Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
No comments
Definisi
Leukemia adalah suatu keadaan keganasan sel darah putih yang dapat terjadi pada
umur, jenis kelamin dan ras apa saja bergantung pada jenis leukemianya.
Sedangkan Leukemia mieloblastik akut (LMA) atau leukemia mieloid akut disebut
juga leukemia mielositik akut adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
transformasi neoplastik dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari sel
myeloid yang berlangsung dalam waktu yang relatif cepat. Bila tidak diobati,
penyakit ini akan mengakibatkan kematian secara cepat dalam waktu beberapa
minggu sampai bulan sesudah diagnosis.
Secara epidemiologi, di negara maju seperti Amerika Serikat, LMA merupakan 32%
dari seluruh kasus leukemia. Insidens leukemia mieloblastik akut (LMA) kira-kira 23/100.000 penduduk. LMA lebih sering ditemukan pada umur dewasa (85%)
daripada anak-anak (15%). Insidens LMA umumnya tidak berbeda dari masa anakanak hingga masa dewasa muda. Sesudah usia 30 tahun, insidensi LMA meningkat
secara eksponensial sejalan dengan meningkatnya usia. LMA pada orang yang
berusia 30 tahun adalah 0,8%, pada orang yang berusia 50 tahun 2,7%, sedang pada
orang yang berusia di atas 65 tahun adalah sebesar 13,7%. Secara tidak umum tidak
didapatkan adanya variasi antar etnik tentang insidensi LMA, meskipun pernah
dilaporkan adanya insidens LMA tipa M3 yang 2,9 hingga 5,8 kali besar pada ras
Hispanik yang tinggal di Amerika Serikat dibandingkan dengan ras
Kaukasia. Ditemukan lebih sering pada laki-laki daripada wanita. LMA dapat
ditemukan sekitar 40% dari seluruh insidens leukemia.
yang lalu pengobatan penyakit ini berkembang secara cepat dan dewasa ini banyak
pasien LMA yang dapat memperbesar kemungkinan penyembuhan dari penyakitnya.
Kemajuan pengobatan LMA ini dicapai dengan regimen kemoterapi yang lebih baik,
kemoterapi dosis tinggi dengan dukungan cangkok sumsum tulang dan terapi
suportif yang lcbih baik seperti antibiotik generasi baru dan transfusi komponen
darah untuk mengatasi efek samping pengobatan. Selain itu sejak sekitar 2 dekade
tahun yang lain juga telah dikembangkan teknik diagnostik leukemia dengan cara
immunophenotyping dan analisis sitogenetik yang menghasilkan diagnosis yang
lcbih akurat.
Klasifikasi
Menurut perjalanan penyakitnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia akut dan
kronik. Dengan kemajuan pengobatan akhir-akhir ini, pasien leukemia limfoblastik
akut dapat hidup lebih lama daripada pasien leukemia granulositik kronik. Dengan
demikian pembagian akut dan kronik tidak lagi mencerminkan lamanya harapan
hidup. Namun pembagian ini masih menggambarkan kecepatan timbulnya gejala dan
komplikasi.
Menurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limfoid. Masingmasing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar, pembagian leukemia adalah
sebagai berikut:
a.
Leukemia mieloid
b. Leukemia limfoid
LMA
dengan
multilineage
dysplasia
dengan
sindrom
myelodisplasi
a tanpa
sindrom
myelodisplasi
a
LMA dan
sindrom
myelodisplast
ik yang
berkaitan
dengan
terapi akibat
obat alkilasi
akibat
epipodofiloto
ksin
(beberapa
merupakan
kelainan
limpfoid) tipe
lain
LMA yang
tidak
terspesifikasi
LMA
diferensiasi
minimal
LMA tanpa
maturasi
LMA
dengan
diferensiasi
monositik
Leukemia
monositik
akut
Leukemia
eritroid akut
Leukemia
megakariositi
k akut
Leukemia
basofilik akut
Panmielosis
akut dengan
mielofibrosis
Etiologi
Etiologi LMA secara pasti tidak diketahui. Meskipun demikian, ada beberapa faktor
yang diketahui dapat menyebabkan atau setidaknya menjadi faktor predisposisi LMA
pada populasi tertentu. Benzene merupakan zat leukomogenik untuk LMA. Selain
itu, radiasi ionik juga diketahui dapat menyebabkan LMA. Terdapat penelitian pada
orang-orang yang selamat dari serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada
tahun 1945. Efek leukomogenik dari paparan ion radiasi tersebut mulai tampak sejak
1.5tahun sesudah pengeboman dan mencapai puncak 6 atau 7 tahun sesudah
pengeboman.
