Anda di halaman 1dari 25

Presentasi Kasus

Luka Bakar 24% grade II

Oleh :
dr. Rani Agitah

Dokter Pembimbing :
dr. Ayatullah, Sp.B
dr. Azmi Rosya Forayoga, Sp.B
Dokter Pendamping :
dr. Siti Rusmawardiani A
dr. Tri Susanty

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYU AGUNG
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar merupakan suatu kejadian yang paling sering terjadi di
Indonesia dan negara lainnya. Luka bakar yang terjadi dapat disebabkan oleh
panas, listrik ataupun kimia. Dan kecelakaan luka bakar ini dapat terjadi dimanamana seperti di rumah, kantor ataupun tempat umum yang lainnya. 80%
kecelakaan yang menyebabkan luka bakar terjadi di rumah dan korban yang
terbanyak ternyata anak-anak baik terkena air panas, tumpahan kuah sayur, api
dan lain sebagainya.
Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat
meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara
langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa
keadaan yang mengancam kehidupan. Cedera luka bakar terutama pada luka bakar
yang dalam dan luas masih merupakan penyebab utama kematian. Oleh sebab itu
penderita luka bakar memerlukan perawatan secara khusus, karena luka bakar
berbeda dengan luka tubuh lain (seperti tusuk, tembak atau sayatan). Ini
disebabkan karena luka bakar terdapat keadaan seperti mengeluarkan banyak air,
serum, darah, terbuka untuk waktu yang lama dan ditempati kuman dengan
patogenitas tinggi (mudah terinfeksi).
Berdasarkan latar belakang diatas diperlukan suatu pendekatan terapeutik
yang sesuai bagi penderita luka bakar maka diperlukan suatu pemahaman tentang
luka bakar dan penanganan tentang luka bakar secara cepat dan tepat.

BAB I
LAPORAN KASUS
I.1

IDENTIFIKASI

Nama

: Ny. K

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 42 tahun

Status

: Menikah

Pekerjaan

: IRT

Alamat

: Cinta Manis

Agama

: Islam

Bangsa

: Indonesia

MRS

: Rabu, 01 Juli 2015

I.2

AUTOANAMNESIS

Keluhan Utama :
Luka bakar api pada wajah, leher, kedua lengan dan kedua tungkai.
Riwayat Perjalanan Penyakit :
1 jam sebelum masuk rumah sakit penderita mengaku terkena api saat sedang
menghidupkan lampu minyak tanah. Api tersebut mengenai daerah wajah, leher,
lengan kanan serta tungkai kanan dan kiri. Sesak nafas (-), mual muntah (-),
pasien tidak terlihat sukar bicara. Pasien lalu dibawa ke RS.
Riwayat terperangkap dalam ruangan saat terkena api disangkal
Riwayat penyakit lainnya disangkal

I.3

PEMERIKSAAN FISIK
2

A. Survei Primer
A: Baik
B: RR = 20x/mnt
C: TD 110/70 mmHg, N = 85x/mnt
B. Status Generalis
1. Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: compos mentis

3. Nadi

: 85 x/mnt

4. Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

5. Temperatur

: 36,70C

6. Pernafasan

: 20 x/mnt

7. Kepala

: Konjungtiva pucat (-), sklera ikterik (-), pupil isokor


diameter 3 mm, Refleks cahaya (+/+). Alis terbakar (+/+)
jelaga pada wajah (-/-), sputum (-/-), rambut hidung (-/-)
Lihat status lokalis

8. Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, pembesaran


kelenjar tiroid tidak ada.
Lihat status lokalis

9. Thorax

: Bentuk thoraks normal simetris kanan dan kiri, sela iga


tidak melebar, ginekomastia tidak ada, tidak ditemukan
venectasis dan spider nevi.

Paru-paru
Inspeksi

: Statis, dinamis simetris

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba

Perkusi

: Batas atas jantung ICS II, kanan linea sternalis dextra, kiri
LMC sinistra

Auskultasi
10. Abdomen

: HR: 88x/m, reguler, murmur (-) gallop (-).


