa Indonesia. Seperti tercantum pada Undang-Undang kita

yang berbunyi Bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Oleh karenanya, sebagai warga
negara yang patuh terhadap bangsa haruslah kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
dan benar. Baik disini bisa diartikan dengan menggunakan ragam bahasa yang tepat dan
serasi sesuai dengan sasaran dan jenis pemakaiannya. Sedangkan benar disini dapat diartikan
dengan menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah yang berlaku. Jadi maksud dari
penggunaan bahasa dengan baik dan benar adalah penggunaan ragam bahasa yang tepat
sesuai dengan sasarannya dan juga sesuai dengan kaidah yang berlaku dimasyarakat.
2.2

Fungsi Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar


Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi
sebagai berikut.
a. Sebagai lambang kebanggaan nasional.
b. Sebagai lambang jati diri atau identitas nasional.
c. Sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial, budaya, dan
bahasanya.
d. Sebagai alat perhubungan antar budaya dan antar daerah.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai
berikut.
a. Sebagai bahasa resmi negara.
b. Sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan.
c. Sebagai bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional, baik kepentingan
perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan maupun untuk kepentingan pemerintahan.
d. Sebagai bahasa resmi di dalam kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern.

2.3

Bahasa Alay
Kata Alay bisa diartikan sebagai Anak layangan, Anak lebay, Anak kelayapan,
dan lain sebagainya. Dimana anak-anak tersebut sering didefinisikan sebagai anak-anak yang
berkelakuan tidak biasa atau dapat dikatakan berlebihan. Anak-anak ini ingin diketahui
statusnya diantara teman-teman sejawatnya, mereka ingin selalu memperlihatkan ke-eksis-an
atau kenarsisan mereka dalam segala hal. Misalnya dalam hal berpakaian, bertingkah laku,
serta berbahasa (baik lisan maupun tulis). Sesuai dengan pengertian tersebut, maka dapat
diketahui bahwa bahasa alay adalah bahasa yang digunakan oleh anak-anak alay.
Menurut Sahala Saragih, dosen Fakultas Jurnalistik, Universitas Padjajaran,
bahasa alay merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka.
Penggunaan bahasa sandi tersebut menjadi masalah jika digunakan dalam komunikasi massa
atau dipakai dalam komunikasi secara tertulis. Dalam ilmu bahasa, bahasa alay termasuk

sejenis bahasa diakronik. Yaitu bahasa yang dipakai oleh suatu kelompok dalam kurun
waktu tertentu. Ia akan berkembang hanya dalam kurun tertentu. Perkembangan bahasa
diakronik ini, tidak hanya penting dipelajari oleh para ahli bahasa, tetapi juga ahli sosial atau
mungkin juga politik. Sebab, bahasa merupakan sebuah fenomena sosial. Ia hidup dan
berkembang karena fenomena sosial tertentu.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Awal Mula Penggunaan Bahasa Alay


Dengan semakin berkembangnya teknologi, terutama berkembangnya situs
jejaring sosial, seperti facebook dan twitter. Pada tahun 2008, muncul suatu bahasa baru
dikalangan remaja, yang disebut dengan bahasa Alay. Kemunculannya dapat dikatakan
fenomenal, karena cukup menyita perhatian. Bahasa baru ini seolah menggeser penggunaan
bahasa Indonesia dikalangan segelintir remaja. Mereka lebih tertarik untuk mengunakan
bahasa alay yang dapat digunakan sesuai keinginan mereka daripada menggunakan bahasa
Indonesia yang kaku dan baku.
Namun jika diteliti lebih lanjut, penggunaan bahasa alay ini sudah ada jauh
sebelum bahasa alay berkembang di facebook maupun twitter, yaitu ditandai dengan
maraknya penggunaan singkatan dalam mengirim pesan pendek atau SMS (short message
service). Hanya saja pada saat itu belum disebut dengan bahasa alay. Selain itu ada banyak
tambahan variasi yang menyebabkan bahasa tersebut kemudian disebut dengan bahasa alay.
Misalnya dalam bentuk SMS biasa, km lg ngapa? yang maksudnya adalah kamu lagi
ngapain?, dan dalam bentuk SMS alay menjadi, xm Gy nGaps?. Tujuan awalnya adalah
sama yaitu untuk mengirimkan pesan yang singkat, padat, dan dapat menekan biaya.

3.2

Perkembangan Bahasa Alay


Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa bahasa alay sudah mulai berkembang
pesat seiring dengan berkembangnya teknologi. Yang sebelumnya hanya digunakan oleh
kalangan tertentu, sekarang bahasa alay sudah dapat digunakan oleh berbagai kalangan, tak
terkecuali anak-anak. Yang semula hanya digunakan dalam bentuk tulisan, sekarang bahasa
alay sudah banyak ditemukan dalam bentuk lisan. Bagaimana caranya? Banyak cara yang

digunakan untuk berbahasa alay dalam bentuk lisan, salah satunya yaitu dengan
memonyongkan bibir atau mendesah mengikuti kata-kata yang mereka ucapkan.
Bagi mereka yang sudah terbiasa dan menyukai kebiasaan mereka berbahasa alay,
hal tersebut merupakan kesenangan dan kebanggaan tersendiri. Mereka menginginkan untuk
menjadi yang paling keren dari teman-temannya. Mereka menganggap bahwa bahasa alay
merupakan bentuk kreativitas yang harus mereka kembangkan untuk mencapai sebuah
kepuasan dan untuk mendapatkan pujian dari teman-temannya. Namun dalam pandangan
orang lain yang tidak terbiasa mendengar atau menggunakan bahasa alay, hal tersebut justru
sangat norak dan kampungan. Mereka tidak mau menerima adanya bahasa alay karena
mereka terganggu dan menganggap bahasa alay adalah bahasa yang sangat sulit untuk
dipahamai serta tidak mudah dimengerti.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa Alay untuk generasi muda saat ini
sudah sangat tidak mengindahkan efesiensi, melainkan hanya sekedar trend belaka.
3.3

