Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AKUNTANSI PERPAJAKAN

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG DAN EKUITAS

Disusun Oleh :
1. Winda Eka Kartika
2. Yana Haqita Sari

( 132010300004)
(132010300005)

3. Nunuk Nur Afifah

(132010300006)

4.Yeni Yunita Sari

132010300007)

5.Vivi Ardianti

(132010300008)

6. Anita Nur Avikah

(132010300010)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO


FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
MEI
2016

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

PENGERTIAN KEWAJIBAN JANGKA PANJANG


Kewajiban/hutang

jangka

panjang

adalah

kewajiban/hutang

perusahaan terhadap pihak lain yang pelunasannya lebih dari satu


tahun sejak tanggal neracadan sumber pembiayaannya tidak diambil
dari aset lancar. Perusahaan untuk memperoleh sumber ekonomi
yang akan digunakan membelanjahi kegitan khususnya yang bersifat
jangka panjang, perusahaan dapat mengeluarkan sertifikat berarti
membuat

perjanjian

hutang,

menyatakan

pembuat

bersedia

membayar bunga atas pinjaman tersebut secara periodik selama


jangka waktunya.
Kewajiban jangka panjang mencakup :
1.

Hutang Obligasi
Obligasi adalah janji tertulis untuk membayar bunga secara
periodik dan sejumlah nilai nominal pada tanggal jatuh tempo.
Pada obligasi dapat terjadi adanya agio (premium) dan juga
disagio (discount). Agio terjadi apabila surat obligasi terjual
dengan harga di atas nominal. Disagio terjadi apabila surat
obligasi terjual dengan harga di bawah nilai nominal.
Dalam PP 27 Tahun 2008 jo. PMK.-63/PMK.03/2008, diatur
mengenai pemotongan PPh yang bersifat final dengan tarif 20%

dari diskonto SPN di mana diskonto SPN adalah selisih lebih


antara:

Nilai nominal pada saat jatuh tempo dengan harga Perolehan


di pasar perdana / pasar sekunder, atau

Harga jual di pasar sekunder dengan harga Perolehan di


pasar perdana / pasar sekunder.
Untuk perpajakan, bunga obligasi diatur dalam PP 16 Tahun

2009 jo. PMK-85/PMK.03/2011. Menurut peraturan tersebut, yang


dimaksud dengan obligasi adalah surat utang dan SUN yang
berjangka waktu lebih dari 12 bulan. Dan bunga obligasi adalah
imbalan yang diterima dan / atau diperoleh pemegang obligasi
dalam bentuk bunga dan / atau diskonto. Atas penghasilan yang
diterima dan / atau diperoleh WP berupa bunga obligasi dikenai
pemotongan PPh final, kecuali apabila diterima oleh WP dana
pensiun yang pendirinya telah disahkan oleh menteri keuangan
dan WP bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar
negeri di Indonesia.
Besarnya PPh adalah sebagai berikut :
a) Bunga dari obligasi dengan kupon sebesar :
1) 15% bagi WP dalam negeri dan BUT
2) 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan
penghindaran pajak berganda (P3B) yang berlaku, bagi
WP luar negeri selain BUT

(dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan


obligasi)
b) Diskonto dari obligasi dengan kupon sebesar :
1) 15% bagi WP dalam negeri dan BUT
2) 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan
penghindaran pajak berganda (P3B) yang berlaku, bagi
WP luar negeri selain BUT
(dari selisih lebih harga jual / nominal di atas harga Perolehan
obligasi, tidak termasuk bunga berjalan).
c) Diskonto dari obligasi tanpa bunga sebesar :
1) 15% bagi WP dalam negeri dan BUT
2) 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan
penghindaran pajak berganda (P3B) yang berlaku, bagi
WP luar negeri selain BUT
(dari selisih lebih harga jual / nominal di atas harga Perolehan
obligasi
d) Bunga dan/atau diskonto dari obligasi yang diterima dan/atau
diperoleh WP reksadana yang terdaftar pada Bapepam dan
Lembaga Keuangan sebesar :
1) 0% untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010;
2) 5% untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013; dan
3) 15% untuk tahun 2014 dan seterusnya.
Pemotong PPh sebagaimana dimaksud di atas dilakukan oleh :

