Anda di halaman 1dari 13

TERAPI EKSPRESI DALAM KONSELING

Proses konseling merupakan upaya kolaboratif


yang bersifat terapeutik antara konselor dan konseli
dalam mengeksplorasi berbagai isu yang menjadi
masalah bagi konseli serta mencari alternatif solusi untuk
me-ngatasi masalah yang dialami konseli. Di satu sisi,
proses konseling dapat menjadi solusi bagi pemecahan
masalah konseli, namun di sisi lain apabila proses
konseling berjalan tidak efektif, maka dapat menjadi
pengalaman yang kurang bermakna baik bagi konseli
maupun bagi konselor yang berujung pada titik dimana
konselor tidak dipercaya dan tidak mendapat tempat di
hati konseli. Untuk mengatasi hal tersebut, konselor
diharapkan dapat mengembangkan berbagai pendekatan
atau strategi yang kreatif untuk meningkatkan efektivitas
konseling. Penggunaan metode seperti seni ekspresif dan
kreatif dapat menjadi alternatif solusi dalam
memperdalam proses konseling serta mempercepat
diagnosis, eksplorasi masalah, dan penyelesaian masalah
konseli. Penggunaan modalitas seni ekspresif dalam
proses konseling dapat membantu konseli untuk
mengeksplorasi perasaan terdalam yang tidak bisa
terungkap melalui kata-kata, yaitu dengan cara
menggunakan simbol-simbol untuk mewakili perasaan
dan konflik batin yang dialami oleh konseli.
Pada intinya seni ekspresif bukan berusaha
mengganti teori konseling yang sudah ada, namun lebih
pada memperluas dan memperkaya khazanah teori
konseling yang sudah ada dan sudah akrab di mata
konselor selama ini, dengan menghadirkan inovasi
dengan cara mengintegrasikan pelaksanaan konseling
dalam intervensi seni ekspresif, agar nantinya bisa
mengembangkan terapi yang lebih efektif. Konseling
dengan menggunakan seni ekspresif awalnya
dikembangkan dengan keahlian dalam satu modalitas
tertentu seperti musik, drama, atau tari, namun tidak
menutup kemungkinan digunakannya dua atau lebih
modalitas seni secara bersama dalam proses konseling
(Gladding, 2005).

A. PENGERTIAN SENI EKSPRESIF DALAM KONSELING


Penggunaan istilah seni ekspresif dalam
konseling dikenal dengan beberapa istilah Mey, (2009)
menjelaskan bahwa seni ekspresif dalam konseling
dikenal dengan istilah Expressive therapy, juga dikenal

dengan expressive arts therapy atau creative arts therapy


, inti makna dari beberapa istilah tersebut adalah
menggunakan proses kreasi seni sebagai bentuk terapi.
Makna dari penggunaan seni ekspresif dalam konseling
merupakan proses bantuan yang mempergunakan media
seni, dan proses kreativitas seni dalam proses konseling
yang bertujuan untuk mencapai perkembangan individu
yang optimal, kemampuan, kepribadian, minat,
kecemasan dan perilaku. (AATA; Rubin, 2005). Kunci
modalitas seni ekspresif yang digunakan dalam konseling
terdiri dari berbagai macam bentuk di antaranya adalah:
a. Seni Visual meliputi banyak bentuk kreasi seni; seperti
melukis, menggambar, memahat, membuat Collage,
fotografi dan sebagainya;
Beberapa tahun belakangan ini, aktivitas
menggambar telah banyak dijadikan sarana dalam proses
terapi terhadap anak-anak yang mengalami penganiayaan
secara fisik dan seksual atau menjadi korban kejahatan
rumah tangga, anak yang mengalami ganagguan
emosional, anak yang berada dalam perawatan medis
(Malchiodi, 2001) dan anak yang mengalami gangguan
perilaku (Juul dan Schuler, 1983). Anak-anak yang
mengalami gangguan perilaku kebanyakan lebih bersifat
kinestetik daripada verbal dan banyak yang kurang
mampu dalam bahasa, karena itu, gambar dapat
membantu memahami bagaimana dinamika individu dan
apa yang mereka butuhkan (Silver dan Ellison, 1995).
Menurut Winnicott (dalam Malchiodi, 2001), gambar dapar
berfungsi sebagai sarana komunikasi antara terapis dan
anak yang dapat membuat anak aktif berpartisipasi dalam
proses terapeutik. Gambar akan membantu anak
mengekspresikan masalahnya dan pandangannya
terhadap dunianya. Winnicott menegaskan bahwa gambar
dapat menjadi sebuah katalisator yang akan
meningkatkan interaksi dan efektivitas proses terapeutik
antara terapis dan klien. Gross & Hayness (dalam
Malchiodi,2001)
melakukan
percobaan
tentang
bagaimana pengaruh gambar dalam memfasilitasi laporan
secara verbal pada anak. Mereka menemukan bahwa
anak-anak yang diwawancarai ketika sambil menggambar
memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan
anak-anak yang hanya diminta bercerita. Mereka
berasumsi bahwa hal ini terjadi karena menggambar
dapat mengurangi kecemasan dan menolong anak
merasa lebih nyaman dengan terapis, dapat
meningkatkan pemanggilan kembali memori, dan dapat
membantu anak mengorganisir ceritanya.

b. Terapi Musik, Empat area kerja dari terapi musik


diantaranya fungsi fisik, fungsi kognitif, fungsi psikologis,
dan fungsi sosial. Selama terapi musik, klien bisa aktif
menulis dan menciptakan musik mereka sendiri.
Asal kata musik bersumber dari kata muse
yang diadaptasi ke dalam Bahasa Inggris menjadi music
yang mengandung makna bentuk renungan. Musik lahir
dari kecintaan manusia pada kehidupan dan dilandasi
oleh ingatan manusia akan pengalaman-pengalaman
hidup yang telah dialami (Campbell, 1997). Musik
merupakan hasil teknologi media audio yang
mengandalkan fungsi indera pendengaran sebagai
penangkap musik bagi manusia. Mendengar menurut
Campbell (1997) adalah kemampuan untuk menerima
informasi auditif melalui telinga, kulit dan tulang-belulang.
Sedangkan, mendengarkan adalah kemampuan
menyaring, memusatkan perhatian secara selektif,
mengingat, dan menanggapi bunyi. Jadi, mendengar
adalah tindakan pasif sedangkan mendengarkan adalah
tindakan aktif. Seseorang menangkap stimulus ritmis
bunyi lewat indra pendengarannya, lalu stimulus ritmis
diteruskan ke sistem saraf di otak yang mereorganisasi
interpretasi bunyi ke dalam ritme internal pendengar.
Interpretasi bunyi yang sesuai dengan ritme internal
pendengar akan mempengaruhi proses metabolisme
tubuh menjadi lebih baik. Metabolisme tubuh yang lebih
baik akan meningkatkan sistem kekebalan, dan dengan
sistem kekebalan yang lebih baik maka tubuh menjadi
lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit.
Kata musik dan terapi musik digunakan untuk
menjelaskan media yang digunakan secara khusus da;am
rangkaian terapi. Terpi musik adalah terapi yang bersifat
nonverbal. Dengan bantuan musik, pikiran klien dibiarkan
untuk mengembara, baik mengenang hal-hal yang
membahagiakan, membayangkan ketakutan-ketakutan
yang dirasakan, mengangankan hal-hal yang diimpikan
dan dicita-citakan, atau langsung mencoba menguraikan
permasalahan yang sedang dihadapi (Djohan, 2006: 24).
Menurut Darrow dkk (1985) media musik sebagai
bagian dari psikoterapi didasarkan pada delapan alasan,
yaitu; (i) keberhasilan musik (sebagai terapeutik) tidak
tergantung pada pencapaian keahlian yang telah
ditetapkan sebelumnya, (ii) bahwa musik dapat merubah
dan membangkitkan emosi, (iii) musik dapat menstimulasi
asosiasi diluar musikal, (iv) musik yang mestimulasi dan
menenangkan dapat mempunyai pengaruh yang berbeda
pada individu yang berbeda, (v) musik dapat
mempengaruhi proses fisiologis, (vi) musik dapat melukai

