Anda di halaman 1dari 32

Skenario 3

PERDARAHAN PERVAGINAM
Seorang wanita umur 35 th berobat ke poliklinik kebidanan dengan
keluhan keluar darah dari vagina, dan berbau. Pasien mempunyai tiga orang anak,
terkecil umur 6 tahun. Dari pemeriksaan sensorium komposmentis dan vital sign
dalam batas normal. Haid teratur, tiap bulan lama 7 hari. Dokter meminta perawat
untuk mempersiapkan dan mendampingi pemeriksaan.
Pemeriksaan perut, Inspeksi, palpasi dan perkusi dalam batas normal.
Begitu pula vulva tidak ada kelainan. Inspekulo: dinding vagina dalam batas
normal, servik membesar berbenjol, berdarah. Vaginal toucher: servik membesar,
berbenjol, contact bleeding (+), uterus sebesar telor bebek, mobile, ovarium tidak
membesar. Untuk menegakkan diagnosis, dokter melakukan pemeriksaan
penunjang.

Hal | 1

KATA SULIT
1. Contact Bleeding

: Perdarahan saat terjadinya kontak langsung atau

perdarahan pasca senggama yang merupakan gejala khas dari ca serviks


2. Vagina toucher
: pemeriksaan dengan memasukkan jari ke liang
vagina untuk mengetahui permukaan serviks
PERTANYAAN
1. Apa diagnosis penyakit pasien?
2. Apa penyebab dari penyakit pasien?
3. Apa Faktor resikonya?
4. Apa bedanya darah contact bleeding dan darah haid, mengapa berbau?
5. Mengapa dapat terjadi contact bleeding ?
6. Pemeriksaan penunjang apa yang digunakan pada kasus ini?
7. Kenapa serviks membesar?
8. Mengapa haid tidak terganggu?
9. Apakah usia mempengaruhi kondisi penyakit pasien?
10. Bagaimana tatalaksananya?

JAWABAN
1. Karsinoma serviks
2. Yang terbanyak akibat dari Human Papiloma Virus (HPV)
3. Merokok, berganti-ganti pasangan, hubungan seks pra nikah, hamil muda,
usia
4. Darah Haid : hormonal, ada fasenya, berasal dari cavum uteri ; darah
Contact Bleeding : terkena massa yang memiliki pembuluh, berasal dari
serviks
5. Karena trauma, Berbau akibat dari inflamasi
6. Pap smear, USG, MRI, CT-Scan, Test untuk virus
7. Karena selnya terus berproliferasi
8. Karena ovarium dalam batas normal
9. Ya, Karena sebuah factor resiko terjadinya Ca Serviks
10. Histerektomi, Kemoterapi dan Radioterapi
HIPOTESIS
Akibat dari faktor resiko dan Human Papilloma Virus dapat menimbulkan
gejala berupa perdarahan saat kontak. Kemudian dilakukan pemeriksaan, pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan pembesaran serviks dan permukaannya
berbenjol untuk memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan penunjang berupa

Hal | 2

Pap smear, USG, dan lain-lain.Hasil pemeriksaan didapatkan diagnosis


Karsinoma Serviks kemudian dilakukan pengobatan berupa Histerektomi,
Radioterapi dan Kemoterapi. Untuk menghindari penyakit ini dapat dilakukan
pencegahan dengan mengurangi factor resiko.

Hal | 3

SASARAN BELAJAR

1. Memahami dan Mejelaskan Karsinoma Serviks


1.1.
Definisi
1.2.
Epidemiologi
1.3.
Etiologi dan faktor resiko
1.4.
Patofisiologi
1.5.
Klasifikasi
1.6.
Manifestasi klinis
1.7.
Pemeriksaan Penunjang
1.8.
Diagnosis dan Diagnosis Banding
1.9.
Tatalaksana
1.10.
Prognosis
1.11.
Pencegahan
2. Memahami dan Menjelaskan Etika Pemeriksaan Pasien dalam Islam

Hal | 4

1. Memahami dan Mejelaskan Karsinoma Serviks


1.1.
Definisi
Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim.
Kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim
yang dimulai pada lapisan serviks. Kanker serviks adalah tumor ganas
primer yang berasal dari metaplasia epitel di daerah skuamokolumner
junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis
servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks
atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan
liang senggama atau vagina.
1.2.

Epidemiologi
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus

merupakan kanker pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker


payudara. Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru
kanker leher rahim (cervical cancer), sebanyak 80 persen terjadi pada
wanita yang hidup di negara berkembang. Sedikitnya 231.000 wanita di
seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari jumlah itu, 50%
kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi karena
pasien datang dalam stadium lanjut.
Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher
rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum
wanita Indonesia. saat ini ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk
atau 200 ribu kasus setiap tahunnya Kanker serviks yang sudah masuk ke
stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif
cepat. Selain itu, lebih dari 70 persen kasus yang datang ke rumah sakit
ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.
Selama kurun waktu 5 tahun, usia penderita antara 30-60 tahun,
terbanyak antara 45-50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif untuk
menjadi invasive memakan waktu sekitar 10 tahun. Hanya 9% dari wanita
berusia <35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasive pada saat
didiagnosis, sedangkan 53% dari KIS (karsinoma in-situ) terdapat pada
wanita dibawah usia 35 tahun.
Hal | 5

1.3.

