Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITASMUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT
MEI 2016

REFERAT
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG
BERHUBUNGAN DENGAN FORENSIK

Oleh :
Muh. Reza Mustafa, S. Ked (105420 101 09)
Abdul Qadir Afin Kolly, S. Ked (105420 25 10)
TaufiqHidayat, S. Ked (105420172 10)
Hajrah, S. Ked (105420 254 10)
Pembimbing :
dr. EkoYunianto, Sp. F
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Peranan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sering
dihadapkan pada kenyataan bahwa bantuan mereka juga diperlukan oleh kalangan penegak
hukum dalam memeriksa korban maupun memberikan keterangan untuk kepentingan hukum dan
peradilan. Diperlukan bantuan dokter untuk memastikan sebab, cara, dan waktu kematian pada
peristiwa kematian tidak wajar karena pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan atau kematian yang
mencurigakan.
Pada korban yang tidak dikenal diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui identitasnya.
Begitu pula pada korban penganiayaan, pemerkosaan, pengguguran kandungan dan peracunan
diperlukan pemeriksaan oleh dokter untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi secara medis.
Hasil pemeriksaan dan laporan tertulis akan digunakan sebagai petunjuk atau pedoman dan alat
bukti dalam menyidik, menuntut dan mengadili perkara pidana maupun perdata. Pada tahap
penyidikan dipergunakan sebagai alat bukti dan petunjuk oleh para penyidik dan di sidang
pengadilan dipergunakan oleh jaksa, hakim dan pembela sebagai alat bukti yang sah.1,2
Profesi dokter mempunyai tugas lain yang tidak kalah penting dari sekedar memberikan
pelayanan medis klinis kepada masyarakat, yaitu memberikan bantuan terhadap penegakan
hukum dan keadilan (medical for law). Seperti juga hak kehidupan, kesehatan, kesembuhan
maka keadilan dan perlindungan hukum merupakan hak asasi manusia yang wajib dipenuhi dan
dilindungi oleh negara.
Kata Forensik berasal dari Forum yang berarti pasar. Pada zaman Romawi kuno
pasar digunakan sebagai tempat pengadilan. Dari istilah ini kemudian berkembang pengertian
bahwa ilmu kedokteran forensik merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempergunakan ilmu
pengetahuan dan teknologinya untuk membantu penegakan hukum dan keadilan.2
Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana di Pengadilan
adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan unsur-unsur yang di dakwakan
dalam pasal yang diajukan oleh penuntut. Serta memberikan gambaran bagi hakim mengenai
hubungan kausalitas antara korban dan pelaku kejahatan dengan mengetahui laporan dalam
visum et repertum.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
2

Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ahli kedokteran forensik, diantaranya
Sidney Smith mendefinisikan Forensic medicine may be defined as the body of medical and
paramedical scientific knowledge which may services in the adminitration of the law, yang
maksudnya ilmu kedokteran forensik merupakan kumpulan ilmu pengetahuan medis yang
menunjang pelaksanaan penegakan hukum. Prof.Dr.Amri Amir,Sp.F (2007) mendefinisikan Ilmu
Kedokteran Forensik sebagai penggunaan pengetahuan dan keterampilan di bidang kedokteran
untuk kepentingan hukum dan peradilan.1
Prof.Dr.Budi Sampurna,Sp.F (2009) mendefinisikan Ilmu Kedokteran Forensik adalah
salah satu cabang spesialistik ilmu kedokteran yang memanfaatkan ilmu kedokteran untuk
membantu penegakan hukum, keadilan dan memecahkan masalah-masalah di bidang hukum.1
Dokter adalah dokter lulusan pendidikan kedokteran baik di dalam maupun di luar negeri
yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Institusi Pendidikan (Profesi Dokter) adalah institusi yang melaksanakan pendidikan profesi
dokter baik dalam bentuk fakultas, jurusan atau program studi yang merupakan pendidikan
universitas (academic entity).1
Profesi Kedokteran adalah suatu pekerjaan kedokteran yang dilaksanakan berdasarkan
suatu keilmuan dan kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, serta kode
etik yang bersifat melayani masyarakat sesuai UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran.1,2
Standar Profesi Dokter adalah standar keilmuan dan keterampilan minimal yang harus
dikuasai dokter dalam menjalankan praktek kedokteran.Standar Kompetensi adalah kualifikasi
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan (PP 19/2005).
Berdasarkan definisi-definisi diatas standar profesi dokter di bidang kedokteran forensik
dapat kita definisikan sebagai standar keilmuan dan keterampilan minimal yang harus dikuasai
seorang dokter dalam mengunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk membantu
penegakan hukum, keadilan, dan memecahkan masalah-masalah hukum.1,2
2.2
Lingkup Pelayanan
Pelayanan di bidang Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dalam beberapa kasus
masih diperlukan disiplin ilmu lain. Di bidang kesehatan bantuan tersebut dapat mencakup
Patologi Forensik, Psikiatri Forensik, Toksikologi Forensik, Antopologi Forensik, Odontologi
Forensik dan Radiologi Forensik.
Patologi forensik adalah pengetahuan tentang pemeriksaan kelainan pada jaringan tubuh
oleh karena kekerasan atau mati tiba-tiba untuk kepentingan pengadilan. Psikiatri Forensik
3

