Anda di halaman 1dari 16

AMPHIBIA DAN REPTILIA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Annisa Aulia
: B1J013003
:V
:1
: Novi Andareswari

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fosil-fosil tertua, ditemukan di bebatuan dari Nova Scotia, berasal dari akhir
periode Karbon, sekitar 310 juta tahun lalu. Salah satu kelompok utama reptil
pertama yang muncul adalah parareptil, yang sebagian besar merupakan herbivor
kuadrupedal besar yang bertubuh kekar. Beberapa parareptil memiliki lempengan
pada kulitnya yang mungkin telah digunakan untuk memepertahankan diri dari
predator. Parareptil musnah sekitar 200 juta tahun lalu, pada pengujung periode
Trias. Ketika parareptil mengalami penurunan, klas reptil purba yang lain, diapsida
(diapsid), berdiversifikasi. Salah satu karakter turunan yang paling jelas pada
diapsida adalah sepasang lubang disisi dua tengkorak, dibelakang rongga mata.
Diapsida terdiri dari dua garis keturunan utama. Satu garis keturunan memunculkan
lepidosaurus (lepidosaur), yang mencakup tuatara, kadal, dan ular (Campbell et al.,
2008).
Kelas reptilia suatu kelompok yang beraneka ragam dengan banyak garis
keturunan yang sudah punah, saat ini diwakili oleh sekitar 7000 spesies, sebagian
besar kadal, ular, penyu atau kura-kura dan buaya ini adalah pengelompokan
tradisional dan didasarkan pada kemiripan semua tetrapoda tersebut. Reptilian
memiliki beberapa adaptasi untuk kehidupan didarat yang umunya tidak ditemukan
pada amphibian. Sisik yang mengandung protein keratin membuat kulit reptilia
kedap air, sehingga membantu mencegah dehidrasi di udara kering dan masih banyak
lagi ciri-ciri khusus dari kelas reptilia (Campbell et al., 2008).
Hewan pertama yang benar-benar merupakan hewan daratan adalah reptilian.
Mereka berkembang dari amphibian dalam zaman karbon, dengan datangnya zaman
permulaan, mereka lebih mampu mengatasi keadaan baru daripada amphibian.
Kelebihan utama reptilia yang paling awal terhadap amphibian adalah perkembangan
telur yang bercangkang dan berisi kuning telur (Kimball, 1980). Salah satu reptilia
tersebut adalah kadal. Kadal merupakan reptilia dari ordo squamata yang diikenal
sebagai kadal. Kadal ternasuk ordo squamata yang mencakup 6.000 spesies yang
masih hidup. Kadal yang memiliki sub-ordo Lacertilian mencakup kira-kira 180
spesies dan sekitar 20 genus yang tersebar di seluruh benua Eropa, Asia dan Afrika
(Lestari, 2013).