Faktor lain yang merupakan predisposisi untuk LMA adalah trisomi kromosom 21
yang dijumpai pada penyakit herediter sindrom Down. Pasien sindrom Down
mempunyai risiko 10 hingga 18 kali lebih tinggi untuk menderita leukemia,
khususnya LMA tipe M7. Selain itu pasien beberapa sindrom genetik seperti sindrom
Bloom dan anemia Fanconi juga diketahui mempunyai risiko yang jauh lebih tinggi
dibandingkan populasi normal untuk menderita LMA.
Faktor lain yang memicu terjadinya LMA adalah pengobatan dengan kemoterapi
sitotoksik pada pasien tumor padat. LMA akibat terapi adalah komplikasi jangka
panjang yang serius dari pengobatan limfoma, mieloma multipel, kanker payudara,
kanker ovarium dan kanker testis. Jenis kemoterapi yang paling sering memicu
timbulnya LMA adalah golongan
alkalyting agent
dan
topoisomerase II inhobitor.
Etiological
factors in
acute
leukaemia
Unk
now
n
(usu
ally)
Her Down
edit
ary
syndro
me
Bloom
s
syndro
me
Fanco
nis
anaemi
a
Ataxia
telangi
ectasia
Kleinf
elters
syndro
me
Osteo
genesis
imperf
ecta
Wisko
ttAldric
h
syndro
me
Leuka
emia
in
sibling
s
Chroni
c
benzen
e
exposu
re
Alkyla
ting
agents
(chlora
mbucil
,
Che
melpha
mic
lan)
als
Rad
iatio
n
myelo
prolife
rative
Pred disorde
ispo
rs
sing myelo
hae
dyspla
mat
sia
olog aplasti
ical
dise
anaemi
ases
a
HTLVI
causin
g adult
T cell
leukae
mia/ly
Viru mpho
ses
ma
Patogenesis utama LMA adalah adanya blokade maturitas yang menyebabkan proses
diferensiasi sel-sel seri mieloid terhenti pada sel-sel muda (blast) dengan akibat
terjadi akumulasi blast di sumsum tulang . Akumulasi blast di dalam sumsum tulang
akan menyebabkan gangguan hematopoesis normal dan pada gilirannya akan
mengakibatkan sindrom kegagalan sumsum tulang (bone marrow failure syndrome)
yang ditandai dengan adanya sitopenia (anemia, lekopenia dan trombositopenia).
Adanya anemia akan menyebabkan pasien mudah lelah dan pada kasus yang lebih
berat sesak nafas, adanya trombositopenia akan menyebabkan tanda-tanda
perdarahan, sedang adanya leukopenia akan menyebabkan pasien rentan terhadap
infeksi, termasuk infeksi oportunis dari flora bakteri normal yang ada di dalam tubuh
manusia. Selain itu sel-sel blast yang terbentuk juga punya kemampuan untuk
migrasi keluar sumsum tulang dan berinfiltrasi ke organ-organ lain seperti kulit,
tulang, jaringan lunak dan sistem syaraf pusat dan merusak organ-organ tersebut
dengan segala akibatnya.
Manifestasi Klinis
Gejala
a.
febris juga didapatkan gejala keringat malam, pusing, mual dan tanda-tanda infeksi
lain.
c.
Fenomena perdarahan
Simptom lain yang sering disebabkan adalah fenomena perdarahan, dimana penderita
mengeluh sering mudah gusi berdarah, lebam, petechiae, epitaksis, purpura dan lainlain. Beratnya keluhan perdarahan berhubungan erat dengan beratnya
trombositopenia.
d. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan didapatkan pada 50 % penderita tetapi penurunan berat badan
ini tidak begitu hebat dan jarang merupakan keluhan utama.