: Datar, lemas, NT (-), Hepar dan lien tidak teraba, timpani,
bising Usus (+) Normal

11. Ekstremitas

: Lihat status lokalis

C. Status Lokalis
Presentase Luka bakar api :

Wajah

Leher

Lengan kanan

4 % grade II

Tungkai kanan

8 % grade II

Tungkai kiri

--------------------------------------------------

5 % grade II
:

Jumlah

: 24 %

Foto Klinis

1 % grade II

6 % grade II

I.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hematologi :

hemoglobin

: 15,5

(n : 14-18 g/dl)

leukosit

: 18.400

(n: 5000-10000)

trombosit

: 314.000

(n:200.000-500.000)

hitung jenis

: 0/0/1/68/21/10

Kimia Klinik :

BSS

Ureum : 25 mg/dl

creatinin

: 0,6 mg/dl

Na

: 138 mmol/L (n: 135-155mmol/L)

: 4,3 mmol

KL

: 124 mmol

I.5

: 147 mg/dl
(n: 15-39)
(n: 0,9-1,3)

(n: 3,5-5,5)

DIAGNOSIS KERJA
Luka bakar api 24% grade II.

I.6

PENATALAKSANAAN
-

O2 nasal 3L / mnt

IVFD RL gtt LX /menit (II line) dalam 8 jam pertama, dilanjutkan dengan

IVFD RL gtt L/mnt dalam 16 jam selanjutnya

Perhitungan rumus Baxter


= 4 ml x % luka bakar x BB
= 4 ml x 24 x 60
= 5760 cc
8 jam pertama = 2880 cc, 16 jam selanjutnya = 2880 cc

IVFD RL gtt XXX/mnt

Kebutuhan cairan maintenance :


6

I.7

= basal requirement + Evaporative Losses


= {(1500 x BSA) + ([25 + %TBSA burn] x BSA)}
= (1500 x 1,78) + [(25 + 26) x 1,78]
= 2767 = 2800 cc/24 jam
Inj. Cefriaxone 2 x 1 gr
Inj. Ketorolac 2 x 1 amp
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Inj. ATS 1500 IU
Salep mebo
Pemasangan kateter uretra monitor urine output 60cc/jam
Kebutuhan kalori
Rumus Curreri :
(25kkal x BB) + (40kkal x % luka bakar)
= (25 x 60) + (40 x 24)
= 1500 + 960
= 2460 kkal
Kebutuhan karbohidrat (50 60%) = 1700 kkal
Kebutuhan lemak (25 30%)
= 340 kkal
Kebutuhan protein (10 15%)
= 420 kkal
Pro debridement

PROGNOSIS :
quo ad vitam : bonam
quo ad functionam : bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi
Luka bakar merupakan luka yang dapat disebabkan berbagai penyebab

seperti panas (api, cairan panas, arus listrik, radiasi) bahan kimia, dan penyebab

lain dengan akibat serangan yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan lebih
dalam1,2.
II.

Etiologi
Berdasarkan penyebab luka bakar, luka bakar dibedakan atas beberapa

jenis penyebab, antara lain :


1. luka bakar karena api
2. luka bakar karena air panas
3. luka bakar karena bahan kimia
4. luka bakar karena listrik, petir dan radiasi
5. luka bakar karena sengatan sinar matahari
6.

