Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KIMIA INTI

APLIKASI RADIONUKLIDA

Oleh
Kelompok 14
Dosen Pengampu :
Prof.Dr.rer.nat. Asrial M,si

SANTI SYAFTIAWATY

(A1C114009)

MUNAWIR NURSYAHROBBY

(A1C114024)

HISKIA IRFAN MANULLANG

(A1C114028)

RIAN SETIAWAN

(A1C114029)

RTM INTAN SRIERSA

(A1C114036)

ELVIRA ROSA (A1C114043)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radiasi dan radionuklida telah lama dikenal manusia, yaitu sejak ditemukanya teknik
perunut oleh hevesy pada tahun 1923, sehingga menambah kemajuan teknik nuklir untuk
digunakan dibidang kedokteran dan industry. Ada beberapa sumber radiasi dilingkungan kita,
antara lain televisi, lampu penerangan, computer. Selain itu ada sumber radiasi yang bersifat
unsure alamiah yaitu berada di air, udara dan lapisan bumi. Sumber radiasi dari unsure
alamiah adalah thorium dan uranium berada dilapisan bumi, sedangkan karbon dan radon
berada di udara.
Selain sumber radiasi alami terdapat juga sumber radiasi buatan manusia. Ada dua
sumber radiasi buatan manusia yaitu :sumber radiasi pengionan dan non pengionan. Radiasi
pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan efek ionesasi apabila berinteraksi
denagn sel-sel hidup. Jenis radiasi pengion adalah alpha, beta, gamma, neutron dan sinar X.
Radiasi non pengion adalah jenis radiasi yang tidak menyebabkan ionesasi apabila
berinteraksi dengan ion-ion hidup. Jenis radiasi meliputi gelombang radio, televise,
gelombang radar dan lain-lainya.
Radioaktif juga digunakan dalam bidang pertanian, kedokteran, industri, arkeologi,
pertambangan dan kimia. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai kegunaan radionuklida
dalam bidang pertanian, kedokteran, industri, arkeologi, pertambangan dan kimia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari radioaktif ?
2. Apakah pengertian dari radionuklida ?
3. Apakah sifat-sifat radionuklida ?
4. Apa-apa saja kegunaan radionuklida dalam bidang pertanian, kedokteran,
industry,arkeologi, pertambangan dan kimia ?
5. Apakah dampak dari penggunaan radionuklida ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Radionuklida

Radionuklida atau radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif. Radionuklida mampu
memancarkan radiasi. Radionuklida dapat terjadi secara alamiah atau sengaja dibuat oleh
manusia dalam reaktor penelitian. Tergolong ke dalam zat radioaktif, unsur tersebut biasanya
bersifat labil, berarti tergolong zat radioaktif adalah isotopnya, karena untuk mencapai
kestabilan salah satunya harus melakukan peluruhan. Peluruhan zat radioaktif untuk
menghasilkan unsur yang lebih stabil sambil memancarkan partikel seperti, partikel alpha
(sama dengan inti He), partikel beta (), dan partikel gamma ().
Radionuklida dapat terjadi secara alamiah atau sengaja dibuat oleh manusia dalam
reaktor penelitian. Produksi radionuklida dengan proses aktivasi dilakukan dengan cara
menembaki isotop stabil dengan neutron di dalam teras reaktor. Proses ini lazim disebut
irradiasi neutron, sedangkan bahan yang disinari disebut target atau sasaran. Neutron yang
ditembakkan akan masuk ke dalam inti atom target sehingga jumlah neutron dalam inti target
tersebut bertambah. Peristiwa ini dapat mengakibatkan ketidakstabilan inti atom sehingga
berubah sifat menjadi radioaktif.
Banyak isotop buatan yang dapat dimanfaatkan antara lain Na-24, P-32, Cr-51, Tc-99,
dan I-131.
2.2 Sifat Radionuklida
Peran radionuklida sebagai pencari jejak tidak terlepas dari sifat-sifat khas yang dimilikinya.
Sifat-sifat tersebut adalah:
1. Radionuklida memancarkan radiasi manapun dia berada dan mudah dideteksi.
Radionuklida ibarat lampu yang tidak pernah padam senantiasa memancarkan
cahayanya.Radionuklidadalam jumlah sedikit sekali pun dapatdengan mudah
diketahui keberadaannya. Dengan teknologi pendeteksian radiasi saat ini,
radionuklida dalam kisaran pikogram (satu per satu trilyun gram) pun dapat dikenali
dengan mudah. Sebagai ilustrasi, jika radionuklida dalam bentuk carrier free (murni
tidak mengandung isotop lain) sebanyak 0,1 gram saja dibagi rata ke seluruh
penduduk bumi yang jumlahnya lebih dari 5 milyar, jumlah yang diterima oleh
masing-masing orang dapat diukur secara tepat.
2. Laju peluruhan tiap satuan waktu (radioaktivitas) hanya merupakan fungsi jumlah
atom radionuklida yang ada, tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik

