Anda di halaman 1dari 10

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

ECOLOGICAL AQUACULTURE
The Evolution of the Blue Revolution
Mengendalikan Pasar, Pendekatan Lingkungan Sosial Ekologikal untuk
Perencanaan Budidaya Berkelanjutan: Studi Kasus Mengenai Tilapia di Fiji

Disusun Oleh :
Kelompok 4/ Perikanan B
Candra Hermawan
Eki Chandra N
Fevi Nuryanti
Ina rahmawati
Nabila dwi yasti
Gun Gun cahyadi

230110130077
230110130093
230110130098
230110130140
230110130144
230110130151

Perikanan B

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

BAB 6
Mengendalikan Pasar, Pendekatan Lingkungan Sosial Ekologikal Untuk
Perencanaan Budidaya Berkelanjutan:
Studi Kasus Mengenai Tilapia di Fiji
Pendahuluan
Tilapias telah diekspor dari sub-Sahara Afrika ke Asia dan seterusnya
seluruh dunia dari sampai pertengahan 1970-an. Ikan nila dikirim tidak hanya
untuk pengembangan budidaya, tetapi juga untuk gulma air dan tujuan
pengendalian serangga atau parasite (Costa-Pierce & Doyle, 1997). Akibatnya
penyebaran nila, yang paling banyak didistribusikan di seluruh dunia adalah nila
mozambik (Oveochvomiz mozzambicuz) (Pullin & Lowe-McConnell, 1982).
Selama bertahun-tahun O. mozzambicuz dikenal di seluruh dunia sebagai Tilapia
jawa. Nama ini diperoleh karena stok diambil dari perairan Jawa untuk di stasiun
perikanan di Mallaca, Malaysia, kemudian diekspor dari Malaysia ke seluruh
dunia hampir ke 100 negara (Pullin, 1985). Bagaimana dan Kapan tilapia masuk
ke diperoleh dari Afrika sampai berada di Jawa masih menjadi misteri yang belum
bisa dipecahkan. Dari semenjak O. mozzambicuz diambil dari generasi yang tidak
diketahui parentalnya dan menjadi unggulan di seluruh dunia selama beberapa
dekade.
Persetujuan global bahwa nila tilapia merupakan spesies yang terbaik
untuk pengembangan budidaya karena memiliki 3 karakteristik komersil penting
1. Tingkat pertumbuhannya lebih cepat untuk ukuran maksimum yang lebih
besar daripada spesies lain;
2. Ukurannya lebih besar pada perkembangbiakan pertama; dan
3. Memiliki kebiasaan makan sebagai herbivore dan menempati trofik level
di bawah pada jaring-jaring makanan di perairan.
Karakteristik ini membuat nila tilapia lebih produktif, dan lebih murah
untuk dikembangkan dan memiliki dampak lingkungan yang kecil daripada nila
Mozambik.
Nila Mozambik di Fiji

Ikan nila Mozambik pertama kali diperkenalkan ke Fiji di akhir 1940-an


dari sumber tidak diketahui. Mereka diintroduksikan kembali pada pertengahan
1950-an sebagai sumber makanan manusia dan sebagai sumber protein alternatif
untuk babi (Holmes, 1954). Ikan nila adalah salah satu sumber protein yang paling
penting bagi masyarakat pedesaan.
Korposrasi perdamaian Amerika Serikat telah membantu pemerintah
Republik Fiji untuk mengembangkan budidaya tilapia di masyarakat pedesaan
sejak tahun 1982. Budidaya tilapia di daerah pedesaan sangat potensial dengan
adanya 172 pembudidaya tilapia dalam skala kecil. Produksi nasional tahun 1996
sebesar 122 metrik ton (mt) dengan produksi pembudidaya kecil menghasilkan 74
mt dan sektor semi komersil menghasilkan 48 mt. Peningkatan yang cukup besar
dari 1995 dengan produksi nasional sebesar 68 mt.
Untuk mendukung pembangunan sektor budidaya, Fiji telah mengadopsi
kerangka pengembangan komoditas. CDF dimaksudkan untuk membantu
pembangunan

yang

matang,

mendorong

ekspor

berbasis

agroindustri

( Kementerian Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan ALTA, 1996). CDF akan


membantu dalam mengembangkan 10

peternakan komersil di Viti Levu, 3

industri peternakan tilapia di Vanua Levu, dan 2 insutri peternalan yang secara
vertikal terintegrasi dengan pabrik pakan dan fasilitas-fasilitas dalam proses
budidaya. Pengembangan akuakultur diharapkan dapat menghasilkan impor
sebesar 22 juta dolar Fiji. Hasil wawancara dengan penjual ikan yaitu : jumlah
ikan karang di pasar lokal, harga penawaran dan penerimaan musiman, hubungan
antara ukuran dan harga permintaan.
Hasil dan Diskusi
Struktur pasar lokal ikan di Fiji
Ada perubahan drastis di struktur pasar lokal makanan yang berasal dari
laut di fiji dari tahun 1978 sampai 1995. Pada tahun 1978 sebagian dari produk
laut di jual di Fiji melalui pasar-pasar yang ada di kota dan sebagian lainnya
melaui outlet (supermarket, toko, hotel, restoran, kafe dsb). Pada tahun 1995
hanya 13 % dari produk laut yang dijual di pasar-pasr di kota; 87 % dipasarkan di