tentang pembuktian adanya kelainan jiwa pada tersangka. Toksikologi Forensik adalah peristiwa
keracunan yang berhubungan dengan peristiwa pidana. Radiologi Forensik yang sudah lama
berperan adalah cabang ilmu kedokteran yang sudah banyak membantu dalam pemeriksaan
korban dan jaringan tubuh menggunakan pengetahuan dan teknologi radiologi. Odontologi
forensik penggunaan pengetahuan ilmu kedokteran gigi untuk kepentingan hukum dan peradilan
terutama dalam identifikasi.3,4
Peranan ahli (expert) termasuk dokter dalam bidang Kedokteran Forensik adalah dalam
rangka membuka tabir suatu peristiwa yang dapat menjawab 7 pertanyaan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang terjadi (what)


Siapa yang terlibat (who)
Di mana terjadi (where)
Kapan terjadi (when)
Bagaimana terjadinya (how)
Dengan apa melakukannya (with what)
Kenapa terjadi peristiwa tersebut (why)

Kedokteran forensik sebenarnya suatu ilmu yang dimiliki oleh setiap dokter karena tanpa
terkecuali semua dokter pernah mendapatkan pengetahuan ilmu kedokteran forensik diwaktu
perkuliahan. Pasal 224 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Barang siapa yang
dipanggil menurut undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja atau tidak
menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankannya dalam
kedudukan tersebut di atas, dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 9 bulan dan untuk perkara lain dihukum dengan hukuman selama-lamanya 6 bulan.3,4
Tugas pokok seorang dokter dalam bidang forensik adalah membantu pembuktian
melalui pembuktian ilmiah termasuk dokumentasi informasi/prosedur, dokumentasi fakta,
dokumentasi temuan, analisis dan kesimpulan, presentasi (sertifikasi).
Dinilai menurut waktu penyelidikan hingga persidangan dokter mempunyai peran
sebagai berikut:4
1. Masa Penyelidikan
Pemeriksaan di TKP dan analisis data yang ditemukan
2. Masa Penyidikan
Pembuatan visum et repertum dan BAP saksi ahli
3. Masa Persidangan
Dokter berperan dalam memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa,
menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR dengan temuan
ilmiah alat bukti sah lainnya.
4

Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah.
2.3

Peran Profesional Kedokteran Forensik


Peran profesi kedokteran forensik berkaitan dengan kepentingan peradilan dengan

melibatkan pengetahuan patologi forensik dan patologi klinik. Profesi kedokteran forensik bisa
juga mencakup ruang lingkup bukan peradilan yaitu berperan dalam identifikasi, keterangan
medis, uji keayahan, dan pemeriksaan barang bukti lainnya.6
Pendekatan kedokteran forensik selain menjadi ahli klinik medikalisasi dan terapi, ilmu
forensik juga berperan dalam hal non-terapi, yaitu pembuktian. Ilmu forensik sangat
komprehensif mencakup psikososial, yuridis. Akan tetapi forensik juga tidak bisa dikatakan
hukum karena forensik tidak menentukan suata peristiwa disebut pembunuhan, perkosaan atau
mengatakan siapa pelaku. Forensik hanya memberi petunjuk cara kematian atau pidana atau
petunjuk siapa pelaku.5
Ilmu kedokteran forensik mengutamakan prinsip dasar etika kedokteran meliputi: prinsip
tidak merugikan (non maleficence), prinsip berbuat baik (beneficence), prinsip menghormati
otonomi pasien (autonomy), dan prinsip keadilan (justice).
Prinsip tidak merugikan (non maleficence), merupakan prinsip dasar menurut tradisi
Hipocrates, primum non nocere. Jika kita tidak bisa berbuat baik kepada seseorang, paling tidak
kita tidak merugikan orang itu. Prinsip berbuat baik (beneficence), merupakan segi positif dari
prinsip non maleficence. Prinsip menghormati otonomi pasien (autonomy), merupakan suatu
kebebasan bertindak dimana seseorang mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang
ditentukannya sendiri. Di sini terdapat 2 unsur yaitu : kemampuan untuk mengambil keputusan
tentang suatu rencana tertentu dan kemampuan mewujudkan rencananya menjadi kenyataan.
Dalam hubungan dokter-pasien ada otonomi klinik atau kebebasan professional dari
dokter dan kebebasan terapetik yang merupakan hak pasien untuk menentukan yang terbaik bagi
dirinya, setelah mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya. Prinsip keadilan (justice), berupa
perlakuan yang sama untuk orang-orang dalam situasi yang sama, artinya menekankan
persamaan dan kebutuhan, bukannya kekayaan dan kedudukan sosial.5,6
2.4

Prosedur Medikolegal
Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek

yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur

medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan


pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.
Ruang lingkup prosedur medikolegal adalah pengadaan visum et repertum, pemberian
keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam
persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, penerbitan surat kematian dan
surat keterangan medik, pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka (psikiatri forensik), dan
kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik.2
Dasar Pengadaan Visum et Repertum
Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Menurut pasal 133 KUHAP permintaan visum et repertum merupakan wewenang
penyidik, resmi dan harus tertulis, visum et repertum dilakukan terhadap korban bukan tersangka
dan ada indikasi dugaan akibat peristiwa pidana. Bila pemeriksaan terhadap mayat maka
permintaan visum disertai identitas label pada bagian badan mayat, harus jelas pemeriksaan yang
diminta, dan visum tersebut ditujukan kepada ahli kedokteran forensik atau kepada dokter di
rumah sakit.
Sanksi Hukum bila Menolak
Pasal 216 KUHP
Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yag diberi kuasa untuk mengusut atau
6

memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,


menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjara selama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak
Sembilan Ribu Rupiah.
Pemeriksaan Mayat untuk Peradilan
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara palling lama
Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Empat Ribu Lima Ratus Rupiah.

Permintaan Sebagai Saksi Ahli


Pasal 179 (1) KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling lama Sembilan Bulan.
Pembuatan Visum et Repertum bagi tersangka ( VeR Psikiatris)
Pasal 120 KUHAP
Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.
Pasal 180 KUHAP
Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan saksi ahli dan dapat pula minta
agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
Pasal 53 UU Kesehatan
7

Tenaga kesehatan untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan medis


terhadap

seseorang

dengan

memperhatikan

kesehatan

dan

keselamatan

yang

bersangkutan.
Keterangan Ahli
Pasal 1 Butir 28 KUHAP
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan. (pengertian keterangan ahli saecara umum) Agar dapat
diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, keterangan ahli harus
dikemas dalam betuk alat bukti sah.
Alat Bukti Sah
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan
pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
Alat bukti yang sah adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

keterangan saksi,
keterangan ahli,
Surat,
petunjuk,
keterangan terdakwa

Keterangan ahli diberikan secara lisan


Pasal 186
Keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan. keterangan ahli
dapat

diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang

dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu
menerima jabatan atau pekerjaan (BAP saksi ahli).
Keterangan ahli diberikan secara tertulis
8

Pasal 187 KUHAP


Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan
atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat keterangan dari seorang ahli yang
memuat pendapat bedasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau suatu keadaan yang
diminta secara resmi daripadanya.

2.5

Pengertian Standar Kompetensi Dokter


Menurut SK Mendiknas No. 045/U/2002 kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas

dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh
masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.6,7
Elemen-elemen kompetensi terdiri dari :
a.
b.
c.
d.