Etiologi dan faktor resiko


Penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model

karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, dimulai dari


karsinogenesis awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga
menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi menunjukkan lebih dari
90% kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papiloma virus
(HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif
ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis
yang buruk. HPV merupakan faktor inisiator kanker serviks. Onkoprotein
E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya
degenerasi keganasan. Onkoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG
(Tumor Supressor Gene) p53 akan kehilangan fungsinya. Sedangkan
onkoprotein E7 akan mengikat TSG Rb, ikatan ini menyebabkan
terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel
berjalan tanpa kontrol.

Faktor Risiko
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim.
Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya
kanker laher rahim. Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia
lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya
waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem

kekebalan tubuh akibat usia.


Usia pertama kali menikah. Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap
terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena
kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah
pada usia > 20 tahun. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum
matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap
menerima rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa
sperma. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel
yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini
akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker.

Hal | 6

Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti


pasangan. Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya
penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini
akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi

lebih banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.


Penggunaan antiseptik. Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan
obat-obatan antiseptik maupun deodoran akan mengakibatkan iritasi di

serviks yang merangsang terjadinya kanker.


Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar
terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung
nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan
menurunkan daya tahan serviks di samping meropakan ko-karsinogen

infeksi virus.
Paritas (jumlah kelahiran). Semakin tinggi risiko pada wanita dengan
banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari
berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan
(banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit
kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan
berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang
akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human
Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher

rahim.
Riwayat kanker serviks pada keluarga. Bila seorang wanita mempunyai
saudara kandung atau ibu yang mempunyai kanker serviks, maka ia
mempunyai kemungkinan 2-3 kali lebih besar untuk juga mempunyai

kanker serviks dibandingkan dengan orang normal.


Penggunaan jangka panjang (lebih dari 5 tahun) kontrasepsi oral.
1.4.

Patofisiologi
HPV menginvasi inti sel hospes dan menduplikasi DNA virus.

Proses ini akan berlanjutan (fase laten) sehingga kanker yang bersifat in
situ bisa menjadi invasif. Protein dari HPV tipe onkogenik, E6 dan E7

Hal | 7

akan menghambat dan menginaktivasi p53 yang dan protein RB hospes


yang berperan menekan sifata onkogenik setiap sel tubuh. Protein E6
mengikat p53 membentuk kompleks yang menetralisir respon normal sel
epitel serviks terhadap kerusakan DNA( apoptosis dimediasi oleh P53).
Sedangkan, protein E7 mengikat produk gen retinoblastoma (protein Rb1)
mempengaruhi supressor gene.
Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui
beberapa stadium displasia (ringan,sedang,berat) menjadi karsinoma
insitu dalam jangka waktu 7-10 tahun akhirnya invasif. Perkembangan
bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks
dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat
menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke
kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks,
parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika
urinaria. Karsinoma serviks dapat meluas ke arah segmen bawah uterus
dan kavum uterus.
Penyebaran Kanker Serviks
Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah
bening menuju 3 arah : a) ke arah fornices dan dinding vagina, b) ke arah
korpus uterus, dan c) ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang
lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih.

1.5.

Klasifikasi
Tahapan stadium klinis yang dipakai sekarang ialah pembagian

yang ditentukan oleh The International Federation Of Gynecologi And


Obstetric (FIGO) tahun 1976. Pembagian ini didasarkan atas pemeriksaan
klinik, radiologi, suktase endoserviks dan biopsi. Tahapan tahapan
tersebut yaitu :
a. Karsinoma pre invasif
b. Karsinoma in-situ, karsinoma intraepitel
c. Kasinoma invasive

Hal | 8

Tabel 1. Tingkat Keganasan Klinik Menurut FIGO


Tingkat

Kriteria

KIS (Karsinoma in Situ) atau karsinoma intra epitel, membrana


basalis masih utuh.

Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri

Ia

Karsinoma mikro invasif: bila membrana basalis sudah rusak dan


tumor sudah memasuki stroma tdk> 3mm dan sel tumor tidak
terdapat dalam pembuluh limfe/pembuluh darah. Kedalaman invasi
3mm sebaiknya diganti dengan tdk> 1mm.

Ib occ

Ib occult = Ib yang tersembunyi, secara klinis tumor belum tampak


sebagai Ca, tetapi pada pemeriksaan histologik, ternyata sel tumor
telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia.

Ib

Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik


menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks uteri.

II

Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke2/3


bagian atas vagina dan ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding
panggul.

IIa

Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat


tumor.

