Anda di halaman 1dari 4

Porositas Batuan Karbonat

Dalam batuan karbonat, terdapat dua jenis porositas, yaitu porositas primer dan porositas
sekunder. Porositas primer merupakan jenis porositas yang terbentuk pada saat sedimentasi
berlangsung di suatu lingkungan pengendapan. Sdangkan porositas sekunder adalah lubanglubang pori yang terbentuk ketika proses sedimentasi selesai, contohnya adalah akibat proses
pelarutan, retakan-retakan yang dibentuk akibat aktivitas organisme, dan juga struktur geologi
akibat proses tektonisme.
Lingkungan Pengendapan Karbonat
Menurut Koesoemadinata (1987), terdapat beberapa ciri yang memungkinkan sebagai
tempat lingkungan pengedapan karbonat, berikut adalah ciri-ciri tersebut:
1. Bebas dari material sedimen darat (terrigeneous) atau klastik detritus. Secara tektonik berarti
daerah ini dalam keadaan yang stabil dan tidak mengalami pengangkatan. Di daerah Indonesia
sendiri, biasa terjadi pada zama Oligosen-Miosen. Selain itu, lingkungan pengendapan karbonat
merupakan daerah laut yang airnya cenderung jernih dan terkena sinar matahari yang cukup
intensif.
2. Daerah Paparan Laut Dangkal
Pengendapan karbonat memerlukan kondisi yang jenuh dari suatu konsentrasi akibat proses
penguapan yang terjadi terus-menerus. Laut dangkal merupakan daerah yang cocok dengan
kondisi tersebut. Laut yang terlalu dalam akan menyebabkan suatu proses partial pressure
CO2 yang terlalu tinggi.
3. Iklim tropis atau semitropis
Iklim ini sangat membantu dalam proses penguapan. Kondisi yang cukup hangat dapat
merangsang pertumbuhan dari material karbonat.
Pembagian Lingkungan Karbonat menurut Scholle, Bebout, Moore (1983)
Batuan karbonat memiliki beberapa lingkungan pengendapan yang bisa berasal dari
lingkungan darat hingga laut. Scholle et all (1983) membagi lingkungan pengendapan karbonat
menjadi 12 lingkungan yang memiliki karakteristik khusus pada setiap lingkungan
pengendapannya. Berikut ini adalah macam-macam lingkungan pengendapan yang disusun dari
daerah non-marine hingga ke laut dalam:
1. Subaerial Expossure
2. Danau
3. Eolian
4. Tidal Flat
5. Pantai
6. Shelf
7. Middle Shelf
8. Terumbu
9. Bank Margin
10. Fore Reef Slope
11. Batas Cekungan

12. Pelagic
Subaerial Expossure
Daerah ini merupakna daerah yang bisa berada di darat maupun di laut. Proses-proses yang
berlangsung seperti proses non-deposisi, erosi, dan jeda sekuen.
Proses alterasi yang membentuk zonasi merupakan salah satu proses yang berlangsung di
bawah subaerial surface, proses ini juga melibatkan proses pelapukan. Faktor penting lainnya
adalah iklim, intensitas, dan durasi. Kenampakan akibat proses ini akan sangat membantu dalam
mengidentifikasi genentik dari batuan yang terbentuk.
Produk dari lingkungan pengendapan ini tersusun atas 2 anggota fasies karbonat yang
mengalami diagenesis, yaitu: fasies karst dan fasies soil. Kedua fasies tersebut terbentuk akibat
proses ekpos ke daratan. Salah satu proses penting lainnya pada fasies soil ialah proses litifikasi.
Sebagai geologist yang mempelajari batuan, maka ada beberapa alasan penting yang harus
dipahami dari lingkungan ini:
1. Subaerial Expossure memberikan informasi penting mengenai suatu peristiwa yang harus
diuraikan pada kurun waktu geologi suatu daerah
2. Dapat digunakan sebagai marker untuk melakukan korelasi
3. Kepentingan ekonomis, yaitu tempat terakumulasinya sumberdaya alam termasuk minyak,
gas, water traps sebagai batuan penutup di atas batuan reservoir
Secara umum, ada beberapa fasies lingkungan pengendapan dari daerah transisi hingga ke
pantai, yaitu:
- Submarine exposure surface
- Coastal exposure surface
- Subaerial exposure
Pertimbangan ekonomis pada daerah ini sangat berkaitan dengan ekplorasi minyak dan
gas bumi. Pada tahun 1972, berkembang teori yang menjelaskan bahwa sistem minyak dan gas
bumi berasosiasi dengan ketidakselarasan. Ketidakselarasan tersebut berhubungan dengan
proses-proses diagenesis dan juga efek dari prosessubaerial exposure.