Penurunan berat badan juga sering bersama-sama gejala anoreksia akibat malaise
atau kelemahan badan.
e.
Nyeri tulang
Nyeri tulang dan sendi didapatkan pada 20 % penderita LMA. Rasa nyeri ini
disebabkan oleh infiltrasi sel-sel leukemik dalam jaringan tulang atau sendi yang
mengakibatkan terjadi infark tulang.
Tanda Fisik
a. Kepucatan, takikardi, murmur
Pada pemeriksaan fisik, simptom yang jelas dilihat pada penderita adalah pucat
karena adanya anemia. Pada keadaan anemia yang berat, bisa didapatkan tanda
cardiorespiratorius seperti sesak nafas, takikardia, palpitasi, murmur, sinkope dan
angina.
b. Pembesaran organ-organ
Walaupuan jarang didapatkan dibandingkan LLA, pembesaran massa abnomen atau
limfonodi bisa terjadi akibat infiltrasi sel-sel leukemik pada penderita LMA.
kulit yang didapatkan berbentuk lesi kulit, warna ros atau populer ungu, multiple dan
general, dan biasanya dalam jumlah sedikit. Hipertrofi ini akibat infiltrasi sel-sel
leukemia dan bisa dilihat pada 15 % penderita varian MSa, 50 % MSa dan 50 % M .
4
Pada angka leukosit normal atau turun, ini dinamakan sub leukemik leukemia,
dimana masih dapat ditemukan sel blast dalam darah tepi.
b. Sel Blast darah tepi
Sel blast meningkat dalam darah tepi pada penderita LMA. Jumlah sel blast dapat
bervariasi dari nol hingga 200 x 10 / 1 median antara 15 20 x 10 /1.
9
Pada umumnya, ada korelasi antara jumlah sel blast dalam darah dan sumsum tulang
dengan pembesaran lien atau manifestasi infiltasi sel leukemik lain.
Bilamana didapati tiada sel blast dalam darah tepi dinamakan aleukemik leukemia.
Keadaan ini bisa ditemukan 5% penderita LMA.
c. Angka trombosit
Trombositopenia sebagai akibat infiltrasi sumsum tulang oleh sel-sel leukemia
ditemukan pada kebanyakan penderita. Pada keadaan yang sangat jarang ada
ditemukan trombositosis.
d. Sel eritrosit
Anemia normositik normokromik ditemukan pada sebagian besar penderita LMA.
Dalam apusan darah tepi juga didapatkan eritrosit bernukleus serta retikulositopenia.
Anemia terjadi sebagai akibat gangguan produksi sel dalam sumsum tulang yang
diakibatkan oleh infiltrasi sel-sel leukemia pada sumsum tulang.
e. Sumsum tulang
Biasanya sumsum tulang dalam keadaan hiperseluler, dimana kepadatan sel-sel
meningkat. Pada pemeriksaan mikroskopik sel-sel blat (mieloblast) dominan, jumlah
megakariosit dan sel-sel normoblast sangat menurun. Bila dilakukan biopsi dan
pengecatan retikulum akan didapatkan myelofibrosis ini dapat diperhatikan pada dua
per tiga kasus LMA.
f. Asam urat darah
Pada kira-kira separuh kasus LMA, dapat ditemukan asam urat darah meningkat dan
begitu juga pada ekskresi asam urat dalam urin, tetapi jarang menimbulkan simptom
gout.
g. Protein darah
Protein darah biasanya berubah. Hiper gamma globulin yang difus didapatkan pada
kebanyakan penderita, sedangkan albumin selalu normal waktu diagnosis dan
menurut bila lanjut. Beta globulin biasanya naik dan umumnya kenaikkan alfa
globulin didapatkan pada keadaan demam atau infeksi. Protein pengikat vitamin
B bisa meningkat dalam darah pada penderita LMA khususnya bila ditemukan
12
Pada LMA tidak selalu dijumpai leukositosis. Leukositosis terjadi pada sekitar 50%
kasus LMA, sedang 15% pasien mempunyai angka leukosit yang normal dan sekitar
35% pasien mengalami neutropenia. Meskipun demikian, sel-sel dalam jumlah yang
blast
signifikan di darah tepi akan ditemukan pada 85% kasus LMA. Oleh karena itu
sangat penting untuk memeriksa rincian jenis sel-sel leukosit di darah tepi sebagai
pemeriksaan awal, untuk menghindari kesalahan diagnosis pada orang yang diduga
menderita LMA.