a. penerbit obligasi atau kustodian yang ditunjukkan selaku


agen pembayaran, atas bunga dan/atau diskonto yang
diterima pemegang obligasi dengan kupon pada saat jatuh
tempo bunga obligasi, dan diskonto yang diterima pemegang
obligasi tanpa bunga pada saat jatuh tempo obligasi;
b. Perusahaan efek, diler, atau bank, selaku pedagang dan/atau
pembeli, atas bunga dan diskonto yang diterima penjual
obligasi pada saat transaksi.
Pemotong PPh wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Final
Pasal 4 ayat (2) kepada orang pribadi atau badan yang
memperoleh penghasilan bunga obligasi. Kemudiaan , diwajibkan
menyetor paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan
dilakukan pemotongan PPh. Juga wajib menyampaikan laporan
tentang pemotongan dan penyetoran PPh tersebut paling lama 20
hari setelah bulan dilakukan pemotongan pajak.
Contoh:
1. PT Kaya menjual obligasi nilai nominal Rp 300.000.000 dengan
bunga 20% per tahun kepada PT Raya seharga Rp 320.000.000.
PPh atas premium obligasi sebesar Ro 20.000.000 terutang PPh
Pasal 4 ayat (2) sebesar 15% x Rp 20.000.000 = Rp 3.000.000.
PPh dipotong oleh PT Raya pada saat penerbitan obligasi. Atas
pemotongan PPh tersebut tidak dapat dikreditkan oleh PT Kaya.
Jurnal bagi PT Kaya adalah sebagai berikut:
Tanggal
Saat

Keterangan
Kas/Bank
PPh Pasal 4 ayat (2)

Debet
317.000.0

Kredit
-

obligasi

Utang Obligasi
Premium

diterbitka
Obligasi

00
3.000.000
-

300.000.0
00
20.000.00

n
0
Tanggal
Saat
pembayar

Keterangan
Biaya bunga obligasi
Utang PPh 23
Kas/Bank

Debet
60.000.00

Keterangan
Utang obligasi
Kas/Bank

9.000.000
54.000.00

0
-

an bunga
Tanggal
Saat

Kredit

Debet
300.000.0

obligasi

Kredit
300.000.0

00
-

00

lunas
Jurnal bagi PT Raya adalah sebagai berikut:
Tanggal
Saat
obligasi
diterbitka

Keterangan
Investasi obligasi
Bunga dibayar di muka
Utang PPh Pasal 4
ayat (2)
Kas/Bank

Tanggal
Saat
pembayar

Keterangan
Kas/Bank
PPh 23 dibayar di muka
Pendapatan bunga

an bunga

obligasi

Debet
300.000.

Kredit
3.000.00

000
20.000.0

0
317.000.

00
-

000

Debet
54.000.0
00
9.000.00

Kredit
60.000.0
00

0
Tanggal

Keterangan

Debet

Kredit

Saat

Kas/Bank
Investasi Obligasi

300.000.

obligasi

300.000.

000
-

000

lunas
2. Pada 1 Oktober 2011, PT Eka menerbitkan pinjaman 12%
obligasi dengan nilai nominal Rp 12.000.000. Pembayaran
buanga dibayarkan setiap tanggal 1 April dan 1 Oktober dengan
jangka waktu 5 tahun. Pada tanggal penerbitannya PT Aybert
membeli obligasi tersebut dengan harga Rp 10.000.000.
PT Eka membukukan transaksi yang terjadi sebagai berikut.
Tanggal
Keterangan
1 Okt 2011 Kas/Bank
Diskonto Obligasi
Utang PPh Pasal 4
Ayat (2)

Debit
10.300.0

Kredit

00
2.000.00

300.000

12.000.0

Utang Obligasi

00

(mencatat penerbitan dan pemootongan PPh)


Tanggal
10 Nov

Keterangan
Utang PPh Pasal 4 Ayat

2011

(2)

Debit
300.000

Kredit
300.000

Kas
(mencatat penyetoran PPh)
Tanggal
31 Des
2011

Keterangan
Beban Bunga
Utang PPh Pasal 4
ayat (2)

Debit
360.000

Kredit
360.000

(mencatat penyesuaian bunga sebesar 12% x Rp 12.000.000 x


3/12)
Tanggal
31 Des

Keterangan
Beban Bunga

Debit
100.000

Kredit

2011
Diskonto obligasi
100.000
(mencatat amortisasi diskonto sebesar Rp 12.000.000 x 3/60)
Bunga berjalan atau penyesuaian akhir tahun sebaiknya
diselesaikan

terlebih

dahulu

oleh

penerbit

obligasi

dan

memperhitungkan nanti pada saat pemotongan bunga pada tahun


selanjutnya, yakni pada tanggal 1 April 2012. Apabila PT Aybert
bukan merupakan WP dalam negeri melainkan WP luar negeri,
maka akan dikenakan PPh final dengan tarif 20% atau sesuai
dengan tariff tax treaty.

