Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR FISIKA

Disusun Oleh :

CINDY ALVIANITA / A1C314012


LINTANG ROFIATUS SHOLIHAH / A1C314
PENI SEFIAH INDRAWATI / A1C314002
PHUTY AYU NINGRUM / A1C314028
RAFETTANIA PRIHATIN / A1C314036

Dosen Pengampu :

Drs. M. HIDAYAT, M.Pd


DWI AGUS KURNIAWAN, S.Pd.,M.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2014/2015
1

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah tentang model
pembelajaran ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mandapat hambatan dan kesulitan namun
berkat bantuan dari dosen dan rekan-rekan akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pengajar
mata kuliah belajar dan pembelajaran dan rekan-rekan yang telah membantu dalam proses
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yng membangun akan penulis terima dengan baik. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jambi,

Oktober 2015

Penulis

BAB I
2

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Saat ini kurikulum pendidikan Indonesia sudah semakin berkembang. Banyak

tuntutan yang ditujukan kepada guru atau penyelenggara pendidikan. Salah satu kegiatan
pendidikan

adalah

menyelenggarakan

proses

pembelajaran.

Tujuan

utama

diselenggarakannya kegiatan pembelajaran adalah demi tercapainya tujuan pembelajaran.


Dimana untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran, terdapat beberapa
komponen yang dapat menunjang yaitu komponen tujuan, komponen materi, komponen
strategi belajar mengajar dan komponen evaluasi. Keempat komponen pembelajaran tersebut
harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa
yang akan digunakan terutama dalam kegiatan pembelajaran fisika.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru
harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara
mengimplementasikan

model-model

tersebut

dalam

proses

pembelajaran.

Model

pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap
perkembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas, terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang
tersedia, kondisi kelas dan factor lainnya yang berkaitan dengan pembelajaran. Tanpa
pemahaman tersebut, model yang dikembangkan guru cenderung tidak dapat memberikan
sumbangan yang besar terhadap proses pembelajaran.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengelolaan pembelajaran berdasarkan model pembelajaran?
2. Bagaimana hubungan antara model, pendekatan, strategi, metode pembelajaran?
3. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran discovery?
4. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran cooperative?
5. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran problem based learning?
6. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran active learning?
3

7. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran Group Investigation?


8. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran synectic?
1.3. Tujuan Penulisan
Dapat menjabarkan tentang :
1. Konsep pengelolaan pembelajaran berdasarkan jenis-jenis model pembelajaran dalam
belajar fisika.
2. Hubungan antara model, pendekatan, strategi, metode pembelajaran
3. Model pembelajaran discovery
4. Model pembelajaran cooperative
5. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
6. Model pembelajaran Active Learning
7. Model pembelajaran sinektik
8. Model pembelajaran Group Investigation

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengelolaan Pembelajaran Berdasarkan Model Pembelajaran
1. Pengertian pengelolaan pembelajaran
Pelaksanaan pengelolaan pembelajaran

dikelas meliputi pengelolaan waktu,

pengelolaan media dan pengelolaan kelas. Sudah menjadi tugas guru untuk mengelola
waktu dengan baik, hal ini sesuai menurut Ali M bahwa salah satu hambatan sering dialami
dalam mengajar adalah soal waktu. Seringkali seorang mengajar tidak dapat mengendalikan
waktu. Akibatnya bisa terjadi bahan pelajaran sudah selesai, namun waktu masih panjang.
Atau sebaliknya, waktu sudah habis, bahan belum tuntas. Hal ini membawa pengaruh
terhadap proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Dalam pelaksanaan pembelajaran IPA
guru harus mengelola media pembelajaran dengan baik, dengan kata lain ketepatan guru
dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran akan menentukan keberhasilan
pembelajaran.1
Karena secara tidak langsung belajar IPA dengan media pembelajaran akan menimbulkan
keingintahuan siswa untuk belajar IPA dan juga memunculkan ide baru dalam memecahkan
masalah. Selain itu juga dalam pelaksanaan dengan baik, hal ini sesuai dengan yang
dikemukan oleh Milan bahwa tingkat keberhasilan pembelajaran amat ditentukan dengan
kondisi yang terbangun selama pembelajaran.2
2. Pengertian model pembeajaran

1Apriyadati, Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 13 No. 1, April 2012, hal. 2.