Tanda dan gejala utama LMA adalah adanya rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang
disebabkan oleh sindrom kegagalan sumsum tulang sebagaimana disebutkan di atas.
Perdarahan biasanya terjadi adalam bentuk purpura atau petekia yang sering
dijumpai di ekstremitas bawah atau berupa epistaksis, perdarahan gusi dan retina.
Perdarahan yang lebih berat jarang terjadi kecuali pada kasus yang disertai dengan
DIC. Kasus DIC ini paling sering dijumpai di tenggorokan, paru-paru, kulit dan
daerah perirektal, sehingga organ-organ tersebut harus diperiksa secara teliti pada
pasien LMA dengan demam.
Pada pasien dengan angka leukosit yang sangat tinggi (>100 ribu/mm3), sering
terjadi leukostasis, yaitu terjadinya gumpalan leukosit yang menyumbat aliran
pembuluh darah vena maupun arteri. Gejala leukostasis, yaitu terjadinya gumpalan
leukosit yang menyumbat aliran pembuluh darah vena maupun arteri. Gejala
leukostasis sangat bervariasi, tergantung lokasi sumbatannya. Gejala yang sering
dijumpai adalah gangguan kesadaran, sesak nafas, nyeri dada dan priapismus. Angka
leukosit yang sangat tinggi juga sering menimbulkan gangguan metabolisme berupa
hiperurisemia dan hipoglikemia. Hiperurisemia terjadi akibat sel-sel leukosit yang
berproliferasi secara cepat dalam jumlah yang besar. Hipoglikemia terjadi karena
konsumsi gula
in vitro
yang di infiltrasi. Infiltrasi sel-sel di kulit akan menyebabkan leukemia kutis yaitu
blast
berupa benjolan yang tidak berpigmen dan tanpa rasa sakit, sedang infiltrasi selsel di jaringan lunak akan menyebabkan nodul di bawah kulit (lkoroma). Infiltrasi
blast
sel-sel ke dalam gusi. Meskipun jarang, pada LMA juga dapat dijumpai infiltrasi
blast
sitologi dari cairan serebro spinal yang diambil melalui prosedur pungsi lumbal.
Penatalaksanaan
favorable
Untuk mencapai hasil pengobatan yang kuratif harus dilakukan eradikasi selsel klonal leukemik dan memulihkan hematopoesis normal di dalam sumsum
tulang. jangka panjang hanya didapatkan pada pasien yang mencapai remisi
Survival
komplit. Dosis kemoterapi tidak perlu diturunkan karena alasan adanya sitopenia,
karena dosis yang diturunkan ini tetap akan menimbulkan efek samping berat berupa
supresi sumsum tulang, tanpa punya efek yang cukup untuk mengeradikasi sel-sel
leukemik maupun untuk mengembalikan fungsi sumsum tulang.
disini, meskipun terjadi remisi komplit tidak berarti sel-sel klonal leukemik telah
tereradikasi seluruhnya, karena sel-sel leukemik akan terdeteksi secara klinik bila
jumlahnya lebih dari 109 log sel. Jadi pada kasus remisi komplit, masih tersisa
sejumlah signifikan sel-sel leukemik di dalam tubuh pasien tetapi tidak dapat
dideteksi. Bila dibiarkan, sel-sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masamasa yang akan datang. Oleh karena itu, meskipun pasien telah mencapai remisi
komplit perlu ditindak lanjuti dengan program pengobatan selanjutnya yaitu
kemoterapi konsolidasi. Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus
kemoterapi dan menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih
besar dari dosis yang digunakan pada fase induksi. Pengobatan eradikasi sel-sel
tumor ini sebenarnya dapat menyebabkan eradikasi sisa-sisa sel hematopoiesis
normal yang ada di dalam sumsum tulang, sehingga pasien LMA akan mengalami
periode apalsia pasca terapi induksi. Pada saat tersebut pasien sangat rentan terhadap
infeksi dan perdarahan. Pada kasus yang berat kedua komplikasi ini dapat berakibat
fatal. Oleh karena itu terapi suportif berupa penggunaan antibiotika dan transfusi
komponen darah (khususnya sel darah merah dan trombosit) sangat penting untuk
menunjang keberhasilan terapi LMA.
