Anda di halaman 1dari 39

PROPOSAL TUGAS AKHIR

EVALUASI CRUSHING PLANT UNTUK PENGOPTIMALAN HASIL


PRODUKSI DI PT RIUNG MITRA LESTARI JOBSITE RANTAU,
KECAMATAN TAPIN SELATAN,KABUPATEN TAPIN
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Usulan Penelitian
Untuk Memenuhi Persyaratan Melakukan Penelitian Dalam Rangka Penyusunan
Skripsi Program Sarjana Strata-1 Teknik Pertambangan

Diajukan Oleh :
ANDI SYAPUTRA
NIM. H1C111030

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL TUGAS AKHIR

EVALUASI CRUSHING PLANT UNTUK PENGOPTIMALAN HASIL


PRODUKSI DI PT RIUNG MITRA LESTARI, KECAMATAN TAPIN
SELATAN,KABUPATEN TAPIN
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Pengusul
ANDI SYAPUTRA
NIM. H1C111030

Banjarbaru,

Februari 2015

Disetujui Oleh
Pembimbing I

Pembimbing II

Agus Triantoro, MT
NIP. 19800803 200604 1 001

Uyu Saismana, MT
NIP. 19731013 200312 1 001
BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam

bidang

usaha

pertambangan

hal

utama

dalam

tahapan

pertambangan adalah produksi. Namun disamping itu ada satu tahapan dalam
proses penambangan batubara yang berperan penting dalam menentukan
kelangsungan usaha pertambangan yaitu pengolahan batubara. Unit pengolahan
batubara (coal processing plant) sangat penting dalam pengolahan batubara
karena unit pengolahan ini merupakan salah satu penentu dari kualitas dan
kuantitas produk yang dihasilkan. Pengolahan batubara yang dilakukan adalah
proses pengecilan material dengan peremukan sesuai dengan batubara yang di
inginkan konsumen atau pasar.
Dalam upaya mengolah batubara menjadi produk akhir yang diminati
konsumen

perlu

rancangan

pengolahan

yang

komprehensif

agar

pelayanannya memuaskan. Rancang bangun unit pengolahan didasarkan pada


faktor-faktor antara lain: target atau permintaan pasar rata-rata, kualitas batubara
dari tambang (raw coal), spesifikasi produk akhir yang diminta, ketersediaan
lahan untuk area pengolahan termasuk tempat penimbunan (stockpile) dan
ketersediaan air di sekitar area pengolahan. Semua faktor tersebut diatas akan
menentukan jenis, dimensi, dan kapasitas peralatan atau mesin pengolahan
yang dibutuhkan serta alur pengolahan yang sesuai dengan memperhatikan
unsur keselamatan kerja.
Coal Handling Facility Department mengatur segala yang berhubungan
dengan kegiatan coal crushing plant dari hauling, crusher plant, maintenance
heavy equipment, laboratorium, hingga proses pengapalan (shippment) di
PT. Antang Gunung Meratus. Dalam mencapai target produksi permasalahan
yang dihadapi adalah adanya penundaan waktu baik yang dapat dihindari
maupun tidak. Contoh seperti alat pengolahan batubara yang sedang
breakdown, hopper penuh, sedang hujan, dan atau alat pengolahan batubara
sedang maintenance. Terhadap keadaan ini tentunya diperlukan optimalisasi
untuk mendapatkan waktu kerja yang produktif yang diinginkan.
1.1

Rumusan Masalah

Masalah yang diamati antara lain :

1. Mengetahui produktivitas unit peremuk batubara PT. Binuang Mitra Bersama.


2. Mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi pada unit peremuk batubara.
3. Mengetahui apakah kegiatan yang berlangsung dapat memenuhi target
produksi yang telah ditetapkan.

4. Optimalisasi produksi crusher


1.2

Batasan Masalah

Ruang lingkup penelitian dibatasi pada masalah:


1. Evaluasi produktivitas crusher.
2. Menghitung produksi crusher.
3. Perhitungan kapasitas crushing plant hanya sebatas pada unit hopper,
crusher dan belt conveyor tanpa mengkaji masalah ekonomi.
4. Penelitian dilakukan dengan mengamati alat dari unit yang dianalisis hanya
sebatas unit crushing plant.
5. Tidak membahas mengenai biaya produksi, hanya sebatas kajian teknis.
1.3

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukannya penelitian pada unit peremuk batubara di PT


Binuang Mitra Bersama adalah:
1. Mengetahui produktivitas Crusher.
2. Mengetahui kapasitas aktual pada unit Crushing Plant.
3. Mengetahui hitungan pada masing masing komponen CPP.
4. Mengetahui faktor-faktor hambatan produksi Crushing Plant.
5. Melakukan usaha untuk pengoptimalan hasil produksi.

1.4

Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :


1. Bagi Peneliti

Dapat membantu dalam proses untuk memperoleh data aktual yang


berhubungan dengan penelitian yaitu mengenai analisis produktivitas

coal crushing plant untuk pengoptimalan hasil produksi.


Menambah
pengetahuan
dan
pengalaman
tentang

kegiatan

penambangan secara langsung di lapangan.


2. Perusahaan
Mengetahui kondisi aktual yang terjadi dalam kegiatan penambangan.
Memperoleh saran dan masukan atau solusi tentang permasalahan yang

terjadi.
Dapat dijadikan bahan pertimbangan atau usulan untuk memanfaatkan
secara efektif dan seefisien mungkin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kegiatan Pengolahan Batubara

2.1.1

Tujuan Proses Pengolahan

Dikaitannya dengan rencana pemasaran dan operasi penambangan batubara,


maka pengadaan proses pengolahan batubara (Coal Processing Plant/CCP)
bertujuan untuk mengolah batubara menjadi produk batubara (product area)
yang sesuai dengan permintaan pasar. Dengan mempertimbangkan beberapa
hal, misalnya kualitas atau mutu cadangan batubara, metode penambangan
yang terpilih, serta

kualitas permintaan pasar, maka proses pengolahan

batubara, meliputi ruang lingkup proses sebagai berikut:


a. Melakukan reduksi ukuran (size reduction) melalui penggerusan (crushing)
b. Melakukan pemisahan (clasification) melalui pengayakan (screening)
c. Melakukan pencampuran (blending) batubara
d. Melakukan penimbunan/penumpukan batubara (stockpilling)
e. Melakukan penanganan limbah air (water pollution treatment).
2.2

Penimbunan Batubara

2.2.1

Run of Mine ( ROM )


Run of mine stockpile adalah tempat penumpukkan sementara batubara

hasil dari penambangan yang berada dekat hopper, jika pada saat unit
pengolahan sedang memproses suatu produk batubara dengan kualitas tertentu
maka batubara yang tidak sama kualitasnya untuk sementara ditumpuk di ROM
stockpile atau jika terjadi kerusakan pada unit pengolahan tidak dapat bekerja
pada unit pengolahan sehingga unit pengolahan tidak dapat bekerja. Dan selain
itu proses pengangkutan batubara dari ROM stockpile sangat mempengaruhi
kelancaran supplay batubara menuju ke hopper, apalagi jika ada masalah pada
pengangkutan batubara dari pit.

