Anda di halaman 1dari 7

Dasar Teori

Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep, larutan atau suspensi, digunakan
pada mata dengan meneteskan, mengoleskan pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata
dan bola mata.
Obat mata ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga macam :
1. Obat cuci mata (collyria)
2. Obat tetes mata (guttae opthalmicae)
3. Salep mata
(Anief, 1999)
Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunaka
dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.
(Depkes RI, 1979) Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing, merupakan
sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai digunakan pada mata
(Farmakope Indonesia IV, 1995).
Pada dasranya sebagai obat mata biasanya dipakai :
1. Bahan-bahan yang bersifat antiseptika (dapat memusnahkan kuman-kuman pada selaput

lender mata), misalnya asam borat, protargol, kloramfenikol, basitrasina, dan sebagainya.
2. Bahan-bahan yang bersifat mengecutkan selaput lender mata (adstringentia), misalnya

seng sulfat.
Untuk pembuatan obat mata ini perlu diperhatikan mengenai kebersihannya, pH yang
stabil, dan mempunyai tekanan osmose yang sama dengan tekanan osmose darah. Pada
pembuatan obat cuci mata tak perlu disterilkan, sedangkan pada pembuatan obat tetes mata
harus disterilkan.
(Anief, 1999)
Pada pembuatan obat mata perlu diperhatikan hal khusus sebagai berikut:

Toksisitas bahan obat

Tonisitas

Kebutuhan akan dapar

Sterilitas

Kemasan yang tepat


(Lund, 1994).

Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu :

Steril
jernih
bebas partikel asing
sedapat mungkin isotonis
sedapat mungkin isohidris
Bila obatnya tidak tahan pemanasan, maka sterilitas dicapai dengan menggunakan

pelarut steril, dilarutkan obatnya secara aseptis, dan menggunakan penambahan zat pengawet
dan botol atau wadah yang steril. Isotonis dan pH yang dikehendaki diperoleh dengan
menggunakan pelarut yang cocok.
Pelarut yang sering digunakan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Larutan 2% Asam Borat (pH = 5)


Larutan Boraks Asam Borat (pH = 6,5)
Larutan basa lemah Boraks Asam Borat (pH = 8)
Aquadestillata
Larutan NaCl 0,9%
(Widjajanti, 1989)
Faktor-faktor yang sangat penting dalam pembuatan sediaan larutan mata :

1. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan;


2. Sterilitas akhir dari collyrium dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif
untuk menghambat pertumbuhan dari banyak mikroorganisme selama penggunaan dari
sediaan;
3. Isotonisitas dari larutan;
4. pH yang pantas dalam pembawa untuk menghasilkan stabilitas yang optimum
(Akbar, 2010)
Obat tetes mata yang digunakan harus diserap masuk ke dalam mata untuk dapat
member wfwk. Larutan obat tetes mata segera campur dengan cairan lakrimal dan meluas di
permukaan kornea dan konjungtiva, dan obatnya harus masuk melalui kornea menembus
mata.
Mata terdiri dari kornea yang bening dan sclera yang tertutup oleh salut pelindung dan
berserabut, berwarna putih, rapat, dan tidak ada saluran darah. Permukaan luas dari salut
sclera terdapat membrane konjungtiva, membrane mukosa yang tipis ini merupakan exterior
coating yang kontinu pada bagian yang putih dari mata dan aspek dalam dari penutup.
Jaringan konjungtiva mengandung banyak glandula mukosa yang uniseluler dan berguna
untuk pemeliharaan mata umumnya.

