Anda di halaman 1dari 16

DESAIN TEKNIS PEMBUATAN IPAL DOMESTIK

ASSALAMUALAIKUM
saya

mau

berbagi

informasi

rutin

lagi

nih

boss

tentang

ini infonya

Diambil dari : kwhpipe.com

Misalnya anda ingin membuat IPAL Domestik dengan kriteria dibawah ini

Kapasitas Air Limbah : 50 m3 / day


Kandungan BOD Air Limbah : 3000 mg/Litre
Kandugan TSS : 1500 mg/L
Total Efisiensi : 100%
BOD outlet yang diinginkan : 15 mg/l
TSS outlet yang diinginkan : 20 mg/l

1. Pembuatan Desain Oil separator tank


Kapasitas Pengolahan : 50 m3 / day
: 2.08 m3/ hour
: 0.035 m3/ minute = 35 liter / minute
Retention Time yang diinginkan : 45 menit
Jadi Volume tank yang di butuhkan = { 45 / (60X24) }day X 50 m3/ day
= 1.56 m3

Recommended Dimensi
Panjang= 2 meter , Lebar = 1 meter , Tinggi= 1 meter

pengolahan

limbah

Volume efektif = 2 m3

2. Desain Bak Ekualisasi


Waktu
jam

tinggal

standar

Waktu tinggal yang diinginkan adalah = 6 jam


Volume Bak yang di perlukan : 6/24 day X 50 M3/day
= 12.5 M3
Recommended dimensi
Panjang= 3 meter X 2.1 Meter X 2 meter
Volume efektif = 13 M3

3. Desain Bak Pengendapan Awal


Debit air Limbah = 50 M3 / day = 35 Liter / minute
BOD masuk = 3000 ppm
Efisiensi Pengolahan Awal = 25% (Generally Standard)
Target BOD keluar = 2250 ppm
Waktu tinggal standar di dalam bak pengendapan awal = 2 4 jam
Waktu Tinggal yang ditetapkan = 3.5 jam
Volume Bak Pengendapan Awal = 3.5/24 day X 50 M3/ day
= 7.29 m3
Desain Recommended : Panjang = 3 meter, Lebar= 2 meter, Tinggi= 1.25 meter
Waktu Tinggal Rata-rata = (3X2X1.25 Meter) / 50 M3/day X 24 jam
= 3. 6 jam
4. Desain Anaerob Tank
BOD Masuk = 2250 ppm
Efisiensi = 80% (Generally Standard)
Target BOD Keluar = 450 ppm

4-8

Beban BOD = 2250 mg / liter X 50 M3 / day


= 112.500 gram / hari = 112.5 kg/ hari
Jumlah BOD yang dihilangkan : 0.8 X 112.5 = 90 kg
Volume Media = 112.5 / 4.7 = 23.94 M3
Volume reactor = 100/60 X 23.94 = 39.89 M3
Waktu Tinggal = 39.89 / 50 X 24 jam
= 19 jam
THANKS SEMOGA BERMANFAAT ....
ACHDIAT
Water Engineering Specialist

Al-

Abdillah

Menyusun Rencana K3 Pada Proyek


SATURDAY, 25 APRIL 2015 K3

Menyusun Rencana K3 Di Proyek. Berikut adalah cara penyusunan rencana atau program K3
(Keselamatan Dan Kesehatan Kerja) yang antara lain adalah :
a. Mengidentifikasi persyaratan K3 (sesuai Kontrak Dan Peraturan/UU)
b. Rencana Kerja Proyek (RKP), terdiri dari:
1.

Rencana Mutu (Quality Plan), sesuai dengan persyaratan Kontrak dan Pedoman Mutu serta

Sistem dan Prosedur SMM-ISO 9001:2000.


2.

Jadwal Waktu (Time Plan/Schedule), meliputi jadwal kegiatan administratif

dan

fisik

konstruksi serta pengadaan dan penggunaan semua jenis sumber-dayanya.


3.

