Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit gagal ginjal kronik menurut Fakhrudin (2013)
merupakan salah satu masalah utama kesehatan di dunia.
Penyakit ginjal menjadi penyebab kematian di seluruh dunia
terutama pada penderita hipertensi dan diabetes (Erni S.,
2013).

Badan

Kesehatan

Dunia

(WHO)

menyebutkan

pertumbuhan jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2013


telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Yagina (2014)
mengemukakan angka kejadian gagal ginjal di dunia secara
global lebih dari 500 juta orang dan yang harus menjalani
hidup dengan bergantung pada cuci darah (hemodialisis) 1,5
juta orang.

Menurut United States Renal Data System

(USRDS), prevalensi pada orang Asia adalah 11%. Prevalensi


gagal ginjal kronik yang disertai dengan diabetes mellitus
adalah 20,5%, hipertensi adalah 15,7%, dan penyakit jantung
adalah 18,4%. (USRDS, 2014)
Kejadian

penyakit

gagal

ginjal

di

Indonesia

semakin

meningkat. Jumlah penderita sekitar empat kali lipat dalam 5


tahun terakhir. Saat ini diperkirakan gagal ginjal terminal di
Indonesia

yang

membutuhkan

cuci

darah

atau

dialisis

mencapai 150.000 orang. Namun penderita yang sudah


mendapatkan terapi dialisis baru sekitar 100.000 orang.
Perhimpunan

Nefrologi

Indonesia

(Pernefri)

melaporkan,

setiap tahunnya terdapat 200.000 kasus baru gagal ginjal


stadium akhir (Kemenkes RI, 2016). Prevalensi gagal ginjal

kronik usia

15 tahun di Sumatera Barat menurut Pusat

Data dan lnformasi Kementerian Kesehatan Rl tahun 2014


berdasarkan diagnosis dokter menurut Provinsi adalah 0,2%
yang angkanya berada pada rata-rata prevalensi seluruh
provinsi di Indonesia.
Hemodialisis masih sebagai terapi utama dalam penanganan
gangguan ginjal kronik, namun memiliki dampak bervariasi,
diantaranya komplikasi intradialisis, efek hemodialisis kronik
berupa fatique. Fatique memiliki prevalensi yang tinggi pada
populasi pasien dialisis (Kring & Crane, 2009). Pada pasien
yang menjalani hemodialisis dalam waktu lama, gejala
fatique dialami 82% sampai 90% pasien (Kring & Crane,
2009).
Pasien yang sudah lama menjalani hemodialisis akan memiliki
kadar ureum dan kreatinin yang tinggi. Ureum yang tinggi
akan mengganggu produksi hormon eritropoietin, akibatnya
jumlah sel darah merah menurun atau yang disebut anemia
(Thomas,

2003).

Pasien

menjalani

hemodialisis

akan

mengalami lelah, letih, lesu yang merupakan gejala fatigue


(Sullivan, 2009). Kelelahan tidak hanya disebabkan oleh
anemia tetapi proses lama dari hemodialisa yang bisa
memakan waktu 5 jam yang akan menimbulkan stres fisik.
Menurut Theory of Unpleasant Symptoms (TOUS) yang
berisikan tentang konsep bahwa mengelola satu gejala
kemungkinan untuk memainkan peran penting dalam gejala
lain. Menurut Koyama (2010), dalam Septwi (2013), meneliti
788 pasien hemodialisa dan menemukan bahwa terdapat
hubungan

antara

fatique

dengan

meningkatnya

resiko

penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu pengukuran fatique


2

diperlukan

untuk

menentukan

level

dan

meniminalkan

progresifitas dan komplikasi yang terjadi akibat fatique pada


pasien hemodialisis.
Kelelahan (fatigue) adalah suatu fenomena fisiologis, suatu
proses terjadinya keadaan penurunan toleransi terhadap
kerja fisik. Penyebabnya sangat spesifik bergantung pada
karakteristik kerja tersebut (Septiani, 2010). Fatique yang
dialami tersebut merupakan salah satu masalah keperawatan
yang

memerlukan

berdampak

penanganan

pada

perubahan

karena

kondisi

persepsi,

tersebut

berkurangnya

kemampuan menyelesaikan masalah (Craven & Hirnle, 2000),


serta memicu gangguan kardiovasculer (Koyama, 2010).
Pelatihan relaksasi dapat menjadi salah satu terapi
komplementer bagi pasien yang mengalami fatique pasca
hemodialisis. Relaksasi adalah salah satu usaha

untuk

mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk


mencapai

suatu

keadaan

yang

rileks,

dan

akan

mempengaruhi kondisi seseorang (Suryaningsih, 2006). Salah


satu teknik relaksasi yang dapat dilatihkan kepada seseorang
adalah yang dikembangkan oleh Davis, Keith dan Newstrom
(1993),

menyatakan

pernafasan,

berdasar

meditasi,

atas

visualisasi,

relaksasi

progresif,

hipnose,

otogenik,

penghentian pikiran, dan penyangkal ide-ide irasional.


Sebelumnya

sudah ada

penelitian tentang

penanganan

fatique pada pasien setelah menjalani hemodialisa dengan


cara Breathing Exercise di RSPAD Gatot Subroto Jakarta tahun
2013 oleh Septiwi. Latihan ini bukanlah merupakan latihan
fisik tetapi teknik jiwa dan tubuh. Sesuai penelitian Sulistini,
dkk.

tahun

Mempengaruhi

2012

dalam

Fatique

pada

judul

Faktor-Faktor

Pasien

yang

yang

Menjalani
3

Hemodialisis

dimana

disampaikan

bahwa

diperlukannya

penelitian lebih lanjut tentang efek dari latihan fisik terhadap


fatique pada pasien hemodialisis.
Ada beberapa macam meditasi yang paling populer yaitu;
guided

meditation, mindfulness

meditation, dan moving

meditation. Moving meditation (MM) adalah meditasi yang


mengandalkan gerakan dapat membuat badan tetap sehat,
bugar dan lentur (Sumarno, 2015). Meditasi ini sangat sesuai
dengan gejala fatique yang dialami pasien hemodialisa. Jurnal
yang terkait dengan moving meditation ini adalah Meditative
Movement as a Category of Exercise: Implications for
Research oleh Linda Larkey, Roger Jahnke, Jennifer Etnier, and
Julie Gonzalez tahun 2009 dalam penelitian ini didapatkan
hasil bahwa dimensi yang relevan dari elemen kunci MM,
seperti frekuensi, durasi, jenis gerakan, tingkat tenaga,
deskripsi pernapasan, dan pencapaian keadaan santai dapat
mempengaruhi hasil kesehatan dengan cara yang sama, dan
mungkin berbeda dari olahraga.
Salah satu jenis moving meditation yaitu latihan eight-forms of moving
meditation (delapan bentuk meditasi gerak). Eight-forms of moving
meditation (EFMM) merupakan gerakan tai chi (atau tai ji quan seperti yang
dikenal di Cina) yang telah disederhanakan menjadi delapan gerakan
sederhana (China Sports, 1980). Penelitian dari luar negeri yang terkait yaitu
dengan judul Eight-Forms of Moving Meditation in Community-Dwelling
Middle-Aged and Older Adults oleh Chang, M.Y. (Taipei City), Lin C.L.
(Taichung), Wu, T.M. (Washington), Chu, M.C. (Taipei City), Huang, T.H.
(Keelung), Chen, H.Y. (Taichung) pada tahun 2013 dengan hasil penelitian
para peserta yang mengikuti EFMM menunjukkan kinerja yang signifikan
dan positif pada FRT, TGUG, dan Olst dengan mata terbuka dan mata tertutup
4

dibandingkan pada kelompok kontrol, dan ditarik kesimpulan hasil penelitian


menunjukkan bahwa EFMM adalah strategi yang efektif untuk meningkatkan
keseimbangan dan mobilitas fungsional dan mencegah jatuh di antara orang
dewasa setengah baya dan lebih tua yang tinggal di komunitas.
Latihan eight-forms of moving meditation adalah meditasi
dengan posisi berdiri dan duduk. Gerakan meditasi ini
dilakukan dengan cara lambat dan halus.Gerakan yang
dilakukan low-impact exercise (latihan dampak rendah) dan
simple exercise (latihan sederhana) dan dapat dilakukan
hampir di mana saja. Secara fisiologis, gerakan yang lembut
dari delapan bentuk penyerdehanaan tai chi ini dapat
menjadi pilihan latihan yang baik bagi seseorang yang
mengalami kelelahan dan kelemahan. Selain itu, teknik
pernafasan yang dalam dan gerakan yang lambat yang
digunakan pada eight forms of moving meditation akan
membuat