IIb

Penyebaran ke parametrium uni/bilateral tetapi belum sampai ke


dinding panggul

III

Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina / ke


parametrium sampai dinding panggul.

IIIa

Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina, sedang ke


parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.

IIIb

Penyebaran sudah sampai ke dinding panggul, tidak ditemukan


daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (frozen

Hal | 9

pelvic)/ proses pada tk klinik I/II, tetapi sudah ada gangguan faal
ginjal.
IV

Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan


mukosa rektum dan atau kandung kemih.
Proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi
mukosa rektum dan atau kandung kemih.

IVa

Telah terjadi penyebaran jauh.

IVb

1.6.

Manifestasi klinis

Hal | 10

Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas.
Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari
vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis
jaringan
2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian
berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan,
berbau dan dapat bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang
panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan
terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat
lainnya.
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi,
edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian
bawah (rektum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau
timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.

1.7.

Pemeriksaan Penunjang

Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali


pemeriksaan. Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang
lebih dini dianjurkan. Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu
penegakkan diagnosis seperti palpasi, inspeksi, kolposkopi, kuretase
endoserviks, histeroskopi, sistoskopi, proktoskopi, intravenous urography,

Hal | 11

dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan tulang. Kecurigaan infiltrasi


pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya dipastikan
dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk
pemeriksaan

klinis.

Interpretasi

dari

limfangografi,

arteriografi,

venografi, laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini


belum dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi
penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan sebagai berikut
(Suharto, 2007):
1) Pemeriksaan pap smear
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal
pada pasien yang tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui
pada sekret yang diambil dari porsi serviks. Pemeriksaan ini harus mulai
dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas
seksual sebelum itu. Setelah tiga kali hasil pemeriksaan pap smear setiap
tiga tahun sekali sampai usia 65 tahun. Pap smear dapat mendeteksi
sampai 90% kasus kanker leher rahim secara akurat dan dengan biaya
yang tidak mahal, akibatnya angka kematian akibat kanker leher rahim
pun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara
seksual sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali setiap
tahun. Apabila selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil
pemeriksaan yang normal, maka pemeriksaan pap smear bisa dilakukan
setiap 2 atau 3 tahun sekali.
Hasil pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut (Prayetni,1999):
a. Normal
b. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas)
c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas)
d. Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar).
e. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih
dalam atau ke organ tubuh lainnya)
Cara pengambilan sampel Pap Smear
Pemeriksaan ini dilakukan di atas kursi pemeriksaan khusus
ginekologis. Sampel sel-sel diambil dari luar serviks dan dari liang

Hal | 12

serviks dengan melakukan usapan dengan spatula yang terbuat dari bahan
kayu atau plastik. Setelah usapan dilakukan, sebuah cytobrush (sikat kecil
berbulu halus, untuk mengambil sel-sel serviks) dimasukkan untuk
melakukan usapan dalam kanal serviks. Setelah itu, sel-sel diletakkan
dalam object glass (kaca objek) dan disemprot dengan zat untuk
memfiksasi, atau diletakkan dalam botol yang mengandung zat pengawet,
kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.
Waktu pemeriksaan
Waktu yang digunakan dalam pemeriksaan pap smear dapat
dilakukan pada 2 minggu setelah menstruasi dan sebelum menstruasi
berikutnya.

2) Pemeriksaan DNA HPV


Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan
Paps smear untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Tes ini dapat
dilakukan pada sediaan apusan atau cairan vagina dan sel sisa bahan pada
sediaan sitologi Pap smear ataupun dengan biopsis. Deteksi dengan tes
DNA HPV adalah salah satu jenis tes pelengkap tes sitologi seperti pap
smear. Deteksi DNA HPV bisa dengan menggunakan PCR dan Hybrid
Capture II. PCR pertama kali dikembangkan oleh Kary Mullis pada tahun
1985 (Nuswantara, 2002). Pada tahun 1990 Ting dan Manos telah
mengembangkan suatu metode deteksi human papilloma virus dengan
PCR. Metode tersebut dikembangkan dengan mengidentifikasi suatu
daerah homologi di dalam genom tipe-tipe HPV yang kemudian
digunakan sebagai dasar untuk mendesain primer untuk amplifikasi.
Sedangkan teknik pemeriksaan dengan hibridisasi dikenal dengan
istilah teknik Hybrid Capture II System (HC-II). HC-II pada intinya
adalah melakukan teknik hibridisasi yang dapat mendeteksi semua tipe
HPV high risk pada seseorang yang diduga memiliki virus HPV dalam
tubuhnya (Lrincz, 1998). Penggunaan teknik komputerisasi dilakukan

Hal | 13

untuk pemeriksaan di tingkat DNA dan RNA, apakah terdapat


kemungkinan pasien tersebut sudah terinfeksi HPV. Jika teknik Pap
smear memeriksa adanya perubahan pada sel (sitologi), teknik HC-II
memeriksa pada kondisi yang lebih awal yaitu terdapatnya kemungkinan
seseorang terinfeksi HPV di dalam tubuhnya sebelum virus tersebut
membuat perubahan pada serviks yang akhirnya dapat mengakibakan
terjadinya kanker serviks.
Pengembangan teknik deteksi DNA HPV akhir-akhir ini berupa
HC-II merupakan teknik sederhana dan cara alternatif yang menarik;
seperti

produk

HC-II.