dalam kondisi-kondisi tertentu, (vii) musik mempunyai


penerapan terapeutik yang variatif, (viii) musik dapat
digunakan dalam preventif an kesehatan.
Berdasarkan hasil Simposium Internasional
Terapis Musik pada tahun 1982 menghasilkan formulasi
bahwa terapi musik memfasilitasi proses kreatif keluar dari
kekosongan secara fisik, emosional, mental, dan selfspiritual ke suatu area seperti kemandirian, kebebasan
untuk berubah, kemampuan menyesuaikan diri,
keseimbangan dan integritas pribadi. Penerapan terapi
musik melibatkan interaksi terapis, klien dan musik.
Interaksi- interaksi ini akan merangsang dan
mempertahankan proses perubahan yang mungkin dapat
diamati atau tidak. Seiring dengan berkembangnya
elemen-elemen musik seperti rithm, melodi dan harmoni
dalam waktu, terapis dan klien dapat membangun
hubungan yang mengoptimalkan kualitas hidup. Lundberg
(dalam Feinstein, 1999) menjelaskan bahwa terapi musik
pada hakekatnya adalah membangun hubungan antara
pasien dan terapis yang terlatih menggunakan musik
sebagai dasar komunikasi. Pasien dan terapist
berpartisipasi aktif dalam sesi terapi lewat memainkan alat
musik, menyanyi, atau mendengarkan musik. Terapis
tidak mengajarkan bagaimana bernyanyi atau memainkan
alat musik, lebih pada pemanfaatan alat musik dan bunyi
untuk mengeksplorasi dunia bunyi dan menciptakan
bahasa musik secara umum. Perhimpunan Terapis Musik
Kanada (1984) mendefinisikan terapi musik sebagai
pemanfaatan kemampuan musik dan elemen musik oleh
terapis untuk menaikkan, merawat, dan memperbaiki
mental, emosional, dan kesehatan spiritual. Musik
mengandung kualitas nonverbal, struktur kreatif, dan
emosional. Inilah yang digunakan dalam hubungan
terapeutik untuk memfasilitasi kontak, selfawareness,
belajar, ekspresi diri, komunikasi, dan perkembangan
pribadi.
Melalui media berupa alat musik menurut Djohan
(2006: 24) klien juga didorong untuk berinteraksi,
berimprovisasi, mendengarkan atau aktif bermain musik,
tanpa harus mengucapkan kata-kata. Mislanya, klien
dapat
mengekspresikan
kemarahannya
dengan
berimprovisasi di alat musik. Pada penderita alzheimer
yang kehilangan kemampuan berbahasa dapat dilakukan
memperdengarkan lagu-lau kenangan atau hanya
sekedar mendengar mengikuti irama musik. Lewinsohn
dan Graf (dalam Rathus, 1986) berpendapat bahwa salah
satu cara mengatasi depresi adalah melakukan aktivitasaktivitas yang berhubungan dengan emosi positif, aktivitas
yang tidak sesuai dengan keadaan depresi. Aktivitas yang

berhubungan dengan emosi positif misalkan tertawa,


memikirkan orang yang dicintai, melihat pemandangan
yang indah, mendengarkan musik, dan lain sebagainya.
Mendengarkan musik dapat membuat seseorang merasa
sedih, gembira, dan mengalami berbagai pengalaman
emosi lainnya.
Secara psikologis musik berkaitan dengan emosi
manusia. Fisher, dkk (1990) membagi emosi ke dalam
dua kategori, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi
positif terdiri atas cinta dan bahagia. Emosi negatif terdiri
atas marah, sedih, dan takut. Cinta terdiri atas kesukaan
dan birahi. Bahagia terdiri atas bliss, kepuasaan dan
kebanggaan. Istilah bliss agak sulit diterjemahkan karena
pada hakekatnya menunjukkan rasa bahagia juga, tapi
dalam bliss ini kebahagiaan yang dimaksud cenderung
melibatkan perasaan terlepas dari tekanan dan dirasakan
sebagai perasaaan yang amat ringan. Emosi negatif
marah terdiri dari perasaan terganggu, perasaan
bermusuhan, perasaan terhina, dan perasaan iri. Adapun
kesedihan meliputi perasaan menderita, duka, rasa
bersalah dan kesepian. Selanjutnya rasa takut terdiri atas
perasaan seram dan cemas. Penjelasan emosi dari Fisher
tersebut membuktikan bahwa setiap individu memiliki
rentang serta kedalaman emosi yang unik. Luasnya
rentang emosi pada diri individu perlu dijadikan bahan
pertimbangan dalam memanfaatkan musik tertentu untuk
menggugah kondisi emosi individu yang bersangkutan.
Jika individu yang bersangkutan tengah mengalami
tekanan hidup yang menyebabkan depresi, perlu
diwaspadai bila diperdengarkan musik-musik yang
bernuansa kesedihan. Secara umum musik-musik
tersebut mungkin menambah rasa sedih yang dialaminya
menjadi suatu penderitaan, rasa bersalah atau kesepian.
Jika hal ini terjadi individu akan semakin menarik diri dari
kehidupan sosial, merasa hidup tidak lagi berharga, dan
semakin lama hal ini semakin kuat mendorong individu
untuk mengakhiri hidup (Satiadarma, 2002). Jadi, dapat
disimpulkan bahwa seseorang yang mendengarkan musik
tertentu dapat mengalami emosi tertentu pula, dan emosi
yang timbul tidak sama diantara beberapa individu.
Sebaliknya, ketika menciptakan musik, pencipta
dipengaruhi oleh nada emosional tertentu sehingga ada
kesenjangan antara emosi pencipta dan pendengar,
meskipun demikian kesenjangan yang muncul biasanya
masih berada dalam kelompok emosi tertentu bukan yang
berlawanan. Oleh karena itulah untuk menggugah emosi
seseorang perlu mempertimbangkan nuansa emosi dalam
musik yang akan diperdengarkan.

American Music Therapy Assosiation (2003)


menjelaskan bahwa dalam terapi musik, seorang terapis
mengukur kesejahteraan emosional, kesehatan fisik,
fungsi sosial, kemampuan komunikasi dan kemampuan
kognitif klien lewat fungsi musikal klien; menyusun sesi
musik sesuai kebutuhan klien dan kelompok seperti
mendengarkan musik, menuliskan lagu, mendiskusikan
lirik, musik dan imajinasi, memainkan alat musik, dan
belajar lewat musik.
Canadian Assosiation of Music Therapy (1994)
menjelaskan bahwa cara-cara yang dapat digunakan
dalam terapi musik adalah : (a) menyanyi; dapat
digunakan untuk individu yang mengalami kelemahan
dalam berbicara seperti artikulasi, tempo, dan kontrol
nafas. Dalam kelompok, individu dapat belajar menyadari
keberadaan orang lain dengan menyanyi bersama-sama.
Lagu-lagu dapat menolong orang-orang yang berusia
lanjut untuk mengingat kejadian-kejadian penting dalam
hidup mereka yang ingin dibagikan dengan orang lain.
Lirik dapat digunakan untuk membantu individu-individu
dengan keterbelakangan mental dalam melakukan tugastugas yang berurutan; (b) memainkan alat musik, dapat
meningkatkan koordinasi motorik pada individu dengan
hambatan motorik. Memainkan alat musik dalam
kelompok akan membantu individu belajar mengontrol
dorongandorongan yang merusak. Mempelajari sebagian
kecil musik dan memainkannya akan mengembangkan
kemampuan musikal dan membantu membangun daya
lentur self, kepercayaan diri dan disiplin diri; (c)
bergoyang, digunakan untuk mendorong perluasan
perasaan, gerakan bersama, kekuatan, keseimbangan,
koordinasi, konsistensi pola pernapasan, dan relaksasi
otot-otot. Komponen tempo dalam musik ini membantu
meningkatkan motivasi, minat, dan kesenangan dan
bertindak sebagai persuasi nonverbal yang mendorong
penyesuaian sosial; (d) improvisasi, memberikan peluang
untuk melahirkan kreativitas sebagai ekspresi perasaan.
Hal ini akan membantu terapis untuk mempertahankan
ikatan kepercayaan dengan klien dan memberikan
layanan pengukuran yang bermanfaat; (e) mencipta,
digunakan untuk mengembangkan belajar bekerjasama
dan mendorong berbagi perasaan, ide-ide, dan
pengalaman. Bagi orang dengan pengakit parah, ini
adalah cara untuk menguji perasaannya tentang arti hidup
dan mati, ketika menciptakan sesuatu yang berharga
untuk ditinggalkan bagi orang yang dicintai. Lagu yang
menyembuhkan, yang ditulis untuk dan oleh klien, dapat
memfasilitasi saat yang menakutkan dari kesadaran diri
atau katarsis; (f) mendengarkan musik mempunyai