Landasan kepribadian
Penguasaan ilmu dan keterampilan
Kemampuan berkarya
Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan

keterampilan yang dikuasai


e. Pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam berkarya.
Epstein and Hundert (2002) memberikan definisi sebagai berikut : Professional
competence is the habitual and judicious use of communication, knowledge, technical skills,
clinical reasoning, emotions, values, and reflection in daily practice to improve the health of the
individual patient and community.
Carraccio, et.al. (2002) menyimpulkan bahwa : Competency is a complex set of
behaviorsbehaviours built on the components of knowledge, skills, attitude and competence as
personal ability.
Dari beberapa pengertian di atas, tampak bahwa pengertian kompetensi dokter lebih luas
dari tujuan instruksional yang dibagi menjadi tiga ranah pendidikan, yaitu pengetahuan,
psikomotor dan afektif. Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter,
makayang bersangkutan akan mampu mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya,

mengorganisasikan tugasnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan,segera tanggap dan tahu
apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula,
menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang profesinya,
melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda, dengan telah ditetapkannya keluaran dari program
dokter di Indonesia berupa standar kompetensi, maka kurikulum program studi pendidikan
dokter perlu disesuaikan.

2.6

Penjabaran Kompetensi Dokter di bidang Kedokteran Forensik


Seorang dokter dituntut mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non

verbal dengan pasien (korban hidup) pada semua usia, anggota keluarga (pada korban
meninggal), masyarakat, kolega dan profesi lain.
Komunikasi antara dokter dan korban/pasien atau dengan keluarganya harus dilakukan
seefektif mungkin oleh dokter agar pasien atau keluarga pasien bersedia dilakukan pemeriksaan
walaupun secara hukum untuk pemeriksaan forensik dokter tidak perlu izin keluarga melainkan
kewajiban penyidik untuk memberitahu korban atau keluarga korban (meninggal). Hal ini sesuai
pasal 134 KUHAP.
Pasal 134 KUHAP
1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat
tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu
kepada keluarga korban.
2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menjelaskan dengan sejelasjelasnya tentang maksud dan tujuan dilakukan pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang perlu diberi tahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang.
Ditinjau dari area komunikasi efektif di bidang kedokteran forensik,seorang lulusan
dokter harus mampu:
1. Berkomunikasi efektif dengan Korban atau dengan keluarga korban

10

Berkomunikasi dengan korban serta anggota keluarganya, dengan cara memberi


penjelasan apa tujuan dilakukan pemeriksaan, cara dan prosedur pemeriksaan, kemungkinan
timbulnya rasa tidak nyaman saat dokter melakukan pemeriksaan, dan informasi lainnya sesuai
etika klinis. Seorang dokter saat melakukan pemeriksaan forensik harus menunjukkan rasa
simpati dengan kejadian yang meninpa korban, menunjukkan rasa empati dan dapat dipercaya.

Memberikan situasi yang nyaman bagi korban dengan menjaga privasi pasien,
Aktif dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada pasien
untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien serta kronologis kejadiaan.
2. Berkomunikasi dengan sejawat
Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan,
tertulis, atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu
kedokteran.Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar, demi
kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran. Seorang dokter umum harus merujuk korban
apabila apa yang dimintakan penyidik bukan kompetensi dokter umum. Misalnya, identifikasi
tulang, identifikasi gigi (odontologi), pemeriksaan DNA, dan lain-lain.
3. Berkomunikasi dengan masyarakat
Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat, menggali masalah kronologis kejadian
menurut persepsi masyarakat agar masyarakat memahami bahwa pemeriksaan forensik demi
penegakan keadilan sebagai hak asasi manusia. Melibatkan tokoh masyarakat dalam
mempromosikan kesehatan secara professional.
4. Berkomunikasi dengan profesi lain
Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu cukup kepada profesi lain
untuk menyampaikan pendapatnya. Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi
yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk pemprosesan klaim demi
kepentingan hukum.