konsentrasi

oksigen

dalam

darah

meningkat

sehingga kebutuhan oksigen di jaringan akan terpenuhi dan


aliran darah menjadi lebih lancar. Tim riset dari Madison
sebuah

Universitas

Wisconsin

telah

menemukan,

untuk

pertama kalinya, bahwa sebuah program pendek dalam


Meditasi Sadar menghasilkan perubahan positif jangka
panjang pada otak maupun fungsi sistem kekebalan tubuh.
Penemuan tersebut menemukan bahwa meditasi, yang telah
lama dipromosikan sebagai sebuah tehnik untuk mengurangi
kelelahan dan stress, mungkin menghasilkan efek biologi
penting yang dapat meningkatkan kegembiraan seseorang.
(Combes ,2016)
Eight forms of moving meditation merupakan bagian dari
strategi holistic self-care untuk mengatasi berbagai keluhan
5

seperti fatigue, nyeri, gangguan tidur, stress dan kecemasan


karena meditasi gerak ini bermanfaat bagi tubuh dan pikiran,
dan dapat dilakukan saat berjalan, berdiri, duduk atau
berbaring, sehingga kita selalu sadar sedang santai di tubuh
dan pikiran. Dengan berlatih kita akan selalu nyaman dan
pada setiap saat menikmati kebahagiaan meditasi dan
sukacita Dharma (Dharma Meditation Center, 2016).
Melalui studi pendahuluan yang dilakukan di RSUD Prof. Dr.
Achmad Mochtar Kota Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat
didapatkan data bahwa untuk penyakit gagal ginjal saja pada
tahun 2015 memiliki pasien 332 orang belum untuk penyakit
ginjal

lainnya,

oleh

karena

itu

pasien

yang

menjalani

hemodialisa pada tahun 2015 memiliki 7.037 kunjungan.


Menurut Kepala Ruangan di Ruang Hemodialisa

belum

terlaksana terapi komplementer berupa latihan fisik untuk


menangani gejala

fatique pada pasien yang menjalani

hemodialisa.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat dari latar belakang diatas
peneliti ingin meniliti apakah ada Pengaruh dari Eight-Forms
of Moving Meditation terhadap Penurunan Fatique pada
Pasien Rawat Jalan post-RSUD Prof. Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi pada Tahun 2016.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pelatihan eightforms of moving meditationterhadap penurunan fatique
pada pasien menjalani hemodialisa di ruang hemodialisa
RSUD Prof. Dr. Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi tahun
2016.
6

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi rata-rata fatique sebelum diberikan
eight-forms

of

moving

meditationterhadap

pasien

setelah menjalani hemodialisa di RSAM Bukittinggi


tahun 2016.
b. Mengidentifikasi rata-rata fatique setelah diberikan
eight-forms of moving meditationterhadap terhadap
pasien

setelah

menjalani

hemodialisa

di

RSAM

Bukittinggi tahun 2016.


c. Mengidentifikasi selisih rata-rata penurunan fatique
antara sebelum dan sesudah sesudah diberikan eightforms of moving meditationterhadap pasien setelah
menjalani hemodialisa di RSAM Bukittinggi tahun
2016.
D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti hanya membahas tentang
pengaruh dari eight-forms of moving meditation terhadap
penurunan fatique pada pasien Rawat Jalan yang menjalani
hemodialisa dilakukan di Ruang Hemodialisa RSUD Prof. Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi pada tahun 2016. Peneliti
meneliti pengaruh latihan ini karena masih banyaknya pasien
hemodialisa yang mengeluhkan adanya rasa kelelahan saat
hemodialisa. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini
adalah fatique assessment scale (FAS)

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk menambah atau meningkatkan wawasan dan
pengetahuan serta menjadi pengalaman berharga bagi
7

peneliti dalam melakukan penelitian tentang Pengaruh


Eight-Forms of Moving Meditationterhadap Fatique Pada
Pasien Post-Haemodialysis di RSUD Prof. Dr. Achmad
Mochtar (RSAM) Bukittinggi tahun 2016.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Untuk dapat menjadikan latihan eight-forms of moving
meditationsebagai salah satu bahan ajar dalam mata ajar
Terapi Komplementer, sehingga dapat mengembangkan
mutu pendidikan dan hasil yang diperoleh dapat dijadikan
sebagai

bahan

pendukung

dan

perbandingan

untuk

penelitian selanjutnya.
3. Bagi Lahan
Sebagai bahan
khususnya

masukan

perawat

di

bagi
Ruang

petugas

kesehatan

Hemodialisa

RSAM

Bukittinggi untuk dapat menjadikan latihan eight-forms of


moving
gejala

meditationsebagai
fatique pada

terapi

alternatif

terhadap

pasien hemodialisa agar dapat

menurunkan fatique dengan tujuan pasien mendapatkan


pelayanan

yang

bermutu

dan

prima

sehingga

meningkatkan semangat dalam menjalani pengobatan


rutin hemodialisa dan dapat diharapkan latihan ini masuk
dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit
dalam penanganan pasien hemodialisa.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA
A. Gagal Ginjal
8

Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut


sampah metabolik tubuh atau melakukan fungsi regulernya.
Suatu bahan yang biasanya dieliminasi di urin menumpuk
dalam cairan tubuh akibat gangguan ekskresi renal dan
menyebabkan gangguan fungsi endokrin dan metabolik,
cairan, eletrolit, serta asam-basa. Gagal ginjal merupakan
penyakit penyakit sistemik dan merupakan jalur akhir yang
umum dari berbagai penyakit traktus urinarius dan ginjal.
(Smeltzer dan Bare, 2015)
1. Gagal Ginjal Akut
a. Pengertian
Gagal ginjal akut adalah sekumpulan gejala yang
mengakibatkan disfungsi ginjal secara mendadak atau
penurunan fungsi ginjal secara tiba tiba yang
biasanya, tapi tidak seluruhnya reversible (Nursalam
dan Fransisca, 2009). Gagal ginjal akut (GGA) adalah
suatu sindrom klinik akibat adanya gangguan fungsi
ginjal yang terjadi secara mendadak (dalam beberapa
jam sampai beberapa hari) yang menyebabkan retensi
sisa metabolisme nitrogen (urea-kreatin) dan non
nitrogen,

dengan

antau

tanpa

disertaio

oliguria.

Tergantung dari keparahan dan lamanya gangguan


fungsi ginjal, retensi sisa metabolisme tersebut dapat
disertai dengan gangguan metabolik lainnya seperti
asidosis dan hiperkalemia, gangguan keseimbangan
cairan serta dampak terhadap berbagai organ tubuh
lainnya (Sudoyo, dkk, 2006). Gagal ginjal akut (acute
renal failure, ARF) merypakan suatu sindrom klinis
yang ditkitai dengan fungsi ginjal yang menurun
secara cepat, (biasanya dalam beberapa hari) yang
9

menyebabkan azotema yang berkembang cepat. Laju


filtrasi

glomerulus

menyebabkan

yang

kadar

menurun

kreatinin

dengan

serum

cepat

meningkat

sebanyak 0,5 mg/dl/hari dan kadar nitrogen urea


darah sebanyak 10 mg/dl/hari dalam beberapa hari.
(Price dan Wilson, 2015)
b. Etiologi
Berbagai

kelainan

dapat

menyebabkan

gangguan

fungsi ginjal yang bersifat mendadak. Penyumbatan


saluran kemih, contohnya oleh batu ginjal dapat
menghentikan ekskresi ginjal, meskipun ginjal tetap
utuh paling tidak pada awalnya. Pada hemolisis dan
penghancuran sel otot (miolisis), hemoglobin atau
mioglobin

difiltrasi

glomerulus

dan

secara

berurutan

dipresipitasikan

di

melalui

dalam

lumen

tubulus yang asam, terutama karena konsenrasinya di


tubulus meningkat akibat absorpsi cairan. Sumbatan
yang diakibatkannya menyebabkan pembentukan urin
menjadi terganggu. Fungsi ginjal dapat juga terhenti
akibat penyakit ginjal yang berkembang sangat cepat
misal glomerulonefritis atau pengaruh merusak toksin
terhadap ginjal.

(S. Stefan dan L. Florian, 2007).

Menurut Price dan Wilson 2015, penyebab gagal ginjal


akut intrinsik adalah:
1) Nekrosis Tubular Akut
a) Pascaiskemik. Syok,
terbuka,

bedah

sepsis,

aorta

azotemia prarenal berat)


b) Nefrotoksik
i) Nefrotoksik eksogen;
kontras

teriodinasi

bedah

(semua

jantung

penyebab

antibiotik,

media

(terutama

pada
10

penderita
pelarut

diabetes),
(misalnya

logam
karbon

berat,

dan

tetraklorida,

etilene glikol, metanol).