banyak penerapan terapeutik. Dapat membantu


mengembangkan kemampuan kognitif seperti perhatian
dan memori. Hal ini mendorong proses untuk keluar dari
kesulitan tertentu lewat menciptakan lingkungan yang
kreatif untuk mengekspresikan diri. Musik membangkitkan
memori dan asosiasi. Mendengarkan musik secara aktif
dalam keadaan yang tenang dan rileks akan menstimulasi
pikiran, imaginasi, dan perasaan yang dapat di uji lebih
lanjut dan didiskusikan dengan terapis saja atau dengan
kelompok yang mendukung.
c. Drama, Bentuk intervensi dengan drama mencakup
berbagai kegiatan termasuk bercerita, improvisasi,
dengan media boneka, Role play;
Psikodrama merupakan salah satu pendekatan
dalam psikoterapi kelompok yang didasari oleh alasan
teoritik, bahwa latihan berpikir dan bertindak dengan cara
yang baru sangat berguna agar mampu keluar dari
permasalahan yang dihadapi individu (Treadweel dan
Kumar, 2002). Psikodrama merupakan metode aksi yang
menekankan pada proses serta penemuan insight melalui
penggunaan interaksi sosial antar anggota kelompok dan
pemeranan. Orientasi psikodrama lebih ditekankan pada
masalah individu pada saat ini dan di sini atau dalam
konsep kekinian, serta menemukan pemecahan masalah
yang efektif bagi permasalahan yang dihadapi tersebut.
Sejak ditelurkannya pertama kali oleh J.L.
Moreno pada tahun 1912 sebagai dic stegreuftheater
(drama spontanitas), psikodrama telah menarik perhatian
para praktisi profesional dan klinisi sebagai sebuah
metode terapi baru yang bersumber dari terapi kelompok
yang dikemas dalam bentuk drama, sehingga proses
berlangsungnya terapipun akan berjalan lebih menarik
dan berkesan bagi para klien yang melakukannya, karena
selain terjadi interaksi sosial dari sesama anggota tetapi
juga terjadi pertukaran aksi dari masing-masing individu
dalam pola berpikir dan bertindak yang sama sekali baru.
J. L. Moreno sendiri mendefinisikan psikodrama
sebagai ilmu pengetahuan yang mengeksplorasi
kebenaran melalui metode drama. Salah satu tujuannya
adalah untuk mengajarkan orang-orang menyelesaikan
permasalahan mereka pada kehidupan dunia yang kecil
(kelompok), bebas dari batasan-batasan konvensional
dengan mengekspresikan permasalahan, ambisi, impian,
dan ketakutan mereka. Metode ini menekankan
keterlibatan maksimal dengan orang lain ketika
menginvestigasikan permasalahan pada masa sekarang,
sebagai tambahan berhubungan dengan memori awal

dan persepsi atau pandangan seseorang. Jadi pada


hakekatnya psikodrama merupakan proses sandiwara
(dengan berpura-pura) serta proses pertunjukan yang
dikemas menjadi sebuah drama yang bermakna. Syarat
utamanya adalah kreativitas dan spontanitas dari masingmasing personil yang terlibat. Sehingga jika sebuah
adegan telah disetujui oleh sutradara dan anggota
kelompok serta pemeran utama telah terpilih, kemudian
setting telah dideskripsikan dalam komunikasi verbal,
maka pertunjukan dimulai. Kemudian pelaku utama
distimulus untuk melakukan tindakan (berbicara sesuai
dengan masa kini ketika menunjuk kejadian masa lalu).
Sutradara mencari dan menemukan siapa saja yang
penting bagi kehidupan seseorang yang akan ditampilkan
pada adegan (contohnya orang tua, saudara kandung,
dan lain sebagainya) dan akan meminta tokoh utama
memilih anggota lain yang dapat memainkan ego-ego
tambahan (karakter) tersebut. Batas umur dan jenis
kelamin tidak begitu diperhatikan, pemilihan individu yang
akan memainkan peran tertentu dilihat pada faktor
kesulitan dan kerumitan.
Psikodrama merupakan suatu konsep dari
kombinasi antara pengetahuan dan seni, karena untuk
menjadi seorang ahli psikodrama atau (sutradara /
terapis) dituntut untuk mampu memberikan perubahan
berupa imaginasi, keingintahuan, bermain secara penuh,
melucu, empati, keberanian, pengetahuan, kematangan
dalam penguasaan metode, serta memiliki syarat-syarat:
(1) punya penampilan yang optimistik dan afirmatif
terhadap kelompok yang potensial. (2) mampu
memotivasi kreativitas dan memilikinya serta
memprovokasi spontanitas. (3) percaya diri dan yakin
bahwa sesuatu yang positif akan terjadi. (4) menciptakan
suasana atau atmosfir yang berpotensi magis. (5) memiliki
kepekaan terhadap situasi dan kondisi yang tidak
diketahui, tidak ternyatakan, dan tidak terlahirkan dalam
aksi psikodrama. (6) harus memiliki rasa bermain drama
yang sejati, menyenangkan, segar dan humoris. (7) harus
punya kemampuan untuk mengambil resiko, mendorong
(membesarkan hati), menstimulasi dan mempengaruhi
klien..
a. Elemen Pendukung dan Tahapan Terapi
Berbagai macam gangguan dan masalah yang
dihadapi individu di klaim mampu diterapi demngan
menggunakan metode ini, hal ini tidak lepas dari adanya
kombinasi yang kuat dari dua faktor, yaitu inspiration and
technique. Inspiration adalah proses untuk kreativitas dan
spontanitas yang memungkinkan individu menciptakan

sesuatu yang baru. Seseorang yang terinspirasi telah


dimasuki dan antusias oleh perasaan dan pemikiran
orang lain. Ketika terinspirasi, rasanya seperti menghirup
udara baru. Untuk memulai aksi sebuah drama,
diperlukan adanya lima elemen dasar yang menjadi modal
utama berlangsungnya psikodrama, yaitu:
1)
Pemeran utama (Protagonist), pemeran utama
akan menjadi fokus dalam psikodrama, yang juga menjadi
anggota kelompok untuk mengeksplorasi masalahmasalah pribadi mereka dalam sesi terapi.
2)
Sutradara atau Terapis (Director), adalah orang
yang memberi petunjuk dan memfasilitasi berbagai aksi
drama.
3)
Pembantu aksi (The Auxiliary Egos), adalah
anggota kelompok (atau asisten terapis) yang bermain
sebagai orang penting dalam kehidupan klien, yang
membantu dalam aksi drama.
4)
Penonton (The Audience), terdiri dari anggta
kelompok yang secara tidak langsung terlibat dalam
permainan. Berperan secara langsung maupun tidak
dalam drama, mengingatkan secara aktif dan positif serta
terlibat dalam proses aksi.
5)
Panggung (the Stage), panggung sifatnya sangat
fleksibel, secara sederhana maupun kompleks. Bahkan
dapat juga dideskripsikan dengan verbal tentang keadaan
pendukung pentas dalam sebuah ruangan, seperti
televisi, mobil dan lain sebagainya.
Kelima elemen dasar tersebut merupakan
prasyarat wajib yang harus ada dalam proses
psikodrama. Jika kelima hal tersebut telah terpenuhi,
maka hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah
tahapan proses berlangsungnya aksi dari psikodrama.
Adapun tahapan yang harus dilewati meliputi di bawah ini:
1)
Warm-up (Pemanasan), pemanasan dilakukan
untuk merangsnag kreativitas dan spontanitas dari
anggota kelompok. Psikodrama seharusnya dipandang
sebagai proses dimana secara individu (anggota
kelompok dan sutradara) yang mendorong untuk
mengembangkan dan menggunakan potenmsinya sendiri
untuk berkreasi secara kreatif dan spontan.
2)
Enactment (Pemeranan), dilakukan untuk
memudahkan interaksi dalam kelompok, meingkatkan
rasa percaya dan keanggotaan melalui teknik yang
mendorong interaksi antara individu (misalnya, membagi
nama, pengalaman, aktivitas fisik yang melibatkan
bebrapa sentuhan atau komunikasi nonverbal). Proses
pemanasan ini dapat meningkatkan kepaduan dari
kelompok, sementara pada waktu yang sama
memberikan anggota untuk mendapat beberapa rasa kuat

dan kualitas yang bervariasi dari individu dalam kelompok.