III.

luka bakar karena ledakan bom1,3


Patofisiologi
Akibat pertama luka bakar adalah shok karena kaget dan kesakitan,

pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak dan permeabilitasnya meningkat.
Meningkatnya permeabilitas menyebabkan oedem dan menimbulkan bullae. Hal
ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler, tubuh kehilangan
cairan antar -1% blood volume setiap 1% luka bakar. Kerusakan kulit akibat
luka bakar juga menyebabkan kehilangan cairan karena penguapan yang
meningkat (insensible water loss meningkat).
Apabila luka bakar kurang dari 20% maka tubuh pada umumnya masih
mampu mengompensasi, namun bila luka bakar terjadi lebih dari 20% dapat
terjadi shok hipovolemik dengan gejala-gejala seperti gelisah, pucat, nadi kecil
dan cepat, tekanan darah menurun, jumlah produksi urine yang turun pada luka
bakar dapat mengakibatkan kegagalan ginjal, hal ini disebabkan terjadi proses
inflamasi sistemik yang akan meningkatkan permeabilitas vaskular sehingga dapat
terjadi kebocoran plasma.1
Pada luka bakar yang mengenai muka dapat terjadi kerusakan mukosa
jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang tersisa. Gejala yang timbul
adalah sesak napas, takipnue, stridor, suara serak, dan berdahak berwarna gelap

karena berjelaga, dapat juga terjadi keracunan CO karena CO memiliki afinitas


yang lebih kuat terhadap hemoglobin bila dibandingkan dengan O2.1
Selain itu, pasien dengan luka bakar juga rentan terhadap infeksi, hal ini
disebabkan rusaknya jaringan kulit yang seharusnya berfungsi sebagai barrier
terhadap mikroorganisme. Selain itu, pada pasien dengan luka bakar berat juga
umunya terjadi immunocompromized yang diakibatkan berkurangnya antibodi
bila terjadi suatu proses infeksi.1
Diagnosis1

IV.

Diagnosis luka bakar ditegakkan berdasarkan:


1. Luas
2. Kedalaman
3. Penyebab
4. Lokasi
IV.a

Luas Luka Bakar2,3,4


Perhitungan luka bakar berdasarkan rules of nine dari Wallace, yaitu

pembagian tubuh atas bagian-bagian 9 % atau kelipatan dari 9 seperti sebagai


berikut

Kepala dan leher

9%

Lengan

18 %

Badan depan

18 %

Badan belakang

18 %

Tungkai

Genitalia / perineum

36 %
1%

Total

100 %

Gambar 1. rule of nine, luas luka bakar


Atau untuk perhitungan yang lebih mudah dapat dipakai luas telapak tangan
penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Sedangkan untuk anak umur
5 tahun (menurut Lund and Browder):

Kepala

Tungkai, kaki

Bagian yang lain sama dengan dewasa

14%
16%

Gambar 1.2 modifikasi rule of nine menurut Lund and Browder

10

Anak usia 1 tahun (menurut Lund and Browder) :

Kepala, leher

18%

Tungkai,kaki

14%

Bagian lain sama dengan dewasa

Gambar 1.3 modifikasi rule of nine menurut Lund and Browder4


IV.b

Kedalaman Luka Bakar1

Luka Bakar Derajat I


Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis, ditandai dengan kemerahan,
nyeri karena ujung-ujung saraf sensori teriritasi, dan setelah 24 jam timbul
gelembung yang kemudian kulit mengelupas, penyembuhan kulit spontan tanpa
pengobatan khusus.
Luka Bakar Derajat II
Kerusakan sampai lapisan dermis, ditandai dengan timbulnya bullae, luka
bakar dengan kedalaman ini sering kali disertai dengan rusaknya struktur di
bawah kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebaseus (minyak), atau jaringan
kolagen sangat terasa nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi. Dalam fase
penyembuhan akan tampak daerah bintik-bintik biru dari kelenjar sebacea dan
akar rambut
Luka bakar derajat dua dibagi menjadi :
11