Nefrotoksin endogen; pigmen intratubular;

ii)

hemoglobin; mioglobil, protein intratubular;


mieloma multipel, dan kristal intratubular;
asam urat.
2) Penyakit vaskular atau glomerulus ginjal primer
a)
Glomerulonefritis
progresif
cepat
atau
b)
c)

pascastreptokokus akut
Hipertensi maligna
Serangan akut pada ginjal kronis yang terkait-

pembatasan garam atau air


3) Nefritis tubulointerstisial akut
a)
Alergi: beta-laktam (penisilin,
b)

sefalosporin);

sulfonamid
Infeksi (misal, pielonefritis akut)

c. Manifestasi Klinis
Menurut Nursalam dan Fransisca (2009), manifestasi
klinis dari GGA adalah:
1) Pasien tampak sangat

menderita

dan

letargi

disertai mual persisten, muntah, dan diare.


2) Kulit dan membran mukosa kering akibat dehidrasi,
dan napas mungkin berbau urine (feto uremik).
3) Manifestasi sistem saraf (lemah, sakit kepala,
kedutan otot, dan kejang).
4) Perubahan pengeluaran produksi urine (sedikit,
dapat mengandung darah, BJ sedikit rendah, yaitu
1.010).
5) Peningkatan BUN (tetap), kadar kreatinin, dan laju
endap

darah

(LED)

tergantung

katabolisme

(pemecahan protein), perfusi renal, serta asupan


protein.

Serum

kreatinin

meningkat

pada

kerusakan glomerulus.
11

6) Hiperkalemia

akibat

glomerulus

serta

penurunan

laju

filtrasi

katabolisme

protein

menghasilkan pelepasan kalium seluler ke dalam


cairan tubuh.
7) Asidosis metabolik akibat oliguria akut sehingga
pasien

tidak

metabolikseperti

dapat

mengeliminasi

substansi

jenis

muatan

asam

yang

dibentuk oleh proses metabolik normal.


8) Abnormalitas Ca++ dan PO4. Peningkatan serum
fosfat mun gkin terjadi. Serum kalsium mungkin
menurun sebagai respons terhadap penurunan
absorpsi kalsium di usus dan sebagai mekanisme
kompensasi terhadap peningkatan kadar serum
fosfat.
9) Anemia

terjadi

akibat

penurunan

produksi

eritropoietin, lesi saluran pencernaan, penurunan


usia eritrosit, dan kehilangan darah (biasanya dari
saluran pencernaan).
d. Patofisiologi
Hilangnya fungsi ginjal secara mendadak dan hampir
lengkap akibat kegagalan sirkulasi renal atau disfungsi
tubulus dan glomerulus yang dimanifestasikan dengan
anuria (urine kurang dari 50 ml/24 jam), oliguria (urine
kurang

dari

400-500

ml/24

jam),

peningkatan

konsentrasi serum urea (azotermia) atau BUN, kreatinin


serum, hiperkalemia, dan retensi sodium (Nursalam
dan Fransisca, 2009). Kehilangan darah dan cairan
menganggu

perfusi

ginjal

dan

filtrasi

glomerulus

karena sirkulasi sentral memperlakukan ginjal seperti


organ perifer, berarti aktivasi simpatis menyebabkan
konstriksi pembuluh darah ginjal melalui adrenoseptor12

. Akibatnya terjadi gagal ginjal iskemik akut (S.


Stefan dan L. Florian, 2007).

e. Penatalaksanaan
Ginjal memiliki kemampuan pulih luar biasa dari
penyakit. Oleh karena itu, tujuan penanganan gagal
ginjal akut adalah untuk menjaga keseimbanan kimiawi
normal dan mencegah komplikasi sehingga perbaikan
jaringan ginjal dan pemeliharaan fungsi ginjal dapat
terjadi. Penatalaksanaan gagal ginjal akut menurut
Smeltzer dan Bare (2015):
1) Dialisis
Dialisis
dapat
dilakukan

untuk

mencegah

komplikasi gagal ginjal akut yang serius, seperti


hiperkalemia,

perikarditis

dan

kejang.dialisis

memperbaiki abnormalitas biokimia; menyebabkan


cairan, protein dan natrium dapat dikonsumsi
secara

bebas;

kecendrungan

secara

perdarahan;

menghilangkan
dan

membantu

penyembuhan luka. Hemodialisis, hemofiltrasi atau


dialisis peritonial dapat dilakukan.
2) Penganan Hiperkalemia
Pasien akan dipantau akan adanya hiperkalemia
melalui serangkaian pemeriksaan kadar elekrolit
serum ( nilai kalium > 5.5 mEq; SI: 5.5 mmol/L),
perubahan

EKG

(tinggi

puncak

gelombang

rendah atau sangat tinggi), dan perubahan status


klinis.
3) Mempertahankan Keseimbangan Cairan
a) Pertimbangan nutrisional, diet protein dibatasi
sampai 1 g/kg selama fase oligurik untuk
13

menurunkan pemecahan protein dan mencegah


akumulasi produk akhir toksik. Kebutuhan kalori
dipenuhi

dengan

pemberian

diet

tinggi

karbohidrat. Makanan dan cairan mengandung


kalium dan fosfat dibatasi.
b) Cairan IV dan diuretik
c) Koreksi asidosis dan peningkatan kadar fosfat.
d) Pemantauan
berlanjut
selama
fase
penyembuhan
2. Gagal Ginjal Kronik
a. Pengertian
Penyakit ginjal kronik adalah proses patofisiologis
dengan

etiologi

yang

beragam,

mengakibatkan

penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada


umumnya berakhir dengan gagal ginjal (Sudoyo,
Setiyohadi, Alwi, dkk, 2006).Penyakit ginjal kronik atau
penyakit

renal

tahap

akhir

(ESRD)

merupakan

gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible


di

mana

kemampuan

mempertahankan

tubuh

metabolisme

gagal

dan

untuk

keseimbangan

cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia/ retensi


urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Smeltzer
&

Bare,

2015).

Gagal

ginjal

kronik

merupakan

penurunan fungsi jaringan ginjal hingga ginjal sudah


tidak mampu menjalankan fungsinya yang akibatnya
dapat menyebabkan kegagalan ginjal (Black & Hawks ,
2009). Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses
patofisiologis

dengan

etiologi

yang

beragam,

mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progesif,


dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal.
14

Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditkitai


dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada
suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti
ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi
ginjal (FKUI, 2006).
b. Etiologi
Menurut Smeltzer & Bare (2015), gagal ginjal kronik
dapat disebabkan

oleh

penyakit

sistemik

seperti

diabetes melitus glomerulonefritis kronis, pielonefritis,


hipertensi yang tidak dapat dikontrol, obstruksi traktus
urinarius,

lesi

herediter

seperti

penyakit

ginjal

polokistik, gangguan vaskuler dan infeksi, medikasi


atau agen toksik. Menurut Sylvia Anderson (2006)
klasifikasi penyebab gagal ginjal kronik adalah sebagai
berikut;

infeksi

tubulointerstitial,

penyakit

peradangan , penyakit vaskuler hipertensif, gangguan


jaringan ikat, gangguan congenital dan herediter,
penyakit metabolic, nefropati toksik, dan nefropati
obstruktif.
Semua

kondisi

yang

menyebabkan

fungsi

ginjal

menurun dapat meningkat risiko terjadinya gagal


ginjal

tahap

akhir

glumerulonefritis
nefrotoksin.

seperti,

kronik,

Selain

itu,

gagal

ginjal

akut,

penyakit

polisistik

ginjal,

penyakit

sistemik

seperti

hipertensi, diabetes mellitus, lupus erythematosus,


poliarteritis, dan amyloidosis juga dapat menyebabkan
terjadinya gagal ginjal kronik tahap akhir (Black &
Hawks , 2009).
c. Manifestasi Klinis
15

Menurut Smeltzer dan Bare (2015) tanda dan gejala


1)

penyakit ginjal kronik didapat antara lain :


Kardiovaskuler: hipertensi, pitting edema (kaki,
tangan, sekrum), edema periorbital, pembesaran

2)

vena leher.
Integumen : warna kulit abu-abu mengkilat, kulit
terang dan bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipis

3)

dan rapuh, rambut tipis dan kasar.


Pulmoner : krekles, sputum kental dan liat, napas

4)

dangkal, pernafasan kussmaul.