Fase ini memiliki banyak kesamaan dengan proses yang
dapat diamati di dalam menghadapi kelompok atau sesi
drama terapi, atau sebagai pemanasan dalam berbagai
kehidupan sehari-hari.
3)
Sharing, sharing dilakukan untuk membantu
anggota fokus pada masalah-masalah pribadi yang
diharapkan melakukan beberapa pekerjaan dalam sesi
psikodrama. Ini harapan seseorang atau banyak orang
yang muncul dari protagonis (kebutuhan individu)
terpusat, proses pemanasan dan meletakkan diri mereka
untuk menjadi fokus dari enactment (pemeranan).
b. Teknik yang Digunakan
Dalam psikodrama klasik sedikitnya ada lima teknik
penting yang sering digunakan, antara lain:
1. Role reversal (pemutaran peran)
Tokoh utama memainkan peran lainnya dan pemeran
pembatu memainkan tokoh utama secara bergantian.
Pemutaran peran ini mempunyai beberapa manfaat pada
proses psikodramatis, yaitu anggota lain dalam kelomok
tersebut boleh mendapatkan gambaran yang lebih
lengkap mengenai padangan tokoh utama terhadap
orang-orang penting dalam kehidupan mereka melalui
dramtisasi mereka pada individu tersebut. Tokoh utama
dapat merasakan dunia dari pandangan orang lain dan
dengan posisi ini tokoh utama menerima umpan balik dari
pemeranan tokoh pembantu yang telah memainkan
perannya. Pengalaman ini dapat begitu berpengaruh,
bermanfaat dan sebagai terapi. Pemutaran peran juga
digunakan
untuk
mendorong
tokoh
utama
mengembangkan kontrol diri dimana tokoh utama harus
mengalami perasaan, pandangan objektif, semangat dan
mungkin kejam terhadap orang lain.
2. Doubling (penggandaan)
Adalah suatu cara dimana tokoh utama digabungkan
dengan anggota lain pada kelompok tersebut, yang
menjadi anggota aktif pada proses pertunjukan. Duduk
berdekatan dengan tokoh utama dan melakukan gerakangerakan fisik yang sama. Peran ganda berfungsi sebagai
pendukung dalam menunjukkan posisi dan kondisi
perasaan dari tokoh utama yang sedang memainkan
psikodrama tersebut. Ketika diungkapkan pikiran dan
perasaannya tersebut mungkin diterima oleh tokoh utama
atau pada saat ia akan memfrasekan ketidaksukaannya
dengan menggunakan bahasanya sendiri atau
menolaknya karena tidak sesuai. Situasi tersebut akan
membantu tokoh utama menyusun komentarnya kembali,
seperti
pernyataan
bukan,
bukan
itu,
sebenarnya.................. sehingga tokoh utama dapat

mengembangkan pengetahuan dirinya. Selebihnya


dengan perjalanan waktu, tokoh utama akan menemukan
bahwa pernyataan ganda tersebut lebih sesuai daripada
pernyataan yang diungkapkan dengan menggunakan
pikiran awal.
3. Surplus reality (kenyataan surplus)
Pemaknaan dilakukan berulangkali ketika adegan dan
kejadian dimainkan. Jadi teknik ini akan enggambarkan
bahwa sesuatu yang tidak pernah terjadi, tidak akan
pernah terjadi. Kemampuan untuk melakukan adegan ini
merupakan gabungan perasaan takut, emosi, fantasi dan
harapan yang menjadi salah satui kekuatan magis dari
proses psikodramatis. Adegan mengenai pernah
mengalami kenyataan surplus merupakan salah satu cara
terapi yang unik pada psikodrama.
4. Mirroring (pencerminan)
Suatu proses dimana tokoh utama digantikan oleh
anggota lain pada drama tersebut, yang memperbolehkan
tokoh tersebut berdiri berdampingan dan melihat drama
atau adegan secara luas dan jelas. Hal ini mendorong
kepekaan protagonist menjadi lebih objektif ketika
berinteraksi dengan orang lain.
5. Closure / completion (penutupan / penyelesaian)
Proses dimana pertunjukan dramatis dari permasalahan
tokoh utama serta situasi kehiduapannya diambil secara
utuh. Rancangan sesi psikodrama seringkali dimulai
dengan permasalahan masa sekarang, kemudian
berlanjut pada pengalaman tokoh utama di masa
sebulumnya. Ketika drama tersebut berlanjut, adegan dari
masa lalu ditampilkan kembali ke masa kanak-kanak.
Pada tahap-tahap psikodrama, proses tersebut dilakukan
secara berulang, antara saat ini dnegan masa lalu. Tetapi
dengan versi yang disampaikan oleh pengalaman
emosional dan kognitif dari psikodrama. Sebagai contoh,
seorang pria yang memulai psikodramanya dengan
membahas secara terus menerus dengan pekerjaannya.
Kemungkinan pada proses pertunjukan mengalami
kesulitan dengan ayahnya. Pada bagian penutup atau
penyelesaian dari psikodrama, ia akan mengulang
kembali adegan-adegan dengan pekerja tersebut,
untungnya mengelola kenyataan tersebut dengan cara
yang berbeda melalui pemahaman yang ditingkatkan dan
pengalaman tentang hubungan yang tidak harmonis
dengan ayahnya (pada masa lalu) dan dengan
pekerjaannya (pada masa sekarang).
Sedangkan psikodrama yang modern, teknik yang
digunakan banyak sekali, sehingga butuh ruang untuk
menjelaskannya satu persatu. Menurut Blatner (2000)
teknik-teknik yang biasa digunakan dalam psikodrama

modern, diantaranya adalah warm-up, advice giving,


amplification, behind the back, breaking in, coaching,
cutting the action, dance and movement, de-roling,
directed dialogue. Double, ego building, emty chair, future
projection, goodbye scenes, idealization, identity, jugment
scene, letter, magic shop, mirroring, monodrama, nonverbal techniques, personification, photograph warm-up,
puppets, remote control, replay, role presentation, shared
secrets, silent auxiliary, soliloquy, substitute role, symbolic
distance, telephone, touching, dan voluntary double.
Sedangkan menurut Kipper dan Hundal (2003) teknik
psikodrama modern yang digunakan, antara lain role
playing, empty chair, mirroring, role reversal, double,
jugjement, surplus reality, past projection, fantasy play,
auxiliary ego, future projection, alter ego, age reggression,
hot seat, letter writing, magic shop dan pillow.
c. Aplikasi Psikodrama
Tujuan utama dari psikodrama adalah untuk
memberikan intervensi kepada individu agar dapat keluar
dari masalah yang dihadapinya. Intervensi itu sendiri
merupakan campur tangan terapis atau sutradara dalam
membantu individu menemukan insight (pencerahan)
sebagai jalan keluar dari permasalahannya. Di samping
itu, menurut Munir (2004) dengan metode psikodrama ini,
individu yang diterapi akan mampu mengembangkan
pribadinya secara lebih baik. Dimensi perkembangan
pribadi yang dapat dicapai antara lain:
1)
Self awarness, bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran diri yang ada kaitannya dengan klarifikasi
perasaan, tujuan, kekuatan, kelemahan, kebutuhan dan
rasa takut.
2)
Interpersonal skills, berkaitan dengan peningkatan
kapasitas
kepercayaan,
kemandirian,
inisiatif,
keterbukaan diri, dan ketegasan sikap. Individu juga dapat
meningkatkan kesadaran tentang kelemahan orang lain,
kebutuhan-kebutuhannya, ketakutannya, dan perbedaan
temperamen dari orang lain. Mampu melakukan interaksi
sosial dan komunikasi, dapat menyampaikan kapasitas
dirinya secara jelas dan tepat. Serta mampu untuk
mendengarkan, dan berempati tanpa distorsi.
3)
Value system, berkaitan dengan pandangan hidup
positif khususnya tentang makna kematian, hidup,
spiritual dan lebih rasional.
4)
Spontanitas, agar mampu bermain secara penuh,
dapat berimprovisasi, berpartisipasi dalam seni, lagu, tari,
drama dan humor.

