Anda di halaman 1dari 2

Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert Angus Smith pada tahun

1872 pada saat menguraikan keadaan di Manchester, sebuah daerah industri di


Inggris bagian utara. Smith menjelaskan fenomena hujan asam pada bukunya
yang berjudul Air and Rain: The Beginnings of Chemical Technology.
Istilah keasaman berarti bertambahnya ion hydrogen ke dalam suatu lingkungan.
Suatu lingkungan akan bersifat asam jika kemasukan ion hydrogen yang bersal
dari asam sulfat (H2SO4) dan atau asam nitrat (HNO3). Satu reaksi penting
dalam oksidasi sulfur dioksida adalah antara sulfur dioksida yang terlarut dan
hydrogen peroksida.
Hujan yang normal seharusnya adalah hujan yang tidak membawa zat pencemar
dan dengan pH 5,6. Air hujan memang sedikit asam karena H2O yang ada pada
air hujan bereaksi dengan CO2 di udara. Reaksi tersebut menghasilkan asam
lemah H2CO3 dan terlarut di air hujan. Apabila air hujan tercemar dengan asamasam kuat, maka pH-nya akan turun dibawah 5,6 maka akan terjadi hujan asam.
Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide
(SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran.
Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara
alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara
alami.
Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat
pembakaran BBF, peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi
mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%.
Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida
(SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam
sulfat.
Oksida nitrogen, atau NOx, dan sulfur dioksida, atau SO2, adalah dua sumber
utama hujan asam. Sulfur dioksida, yang merupakan gas tidak berwarna,
dilepaskan sebagai produk oleh-ketika bahan bakar fosil yang mengandung
belerang yang terbakar.
Gas ini dihasilkan karena berbagai proses industri, seperti pengolahan minyak
mentah, pabrik utilitas, dan besi dan pabrik baja. berarti alam dan bencana juga
dapat mengakibatkan belerang dioksida yang dilepaskan ke atmosfer, seperti
vegetasi membusuk, plankton, semprot laut, dan gunung berapi, yang semuanya
memancarkan sekitar 10% belerang dioksida. Secara keseluruhan, pembakaran
industri bertanggung jawab atas 69,4% emisi sulfur dioksida ke atmosfer, dan
transportasi kendaraan bertanggung jawab atas sekitar 3,7% (Anonim , 2009).
NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik
yang mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu.
Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik
dan biologik sehingga menghasilkan N. Karena itu semakin banyak
menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut.

Hujan asam juga dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur
dioxide atau sulphur dan nitrogen mengendap pada logam serta mengering
bersama debu atau partikel lainnya.

Fenomena hujan asam mulai dikenal sejak akhir abad 17, hal ini diketahui dari
buku karya Robert Boyle pada tahun 1960 dengan judul A General History of the
Air. Buku tersebut menggambarkan fenomena hujan asam sebagai nitrous or
salino-sulforus spiris.
Selanjutnya revolusi industri di Eropa yang dimulai sekitar awal abad ke 18
memaksa penggunaan bahan bakar batubara dan minyak sebagai sember utama
energi untuk mesin-mesin. Sebagai akibatnya, tingkat emisi precursor (faktor
penyebab) dari hujan asam yakni gas-gas SO2, Nox dan HCl meningkat. Padahal
biasanya precussor ini hanya berasal dari gas-gas gunung berapi dan kebakaran
hutan. Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert Angus Smith pada
tahun 1872 pada saat menguraikan keadaan di Menchester, sebuah daerah
industri di Inggris bagian utara. Smith menjelaskan fenomena hujan asam pada
bukunya yang berjudul Air and Rain: The Beginnings of Chemical Technology.
Masalah hujan asam dalam skala yang cukup besar pertama terjadi pada tahun
1960-an ketika sebuah danau di Skandinavia meningkat keasamannya hingga
mengakibatkan berkurangnya populasi ikan. Hal tersebut juga terjadi di Amerika
Utara, pada masa itu pula banyak hutan-hutan di bagian Eropa dan Amerika
yang rusak.