2. 7 Area Keterampilan Klinis

11

Seorang dokter umum harus mampu melakukan prosedur pemeriksaan forensik klinis
sesuai masalah, kebutuhan korban dan sesuai kewenangannya.Kaitannya dengan kedokteran
forensik adalah seorang dokter umum harus mampu memeriksa dan membuat Visum et
Repertum korban luka karena kecelakaan lalu lintas, memeriksa dan membuat Visum et
Repertum luka karena penganiayaan, Memeriksa dan membuat Visum et Repertum Kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT), melakukan pemeriksaan luar korban meninggal. Pemeriksaan luar
meliputi pemeriksaan label, benda di samping mayat, pakaian, ciri identitas fisik, ciri tanatologis,
perlukaan dan patah tulang.
Dokter berperan dalam memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa ,
menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR dengan temuan ilmiah alat bukti
sah lainnya.
Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah. (Pasal
224 KUHP) Hukum dengan tegas memberikan wewenang utama pemeriksaan forensik kepada
dokter forensik. Namum, karena ketidaktersediaan dokter forensik hukum memberi peluang
kepada dokter (umum dan spesialis apasaja) sebagai pemeriksa, hal ini merujuk pada pasal 133
KUHAP.
2.8

Keterampilan Dokter di Bidang Forensik


Dalam melaksanakan praktik dokter di bidang forensik, lulusan dokter perlu menguasai

keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis, menjawab permintaan Visum et
Repertum, maupun menjelaskan suatu perkara hukum menurut keahliannya di bidang
kedokteran. Keterampilan ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara
berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter.Berikut ini pembagian tingkat kemampuan
menurut Piramid Miller :
Tingkat kemampuan 1Mengetahui dan Menjelaskan
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini,
sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat, pasien maupun klien tentang
konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang
timbul, dan sebagainya. Contoh keterampilan ini adalah Pemeriksaan DNA untuk
identifikasi.
12

Tingkat kemampuan Pernah Melihat atau pernah didemonstrasikan


Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik
konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan
sebagainya). Selain itu, selama pendidikan pernah melihat atau pernah
didemonstrasikan keterampilan ini. Contohnya autopsi, exhumasi, identifikasi
tulang dan gigi.
Tingkat kemampuan Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervise
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik
konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan
sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan
keterampilan ini, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah
supervisi. Contohnya: Pemeriksaan luar Jenazah, termasuk label mayat, sebabsebab kematian, tanatologi,menentukan lama kematian dan lain sebgainya.
Tingkat kemampuanMampu melakukan secara mandiri
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik
konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan
sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan
ketrampilan ini, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah
supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan
keterampilan ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri. Contohnya dokter
harus mampu memeriksa korban hidup dan membuat Visum et Repertum korban
kecelakaan lalu lintas penganiyaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain
sebagainya.
3. Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
Dokter umum harus mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian
masalah kesehatan dan hukum secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk
mendapat hasil yang optimum dan dalam upaya maksimal menghadirkan keadilan seobyektif
mungkin.Ditinjau dari segi landasan ilmiah seorang dokter dituntut mampu:

13

Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu
kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer prinsip-prinsip
ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan terjadinya masalah hukum sesuai

pandangan ilmu kesehatan, beserta patogenesis dan patofisiologinya.


Menjelaskan kaitan masalah hukum dan temuan pemeriksaan forensik baik secara
molecular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh.
Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah hukum dan

kesehatan.
Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam jenis pemeriksaan forensik.
Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan kaitan temuan pemeriksaan
forensik dengan kasus yang diusut penyidik baik peran dokter sebagai ahli, atau
melakukan pemeriksaan dan memberi keterangan tertulis.

4. Area Pengelolaan Masalah Kedokteran dan Hukum


Dokter harus mampu mengelola masalah-masalah yang sering ditemukan dalam ilmu
kedokteran forensik secara komprehensif, holistik, berkesinambungan, koordinatif, dan
kolaboratif dalam konteks memberikan pelayanan bantuan hukum terbaik kepada masyarakat.
Dilihat dari segi pengelolaan masalah kedokteran dan hukum maka lulusan dokter
diharapkan mampu menginterpretasi data klinis dan temuan hasil pemeriksaan forensik untuk
merumuskannya menjadi bukti sah penegakan hukum, menjelaskan penyebab, patogenesis,
patofisiologi, dan perubahan-perubahan klinis yang didapatkan dari korban suatu pelanggaran
hukum, Mengidentifikasi berbagai pilihan pengelolaan korban sesuai kondisi korban atau
penanganan lanjutan terhadap korban, melakukan konsultasi mengenai korban bila diperlukan,
contohnya pada pemeriksaan korban pemerkosaan bisa meminta konsultasi dokter ahli
kandungan, merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku, tanpa
atau sesudah pemeriksaan, mengidentifikasi keluarga, lingkungan sosial sebagai faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh
terhadap perubahan kondisi korban, menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk
meningkatkan kesadaran hukum dan memotivasi masyarakat agar tidak keberatan dilakukan
pemeriksaan forensik pada diri maupun keluarganya demi penegakan hukum dan keadilan,
mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis, kultur, sosial, ekonomi,
kebijakan, dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan yang
14