2 Ibid, hlm.2.
5

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang di gunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan di gunakan,
termasuk di dalamnya tujuan tujuan pengajaran, tahapan tahapan dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.3
Enam macam model pengajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam
mengajar, masing masing adalah :
- Presentasi
- Pengajaran langsung
- Pengajaran
- konsep
- Pembelajaran kooperatif
- Pengajaran berdasarkan masalah
- Diskusi kelas.
Dalam mengajarkan suatu konsep atau materi tertentu,

tidak ada satu model

pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran lainnya. Berarti untuk setiap
model pembelajaran harus di sesuaikan dengan komsep yang lebih cocok dan dapat
digunakan dipadukan dengan model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar
siswa. Oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki
pertimbangan pertimbangan, seperti materi pelajaran, jam pelajaran, tingkat perkembangan
kognitif siswa, lingkungan belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia, sehingga tujuan
pembelajaran yang telah di tetapkan dapat tercapai.4
Fungsi model pembelajaran disini adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan
para guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Model mengajar mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode,
atau prosedur. Ciri ciri tersebut ialah :
-

Rasional teoritis logis yang di susun oleh para pencipta atau pengembang
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar ( tujuan

pembelajaran yang akan di capai )


Tingkah laku mengajar yang di perlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan

dengan berhasil.
Lingkungan belajar yang di perlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
3 Trianto, Model pembelajaran terpadu, bumi aksara, jakarta, 2014, hlm. 51.
4 Ibid, hlm. 51.
6

3. Pengelolaan pembelajaran berdasarkan model pembelajaran


Setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda.
Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik dan pada
sistem sosial kelas.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan
model model pembelajaran, yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterliatan siswa
secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat
pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa
dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan
prestasi yang optimal.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus
memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara cara
pengimplementasian model model tersebut dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran
yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap perkembangan
dan kondisi siswa siswi di kelas. Demikian juga pentingnya pemahaman guru terhadap sarana
dan fasilitas sekolah yang tersedia, kondisi kelas dan beberapa faktor lain yang terkait dengan
pembelajaran. Tanpa pemahaman terhadap berbagai kondisi ini, model yang di kembangan
guru cenderung tidak dapat meningkatkan peranserta siswa secara optimal dalam
pembelajaran, dan pada akhirnya tidak dapat memberi sumbangan yang besar terhadap
pencapaian hasil belajar siswa.5
Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang
siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan
tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga
memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Hal penting yang harus selalu diingat bahwa tidak ada satu model pembelajaran yang paling
ampuh untuk segala situasi. Oleh karena itu guru di tuntut untuk memiliki pemahaman yang
komprehensip serta mampu mengambil mengambil keputusan yang rasional kapan waktu
yang tepat untuk menerapkan salah satu atau beberapa strategi secara efektif. Kecermatan
guru dalam menentukan model pembelajaran menjadi semakin penting, karena pembelajaran

5Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran, Alfabeta, Bandung, 2012, hlm.34.


7

adalah suatu proses yang kompleks yang di dalamnya melibatkan berbagai unsur yang
dinamis.6
Pengalaman diantara pengajar dalam proses pembelajaran menunjukkan, bahwa ada pada
beberapa sekolah model pengajarannya mengkodiikan muridnya disibukkan oleh kegiatan
kegiatan yang kurang perlu seoerti mencatat bahan pelajaran yang sudah ada dalam buku,
menceritakan hal hal yang tidak perlu dan sebagainya. Sering pula ditemukan waktu kontak
antara guru dengan murid tidak dimanfaatkan secara baik, guru lebih suka memaksakan
kehendaknya dalam belajar muridnya sesuai keinginan nya dan ada juga guru untuk
memudahkan kerjanya meminta salah seorang muridnya untuk mencatat di papan tulis
kemudian murid lainnya mencatat apa yang di catat di papan tulis dan kegiatan lainnya yang
kurang perlu. Hal ini menunjukkan kurang nya pengelolaan pembelajaran.7
Dilihat dari segi pemanfaatan sumberdaya, seringkali sarana dan prasarana proses belajar
mengajar di kelas, laboratorium, perpustakaan dan di tempat praktek kerja dengan berbagai
alasan belum di manfaatkan secara baik. Artinya keterampilan guru dalam menggunakan
sarana dan prasarana belajar secara optimal adalah penting.8
2.2. Hubungan antara Model, Pendekatan, Strategi, Metode Pembelajaran
Isilah model sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari , seperti model baju, model
sepatu, model rumah, dan yang lain. Didalam sains juga dikenal dengan model atom
thomson, atau model atom bhor, yang semuanya adalah tujuan untuk memfitualisasikan
benda peristiwa juga yang bersifat mikroskopis maupun bersifat makroskopis. Model juga
biasa dikenal pola. Model atau pola biasanya juga dikenal sebagai acuan atau pedoman untuk
membuat, merancang, atau melaksanak suatu kegiatan agar hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar juga diperlukan suatu model agar pelaksanaan
dan hasilnya efektif dan efisien.model ini kita sebut sebgai model pembelajaran.9
6 Aunurrahman. Op. Cit, hlm. 143.
7 Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran, Alfabeta, Bandung, 2013,
hlm. 174-175)
8 Ibid. hlm. 174-175.
9 Sutarto, dkk,Strategi Belajar Mengajar Sains. UPT Penerbitan UNEJ,
Kalimantan,2013
8

