Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH MEKANIKA BATUAN

KRITERIA RUNTUHAN MOHR-COULUMB DAN KRITERIA


RUNTUNHAN HOEK & BROWN

DISUSUN OLEH:

SINGGIH PERMADI
1309013030

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016

3.1

Kriteria Keruntuhan
Keruntuhan (failure) adalah suatu proses dimana material berubah dari satu
perilaku menjadi kondisi perilaku yang lain. Kriteria keruntuhan merupakan hubungan
tegangan dan regangan yang memberi sifat terjadinya keruntuhan batuan dan ditentukan
berdasarkan hasil-hasil percobaan (eksperimen). Untuk membahas kriteria keruntuhan
dikenal dua metode yaitu cara analitik dan cara empirik.
Metode analitik meliputi :
1. Kriteria keruntuhan Mohr Coulomb
2. Kriteria keruntuhan Tresca
3. Kriteria keruntuhan Drucker Prager
4. Kriteria keruntuhan Von Mises
5. Kriteria keruntuhan Griffith
Metode empirik meliputi :
1. Kriteria Bieniawski
2. Kriteria Protodyakonov
3. Kriteria Hoek dan Brown
Sedangkan dalam penelitian kali ini kriteria keruntuhan yang digunakan adalah kriteria
keruntuhan Mohr Coulomb.
3.1.1

Teori Mohr
Teori Mohr menganggap bahwa :

Untuk suatu keadaan tegangan 1 > 2 > 3, (intermediate stress) tidak


mempengaruhi failure batuan,

Kuat tarik tidak sama dengan kuat tekan.


Teori ini didasarkan pada hipotesis bahwa tegangan normal dan tegangan geser

yang bekerja pada permukaan rupture memainkan peranan pada proses failure batuan.
Untuk beberapa bidang rupture dimana tegangan normal sama besarnya, maka bidang
yang paling lemah adalah bidang yang mempunyai tegangan geser paling besar
sehingga kriteria Mohr dapat ditulis sebagai berikut :
= f() .(1)
Untuk keadaan tegangan 1 > 2 > 3 yang diposisikan pada bidang ( ,),
terlihat bahwa lingkaran Mohr (1, 3) mempengaruhi kriteria failure. Failure terjadi
jika lingkaran Mohr menyinggung kurva Mohr (kurva intrinsik) dan lingkaran tersebut
disebut lingkaran failure (lihat gambar 3.1).

Gambar 3.1
Kriteria Mohr

Kurva Mohr merupakan envelope dari lingkaran-lingkaran Mohr pada saat


failure. Kurva ini tidak dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang sederhana,
melainkan didapat dari hasil percobaan dengan menggambarkan envelope dari beberapa
lingkaran Mohr pada saat failure, pada berbagai kondisi tegangan. Kriteria Mohr juga
dapat digunakan untuk mempelajari kekuatan geser (shear strength) di dalam patahan,
kekar atau jenis-jenis diskontinuitas lainnya.
3.1.2

Kriteria Keruntuhan Mohr Coulomb


Keruntuhan geser suatu batuan tergantung pada kohesi material dan besarnya

tegangan normal yang bekerja pada dinding keruntuhan tersebut. Oleh karena itu
kriteria Mohr Coulomb didefinisikan sebagai berikut :
= C + tan (2)
Dengan :
= tegangan geser
= tegangan normal
C = kohesi
tan = koefisien geser dalam dari batuan
Berdasarkan Gambar 3.2 tegangan geser dinyatakan dalam rumus :
= C + tan

R
.(3)

Gambar 3.2
Selubung Kekuatan Mohr Coulomb

Dalam sumbu kartesian x dan y :

...(4)

dan menurut Mohr :


(5)

(6)
Dalam sumbu kartesian x dan y :

....................................................................(7)

Faktor keamanan (safety factor) dengan menggunakan kriteria Mohr Coulomb


berdasarkan jarak dari titik pusat lingkaran Mohr ke garis kekuatan batuan (kurva
intrinsik) dibagi dengan jari-jari lingkaran Mohr (lihat gambar 3.2). Faktor keamanan

(F) ini menyatakan perbandingan keadaan kekuatan batuan terhadap tegangan yang
bekerja pada batuan tersebut.
Dimana :
.(8)

.(9)
Jika : F > 1 aman

; F < 1 runtuh

; F = 1 kritis

Kekuatan Massa Batuan


Sebagai alternatif dalam melakukan back analysis untuk menentukan kekuatan massa
batuan, sebuahh metode empirik telah dikembangkan oleh Hoek and Brown (1980)
dengan kekuatan geser digambarkan dengan lingakaran Mohr. Kriteria keruntuhan ini
digunakan untuk menyediakan data masukan unutk analisa yang diperlukan pada
penggalian tambang bawah tanah pada batuan yang keras. Kriteria ini dimulai dari sifat
mekanik dari batuan utuh kemudian mengalami pelemahan karena faktor adanya
bidang-bidang diskontinuitas.