Teknik

HC-II

adalah

sebuah

antibody

capture/solution hybridization/signal amplication assay yang memakai


deteksi kualitatif chemiluminescence terhadap DNA HPV (Suwiyoga,
2006) namun secara umum HC-II ialah suatu teknik berbasis DNA-RNA
yang dapat mendeteksi secara akurat dan cepat (Nainggolan, 2006).
3) Biopsi
Biopsi serviks dilakukan dengan cara mengambil sejumlah contoh
jaringan serviks untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop.
Dibutuhkan hanya beberapa detik untuk melakukan biopsi contoh
jaringan dan hanya menimbulkan ketidaknyamanan dalam waktu yang
tidak lama. Jika diperlukan maka akan dilakukan biospi disekitar area
serviks, tergantung pada temuan saat melakukan colposcopy. Bersamaan
dengan biopsi serviks, kuretase endoserviks juga bisa dilakukan. Selama
kuretase, dokter akan menggunakan sikat kecil untuk menghilangkan
jaringan pada saluran endoserviks, area antara uterus dan serviks.
Kuretase akan menimbulkan sedikit nyeri, tapi nyeri akan hilang setelah
kuretase dilakukan. Hasil biopsi dan kuretase biasanya baru bisa dilihat
paling tidak 2 minggu.
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu
pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika hasil pemeriksaan pap
smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. Biopsi ini dilakukan
untuk melengkapi hasil pap smear. Teknik yang biasa dilakukan adalah
punch biopsy yang tidak memerlukan anestesi dan teknik cone biopsy
yang menggunakan anestesi. Biopsi dilakukan untuk mengetahui kelainan

Hal | 14

yang ada pada serviks. Jaringan yang diambil dari daerah bawah kanal
servikal. Hasil biopsi akan memperjelas apakah yang terjadi itu kanker
invasif atau hanya tumor saja (Prayetni, 1997).
Biopsi Kerucut dan LEEP

Gambar 1. Biopsi Kerucut


Adakalanya

biopsi

yang

lebih

besar

dibutuhkan

untuk

mendiagnosis kanker serviks. Pada kasus ini, maka dapat dipilih biopsi
kerucut. Selama biopsi kerucut, sebuah kerucut yang tajam akan
digunakan untuk mengambil jaringan dan pada prosedur ini dibutuhkan
anestesi umum. Biopsi kerucut juga digunakan untuk membuang jaringan
pra-kanker dari serviks. Loop Electro Surgical Excision Procedure
(LEEP) atau Prosedur Pembedahan Eksisi dengan Loop Elektro adalah
prosedur yang dilakukan dengan anestesi local untuk mengangkat
jaringan dari serviks. LEEP menggunakan listrik untuk membuang contoh
jaringan. Metode ini umumnya digunakan untuk mengobati kanker
stadium tinggi dari pada hanya untuk mendiagnosis kanker serviks.
4) Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yang terkena proses
metaplasia. Pemeriksaan ini kurang efisien dibandingkan dengan pap
smear, karena kolposkopi memerlukan keterampilan dan kemampuan
kolposkopis dalam mengetes darah yang abnormal (Prayetni, 1997).
Colposcopy adalah suatu pengujian yang memungkinkan dokter untuk
melihat serviks (leher rahim) lebih dekat dengan menggunakan sebuah
alat bernama colposcope. Colposcope akan dimasukkan ke dalam vagina
dan kemudian gambar yang ditangkap oleh alat tersebut akan ditampilkan
Hal | 15

pada layar computer atau televisi. Dengan cara seperti ini, kondisi yang
terjadi dalam leher rahim akan sangat jelas terlihat. Sebelumnya diberi
cairan ke dalam vagina, apabila pada sel-sel yang abnormal akan
terwarnai suatu warna putih atau lainnya, lalu sample yg abnormal (sudah
terwarnai) itu diambil dengan biopsi, dan dibawa ke laboratorium.

Gambar 2. Pemeriksaan Kolposkopi

5) Tes Schiller
Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan yodium. Pada
serviks normal akan membentuk bayangan yang terjadi pada sel epitel
serviks karena adanya glikogen. Sedangkan pada sel epitel serviks yang
mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak berubah karena
tidak ada glikogen.

Hal | 16

Gambar 3. Tes Schiller

6)

Radiologi
a) Pelvik limphangiografi, yang dapat menunjukkan adanya gangguan
pada saluran pelvik atau peroartik limfe.
b) Pemeriksaan intravena urografi, yang dilakukan pada kanker serviks
tahap lanjut, yang dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter
terminal.