Sebelum anda memahami apa itu model pembelajaran, anda perlu memahami beberapa
komponen proses daklam kegiatan belajar mengajar. Dalam setiap kegiatan belajar
menmgajar ada hubungan hirarkis antara komponen proses pembelajaran, yaitu komponen
pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik. Hubungan proses tersebut dapat dibagankan
Model
Pembelajaran

Pendekatan

Strategi

Metode
Pada bagan mengambarkan kegiatan semakin operasional atau semakin konkret,
sebaliknya semakin ke atas semakinj abstrak atau cenderung bersifat teoritik. Pendekatan
pembelajaran dapat dimaknai sebagai titik tolak atau suduk pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses pembelajaran
yang sifatnya masih sangat umum. Pendekatan pembelajaran dapat secara teoritis mewadahi,
menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran. Misalnya pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada siswa atau yang biasa dikenal student centered learning
(SCL)

atau dikenal dengan scl approach, metode yang digunakan pasti dipilih yang

mengarah agar siswa aktif belajar, yang menuntut untuk menggunakan beberapa metode.
Startegi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru
dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (senjaya, 2008).
Stategi pembelajaran sifatnya masih konseptual. Artinya keputusan-keputusan yang diambil
untuk melaksanakan pembelajaran masih berupa rencana yang belum dapat dioperasikan
secara langsung. Misalnya srategi pembelajarn kelompok, strategi pembelajaran individual
dan

strategi

pembelajaran

induktif

dan

srategi

pembelajaran

deduktif.

Dalam

implementasinya strategi masih memerlukan metode-metode pembelajaran.


Pembahasan ini akan mendiskripsikan tentang hakikat model pembelajarn. Pada
hakikatnya, model pembelajaran adalah model yang digunakan oleh guru atau instruktur
9

untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang memuat kegiatan guru dan siswa
dengan memperhatikan lingkungan dan sarana prasarana yang tersedia dikelas atau tempat
belajar.10

2.3 Jenis-jenis model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran fisika
1). Discovery
Dalam pembelajaran penemuan (Bergstrom & OBrien, 2001; Wilcox, 1993), siswa
didorong untuk untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsepkonsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa memeroleh pengalaman dan
melakukan eksperimen yang memungkinkan mereka menemukan sendiri prinsip-prinsip.
Bruner (1996), pendukung pembelajaran penemuan (discovery learning), mengungkapkannya
seperti ini: Kita mengajarkan mata pelajaran bukan untuk mengahasilkan perpustakaan
hidup kecil tentang mata pelajaran tersebut, melainkan lebih-lebih untuk mengupayakan
siswa berpikir bagi diri sendiri, mempertimbangkan persoalan seperti dilakukan sejarawan,
mengambil bagian dalam proses perolehan pengetahuan. Mengetahui adalah proses, bukan
produk-produk (1966, hal. 72).11
Pembelajaran penemuan (discovery learning) mempunyai beberapa keunggulan . Hal
itu membangkitkan keingitahuan siswa, dengan memotivasi mereka terus bekerja hingga
mereka menemukan jawaban. Siswa juga mempelajari kemampuan penyelesaian masalah dan
pemikiran kritis secara mandiri, karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi
informasi.12
2). Cooperative
Pembelajaran Kooperatif
10 Sutarto, dkk, Op. Cit, hlm. 16.
11 Trianto, Model pembelajaran terpadu, bumi aksara, jakarta, 2014, hlm.
12 Ibid, hlm.
10

Pakar-pakar yang memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan model


pembelajaran yang kooperatif adalah John Deway dan Herbert Thelan. Menurut Dewey, kelas
seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Thelan telah mengembangkan
prosedur yang tepat untuk membantu para siswa bekerja secara berkelompok. Tokoh lain
adalah ahli sosiologi Gordon Alport yang mengingatkan kerja sama dan bekerja dalam
kelompok akan memberikan hasil lebih baik. Shlomo Sharan mengilhami peminat model
pembelajaran kooperatif untuk membuat setting kelas dan proses pembelajaran yang
memenuhi tiga kondisi, yaitu : (a) adanya kontak langsung, (b) sama-sama berperan serta
dalam kerja kelompok, dan (c) adanya persetujuan antar-anggota dalam kelompok tentang
setting kooperatif tersebut.13
Hal yang paling penting dalam model pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat
belajar dengan cara bekerja sama dengan teman. Bahwa teman yang mampu dapat menolong
teman yang lemah. Setiap anggota kelompok tetap memberi sumbangan pada prestasi
kelompok. Para siswa juga mendapat kesempatan untuk bersosialisasi.14
Model pembelajaran kooperatif merupakan rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan
oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Unsur-unsur utama yang terdapat dalam cooperative learning adalah adanya peserta dalam
kelompok; adanya aturan kelompok; adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan
adanya tujuan yang harus dicapai (Sanjaya, 2009:241). Aktivitas pembelajaran dalam
cooperative learning senantiasa dilakukan dalam situasi berkelompok. Tidak ada siswa yang
melakukan kegiatan secara individual, karena memang pembelajaran harus menciptakan
proses kerjasama. Kegiatan kelompok siswa harus dilakukan dalam koridor aturan yang jelas.
Aktivitas siswa dalam kelompok harus terarah dan terkendali, sehingga harus ada aturan dan
pembagian tugas yang jelas dalam kelompok. Melalui aturan dan pembagian tugas yang jelas
dalam kelompok akan mendorong setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk belajar.
Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa yang bekerja sama dalam belajar dan
bertanggung jawab terhadap teman satu timnya dapat membuat diri mereka belajar dengan
lebih baik (Slavin, 2009:10). Sebab, selain karena keingintahuan untuk berprestasi secara
individu, anggota kelompok juga dituntut untuk dapat berbagi pengetahuan dengan anggota
13 Hamzah, dkk, Belajar dengan Pendekatan Pailkem, Bumi Aksara, Jakarta, 2014, hlm.120.
14 Ibid, hlm. 35.
11

