Anda di halaman 1dari 502

BUKU AJAR

ANAK
Edisi Kedua

Penyunting

Arwin AP Akib
Zakiudin Munasir
Nia Kurniati
lkatan Dokter Anak Indonesia
Jakarta, 2008

Perpustakaan Nasional : Katalog dalam Terbitan (KDT)


BUKU AJAR Alergi-lmunologi Anak, edisi kedua, penyunting,
Arwin AP Akib, Zakiudin Munasir, Nia Kurniati
Jakarta: lkatan Dokter Anak Indonesia, 2007
500 halaman 2,3crn
ISBN 979-8421-03-5
1. Kedokteran-Alergi
I. Akib, Arwin AP
II. Munasir, Zakiudin
Ill. Kurniati, Nia

Seiring dengan penelitian terbaru dan meluasnya pengalamanklinisterdapat perubahan


dalam ilrnu kedokteran, terutama dalam ha1 tatalaksana. Buku ini ditulis dengan
sebenar-benarnya sesuai dengan perkernbangan ilmu kedokteran saat buku ditulis.
Pembaca diharapkan selalu memperbaharui perkembangan ilmu, terutama dalarn
obat terbaru, seperti dosis terbaru, metode pernberian dan durasi serta kontraindikasi.
1 Penentuan dosis dan terapi yang tepat terhadap tiap individu menjadi tanggung
jawab .masing-masing dokter dengan mengandalkan keilmuan dan pengalamannya.
Penerbit dan penulis tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan pada seseorang
atas penerbitan buku ini.

Hak pengarang dilindungi undang-undang.


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa seizin Penyunting dan Penerbit

llustrasi gambar kornputer : Sjawitri P Siregar, Ratih D Palupi, Mazdar Helrny

Diterbitkan pertama kali tahun 1996

Edisi 11, Cetakan Kedua ZOO8

Penerbit : Balai Penerbit IDA1


SAM BUTAN
KETUA PENGURUS PUSAT
IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA

Assalamualaikum wr. wb

P
uji dan syukur kanli panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya
maka Buku Ajar Alergi-Imunologi Anak ini dapat diterbitkan. Buku ini merupakan
hasil karya anggota Unit Kerja Koordinasi Alergi-Imunologi Ikatan Dokter Anak
Indonesia dan diharapkan dapat dipakai sebagai acuan bidang alergi-imunologi anak di
semua pusat pendidikan Dokter Spesialis Anak.
Buku acuan untuk alergi-imunologi, terutama yang bersangkutan dengan ilmu
kesehatan anak masih cukup sulit dan jarang didapat, apalagi dalam bahasa Indonesia.
Dengan terbitnya buku ini yang berisi pengetahuan dasar imunologi serta berbagai kelainan
klinis pada anak maka diharapkan para peserta program studi Ilmu Kesehatan Anak dapat
lebih mudah memahami berbagai masalah di bidang alergi-imunologiyang dihadapi dalam
menlenuhi objektif pendidikannya. Demikian pula bagi dokter sepesialis anak, serta untuk
menambah khasanah ilmunya dalam rangka pendidikan kedokteran berkelanjutan serta
meningkatkan kemampuan profesionalnya untuk menghadapi era globalisasi di masa yang
akan dating.
Akhirnya saya ingin menyampaikan penghargaan kepada para penulis yang telah
bersusah payah memberikan pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga dalam
buku ini, dan juga kepada para penyunting karena berkat ketekunan kerja inereka maka
buku ini dapat diterbitkan.

Harapan kami mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua

Wassalamualaikum wr. wb.


Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia

dr. Sukman Tulus Putra, Sp.A(K), FACC,FESC


KATA PENGANTAR
EDISI PERTAMA

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat yang telah
dilimpahkan-Nya dalam membimbing kami menyelesaikan dan menerbitkan Buku Ajar
Alergi-Imunologi Anak ini.
Buku ini diterbitkan dengan tujuan untuk menambah perbendaharaan buku ajar
di bidang ilmu kesehatan anak pada umumnya dan bidang alergi-imunologi anak pada
khususnya. Sasaran utama buku ini adalah Peserta Program Studi llmu Kesehatan Anak,
tetapi dapat juga ia dipakai oleh dokter spesialis anak yang ingin memperluas wawasannya di
bidang alergi-imunologi.Sejalan dengan kemajuan teknologi dalam bidang ilmu kedokteran
pada akhir-akhir ini, pengetahuan di bidang alergi-imunologi pun maju dengan pesat,
terutama mengenai dasar-dasar bidang ini. Karena itu buku ini membahas imunologi dasar,
irnunitas dan imunopatologi, imunologi klinis, terapi dasar penyakit alergi, dan pemeriksaan
penunjang.
Para penulis adalah anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi-Imunologi Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima
kasih kepada para penulis dan seluruh anggota UKK Alergi-lmunologi IDAI yang telah
menyediakan waktu mereka yang sangat berharga untuk menyelesaikan buku ini.

Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua

Penyunting
KATA PENCANTAR
EDlSl KEDUA

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat yang telah
dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan dan menerbitkan Buku Ajar
Alergi-ImunologiAnak edisi kedua, cetakan kedua.
Buku Ajar Alergi-Imunologi Anak edisi kedua ini merupakan revisi terhadap edisi
pertama dan terdapat beberapa tambahan ilmu mengenai alergi-imunologi anak. Hal ini
penting dilakukan mengingat pesamya perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang
alergi-imunologi.
Para penulis pada buku edisi kedua ini adalah penulis pada buku edisi pertama
ditambah para penulis baru yang semuanya adalah anggota Unit Keja Koordinasi (UKK)
Alergi-Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Salah satu penyunting buku ajar
ini yaitu Prof. dr. Corry S. Matondang, Sp.A(K) telah mendahului kita, sehingga digantikan
oleh dua penyunting baru, yaitu dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K) dan dr. Nia Kumiati, Sp.A.
Semoga jasa almarhumah mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Pada kesempatan ini kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penulisan dan penerbitan Buku Ajar Alergi-Imunologiedisi kedua
ini. Edisi kedua ini dicetak ulang atas perrnintaan banyak pihak, karena cetakan pertama
edisi kedua sudah habis terjual.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya dalam melakukan
tatalaksana alergi-imunologi pada anak, yang pada saat ini dituntut untuk lebih
profesional.

Penyunting
DAFTAR PENULIS
Ariyanto Harsono Julius Roma
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Laboratoriunl Ilmu Kesehatan Anak
FKUN/RSUD Dr. Soetomo FKUNHASMU Ujung Pandang
Surabaya Ujung Pandang
Arwin Ali Purbaya Akib Martani Widjajanti Rakun
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUImSUP Dr. Cipto Mangunkusumo RSAB Harapan Kita
Jakarta Jakarta
Budi Setiabudiawan. Myrna Soepriadi
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak
FKUNPAD/RSU Dr. Hasan Sadikin FKUNPADIRSU Dr. Hasan Sadikin
Bandung Bandung
Cahya Dewi Satria Nia Kurniati
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUGM/RSUP Dr. Sardjito FKUI/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo
Yogyakarta Jakarta
Cony Siahaan Matondang Oscar Rahrnan
Profesor Ilmu Kesehatan Anak Laboratoriuill Ilrnu Kesehatan Anak
FKUIJRSUP Dr. Cipto Mangunkusumo FKUNPADKSU Dr. Hasan Sadikin
Jakarta Bandung
Diantje Sondakh Takumangsang Sumadiono
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUNSRAT/RSU Gunung Wenang FKUGMKSUP Dr. Sardjito
Manado Yogyakarta
Esti Mulyaning Dadi Suyoko Sjawitri Pane Siregar
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUI/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo FKUI/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta Jakarta
Harsoyo Notoatmojo Zakiudin Munasir
Profesor Ilmu Kesehatan Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUNDIP/RSU Dr. Karyadi FKUI/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo
Semarang Jakarta
Hendra Santoso
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak
FKUNUD/RSU Sanglah
Denpasar
DAFTAR SINGKATAN

AAS : Asam asetil salisilat


Ab : Antibodi
ADCC : Antibody dependent cell mediated cytotoxicity
ADS : Antidiphtheria serum
AIDS : Acquired immunodeficiency syndrome
AMP : Adenosine monophosphate
ANA : Antinuclear antibody
ANF : Antinuclear factor
APC : Antigen presenting cell
ARA : American Rheumatic Association
AN : Artritis rheumatoid juvenil
AS1 : Air Susu Ibu
ATS : Anti tetanus serum
BAL : Bronchoalveolar lavage
BCG : Bacil Calmette-Guerin
BDP : Beclomethason dipropionate
BSF : B cell stimulating factor
C : Complement (Komplemen)
CAMP : Cyclic adenosine monophosphae
CD : Cluster of differentiation
CD3 : Marker antigenik pada sel T yang berasosiasi dengan reseptor T
CD4 : Marker antigenik sel T penolong/induksi (= OKT 4=T 4= Leu 3)
CD8 : Marker antigenik sel T supresor/sitotoksik (=OKT 8=T 8 = Leu 2)
CDC : Center for Disease Control
CFU : Colony forming unit (unit pembentuk koloni)
CFU,GM : Colony forming unit granulocyte-macrophage (unit pembentuk koloni
granulosit-makrofag)
CFU-M : Colony forming unit macrophage (unit pembentuk koloni makrofag)
CGMP : Cyclic guanosine monophosphate
CH : Domain konstan rantai H
CL : Domain konstan rantai L
CMI : Cell mediated immunity (imunitas yang diperantai sel)
Con A : Concanavalin A
CPK : Creatine phosphokinase
CW : C-reactive protein
CSF : Colony stimulating factor (faktor stimulasi koloni)
DA : Dermatitis atopik
DH : Daerah diversitas gen rantai H immunoglobulin

vii
DNA : Deoxy ribonucleic acid
DNCB : 2-4 dinitrochloro benzene
DQ : Alel kelas I1 MHC
DR : Lokus D yang berhubungan dengan HLA manusia
EAR : Early asthmatic reaction (reaksi asma fase dini)
EBP : Eosinophilic basic protein (protein dasar eosinopil)
ECF-A : Eosinophil chemotactic factor of anaphylaxis (faktor kemotaktik eosinofil
anafilaksis)
EDN : Eosinophil derived neurotoxin (neurotoxin yang berasal dari eosinofil)
EDP : Eosinophil derived protein (protein yang berasal dari eosinofil)
EIA : Exercise induced asthma (asma yang diinduksi latihan)
EKG : Elektrokardiografi
ELISA : Enzyme linked immunosorbent assay
EPO : Eosinophil peroksidase
Fab : Fragmen immunoglobulin pengikat antigen
FAB : Faktor aktivasi sel B
Fc : Fragmen immunoglobulin yang dapat dikristalkan
FcR : Reseptor Fc IgE
FEF : Forced expiratory flow (aliran paksa ekspirasi)
FEV 1 : Flow expiratory volume in one second (volume aliran ekspirasi dalam
satu detik)
FMLP : Formyl methionyl leucocyte phenylalanine
FPB : Faktor pertumbuhan sel B
GALT : Gut associated lymphoid tissue
G-CSF : Granulocyte colony stimulating factor (faktor stimulasi koloni
granulosit)
GM-CSF : Granulocyte macrophage colony stimulating factor (faktor stimulasi
koloni granulosit makrofag)
gP 120 : Glikoprotein dengan berat molekul 120 kd
HIV : Human Immunodeficiencyvirus
HLA : Human Leukocyte antigen
HMP : Hexose monophosphate
ICAM : Intercellular adhesion molecule (molekul adhesi interselular)
IFNa : Interferon alfa
INFP : Interferon beta
IFNY : Interferon gama
Ig : Imonoglobulin
IL : Interleukin
Ir gene : Immune response gene (gen respons imun)
JH : Segmen penggabungan bagian variable dan diversitas rantai berat
H Immunoglobulin
: Keluarga berencana

viii
LAR : Late asthnlatic reaction (reaksi asma fase lambat)
LDH : Lactic dehydrogenase
LED : Laju endap darah
LES : Lupus eritematosis sistemik
LFAI : Limphocyte fuctional antigen 1
LPS : Lipopolisakarida
LTB 4 : Leukotrien B4
LTC 4 : Leukotrien C4
LTD 4 : Leukotrien D4
LTE 4 : Leukotrien L4
MAF : Macrophage activating factor (faktor aktivasi makrofag)
MBP : Major basic protein
MCAF : Monocyte chenlotactic activating factor (faktor aktivasi kemotaktik
monosit)
MCSF : Macrophage colony stimulating factor (faktor stimulasi koloni
makrofag)
MDP : Muramil dipeptid
MGF : Macrophage growth factor (faktor pertumbuhan makrofag)
MHC I : Kompleks hiitokompatibilitas mayor kelas I
MHC I1 : Kompleks histokompatibilitas mayor kelas I1
MIF : Macrophage inhibiting factor (faktor inhibisi makrofag)
MPO : Mieloperoksidase
MPS : Mononuclear phagocyte system (sistem fagosit mononuklear)
NADH : Nicotinamide adenine dinucleotide
NADPH : Nicotinamide adenine dinucleotide phosphate

NBT : Nitroblue tetrazolium


NCF : Neutrophil chemotactic factor (faktor kemotaktik neutrofil)
NCFA : Neutrophil chemocactic of anaphylaxis (kemotaktik neutrofil pada
anafilaksis)
NET : Nekrolsis epidermolisis toksik
NGF : Nerve growth factor (faktor pertumbuhan saraf)
NK : Natural killer
NSAID : Non steroidal anti-inflammatory drugs (obat antiinflamasi nonsteroid)
PAF : Platelet activating factor (faktor aktivasi trombosit)
PEFR : Peak expiratory flow rate (arus pincak ekspirasi)
PGDZ : Prostaglandin D2
PGEZ : Prostaglandin E2
PGFZ : Prostaglandin F2
PHA : Phytohaemagglutinin
PMN : Polimorfonudear
PRIST : Paper radio immunosorbent test
RANTES : Regulated upon activation normal T expressed
RAST . :. Radio allergosorbent test
RES : Reticuloendotheilial system (sistem retikuloendotel)
RF : Rheumatoid factor (faktor rheumatoid)
RFC : Rosette forming cell (sel pembentuk roset)
RNA : Ribonucleic acid (asam ribonukleat)
SCF : Stem cell factor (faktor sel stem)
SCID : Severe combined immunodeficiency disease (penyakit defisiensi imun
gabungan yang berat)
SCOT : Serum glutamic-oxaloacetic transaminase
SGFT : Serum glutamic-pyruvic transaminase
SLN : Sindrom lupus nefritis
SSA : Antibodi terhadap RNA pada sindrom Sjogren
SSB : Antibodi terhadap RNA pada sindrom Sjogren
SSJ : Sindrom Stevens-Johnson
SRSA : Slow reacting substance of anaphylaxis (substansi reaksi lambat pada
anafilaksis)
Tc : T cytotoxic = sel limfosit T sitotosik
TCR : T Cell Receptor (Reseptor antigen sel Limfosit T)
TD : T Delayed Hypersensitivity (Sel limfosit T yang berfungsi pada reaksi tipe
lambat)
TD : T dependent antigen = antigen yang berganrung sel T
TCGF : T cell growth factor = IL2 (faktor pertumbuhan sel T)
TGF : Transforming growth factor (faktor ~ertumbuhan transformasi)
Th : T helper = sel limfosit T penolong
TI : T independent antigen = yang tidak bergantung sel T
TXA2 : Tromboksan A2
VH : Domain variable rantai H

WHO : World Health Organization (Organisasi Kesehatan Dunia)


DAFTAR IS1

Sambutan Ketua Pengurus Pusat IDA1 ................................................................ iii


Kata Pengantar Edisi Pertama .............................................................................. iv
Kata Pengantar Edisi Kedua ................................................................................. v
Daftar Penulis ...................................................................................................... vi
Daftar Singkatan .................................................................................................. viii
Daftar Isi ............................................................................................................. xii
Halaman foto berwarna ....................................................................................... xv

BAGIAN I. IMUNOLOGI DASAR


BAB 1. Sejarah Imunologi ................................................................. 3
Cony S Matondang
BAB 2. Perkembangan Sistem Imun .................................................. 7
Cony S Matondang
BAB 3. Respons Imun ....................................................................... 9
Cony S Matondang
BAB 4. Imunitas Non Spesifik .......................................................... 19
Zakiudin Munasir, Nia Kumiati
BAB 5. Sistem Komplemen ............................................................... 26
EM Dadi Suyoko
BAB 6. Sistem Fagosit ....................................................................... 39
Sjawitri P Siregar
BAB 7. Penangkapan dan Presentasi Antigen .......................................... 51
Zakiudin Munasir, Nia Kumiati
BAB 8. Kompleks Histokompatibilitas Mayor ................................... 59
Arwin AP Akib
BAB 9. hunitas Humoral ................................................................ 66
Sjawit~i P Siregar
BAB 10. Imunitas Selular .................................................................... 78
Cowy S Matondang, Zakiudin Munasir
BAB 11. Imunologi Mukosa ................................................................ 94
Sumadiono

BAGIAN II. IMUNITAS DAN IMUNOPATOLOGI


BAB 12. Reaksi Hipersensitivitas ........................................................115
Zakiudin Munasir, EM Dadi Suyoko
BAB 13. Mekanisme Imun Penyakit Infeksi ........................................132
. G~~ S Matondang, Harsoyo Notoatmojo, Nia Kumiati
BAB 14. Aspek Imunologi Imunisasi ...................................................154
Cony S Matondang, Harsoyo Notoatmojo
BAB 15. Autoimunitas ..................................................................... 160
Arwin AP Akib
BAB 16. Irnunomodulasi .....................................................................176
Ariyanto Harsono
BAB 17. Aspek Imunologi Air Susu Ibu ..............................................189
Cony S Matondang, Zakiudin Munasir, Sumadiono

BAGIAN Ill IMUNOLOGI KLlNlS


BAB 18. Anafilaksis ............................................................................ 205
Oscm Rachman, Myrna Soepriadi, Budi Setiabudiawan
BAB 19. Urtikaria-Angioedema........................................................... 224
COWS Matondang, Myrna Soepriyadi, Budi Setiabudiawan
BAB 20. Dermatitis Atopik ..................................................................234
Hendra Santosa
BAB 21. Rinitis Alergik .......................................................................245
Zakiudin Munasir, Martani Widjajanti Rakun
BAB 22. Asma Bronkial ......................................................................252
Hendra Santosa
BAB 23. Penyakit Alergi pada Konyungtiva d a i Kornea ...................... 266
Sjawitn P Siregar
BAB 24. Alergi Makanan ....................................................................269
Ariyanto Harsono
BAB 25. Alergi Susu Sapi .....................................................................284
Zakiudin Munasir, Sjawitri P Siregar

xii
BAB 26. Alergi Obat ............................................................................ 294
Arwin AP Akib, Diantje S Takumansang
Sumadiono, Cahya Dewi Satria
BAB 27. Sindrom Stevens. Johnson ..................................................... 307
Arwin AP Akib, Diantje S Takumansang
BAB 28. Penyakit Defisiensi Imun .......................................................312
Arwin AP Akib, Iulius Roma, Nia Kumiati
BAB 29. Artritis Reumatoid Juvenil .................................................... 332
Arwin AP Akib
BAB 30. Lupus Eritematosus Sistemik .................................................345
Arwin AP Akib, Myma Soepriadi, Budi Setiabudinwan
BAB 3 1. Purpura Henoch-Schonlein ................................................... 373
Cony S Matondang, Iuliw Roma
BAB 32. Infeksi HIV pada Bayi dan Anak ........................................... 378
Cony S Matondang, Nia Kumiati

BAGIAN IV. TERAPI DASAR PENYAKIT ALERGI


BAB 33. Kontrol Lingkungan dan Makanan ........................................ 415
Ariyanto Harsono
BAB 34. Medikamentosa .................................................................419
EM Dadi Suyoko, Zakiudin Munasir
BAB 35. Imunoterapi .....................................
. .
, ................. 436
EM Dadi Suyoko
BAB 36. Pemeriksaan Penunjang Klinis ..............................................443
1. UJI KULIT TERKADAP ALERGEN ............................... 443
Zakiudin Munasir
2. UJI FUNGSI PARU ..........................................................446
Zakiudin Munasir
3. UJI PROVOKASI BRONKIAL ........................................448
Zakiudin Munasir
4. UJIPROVOKASI OBAT ................................................. 45 1
Arwin AP Akib
5. UJI PROVOKASI MAKANAN ........................................ 454
Ariy anto Harsono

xiii
.
6 UJI ELUlINASI DAN PROVOKASI SUSU SAP1 ........... 459
Zakidin Munasir
.
7 UJI KULIT WELAMBAT .............................................461
EM Dadi Suyoko
BAB 37. Pemeriksaan Laboratorium ....................................................
463
Zakiudin Munasir
PENJURUS ..........................................................................................
479
Lampiran ..............................................................................................483

xiv
BAGIAN I
IMUNOLOGI DASAR
Bagian ini mengemukakan sejarah imunologi, perkembangan sistem
imun serta respons imun dan sistem kekebalan tubuh manusia. Pokok
bahasan utama adalah tentang mekanisme kerja sistem imun spesifik
dan nonspesifik yang merupakan keharusan untuk pemahaman masalah
imunologi selanjutnya.
Sejara h Imunologi
Corry S Matondang

P
ada mulanya imunologi merupakan cabang mikrobiologi yang mempelajari'respons
tubuh, terutama respons kekebalan, terhadap penyakit infeksi. Pada tahun 1546,
Girolamo Fracastoro mengajukan teon kontagion yang menyatakan bahwa pada
penyakit infeksi terdapat suatu zat yang dapat memindahkan penyakit tersebut dari satu
. individu ke individu lain, tetapi zat tersebut sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan
mata dan pada waktu itu belum dapat diidentifikasi.
Pada tahun 1798, Edward Jenner mengamati bahwa seseorang dapat terhindar dari
infeksi variola secara alamiah, bila ia telah terpajan sebelumnya dengan cacar sapi (cow
pox). Sejak saat itu, mulai dipakailahvaksin cacas walaupun pada waktu itu belum diketahui
bagaimana mekanisme yang sebenarnya terjadi. Memang imunologi tidak akan maju bila
tidak diiringi dengan kemajuan dalam bidang teknologi, terutama teknologi kedokteran.
Dengan ditemukannya mikroskop maka kemajuan dalam bidang mikrobiologi meningkat
dan mulai dapat ditelusuri penyebab penyakit infeksi. Penelitian ilmiah mengenai imunologi
baru dimulai setelah Louis Pasteur pada tahun 1880 menemukan penyebab penyakit infeksi
dan dapat menlbiak mikroorganisme serta menetapkan teori kuman (gem theory) penyakit.
Penemuan ini kemudian dilanjutkan dengan diperolehnya vaksinrabies pada manusia tahun
1885. Hasil karya Pasteur ini kemudian merupakan dasar perkembangan vaksin selanjutnya
dan merupakan pencapaian gemilang di bidang imunologi yang memberi dampak positif
pada penurunan morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi pada anak.
Pada tahun 1880, Robert Koch menemukan kuman penyebab penyakit tuberkulosis.
Dalam rangka mencari vaksin terhadap tuberkulosis ini, ia mengamati adanya reaksi
tuberkulin (1891) yang merupakan reaksi hipersensitivitas lambat pada kulit terhadap
kuman tuberkulosis. Reaksi tuberkulin ini kemudian oleh Mantoux (1908) dipakqi untuk
mendiagnosispenyakit tuberkulosis pada anak. Imunologi mulai dipakai untuk menegakkan
diagnosis penyakit pada anak. Vaksin terhadap tuberkulosis ditemukan pada tahun 1921
oleh Calmette dan Guerin yang dikenal dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
.Kemudian diketahui bahwa tidak hanya mikroorganisme hidup yang dapat menimbulkan
kekebalan, bahan yang tidak hidup pun dapat mengnduksi kekebalan.
Setelah Roux dan Yersin menemukan toksin difteri pada tahun 1885, Von Behring
dan Kitasato menemukan antitoksin difteri pada binatang (1890). Sejak itu dimulailah

Sejarah lmunologi 3
pengobatan dengan serum kebal yang diperoleh dari kuda dan imunologi diterapkan dalam
pengobatan penyakit infeksi pada anak. Pengobatan dengan serum kebal ini di kenludian
hari berkembang menjadi pengobatan dengan imunoglobulin spesifik atau globulin gama
yang diperoleh dari manusia.
Dengan pemakaian serum kebal, muncullah secara klinis kelainan akibat pemberian
serum ini. Dua orang dokter anak, Clemens von Pirquet dari Austria dan Bela Shick dari
Hongaria melaporkan pada tahun 1905, bahwa anak yang mendapat suntikan serum kebal
berasal dari kuda terkadang menderita panas, pembesaran kelenjar, dan eritema yang
dinamakan penyakit serum (serum sickness). Selain itu peneliti Perancis, Charles Richet
dan Paul Portier (1901) menemukan bahwa reaksi kekebalan yang diharapkan timbul
dengan menyuntikkan zat toksin pada anjing tidak terjadi, bahkan yang terjadi adalah
keadaan sebaliknya yaitu kematian sehingga dinamakan dengan istilah anafilaksis (tanpa
pencegahan). Mulailah irnunologi dilibatkan dalam reaksi lain dari kekebalan akibat
pemberian toksin atau antitoksin. Clemens von Pirquet dari Austria (1906) memakai istilah
reaksi alergi untuk reaksi imunologi ini. Pada tahun 1873 Charles Blackley mempelajari
penyakit hay fewer, yaitu penyakit dengan gejala klinis konjungtivitis dan rinitis, serta
melihat bahwa ada hubungan antara penyakit ini dengan serbuk sari (pollen). Oleh Wolf
Eisner (1906) dan Meltzer (1910), penyakit ini dinamakan anafilaksis pada manusia (human
anaphykzxu).
Pada tahun 1911-1914, Noon dan Freeman mencoba mengobati penyakit hay fever
dengan cara terapi imun yaitu menyuntikkan serbuk sari subkutan sedikit demi sedikit.
Dasamya pada waktu itu dianggap bahwa serbuk sari mengeluarkan toksin, dengan
harapan agar terbentuk antitoksin netralisasi. Sejak itu cara tersebut masih dipakai untuk
mengobati penyakit alergi terhadap antigen tertentu yang dikenal dengan cara desensitisasi.
Akan tetapi mekanisme yang sekarang dianut adalah berdasarkan pembentukan antibodi
penghambat (blocking antibody).
Dengan penemuan reaksi tuberkulin, Schloss (1912) dan von Pirquet (1915)
melakukan uji gores (scratch test) pada kulit untuk diagnosis penyakit alergi pada anak.
Talbot (1914), seorang dokter anak, dengan uji gores melihat adanya hu- bungan antara
asma anak dengan telur. Cooke (1915) memodifikasi uji gores dengan uji intrakucan, dan
melaporkan juga bahwa faktor keturunan memegang peranan pada penyakit alergi. Pada
tahun 1913, Stiick juga memperkenalkan uji kulit untuk menentukan kepekaan seseorang
terhadap kuman difteri, sehingga makin banyak fenomena imun diterapkan dalam uji
diagnostik penyakit anak.
Pada tahun 1923, CookedanCoca mengajukan konsep atopi (strange disease) terhadap
sekumpulan penyakit alergi yang secara klinis mempunyai manifestasi sebagai hay fever,
asma, dermatitis, dan mempunyai predisposisi diturunkan. Mulailah ilmu alergi-imunologi
diterapkan dalam kelainan dan penelitian di bidang alergi klinis. Rackemann (1918)
melihat bahwa sebagian besar asma pada anak mempunyai dasar alergi dan dinamakan
asma tipe ekstrimik. Prausnitz dan Kustner (1921) menyatakan bahwa zat yang menimbulkan
sensitisasi kulit pada uji kulit dapat ditransfer melalui serum penderita. Memang pada

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


4
waktu itu i~lekanisnlealergi yarig tepat belum diketahui. Kini berkat penelitian yang telah
dilakukan, proses selular dan molekular yang terjadi pada penyakit alergi dapat dijabarkan.
Berbagai macam hentuk kelainan klinis berdasarkan reaksi alergi-imunologi makin banyak
ditemukan, terutanla dengall bertambah banyaknya obat yang dipakai untuk pengobatan
dan diagnosis penyakit.
Dengan ditemukannya komplemen oleh Bordet (1894), uji diagnostik yang memakai
fenomena i111unberkembang lagi dengan uji fiksasi komplemen (190 I), seperti pada penyakit
sifilis. Pada tahun 1896, Widal secara in vitro mendemonstrasikan bahwa serum penderita
denlam tifoid dapat mengaglutinasi basil tifoid.
Setelah Landsteiner (1900) menemukan golongan darah ABO, dan disusul dengan
golongan darah rhesus oleh Levine dan Stenson (1940) , maka kelainan klinis berdasarkan
reaksi imun semakin dikenal. Pada masa itu, fenomena imun yang tejadi baru dapat
dijabarkan denganistilah hunologi saja. Baru pada tahun 1939,141 tahunsetelah penemuan
Jenner, Tiselius dan Kabat menemukan secara elektroforesis bahwa antibodi terletak
dalam spektrum globulin gama yang kemudian dinamakan imunoglobulin (Ig). Dengan cara
imunoelektroforesis diketahui bahwa imunoglobulin terdiri atas 5 kelas yang diberi nama
IgA, IgG, IgM, IgD dan IgE (WHO, 1964), dan kemudian diketahui bahwa masing-masing
kelas tersebut menlpunyai subkelas. Pada tahun 1959 Porter dan Edelman menemukan
struktur imunoglobulin, dan tahun 1969 Edelman pertama kali melaporkan urutan asam
amino molekul imunoglobulin yang lengkap. Reagin, yaitu faktor yang dianggap berperan
pada penyakit alergi, baru ditemukan strukturnya oleh Kimishige dan Teneko Ishizaka
pada tahun 1967 dan merupakan kelas imunoglobulin E (IgE). Sekarang banyak penelitian
dilakukan mengenai regulasi sintesis IgE, dengan harapan dapat menerapkannya dalam
mengendalikan penyakit atopi.
Pada tahun 1883, Metchnikoff sebenamya telah mengatakan bahwa pertahanan
tubuh tidak saja diperankan oleh faktor humoral, tetapi leukosit juga bkrpefan dalam
pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Pada waktu itu peran leukosit baru dikenal
fungsi fagositosisnya. Beliaulah yang menemukan sel makrofag. Sekarang kita mengetahui
bahwa sel makrofag aktif berperan pada imunitas selular untuk eliminasi antigen. Baru pada
tahun 1964, Cooper dan Good dari penelitiannya pada ayam menyatakan bahwa sistem
limfosit terdiri atas 2 populasi, yaitu populasi yang perkembangannya bergantung'pada
timus dan dinamakan limfosit T, serta populasi yang perkembangannya bergantung pada
bursa fabriciw dan dinamakan limfosit B. Tetapi pada waktu itu belum dapat dibedakan
antara limfosit T dan limfosit B. Limfosit T berperan dalam hipersensitivitas lambat pada
kulit dan penolakan jaringan, sedangkan limfosit B dalam produksi antibodi.
Rranan mekanisme iinun pada reaksi penolakan jaringan sebenamya telah dilihat
oleh Medawar dan Burnet pada tahun 1944. Medawar melihat bahwa pada hewan kembar
dizigotik, jaringan kulit dari kembar yang satu dapat diterima oleh kembar yang lain. Pada
tahun 1953, Medawar juga menemukan adanya toleransi imunologik didapat, dengan
menlperkenalkan jaringan asing pada masa embrio. Kemudian Burnet menggambarkan
konsep toleransi yang menyatakan bahwa transplantasi jaringan antara individu yang secara

Sejarah lmunologi 5
genetik identik (singenik) akan diterima, sedangkan jaringan dari individu yang secara
genetik tidak identik (alogenik) akan ditolak. Beliau juga mengajukan teori seleksi klon
( c h e ) pada respons tubuh terhadap antigen tertentu. Semuanya ini kemudian merupakan
dasar untuk penatalaksanaan transplantasi jaringan.
Bertambahnya kelainanimunologiksecara klinis terlihatsejakBruton pada tahun 1952
melaporkan seorang anak umur 8 tahun dengan infeksi berulang yang ternyata kemudian
darahnya tidak mengandung globulin gama. Sejak itu makin bertambah laporan kelainan
klinis yang berdasarkan adanya defisiensi imun primer. Bahkan sekarang kita menghadapi
kelainan klinis dengan defisiensi imun tetapi yang bersifat sekunder akibat infeksi, penyakit
atau kekurangan gizi yang diderita. Penyakit infeksi human immunodefuiency virus (HIV)
yang merupakan penyakit pandemi yang sedang kita hadapi adalah salah satu contoh
defisiensi imun sekunder akibat infeksi yang diderita.
Kelainan klinis berdasarkan reaksi autoimun mulai banyak dikenal secara klinis.
Dengan ditemukannya antibodi monoklonal pada tahun 1975 oleh George, Kohler dan
Cesar Milstein, maka limfosit T dan limfosit B mulai dapat dibedakan melalui molekul
pada permukaan membran sel yang dinamakan petanda permukaan. Selanjutnya dengan
kemajuan di bidang biologi molekular, mekanisme pengenalan antigen yang sangat
kompleks oleh sel limfosit mulai dapat terungkap. Dengan pengetahuan ini, reaksi imun
yang te jadi pada patogenesis penyakit autoimun, termasuk juga penyakit infeksi, alergi, dan
-penolakan jaringan dapat dijabarkan secara molekular. Kelainan klinis yang menunjukkan
adanya defisiensi imun pun mulai dapat dijelaskan lebih terinci, sehingga penanganannya
menjadi lebih tepat. Pengetahuan mekanisme respons imun yang terinci ini selain dapat
dipakai untuk mendiagnosis penyakit alergi-imunologi, juga untuk mendiagnosis penyakit
autoimun dan keganasan sehingga penangangan yang tepat dapat dilaksanakan. Pengobatan
yang melibatkan regulasi sistem imun sekarang tidak hanya difokuskan pada regulasi ke
bawah (dom regulation) seperti pada pemakaian kortikosteroid dan sitotoksik,'tetapi juga
merespons imun dengan obat yang dapat memodifikasi respons biologik (biologic respome
modifiers) seperti sitokin, antara lain interferon dan interleukin.