2.2.2

Clean Coal Stockpile


Clean coal stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan

proses, sebagai persediaan yang baik, strategis dan meminimmalkan gangguan


yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Jadi guna dari clean coal
stockpile ialah untuk menyediakan kebutuhan batubara yang telah diproses
sesuai kualitas berbeda yang siap untuk shippment.
2.3

Stockpile Management
Stockpile management adalah suatu proses pengaturan atau prosedur

yang terdiri dari pengaturan kuantitas, pengaturan kualitas dan prosedur


penumpukkan batubara di stockpile. Stockpile management merupakan suatu
upaya agar batubara yang diproduksi dapat dikontrol, baik kuantitasnya maupun
kualitasnya.

Selain itu

stockpile management

juga dimaksudkan untuk

mengurangi kerugian yang mungkin muncul dari proses handling atau


penanganan batubara di stockpile. Seperti misalnya terjadi penyusutan kuantitas
batubara baik yang diakibatkan oleh erosi pada musim hujan, debu pada saat
musim kering, atau terbuang yang disebabkan oleh terbakarnya batubara di
stockpile.
2.3.1

Pengaturan Penimbunan Batubara


Merupakan

pengaturan

bagaimana

cara

menyimpan

(menimbun)

batubara di stockpile yang aman, baik bagi kualitas batubaranya maupun aman
dari kontaminasi. Dalam mengatur penimbunan batubara di stockpile, hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah desain stockpile, metode penimbunan dan
pembongkaran, serta sistem penimbunan.
2.3.2. Desain Stockpile
Pada umumnya stockpile batubara berbentuk kerucut dan limas
terpancung. Bentuk kerucut biasanya terbentuk dari curahan belt conveyor, dan
hanya digunakan sementara pada stockpile. Ditinjau dari panjang bidang miring
dan sudut yang dibentuk, limas terpancung dianggap lebih efisien untuk
menyimpan batubara dalam waktu lama.
Desain dari suatu stockpile ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :
1. Kapasitas penyimpanan batubara
Kapasitas penyimpanan batubara di stockpile menentukan desain suatu
stockpile. Stockpile yang berkapasitas kecil dengan kapasitas besar
mungkin berbeda khususnya dalam penyiapan lahan dan preparasi lahan

tersebut. Pada stockpile dengan kapasitas yang besar, dasar stockpile harus
benar-benar kuat dan kokoh menahan beban yang besar. Kalau tidak, base
stockpile tersebut akan turun di bagian tengah, dan juga akan ikut
menurunkan batubara yang ada di atasnya. Dalam kondisi seperti itu akan
terjadi kehilangan batubara di stockpile.
2. Banyaknya jenis product yang akan dipisahkan pada stockpile
Banyaknya jumlah product yang akan dipisahkan menentukan luasan
stockpile yang diperlukan. Semakin banyak jumlah product yang dipisahkan
semakin besar areal yang diperlukan.
3. Fasilitas dan sistem penumpukan dan pemuatan
Alat yang digunakan dalam sistem penumpukan dan pemuatan batubara di
stockpile juga mempengaruhi desain atau area stockpile yang digunakan.
Penggunaan stacker-reclaimer dalam sistem penumpukan dan pemuatan,
membuat desain dan sistem penumpukan memanjang. Stacker-reclaimer
juga mempermudah dalam pemisahan batubara yang memiliki kualitas yang
berbeda dan sekaligus juga mempermudah dalam blending batubarabatubara tersebut.
2.3.3. Metode Penimbunan dan Pembongkaran Batubara
Metode penimbunan yang biasa digunakan pada stockpile batubara yaitu :
1. Cone
Batubara secara berkesinambungan ditumpuk pada satu titik. Metode ini
sangat tidak efisien untuk blending batubara dan dapat menimbulkan
segregasi yang tinggi.
2. Strata
Batubara yang ditumpukan membentuk lapisan horizontal, sehingga dengan
metode ini blending dapat dilakukan dengan cukup baik dan batubara dapat
tercampur dengan merata. Metode ini terdiri dari :
a. Chevron, sistem yang paling simple dimana hanya diperlukan satu titik
tengah pada stockpile
b. Windrow, sistem ini menggunakan pola baris segitiga dan bentuk belah
ketupat
c. Chevron-Windrow, sistem ini adalah gabungan dari kedua jenis diatas dan
akan menghasilkan segregasi ukuran butir yang sangat minimum, tapi jenis
alat yang digunakan sangat mahal

Gambar 2.1 Metode Penimbunan pada Batubara


Untuk di PT Binuang Mitra Bersama menggunakan semua metode, untuk
metode windrow dan chevron windrow diterapkan di ROM sedangkan metode
penumpukkan cone dan chevron diterapkan di clean coal stockpile. Sedangkan
dalam pembongkaran timbunan terdapat beberapa macam metode, yaitu :
1. FIFO (First in, first out), dimana batubara yang terlebih dahulu ditimbun akan
dibongkar terlebih dahulu
2. LIFO (Last in, first out), dimana batubara yang terakhir ditimbun akan
dibongkar terlebih dahulu
3. SIRO (Service in random order), dimana batubara yang ditimbun akan
dibongkar dengan urutan yang tidak tentu atau secara acak.
Metode pembongkaran timbunan batubara yang baik adalah mengikuti
metode FIFO. Akan tetapi metode menyesuaikan dengan keadaan dilapangan.
Jika situasi tidak memungkinkan artinya disini metode FIFO mengeluarkan lebih
banyak cost, maka perlu digunakan sistem LIFO.
Ada beberapa point yang harus diperhatikan sistem penumpukkann batubara di
ROM maupun di clean coal stockpile, yaitu:
-

Sekeliling tumpukkan batubara harus dapat diakses oleh wheel loader atau
excavator

Penumpukkan harus memanjang searah dengan prevailing wind ( arah angin


yang dominan)

Setiap penumpukkan harus ditrimming agar tidak gundukkan kecil diatas


permukaan tumpukkan batubara

Slope permukaan stockpile yang menghadap permukaan angin harus


dilandaikan sudutnya, bila perlu dipadatkan.