Kirakira terdapat 3000 spesies amphibia yang masih hidup yang dapat
dibagi menjadi 3 ordo yaitu Apoda atau salamander cacing (kira kira 150 spesies)
kedua, Caudata atau salamander (250 spesies) dan ketiga, Anura atau kodok dan
bangkong (2600 spesies) yang kaki belakangnya panjang. Amphibia terdapat di
semua bagian dunia, terutama Apoda terdapat di daerah tropis, kecuali Australia,
Sulawesi, Madagaskar, dan kepulauan hindia barat. Caudata terutama terdapat di
daerah beriklim sedang dan banyak sekali di Amerika Utara, dari sana hewan ini
melalui pegunungan Andes menyebar ke daerah tropis Amerika Selatan. Caudata ini
tidak terdapat di benua Afrika (kecuali di bagian barat laut), sedangkan Anura
terdapat di mana mana, kecuali di tempat yang selalu beku dan di beberapa pulau
tertentu. Terutama di daerah tropis, anura ini sangat banyak jumlah dan spesiesnya
(Djuhanda, 1982).
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Amphibia dan Reptilia kali ini, antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota kelas Amphibia dan Reptilia.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
kelas Amphibia dan Reptilia.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menyeseuaikan diri ditempat
yang kering di tanah. Penandukan atau cornificatio kulit dan squama atau carpace
untuk menjaga banyak hilangnya cairan dari tubuh pada tempat yang kering atau
panas. Nama reptilia diambil dari model cara hewan berjalan (Latin : reptum
= melata atau merayap) dan studi tentang reptilian di sebut Herpetology (jelata atau
merayap) dan studi tentang reptilian di sebut Herpetology (Yunani :creptes = reptil)
(Jasin, 2002). Kelas reptilia dibagi dalam sub klas berdasarkan atas anatomi
tengkoraknya. Berdasarkan ada tidaknya fosa temporalis dan posisinya di kenal 4
tipe tengkorak yaitu anapsid yaitu tipe tengkorak anapsid (ordo Chelonian),
lhthyopterigea tipe tengkoraknya parapsid (semua punah), acrosaura tipe tengkorak
diapsid (ordo Crocodila), Lepidosauria tipe tengkorak diapsid (ordo Squamata) dan
(Rhyncochepalia) (Kimball, 1980).
Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi tidak
tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibi mempunyai
dua bentuk kehidupan yaitu di air dan di darat, pada umumnya amphibi mempunyai
siklus hidup awal diperairan dan siklus kedua di daratan. Ampibia mempunyai ciriciri yaitu tubuh diselubungi kulit yang berlendir, merupakan hewan berdarah dingin
(poikiloterm), mempuyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi
dan satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput
renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk
melompat dan berenang, matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut
membran niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam, pernafasan pada saat
masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernafasannya berupa paru-paru
dan kulit yang hidungnya mempunyai katup yang mencegah air masuk kedalam
rongga mulut ketika menyelam, dan berkembang biak dengan cara melepaskan
telurnya dan dibuahi oleh yang jantan diluar tubuh induknya atau pembuahan
eksternal (Brotowidjoyo, 1985).
Reptilia dibagi menjadi 4 ordo yaitu ordo Testudinata, Rhynchocephalia,
Squamata, dan Crocodilia. Ordo Testudinata memiliki bentuk tubuh seperti kotak
yang

dinamakan theca. Theca dibedakan atas 2 bagian yaitu karapaks (bagian

dorsal) dan plastron bagian ventral. Mempunyai struktur tubuh yang berat dan
mempunyai cangkang yang keras. Ordo testudinata dibagi atas 2 subordo

berdasarkan atas cara melipatnya leher pada waktu hewan menyembunyikan


kepalanya yaitu subordo Cryptodira dan subordo Pleurodira. Subordo Cryptodira
meliputi kura-kura yang cara melipat lehernya sebagai huruf S pada bidang
vertikal. Subordo Pleurodira meliputi kura-kura yang cara melipat lehernya ke
samping pada bidang horizontal (Djuhanda, 1982).
Ordo Rhynchocephalia memiliki tengkorak yang bersifat diapsid (mempunyai
dua cekungan didaerah temporal). Tulang-tulang gostralia (tulang-tulang perut)
berkembang dengan baik. Celah kloaka melintang, di atap kepala terdapat mata
parietal dengan lensa dan retina, dan mempunyai 1 family yaitu Sphenodobtidae.
Ordo Squamata tubuhnya tertutup oleh sisik-sisik atau perisai dari bahan tanduk.
Sisik-sisiknya ada yang halus dan kasar. Ordo ini dapat dibedakan atas 2 subordo
yaitu Sauria dan Ophidia. Sauria tubuh yang dapat dibedakan atas kepala, badan,
tungkai, ekor, mempunyai gelang bahu dan panggul. Subordo Ophidia (Serpentes)
sisik pada sisi ventral umumnya lebih besar dan tersusun dalam satu deret, kelopak
mata tidak dapat bergerak dan membentuk suatu tutup yang terang terus, tidak
terdapat tungkai dan lubang telinga, subordo ini tertutup oleh sisik-sisik dan perisai
(Djuhanda, 1982).
Ordo Crocodilia meliputi hewan reptil yang besar dan kuat. Panjang tubuhnya
dapat mencapai sembilan meter, kulit tebal, liat dan mengandung kepingan-kepingan
dari bahan tulang yang tersusun dalam deretan-deretan. Kepala kuat dan keras
dilengkapi dengan gigi-gigi tajam dan kuat. Ekor panjang, besar, dan kuat, makin
keujung makin bilateral. Kaki berjari lima dan tidak berselaput. Ordo Crocodilia
mencakup tiga familia yaitu familia Gavialidae, familia Crocodilidae, dan familia
Alligatoridae (Djuhanda, 1982).
Kelas Amphibia terdiri dari tiga ordo yaitu Anura (Salientia), Caudata
(Urodela), dan Gymnophiona (Apoda). Istilah Anura berarti tidak memiliki ekor,
yang menunjukkan bahwa amfibi jenis ini tidak memiliki ekor. Terdapat sekitar 4500
spesies yang menjadi anggotanya, membuat Anura menjadi ordo dengan anggota
terbanyak. Anura berbeda dari dua ordo lainnya karena spesies anggotanya memiliki
empat kaki dengan kaki belakang lebih panjang yang digunakan untuk memanjat dan
melompat. Spesies ordo Anura umumnya melakukan fertilisasi eksternal (penyatuan
sel kelamin jantan dan betina terjadi di luar tubuh betina). Katak dan kodok
merupakan contoh anggota Anura, meskipun keduanya nampak serupa dalam banyak
hal, namun terdapat pula karakteristik yang berbeda (Brotowidjoyo, 1985).