temperatur, tekanan, pH dan sebagainya. Penurunan radioaktivitas ditentukan oleh


waktu paruh, waktu yang diperlukan agar intensitas radiasi menjadi setengahnya.
Waktu paruh ini merupakan bilangan khas untuk tiap-tiap radionuklida. Misalnya
karbon-14 memiliki waktu paruh 5.730 tahun, sehingga radioaktivitasnya berkurang
menjadi separuhnya setelah 5.730 tahun berlalu. Seluruh radionuklida yang telah
berhasil ditemukan telah diketahui pula waktu paruhnya. Waktu paruh radionuklida
bervariasi dari kisaran milidetik sampai ribuan tahun. Waktu paruh ini merupakan
faktor penting dalam pemilihan jenis radionuklida yang tepat untuk keperluan
tertentu.
3. Intensitas radiasi ini tidak bergantung pada bentuk kimia atau senyawa yang
disusunnya. Hal ini dikarenakan pada reaksi kimia atau ikatan kimia yang berperan
adalah elektron, utamanya elektron pada kulit atom terluar, sedangkan peluruhan
radionuklida merupakan hasil dari perubahan pada inti atom.
4. Radionuklida memiliki konfigurasi elektron yang sama dengan isotop lain sehingga
sifat kimia yang dimiliki radionuklida sama dengan isotop-isotop lain dari unsur yang
sama. Radionuklida karbon-14, misalnya, memiliki karakteristik kimia yang sama
dengan karbon-12.
5. Radiasi yang dipancarkan, utamanya radiasi gamma, memiliki daya tembus yang
besar. Lempengan logam setebal beberapa sentimeter pun dapat ditembus oleh radiasi
gamma, utamanya gamma dengan energi tinggi. Sifat ini mempermudah dalam
pendeteksian.
2.3 Aplikasi Radionuklida
2.3.1 Dalam bidang pertanian
Khusus dalam bidang pertanian, manfaat sinar radioaktif sangat besar, yaitu sebagai berikut:
1. Mutasi Tanaman
Salah satu cara untuk mendapatkan rangkaian sifat yang baik yaitu dengan mengubah faktor
pembawa sifat (gen). Perubahan gen yang dapat menyebabkan perubahan sifat makhluk
hidup dan diwariskan disebut mutasi. Sinar radioaktif yang biasanya digunakan untuk mutasi