Untuk menjaga kestabilan stockpile perlu dilakukan kontrol terhadap


stockpile tersebut, antara lain :
1. Monitoring quantity (inventory) dan movement batubara di stockpile, meliputi
recording batubara yang masuk (coal in) dan recording batubara yang keluar
(coal out) di stockpile, termasuk recording batubara yang tersisa (remnant of
coal)
2. Menghindari batubara terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan
penerapan aturan first in, first out
3. Mengusahakan pergerakan batuqbara sekecil mungkin di stockpile
4. Monitoring quality batubara yang masuk dan yang keluar dari stockpile,
termasuknya diantara kontrol temperatur untuk mengantisipasi spontaneous
combustion
5. Pengawasan ketat terhadap kontaminasi, meliputi :
-

Pelaksanaan housekeeping, tidak diperkenankan membuang sampah


sembarangan di area stockpile

Inspeksi langsung adanya kotoran yang terdapat di stockpile. Menentukan


sumber kontaminasi dan kemudian melaporkan kepada pihak yang
berkompeten untuk tindakan preventive

Penggunaan

tanda

larangan

terhadap

unit

atau

alat

yang

tidak

berkepentingan masuk di ROM dan clean coal stockpile


6. Perhatian terhadap faktor lingkungan yang bias ditimbulkan, dalam ini
mencakup usaha
-

Pengontrolan debu, penerapan dan pengawasan penggunaan spraying and


dust suppressant

Adanya tempat penampungan khusus (fine coal trap) untuk buangan / limbah
air dari drainage stockpile

Penanganan waste coal (remnant & spillage coal)

Penggunaan dust screen untuk mengurangi dampak debu yang bertebangan


menuju rumah warga

7. Tidak dianjurkan menggunakan area stockpile untuk parkir alat berat, baik
untuk keperluan maintenance atau overshift operator. Kecuali dalam keadaan
emergency dan setelah itu harus diadakan housekeeping secara teliti
8. Menanggulangi batubara terbakar di stockpile. Dalam hal ini penanganan
yang dianjurkan adalah sebagai berikut :
-

Melakukan spreading / penyebaran untuk mendinginkan batubara

Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang terbakar dapat dibuang

Memadatkan (kompaksi) batubara yang mengalami self heating atau


spontaneous combustion

Tidak diperbolehkan menggunakan air dalam memadamkan batubara yang


mengalami spontaneous combustion

Batubara yang mengalami spontaneous combustion tidak diperbolehkan


langsung diangkut ke tongkang sebelum dilakukan pendinginan terlebih
dahulu

Untuk penyetokan yang relatif lama bagian atas stockpile harus dipadatkan
(kompaksi), berguna untuk mengurangi resapan udara dan air ke dalam
stockpile

9. Sebaiknya tidak membentuk stockpile dengan bagian atas yang cekung, hal
ini untuk menghindari swamp di atas stockpile
10. Mengusahakan kontur permukaan basement berbentuk cembung atau datar,
hal ini berkaitan dengan kelancaran system drainage
2.4.

Unit Peremukan (Crushing Plant)


Unit peremukan (crushing plant) merupakan rangkaian peralatan mekanis

yang digunakan untuk mereduksi ukuran hasil penambangan. Pengolahan


batubara hasil penambangan perlu dilakukan terutama untuk memenuhi atau
menyesuaikan dengan permintaan konsumen akan kualitas dan ukuran butiran.
Secara umum peralatan yang digunakan didalam proses pengolahan ialah
semua peralatan yang dipakai dan diperlukan didalam siklus kegiatan
pengolahan bahan galian. Adapun peralatan yang dipakai pada siklus
pengolahan bahan galian antara lain terdiri dari :
2.4.1. Hopper
Hopper adalah alat untuk menampung batubara dari ROM stock untuk
diperoses lebih lanjut. hopper terdiri dari satu unit yang dilengkapi dengan grizzly
yang terbuat dari baja seperti anyaman dengan ukuran lubang tertentu untuk
mensortasi ukuran batubara yang akan masuk ke crusher menunju ke feeder
breaker.
Rumus volume trapesium yaitu :

1
Vh = 3 t ( L atas+ L bawah + L atas x L bawah) .................................
(2.1)

Setelah volume hopper diketahui, maka kapasitas hopper tersebut adalah:


K = Vh x Bi

............................................................(2.2)

Di mana :
K = Kapasitas hopper (ton)
Vh =Volume hopper (m3)
Bi = Bobot isi material (ton/m3)
T = Tinggi (m)
2.4.2. Grizzly
Merupakan susunan batang-batang baja yang membentuk ukuran lubang
bukaan tertentu. Grizzly berfungsi untuk menahan ukuran bongkah batubara
tertentu yang diijinkan lolos ke dalam hopper. Anyaman besi siku disusun
bersilangan saling sejajar pada jarak yang ditentukan dan ditempatkan di lubang
masuk hopper.
2.4.3. Vibrating Feeder
Vibrating feeder berfungsi sebagai pengumpan mesin peremuk, juga
untuk memisahkan material umpan yang sudah memenuhi ukuran yang
diharapkan. Dengan adanya alat ini maka material umpan yang telah memenuhi
umpan produk tidak perlu dilalkukan pengecilan ukuran lagi. Produksi teoritis
Vibrating feeder didasarkan pada rumus :
K = T x L x V x Bi

..............................................................(2.3)

Dimana :
K = Produksi nyata Vibrating feeder (ton/jam)
T = Tebal material pada Vibrating feeder (m)
L = Lebar feeder (m)
V = Kecepatan Vibrating feeder (m/jam)
Bi = Bobot isi material (ton/m3)
2.4.4. Roll Crusher

Alat ini terdiri dari dua buah silinder baja dan masing-masing
dihubungkan pada as (poros) tersendiri. Silinder ini berputar berlawanan
arah sehingga material yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.
Bentuk roll crusher ada dua macam, yaitu:
1) Rigrid Roll