2.

Hutang Hipotek.
Utang hipotek pada umumnya hampir sama dengan obligasi,
tetapi utang hipotek tidak memiliki agio maupun disagio.
Pinjaman hipotek terutama untuk pembelian tanah dan bangunan
umumnya merupakan pinjaman dengan beban bunga tetap dan
ditutup pada waktu yang lama. Biaya penutupan hipotek
umumnya langsung merupakan beban pada periode tersebut.

EKUITAS
PENGERTIAN EKUITAS
Ekuitas adalah bagian hak pemilik dalam perusahaan, yaitu
selisih antara aset dan kewajiban yang ada. Bentuk modal tergantung
dari jenis hukum usahanya. Contoh : modal perseroan terbatas terdiri
atas saham dan secara hukum terpisah dari kekayaan pemiliknya.
Rekening modal terdiri atas modal yg disetor dan laba yg ditahan.
Modal disetor adalah sejumlah harta yg ditanamkan oleh pemilik
kedalam perusahaan.
Pos saldo laba biasanya disajikan terpisah dari pos modal saham.
Biasanya laba ditahan disediakan untuk dibagikan sebagai deviden.
Namun jika dianggap perlu, maka laba ditahan dapat dicadangkan
untuk keperluan lain, seperti untuk ekspansi perusahaan sehingga
tidak seluruh saldo laba didistribusikan. Saldo Laba adalah : laba yg
dikumpulkan setelah pajak sehingga menurut akuntansi komersial
laba ini tidak boleh debebani atau dikreditkan dengan pos2 yg
seharusnya

diperhitungkan

pada

perhitungan

laba/rugi

tahun

berjalan.
Istilah modal sering digunakan pula sebagai padan kata equity
walaupun modal lebih dekat maknanya dengan istilah capital. Karena
ekuitas mengandung unsur pemilikan (ownership), untuk organisasi
nonprofit ekuitas disebut sebagai aset bersih (net assets) untuk
menghindari kesan adanya pemilikan.

Karena konsep kesatuan usaha yang memisahkan antara


manajemen dan pemilikan, informasi tentang ekuitas pemegang
saham menjadi sangat penting karena hal tersebut menunjukan
hubungan antara perusahaan (perseroan) dengan pemegang saham.
Dari

sudut

pemegang

saham,

ekuitas

pemegang

saham

merupakan hak atas kekayaan atau nilai yang tertanam dalam


perseroan. Kalau dipandang dari sudut kesatuan usaha, ekuitas
pemegang

saham

merupakan

utang

perseroan

kepada

para

pemegang saham. Oleh karna itu, ekuitas pemegang saham dapat


juga dipandang sebagai gambaran hubungan yuridis antar perseroan
dan

pemegang

persoalannya

saham.

adalah

Dengan

bagaimana

kedudukannya
melaporkan

yang

atau

demikian

menyajikan

informasi elemen ini agar hubungan tanggung jawab yuridis dapat


dipertahankan.
Ekuitas pemegang saham itu sendiri terdiri atas dua komponen
penting yaitu modal setoran (paid-in atau contributed capital) dan
laba ditahan (retained earnings). Sebagai pasangan modal setoran,
laba ditahan dapat disebut sebagai modal bentukan atau ciptaan
(earned capital).
Menurut PSAK (2002) pasal 49, ekuitas adalah hak residual atas
aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas
didefinisi sebagai hak residual untuk menunjukkan bahwa ekuitas
bukan kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber
ekonomik masa datang. Karena didefinisi atas dasar aset dan

kewajiban, nilai ekuitas juga bergantung pada bagaimana aset dan


kewajiban diukur.