yang lain. Supaya individu dalam kelompok termotivasi untuk belajar dengan baik, maka
proses pembelajaran kooperatif hendaknya dirancang dengan tujuan pembelajaran yang jelas
sesuai dengan indicator kompetensi yang harus dicapai.15
Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan benar akan dapat menimbulkan saling
ketergantungan positif antar anggota kelompok. Anggota kelompok yang satu membutuhkan
anggota yang lain, sehingga secara otomatis akan terjalin kerjasama yang saling
menguntungkan. Selain itu, aktivitas kelompok dilakukan bersama-sama sehingga terjadi
interaksi langsung dengan tatap muka. Interaksi langsung dalam tatap muka dapat
membangun kebersamaan diantara anggota kelompok disertai dengan ikatan emosional yang
lebih erat. Sikap simpatik dan empatik diantara para siswa dapat timbul karena adanya
interksi langsung yang lebih intens. Demikian pula, pembagian tugas dalam kelompok akan
berdampak terhadap tumbuhnya tanggung jawab pribadi masing-masing anggota. Hal itu
terjadi karena dalam cooperative learningsetiap individu mendapat tugas untuk belajar dan
berkewajiban menyampaikan kepada anggota yang lain. Pada akhirnya, dalam cooperative
learning juga terjadi proses interaksi antar-individu yang menuntut kemampuan komunikasi
interpersonal yang baik, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan kondusif dalam
kelas.16
Dengan demikian, jika dicermati secara teliti, pembelajaran kooperatif sangat bermanfaat
dalam :
1.
2.
3.
4.
5.

Membentuk sikap dan nilai


Menyiapkan model tingkah laku prososial
Menunjukkan alternative perspektif dan sudut pandang
Membangun identitas yang koheren dan terintegrasi
Mendorong perilaku berpikir kritis, reasoning, dan memecahkan masalah
(Borich, 2000:312)

Komponen Pembelajaran Kooperatif


Dalam menentukan struktur tugas yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajarn
kooperatif, seorang guru seyogyanya melaukan beberapa tahap kegiatan, yaitu:
15Sutirman. Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2013, hlm.29.
16 Ibid, hlm. 30.
12

1. Menentukan tujuan kegiatan


Kegiatan pembelajaran kooperatif memiliki tujuan berupa produk atau tingah
laku yang diinginkan pada akhir pembelajaran.
2. Merancang struktur tugas
Tugas dalam pembelajaran koperatif merupakan salah satu aspek penting yang
harus diberikan kepada siswa. Dalam menyusun tugas bagi para siswa, harus
diperhatikan factor-faktor tertentu antara lain :
a. Ukuran kelompok
b. Komposisi kelompok
c. Waktu mengerjakan tugas
d. Peran tugas, apakah sebagai peringkas, pemantau, peneliti, penghubung,
perekam, pemberi semangat, atau pengamat
e. Menyiapkan penguatan dan penghargaan (Borich, 2000:316)
3. Mengajar dan mengevaluasi proses kolaboratif
Dalam pembelajaran kooperatif selalu terjadi proses kolaboratif antar siswa. Inti
dari keterampilan kolaboratif adalah kemampuan bertukar pengalaman dan
perasaan dengan orang lain yang level konseptualnya sama.
4. Memantau kinerja kelompok
5. Debriefing
Debriefing merupakan upaya memberikan umpan balik atau review kepada
kelompok mengenai kualitas kerja kelompok mereka.17
3). Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah/PBM (Problem Based Learning/PBL)
Pembelajaran beradasarkan masalah adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan
masalah autentik sebagai sumber belajar, sehingga peserta didik dilatih berpikir tingkat tinggi
dan mengembangkan kepribadian lewat masalah yang dalam kehidupan sehari-hari. Menurut
Dewey (dalam Ibrahim 2005:19) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus
dan respons, merupakan hubungan antara dua arah, yaitu belajar dan lingkungan.18