5)
Sensory awakening, berkaitan dengan gerak tubuh,
irama, perasan, keseimbangan, penggunaan sentuhan &
sensualitas
6)
Imagination, berkaitan dengan pengelolaan
kemampuan menggunakan asosiasi, mimpi, simbol,
gambar, petunjuk fantasi, intuisi, dan mampu bercerita
tentang kondisi dirinya sendiri.
d. Menulis Ekspresif/Terapi Puisi, Menulis Ekspresif dapat
menggunakan berbagai bentuk, di antaranya adalah
prosa dan puisi. Tujuan penulisan ekspresif adalah
membantu klien dalam penyembuhan dan mengatasi rasa
sakit psikologis dan fisiologis;
Bibliotherapy adalah suatu terapi yang
menggunakan aktivitas membaca pustaka yang telah
diseleksi, yang disusun dan diterapkan sebagai suatu
prosedur tritmen untuk tujuan-tujuan terapeutik
(Sclabassi, dalam Herink, 1980). Bryan (dalam Herink,
1980) mendefinisikan bibliotherapy sebagai peresepan
(prescription) materi-materi bacaan yang akan membantu
mengembangkan kematangan emosional, memelihara &
menunjang kesehatan mental.
Menurut Hynes dan Hynes-Berry (1994),
bibliotherapy menggunakan pustaka untuk menghasilkan
suatu interaksi yang bersifat terapeutik antara partisipan
dan fasilitator. Selain itu, mereka membedakan
pendekatan atau pemikiran (schools of thought) mengenai
bibliotherapy menjadi dua, yaitu reading bibliotherapy dan
interactive bibliotherapy. Pada reading bibliotherapy,
proses penyembuhan dititikberatkan pada aktivitas
membaca itu sendiri, yaitu pada interaksi yang terjadi
antara pembaca dengan materi bacaannya, dan tidak
secara langsung melibatkan orang yang menyarankan
materi tersebut (fasilitator). Pada tahun 1949, disertasi
dari Caroline Shrodes semakin mengukuhkan pengertian
bibliotherapy sebagai suatu proses yang dialami oleh
individu dalam membaca buku yang secara khusus dipilih
karena bermanfaat terapeutik bagi individu tersebut
(Hynes dan Hynes-Berry, 1994). Jadi, penekanannya
bukanlah hanya pada proses menyarankan buku-buku
tertentu saja (prescribing books), melainkan pada
bagaimana pembaca memanfaatkan isi dari buku
tersebut.
Pada interactive bibliotherapy, proses
penyembuhan difokuskan pada aktivitas membaca dan
dialog terpimpin mengenai materi tersebut. Jadi, terdapat
interaksi partisipan pustaka fasilitator, yang dapat
dilihat melalui interaksi rangkap dua, yaitu respon pribadi
partisipan terhadap materi bacaan merupakan hal yang
penting, tetapi berdialog dengan fasilitator mengenai

respon tersebut dapat mengarahkan pada suatu dimensi


pemahaman yang benar-benar baru. Pendekatan ini
dilatarbelakangi oleh definisi dari Rubin dan beberapa
definisi terbaru mengenai bibliotherapy (dalam Hynes dan
Hynes-Berry, 1994) bahwa terdapat suatu dimensi
terapeutik yang signifikan pada dialog yang difasilitasi
tentang perasaan dan respon individu terhadap pustaka.
Teknik bibliotherapy
Menurut Sclabassi (dalam Herink, 1980), tergantung pada
tujuan dan tingkat intervensinya, terdapat dua macam
teknik bibliotherapy:
1. Pustaka Didaktik
Pustaka didaktik pada umumnya bertujuan untuk
memfasilitasi suatu perubahan dalam diri individu melalui
suatu pemahaman diri yang lebih bersifat kognitif.
Pustakanya bersifat instruksional dan edukasional, seperti
buku pegangan (handbooks), dan dokumen. Topik-topik
yang dimasukkan antara lain adalah mengenai
pengasuhan anak, perkawinan dan seks, koping terhadap
stres, relaksasi, dan meditasi dan lain sebagainya.
2. Pustaka Imajinatif
Pustaka imajinatif mengacu pada penggambaran perilaku
manusia dalam suatu cara yang dramatik. Kategori ini
meliputi novel-novel, cerpen-cerpen, dan permainanpermainan.
Landasan
teoretisnya
adalah
mempostulasikan suatu hubungan antara kepribadian dan
pengalaman vicarious (yang seolah-olah dialami sendiri).
Pembaca secara simultan terlibat dan terpisah dari cerita,
seperti yang nyata dalam situasi vicarious.
Menurut Sclabassi (dalam Herink, 1980),
bibliotherapy telah dianggap memadai baik sebagai suatu
teknik utama maupun sebagai suatu tambahan untuk
berbagai teknik terapeutik yang lain. Tidak ada metodologi
eksplisit tertentu bagi pemilihan materi-materi bacaan
yang tepat. Yang terpenting adalah terapis tidak hanya
mengenali pasiennya, tetapi juga mengenali pustakapustaka yang akan digunakan.
Menurut Hynes dan Hynes-Berry (1994), materimateri yang bersifat bibliotherapeutic dapat meliputi
materi-materi yang bersifat imajinatif, didaktik, dan
informasional. Puisi, permainan-permainan, cerita pendek,
novel, essays, artikel majalah, dan bagian-bagian dari
buku teks kesemuanya dapat digunakan baik dalam
bentuk yang utuh maupun yang telah diringkas; demikian
pula, bagian-bagian kecil dari materi-materi di atas dapat
dikutip untuk digunakan. Menurut Sclabassi (dalam
Herink, 1980), tidak ada patokan cara tertentu untuk
menerapkan bibliotherapy dalam suatu tritmen. Misalnya,
pustaka tertentu dapat direkomendasikan atau

diresepkan oleh terapis untuk aktivitas membaca antar


sesi dan didiskusikan setelah itu, atau aktivitas membaca
dapat dilakukan dalam suatu sesi kelompok dan berperan
sebagai suatu batu loncatan untuk pengungkapan pribadi,
atau terapis dapat membaca sebuah cerita sebagai suatu
tambahan terhadap suatu sesi terapi bermain pada anakanak.
Dahulu, bibliotherapy terutama diterapkan pada
terapi individual (satu terapis, satu klien). Namun,
sekarang bibliotherapy lebih umum diterapkan pada
setting kelompok. Walaupun demikian, pokok yang harus
diingat adalah bahwa proses dan tujuan bibliotherapeutic
terutama berfungsi dalam kaitannya dengan individuindividu yang membentuk kelompok tersebut. Oleh karena
itu, kepedulian utama dari fasilitator adalah lebih pada
kebutuhan-kebutuhan dari partisipan sebagai individuindividu dibandingkan dengan kelompok sebagai suatu
kesatuan (Hynes dan Hynes-Berry, 1994).
Populasi bibliotherapy
Menurut Hynes dan Hynes-Berry (1994), populasi
bibliotherapy dapat dibedakan menjadidua, yaitu:
1. Clinical bibliotherapy
Clinical bibliotherapy merupakan salah satu dari beberapa
terapi kreatif yang digunakan pada populasi-populasi
dalam suatu program tritmen yang spesifik. Fasilitator
dilatih untuk menggunakan suatu metodologi
psikoterapeutik dengan pustaka yang berperan sebagai
alat utama untuk menolong klien mencapai suatu
kepribadian yang terintegrasi. Sasaran populasi yang
termasuk dalam clinical bibliotherapy:
a). Orang-orang yang mengalami gangguan emosional.
Klien-klien ini mencakup klien-klien yang berada di rumah
sakit jiwa, yang akan kembali untuk memperoleh tritmen
dan tindak lanjut, atau yang akan menerima tritmen
profesional secara mandiri. Mereka mengenal
bibliotherapy sebagai bagian dari rencana kontraktual
mereka untuk terapi. Biasanya, kelompok-kelompok
dibentuk berdasarkan populasi-populasi yang spesifik.
Misalnya, satu kelompok akan dibatasi pada remajaremaja yang menagalami gangguan emosional, kelompok
yang lain pada pasien-pasien rumah sakit yang kronis,
dan kelompok ketiga pada pasien-pasien yang juga
menderita suatu cacat fisik seperti kebutaan atau ketulian.
b). Penghuni lembaga pemasyarakatan. Bibliotherapy
dapat menjadi bagian dari suatu program lembaga
pemasyarakatan atau disyaratkan sebagai bagian dari
masa percobaan dan pembebasan bersyarat. Walaupun
anggota-anggota dari populasi ini biasanya berpartisipasi
di bawah perintah dan bukan secara sukarela, namun