Terapi LMA dibedakan menjadi 2 yaitu terapi untuk LMA pada umumnya dan terapi
khusus untuk leukemia promielositik akut (LPA).
Terapi standar 7+3 adalah kemoterapi induksi dengan regimen sitarabin dan
daunorubisin dengan protokol sitarabin 100mg/m2 diberikan secara infus kontinyu
selama 7 hari dan daunorubisin 45-60 mg/m2/hari iv selama 3 hari. Sekitar 30-40%
pasien mengalami remisi komplit dengan terapi sitarabin dan daunorubisin yang
diberikan sebagai obat tunggal, sedang bila diberikan sebagai kombinasi remisi
komplit dicapai oleh lebih dari 60% pasien. Bila terdapat
residual disease
dipertimbangkan adanya gagal terapi primer dan perlu dimulai terapi alternatif
dengan regimen lain.
HDAC. Regimen
terapi yang dipakai pada HDAC adalah sitarabin 2-3 g/m2 infus iv selama 1-2 jam
tiap 12 jam selama 12 dosis atau sitarabin 2-3 g/m2 selama 2 jam setiap 12 jam pada
hari 1,3 dan 5.
Jenis terapi pada pasca remisi ditentukan berdasarkan usia dan faktor prognostik,
terutama profil sitogenetik. Sebagian besar pasien usia muda memberikan respons
yang lebih baik dibanding pasien usia tua.
Bila terjadi relaps dapat diberikan lagi kemoterapi intensif dan/atau HSCT
untuk mencapai remisi komplit kedua atau hanya diberikan perawatan suportif.
Pencapaian remisi komplit kedua tidak begitu dipengaruhi karakter sitegenetik,
namun lebih dipengaruhi oleh durasi remisi komplit pertama, usia, dan ada tidaknya
komorbiditas aktif. Durasi median remisi komplit kedua umumnya kurang dari 6
bulan bila tanpa HSCT dengan
disease-free survival
sebelumnya pasien telah menjalani HSCT alogenik, namun donor untuk prosedur
tersebut umumnya terbatas.
Terapi Leukemia Promielositik Akut
kerjanya. Pengobatan LPA dengan ATRA menghasilkan angka kesembuhan lebih dari
70%.
LPA merupakan predisposisi untuk terjadinya koagulopati yang dalam hal ini
diakibatkan oleh kombinasi antara DIC dan hiperfibrinolisis primer. Pasien dengan
manifestasi koagulopati yang dalam hal ini diakibatkan oleh kombinasi antara DIC
dan hiperfibrinolisis primer. Pasien dengan manifestasi koagulopati harus segera
mendapat terapi induksi (ATRA). Pada pasien yang mengalami perdarahan yang
tidak terkendali (setelah terapi transfusi) dapat diberikan e-aminocaproic acid
(EACA) dan
tranexamid acid.
Terapi induksi LPA terdiri atas kombinasi ATRA plus kemoterapi berbasis
antrasiklin. Antrasiklin dapat menginduksi remisi pada 60-90% pasien bila
digunakan sebagai obat tunggal. Sel leukemik pasien LPA sensitif terhadap
antarsiklin karena rendahnya ekspresi Pgp dan petanda resistensi lainnya pada sel-sel
LPA dibanding dengan subtipe LMA lainnya. ATRA adalah suatu derivatif vitamin A
yang mampu menginduksi remisi klinis dengan mengaktifkan maturasi sel tanpa
menyebabkan hipoplasia sumsum tulang. Sebagai obat tunggal ATRA menginduksi
remisi pada 72-81% pasien. Umumnya ATRA mulai diberikan dalam 2-3 hari
pertama pada pasien dengan perdarahan berat untuk mengatasi koagulopati pada LPA
sebelum mulai dengan terapi berbasis antrasiklin. Cara ini akan menyebabkan angka
lekosit menjadi tidak terlalu tinggi lagi. Selain itu, cara ini menurunkan insidens
sindrom asam retinoid (
RAS).