melibatkan korban dalam masalah hukum, mengelola sumber daya manusia dan sarana
prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan
kedokteran forensik, menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin, pemberi
informasi, dan pengambil keputusan) dalam upaya memberikan pelayanan terbaik dalam
masalah hukum.
5.Area Pengelolaan Informasi
Dokter harus mampu mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesahihan dan
kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah, atau mengambil
keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di bidang kedokteran forensik di tingkat
primer.Berdasarkan tinjauan pengelolaan informasi maka lulusan dokter harus mampu:
1. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan
diagnosis, sebab perubahan kondisi tubuh korban, sebab-seban kematian, tindakan
pencegahan dan promosi hukum kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status
korban.
2. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik.
3. Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan validitas
data-data forensik dengan masalah hukum.
4. Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah.
5. Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan
menjadi arsip pribadi.
6. Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi
ilmiah secara sistematik.
7. Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan
arsip.
8. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi.
9. Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan
keterbatasannya.
10. Memanfaatkan informasi kesehatan dan menemukan database dalam praktik kedokteran
secara efisien.
11. Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dan peranannya dalam
penegakan hukum dengan menganalisis arsipnya dan rekam medis untuk meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan di bidang kedokteran forensik.

15

Aspek Medikolegal dalam praktik kedokteran Forensik


Dokter diwajibkan memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan :
a.
b.
a.
b.
c.

Hak asasi manusia


Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual
Kode Etik Kedokteran Indonesia
Pembuatan surat keterangan sehat, sakit, Visum et Repertum atau surat kematian.
Proses di pengadilan, dokter berperan memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli
pemeriksa, menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR dengan temuan
ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum

jelas dari sisi ilmiah.


d. Memahami UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
e. Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang mengatur praktik
kedokteran.
f. Menentukan, menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan.
Menurut Buku Panduan Pelaksanaan Program P2KB untuk Dokter Spesialis Forensik,
seorang Dokter Spesialis Forensik setelah menyelesaikan pendidikan diharapkan memiliki
kompetensi sebagai berikut :
1. Kompetensi I
Menerapkan etika profesi Dokter Spesialis Forensik dan mematuhi prosedur medikolegal
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai Dokter Spesialis Forensik.
2. Kompetensi II
Menegakkan diagnosis kedokteran Forensik dan medikolegal pada korban hidup maupun
mati, menatalaksana kasus sesuai dengan aspek sosioyuridis dan medikolegal, serta
mengkomunikasikan ekspertise yang dihasilkan kepada pihak yang berwenang, termasuk
membuat sertifikasi forensik sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
3. Kompetensi III
Merancang, mengelola, dan mengawasi kegiatan unit kedokteran forensik dan perawatan
jenasah di sebuah institusi pelayanan kesehatan.
4. Kompetensi IV

16

Berperan aktif dalam tim kerja penanganan kasus forensik dan dalam tim
etikomedikolegal RS.
5. Kompetensi V
Berperan sebagai pengajar dan pembimbing dalam bidang Forensik, etik dan medikolegal
sesuai dengan ketentuan perundang2an yang berlaku.\
6. Kompetensi VI
Berperan aktif dalam mengembangkan ilmu kedokteran khususnya dalam bidang
Forensik, etika dan medikolegal melalui penulisan karya ilmiah yang dipresentasikan
atau dipublikasikan dari hasil penelitian.
Ditinjau dari standar profesi, seorang dokter Spesialis Forensik mempunyai kompetensi
yaitu sebagai berikut:
1. Mampu

melakukan

pemeriksaan

jenazah

atau

bagian

dari

jenazah

dan

menginterpretasikannya untuk kepentingan identifikasi.


2. Mampu melakukan penggalian kuburan tunggal dan melakukan pemeriksaan jenazah
di dalamnya untuk kepentingan peradilan.
3. Mampu melakukan pemeriksaan kasus medikolegal.
4. Mampu melakukan pemeriksaan korban jenazah di tempat kejadian perkara dan
membuat laporannya.
5. Mampu melakukan penilaian tentang perkiraan saat kematian berdasarkan tanda
6.
7.
8.
9.

tanatologis pada jenazah.