Istilah Caudata berasal dari kata Latin Cauda yang berarti ekor. Ini
menyiratkan bahwa spesies di bawah kategori ini memiliki ekor. Ekor Caudata
hampir sama dengan panjang tubuh, dan pada beberapa spesies seperti Oedipina,
memiliki ekor yang sangat panjang. Ekor yang berkembang baik memungkinkan
Caudata berenang dengan baik pula. Caudata juga memiliki empat kaki yang
digunakan untuk berjalan dengan pengecualian sirene yang tidak memiliki kaki
belakang. Berbeda dengan Anura, spesies ini tidak dapat melompat melainkan hanya
dapat berjalan. Caudata bervariasi dalam ukuran. Salamander, kadal air, waterdogs,
mudpuppies, sirene, dan amphiuma adalah contoh spesies dalam ordo Caudata
(Brotowidjoyo, 1985).
Ordo Gymnophiona (Apoda) tercatat sekitar 50 spesies sesilia yang termasuk
dalam ordo Gymnophiona. Salah satu contohnya adalah sesilia, sesilia dicirikan
denga bentuk tubuh panjang mirip cacing dan kebanyakan ditemukan di Amerika
Selatan, Afrika, dan Asia Selatan. Alih-alih menyerupai bentuk amfibi pada
umumnya, sesilia memiliki bentuk tubuh mirip belut atau cacing tanah. Sesilia hidup
di bawah tanah dan di air serta memiliki tengkorak kuat yang memungkinkan mereka
menggali jauh ke dalam tanah. Hidup di dalam tanah membuat sesilia jarang terlihat.
Sesilia memiliki mata yang hampir tidak berfungsi, hanya seperti titik pada kepala
(Brotowidjoyo, 1985).
Kura-kura Brazil adalah salah satu kura-kura air tawar yang banyak dijumpai
di alam di negara empat musim seperti negara Amerika dan negara dua musim
seperti Indonesia. Kura-kura Brazil mampu hidup di Indonesia karena kondisi alam
di Indonesia cocok bagi kehidupan kura-kura Brazil sehingga kura-kura Brazil
dinamaan hewan poikilotermik atau ektotermik karena mampu menyeimbangkan
kondisi lingkungan di sekitarnya, baik panas maupun dingin terhadap kondisi
tubuhnya (Ernst & Barbour, 1989). Satu kelompok hewan yang secara global sangat
populer dalam perdagangan hewan peliharaan adalah turtles. Salah satunya adalah
kura-kura kura-kura brazil Trachemys scripta elegans, karena memiliki warna yang
mencolok, ukuran tubuh kecil tukik dan mudah untuk dipelihara. Namun, karena
slider tumbuh dengan cepat dan segera kehilangan pola warna remaja mereka
mencolok, mereka menjadi kurang menarik dan sering dirilis di alam liar oleh
pemilik tanpa mempertimbangkan potensi dampak lingkungan (Meyer et al., 2015).
Kodok (bahasa Inggris: frog) dan katak alias bangkong (bahasa Inggris: toad)
adalah hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Kodok bertubuh

pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak
berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit kasar berbintil-bintil
sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek
saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh (Holmes, 1928).
Kadal rumput adalah sejenis kadal bertubuh panjang ramping anggota dari
suku Lacertidae. Nama ilmiahnya adalah Takydromus sexlineatus, merujuk pada
kebiasaan dan jumlah garis-garis tubuhnya. (Tachydromus, perkataan Gerika untuk
pelari cepat; sexlineatus, memiliki enam garis). Kadal berbadan kurus lampai,
dengan ekor yang panjang menjuntai, sering ditemukan berlari cepat menyusup
rerumputan atau tengah berjemur di atas semak-semak rendah. Kadang-kadang pula
memanjat rumput-rumputan yang agak tinggi, untuk berburu serangga yang menjadi
mangsanya. Kadal rumput memiliki leher yang panjang dan moncong meruncing,
kadal ini serupa dengan biawak namun berukuran jauh lebih kecil dan kurus. Total
panjang tubuh hingga 290 mm, dan sekitar empat-perlimanya adalah ekor. Panjang
kepala dan badan (snout-to-vent length) mencapai 8 cm, meski kebanyakan tidak
melebihi 6 cm. Lidahnya bercabang (Kimball, 1980).

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Amphibia dan Reptilia yaitu
toples atau tempat hewan, bak preparat, alat tulis, laporan sementara, dan pinset.
Bahan yang digunakan dalam praktikum acara Amphibia dan Reptilia yaitu
kura-kura, kadal rumput, kodok dan katak.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara Amphibia dan Reptilia antara
lain:
1. Beberapa spesimen preparat diamati, digambar, dan dideskripsikan karakter
hewan avertebrata berdasarkan ciri-ciri morfologi.
2. Hewan avertebrata disiapkan dan dilakukan identifikasi melalui web identifikasi
amphibi dan reptil.
3. Hasil dan laporan sementara dibuat.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Morfologi umum
Dorsal

Keterangan:
8

3
12

10

11

Ventral

1. Organon visus
2. Nostril
3. Rima oris
4. Timpanum
5. Ekstrimitas anterior
6. Ekstrimitas posterior
7. Ekor
8. Karapaks
9. Plastron
10. Vertebral shell
11. Marginal shell
12. Pygial shell

Gambar 1. Trachemys scripta


Klasifikasi dari kura-kura
(Trachemys

scripta)

menurut

Ernst & Barbour (1989) sebagai


berikut :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo
: Testudines
Famili : Emydidae
Genus : Trachemys
Spesies : Trachemys scripta

Morfologi umum
9

Keterangan :
8

15
17

16

14

12

1. Organon visus
2. Nostril
3. Rima oris
2
4. Membran timpani
5. Kelenjar paratiroid
6. Tonjolan preorbital
7. Tonjolan supraorbital
8. Tonjolan postorbital
9. Tonjolan supratiroid
3
10. Saccus vocalicus
1 6
11. Brachium
10 12. Antebrachium
13. Digiti
13
14. Femur
11
15. Crus
16. Manus
17. Pes
4

Gambar 2. Duttaphrynus melanosticus


Klasifikasi
(Duttaphrynus

dari

kodok

melanosticus)

menurut Sukiya (2005)


berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas
: Amphibia
Ordo
: Anura
Famili : Bufonidae
Genus : Duttaphrynus
Spesies : D. melanosticus

sebagai

Morfologi umum
Keterangan:

11

1. Organon visus
2. Rima oris
3. Nostril
4. Mandibulla
5. Porus auditorius eksternus
6. Brachium
7. Antebrachium
8. Digiti
9. Femur
10. Crus
11. Manus
12. Ekor

5
9
6

10
12
8

Gambar 3. Takydromus sexlineatus


Klasifikasi

dari

kadal

(Takydromus sexlineatus) menurut


Kimball (1980) sebagai berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Famili : Agamidae
Genus : Takydromus
Spesies : Takydromus Sexlineatus

Keterangan:
1. Organon visus
2. Nostril
3. Membran timpani
4. Rima oris
5. Lipatan dorso-lateral
6. Brachium
7. Antebrachium
8. Web
9. Discus
10. Femur
11. Crus
12. Manus
13. Pes
14. digiti

Morfologi umum
15.