A. Superfisial
Mengenai epidermis dan lapisan atas dermis, akan sembuh dalam 2
minggu tanpa terbentuk sikatrik.
B. Dalam
Kerusakan seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel tinggal
sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertofi,
penyembuhan melalui jaringan granulasi tipis dan sempit akan ditutup oleh epitel
yang berasal dari dasar luka selain dari tepi luka.biasanya penyembuhan luka
terjadi lebih dari satu bulan.
Luka Bakar Derajat III
Kerusakan seluruh lapisan kulit atau lebih dalam sampai mencapai
subkutan, otot dan tulang. Tampak epitel terkelupas dan daerah putih karena
koagulasi protein dermis. Tidak dijumpai bullae, tidak dijumpai rasa nyeri dan
hilang sensasi karena ujung-ujung sensori rusak.
Dermis yang tebakar kemudian mengering dan menciut, disebut esker.
Bila eskar melingkar akan menekan arteri, vena dan syaraf perifer. Yang tertekan
pertama biasanya saraf dengan gejala rasa kesemutan. Sayatan longitudinal
lapisan dermis dan tanpa memotong vena akan membebaskan penekanan dan
tanpa perdarahan yang berarti. Setelah minggu kedua eskar mulai lepas karena lesi
diperbatasan dengan jaringan sehat kemudian tampak jaringan granulasi dan
memerlukan penutupan dengan skin graft. Bila granulasi dibiarkan, akan menebal
dan berakhir dengan jaringan parut yang menyempit. Keadaan ini disebut

12

kontraktur.

Gambar 2.1 Derajat Luka Bakar

13

Tabel 1. Derajat Luka Bakar1


IV.c

Penyebab Luka Bakar

1. Luka bakar panas (thermal)


Luka bakar panas (thermal) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak
dengan api, cairan panas atau objek-objek panas lain.
2. Luka bakar kimia (chemical)
Luka bakar kimia (chemical) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit
dengan asam atau basa kuat. Luka bakar yang disebabkan basa menimbulkan
dampak yang lebih buruk

karena dapat menyebabkan nekrosis likuefaksi.

Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar
menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi
misalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk
keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang
industri, pertanian dan militer.1,2

3. Luka Bakar listrik (Electric)

14

Luka bakar listrik (electric) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi
listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh
lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai
mengenai tubuh.
4. Luka bakar radiasi
Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif.
Tipe injuri ini seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada
industri atau dari sumber radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia
kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga
merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi.
V.

Komplikasi Luka Bakar

1. Syok karena kehilangan cairan.


2. Sepsis / toksis.
3. Gagal Ginjal Akut
VI.

Prognosis :
Untuk menentukan prognosis pasien luka bakar, dapat dilihat dari berbagai

faktor yang mempengaruhinya, antara lain yaitu :


1. Derajat luka bakar.
2. Luas permukaan
3. Daerah yang terkena, perineum, ketiak, leher dan tangan karena sulit
perawatan dan mudah kontraktur.
4. Usia dan kesehatan penderita.
5. Penanganan awal yang telah diberikan.

VII.

Penggolongan Luka Bakar

15

1. Luka bakar berat

Derajat II, luas luka 25% pada orang dewasa dan 20% pada anak-anak.

Derajat III, luas luka bakar 10%

Luka

bakar

mengenai

muka,

telinga,

mata,

kaki,

tangan,

dan

genitalia/perineum

Luka bakar disertai trauma jalan napas dengan cedera inhalasi, trauma
jaringan lunak yang luas, atau fraktura.

Luka bakar akibat listrik.

2. Luka bakar sedang

Derajat II, luas luka bakar 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anakanak.

Derajat III kurang dari 10%, kecuali muka tangan, kaki.

3. Luka bakar ringan

Derajat II kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10% pada
anak-anak.

Derajat III kurang dari 2%3

Sedangkan kriteria luka bakar yang perlu dirujuk ke pusat luka bakar adalah
sebagai berikut :

Luka bakar derajat II dan III lebih dari 10% luas permukaan tubuh pada
penderita yang berumur kurang dari 10 tahun atau lebih dari 50 tahun.

Luka bakar derajat II dan III lebih dari 20% di luar usia tersebut di atas.

Luka bakar derajat II dan III yang mengenai wajah, mata, telinga, tangan,
kaki, genitalia, atau perineum atau yang mengenai kulit sendi-sendi utama.