Alat ini pada porosnya tidak dilengkapi dengan pegas sehingga


kemungkinan patah pada poros sangat memungkinkan. Roll yang
berputar hanya satu saja tapi ada juga yang keduanya berputar.
2) Spring Roll
Alat ini dilengkapi dengan pegas sehingga kemungkinan porosnya
patah sangat kecil sekali. Dengan adanya pegas maka roll dapat mundur
dengan sendirinya bila ada material yang sangat keras, sehingga tidak
dapat dihancurkan dan material itu akan jatuh.
Bagian-bagian dari roll crusher yaitu :
1. Feeder
Merupakan suatu alat untuk memasukkan feed ke dalam roller. Alat
ini bergerak secara mekanis sehingga kecepatan pengisian dapat
disesuaikan dengan kecepatan dari rollernya.
2. Spring (pegas)
Pegas ini harus mempunyai kekuatan yang besar sehingga dapat
melawan tekanan dari roller yang disebabkan oleh feed yang
berukuran berbeda-beda.
3. Roll
Merupakan silinder baja yang berputar saling berlawanan dengan
silinder yang lain.
4. Fleetingroll
Tujuan alat ini dipasang adalah untuk mencengah kerutan yang
menyiku dan terlemparnya shell. Hal ini karena ujung-ujung shell
yang saling berhadapan dan berhubungan satu sama lain bergerak
lateral.
5. Pillow block
Merupakan alat yang berguna mengatur jarak roll satu sama lain.
Hal ini dimaksud supaya penghancuran berjalan baik dan
mencegah terjadinya keausan daripada roller.
6. Housing

Bagian yang terletak dibawah roll yang gunanya untuk menampung


material hasil hancuran.

7. Motor penggerak
Jika gerakannya karena dihubungkan dengan belt dan gear, maka
disebut gearedroll, dan jika digerakkan hanya oleh belt, motor
disebut belt roll.
Kapasitas roller tergantung pada kecepatan, lebar permukaan,
diameter roll crusher dan jarak antara roll yang satu dengan lainnya.
Kapasitas roll crusher

dinyatakan dengan

rumus sebagai

berikut

(Gupta A,dik,2006) :
C = 188,5 x D x W x

x L x Pp

......................................................

(2.4)
Keterangan :
C = kapasitas (ton/jam)
W = kecepatan putar rol (rpm)
D = diameter rol (m)

= lebar permukaan roll (m)

L = jarak antar rol (m)


Pp = berat jenis material (ton/m3)
Perhitungan kapasitas roll crusher secara aktual yaitu :
TPHA = TPHt x Ffactor
...........................................(2.5)
TPHt = 545 x 10 -7 D x W x s x N x s ...................................(2.6)
Keterangan :
TPHA = kapasitas aktual (ton/jam)
TPHT = kapasitas teoritis (ton/jam)
D
= diameter rol (inchi)
W
= lebar permukaan rol (inchi)
S
= jarak antar roll (inchi)
N
= kecamatan (rpm)
s
= berat jenis material (lbs/cu ft)

Tabel 2.1 Nilai faktor yang digunakan berdasarkan diameter roll

Roll Diameter (in)

F factor (%)

18

25

24

27

26

30

30

37

36

50

48

67

54

75

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan produksi crusher adalah


sebagai berikut :
a. Sifat fisik material yang akan direduksi, sifat fisik ini meliputi kekerasan,
berat jenis, dan kandungan air.
b. Impirities yaitu ada tidaknya pengotor yang terdapat pada batubara.
c. Kondisi roll crusher.
d. Kemampuan feeding batubara baik dari tambang maupun ROM stockpile ke
hopper.

(Sudarsono, A., 2003)


Produktivitas crusher dibedakan menjadi dua macam yaitu produktivitas
desain dan produktivitas nyata. produktivitas desain merupakan kemampuan
produksi yang seharusnya dicapai oleh alat tersebut dan dapat diketahui
spesifikasi alat yang dibuat oleh pabrik, sedangkan produktivitas nyata
merupakan kemampuan produksi alat peremuk sesungguhnya yang didasarkan
pada sistem produksi yang diterapkan. Alat peremuk batubara masih digunakan
dalam beberapa penggilingan, walaupun crusher telah digantikan menjadi
banyak instalasi oleh roll crusher.

2.4.6. Sistem Conveyor


Conveyor adalah salah satu jenis alat pengangkut yang berfungsi untuk
mengangkut bahan-bahan industri yang berbentuk padat. Pemilihan alat

transportasi (conveying equipment) material padatan antara lain tergantung


pada:
1. Kapasitas material yang ditangani
2. Jarak pemindahan material
3. Arah pengangkutan, yaitu horizontal, vertikal dan inklinasi
4. Ukuran (size), bentuk (shape), dan sifat dari material (properties)
Secara umum conveyor diklasifikaikan sebagai berikut :
1. Belt conveyor
2. Chain conveyor, terdiri dari berbagai tipe yaitu :
a. Scraper conveyor
b. Appron conveyor
c. Bucket conveyor
3. Screw conveyor
4. Pneumatic conveyor
Keuntungan dalam menggunakan conveyor adalah :
1. Menurunkan biaya dan waktu dalam memindahkan material
2. Meningkatkan efisiensi pemindahan material
3. Menghemat ruang
4. Meningkatkan kondisi lingkungan kerja
Komponen-komponen utama belt conveyor dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2.2 Komponen-komponen sistem conveyor


1. Counterweight / Belt Scale
Belt scale ini antara lain adalah untuk menunjukkan kecepatan belt,
kapasitas conveyor (ton/jam) dan jumlah total batubara yang lewat ke
conveyor.
2. Jenis-jenis pulley yaitu sebagai berikut :
a. Drive pulley
Pulley yang dipasang sistem penggerak untuk menggerakkan seluruh
sistem conveyor.
b. Tail pulley
Pulley yang terletak bagian belakang conveyor. Untuk beberapa kasus
berfungsi sebagai pulley penggerak atau pengencang pulley (take-up)
c. Snub pulley
Pulley yang berfungsi untuk memperluas bidang kontak antara belt
dengan drive pulley.
d. Bend pulley
Pulley yang digunakan untuk mengubah arah belt.
e. Take-up Pulley
Pulley yang memiliki sistem pengencang belt. Fungsi dari take-up pulley
yaitu ;

Untuk menjaga tension belt pada saat loading.

Untuk mencegah belt kendor.

Untuk kompensasi perubahan panjang belt.

Untuk mencegah belt slippage.

Untuk kemudahan repair.