RAS dapat terjadi pada 10-15% pasien dan umumnya terjadi 7-14 hari setelah
terapi ATRA. RAS jarang terjadi selama penyembuhan akibat aplasia setelah
kemoterapi dan selama terapi pemeliharaan. RAS adalah suatu sindrom kebocoran
kapiler dengan manifestasi demam, distres respirasi, dan munculnya infiltrat pada
paru. Dapat juga terjadi peningkatan berat badan, efusi pleura atau efusi perikard,
dan gagal ginjal. Lekositosis berat merupakan faktor prognostik walaupun PAS
sering juga terjadi pada lekopenia. Bila angka lekosit lebih dari 5000-10000/uL,
ATRA dan kemoterapi diberikan bersama-sama pada saat awal terapi. Bila saat
monoterapi ATRA terjadi lekositosis lebih dari 10000/uL induksi kemoterapi harus
segera dimulai. Tanpa melihat angka lekosit dan kemungkinan sepsis netropenia, bila
terdapat sesak dan infiltrat paru, dengan atau tanpa demam, terapi deksametason
harus segera diberikan (10mg iv 2 kali sehari). Terapi ATRA dapat dihentikan sampai
RAS menunjukkan perbaikan.
Sekitar 20%-30% pasien LPA ang mencapai remisi komplit dengan terapi
berbasis ATRA akan mengalami relaps dan umumnya kelompok pasien ini juga
resisten terhadap terapi ATRA yang berikutnya. Arsenik, suatu racun yang sudah
digunakan sebagai obat pada pengobatan tradisional Cina sejak beberapa abat yang
lalu, diketahui mempunyai efek pengobatan yang positif pada pasien ATRA yang
relaps atau resisten terhadap terapi ATRA. Salah satu komponen arsen yang sering
digunakan di dalam klinik untuk terapi LPA yang relaps atau resisten terhadap ATRA
adalah arsenic trioxide (ATO). Sebagai terapi LPA, ATO mempunyai mekanisme
Prognosis
Dengan terapi agresif, 40 -50 % penderita yang mencapai remisi akan hidup lama
(30-40 % angka kesembuhan keseluruhan). Penderita yang mengalami relaps setelah
mendapat kemoterapi atau transplantasi autolog dapat diterapi dengan CST
allogenetik sebagai terapi penyelamatan. Beberapa subtipe morfologi atau genetik
LMA mempunyai prognosis lebih baik.
50-85% penderita LMA memberikan respons yang baik terhadap pengobatan.
20-40% penderita tidak lagi menunjukkan tanda-tanda leukemia dalam waktu 5
tahun setelah pengobatan; angka ini meningkat menjadi 40-50% pada penderita yang
menjalani pencangkokan sumsum tulang.
Prognosis yang paling buruk ditemukan pada penderita yang berusia diatas 50 tahun,
penderita yang menjalani kemoterapi dan terapi penyinaran untuk penyakit lain. Pada
golongan M5 dan M6, semua pasien meninggal dunia sebelum 2 tahun, sedangkm
M3 mempunyai harapan hidup paling lama.
Daftar Pustaka
1.
2.
Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Ed. 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1996.
3.
Desen, Wan. Buku Ajar Onkologi Klinis Ed. 2. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. 2008
4.
Hoffbrand, A. V, J. E. Pettit, P.A.H Moss. Kapita Selekta Hematologi edisi 4.Jakarta: EGC, 2005
5.
Permono B, Ugrasena IDG. Leukemia Akut dalam Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005
6.
Sudoyo, Aru W., Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata K, Siti Setiati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Ed. IV. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, 2006.
7.