Pemeriksaan

radiologi

direkomendasikan

untuk

mengevaluasi kandung kemih dan rektum yang meliputi sitoskopi,


pielogram intravena (IVP), enema barium, dan sigmoidoskopi.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan CT abdomen / pelvis
digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor dan / atau
terkenanya nodus limpa regional.
7) Petanda Tumor
Antigen terkait karsinoma skuamosa (SCCag/ squamous cell Ca
associated antigen). Merupakan glikoprotein dengan bobot molekul
42-48 kDa. Batas atas dalam serum orang sehat adalah 1.5ug/L.
Makna klinis terutama untuk mendeteksi kadar serum pasien
karsinoma sel skuamosa.
8) Thin Prep
Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear
hanya mengambil sebagian dari sel-sel di serviks atau leher rahim,
maka Thin prep akan memeriksa seluruh bagian serviks atau leher
rahim. Tentu hasilnya akan jauh lebih akurat dan tepat.
Kelebihan Thin Prep
ThinPrep Test, sel-sel yang telah diambil tidak diletakkan dan diratakan di
preparat kaca, tetapi dimasukkan ke dalam tabung yang berisi cairan yang
berfungsi menstabilkan dan menjaga kondisi sel-sel tersebut agar pada saat
diperiksa akan tetap sama dengan kondisi saat diambil. Prosedur ini
memastikan agar sebanyak mungkin sel dapat disimpan untuk dibawa
laboratorium pemeriksaan dan dalam kondisi sangat baik.

Hal | 17

9) IVA
IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode
pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam
asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih.
Jika tidak

ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada

infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga


relatif murah. Ini dapat dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat
tanda yang mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut
harus dilakukan.
Tujuan Pap Smear:
1.

Menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker

termasuk infeksi HPV).


2.

Untuk mendeteksi adanya pra-kanker, ini sangat penting ditemukan

sebelum seseorang menderita kanker.


3.

Mendeteksi kelainan kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.


4.

Mendeteksi adanya kelainan praganas atau keganasan servik uteri


1.8.

Diagnosis dan Diagnosis Banding

a. Anamnesis
Pada anamnesis perlu diidentifikasi data mengenai riwayat
perkawinan

dan pesalinan, perilaku seks yang sering berganti ganti

pasangan (promiskusitas), waktu coitus pertama kali, penyakit yang


pernah dialami misalnya herpes genitalis, infeksi HPV, servisitis kronis,
gaya hidup seperti meroko, hygienis, jenis makanan san social ekonomi
rendah, juga keluhan perdarahan spontan ataupun pasca senggama. Gejala
Klinis kurang menunjang sebagai penunjuk diagnostic karena lesi
prakanker umumnya asimptomatik kecuali pada keganasan yang sudah
lanjut.
Hal | 18

b.Pemeriksaan Fisik
Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah
lanjut. Yang menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk
mencegah kanker serviks, dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan
pengamatan

terhadaplesi

prakanker

serviks.

Kemampuan

untuk

mendeteksi dini kanker serviks disertaidengan kemampuan dalam


penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan angka kematian akibat
kanker serviks.
1) Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering
ditemukan, berbaubusuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2) Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks.
Perdarahantimbul akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin
lama makin seringterjadi diluar senggama.
3) Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
4) Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.
5) Pemeriksaan tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu badan.
6) Status pasien :
-

Ada atau tidaknya anemia.

Tanda-tanda metastase di paru seperti: sesak napas, batuk darah.

Status lokalis abdomen: umumnya tak khas, jarang menimbulkan


kelainan berupa benjolan, kecuali bila sudah ada penyebaran ke
rektum menimbulkan obstipasi ileusobstruktif.

Palpasi hepar, supraklavikula, dan diantara kedua paha untuk melihat


ada tidaknya benjolan untuk meyakinkan ada tidaknya metastase.

c. Pemeriksaan Ginekologi
Pada pemeriksaan makroskopis/inspekulo
o Prekanker:
tidak
ada
kelainan

porsio

gambaran

khas

leukoplakia,erosi,ektropion atau servisitis


Tetapi tidak demikian halnya pada tingkat lanjut dimana porsio
terlihat benjol-benjol menyerupai bunga kol (pertumbuhan eksofitik) atau
mungkin juga ditemukan fistula rektovaginal ataupun vesikovagina. Pada

Hal | 19

keadaan ini porsio mudah sekali berdarah karena kerapuhan sel sehingga
pada pemeriksaan ginekologi dianjurkan mulai dengan pemeriksaan
inspekulo yang dilanjutkan dengan pemeriksaan vagina bimanual untuk
eksplorasi vagina.
Diagnosis Banding
Tabel 2. Diagnosis Banding
Kondisi

Membedakan tanda /

Membedakan tes

Infeksi

gejala
Tidak ada massa,

Tes HPV DNA diindikasikan dengan Pap smear

HPV

tidak ada perdarahan

atipikal (ASCUS atypical squamous cells of

abnormal, biasanya

undetermined significance).

tidak ada gejala.