bibliotherapist biasanya tetap menekankan prinsip bahwa


tidak seorang pun dapat dipaksa untuk mengungkapkan
perasaan-perasaan
dan
pemahaman-pemahaman
pribadinya. Penekanan dalam kelompok-kelompok
lembaga pemasyarakatan adalah pada membantu
partisipan untuk lebih mengenali dan mematuhi normanorma masyarakat dan patokan-patokan perilaku. Namun,
bibliotherapist seharusnya juga menyadari bahwa
partisipan juga dapat menjadi tidak stabil secara
emosional dan, pada kasus-kasus seperti itu,
bibliotherapy juga membantu untuk penyembuhan
psikologis.
c). Orang-orang yang mengalami ketergantungan zat.
Kelompok-kelompok clinical bibliotherapy telah menjadi
suatu elemen yang berhasil dari program-program
rehabilitasi ketergantungan obat dan alkohol di rumah
sakit (Mazza; Gladding; Schecter, dalam Hynes dan
Hynes-Berry, 1994). Partisipan dalam tritmen untuk
ketergantungan biasanya secara intens terlibat dalam
evaluasi diri dan cenderung berespon secara efektif
terhadap penggunaan materi yang bersifat imajinatif dan
informasional sebagai suatu stimulus untuk menggali
pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan mereka.
2. Developmental bibliotherapy
Developmental
bibliotherapy
berkembang
dari
pengetahuan bahwa kebutuhan untuk menghadapi
perasaan-perasaan pribadi, meningkatkan kesadaran diri,
serta meningkatkan harga diri tidak hanya terbatas pada
pasien-pasien gangguan mental, kriminal, atau orangorang yang mengalami ketergantungan zat. Pada
umumnya, partisipan dalam developmental bibliotherapy
secara spesifik memilih terapi ini untuk lebih memahami
diri sendiri. Developmental bibliotherapy biasanya
dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang telah
dibentuk dan bertemu dalam konteks suatu sekolah, pusat
komunitas, perpustakaan, dan gereja. Teknik-teknik dasar
yang digunakan untuk memfasilitasi kelompok-kelompok
tersebut adalah sama seperti yang digunakan dalam
clinical bibliotherapy, tetapi kedalaman dari penggalian
terapeutiknya berbeda. Pada saat yang sama,
bibliotherapist sering memainkan peran yang kurang aktif
dalam fase diskusi daripada yang dibutuhkan dalam
kelompok-kelompok clinical. Beberapa populasi yang
tergolong dalam kelompok-kelompok developmental
antara lain:
a. Remaja dan anak-anak. Pustaka mengenai
developmental bibliotherapy dipenuhi dengan referensireferensi tentang program-program yang dirancang untuk
kaum muda. Schultheis (dalam Hynes dan Hynes-Berry,

1994) adalah seorang spesialis membaca yang


menggunakan aktivitas membaca dan diskusi yang
berorientasi
bibliotherapeutic
untuk
membantu
meningkatkan harga diri diantara mereka yang
membutuhkan bantuan membaca secara khusus.
Zaccaria dkk.; Baruth dan Phillips; serta Benninger dan
Belli (dalam Hynes dan Hynes-Berry, 1994) memprofilkan
cara-cara yang digunakan oleh para konselor yang telah
menggunakan bibliotherapy untuk membantu anak-anak
dengan masalah-masalah perilaku. Apapun konteksnya,
bibliotherapists yang bekerja dengan anak-anak dan
remaja seharusnya memperjelas bahwa tujuan-tujuan
bibliotherapy adalah berbeda dengan tujuan-tujuan dari
kelas tradisional atau kelompok membaca. Dalam
bibliotherapy, pustaka pada umumnya digunakan sebagai
suatu alat untuk membantu orang-orang muda mengatasi
isyu-isyu yang sangat kritis pada tahap ini, yaitu identitas
diri, kemandirian, dan makna diri.
b. Orang-orang dewasa lanjut. Kelompok-kelompok
developmental untuk orang-orang dewasa lanjut dapat
diorganisir melalui suatu pusat komunitas, perpustakaan,
gereja, atau panti jompo (retirement home). Fasilitator
seharusnya memahami bahwa karena usia merupakan
kriteria utama, populasi ini dapat menjadi sangat
beragam. Tidak saja anggota-anggota dari suatu
kelompok sering berasal dari latar belakang yang cukup
berbeda, namun mereka juga bervariasi baik dalam hal
kebutuhan maupun kemampuan untuk mengatasi isyuisyu seperti menghadapi kehilangan yang bersifat pribadi
dan kematian, menyesuaikan diri dengan perubahan
peran yang penting, atau semakin menurunnya kesehatan
fisik.
c. Kelompok-kelompok pendukung. Kelompok-kelompok
developmental ini dibentuk melalui klinik-klinik bimbingan
atau pusat-pusat bimbingan vokasional sebagai bagian
dari suatu program pendukung institusional bagi pegawai.
Kelompok-kelompok puisi dan doa dapat bekerja secara
spesifik dalam memperkuat kehidupan spiritual mereka.
Dengan cara yang sama, suatu pertemuan Orang Tua
Tunggal dan suatu program bagi para perempuan korban
kekerasan dapat menawarkan sesi-sesi bibliotherapy
untuk membantu para anggotanya menghadapi
kenyataan-kenyataan emosional yang terkait dengan
kesulitan-kesulitan spesifik mereka.
d. Orang-orang yang cacat. Orang-orang yang buta, tuli,
lumpuh, atau menderita penyakit yang kronis dapat
memperoleh manfaat dari bibliotherapy. Dalam kasuskasus seperti itu, anggota-anggota dari suatu kelompok
developmental bibliotherapy dapat bertemu sebagai

bagian dari suatu program rehabilitasi atau perawatan


kronis atau dalam setting komunitas.
e. Pasien-pasien yang sekarat. Program-program hospice
menangani kebutuhan-kebutuhan emosional dan fisik dari
pasien-pasien dengan penyakit terminal dan orang-orang
yang mereka cintai (Butterfield-Picard, dalam Hynes dan
Hynes-Berry, 1994). Bibliotherapy dapat menawarkan
kepada pasien dan keluarga mereka suatu cara yang
berarti untuk menghadapi isyu-isyu dan perasaanperasaan yang kuat yang ditimbulkan oleh penyakit yang
serius, secara spesifik, dengan menggunakan pustaka
sebagai suatu konteks untuk mendiskusikan konsepkonsep dan perasaan-perasaan yang mungkin cukup
sukar bagi pasien dan anggota keluarganya untuk
dikemukakan.
Bibliotherapist harus peka terhadap kebutuhan-kebutuhan
khusus dari pasien sekarat serta fleksibel dalam
berhubungan dengan mereka. Lamanya waktu baik bagi
pasien maupun anggota keluarganya untuk dapat
mengikuti suatu sesi bibliotherapy akan bervariasi pada
masing-masing individu dan hampir pasti akan berubah
sehubungan dengan penyakitnya. Selain itu, pasienpasien yang sekarat dan keluarga mereka cenderung
untuk memiliki agenda-agenda yang cukup berbeda. Oleh
karena itu, fasilitator harus berhati-hati dalam
mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan dan harapanharapan dari semua yang terlibat dalam menentukan
kapan untuk bekerja secara individual dengan pasien,
kapan untuk bertemu secara terpisah dengan anggotaanggota keluarga, dan kapan suatu sesi bersama
mungkin dapat membantu semuanya untuk mencapai
beberapa resolusi hubungan sebelum kematian.
f. Langganan perpustakaan publik. Para partisipan yang
bergabung dalam suatu kelompok developmental yang
ditawarkan melalui perpustakaan publik pada umumnya
memiliki ketertarikan dalam menggunakan pustaka untuk
memperkaya kehidupan mereka dan untuk memperluas
pandangan mereka tentang diri mereka sendiri, orang
lain, dan dunia.
Aplikasi bibliotherapy
Menurut Sclabassi (dalam Herink, 1980), tingkatantingkatan intervensi dari bibliotherapy dapat dibagi
menjadi empat area:
1. Intelektual
Bibliotherapy digunakan untuk menstimulasi individu
untuk berpikir dan menganalisis sikap-sikap dan perilakuperilaku antar sesi dan memungkinkan individu untuk
menyadari bahwa terdapat berbagai pilihan dalam
menangani masalah. Individu mungkin akan mendapatkan