Supandiman, Iman. Prof. dr. DSPD. H. Hematologi Klinik Ed. 2. Penerbit Alumni : Bandung. 1997.
8.
Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Ed. 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2003
9.
Kurniada A. Leukemia Mieloblastik Akut. Dalam: Sudoyo A., Setiyohadi B., Alwi I., (Ed.). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2006. Hal: 716-719.
10.
http://emedicine.medscape.com/article/197802-overview.
11.
Karen Seiter, MD, Professor, Department of Internal Medicine, Division of Oncology/Hematology, New York Medical College Contributor Information and Disclosures. Acute Myelogenous Leukemia. 2009
12.
Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Media Aesculapius: Fakultas Kedokteran UI. Hal: 561-562.
13.
14.
T Everington, R J Liesner, A H Goldstone. Acute Leucemia. Ed:Provan D. Clinical Haematology. Second edition. BMJ books. 2003. P:30-34
15.
Estey E., Faderl S., Kantarjian M. Hematologic Malignancies:Acute Leukemias. Springer Berlin Heiderberg. 2008. P:1-57.
16.
Beutler E., Marshall A., Lichtman M.. Williams Hematology 6th edition. November 2000. P:126-177.
17.
http://www.cumc.columbia.edu/dept/ps/2004/Academic/second_year/hematology/html/intro/ppframe.htm
Kata Kunci : Leukemia Mieloblastik Akut, AML, Acute Myeloblastic Leukemia, Ilmu Penyakit Dalam, Skripsi, Referat, Makalah, Jurnal, Tesis, Desertasi, Karya Tulis Ilmiah, Hematologi.
Share This:
Google+
Stumble
Digg
Related Posts:
Leukemia Limfoblastik AkutDefinisi Leukemia merupakan suatu penyakit keganasan sel darah putih yang berasal dari sumsum tulang, disebabkan oleh beberapa faktor resik Read More
Leukemia Limfositik KronikDefinisi Seperti yang telah kita singgung di pokok bahasan sebelumnya bahwa leukemia merupakan suatu keadaan keganasan dari sel darah putih, sedan Read More
Leukemia Mieloblastik AkutDefinisi Leukemia adalah suatu keadaan keganasan sel darah putih yang dapat terjadi pada umur, jenis kelamin dan ras apa saja bergantung pada jeni Read More
Leukemia merupakan golongan penyakit yang ditandai dengan penimbunan sel darah putih abnormal dalam sumsum tulang. Jumlah sel y Read More
RECENT POSTS
TAMPONADE JANTUNG
Definisi Tamponade jantung adalah sindrom klinik dimana terjadi...
Apr 13 2016 | Read more
KARDIOMIOPATI RESTRIKTIF
Definisi
KARDIOMIOPATI HIPERTROFIK
Definisi
KARDIOMIOPATI DILATASI
Definisi
KOR PULMONAL
Definisi
CATEGORIES
Ilmu Penyakit
DalamHematologi KardiologiNefrologi GastroenterologiInfeksi
Tropik Pulmonologi
POPULAR POSTS
Trombosis Vena
Definisi
Trombosis adalah terjadinya bekuan darah di dalam sistem
kardiovaskuler termasuk arteri, vena, ruangan jantun...
Angina Pectoris
Definisi
Angina pektoris berasal dari bahasa Yunani, ankhon, yang
berarti mencekik dan pectus yang berarti dada. Jadi,...
Kor Pulmonal
Definisi
Kor pulmonal / Cor Pulmonale atau disebut juga Pulmonary
Heart Disease adalah suatu kondisi gagal jantung sisi k...
Leukemia Mielositik Kronik atau disebut juga Leukemia Granulositik
Kronik
Definisi
Leukemia merupakan golongan penyakit yang ditandai
dengan penimbunan sel darah putih abnormal dalam sumsum tulang. ...
Anemia Aplastik
Definisi
Anemia aplas t ik adalah suatu keadaan berkurangnya sel-sel
darah pada darah tepi (pansitopenia), sehubungan denga...
PAGES
Home
Disclaimer
About Us
Contact Us
Privacy Policy
ARSIP ARTIKEL
Copyright 2016
by
| Design by
Saeed Salam
| Theme