Rencana Anggaran Biaya (Cost Plan/Budget), meliputi rencana biaya langsung Dan tidak

langsung, rencana penerimaan Dan pengeluaran, dari awal sampai selesai.


4.

Rencana/Program K3 (safety Dan Health Plan), sesuai dengan persyaratan Kontrak dan

Peraturan Perundangan yang berlaku serta SMK3.

c. Menyusun Rencana/Program K3
1. Mengidentifikasi jenis-jenis Bahaya dan Analisis Risiko dari:

Setiap Proses Tahapan/ Jenis Pekerjaan dari tahap Persiapan, Mobilisasi/ Demobilisasi,
Pondasi, Pekerjaan Tanah, Struktur Bawah Dan Atas, MEDanP, Finishing Interior Dan Eksterior,
Lanskap, dsb.

Setiap Jenis Peralatan, pemasangan, operasi, Mob/Demob dsb

Setiap Jenis Material, tranportasi, penyimpanan Dan penggunaannya

Kondisi Lingkungan Fisik, Sosial, Jalan (Akses, Lalu-lintas Alat/Material/Pekerja), Sumber


Penyakit, Keamanan dll.

2. Menyusun Daftar Matriks, yang berisi kolom-kolom:

Nomor Urut

Lokasi/Jenis Pekerjaan/Aktifitas (setiap sumber risiko)

Jenis Risiko Kecelakaan berdasarkan Lokasi pekerjaan.

Upaya Pencegahan/Pengendalian Risiko berdasarkan jenis resiko.

Penanggung Jawab Pekerjaan/Aktifitas berdasarkan lokasi pekerjaan.

3. Menyusun Daftar Matriks Prosedur Pengoperasian Alat, terdiri dari:

Nomor Urut

Jenis Alat

Bagian-bagian Alat yang harus diperiksa

Cara Pengoperasian Dan Jenis Pengendalian Risiko selama operasi

Keterangan Dan Penanggung Jawab

4. Menyusun Agenda Kegiatan Inspeksi dan Pertemuan/ Tinjauan hasil inspeksi (Harian, Mingguan dan Bulanan)
5. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas P2K3 dan Unit Penanggulangan Keadaan Darurat / Kebakaran.
6. Daftar Alamat Pihak-Pihak yang harus dihubungi bila terjadi keadaan darurat, seperti:

Rumah Sakit, Puskesmas dan Dokter Hyperkes terdekat.

Kantor Dinas Pemadam Kebakaran terdekat

Kantor Departemen tenaga kerja terdekat

Kantor Polisi, Aparat Keamanan lainnya yang terdekat.

d. Menyiapkan Prosedur K3 (jika disyaratkan dalam Kontrak) Prosedur K3 sebaiknya disusun secara
sistematis, ringkas, menyeluruh.

PRINSIP-PRNSIP PENYUSUNAN PROGRAM K3

Sebagai sebuah sistem manajemen, K3 tidak dapat dipisahkan dari suatu sistem
manajemen perusahaan secara keseluruhan. Program K3 yang telah ditetapkan
akan berjalan efektif jika didukung dan dilaksanakan oleh seluruh bagian atau
departemen yang ada dalam suatu organisasi perusahaan. Oleh karena itu,
dalam penyusunan program K3 harus mempertimbangkan semua aspek yang
terkait dalam perusahaan seperti aspek produksi, finansial, sosial, psikologi,
budaya kerja dan manajemen. Isu cross-cuttingdalam K3 menjadi perhatian bagi
para pakar, akademisi dan praktisi K3 dalam penyusunan dan pelaksanaan
program K3 yang terarah dan terencana.

a.