Para koilosit merujuk pada karakteristik dari


penampakan sel HPV yang terinfeksi dan
patognomonik pada keadaan HPV. Koilositosis
sering berulang, tapi displasia memerlukan

Infeksi

Klamidia dan gonore

penelitian lebih lanjut dan tindakan lanjut.


Pap smear mungkin belum tentu akurat karena

panggul

yang berhubungan

perubahan inflamasi. Tes klamidia dan gonore,

dengan demam, nyeri,

sediaan basah, kultur, tes kalium hidroksida (KOH)

dan keputihan, ta

dapat mengidentifikasi infeksi.

pi mungkin tanpa
Kista

gejala.
Dispareunia dan

nabothian

massa kistik pada

Hiperplasi

pemeriksaan.
Mungkin ditemukan

Sel glandular atipikal pada Pap smear; biopsi

a kelenjar

pada Pap smear pada

diagnostik akan membedakannya dari kanker

pasien yang tanpa

serviks.

Dibedakan pada pemeriksaan klinis.

gejala.
Beberapa pasien
mungkin mengalami
gejala perdarahan

Hal | 20

uterus berat,
berkepanjangan,
sering, dan pendek
Mesonefrik

atau tidak teratur.


Dispareunia dan

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari

remnants

massa kistik pada

kanker serviks.

Endometri

pemeriksaan.
Nyeri panggul,

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari

osis

dismenorea,

kanker serviks.

infertilitas,
dispareunia,
perdarahan abnormal,
Polip

kelelahan.
Perdarahan abnormal,

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari

serviks

massa pada

kanker serviks.

Servikal

pemeriksaan.
Menorrhagia, massa

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari

fibroid

yang nyeri sekali,

kanker serviks.

keluar cairan yang


abnormal, prolaps dari
fibroid.
1.9.

Tatalaksana

Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi,
radioterapi, dan kemoterapi.
a. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi.
Bila pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone
biopsy dapat menjadi pilihan.
b. Biopsi Cone. Selama operasi ini, dokter menggunakan scalpel untuk
mengambil selembar jaringan serviks berbentuk cone dimana
abnormalitas ditemukan

Hal | 21

c. Loop electrosurgical excision procedure (LEEP). Teknik ini


menggunakan lintasan kabel untuk memberikan arus listrik, yang
memotong seperti pisau bedah , dan mengambil sel dari mulut serviks
d. Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks: Bila ukuran tumor < 4cm:
radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemoterapi.
Bila ukuran tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis
cisplatin, histerektomi, ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan
dengan histerektomi
Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan
radioterapi dan kemo berbasis cisplatin. Pada stadium sangat lanjut
(IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo dengan kombinasi
obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.

Pembedahan untuk Kanker Serviks


Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa
melibatkan pengangkatan rahim (histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar
ini mencakup jenis operasi yang paling umum untuk kanker serviks.
Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair
dimasukkan ke dalam vagina dan pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel
abnormal dengan cara membekukan mereka. Cryosurgery digunakan
untuk mengobati kanker serviks yang hanya ad adi dalam leher rahim
(stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang telah menyebar ke luar leher
rahim.

Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau
menghapus sebagian kecil dari jaringan sel rahim untuk dipelajari.
Hal | 22

Pembedahan laser hanya digunakan sebagai pengobatan untuk kanker


serviks pra-invasif (stadium 0).
Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher
rahim. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau
menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh listrik (prosedur ini
disebut LEEP atau LEETZ). Pendekatan ini dapat digunakan untuk
menemukan atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini
jarang digunakan sebagai satu-satunya pengobatan kecuali untuk wanita
dengan kanker serviks stadium dini yang mungkin ingin memiliki anak.
Setelah biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk diperiksa di
bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker
atau pra-sel kanker, pengobatan lebih lanjut akan diperlukan untuk
memastikan bahwa seluruh sel-sel kankernya telah diangkat.
Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup
jaringan yang berada di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah
bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat diangkat dengan cara operasi
di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi ini,
seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk
mengobati beberapa kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga
digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o), jika sel-sel kanker
ditemukan pada batas tepi konisasi.
Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul: pada
operasi ini, dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di
dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan dengan leher rahim, dan
beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah panggul. Operasi
ini paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan
perut dan kurang sering melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang
wanita tidak bisa menjadi hamil. Sebuah histerektomi radikal dan diseksi
kelenjar getah bening panggul adalah pengobatan yang umum digunakan
Hal | 23

untuk kanker serviks stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada
beberapa kasus stadium II, terutama pada wanita muda.
Trachelektomi
Sebuah