adalah sinar gamma yang dipancarkan dari radioaktif Kobalt-60. Contohnya adalah padi
atomita dan kedelai muria.
2. Pemberantasan Hama dengan Teknik Jantan Mandul
Radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, misalnya hama kubis. Di laboratorium dibiakkan
hama kubis dalam bentuk jumlah yang cukup banyak. Hama tersebut lalu diradiasi sehingga
serangga jantan menjadi mandul. Setelah itu hama dilepas di daerah yang terserang hama.
Diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan mandul dilepas.
Telur hasil perkawinan seperti itu tidak akan menetas. Dengan demikian reproduksi hama
tersebut terganggu dan akan mengurangi populasi.
3. Pengawetan Makanan
Dilakukan agar bahan makanan yang disimpan tidak mudah rusak. Pengawetan makanan
secara tradisional seperti pengeringan, pemanasan, dan pengasapan masih memiliki
kekurangan karena pada jenis makanan tertentu sifat makanan dapat berubah, ditumbuhi
jamur, dan dapat diserang serangga. Penemuan cara pengawetan dengan teknik radiasi dapat
meminimalkan kerusakan yang terjadi pada makanan.
Manfaat sinar radioaktif dalam pengawetan makanan adalah:

Menghambat pertunasan pada beberapa bahan makanan, misalnya bawang, kentang,


jahe, kunyit dan kencur.

Memperpanjang masa simpan beberapa hasil pertanian segar, misalnya menunda


kematangan buah.

Mengurangi bakteri-bakteri pembusuk daging.

Membebaskumankan atau sterilisasi rempah-rempah.

Mengendalikan kuman-kuman penyebab penyakit dan kuman-kuman parasit yang ada


dalam makanan.

Beberapa keuntungan menggunakan sinar radioaktif dalam pengawetan makanan antara lain:

Sifat bahan makanan tidak berubah.

Dapat meningkatkan mutu.

Tidak menurunkan nilai gizi.

Tidak menimbulkan zat sisa pengawet.

Dapat dilakukan pada makanan yang dikemas sederhana.

Mengetahui masa pemupukan yang paling baik.

Fakta contoh :

Stroberi tanpa radiasi, yang berjamur setelah di simpan beberapa hari

Stroberi yang tetap segar setelah penyimpanan dua minggu karena telah disterilisasi
dengan cara radiasi.

4. Pemuliaan Tanaman
Pemuliaan tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat dilakukan dengan menggunakan
radiasi. Misalnya pemuliaan padi, bibit padi diberi radiasi dengan dosis yang bervariasi, dari
dosis terkecil yang tidak membawa pengaruh hingga dosis rendah yang mematikan. Biji yang
sudah diradiasi itu kemudian disemaikan dan ditaman berkelompok menurut ukuran dosis
radiasinya. Serta dengan menggunakan unsur-unsur radioaktif, juga dapat diketahui waktu
yang paling tepat untuk melakukan pemupukan pada satu jenis tanaman.
Radionuklida dapat digunakan untuk merunut gerakan pupuk di sekitar tanaman setelah
ditabur. Gerakan pupuk jenis fosfat, dari tanah sampai ke dalam tumbuhan dapat ditelusuri
dengan mencampurkan radionuklida fosfor-32 (P-32) ke dalam senyawa fosfat di dalam
pupuk. Dengan cara ini dapat diketahui pola penyebaran pupuk dan efektifitas pemupukan.
Radionuklida dapat juga digunakan untuk membuat benih tumbuhan dengan sifat yang lebih
unggul dari induknya. Penyinaran radioaktif ke tanaman induk akan menyebabkan ionisasi
pada berbagai sel tumbuhan. lonisasi ini menyebabkan turunan berikutnya mempunyai sifat