Jaringan ini mengandung banyak saluran darah dan terutama kaya akan saluran limfe.
Saluran darah ini kolap, dan melebar bila ada iritasi oleh zat asing, infeksi mikrobial atau
lainnya.
Obat yang menembus ke dalam konjungtiva, sebagian dihilangkan oleh aliran cairan
melalui konjungtiva darah, sistem limfe.
Di bawah ini terletak sclera yang berserabut dan rapat. Bagian kornea merupakan
jaringan vaskuler, transparan, dan sangat tipis.
Sel-sel epitel pada permukaannya mengandung komponen lipoid. Pada kornea ini
banyak sekali urat syarat sensoris yang bebas dan berakhir antara sel-sel epitel dan
permukaan. Karena itu sangat peka terhadap stimuli dan penjamahan.
(Anief, 2000)
Air mata normal memiliki pH kurang lebih 7,4 dan mempunyai kapasitas dapar
tertentu. Penggunaan obat mata merangsang pengeluaran air mata dan penetralan cepat setiap
perubahan pH tertentu. Secara ideal larutan obat mempunyai pH dan isotonisitas yang sama
dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan, karena pada pH>7,4 banyak obat yang
tidak cukup larut dalam air. Selain itu banyak obat yang secara khemis tidak stabil pada pH
mendekati 7,4. ketidakstabilan ini lebih nyata pada suhu tinggi yaitu pada saat sterilisasi
dengan pemanasan. Oleh karena itu pada system dapar harus dipilih sedekat mungkin dengan
pH fisiologis yaitu 7,4 dan tidak menyebabkan pengendapan obat ataupun mempercepat
kerusakan obat.
(Lund, 1994).
Nilai isotonisitas cairan mata isotonic dan darah mempunyai nilai isotonisitas sesuai
dengan larutan NaCl p 0,9%. Secara ideal larutan obat mata harus mempunyai nilai
isotonisitas tersebut, tetapi mata tahan terhadap isotonisitas rendah setara dengan larutan
NaCl p 0,6% dan tertinggi setara dengan larutan NaCl p 0,2% tanpa gangguan yang nyata.
(Lund, 1994).
Sebagian besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan mata bersifat larut air, basa
lemah atau dipilih bentuk garamnya yang larut air. Sifat- sifat fisikokimia yang harus
diperhatikan dalam memilih garam untuk formulasi larutan optalmik yaitu :
1.
2.
3.
4.

Kelarutan
Stabilitas
pH stabilitas dan kapasitas dapar
kompatibilitas dengan bahan lain dalam formula
Bentuk garam yang biasa digunakan adalah garam hidroksida, sulfat dan nitrat.

Sedangkan untuk zat aktif yang berupa asam lemah, biasanya digunakan garam natrium

(Lund, 1994).
Sterilisasi B yaitu pemanasan dengan mengunakan bakterisida. Sediaan dibuat dengan
melarutkan atau mensuspensikan bahan obat dalam laratutan klorkresol P 0,2% b/v dalam air
untuk injeksi atau dalam larutan bakterisida yang cocok dalam air untuk injeksi. Isikan ke
dalam wadah kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml,
panaskan pada suhu 980 sampai 1000C selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih
dari 30 ml, waktu sterilsasi diperpanjang h ingga seluruh isi tiap wadah berada pada suhu 980
sampai 1000C selama 30 menit. Jika dosis tunggal injeksi yang digunakan secara intravenus
lebih dari 15 ml, pembuatan tidak dilakukan dengan cara ini, injeksi yang digunakan secara
intrateka , intrasistema atau peridura tidak boleh dibuat dengan cara ini
(Saputri, 2010)
Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran ganda bila digunakan secara
perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan pada permukaan mata. Wadah
larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaina
pertama. Sedangkan untuk penggunaan pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak
boleh mengandung antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan mata
(Farmakope Indonesia IV, 1995).