Prinsip-Prinsip Penyusunan Program K3

Sebuah organisasi perusahaan perlu mengembangkan strategi perencanaan


yang baik dalam menerapkan aspek K3 melalui program-program yang disusun
berdasarkan prinsip yang terencana dan terarah. Dalam sebuah sistem

manajemen, perencanaan sebuah program harus mempertimbangkan prinsip


SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realiable, Timetable). Sebuah program
K3 harus bersifat spesifik yang berarti bahwa program-program yang dibuat
sedapat mungkin tidak menimbulkan kebingunan bagi pihak yang diberi tugas
untuk melaksanakannya, mudah terukur dalam hal pencapaian hasilnya dengan
ditetapkannya target dan indikator keberhasilan pencapaiannya. Sebuah
program K3 juga harus bersifat mudah untuk dilaksanakan sehingga dapat
berjalan efektif dan efisien sesuai dengan kemampuan perusahaan serta realistis
dalam hal pembiayaan dan kemampuan orang yang melaksanakannya dengan
jangka waktu yang telah ditetapkan.

Dalam menetapkan program K3 terdapat beberapa referensi yang dapat


dijadikan acuan, salah satunya adalah OHSAS 18001:2007 klausul 4.8.3 tentang
objektif dan program K3 Organisasi harus menetapkan, menjalankan dan
memelihara dokumen objektif K3pada fungsi dan tingkatan yang sesuai dalam
organisasi. Menurut Ramli ( 2009), untuk mencapai objektif yang telah
ditetapkan, organisasi harus menyusun program kerja yang merefleksikan
kebijakan organisasi. Rencana kerja ini disusun untuk setiap tingkatan
manajemen sebagai landasan operasional dengan mempertimbangkan:

Penentuan tanggung jawab dan wewenang untuk pencapaiannya disetiap


tingkatan, fungsi dan departemen. Program K3 sebaiknyadiintegrasikan dengan
program organisasi secara keseluruhan sehingga menjadi salah satu aspek
dalam pencapaian sasaran organisasi.

Sarana dan sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai program kerja yang
telah ditetapkan misalnya pendanaan, tenaga, peralatan dan lainnya.

Jangka waktu atau jadwal pelaksanaan dan penyelesaian program kerja.

b.

Dasar Penyusunan Program K3

Dalam penyusunan program K3 dalam suatu perusahaan, terdapat landasan


atau dasar-dasar yang melatarbelakangi pembuatan suatu program diantaranya
adalah hasil risk assessment dari suatu kegiatan produksi untuk mengetahui
potensi-potensi bahaya dan resiko ditempat kerja. Terdapat beberapa metode
yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian resiko yaitu, metode kualitatif,
semi kuantitatif dan kuantitatif. Sebelum melakukan penilaian resiko perlu
diketahui bisnis proses suatu kegiatan produksi suatu industri, dalam setiap
tahapan proses produksi terdapat beberapa bahaya yang dapat menimpa
pekerja sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan dan gangguan kesehatan.
Adapun proses produksi suatu industri garmen dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:

Faktor-faktor penyebab yang dapat membahayakan tenaga kerja sudah


seharusnya dicegah, dikendalikan, diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Untuk
mencegah berbagai gangguan yang muncul, maka terlebih dahulu perlu
diketahui proses produksi dan identifikasi permasalahannya, cara pemantauan,
dan standar-standar yang berlaku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja yang umum ditemukan
di industri garmen adalah :
1. Faktor Lingkungan Kerja memungkinkan dapat menimbulkan gangguan
kesehatan tenaga kerja, sebagaimana terlihat pada penjelasan di bawah ini.
Proses Produksi dan Faktor Lingkungan Kerja

Gudang Bahan : penerangan, iklim kerja, debu, uap, formaldehyde

Pola dan Pemotongan Bahan : penerangan, iklim kerja, debu, uap, formaldehyde

Menjahit : penerangan, iklim kerja, getaran, debu, uap formaldehyde

Pemotong Sisa Benang : penerangan, iklim kerja, debu, uap, formaldehyde

Pengecekan Kualitas : penerangan, iklim kerja, debu, uap, formaldehyde

Seterika : penerangan, iklim kerja, debu, uap, formaldehyde

Finishing: penerangan, iklim kerja, debu, kapas, uap formaldehyde

Pengemasan : penerangan, iklim kerja, debu karton, uap formaldehyde

2. Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja, hal-hal yang menjadi permasalahan berkaitan


dengan potensi bahaya kecelakaan kerja pada industri garmen adalah sebagai
berikut :

