Anda di halaman 1dari 17

(Gambar Rumah Gadang)

Sumber: www.google.com
ANALISA ARSITEKTUR TRADISIONAL SUMATERA 1
(RUMAH GADANG SUMATERA BARAT)
1. ANALISA PRINSIP UMUM
Latar belakang sejarah:
Suku Minangkabau merupakan sekelompok suku bangsa yang mendiami daerah
propinsi

Sumatera

Barat.

Menurut

Soeroto

(Minangkabau,

2005),

Sejarah

kebudayaan Minangkabau diperkirakan berawal sekitar 500 tahun SM, ketika rumpun
bangsa Melayu Muda masuk ke tanah Minang. Pembauran bangsa Melayu Tua dan
Melayu Muda menurunkan leluhur

suku Minangkabau sebagai pendukung

kebudayaan Perunggu dan Megalithikum. Sejarah ini tidak jauh berbeda dengan
sejarah tentang asal usul suku Batak Toba.
Sejarah suku Minangkabau banyak diceritakan dalam budaya lisan (oral),
yaitu melalui pantun, cerita atau yang yang disebut sebagai tambo. Salah satu versi
sejarah Minangkabau menyebutkan suku Minang mempercayai nenek moyang
mereka adalah salah seorang panglima perang Iskandar Zulkarnaen (sebutan
bangsa Melayu untuk Alexander the great). Disebutkan bahwa panglima perang
Iskandar Zulkarnaen diusir dari Punjab, India setelah wafatnya Iskandar Zulkarnaen.
Mereka berlayar ke Asia Tenggara dan mendarat di Minangkabau (Laporan KKL
Arsitektur ITB, 1979).

Singkat tentang Rumah Gadang:


Rumah Gadang atau Rumah Godang adalah nama untuk rumah adat
Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai
di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain oleh
masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut
dengan nama Rumah Baanjuang (Diambil dari : wikipedia.com).
Bentuk atap rumah gadang yang seperti tanduk kerbau sering dihubungkan
dengan cerita Tambo Alam Minangkabau. Cerita tersebut tentang kemenangan orang
Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.
Bentuk-bentuk menyerupai tanduk kerbau sangat umum digunakan orang
Minangkabau, baik sebagai simbol atau pada perhiasan. Salah satunya pada pakaian
adat, yaitu tingkuluak tanduak (tengkuluk tanduk) untuk Bundo Kanduang.

(Istana Pagaruyung, Salah satu rumah adat sumatera barat yang terkenal)
Sumber: www.wordpress.com
Asal-usul bentuk rumah gadang juga sering dihubungkan dengan kisah
perjalanan nenek moyang Minangkabau. Konon kabarnya, bentuk badan rumah
gadang Minangkabau yang menyerupai tubuh kapal adalah meniru bentuk perahu
nenek moyang Minangkabau pada masa dahulu. Perahu nenek moyang ini dikenal
dengan sebutan lancang.
Menurut cerita, lancang nenek moyang ini semula berlayar menuju hulu Batang
Kampar. Setelah sampai di suatu daerah, para penumpang dan awak kapal naik ke
darat. Lancang ini juga ikut ditarik ke darat agar tidak lapuk oleh air sungai.

(Bentuk gonjong diambil dari bentuk tanduk kerbau)


Sumber : www.wordpress.com
Lancang kemudian ditopang dengan kayu-kayu agar berdiri dengan kuat. Lalu,
lancang itu diberi atap dengan menggantungkan layarnya pada tali yang dikaitkan
pada tiang lancang tersebut. Selanjutnya, karena layar yang menggantung sangat
berat, tali-talinya membentuk lengkungan yang menyerupai gonjong. Lancang ini
menjadi tempat hunian buat sementara. Selanjutnya, para penumpang perahu
tersebut membuat rumah tempat tinggal yang menyerupai lancang tersebut. Setelah
para nenek moyang orang Minangkabau ini menyebar, bentuk lancang yang
bergonjong terus dijadikan sebagai ciri khas bentuk rumah mereka. Dengan adanya
ciri khas ini, sesama mereka bahkan keturunannya menjadi lebih mudah untuk saling
mengenali. Mereka akan mudah mengetahui bahwa rumah yang memiliki gonjong
adalah milik kerabat mereka yang berasal dari lancang yang sama mendarat di pinggir
Batang Kampar (Diambil dari : www.wordpress.com).