1)
2)
3)
4)

Lakustrin
Batuan yang terbentuk dari sistem lingkungan pengendapan lakustrin sudah banyak
dikenal di dunia dan menjadi target dan derah yang berpotensi untuk ekplorasi hidrokarbon. Pada
umumnya, batuan karbonat lakustrin mengandung sistem air tawar dan memiliki sifat basa atau
dalam kondisi garam. Fasies lakustrin ini memiliki sifat kimia dan fisika yang berbeda-beda
karena pengaruh dari hidrologi cekungan yang berkembang di tempat tersebut.
Kenampakan struktur sedimen dan penyebaran fossil yang ada akan mencerminkan
karakteristiknya, karena keunikan dari sistem lakustrin ini.
Ada empat komponen penting yang perlu diperhatikan:
Material detrital
Silica biogenik
Material organic
Mineral-mineral karbonat

Dari keempat faktor tersebut ketika suatu komponen melimpah maka tiga lainnya akan
berkurang. Akibat dari peristiwa tersebut, ketika kandungan material orgaik berkurang, lalu
diikuti oleh pengurangan klastika, dan juga silika biogenic, maka kandungan mineral karbonat
akan bertambah, dalam hal ini CaCO3 yang dapat dikandunga bisa mencapai lebih dari 50%.
Sumber utamanya dalam batuan sedimen adalah endapan karbonat anorganik, peningkatan
fotosintesis, karbonat biogenic yang mengandung debris dari suatu tumbuhan calcareous, dan
material allochtonous.
Pertimbangan ekonomis dari daerah ini adalah kegunaanya dalam memahami
karakteristik batuan sumber dari suatu sistem minyak dan gas bumi. Karena fasies daerah
lakustrin ini ditemukan pada unit stratigrafi yang mengandung minyak dan gas cukup berlimpah.
Eolian
Secara umum, banyak material eolian karbonat yang terendapakan pada daerah gumuk
pantai hingga ke arah pantai dengan energi yang cukup tinggi dan memiliki iklim hangat. Hal
tersebut dapat menjadi tempat akumulasi material sedimen karbonatan. Tekstur yang bisa
dijumpai di daerah ini akan memiliki sortasi yang baik,cross-stratified clastic limestone yang
berkomposisikan butiran-butiran karbonat berukuran pasir.
Gumuk karbonat dan batugamping eolian akan sangat mungkin memiliki pola
penyebaran yang luas. Namun hal tersebut terbatas pada daerah yang memiliki iklim hangat dan
berada di dekat pantai. Gumuk karbonat ini jarang dijumpai pada daerah gurun, namun dapat
berkembang secara setempat seperti pada kipas alluvial yang sumbernya merupakan sedimen
kaya akan karbonat.
Tidal Flat
Lingkungan pengendapan tidal flat ini merupakan suatu sistem yang terintegrasi. Semua
sistem tidal flat, kecuali pada daerah yang didominasi oleh pengaruh angin, akan memiliki tiga
dasar lingkungan penegendapan, yaitu: supratidal, intertidal, dan subtidal. Di dalam lingkungan
tersebut, akan terbagi lagi menjadi beberapa sub lingkungan pengendapan.
Daerah Supratidal
Berada pada kondisi kontak langsung dengan udara atau dalam kondisi subaerial.
Umumnya hanya terdapat pada beberapa musim tertentu. Lingkungan ini memiliki struktur
sedimen seperti laminasi, mudcrack, struktur ganggang, struktur mata burung, stuktur fenestral,
Intraklas, dan klastika tanah.
Daerah Intertidal
Berada di atas pasang surut normal dan pasang surut rendah. Daerah ini dapat terekspos
sekali hingga dua kali dalam sehari tergantung pada rezim pasang surutnya dan kondisi angin
local.
Daerah Subtidal
Lingkungan ini jarang sekali ditemui. Jika ada pun pasti terekpos terhadap udara.
Porositas dan permeabilitas pada sistem tidal flat ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan
antara fasies yang satu dengan yang lainnya. Porositas dan permeabilitas akan berkembang
dengan baik pada daerah subtidal hingga ke intertidal.