Sebagai suatu model pembelajaran, maka pembelajaran berdasarkan masalah memiliki


ciri utama, yang membedakan dengan model pembelajaran yang lain, yakni sebagai berikut.
a. Mengorientasikan siswa pada masalah autentik
b. Berfokus pada keterkaitan antara disiplin lainnya
c. Penyelidikan autentik
17 Sutirman. Op. Cit, hlm. 31-32.
18 Hamzah, dkk, Belajar dengan Pendekatan Pailkem, Bumi Aksara, Jakarta,
2014, hlm. 112.
13

d. Menghasilkan produk dan melakukannya.


Seperti pembelajaran lain pada umumnya, maka model penerapan pembelajaran
berdasarkan masalah terdiri atas fase-fase perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan
fase evaluasi. Menurut Ibrahim (2007:72), pada pembelajaran berdasarkan masalah fase-fase
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut
1. Perencanaan
2. Penetapan tujuan
3. Merancang situasi masalah
4. Organisasi sumber daya dan rencana logistik
5. Pelaksanaan
6. Organisasi siswa pada masalah
7. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
8. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
9. Mengembangkan hasil karya
10. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Evaluasi.19

4). Model Pembelajaran Group Investigation ( Gi )


Model ini berasal dari premis bahwa dalam bidang sosial maupun intelektual proses
pembelajaran di sekolah menggabungkan nilai-nilai yang didapatnya, keberhasilan model
penggunaan ini sangat sangat tergantung dengan latihan komunikasi dan berbagai
keterampilan sosial yang dilakukan sebelumnya.Model investigasi kelompok merupakan
model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit diterapkan. Pendekatan
ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang
berpusat pada guru. Pendekatan ini juga mengajarkan siswa keterampilan komunikasi dan
proses kelompok yang benar.20
Dalam implementasi investigasi kelompok, guru membagi kelas menjadi beberapa
kelompok dengan anggota 5-6 orang yang sifatnya heterogen. Kelompok ini dapat dibentuk
dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan, atau minat yang sama dalam topik
untuk diselidik, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang terpilih.
19 Hamzah, dkk. Op. Cit, hlm. 112-113.
20 Ibid, hlm. 109.
14

Kemudian, ia menyiapkan dan mempresentasikan laporan kelompoknya kepada seluruh


kelas.
Adapun tahap-tahap pembelajaran Group Investigation, dibagi dalam lima tahap, yakni:
1. Tahap 1 : mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan kedalam masing-masing
2.
3.
4.
5.

kelompok kerja
Tahap 2 : merencanakan investigasi dalam kelompok
Tahap 3 : melaksanakan investigasi
Tahap 4 : mempersiapkan laporan
Tahap 5 : mengevaluasi

Untuk mendukung pemahaman secara mendasar dan menyeluruh tentang Investigasi


Kelompok (Group Investigation), maka akan kami paparkan beberapa hasil pembahasan dan
pandangan yang terkait dengan konsep ini.21
The Network Scientific Inquiry Resources and Connections (2003:1) melalui
pembahasannya mengungkapkan bahwa ;
Group investigation is an organizational medium for encouraging and guiding students
involvement in learning. Students actively share in influencing the nature of events in their
classroom. By communicating freely and cooperating in planning and carrying out their
chosen topic of investigation, they can achieve more than they would as individuals. The final
result of the group work reflects each members contribution, but it is intelectually richer than
work done individually by the some student.
Pendapat tersebut memberikan penekanan tentang eksistensi investigasi kelompok
sebagai wahana untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa di dalam proses
pembelajaran. sebagaimana diketahui bahwa keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran
merupakan hal yang sangat esensial karna siswa adalah sentral dari keseluruhan kegiatan
pembelajaran. Dan oleh sebab itu pula kebermaknaan pembelajaran sesungguhnya akan
sangat tergantung pada bagaimana kebutuhan-kebutuhan siswa dalam memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan, nilai-nilai, serta pengalaman mereka dapat terpenuhi secara
optimal melalui kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Keaktifan siswa melalui
21 Aunurrahman. Op. Cit, hlm 150.
15