Gastrointestinal: nafas berbau amonia, ulserasi dan
perdarahan

pada

mulit,

anoreksia,

mual

dan

muntah, konstipasi dan diare, perdarahan dari


5)

saluran GI.
Neurologi: kelemahan

dan

keletihan,

konfusi,

disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa


panas pada telapak kaki, perubahan perilaku
d. Patofisiologi
Secara ringkas patofisiologis gagal ginjal kronis pada
awalnya

tergantung

pada

penyakit

yang

mendasarinya, tapi dalam perkembangan selanjutnya


proses yang terjadi kurang lebih sama. Pengurangan
massa ginjal mengakibatkan hipertrofi struktural dan
fungsional nefron yang masih tersisa sebagai upaya
kompensasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya 11
hiperfiltrasi, yang di ikuti oleh peningkatan tekanan
kapiler

dan

aliran

darah

glomerulus.

Adanya

peningkatan aktivitas aksis renin angiotensin


aldosteron
terhadap

intrarenal,
terjadinya

ikut

memberikan

hiperfiltrasi,

kontribusi

sklerosis,

dan

progresifitas tersebut. Pada stadium dini penyakit


ginjal kronik, terjadi kehilangan daya cadang ginjal,
16

pada keadaan basal LFG masih normal atau malah


meningkat. Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan
terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, yang
ditkitai dengan peningkatan kadar serum urea dan
kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60 %,
pasien

masih

belum

merasakan

keluhan

(asimptomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar


serum urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG 30
%, mulai terjadi keluhan pada pasien seperti, nokturia,
badan

lemah,

mual,

nafsu

makan

kurang

dan

penurunan berat badan. Sampai pada LFG di bawah 30


%, pasien memperlihatkan gejala dan tkita uremia
yang nyata seperti, anemia, peningkatan tekanan
darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium,
pruritus, mual, muntah. Pada LFG di bawah 15 % akan
terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan
pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal
antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada
keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadium
gagal ginjal. (Sudoyo, 2007)
e. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis
penyakit

ginjal

kronik

Rencana
sesuai

penatalaksanaan

dengan

derajatnya

menurut Sudoyo, dkk., (2007), antara lain:


1) Terapi Spesifik terhadap Penyakit Dasarnya
Waktu yang paling tepat untuk terapi penyakit
dasarnya adalah sebelum terjadinya penurunan
LFG sehingga perburukan fungsi ginjal tidak terjadi.
Pada ukuran ginjal yang masih normal secara
ultrasonografi,

biopsi

dan

pemeriksaan

histopatologi ginjal dapat menentukan indikasi


17

yang tepat terhadap terapi spesifik. Sebaliknya,


bila LFG sudah menurun sampai 20-30% dari
normal, terapi terhadap penyakit dasar sudah tidak
banyak bermanfaat.
2) Pencegahan dan Terapi terhadap Kondisi
Komorbid penting sekali untuk mengikuti dan
mencatat kecepatan penurunan LFG pada pasien
Penyakit Ginjal Kronik. Hal ini untuk mengetahui
kondisi komorbid (superimposed factors) yang
dapat memperburuk keadaan pasien. Faktor-faktor
komorbid antara lain, gangguan keseimbangan
cairan, hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi
traktus urinarius, obstruksi traktus urinarius, obatobat

nefrotoksik,

bahan

raddiokontras,

atau

peningkatan aktivitas penyakit dasarnya.


3) Menghambat Perburukan Fungsi Ginjal
Faktor utama penyebab perburukan fungsi ginjal
adalah terjadinya hiperfiltrasi glomerulus dengan
cara

penggunaan

obat-obatan

nefrotoksik,

hipertensi berat, gangguan elektrolit (hipokalemia).


4) Pembatasan Asupan Protein
Diet protein dibatasi sampai 1 g/kg selama fase
oligurik untuk menurunkan pemecahan protein dan
mencegah

akumulasi

produk

akhir

toksik.

Kebutuhan kalori dipenuhi dengan pemberian diet


tinggi

karbohidrat.

Makanan

dan

cairan

mengandung kalium dan fosfat dibatasi.


5) Terapi Farmakologis
Terapi farmakologi bertujuan untuk mengurangi
hipertensi,

memeperkecil

risiko

gangguan

kardiovaskuler juga memperlambat pemburukan


kerusakan nefron. Beberapa obat antihipertensi,
terutama

penghambat

enzim

konverting
18

angiotensin (Angiotensin Converting Enzym/ ACE


inhibitor).
6) Pencegahan

dan

Terapi

terhadap

Penyakit

Kardiovaskuler
Hal-hal yang termasuk dalam pencegahan dan
terapi

penyakit

kardiovaskuler

adalah

pengendalian diabetes, pengendalian hipertensi,


pengendalian dislipidemia, pengendalian anemia,
pengendalian hiperfosfatemia dan terapi terhadap
kelebihan cairan dan gangguan keseimbangan
elektrolit.
7) Pencegahan dan Terapi terhadap Komplikasi
Penyakit ginjal kronik mengakibatkan berbagai
komplikasi yang manifestasinya sesuai dengan
derajat penurunan fungsi ginjal yang terjadi.
8) Terapi Pengganti Ginjal
Terapi pengganti ginjal dilakukan pada Penyakit
Ginjal Kronik stadium 5, yaitu pada LFG kurang dari
15ml/mnt. Terapi pengganti tersebut dapat berupa
hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi
ginjal.

B. Hemodialisis
1. Pengertian
Definisi dialisis merupakan suatu proses suatu proses
difusi zat terlarut dan air secara pasif melalui suatu
membran berpori dari satu kompartemen cair menuju
kompartemen

cair

lainnya.

Hemodialisis

dan

dialisis

peritonial merupakan dua teknik utama yang dilakukan


dalam dialisis, dan prinsip dasar kedua teknik itu sama;
difusi zat terlarut dan air dari plasma ke larutan dialisis
19

sebagai respons terhadap perbedaan konsentrasi atau


tekanan tertentu (Price dan wilson, 2015). Hemodialisa
adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah
buangan. Hemodialisa digunakan bagi pasien dengan
tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut
yang

membutuhkan

dialisis

waktu

singkat.

( Nursalam,2009)
2. Tujuan
Tujuan dari hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat
nitrogen yang toksik dari dalam darah pasien ke dializer
tempat

darah

tersebut

dibersihkan

dan

kemudian

dikembalikan ketubuh pasien. Ada tiga prinsip yang


mendasari kerja hemodialisa yaitu difusi, osmosis dan
ultrafiltrasi.

Bagi

penderita

gagal

ginjal

kronis,

hemodialisa akan mencegah kematian. Namun demikian,


hemodialisa

tidak

menyebabkan

penyembuhan

atau

pemulihan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi


hilangnya

aktivitas

metabolik

atau

endokrin

yang

dilaksanakan ginjal dan tampak dari gagal ginjal serta


terapinya terhadap kualitas hidup pasien (Cahyaningsih,
2009).
3. Indikasi
Pada umumya indikasi dari terapi hemodialisa pada gagal
ginjal kronis adalah laju filtrasi glomerulus ( LFG ) sudah
kurang dari 5 mL/menit, sehingga dialisis dianggap baru
perlu dimulai bila dijumpai salah satu dari hal tersebut
dibawah :
a. Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata
20

b. K serum > 6 mEq/L


c. Ureum darah > 200 mg/Dl
d. pH darah < 7,1
e. Anuria berkepanjangan ( > 5 hari )
f. Fluid overloaded (Sudoyo,2007).
4. Kontraindikasi
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontraindikasi dari
hemodialisa

adalah

hipotensi

yang

tidak

responsif

terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom


otak organik. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra
indikasi

dari

didapatkan

hemodialisa

akses

vaskuler

adalah
pada

tidak

mungkin

hemodialisa,

akses

vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi.


Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah
penyakit

alzheimer,

demensia

multi

infark,

sindrom

hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan


keganasan lanjut.
5. Prinsip dan Cara Kerja
Hemodialisis terdiri dari 3 kompartemen; 1) kompartemen
darah, 2) kompartemen cairan pencuci (dialisat), dan 3)
ginjal buatan (dialiser). Darah dikeluarkan dari pembuluh
darah vena dengan kecepatan aliran tertentu, kemudian
masuk ke dalam mesin dengan proses pemompaan.
Setelah terjadi proses dialisis, darah yang telah bersih ini
masuk ke pembuluh balik, selanjutnya beredar di 13
dalam tubuh. Proses dialisis (pemurnian) darah terjadi
dalam dialiser. Prinsip kerja hemodialisis adalah komposisi
solute

(bahan

terlarut)

suatu

larutan

(kompartemen
21

darah) akan berubah dengan cara memaparkan larutan ini


dengan

larutan

lain

(kompartemen

dialisat)

melalui

membran semipermeabel (dialiser). Perpindahan solute


melewati membran disebut sebagai osmosis. Perpindahan
ini terjadi melalui mekanisme difusi dan UF. (Daurgirdas et
al., 2007).