Krakteristik Bahasa Alay


Seiring dengan semakin banyaknya penggunaan bahasa alay pada kalangan
remaja, variasi atau karasteristiknya pun semakin beragam. Antara lain:

a. Pemakaian huruf besar kecil yang berantakan dalam satu kalimat,


contohnya: kaMu Lagi nGapaiN?
b. Penggunaan angka sebagai pengganti huruf,
contohnya: k4mu L49i n94p4in?
c. Penambahan atau pengurangan huruf-huruf dalam satu kalimat,
contohnya: amue agie ngapaein?
d. Menambahkan atau mengganti salah satu huruf dalam kalimat,
contohnya: xmoe agie ngaps?
e. Penggunaan simbol-simbol dalam kalimat,
contohnya: k@mu L@g! nG@p@!n?
Contoh-contoh tersebut masih sangat sedikit, itu artinya masih banyak lagi
variasi-variasi atau karasteristik penggunaan bahasa alay di kalangan remaja saat ini.
Karasteristik tersebut juga tidak dapat diketahui dan dijelaskan secara pasti karena kata-kata
dalam bahasa alay itu sendiri tidak mempunyai standar yang pasti, hanya disesuaikan oleh
mood atau teknik penulisan si pembuat kalimat.
3.4

Upaya-Upaya Peningkatan Penguasaan Bahasa Indonesia Guna Meninggalkan Bahasa Alay

Khusus mengenai upaya penguasaan bahasa Indonesia yang dimaksud disini


adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh setiap individu dalam meningkatkan penguasaan
bahasa Indonesianya guna meninggalkan bahasa alay.
Pertama, tanamkan kesadaran (motivasi) bahwa penguasaan bahasa Indonesia
dengan baik merupakan modal dasar untuk sukses di segala bidang.
Kedua, usahakan sebanyak mungkin untuk membaca, baik surat kabar, majalah,
buku-buku pelajaran, terlebih lagi buku-buku tentang kebahasaan. Biasakanlah dalam
kegiatan sehari-hari selalu ada waktu untuk membaca, walaupun hanya beberapa menit,
sebab dengan banyak membaca wawasan kita akan semakin bertambah, termasuk dalam hal
kebahasaan.
Ketiga, usahakan agar bersikap kritis dalam membaca, artinya jangan hanya asal
membaca, tapi juga harus diperhatikan dan dimengerti dengan baik bentuk bahasa yang
dibaca, struktur kalimatnya,bentuk kata-katanya, ejaannya, tata tulisnya, dan sebagainya.
Keempat, hal lain yang harus diperhatikan oleh penutur bahasa Indonesia adalah
berpegang teguh peda prinsip berbeda bentuk berbeda arti. Dengan prinsip ini, orang akan
selalu sadar dalam memilih penggunaan kata-kata, apakah akan menggunakan kata-kata baku
yang sesuai ejaan atau kata nonbaku yang tidak sesuai dengan ejaan.

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Tata bahasa Indonesia saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat
Indonesia sudah tidak bisa lagi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
terutama pada kalangan remaja. Hal tersebut terjadi karena adanya budaya asing dan berbagai
variasi bahasa yang mereka anggap sebagai kreatifitas. Mereka lebih memilih menggunakan
bahasa baru tersebut daripada bahasa Indonesia, karena mereka takut dikatakan sebagai
remaja yang kampungan dan ketinggalan jaman. Bahasa baru itu mereka sebut dengan
bahasa Alay.
Penggunaaan bahasa Alay sudah semakin berkembang dikalangan remaja saat ini.
Hal tersebut tentunya sangat mengkhawatirkan dan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan
perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Karena masyarakat Indonesia nantinya akan
melupakan dan tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Ada pun upaya dalam meinggalkan bahasa alay untuk meningkatkan penguasaan
bahasa Indonesia itu harus dimulai dari diri sendiri, sebab untuk merubah sesuatu hal apa pun
yang besar harus dimulai dari dalam diri kita sendiri. Begitu pula dengan penguasaan bahasa
Indonesia dan meninggalkan bahasa alay, dengan menerapkan hal-hal yang sudah diberikan
penulis di atas, bukan tidak mungkin kemampuan dalam penguasaan bahasa Indonesia kita
akan meningkat.

4.2

Saran
Sebenarnya sah-sah saja bagi mereka (terutama remaja) yang menggunakan
bahasa alay, karena hal tersebut merupakan bentuk kreatifitas yang mereka buat. Namun
sebaiknya penggunaan bahasa alay dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi atau
tidak digunakan pada situasi-situasi yang formal. Misalnya pada saat berbicara dengan teman.
Teman disini adalah mereka yang mengetahui dan mengerti bahasa alay tersebut. Tetapi juga
jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia kita. Karena biar bagaimanapun
bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa kebanggaan kita dan wajib untuk dijaga, dilestarikan,
serta dijunjung tinggi. Seperti dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi, Kami
putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.