Jenis take-up pulley ada bermacam-macam, yaitu :


1) Screw take-up
2) Counterweight (gravity) take-up, yang inipun ada dua macam, yaitu:
a) Vertical gravity take-up
b) Horizontal (carriage) gravity take-up

Gambar 2.3 Jenis-jenis pemberat (take-up)


3. Feeder (pengumpan)
Adalah alat untuk pemuatan material ke atas belt dengan kecepatan yang
teratur. Dari pengumpanan dapat langsung ke belt atau melalui corongan
untuk mengurangi benturan pada waktu material jatuh ke atas belt.
Macam-macam pengumpanan yang pernah digunakan yaitu :
a. Apron feeder
b. Reciprocating feeder
c. Rotary vane feeder
d. Rotary plow feeder

Gambar 2.4 Beberapa tipe pengumpan (feeder)

4. Idler
Berguna untuk menahan atau menyangga belt. Menurut letak dan fungsinya,
maka idler dibagi menjadi :
a. Impact roller
Roll penunjang daerah bermuatan material, biasanya roller ini diselimuti
dengan rubber untuk mengurangi impact langsung dengan roller.

Gambar 2.5 Impact roller


b. Carrier roller
Roll penunjang belt yang bermuatan material. Ada dua macam, yaitu :
1) Throughting idler, untuk belt yang melengkung.
2) Flat idler, untuk belt yang datar.

Gambar 2.6 Carrier roller (throughting idler)


c. Return roller
Roll penunjang belt yang tidak bermuatan material.

Gambar 2.7 Return roller


d. Return training idle
Roll untuk membantu kelurusan belt dengan alat bantu pelurus (guide
roller).

Gambar 2.8 Return training idle


5. Belt
Belt adalah permukaan yang bergerak dan digunakan untuk menyangga
material yang akan diangkut di atasnya dan berfungsi sebagai pengangkut
material yang telah direduksi sebelumnya. Permukaan atas dan bawah belt
dilapisi karet untuk melindungi tulangan terhadap keausan dan kerusakan
akibat benturan material ketika dimuati.
Kontruksi belt, yaitu sebagai berikut :
a. Top cover, memproteksi carcass terhadap kondisi operasi
b. Skim coat, compound sebagai adhesive antar ply
c. Carcass, penguat/kekuatan belt
d. Bottom cover, memproteksi terhadap abrasi dan gesekan dari pulley dan
roller
Carcass
Skim coat

Top Cover

Gambar 2.9 Conveyor belt construction


6. Skirt board
Skirts adalah semacam sekat yang dipasang dikiri kanan belt pada tempat
pemuatan (loading point) yang terbuat dari logam atau kayu dan dapat
dipasang tegak atau miring yang dipergunakan untuk mencegah terjadinya

ceceran (spills) pada saat curah dan membentuk curahan keposisi tengah
ban berjalan.

Gambar 2.10 Skirt board


7. Belt scraper
Kriteria pemilihan belt scraper :

Nilai abrasion loss

Kekerasan yang tidak terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu kaku

Tensile strength dan parameternya

Bentuk blade

8. Belt cleaner
a. Primary belt cleaner
Sisa

material/carry-back/spillage

yang

tidak

terkendali

akan

mengakibatkan :

Lingkungan kerja penuh dengan tumpahan material dari sisi balik

Spillage menyebabkan penumpukan material pada roller dan pulley


sehingga diameter komponen tidak sama dan mengakibatkan belt
berjalan tidak lurus

Spillage mengeras pada komponen yang bergesekan dengan belt


dan

akan

menyebabkan

keausan

memperpendek usia belt

Kerusakan pada komponen lainnya.

yang

tidak

wajar

dan

Gambar 2.11 Primary belt cleaner


b. Secondary cleaner
Sebagai pembersih belt.

Gambar 2.12 Secondary belt cleaner


9. Drive unit
Motor yang digunakan sebagai sumber penggerak, umumnya dipakai
electric motor atau diesel. Besar kecilnya daya mesin tergantung pada :
a. Beban material yang akan diangakut di atas belt.
b. Kecepatan belt.
c. Lebar dan macam belt.
d. Diameter roda drive pulley dan roda tail pulley.
e. Luas bidang kontak antara drive pulley dengan belt.

10. Kerangka (frame)

Konstruksi baja yang menyangga belt conveyor dan harus ditempatkan


sedemikian rupa sehingga jalannya belt yang berada di atasnya tidak
terganggu. Hal ini sangat tergantung kepada medan operasinya, yaitu
apakah mendatar, miring atau kombinasi keduanya.
Belt conveyor merupakan salah satu alat transportasi yang digunakan
untuk mengangkut material. Pemakaian belt conveyor dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
1. Sifat fisik dan kondisi material
Kemampuan

belt

conveyor

dalam

mengangkut

material

sangat

berhubungan dengan material yang diangkutnya. Kondisi material


tersebut antara lain :
a.

Ukuran dan bentuk material

b.

Kandungan air

c.

Komposisi material
2. Keadaan topografi
Kondisi lapangan dapat mempengaruhi penggunaan belt conveyor. Untuk
daerah dengan keadaan berbukit-bukit Dimana kemiringan pada daerah
tersebut cukup besar, maka dibandingkan dengan lori atau truk dalam
mengangkut material, belt conveyor lebih memungkin untuk digunakan
karena dalam mengatasi kemiringan kemampuan belt conveyor lebih
besar yaitu dapat mencapai 30%-35. Hal ini dapat digunakan sebagai
alternatif dalam pemilihan satu alat angkut.
3. Jarak pengangkutan
Belt conveyor dapat digunakan untuk mengangkut material dekat maupun
jarak jauh. Untuk pengangkutan jarak jauh belt conveyor dibuat dalam
beberapa unit.
Kapasitas teoritis bel conveyor sangat dipengaruhi oleh luas
penampang melintang material yang terangkut bel conveyor, kececepatan
belt conveyor, dan bobot isi material yang terangkut.
Jumlah material yang dapat diangkut oleh belt conveyor tergantung :
1. Lebar belt
2. Kecapatan belt
3. Sudut roller/ Midler terhadap bidang datar (throughing angle)
4. Angle of surcharge material
5. Densitas material curah

6. Kemiringan belt
Rumus umum yang digunakan dalam menghitung kapasitas
produksi teoritis adalah (Prodjosumarto, 1993) :
Qt = 60. A. V. y. S

........................................................................(2.7)

Keterangan :
Qt = Produksi nyata bel conveyor (ton/jam)
A = Luas penampang muatan belt conveyor (m2)
S = Kecepatan belt conveyor (m/jam) atau V (m/menit)
s

= Koefisien kemiringan belt

= Berat jenis material (ton/m3)

Tabel 2.2
Produktivitas Belt Conveyor versi Handbook Bando Conveyor Belt
Conveyor Capacity metric tons per hour
(Based on 20 degree trough idlers, 20 degree surcharge angle
100