Skema Proses Hemodialisa


Sumber: (National Kidney Foundation, 2001)

Hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal yang


dilakukan 2-3 kali seminggu dengan lama waktu 4-5 jam,
yang

bertujuan

metabolisme
keseimbangan

untuk

protein
cairan

mengeluarkan

dan
dan

mengoreksi
elektrolit.

sisa-sisa
gangguan

Proses

terapi

hemodialisis yang membutuhkan waktu selama 5 jam,


umumnya akan menimbulkan stres fisik pada pasien
setelah hemodialisis. Pasien akan merasakan kelelahan,
sakit kepala dan keluar keringat dingin akibat tekanan
darah

yang

menurun,

sehubungan

dengan

efek

hemodialisis. Adanya status nutrisi yang buruk juga dapat


menyebabkan penderita mengeluh malaise dan fatigue.
Selain itu kadar oksigen rendah karena anemia akan
menyebabkan tubuh mengalami kelelahan yang ekstrem
(fatigue) dan akan memaksa jantung bekerja lebih keras
22

untuk mensuplay oksigen yang dibutuhkan (Black dan


Hawk, 2009).
6. Manifestasi Klinis
Perubahan fisik yang dapat terjadi pada pasien penyakit
ginjal kronik menurut Smeltzer & Bare (2015) adalah
sebagai berikut:
a.
Neurologi: kelemahan, fatigue, kecemasan, penurunan
konsentrasi, disorientasi, tremor, seizures, kelemahan
pada lengan, nyeri pada telapak kaki, perubahan
b.

tingkah laku.
Integumen: kulit berwarna coklat keabu-abuan, kering,
kulit mudah terkelupas, pruritus, ekimosis, purpura

c.

tipis, kuku rapuh, rambut tipis.


Kardiovaskular:
Hipertensi, edema

pitting

(kaki,

tangan, dan sakrum), edema periorbita, precordial


friction rub, pembesaran vena pada leher, perikarditis,
efusi perikardial, tamponade pericardial, hiperkalemia,
d.

hiperlipidemia.
Paru-paru: krakles, sputum yang lengket dan kental,
depresi refleks batuk, nyeri pleuritik, napas pendek,
takipnea

e.

napas

kussmaul,

uremic

pneumonitis,

uremic lung.
Gastrointestinal: bau ammonia, napas uremik, berasa
logam, ulserasi pada mulut dan berdarah, anoreksia,
mual dan muntah, hiccup, konstipasi atau diare,

f.
g.

perdarahan pada saluran pencernaan.


Hematologi: anemia, trombositopenia.
Reproduksi: amenorrhea, atropi testis,

h.

penurunan libido.
Muslukoskleletal: kram otot, hilangnya kekuatan otot,

infertile,

renal osteodistropi, nyeri tulang, fraktur, dan foot drop.


Pasien GGT adalah hasil dari kerusakan jaringan ginjal
23

yang permanen. Kondisi ini membuat gangguan fisik


dan

psikologis

semakin

terasa

oleh

pasien

dan

membuat kehidupan pasien menjadi tidak normal


akibat keterbatasan yang dimiliki, sehingga akan
mengganggu kehidupan sosialnya.
C. Fatique
1. Pengertian
Kata kelelahan (fatigue) menunjukkan keadaan yang
berbedabeda,
pengurangan
(Sumamur,

tetapi

semuanya

kapasitas
1996).

kerja

Kelelahan

dan

berakibat

kepada

ketahanan

tubuh

merupakan mekanisme

perlindungan tubuh agar tubuh menghindari kerusakan


lebih lanjut, sehingga terjadilah pemulihan (Grandjean,
1988).
Gejala Kelelahan Gambaran mengenai gejala kelelahan
(fatigue symptoms) secara subyektif dan obyektif antara
lain; (1) Perasaan lesu, ngantuk dan pusing; (2) Kurang
mampu

berkonsentrasi;

(3)

Berkurangnya

tingkat

kewaspadaan; (4) Persepsi yang buruk dan lambat; (5)


Berkurangnya gairah untuk bekerja; (6) Menurunnya
kinerja jasmani dan rohani (Budiono, dkk , 2003).
2. Penyebab
Kelelahan mungkin merupakan tanda peringatan alami
tubuh untuk mengumumkan infiltrasi racun atau kuman
penyakit dalam tubuh anda. Sebagai contoh, kelelahan
bisa akibat dari pengaturan gula darah yang buruk,
ketidakseimbangan hormon, reaksi alergi, infeksi jamur,
tiroid

rendah,

penyakit

autoimun,

atau

keracunan.

Terkadang kelelahan juga merupakan efek samping dari


obat

atau

perawatan

medis

yang

keras.

Misalnya,
24

sebagian besar obat kemoterapi menyebabkan kelelahan,


begitu

juga

perawatan

radiasi.

Obat-obatan

yang

digunakan untuk merawat arthritis, antihistamin, dan


beberapa obat anti depresi menyebabkan kelelahan
sebagai efek samping. Stress kronis, yang memainkan
peran tambahan pada banyak penyakit, juga bisa menjadi
penyebab yang mendasari atau menjadi kontributor
munculnya kelelahan. (DAdams P.J., 2006)
3. Proses Terjadinya Kelelahan
Keadaan dan perasaan kelelahan adalah reaksi fungsional
dari pusat kesadaran yaitu saraf pusat (cortex cerebri),
yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonistic yaitu
sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak
(aktivasi). Sistem penghambat terdapat dalam thalamus
yang mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi
dan menyebabkan kecenderungan untuk tidur. Sistem
penggerak terdapat dalam formasio retikularis yang dapat
merangsang peralatan dalam tubuh kearah bekerja,
berkelahi, melarikan diri dan sebagainya. (Sumamur,
1996)
Kelelahan yang terus menerus terjadi setiap hari akan
berakibat terjadinya kelelahan yang kronis. Kelelahan
diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan saraf pusat,
terdapat sistem aktivasi dan inhibisi. Kedua sistem ini
saling mengimbangi tetapi kadang-kadang salah satu dari
padanya lebih dominan sesuai dengan keperluan. Sistem
aktivasi bersifat simpatis, sedangkan inhibisi adalah
parasimpatis. (Sumamur, 1996). Dalam fisiologi manusia
secara keseluruhan, empat pathologi ini yaitu kekecauan
imonologi,

stress,

keracunan

lingkungan

atau
25

metabolisme dan blokade sel sering kali hadir bersamaan,


yang menyebabkan reaksi berantai di tubuh.
a. Kekacauan imunologi
Secara sederhana, sel NK bertindak seperti senjata
kecil Velcro yang berlayar di sistem kekebalan tubuh.
Ketika bertemu dengan sel yang telah diinvasi oleh
virus, bakteri, atau abnormalitas, mereka melekat
pada sel dan menghancurkannya tanpa ampun. Sel NK
yang sehat betul-betul merupakan kabar buruk bagi
para penyusup. Dengan kata lain, sistem kekebalan
tubuh harus mengidentifikasi diri sendiri (tubuh) serta
mengidentifikasi dan menghancurkan bukan dirinya
(zat-zat

asing

di

tubuh

parasit,

virus,

dan

sebagainya). Tanpa kemampuan membuat perbedaan


ini bisa terjadi peluru nyasar, sistem kekebalan tubuh
bisa menyerang jaringan sendiri tanpa sengaja atau
membiarkan organisme berbahaya memasuki bagian
vital tubuh. Tanpa suplai nutrisi yang baik, aktivitas NK
akan menurun dan ini dihubungkan dengan berbagai
gejala kelelahan. Kompleksitas kekebalan tubuh, sel
kekebalan

tubuh,

dan

molekul

peradangan

bisa

menghambat aliran darah. Pada akhirnya merusak


organ

seperti

erythermatosus,

ginjal

dengan

atau

sekresi

systemic
insulin

lupus

islet

of

langerhans dala pankreas penderita diabetes. Banyak


penyakit

autoimun,

termasuk

fibromyalgia,

hipotiroidisme, dan arthritis rematik, dihubungkan


dengan kelelahan.
b. Stres
Sistem saraf memiliki dua cabang dengan fungsi saling
melengkapi. Sistem saraf simpatetik bertanggung
26

jawab terhadap respon : bertahan hidup atau mati.


Cabang

parasimpatetik

bertanggung

jawab

untuk

membuat rileks sistem saraf setelah alarm yang


mengidentifikasikan bahaya berlalu. Fungsi yang tepat
dari kedua sistem tersebut merupakan komponen
penting

bagi

kesehatan.