Lokasi, Topografi, Iklim


Berdasarkan hasil Kuliah Kerja Lapangan oleh Jurusan Arsitektur ITB (1979),
menyebutkan bahwa daerah Minangkabau secara geografis, ekonomis, culturalhistoris terdiri atas Darek (darat), Pasisia (pesisir) dan Rantau. Darek mencakup
dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan, lembah gunung Singgalang, Tandikat dan
lembah gunung Sang Marapi. Daerah tersebut disebut juga Alam Minangkabau.
Wilayah Darek dibagi menjadi 3 Luhak, yaitu: Luhak Anam, di lembah dataran tinggi
gunung Singgalang Marapi, berpusat di Bukit Tinggi; Luhak So Koto, di lembah
dataran tinggi gunung Sago Marapi, berpusat di Payakumbuh; Luhak Tanah Datar, di

lembah dataran tinggi gunung Tandikat-Singgalang-Marapi, berpusat di Batu Sangkar,


Pasisia meliputi daerah dataran rendah sebelah barat Bukit Barisan dan berbatasan
dengan Samudra Indonesia, meliputi Kabupaten Padang Pariaman, Kotamadya
Padang dan Kabupaten Pasisie Selatan berpusat di Painan. Sedangkan yang
termasuk Rantau adalah daerah dataran rendah sepanjang belahan timur Bukit
Barisan, meliputi Kabupaten Pasaman, Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung, dan
Kabupaten Solok.

(Peta Wilayah Suku Minangkabau)


Sumber: Soeroto (Minangkabau, 2005, p.29)

Rangkiang
Rangkiang merupakan suatu bangunan yang terdapat dihalaman sebuah rumah
gadang yang berbentuk bujur sangkar dan diberi atap ijuk bergonjong yang berfungsi

sebagai lumbung tempat penyimpanan padi yang didirikan di depan rumah gadang.
Menurut A.A. Navis (1984) terdapat beberapa jenis rangkiang pada suatu rumah
gadang, diantaranya yaitu:
- Sitinjau lauik Rangkiang jenis ini merupakan rangkiang tempat penyimpanan
padi yang akan dijual untuk membeli keperluan rumah tangga yang tidak dapat
-

dibuat atau dikerjakan sendiri.


Sibayau-bayau Rangkiang jenis ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan

padi yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.


Sitangguang lapa Merupakan jenis rangkiang yang digunakan sebagai tempat
penyimpanan padi yang akan dipergunakan sebagai cadangan pada masa

paceklik tiba.
Rangkiang kaciak Rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan
padi yang akan digunakan sebagai benih dan biaya pengerjaan penanaman

sawah pada masa tanam berikutnya.


Tabuah larangan Merupakan sebuah bangunan berbentuk persegi panjang,
beratap ijuk dan bergonjong untuk menempatkan bedug yang terbuat dari kayu
panjang. Biasa digunakan sebagai alat untuk memberikan tanda pada saat
bahaya atau pemberitahuan pada saat ada suatu acara.

(Rangkiang)
Sumber: www.wordpress.com

2. ANALISA TATA RUANG


Hasil Laporan Kerja Praktek ITB (1979) menjelaskan karakteristik tata ruang rumah
tradisional minangkabau berdasarkan dua keselarasan sebagai berikut:

Laras Koto Piliang

Mempunyai jalan masuk dibagian tengah badan bangunan pada sisi yang
terpanjang. Memiliki ruang tambahan yaitu anjung di tempat bermain putri-putri.
Anjung ini terletak dikedua ujung bangunan dan mempunyai gonjong tersendiri.
Pada anjung deretan tiang paling ujung hanya sebuah yang sampai ke tanah
yaitu bagian tengah dalam deretan tersebut. Kamar terhormat di ujung sebelah
kiri pintu masuk.