yang berbeda dengan induknya. Kekuatan radiasi diatur sedemikian rupa agar diperoleh sifat
turunan yang unggul.
Untuk mendorong kemajuan di bidang pertanian di perlukan teknik pemupukan yang baik,
pemberantasan hama tanaman yang tepat, dan penggunaan bibit unggul.
Untuk melaksanakan pemupukan pada waktu yang tepat, dapat digunakan radionuklida
Nitrogen 15 ( N 15 ). Pupuk yang mengandung N 15 di pantau dengan alat pancaca jika
pancaca tidak mendeteksi lagi adanya radiasi, berarti pupuk sepenuhnya sudah di serap oleh
tanaman. Pada saat itulah pemupukan berikutnya sebaiknya dilakukan. dari upuya ini akan
diketahui janka waktu pemupukan yang diperlukan dan sesuai dengan usia tanaman.
Kegunaan lain radionuklida dalam bidang pertanian adalah untuk pembuatan bibit unggul.
Radionuklida ini digunakan untuk memicu terjadinya mutasi pada tanaman dari proses mutasi
ini diharapkan dapat dperoleh tanaman dengan sifat sifat yang menguntungkan misalnya
tanaman padi yang lebih tahan terhadap hama dan memiliki tunas lebih banyak. Selain itu,
radionuklida juga dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan produk produk
pertanian.
2.3.2

Dalam bidang industri


a. Untuk Mendeteksi Kebocoran
Radioisotop digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa yang ditanam di dalam tanah
atau dalam beton. Isotop dimasukannya ke dalam aliran pipa, maka kebocoran pipa dapat
dideteksi tanpa penggalian tanah atau pembongkaran beton. Radioisotop yang digunakan
sebagai perunut untuk menguji kebocoran cairan/gas dalam pipa misalnya sedikit garam
24

NaCl di masukkan kedalam aliran pipa, selanjutnya detektor geiger-Muller digerakkan

mengikuti aliran pipa. Selanjutnya Detektor akan menangkap radiasi pada pipa yang
mengalami kebocoran.
b. Untuk Menentukan Kehausan atau Keroposan Yang Terjadi pada Bagian
Pengelasan atau Logam
Jika bagian pengelasan atau logam ini disinari dengan sinar gamma dan dibalik bahan itu
diletakkan film foto maka pada bagian yang terdapat kehausan atau kekeroposan akan
memberikan gambar yang tidak merata.
c. Untuk Mengetahui adanya Cacat pada Material
Pada bidang industri aplikasi baja perlu dianggap bahwa semua bahan selalu mengandung
cacat. Cacat dapat berupa cacat bawaan dan cacad yang terjadi akibat penanganan yang
tidak benar. Cacat pada material merupakan sumber kegagalan dalam industri baja.

Penyebab timbulnya cacat pada material, meliputi desain yang tidak tepat, proses
fabrikasi dan pengaruh lingkungan. Desain yang tidak tepat meliputi pemilihan bahan,
metode pengerjaan panas yang tidak tepat dan tidak dilakukannya uji mekanik. Proses
fabrikasi meliputi keretakan karena penggrindaan, cacat proses fabrikasi dan cacad
pengelasan. Kondisi operasi lingkungan meliputi korosi. Untuk mengetahui adanya cacad
pada material makadigunakan suatu pengujian material tak merusak yang salah satunya
adalah dengan metode radiografi sinar gamma.
Teknik radiografi merupakan salah satu metode pengujian material tak-merusak yang
selama ini sering digunakan oleh industri baja untuk menentukan jaminan kualitas dari
produk yang dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan menggunakan sumber
radiasi (sinar-x atausinar gamma) sebagai media pemeriksa dan film sebagai perekam
gambar yang dihasilkan. Radiasi melewati benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji.
Sinar yang akan diatenuasi tersebut akan direkam oleh film yang diletakkan pada bagian
belakang dari benda uji. Setelah film tersebut diproses dalam kamar gelap maka film
tersebut dapat dievaluasi. Bila terdapat cacad pada benda uji maka akan diamati pada film
radiografi dengan melihat perbedaan kehitaman atau densitas.
Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada ketebalan benda yang diperlukan karena daya
tembus sinar gamma terhadap material berbeda. Pada sumber pemancar sinar gamma
tergantung besar aktivitas sumber. Sedangkan pemilihan tipe film sangat mempengaruhi
pemeriksaan kualitas material. Film digunakan untuk merekam gambar material yang
diperiksa. Pemilihan tipe film yang benarakan menghasilkan kualitas hasil radiografi yang
sangat baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis film, yaitu film cepat dan film
lambat. Pada film cepat butir-butirannya besar, kekontrasan dan definisinya kurang baik.
Sedangkan pada film lambat butir-butirannya kecil, kekontrasan dan definisinya lebih baik.
Penentuan jarak sumber ke film (SFD) juga mempengaruhi hasil kualitas film radiografi.
Penghitungan SFD yang tidak benar mempengaruhi tingkat kehitaman atau density hasil film
radiografi sehingga akan mempengaruhi tingkat sensitivitas atau tingkat ketelitian.
d. Mengontrol Ketebalan Bahan
Ketebalan produk yang berupa lembaran, seperti kertas film atau lempeng logam
dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya sama seperti diatas, bahwa intensitas radiasi
yang diteruskan bergantung pada ketebalan bahan yang dilalui. Detektor radiasi
dihubungkan dengan alat penekan. Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka intensitas
radiasi yang diterima detektor akan berkurang dan mekanisme ala akan mengatur
2.3.3