Bersama-saama,

kedua

cabang sistem saraf ini berkomunikasi dengan sistem


endokrin dan organ internal untuk membantu Anda
memberikan fungsi dan respon yang tepat pada
berbagai tantangan yang potensial. Bagi sebagian
orang, dua cabang sistem saraf bersifat antagonis.
Mereka

cenderung

bekerja

dengan

baik

sebagai

oposisi satu sama lain yang seimbang. Sebagai


contoh, aktivasi parasimpatetik memperlambat detak
jantung dan mengendorkan dinding otot arteri, yang
membuat darah mengalir bebas dan oksigenasi otot
jantung. Kunci memfungsikan sistem saraf dengan
tepat adalah keseimbangan hidup. Masalah akan
muncul ketika salah satu dari dua bagian sistem ini
mendominasi terus terhadap yang lainnya dalam
jangka waktu yang lama.
c. Keracunan Lingkungan atau Metabolisme
Para ilmuwan teah menciptakan istilah xenobiotik
untuk zat kimia asing yang ditemukan di tubuh.
Berasal dari kata xenos , yang berarti asing dan bios
yang berarti kehidupan. Dampak zat xenobiotik
bergantung pada faktor lain yang bisa meminimalkan
atau memperburuk efeknya. Salah satu dari faktor ini
adalah dampak lectin makanan. Makanan tinggi lectin
menghasilkan poliamin (produk pemecahan protein) di
saluran

pencernaan,

dan

poliamin

menurunkan
27

aktivasi

sel

NK.

Makanan

tinggi

lectin

juga

mengganggu flora usus. Flora yang tidak seimbang


berakibat aktivasi sel NK menurun.
d. Blokade sel
Metabolisme tubuh Anda tergantung pada sistem
komunikasi intrasel birokrasi dan intrik, yang membuat
pelepasan energi yang disimpan dari makanan ke
dalam sel dengan tepat. Sumber tenaga tiap

sel

adalah mitokondria, yang menggabungkan makanan


yang kita makan dengan oksigen untuk memproduksi
energi. Energi kemudian disimpan dalam bentuk zat
kimia

yang

disebut

adenosin

triphosphat

(ATP).

Kelenjar adrenal, yang mensekresi hormon stres,


dilibatkan dalam proses peepasan dan pengaturan
energi sel. Adrenalin (juga dikenal sebagai ephineprin)
memicu produksi siklik AMP pada saat stres untuk
mengaliri sel-sel dengan energi. Inti masalahnya
adalah stres kronis bisa menyebabkan gangguan pada
prosedur sirkulasi inti. Inilah penjelasan yang berusaha
disederhanakan

dari

proses

pembangkit

listrik

kompleks di dalam tubuh anda. Tetapi inilah garis


dasarnya:

kegagalan

berakibat

pada

metabolisme

kelelahan

kronis.

yang

lancar

Kesimpulan

sederhana mengadakan sel-sel pembangkit energinya


macet. (DAdams P.J, 2006)
4. Jenis Kelelahan
Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan
kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan tremor pada
otot atau perasaan nyeri pada otot, sedangkan kelelahan
umum dikatakan dengan berkurangnya kemauan untuk
bekerja yang disebabkan oleh monotoni (pekerjaan yang
28

sifatnya monoton), intensitas dan lamanya kerja fisik,


keadaan lingkungan, kondisi mental dan psikologis, status
kesehatan,

dan

gizi.

Pengaruh-pengaruh

tersebut

terakumulasi di dalam tubuh manusia dan menimbulkan


perasaan lelah yang dapat menyebabkan seseorang
berhenti bekerja (beraktivitas). Kelelahan dapat diatasi
dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh. Apabila
kelelahan tidak segera diatasi dan pekerja dipaksa untuk
terus bekerja, maka kelelahan akan semakin parah dan
dapat mengurangi produktivitas pekerja. Kelelahan sama
halnya dengan keadaan lapar dan haus sebagai suatu
mekanisme untuk mendukung kehidupan. Di samping
kelelahan otot dan kelelahan umum, Grandjean (1988)
juga mengklasifikasikan kelelahan ke dalam 7 bagian
yaitu:
a. Kelelahan visual, yaitu meningkatnya kelelahan mata.
b. Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat
beban fisik yang berlebihan.
c. Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan
oleh pekerjaan mental atau intelektual.
d. Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan
oleh tekanan berlebihan pada salah satu bagian
sistem

psikomotor,

seperti

pada

pekerjaan

yang

membutuhkan keterampilan.
e. Pekerjaan yang bersifat monoton.
f. Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi
efek jangka panjang.
g. Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siangmalam, dan memulai periode tidur yang baru.
Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan
otot, yaitu teori kimia dan teori syaraf pusat. Teori kimia
menjelaskan bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat
29

berkurangnya cadangan energy dan meningkatnya sisa


metabolism sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot.
Sumamur

menyatakan

bahwa

produktivitas

mulai

menurun setelah empat jam bekerja terus menerus


(apapun

jenis

pekerjaannya)

yang

disebabkan

oleh

menurunnya kadar gula di dalam darah. Itulah sebabnya


istirahat sangat diperlukan minimal setengah jam setelah
empat

jam

bekerja

terus

menerus

agar

pekerja

memperoleh kesempatan untuk makan dan menambah


energy yang diperlukan tubuh untuk bekerja.Teori syaraf
pusat menjelaskan bahwa bahwa perubahan kimia hanya
merupakan penunjang proses. Perubahan kimia yang
terjadi menyebabkan dihantarkannya rangsangan syaraf
melalui syaraf sensoris ke otak yang disadari sebagai
kelelahan

otot.

Rangsangan

aferen

ini

menghambat

pusat-pusat otak dalam mengendalikan gerakan sehingga


frekuensi potensial kegiatan pada sel syaraf menjadi
berkurang dan menyebabkan menurunnya kekuatan dan
kecepatan kontraksi otot serta gerakan atas perintah
menjadi

lambat.

Sehingga

semakin

lambat

gerakan

seseorang menunjukkan semakin lelah kondisi seseorang.


5. Cara Mengatasi Fatique
a. Dilakukan Sendiri
1) Tetap lakukan aktivitas keseharian pada level yang
normal biasa dilakukan, tapi segera istirahat bila
gejala timbul atau makin berat.
2) Tetapi jangan istirahat total berlebihan.
3) Olahraga dengan pemantauan dokter.
4) Hindari kondisi yang bisa menimbulkan stress
psikis.
5) Hindari konsumsi alkohol, kafein, dan rokok.
6) Pengobatan menggunakan herbal.
30

7) Terapi alternatif
b. Dilakukan Dokter
1) Untuk keluhan nyeri yang timbul, dokter bisa
memulai dengan yang ringan seperti golongan
ibuprofen dan tramadol.

Bila dibutuhkan dapat

dinaikkan menggunakan golongan celecoxib.


2) Bila dirasakan perlu, dokter bisa memberikan obat
antidepressant, obat anti cemas, dan obat-obat
stimulant.
3) Bila infeksi penyebab dari fatique ditengarai masih
ada, maka antibiotik juga akan diberikan oleh
dokter.
4) Beberapa

penderita

fatique

juga

mengeluhkan alergi, atau alergi yang dimilikinya


menjadi kambuh, sehingga dokter bisa juga akan
memberikan obat-obatan anti alergi. (I.K. Muhtadi,
2013)
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fatique
Faktor-faktor yang mempengaruhi fatique pada pasien
post-haemodialysis sebagai berikut: (Sulistini, dkk., 2012)
a. Faktor Demografi
Faktor demografi terdiri dari umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, dan status dukungan.
1) Jenis Kelamin
Menurut Mallouglu (2009) menyatakan
hubungan

antara

umur,

jenis

kelamin,

ada
tigkat

pendidikan, pekerjaan dengan fatique. Mallouglu


menyatakan bahwa jenis kelamin perempuan lebih
mudah

membicarakan

tentang

penyakit

dan

maslah yang dialami sehingga mudah mendeteksi


fatique.
2) Umur
Menurut Aiken (1994) dalam Petchrung (2004)
penambahan usia mengakibatkan berkurangnya
31

fungsi organ, dan bila diiringi dengan patologi


Chronic Kidney Disease (CKD) akan mengakibatkan
fisik mengalami fatique.
3) Status Dukungan
Menurut Travallaii (2009), menyatakan bahwa yang
mengalami kelelahan secara psikologis sebenarnya
adalah

pasangan

pasien

hemodialisis.