DAFTAR PU STAKA
1. Bellanti A. Immunology 111. Philadelphia: WB Saunders Company, 1985.
2. Stites DP, Teer AI. Basic and clinical immunology. Nonvalk: Appleton & Lange, 1991.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Perkembangan Sistem Imun
-
Bab 2

Corry S Matondang

Evolusi perkembangan sistem imun dapat dianggap sebagai suatu sen respons adaptif
terhadap lingkungan yang berubah-ubah dan potensial rawan. Evolusi perkembangan
sistem imun yang ditinjau dari sudut keragaman berbagai macam spesies, dari spesies yang
paling primitif sampai yang paling berkembang yaitu manusia, dinamakan filogeni sistem
inlun. Pengaruh lingkungan yang rawan ini akan menimbulkan seleksi spesies yang paling
dapat beradaptasi terhadap lingkungan untuk bertahan hidup. Proses adaptasi inilah yang
merupakan dasar filogeni respons imun. .
.

Filogeni imunitas nonspesifik


Bentuk paling prirnitif dari imunitas nonspesifik adalah fagositosis. Pada organisme
uniselular fagositosis berperan sebagai fungsi nutritif, sedangkan pada organisme yang
lebih tinggi fagositosis berperan sebagai fungsi pertahanan. Pada invertebrata yang lebih
tinggi, sistem vaskular mulai terbentuk sehingga fagositosis tidak hanya dilakukan oleh yang
terfiksasi tetapi juga oleh sel yang beredar dalam sirkulasi. Pada manusia misalnya, 3 dari
5 leukosit yang beredar, yaitu sel monosit, sel polimorfonuklear dan sel eosinofil berperan
sebagai fagosit. Selain fagositosis, respons inflamasi juga merupakan pertahanan nonspesifik
yang sudah terlihat pada invertebrata primitif. Dengan evolusi, bentuk pertahanan ini tetap
dipertahankan dan ditambah dengan bentuk baru seperti sistem koagulasi, komplemen,
amplifikasi biologik, bahkan dengan bentuk pertahanan spesifik.

Filogeni imunitas spesifik


Adanya sistem imun spesifik sudah terlihat pada vertebrata primitif, misalnya seperti pada
hagfish.Pada vertebrata prirnitif ini sistem imunitas spesifik masih berbentuk sistem limfoid
yang tersebar, sedangkan pada vertebrata yang tinggi sistem ini sudah merupakan struktur
limfoid tersendiri. Pada vertebrata yang lebih rendah, antibodi yang dibentuk mempunyai
berat molekul tinggi yang analog dengan imunoglobulin M pada vertebrata yang leblh
tinggi. Imunitas selular juga sudah terlihat baik pada invertebrata maupun vertebrata
yang dapat terlihat dari penolakan jaringan transplantasi, tetapi pada invertebrata belum

Perkembangan Sistem lmun


7
terlihat adanya antibodi yang analog dengan irnunoglobulin. Semua vertebrata mempunyai
antibodi, rnenolak jaringan transplantasi dan memperlihatkan memori imunologik. Pada
manusia sistern imun sudah berkembang sedernikian rupa dengan berbagai macam subset
sel limfoid dan lirnfokin yang dihasilkannya. Selarna evolusi terjadi spesialisasi sel yang
berperan spesifik pada pertahanan tubuh dan spesialisasi ini didukung oleh lingkungan
mikro ternpat sel pendahulu berada, rnisalnya timus dan bursafabricius pada burung.
Urutan evolusi kelas irnunoglobulin paralel dengan proses pematangan pada individu.
Pada vertebrata primitif terlihat antibodi yang analog dengan inlunoglobulin M, dan pada
yang lebih tinggi tirnbul antibodi kedua yang analog dengan irnunoglobulin G, kernudian
diikuti antibodi yang analog dengan IgA. Sedangkan pada manusia terdapat 5 kelas
irnunoglobulin, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD dan IgE dengan masing-masing subkelasnya. Jadi
lingkungan merupakan faktor yang penting dalarn filogeni sistem irnun, baik lingkungan
makro rnaupun rnikro. Lingkungan mikro sangat penting pada perkembangan sistem imun
spesifik. Respons imun yang berkernbang sempurna adalah respons irnun dengan spesifisitas
dan rnemori imunologik.

ONTOGENI SISTEM IMUN


Ontogeni sistern irnun adalah proses perkembangan sistem imun ditinjau dari individu
yang sedang berkernbang (jadi bukan spesies), dari sel pendahulu sampai menjadi sel rnatur.
Pada manusia diperkirakan bahwa rnaturasi respons imun sudah dinzulai pada fetus pada
kehamilan 2-3 bulan. Perkembangan ditujukan pada diferensiasi fungsi imunologik sel
nonspesifik dan spesifik. Keduanya berasal dari populasi sel asal (stem cell) yaitu sel yang
mernpunyai kesanggupan untuk bereplikasi dan berdiferensiasi rnenjadi sel rnatur. Sel asal
pada ernbrio yang sedang berkembang terletak pada jaringan hematopoietik yolksac, pada
keharnilan 6 minggu di hati, dan mulai usia keharnilan 2 bulan serta selanjutnya pada surnsum
tulang. Pada keharnilan 3-5 bulan, lirnpa juga berperan sebagai jaringan hematopoietik.
Setelah bayi lahir, surnsurn tulang rnerupakan satu-satunya organ hernatopoietik. Bila
surnsurn tulang gagal, misalnya oleh karena suatu penyakit, nlaka hati dan lirnpa dapat
berfungsi sebagai hernatopoiesis ekstramedular.
Bergantung pada lingkungan rnikro maka sel akan berkembang melalui jalur
hernatopoietik dan lirnfopoietik. Yang melalui jalur hematopoietik akan berkernbang
menjadi sel eritrosit, granulosit, trombosit, dan rnonosit; sedangkan jalur limfopoietik
menjadi sel limfosit. Jadi lingkungan rnikro penting pada ontogeni sistem irnun.
Dengan mengetahui ontogeni sistem imun rnaka kita akan dapat menjelaskan
patogenesis beberapa penyakit defisiensi irnun yang kita jurnpai di klinik, terutarna defisiensi
imun kongenital.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bellanti A. Immunology 111. Philadelphia: WB Saunders Company, 1985.
2. Stites DP,Ten AI. Basic and clinical immunology, Nonvalk: Appleton & Lange 1991.

Buku Ajar Alergi lrnunologi Anak


8
Respons lmun

IMUNOGEN DAN ANTIGEN


Imunogen adalah zat yang mempunyai kesanggupan untuk merangsang respons imun spesifik
baik humoral, selular, ataupun keduanya, dan dapat bereaksi dengan produk respons
imun tersebut. Imunogen terutama adalah protein dan polisakarida, sedangkan lipid lebih
berperan sebagai hapten.
Antigen adalah zat yang dapat bereaksi dengan produk respons imun spesifik,
terutama antibodi. Oleh karena itu imunogen adalah antigen, tetapi tidak semua antigen
adalah imunogen. Antigen yang bukan imunogen adalah antigen yang tidak lengkap,
dinamakan juga hapten. Hapten adalah antigen yang mempunyai berat molekul rendah
(< 10.000 Dalton), karena itu ia tidak dapat merangsang respons imun spesifik, tetapi
dapat bereaksi dengan produk respons imun, misalnya antibodi. Ia baru dapat bersifat
imunogenik bila bergabung dengan molekul lain yang dinamakan carrier seperti albumin
globulin, atau polipeptida. Alergen adalah antigen yang dapat menginduksi terjadinya reaksi
hipersensitivitas atau alergi. Alergen dapat berupa hapten, atau dapat pula imunogen.
Deteminan antigen, disebut juga epitop, adalah bagian (daerah) antigen yang terpajan
aktif dan dapat bereaksi dengan produk respons imun spesifik. Kebanyakan antigen yang
kompleks mempunyai determinan antigen multipel pada permukaannya atau dinamakan
juga multivalen, seperti sel darah merah, bakteri, virus, dan jaringan. Oleh karena itu
dinamakan respons imun poliklonal.
Derajat imunogenesitas suatu imunogen tergantung pada keasingan, berat molekul,
dan sifat kompleks kimianya. Makin asing terhadap host, makin berat sifat imunogeniknya.
Makin besar berat molekulnya dan makin kompleks sifat kimianya akan makin kuat pula
sifat imunogeniknya.
Antigen autolog adalah antigen yang berasal dari host sendiri. Antigen ini biasanya
tidak akan merangsang respons imun host kembarannya. Antigen singenik adalah antigen
yang berasal dari individu yang secara genetik identik, misalnya kembar monozigot. Antigen
ini juga biasanya [idak menimbulkan respons imun pada host.

Respon lrnun
Antigen alogenik, disebut juga antigen homolog, adalah antigen yang berasal dari
individu lain dalam satu spesies. Antigen ini akan merangsang respons imun host. Antigen
xenogenik adalah antigen yang berasal dari individu dengan spesies yang berbeda, misalnya
dari monyet ke manusia. Antigen ini akan rnerangsang kuat respons imun host. Isoantigen
adalah aloantigen yang ada pada kelompok anggota tertentu pada spesies yang sama,
misalnya antigen A dan B dari golongan darah sel darah merah.
Antigen heterofil, dinamakan juga antigen heterogenetik, adalah antigen yang didapat
pada spesies berbeda, misalnya antigen yang ada pada permukaan sel darah merah biri-biri
dengan antigen yang ada pada pem~ukaanvirus Epstein-Barr, atau antigen yang ada pada
spiroketa penyebab sifilis dengan antigen yang ada pada otot jantung sapi. Jadi seseorang
yang terinfeksi virus Epstein-Barr akan membentuk antibodi yang secara in vitro akan
bereaksi dengan sel darah merah biri-bin, demikian pula seseorang yang terinfeksi spiroketa
sifilis akan membentuk antibodi yang secara in vitro bereaksi dengan sel otot jantung sapi.
Mitogen adalah zat yang dapat merangsang sel lilnfosit untuk berproliferasi, tecapi
bukan melalui reseptor antigen melainkan melalui reseptor mitogen. Contoh mitogen ialah
phytohaemaglutinin (PHA), concanavalin A (con-A) yang terutama merupakan nlitogen sel
T, sedangkan pokeweed merupakan mitogen sel B.
Superantigen adalah antigen yang merangsang sel T melalui ikatan dengan kompleks
peptida TCR-MHC APC (reseptor antigen sel T-nlolekul MHC kelas I1 pada sel yang
mempresentasikan antigen) pada rantai p TCR dan bagian molekul MHC kelas 11, jadi
bukan pada bagian ikatan reseptor antigen normal (konvensional) atau reseptor mitogen
(lihat Gambar 3-1).

\ MHCkelasII TCR 1 ~ 1

/ pep-
.'
-
- 4

Superantigen
Garnbar 3-1. lkatan superantigen dengan kompleks peptida TCR-MHC kelas II.
(Dikutip dengan rnodifikasi dari Sigal LH dan Ron Y, 1994)

Buku Ajar Alergl Imunolog~Anak


10

-- - .- - -- - -.
Tolerogen adalah antigen yang menginduksi toleransi, contohnya antigen din (self
antigen). Idiotip adalah determinan antigenik dari bagian variabel antibodi yaitu bagian
antibodi yang berikatan dengan antigen.

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH


Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap
antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan berbagai
macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang
saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme
pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik.
Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate,
atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk
satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak
bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan
pertahanan khusus untuk antigen tertentu.
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau
imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu
jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Bedanya dengan
pertahanan tubuh non spesifik adalah bahwa pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau
ditimbulkan terlebih dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan
pertahanan tubuh non spesifik sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen.

Mekanisme Pertahanan Non Spesifik


Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga respons
imun alamiah. Yang merupakan mekanisme pertahanan non spesifik tubuh kita adalah kulit
dengan kelenjamya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya
seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear)
dan komplemen merupakan komponen mekanisme pertahanan non spesifik.

Permukaan tubuh, mukosa dan kulit


Permukaan tubuh merupakan pertahanan pertanla terhadap penetrasi mikroorganisme. Bila
penetrasi mikroorganisme terjadi juga, maka mikroorganisme yang masuk akan berjumpa
dengan pelbagai elemen lain dari sistem imunitas alamiah.

Kelenjar dengan enzim dan silia yang ada pada mukosa dan kulit
Produk kelenjar menghambat penetrasi mikroorganisme, demikian pula silia pada mukosa.
Enzim seperti lisozim dapat pula merusak dinding sel mikroorganisme.

Komplemen dan makrofag


Jalur alternatif komplenlen dapat diaktivasi oleh berbagai macam bakteri secara langsung
sehingga eliminasi terjadi melalui proses lisis atau fagositosisoleh makrofag atau leukosit yang
distimulasi oleh opsonin dan zat kemotaktik, karena sel-sel ini mempunyai reseptor untuk
komponen komplemen (C3b) dan reseptor kemotaktik. Zat kemotaktik akan memanggil sel
monosit dari polimorfonuklear ke tempat mikroorganisme dan memfagositnya.

Protein fase akut


Protein fase akut adalah protein plasma yang dibentuk tubuh akibat adanya kerusakan
jaringan. Hati merupakan tempat utama sintesis protein fase akut. C-reactive protein (CRP)
merupakan salah satu protein fase akut. Dinamakan CRP oleh karena pertama kali protein
ini dikenal karena sifatnya yang dapat mengikat protein C dari pneumokok. Interaksi CRP
juga akan mengaktivasi komplemen jalur alternatif yang akan melisis antigen.

Sel 'natural killer' (NK) dan interferon


Sel NK adalah sel yang dapat membunuh sel yang dihuni virus atau sel tumor. Interferon
adalah zat yang diproduksi oleh sel leukosit dan sel yang terinfeksi virus, yang bersifat dapat
menghambat replikasi virus di dalam sel dan meningkatkan aktivasi sel NK.

IVlekanisme Pertahanan Spesifik


Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi rnikroorganisme maka imunitas
spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme pertahanan
yang diperankan oleh sel limfosit,dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya
seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme
pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat.
Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang
merupakanligannia (pasangannya). Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan
memori imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpajan lagi dengan antigen yang
sama di kemudian hari. Pada imunitas didapat, akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor
yang spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen.
Sel yang berperan dalam imunitas didapat ini adalah sel yang mempresentasikan
antigen (APC = antigenpresmtingcell = makrofag) sel limfosit T dansel limfosit B. Sel limfosit
T dan limfosit B masing-masing berperan pada inzunitas selular dan imunitas humoral. Sel
limfosit T akan meregulasi respons imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel
limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan nlemproduksi antibodi yang akan
menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta
meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses antibody
dependent cell mediated cytotoxiciq (ADCC).

lmunitas selular
Imunitas selular adalah imunitas yang diperankan oleh limfosit T dengan atau tanpa
bantuan komponen sistem imun lainnya. Limfosit T adalah limfosit yang berasal dari sel

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


12
pluripotensial yang pada embrio terdapat pada yolk sac; kemudian pada hati dan limpa,
lalu pada sumsum tulang. Dalam ~erkembangann~a sel pluripotensial yang akan menjadi
limfosit T memerlukan lingkungan timus untuk menjadi limfosit T matur. .

Di dalanl timus, sel prekusor limfosit T akan mengekspresikan molekul tertentu


pada pernlukaan membrannya yang akan menjadi ciri limfosit T. Molekul-molekul pada
permukaan membran ini dinamakan juga petanda permukaan atau surface marker, dandapat
dideteksi oleh antibodi nlonoklonal yang oleh WHO diberi nama dengan huruf CD, artinya
cluster of differentiation.Secara garis besar, linlfosit T yang meninggalkan timus dan masuk ke
darah perifer (limfosicT matur) terdiri atas limfosit T dengan petanda permukaan molekul
CD4 dan limfosit T dengan petanda permukaan molekul CD8. Sel limfosit CD4 sering juga
dinamakan sel T 4 dan sel limfosit CD8 dinamakan sel T8 (bila antibodi monoklonal yang
dipakai adalah keluaran Coulter Elektronics).
Di samping munculnya petanda permukaan, di dalam timus juga terjadi penataan
kembali gen (gene rearrangement) untuk nantinya dapat memproduksi molekul yang
merupakail reseptor antigen pada permukaan sel Iimfosit T (TCR). Jadi pada waktu
meninggalkan timus, setiap limfosit T sudah memperlihatkan reseptor terhadap antigen
diri (self antigen) biasanya mengalami aborsi dalam timus sehingga umumnya limfosit yang
keluar dari timus tidak bereaksi terhadap antigen diri.
Secara fungsional, sel limfosit T dibagi atas limfosit T memori dan limfosit T efektor.
Limfosit T memori terdiri atas limfosit CD4 memori dan limfosit CD8 memori. Sedangkan
limfosit T efektor terdiri atas limfosit T sitotoksik (Tc = CD8) yang melisis sel target, dan
limfosit T CD4 efekror yang akan mengaktivasi makrofag, sel B dan sel lainnya.

Pajanan antigen pada sel T


Umumnya antigen bersifat tergantung pada sel T (TD = T &pendent antigen), artinya
antigen akan mengaktifian sel inlunokompeten bila sel ini mendapat bantuan dari sel T h
melalui zat yang dilepaskan oleh sel T h aktif. T D adalah antigen yang kompleks seperti
bakteri, virus dan antigen yang bersifat hapten. Sedangkan antigen yang tidak tergantung
pada sel T (TI = T independent antigen) adalah antigen yang strukturnya sederhana dan
berulangulang, biasanya bermolekul besar.
Limfosit T h umumnya baru mengenal antigen bila dipresentasikan bersama molekul
produk MHC (major histocompatibilitycomplex) kelas I1yaitu molekul yang antara lain terdapat
pada membran sel makrofag. Setelah diproses oleh makrofag, antigen akan dipresentasikan
bersama molekul kelas I1 MHC kepada sel T h sehingga terjadi ikatan antara TCR dengan
antigen. Ikatan tersebut terjadi sede~nikianrupa dan menimbulkan aktivasi enzim dalam
sel limfosit T sehingga terjadi transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel T h
aktif dan sel T h memori. Sel T h aktif ini dapat merangsang sel Tc untuk mengenal antigen
dan mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel Tc memori dan
sel Tc aktif yang melisis sel target yang telah dihuni antigen. Sel Tc akan mengenal antigen
pada sel target bila berasosiasi dengan molekul MHC kelas I (lihat Gambar 3-2).
-, MHC keles
l atsu l

I Permukaan I
sel T sel target/APC

Garnbar 3-2.Ppngepalan antigen rnelalui asosiasi dengan rnolekul MHC kelas I dan kelas II pada sel T.
(Dikutip dengan rnodifikasi dari Sigal LH dan Ron Y. 1994)

Limfokin
Limfokin akan mengaktifkan makrofag dengan menginduksi pembentukan reseptor Fc dan
C3Bpadapermukaan makrofagsehinggamempermudahnlelihatantigenyang telah berikatan
dengan antibodi atau komplemen, dan dengan sendirinya mempermudah fagositosis.Selain
itu limfokin merangsang produksi dan sekresi berbagai enzim serta metabolit oksigen yang
bersifat bakterisid atau sitotoksik terhadap antigen (bakteri, parasit, dan lain-lain) sehingga
meningkatkan daya penghancuran antigen oleh makrofag.

Aktivitas lain untuk eliminasi antigen


Bila antigen belum dapat dilenyapkan maka makrofag dirangsang untuk melepaskan faktor
fibrogenik dan terjadi pembentukan jaringan granuloma serta fibrosis, sehingga penyebaran
dapat dibatasi.
Sel Th aktif juga akan merangsang sel B untuk berproliferasi dan berdiferensiasi
menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi (lihat bab tentang imunitas humoral). Sebagai
hasil akhir aktivasi ini adalah eliminasi antigen. Selain eliminasi antigen, pemajanan ini
juga menimbulkan sel memori yang kelak bila terpajan lagi dengan antigen serupa akan
cepat berproliferasi dan berdiferensiasi.

lmunitas humoral
Imunitas humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel limfosit B dengan atau tanpa
bantuan sel imunokompeten lainnya. Tugas sel B akan dilaksanakan oleh imunoglobulin
yang disekresi oleh sel plasma. Terdapat lima kelas imunoglobulin yang kita kenal, yaitu
IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE.
Limfosit B juga berasal dari sel pluripotensial yang perkernbangannya pada mamalia
dipengaruhi oleh lingkungan bursa fabriciw dan pada manusia oleh lingkungan hati,

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


14
sumsum tulang dan lingkungan yang dinamakan gut-associated lymphoid tissue (GALT).
Dalam perkembangan ini terjadi penataan kembali gen yang produknya merupakan reseptor
antigen pada permu kaan membran. Pada sel B ini reseptor antigenmerupakan imunoglobulin
permukaan (surjuce inrmunoglobulin). Pada mulanya imunoglobulin permukaan ini adalah
kelas IgM, dan pada perkenlbangan selanjutnya sel B juga memperlihatkan IgG, IgA dan
IgD pada membrannya dengan bagian F(ab) yang serupa. Perkembangan ini tidak perlu
rangsangan antigen hingga semua sel B matur mempunyai reseptor antigen tertentu.

Pajanan antigen pada sel B


Antigen akan berikatan dengan imunoglobulin permukaan sel B dan dengan bantuan selTh
(bagi antigen TD) akan terjadi aktivasi enzim dalam sel B sedemikian rupa hingga terjadilah
transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi
dan membentuk sel B memori. Selain iru, antigen TI dapat secara langsung mengaktivasi
sel B tanpa bantuan sel Th.
Antibodi yang disekresi dapat menetralkan antigen sehingga infektivitasnya hilang,
atau berikatan dengan antigen sehingga lebih mudah difagosit oleh makrofag dalam proses
yang dinamakan opsonisasi. Kadang fagositosis dapat pula dibantu dengan melibatkan
komplemen yang akan berikatan dengan bagian Fc antibodi sehingga adhesi kompleks
antigen-antibodi pada sel makrofag lebih erat, dan terjadi endositosis serta penghancuran
antigen oleh makrofag. Adhesi kompleks antigen-antibodi komplemen dapat lebih erat
karena lnakrofag selain mempunyai reseptor Fc juga mempunyai reseptor C3B yang
merupakan hasil aktivasi komplemen.
Selain itu, ikatan antibodi dengan antigen juga mempermudah lisis oleh sel Tc yang
mempunyai reseptor Fc pada permukaannya. Peristiwa ini disebut antibody-dependentcellular
mediated cyrotoxicity (ADCC). Lisis antigen dapat pula terjadi karena aktivasi komplemen.
Komplemen berikatan dengan bagian Fc antibodi sehingga terjadi aktivasi komplemen yang
menyebabkan terjadinya lisis antigen.
Hasil akhir aktivasi sel B adalah eliminasi antigen dan pembentukan sel memori yang
kelak bila terpapar lagi dengan antigen serupa akan cepat berproliferasidan berdiferensiasi.Hal
inilah yang diharapkan pada imunisasi. Walaupun sel plasma yang terbentuk tidak berumur
panjang, kadar antibodi spesifik yang cukup tinggi mencapai kadar protektlf dan berlangsung
dalam waktu cukup lama dapat diperoleh dengan vaksinasi tertentu atau infeksi alamiah. Hal
ini disebabkan karena adanya antigen yang tersimpan dalam sel dendrit dalam kelenjar limfe
yang akan dipresentasikan pada sel memori sewaktu-waktu di kemudian hari.

Regulasi Respons lmun


Setelah antigen dapat dieliminasi,agar tidak terjadi aktivasi sistem imun yang tak terkendali,
maka diperlukan adanya regulasi respons imun. Ada 3 macam mekanisme tubuh untuk
meregulasi respons imun yang sudah terjadi.

Respon lmun
Regulasi oleh antibodi yang terbentuk
Antibodi yang terbentuk akibat paparan antigen dapat mempengaruhi produksi antibodi
selanjutnya. Pada waktu kadar antibodi masih rendah, pada tahap respons permulaan,
antibodi yang terbentuk akan merangsang sel B yang rnempunyai kapasitas memproduksi
antibodi dengan afinitas tinggi. Jadi antibodi yang baru terbentuk merupakan faktor penting
untuk mendorong proses maturasi afinitas. Hal ini terjadi karena antibodi yang terbentuk
akan berkompetisi dengan reseptor antigen pada sel B untuk mengikat antigen, sehingga
yang terangsang adalah sel B yang mempunyai daya ikat tinggi terhadap antigen atau
berafinitas tinggi, karena itu antibodi yang dihasilkan juga berafinitas tinggi.
Adanya efek antibodi tersebut dipengaruhi oleh tipe isotip antibodi. Umumnya
IgM mempunyai tendensi untuk meningkatkan produksi antibodi, tetapi IgG lebih sering
bersifat supresif. Di samping itu, pada tahap respons permulaan, pada saat rasio antigen
masih lebih besar daripada antibodi, maka adanya antibodi akan mempermudah kompleks
Ag-Ab terfiksasi pada sel makrofag melalui reseptor Fc, hingga dapat dipresentasikan
pada sel T h yang kemudian merangsang sel B membentuk antibodi. Jadi pada permulaan
terjadi peningkatan jumlah maupun afinitas antibodi. Tetapi bila antibodi sudah ada dalam
konsentrasi tinggi, yaitu setelah mencapai jumlah cukup untuk menetralkan antigen yang
ada, antibodi akan menjadi umpan balik negatif agar tidak dibentuk antibodi lebih lanjut.
Hal ini terjacli karena dengan terikatnya bagian F(ab)2 antibodi pada epitop antigen maka
reseptor antigen pada sel B tidak akan terangsang lagi oleh epitop antigen tersebut, sehingga
tidak terjadi aktivasi dan priming sel B terhambat (lihat Gambar 3-3).
Di samping itu, antibodi yang bertambah dapat pula merupakan umpan balik negatif
melalui bagian Fc-nya. Sel B selain mempunyai reseptor antigen juga mempunyai reseptor
Fc. Dengan terikatnya antibodi pada reseptor Fc sel B, maka epitop antigen yang terikat

Hambatan
determinan b
antigen

@ i

Gambar 3-3. Regulasi sel B yang bergantung pada bagian F(ab)Z antibodi
(Dikutip dengan modifikasi dari Roitt, 1985)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


pada reseptor antigen pada sel B tidak dapat mengadakan bridging oleh karena adanya
gabungan silang antara reseptor antigen dan reseptor Fc, sehingga tidak terjadi aktivasi sel
B (lihat Gambar 3-4). Tidak adanya bridging antara suatu reseptor antigen dengan reseptor
antigen lainnya pada sel B mengakibatkan tidak terjadinya enzim, sehingga sel B tidak
terangsang untuk mengalami transformasi blast, berproliferasi dan berdiferensiasi, dan
akibatnya pembentukan antibodi makin lama makin berkurang.