Uraian Bahan
1. Kloramfenikol
Pemerian
: Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih sampai
putih kelabu atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa sangat pahit. Dalam larutan asam
lemah, mantap.
Kelarutan
: Larut dalam lebih kurang 400 bagian air; dalam 2,5 bagian etanol
(95%) P dan dalam 7 bagian propilenglikol P, sukar larut dalam kloroform P dan
dalam eter P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan
: Antibiotikum,
(Dirjen POM, 1979).
2. Asam borat
Pemerian
: Hablur,serbuk hablur putih atau sisik mengkilap tidak berwarna, kasar,
tidak berbau, rasa agak asam danpahit kemudian manis.
Kelarutan
: Larut dalam 20 bahan air, dalam 3 bagian air mendidih dalam 16 bagian
etanol ( 95 % ) P dan dalam 5 bagian gliserol P.
Khasiat
: Antiseptikum ekstern
(Dirjen POM, 1979)
3. Na.Tetraborat

Pemerian
: Hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak
berbau; rasa asin dan basa. Dalam udara kering merapuh.
Kelarutan
: Dalam 20 bagian air, dalam 0,6 bagian air mendidih dan dalam
kurang dari 1 bagian gliserol P; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P.
Kegunaan
: Antiseptikum ekstern
(Dirjen POM, 1979)
4. Nipagin
Pemerian
: Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau
berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.
Kelarutan
: Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon tetraklorida,
mudah larut dalam etanol dan dalam eter.
Khasiat
: Preservatif atau pengawet.
(Depkes RI, 1995)
5. NaCl
Organoleptis: Hablur berbentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk
hablur putih, rasa asin.
Kelarutan : Mudah larut dalam air; sedikit mudah larut air mendidih;
larut dalam gliserin; sukar larut dalam etanol.
Khasiat : Zat pengisotonis

(Depkes RI, 1995)


6. KCl (Kalium Klorida)
Organoleptis :Kaliumlkorida tidakberbau, kristal bening atau serbuk
kristal putih, rasa garam dan berbentuk kubus.
Kelarutan : Praktistidaklarutdalamasetondaneter, larutdalam 250
bagianetanol, larut dalam 4 bagiangliserin, lrutdalam 2,8 bagian air.
Khasiat : Zat pengisotonis, anti mikroba
(Rowe, 2009)
7. CaCl hexahidrate

Organoleptis:Granul atau serpihan, putih, keras, tidak berbau.


Kelarutan: Mudah larut dalam air danetanol, tidak larut dalam
dietileter.
Khasiat : Zat penyerap air dan anti mikroba.
(Rowe, 2009)
8. Na Acetate Trihydrate
Pemerian

: Serbuk atau massa puith keabuan, higroskopik

Kelarutan

: Larut baik dalam air

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

: Sebagai zat tambahan

9. MgCl hexahidrate
10. Na citrate dehydrate
11. NaOH
Organoleptis:Putih atau praktis putih, massa melebur , berbentuk
pelet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Keras, rapuh dan
menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan diudara akan cepat
menyerap karbondioksida dan lembab.
Kelarutan:Mudah larut dalam air dan dalam etanol.
Khasiat:Zat tambahan, zatpenambah basa.
(DepKes RI, 1995)
12. HCL
Organoleptis:.Cairan; tidak berwarna; berasap; bau merangsang.
Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau hilang.
Kelarutan:Larut dalam air, larut dalam dietileter, etanol 95%, dan
metanol.
Khasiat:Zat tambahan, zat penambah asam.
(DepKes RI, 1979)
13. Aquadest
Pemerian
Penyimpanan
Kegunaan

:cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.


: dalam wadah tertutup.
: Pelarut
(Depkes RI, 1979)

Daftar Pustaka
Anief, Moh. 1999. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Anief, Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia, edisi III. Depkes RI :Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Depkes RI :Jakarta
Lund, W., 1994, The Pharmaceutical Codex, 20th edition, PhP, London.
Rowe.2009.Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition Published by the
Pharmaceutical Press
Saputri, 2010, http://rahmisnotes.blogspot.com/2010/07/tetes-mata-kloramfenikol.html,
diakses tanggal 27 November 2012.
Widjajanti, Nuraini. 1989. Obat-Obatan. Kanisius. Jakarta