Luka bakar derajat III lebih dari 5% luas permukaan tubuh pada semua umur.

Luka bakar listrik, termasuk tersambar petir (kerusakan jaringan bawah kulit
hebat dan menyebabkan gagal ginjal akut serta komplikasi lain)

Luka bakar kimia


16

Trauma inhalasi

Luka bakar pada penderita yang karena penyakit yang sedang dideritanya
dapat mempersulit penanganan, memperpanjang pemulihan atau dapat
mengakibatkan kematian.

Luka bakar dengan cedera penyerta yang menambah resiko morbiditas dan
mortalitas, ditangani dahulu di UGD sampai stabil, baru dirujuk ke pusat luka
bakar.

Anak-anak dengan luka bakar yang dirawat di rumah sakit tanpa petugas dan
peralatan yang memadai, dirujuk ke pusat luka bakar.

Penderita luka bakar yang memerlukan penanganan khusus seperti masalah


sosial, emosional atau yang rehabilitasinya lama, ternasuk adanya tindakan
kekerasan pada anak atau anak yang ditelantarkan.5

VIII. Fase Luka Bakar

Untuk mempermudah penanganan luka bakar maka dalam perjalanan


penyakitnya dibedakan dalam 3 fase yaitu akut, subakut dan fase lanjut. Namun
demikian pembagian fase menjadi tiga tersebut tidaklah berarti terdapat garis
pembatas yang tegas diantara ketiga fase ini. Dengan demikian kerangka berpikir
dalam penanganan penderita tidak dibatasi oleh kotak fase dan tetap harus
terintegrasi. Langkah penatalaksanaan fase sebelumnya akan berimplikasi klinis
pada fase selanjutnya.
1. Fase akut / fase syok / fase awal.
Fase ini mulai dari saat kejadian sampai penderita mendapat perawatan di
IRD /Unit luka bakar. Pada fase ini penderita luka bakar, seperti penderita trauma
lainnya, akan mengalami ancaman dan gangguan airway (jalan napas), breathing
(mekanisme bernafas) dan gangguan circulation (sirkulasi). Gangguan airway
tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terjadi trauma , inhalasi
dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi merupakan penyebab kematian
utama penderita pada fase akut. Pada fase ini dapat terjadi juga gangguan
keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat cedera termal/panas yang
17

berdampak sistemik. Adanya syok yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut


dengan keadaan hiperdinamik yang masih berhubungan akibat problem
instabilitas sirkulasi.
2. Fase Subakut
Fase ini berlangsung setelah fase syok berakhir atau dapat teratasi. Luka
yang
terjadi dapat menyebabkan beberapa masalah yaitu :
a. Proses inflamasi atau infeksi.
b. Problem penutupan luka
c. Keadaan hipermetabolisme.
3. Fase Lanjut
Fase ini penderita sudah dinyatakan sembuh tetapi tetap dipantau melalui rawat
jalan. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang
hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan timbulnya kontraktur.2,3,4
IX.

Penatalaksanaan

IX.a. Pertolongan Pertama Pada Luka Bakar


1. Jauhkan dari sumber trauma, dengan cara api dipadamkan, kulit yang panas
disiram air, bahan kimia disiram air mengalir. Cara mematikan api yaitu
penderita dibaringkan lalu ditutup kain basah atau berguling-guling.
2. Bebaskan jalan napas misalnya dengan membuka baju yang terbakar,
menghisap lendir pada jalan pernapasan, bila ada keraguan pada jalan napas
dilakukan trakeostomi.
3. Perbaiki pernapasan (resusitasi pernapasan).
4. Perbaiki sirkulasi dengan pemberian cairan infus.
5. Bila terbakar diruang tertutup sangat mungkin terjadi keracunan CO dengan
gejala sakit kepala dan muntah-muntah, maka diberikan O2 murni.
6. Pada luka bakar akibat trauma asam / basa, bilas tubuh yang terbakar dengan
air yang mengalir terus menerus minimal selama 30 menit.