Regulasi idiotip spesifik


Akibat stimulasi antigen terhadap sel B akan terbentuk antibodi yang makin lama makin
bertambah. Pada kadar tertentu, idiotip dari antibodi tersebut akan bertindak sebagai
stimulus imunogenik yang mengakibatkan terbentuknya anti-idiotip. Dasar reaksi ini
sebenarnya belum jelas karena merupakan kontradiksi dari self tolerance. Tetapi fakta
memang membuktikan adanya limfosit yang dapat mengenal dan bereaksi dengan idiotip
antibodi, karena ada limfosit yang mempunyai reseptor untuk idiotip ini. Anti-idiotip yang
terbentuk juga mempunyai idiotip hingga akan merangsang terbentuknya anti-idiotip, dan
seterusnya.
Pada binatang adanya anti-idiotip ini terlihat pada waktu fase respons imun mulai
menurun. Anti-idiotip yang terbentuk dengan sendirinya mirip antigen asal, karena itu
dinamakan internal image dari antigen asal. Tetapi adanya antibodi anti-idiotip ini pada
respons imun yang normal tidak akan merangsang kembali terjadinya antibodi terhadap
antigen asal. Terbencuknya anti-idiotip berturut-turut mengakibatkan jumlah antibodi
makin lama makin berkurang. Dapat dipersamakan seperti bat" yang jatuh ke dalam
air dan menimbulkan gelembung air yang makin lama makin menghilang. Regulasi

Gambar 3-4. Regulasi sel B yang bergantung pada bagian Fc antibodi.


(Dikutip dengan modifikasi dari Roitt, 1985)

Respon lmun
melalui pembentukan anti-idiotip adalah regulasi untuk menurunkan respons imun (down
regulation) yang dikenal sebagai jaringan imunoregulator dari Jerne (1974).

Regulasi oleh sel T supresor (Ts)


Dalam tubuh kita terdapat limfosit yang dapat meregulasi limfosit lainnya untuk
meningkatkan fungsinya yang dinamakan sel T helper (Th = CD4). Selain itu terdapat
juga limfosit yang menekan respons imun yang teqadi secara spesifik yang dinamakan sel T
supresor (Ts = CD8). Sel Ts dapat juga diaktifkan pada respons imun normal dengan tujuan
mencegah respons imun yang tak terkendali. Bagaimana cara sel Ts melakukan tugasnya
belumlah jelas, tetapi secara in vitro dapat diketahui bahwa pada aktivasi sel Ts akan
dilepaskan faktor spesifik yang akan menekan respons imun yang sedang berlangsung.
Sel Ts dapat diaktifkan melalui tiga cara, yaitu 1) oleh antigen yang merangsang
respons imun itu sendiri. Antigen merangsang CD4 yang 2H4+ 4B4- untuk mengeluarkan
faktor supresi antigen spesifik yang akan merangsang sel Ts untuk menekan sel efektor, 2)
oleh antigen yang mengadakan bndging antara sel Ts dengan sel limfosit lainnya, seperti sel
B dan sel Th, sehingga Ts menekan aktivasi sel B dan sel Th, 3) oleh sel B atau sel T h yang
mempunyai reseptor idiorip dari idiotip sel Ts, sehingga sel Ts menekan aktivasi sel B dan
sel Th.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bellanti A. Immunology 111. Philadelphia: WB Saunders Company, 1985.
2. Abbase AK, Lichtman. Cellular and Molekular Immunology. Edisi ke-5. Philadelphia: Elsevier
Saunders, 2095.
3. Roitt I, Brostoff J, Male D. Immunology. Edisi Ke-6. Edinburg; Mosby, 2001.
4. Cruse JM, Lewis RE. Atlas of Immunology. USA. CRC-Springer Verlag. 1999.

Buku Ajar Alergi lrnunologi Anak


Imunitas Non Spesifik
Zakiudin Munasir, Nia Kurniati

S emua organisme nlultiselular (termasuk tumbuhan, invertebrata, dan vertebrata)


memiliki mekanisme intrinsik sebagai pertahanan terhadap mikroorganisme.
Mekanisme pertahanan ini disebut sebagai imunitas non spesifik (disebut juga
imunitas alamiah) dan bersifat selalu siap untuk mengenali dan mengeliminasi mikroba.
Imunitas non spesifik tidak bereaksi terhadap bahan-bahan non mikroba. Imunitas non
spesifik berbeda dengan imunitas spesifik yang harus distimulasi dan beradaptasi terlebih
dahulu sebelum menjadi efektif untuk melawan mikroba.
Imunitas non spesifik merupakan mekanisme pertahanan yang kuat dan bekerja
sebelum imunitas spesifik teraktivasi. Mekanisme ini juga memberikan instruksi terhadap
imunitas spesifik untuk berespons terhadap berbagai jenis mikroba secara efektif. Sebaliknya,
imunitas spesifik juga seringkali menggunakan mekanisme imunitas non spesifik untuk
menghancurkan mikroba. Jadi, terdapat hubungan timbal balik antara kedua mekanisme
ini.

PENGEIVALAN IbllKROBA OLEH SISTEM IMUN NON SPESlFlK


Komponen imunitas non spesifik dapat mengenali struktur tertentu (epitop) pada mikroba
(bakteri, virus, dan jamur). Struktur tersebut dirniliki oleh berbagai jenis rnikroba,
namun tidak terdapat pada sel pejamu. Contohnya, fagosit mempunyai reseptor terhadap
lipopolisakarida (LPS) bakteri, dan LPS ini tidak diproduksi oleh sel mamalia. Epitop
pada mikroba yang dikenali oleh imunitas non spesifik merupakan struktv yang penting
bagi kelangsungan hidup dan infektifitas mikroba tersebut. Sebaliknya, mikroba dapat
menghindar dari imunitas spesifik dengan cara mutasi antigen yang tidak mutlak diperlukan
untuk kelangsungan hidup mikroba. Reseptor lain pada fagosit dapat mengenali residu
manosa terminal pada glikoprotein. Glikoproteiri dari bakteri banyak yang mempunyai
manosa terminal, namun tidak demikian halnya pada susunan glikoprotein mamalia
yang berakhir dengan sialic acid atau N-acetylgalactosamine. Molekul pada mikroba yang
merupakan target imunitas non spesifik ini disebut sebagai rnokcuh patterns, sedangkan
reseptor pada komponen imunitas non spesifik yang mengenali struktur ini disebut pattern
recognition receptors.

lmunitas Non Spesifik


Perbedaan antara imunitas non spesifik dan spesifik adalah imunitas non spesifik
berespons dengan cara yang sama pada paparan berikutnya dengan mikroba, sedangkan
imunitas spesifik akan berespons lebih efisien karena adanya memori imunologik.

Komponen imunitas non spesifik


Sistem imun non spesifik terdiri dari epitel (sebagai barrier terhadap infeksi), sel-sel dalam
sirkulasi dan jaringan, serta beberapa protein plasma.

1. Barrier epitel
Tempat masuknya mikroba yaitu kulit, saluran gastrointestinal, dan saluran pernapasan
diliidungi oleh epitel yang berfungsi sebagai barrier fisik dan kimiawi terhadap infeksi.
Sel epitel memproduksi antibodi peptida yang dapat membunuh bakteri. Selain itu, epitel
juga mengandung limfosit intraepitelial yang mirip dengan sel T namun hanya mempunyai
reseptor antigen yang terbatas jenisnya. Limfosit intraepitelial dapat mengenali lipid atau
struktur lain pada mikroba. Spesifisitas dan fungsi limfosit ini masih belum jelas.

2. Sistern fagosit
Terdapat 2 jenis fagosit di dalam sirkulasi yaitu neutrofil dan monosit, sel darah yang dapat
datang ke tempat infeksi kemudian mengenali mikroba intraselular dan memakannya
(intracellukn killing). Sistem fagosit dibahas dalam bab tersendiri (Bab 6).

3. Sel Na t u r d Killer (NK)


Sel natural kilkr (NK) adalah suatu limfosit yang berespons terhadap mikroba intraselular
dengan cara membunuh sel yang terinfeksi dan memproduksi sitokin untuk mengaktivasi
makrofag yaitu IFN-y. Sel NK bequmlah 10% dari total limfosit di darah dan organ
limfoid perifer. Sel NK mengandung banyak granula sitoplasma dan mempunyai penanda
permukaan (surfnce murker) yang khas. Sel ini tidak mengekspresikan imunoglobulin atau
reseptor sel T. Sel NK dapat mengenali sel pejamu yang sudah berubah akibat terinfeksi
mikroba. Mekaaisme pengenalan ini belum sepenuhnya diketahui. Sel NK mempunyai
berbagai reseptor untuk molekul sel pejamu (host cell),sebagian reseptor akan mengaktivasi
sel NK dan sebagian yang lain menghambatnya. Reseptor pengaktivasi bertugas untuk
mengenali molekul di permukaan sel pejamu yang terinfeksi virus, serta mengenali fagosit
yang mengandung virus dan bakteri. Reseptor pengaktivasi sel NK yang lain bertugas untuk
mengenali molekul permukaan sel pejamu yang normal (tidak terinfeksi). Secara teoritis
keadaan ini menunjukkan bahwa sel NK membunuh sel normal, akan tetapi ha1 ini jarang
terjadi karena sel NK juga mempunyai reseptor inhibisi yang akan mengenali sel normal
kemudian menghambat aktivasi sel NK. Reseptor inhibisi ini spesifik terhadap berbagai ale1
dari molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas I.
Terdapat 3 golongan reseptor inhibisi sel NK yaitu killer immunoglo~in-likereceptor
(KIR), immunoglobulin like-transcripts serta reseptor yang mengandung protein CD94 dan

20 Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


subunit lectin yang disebut NKG2. Reseptor KIR mempunyai struktur yang homolog dengan
imunoglobulin. Kedua jenis reseptor inhibisi ini mengandung domams structural motifs di
sitoplasmanya yang dinamakan immunoreceptor tyrosine-based inhibitory motif (ITIM) yang
akan mengalami fosforilasi ke residu tirosin ketika reseptor berikatan dengan MHC kelas I,
kemudian lTIM tersebut mengaktivasi protein dalam sitoplasma yaitu tyrosine phosphatase.
Fosfatase ini akan menghilangkan fosfat dari residu tirosin dalam molekul sinyal (signaling
molecules),akibatnya aktivasi sel NK terhambat. Oleh sebab itu, kenka reseptor inhibisi sel
NK bertemu dengan MHC, sel NK nlenjadi tidak aktif.
Berbagai virus mempunyai mekanisme untuk menghambat ekspresi MHC kelas
I pada sel yang terinfeksi, sehingga virus tersebut terhindar dari pemusnahan oleh sel T
sitotoksik CD8+.Jika ha1 ini terjadi, reseptor inhibisi sel NK tidak teraktivasi sehingga sel
NK akan membunuh sel yang terinfeksi virus. Kemampuan sel NK untuk mengatasi infeksi
ditingkatkan oleh sitokin yang diproduksi makrofag, diantaranya interleukin-12 (IL-12).
Sel NK juga mengekspresikan reseptor untuk fragmen Fc dari berbagai antibodi IgG. Guna
reseptor ini adalah untuk berikatan dengan sel yang telah diselubungi antibodi (antibody-
mediated humoral immunity).
Setelah sel NK teraktivasi, sel ini bekerja dengan 2 cara. Pertama, protein dalam
granula sitoplasma sel NK dilepaskan menuju sel yang terinfeksi, yang mengakibatkan
timbulnya lubang di membran plasma sel terinfeksi dan menyebabkan apoptosis. Mekanisme
sitolitik oleh sel NK serupa dengan mekanisme yang digunakan oleh sel T sitotoksik. Hasil

Gambar 4-1. Hubungan makrofag dan sel NK.


(Dikutip dengan modifikasi dari Sompayrac L, 2003)

lmunitas Non Spesifik


akhir dari'reaksi ini adalah sel NK membunuh sel pejamu yang terinfeksi. Cara kerja yang
kedua yaitu sel NK mensintesisdan mensekresi interferon-y (1FN.y) yang akan mengaktivasi
makrofag. Sel NK dan makrofag bekerja sama dalam memusnahkan mikroba intraselular:
makrofag memakan mikroba dan mensekresi IL-12, kemudian IL-12 mengaktivasi sel
NK untuk mensekresi IFN-y, dan IFN-y akan mengaktivasi makrofag untuk membunuh
mikroba yang sudah dimakan tersebut (lihat Gambar 4-1).
Tubuh menggunakan sel T sitotoksik untuk mengenali antigen virus yang ditunjukkan
oleh MHC, virus menghambat ekspresi MHC, dan sel NK akan berespons pada keadaan
dimana tidak ada MHC. Pihak mana yang lebih unggul akan menentukan hasil akhir dari
infeksi.

4. Sistem komplemen
Sistem komplemen merupakan sekumpulan protein dalam sirkulasi yang penting dalam
pertahanan terhadap mikroba. Banyak protein komplemen merupakan enzim proteolitik.
Aktivasi komplemen membutuhkan aktivasi bertahap enzim-enzim ini yang dinamakan
enzymatic cascade.
Aktivasi komplemen terdiri dari 3 jalur yaitu jalur alternatif, jalur klasik, dan jalur
lektin. J d u r altematif dipicu ketika protein komplemen diaktivasi di permukaan mikroba
dan tidak dapat dikontrol karena mikroba tidak mempunyai protein pengatur komplemen
(protein ini terdapat pada sel host). Jalur ini merupakan komponen imunitas non spesifik.
Jalur.klasik dipicu setelah antibodi berikatan dengan mikroba atau antigen lain. Jalur ini
merupakan komponen humoral pada imunitas spesifik. Jalur lektin teraktivasi ketika suatu
protein plasma yaitu lektin pengikat manosa (mannose-binding lectin) berikatan dengan
manosa di permukaan mikroba. Lektin tersebut akan mengaktivasi protein pada jalur klasik,
tetapi karena aktivasinya tidak membutuhkan antibodi maka jalur lektin dianggap sebagai
bagian dari imunitas non spesifik. Ketiga jalur aktivasi komplemen di atas berbeda pada
cara dimulainya, tetapi tahap selanjutnya dan hasil akhirnya adalah sama.
Protein komplemen yang teraktivasi berfungsi sebagai enzim proteolitik untuk
memecah protein komplemen lainnya. Bagian terpenting dari komplemen adalah C3 yang
akan dipecah oleh enzim proteolitik pada awal reaksi complement cascade menjadi C3a dan
C3b. Fragmen C3b akan berikatan dengan mikroba dan mengaktivasi reaksi selanjutnya.
Sistem komplemenmempunyai3 fungsi sebagai mekanisme pertahanan. Pertama, C3b
menyelubungi mikroba sehingga mempermudah mikroba berikatan dengan fagosit (melalui
reseptor C3b pada fagosit). Kedua, hasil pemecahan komplemen bersifat kemoatraktan
untuk neutrofil dan monosit, serta menyebabkan inflamasi di tempat aktivasi komplemen.
Ketiga, tahap akhir dari aktivasi komplemen berupa pembentukan membrane attack complex
(MAC) yaitu kompleks protein polimerik yang dapat menembus membran sel mikroba, lalu
membentuk lubang-lubang sehingga air dan ion akan masuk dan mengakibatkan kematian
mikroba. Sistem komplemen dibahas lebih lanjut pada Bab 5.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


5. Sitokin pada imunitas non spesifik
Sebagai respons terhadap mikroba, makrofag dan sel lainnya mensekresi sitokin untuk
memperantarai reaksi selular pada imunitas non spesifik. Sitokin merupakan protein yang
mudah larut (solubk protein), yang berfungsi untuk komunikasi antar leukosit dan antara
leukosit dengan sel lainnya. Sebagian besar dari sitokin itu disebut sebagai interleukin
dengan alasan molekul tersebut diproduksi oleh leukosit dan bekerja pada leukosit (namun
definisi ini terlalu sederhana karena sitokin juga diproduksi dan bekerja pada sel lainnya).
Pada imunitas non spesifik, sumber utama sitokin adalah makrofag yang teraktivasi oleh
mikroba. Terikatnya LPS ke reseptomya di makrofag merupakan rangsangan kuat untuk
mensekresi sitokin. Sitokin juga diproduksi pada imunitas selular dengan sumber utamanya
adalah sel T helper (TH).
Sitokin diproduksi dalam jumlah kecil sebagai respons terhadap stimulus ekstemal
(misalnya mikroba). Sitokin ini kemudian berikatan dengan reseptor di sel target. Sebagian
besar sitokin bekerja pada sel yang memproduksinya (autokrin) atau pada sel di sekitamya
(parakrin). Pada respons imun nonspesifik,banyak makrofag akan teraktivasi dan mensekresi
sejumlah besar sitokin yang dapat bekerja jauh dari tempat sekresinya (endokrin).
Sitokin pada imunitas non spesifik mempunyai bermacam-macam fungsi, misalnya
TNE IL-1 dan kemokin berperan dalam penarikan neutrofil dan monosit ke tempat infeksi.
Pada konsentrasi tinggi, TNF menimbulkan trombosis dan menurunkan tekanan darah
sebagai akibat dari kontraktilitas miokardium yang berkurang dan vasodiiatas'i. Infeksi
bakteri Gram negatifyang hebat dan luas dapat menyebabkansyok septik. Manifestasi klinis
dan patologis dari syok septik disebabkan oleh kadar TNF yang sangat tinggi yang diproduksi
oleh makrofag sebagai respons terhadap LPS bakteri. Makrofag juga memproduksi IL12
sebagai respons terhadap LPS dan mikroba yang difagosit. Peran IL12 adalah mengaktivasi
sel NK yang akan menghasilkan IFN-y. Pada infeksi virus, makrofag dan sel yang terinfeksi
memproduksi interferon (IFN) tipe I. Interferon ini menghambat replikasi virus dan
mencegah penyebaran infeksi ke sel yang belum terkena.

6. Protein plasma lainnya pada imunitas non spesifik


Berbagai protein plasma diperlukan untuk membantu komplemen pada pertahanan
melawan infeksi. Mannose-binding lectin (MBL) di plasma bekerja dengan cara mengenali
karbohidrat pada glikoprotein pemukaan mikroba dan menyelubungi mikroba untuk
mempermudah fagositosis, atau mengaktivasi komplemen melalui jalur lectin. Protein
MBL ini termasuk dalam golongan protein collectin yang homolog dengan kolagen serta
mempunyai bagian pengikat karbohidrat (lectin). Surfaktan hi paru-paru juga tergolong
dalam collectin dan berfungsi melindungi saluran napas dari infeksi. C-reactive protein (CRP)
terikat ke fosforilkolin di mikroba dan menyelubungi mikroba tersebut untuk difagosit
(melalui reseptor CRP pada makrofag). Kadar berbagai protein plasma ini akan meningkat
cepat pada infeksi. Hal ini disebut sebagai respons fase akut (acute phase response).
Cara kerja respons imun non spesifik dapat bervariasi tergantung dari jenis rnikroba.
Bakteri ekstraselular dan jamur dimusnahkan oleh fagosit, sistem komplemen, dan protein

lmunitas Non Spesifik


23
Gambar 4-2. Aktivasi sel T oleh APC. (Dikutip dengan modifikasi dari Sompayrac, 2003)

fase akut. Sedangkan pertahanan terhadap bakteri intraselular dan virus diperantarai oleh
fagosit dan sel NK, serta sitokin sebagai sarana penghubung fagosit dan sel NK.

PENGHINDARAN MIKROBA DARl IMUNITAS NON SPESIFIK


Mikroba patogen dapat mengubah din menjadi resisten terhadap imunitas non spesifik
sehingga dapat memasuki sel pejamu. Beberapa bakteri intraselular tidak dapat didestruksi di
dalam fagosit. Lysteria monocytogenes menghasilkan suatu protein yang membuamya lepas dari
vesikel fagosit dan masuk ke sitoplasma sel fagosit. Dinding sel Mycobacterium mengandung
suatu lipid yang akan menghambat penggabungan fagosom dengan lisosom. Berbagai mikroba
lain mempunyai dinding sel yang tahan terhadap komplemen. Mekanisme ini digunakan juga
oleh mikroba untuk melawan mekanisme efektor pada imunitas selular dan humoral.

PERAN IMUNITAS NON SPESIFIK DALAM MENSTlMULASl RESPONS


IMUN SPESIFIK
Selain mekanisme di atas, imunitas non spesifik berfungsi juga untuk menstimulasi imunitas
spesifik. Respons imun non spesifik menghasilkan suatu molekul yang bersama-sama dengan
antigen akan mengaktivasi limfosit T dan B. Aktivasi limfosit yang spesifik terhadap suatu
antigen membutuhkan 2 sinyal; sinyal pertama adalah antigen itu sendiri, sedangkan pada
mikroba, respons imun non spesifik terhadap mikroba, dan sel pejamu yang rusak akibat
mikroba merupakan sinyal kedua. Adanya "sinyal kedua" ini memastikan bahwa limfosit
hanya berespons terhadap agen infeksius, dan tidak berespons terhadap bahan-bahan
non mikroba. Pada vaksinasi, respons imun spesifik dapat dirangsang oleh antigen, tanpa
adanya mikroba. Dalam ha1 ini, pemberian antigen harus disertai dengan bahan tertentu
yang disebut adjuvant. Adjuvant akan merangsang respons imun non spesifik seperti halnya
mikroba. Sebagian besar adjuvant yang poten merupakan produk dari mikroba.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


24
Gambar 4-3. Sekresi 11-12 oleh makrofag.
(Dikutip dengan rnodifikasi dari Sompayrac, 2003)

Mikroba dan IFN-y yang dihasilkan oleh sel NK akan merangsang sel dendrit dan
makrofag untuk memproduksi 2 jenis "sinyal kedua" pengaktivasi limfosit T. Pertama, sel
dendrit dan makrofag mengekspresikan petanda permukaan yang disebut ko-stimulator. Ko-
stimulator ini berikatan dengan reseptor pada sel T naif, kemudian bersama-sama dengan
mekanisme pengenalan antigen akan mengaktivasi sel T (lihat Gambar 4-2). Kedua, sel
dendrit dan makrofag mensekresi IL-12. Interleukin ini merangsang diferensiasi sel T naif
menjadi sel efektor pada imunitas selular (lihat Gambar 4-3).
Mikroba di dalam tarah mengaktivasi sistem komplemen melalui jalur altematif.
Pada aktivasi komplemen, diproduksi C3d yang akan berikatan dengan mikroba. Pada
saat limfosit B mengenali antigen mikroba melalui reseptornya, sel B juga mengenali C3d
yang terikat pada mikroba melalui reseptor terhadap C3d. Kombinasi pengenalan ini
rnengakibatkan diferensiasi sel B menjadi sel plasma. Dalam ha1 ini, produk komplemen
berfungsi sebagai "sinyal kedua" pada respons irnun humoral.
Contoh-contoh di atas menunjukkan pentingnya "sinyal kedua" karena sinyal ini
tidak hanya rnenstimulasi imunitas spesifik namun juga mengatur respons yang akan timbul.
Jenis mikroba yang berbeda-beda akan merangsang respons imun non spesifik yang berbeda-
beda pula, yang kemudian akan merangsang respons imun spesifik yang paling sesuai untuk
mengatasi jenis mikroba tersebut.

lmunitas Non Spesifik


Sistem Komplemen
-
Bab 5

EM Dadi Suyoko

K omplemen yang biasanya disingkat dengan C adalah suatu faktor berupa protein
yang terdapat di dalam serum. Seperti namanya, complement berarti tambahan.
Faktor ini perlu ditambahkan dalam reaksi antigen dan antibodi, agar terjadi lisis
antigen. Sistem komplemen adalah suatu sistem yang terdiri dari seperangkat kompleks
protein yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Pada kedaan normal komplemen beredar
di sirkulasi. darah dalam keadaan tidak aktif, yang setiap saat dapat diaktifkan melalui dua
jalur yang tidak tergantung satu dengan yang lain, disebut jalur klasik dan jalur alternatif.
Aktivasi sistem komplemen menyebabkan interaksi berantai yang menghasilkan
berbagai substansi biologik aktif yang diakhiri dengan lisisnya membran sel antigen.
Aktivasi sistem komplemen tersebut selain bermanfaat bagi pertahanan tubuh, sebaliknya
juga dapat membahayakan bahkan mengakibatkan kematian, hingga efeknya disebut
seperti pisau bermata dua. Bila aktivasi komplemen akibat endapan kompleks antigen-
antibodi pada jaringan berlangsung terus-menerus, akan terjadi kerusakan jaringan dan
dapat menimbulkan penyakit.
Makalah ini ditulis dengan tujuan agar pengertian mengenai komplemen dapat lebih
dihayati, baik dalam fungsinya sebagai salah satu mekanisme pertahanan tubuh, maupun
keterlihatannya dalam berbagai penyakit.

KONlPONElV KOMPLEMEN
Unsur pokok sisrem komplemen diwujudkan oleh sekumpulan komponen protein yang
terdapat di dalam serum. Protein-protein ini dapat dibagi menjadi protein fungsional yang
menggambarkan elemen dari berbagai jalur, dan protein pengatur yang menunjukkan fungsi
pengendalian.
Komplemen sebagian besar disintesis di dalam hepar oleh sel hepatosit, dan juga
oleh sel fagosit mononuklear yang berada dalam sirkulasi darah. Komplemen C 1 juga dapat
di sintesis oleh sel epitel lain di luar hepar. Komplemen yang dihasilkan oleh sel fagosit
mononuklear terutama akan disintesis di tempat dan waktu terjadinya aktivasi.
Sebagian dari komponen protein komplemen diberi nama dengan huruf C: CLq, Clr,
CIS, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8 dan C9 berurutan sesuai dengan urutan penemuan unit
tersebut, bukan menurut cara kerjanya

26 Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Tabel 5-1. Berbagai protein dalarn sistern komplernen

(Dikutip dari Bellanti, 1985)

Komponen C3 mernpunyai fungsi sangat penting pada aktivasi komplemen, baik


melalui jalur klasik maupun jalur altematif. Konsentrasi C3 jauh lebih besar dibandingkan
dengan fraksi lainnya, ha1 ini menempatkan C3 pada kedudukan yang penting dalam
pengukuran kadar komplernen di dalam serum. Penurunan kadar C3 di dalam serum dapat
dianggap menggambarkan keadaan konsentrasi komplemen yang menurun. Juga penurunan
kadar C3 saja dapat dipakai sebagai gambaran adanya aktivasi pada sistem komplemen.

AKTlVASl KOMPLEMEN
Sistern kolnplelnek dapat diaktifkan melalui dua jalur, yaitu jalur klasik dan jalur alternatif.
Aktivasi tersebut melalui suatu proses enzimatik yang te jadi secara berantai, berarti produk
yang timbul pada satu reaksi akan rnerupakan enzim untuk reaksi berikutnya. Caranya
ialal~dengan mepaskan sebagian atau mengubah bangunan kompleks protein tersebut
(pro enzim) yang tidak aktif rnenjadi bentuk aktif (enzim). Satu molekul enzim yang aktif
mampu mengakibatkan banyak molekul komplernen berikutnya. Cara keija semacam ini
disebut the one hit theory.

Sistern Komplemen 27
Secara garis besar aktivasi komplemen baik melalui jalur klasik maupun jalur alternatif
terdiri atas tiga mekanisme, a) pengenalan dan pencetusan, b) penguatan (amplifikasi),dan c)
pengakhiran kerja berantai dan terjadinya lisis serta penghancuran mernbran sel (mekanisme
terakhir ini seringkali juga disebut kompleks serangan membran) (lihat Gambar 5-1) .
Aktivasi jalur klasik dicetuskan dengan berikatannya C1 dan kompleks antigen-
antibodi, sedangkan aktivasi jalur altematif dimulai dengan adanya ikatan antara C3b
dengan berbagai zat aktivator seperti dinding sel bakteri. Kedua jalur bertemu dan memacu
terbentuknya jalur serangan membran yang akan mengkibatkan lisisinya dinding sel antigen
(lihat Gambar 5-2).

Aktivasi komplemen jalur klasik


Seperti telah disebutkan diatas, aktivasi komplemen melalui jalur klasik atau disebut pula
jalur intrinsik, dibagi menjadi 3 tahap.

Tahap pengenalan dan pencetusan


Pada tahap ini teqadi aktivasi C1. Komponen C1 terdiri atas tiga subunit, Clq, C l r dan Cls.
Perubahan sterik antibodi oleh antigen memungkinkan C l q untuk melekat pada fragmen
Fc antibodi tersebut. Perlekatan ini membuat C l q menjadi aktif yang selanjutnya merubah
proenzim C l r menjadi enzim yang aktif. Enzim C l s dari bentuk pro-esterase kemudian

Saronganmembran
I
I
I
I
I
I
,
I
I

+ --,
--
Reaksl Moklmla

ALtlvltas anzlm

Gambar 5-1. Skema aktivasi komplernen.


(Dikutip dengan modifikasi dari JA Bellanti, 1985)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


I JALUR KUSlK 1 JMUR ALTERNATlF
1

Gambar 5-2. Perbandingan antara jalur klasik dan jalur alternatif.