EKUITAS DALAM PERPAJAKAN


Dalam Perpajakan , penjualan saham kepada pihak ketiga yang
dilakukan di bursa efek akan dikenakan PPh yang bersifat final.
Berdasarkan PP 14 Tahun 1997 jo. KMK-282/KMK 04/1997 jo. SE09/PJ.24/1997 maka untuk saham pendiri, pemilik saham pendiri
dikenakan tambahan PPh sebesar 0,5 % dari nilai saham perusahaan
pada saat penutupan bursa di akhir tahun 1996. Jadi, total PPh yang
dikenakan adalah 0,6 % dari nilai saham perusahaan. Dalam hal
saham perusahaan diperdagangkan di bursa efek setelah 1 Januari
1997, maka nilai saham ditetapkan sebesar harga saham pada saat
penawaran umum perdana.
Saat terutangnya/pemotongan PPh 23/26 ataupun PPh Final atas
pembayaran dividen atau bagian keuntungan dari PT dalam negeri
dengan ini disampaikan penegasan sebagai berikut :
1. Bagi PT yang tertutup , saat terutangnya PPh 23/26 ataupun
PPh Final ialah pada saat disediakan untuk dibayarkan, yaitu
pada saat pembagian dividen diumumkan / ditentukan dalam
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan.
2. Bagi PT yang terbuka, kewajiban perusahaan untuk memotong
PPh 23/26 ataupun PPh final baru timbul pada tanggal

penentuan kepemilikan pemegang saham yang berhak atas


deviden (recording date).

MODAL SAHAM
Modal Saham merupakan bagian dari ekuitas suatu PT yang
dikontribusikan pemilik. Jenis saham dapat meliputi saham biasa dan
saham preferen. Saham preferen memberikan hak lebih pada
pemegang sahamnya berupa pembagian aset terlebih dahulu pada
saat likuiditas, pembagian deviden, convertible, dan dapat ditebus
kembali. Penjualan saham umumnya berdasarkan harga pasar. Selisih
antara nilai nominal dan harga pasar merupakan agio ataupun disagio
atas saham.

TAMBAHAN MODAL SAHAM


Menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009; 105- 108), akun
tambahan modal saham terdiri dari berbagai macam unsur penambah
modal seperti agio saham, tambahan modal dari perolehan kembali
saham dengan harga yang lebih rendah dari jumlah yang diterima
pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan saham yang
diperoleh kembali dengan harga diatas jumlah yang dibayarkan pada
saat perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal
saham dan lain sebagainya.
Contoh :
PT. Calvin menjual saham biasa dengan harga Rp. 12.000 per lembar
dengan nilai nominal Rp. 10.000 sebanyak 1000 lembar pada tanggal
10 Januari 2012. Berikut pembukuan yang dilakukan oleh PT. Calvin

Tangga
Keterangan

Debit

Kredit

l
Rp
Kas/Bank

12,000,000

10-Jan-

Rp
Saham biasa

12

10,000,000
Rp

Tambahan modal
saham

2,000,000

Apabila transaksi diatas melalui bursa efek, artinya transaksi


tersebut dikenakan PPh final sebesar (0,1% + 0,5%) x Rp.
12.000.000 = Rp. 72.000.000 sehingga perusahaan membukukan
sebagai berikut :
Tangga
Keterangan

Debit

Kredit

l
Rp
Kas/Bank

11,928,000
Rp

10-Jan12

PPh Pasal 4 ayat (2)

72,000
Rp

Saham biasa

10,000,000
Rp

Tambahan modal
saham

2,000,000

Contoh :
PT Dede mempunyai 2000 lembar preferen convertible dengan
nilai nominal Rp.10.000. Agio saham tersebut Rp.1000.000. pada

tanggal 31 Desember 2011 diumumkan saham tersebut dapat


ditukarkan dengan saham biasa dengan nilai nominal Rp.5.500
dimana setiap proporsi 1 lembar saham preferen mendapat 2
lembar saham biasa .
Pembukuan yang dilakukan oleh PT.Dede sebagai berikut.
Tanggal
31 Des

Keterangan
Kas/Bank

Debet
150.000

Kredit
-

2011
Saham Preferen
Tambahan modal
saham
Saldo saham

20.000.000
1.000.000

1.000.000

22.000.00

Saham
biasa

0
150.000

Utang
PPh 23

( Mencatat konversi saham dan pemotongan PPh 23 atas dividen


sebesar Rp.1.000.000 )
Tanggal
10 Jan

Keterangan
Utang PPh 23

Debet
150.000

Kredit
-

2012
Kas

150.000

( Mencatat penyetoran PPh 23 ke kas Negara )


Pembagian

laba

dalam

bentuk

saham

termasuk

dalam

pengertian dividen sehingga merupakan objek pajak sesuai


penjelasan UU PPh Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) huruf g. Atas

pembayaran penghasilan tersebut

wajib dilakukan pemotongan

PPh 23/26 ataupun PPh final oleh pihak yang wajib membayarkan.