outlet. Alasan mengenai hal tersebut yaitu meningkatnya pajak dan rata-rata sewa
kios di pasar yang berada di kota dan pertumbuhan yang pendek dari ikan karang
sehingga hanya sedikit surplus ikan yang dijual di pasar-pasar yang ada di kota.
Semua ikan yang tertangkap dilaporkan berada di desa.
Konsumsi ikan masyarakat Fiji

Mayoritas masyarakat Fiji tinggal di pedalaman. Sebagai konsekuensinya


perikanan tangkap di pedalaman menjadi sumber yang penting dalam pemenuhan
protein. Ikan merupakan sumber protein hewani yang penting untuk masyarakat
Fiji. Penelitian yang dilakukan oleh Vuki dan Zann (1991) menunjukkan
konsumsi ikan rata-rata perkapita pertahun sebesar 40 kg/ perkapita/ tahun. Ikan
yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat Fiji dari semua etnik rata-rata 68,2
kg/kapita/tahun merupakan konsumsi rata-rata tertinggi di dunia. Sama dengan
Jepang dengan konsumsi rata-rata 68-70 kg/kapita/tahun. Konsumsi rata-rata ikan
yang tinggi pada hari minggu karena merupakan hari religi mereka. Kegiatan
penangkapan dilakukan paling banyak pada hari jumat dan sabtu. Rawlison
(1994) mencatat suplai ikan 41,2 kg. Kapita/ tahun. Ada selisih antara supali ikan
dengan tingkat konsumsi ikan sebanyak 27 kg/ kapita/ tahun.

Preferensi Ikan oleh grup etnik masyarakat Fiji

Rawlinson (1994) mengukur ikan yang dimakan pada 939 daging di Viti
Levu dan menemukan ikan segar yang dikonsumsi sebanyak 549 daging (58%).
Ukuran ikan karang yang dikonsumsi masyarakat Fiji yaitu ukuran kecil dengan
bobot 60-815 gram. Adapula 100-300 gram. Masyarakat Indian terbagi menjadi 2
kelompok yaitu muslin dan hindu. Masyarakat hindu yang vegetarian sekitar 20 %
dari populasi masyrakat Indian pada satu wawancara. Masyarakat Indian dan
China lebih menyukai ukuran piring (250-300 g). Semenjak tilapia ada semua
kelompok masyarakat familiar dengan tilapia. Masyarakat fiji sangat cepat
menerima tilapia. Richards (1994) melaporkan 200-300 tilapia dijual dengan cepat
di pasar eceran dengan rata-rat 3-4 dollar fiji per kg. Harga yang cukup tinggi
dibandingkan dengan ikan karang lainnya.
Estimasi penerimaan ikan

14 dari 18 penjual yang di wawancara mengatakan bahwa harga tilapia


turun akhir-akhir ini. 10 dari 14 penjual menurunkan jumlah tilapia yang dijual 5
tahun terakhir dengan rata-rata 100 kg/ penjual. Jumlah total tilapia yang dijual
berkisar 2790 kg/ minggu untuk 18 penjual pada tahun 1996-1997. Penurunan
jumlah penjualan ikan bisa disebabkan karena beberapa faktor seperti pergantian
struktur di wilayah kota Suva dan ketidak akuratan data survey. Total penjualan
ikan tidak berubah lebih dari 8 tahun (4710 mt tahun 1987 sampai 4698 tahun
1995). Kebanyan ikan (87 %) di pasarkan di tempat yang tidak formal.
Bagaimanapun, besarnya penurunan jumlah ikan. Dari 966 mt pada 1987 menjadi

439 mt pada 1995 kehilangan jumlah ikan sebanyak 527 mt selama periode
tersebut.