Mampu melakukan penggalian kuburan korban pelanggaran HAM.
Mampu melakukan pengawetan jenazah.
Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium forensic rutin dan trace evidances.
Mampu melakukan pemeriksaan jenazah korban kekerasan secara lengkap serta

menyimpulkan penyebab kematiannya.


10. Mampu melakukan pemeriksaan jenazah mati mendadak secara lengkap serta
menyimpulkan penyebab kematiannya.
11. Mampu melakukan pemeriksaan korban hidup yang mengalami kekerasan fisik dan
kekerasan seksual.
12. Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium forensik untuk membuktikan adanya
persetubuhan dan atau kekerasan.
13. Mampu membuat laporan hasil pemeriksaan jenazah dan korban hidup dalam bentuk
visum et repertum jenazah.
17

14. Mampu melakukan pemeriksaan terhadap tersangka pelaku kejahatan dalam rangka
penentuan kelayakannya untuk diperiksa atau ditahan.

BAB III
PENUTUP
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal harus dipelajari dan diketahui dengan baik
oleh semua dokter karena hal ini diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia,
antara lain Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Pasal 133 ayat 1 KUHAP
dinyatakan bahwa: Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani korban baik
luka, keracunan ataupun mati karena tindak pidana, ia berwenang mengajukan keterangan ahli
18

kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. Selain itu, dokter juga harus
mengingat bahwa ia dapat menerima sanksi bila tidak memberikan bantuan tersebut seperti
tercantum dalam pasal 224 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Barang siapa yang
dipanggil menurut undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja atau tidak
menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankannya dalam
kedudukan tersebut di atas, dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 9 bulan dan untuk perkara lain dihukum dengan hukuman selama-lamanya 6 bulan.
Pelayanan kesehatan di rumah sakit terhadap publik bukan hanya menyembuhkan namun
mencakup pelayanan untuk kepentingan hukum (Kedokteran Forensik, Medikolegal, Bio-Etik,
Human Right). Dengan adanya Profesi kedokteran forensik dan medikolegal dapat
mensosialisasi aspek-aspek hukum dalam pelayanan kesehatan sehingga pelayanan buruk,
malpraktik dan tuntutan pasien dapat dihindari.
Peranan dokter forensik adalah pengemban tugas criminal justicia system, pemberi
keterangan ahli dan akta medikolegal, manajer SMF Kedokteran forensik dan pemulasaraan
jenazah, konsultan medikolegal, health law.

DAFTAR PUSTAKA
1.Amir,Amri.2007.Ilmu Kedokteran Forensik.Medan:Bagian IlmuKedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran USU.
2.Sampurna,Budi.2009.Malpraktek Kedokteran Pemahaman Dari Segi Kedokteran dan
Hukum.www.freewebs.com
3.Suryadi,Taufik.2009.Pengantar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Buku
Penuntun Kepaniteraan Klinik Kedokteran Forensik dan Medikolegal.Banda Aceh: FK
Unsyiah/RSUDZA.
4.Mulyo,R Cahyono Adi.2006.Perananan Dokter dalam Proses Penegakan Hukum
Kesehatan.Universitas Negeri Semarang
19

5.Aji,Jati Pulung.2008.Peranan Dokter Forensik dalam Praktek Peradilan Perkara


Pidana.Purworejo.
6.Sampurna,Budi.2009.Kedokteran

Forensik

Ilmu

dan

Profesi.Universitas

Indonesia.Konsil Kedokteran Indonesia.2006.Standar Pendidikan Profesi Dokter.Jakarta.


7.Konsil Kedokteran Indonesia.2006.Standar Kompetensi Dokter.Jakarta.
Perhimpunan
Dokter
Spesialis
Forensik
Indonesia.2008.Buku
Panduan
PelaksanaanProgram P2KB untuk Dokter Spesialis Forensik.Jakarta
8 Herkutanto, Visum et repertum dan pelaksanaannya, Ghalia Indonesia, Jakarta,2006.
9.Istandyarie, Anny, Tanggung jawab Hukum dan Sanksi Hukum bagi dokter, Prestasi
Pustaka, Jakarta,2006.
10. Dahlan, Sofwan, Ilmu Kedokteran Forensik pedoman bagi dokter dan penegak

hukum,

Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.2000.

20