Pantai
Kebanyakan suatu strata batuan karbonat terendapakan pada suatu keadaan yang hangat,
laut dangkal, paparan laut, dan pada periode regressif dibandingkan dengan sedimentasi pada
saat trasgresi. Daerah panatai merupakan daerah yang didominasi oleh gelombang yang tersusun
oleh sedimen lepas, yang karakter bagian dalamnya akan dipengaruhi oleh aktivitas pasang
surutnya air laut atau longshore current.lingkungan pengendapan pantai akan memiliki energy
yang tinggi dan memiliki kenampakan yang khusus. Struktur sedimen yang dapat ditemui seperti
perlapisan akresi planar yang terekam pada saat pola progradasi.
Endapan karbonat pantai akan terdiagenesis ketika proses pegendapannya telah berakhir.
Hasil proses diagenesis pada lingkungan pantai ini akan memiliki suatu kenampakan khusus
yang nantinya akan menjadi penciri lingkungan pantai. Proses diagenesa tersebut adalah
sementasi penecontemporaneus yang berasosiasi dengan lingkungan foreshore.
Shelf
Lingkungan pengendapan shelf memiliki beberapa ciri seperti energy yang rendah, dan
berada pada laut dangkal, Kenampakan burrow akan banyak dijumpai.
Porositas batuan yang akan terbentuk pada lingkungan ini akan memiliki kualitas yang
rendah. Hal tersebut dikarenakan kandungan lumpur karbonat yang bisa mencapai 65-75% (Enos
dan Sawatsky, 1981 dalam Scholle et al, 1984).

1.
2.
3.
4.

Middle Shelf
Secara tektonik, daerah ini berkembang pada blok-blok kratonik dan cekungan intrakratonik.
Ada beberapa kriteria yang dimiliki oleh lingkungan pengendapan ini, yaitu:
Terdapat biota laut
Tekstur batuan karbonat yang ada sangat kaya akan lumpur (mud), umumnya adalah wackestone
hingga packstone
Struktur sedimen berlapis akan sangat sering dijumpai dengan lensa-lensa. Lapisan shale tipis
akan bisa terdapat sebagai sisipan
Struktur sedimen lainnya yang dapat terbentuk seperti bioturbasi, burrow, perlapisan nodular,
dan flasher.
Terumbu
Terumbu berkembang pada seafloor yang memiliki sistem sedimentasinya sendiri. Terumbu ini
terbentuk dari kumpulan organisme, dan juga fossil. Tidak seperti endapan material sedimen,
daerah terumbu tidak sepenuhnya merupakan produk dari hasil mekanisme secara mekanik.
Terumbu ini tersusun oleh beberapa komponen seperti inti terumbu (reef core), flank,
dan interreef. Salah satu contoh fosil terumbu yang ada adalah stromatolit yang terbentuk pada
zaman Precambrian hingga awal Paleozoik yang dulunya merupakan metazoan herbivore. Pada
kurun waktu sekarang, tidak ada stromatolit yang ada pada daerah samudra modern.