prosedur

yang

disebut

trachelectomy

radikal

memungkinkan wanita muda tertentu dengan kanker stadium awal untuk


dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak. Metode ini melibatkan
pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan meletakkannya pada
jahitan berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai pembukaan
leher rahim di dalam rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga
diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui vagina ataupun perut.
Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di
atas, pada jenis operasi ini: kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian
usus besar juga diangkat. Operasi ini digunakan ketika kanker serviks
kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya.
Jika kandung kemih telah diangkat, sebuah cara baru untuk
menyimpan dan membuang air kecil diperlukan. Sepotong usus pendek
dapat digunakan untuk membuat kandung kemih baru. Urine dapat
dikosongkan dengan menempatkan sebuah tabung kecil (disebut kateter)
ke dalam lubang kecil di perut tersebut (disebut: urostomi). Atau urin bisa
mengalir ke kantong plastik kecil yang ditempatkan di bagian depan
perut.
Radioterapi untuk Kanker Serviks
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi
(seperti sinar-X) untuk membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan
tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan, biasanya Anda akan menjalani
pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda menderita Anemia.
Penderita kanker serviks yang mengalami perdarahan pada umumnya

Hal | 24

menderita Anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin diperlukan


sebelum radioterapi dijalankan.
Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan
memberikan radioterapi (external maupun internal). Kadang radioterapi
juga diberikan sesudah pembedahan. Akhir-akhir ini, dokter seringkali
melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk
mengobati kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA.
Yaitu, antara lain bila ukuran tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila
kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya (di luar serviks),
misalnya ke kandung kemih atau usus besar.
Radioterapi eksternal : berarti sinar X diarahkan ke tubuh Anda (area
panggul) melalui sebuah mesin besar.
Radioterapi internal : berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam
rahim/leher rahim Anda selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel
kankernya. Salah satu metode radioterapi internal yang sering digunakan
adalah brachytherapy.
Brachytherapy untuk Kanker Serviks
Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks
sejak awal abad ini. Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi
keganasan di organ kewanitaan. Baik radium dan cesium telah digunakan
sebagai sumber radioaktif untuk memberikan radiasi internal
Efek Samping Radioterapi Ada beberapa efek samping dari radioterapi,
yaitu:
-

Kelelahan
Sakit maag
Sering ke belakang (diare)
Mual
Muntah
Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan
senggama menyakitkan

Hal | 25

Kemoterapi untuk Kanker Serviks


Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker. Biasanya obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah
atau melalui mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah, mereka menyebar
ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan dalam satu
waktu.
Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan
tergantung pada jenis obat yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan,
dan berapa lama pengobatan berlangsung. Efek samping bisa termasuki:
-

Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)


Kehilangan nafsu makan
Kerontokan rambut jangka pendek
Sariawan
Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah

putih)
Menopause dini

1
2
3
-

Komplikasi
Pasca operatif
Gangguan berkemih
Fistula (lorong atau saluran) ureter atau kandung kemih
Emboli paru
Obstruksi saluran cerna
Trauma syaraf
Pasca kemoteraphy
Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
Kehilangan nafsu makan
Kerontokan rambut jangka pendek
Sariawan
Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah
putih)
Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
Kelelahan
Menopause dini
Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)
Pasca radiotheraphy
Kelelahan
Hal | 26

Sakit maag
Sering ke belakang (diare)
Mual
Muntah
Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
1.10.

Prognosis

Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium I lebih dari 90%,


untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk
stadium IV kurang dari 30%.

Stadium 0 100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh.

Stadium 1 Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi IA dan IB.


Dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years
survival rate sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate
sebesar 70 sampai 90%. Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada
limfonodi mereka.

Stadium 2 Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. Dari


semua wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years
survival rate sebesar 70-90%. Untuk stadium 2B 5-years survival rate
sebesar 60 sampai 65%.

Stadium 3 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%.

Stadium 4 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%.


6. Stadium 5 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 5-10%.

1.11.
Pencegahan
Tidak melakukan kegiatan seksual di usia dini ( < 20 tahun), karena
secara fisik seluruh organ intim dan yang terkait pada wanita baru

matang pada usia 21 tahun.


Tidak berganti-ganti pasangan seksual lebih dari satu
Melakukan vaksinasi HPV
Vaksin HPV dapat mencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18. Dan dapat
diberikan mulaidari usia 10-35 tahun, dalam bentuk suntikan sebanyak

3 kali (1-2-7 bulan).


Bagi wanita yang aktif secara seksual, atau sudah pernah berhubungan
seksual, dianjurkan untuk melakukan tes HPV, Pap Smear, atau tes

Hal | 27

IVA, untuk mendeteksi keberadaanHuman Papilloma Virus (HPV),


-

yang merupakan biang keladi dari tercetusnya penyakit kanker serviks.