Kondisi

tersebut terjadi karena perubahan fungsi keluarga


dengan pasangan ESRD. Perubahan fungsi yang
terjadi berhubungan degan gangguan psikologis
dan kegagalan dalam penyesuaian.
4) Pekerjaan
Menurut Shapirol (2008) menggambarkan pasien
dialisis yang bekerja lebih kelihatan sehat dan lebih
berenergi dari pada pasien hemodialisis tidak
bekerja, karena dengan bekerja membuat mereka
merasa lebih baik.
5) Pendidikan
Menurut Mallaouglu

(2009)

pasien

dengan

pendidikan rendah tidak mampu memperlihatkan


koping

adaptif

dalam

mengatasi

fatique,

sementara orang berpendidikan tinggi mampu


mengelola gejala fatique yang dialami.
b. Faktor Fisiologis
Kondisi pasien yang tidak sesuai dengan kadar Hb
akan mengalami fatique yang tidak dapat dihilangkan
dengan istirahat sehingga perlu tindakan paliatif
berupa

latihan,

aktivitas

sesuai

transfusi darah (Petchrung, 2008)


c. Faktor Sosial Ekonomi
Travallai
(2009)
menyatakan
hemodialisis

cenderung

kemampuan,

bahwa

mengalami

dn

pasien

pembatasan

hidup, kehialngan aktivitas sosial, dan penurunan


32

ekonimi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa


pasien dengan pendapatan rendah akan mengalami
fatique. Kondisi tersebut disebabkan pasien dengan
pendapatan tinggi dapat dengan mudah mendapatkan
perawatan lebih baik. Dalam penelitian Sullivan dan
Mc

Carthy

(2009)

menyatakan

bahwa

pasien

hemodialisis yang tidak aktif, 14 % akan mengalami


fatique pada level lebih rendah berhubungn dengan
level fungsi fisik yang lebih tinggi. Menurut Jhamb, et
al., (2009), bahwa dengan melakukan latihan fatique
dapat menurun (62,3%).
d. Faktor Situasional
Fase awal menjalani hemodialisis pasien mengalami
peningkatan

fatique.

Penelitian

Petchrung

(2004)

didapatkan

hubungan

antara

frekuensi

yang

bahwa

dilakukan
tidak

hemodialisis,

ada
lama

menjalani hemodialisis dengan fatique.


7. Pengukuran Fatique
Menurut Patarca dan Roberto (2004) dalam Warni, RG.
(2015) skala penilaian numerik kelelahan sangat mudah
untuk menunjukkan kepekaan terhadap efek pengobatan.
Tabel 2.1
Skala Pengukuran Kelelahan (SPK) / Fatique Assessment Scale (FAS)
1 = Tidak pernah, 2 = Kadang-kadang; 3 = teratur; 4 = Sering dan
5 = Selalu.
No
.

Assessment

Scoring
Tidak
Perna
h

Kadan
gKadan
g

Teratu
r

Serin
g

Selal
u

33

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Saya sangat terganggu


oleh rasa lelah yang saya
rasakan
Saya mudah merasa lelah
Saya tidak banyak
melakukan kegiatan di
siang hari
Saya merasa memiliki
energi yang cukup untuk
melakukan aktivitas harian
saya
Secara fisik, saya merasa
lelah
Saya merasa sulit untuk
mulai mengerjakan sesuatu
Saya merasa kesulitan
untuk berpikir secara jernih
Saya merasa malas untuk
melakukan berbagai
kegiatan
Secara mental saya merasa
lelah
Ketika saya sedang
melakukan kegiatan, saya
dengan mudah
berkonsentrasi penuh

1
1

2
2

3
3

4
4

5
5

1
1

2
2

3
3

4
4

5
5

Sumber: ILD Care Foundation,2012


8. Peran Perawat dalam Mengatasi Fatique
Fatique yang dialami pasien hemodialisis berhubungan
dengan berbagai faktor berdasarkan dengan beberapa
teori yaitu unpleasant symptoms, peripheral and central
fatigue,

dana

multi-dimensional

fatigue

experiencein

ESRD. Menurut teori unpleasant symptoms dari Lenz et


al., faktor kelelahan bisa dikategorikan sebagai fisiologis,
psikologis dan sosial-demografis, yang semuanya memiliki
beberapa interaksi yang kompleks dan timbal balik
34

dengan kelelahan. Ada berbagai interaksi antara faktorfaktor

yang

berkontribusi

dan

berbagai

gejala

mengakibatkan dampak sinergis pada variabel kinerja,


yang pada gilirannya saling mempengaruhi gejala dan
faktor. Chaudhuri dan Behan memperkenalkan konsep
central

versus

peripheral

fatigue

(sentral

terhadap

kelelahan perifer). Kelelahan Central didefinisikan sebagai


"kegagalan untuk memulai dan

atau mempertahankan

tugas perhatian (kelelahan mental) dan kegiatan fisik


(kelelahan fisik) yang membutuhkan motivasi diri". Perifer
atau motorik kelelahan karena kelelahan baik dalam otot
itu sendiri atau karena kontrol otak atas otot. Lee et al.
kategorikan

pengalaman

multi-dimensional

fatigue

(kelelahan multi-dimensi) dari hemodialisis (HD) pasien di


Taiwan, menjadi tiga domain terkait erat-fisik, afektif dan
cognitive. Kerangka teoritis ini menggaris-bawahi aspek
multi-dimensi dari kelelahan dan menunjukkan bahwa
faktor

fisiologis,

psikologis

dan

sosial-demografis

berkontribusi kelelahan. Fatique yang dialami tersebut


merupakan
memerlukan
berdampak

salah

satu

masalah

penanganan
pada

karena

perubahan

keperawatan
kondisi

persepsi,

yang

tersebut

berkurangnya

kemampuan menyelesaikan masalah (Craven & Hirnle,


2000), serta memicu gangguan kardiovasculer (Koyama,
2010) dalam (Sulistini, 2012).
Menurut Sulistini, dkk. (2012) dalam mengelola gejala
fatique perawat perlu memperhatikan tingkat pendidikan
dan kemampuan pasien dalam menerima informasi.
Edukasi pada pasien tentang proses hemodialisis, dampak
hemodialisis, penatalaksanaan selama di rumah perlu
35

diberikan dan disesuaikan denan tingkat pendidikan


pasien maupun keluarga.
harus

memahami

Disamping itu, perawat juga

dampak

faktor

ekonomi

terhadap

kondisi pasien yang menjalani hemodialisis sehingga


dapat menentukan intervensi yang tepat.
Peran perawat dalam mengatasi gejala fatique bisa berupa terapi
alternatif atau terapi komplementer dimana peran perawat dalam terapi
komplementer sebagai berikut;
a. Perawat adalah sebagai pelaku dari terapi komplementer selain dokter
dan praktisi terapi.
b. Perawat dapat melakukan intervensi mandiri kepada pasien dalam
fungsinya secara holistik dengan memberikan advocate dalam hal
keamanan, kenyamanan dan secara ekonomi kepada pasien.
(Andriana D., (2013)

D. Eight-Forms of Moving Meditation


1. Pengertian
Meditasi adalah suatu bentuk aktivitas kesadaran mental.
Ini melibatkan salah satu bagian dari pikiran untuk
mengamati, menganalisis, dan berhadapan degan bagian
yang lain dari pikiran kita. Satu hal, meditasi bukanlah
aktivitas badan: bukan sekedar duduk dengan posisi
tertentu

atau bernapas

dengan cara

tertentu,

juga

bukanlah dialkukan dengan tujuan merasakan sensasi


kenyamanan fisik. Melainkan, meditasi adalah aktivitas
pikiran,

dan

dilakukan

dengan

mentransformasikan

pikiran, menjadikannya lebih positif. (Kathleen, 2008).


Definisi meditasi yang sering kita dengar yaitu meditasi
adalah kegiatan bermeditasi itu sendiri.

Tentu saja

pernyataan itu tak bisa kita sebut dengan definisi.


36

Namun,

pernyataan tersebut dapat dimaafkan karena

dalam banyak hal meditasi sama dengan ungkapan 'cinta


atau 'iri'. Kedua-duanya sangat sulit untuk didefinisikan
berdasarkan pengalaman seseorang saja. Definisi yang
mampu mengungkapkan meditasi secara menakjubkan
adalah bahwa meditasi berarti menaikkan kesadaran dari
pikiran yang lebih rendah ke pikiran yang lebih tinggi.
Analogi berikut ini dapat menerangkan fenomena di atas:
pemikiran yang lebih rendah setara dengan apa yang
kita lihat di sekeliling kita, yaitu cahaya di siang hari,
pepohonan, mobil, cucian kotor, atau yaitu timbunan di
jalan raya.
setara

Sedangkan,

dengan

pemikiran yang lebih tinggi

perubahan-perubahan

dalam

persepsi

kita. Jika kita menganggap diri kita sebuah satelit, kita


akan memandang diri kita sebagai bagian alam semesta.
Setiap harinya,

sekeliling kita tampak tidak begitu

penting lagi dan juga tidak mendatangkan ancaman.