Gudang memiliki potensi bahaya kebakaran

Bagian Pola/ potong memiliki potensi bahaya jari tangan terpotong, tersengat
arus litrik

Bagian Jahit memiliki potensi bahaya jari terkena jarum, tersengat arus listrik,
kebakaran

Bagian Pasang Kancing memiliki potensi bahayajari tergencet mesin kancing,


tersengat arus listrik

Bagian Seterika memiliki potensi bahaya tersengat arus listrik, kebakaran

Bagian Pengemasan memiliki potensi bahaya tergores, barang terjatuh

3. Keserasian peralatan dan sarana kerja dengan tenaga kerja. Keserasian


peralatan dan sarana harus diperhatikan oleh pihak perusahaan dan disesuaikan
dengan tenaga kerja yang dimilikinya agar kecelakaan kerja dapat
diminimalisasi. Kesalahan yang disebabkan ketidakserasian antara peralatan dan
sarana dengan tenaga kerja dapat menimbulkan berbagai masalah yang
akhirnya dapat mengancam keselamatan dan kesehatan kerja. Beberapa
permasalahan seperti ini yang ditemukan di industri garmen :

Bagian pemotongan kain, jahit dan seterika, faktor ergonomi


mempengaruhi adalah ukuran meja, kursi duduk, sikap dan sistem kerja

Bagian pengemasan, faktor ergonomi yang mempengaruhi adalah kegiatan


angkat junjung, sikap dan cara kerja, ruang gerak.

yang

Beberapa permasalahan di atas sangat umum ditemukan di industri garmen.


Dan seperti kebanyakan yang terjadi di industri, terkadang penyelesaian
permaslahan tersebut mendapatkan resistansi dari manajemen.

c.

Identifikasi Masalah Industri Garmen di Indonesia


Berdasarkan Baseline Reports : Worker Perspectives from the Factory and
Beyondyang disusun oleh ILO, ada beberapa masalah tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja khususnya di Industri Garmen Indonesia. Secara garis besar
berikut beberapa permasalahan di Industri Garmen yang terkait Keselamatan
dan Kesehatan Kerja :
Identifikasi
Permasalahan

Klasifikasi

Hambatan dan Akar


Permasalahan

Solusi
Penyelesaian

>80% Lulusan
SMP/SMU

Faktor Individu

Industri garmen
merupakan industri
yang menyerap banyak
tenaga kerja sehingga
tidak mensyaratkan
pekerja berpendidikan
tinggi

39,9% tidak
memiliki
pengalaman
kerja

Faktor Individu
(Skill dan
Pengalaman)

Pekerja yang tidak


berpengalaman dapat
menghambat
kecepatan produksi
dikarenakan harus
dilatih terlebih dahulu

Memperbaiki sistem
perekrutan
karyawan
dengan
mensyaratkan
penglaman bekerja
minimal 1 tahun

>38%
berkeluarga
dan memiliki

Faktor Individu

Konsentrasi pekerja
wanita yang memiliki
anak akan terbagi

Pihak manajemen
perlu memberikan
perhatian khusus

anak

untuk keluarga dan


pekerjaannya

bagi pekerja wanita


yang sudah
berkeluarga dan
memiliki anan

>53%
mengeluhkan
masalah severe
thirst

Faktor
Kesehatan
kerja

Target produksi yang


sangat tinggi serta
kondisi lingkungan
kerja yang panas
membuat pekerja
selalu merasa
kehausan, yang
berakibat kesehatan
pekerja menurun
karena dehidrasi

Penyediaan
air
minum yang cukup
bagi pekerja

42% severe
fatigue

Faktor
Kesehatan
Kerja

Faktor kelelahan
sangat berbahaya
dapat berpotensi
menimbulkan
gangguan kesehatan
dan kecelakaan kerja