(Dikutip dengan modifikasi dari IM Roitt. 1988)

diaktiflcan menjadi bentuk esterase yang aktif. Clq, C l r dan Cls dalam bentuk aktif ini
oleh pengaruh ion Ca++akan bereaksi menjadi satu unit Clqrs. . .
Komponen Clq rnempunyai afinitas untuk reseptor dua kelas antibodi, yaitu IgG
dan IgM. Kemarnpuan imunoglobulin untuk mengikat komplemen juga sangat bewanasi,
IgM akan mengikat komplernen secara lebih efektif daripada IgG karena hanya diperlukan
1 rnolekul IgM dibandingkan dengan 2 molekul IgG

Tahap penguatan (amplifikasi)


Tahap ini ditandai oleh aktivasi C4, C2, dan C3. Clqrs esterase mampu bereaksi dan
mengaktifkan dua komponen komplemen berikunya, yaitu C4 danC2. Produk yang dihasilkan
dari pemecahan komponen kornplemen, yang lebih besar dan melekat pada dinding sel diberi
randa b dan yang lebih kecil yang berada dalarn sirkulasidiberi tanda a. Clqrs mengaktivasi C4
dan menguraikan C4 menjadi fragmen C4a dan C4b. Fragrnen C4b yang aktif akan melekat
pada reseptor yang ada pada permukaan membran sel yang telah disensitisasiataudilekatioleh
antibodi, sedangkan fragmen C4a yang tidak aktif bebas bergerak di sekeliling sel atau dalam
larutan yang mengandung sel yang telah disensitisasi tersebut. C4b akan berikatan dengan
C2 rnembentuk C4b2, dan selanjumya Clqrs akan mengaktdcan C2 yang telah berikatan
dalam bentuk C4b2 menjadi C4b2b dan C2a. C4b2b bersama dengan ion Mg++membentuk
konlpleks yang disebut C3 konvertase (terdapat perubahan nomenklatur, pada kepustakaan
lama C3 konvertase masih disebut C4b2a). C3 konvertase akan memecah C3 menjadi C3a
dan C3b. Fragmen C3bakan melekat pada reseptor yang ada pada permukaan membran sel
dan membenti~kfragmen C4b2b3b yang disebut C3 peptidase atau C5 konvertase,sedangkan
C3a bebas ~nenrupakanfragmen yang mempunyai aktivitas biologk. C5 konvertase ini akan
bekerja mengaktifkan komplemen berikutnya.

Sistem Komplemen
Tahap serangan membran
Tahap ini merupakan pengakhiran kerja berantai dan terjadi lisis serta penghancuran
membran sel (aktivasi C5, C6, C7, C8dan C9). C3 peptidase atau disebut juga C5 konvertase
(C4b2b3b), akan memecah C5 menjadi C5a dan C5b. Fragmen C5b inilah yang merupakan
titik tolak penghancuran serta lisis membran sel, sedangkan C5a bersama dengan C4a dan
C3a berada bebas di dalam serum. Fragrnen C5b akan mengaktivasi C6 dan C7 membentuk
C567 yang kemudian melekat pada permukaan membran sel. Tiap kompleks C567 akan
mengikat 1 molekul C8, yang kemudian mengikat lagi 6 molekul C9. Dengan melekatnya
komponen-komponen tersebut pada permukaan membran sel akan terbentuk saluran-
saluran pada lapisan fosfolipid permukaan membran sel sehingga terjadi lisis osmotik.

Aktivasi komplemen jalur alternatif


Aktivasi jalur altematif atau disebut pula jalur properdin, terjadi tanpa melalui tiga reaksi
pertama yang terdapat pada jalur klasik (C1 ,C4 dan C2) dan juga tidak memerlukan
antibodi IgG dan IgM.
Pada keadaan normal ikatan tioester pada C3 diaktiflcan terus menerus dalam jumlah
yang sedikit baik melalui reaksi dengan HZ02 ataupun dengan sisa enzim proteolitik yang
terdapat sedikit di dalam plasma. Komplemen C3 dipecah menjadi fragmen C3a dan C3b.
Fragmen C3b bersama dengan ion Mg++dan faktor B membentuk C3bB. Fragmen C3bB
diaktifkan oleh faktor D menjadi C3bBb yang aktif (C3 konvertase) (Lihat Gambar 5-2).
Pada keadaan normal reaksi ini bejalan terus dalam jumlah kecil sehingga tidak terjadi
aktivasi komplemen selanjutnya. Lagi pula C3b dapat diinaktivasi oleh faktor H dan faktor
I menjadi iC3b, dan selanjutnya dengan pengaruh tripsin zat yang sudah tidak aktif ini
dapat dilarutkan dalam plasma (lihat Gambar 5-3 ) .
Tetapi bila padasuatu saat ada bahan atau zat yangdapat mengikat danmelindungiC3b
dan menstabilkan C3bBb sehingga jumlahnya menjadi banyak, maka C3b yang terbentuk
dari pemecahan C3 menjadi banyak pula, dan terjadilah aktivasi komplemen selanjutnya.
Bahan atau zat tersebut dapat berupa mikroorganisme, polisakarida (endotoksin, zimosan),
dan bisa ular. Aktivasi komplemen melalui cara ini dinamakan aktivasi jalur alternatif.
Antibodi yang tidak dapat mengaktivasi jalur klasik misalnya IgG4, IgA2 dan IgE juga
dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur alternatif.
Jalur altematif mulai dapat diaktifkan bila molekul C3b menempel pada sel sasaran.
Dengan menempelnya C3b pada permukaan sel sasaran tersebut, maka aktivasi jalur
altematif dimulai; enzim pada permukaan C3Bb akan lebih diaktitkan, untuk selanjutnya
akan mengaktifkan C3 dalam jumlah yang besar dan akan menghasilkan C3a dan C3b
dalam jumlah yang besar pula. Pada reaksi awal ini suatu protein lain, properdin dapat ikut
beraksi menstabilkan C3Bb; oleh karena itu seringkali jalur ini juga disebut sebagai jalur
properdin. Juga oleh proses aktivasi ini C3b akan terlindungi dari proses penghancuran oleh
faktor H dan faktor I.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Gambar 5-3. Antisipari jalur alternatif rnekanisme kontrol oleh faktor H dan I.
(Dikutip dengan modifikasi dari IM Roitt, 1988)

Tahap akhir jalur alternatif adalah aktivasi yang terjadi setelah lingkaran aktivasi
C3. C3b yang dihasilkan dalam jumlah besar akan berikatan pada permukaan membran
sel. Komplemen C5 akan berikatan dengan C3b yang berada pada permukaan membran sel
dan selanjutnya oleh fragmen C3bBb yang aktif akan dipecah menjadi C5a dan C5b. Reaksi
selanjutnya seperti yang terjadi pada jalur altematif (kompleks serangan membran).

Reseptor fragmen komplemen


Banyak aktivitas dari sistem komplemen yang diperantarai dengan terikatnya fragmen
komplemen pada reseptor spesifik yang terdapat pada permukaan beberapa jenis sel.
Reseptor spesifik ini dapat dibagi dalam 3 jenis fungsi, (a) reseptor untuk fragmen C3 pada
permukaan membran sel saat terjadi proses aktivasi, (b) reseptor untuk fragmen C3a dan
C5a (anafilatoksin), yang nlenyebabkan reaksi inflamasi pada aktivitas komplemen, (c)
reseptor yang meregulasi aktivasi komplemen dengan berikatan pada fragmen komplemen
sehingga menghambat fungsinya. Reseptor untuk fragmen C3 adalah yang terpenting dan
akan dibicarakan secara Lebih mendalam pada tulisan ini.

Reseptor komplemen tipe 1 (CRI, reseptor C3b)


Reseptor ini mempunyai daya afinitas yang sangat kuat dengan fragmen komplemen C3b
dan C4b. Reseptor ini terdapat pada berbagai sel terutama pada eritrosit, neutrofil, makrofag,

Sistem Komplemen 31
eosinofil, sel T, sel B, dan sel dendrit folikular. CRI sedikitnya menlpunyai 3 fungsi pentiug,
1) regulator untuk aktivasi komplernen dengan cara rnengharnbat aktivasi C3 konvertase,
2) reseptor opsonin, rneningkatkan fungsi fagositosis leukosit untuk rnenghancurkan
rnikroorganisrne yang ditempel C3b atau C4b, 3) pembersihan kom~leksimun dari sirkulasi
darah.

Reseptor komplemen tipe 2 (CR2)


Reseptor ini terdapat pada membran limfosit B, sel dendrit folikular, dan sel epitel. Reseptor
CR2 pada sel dendrit folikular berfungsi menarik kornpleks antigen-antibodi ke daerah
germinal centers juga rnerupakan reseptor pemukaan untuk virus Epstein-Barr.

Reseptor komplemen tipe 3 (CR3, reseptor iC3b)


Reseptor ini spesifik untuk iC3b. Reseptor CR3 terdapat pada berbagai permukaan mernbran
sel antara lain neutrofil, fagosit mononuklear, sel mast dan sel NK. CR3 penting untuk
fagositosis mikroorganisme atau partikel yang diselubungi oleh iC3b.

Reseptor komplemen tipe 4 (CR4)


Fungsi reseptor ini sama dengan reseptor CR3.

Fungsi sistem komplemen pada pertahanan tubuh dapat dibagi dalam dua golongan besar,
1) lisis sel sasaran oleh kompleks serangan mernbran, dan 2) sifat biologik aktif fragmen
yang terbentuk selarna aktivasi.

Sitolisis
Pada aktivasi sitolisis ini (kompleks serangan rnernbran) yang berfungsi adalah C5-C9.
Mekanisme ini sangat penting bagi pertahanan tubuh melawan mikrooorganisrne. Proses
lisis ini dapat melalui jalur altematif maupun jalur klasik.

Sifat biologik aktif


Opsonisasi dan peningkatan fungsi fagositosis
Seperti telah diterangkan di atas aktivasi komplemen baik melalui jalur klasik maupun
jalur altemalif akan menghasilkan fragmen C3b dan iC3b yang akan rnelekat pada
permukaan rnembran sel. C3b dan iC3b keduanya rnernpunyai sifat sebagai opsonin oleh
karena keduanya dapat rnenempel pada reseptor spesifik yang terdapat pada netrofil dan
rnakrofag. Jadi adanya aktivasi komplemen pada sel sasaran dapat menarik sel fagosit untuk
memusnahkan mikroba. Proses ini disebut proses opsonisasi. Fagositosis yang diperkuat
oleh proses opsonisasi C3b dan iC3b mungkin rnerupakan nlekanisme pertahanan utalna

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


32
terhadap infeksi bakteri dan janlur secara sistemik Fagositosis ini juga lebih meningkat
bilamana bakteri selain berikatan dengan komplemen juga berikatan dengan antibodi
IgG atau IgM. Melekatnya antibodi dan fragmen komplemen pada reseptor spesifik yang
terdapat pada sel fagosit tidak hanya menyebabkan opsonisasi, tetapi juga memacu untuk
terjadinya fagositosis.

Anafilaksis dan kemotaksis


C3a, C4a dan C5a disebut anafilatoksin oleh karena dapat memacu sel mast dan sel basofil
untuk melepaskan mediator kimia yang dapat meningkatkan permeabilitas dan kontraksi
otot polos vaskular. Reseptor C3a dan C4a terdapat pada permukaan sel mast, sel basofil,
otot polos dan limfosit. Reseptor C5a terdapat pada permukaan sel mast, basofil, netrofil,
monosit, makrofag, dan sel endotelium.
Melekatnya anafilatoksin pada reseptor yang terdapat pada otot polos menyebabkan
kontraksi otot polos tersebut. Untuk mekanisme ini C5a adalah yang paling poten dan C4a
adalah yang paling lemah.
C5a juga mempunyai sifat yang tidak dimiliki oleh C3a dan C4a; oleh karena C5a juga
mempunyai reseptor yang spesifik pada permukaan sel-sel fagosit maka C5a dapat menarik
sel-sel fagosit tersebut bergerak ke tempat mikroorganisme, benda asing atau jaringan
yang rusak; proses ini disebut kemotaksis. Juga setelah melekat C5a dapat merangsang
metabolisme oksidatif dari sel fagosit tersebut sehingga dapat meningkatkan daya untuk
memusnahkan mikroorganisme atau benda asing tersebut

Proses peradangan
Kombinasi dari semua fungsi yang tersebut di atas mengakibatkan terkumpulnya sel-sel
dan serum protein yang diperlukan untuk terjadinya proses dalam rangka memusnahkan
mikroorganisme atau benda asing tersebut; proses ini disebut peradangan.

Pelarutan dan eliminasi kompleks imun


Kompleks imun dalam jumlah kecil selalu terbentuk dalam sirkulasi, dan dapat meningkat
secara dramatis bilamana terdapat peningkatan antigen. Kompleks imun ini bilamana
berlebihan dapat membahayakan oleh karena dapat mengendap pada dinding pembuluh
darah, mengaktivasi komplemen dan menimbulkan kerusakan jaringan. Pembentukan
kompleks imun bilamana berlebihan, tidak hanya membutuhkan Fab dari imunoglobulin
tetapi juga interaksi dengan Fc. Oleh karena itu pengikatan komplemen pada Fc
immunoglobulin suatu kompleks imun dapat menlbuat ikatan antigen-antibodi yang sudah
terbentuk menjadi lemah.
Untuk menetralkan terbentuknya kompleks imun yang berlebihan ini, sistem
komplemen dapat meningkatkan fungsi fagosit. Fungsi ini terutama oleh reseptor yang
terdapat pada permukaan eritrosit. Kompleks imun yang beredar mengaktifkan komplemen
dan mengaktifian fragmen C3b yang menempel pada antigen. Kompleks tersebut akan
berikatan dengan reseptor pada permukaan eritrosit. Pada waktu sirkulasi eritrosit melewati
hati dan limpa, maka sel fagosit dalam limpa dan hati (sel Kupffer) dapat membersihkan
kompleks imun yang terdapat pada permukaan sel eritrosit tersebut.

MEDIATOR
Terdapat berbagai mediator yang dilepas pada waktu komplernen diaktifkan.
C1 meningkatkan afinitas terhadap IgG dan IgM
C l q pengumpulan kompleks antigen-antibodi
C1-4, netralisasi virus
C1 qrs, meninggikan permeabilitas vaskular
C2, mengaktifkan kinin
C5a, bersifat kemotaksis yang dapat mengarahkan leukosit fagosit ke tempat terjadinya
rea ksi
. C3a, C4a dan C5a : anafilatoksin
C3b, iC3b dan C5b, berfungsi sebagai opsonin
C5-6, 7, bersifat kemotaksis lemah
C8-9, bersifat sitolisis

Aktivasi komplemen yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Dalam
keadaan normal biasanya ha1 ini tidak terjadi karena adanya regulator untuk mengatur agar
tidak terjadi reaksi terus menerus yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan
(lihat Tabel 2). Sistem enzim yang kompleks ini diatur oleh beberapa protein penyekal yang
dapat mencegah aktivasi prematur dan aktivasi memanjang setiap produk.
Aktivasi komplemen dikontrol melalui tiga mekanisme utama, yaitu I) komponen
komplemen yang sudah diaktifkan biasanya ada dalam bentuk yang tidak stabil sehingga bila
tidak berikatan dengan komplemen berikutnya akan rusak, 2) adanya beberapa inhibitor
yang spesifik misalnya C1 esterase inhibitor, faktor I dan faktor H, 3) pada permukaan
membran sel terdapat protein yang dapat merusak fragrnen komplemen yang rnelekat.

Regulasi jalur klasik


Regulasi jalur klasik terutama terjadi melalui 2 fase, yaitu melalui aktivitas C1 inhibitor dan
~enghambatanC3 konvertase.

Aktivitas C l inhibitor
Aktivitas proteolitik C1 dihambat oleh C1 inhibitor (C1 INH). Sebagian besar C1 dalaln
peredaran darah terikat pada C1 INH. Ikatan antara C1 dengan kompleks antigen-antibodi
akan melepaskan C1 dari hambatan C1 INH.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Penghambatan C3 konvertase
Pembentukan C3 konvertase dihalnbat oleh beberapa regulator.
C4 binding protein (C4bp) dan reseptor komplemen tipe 1 (CRI) dapat berikatandengan
C4b sehingga mencegah terbentuknya C4b2b (C3 konvertase). Di samping itu kedua
rebeptor ini bersama dengan membrane cofaktor protein (MCP) juga dapat meningkatkan
potensi faktor I dalam merusak C4b.
Decay acceleratii~gfaktor (DAF) dapat berikatan dengan C4b sehingga mencegah
terbentulmya C4bZb.

Regulasi jalur alternatif


Jalur altematif juga di regulasi pada berbagai fase oleh beberapa protein dalam sirkulasi
maupun yang terdapat pada per~nukaanmembran.
Faktor H berkompetisi dengan faktor B dan Bb untuk berikatan dengan C3b. Juga
CR1 dan DAF dapat berikatan dengan C3b sehingga berkompetisi dengan faktor B. Dengan
adanya hambatan ini maka pembentukan C3 konvertase juga dapat dihambat. Faktor I,
menghambat pembeiltukan C3bBb; dalam fungsinya ini faktor I dibantu oleh kofaktor H,

Tabel 5-2. Protein regulator pada aktivasi komplernen

. .

C4bp C4b , . .. ' -, .

Protein 5 . C5b-7 . ..

(Dikutip dari Bellanti, 1995)

Sistem Komplemen
35
CR1 dan MCE Faktor I memecah C3b dan yang tertinggal nlelekat pada permukaan sel
adalah inaktif C3b (iC3b), yang tidak dapat membentuk C3 konvertase, selanjutnya iC3b
dipecah menjadi C3dg dan terakhir menjadi C3d.
Sel-sel yang berbeda menunjukkan jumlah yang berbeda dari protein regulator MCP
dan CN, sehingga dapat mengontrol C3b dan pembentukan C3 konvertase. Kebanyakan
sel tubuh normal mempunyai MCP dan CRI dalam jumlah besar sehingga dapat mencegah
sel ini dari penghancuran oleh komplemen. Sebaliknya partikel asing dan mikroorganisme
tidak mempunyai MCP dan C N sehingga C3b yang berikatan pada sel tersebut tidak
dihalangi ~intulibereaksi dengan faktor Bb membentuk C3bBb yang selanjutnya dapat
mengaktifkan jalur altematif.

Regulasi kompleks serangan membran


Reaksi komplemen yang berlebihan tetap dapat dicegah pada tingkat kompleks serangan
membran bahkan setelah jalur klasik dan jalur altematif dapat diaktifkan. Pembentukan
kompleks serangan membran dapat dihalangi oleh protein membran yang disebu t homologus
restriction faktor (HRF) dan membrane inhibitor of reactive lysis (MIRL=CD59). Insersi
kompleks serangan membran ke dalam sel dihalangi oleh protein S (vitronektin) dengan
berikatan pada C5b,6,7. Kemampuan kompleks serangan membran untuk melisis sel juga
dihambat oleh protein yang berada dalam sirkulasi yang disebut SP-40,40.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


PENYAKIT DAN SISTEM KOMPLENIEN
Penyakit pada manusia yang berkaitan dengan sistem komplemen dapat terjadi oleh karena
dua keadaan. Pertama adalah adanya defisiensi dari salah satu protein komplemen atau
protein regulator. Kedua, suatu sistem komplemen yang normal diakt~fkanoleh stimulus
yang tidak normal seperti mikroorganisme yang persisten atau suatu reaksi autoimun.
Defisiensi komplemen
Defisiensi dalam sistem komplemen dapat terjadi pada jalur klasik, altematif, kompleks
serangan membran, atau pada protein regulator. Defisiensi ini dapat terjadi sejak lahir, atau
didapat setelah lahir oleh karena terdapatnya mutasi gen.

Defisiensi genetik
Defisiensi genetik fragmen jalur klasik dan altematif meliputi Clq, Clr, Cls, C4, C2, C3,
properdin, dan faktor D. Defisiensi fragmen awal dari jalur klasik biasanya berhubungan
dengan penyakit autoimun seperti glomerulonefritisdan lupus eritematosus sistemik (LES).
Yang terbanyak dijumpai pada manusia adalah dehsiensi C2. Lebih dari seperdua dari pasien
dengan defisiensi C2 dan C4 menderita LES. Pasien dengan defisiensi C2 dan C4 tidak
menunjukkan kenaikan frekuensi terkena infeksi. Defisiensi C3 biasanya berhubungan
dengan sering terjadinya infeksi bakteri piogen yang fatal. Hal ini mungkin menunjukkan
pentingnya peran C3 pada opsonisasi, peningkatan fagositosis, dan penghancuran
mikroorganisme. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemungkinan fungsi utama dari jalur
klasik adalah untuk eliminasi kompleks imun dan jalur altematif untuk eliminasi bakteri.

Defisiensi fragmen kompleks serarigan membran


Defisiensi fragmen kompleks serangan membran yang mencakup C5, C6, C7, C8 dan
C9 menyebabkan tidak terdapatnya kemampuan untuk melisis organisme asing. Tetapi
kenyataan yang menarik pada pasien dengan defisiensi kompleks serangan membran, hanya
mendapat infeksi sistemik yang berat dengan bakteri neiseria intraselular termasuk N.
meningitidis dan N.gonowbeae. Tetapi oleh karena jumlah sampel pasiennya hanya sedikit,
belum dapat disimpulkan bahwa kompleks serangan membran terutarna penting untuk
pertahanan terhadap organisme tersebut.

Defisiensi protein regulator


Pada beberapa keadaan dapat tejadi defisiensi protein regulator, baik yang larut maupun yang
berikatan pada membran sel. Edema angioneurotik herediter (HANE) adalah suatu keadaan
yang disebabkan oleh defisiensi C I INH. Manifestasi klinis kelainan ini adalah edema pada
muka, ekstremitas, mukosa laring, dan saluran cema yang akan menghilang setelah 24 sarnpai
72 jam. Pada serangan berat selalu gangguan saluran cema juga dapat terjadi obstruksisaluran
nafas. Mediator yangberperan dalam kelainan ini adalah C3a, C4a, dan C5a yang bersifat sebagai
anafilatoksin.Di samping itu oleh karena fungsi C 1INH juga merupakan regulator kalikrein dan
faktor XII, maka kenlungkinan aktivasi faktor ini juga memegang peran.

Sistem Komplemen
Defisiensi regulator jalur alternatif yang larut (faktor H dan I) sangat jarang terjadi.
Akibat defisiensi ini C 3 akan diaktiflcan terus menerus. Gambaran klinis keadaan ini sama
dengan keadaan yang terjadi pada pasien dengan autoantibodi C3 faktor nefritik (C3NeF)
yang menstabilkan C3bBb dan melindungi dari perusakan oleh faktor H. Pasien dengan
antibodi ini sering menderita glomerulonefritis yang mungkin disebabkan oleh kurang
adekwatnya pembersihan kompleks imun dari sirkulasi dan mengendap pada membran
glomerulus ginjal.

Efek patologis
Walaupun telah diregulasi dengan baik, sistem komplemen yang berfungsi normal juga
dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Pada kenyataannya banyak keadaan patologis yang
berkaitan dengan infeksi bakteri berkaitan dengan efek biologik dari aktivasi komplemen.
Keadaan patologik ini dapat terjadi pads jaringan tubuh dimana proses inflamsi terjadi.
Keadaan yang paling nyata terjadi pada penyakit kompleks imun. Vaskulitis sistemik
dan glomerulonephritis disebabkan oleh pengendapan kompleks imun di dinding pembuluh
darah dan glomerulus ginjal. Pada tempat pengendapan kompleks imun terjadi aktivasi
komplemen dari proses peradangan yang menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah
atau glomerulus ginjal, dengan akibat terjadinya trombosis dan kerusakan jaringan.

DAFTAR PUSTAKA
1 Abbas AK, Lichtman. Cellular and molecular immunology. Edisi ke-5 Philadelphia: Elsevier
Saunders, 2005.
2. Brown EJ, Joiner KA, Frank MM. Complement. Dalam: Paul, penyunting. fundamental
immunology .Edisi ke-3. New York: Raven Press, 1985; 645-68.
3. Chapel H, Haeney M. Essentials of clinical immunology; edisi ke-3. Oxford: Blackwell
Scientific,1993; 1-32.
4. Frank MM.Complement and kinin. Dalam: Stites Dl? Terr AI, penyunting. Basic and clinical
immunology; edisi ke-7. NonvaIk: Appleton & Lange, 1991; 161-74.
5. Kunkel SL, Ward PA, CaporaJe LH. Vogel cw. The complement system. Dalam : Bellanry JA,
penyunting. Immunology 111; edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders, 1985; 106-16.
6. Roitt IM.Essential immunology; edisi ke-6. Oxford: Blackwell Scientific,2005;164-77.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Sistem Fagosit
Sjawitri P Siregar

P roses fagositosis adalah sebagian dari respons imun non spesifik dan yang pertama
kali mempertemukan tuan rumah dengan benda asing. Istilah endositosis lebih
umum dan mempunyai dua arti yaitu fagositosis (pencemaan partikel) dan pinositosi.
(pencernaan nonpartikel, misalnya cairan). Sel yang berfungsi menelan dan mencema
partikel atau substansi cairan disebut sel fagositik, terdiri dari sel fagosit mononuklear dan
fagosit polimorfonuklear. Sel ini pada janin berasal dari sel hematopoietik pluripotensial
yolk sac, hati, dan sumsurn tulang.
Leukosit polimorfonuklear beredar di sirkulasi yang kemudian bermigrasi ke tempat
proses inflamasi,sedangkan sel mononuklear fagositselain beredar di sirkulasidan berkumpul
di tempat inflamasi juga akan menetap di jaringan. Pada manusia, fagositosis diperankan
oleh fagosit mononuklear, neutrofil, dan juga eosinofil. Sel ini sanggup mengenal benda
asing inelalui reseptor permukaan membran selnya, kemudian menelan dan mencemanya.
Sel fagosit mononuklear mempunyai peranan lebih hebat daripada sel polimorfonuklear
dalam ha1 endositosis dan interaksi dengan sel limfosit T, karena proses pematangan sel ini
lebih progresif dari sel induknya di sumsum tulang.

Makrofag dan monosit


Proses menelan dan mencerna mikroorganisme dalam tubuh manusia diperankan oleh
dua golongan sel yang disebut oleh Metchnikoff sebagai mikro- (sel polirnorfonuklear) dan
makrofag. Istilah retikuloendotelial untuk monosit dan makrofag telah diganti dengan sistem
fagosit mononuklear karena fungsi fundamental kedua sel ini adalah fagositosis. Dalam
perkembangannya sel fagosit mononuklear dan sel granulosit dipengaruhi oleh hormon.
Kedua sel ini berasal dari unit sel progenitor yang membentuk granlilosit dan
monosit (colony forming unit-granulocyte macrophage = CFU-GM). Hormon tersebut adalah
glikoprotein yang dinamakan faktor stimulasi koloni (colony stimulating factor = CSF),
seperti faktor stimulasi koloni granulosit-makrofag (granulocyt macrophage colony stimukzting

Sistem Fagosit 39
factor = GM-CSF), faktor stirnulasi koloni makrofag (macrophage colony stimtilating factor
= M-CSF) dan interleukin-3 (IL3) yang merangsang diferensiasi sel CFU-GM menjadi
sel monoblast yang kemudian menjadi sel promonosit dan sel mieloblast menjadi sel
progranulosit. Sel promonosit dapat mengadakan endositosis tetapi daya fagositnya kurang
dibandingkan dengan monosit. Sel monosit lebih kecil dari prekusornya tetapi mempunyai
daya fagositosis dan mikrobisidal yang kuat. Perkembangan sen mononuklear sampai berada
di darah perifer mernakan waktu 6 hari dan mernpunyai masa paruh di sirkulasi selama 3
hari (lihat Garnbar 6- 1).
Terdapat 2 jenis fagosit di dalam sirkulasi yaitu neutrofil dan monosit, sel darah
yang datang ke tempat infeksi kemudian mengenali rnikroba intraselular dan menlakannya
(ingestion). Neutrofil (disebut juga leukosit polimorfonuklear / PMN) adalah leukosit
terbanyak di dalam darah yaitu berjumlah 4.000-10.000 per mm3. Apabila terjadi infeksi,
produksi neutrofil di sumsum tulang meningkat dengan cepat hingga mencapai 20.000 per
mm' darah. Produksi neutrofil distimulasi oleh sitokin yang disebut colony-stimulatingfactor.
Sitokin ini diproduksi oleh berbagai sel sebagai respons terhadap infeksi dan bekerja pada
sel stem sumsum tulang untuk menstimulasi proliferasi dan maturasi prekursor neutrofil.
Neutrofil merupakan sel yang pertama berespons terhadap infeksi, terutama infeksi bakteri
dan jamur. Neutrofil memakan rnikroba di dalam sirkulasi, serta dapat mernasuki jaringan
ekstraselular di tempat infeksi dengan cepat kemudian memakan rnikroba dan mati setelah
beberapa jam.
Jumlah rnonosit lebih sedikit dari neutrofil yaitu 500-1.000 per mm3 darah. Monosit
juga memakan mikroba dalam darah dan jaringan. Tidak seperti neutrofil, monosit yang
masuk ke jaringan ekstravaskuler dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama dan
berdiferensiasi menjadi makrofag. Monosit darah dan makrofag jaringan merupakan 2

Sumsum iulang Jaringan


-
( 6 hari) gulan 7 )
< w
-

CFUGY MONOBLAST PROMONOSIT YONOSIT MAI(ROFAGJAR~NGAN


DARAH JARlNGAN MAT
(unsA PAR0 HATI
l3 -I) ALVEOLUS PARU
TULANG
OTAK
LlMPA
AIR SUSU IBU
PLASENTA
SEL RAKSASA

Garnbar 6-1. Perkernbangan sel rnononuklear.


(Dikutip dengan modifikasi dari Yohnston, 1993)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Gambar 6-2. Tahap-tahap proses migrasi leukosit ke tempat infeksi.
(Dikutip dengan modifikasi dari Abbas dan Lichtrnan. 2004)

bentuk dari sel yang sama sehingga disebut mononuclear phagocyte system. Makrofag terdapat
di jaringan ikat dan setiap organ tubuh, dan berfungsi sama seperti fagosit mononuklear
yang baru datang dari sirkulasi.
Neutrofil dan monosit bermigrasi ke jaringan ekstravaskuler di tempat infeksi akibat
berikatan dengan molekul adhesi endotel dan sebagai respons terhadap kemoatraktan. Jika
mikroba infeksius dapat melewati epitelium dan masuk jaringan subepitel, makrofag akan
mengenali mikroba dan memproduksi sitokin. Dua dari sitokin ini, yaitu tumor necrosis
factor (TNF)dan interleukin- I (IL-I), bekerja pada endotel pembuluh darah kecil di tempat
infeksi. TNF dan IL-1 menstimulasi endotel untuk mengekspresikan 2 molekul adhesi
yang disebut E-sekctin dan P-selectin. Neutrofil dan monosit dalam sirkulasi mempunyai
karbohidrat di permukaannya sehingga dapat berikatan lemah dengan sekctin. Neutrofil
menempel ke endotel, kemudian aliran darah akan merusak ikatan ini, lalu terbentuk lagi
ikatan, dan seterusnya, sehingga leukosit bergulir (rolling) pada permukaan endotel (lihat
Gambar 6-2).