penekanan lebih kuat sehingga ketebalan dapat dipertahankan.


Dalam bidang kedokteran

Pemakaian zat radioaktif atau dikenal dengan radioisotop dalam bidang kedokteran untuk
maksud diagnosis, pertama kali diperkenalkan oleh Blumgart dan Yens pada tahun 1972
dengan menggunakan gas radioaktif Ar-35 untuk mengukur peredaran darah. Kemudian
pada tahun 1937, pemakaian radioisotop untuk pengobatan dilakukan oleh Lawrence
dalam pengobatan leukimia.

Di bidang kedokteran teknologi ini telah lama dimanfaatkan. Radioisotop Teknesium99m (Tc-99m) merupakan radioisotop primadona yang mendekati ideal untuk mencari
jejak di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan radioisotop ini memiliki waktu paruh yang
pendek sekitar 6 jam sehingga intensitas radiasi yang dipancarkannya berkurang secara
cepat setelah selesai digunakan. Radioisotop ini merupakan pemancar gamma murni dari
jenis peluruhan electron capture dan tidak memancarkan radiasi partikel bermuatan
sehingga dampak terhadap tubuh sangat kecil. Selain itu, radioisotop ini mudah diperoleh
dalam bentuk carrier free (bebas pengemban) dari radioisotop molibdenum-99 (Mo-99)
dan dapat membentuk ikatan dengan senyawa-senyawa organik. Radioisotop ini
dimasukkan ke dalam tubuh setelah diikatkan dengan senyawa tertentu melalui reaksi
penandaan (labelling). Di dalam tubuh, radioisotop ini akan bergerak bersama-sama
dengan senyawa yang ditumpanginya sesuai dengan dinamika senyawa tersebut di dalam
tubuh. Dengan demikian, keberadaan dan distribusi senyawa tersebut di dalam tubuh
yang mencerminkan beberapa fungsi organ dan metabolisme tubuh dapat dengan mudah
diketahui dari hasil pencitraan. Pencitraan dapat dilakukan menggunakan kamera gamma.
Radioisotop ini dapat pula digunakan untuk mencari jejak terjadinya infeksi bakteri,
misalnya bakteri tuberkolose, di dalam tubuh dengan memanfaatkan terjadinya reaksi
spesifik yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Terjadinya reaksi spesifik tersebut dapat
diketahui menggunakan senyawa tertentu, misalnya antibodi, yang bereaksi secara
spesifik di tempat terjadinya infeksi. Dengan menyuntikkan oksida Tc-99, unsur
radioaktif ini akan mengalir mengikuti darah. Bagian tubuh yang tidak terdapat tumor
tidak akan menyerap unsur itu, sedangkan bagian tubuh yang terkena tumor akan
menyerap unsur itu. Dengan begitu di daerah yang terdapat tumor, keaktifan radioisotop
lebih besar dibandingkan dengan daerah lain yang sehat. Hal ini menyebabkan daerah
yang terdapat tumor mudah dilacak atau dirunut.
Radioisotop sebagai perunut juga digunakan untuk mencari bagian yang mengalami
penyempitan pada pembuluh darah yang disebut trombosit. Pasien yang akan diperiksa
disuntik dengan radioisotop natrium. Darah akan mengalirkan isolop ini ke selurun bagian