Pihak
manajemen
harus
memperhatikan jam
kerja karyawan agar
tidak
melampaui
jam kerja yang telah
ditentukan

30,6% stomach
pain

Faktor
Kesehatan
Kerja

Tidak ada waktu untuk


makan karena dikejar
target menyebabkan
pekerja telat makan
sehingga berakibat
pada gangguan
kesehatan

Manajemen
harus
memberikan waktu
kepada
pekerja
untuk istirahat dan
makan

41,5% dizziness
(pusing)

Faktor
Kesehatan
Kerja

Kondisi lingkungan
kerja yang tidak baik
serta pola makan dan
istirahat yang tidak
teratur menyebabkan
gangguan kesehatan
pada pekerja

Pneyediaan
klinik
untuk berobat

46% back and


neck ache

Faktor
Kesehatan
Kerja,
Regonomi

Tempatk kerja tidak


ergonomis, terlalu lama
pada posisi yang sama

Mengatur posisi dan


tempat kerja

>59% concern
terhadap
bahaya
ditempat kerja

Faktor
Keselamatan
Kerja

>41% kurang concern


terhadap bahaya kerja,
bisa dikarenakan
kurangnya
pengetahuan tentang
bahaya ditempat kerja

Penyediaan
informasi
dan
pelatihan
tentang
bahaya
ditempat
kerja

>40%
mengeluhkan

Faktor
Psikologi

Masalah aturan jam


kerja karyawan

Manajemen
memberikan

bekerja dihari
weekend

dikarenakan dikejar
produksi

kesempatan
libur

untuk

Makan sambil
bekerja

Faktor
Kesehatan
Kerja

Tidak ada jam istirahat


untuk makan karena
mengejar produksi

Pengaturan
waktu
untuk
istirahat
makan
dan
disediakan tempat
makan

Bekerja dihari
minggu

Faktor
Psikologi

Target produksi yang


tinggi

Manajemen
memberikan
kesempatan
libur

untuk

Tidak ada
pengaturan jam
kerja lembur

Faktor
Manajemen

Sistem pengaturan jam


kerja lembur tidak jelas

Pihak
manajemen
harus
memperhatikan jam
kerja karyawan agar
tidak
melampaui
jam kerja yang telah
ditentukan

Upah rendah,
dibawah
standar, keluar
masuk
karyawan tinggi

Faktor
Manajemen

Sistem perjanjian kerja


karyawan tidak
memihak karyawan

Penyesuaian upah
sesuai aturan UMR
yang
telah
ditetapkan
Pemerintah

Slip gaji tidak


lengkap info
tentang bonus
tidak jelas

Faktor
Manajemen

Sistem administrasi
pembayaran gaji tidak
jelas

Memperbaiki sistem
administrasi dan
transparansi

65%tergabung
dalam Trade
Union Member

Faktor
Manajemen

Manajemen
harus
memberikan
kebebasan kepada
pekerja
untuk
bergabung dengan
serikat pekerja

>80% terikat
kontrak namun
67,7% non
permanent

Faktor
Manajemen

Pekerja industri garmen


biasanya merupakan
karyawan outsourcing

Manajemen
harus
memberi
kesempatan kepada
pekerja
yang
memiliki
prestasi
untuk diangkat jadi
karyawan tetap

35,4% sudah
mendapatkan
training K3

Faktor
Keselamatan
Kerja

Program pelatihan K3
belum menyentuh
keseluran karyawan

Program pelatihan
K3 harus diberikan
kepada
seluruh
pekerja

<30%

Faktor

Program pelatihan K3

Program

pelatihan

mendapatkan
training

Manajemen

belum menyentuh
keseluran karyawan

K3 harus diberikan
kepada
seluruh
pekerja

85,2%
mendapatkan
sexual
harrasment

Faktor
Psikologi

Sangsi terhadap pelaku


kekerasan tidak tegas

Harus
dibentuk
badan
advokasi
bagi karyawan

79,4% verbal
abuse

Faktor
Psikologi

Sangsi terhadap pelaku


kekerasan tidak tegas

Harus
dibentuk
badan
advokasi
bagi karyawan

87,4% physical
abuse

Faktor
Psikologi

Sangsi terhadap pelaku


kekerasan tidak tegas

Harus
dibentuk
badan
advokasi
bagi karyawan

>30%
mendiskusikan
masalah
dengan
supervisor/trad
e union rep.