Struktur dan reseptor makrofag


Leukosit mengekspresikan molekul adhesi lain yang disebut integrin karena dapat
mengintegrasikan sinyal dari luar menjadi perubahan sitoskeletal. lntegrin terdapat dalam
jumlah sedikit pada leukosit yang belum aktif.
Makrofag jaringan yang memakan mikroba dan sel endotel yang berespons terhadap
TNF dan IL- 1 akan memproduksi chemokine (sitokin kemoatraktan). Chemokine berikatan
dengan endotel, kemudian menstimulasi afinitas integrin pada leukosit terhadap ligannya
di endotel. Pada saat yang sama, TNF dan IL-1 menstimulasi eudotel untuk memperbanyak
ligan integrin. Setelah integrin berikatan ernt dengan ligannya, leukosit berhenti bergulir
(rolling) dan diubah strukturnya sehingga menempel di pem~ukaanendotel. Chemokine
menstirnulasi motilitas leukosit. Leukosit memasuki sela-sela endotel nlengikuti gradien
konsentrasichemokine. Seluruh proses ini memerlukan waktu beberapa menit setelah infeksi.
Pengurnpulan leukosit di tempat infeksi ditambah dengan vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas vaskuler disebut inflamasi. Defisiensi adhesi leukosit (leukocyte adhesion
deficimcies) merupakan kelainan bawaan berupa defisiensi integrin dan ligan selectin yang
mengakibatkan kerentanan terhadap infeksi.
Neutrofil dan makrofag mengenali mikroba dalam darah dan jaringan ekstravaskuler
melalui reseptor permukaan yang spesifik terhadap produk mikroba (Gambar 6-3). Toll-like
receptor (TLR) homolog dengan protein pada lalat Drosopllila yang disebut Toll yang penting
sebagai pertahanan terhadap infeksi. Reseptor ini spesifik terhadap berbagai komponen
mikroba. Contohnya, TLR-2 berperan pada respons makrofag terhadap lipoglikan bakteri,
TLR-4 untuk lipopolisakarida (LPS atau endotoksin), TLR-5 untukjkgellin yaiti~komponen
dari flagela bakteri, dan TLR-9 untuk unmethylated CpG nuckotide bakteri. Penempelan
TLR akan mengeluarkan sinyal untuk mengaktivasi faktor transkripsi yaitu NF-KB (nuclear
factor KB). Faktor transkripsi ini menstimulasi produksi sitokin, enzim, dan protein lain yang
berperan dalam fungsi antimikroba fagosit. Neutrofil dan makrofag mempunyai reseptor
untuk mengenali struktur mikroba. Reseptor tersebut antara lain reseptor pengenal peptida

Chemokme Mikraba

Gambar 6-3. Reseptor dan respons fagosit.


(Dikutip dan dimodifikasi dari Abbas dan Lichtman, 2004)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


yang mengandung N-f~rm~bnethionine (diproduksi oleh mikroba), reseptor manosa, inregrin
(terutama Mac-I), dan reseptor scavenger (s~esifikuntuk bebera~apatogen dan molekul
tuan rumah). Makrofag juga melnpunyai reseptor untuk sitokin seperti interferon-y (IFN-y)
yang diproduksi pada respons imun alamiah dan didapat. IFN-y merupakan aktivator kuat
untuk fungsi inikrobisidal fagosit. Selain itu, fagosit mempunyai reseptor terhadap produk
aktivasi komplemen dan antibodi. Kedua reseptor ini akan berikatan dengan mikroba yang
diselubungi oleh protein komplemen atau antibodi. Proses penyelubungan mikroba agar
dapat dikenali dengan efektif oleh fagosit disebut opsonisasi.
Pengenalan mikroba oleh neutrofil dan makrofag dilanjutkan dengan fagositosis dan
aktivasi fagosit untuk membunuh mikroba tersebut (Gambar 6-4). Fagositosis adalah suatu
proses dimana fagosit melebarkan membran plasmanya melingkari mikroba, lalu membran
plasma menutup dan membentuk fagosom. Fagosom ialah vesikel dengan dinding berupa

Mikroba Wiikrtm denwan


m d o r taaosil

Penggabungan
fagosom dengan
lisosom

Gambar 6-4. Fagositosis dan pemusnahan mikroba intraselular.


(Dikutip dengan modifikasidari Abbas dan Lichtman, 2004)
membran plasma dan berisi mikroba. Fagosom bergabung dengan lisosoln membentuk
fagolisosom. Pada saat bersamaan, reseptor di permukaan fagosit mengeluarkan sinyal
untuk mengaktivasi enzim di dalam fagolisosom. Salah satu enzim ini disebut phagocyte
oxidase yang bertugas mengubah oksigen menjadi anion superoksida dan radikal bebas
(keduanya disebut sebagai reactive oxygen intermediate / ROI). ROI bersifat toksik terhadap
mikroba di dalam fagolisosom. Enzim kedua adalah inducible nitric oxide synrhase (iNOS)
yang merupakan katalisator pada perubahan arginin menjadi nitric oxide (NO) yang bersifat
mikrobisidal. Enzim ketiga ialah protease lisosom yang bekerja memecah protein mikroba.
Semua enzim tersebut diproduksi di dalam lisosom dan fagolisosom. Mereka bekerja
menghancurkan mikroba namun tidak merusak fagosit itu sendiri. Pada reaksi yang hebat,
enzim-enzim tersebut dilepaskan ke jaringan ekstraselular dan mengakibatkan kerusakan
jaringan tuan rumah. Inflamasi yang normalnya merupakan pertahanan tubuh terhadap
infeksi juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Defisiensi enzim phagocyte oxidase menyebabkan penyakit i~nunodefisiensibawaan
yang dinamakan chronic granulomatous disease. Pada penyakit ini, fagosit tidak dapat
memusnahkan mikroba intraselular, dan tuan rumah berupaya memanggil lebih banyak
lagi makrofag dan limfosit sehingga terjadi penumpukan sel di sekitar mikroba yang disebut
granuloma.
Makrofag juga mempunyai fungsi lain dalam pertahanan terhadap infeksi. Makrofag
memproduksi sitokin yang merupakan mediator penting pertahanan tubuh. Makrofag
mensekresi growth factor dan enzim yang berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang rusak i
dan menggantinya dengan jaringan ikat. Makrofag menstimulasi lilnfosit T dan berespons
terhadap produk sel T. Reaksi ini penting pada imunitas selular.

Peran makrofag pada regulasi sistem imun


Sel makrofag akan menjadi aktif atas pengaruh sitokin sehingga selnya lebih besar, membran
plasmanya berlipat-lipat, banyak pseudopodia serta mempunyai kesanggupan ~nembunuh
mikroorganisme dan sel tumor.
Sel monosit dan makrofag berperan sebagai sel yang mempresentasikan antigen
(antigen presenting cell = APC). Mikroba bakteri dan antigen protein terlarut dipecah dalam
fagolisosom menjadi partikel berukuran kecil. Partikel ini kemudian akan ditampilkan di
permukaan sel berikatan dengan molekul peptida MHC kelas I1 dan akan dikenal oleh
sel T H (Thelper). Peristiwa ini disebut antigen processing. Protein asing seperti virus dan
antigen tumor juga akan diproses, tetapi akan bergabung dengan molekul MHC kelas I yang
kemudian akan ditampilkan di permukaan sel APC dan akan dikenal oleh sel limfosit Ts
(TSupressor)(lihat Gambar 6-5).
Faktor seperti faktor CSF, IL-2, IL-3, IL-4, dan interferon akan merangsang dan
memperbanyak jumlah glikoprotein MHC pada sel monosit sehingga sel ini lebih efisien
untuk men~~resentasikan antigen. Jadi dapat disimpulkan bahwa monosit dan makrofag
penting daiam hemulai dan mengatur respons imun. Fungsi lain makrofag adalah untuk

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


44
Gambar 6-5. Pemrosesan antigen oleh makrofag.
(Dikutip dengan modifikasi dari Abbas AK, 1993)

menghancurkan mikroorganisme seperti Mycobacterium tuberculosis, listeria, leismania,


toksoplasma dan beberapa fungi. Peranan makrofag dalam penolakan sel kanker belum
jelas, mungkin sel tumor dihancurkan oleh enzim metabolit oksigen seperti hidrogen
peroksidase, proteinase sitolitik, atau faktor nekrosis tumor (TNF) yang dihasilkan oleh
sel makrofag. Sebagai sel perlindungan, makrofag dengan kesanggupan diapedesisnya dapat
menembus endotel pembuluh darah menuju tempat invasi mikroba. Faktor kemotaktik
monosit antara lain produk komplemen reaktan yang dihasilkan neutrofil, limfosit dan sel
kanker. Fungsi lain adalah eliminasi sel mati dan sisa sel. Makrofag di dalam limpa akan
memusnahkan eritrosit tua, sedangkan di dalam paru akan mengeliminasi debu dan asap
rokok yang masuk ke paru. Aktivitas metabolik makrofag aktif akan meningkatkan sel aksi
mikrobisidal dan tumorisidal.

FAGOSIT POLIMORFONUKLEAR
Sel granulosit pada manusia mempunyai tiga bentuk morfologis, yaitu neutrofil, eosinofil,
dan basofil. Di antara ketiganya yang mempunyai sifat fagositik hanya neutrofil dan
eosinofil. Tidak seperti makrofag, neutrofil adalah sel terakhir dari diferensiasi mieloid,

Sistem Fagosit
45
jadi tidak akan terbagi lagi. Sel ini berasal dari sel asal (stem cell) di sumsum tulang dan
telah mengalami pematangan bertahap mulai dari mieloblast, promielosit, metamielosit, sel
batang, dan akhimya neutrofil. Berlainan dengan monosit, karena sel ini banyak tertimbun
di sumsum tulang maka bila diperlukan dapat segera masuk ke sirkulasi. Setelah 12 jam
berada di sirkulasi, sel ini akan memasuki jaringan dan menetap untuk beberapa hari. Sel
yang sudah berada di jaringan tidak akan kembali ke sirkulasi.
Dengan pematangan sel akan terdapat 2 jenis granula, yaitil granula azurofilik dan
granula spesifik. Granula azurofilik tampak lebih padat, mempunyai diameter 0,4 p dan
mempunyai susunan lisosom sama dengan jaringan lain yang terdiri dari miel~~eroksidase,
beberapa lisozim, beberapa kation protein, protein arginin basa, sulfat mukopolisakarida,
asam fosfat dan bermacam asam hidrolase. Granula sekunder spesifik bukanlah lisosom
sejati, bentuknya lebih kecil dari 0,3 p dan kurang padat, kaya akan fosfatase alkali,
lisozim, aminopeptida, dan laktoferin. Pada tingkat pematangan menengah kedua bentuk
granula tersebut sudah terlihat, dan pada tingkat lebih matang akan tampak lebih banyak
granula sekunder. Kedua granula ini penting kegunaannya dalam proses penghancuran dan
pemusnahan mikroorganisme yang diingesti. Produksi granulosit dan peredarannya diatur
oleh faktor selular dan humoral.

Neutrofil
Sel neutrofil terdapat lebih dari seperdua jumlah sel darah putih di sirkulasi dan mempunyai
nukleus multilobus dengan granula sitoplasma. Granulanya mengandung bermacam enzim,
seperti protein dan glikosaminoglikan yang berperan pada fungsi sel. Neutrofil sangat
di~erlukanuntuk pertahanan tubuh sebagai fagosit dan proses pemusnahan patogen di
jaringan. Seorang dewasa sehat dapat menghasilkan 1-3 x lo7 neutrofil sel dari sumsum
tulang ke sirklilasi.
Umur neutrofil mulai dari sel asal sampai lenyap di jaringan adalah 12-14 hari, dan
diperlukan waktu 5 hari dari sel asal untuk berproliferasi nlenjadi mielosit, serta 5 hari lagi
untuk pematangan mielosit menjadi sel dengan nukleolus bersegmen dengan sitoplasma
bergranula. Neutrofil dari sumsum tulang (berdiameter 7-7,5 pm dan dapat melewati
pori-pori kecil dinding endotel (diameter 1-3 pm), diperkirakan pasti terjadi deformasi
sel untuk dapat melewati pori-pori. Faktor stimulasi koloni (colony stimulating factor =
CSF) merangsang sel neutrofil keluar dari sumsum tulang. Faktor lain yang juga dapat
mengeluarkan neutrofil dari sumsum tulang adalah tekanan hidrostatik sumsum tulang.
Jumlah neutrofil dipengaruhi oleh beberapa faktor patofisiologik seperti infeksi,
stres, hormon, CSE faktor nekrosis tumor (tumor necrosis factor = TNF), CSF, IL-1, IL-
3. Endotoksin meningkatkan produksi neutrofil dari sumsum tulang, walaupun efeknya
diperankan oleh IL-1 dan TNF dari monosit atau makrofag yang terstimulasi. Cara
menghilangnya neutrofil dari sirkulasi belum diketahui dengan jelas. Tetapi perpindahan
sel ini ke lokasi inflamasi akan menyebabkan neutrofil sirkulasi menghilang karena sekali ia
berada di jaringan inflamasi tidak akan kembali ke sirkulasi. Pemusnahan neutrofil melalui

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


46
kelenjar limfe tidak penting. Diperkirakan organ sistem retikuloendotelial seperti hati dan
limpa merupakan tempat pemusnahan neutrofil tua dan neutrofil yang menjadi tua dari
sirkulasi. Ncutrofil yang turut dalam proses inflamasi akan dilenyapkan oleh makrofag. Pada
sebagian besar proses inflamasi, makrofag akan mengikuti influks sel neutrofil dan kemudian
akan memakan sel neutrofil tua, sedang pada tempat infeksi terjadi lisis neutrofil oleh aksi
toksin yang dihasilkan bakteri.
Penelitian in vitro menunjukkan neutrofil mengalami perubahan pennukaan
membrannya waktu proses penuaan sehingga dapat dikenal oleh makrofag.

Eosinofil
Granulosit eosinofil merupakan 1-3% dari jumlah leukosit di sirkulasi. Persarnaannya
banyak dengan sel neutrofil dan berasal dari sel progenitor yang sama dan menunjukkan
monogenesis yang sama. Berbeda dengan neutrofil, eosinofil matang di sumsum tulang dalam
waktu 3.6 hari dan kemudian berada di sirkulasi dengan masa paruh 6-12 jam. Sedangkan
di jaringan masa paruhnya beberapa hari. Eosinofil melakukan fungsinya di jaringan dan
tidak akan kernbali ke sirkulasi, serta akan dieliminasi melalui mukosa saluran nafas dan
saluran cema. Diperkirakan untuk tiap satu sel eosinofil di sirkulasi terdapat 200 eosinofil
matang di sumsum tulang dan 500 eosinofil di jaringan pengikat.
Dalam proses pematangannya terjadi perubahan granula azurofilik ke bentuk granula
sitoplasmik besar yang mempunyai struktur kristaloid. Granula eosinofil tidak berisi lisozim
dan fagositin seperti pada neutrofil, tetapi kaya akan asam fosfatase dan peroksidase.
Terdapat eosinophihc basic protein (EBP) pada inti kristalin, dengan ukuran 11.000 Dalton
yang sangat toksik untuk parasit (skistosoma) dan epitel trakea. Walaupun sel ini dapat
memfagosit bermacam partikel, mikroorganisme atau kompleks antigemantibodi terlarut,
tetapi kurang efisien dibandingkan neutrofil. Sarnpai sekarang peran spesifik sel ini belum
diketahui, kecuali ada hubungannya dengan alergi dan infeksi parasit. Selain untuk eliminasi
kompleks imun, ia juga berperan dalam menghambat proses inflamasi dengan menghambat
efek mediator, misahnya aril sulftase B yang dihasilkan sel eosinofil akan menginaktiflcan
SRS-A yang dilepaskan sel mast. Eosinofil berperan juga pada reaksi antibody mediated
cytotoxity dalam memusnahkan parasit. Pada rnembran sel eosinofil terdapat reseptor IgE
(FcsRII) yang mempunyai afinitas 100 kali lebih rendah dari afinitas reseptor IgE pada sel
mast dan basofil (FcsRI).

Reseptor imunoglobulin
Pada orang normal diperkirakan 10.30% dari jumlah eosinofil mempunyai reseptor
IgG. Aktivasi reseptor IgG pada sel eosinofil dengan IgG yang meliputi skistosorna akan
menyebabkan degranulasi sel dan menghasilkan mediator newly generated LTC4. Aktivasi
ini 10 kali lebih besar pada eosinofil hipodens dibanding eosinofil normodens.

Sistern Fagosit
Reseptor komplemen
Pada 40-50% eosinofil orang normal terdapat reseptor komplemen, sedangkan pada neutrofil
90% mempunyai reseptor komplemen. Pada sindrom hipereosinofilia, infeksi parasit, dan
atopi persentase reseptor komplemen akan nleningkat yang membuktikan adanya proses
inflamasi.
Berdasarkandensitasnya seleosinofil perifer terdiridari 2 jenis, yaitu eosinofil hipodens
dan normodens. Sel eosinofil aktif adalah yang hipodens. Eosinofil dapat diaktifkan oleh
endotelium vaskular, Tcell derived cytokines (GM-CSF, IL-3, IL-5) dan monocyte macsophage-
derived cytokines (IL-1 dan TNF). Peranan inflamasi sel eosinofil pada penyakit alergi telah
banyak dibahas pada patogenesis respons inflamasi saluran napas pada asma.

Sebelum peristiwa fagositosis akan terjadi kemotaksis yaiti~migrasi sel fagosit ke jaringan
karena pengaruh berbagai zat atau substansi dalam serum seperti C5a, N-formilmetionil
peptida, sel limfosit, kolagen, dan elastin. Juga dikenal beberapa substansi yang bersifat
kemotaktik untuk eosinofil dan neutrofil yang berasal dari komplemen (complement-derived
chemotactic), faktor kemotaktik dzri eosinofil (eosinophilic chemotacticfactor), dan mediator
yang dihasilkan oleh sel mast dan basofil.
Pada proses fagositosis mikroba harus menempel terlebih dahulu di permukaan sel
fagosit. Sebelumnya mikroba sudah diserang dan diikat oleh antibodi. Penempelan ini
dapat te qadi karena terdapat reseptor fragmen Fc dan reseptor C3b pada Inembran sel
fagosit, makrofag dan neutrofil. Penempelan ini akan nlemulai fase menelan (ingestion)
yang dipengaruhi sistem kontraktil aktin-miosin. Akan terbentuk pseudopodia di sekitar
mikroba dan membran plasma akan ditarik mengelilinginya sehingga menyerupai zipper
sampai terbentuk vakuola (fagosom). Peristiwa ini berlangsung dalam beberapa menit
dan kemudian granula berpadu dengan fagosom untuk nlelepaskan isinya di sekeliling
mikroorganisme tersebut.

Proses pemusnahan
Peristiwa tergantung oksigen
Setelah proses fagositosis akan terjadi peningkatan aktivasi pirau heksosamonofosfat
menghasilkan NADPH yang akan dimanfaatkan untuk mengurangi ikatan molekul
oksigen dengan sitokrom membran plasma (Cyt-b245) dan nlenyebabkan peningkatan
hebat pemakaian oksigen (burst oxygen consumption). Oksigen akan diubah menjadi anion
superoksida, hidrogen peroksida, O,, dan radikal hidroksil yang kesemuanya adalah
mikrobisid kuat. Selanjutnya kombinasi peroksida, mieloperoksidase dan ion halida
membentuk sistem halogen yang dapat nlembunuh bakteri dan virus (lihat Tabel 6- 1).

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


48
Tabel 6-1. Proses pemusnahan oleh fagosit
. . . . .
Mekanisme tergantung . . . . . . .:: :.,,-; ,.:, .. ..';':!v,;$:$y:;
... . . . . : .
oksigen pirau heksosa monoforfat i,;~entouy~fo5f~~;~~~##;~~~~:~j;.:2:
~lukosa+ NADP* ., . . :.. ..
I.. ..e ~ e i i a + ~ ;"-' o.+. .;",:'. , ~ ~ ~ ~ ~ : ~ ?
. . ~,., :,...:.,:. . ... . .. . :.r ;'.
.. , .. .. . .,peisliji . . . . i.. ;:;j
. . . . .. ,.. ., i s , . . .' . . ., ,:, ,>,,:.+'<,.;;:,:k
' ,
. .
. . . I .

. . . . . , , , ..: ;.:,',.2.L ,. ,,.. .. . ..# . <,., .,...: .. .:.L. v;.'~;,!;: . .


~

, .
. . . .; . . . , ,. . :

sitokrom 6-245 .' . . .. . . . .. ,


. . : . :.._
. ,
+ 0,
" ' I.

NADPH . . +jm~p,+,+.o.. . 2 .:,.:::-?:ii ;:;,?< . ,r,;;::c;c:r:> . . . . . .


',. . ,.:-,: +
. . .. . :::.,. . :. ..;:, .. ,.,:,: ;,.:,,'7..j,-,f:..:.
..I , .__",
:,.,..
.
... . : .,. . .
1 , I

. . .
. . . . -202 -+.lo
. .H . .- -:. ; .r-
. . .2 ;., ........
i. -. . .
20, + 2H+ stimulasi spontan OH+OH-*'O . 2 ,.. - . : ..;;: !.,:,. ..... ''i:.
:z.,,:!,i .
02- H202 + mikrobisida~:~ I.,
:.: :".;::: A;::, P ...:.
. . .. . . .
. . ..
. . . . . ... ... ,.. ..,, ... .
. . ., . , . .,
+. ~ ~ ~ ~ ? f i o l e k y l ; p i ~ ~ ~ i s ~ ~ a ~ $ . ~
H202+-CI-
OCI- HO, +
myeloperoksidase
, l ~ . + c I. . . .. ....
,0CI-
2. . +
,,~M~
;.
~~.:.-i'.i:25;-
,,2:,.t5:,.. -.;
:i..'~
i ~~3;&,+:',.:
$<:ex
;.'I.-.
. ,:
:
,, ... .-.. .
, ..;. ;
:
. . .
... .; ;.: . .,.: :, .......

20, + 2H+ dismutase supero,ksida


.
, O, + ,,+
I
0-
Z
. ;. . .> ;<.
. :.::- ... '.-:.~. . ...
~ <::(;,:>.$;?:;
. .,::,.;..: . :' ;
. . . . ..,,.
. .,. .,... . . ..:. . . *.-
2H202 b 2H20 + 0 2 . , , , ., , ,..>?,, ..... ,
. . . . \
2.

. . :
. .. :.... .. ..:... .
-
mekanisme pelindung yang digunakan host + mikroba
Mekanisme tidak . . : : . . . .,.,. . . .: . ,., . ;

tergantung oksigen . . .:. ., . . . .


. .
. . . . . . 5.

Protein kationik (katepsin G) ~~~~~~k,,,embran ,ki roba . . . . . . . . . <'..-. .*.. , I


.. . .
Lisozim Memecah mukopeptida di dinding baheri:.,..: '. . ;>,'; :j;$+t.;<,'' ':
Laktoferin . . . . . . . . . . . . . .
Proliferasi bakteri dengan-&si, -..: : , .. . ;>;.;:,+.*,: ..-,:,. . ;..,?..<
..'.! ......-
. . .
lt~:s:+i;..<.
. :,B<
Enzim proteolitik 0rga"isme mati dimujnahkani .. ::. . . :. .!j::/i ,,;:&.;,;:-i::$.
. . . . . . :
::
'; .........
, ,

Berbagai enzim proteolitik . . . . . . .. . .


. . .
(Dikutip dari JABellanti, JV Kadlec, 1985)

Peristiwa tidak tergantung oksigen


Di sanlping peristiwa fagositosis yang tergantung oksigen, juga terdapat peristiwa fagositosis
yang tidak tergailtung oksigen. Keadaan pH yang rendah, lisozim, dan laktoferin merupakan
faktor bakterisid dan bakteriostatik dalaln keadaan tidak tergantung oksigen. Dalam
peristiwa yang tidak tergantung oksigen ini, mikroorganisme yang dibunuh kemudian
dicerna oleh enzim hidrolise dan hasilnya akan dilepas keluar.

GANGGUAN SISTEM FAGOSIT MONONUKLEAR


Banyak penyakit yang dihubungkan dengan kekurangan fungsi fagositosis mononuklear,
seperti pada infeksi oleh Mycobacteritim tuberculosis terdapat hiperplasia sel ini secara
wajar, terutama di jaringan kelenjar getah bening dan limpa. Tetapi sel fagosit ini dapat
pula mengalami proliferasi secara berlebihan, seperti pada leukemia monositik, atau pada
penyakit histiositosis yang ganas.
Apabila produk lisozim berlebihan di jaringan dan tidak dapat dimetabolisme
maka akan timbul penyakit yang tergolong dalam kelompok inborn error of metabolism
dan hemosiderosis bila terjadi penimbunan besi (penyakit Gaucher, penyakit Hurler). Di
samping itu, dapat juga tejadi disfungsi makrofag oleh karena kelainan genetik seperti
misalnya pada pasien dengan penyakit granulomatosis kronik, oleh karena pasien tersebut
kekurangan enzim yang diperlukannya dalam proses fagositosis.
Terdapat beberapa cara untuk rnenilai fungsi fagosit, termasuk di antaranya hitung
leukosit, uji NBT, kemiluminesensi neutrofil, dan uji kemotaksis. Pelbagai pemeriksaan
tersebut akan diuraikan lebih lebih lanjut pada bab tentang pemeriksaan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
I. Yohnston RB.Monocytes and macrophages. Dalam: Lachman PJ, Keith DI: Rosen FS, Walprot
MI, penyunting. Clinical aspects of immunology, vol 1; edisi ke-5, Oxford: Blackwell Scientific,
1993.
2. Roitt LM.Innate immunity. Dalam: Roitt IM, penyunting. Essential immunology. Edisi ke-6,
London: Blackwell Scientific, 1988; 1-13.
3. Zena W. Phagocytic cells, chemotaxis and effector function of machrophages and granulocytes.
Dalam: Stites DE StoboJE Fudenberg HH, Wells JV, penyunting. Basic and clinical immunology;
edisi ke-5. Singapore: Langehlaruzen, 1982; 104-18.
4. Golub SE. Immunology: A synthesis. Sunderland: Sinauer, 1987; 103-11.
5. Bellanti JA, Kadlec JV. General immunology. Dalam: Bellanti JA, penyunting. Immunology 111.
Philadelphia: WB Saunders, 1985;16-53.

Buku Ajar Alergi lrnunologi Anak


Penangkapan
dan Presentasi Antigen
Zakiudin Munusir, Nia Kumiati

R
espons imun spesifik dimulai ketika reseptor pada limfosit mengenali antigen.
Limfosit B dan T mengenali jenis antigen yang berbeda. Reseptor di limfosit B yaitu
ntibodi yang terikat di membran (membrane-bound antibody) dapat mengenali
berbagai nlakromolekul (protein, polisakarida, lipid, dan asam nukleat) serta bahan-bahan
kimia kecil yang terlarut atau terdapat di permukaan sel. Sebaliknya, limfosit T hanya
dapat mengenali fragmen peptida dari antigen protein, dan hanya jika peptida tersebut
dipresentasikan oleh molekul tertentu di sel pejamu.

PENGENALAN ANTIGEN OLEH LlNlFOSlT T


Sebagian besar lirnfosit T mengenali antigen peptida yang terikat pada molekul major
histocompatibilitycomplex (MHC) yang terdapat di antigen-presentingcell (APC). Pada setiap
individu, berbagai klon sel T dapat mengenali suatu peptida apabila peptida tersebut
dipresentasikan oleh MHC. Sifat sel T ini disebut sebagai restriksi MHC (MHC restriction).
Setiap sel T nlempunyai spesifisitas ganda. Hal ini berarti T ceU receptor (TCR) mengenali
peptida antigen dan juga mengenali molekul MHC yang membawa peptida tersebut.
Sel yang berfungsi khusus untuk menangkap antigen mikroba dan mengikamya
supaya dapat dikenali oleh limfosit T dinamakan antigen-presentingcell (APC). Limfosit T
naif memerlukan presentasi antigen oleh APC agar dapat memulai respons imun.