tubuh. Bagian yang mengalami penyempitan darah akan mempunyai jumlah natrium yang
berbeda dengan bagian lain yang sehat. Dengan menggunakan detektor radioaktif dapat
diketahui bagian yang terkena penyempitan.
Radioisotop juga dapat digunakan untuk mempelajari kecepatan penyerapan suatu unsur
oleh kelenjar misalnya kelenjar gondok yang ada dalam tubuh. Unsur yang digunakan
adalah iodium yang bersifat radioaktif sebagai radioisotop.(Joko.2010)
2.3.4

Dalam bidang arkeologi

Teknik penentuan umur suatu benda yang menggunakan radioisotop disebut Carbon
Dating. Prinsip kerja teknik ini adalah membandingkan konsentrasi unsur karbon yang
tidak stabil pada suatu benda dengan benda lainnya. Teknik ini banyak digunakan oleh
para ahli geologi, antropologi dan arkeologi untuk menentukan umur benda yang mereka
temukan.
Cara penentuan umur dengan radiokarbon pertamakali dikembangkan oleh W.F. Libby.
Radiokarbon yang dimaksudkan di sini adalah atom karbon C-14 yang dihasilkan di
atmosfer melalui reaksi yang diinduksi neutron berenergi. Pada mulanya sinar kosmik
sebagian besar terdiri dari proton berenenrgi, hasil reaksinya dengan gas di atmosfer,
dapat menghasilkan bernmacam-macam frragmen inti seperti neutron cepat yang
bereaksi dengan isotop N-14.
Selain untuk menentukan umur benda-benda purbakala, radioisotop bisa dihgunakan di
bidang seni. Dalam bidang ini, radioisotop dapat juga digunakan untuk mengetahui
pemalsuan lukisan. Seorang pemalsu akan menggunakan cat yang dibuat pada abad
sekarang. Dengan mengetahui banyaknya unsur radioaktif pada cat akan diketahui umur
lukisan tersebut sebenarnya.
2.3.5 Dalam bidang kimia
a. Radioisotop sebagai Perunut
Salah satu peran radioisotop adalah sebagai perunut. Teknik perunut dapat dipakai untuk
mempelajari mekanisme berbagai reaksi kimia esterifikasi, fotosintesis dan
kesetimbangan dinamis. Radiotracer (radionuklida perunut) adalah spesi kimia yang
mengandung radionuklida dan aktivitasnya dimonitor untuk mengikuti proses kimia atau
proses fisika, atau untuk menunjukkan posisi atau lokasi suatu zat kimia
Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan radionuklida perunut
:
v Harus memiliki sifat kimia dan fisika yang sama dengan sistem yang dipelajari.