Belt
Speed ft/min
Belt
width
inch

16
20
24
30
36
42
48
54
56
60
64
72

mm
400
500
600
750
900
1050
1200
1350
1400
1500
1600
1800

and 1 metric ton per cubic meter in average weight)


200
250
330
400
500
600
750
1000

30

60

75

100

120

150

180

230

300

m/min
22
36
54
88
130
181

43
72
108
176
260
361

54
90
135
220
325
451

72
120
180
293
434
602

87
144
216
352
521
722

108
180
271
440
651
903

216
325
528
781
108

675
998
1384

1302
1805

1195

3
143

1833

2391

2345

3059

239
306
330
381
435
555

478

598

797

956

765

102

122

152

5
183

825

0
1100

3
132

9
165

5
198

2530

3299

952

127

0
152

0
190

0
228

2920

3809

871

108

0
145

3
174

4
217

5
261

3338

4354

1111

9
138

1
185

2
222

7
277

3
333

4259

5555

612
660
762

80

2000

690

138

172

230

276

345

414

5291

6902

84

2100

763

0
152

5
190

1
254

1
305

1
381

1
457

5850

7630

1003

6
200

7
250

3
334

2
401

5
501

8
602

7692

10033

1583

7
316

8
395

4
527

3
633

7
791

0
949

1213

15826

96
120

2400
3000

Tabel 2.2 dibuat berdasarkan trough angle 200 dan surcharge angle 200.
Untuk trough angle maupun surcharge angle yang berbeda maka digunakan
koreksi seperti pada tabel 2.3 :
Tabel 2.3
Koreksi Koefisien untuk Trough Angle dan Sucharge Angle

Trough
Angle
100
200
300
350
450
600

0
0,291
0,562
0,794
0,891
1,041
1,143

5
0,405
0,669
0,892
0,983
1,119
1,200

Sucharge Angle
100
0,520
0,778
0,990
1,076
1,198
1,256

200
0,755
1,000
1,192
1,256
1,360
1,373

Jika pada rangkaian belt conveyor terdapat sudut inklinasi maka


digunakan koreksi seperti pada tabel 2.4

No

Tabel 2.4
Koreksi Koefisien Sudut Inklinasi
Sudut kemiringan (0)
Koefisien kemiringan

1,00

0,99

0,98

0,97

300
1,001
1,233
1,405
1,465
1,530
1,495

10

0,95

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

12
14
16
18
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

0,93
0,91
0,89
0,85
0,81
0,78
0,76
0,73
0,71
0,68
0,66
0,64
0,61
0,59
0,56

Jika tidak terdapat data spesifikasi mengenai sudut kemiringan belt maka
sudut dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
....(2.8)
Keterangan :
- lf
= Jarak yang A-B
- H
= Jarak B terhadap permukaan tanah
- h
= Jarak A terhadap permukaan tanah
-
= Sudut kemiringan belt

B
A

Gambar 2.13
Sketsa Perhitungan Sudut Kemiringan Belt
Tabel 2.2 dibuat berdasarkan JIS B8805-1965 dimana perhitungan
kapasitas conveyor didasari berat jenis curah material 1 ton/m3. Untuk itu
dilakukan koreksi dengan mendapatkan berat jenis curah material penelitian
yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Vb Va

.. (2.9)

Keterangan :
Y

= Densitas batubara (gr/cc)

= Berat sampel (gr)

Va

= Volume air uji sebelum dimasukkan sampel (cc)

Vb

= Volume air uji setelah dimasukkan sampel (cc)

Setelah keempat nilai diatas didapatkan maka produktivitas teoritis belt


conveyor yang diteliti dapat dihitung dengan rumus standart yang disesuaikan
dengan Handbook Bando Conveyor:

Qt= Q x Ks x k x ............(2.10)
Keterangan :
Q

= Produktivitas berdasarkan tabel (ton/jam)

Ks = Koreksi koefisien surcharge angle dan trough angle

2.5.

= Koreksi koefisien sudut inklinasi

= Produktivitas teoritis (ton/jam)

= Densitas material penelitian (ton/m3)

Efisiensi Kerja
Efisiensi kerja merupakan elemen produksi yang harus diperhitungan di

dalam upaya mendapatkan harga produksi alat per satuan waktu yang akurat.
Sebagaian besar harga efisiensi kerja diarahkan terhadap operator, yaitu orang
yang menjalankan atau mengoperasikan unit alat. Walaupun demikian, apabila
ternyata efisiensi kerjanya rendah belum tentu penyebabnya adalah kemalasan
operator yang bersangkutan. Ada penyebab yang tidak bisa dihindari seperti
cuaca, kerusakan mendadak, kabut dan lain-lain. Untuk meningkatkan efisiensi
kerja operator kadang-kadang perlu semacam perangsang atau bonus yang

mendidik dari perusahaan dengan harapan operator dapat mempertinggi etos


kerja, lebih bertanggungjawab dan termotivasi.
Pekerjaan mekanik untuk perawatan alat tidak dapat dimasukkan sebagai
penyebab berkurangnya efisiensi kerja operator, karena pekerjaan perawatan
alat maintenance harus sudah terjadwal untuk masuk bengkel workshop. Oleh
sebab itu sebab itu untuk memperoleh harga efisiensi kerja operator yang
mewakili perlu diberikan batasan batasan pekerjaan dan itu semua harus
difahami oleh seluruh jajaran karyawan operasional maupun mekanik.
Tabel 2.5 Parameter pengukur efisiensi

Beberapa pengertian yang dapat menunjukkan keadaan alat mekanis dan


efektifitas penggunaannya antara lain :
1. Kesediaan Mekanis (Mechanical Availability), merupakan cara untuk
mengetahui kesediaan mekanis yang sesungguhnya dari alat yang
digunakan, persamaannya adalah sebagai berikut :

MA=

W
100
....................................................................................(2.11)
W +R

dimana :
W

Jumlah jam kerja, yaitu waktu yang dibebankan pada alat dalam
kondisi dapat beroperasi, dalam arti tidak rusak (jam), hal ini
termasuk juga hambatan yang di alami alat ketika dalam
melakukan kerja.

Jumlah jam untuk perbaikan ( repair hours )

2. Ketersediaan Fisik (Physical Availability), merupakan catatan mengenai


keadaan fisik dari alat yang sedang dipergunakan, persamaannya adalah
sebagai berikut :

PA=

W +S
100
.................................................................................(2.12)
W + R+ S

dimana :
S

Stand by hours, atau jumlah jam suatu alat yang tidak dapat
dipergunakan padahal alat tersebut tidak rusak dan dalam
keadaan siap beroperasi

W+R+S

Schedule hours, atau jumlah seluruh jam jalan dimana alat

dijadwalkan untuk beroperasi.