Faktor
Psikologi

Rata-rata pekerja tidak


berani menyampaikan
masalahnya

Harus
dibentuk
badan
advokasi
bagi karyawan

>50% merasa
supervisor
menyelesaikan
masalah
dengan tidak
respek

Faktor
Psikologi

Atasan tidak peduli


terhadap
permasalahan para
pekerja

Harus
dibentuk
badan
advokasi
bagi karyawan

Kurang
sejahtera,
sedih, dan tidak
punya harapan
untuk masa
depan

Faktor
Psikologi

Tingkat kesejahteraan
karyawan pabrik masih
rendah

Manajemen
harus
memperhatikan
kesejahteraan
pekerja

>80% sangat
tertarik
mendapatkan
informasi
tentang K3 dan
informasi

Faktor
Keselamatan
Kerja

Terus digalakan
pelaksanaan
program K3

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa industri garmen di Indonesia masih
banyak permasalahan yang merugikan pekerja atau buruh pabrik. Masalahmasalah yang muncul berkaitan dengan aspek pendidikan, skill dan pengalaman
kerja, upah buruh yang rendah, kesejahteraan pekerja belum diperhatikan, jam
kerja yang tidak teratur dan sebagainya. Para pekerja industri garmen umumnya
adalah wanita yang baru lulus SMP/SMA, sebagian dari pekerja wanita sudah
berkeluarga dan memiliki anak sehingga konsentrasinya terbagi kedalam

pekerjaan dan rumah tangga, hal ini disebabkan karena faktor ekonomi yang
tidak mencukupi sehingga wanita yang sudah memiliki anak harus ikut mencari
penghasilan. Tak jarang para pekerja wanita tersebut mendapatkan perlakuan
yang tidak manusiawi dari rekan kerja maupun atasan seperti kekerasan seksual,
perlakuan kasar berupa ucapan dan fisik.
Dari permasalahan yang ada, dapat disederhanakan bahwa permasalahan
keselamatan dan kesehatan kerja di industri garmen terkait dengan pekerja itu
sendiri dan komitmen manajemen terhadap masalah K3. Untuk itu perlu
dibangun program-program keselamatan dan kesehatan kerja yang dipayungi
oleh komitmen dan kebijakan manajemen.
Sesuai dengan skema yang disusun oeh James Reason dalam bukunya Managing
the Risks of Organizational Accidents, bahwa penyebab dasar suatu insiden atau
kecelakaan kerja adalah kesalahan pada organisasi/ manajemen. Berdasarkan
model tersebut, maka perlu disusun Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang mencakup mulai dari komitmen dan kebijakan manajemen
hingga penerapan K3 di tempat kerja dan pekerja.

Pelaksanaan program K3 tidak akan berjalan efektif jika persoalan-persoalan


tersebut belum diatasi oleh pihak-pihak terkait, sehingga dalam penyusunan
program K3 diharapkan dapat mengakomodir aspek-aspek yang terkait. cross
cutting issue dalam K3 dapat direfleksikan dalam suatu program K3 perusahaan
seperti aspek psikologis sosial pekerja, budaya, kesadaran akan pentingnya
kesehatan dan keselamatan kerja dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja
serta meningkatkan komitmen manajemen dalam melaksanakan program K3
untuk mendukung kelangsungan usaha yang kompetitif.
Berikut ini program K3 yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan garmen
berdasarkan isu-isu yang saling berkaitan.
TUJUAN