v Radionuklida perunut harus memiliki waktu hidup yang cukup panjang sehingga
aktivitasnya dapat dideteksi dengan baik.
v Jenis radiasi yang dipancarkan harus menjadi pertimbangan terutama kemampuan
penetrasi dan kemudahannya untuk diukur.
b. Mempelajari Reaksi Esterifikasi
Reaksi esterifikasi yaitu reaksi pembentukan suatu ester yang dapat dibentuk dengan
reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dan suatu alkohol. Esterifikasi
berkataliskan asam dan merupakan reaksi yang reversibel. Asam karboksilat bereaksi
dengan alkohol membentuk ester dan air.
c. Mempelajari Kesetimbangan Dinamis
Kesetimbangan dinamis kimia bersifat dinamis artinya bahwa dalam keadaan setimbang
reaksi tetap berlangsung dengan laju yang sama pada kedua arah. Hal itu dapat
dibuktikan sebagai berikut. Perhatikan kesetimbangan PbI2 (timbal (II) klorida) padat
dan
larutan jenuhnya yang mengandung Pb2+(aq) dan I-(aq).
d. Analisis/Titrasi Radiometri
Analisis radiometri adalah cara analisis kimia untuk unsur atau zat tak radioaktif dengan
jalan penambahan zat radioaktif dan Analisis radiometri ini digunakan untuk
menentukan kadar zat yang sangat rendah dalam suatu campuran. Penentuan kadar Ag+
ataupun Cl- dapat menggunakan radioisotop. Jika yang ingin ditentukan kadar Cl- maka
yang digunakan adalah Ag dalam bentuk radioisotop (110Ag+) dan jika yang ingin
ditentukan kadar Ag maka yang digunakan ion radioklor.
e. Analisis Pengenceran Isotop
Analisis pengenceran isotop untuk menentukan kadar suatu zat dengan cara
menambahkan zat radioaktif yang sudah diencerkan ke dalam zat yang akan ditentukan
kadarnya.
f. Analisis Aktivasi Neutron (AAN)
Analisis aktivasi neutron adalah adalah analisis unsur-unsur dalam sampel yang
didasarkan pada pengubahan isotop stabil oleh isotop radioaktif melalui pemboman
sampel oleh neutron atau proses pengaktifan neutron dapat diartikan juga sebagai proses
reaksi inti dimana unsur-unsur yang semula tidak radioaktif berubah sifat fisikanya
menjadi radioaktif sehingga dapat memancarkan radiasi. Analisis pengaktifan neutron
dilakukan untuk menentukan zat yang berkadar rendah dengan cara menembak unsur
yang dimaksud agar menghasilkan radioisotop dan memancarakan sinar.
2.3.6

Dalam bidang hidrologi


Penggunaan radioisotop sebagai perunut untuk suatu penyelidikan bertujuan untuk
mendapatkan suatu informasi atau jawaban suatu permasalahan hidrologi tertentu. Data

atau informasi yang diperoleh akan menjadi masukan untuk tindak lanjut perbaikan
(problem solving) dari masalah yang dihadapi. Prinsip dasar dari teknik perunut adalah
penandaan (pelabelan) terhadap suatu sistem (hidrologi) atau bagian dari sistem yang
akan diselidiki, segala kelakuan dan peristiwa yang dialami oleh sistem tersebut
diketahui dari hasil pemonitoran perunut yang memberikan informasi tentang kelakuan
dari sistem secara keseluruhan. Untuk dapat dipakai sebagai perunut, suatu bahan harus
memenuhi kriteria tertentu dimana bahan perunut tersebut harus dapat menyatu atau
menjadi bagian dari sistemnya, dan kehadirannya dalam sistem tidak boleh
mengganggu, mengubah atau mempengaruhi sistem yang diselidiki.
Beberapa manfaat radioisotop dalam bidang hidrologi adalah:
v Penentuan Gerakan Sedimen di Pelabuhan dan Daerah Pantai
v Mendeteksi Zat Pencemar dalam Air
v Menentukan Kebocoran Dam atau Bendungan
v Mengetahui Gerakan Air Tanah
v Mengetahui Karakteristik Aliran Cairan di Sumur Minyak
v Pengukuran Debit Air Sungai
v Melakukan Studi Geothermal
v Teknik Gauging
Selain dengan teknik perunut radioisotop, dikenal pula teknik gauging. Dalam teknik ini
radioisotop digunakan sebagai sumber tertutup. Efek radiasi terhadap system dapat
mengetahui keadaan system tersebut. Penggunaan teknik gauging ini antara lain untuk
mengukur kandungan air dalam tanah, kepadatan tanah, aspal dan beton. Teknik ini
sangat luas pemakaianya dalam teknik sipil antara lain pondasi bangunan, jalan raya,
pembuatan tanggul dan lain-lain.
2.3.7