investigasi kelompok ini diwujudkan di dalam aktivitas saling bertukar pikiran melalui
komunikasi yang terbuka dan bebas serta kebersamaan mulai dari kegiatan merencanakan
sampai pada pelaksanaan pemilihan topik-topik investigasi. Kondisi ini akan memberikan
dorongan yang besar bagi para siswa untuk belajar menghargai pemikiran-pemikiran dan
kemampuan orang lain serta saling melengkapi pengetahuan dan pengalaman-pengalaman
masing-masing. Karna itu diyakini bahwa melalui model pembelajaran investigasi kelompok
yang di dalamnya sangat menekankan pentingnya komunikasi yang bebas dan saling bertukar
pengallaman ini akan memberikan lebih banyak manfaat di bandingkan jika mereka
melakukan tugas secara sendiri-sendiri.22
Dalam pandangan Tsoi, Goh dan Chia (2001), model investegasi kelompok secara
filosofil beranjak dari paradigma konstruktivis, di mana terdapat suatu situasi yang di
dalamnya siswa-siswa berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai
informasi dan melakukan pekerjaan secara kolaboratif untuk menginvestigasi suatu masalah,
merencanakan, mempresentasikan serta mengevaluasi kegiatan mereka. Karena itu model ini
sangat sesuai untuk merespon kebutuhan-kebutuhan siswa akan pentingnya pengembangan
kemampuan collaborative learning melalui kerja kelompok beranjak dari pengalamanpengalaman masing-masing siswa guna mewujudkan interaksi sosial yang lebih baik. Lebih
lanjut dikemukakan bahwa pembelajaran melalui investigasi kelompok akan memuat 4 hal
esensial, yaitu ; kemampuan melakukan investigasi, kemampuan mewujudkan interaksi,
kemampuan menginterprestasi serta mampu menumbuhkan motivasi instrinsik (intrinsic
motivation).23
Joyce, Weil dan Calhoun (2000:16) mengungkapkan bahwa model investigasi
kelompok menawarkan agar dalam mengembangkan masalah moral dan sosial, siswa
diorganisasikan dengan cara melakukan penelitian bersama atau cooperative inquiry
terhadap masalah sosial dan moral, maupun masalah akademis. Pada dasarnya model ini
dirancang untuk membinbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai
cakrawala mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan
mengetes hipotesis.
22 Aunurrahman. Op. Cit, hlm. 150-151.
23 Ibid, hlm. 151.
16

Kajian dan pembahasan berkenaan dengan model investigasi kelompok ini juga
dikemukakan oleh Killen (1998), yang berpandangan bahwa model investegasi kelompok
merupakan cara yang langsung dan efisien untuk mengajarkan pengetahuan akademik
sebagai suatu proses sosial. Model ini akan mampu menumbuhkan kehangatan hubungan
antar pribadi, kepercayaan, rasa hormat terhadap aturan dan kebijakan, kemandirian dalam
belajar serta hormat terhadap harga dan martabat orang lain. Dan yang lain lebih penting lagi
adalah bahwa investegasikelompok dapat dipergunakan pada seluruh areal subjek yang
mencakup semua anak pada segala tingkatan usia dan peristiwa sebagai model sosial inti
untuk semua sekolah. Oleh sebab itu penerapan model ini yntuk proses pembelajaran bagi
siswa diyakini penting untuk dilakukan serta akan memberikan manfaat langsung bagi siswa
dalam menggali pengalaman belajar mereka.24
Seorang guru dapat menggunakan investigasi kelompok di dalam proses pembelajaran
dengan beberapa keadaan anatara lain sebagai berikut ;
1. Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam yang
tertawa tentang isi atau materi, yang tidak dapat di pahami secara memadai dari
sajian-sajian informasi yang berpusat pada guru,
2. Bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skaeptis tentang ide-ide yang
disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan
3. Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik dan
memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas,
4. Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan
pencegahan yang di perlukan atas interpretasi informasi yang berasal dari penelitianpenelitian oramg lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman yang kurang
positif,
5. Bilamana guru bermaksud mengembangkan ketrampilan-ketrampilan penilitian, yang
selanjutnya dapat mereka gunakan dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya
cooperative learning ,
6. Bilamana guru menginginkan peningkaytan dan perluasan kemampuan siswa.
Killen (1998:146) memaparkan beberapa ciri esensial investigasi kelompok sebagai
pendekatan pembelajaran adalah;