(Sketsa rumah gadang laras Koto Piliang Gajah Maharam)


Sumber: Laporan KKL ITB (1979, p.76)

(Denah rumah gadang 5 ruang 4 anjuan Laras Koto Piliang)


(Disebut juga rumah gadang 9 ruang)
Sumber: Soeroto (Minangkabau, 2005, p.72) 22

Laras Bodi Caniago


Pintu masuk rumah gadang laras ini terletak di sisi pendek bangunan.
Pada type sitinjau lauik, kedua ujung rumah diberi pengakhiran atap berbentuk
setengah perisai untuk penjorokan atap atau overstek. Sedangkan type gajah

maharam pengakhiran ujung bangunan berupa bidang dinding yang diawali dari
ujung gonjong sampai ke tanah yang berbentuk bidang segitiga diatas sebuah
segi empat. Kamar yang terhormat di sisi paling jauh dari pintu.

(Sketsa rumah gadang laras Bodi Caniago)


Sumber: Laporan KKL ITB (1979, p.77)

(Denah rumah gadang 7 ruang laras Bodi Caniago)


Sumber: Soeroto (Minangkabau, 2005, p.72)

Menurut letaknya, ruangan Rumah Gadang terdiri atas:

Ruang depan

: merupakan ruang besar, dipakai sebagai ruang

keluarga, rapat, menerima tamu dan sebagainnya

Ruang tengah

: Terdiri dari kamar-kamar, dipakai untuk kamar tidur

penghuni wanita bersama suaminya.

Ruang Anjungan

: Bangunannya lebih tinggi dari ruang depan, sebelah

kiri dan sebelah kanan dipakai untuk tempat wanita yang baru menikah.

Ruang Belakang

: Merupakan dapur tanpa kamar mandi dipancuran

diluar Rumah Gadang.

(Denah siklus perpindahan penghuni kamar)


Sumber: dokumen kelompok

Maka dalam hal ini kami menyimpulkan tata ruang didalam rumah gadang
adalah:

Publik, yaitu ruang tamu atau ruang bersama yang merupakan sebuah
ruangan lepas tanpa adanya pembatas apapun.

Semi Privat, yaitu ruang peralihan seperti bandua yang terdapat didepan
kamar tidur serta anjuang (ruang khusus) yang terdapat pada bagian ujungujung rumah gadang yang dapat kita temukan pada beberapa jenis rumah
gadang.

Privat, yaitu kamar-kamar tidur yang terdapat di dalam rumah gadang yang
dahulunya berdasarkan kepada jumlah anak gadis yang dimiliki oleh sipemilik
rumah.

Servis, yaitu dapur yang pada dahulunya merupakan dapur tradisional yang
masih menggunkan kayu sebagai bahan bakarnya

3. ANALISA TEKNIK KONSTRUKSI & MATERIAL


AHLI KONSTRUKSI SEPAKAT
Sejumlah ahli konstruksi di Sumbar sepakat, bahwa Rumah Gadang
Minangkabau memiliki arsitektur tahan gempa dan memenuhi syarat-syarat estetika
dan fungsi yang sesuai dengan kodratnya.
PADANG, HALUAN Filosofi Minangkabau Alam Takambang Jadi Guru,
Bakarano Bakajadian (bersebab dan berakibat), merupakan pengejawantahan dari
orang Minangkabau sejak dulu dalam merencanakan hunian atau tempat tinggal
yang aman, nyaman dan harmonis serta dinamis sebagaimana dinamika alam.
Menurut Eko Alfares, Dosen Arsitektur Fakultas Teknil Sipil dan Perencanaan
Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, arsitektur rumah gadang Minangkabau dalam
membangun rumah gadang tersebut, ternyata menunjukkan bahwa sejak dulu
masyarakat Minang telah lama mengadopsi teknik bangunan yang ramah gempa.
Ia menjelaskan, berdasarkan tambo Minangkabau, nenek moyang orang
minangkabau itu turun pertama kali dari lereng sebelah selatan Gunung Merapi, dan
kemudian menyebar. Namun mereka masih menemukan gunung-gunung berapi
yang aktif seperti Gunung Sago, Gunung Singgalang, Gunung Talang dan Gunung
Tandikek.
Kondisi alam yang demikian membuat wilayah Minangkabau kerap didera
gempa vulkanik. Bergerak kearah pesisir, patahan yang melintang di Samudera
Hindia, juga membawa dampak gempa tektonik yang juga sering menguncang bumi
Ranah Minang.
Mungkin itulah salah satu sebabnya yang membuat orang Minangkabau
memutar otak bagaimana membuat desain bangunan yang tepat dengan kondisi
seperti itu ujar Eko.
Menurutnya, arsitektur Rumah Gadang memiliki keunikan pada bentuk atap
yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Bentuk badan rumah segi
empat dan membesar ke atas (trapesium terbalik) menjadikan bangunan tersebut
ramah gempa.
Bentuk atapnya yang melengkung tajam seperti bentuk tanduk kerbau
sedangkan sisinya melengkung ke dalam, sedangkan bagian tengahnya rendah
seperti perahu dan secara estetika merupakan komposisi yang dinamis.