PEIVANGKAPAIY ANTIGEN PROTEIN OLEH APC


Antigen protein dari mikroba yang memasuki tubuh akan ditangkap oleh APC, kemudian
terkumpul di organ linlfoid perifer dan dimulailah respons imun (lihat Tabel 7-1). Mikroba
nlasuk ke dalam tubuh terutama melalui kulit, saluran gastrointestinal, dan saluran napas.
Epitel nlerupakan pertahanan fisik terhadap infeksi. Epitel mengandung sekumpulan
APC yang [ergolong dalam sel dendrit. Di kulit, sel dendrit epidermal disebut sebagai sel

Penangkapan dan Presentasi Antigen 51


Langerhans. Sel dendrit di epitel ini masih imatur karena tidak efisien untuk menstimulasi
sel T.
Antigen mikroba yang memasuki epitel akan ditangkap oleh sel dendrit dengan cara
fagositosis (untuk antigen partikel) atau pinositosis (untuk antigen terlarut). Sel dendrit
memiliki reseptor untuk berikatan dengan mikroba. Reseptor tersebut nlengenali residu
manosa terminal (terminal mannose residue) yang terdapat pada glikoprotein mikroba namun
tidak-ada pada glikoprotein mamalia. Ketika makrofag dan sel epitel bertemu dengan
mikroba, epitel tersebut mengeluarkan sitokin tumor necrosis factor (TNF) dan interleukin-
1 (IL-1). Sitokin tersebut bekerja pada sel dendrit yang telah menangkap antigen dan
menyebabkan sel dendrit terlepas dari epitel.
Sel dendrit mempunyai reseptor terhadap kemokin yang diproduksi di kelenjar getah
bening yailg pknuh dengan sel T. Kemokin tersebut akan mengarahkan sel dendrit untuk
masuk ke pembuluh limfe dan menuju ke kelenjar getah bening regional. Selama proses
migrasi, sel dendrit bermaturasi dari sel yang berfungsi menangkap antigen menjadi APC
yang dapat menstimulasi limfosit T. Bentuk dari maturasi ini yaitu molekul MHC dan ko-
stimulatomya disintesis dan diekspresikan di permukaan APC.
Jika suatu mikroba berhasil menembus epitel dan memasuki jaringan ikatlparenkim,
mikroba tersebut akan ditangkap oleh sel dendrit inlatur dan dibawa ke kelenjar getah
bening. Antigen terlarut di saluran limfe diambil oleh sel dendrit yang berada di kelenjar
getah bening, sedangkan antigen di dalam darah diambil oleh sel dendrit yang berada di
limpa. Antigen protein dari mikroba yang masuk ke dalam tubuh akan dikulnpulkan di
kelenjar getah bening sehingga dapat bertemu dengan limfosit T. Sel T naif bersirkulasi
terus-menerus dan melewati kelenjar getah bening paling tidak sat11 kali sehari. Proses
pertemuan APC dan sel T naif di kelenjar getah bening sangat efisien. Jika suatu antigen
mikroba masuk ke dalanz tubuh, respons sel T terhadap antigen ini akan dinlulai di kelenjar
getah bening regional dalam 12-18 jam.
Berbagai jenis APC mempunyai fungsi yang berbeda dalanl respons imun tergantung
sel T ( T cell-dependent immune response). Interdigitatingdendritic cells merupakan APC yang
paling poten dalam mengaktivasi limfosit T naif. Sel dendrit tidak hanya n ~ e n ~ e b a b k a n
dimulainya respons sel T namun juga mempengaruhi sifat respons tersebut. Misalnya,
terdapat beberapa jenis sel dendrit yang dapat mengarahkan diferensiasi sel T CD4 naif
menjadi suatu populasi yang berfungsi melawan suatu jenis mikroba. Sel APC yang lain yaitu
makrofag yang tersebar di senlua jaringan. Pada respons imun selular;makrofag Inemfagosit
mikroba dan mempresentasikannya ke sel T efektor, yang kemudian nlengaktivasi makrofag
untuk membunuh mikroba. Limfasit B yang teraktivasi akan lnencerna antigen protein dan
mempresentasikannya ke sel T helper; proses ini berperan penting dalam perkembangan
respons imun humoral. Selain itu, semua sel yang berinti dapat lnenlpresentasikan antigen
dari mikroba di dalam sitoplasnla kepada sel T sitotoksik.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Tabel 7-1. Jenis-jenis antigen presenting cell (APC)
No Jenis APC

1. bterdigfaring ParakorteksKGB Akif . :., 1.


dendritic cells
2. Sel Langerhans Kulit
Saluran limfe Aktif
Aktif
3. Veiled cells
. ..
4. Follicular dendritic Folikel KGB Statik + . ... . .;.:,. .
cells , . ....
5. Makrofag

Kupffer)
Otak (astrosit)
. . .
6. Sel B (khususnya Jaringan limfoid Aktif
bila teraktivasi) . .
Keterangan: KGB = kelenjar getah bening, lg = imunoglobulin.
(Dikutip dengan rnodifikasidari Chapel H, Haeney M, dkk, 2001)

Sel APC berperan penting dalam memulai respons sel T CD8 terhadap antigen
mikroba intraselular. Sebagian mikroba (misalnya virus) dapat menginfeksi sel pejamu
dengan cepat dan hanya dapat diatasi dengan cara penghancuran sel tersebut oleh sel T
sitotoksik. Virus dapat menginfeksi semua jenis sel pejamu (tidak hanya APC saja), dan
sel-sel ini tidak dapat nlenlproduksi sinyal yang diperlukan untuk mengaktivasi sel T.
Mekanisme yang terjadi pada keadaan ini adalah sel APC memakan sel yang terinfeksi dan
mempresentasikan antigen ke linlfosit T CD8. Hal ini disebut sebagai cross-presentation,
artinya suatu jenis sel (yaitu APC) mempresentasikan antigen dari sel lain (yaitu sel yang
terinfeksi) kemudian mengaktivasi limfosit T naif sehingga menjadi spesifik untuk antigen
tersebut. Sel APC yang nlemakan sel terinfeksi juga dapat mempresentasikan antigen ke
limfosit T CD4.

KOMPLEKS HISTOKOMPATIBILITAS MAYOR (MHC)


Molekul MHCadalah proteinmembran pada APC yangmembawaantigen peptidaagar dapat
dikenali oleh limfosit T. Suatu transplan jaringan (tissue graft) dapat diterima atau ditolak
oleh tubuh seseorang; hal ini ditentukan oleh lokus genetik yaitu MHC. Individu-individu
dengan lokus MHC yang identik (misalnya kembar identik) dapat menerima transplan satu
sama lain, sedangkan individu dengan lokus MHC yang berbeda akan menolak (rejeksi)
transplan tersebut. Molekul MHC dibahas lebih lanjut dalam bab tersendiri (Bab 8).
Lokus MHC merupakan sekumpulan gen yang ditemukan pada semua mamalia.
Protein MHC pada manusia disebut human leukocyte antigens (HLA) karena protein ini
merupakan antigen pada leukosit yang dapat diidentifikasi dengan antibodi spesifik. Gen-
gen yang mengkode molekul tersebut tersusun dalam lokus HLA. Pada semua spesies, lokus

Penangkapan dan Presentasi Antigen 53


Uokkul MHC YoWIul Ync
-1 /--*pclplYdc ku88l

Gambar 7-1. Struktur MHC kelas I dan kelas II

MHC terdiri ddari dua set gen yang bersifat sangat polimorfik (highly polymorphic) yaitu gen
.MHC kelas I dan kelas 11. Selain itu, lokus MHC juga mengandung gen-gen non polimorfik,
diantaranya berperan pada presentasi antigen.
Molekul MHC kelas I dan I1 merupakan protein menlbran yang mengandung peptide-
binding cleft pada ujung amino-teminal. Peptide-binding cleft pada molekul MHC akan
mengikat peptida dari antigen protein dan membawanya agar dapat dikenali oleh sel T.
Setiap molekul MHC hanya dapat mempresentasikan satu peptida setiap kali karena hanya
ada satu lekukan (cleft), dan molekul ini dapat nzempresentasikan berbagai jenis peptida.
Komposisi subunit MHC kelas I berbeda dengan kelas 11, namun secara keseluruhan
strukturnya hampir sama (lihat Gambar 7-1). Molekul MHC kelas I diekspresikan pada
semua sel berinti, sedangkan MHC k ~ l a sI1 pada APC (misalnya sel dendrit), makrofag dan
limfosit B.
Pemrosesan antigen berbeda untuk antigen endogen dan eksogen (lihat Gambar 7-2).
Antigen endogen dipecah menjadi peptida, kemudian ditranspor secara aktif dari sitoplasma
ke retikulum endoplasma oleh suatu protein yang dinamakan transporters associated with
antigen processing (TAP-1 dan TAP-2). Protein TAP ini mengantarkan peptida ke molekul
MHC kelas I di retikulum endoplasma. Kompleks MHC-peptida tersebut diantarkan ke
permukaan sel. Adanya kelainan yaitu mutasi pada gen TAP akan tnenghambac ekspresi
molekul MHC kelas I di permukaan sel.
Sel APC mensintesis molekul MHC kelas I1 secara terus-menerus di retikulum
endoplasma. Selama berada di dalam retikulum endoplasma, molekul MHC kelas I1 dicegah
untuk berikatan dengan peptida di dalam lumen oleh suatu protein yang dinamakan MHC

54 Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


class 11-associated inwariunt chain. Invariant chain ini mengandung suatu sekuens yaitu class
11 invariant chain peptide (CLIP) yang berikatan erat dengan peptlde-binding clefi pada MHC
kelas 11. huuric~ntchait~tersebut juga mengantarkan MHC kelas I1 ke endosom untuk
berikatan dengan peptida antigen eksogen yang telah diproses. Endosom mengandung
protein yang dinamakan DM, fungsinya untuk nlelepaskan CLIP dari molekul MHC kelas
11, sehingga peptide-binding cleft akan terbuka untuk menerima peptida antigen. Jika MHC
kelas I1 dapat berikatan dengan peptida, akan terbentuk kompleks yang stabil dan menuju ke
permukaan sel. Namun jika molekul MHC tidak dapat berikatan dengan peptida tersebut,

: PaoseM~diddsm!
i sctyangtmrJcksl~ata~)
; secbfw-sga t
j dapat dlkaralioleh WT C08+ 1

Garnbar 7-2. Pemrosesan antigen endogen dan eksogen

Penangkapan dan Presentasi Antigen


Gambar 7-3. Presentasi antigen ke sel Tc dan sel TH
Fungsi lain APC

molekul ini menjadi tidak stabil dan dihancurkan oleh protease di dalanl endosom. Suatu
antigen protein akan dipecah menjadi banyak peptida, tetapi hanya sedikit (satu atau dua)
peptida yang dapat berikatan dengan molekul MHC individu tersebut. Oleh sebab itu,
hanya peptida ini yang dapat menimbulkan respons imun pada individu tersebut sehingga
disebut immunodominant epitopes.
Antigen endogen (termasuk antigen virus) akan diproses di retikulum endoplasma
dan dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I kepada sel T CD8+, sedangkan antigen
eksogen diproses di lisosom (endosom) dan dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I1
kepada.se1T CD4+ (lihat Gambar 7-3).
Sel APC tidak hanya mempresentasikan peptida antigen kepada sel T, tetapi juga
berfungsi sebagai "sinyal kedua" untuk aktivasi sel T. Antigen merupakan sinyal pertama,
sedangkan sinyal kedua adalah mikroba atau APC yang sudah mencerna mikroba. Peran
penting dari sinyal kedua ini adalah untuk menjaga agar respons imun spesifik hanya timbul
terhadap rriikroba dan tidak terhadap bahan-bahan non infeksius yang tidak berbahaya.
Berbagai produk dari mikroba dan respons imun non spesifik dapat mengaktifkan APC
untuk mengekspresikan sinya1,keduabagi aktivasi limfosit. Sebagai contoh, berbagai bakteri
menghasilkan lipopolisakarida (LPS). Pada saat bakteri ditangkap oleh APC, LPS akan
menstimulasi APC tersebut. Sebagai respons, APC mengekspresikan protein permukaan
yang disebut ko-stimulator. KO-stimulator ini akan dikenali oleh reseptornya di sel T. Sel
APC juga mensekresi sitokin yang akan dikenali oleh reseptor sitokk di sel T. KO-stimulator
dan sitokin bekerja bersama dengan pengenalan antigen oleh T cell receptor (TCR) untuk
merangsang proliferasi dan diferensiasi sel T. Dalam ha1 ini, antigen adalah sinyal pertama,
sedangkan kostimulator dan sitokin merupakan sinyal kedua.

Buku Ajar Alergi lrnunologi Anak


PEIVGENALAN ANTIGEN OLEH LIMFOSIT B
Limfosit B nlenggunakan i~ntibodidi permukaan membrannya untuk mengenali antigen
(protein, polisakarida, IipiJ, dan zat kimia kecil). Antigen tersebut dapat diekspresikan di
pernlukaan mikroba (misalnya antigen yang mempunyai kapsullenwebpe) atau dalam bentuk
terlarut (misalnya toksin). Sebagai rrspons terhadap antigen, sel B akan berdiferensiasi

Gambar 7-4. Presentasi antigen ke lirnfosit B dan lirnfosit T

Penangkapan dan Presentasi Antigen


menjadi sel yang dapat mensekresi antibodi (sel plasma). Antibodi masuk ke dalam sirkulasi
dan cairan mukosa, berikatan dengan antigen, kemudian menetralisasi dan mengeliminasi
antigen tersebut. Reseptor pengenal antigen di sel B dan antibodi biasanya dapat mengenali
antigen dalam bentuk aslinya. Aktivasi sel B cerjadi di organ limfoid perifer (limpa dan
kelenjar getah bening) .
Folikel limfoid di kelenjar getah hening dan limpa mengandung banyak follicular
dendritic cell (FDC). Fungsi FDC ialah mempresentasikan antigen ke sel B yang teraktivasi.
Sel FDC menggunakan reseptor Fc untuk berikatan dengan antibodi yang menyelubungi
antigen. Sel ini juga menggunakan reseptor terhadap komplemen C3d untuk berikatan
dengan kompleks komplemen-antigen. Antigen tersebut dikenali oleh limfosit B spesifik
pada respons imun humoral d a n berfungsi untuk menyeleksi sel B yang afinitasnya tinggi
(high ajcllnity).

DAFTAR PUSTAKA
1. Abbas AK, Lichtman AH. Basic immunology. Edisi ke-2. Philadelphia: Saunders, 2004;41-
61.
2. Chapel H, Haeney M, Misbah S, Snowden N. Essentials of clinical immunology. Edisi ke-4.
Oxford: Blackwell Science, 2001;7-15.
3. Roitt I, Brostoff J, Male D. Immunology. Edisi ke-6. Edinburgh: Mosby, 2002; 105-12.
4. Sompayrac L. How the immune system works. Edisi ke-2.Massachusetts: Blackwell Publishing,
2003;43-53.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Kompleks
Histokompatibilitas Mayor
Arwin AP Akib

P
engetahuan tentang kompleks histokompatibilitas mayor (MHC = major
histocompatibility complex) bermula dari pengamatan terhadap reaksi penolakan
jaringan hewan percobaan, kemudian diikuti dengan pemahaman tentang rejeksi
transplan, genetika respons imun, dan komunikasi antar limfosit. Beberapa pemikiran
tersebut semula tidak terlihat berhubungan, tetapi kemudian terbukti saling berkaitan
erat dalam proses yang menentukan respons imun individu. Molekul pennukaan sel yang
bertanggung jawab terhadap rejeksi transplan ini dinamakan molekul histokompatibilitas,
dan gen yang mengkodenya disebut gen histokompatibilitas. Nama ini kemudian disebut
dengan histokompatibilitas mayor karena ternyata MHC bukan satu-satunya penentu
rejeksi. Terdapat pula molekul lain yang walaupun lebih lemah juga ikut menentukan
rejeksi, yang disebut molekul histokompatibilitas minor. Pada saat ini telah diketahui bahwa
molekul MHC merupakan titik sentral inisiasi respons imun.

MOLEKUL MHC
Gen MHC berhubungan dengan gen imunoglobulin dan gen reseptor sel T (TCR
= T-cell receptors) yang tergabung dalam keluarga supergen imunoglobulin, tetapi
pada perkembangannya tidak mengalami penataan kembali gen seperti halnya gen
imunoglobulin dan TCR. Daerah MHC sangat luas, sekitar 3500 kb di lengan pendek
kromosom 6, meliputi regio yang mengkode MHC kelas 1, 11, 111, dan protein lain, serta
gen lain yang belum dikenal, yang mempunyai peran penting pada fungsi sistem imun
(lihat Gambar 8-1).
Ekspresi gen MHC bersifat kodominan, artinyagen orang tua akan tampak ekspresinya
pada anak mereka. Selain itu jelas terlihat beberapa gen yang terkait erat dengan gen MHC
dan mengkode berbagai molekul MHC yang berbeda, karena itu gen MHC disebut sebagai
gen multigenik. Pada populasi terlihat bahwa setiap gen tersebut mempunyai banyak
macam ale1 sehingga MHC bersifat sangat polimorfik. Untuk memudahkan maka semua
ale1 pada gen MHC yang berada pada satu kromosom disebut sebagai haplotip MHC. Setiap

Kompleks Histokompatibilitas Mayor 59


Gambar 8-1. Peta kompleks histokompatibilitas mayor (MHC).
(Dikutip dengan modifikasi dari ED Schwartz. 1991)

individu mempunyai dua haplotip, masing-masing satu dari ayah dan ibu yang akan terlihat
ekspresinya pada individu tersebut.

Molekul HL4 kelas I


Pada manusia terdapat 3 macam molekul MHC kelas I polimhrfik, yaitu HLA-A, HLA-B,
dan HLA-C. Molekul HLA kelas I terdiri dari rantai berat a polimorfik yang berpasangan
nonkovalen dengan rantai nonpolimorfik b2-mikroglobulin yang bukan dikode oleh gen
MHC. Rantai a yang mengandung 338 asam amino terdiri dari 3 bagian, yaitu regio
hidrofilik ekstraselular, regio hidrofobik transmembran, dan regio hidrofilik intraselular.
Regio ekstraselular membentuk tiga domain al, a2, dan a3 (lihat Gambar 8-2). Domain
a3 dan b2-mikroglobulin membentuk struktur yang mirip dengan imunoglobulin tetapi
kemampuannya untuk mengikat antigen sangat terbatas.
Molekul HLA kelas I terdapat pada hampir semua permukaan sel berinti mamalia,
yang berfungsi untuk presentasi antigen pada sel T CD8 (pada umumnya Tc). Oleh karena
itu perlu terdapat ekspresi MHC kelas I di timus untuk maturasi CD8.

Molekul HLA kelas II


Pada manusia terdapat 3 macam molekula MHC kelas I1 polimorfik, yaitu HLA-DR, HLA-
DQ, dan HLA-DE! Molekul HLA kelas I1 terdiri dari 2 rantai polimorfik a dan b yang
terikatsecara nonkovalen, dan masing- masing terdiri dari 229 dan 237 asam amino yang
membentuk 2 domain. Seperti halnya rantai a HLA kelas I, maka rantai a dan b kelas 11

Buku Ajar Alergi lrnunologi Anak


REG0
EKSTWSELULAR
COOH

Gambar 8-2. Skema molekul HLA kelas I.


(Dikutip dengan modifikasi dari BD Schwartz, 1991)

terdiri dari regio hidrofilik ekstraselular, regio hidrofobik transmembran, dan regio hidrofilik
intraselular (lihat Ganlbar 6-3). Selain itu terdapat pula rantai nonpolimorfik yang disebut
rantai invarian, berfungsi untuk penlbentukan dan transport molekul MHC kelas I1 dengan
antigen.
Molekul MHC kelas I1 terdapat pada sel makrofag dan monosit, sel B, sel T aktif,
sel dendrit, sel Langerhans kulit, dan sel epitel, yang umumnya tirnbul setelah rangsangan
sitokin. Fungsi nlolekul MHC kelas I1 adalah untuk presentasi antigen pada sel CD4
(umumnya Th) yang merupakan sentral respons imun, karena itu sel yang mempunyai
molekul MHC kelas I1 umumnya disebut sel APC (antigen presenting cells). Molekul MHC
kelas I1 perlu terdapat dalan~timus untuk maturasi sel T CD4.

Molekul HLA kelas Ill


Terdapat beberapa molekul lain yang dikode pula dan daerah MHC tetapi mempunyai
fungsi yang berbeda dengan molekul MHC kelas I dan 11. Suatu daerah dalam MHC yang
dikenal sebagai regio MHC kelas I11 mengkode sejumlah protein komplemen (C2, B, C4A,
C4) dan enzim sitokrom p450 21-hidroksilase. Selain itu terdapat pula gen sitokin TNF
a dan b, atau gen lain yang mengkode nlolekul yang berfungsi untuk pembentukan dan
transport molekul MHC dalam sel. pa

Gen respons imun


Gen respons imun (Ir) semula diterangkan pada hewan percobaan sebagai gen yang
nxenentukan respons i ~ n u nindividu terhadap antigen asing tertentu. Dengan pemetaan

Kompleks Histokornpatibilitas Mayor 61


Gambar 8-3. Skema molekul HLA kelas II.
(Dikutip dengan modifikasi dari 8D Schwartz. 1991)

genetika klasik terlihat bahwa gen Ir mirip dengan gen MHC kelas 11, sehingga diangap
bahwa molekul MHC keIas I1 adalah produk gen Ir. Studi tentang struktur molekul kelas
I dan 11, serta tempat ikatan antigen pada molekul kelas 11, memperkuat anggapan bahwa
molekul kelas I1 merupakan mediator gen Ir.
Keragaman tempat ikatan antigen dalam berbagai molekul kelas 11, serta perbedaan
kemampuan molekul kelas I1 tertentu untuk mengikat antigen spesifik, menimbulkan dugaan
bahwa hanya molekul keIas I1 tertentu saja yang dapat mempresentasikan suatu antigen
tertentu pula. Hal ini terlihat pada pemetaan bahwa hanya individu yang mempunyai gen
kelas I1 tertentu saja yang dapat bereaksi terhadap suatu antigen khusus.
Contoh tentang efek gen Ir pada manusia adalah respons antibodi IgE terhadap
antigen ragweed Ra5 yang sangat berhubungan dengan HLA-DRZ, serta respons IgE
terhadap antigen ragweed Ra6 yang sangat berhubungan dengan HLA-DR5. Walaupun
belum jelas terbukti, antigen ragweed dipercaya terikat pada nlolekul MHC kelas 11.

Hubungan dengan penyakit tertentu


Selain peran dalam rejeksi transplan, beberapa ale1 spesifik mempunyai hubungan dengan
penyakit tertentu yang umumnya mempunyai kelainan dasar imunologik. Mayoritas
penyakit tersebut berhubungan dengan HLA kelas 11, dan ini menunjukkan peran penting
molekul kelas I1 untuk presentasi antigen pada sel T CD4. Hubungan itu dinyatakan dengan
nilai risiko relatif. Semakin besar nilai tersebut untuk ale1 HLA tertentu maka semakin
meningkat pula risiko seseorang untuk mendapat penyakit tersebut.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


62
Terdapat beberapa hipotesis untuk menerangkan asosiasi penyakit dengan HLA ini,
yaitu 1) molekul HLA sebagai reseptor etiologi, 2) HLA bersifat selektif untuk antigen, 3)
TCR sebagai penentu predisposisi penyakit, 4) agen penyebab menyerupai molekul HLA,
dan 5) penyin~panganekspresi nlolekul kelas 11.

Molekul HLA sebagai reseptor etiologi


Molekul HLA dapat berlaku sebagai reseptor untuk etiologi penyakit sepeiti virus atau
toksin. Dugaan ini berdasarkan bukti bahwa molekul lain pada permukaan sel dapat berlaku
sebagai reseptor etiologi, misalnya molekul CD4 selaku reseptor HIX

HLA bersifat selektif untuk antigen


Hanya tempat ikatan antigen ~ a d lekukan
a molekul HLA tertentu saja yang dapat mengikat
suatu antigen penyebab penyakit. Jadi hanya individu yang mempunyai molekul HLA
seperti itu saja yang dapat menderita penyakit tersebut.

TCR sebagai penentu predisposisi penyakit


TCR bertanggung jawab terhadap predisposisi untuk suatu penyakit, tetapi karena
pengenalan antigen oleh sel T ditentukan oleh molekul HLA maka sebetulnya asosiasi
dengan penyakit tersebut adalah dengan HLA.

Agen penyebab menyerupai molekul HLA


Hipotesis ini ~nemilikidua alternatif. Pertama, karena kemiripan agen penyebab dengan
molekul HLA maka akan dianggap sebagai antigen diri sehingga dapat menimbulkan
kerusakan tubuh tanpa perlawanan sistem imun. Kedua, agen penyebab dikenal sebagai
antigen asing sehingga ~nendapatperlawanan respons imun, dan karena mirip dengan
molekul HLA maka sistem imun tubuh akan menyerang nlolekul HLA pula sehingga terjadi
kerusakan jaringan seperti pada penyakit autoimun.

Penyimpangan ekspresi molekul MHC kelas II


Diduga bahwa induksi ekspresi kelas I1 pada permukaan sel yang tidak biasa mengekspresikan
molekul tersebut dapat menimbulkan penyakit. Dalam keadaan normal, molekul spesifik
pada perlnukaan sel selalu inengalami pergantian dan degradasi. Bila sel tersebut tidak
mempunyai ekspresi molekul kelas I1 maka degradasi molekul spesifik itu tidak membawa
akibat bila terpajan antigen. Tetapi bila pada sel tersebut timbul ekspresi molekul kelas
11, maka degradasi molekul spesifik tersebut akan nlemulai pemrosesan antigen. Fragmen
peptida molekul spesifik yang mengalailxi degradasi tadi akan terikat pada tempat ikatan
antigen molekul kelas 11, sehingga terbentuk kompleks inlun yang merangsang respons

Kornpleks Histokompatibilitas Mayor 63


imun terhadap molekul spesifik tersebut. Bila hanya molekul kelas I1 tertentu saja (misalnya
HLA-DR3) yang dapat mengikat fragmen molekul spesifik, barulah terlihat asosiasi antara
HLA dengan penyakit tertentu.

Sebagian besar penyakit yang berhubungan dengan HLA adalah kelompok penyakit
autoimun, dan prototip asosiasi ini adalah hubungan antara HLA-B27 dan spondilitis
angkilosis. Dengan risiko relatif 91, maka individu ras Kaukasia HLA-B27 (+) mempunyai
risiko 91 kali lebih besar untuk mendapat spondilitis angkilosis dibandingkan dengan
individu HLA-B27 (-). Ekspresi molekul MHC pada berbagai ras dapat berbeda bernlakna
sehingga harus selalu dibandingkan dengan kontrol. Contohnya, HLA-B27 terdapat pada
48% ras hitam penderita spondilitis angkilosis di USA dibandingkan dengan 2% pada
kelompok kontrol ras yang sama sehingga risiko relatif ras hitam di USA adalah 3 1.
Karena daerah MHC sangat luas maka dapat saja terjadi rekombinasi genetik pada
berbagai lokus individu. Rekombinasi ini tidak seluruhnya terjadi secara acak karena terbukti
bahwa beberapa ale1 memperlihatkan kecenderungan tinggi untuk merangkai dengan ale[
lain, yang disebut sebagai rangkaian yang tidak seimbang (linkage disequilibrium).Jadi dapat
saja suatu penyakit yang selama ini kita kenal sebagai berhubungan dengan ale1 MHC
tertentu, sebetulnya dipengaruhi ale1 lain yang terangkai dengan ale1 terdahulu. Contohnya
adalah sindrom Sjogren yang dikenal berhungan dengan HLA-B8, sebetulnya dipengaruhi
oleh HLA-DR3 yang terangkai dengan HLA-B8. Yang sangat menarik adalah bahwa
temyata hubungan antara penyakit autoimun dengan HLA-DR3 cukup sering terlihat.

DEFEK RESPONS IMUN


Keadaan lain yang dihubungkan dengan MHC adalah defek respons imun. Kemampuan
individu untuk membuat respons imun adekuat berhubungan dengan regio MHC kelas
11, yang menentukan kemampuan presentasi antigen kepada sel T yang harus berkaitan
dengan molekul HLA. Selain itu antigen tertentu lebih suka bergabung dengan rnolekul
HLA tertentu pula. Jadi suatu molekul HLA kelas I1 dapat lebih baik mengikat antigen
dibanding molekul HLA kelas lainnya, sehingga presentasi antigen pun akan lebih efektif.
Karena itu jenis HLA seseorang akan menentukan baik-buruknya respons imun yang
berhubungan dengan produk MHC miliknya.
Suatu antigen hanya akan dikenal oleh sel T (melalui TCR) bila berasosiasi dengan
molekul HLA tertentu, dan ha1 ini dikenalsebagai terbatas HLA (HLA restricted).Gabungan
antigen dengan molekul HLA membentuk ligan untuk TCR tertentu, dan ikatan ini dapat
mengaktivasi sel T. Asosiasi antara suatu antigen dengan molekul HLA sangat bervariasi,
tetapi akan terbatas oleh molekul HLA yang tersedia pada sel Z Bila molekul HLA hanya
sedikit maka asosiasi yang terbentuk mungkin terlalu lemah untuk mengaktivasi sel T .

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


64
DAFTAR PUSTAKA
1. Green DR. The major histocompatibility complex. Dalam: Sigal LH, Ron Y, penyunting.
Immunology and inflammation. Basic mechanisms and clinical consequences. New York:
McGraw-Hill, 1994; 63-75.
2. Schwartz BD. The human major histocompatibility human leukocyte antigen (HLA) complex.
Dalam: Srites DE Tar AI, penyunting. Basic and clinical immunology. Edisi ke-7. Nonualk:
Appleton & Lange, 1991; 45-60.
3. Abbas AK, Lichtman AH. Basic immunology. Edisi ke-2..Philadelphia: Saunders, 2004; 47-
61.

Kompleks Histokompatibilitas Mayor


Bab 9
I_

Imunitas Humoral
Sjawitri P Siregar

ONTOGENI SEL LlMFOSlT B


Progenitor sel limfosit B adalah sel stem hematopoietik pluripoten. Dinamakan
pluripoten karena sel ini juga merupakan progenitor sel hematopoietik lainnya, seperti sel
polimorfonuklear, sel monosit dan sel makrofag. Pada masa embrio sel ini ditenlukan pada
yolk sac, yang kemudian bermigrasi ke hati, limpa dan sumsum tulang. Setelah bayi lahir, sel
asal (stem cell) hanya ditemukan pada sumsum tulang. Dinamakan limfosit B karena tempat
perkembangan utamanya pada burung adalah bursa fabricius, sedangkan pada manusia
tempat perkembangan utamanya adalah sumsum tulang. s
Sel pertama yang dapat dikenal sebagai prekursor (pendahulu) sel limfosit B adalah
sel yang sitoplasmanya mengandung rantai berat p, terdiri atas bagian variabel V dan
bagian konstan C tanpa rantai ringan L, dan tanpa imunoglobulin pada permukaannya. Sel
ini dinamakan sel pro-limfosit B. Selain rantai p, sel pro-limfosit B juga memperlihatkan
molekul lain pada permukaannya, antara lain antigen HLA-DR, reseptor komplemen
C3b dan reseptor virus Epstein-Barr (EBV). Pada manusia sel pro-limfosit B sudah dapat
ditemukan di hati fetus pada masa gestasi minggu ke-7 dan ke-8.
Sel pro-limfosit B ini berkembang menjadi sel limfosit B imatur. Pada tahap ini
sel limfosit B imatur telah dapat membentuk rantai ringan L imunoglobulin sehingga
mempunyai petanda imunoglobulin pada permukaan membran sel yang berfungsi sebagai
reseptor antigen. Bila sel limfosit B sudah memperlihatkan petanda rantai berat H dan rantai
ringan L yang lengkap, maka sel ini tidak akan dapat memproduksi rantai berat H dan rantai
ringan L lain yang mengandung bagian variabel (bagian yang berikatan dengan antigen)
yang berbeda. Jadi setiap sel limfosit B hanya memproduksi satu macam bagian variabel
dari imunoglobulin. Ini berarti imunoglobulin yang dibentuk hanya ditujukan terhadap satu
determinan antigenik saja. Sel B imatur mempunyai sifat yang unik. Jika sel ini terpajan
dengan ligannya (pasangan kontra imunoglobulin yang ada pada permukaan membran
sel), sel ini tidsk akan terstimulasi, bahkan mengalami proses yang dinamakan apoptosis
sehingga sel menjadi mati (programmed cell death). Jika ligannya itu adalah antigen diri (sey
antigen), maka sel yang bereaksi terhadap antigen diri akan mengalami apoptosis sehingga
tubuh menjadi toleran terhadap antigen diri. Hal ini tejadi pada masa perkembangan di
sumsum tulang. Oleh karena itu, sel limfosit B yang keluar dari sumsum tulang merupakan

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


66
sel limfosit B yang hanya bereaksi terhadap antigen asing. Kemudian sel limfosit B imatur
yang telah memperlihatkan imunoglobulin lengkap pada permukaannya akan keluar dari
sumsum tulang dan masuk ke dalam sirkulasi perifer serta bermigrasi ke jaringan limfoid
untuk terus berkembang menjadi sel matur (lihat Gambar 9-1). Sel B ini mernperlihatkan
petanda imunoglobulin IgM dan IgD dengan bagian variabel yang sama pada permukaan
membran sel dan dinamakan sel B matur.
Perkembangan dari sel asal (stem cell) sampai menjadi sel B matur tidak memerlukan
stimulasi antigen, tetapi terjadi di bawah pengaruh lingkungan mikro .dan genetik. Tahap
perkembangan ini dinamakan tahapan generasi keragaman klon (clone diversity), yaitu klon
yang me~npunyaiimunoglobulin permukaan dengan daya ikat terhadap determinan antigen
tertentu.
Tahap selanjutnya memerlukan stimulasi antigen, yang dinamakan tahapan respons
imun. Setelah distimulasi oleh antigen, maka sel B matur akan menjadi aktif dan dinamakan
sel B aktif. Sel B aktif kemudian akan berubah menjadi sel blast dan berproliferasi serta
berdiferensiasi menjadi sel plasma yang akan memproduksi imunoglobulin.
Beberapa progeni sel B aktif tersebut akan mulai mensekresi imunoglobulin kelas lain
seperti IgG, lgA, dan IgE dengan bagian variabel yang sama yang dinamakan alih isotip atau
alih kelas rantai berat (isotype switching).
Beberapa progeni sel B aktif lainnya ada yang tidak mensekresi imunoglobulin
melainkan tetap sebagai sel B yang memperlihatkan petanda irnunoglobulin pada
permukaannya dan dinamakan sel B memori. y
. .