fakta-fakta yang diperlukan untuk pemecahan masalah,


mendapatkan pengetahuan tentang perilaku manusia
untuk membantu memahami dirinya sendiri, dan
memperoleh pemahaman intelektual. Selain itu,
bibliotherapy juga dapat memperluas bidang minat
individu. b. Sosial
Bibliotherapy dapat digunakan untuk memperbesar
kesadaran individu di luar kerangka berpikirnya sendiri
dan meningkatkan kepekaan sosial dengan berada
(dalam imajinasi) di posisi orang lain. Bibliotherapy dapat
digunakan untuk memperkuat pola-pola sosial dan
kultural, menyerap nilai-nilai kemanusiaan, dan
memberikan suatu perasaan memiliki. Selain itu,
bibliotherapy juga membantu menghubungkan ekspresiekspresi emosi dan impuls yang tidak dapat diterima
secara sosial dan memfasilitasi pembaca untuk
membentuk tujuan-tujuan hidup yang memuaskan dan
kemudian hidup secara lebih efektif.
2. Perilaku
Bibliotherapy dapat memberikan sumbangan pada
kompetensi dalam melakukan aktivitas, memberi individu
suatu kesempatan untuk bereksperimen secara imajinatif
dengan berbagai modus perilaku dan membayangkan
efek-efek yang mungkin. Bibliotherapy juga membantu
untuk menghambat perilaku infantil, mempromosikan
pertumbuhan
dalam
pola-pola
reaksi,
dan
mengembangkan prinsip-prinsip yang bermanfaat untuk
bertindak.
3. Emosional
Bibliotherapy dapat menyediakan suatu pengalaman
vicarious tanpa sebelumnya menunjukkan kepada individu
risiko-risiko dari pengalaman aktual. Pembaca dapat
memperoleh keyakinan dalam membicarakan tentang
masalah-masalahnya yang biasanya sukar untuk
didiskusikan karena perasaan-perasaan takut, malu, atau
bersalah. Bibliotherapy ini akan mendukung diskusi tanpa
diawali rasa malu akan pembukaan rahasia diri secara
eksplisit. Bibliotherapy memungkinkan pembaca untuk
membawa perasaan-perasaan dan pengalamanpengalaman di bawah permukaan pada kesadaran dan
mengembangkan pemahaman emosional. Bibliotherapy
dapat memberikan solusi yang berhasil terhadap
masalah-masalah yang serupa pada orang lain, sehingga
menstimulasi keinginan untuk menyelesaikan masalahmasalah individu sendiri. Bibliotherapy juga dapat
membantu individu untuk memahami motivasi-motivasi
diri sendiri dan orang lain dalam situasi tertentu.

e. Terapi Dansa/ gerakan, Dengan meng-ekspresikan diri


melalui tari dan gerakan, diyakini bahwa pengalaman
yang masa lalu yang dalam atau kompleks yang tidak
terekspresikan dengan kata-kata dapat dikomunikasikan
dalam proses konseling sehingga pada akhirnya masalah
konseli dapat diselesaikan.
B. ASUMSI INTEGRASI SENI EKSPRESIF DALAM
KONSELING
Menggabungkan kekuatan seni ke dalam proses
konseling dapat memperkaya proses terapeutik. Proses
ini merupakan proses yang penting baik dilihat dari sudut
pandang praktik maupun teknis, perhatian yang besar
pada aspek teoritis akan menjamin bahwa penggunaan
modalitas seni dalam konseling, bukan hanya sebagai alat
yang tidak memiliki landasan teori. Penggunaan seni
dalam konseling secara ringkas disasarkan pada premis:
1. Semua manusia adalah kreatif (Atkins & Williams,
2007). 2. Seni ekspresif dalam konseling berpusat pada
penggunaan utama dari proses kreatif sebagai alat
memperoleh perubahan (Atkins & Williams, 2007; Rogers,
1993). 3. Kreativitas dalam seni menawarkan
kemungkinan individu untuk merefleksikan pengalaman
dan emosinya (Knill et al., 2005). 4. Penggunaan seni
ekspresif
bersama-sama
dapat
meningkatkan
kemungkinan perubahan terapeutik, terutama jika
pengalaman dirancang dengan memperhatikan kualitas
dan tantangan masingmasing bentuk seni yang berbeda
(Atkins & Williams, 2007; Knill et al., 2005). 5. Imajinasi
dapat menjadi sumber daya ampuh untuk penyembuhan
dan pertumbuhan (Atkins & Williams, 2007). 6. Seni dapat
digunakan dalam berbagai cara dalam konseling untuk
mengakses sumber daya internal dan eksternal, untuk
mengekspresikan emosi, untuk membuat pilihan, untuk
mengeksplorasi pertanyaan dan kemungkinan, untuk
membangun hubungan, untuk memperkaya dan
memperdalam makna, untuk jarak dari dan merenungkan
masalah, dan untuk menghubungi dan merangkul
berbagai bagian (self Atkins & Williams, 2007). 7.
Hubungan interpersonal antara terapis dan klien adalah
dasar kerja konseling berbasis seni ekspresif (Atkins &
Williams, 2007; Rogers, 1993).
C. MANFAAT TERAPI SENI
Terapi seni dapat membantu konseli yang
mempunyai masalah untuk mengeksplorasi dan perasaan
mereka. Individu yang mempunyai masalah trauma,
cemas, penyesuaian terhadap masalah keluarga maupun

individu yang mempunyai masalah atau penyakit fisik


(shafie, 2009). Seni sebagai bahasa yang tepat untuk
ekspresi diri dan dapat menjadikan individu terutama
anak-anak untuk lebih bisa mengekspresikan gejolak
perasaannya yang mungkin akan sangat susah dilakukan
jika hanya menggunakan proses konseling konvensional.

D. PROSES TERAPI SENI


Menurut Rubin, (2005) gambaran terapi seni,
khususnya pada anak-anak terdiri dari beberapa langkah,
yakni: Testing, Trusting, Risking, Communicating, Facing,
Understanding, Accepting, Coping, dan Separating.
a. Testing Pada tahap awal pertemuan atau awal
hubungan, anak biasanya memiliki beberapa tingkat
ketidakpastian dan pengujian pada tahap awal hubungan.
Bahkan anak lapar akan perhatian orang dewasa dan
persetujuan, kemungkinan besar mengalami kesulitan
percaya pada keandalan orang dewasa yang baru.
Terapis harus menciptakan kondisi yang senyamannyamannya bagi suasana terapi. Yang paling penting
adalah terapis harus jelas dalam pikiran sendiri mengenai
batas untuk anak, dan bahwa mereka menegakkan
dengan jelas dan konsisten, dengan cara empatik dan
ramah. Dalam sesi awal, di mana seseorang ingin anakanak untuk mengembangkan kepercayaan dan hubungan
positif dengan terapis, penting untuk tidak hanya
konsisten tetapi juga tidak mengancam dengan
konfrontasi. Waktu untuk interpretasi atau konfrontasi
mungkin bisa dilakukan jika sudah tercipta hubungan baik;
periode awal adalah waktu untuk membuat situasi
senyaman mungkin, sehingga anakanak ingin untuk
menjadi terlibat dalam terapi.
b. Trusting Mengembangkan rasa kepercayaan dan
keyakinan membutuhkan waktu yang berbeda untuk
anak-anak yang berbeda, dan salah satu harus bersabar.
Jika terapis bisa jelas dan konsisten tentang semua aspek
dari pertemuan itu, dari waktu dan aturan untuk bahanbahan, ruang, dan interaksi, stabilitas ini akan membantu
untuk memberikan kerangka yang jelas dan aman untuk
bekerja lebih lanjut. Melindungi anak dari gangguan yang
tidak perlu atau pengkhianatan juga penting. Ini berarti
memastikan bahwa ruang dan waktu yang akan
digunakan dijaga bebas dari gangguan. Ini juga berarti
menjadi jelas dan terbuka mengenai tujuan. Tidak
profesional dan tidak etis untuk membahas rahasia anak