Ada konsensus bahwa memperluas ikan karang perikanan tangkap

bukanlah pilihan di Viti Levu (FFD, komunikasi pribadi). Namun, karena ukuran
ikan nila yang penampilannya mirip dengan ikan karang yang paling disukai, dan
pengetahuan konsumn serta penerima nila, nila mungkin mampu menggantikan
kekurangan saat ini dan permintaan dimasa mendatang untuk spsis kecil dari ikan
karang ( yang rinci dalam tabel 6.6). Bart (1996) memperkirakan bahwa pasar
domestik maksimum untuk nila akan mencapai 500 mt/tahun tetapi tidak ada
analisis.
Variabilitas Permintaan Musiman
Data sekunder dari Departemen Perikanan Fiji Walu database diperoleh
untuk menentukan apakah ada yang kuat dengan musim dalam penjualan ikan ke
pasar daerah pusat Viti Levu yang ada. Volume pasar bulanan dan harga ikan di
Nabukulau Creek (Suva), Laqere, dan pasar pinggir jalan yang sudah ditabulasi
(Tabel 6.7). ada perbedaan signifikan dalam setiap bulannya dari tahun 19901995.

Sebuah histogram petak menunjukkan bahwa 51% dari semua bulan

penjualan terendah (17 dari 33 bulan ) adalah bulan 1-3 (Januari-Maret), dan 75%
dari semua bulan termurah volum penjualannya adalah dari Januari sampai Juni.
Pada ujung ulan, volume penjualan itu adala bulan Agustus. Periode volume
terbesar adalah bulan 10-12 (Oktobr-Desember). Selama 69% dari 33 bulan
periode volume terbesar yang dijual adalah dari bulan Juli sampai Desember.

Harga

Harga ikan meningkat dari 20 menjadi 40% per tahun untuk lima ikan karang
yang paling disukai (dan nila) 1987-1996 (tabel 6.8. mackerel beku merupakan
protein termurah yang tersedia di pasar, mnjual dengan harga eceran F$1,69-1,90
per kg. Dimungknkan harga ikan Fiji meningkat dari F$2,33 per kg pada tahun
1987 untuk F$3,75 pada tahun 1996 (Tabel 6.8)
Hubungan harga ukuran dan harga - musim
Tidak ada hubungan antara haga ukuran yang kuat dari permintaan baik dalam
data survey primer (Gambar. 6.2), dan data sekunder dari FFD. Harga per
kilogram ikan sangat bervariasi di antara berbagai ukuran ikan yang dijual, tanpa
tren yang jelas. Tidak ada hubungan yang signifikan dari harga ikan dan musim
Tabl .6.9). Namun, 63% dari bulan harga ikan tertinggi terjadi selama bulan
Oktober Maret ketika ketersediaan ikan lebih rendah.

Gambar Hubungan Harga ukuran dan harga musim


Perkiraan permintaan domestic untuk nila
Wawancara dengan konsumen masyarakat Fiji ditemukan bahwa harga
merupakan penentu paling penting dari permintaan. Di pasar ikan, prmintaan
tertinggi adalah permintaan jack mackerel beku yang berkualitas rendah yang di

impor dari Selandia Baru dengan harga yang sangat rendah ( F$1,50-190 di
pasar). Lebih dari 5000 mt makarel diimpor pada tahun 1995 (FFD, 1995).
Makarel beku adalah ikan berminyak berbau tajam yang berbeda dari ikan karang
kualitas tinggi dan ikan bawah yang terkenal di Fiji. Konsumen tampaknya
bersedia mengorbankan kualitas untuk harga.
Fiji merupakan persimpangan dari Pasifik, memiliki populasi etnis yang
beragam terdiri dari pribumi Fiji, India, dan yang lainnya ( Timur dan Asia
tenggara, Polinesia, campuran Eropa, dan yang lainnya). Penduduk Fiji pada
tahun 1996 diprkirakan 772.655 orang. Memberikan permintaan seafood sebanyak
52.695 mt/tahun. Seafood yang dimakan 58% adalah ikan segar (Tabel 6.3). Jika
penduduk Fiji meningkat dan dapat dipertahankan, maka permintan konsumsi
ikan segar akan meningkat menjadi 33.008 mt/taun. Sehingga ketersediaan ikan
segar per taun akan meningkat menjadi 2.655 mt pada tahun 2006 (Tabel 6.10)
atau menjadi 265 mt/tahun.
Nila domestik dijual sebagai ikan segar secara khusus di Fiji ( segar mati
atau hidup) produksi ikan nila domestik diperkirakan 122 mt tahun 1996 atau 22%
dar volum nila seperti ikan karang yang ditangkap (Tabel 6.5) Jika diasumsikan
22% adalah pangsa pasar perikanan segar di Fiji, dan ini merupakan tetapan
konstan tahun 2006 perkiraan yang konservatif dikedua akun permintaan
tambahan untuk ikan nila bisa sama sekitar 58 mt (265 mt x 0,22) mendekati 66
mt/tahun
Harga Satuan Ikan Nila
Saat ini struktur pasar dari ikan Nila tidak terorganisir. Di daerah pedesaan,
mayoritas petani ikan Nila masih tergolong petani kecil yang menjual kepada
penduduk desa. Petani yang menghasilkan ikan Nila dalam skala besar
(Perusahaan Viti) memasarkan ikan Nila yang dalam keadaan pingsan dengan
harga F$3.50 per kg dan ikan Nila yang masih hidup dengan harga F$5.50 per kg.
Harga satuan ikan Nila memiliki jarak yang luas, dari F$2.50 di tambak desa
penghasil ikan Nila hingga F$5.50 di Toko Ikan Chandrove untuk ikan yang
masih hidup.