-
TINGKAT
PEMATANGAN
T

PERAtl M A K TERGANNNG ANTIGEN DRANOSANGAN'WXN


ANTIGEN
SUMSUM NMG
TEMPAT
ANATOMI

PRoDUKS1 m A ~HANYA lghf IgM, I@ SEKRESl SEKRESI


ADA SROPLASMA IAEMBRAN MEMBRAN lg 19
IMUNO- I4YU
SEOKIT BANYAK
GLOBULIN

FUNGSI
mAK
STATUS PREKURSOR RESWNS
ERHADAP
MDUKSI RESWNS RESPONS
TERHADAP TERHADAP AKWODl
FAWE
ANTK+EN TOLERAN ANTK;EN AWAL wERDAN
SEKUNMR

Gambar 9-1. Perkembangan limfosit B. (Dikutip dengan modifikasi dari AK Abbas, 1991)

lrnunitas Humoral
Sel B memori ini mengandung imunoglobulin yang afinitasnya lebih tinggi. Maturasi
afinitas ini diperoleh melalui mutasi somatik. Sel B rnatur yang tidak distimulasi, jadi yang
tidak menemukan ligannya, akan mati dengan waktu paruh 3-4 hari. Sedangkan sel B
memori akan bertahan hidup lebih lama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan tanpa
stimulasi antigen. Sel B memori ini akan beresirkulasi secara aktif melalui pembuluh darah,
pembuluh limfe, dan kelenjar limfe. Bila antigen dapat lama disimpan oleh sel dendrit di
kelenjar limfe, maka sel dendrit ini pada suatu waktu akan mengekspresikanantigen tersebut
pada permukaannya. Antigen yang diekspresikan oleh sel dendrit ini akan merangsang sel
B memori menjadi aktif kembali, berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang
memproduksi antibodi. Dalam ha1 ini, kadar antibodi terhadap suatu antigen tertentu dapat
bertahan lama pada kadar protektif, sehingga kekebalan yang timbul dapat bertahan lama.

Sintesis dan keragaman antibodi


Untuk menghadapi berbagai macam antigen yang jumlahnya hampir tak terbatas, sistem
imun manusia dapat membentuk sekitar lo9 molekul antibodi dengan spesifisitas yang
berbeda. Sumber keragaman antibodi ini terletak pada struktur gen imunoglobulin dan
kesanggupan sel B yang Luar biasa untuk membentuk dan memodifikasi gen imunoglobulin
dengan cara penataan kembali DNA (deoxy- ribonuckic acid) kromosomnya.
Kespesifikan antibodi ditentukan oleh urutan asam amino dalam domain pasangan
variabel rantai berat (H) dan rantai ringan (L) imunoglobulin yang bersama-sama
membentuk bagian untuk tempat pengikatan antigen (antigen binding site).
Untuk membentuk berbagai antibodi dengan spesifitas yang berbeda, sistenl imun
harus mempunyai kesanggupan genetik untuk memproduksi urutan domain V yang
berbeda dalam jumlah yang sangat besar. Informasi untuk mengkode protein imunoglobulin
tersebar sepanjang untai DNA dalam segmen DNA koding (= ekson, yaitu segmen DNA
yang mengekspresikan produknya) yang multipel. Segmen ini dipisahkan oleh segmen
DNA nonkoding (= intron, yaitu segmen DNA yang tidak mengekspresikan produknya).
Setelah gen ditranskripsi ke RNA (~ibonucleicacid) terjadilah splaising (splicing) RNA, yaitu
proses pemindahan intron dari transkrip dengan melengkungkan intron keluar transkip
sehingga tejadi penggabungan ekson yang satu dengan yang lain. Sebelum sel B dapat
mensintesis imunoglobulin, sel ini harus melakukan penggabungan 2 atau 3 segmen gen
untuk membentuk ekson bagian V yang lengkap. Penggabungan (fusion) segmen gen ini
diperoleh melalui proses splaising RNA yang membutuhkan pemotongan, penataan dan
penggabungan kembali untai DNA kromosom. Pada generasi keragaman antibodi, penataan
kembali DNA dimulai pada bagian variabel rantai H yang kemudian diikuti oleh bagian
variabel rantai L. Antibodi yang pertama dibentuk adalah kelas IgM, diikuti oleh kelas
IgD dengan bagian variabel yang sama. Sedangkan generasi kelas imunoglobulin lainnya
dilakukan melalui alih isotip.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


Generasi keragaman rantai ringan L
Rantai ringan L imunoglobulin ada 2 macam yaitu rantai kappa (K) dan rantai lambda (A)
yang masing-masing terdiri atas domain C dan domain \! Cara penataan kembali kedua
gen rantai ringan L ini adalah sama, dan yang akan dibahas berikut ini adalah rantai kappa.
Semua informasi genetik yang dibutuhkan untuk memproduksi rantai terletak pada satu
lokus di kromosom 2. Rantai ringan, imunoglobulin terdiri atas segnzen C, dan segmen V,
yang keduanya dihubungkan oleh bagian penghubung J (joining), yang dinamakan sebagai
segmen JK.
,
Domain C rantai (asam amino ke-109-204) dikode oleh ekson C, yang hanya terdiri
,
dari satu segmen. Sedangkan domain V rantai dikode oleh 2 segmen gen yang terpisah
yaitu segmen Vk dan segmen 1., Segmen V, akan mengkode ke-95 asam amino pertama
dari domain V, dan segmen J, akan mengkode ke-I3 sisa asam amino domain V, yaitu
asam amino ke-96 sampai ke-108. Berbeda dengan ekson C, yang tunggal, segmen V, dan
J, terdiri atas banyak segmen dengan urutan DNA yang berbeda. Segmen J, t.2rdi.i atas 5
segmen yang berada berkelompok dekat ekson C,. Sedangkan segmen V, yang berjumlah
sekurangnya 100 segmen, berada tersebar pada daerah sepanjang lebih dari 2 juta pasangan
basa DNA. Secara kasar, segmen V, ini merupakan 1% dari panjang kromosom 2. Setelah
sel hematopoietik imatur ditetapkan menjadi turunan (lineage) limfosit B, maka sel ini akan
memiliki 1 segmen V, dan 1 segmen J, dari rantai ringan L yang kemudian digabungkan
menjadi satu ekson tunggal dengan bantuan enzim rekombinase (lihat Gambar 9-2).
Penggabungan seglnen V, dan J, diperoleh dengan menghapus (deletion) DNA yang
tidak dikode yang memisahkan kedua segmen tersebut. Transkripsi kemudian dapat dimulai
dari ujung segmen V terus ke gabungan ekson V, 1 J, dan ke ekson C, yang berada di
dekatnya. Transkrip akan mengandung semua informasi yang dibutuhkan untuk mensintesis
protein tertentu, sehingga rantai ringan L imunoglobulin terbentuk. Karena domain V,

Lokus kama sebelum Denataan kembali

PENATAAN KEMBALI V J3 Ck
GEM KAPPA
4 TRANSKRIPSI
TRANSKRIP PERTAMA 1111011111Im
4 SPLAlSlNG RNA

mRNA KAPPA fi#ml@m


V J3 Ck

Gambar 9-2.Penataan kembali gen kappa (k).


(Dikutip dengan modifikasi dari DP Stites dan Al Terr, 1991)

lmunitas Hurnoral
terdiri atas 100 segmen dan J, terdiri atas 5 segmen, maka jumlah jenis domain V, yang
dapat dibentuk dari penggabungan segmen ini adalah 100 x 5 = 500 jenis domain yang
berbeda. Penggabungan ini merupakan sumber yang penting dari keragaman protein rantai
ringan L.
Rantai ringan lambda berasal dari kompleks gen yang sama yaitu pada kromosom 22
walau dapat mengandung 6-9 kopi ekson C, berbeda. Penggabungan ekson V, dan J, sama
seperti penggabungan segmen k.

Generasi keragaman rantai berat H


Rantai berat H berasal dari 1 lokus pada kromosom 14. Domain C rantai H dikode oleh
sekelompok ekson pendek. Urutan bagian C dari rantai H ke-9 kelas imunoglobulin adalah
sebagai berikut: Cp, C,, Cy3, Cyl, C a l , Cy2, Cy4, CE, Ca2. Ke-6 segmen], dan beberapa
ratus segmen V, dari bagian variabel rantai H ditata dengan cara yang sama seperti penataan
gen rantai ringan L. Berbeda dengan gen bagian variabel rantai L, pada gen bagian variabel
rantai H, terdapat segrnen gen yang ketiga yang dinamakan segmen keragaman (D,), yang
jumlahnya sekurang-kurangnya 20dan terletak antara segmenv, dan J,. Untuk membentuk
gen rantai H, sel limfosit B harus melakukan 2 penataan. Pertama, menggabungkan segmen
D, dan J,; dan yang kedua adalah menggabungkan gabungan ini dengan segmen V, (lihat
Gambar 9-3).
Adanya segmen D, akan memungkinkan bertambahnya jumlah keragaman domain
variabel rantai H. Dari 200 segmen V,, 10 segmen D, dan 6 segmen J, misalnya, dapat
-diproduksi 200 x 10 x 6 = 12.000 rantai H dan domain V yang berbeda. Bila dikombinasi
lagi dengan 500, domain rantai V akan dapat diproduksi 500 x 12.000 = 6 juta variabel
imunoglobulin yang berbeda (antigen binding site). Oleh karena itu, meski jumlah segmen
gen imunoglobulin kecil, melalui kombinasi penggabungan, dapat dihasilkan keragaman
antibodi yang jumlahnya besar.

RRAUHAN

-- .
L-
4.
S P W SING RNA
I TRANSKRlPSl PERTAMA

v DJCy2

Gambar 9-3.Penataan kembali gen rantai berat H imunoglobulin.


(Dikutip dengan modifikasi dari DP Stites dan Al Terr, 1991)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


e
mursKRPPEmw

sPWSD(tmRN4mRNA

m
VDJOp VDJaa
mRNA DELTA

Gambar 9-4. Alih isotip rantai berat H.


(Dikutip dengan modifikasi dari DP Stites dan A1 Terr, 1991)

Alih isotip rantai H


Peralihan (switching)rantai H imunoglobulin dari kelas IgM ke kelas yang lainnya tidak akan
mengubah struktur ekson V/D/J, sehingga tidak mempengaruhi spesifitas imunoglobulin.
Bagian V rantai H diperoleh dari gabungan segmen V,, D, dan J,. Sekali terbentuk
gabungan ini dapat bergabung dengan setiap gabungan CHmelalui proses alih isotip. Pada
proses alih isotip ini, akan terdapat penghapusan bagian C, certentu karena itu peristiwa ini
adalah ireversibel. Melalui translokasi segmen V, D, J, dari tempatnya semula ke segmen
C, yang lain, terjadilah pertukaran kelas imunoglobulin, misalnya dari kelas IgM menjadi
kelas IgG (lihat Gambar 9-4).
Pemilihan C, baru dipengaruhi oleh limfokin dan faktor lain. Pada lingkungan mikro
plak Peyer misalnya, alih C1 lebih memungkinkan sehingga terbentuk IgA1. Umumnya
bagian C, yang dekat pada ekson V/D/J saja yang diekspresikan. Perkecualian ialah C, yang
terletak dekat Cu, sering ditranskripsi bersama-sama dengan V/D/J Cu sehingga melalui
proses splaising RNA, yang terbentuk dapat berupa mRNA p atau mRNA 6. Akibatnya sel
limfosit B mengekpresikan baik IgM maupun IgD dengan bagian variabel yang sama, baru
kemudian dapat terjadi alih isotip ke kelas imunoglobulin yang lain.

AKTIVASI DAN FUNGSI SEL B


Bila sel limfosit B matur distimulasi antigen ligannya, maka sel B akan berdiferensiasi
menjadi aktif dan berproliferasi. Ikatan antara antigen dan imunoglobulin pada permukaan
sel B, akan mengakibatkan terjadinya ikatan silang antara imunoglobulin permukaan
sel B. Ikatan silang ini mengakibatkan aktivasi enzim kinase dan peningkatan ion Ca++
dalam sitoplasma. Terjadilah fosforilase protein yang meregulasi transkripsi gen antara l a h
protoonkogen @rot0 oncogene) yang produknya meregulasi pertumbuhan dan diferensiasi
sel. Aktivasi mitosis ini dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan sel T, tergantung pada sifat
antigen yang merangsangnya. Proliferasi akan mengakibatkan ekspansi klon diferensiasi
dan selanjutnya sekresi antibodi. Fungsi fisiologis antibodi adalah untuk menetralkan dan
mengeliminasi antigen yang rnenginduksi pembentukannya.
Dikenal 2 macam antigen yang dapat menstimulasi sel B, yaitu antigen yang tidak
tergantung pada sel T (TI = T cell independent) dan antigen yang tergantung pada sel T (TD
= T cell dependent). Antigen TI dapat merangsang sel B untuk berproliferasi dan mensekresi
imunoglobulin tanpa bantuan sel T penolong (Th = T helper). Contohnya adalah antigen
dengan susunan molekul karbohidrat, atau antigen yang mengekspresikan determinan
antigen (epitop) identik yang multipel, sehingga dapat mengadakan ikatan silang antara
imunoglobulin yang ada pada permukaan sel B. Ikatan silang ini rnengakibatkan terjadinya
aktivasi sel B, proliferasi, dan diferensiasi. Polisakarida pneumokok, polinler D-asam amino
dan polivinil pirolidin mernpunyai epitop identik yang multipel, sehingga dapat mengaktifkan
sel B tanpa bantuan sel T. Dernikian pula lipopolisakarida (LPS), yaitu komponen dinding sel
beberapa bakteri Gram negatif dapat pula mengaktifkan sel B. Tetapi LPS pada konsentrasi
tinggi dapat merupakan aktivator sel B yang bersifat poliklonal. Hal ini diperkirakan karena
LPS tidak mengaktifkan sel B melalui reseptor antigen, tetapi nlelalui reseptor mitogen.
Antigen T D rnerupakan antigen protein yang ~ne~nbutuhkan bantuan sel T h
melalui limfokin yang dihasilkannya, agar dapat merangsang sel B untiik berproliferasi dan
berdiferensiasi.
Dikenal dua macam respons antibodi, yaitu respons antibodi primer dan sekunder.
Respons antibodi primer adalah respons sel B terhadap pajanan antigen ligannya yang
pertama kali, sedangkan respons antibodi sekunder adalah respons sel B pada pajanan
berikutnya, jadi merupakan respons sel B memori. Kedua macam respons antihodi ini
berbeda baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Perbedaan tersebut adalah pada
respons antibodi sekunder terbentuknya antibodi lebih cepat dan jumlahnya pun lebih
banyak.
Pada respons antibodi primer, kelas imunoglobulin yang disekresi terutama adalah
IgM, karena sel B istirahat hanya memperlihatkan IgM dan IgD pada permukaannya (IgD
jarang disekresi). Sedangkan pada respons antibodi sekunder, antibodi yang disekresi
terutama adalah isotip lainnya seperti IgG, IgA, dan IgE sebagai hasil alih isotip. Afinitas
antibodi yang dibentuk pada respons antibodi sekunder lebih tinggi dibanding dengan
respons antibodi primer, dan dinanlakan maturasi afinitas.
Respons sel B memori adalah khusus oleh stimulasi antigen TD, sedangkan
stimulasi oleh antigen TI pada umumnya tidak memperlihatkan respons sel B memori dan
imunoglobulin yang dibentuk umumnya adalah IgM. Hal ini menandakan bahwa respons
antibodi sekunder memerlukan pengaruh sel T h atau limfokin yang disekresikannya.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


STRUKTUR IMUNOGLOBULIN
Imunoglobulin atau antibodi adalah sekelompok glikoprotein yang terdapat dalam serum
atau cairan tubuh pada hampir semua mamalia. Imunoglobulin termasuk dalani famili
a 4-
glikoprotein yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari 82-96% ~ o l i ~ e p t i ddan
18% karbohidrat. Komponen ~ o l i p e ~ t imembawa
da sifat biologik molekul antibodi tersebut.
Molekul antibodi mempunyai dua fungsi yaitu mengikat antigen secara spesifik dan memulai
reaksi fiksasi komplemen serta pelepasan histamin dari sel mast. Pada manusia dikenal 5
kelas imunoglobulin. Tiap kelas mempunyai perbedaan sifat fisik, tetapi pada semua kelas
terdapat tempat ikatan antigen spesifik dan aktivitas biologik berlainan. Struktur dasar
imunoglobulin terdiri atas 2 macam rantai polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam
amino yang dikenal sebagai rantai H (rantai berat) dengan berat molekul55.000 dan rantai
L (rantai ringan) dengan berat molekul22.000. Tiap rantai dasar imunoglobulin (satu unit)
terdiri dari 2 rantai H dan 2 rantai L. Kedua rantai ini diikat oleh suatu ikatan disulfida
sedemikian rupa sehingga membentuk struktur yang simetris. Yang menarik dari susunan
imunoglobulin ini adalah penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino yang dikenal
sebagai daerah domain, yaitu bagian dari rantai H atau rantai L, yang terdiri dad hampir
110 asam amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain, sedangkan ikatan antara 2 rantai
dihubungkan oleh ikaran disulfid interchain. Rantai L mempunyai 2 tipe yaitu kappa dan
lambda, sedangkan rantai H terdiri dari 5 kelas, yaitu rantai G (y), rantai A (a), rantai M
(p),rantai E ( E ) dan rantai D (6). Setiap rantai mempunyai jumlah domain berbeda. Rantai
pendek L mempunyai 2 domain; sedang rantai G, A dan D masing-masing 4 domain, dan
rantai M dan E masing-masing 5 domain.
Rantai dasar imunoglobulin dapat dipecah menjadi beberapa fragmen. Enzim papain
memecah rantai dasar menjadi 3 bagian, yaitu 2 fragmen yang terdiri dari bagian H dan
rantai L. Fragmen ini mempunyai susunan asam amino yang bervariasi sesuai dengan
variabilitas antigen. Fab memiliki satu tempat tempat pengikatan antigen (antigen binding
site) yang menentukan spesifisitas imunoglobulin. Fragmen lain disebut Fc yang hanya
mengandung bagian rantai H saja dan mempunyai susunan asam amino yang tetap. Fragmen
Fc tidak dapat mengikat antigen tetapi memiliki sifat antigenik dan menentukan aktivitas
imunoglobulin yang bersangkutan, misalnya kemampuan fiksasi dengan komplemen, terikat
pada permukaan sel makrofag, dan yang menempel pada sel mast dan basofil mengakibatkan
degranulasi sel mast dan basofil, dan kemampuan menembus plasenta.
Enzim pepsin memecah unit dasar imunoglobulin tersebut pada gugusan karboksil
terminal sampai bagian sebelum ikatan disulfida (interchn) dengan akibat kehilangan
sebagian besar susunan asam amino yang menentukan sifat antigenik determinan, namun
demikian masih tetap mempunyai sifat antigenik. Fragmen Fab yang tersisa menjadi satu
rangkaian fragmen yang dikenal sebagai F(ab2) yang mempunyai 2 tempat pengikatan
antigen (lihat Gambar 9-5).
Klasifikasi imunoglobulin berdasarkan kelas rantai H. Tiap kelas mempunyai berat
molekul, masa paruh, dan aktivitas biologik yang berbeda. Pada manusia dikenal4 sub kelas
IgG yang mempunyai rantai berat yl, y2, y3, dan 74. Perbedaan antar subkelas lebih sedikit
dari pada perbedaan antar kelas.

lmunoglobulin G
IgG mempunyai struktur dasar imunoglobulin yang terdiri dari 2 rantai berat H dan 2 rantai
ringan L. IgG manusia mempunyai koefisien sedimentasi 7 S dengan berat molekul sekitar
150.000. Pada orang normal IgG merupakan 75% dari seluruh jumlah imunoglobulin.
Imunoglobulin G terdiri dari 4 subkelas, masing-masing mempunyai perbedaan yang
tidak banyak, dengan perbandingan jumlahnya sebagai berikut: IgGl40-70%, IgG2 4-20%,
IgG3 4-8%, dan IgG4 2-6%. Masa paruh IgG adalah 3 minggu, kecuali subkelas IgG3 yang
hanya mempunyai masa paruh 1minggu. Kemampuan mengikat komplemen setiap subkelas
IgG juga tidak sama, seperti IgG3 > IgGl > IgG2 > IgG4. Sedangkan IgG4 tidak dapat
mengikat komplemen dari jalur klasik (ikatan Clq) tetapi melalui jalur alternatif. Lokasi
ikatan C l q pada molekul IgG adalah pada domain CH2.
Sel makrofag mempunyai reseptor untuk IgGl dan IgG3 pada fragmen Fc. Ikatan
antibodi dan makrofag secara pasif akan memungkinkan makrofag memfagosit antigen yang
telah dibungkus antibodi (opsonisasi). Ikatan ini terjadi pada subkelas IgGl dan IgG3 pada
lokasi domain CH3.

ikatan
Rantai berat antigen

+Tempat ikatan
komplemen

+Ternpat ikatan
reseptor FC * Grup karbohidrat
S- -S lketan disulfida

Gambar 9-5.Struktur dasar imunoglobulin.


(Dikutip dengan modifikasi dari DP Stites dan Al Terr, 1991)

Buku Ajar Alergi lrnunologi Anak


Bagian Fc dari IgG nlempunyai bermacam proses biologik dimulai dengan kompleks
imun yang hasil akhimya pemusnahan antigen asing. Kompleks imun yang terdiri dari
ikatan sel dan antibodi dengan reseptor Fc pada sel kilkr memulai respons sitolitik (antibody
dependent cell-mediated cytoroxicity = ADCC) yang ditujukan pada antibodi yang diliputi
sel. Kompleks imun yang berinteraksi dengan sel limfosit pada reseptor Fc pada trombosit
akan menyebabkan reaksi dan agregasi trombosit. Reseptor Fc memegang peranan pada
transport IgG melalui sel plasenta dari ibu ke sirkulasi janin.

lmunoglobulin M
Imunoglobulin M merupakan 10% dari seluruh jumlah imunoglobulin, dengan koefisien
sedimen 19 S dan berat molekul 850.000-1.000.000. Molekul ini mempunyai 12% dari
beratnya adalah karbohidrat. Antibodi IgM adalah antibodi yang pertama kali tirnbul
pada respon imun terhadap antigen dan antibodi yang utama pada golongan darah secara
alami. Gabungan antigen dengan satu molekul IgM cukup untuk memulai reaksi kaskade
komplemen.
IgM terdiri dari pentamer unit monomerik dengan rantai p dan C., Molekul
monomer dihubungkan satu dengan laimya dengan ikatan disulfida pada domain CH4
menyerupai gelang dan tiap monomer dihubungkan satu dengan lain pada ujung permulaan
dan akhirnya oleh protein J yang berfungsi sebagai kunci.

A. faA serum I

Dimr Rantai J

2 ci
B. IgA sekretori

Rantai J
Komponen
sekretori

Garnbar 9-6.Struktur IgA dan slgA.


(Dikutip dengan rnodifikasi dari DP Stites dan Al Terr, 1991)
lmunoglobulin A
IgA terdiri dari 2 jenis, yakni IgA dalam serum dan IgA mukosa. IgA dalam serum terdapat
sebanyak 20% dari total imunoglobulin, yang 80% terdiri dari molekul monomer dengan
berat molekul 160.000, dan sisanya 20% berupa polimer dapat berupa dua, tiga, empat atau
lima monomer yang dihubungkan satu dengan lainnya oleh jembatan disulfida dan rantai
tunggal J (lihat Gambar 9-6). Polimer tersebut mempunyai koefisien sedimentasi 10,13,15 S.

Sekretori IgA
Sekretori imunoglobulin A (sIgA) adalah imunoglobulin yang paling banyak terdapat pada
sekret mukosa saliva, trakeobronkial, kolostrum/ASI, dan urogenital. IgA yang berada
dalam sekret internal seperti cairan sinovial, amnion, pleura, atau serebrospinal adalah tipe
IgA serum.
SIgA terdiri dari 4 komponen yaitu dimer yang terdiri dari 2 molekul monomer,
dan sebuah komponen sekretori serta sebuah rantai J. Komponen sekretori diproduksi
oleh sel epitel dan dihubungkan pada bagian Fc imunoglobulin A oleh rantai ] dimer yang
memungkinkan melewati sel epitel mukosa (lihat Gambar 4-6). SIgA merupakan pertahanan
pertama pada daerah mukosa dengan cara menghambat perkembangan antigen lokal, dan
telah dibuktikan dapat menghambat virus menembus mukosa.

lmunoglobulin D
Konsentrasi IgD dalam serum sangat sedikit (0,03 mglml), sangat labil terhadap pemanasan
dan sensitif terhadap proteolisis. Berat molekulnya adalah 180.000. Rantai 6 mempunyai
berat molekul60.000 - 70.000 dan 12% terdiri dari karbohidrat. Fungsi utama IgD belum
diketahui tetapi merupakan imunoglobulin permukaan sel limfosit B bersama IgM dan
diduga berperan dalam diferensiasi sel ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Abbas AK. Maturation of B lymphocytes and expression of immunoglobulin genes. Dalam:
Abbas AK, Lichtrnan AH, Pober JS, penyunting. Cellular and n~olecular immunology.
Philadelphia: Saunders, 1991; 70-96.
2. Immunoglobulin structure and function. Dalam: Stites Dl? Terr lA, penyunting. Basic and
clinical immunology; edisi ke-7. Norwalk: Appleton & Lange, 1991; 109-21.
3. Paralow TG. Immunoglobulin genetics. Dalam: Stites Dl? Ten IA, penyunting. Basic and
clinical immunology; edisi ke-7. Norwalk: Appleton & Lange. 1991; 122-30.
4. Golub SE. The basic immunoglobulin monomer. Dalam: Golub SE, penyunting. Immunology:
a synthesis.Sunderland: Sinatier Ass, 1987; 54-91.
5. Rabbita TH. Human immunoglobulin genes and associated chromosomal abnormalities.
Dalam: Lachman PJ, Peters KD, penyunting. Clinical aspects of immunology; edisi ke-5.
London: Blackwell, 1993; 131.48.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


6. Natvig JB, Turner MW. The immunoglobulins. Dalam: Lachman PJ, Peters KD, penyunting.
Clinical aspects of immunology; edisi ke-5. London: Blackwell, 1993; 149-70.
7. Roitt IM.The basic of immunology. Specific acquired immunity. Dalam: Roitt IM, penyunting.
Essential immunology; edisi ke-6. London: Blackwell. 1988; 15-30.
lmunitas Selular
Corry S Matondang, Zakiudin Munasir

M asuknya antigen ke dalam tubuh akan mengakibatkan suatu seri kejadian yang
sangat kompleks yang dinamakan respons imun. Secara garis besar, respons imun
terdiri atas respons imun selular dan hurnoral. Sebenamya kedua macam respons
imun ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, oleh karena respons yang terjadi
pada umumnya merupakan gabungan dari kedua macam respons tersebut. Hanya saja pada
keadaan tertentu imunitas selular lebih berperan daripada respons humoral, sedang pada
keadaan lainnya imunitas humoral yang lebih berperan.

Secara ringkas imunitas selular didefinisikan sebagai suatu respons imun ;erhadap antigen
.
yang diperankan oleh limfosit T dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya.
.
Imunitas seluler merupakan bagian dari respons imun didapat yang berfungsi
untuk mengatasi infeksi mikroba intraseluler. Imunitas seluler diperantarai oleh limfosit
T. Terdapat 2 jenis mekanisme infeksi yang rnenyebabkan mikroba dapat masuk dan
berlindung di dalam sel. Pertama, mikroba diingesti oleh fagosit pada awal respons imun
alamiah, narnun sebagian dari mikroba tersebut dapat menghindari aktivitas fagosit. Bakteri
dan protozoa intraseluler yang patogen dapat bereplikasi di dalam vesikel fagosit. Sebagian
mikroba tersebut dapat memasuki sitoplasma sel dan bermultiplikasi menggunakan nutrien
dari sel tersebut. Mikroba tersebut terhindar dari mekanisme mikrobisidal. Kedua, virus
dapat berikatan dengan reseptor pada berbagai macam sel, kemudian bereplikasi di dalam
sitoplasma sel. Sel tersebut tidak mempunyai mekanisme intrinsik untuk menghancurkan
virus. Beberapa virus meqebabkan infeksi laten, DNA virus diintegrasikan ke dalam genom
pejamu, kemudian protein virus diproduksi di sel tersebut.
Eliminasi mikroba yang berada di vesikel fagosit atau sitoplasma sel merupakan
fungsi utama limfosit T pada imunitas didapat. Sel T helper CD4+ juga membantu sel B
memproduksi antibodi. Dalam menjalankan fungsinya, sel T harus berinteraksi dengan sel
lain seperti fagosit, sel pejamu yang terinfeksi, atau sel B. Sel T mempunyai spesifisitas
terhadap peptida tertentu yang ditunjukkan denganmajor histocompatibilitycomplex (MHC).
Hal ini rnembuat sel T hanya dapat merespons antigen yang terikat dengan sel lain.