11

10

14

8
2

4
5

6 1
7

12
13

Gambar 4. Polypedates leucomystax


Klasifikasi

katak

pohon

(Polypedates leucomystax) menurut


Sukiya (2005) sebagai berikut :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo
: Anura
Famili : Rachophoridae
Genus : Polypedates
Spesies : Polypedates leucomystax

B. Pembahasan
Praktikum kali ini yaitu melakukan identifiikasi pada anggota kelas amphibi
dan reptil. Preparat yang digunakan dari kelas amphibi adalah kodok dan katak
sedangkan preparat yang digunakan dari keals reptil adalah kura-kura dan kadal
rumput. Amphibi dan reptil memiliki karakteristik yang berbeda diantaranya amphibi
kulitnya tanpa sisik epidermal dan selalu lembab, beberapa mengalami metamorfosis,
sistem peredaran darah tertutup dan jantung terdiri atas dua artrium dan satu
ventrikel sedangkan reptil kulitnya tertutupi oleh sisik epidermal dan kering, tidak
mengalami metamorfosis, memiliki tubuh yang kuat dan berotot, sistem peredaran
darah tertutup dan jantung terdiri atas dua artrium dan dua ventrikel yang belum
tersekat sempurna.
Kura-kura termasuk ke dalam filum Chordata, kelas Reptilia, ordo Testudinata.
Bagian kepala terdapat organon visus sebagai organ penglihatan, nostril sebagai
organ penciuman, rima oris atau mulut dan tympani. Tubuh ditutupi oleh cangkang
yaitu cangkang dorsal (karapaks) dan cangkang ventral (plastron). Cangkang
eksternal kura-kura menyatu dengan cangkang internalnya, dimana karapaks
menyatu dengan vertebrae dan plastron menyatu dengan sternum, sehingga cangka
tidak bisa lepas dari tubuhnya. Cangkang dorsal terbagi atas vertebral shell,
marginal shell, dan pygeal shell. Kura-kura memiliki ekstrimitas anterior, posterior,
dan terdapat ekor. Preparat yang digunakan termasuk dalam kelompok turtle yang
ditandai dengan ekstrimitas yang memiliki web, cakar, lebih pipih dan bisa
dimasukan ke dalam cangkang, dan vertebrae memiliki tonjolan yang terlihat sangat
jelas.
Kadal rumput termasuk ke dalam filum Chordata, kelas Reptilia, ordo
Squamata yang memiliki warna lebih tegas pada jantan. Tubuh kadal diliputi oleh
sisik, rahang dan stuktur tengkorak yang spesifik. Kadal jantan dapat dibedakan
dengan kadal betina, dimana kadal jantan memiliki hemipenis sedangkan kadal
jantan tidak. Bagian kepala terdapat organon visus sebagai organ penglihatan, nostril
sebagai organ penciuman, rima oris atau mulut dan tympani. Memiliki ekstrimitas
anterior yang terbagi menjadi tiga yaitu brachium, antebrchium, dan digiti.
Ekstrimitas posterior terbagi menjadi 3 yaitu femur, crus, dan digiti. Terdapat ekor
atau caudal.
Kodok termasuk ke dalam filum Chordata, kelas Amphibi yang memiliki kulit
berbintil-bintil. Bagian kepala terdapat organon visus sebagai organ penglihatan,