Menjaga pola makan seimbang dan bergizi, serta menjalani gaya hidup

sehat (berolahraga).
Sebisa mungkin untuk menghindari fakto resiko yang memudahkan
terinfeksi HPV

Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan


kanker serviks, yaitu :
1)
a.
b.
-

Pencegahan Tingkat Pertama


Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya :
Kampanye kesadaran masyarakat
Program pendidikan kesehatan masyarakat
Promosi kesehatan
Pencegahan khusus, misalnya :
Interfensi sumber keterpaparan
Kemopreventif

2)
a.
b.
-

Pencegahan Tingkat Kedua


Diagnosis dini, misalnya screening
Pengobatan, misalnya :
Kemoterapi
Bedah

3) Pencegahan Tingkat Ketiga


Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker
umumnya ialah secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan
radioterapi dan operasi radikal kurang lebih sama, meskipun
sebenarnya sukar untuk dibandingkan karena umumnya yang dioperasi
penderita yang masih muda dan umumnya baik.
2. Memahami dan Menjelaskan Etika Pemeriksaan Pasien dalam Islam
IDEALNYA MUSLIMAH BEROBAT KE DOKTER WANITA
Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari
kaum Muslimah, maka menjadi kewajiban kaum Muslimah untuk
menjatuhkan pilihan kepadanya.Meski hanya sekedar keluhan yang paling

Hal | 28

ringan, flu batuk pilek sampai pada keadaan genting, semisal persalinan
ataupun jika harus melakukan pembedahan.
Berkaitan dengan masalah itu, Syaikh Bin Bz rahimahullah mengatakan:
Seharusnya para dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus,
dan dokter lelaki melayani kaum lelaki secara khusus kecuali dalam
keadaan yang sangat terpaksa. Bagian pelayanan lelaki dan bagian
pelayanan wanita masing-masing disendirikan, agar masyarakat terjauhkan
dari fitnah dan ikhtilat yang bisa mencelakakan.Inilah kewajiban semua
orang.
Lajnah D-imah juga menfatwakan, bila seorang wanita mudah
menemukan dokter wanita yang cakap menangani penyakitnya, ia tidak
boleh membuka aurat atau berobat ke seorang dokter lelaki. Kalau tidak
memungkinkan maka ia boleh melakukannya.
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang
membolehkan

untuk

menggunakan

cara

yang

mulanya

tidak

diperbolehkan.Selama mendatangkan maslahat, seperti untuk pemeliharaan


dan penyelamatan jiwa dan raganya. Seorang muslimah yang keadaannya
benar-benar dalam kondisi terhimpit dan tidak ada pilihan, (maka) ia boleh
pergi ke dokter lelaki, baik karena tidak ada ada seorang dokter muslimah
yang mengetahui penyakitnya maupun memang belum ada yang ahli.Allah
Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'm/6 ayat 119:
"(padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang
diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya)"
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus
mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati.Tidak berlaku secara
mutlak.Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar.
Sehingga tatkala seorang muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat
kepada dokter lelaki, ia harus didampingi mahram atau suaminya saat

Hal | 29

pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau


ruang periksa.
PANDANGAN ISLAM TERHADAP IKHTILAT
Yang dimaksud ikhtilat, yaitu berduanya seorang lelaki dengan seorang
perempuan di tempat sepi. Dalam hal ini menyangkut pergaulan antara
sesama manusia, yang rambu-rambunya sangat mendapat perhatian dalam
Islam
Dalam hadits di bawah ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
memperingatkan kaum lelaki untuk lebih berhati-hati dalam masalah
wanita.



"Berhati-hatilah kalian dari menjumpai para wanita, maka seorang sahabat
dari Anshar bertanya,"Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar,
wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab,"Saudara ipar adalah maut
(petaka). [HR Bukhari dan Muslim]
PERINTAH MENJAGA AURAT DAN MENAHAN PANDANGAN
Disebutkan dalam sebuah hadits:



"Dari Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seorang lelaki
melihat kepada aurat lelaki (yang lain), dan janganlah seorang wanita
melihat kepada aurat wanita (yang lain)". [HR Muslim]

Hal | 30

Daftar Pustaka
Andriyono. Kanker serviks. Sinopsis Kanker Ginekologi. Jakarta, 2003:14-28
Andriyono. Kanker serviks. Sinopsis Kanker Ginekologi. Jakarta, 2003:14-28
Arumugam, V.2011.Ca serviks. Diakses pada 11 April 2012 melalui
http://repository.usu.ac.id
Harahap RE. Neoplasia intraepithelial serviks (NIS). Jakarta: UI Press,
1984:1-77
Jong WD, Syamsuhidayat R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. EGC.
Jakarta
Jong WD, Syamsuhidayat R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. EGC.
Jakarta
Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. 2003.Robbins Basic Pathology, 7th ED.
Kusuma F, Moegni EM. Penatalaksanaan Tes Pap Abnormal. Cermin Dunia
Kedokteran 2001; 133:19-22
Mardjikoen P. Tumor ganas alat genital. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin
AB, Rachimhadhi T. Editor. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999;380-9
Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kandungan. PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta
Saunders Wolfgang A Schulz. 2005. Molecular Biology of Human Cancer.
Sjamsuddin S. Pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Cermin Dunia
Kedokteran 2001;133:9-14
Zuhroni. 2010. Pandangan Islam terhadap Masalah Kedokteran dan
Kesehatan. Universitas YARSI. Jakarta

Hal | 31

Hal | 32