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


78
ONTOGElVl SEL LlMFOSlT T
Pada mulanya kita hanya mengenal satu macam limfosit. Tetapi dengan perkembangan di
bidang teknologi kedokteran, terutama sejak ditemukannya antibodi monoklonal, maka
kita mengetahui bahwa ada 2 macam limfosit, yaitu limfosit T dan limfosit B. Keduanya
berasal dari sel asal (stem cell) yang bersifat multipotensial, artinya dapat berkembang
menjadi berbagai macam sel induk seperti sel induk eritrosit, sel induk granulosit, sel induk
limfoid, dan lain-lain. Sel induk limfoid kemudian berkembang menjadi sel pro-lirnfosit T
dan sel pro,lirnfosit B. Sel pro-limfosit T dalam perkembangannya dipengaruhi timus yang
disebut juga organ limfoid primer, oleh karena itu dinamakan limfosit T.Sedangkan sel pro-
limfosit B dalam perkembangannya dipengaruhi oleh organ yang pada burung dinamakan
bursa fabricius atau gut-associated lymphoid tissue, karena itu dinamakan limfosit B.

Diferensiasi limfosit T
Perkembangan sel limfosit T intratimik mernbutuhkan asupan sel asal limfoid terus-menerus
yang pada fetus berasal dari yolksac, hati, serta sumsum tulang; dansesudahlahirdarisumsum
tulang. Sel yang berasal dari hati fetus dan sumsum tulang yang bersifat multipotensial
itu dalarn lingkungan mikro timus akan berkembang menjadi sel limfosit T yang matur,
tolerandiri (self tolerant) dan terbatas MHC diri (major histocompatibility complex restricted).
Di dalam timus, dalam proses menjadi limfosit matur terlihat adanya penataan kembali gen
yang produk molekulnya merupakan reseptor antigen pada permukaan limfosit T (TCR)
dan juga ekspresi molekul-molekul pada pennukaan limfosit T yang dinamakan petanda
permukaan (surfnce marker) Iimfosit T. Dinamakan petanda permukaan limfosit T karena
molekul tersebut dapat membedakan limfosit T dengan limfosit lainnya. Di dalam timus,
sebagian besar sel limfosit T imatur akan mati dengan proses yang dinamakan apoptosis.
Apoptosis adalah kematian sel yang diprogram (fisiologis) demi kebaikan populasi sel
lainnya. Sedangkan nekrosis atau disebut juga kematian sel accidental adalah kematian sel
karena kerusakan berat (patologis), misalnya akibat infeksi mikroorganisrne, trauma fisis,
zat kimia, hipertermia, iskemia, dan lain-lain.

Penataan kembali gen TCR


Molekul TCR merupakan kompleks glikoprotein yang terdiri atas rantai a, P atau y, 6.
Sebagian besar TCR matur merupakan dimer a, P sedangkan dimer y, 6 merupakan TCR
limfosit T awal (early).
4 .

Hanya 0,5,10% sel T matur perifer mempunyai TCR, yaitu limfosit T yang tidak
memperlihatkan petanda permukaan CD4 dan CD8 yang dinamakan sel limfosit T negatif
ganda (double negative = DN). Sel DN matur ini dapat mengenal aloantigen kelas I,
mungkin juga aloantigen kelas 11, dengan mekanisme yang belum jelas. Masih belum jelas
pula apakah sel DN matur juga dapat mengenal antigen asing.
PENATAANWBN
GEN IREVERSIBEL
*1
kornbinasi

1 011

-
I Protein 1
Pengumpulan Ekspresi
intra sitoplasrna permukaan
rul/a= a&,#

Gambar 10-1. Penataan kembali gen TCR. (Dikutip dengan modifikasi dari Acuto. 1985)

Gen yang mengkode TCR terletak pada kromosom 14 (a,y)dan kromosom 7 (P,6).
Gen ini merupakan anggota dari superfamili gen imunoglobulin, karena itu molekul TCR
mempunyai struktur dasar yang sama dengan struktur dasar imunoglobulin. Segmen gen
ini ada yang akan membentuk daerah variabel M dari TCR, daerah diversitas (D), daerah
joining (J), dan daerah konstan (C). Karena segmen gen ini terletak terpisah, maka perlu
diadakan penataan kembali gen VDJC atau VJC agar dapat ditranskripsi dan menghasilkan
produk berupa TCR. Penataan kembali segmen DNA ini akan memungkinkan keragaman
(diversity) spesifisitas TCR yang luas. Setiap limfosit T hanya mengekspresikan satu produk
kombinasi VDJC atau VJC, yang membedakan klon yang satu dari klon lainnya (lihat
Gambar 10-1).
Limfosit T yang mempunyai TCR antigen diri (selfantigen) akan mengalami apoptosis
karena ia telah terpajan secara dini pada antigen diri dan mati insitu dengan mekanisme
yang belun-r jelas. Karena itu, limfosit matur yang keluar dari timus adalah limfosit yang
hanya bereaksi dengan antigen non selfdan dinamakan toleran diri. Di dalam timus, limfosit
T juga mengalami pengenalan antigen diri hanya bila berasosiasi dengan molekul MHC
diri, melalui proses yang juga belum diketahui dengan jelas yang dinamakan terbatas MHC
diri. Molekul TCR I11 diekspresikan pada membran sel T bersama molekul CD3, yaitu salah
satu molekul petanda permukaan sel T.

Ekspresi petanda permukaan sel limfosit T


Pada masa diferensiasilimfositTdi dalam timus akan teijadiekspresi berbagaimacam molekul
petanda permukaan limfosit 'I: Peran biologis dan peran fungsional petanda permukaan

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


80
ini belumlah jelas semuanya. Berbagai rnolekul tersebut dapat dideteksi dengan rnernakai
antibodi rnonoklonal. Bila antibodi rnonoklonal keluaran pabrik Coulter Electronik yang
dipakai maka ~nolekultersebut diberi narna dengan huruf T. Bila rnemakai antibodi keluaran
pabrik Ortho Diagnostik rnaka ~nolekultersebut diberi nama dengan huruf OKT (Ortho
Kung T), sesuai dengan nama peneliti yang mengajukannya. Bila keluaran pabrik Becton
Dickinson yang dipakai maka molekul tersebut diberi nama dengan huruf Leu. Sekarang
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menamakan molekul-rnolekul tersebut dengan huruf CD
(cluster of differentiation) (lihat Gambar 10-2).
Sel proT yang berasal darisel asal multipotensial, didalarn korteks timus pada mulanya
akan memperlihatkan molekul CD1, CD2, CD5, CD6, CD7 pada perrnukaannya. Molekul
CD2 rnerupakan molekul yang dapat rnengikat sel eritrosit domba. Karena itu, bila sel
limfosit T diinkubasikan dengan eritrosit rnaka akan terbentuk sel roset E, yaitu sel limfosit
T yang dikelilingi sel eritrosit dornba. Sifat ini rnerupakan salah satu cara yang dipergunakan
untuk mengenal sel limfosit Z Pada tahap ini sel limfosit T belurn rnernperlihatkan molekul
CD4 dan CDS sehingga dinamakan juga sel negatif ganda. Bersamaan dengan ekspresi
rnolekul sel TCR terjadi juga ekspresi molekul CD3 dan terbentuklah kompleks D3/TCR.
Molekul CD3 terdiri atas sekelompok rantai y, 6, E , 6 (zeta) dan q. Dalam perkembangan
selanjutnya sel lirnfosit T mernperlihatkan rnolekul CD4 dan CD8 ada permukaannya. Sel
ini dinamakan sel T positif ganda (doubk positive = DP). Dan korteks limfosit T masuk ke
daerah medula. Di daerah rnedula terjadi penurunan ekspresi (down expression) molekul
CD4 atau CD8 sehingga terdapat 4 fenotip limfosit, yaitu CD4+8- (sel T CD4), CD4-8+
(sel T CD8), CD4-8- dan CD4+8+ (lihat Garnbar 10-2). Lirnfosit T matur yang keluar
dari timus sebagian besar terdiri atas sel T CD4+ dan sel T C D 8 f . Dari medula timus

Gambar 10-2. Ontogeni sel limfosit T.


(Dikutip dengan mod~fikasidari Abbas, Lichtman, Prober, 1991)
limfosit T matur bermigrasi ke organ limfoid sekunder seperti limpa, kelenjar limfe, tonsil,
dan beredar ke seluruh tubuh melalui sistem pembuluh darah dan limfatik. Disinilah
kelak sel T matur akan berjumpa dengan mikroorganisme atau antigen counterpart-nya,
sehingga terjadi proliferasi dan diferensiasi yang dinamakan ekspansi klon. Sel asal (stem
cell) membutuhkan waktu 3 hari di dalam timus untuk menjadi matur. Di darah perifer
dapat ditemukan sel CD4+8. sebanyak 70%, sel CD4-8+ sebanyak 25%, sel CD4-8-
sebanyak 4%, dan sel CD4+8+ sebanyak 1%. Fungsi sel CD4-8- dan sel CD4+8+ belum
diketahui.
Sel T CD4 (Th) ada 2 macam, yang dapat dibedakan dari sitokin yang dihasilkannya.
Klon sel T h l (Td) menghasilkan interferon y (IFN-y), IL-2,dan limfofokin dan sitokin lain
seperti IL2, IL3, GMCsE INF-P, IL-12, IL-18 yang akan meningkatkan fungsi imunitas
selular (reaksi hipersensitivitas tipe lambat). Klon sel Th2 menghasilkan IL-4 dan IL-5 yang
akan meningkatkan fungsi imunitas humoral (respons sel B). Sel TCD8 juga ada 2 macam,
yaitu sel T sitotoksik (sel Tc) yang akan melisis antigenlsel sasaran dan sel T penekan (sel
Ts) yang menekan fungsi sel irnun lainnya.

Reseptor antigen sel limfosit T (TCR)


Molekul TCR terdapat pada membran sel T berasosiasi dengan molekul CD3, merupakan
kompleks glikoprotein transmembran. Sebagian besar dari molekul ini berada ekstraselular
dan merupakan bagian pengenal antigen. Sedangkan bagian transmembran merupakan
tempat berlabuhnya TCR pada membran sel yang berinteraksi dengan bagian transmembran
molekul CD3.
Molekul CD3 mempunyai segmen intrasitoplasmik yang agak panjang sesuai dengan
perannya untuk sinyal intraselular. Demikian pula molekul TCR mempunyai segmen

Membran sel target1APC

Membran sel T

Gambar 10-3. Reseptor sel T. (Dikutip dengan modifikasi dari Shearer, 1993)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


intrasitoplasmik yang akan mentransduksi sinyal ke dalam sel. Bagian distal ekstraselular
TCR tneru~akanbagian vnriabel ynng dapat mengenal antigen, yang membedakan satu
klon sel T dari klon lainnya (lihat Gambar 10-3).

AKTlVASl SEL T
Sel limfosit T biasanya tidak bereaksi dengan antigen utuh. Sel T baru bereaksi terhadap
antigen yang sudah diproses menjadi peptida kecil yang kemudian berikatan dengan
~nolekulMHC di dalam fagosom sitoplasma dan kemudian diekspresikan ke permukaan sel.
Sel limfosit T hanya dapat mengenal antigen dalam konteks molekul MHC diri. Molekul
CD4 dan CD8 inerupakan molekul yang menentukan terjadinya interaksi antara CD3/
TCR dengan kompleks MHCIantigen. Sel T CD4 akan mengenal antigen dalam konteks
molekul MHC kelas 11, sedang sel T CD8 akan mengenal antigen dalam konteks molekul
MHC kelas I.
Untuk dapat mengaktifkan sel T dengan efektif, perlu adanya adhesi antara sel T
dengan sel APC atau sel sasaran (target). Adhesi ini, selain melalui kompleks CD4/CD8-
TCR-CD3 dengan MHC kelas II/kelas I-ag, dapat juga ditingkatkan melalui ikatan reseptor-
ligan lainnya. Reseptor-ligan tersebut antara lain, CD28eB7, LFA-I-ICAM112 (molekul
asosiasi fungsi limfosit 1 = lymphocyte function associated 1 , molekul adhesi inte~selular1 =
inter cellular adhesion mokcule I), CD2-LFA3, CD5-CD72 (lihat Gambar 10-4).
Terjadinya ikatan antara antigen dan TCR dinamakan tahapan primer. Aktivasi sel
T juga memerlukan adanya stimulasi sitokin, seperti interleukin 1 (IL-1) yang dikeluarkan
oleh sel APC yang dinamakan ko-stimulator. Sinyal adanya ikatan TCR dengan antigen
akan ditransduksi melalui bagian TCR dan CD3 yang ada di dalam sitoplasma (lihat
Gambar 10-3). Sinyal ini akan mengaktifkan enzim dan mengakibatkan naiknya Ca++

+ Reseptor 11 11-1,6 1 10

ICAM-112
/'-
S U APC
C M atau CD8
SEL TARGET

Gambar 10-4. lnteraksi sel T dengan sel APUsel target.


(Dikutip dengan modifikasi dari JD Fraser, D Strauss, A Weiss, 1993)
bebas intraselular, naiknya konsentrasi c-GMP dan terbentuknya protein yang dibutuhkan
untuk transformasi menjadi blast. Terjadilah perubahan morfologis dan biokimia. Tahapan
ini dinamakan tahapan sekunder. Kemudian terjadilah diferensiasi menjadi sel efektorlsel
regulator dan sel memori. Sebagai akibat transduksi sinyal, juga terjadi ekspresi gen limfokin
dan terbentuklah berbagai macam limfokin. Melalui pembentukan limfokin, sel regulator
akan meregulasi dan mengaktikan sel yang berperan dalanl eliminasi antigen, sedangkan
sel efektor akan melisis antigenlsel sasaran atau menimbulkan peradangan pada tempat
antigen berada, agar antigen tereliminasi. Tahapan ini dinamakan tahapan tersier. Tahapan
ini dapat dipakai untuk menilai fungsi sel T.

Fase-fase respons sel T


Respons limfosit T terhadap antigen mikroba terdiri dari beberapa fase yang menyebabkan
peningkatan jumlah sel T spesifik dan perubahan sel T naif menjadi sel efektor. Linlfosit T
naif terus bersirkulasi melalui organ limfoid perifer untuk mencari protein antigen asing. Sel
T naif mempunyai reseptor antigen dan molekul lain yang dibutuhkan dalam pengenalan
antigen. Di dalam organ limfoid, antigen diproses dan ditunjukkan dengan molekul MHC
pada antigen-presenting cell (APC), kemudian sel T bertemu dengan antigen tersebut untuk
pertama kalinya. Pada saat itu, sel T juga menerima sinyal tambahan dari mikroba itu sendiri
atau dari respons imun alamiah terhadap mikroba.
Sebagai respons terhadap stimulus tersebut, sel T akan mensekresi sitokin. Beberapa
sitokin bekerja sama dengan antigen dan sinyal kedua dari mikroba untuk menstimulasi
proliferasi sel T yang spesifik untuk antigen. Hasil dari proliferasi ini adalah penambahan
jumlah limfosit spesifik antigen dengan cepat yang disebut clonal expansion. Fraksi dari
limfosit ini menjalani proses diferensiasidimana sel T naif (berfungsi untuk mengenal antigen
mikroba) berubah menjadi selT efektor (berfungsi untuk memusnahkan mikroba). Sebagian
sel T efektor tetap di dalam kelenjar getah bening dan berfungsi untuk nlelnusnahkan sel
terinfeksi atau memberikan sinyal kepada sel B untuk nlenghasilkan antibodi. Sebagian
sel T berkembang menjadi sel T memori yang dapat bertahan lama. Sel ini tidak aktif dan
bersirkulasi selama beberapa bulan atau tahun, serta dapat merespons dengan cepar apabila
terjadi paparan berulang dengan mikroba. Setelah sel T efektor berhasil mengatasi infeksi,
stimulus yang memicu ekspansi dan diferensiasi sel T juga berhenti. Klon sel T yang sudah
terbentuk akan mati dan kembali ke keadaan basal. Hal ini terjadi pada sel T CD4+ dan
CD8+, namun terdapat perbedaan pada fungsi efektomya.

PENGENALAN ANTIGEN DAN KO-STIMULASI


Inisiasi respons sel T membutuhkan beberapa reseptor untuk mengenali ligan pada antigen
presenting cell (APC). Reseptor sel T mengenali antigen peptida yang berhubungan dengan
MHC. KO-reseptorCD4 atauCD8 mengenali MHC yaitu molekul adhesi untuk meinperkuat
pengikatan sel T ke APC. Selain itu, terdapat reseptor lain sebagai ko-stimulator mengenali

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


84
sinyal kedua dari APC. Selain reseptor antigen, molekul pada sel T yang turut berperan
dalam respons sel T disebut molekul aksesori. Fungsi molekul aksesori ini dibagi menjadi 3
yaitu pengenalan (recognition),pengeluaran sinyal (signaling),dan adhesi (adhesion). Molekul
aksesori yang berbeda terikat ke ligan yang berbeda pula.

Pengenalan peptida yang berhubungan dengan MHC


Reseptor sel T terhadap antigen ( T cell receptor / TCR) dan ko-reseptor CD4 atau CD8
bersama-sama mengenali kompleks antigen peptida dan MHC pada APC. Pengenalan
ini menghasilkan sinyal pertama untuk aktivasi sel T. Antigen protein ditelan oleh APC
: dari ekstraseluler ke dalam vesikel, kemudian antigen ini diproses menjadi peptida yang
berhubungan dengan MHC kelas 11. Sebaliknya, protein antigen yang terdapat 'ili sitoplasma
diproses menjadi peptida yang berhubungan dengan MHC kelas I. Molekul T cell receptor
(TCR) terdiri dari rantai a dan P, dimana keduanya berperan dalam pengenalan antigen.
Molekul T cell receptor (TCR) akan mengenali peptida dan sisa dari MHC. Setiap sel T
matur yang direstriksi oleh MHC mempunyai CD4 atau CD8 yang disebut sebagai ko-
reseptor karena berfiingsi untuk mengikat MHC bersama-sama dengan TCR. Pada saat TCR
lnengenali kompleks peptida-MHC, CD4 mengenali MHC kelas I1 atau CD8 mengenali
MHC kelas I. Sel T CD4+, yang berfungsi sebagai sel helper penghasil sitokin, akanmengenali
antigen mikroba yang dicerna dari jaringan ekstraseluler dan dihubungkan dengan MHC
kelas 11. Sel T CD8+, yang berfungsi sebagai sel T sitotoksik, akan mengenali peptida dari
lnikroba di dalam sitoplasma yang dihubungkan dengan MHC kelas I. Sebanyak dua atau
lebih TCR dan ko-reseptor perlu diaktifkan secara berurutan untuk memulai respon sel
T karena reaksi pelepasan sinyal biokimia hanya dapat dimulai jika TCR dan ko-reseptor
bekerja bersama-sama. Setiap sel T hanya dapat berespons jika bertemu dengan kompleks
peptida-MHC pada suatu APC. Sel T perlu berikatan dengan antigen selama beberapa
waktu (minimal beberapa nlenit) atau beberapa kali supaya terbentuk sinyal biokimia yang
cukup untuk memulai respons sel T.
Sinyal biokimia ini dipicu oleh protein yang berhubungan dengan TCR untuk
inembentuk konlpleks TCR atau oleh ko-reseptor CD4 dan CD8. T cell receptor (TCR)
dapat mengenali antigen, tetapi tidak bisa menghasilkan sinyal biokirnia. T cell receptor
(TCR) berikatan dengan suatu konlpleks protein yang dinamakan CD3, dan dengan rantai
: (. Gabungan dari TCR, CD3 dan rantai C; disebut kompleks TCR.
Sebagian kecil sel T terdiri dari rantai y dan 6 yang strukturnya serupa dengan
I rantai a dan p dari TCR pada sebagian besar sel T Sel T y6 berfungsi sebagai pertahanan
1 pada permukaan epitel. Sel T y6 tidak dapat mengenali peptida pada MHC, namun bisa
I mengenali lipid dan molekul lain pada mikroba.
Sel T juga dapat diaktifkan oleh n~olekulyang terikat pada TCR dengan tidak
memandang spesifisitas peptida-MHC dari TCR. Contoh aktivator ini antara lain antibodi yang
spesifik untuk TCR atau CD3, fitohenlaglutinin, dan superantigen. Superantigen nukroba dapat
menyebabkan penyakit berat akibat aktivasi sel T dan pelepasan sitokin yang berlebihan.
Peran molekul adhesi pada aktivasi sel T
Molekul adhesi pada sel T mengenali ligan mereka di APC dan menstabilkan pengikatan sel
T ke APC. Molekul TCR berikatan lemah dengan kompleks peptida-MHC. Sel T mengenali
antigen asing dengan lemah. Supaya terjadi respons, diperlukan stabilisasi pengikatan sel T
dengan APC dalam waktu yang cukup sehingga tercapai pembentukan sinyal. Stabilisasi ini
dilakukan oleh molekul adhesi pada sel T yang ligannya terdapat di APC. Molekul adhesi
yang terpenting adalah integrin yaitu suatu protein heterodinler (dua rantai). Integrin yang
paling berperan pada pengikatan dengan APC adalah leukocyte function-associated antigen- 1
(LFA-1) yang ligannya pada APC dinamakan intercellular adhesion molecule- 1 (ICAM-1).
Integnn meningkatkan respons sel T terhadap antigen mikroba melalui 2 cara. Pada
sel T naif, LFA-1 integnn berada dalam keadaan low-affinity.Jika sel T terpapar dengan
chemokine pada respons imun alamiah terhadap infeksi, maka LFA-1 pada sel T tersebut akan
berubah menjadi high-afiity dan berkumpul (cluster) dalam hiti~nganmenit. Akibatnya,
sel T terikat erat dengan APC. Pengenalan antigen oleh sel T juga meningkatkan afinitas
LFA-1 sehingga terjadi umpan balik positif @ositiwefeedback). Integrin juga berperan dalam
mengarahkan migrasi sel T efektor ke tempat terjadinya infeksi.

PERAN KO-STIMULASI DALAlVl AKTIVASI SEL T


Aktivasi penuh sel T tergantung dari pengenalan ko-stimulator di APC. KO-stimulator
m e r u p a h "sinyal kedua" untuk aktivasi sel T. Istilah "ko-stimulator" menunjukkan bahwa
molekul tersebut memberikan stimuli kepada sel T bersama-sama dengan sti~nulasioleh antigen.
Contoh ko-stimulator adalah B7-1 (CD80) dan B7-2 (CD86). Keduanya terdapat pada APC
dan jurnlahnya meningkat bila APC bertemu dengan mikroba. Jadi, mikroba akan menstimulasi
ekspresi B7 pada APC. Protein B7 dikenali oleh reseptor bemama CD28 yang terdapat pada sel
T. Sinyal dari CD28 bekerja bersama dengan sinyal yang berasal dari pengikatan TCR Jan ko-
reseptor kompleks peptida-MHC pada APC yang sama. Mekanisme ini penting untuk memulai
respons pada sel T naif. Apabila tidak terjadi interaksi CD28-B7, pengikatan TCR saja tidak
mampu untuk mengaktivasi sel T sehingga sel T menjadi tidak responsif. Antigen presenting cell
(APC) juga mempunyai molekul lain yang struktur dan fungsinya serupa dengan B7- 1dan B7-2.
Molekul B7-like ini penting pada aktivasi sel T efektor.
Molekul lain yang turut berperan sebagai ko-stimulator adalah CD40 pada APC
dan ligan CD40 (CD154) pada sel T. Kedua molekul ini tidak berperan langsung dalam
aktivasi sel T. Interaksi CD40 dengan ligannya menyebabkan APC membentuk lebih
banyak ko-stimulator B7 dan sitokin seperti IL-12. Interaksi ini secara tidak langsung akan
meningkatkan aktivasi sel T.
Pentingnya peran ko-stimulator dalam aktivasi sel T dapat menjelaskan mengapa
antigen protein yang digunakan dalam vaksin tidak dapat menimbulkan respons imun sel
T, kecuali jika antigen tersebut diberikan bersama dengan bahan lain untuk mengaktivasi
makrofag danAPC. Bahaninidisebutadjuvant danberfungsi untukmerangsang pembentukan
ko-stimulator pada APC, serta untuk menstimulasi produksi sitokin dari APC. Sebagian

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak


86.
besar adjuvant merupakan ~rodukmikroba atau bahan yang menyerupai mikroba. Adjuvant
akan mengubah protein antigen inert agar menyerupai mikroba patogen.
Aktivasi sel T CD8+ distinlulasi oleh ~engenalanpeptida yang berhubungan
dengan MHC kelas I, serta membutuhkan kostimulasi danlatau sel T helper. krkdmbangan
sel T sitotoksik CD8+ pada infeksi virus membutuhkan sel T helper CD4+. Pada infeksi
virus, sel yang terinfeksi dicerna oleh APC khususnya sel dendrit, kemudian antigen virus
akan dipresentasikan silang (cross-presented) oleh APC. Antigen presenting cell (APC)
akan mempresentasikan antigen dari sitosol sebagai kompleks dengan MHC kelas I, dan
antigen dari vesikel sebagai kompleks dengan MHC kelas 11. Oleh sebab itu, sel CD4+
dan sel CD8+ yang spesifik untuk antigen virus tersebut akan bekerja secara berdekatan.
Sel T CD4+ menlproduksi sitokin atau molekul membran untuk mengaktivasi sel TCD8+,
sehingga ekspansi klonal dan diferensiasi sel TCD8+ menjadi sel T sitotoksik CT,) efektor
dan memori tergantung dari bantuan sel TCD4+. Hal ini dapat menjelaskan terjadinya
defek respons sel Tc terhadap virus pada pasien human immunodeficiency virus (HIV).Selain
respons yang telah dijelaskan di atas, terdapat pula respons sel Tc terhadap beberapa virus
yang tidak bergantung kepada bantuan sel T CD4+.

RESPONS SEL T TERHADAP ANTIGEN DAN KO-STIMULASI


Pengenalan antigen dan ko-stimulator oleh sel T akan memulai suatu respons yang berakhir
dengan ekspansi klon sel T yang spesifik antigen serta diferensiasi sel T naif menjadi sel
efektor dan sel memori. Respons sel T ini diperantarai oleh sitokin yang dihasilkan oleh sel
T sendiri dan sel lainnya.

Sekresi sitokin dan pembentukan reseptor sitokin


Sebagai respons terhadap antigen dan ko-stimulator, sel T (khususnya CD4+) akan
mensekresikan berbagai sitokin. Sitokin merupakan sekumpulan protein yang berfungsi
sebagai mediator imunitas dan inflamasi. Pada imunitas alamiah sitokin diproduksi oleh
makrofag, sedangkan pada imunitas didapat sitokin disekresi oleh sel ?:
Sitokin yang pertama kali diproduksi oleh sel T (dalam 1-2 jam setelah aktivasi) ialah
interleukin-2 (IL-2). Aktivasi sel T membuat afinitas reseptor IL-2 pada sel T meningkat.
Reseptor IL-2 pada sel T yang aktif mempunyai 3 rantai. Sedangkan reseptor IL-2 pada sel
T naif tidak mempunyai afinitas yang tinggi karena hanya mempunyai 2 rantai. Beberapa
jam setelah aktivasi, sel T akan memproduksi rantai reseptor IL-2 yang ketiga sehingga
dapat mengikat IL-2 dengan kuat. IL-2 disebut sebagai T cell growth factor karena berfungsi
untuk menstimulasi proliferasi sel T.
Sel T CD8+ tidak mensekresi banyak IL-12. Sel T CD8+ dapat berproliferasi hanya
dengan sedikit bantuan IL-2, nalnun pada beberapa kasus aktivasinya tergantung dari sel T
CD4+ di dekatnya yang memberikan IL-12.
Ekspansi klgnal
Dalam 1-2 hari setelah aktivasi, limfosit T mulai berproliferasi dan menghasilkan klon
yang spesifik antigen. Ekspansi ini menyediakan limfosit yang cukup untuk pembentukan
sel efektor. Besamya jumlah ekspansi klon ini cukup menakjubkan terutama sel T CD8+.
Sebelum infeksi, jumlah sel T CD8+ yang spesifik untuk suatu antigen adalah lo5- lo6
di tubuh. Pada puncak infeksi virus, 10.20% dari seluruh limfosit dalam organ limfoid
spesifik terhadap virus tersebut. Hal ini berarti telah terjadi ekspansi klon sebesar 10.000
kali, dengan doubling time sekitar 6 jam. Pada infeksi mikroba kompleks yang mengandung
banyak anrigen protein, ekspansi klon yang terjadi hanya spesifik terhadap kurang dari 5
jenis yang paling dominan.
Ekspansi sel T CD4+ lebih kecil yaitu hanya 100 - 1.000 kali lipat. Perbedaan
besamya ekspansi ini berhubungan dengan fungsi masingmasing. Sel T sitotoksik CD8+
merupakan sel efektor yang di~erlukanuntuk membunuh sejumlah besar sel terinfeksi.
Sebaliknya, sel efektor CD4+ rnensekresi sitokin untuk mengaktivasi sel efektor lainnya
sehingga tidak diperlukan jurnlah yang banyak.

Diferensiasi sel T naif menjadi sel efektor


Progeni sel T yang berproliferasi mulai berdiferensiasi menjadi sel efektor yang berfungsi
untuk mengatasi infeksi. Proses diferensiasi merupakan hasil dari perubahan ekspresi gen
(misalnya aktivasi gen yang mengkode sitokin pada sel T CD4+ dan CD8+, atau protein
sitolitik pada sel T sitotoksik CD8+). Sel efektor yang telah berdiferensiasi timbul dalam
3-4 hari setelah terinfeksi mikroba. Sel ini bermigrasi dari organ linlfoid perifer ke tempat
infeksi. Sel efektor CD4+ dan CD8+ mempunyai fungsi yang berbeda.

Gambar 10-5. Protein CD4OL dan reseptornya.


(Dikutip dengan modifikasi dari Sompayrac, 2003)

Buku Ajar Alergi lmunologi Anak