rima oris atau mulut, nostril sebagai organ penciuman, mandibula, membran
tympani. Bagian ekstrimitas anterior terdapat brachium, antebrachium, manus, dan
digiti. Bagian ekstrimitas posterior terdapat femur, crus, manus, dan pes. Kodok
memiliki morfologi yang berbeda dari katak, bagian belakang thympani pada kodok
terdapat bintil-bintil yang merupakan glandula paratoid yang berfungsi sebagai
kelenjar racun, selain itu dibagian belakang mata terdapat tonjolan yang terdiri atas
tonjolan preorbital, supraorbital, post orbital dan tonjolan supra thympanium. Tubuh
kodok lebih gemuk daripada tubuh katak, ektrimitasnya dan loncatannya lebih
pendek, kulit berbintil, dan memiliki tipe sternum arsiferal dimana posisi sternumnya
saling bertumpuk.
Katak termasuk ke dalam filum Chordata, kelas Amphibi yang memiliki tubuh
yang halus dan licin, memiliki tungkai kaki yang lebih panjang yang berguna untuk
melompat, dan habitatnya akuatik dan terestrial. Tubuh katak lebih ranting daripada
kodok, ektrimitasnya lebih panjang, memiliki web diantara ekstrimitasnya, terdapat
mesosternum pada sternumnya, loncatannya lebih jauh, dan memiliki tipe sternum
firmisternal dimana sternumnya memanjang. Bagian kepala terdapat organon visus
sebagai organ penglihatan, rima oris atau mulut, nostril sebagai organ penciuman,
mandibula, dan membran tympani. Terdapat lipatan dorso-lateral pada bagian tubuh.
Bagian ekstrimitas anterior terdapat brachium, antebrachium, manus, web/selaput
yang membantu bernang, dan discus yang berfungsi untuk menempel pada substrat.
Bagian ekstrimitas posterior terdapat femur, crus, manus, dan pes.
Cara identifikasi dilakukan dengan membandingkan karakteristik yang telah
diamati dengan karakteristik hewan reptil dan amphibi yang sudah ada. Pertamatama

nyalakan

laptop,

konekan

ke

internet

kemudian

masuk

ke

web

amphibiaweb.org dan reptlia-database.org. Masuk ke halaman pertama web dan klik


identifikasi dengan gambar, setelah itu cari gambar yang sesuai dengan preparat
dimulai dari pencarian kelas, ordo, famili, genus dan spesies. Berdasarkan hasil
identifikasi didapatkan hasil bahwa preparat kodok yang digunakan adalah spesies
Duttaphrynus melanotictus, katak merupakan spesies Polypedatus leuconystrax,
kura-kura merupakan spesies Trachemys scripta, dan kadal yang digunakan
merupakan spesies Takydromus sexlineatus.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Katak dan kodok termasuk anggota kelas Amphibi, kadal rumput dan kura-kura
termasuk dalam anggota kelas reptil. Berdasarkan hasil identifikasi kadal rumpur
merupakan spesies Takidromus sexlineatus, kura-kura adalah Trachemys scripta,
katak adalah Duttaphrynus melanostiscus, dan kodok adalah Polypedatus
2.

leucomystrax.
Karakter penting yang dimiliki anggota kelas amphibi dan reptil yaitu kulit,
ekstrimitas, bentuk kepala, bentuk tubuh, digiti, tipe sisik, dan anatomi tulang.

B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini yakni lebih teliti dan memahami perbedaan
karakter utama dari setiap preparat agar tidak terjadi kesalahan saat melakukan
identifikasi pada setiap preparat.

DAFTAR REFERENSI
Brotowidjoyo, M. J. 1985. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Campbell, N., Jane, B. R., Lis, A. U., Michael, L. C., Steven, A. W., Peter, V. M., &
Robert, B. J. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata I. Bandung:
Armico.
Ernst, C. H. & Barbour, R. W. 1989. Turtles of These World. Washington D. C. and
London: Smithsonian Institution Press.
Holmes, S. J. 1928. The Biology of The Frog. New York: The Mac Millan.
Jasin, M. 2002. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.
Kimball, J. W. 1980. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lestari, L. A. P. 2013. Struktur Anatomi Dan Organ Reproduksi Jantan Pada Kadal.
Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Meyer, L., Preez, L. D., Bonneau, E., Haritier, L., Quintana, M. F., Valdeon, A.,
Sadaoui, A., Issad, N. K., Palacios, C., & Verneau, O. 2015. Parasite hostswitching from the invasive American red-eared slider, Trachemys scripta
elegans, to the native Mediterranean pond turtle, Mauremys leprosa, in natural
environments. Aquatic Invasions, 10(1): 79-91.
Sukiya. 2005. Biologi vertebrata. Malang: UNM.