Physical availability pada umumnya selalu lebih besar daripada mechanical
availability. Tingkat effesiensi dari sebuah alat mekanis naik jika angka
physical availability mendekati mechanical availability.
3. Kesediaan Digunakan (Use of availability), adalah menunjukkan berapa
persen waktu yang digunakan alat untuk beroprasi pada saat ia dapat
digunakan (available), persamaannya adalah sebagai berikut :

UA=

W
100
.....................................................................................(2.13)
W +S

Use of availability biasanya dapat memperhitungkan seberapa efektif suatu


alat yang tidak sedang rusak dapat dimanfaatkan, hal ini dapat menjadi
ukuran

seberapa

dipergunakan.

baik

pengelolaan

(management)

peralatan

yang

4. Efesiensi Alat (Effective Utilization), menunjukkan persen dari seluruh waktu


kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective
utilization

sebenarnya

sama

dengan

pengertian

effesiensi

kerja,

persamaanya adalah sebagai berikut :

EU =

W
100
...............................................................................(2.14)
W + R+ S

2.6. Produktivitas Alat Muat


a. Waktu edar alat muat
Terdiri dari waktu untuk mengisi muatan, waktu menempatkan diri,
waktu untuk menumpahkan muatan, dan waktu kembali memuat.
(Nurhakim,2014)
Ctm = Am + Bm + Cm + Dm

.........................(2.15)

Keterangan :
Ctm = Total waktu edar alat muat
Am = Waktu total untuk mengisi muatan
Bm = Waktu pindah gigi maju
Cm = Waktu untuk maju
Dm = Waktu pindah gigi mundur
Em = Waktu kembali
b.

Produktivitas Wheel Loader


Untuk menghitung produktivitas alat muat (Wheel Loader),
pertama-tama kita harus membatasi terhadap kondisi yang ada pada
setiap keadaan pekerjaan. Penentuan waktu siklus wheel loader
didasarkan pada pemilihan kapasitas bucket.
Untuk perhitungan produktivitas produksi per siklus alat gali muat
dapat menggunakan persamaan dibawah ini ( Nurhakim, 2004):
q = q1 x K

...................................................(2.16)

Keterangan :
q = Produksi per siklus (m3)
q1 = Kapisatas ujung bucket (m3)
K = Faktor pengisian bucket
Kemudian untuk perhitungan produktivitas alat gali muat dapat
menggunakan persamaan di bawah ini ( Nurhakim, 2004) :

Q=

60
CT

xqxE

.......................................................................

(2.17)
Keterangan :
Q = Produktivitas alat gali muat (ton/jam)
q

= Produksi per siklus (m3)

= Efisiensi Kerja

CT = Cycle Time (menit)

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Diagram Alir Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada metode

perhitungan aktual lapangan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil pada


waktu sekarang. Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 4 tahapan yaitu
tahap persiapan, tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap
penyusunan laporan akhir.
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan penyusunan usulan tugas akhir. Sasaran
utama studi pendahuluan ini adalah gambaran umum daerah penelitian. Studi
literatur dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang
kegiatan penelitian, yang diperoleh dari :
a. Instansi terkait
b. Perpustakaan
c. Grafik dan Tabel
d. Informasi penunjang lainnya
2. Pengamatan Lapangan
Pengamatan lapangan dilakukan untuk melihat langsung kondisi lapangan
daerah penelitian dan mengumpulan data-data lapangan.
3. Pengambilan Data

Pelaksanaan untuk memperoleh data diperlukan dari berbagai sumber dalam


penyusunan skripsi.
4. Pengelompokan Data
a. Mengumpulkan dan mengelompokkan data agar lebih mudah dianalisis
b. Mengetahui keakuratan data sehingga kerja menjadi efisien
c. Mengolah nilai karakteristik data-data yang mewakili obyek pengamatan.
5.

Pengolahan Data
Dilakukan dengan melakukan beberapa perhitungan dan penggambaran,

selanjutnya disajikan dalam bentuk table, grafik, atau perhitungan penyelesaian.


6.
Kesimpulan
Diperoleh setelah

dilakukan

korelasi

antara

hasil

pengolahan

dengan

permasalahan yang diteliti. Kesimpulan merupakan hasil akhir dari semua


masalah yang dibahas.
3.2

Teknik Pengumpulan Data


Cara pengumpulan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini

meliputi:
1.

Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data-data dari literaturliteratur dan internet tentang produktivitas crushing plant.

2.

Observasi lapangan, yaitu pengamatan di lapangan meliputi


kegiatan pengoptimalan hasil produksi.

3.

Wawancara dengan karyawan stockpile serta orang-orang yang


ahli dibidangnya.
Adapun Data data yang dikumpulkan terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Data Primer
Data Primer kegiatan crushing plant dilapangan meliputi, meliputi :

Pengukuran kecepatan belt conveyor secara aktual

Kinerja aktual peralatan unit crushing Plant

Cycle Time wheel loader alat pengumpan

Produktivitas hopper Bucket Capacity

Produktivitas belt conveyor

Jam kerja aktual

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan kegiatan mempelajari, mengumpulkan dan


membaca berbagai sumber informasi untuk memperkuat landasan teori. Tahap
pengumpulan data sekunder dilakukan dengan pengumpulan sumber informasi
yang

berkaitan dengan kegiatan penelitian tugas akhir. Data sekunder yang

digunakan sebagai sumber informasi yaitu :


Data Produksi batubara
spesifikasi alat alat yang digunakan
kondisi dan kesampaian daerah penelitian
Kondisi setuasi stockpile

3. Diskusi
Teknik ini dilakukan dengan cara tanya jawab langsung terhadap personal
dari pihak perusahaan yang merupakan sumber informasi yang berhubungan
dengan kegiatan penelitian dan masalah yang terjadi.
3.2.1.