24 Aunurrahman. Op. Cit, hlm. 152.


17

1. Para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki independensi


terhadap guru
2. Kegiatan-kegiatan siswa terfokus pada upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
telah di rumuskan
3. Kegiatan belajar siswa akan selalu menmpersyaratkan mereka untuk mengumpulkan
sejumlah data menganalisisnya dan mencapai beberapa kesimpulan
4. Siswa akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar
5. Hasil-hasil dari penelitaian siswa di pertukarakan antara seluruh siswa
Selaras dengan panadangan Joyce, Weil dan Calhoun (2000:33) bahwa pada model
investigasi kelompok ini lebih menekankan pada kerja sama peserta didik dalam
menyelesaikan tugas-tugas kelompok. Dalam kebanyakan penerapan model ini siswa di
organisir kedalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang karena
dengan jumlah yang kecil interaksi di anatara sesama anggota akan lebih intensif. Disamping
itu dengan jumlah yang tidak terlalu besar akan lebih mudah mengatur kegiatan, termasuk
dalam menyepakati waktu untuk melaksankan kegiatan-kegiatan kelompok, disamping
pentingnya perolehan pengetahuan dan pengalaman menurutnya ada niai-nilai penting yang
menyertai tugas-tugas ini, yaitu melalui kelompok kerjasama ini peserta didik akan belajar
bagaimana bekerja dengan teman lain atau seluruh siswa di kelas dalam berbagai variasi
tugas.25
5). Model synectic
Ahli yang menyusun model synectic adalah William J.J. Gordon. Model synectic
merupakan pola belajar-mengajar yang dirancang unuk melatih siswa mengembangkan
keterampilan memecahan masalah secara kreatif.
Pada mulanya model ini dikembangkan untuk dipakai dalam kelompok kreatif atau
creative grup di lingkungan industry dan di lingkungan sekolah menengah pertama. Model
ini dirancang untuk membantu individu membuka pintu pemecahan masalah, kegiatan tulismenulis, dan memperoleh pandangan baru dalam berbagai topic.di kelas model ini
diperkenalkan kepada siswa dalam rangkaian bengkel kerja sampai dimana saat mereka dapat
menerapkan prosedur secara individual dalam kelompok yang sedng bekerja sama. Walaupun
model ini dirancang untuk merangsang kreatifitas, model ini sudah member dampak
pengiring berupa mendorong kerja sama, belajar keterampilan dan rasa hangat dalam
hubungan antar siswa.
25 Aunurrahman. Op. Cit, hlm. 153.
18

Pemecahan masalah memerlukan penelitian secara ilmiah, dan sekaligus memerlukan


kreativitas baik dalam proses maupun dalam cara-cara pemecahan. Siswa perlu dididik untuk
menjadi terampil memecahkan masalah, dan kreatif dalam memecahkan masalah. Model
synectic merupakan pola belajar dan mengajar yang dirancang untu mengembangkan
kreatifitas. Kreatifitas hanya muncul bila seseorang terbiasa dengan aktifitas. Oleh karena itu,
model synectic cocok untuk menciptakan kondisi yang mendorong timbulnya cara belajar
aktif dan sekaligus kreatif.
Penerapan model synectic di dalam proses pembelajaran dilakukan melalui enam tahap,
yaitu:
1. Guru menugaskan siswa untuk mendeskripsikan situasi yang ada sekarang
2. Siswa mengembangkan berbagai analogi, kemudian memilih salah satu analogi
tersebut kemudian mendeskripsikan dan menjelaskannya secara mendalam
3. Siswa mnjadi bagian dari analogi dari yang dipilihnya pada tahap sebelumnya
4. Siswa mengembangkan pemikiran dalam bentuk deskripsi-deskripsi dari yang
dihasilkannyapada tahap dua atau tiga, kemudian menemukan pertentanganpertentangan
5. Siswa menyimpukan dan menentukan analogi-analogi tidak langsung lainnya
Guru mengarahkan agar siswa kembali pada tugas dan masalah semula dengan
menggunakan analogi-analogi terakhir atau dengan menggunakan seluruh pengalaman
synectic.26

6. Model Active Learning


Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk
belajar aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi
aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk
menemukan

ide

pokok

dari

materi

pembelajaran,

memecahkan

persoalan,

atau

mengaplikasikan apa yag baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam
kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua
proses pembelajran, tidakhanya mental, akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini

26 Aunurrahman. Op. Cit, hlm. 163.


19

biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil
belajar dapat maksimal.27
Beberapa ciri dari pembelajaran yang aktif sebagaimana dikemukakan dalam
pembelajaran model ALIS (Active Learning In School, 2009) adalah sebagai berikut :
1. Pembelajaran berpusat kepada siswa
2. Pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata
3. Pembelajaran mendorong anak untuk berpikir tingkat tinggi
4. Pembelajaran melayani gaya belajar anak yang berbeda-beda
5. Pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksi multiarah (siswa-guru)
6. Pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai media atau sumber belajar
7. Penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan
belajar
8. Guru memantau proses belajar siswa
9. Guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja anak
Untuk menciptakan pembelajaran aktif, beberapa penelitian (Uno Hamzah, 2009)
menemukan salah satunya adalah anak belajar dari pengalamannya, selain anak harus belajar
memecahkan masalah yang dia peroleh. Anak-anak dapat belajar dengan baik dari
pengalaman mereka. Mereka belajar dengan cara melakukan, menggunakan indera mereka,
menjelajahi lingkungan, baik lingkungan berupa benda, tempat, serta peristiwa-peristiwa di
sekitar mereka. Keterlibatan yang aktif dengan objek-objek ataupun gagasan-gagasan tersebut
dapat mendorong aktifitas mental mereka untuk berpikir, menganalisa, menyimpulkan, dan
menemukan pemahaman konsep baru dan mengintegrasikannya dengan konsep yang sudah
mereka ketahui sebelumnya.28
Mengajar untuk Active Learning dianggap lebih menarik bagi peserta didik, untuk
memudahkan koneksi dari belajar dengan kebutuhan dan minat siswa, dan untuk
memungkinkan anak-anak untuk belajar keterampilan yang semakin penting dalam dunia
modern dengan apa yang sering digambarkan sebagai ekonomi pengetahuan (Simons 1997).
Meskipun ada variasi yang luas dari makna yang melekat pada pembelajaran aktif,
istilah dari respon individu hanya lebih ke pertanyaan untuk kerja kelompok kontrol siswa
lebih besar dari karakteristik pembelajaran-kunci mereka sendiri belajar aktif termasuk
keterlibatan siswa di lebih dari mendengarkan lebih menekankan pada pengembangan
keterampilan.. Hal ini sering didefinisikan berbeda dengan metode yang lebih tradisional
27 Hisyam Zaini, dkk. Strategi Pembelajaran Aktif , Pustaka Insan Madani,
Yogyakarta, 2008, hlm. Xiv.
28 Hamzah, dkk. Belajar dengan Pendekatan Pailkem, Bumi Aksara, Jakarta,
2014, hlm.76.
20

pengajaran di mana pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang ditransmisikan dari guru ke
siswa (Bolhuis dan Voeten 2001).
2.4 Hasil Diskusi
Pengelolaan pembelajaran yakni pengelolaan waktu, media dan kelas yang di barengi dengan
model pembelajaran yang tepat. Menurut kami model pembelajaran yang cocok untuk mata
pelajaran fisika yakni aktif learning, dikarenakan aktif learning adalah suatu pembelajaran
yang mengajak peserta didik untuk belajar aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif,
berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran, dengan lebih aktif mereka dapat
memahami konsep konsep dan materi materi fisika. Di tambah dengan penggunaan media
yang mendukung serta kelas yang kondusif membuat kegiatan belajar dan pembelajaran
berjalan dengan semestinya. Namun yang lebih baik lagiadalah perpaduan dari ke 6 model
pembelajaran di atas. Dimana mereka di tuntun untuk bekerja sama, aktif, berfikir keras, dan
bisa belajar mandiri.

21

BAB III
PENUTUP
2.5 Kesimpulan
1.

Pengelolaan pembelajaran meliputi pengelolaan media, waktu dan kelas.


Dengan memadukan antara pengelolaan kelas yang baik dan penggunaan model
yang tepat, di harapkan proses belajar dapat berjalan dengan baik.

2. Model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkaidari penerapan suatu


pendekatan, strategi dan metode pembelajaran.
3.

Model pembelajaran discovery,siswa didorong untuk belajar sendiri melalui


keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong
siswa memeroleh pengalaman dan melakukan eksperimen yang memungkinkan
mereka menemukan sendiri prinsip-prinsip.

4. Model pembelajaran cooperatifve , bahwa siswa dapat belajar dengan cara bekerja
sama dengan teman
5. Model pembelajaran PBL, pembelajaran yang menggunakan masalah autentik
sebagai sumber belajar, sehingga peserta didik dilatih berpikir tingkat tinggi dan
mengembangkan kepribadian lewat masalah yang dalam kehidupan sehari-hari
6. Model pembelajaran Active learning, adalah suatu pembelajaran yang mengajak
peserta didik untuk belajar aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti
mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran
7. Model pembelajaran sinektik , merupakan pola belajar-mengajar yang dirancang
unuk melatih siswa mengembangkan keterampilan memecahan masalah secara
kreatif.

22

8. Model pembelajaran group investigation, Model ini berasal dari premis bahwa
dalam bidang sosial maupun intelektual proses pembelajaran di sekolah
menggabungkan nilai-nilai yang didapatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Apriyadati. 2012. Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 13. No. 1.
Aunurrahman. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Moedjiono, dkk., 1992. Strategi Belajar Mengajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan: Jakarta.
Sagala, Syaiful. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaram. Bandung :
Alfabeta.
Suherman, Andri, dkk. 2011. Active Learning to Improve Fifth Grade
Mathematics Achievement in Banten, Vol 2.
Sutarto, dkk,. 2013. Strategi Belajar Mengajar Sains. Kalimanatan : UPT
Penerbitan UNEJ.
Sutirman. 2013. Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Trianto. 2014. Model pembelajaran terpadu. Jakarta : Bumi Aksara.
Uno, Hamzah B. 2014. Belajar dengan Pendekatan Pailkem. Jakarta : Bumi Aksara.
Zaini, Hisyam, dkk., 2008. Srategi Pembelajaran Aktif.Yogyakartam: Pustaka Insan Madani.

23