18

7. Pakaian, alas dan penutup luka diganti dengan yang steril.


IX.b. Resusitasi Cairan
1. Formula Evans
Hari 1 : berat badan(kg) x % luka bakar x 1cc(elektrolit/Nacl)
berat badan(kg) x % luka bakar x 1cc koloid
dekstrose(D5W)10% 2000cc
Hari 2 : berat badan(kg) x % luka bakar x 1/2cc(elektrolit/Nacl)
berat badan(kg) x % luka bakar x 1/2cc koloid
dekstrose(D5W)10% 2000cc
monitor urine; -1cc per jam
Hal yang harus diperhatikan :
1. Jenis cairan
2. Permeabilitas akan membaik setelah 8 jam pasca trauma.
3. Koloid, setelah permeabilitas pembuluh darah membaik, koloid diberikan
dalam bentuk plasma.
4. Penderita yang datang dengan gangguan sirkulasi dalam keadaan syok
hipovolemik.
2. Formula Baxter
Dewasa hari 1 : berat badan x % luas luka bakar x 4cc ringer laktat per 24 jam
Anak hari 1

: ringer laktat : dextran = 17:3


Berat badan(kg) x % luas luka bakar x 2cc (RL:D) + kebutuhan
faal

Kebutuhan faal:
1 tahun

: berat badan x 100cc

1-3 tahun

: berat badan x 75cc

3-5 tahun

: berat badan x 50cc

19

Pemberian cairan

1. volume cairan diberikan 8 jam pertama


2. volume sisa diberikan 16 jam berikutnya.
Dewasa hari 2 : koloid : 500-2000 cc + glukosa 5% , untuk mempertahankan
cairan
Anak hari 2

: sesuai kebutuhan faal

Selanjutnya setelah resusitasi selesai dilakukan, maka pemberian cairan


selanjutnya sesuai dengan jumlah cairan maintenance.1,3,6 Jumlah kebutuhan cairan
maintenance ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Kebutuhan maintenance = Basal Requirement + Evaporative Losses
= {(1500 x BSA) + ([25 + %TBSA burn] x BSA)}
IX.c. Nutrisi
Luka bakar terutama yang lebih dari 20% menyebabkan terganggunya
keseimbangan dalam tubuh, di antaranya adalah terjadinya berbagai macam
perubahan metabolisme. Tunjangan nutrisi pada penanganan luka bakar
memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas dan morbiditas,
karena ketidakmampuan tubuh untuk mengkompensasi perubahan metabolisme
protein, karbohidrat, lemak dan kebutuhan energi. Untuk menghitung kebutuhan
kalori pada pasien luka bakar dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Rumus Curreri :
(25kkal x BB) + (40kkal x % luka bakar)

Kebutuhan karbohidrat (50 60%)


Kebutuhan lemak (25 30%)
Kebutuhan protein (10 15%)3

IX.d. Perawatan Luka:


1. Pencucian dengan larutan deterjen encer
2. Kulit compang-camping dibuang
3. Bila luka utuh 5 cm cairan dihisap 5cc dibiarkan

20

4. Luka dikeringkan, diolesi mercorochrom atau silver sulfa diazine


5. Perawatan terbuka atau tertutup dengan balutan
6. Pasien dipindahkan ke ruangan steril
X.

Luka Bakar Yang Perlu Perawatan Khusus

1. Luka bakar listrik


2. Luka bakar dengan trauma inhalasi
3. Luka bakar kimia
4. Luka bakar dengan kehamilan3
Kesimpulan
Kasus luka bakar merupakan suatu kasus trauma yang berat yang
memerlukan penanganan dan penatalaksanaan yang kompleks dengan biaya
cukup tinggi serta angka morbiditas dan mortalitas yang dipengaruhi beberapa
faktor antara lain faktor penderita, faktor pelayanan petugas, faktor fasilitas dan
faktor cederanya. Untuk penanganan luka bakar perlu diketahui fase luka bakar,
penyebab luka bakar, derajat kedalaman luka bakar dan luas luka bakar.
Pertolongan pertama pada luka bakar, sangat mempengaruhi perjalanan penyakit
dan prognosis pada penyakit ini.