Instrumentasi
Instrumentasi adalah peralatan yang digunakan selama penelitian yang

membantu dalam pengambilan data di lapangan. Instrumentasi yang digunakan


pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Stopwatch digunakan untuk mengambil kecepatan conveyor.
2. Format pengambilan data digunakan untuk mengambil data secara
langsung dilapangan.
3. Alat tulis dan notebook digunakan untuk mencatat waktu serta informasi
lain dilapangan, sedangkan notebook digunakan untuk memasukkan data
yang didapat selama di lapangan.
4. Kamera Digital Digunakan untuk mengambil gambar dilapangan sebagai
gambaran keadaan asli dilapangan. Gambar yang diambil dari kamera
sebagai bukti beberapa hal kegiatan yang terjadi dilapangan seperti,
hambatan, kerusakan, ataupun yang lainnya.
3.2.2. Simulasi Penelitian
1. Notebook Digunakan untuk menginput semua data yang didapat dari
lapangan untuk diolah dengan cara statistik maupun formulasi untuk
mendapatkan hasil analisis.
2. Kalkulator

Digunakan

sebagai

menggunakan software di notebook.

pembanding

perhitungan

dengan

3. Software Microsoft Office akan digunakan untuk mengolah data yang ada
dengan menerapkan analisis perhitungan seperti kerja unit, dan waktu unit.
3.4. Pengamatan dan Pengambilan Data
Data Produksi Perhari Data ini merupakan laporan hasil kerja atau hasil
produksi aktual unit perhari berdasarkan hitungan jumlah produksi yang telah
termuat di hopper. Data ini digunakan untuk mengetahui berapa ton produksi
yang didapat alat peremuk dalam 1 jam bekerja.

3.5

Rancangan Penelitian
Data yang telah diambil selama melakukan penelitian akan diolah dan

dibahas untuk mengetahui banyaknya volume batubara dengan menggunakan


software Microsoft excel dan Microsoft word, kemudian diambil kesimpulan
setelah data tersebut selesai diolah sehingga didapat suatu hasil yang nantinya
akan bermanfaat bagi penulisan skripsi ini. Rancangan penelitian ini dapat dilihat
pada gambar 3.1

Analisis Coal Crushing Plant


untuk Pengoptimalan Hasil Produksi

Perumusan Masalah dan


Studi Literatur

Pengambilan Data
Data Sekunder

Data Primer

Pengukuran kecepatan belt conveyor


secara aktual
Kinerja aktual peralatan unit crushing
Plant
Cycle Time loade atau alat pengumpan
Produktivitas hopper Bucket Capacity
Produktivitas belt conveyor
Jam kerja aktual

Data produksi batubara


spesifikasi alat alat yang digunakan
kondisi dan kesampaian daerah
penelitian
Kondisi geologi dan morfologi daerah
penelitian

Pengolahan Data
Perhitungan kapasitas produksi pada Hopper,
Perhitungan produksi Crusher
Perhitungan kapasitas Belt Conveyor

Analisis
Mengevaluasi ketercapaian target produksi pada unit
crushing Plant
Optimal per unit crushing PlantBelum
Produktivitas
dalam optimal
pencapaian
target produksi
Analisis Permasalahan

Usaha optimalisai produktivitas unit peremuk

Kesimpulan

Solusi pemecahan masalah


dan rekomendasi

Gambar 3.1 diagram alir penelitian

BAB IV
SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan laporan akhir ini memuat uraian secara garis besar
dari tiap-tiap bab dalam laporan tugas akhir, dijabarkan sebagai berikut.
1. BAB I PENDAHULUAN
Mengemukakan mengenai latar belakang dilaksanakan penelitian disertai
identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan rumusan masalah mengenai
analisis produktivitas coal crushing plant untuk pengoptimalan hasil produksi.
Bab ini juga mengemukakan

tujuan dan manfaat penelitian ini yaitu untuk

memberikan suatu hasil penelitian yang berguna bagi perusahan pada umumnya
dan penulis pada khususnya.
2.

BAB II TINJAUAN UMUM


Mengemukakan tentang rujukan teori yang menunjang proses analisis

dan interpretasi yang diambil dari literatur-literatur baik itu melalui data yang
dimiliki oleh perusahaan maupun buku-buku yang berkenaan dengan materi
penelitian penulis.
3.

BAB III DASAR TEORI


Mengemukakan tentang metode penelitian yang digunakan dalam

pembuatan laporan. Bab ini berisi rancangan penelitian, populasi dan sampel
penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
4.

BAB
PENELITIAN

IV

PROSEDUR

DAN

HASIL

Mengemukakan tentang hasil penelitian dan data-data yang diperoleh di


lapangan.
5.

BAB V PEMBAHASAN
Mengemukakan tentang pembahasan dari hasil penelitian dan data-data

yang diperoleh di lapangan.


6. BAB VI PENUTUP
Mengemukakan tentang kesimpulan dan saran dari seluruh aktivitas
penelitian tugas akhir berdasarkan analisis data di pembahasan.

BAB V
JADWAL PENELITIAN

5.1.

Jadwal Kegiatan
Penelitian Tugas Akhir dilaksanakan selama 1 bulan, sejak tanggal 30

November 2015 hingga 30 Desember 2015. Rencana jadwal kegiatan dijelaskan


pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian Tugas Akhir

5.2.

No.

URAIAN KEGIATAN

1
2
3
4
5
6

Orientasi Lapangan
Pengambilan Data
Pengolahan Data
Pembuatan Laporan
Konsultasi Laporan
Presentasi

Bulan ke-I
II
III

IV

Tempat Kegiatan
Penelitian Tugas Akhir dilaksanakan di PT Binuang Mitra Bersama,

Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ir. Rochmanhadi, 1989,


Jakarta.

Alat - Alat Berat dan Penggunaanya, YBPPU.

Mustofa, A., Susanto, B, & Nurhakim. 2004. Modul Ajar Pemindahan Tanah
Mekanis. Jurusan Teknik Pertambangan. Universitas Lambung
Mangkurat. Banjarbaru.
Prodjosumarto, P. 1993, Pemindahan Tanah Mekanis. Teknik Pertambangan,
ITB. Bandung.
Sudarsono, Arief S. 2003. Pengantar Preparasi dan Pencucian Batubara.
ITB.Bandung.
Wilopo, D. 2009. Metode Kontruksi dan Alat-Alat Berat. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Wills, B.A. 1980. Mineral Processing Technology Second Edition. Pergamon
Press. Oxford. New York.
Yan D.S. dam A. Gupta. 2006. Mineral Processing Design and Operation
An Introduction. Perth, Australia.
Yanto, I. 2007. Pemindahan Tanah Mekanis. Teknik Pertambangan. UPN.
Yogyakarta.
Zhao, L. Lin, Y. 2011. Operation and Maintenance of Coal Handling System
in Thermal Power Plant. School of Mechanical Engineering.
Northeast Dianli University. China.