Dalam bidang biologi


Perkembangan ilmu biologi molekuler sangat erat kaitannya dengan analisis molekul
kimiawi dalam tubuh mahluk hidup. Analisis molekul dapat dilakukan berdasarkan atas
reaksi kimiawi yang ditimbulkan oleh interaksi dengan molekul yang lainnya atau
berdasarkan struktur fisiknya. Beberapa metode yang sering digunakan dalam studi
biologi molekuler adalah penggunaan radioisotop.
Isotop adalah elemen kimia yang intinya mempunyai jumlah proton yang sama, akan
tetapi massa atomnya (jumlah proton dan neutron) berbeda. Beberapa isotop bersifat
tidak stabil dan mengalami peluruhan secara spontan yang terkadang diikuti oleh
penyebaran radiasi elektromagnetik. Atom-atom yang bersifat demikian dinamakan
Radioisotop.
Beberapa manfaat radioisotop dalam ilmu biologi:

v Radioisotop banyak digunakan dalam studi biologi molekuler seperti menganalisis


urutan basa DNA. Urutan basa DNA dapat ditentukan dengan membaca
autoradioaktivitas fragmen- fragmen polinukleotida pada gel elektroforesis
v Radioisotop digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis. Radioisotop
berupa C-14 atau O-18 atau keduanya dapat mengetahui asal usul atom oksigen ( dari
CO2 atau dari H2O) yang membentuk senyawa glukosa atau oksigen yang terbentuk
pada proses fotosintesis
v Mempelajari proses penyerapan air dan sirkulasinya di dalam batang tumbuhan
v Mempelajari pengaruh unsur-unsur hara selain unsure N, P dan K terhadap
perkembangan tumbuhan
v Memacu mutasi gen tumbuhan dalam upaya mendapatkan bibit unggul
v Isotop radioaktif seperti 3H, 14C, 32P, 35S, 86Rb, 125I dapat digunakan untuk
mengetahui aspek metabolik dalam sel, bakteri, yeast, tanaman, binatang, dan manusia
dalam mengurai sifat dasar pada materi genetic.
2.4 Bahaya dan Dampak Penggunaan Radionuklida
Pencemaran zat radioaktif, pencemaran zat radioaktif adalah suatu pencemaran lingkungan
yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta
bom atom. Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah
terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang tidak
dapat digunakan lagi. yang paling berbahaya dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah
radiasi sinar alpha, beta dan gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di
sekitarnya. Selain itu partikel-partikel neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif
pencemar lingkungan yang biasa ditemukan adalah 90SR penyebab kanker tulang dan 131J.
Apabila ada makhluk hidup yang terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan
terjadi mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak
sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang. Atau
antara lain:

Radiasi zat radioaktif dapat memperpendek umur manusia. Hal ini karena zat
radioaktif dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh dan menurunkan kekebalan
tubuh.

Radiasi zat radioaktif terhadap kelenjar-kelenjar kelamin dapat mengakibatkan


kemandulan dan mutasi genetik pada keturunannya.

Radiasi zat radioaktif dapat mengakibatkan terjadinya pembelahan sel darah putih,
sehingga mengakibatkan penyakit leukimia.

Radiasi zat radioaktif dapat menyebabkan kerusakan somatis berbentuk lokal dengan
tanda kerusakan kulit, kerusakan sel pembentuk sel darah, dan kerusakan sistem saraf.

Efek sertaakibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia seperti
berikut di bawah ini :

Pusing-pusing

Nafsu makan berkurang atau hilang

Terjadi diare

Badan panas atau demam

Berat badan turun

Kanker darah atau leukemia

Meningkatnya denyut jantung atau nadi

Daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang penyakit akibat sel darah putih yang
jumlahnya berkurang