HASIL

PROGRAM

Kecelakaan
Nihil (Zero
Accident )

Penerapan/Sertifikat
Standar SMK3

Menyusun Sistem Manajemen K3


berdasar standar Sistem Manajemen K3

Susunan kepanitian
terdiri dari
perwakilan pekerja
dan manajemen

Membentuk Panitia Pembina Keselamatan


dan Kesehatan Kerja (P2K3) dan Unit

Di Tempat
Kerja
Sarana untuk
membahas
isu-isu dalam
K3 serta
masalah
yang
berkaitan
dengan

Tanggap Darurat

pekerja
Mengendalik
an bahayabahaya yang
muncul
ditempat
kerja untuk
menghindari
kecelakaan
kerja dan
PAK

Register bahaya
dan resiko

Identifikasi Bahaya, Penilaian dan


Pengendalian Resiko

Melindungi
pekerja dari
bahaya dan
resiko di
tempat kerja

Semua pekerja
mendapatkan APD
yang sesuai serta
mendapatkan
informasi tentang
K3

Penyediaan peralatan K3 (APD, Rambu,


Tanda Bahaya & Poster K3 dan Papan
Informasi K3)

Mempersiap
kan dalam
menghadapi
situasi
darurat
seperti
kecelakaan
kebakaran
gempa bumi,
dll.

Pekerja memahami
prosedur dalam
menghadapi situasi
gawat darurat

Penyediaan Aset Tanggap Darurat (Alarm


Bahaya, Detektor Kebakaran, Hidran,

Mengatur
aktifitas
pekerjaan
sesuai
dengan
aturan
keselamatan

Terdapat prosedurprosedur yang


berkaitan dengan
keselamatan dalam
bekerja

Pengendalian Operasional (Prosedur


Keselamatan Kerja, Ijin Kerja Aman,
Induksi

Pekerja
memahami
dan memiliki
skill dalam
hal bekerja
yang aman
dan selamat

Seluruh pekerja
mendapatkan
tarining yang
dibutuhkan

Mengadakan Pelatihan untuk


menigkatkan skill dan pengetahuan
pekerja tentang K3 (Dasar K3, Bahaya di
tempat kerja, Cara Kerja Aman, P3K dan

Memantau
dan
meminimalisi
r bahayabahaya
ditempat

Pelaksanaan
pemantauan
lingkungan kerja
secara berkala

Tabung Pemadam/APAR, Kotak P3K, Radio


Komunikasi dan Sarana Berkumpul
Darurat)

K3)

Tanggap Darurat)

Melakukan Pemantauan K3 secara berkala


seperti suhu, kelembaban udara, debu,
kebisingan

kerja
Melaporkan
hasil/kinerja
pelaksanaan
K3

Meeting dilakukan
setiap bulan

Meeting Berkala (Presentasi Kinerja K3)

Membudaya
kan K3
dalam setiap
aktivitas
pekerjaan

Seluruh pekerja
mengikuti kegiatan
safety talk, dll

Safety talk, toolbox meeting dan safety


briefing

Meningkatka
n peran
serta pekerja
dalam
kegiatan K3

Pekerja
mendapatkan
penghargaan bagi
yang melaksanakan
program K3 dengan
baik

Program safety reward dan punishment

Memastikan
pelaksanaan
program K3
berjalan
dengan baik

Hasil inspeksi

Melakukan inspeksi K3 secara rutin

Memantau
kesehatan
pekerja dan
menghindari
paparan
sumber
bahaya

Seluruh pekerja
mendapatkan
pemeriksaan secara
berkala

Melakukan pemeriksaan kesehatan


pekerja secara berkala

Menghindari
kecelakaan
akibat
kelelahan
dalam
bekerja

Prosedur jam kerja


aman

Membuat prosedur tentang aturan jam


kerja yang aman untuk menghindari
fatigue, jam istirahat yang cukup

Mengatasi
keluhan
pekerja
tentang
kehausan
selama
bekerja

Setiap sudut
ruangan tersedia air
minum

Menyediakan air minum disetiap ruangan


untuk pekerja

Menyediakan
sarana
pengobatan
bagi pekerja

Klinik pengobatan
tersedia

Menyediakan klinik untuk pekerja

Menciptakan
rasa aman
bagi pekerja
selama
bekerja

Dibentuknya sistem
pelaporan dan
penyelesaian
masalah

Memberikan advokasi dan perlindungan


kepada pekerja terhadap kekerasan yang
menimpa pekerja

Dari penyusunan program K3 tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:


a. Pelatihan kompetensi tertentu memberikan pengetahuan khusus kepada
pekerja mengenai ilmu/ keterampilan spesifik di bidang/ bagian kerjanya.
Diharapkan dengan mendapatkan pelatihan ini, minimal pekerja yang belum
memiliki pengalaman kerja mengetahui prosedur yang benar dalam
melaksanakan pekerjaannya.
b. Penyusunan SOP memberikan aturan-aturan tentang bagaimana dan apa yang
boleh serta tidak boleh dilakukan selama bekerja atau selama ada di tempat
kerja. Dengan menaati batasan-batasan yang ada, prekondisi tindakan tidak
selamat dapat dihindari.
c. OHS Toolbox Meeting sebagai media 2 arah dari pihak HSE dan pekerja untuk
menyampaikan informasi-informasi tentang keselamatan. Di samping itu sebagai
sarana pelatihan kepada pekerja tentang keselamatan spesifik pada bidang/
bagian tertentu.
d. OHS Inspection merupakan cara dari HSE untuk mengevaluasi kelayakan K3
yang ada di tempat kerja serta menemukan dan merekomendasikan perbaikan
atas ketidaksesuaian yang ditemukan di tempat kerja. Di samping itu, sesekali
diadakan inspeksi bersama jajaran manajemen dengan tujuan agar manajemen
mengetahui kondisi terkini pekerja dan tempat kerja khususnya mengenai
permasalahan K3.
e. OHS Forum merupakan forum mediasi antara HSE dan jajaran manajemen (level
supervisor ke atas) untuk membahas isu, permasalahan, dan ketidaksesuaian
terkait K3 yang tidak dapat diselesaikan di level pekerja atauHSE, di dalamnya
termasuk tentang pengaturan jam kerja, lembur, dan tata krama hubungan
atasan dan bawahan.
f.

5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) bermaksud menciptakan tempat kerja yang
nyaman dan aman bagi pekerja itu sendiri. Dengan begitu diharapkan stres
akibat kenyamanan ruang kerja dan permasalahan ergonomi di tempat kerja
dapat dihindari.

g. OHS Award sebagai wadah pemberian penghargaan bagi jajaran pekerja dan
manajemen yang berprestasi dalam menerapkan K3, termasuk yang
melaksanakan rekayasa administratif dan rekayasa teknis untuk tujuan
menciptakan pekerjaan yang lebih selamat.
h. Poster K3 berfungsi sebagai pengingat bagi seluruh pekerja tentang pentingnya
keselamatan dan kesehatan kerja dalam menunjang produktivitas.

i.

Pemeriksaan kesehatan sebagai komitmen manajemen melindungi sumber


daya manusianya dan sebagai usaha preventif kehilangan jam kerja orang.

j.

Sertifikasi SMK3 yang dapat dicapai memberikan nilai tambah bagi perusahaan
sehingga memberikan motivasi bagi manajemen dan pekerja untuk tetap
mempertahankan
prestasi
K3
yang
telah
dicapai.

DAFTAR PUSTAKA
Bab II,. http://www.repository.ipb.ac.id, diunduh 22 Desember 2013, Pukul 20.05
wib.
Baseline Report: Worker Perspectives from the Factory and Beyond. 2012. ILO.
Ramli, Soehatman. 2009. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja,
OHSAS 18001. Dian Rakyat.

Reason, James. 2006. Managing the Risks of Organizational Accidents. Ashgate.