Pilihan Nilai Tambahan


Tim survei mewawancarai empat pedagang toko pinggir jalan yang menjual
ikan kabatia dan kawakawa berukuran kecil (150-250 g). Penjual mengatakan
bahwa semua ikan yang mereka jual laku dengan cepat dalam satu ikat yang
terdiri dari tujuh ikan seharga F$5 (F$3.57 per kg dengan perkiraan 200 g/ekor)
dan ikan tersedia dalam jumlah yang melimpah hanya pada periode hingga
Agustus.
Manfaat Ikan Nila sebagai Pupuk dan Pakan yang Murah
Pertumbuhan ikan Nila dan manfaat pembuangannya dapat dijadikan
sebagai pupuk pertanian dan pakan babi yang murah adalah suatu ide yang tidak
dapat terhentikan. Ide ini tidak sesuai dengan perkembangan zaman sehingga
harus ditiadakan sama sekali dalam pengelompokan rencana untuk pengembangan
budidaya ikan Nila termasuk rencana program pengembangan peternakan
budidaya petani kecil di desa, untuk beberapa alasan berikut.
Pertama, ide ini muncul kembali pada tahun 1950 an oleh orang Barat yang
melihat ikan Nila sebagai barang yang tidak berguna yang dapat di daur ulang
menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ikan Nila bukan makanan babi baik kecuali
mereka dimasak, yang berarti mereka tidak bebas. Kedua, perhitungan biaya
budidaya ikan Nila menunjukan bahwa makanan babi merupakan cara yang lebih
ekonomis untuk perkembangan babi dibandingkan dengan mengembangkan ikan
Nila sebagai makanan babi. Ketiga, pengembangan budidaya mengusahakan
untuk membuktikan kesan ikan Nila sebagai makanan yang bernutrisi untuk
manusia.
Kesimpulan
Kebanyakan ikan di Fiji dipasarkan di sepanjang toko bukan di kota, dan
saat ini permintaan pasar dalam negeri ikan Nila sangat kecil. Diperkirakan petani
dalam negeri ikan Nila di Fiji dapat memperluas produksi dalam negeri ikan Nila
dari 122 mt dengan tambahan 58-66 mt, dengan total 180-188 mt pada tahun 2006

dan memperluas produksi dalam negeri 6-7 mt/tahun. Ketersediaan ikan kurang
mencukupi pada bulan Januari hingga Maret dan pada periode ini harga ikan
menjadi meningkat. Saat ini, harga untuk ikan Nila berada dalam kisaran F$2.50 F$5.50 per kg. Harga ikan Nila tidak dapat meningkat secara signifikan, kecuali
sumber kendala meningkat.
Rekomendasi
Meskipun Fiji mempunyai sumberdaya alam yang baik untuk pertumbuhan
ikan Nila, ini direkomendasikan pengembangan pemerintahan Fiji secara
bertahap, tiga tahapan rencana pengembangan budidaya yaitu :
1

Sektor produksi dalam negeri ditekankan dengan meningkatkan peluang pasar


untuk sektor produksi pedesaan dan penawaran pasar untuk meneruskan
pendapatan dari budidaya ikan. Penetapan kios tetap di pinggir jalan di daerah

dengan produksi ikan tertinggi akan menjadi salah satu metodenya.


Pengembangan subsidi dan biaya pakan dengan ukuran sedang (15-20 ha)
peternakan ikan Nila komersial akan memproduksi fillet segar untuk hotel

dalam negeri.
Pengembangan subsidi dan biaya operasional untuk angka yang kecil (5-10)
dalam skala kecil (2-5 ha) peternakan komersial untuk memenuhi kekurangan
persediaan ikan Nila seperti ikan terumbu karang dan mengembangkan
konsep pemanfaatan jangka panjang, pengembangan budidaya di darat untuk
meredakan tekanan penangkapan.
Ada konsensus bahwa memperluas perikanan tangkap ikan karang

bukanlah pilihan di Viti Levu. Namun, karena ukuran ikan nila yang
penampilannya mirip dengan ikan karang yang paling disukai, dan pengetahuan
konsumn serta penerima nila, nila mungkin mampu menggantikan kekurangan
saat ini dan permintaan dimasa mendatang untuk spesies kecil dari ikan karang
(yang rinci dalam tabel 6.6). Bart (1996) memperkirakan bahwa pasar domestik
maksimum untuk nila akan mencapai 500 mt/tahun tetapi tidak ada analisis.