BAB III

21

ANALISIS KASUS

Seorang perempuan berumur 42 tahun berinisial Ny K datang ke RS


dengan keluhan luka bakar api pada wajah leher, lengan kanan dan kedua tungkai.
Dari riwayat perjalanan penyakit didapatkan bahwa 1 jam SMRS
penderita terkena api saat sedang menghidupkan lampu minyak tanah. Sesak nafas
(-), sukar bicara (-).
Berdasarkan pemeriksaan fisik status generalis didapatkan

penderita

tampak sakit sedang, vital sign dalam keadaan normal, KGB, paru-paru, jantung,
thorax dan abdomen tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan sekunder
didapatkan luka bakar kimia yang mengenai wajah 5%, leher 1%, lengan kanan
4%, tungkai kanan 8%, tungkai kiri 6%. Sehingga didapatkan totalnya 24%.
Sedangkan untuk gradenya, luka bakar digolongkan dalam grade II.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah
lengkap. Hasil pemerikasaan darah rutin umumnya dalam batas normal namun
dengan jumlah leukosit meningkat. Pada pemeriksaan kimia klinik dan hitung
jenis hasilnya juga masih berada dalam batas normal.
Diagnosis pasien ini adalah luka bakar api 24 % grade II. Berdasarkan
diagnosis ini maka dalam penggolongan derajat luka bakar, pada pasien ini
termasuk luka bakar derajat sedang.
Penatalaksanaan yang dilakukan antara lain pemasangan IVFD RL dengan
gtt LX/mnt (II line) dalam 8 jam pertama dilanjutkan dengan gtt L/mnt dalam 16
jam selanjutnya. Pemberian antibiotik spektrum luas yaitu dengan Inj. Cefriaxone
2 x1 gr, analgetik diberikan inj. Ketorolac 2 x 1 amp, inj ranitidin 2 x 1 amp, inj
ATS 1500 IU. Sedangkan untuk kebutuhan nutrisi pada pasien ini, dihitung
dengan menggunakan rumus Curreri sebagai berikut :
(25kkal x BB) + (40kkal x % luka bakar)
= (25 x 60) + (40 x 24)
= 2460 kkal

22

Selain itu juga dipasang kateter uretra untuk monitor urine output pada pasien ini.
Terakhir direncanakan tindakan debridement untuk mempercepat proses
penyembuhan kulit dan mengurangi risiko munculnya infeksi.
Prognosis pada kasus ini untuk quo ad vitamnya adalah bonam dan quo ad
functionamnya adalah bonam. Terdapat beberapa hal yang menentukan prognosis
ini di antaranya yaitu penanganan awal pada saat kejadian, pada pasien ini setelah
terjadi luka bakar, pakaian yang melekat pada tubuh pasien telah terlepas. Selain
itu pasien juga langsung dibawa ke RS setelah kejadian.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Klein, Matthew. 2007. Thermal, Chemical and Eectrical Injury in Grabb and
Smiths Plastic Surgery, Sixth Edition. Lippincott Williams and Wilkins.
2.

Bagian Bedah Staf Pengajar FK UI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.
Jakarta: Bina Rupa Aksara,435-442

3. Noer, M. Sjaifuddin,Dkk. 2006. Penanganan Luka Bakar. Surabaya :


Airlangga University Press
4. Asosiasi Luka Bakar Indonesia. 2005. Petunjuk Praktis Penatalaksanaan Luka
Bakar. Jakarta: Komite Medik Asosiasi Luka Bakar Indonesia.
5. American College Of Surgeon Committee On Trauma.2004.ATLS. Chicago.
6.

R Sjamsuhidajat, Wim De Jong. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku
Kedokteran. EGC.

24