dengan siapa pun yang tidak sah yang terlibat dalam


perawatan, dan satu tidak boleh mengungkapkan
informasi pribadi kepada orang tua, sekolah, atau yang
lainnya, tanpa melibatkan anak itu secara terbuka dalam
tindakan semacam itu. Meskipun mungkin tidak mudah
bagi seorang anak untuk percaya bahwa terapis benarbenar akan memperlakukan komunikasi sebagai pribadi,
adalah penting untuk menyampaikan kerangka-pelindung
ini sekaligus mengeksplorasi apa ketidakpercayaan dan
kekhawatiran mereka mungkin merasa.
c. Risking Proses mempertaruhkan pengungkapan
pikiran dan perasaan yang sebelumnya dikuburkan,
tersembunyi sering dari anak itu sendiri, adalah pasti
lambat, bahkan ketika tampaknya cepat. Cerita-cerita
yang dituangkan keluar dari dirinya, seolah-olah
bendungan yang dibuka paksa, menunjukkan tekanan
kuat untuk dibuka.
d. Communicating Untuk membangun kepercayaan dan
memungkinkan seorang anak untuk menghadapi risiko
ketakutan dalam, perlu untuk menemukan cara
berkomunikasi yang bermakna bagi kedua belah pihak. Ini
mungkin memerlukan waktu, dan bahkan beberapa trial
and error, untuk menemukan kata-kata dan gambar dan
kerangka acuan yang masuk akal bagi anak tertentu.
Meskipun ini sangat sulit dengan anak-anak nonverbal,
terbelakang, atau psikotik, itu merupakan kondisi yang
penting bagi kerja yang efektif dengan semua anak.
Umumnya, orang menemukan kombinasi cara verbal dan
nonverbal untuk berhubungan. Mereka mungkin berubah
seiring waktu dengan setiap anak, yang membutuhkan
kewaspadaan konstan. Mencari panjang gelombang yang
sesuai dan bisa diterapkan di mana untuk berkomunikasi
adalah tantangan, dan mungkin memerlukan sedikit baik
risktaking dan kreativitas pada bagian dari terapis, tapi
sangat sedikit pekerjaan bisa dilakukan tanpa komunikasi
yang efektif.
e. Facing Mungkin bagian paling sulit dari seluruh
pekerjaan terapeutik dengan anak-anak adalah waktu
ketika anak tidak hanya dikomunikasikan sesuatu yang
berisiko, tetapi kemudian siap untuk menghadapi
informasi tersebut. Itu adalah satu hal untuk Tommy untuk
menceritakan sebuah cerita tentang seekor ular yang
matanya akan buruk karena dia terlalu serakah,
melainkan hal lain bagi dia untuk berhubungan cerita
bahwa untuk dirinya sendiri dan kebutaan progresifnya.
Hal ini tidak mudah untuk memutuskan di muka ketika

anak mungkin perlu melakukan lebih dari integrasi melalui


ekspresi yang disublimasikan untuk sembuh. Ketika terapi
seni adjunctive untuk bentuk lain dari psikoterapi, hal ini
tentu tujuan yang cukup.
f. Understanding Dibutuhkan waktu yang lama untuk
memahami konseli, dari secercah pertama sulit
menangani, aspek konflik dari diri, untuk mencapai titik di
mana anak bisa menerima, tanpa kecemasan yang tidak
semestinya, rahasia ini sebelumnya tersembunyi.
g. Accepting Tahapan ini terapis berusaha
memanfaatkan seni untuk membuat konseli menerima
dirinya, menerima keadaannya dan siap untuk perubahan
yang terjadi pada dirinya.
h. Coping Konseli yang mengalami masalah tidak hanya
dipahamkan untuk menerima dan memahami masalah
yang menimpa dirinya, mencapai kemampuan untuk
mengambil risiko dan menghadapi hal-hal, itu adalah
suatu perjuangan baginya untuk memahami dan
menerima mereka cukup untuk dapat mengatasi secara
efektif. Meskipun pemahaman itu tidak pernah mendalam,
itu sudah cukup. Hal ini terbukti dalam cerita, yang
mencerminkan beberapa pemahaman tentang hubungan
antara fantasi perasaan, ide, dan tindakan, dan realitas.
i. Separating Pada akhir setiap proses terapiapakah,
setelah 6 minggu, 6 bulan, atau 6 tahun-anak akan
memiliki perasaan mengenai akhir hubungan yang telah
menjadi penting dalam hidup mereka. setelah terapi
berakhir merupakan langkah pertumbuhan dan kemajuan,
tetapi juga bisa mencakup kerugian. Meskipun sering ada
penurunan ketergantungan pada terapis, masih ada
biasanya beberapa kemarahan kepada orang dewasa,
yang secara realistis bertanggung jawab, apa pun upaya
mungkin telah dilakukan untuk melibatkan anak dalam
proses pengaturan tanggal pemutusan.
E. IMPLIKASI
Di indonesia praktik pengintegrasian teori konseling
dengan seni ekspresif belumlah banyak ditemukan,
padahal Indonesia adalah negara yang dikenal dengan
berbagai macam kekayaan dan keanekaragaman potensi
seni yang dimiliki. Dilihat dari potensi Indonesia tersebut
maka sebenarnya ada beberapa Implikasi yang menarik
terhadap pelaksanaannya di Indonesia, hal tersebut dapat
dipaparkan sebagai berikut:

a.
Proses
Konseling
Harus
memperhatikan
perkembangan kemampuan seni dari konseli, sehingga
dengan melihat fakta tersebut diharapkan proses
konseling dapat berjalan dengan lebih baik, disamping itu
perlu juga memperhatikan penggunaan media/modalitas
seni yang sesuai dengan kemampuan, keinginan siswa,
dan keefektifan proses konseling.
b. Kompetensi Konselor Konselor di Indonesia harus
memiliki kompetensi untuk bisa mengintegrasikan teori
konseling dalam seni ekspresif, konselor harus memiliki
pemahaman bagaimana menggali metode seni sebagai
alat untuk melaksanakan konseling. Konselor juga harus
memiliki
keterampilan
yang
memadai
untuk
melaksanakan konseling dengan seni ekspresif maka
diperlukan latihan untuk itu.
DAFTAR PUSTAKA
Atkins, S. S., & Williams, L. D. (2007). Sourcebook in
Expressive Arts Therapy. Boone, NC: Parkway.
Corey, G. (2001). The art of Integrative Counseling.
Pacific Grove, CA: Brooks/Cole.
Degges-White, Nancy L. Davis, editors. (2011).
Integrating the Expressive Arts into Counseling Practice:
Theory-based Interventions. Springer Publishing: New
York.
Gladding, S. T. (2005). Counseling as an art: The Creative
Arts in Counseling (3rd ed.). Alexan-dria, VA: American
Counseling Association.
Knill, P. J., Levine, E. G., & Levine, S. K. (2005).
Principles and Practice of Expressive Arts Therapy:
Toward a Therapeutic Aesthetics. London: Jessica Kingsley.
Mey, See Ching. (2009). Innovations In Counseling:
Makalah disampaikan pada Seminar Internasional dalam
Rangka Kongres XI dan Konvensi Nasional XVI ABKIN,
14-17 November 2009.
Rogers, N. (1993). The Creative Connection: Expressive
Arts as Healing. Palo Alto, CA: Science and Behavior
Books.
Rubin, Judith Aaron. (2005). Child Art Therapy 25th
Anniversary Edition. John Wiley & Sonc. Inc: New Jersey

Shafie, Rozman. (2009). Terapi Seni (Art Therapy).


http://sabtuyangingdah.blogspot.com.

Guilford Publications. Expressive Therapies, edited by


Cathy A. Malchiodi

Stuckey, Heather L. Jeremy Nobel. (2010). The


Connection Between Art. Healing, and Public Health: A
Review Of current Literature. American Journal of Public
Health vol 100, 2nd edition. (diunduh dari WWW.
Springer.com). Wiener, D. J., & Oxford, L. K. (Eds.).
(2003). Action therapy with families and groups: Using
creative arts improvesation in clinical practice.
Washington, DC: American Psychological Association.

Malchiodi, Cathy A. (published 2003 Expressive


Therapies). New York: Guilford

(Pio-Abreu, Jose Luis and Villares-Oliveira, Christina.


(2007) How Does Psychodrama Work? In B. Clark, J.
Burmeister, and M. Maciel, "Psychodrama: Advances in
Theory and Practice." Taylor and Frances: USA Pg. 129132.)
Americans for the Arts. (2013). National Initiative for Arts &
Health in the Military: Arts, health and well-being across
the military continuum. White paper and framing a national
plan for action

Jurnal Bimbingan dan Konseling, ABKIN Daerah Jawa


Timur, Husni Abdillah Dosen Program Studi
Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas
PGRI Adi Buana Surabay
https://en.wikipedia.org/wiki/Expressive_therapy
https://en.wikipedia.org/wiki/Art_therapy
https://en.wikipedia.org/wiki/Writing_therapy
https://en.wikipedia.org/wiki/Psychodrama