(Atap gonjong dan tanduk kerbau)


Sumber: gemala dewi FT UI, 2010
Desain bangunan seperti ini, menurut para ahli arsitektur, merupakan
konstruksi bangunan tahan gempa, imbuhnya.
Atapnya yang lancip untuk membebaskan endapan air pada ijuk yang
berlapis-lapis, sehingga air hujan akan meluncur dengan cepat. Bangunan rumah
yang membesar ke atas, berfungsi membebaskan dari terpaan tampias. Kolongnya
yang tinggi memudahkan sirkulasi udara sehingga memberikan hawa yang segar.

(Atap gonjong)
Sumber: gemala dewi FT UI, 2010

(Sirkulasi pada rumah gadang)


Sumber: gemala dewi FT UI, 2010
Posisinya rumah gadang yang berjejer mengikuti arah mata angin dari utara
ke selatan, membebaskanya dari panas matahari dan terpaan angin, jika dilihat
secara keseluruhan, arsitektur rumah gadang itu menurut syarat-syarat estetika dan
fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan,
kelarasan, keseimbangan, dan kesetangkupan dalam ketuhanannya yang padu
Hal lain yang menarik dari arsitek rumah gadang terkait dengan konsep
ramah gempa adalah, penampangnya yang segi emapt dan melebar keaatas, seperti
trapesium terbalik. Jika ditarik garis dari sisi-sisi trapesium terbalik tersebut kebawah,
maka akan bertemu satu titik dipusat bumi.
Bila diperhatikan secara seksama, penampang rumah gadang, antara
penampang badan dan atap,akan menyerupai dua segitiga yang dipertemukan salah
satu sisinya.
Saya tidak tahu rasio hubungan pertemuan titik tadi dangan pusat bumi,
barangkali hubunganya dengan katahanannya terhadap getaran akibat pergeseran
kulit bumi ujar Eko mengakhiri.
Sementara itu, Darmansyah ahli konstruksi dari Lembaga Penanggulangan
Bencana Alam, Sumatera Barat, dalam acara talkshow di Radio Siaga 107,5 FM
menyebutkan, dari sisi ilmu konstruksi bangunan rumah gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada zamannya.

Bentuk rumah gadang membuat Rumah Gadang tetap stabil menerima


guncangan dari bumi. Getaran yang datang dari tanah terhadap bangunan
terdistribusi ke semua bangunan.

(Bentuk trapesium terbalik yang akan bertemu pada satu titik di bumi)
Sumber: gemala dewi FT UI, 2010
Rumah gadang tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa
pasak sebagai sambungan membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur. Selain
itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah.
Tapak tiang dialas dengan batu sandi.
Menurutnya, batu tersebut akan berfungsi sebagai peredam getaran
gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau
ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang
mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut.

(Tapak tiang dialas dengan batu sandi)


Sumber: gemala dewi FT UI, 2010

(Sketsa tahap pembangunan rumah gadang)


Sumber: Laporan KKL ITB (1979, p.278)

(Teknik konstruksi dengan pasak sebagai sambungan)


Sumber: gemala dewi FT UI, 2010

Hal lain, dari segi pemilihan material bangunan juga dipikirkan untuk tahan lama.
Kayu untuk tiang, kuda-kuda, dinding, dan lainnya dipilih sedemikian rupa dari kayu yang
cocok dan tahan lama.
"Untuk tiang utama dipilih kayu Tareh Jua yang dikubur dirawa justru makin kuat, ini
dikenal dengan kayu besi yang susah dipaku dan tak gampang terbakar, kayu ini
disakralkan masyarakat karena kekuatannya atau dianggap mistis, padahal sebenarnya
pilihannya sangat konstruktif untuk bangunan tahan lama,"