Gambar 1
Hubungan antara Tegangan Utama Mayor dan Minor pada Kriteria
Keruntuhan Hoek-Brown dan Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb
(Wyllie & Mah, 2005)
Kriteria Keruntuhan Hoek-Brown
Hoek and Brown mencoba menggabungkan semua peningkatan yang sudah ada
sebelumnya pada sebuah kriteria keruntuhan yang representatif. Hal ini menghasilkan
pengenalan akan GSI Geological Strength Index oleh Hoek et al. (1992), Hoek (1994),
dan Hoek, Kaiser and Bawden (1995) yang kemudian ditambah untuk melingkupi
massa batuan yang lemah oleh Hoek et al. (1998), Marinos and Hoek (2000,2001) dan
Hoek and Marinos (2000). GSI dapat menentukan pelemahan massa batuan yang
merupakan hubungan antara derajat kekar dan kondisi dari permukaan kekar. Kekuatan

massa batuan bergantung pada sifat batuan utuh, dan kesempatan meluncur/runtuh pada
kondisi tegangan tertentu. Kesempatan ini dipengaruhi oleh bentuk geometri dari batuan
utuh dan kondisi separasi pada bidang diskontinuitas. Batuan tajam dengan permukaan
kekar yang bersih dan kasar akan mempunyai kekuatan yang lebih besar dibanding
dengan batuan berpatikel bulat yang terlapukkan. Kriteria kekuatan massa batuan
menurut The generalized Hoek- Brown (2002) sebagai berikut.

(1)
Untuk mb adalah pengurangan nilai konstanta material untuk batuan utuh dengan
persamaan sebagi berikut.

(2)
Tabel 2 menunjukkan nilai konstanta batuan utuh berdasarkan jenis batuan. Nilai s
dan a adalah konstanta massa batuan dengan persamaan sebagai berikut.

(3)

(4)
Peningkatan pada persamaan dilakukan dengan penambahan faktor undisturbed dan
disturbed menurut Hoek and Brown (1988). Hoek et al. (2002) menyusun penilaian
nilai D pada Tabel 1.

Tabel 1
Pedoman Penentuan Nilai Faktor D pada Terowongan (Hoek et al, 2002)

Kuat tekan uniaksial dari massa batuan dihitung dengan penyesuaian 3 = 0 dengan
persamaan sebagai berikut.
(5)
dan, kuat tarik dengan persamaan sebagai berikut.

(6)
Kriteria keruntuhan Hoek-Brown juga memungkinkan untuk menghitung modulus
deformasi dari massa batuan dengan persamaan sebagai berikut.

(7)
Keterangan:
Em dalam Gpa

Menjadi catatan bahwa persamaan dasar oleh Hoek and Brown (1997) telah
dimodifikasi dengan tambahan faktor D untuk menghitung pengaruh efek dari
peledakan dan relaksasi tegangan.
Tabel 2
Nilai Konstanta mi untuk Batuan Utuh

Penentuan Nilai GSI


Dalam pencarian menyelesaikan masalah dalam memperikarakan kekuatan massa
batuan dan menyediakan dasar dari perancangan penggalian atau peledakan pada
tambang bawah tanah (Hoek and Brown, 1980) berpikir bahwa beberapa percobaan

harus dilakukan untuk menghubungkan konstanta m dan s pada kriteria GSI yang
mereka miliki untuk dapat digunakan oleh setiap pekerja yang ada di lapangan.
Mengetahui bahwa karakteristik massa batuan yang mengontrol kekuatan dan perilaku
deformasi mirip dengan karakteristik massa batuan yang digunakan oleh Bienawski
(1973) maka klasifikasi RMR oleh Bienawski dapat digunakan untuk memperkirakan
konstanta m dan s. Mempertimbangkan terowongan dengan bidang diskontinu yang
sangat banyak karena adanya tegangan in situ yang dapat menyebabkan keruntuhan
pada sekitar terowongan, klasifikasi Q-System oleh Barton et al (1974) menggunakan
Stress Reduction Ratio (SRF) untuk memasukkan parameter tegangan in situ. Faktor ini
mempunyai pengaruh yang sangat besar pada nilai Q dari klasifikasi QSystem. Namun
karena adanya persamaan Hoek-Brown yang juga menghitung distribusi tegangan di
sektiar terowongan untuk memperkirakan daerah pengaruh dari batuan yang mendapat
tegangan yang sangat tinggi. Jika digunakan perhitungan SRF maka dalam analisis
dilakukan perhitungan sebanyak dua kali untuk nilai konstanta m dan s, oleh karena itu
SRF dianggap sebagai 0. Pertimbangan yang hampir sama juga berlaku untuk Joint
Water Reduction Factor pada klasifikasi Q-System dan keadaan air tanah pada
klasifikasi RMR. Pada semua kasus terdapat potensi untuk menghitung dua kali
parameter di atas jika tidak diperhatikan dengan baik dalam menentukan kekuatan
massa batuan. Pada klasifikasi RMR bobot dari air tanah adalah 15 dan Joint Water
Reduction Ratio pada Q-System adalah 0 yang berarti batuan diasumsikan dalam
keadaan kering. Nilai GSI dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut

Keterangan:

(16)
Perkiraan Kekuatan Massa Batuan
Pada pembuatan terowongan bawah tanah, ketidakstabilan terjadi pada batas dari
penggalian atau peledakan ketika kuat tekan uniaksial terlewati oleh tegangan terinduksi

pada batas tersebut. Keruntuhan dapat terhindarkan pada titik ketika kekuatan massa
batuan yang ada lebih besar dari tegangan terinduksi 1 dan 3. Analisis detail tentang
perambatan bidang lemah dengan model numerik sangatlah penting untuk dilakukan,
oleh karena itu kuat tekan uniaksial dari suatu massa batuan perlu diperhitungkan.
Mohr-Coulomb memperkenalkan persamaan (17) dan kemudian Hoek and Brown
(1997) membuat persamaan dari hubungan dengan persamaan Mohr-Coulomb pada
persamaan (18) sebagai berikut.