4. KEARIFAN LOKAL ARSITEKTUR RUMAH GADANG


Fungsi utama rumah Gadang adalah sebagai tempat tinggal bersama keluarga.
Namun berbeda dengan rumah lainnya, si Gadang ini memiliki kearifan lokal tersendiri,
antara lain:

Jumlah kamar yang ada di dalam rumah Gadang bergantung pada jumlah
perempuan yang ada di dalam keluarga tersebut. Semua perempuan yang
memiliki suami mendapatkan satu kamar. Adapun perempuan tua tanpa suami
akan diberi kamar yang letaknya berada di dekat dapur. Kamar tersebut umumnya
ditempati oleh anak-anak kecil. Sementara itu, bagi gadis remaja biasanya

digabung dalam satu ruangan dan letaknya di ujung rumah yang terpisah.
Ruang di dalam rumah Gadang selalu berjumlah ganjil, antara tiga dan sebelas.
Rumah adat Sumatera utara ini didirikan di atas tanah milik bersama keluarga
induk dalam sebuah kaum. Ia juga diturunkan dari generasi yang satu ke generasi
lainnya. Pemegang warisnya adalah perempuan di keluarga tersebut

Selain kamar tidur, semua ruangan yang ada di dalam badan rumah bersifat

publik.
Di halaman rumah Gadang, umumnya terdapat dua bangunan yang disebut

dengan nama Rangkiang. Bangunan ini merupakan tempat menyimpan padi.


Pada rumah gadang terdapat bangunan yang ada pada sayap kiri pun kanan
rumah. Bangunan tersebut dikenal dengan nama anjuang atau anjungan.
Fungsinya adalah sebagai tempat untuk pengantin bersanding serta pengobatan.
Alasan inilah yang membuat rumah Gadang juga dikenal dengan nama rumah

Baanjuang.
Selain Rangkiang, tak jauh dari rumah gadang juga biasanya dibangun surau kecil
tempat semua anggota keluarga melaksanakan kegiatan beribadah, pendidikan,

juga lazim dijadikan tempat tidur laki-laki yang belum memiliki istri.
Rumah adat Sumatera Barat ini memiliki dinding yang juga tak kalah menariknya
dari atapnya. Dinding ini diukir penuh dengan sedikit membubuhkan warna seperti
merah, hijau, juga terkadang oranye. Keseluruhan elemen pada bangunan

membuat siapapun yang memandang pasti akan takjub, termasuk Anda.


Orang di rumah gadang duduk di lantai dengan bersila (laki-laki) atau bersimpuh
(perempuan). Tempat duduk seseorang ditentukan oleh fungsinya dalam
kekerabatan. Mamak rumah duduk membelakangi dinding depan dan menghadap
ke ruang tengah/bilik. Ini melambangkan mamak rumah senantiasa mengawasi
kemenakannya. Sebaliknya urang sumando duduk membelakangi bilik dan
menghadap ke pintu luar atau halaman. Ini melambangkan urang sumando
adalah tamu terhormat di rumah gadang dan merupakan abu di ateh tunggua.

Berbicara di rumah gadang memerlukan tenggang rasa yang tinggi. Raso jo


pareso menjadi patokan. Berbicara harus diiringi sopan santun yang telah diatur
sedemikian rupa.
Di rumah gadang berlaku kato nan ampek:
-

Kato mandaki, dari yang muda kepada yang lebih tua


Kato manurun, dari yang tua kepada yang lebih muda
Kato mandata, sesama orang yang kedudukannya sama
Kato malereang, urang sumando kepada mamak rumah, minantu kepada

mintuo, dan sebaliknya


Setiap perbuatan dan tindakan ada aturannya. Aturan ini diungkapkan dalam
"kato-kato", misalnya malabihi ancak-ancak, mangurangi sio-sio (dalam bertindak
jangan berlebihan) ataukato sapatah dipikiri, jalan salangkah madok
suruik (pikirkan akibat dalam melakukan sesuatu)

REFERENSI:
www.google.com (diunduh: 31 Mei 2014-02:00 am)

gemala dewi FT UI, 2010


Soeroto (Minangkabau, 2005, p.72)
www.wordpress.com