Semakin tinggi kedudukan kita, cakrawala kita akan
semakin luas. Ketika pikiran dan emosi kita lebih sebagai
pelayan dibandingkan tuan. Pada saat itulah, kesadaran
kita berada pada keadaan yang sempurna. Keadaan ini
sederhana saja, yaitu berada dalam. Meditasi adalah
tentang bagaimana berada dalam dan bukan melakukan.
(Wilson P, 2002). Ada beberapa macam meditasi, yang
paling populer adalah sebagai berikut;
a. Guided Meditation adalah memusatkan pikiran dengan
dibantu oleh alat tertentu, baik berupa audio atau
visual. Alat ini akan membantu menginspirasi citra,
perasaan, dan pembauan sehingga bisa memandu
pikiran fokus selama melakukan meditasi.
37

b. Mindfulness

Meditation adalah jenis

meditasi

yang

mengajarkan kita mengamati pikiran dan gambar yang


melintasi

pikiran

membiarkan

dengan

pikiran

lewat

tujuan
tanpa

melatih
harus

kita

terbawa

olehnya.
c. Moving Meditation adalah meditasi yang mengkitalkan
gerakan. termasuk jenis ini adalah tai chi chuan,
chikung dan yoga. Selain membuat badan tetap sehat
bugar dan lentur, jenis meditasi ini berkhasiat dalam
menyembuhkan penyakit. Pada tai chi chuan misalnya,
memiliki

khasiat

menyembuhkan
mengendalikan

mengurangi
insomnia

kadar

gula

nyeri

dan
darah

sendi,

asma,
bagi

serta

penderita

kencing manis. (Sumarno, 2015)


Moving Meditation atau disebut dengan meditasi aktif
adalah memasuki keadaan sadar ketika terlibat dalam
tindakan. Itu berarti sepenuhnya terlibat pada saat ini
dengan kesadaran yang lengkap dan tidak menghakimi
apa yang dialami karena berkaitan dengan tindakan yang
diambil (Adam Wik, 2013). Moving meditation adalah
metode meditasi mudah karena memungkinkan kita untuk
membebaskan diri dari aturan dan kekakuan praktek
meditasi tradisional. Tidak seperti yoga atau jenis tertentu
dari tari, yang memiliki gerakan atau langkah-langkah
dengan

asana

tertentu,

moving

meditation

dapat

dilakukan dengan ciptaan sendiri. Idenya adalah untuk


memberikan diri sendiri untuk "mengikuti arus." Dengan
niat dapat membiarkan diri sendiri untuk mendengarkan
dengan Tuhan atau bahkan dewa dan disesuaikan dengan
gerakkan tubuh. Moving meditation dapat membebaskan
38

kita dari kebiasaan dari anggapan meditasi dengan duduk


sehingga membantu kita merasa terhubung ke semua
bagian tubuh kita sendiri dan dengan Tuhan. (Veronica
Lee, 2010).
Berdasarkan dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
eight-forms of moving meditation adalah secara sadar
berkonsentrasi pada pikiran dan dapat berileksasi dalam
delapan bentuk gerakan yang dilakukan dan merupakan
meditasi stabilisasi dimana menurut Kathleen (2008)
meditasi stabilisasi digunakan untuk mengembangkan
konsentrasi

pikiran

dan

pada

akhirnya

mencapai

ketenangan pikiran (sanskerta: samatha), suatu jenis


konsentrasi

pikiran

yang

memungkinkan

seseorang

bertahan memfokuskan pikiran pada obyek apapun yang


diinginkannya, selama durasi waktu yang dikehendaki.,
sambil

mengalami

kedamaian.

kebahagiaan,

Konsentrasi

dan

keheningan,

ketenangan

dan

pikiran

merupakan prasarat bagi pemahaman sesungguhnya


yang abadi dan transformasi spiritual.
2. Fisiologis dan Manfaat
Sesudah melewati permulaan selama beberapa hari, kita
akan merasa merasa telah mencapai sesuatu. Kita akan
merasa lebih santai, makan lebih lahap, tidur lebih
nyenyak, dan semakin kita menekuninya, kita akan
merasa semakin fit. Meditasi bukanlah suatu petualangan
sekali jadi atau pengalaman yang membawa kita ke dunia
lain

yang

penuh

keceriaan

kosmik.

Namun,

pasti

ditemukan saat dimana tiba-tiba kita tidak lagi menyadari


jalannya waktu dan melupakan semua kemelut hidup .
Bahkan

suatu

saat,

kita

mungkin

tidak

merasakan
39

keberadaan kita, tetapi dengan pasti menyadari kehadiran


diri kita. Itulah saat-saat dimana kita hanya berada dalam
meditasi.
Meditasi

menghasilkan

keadaan

yang

amat

santai

(keadaan hening), yang berbeda dari keadaan tidur atau


terhipnotis.

Pikiran

sesadar-sadarnya
beberapa

hal

kita

dan

luar

berada

waspada.

biasa

dari

keadaan

sadar

Dalam keadaan

terjadi

pada

tubuh

ini,
kita.

Gelombang otak, terjadi peningkatan pada gelombang


alpha

yang

memiliki

alian

lambat.

Ternyata

pola

gelombang otak sewaktu meditasi menunjukkan dua


kondisi

fikiran

kewaspadaan

secara
yang

bersamaan,

tinggi,

dan

yaitu
keadaan

kondisi
rileks.

Metabolisme, konsumsi oksigen kita turun sekitar 20%


dan

kita

memproduksi

lebih

sedikit

karbondioksida

(bahkan dalam keadaan tertidur lelap pun, konsumsi


oksigen kita tidaklah serendah itu). Detak jantung dan
pernapasan kita turun hampir sama dramatisnya. Kadar
asam laktat dalam aliran darah turun sampai 50%, atau
hampir empat kali lebih cepat daripada tertidur lelap.
Meditasi

berguna

untuk

evolusi

spiritual

dan

penyembuhan di Inti dari kedua biara dan tradisi sekuler.


Meditasi dapat dipraktekkan dalam salah satu dari lima
gaya: duduk, berdiri, bergerak, berbaring, dan selama
aktivitas seksual. Latihan rohani bukanlah tugas yang
mudah bahkan saat dibawah keadaan yang paling ideal.
Kesulitan alam, rintangan, dan frustrasi dapat terjadi
sepanjang proses. Emosional pikiran orang dewasa tidak
akan mampu bertahan dan akan terlibat dalam gangguan
40

yang

tidak

dapat

menunjukkan

dihindari.

bagaimana

Moving

untuk

meditation

mulai

ini

menguasai

beberapa dasar-dasar untuk mempersiapkan diri untuk


kemajuan,

untuk

membangun

karakter

moral

dan

spiritual, untuk mengekspos kekurangan dan disfungsi


diri, dan mengatasi apa yang dapat diatasi dan menerima
apa perlu diterima. Meditasi tidak mencari orang untuk
menjadi sempurna, hanya bagi mereka untuk bersantai
dalam keheningan dan kesadaran itu sendiri. Selama
perjalanan ini, sangat mudah untuk menjadi benar-benar
self-absorbed dan menyadari bagaimana "perjalanan kita"
adalah positif atau negatif terhadap orang lain.

Kita

mungkin menemukan diri kita bergerak antara fokus pada


kepentingan diri dan kebutuhan sendiri dengan hidup
dalam rasa universal yang terkandung dalam segala hal
(Frantzis, 2001). Secara umum dapat dipastikan bahwa
meditasi akan memberikan manfaat nyata bagi fisik,
antara lain :
a. Meningkatkan daya tahan tubuh
b. Menghilangkan sakit kepala
c. Menghilangkan sakit perut
d. Mengurangi atau menyembuhkan sesak nafas
e. Menstabilkan tekanan darah
f. Mengatasi insomnia (susah tidur)
g. Menetralisir kolesterol
h. Mengurangi / menyembuhkan sakit punggung
i. Mengurangi rasa sakit
j. Mengurangi berat badan
k. Geja-gejala sakit menurun
l. Mempercepat proses kehamilan
m. Kesembuhan total
Manfaat secara spiritual;
a. Ketenangan batin
b. Percaya diri / mengatasi rasa malu
c. Pengendalian emosi
41

d.
e.
f.
g.
h.

Menghilangkan kecemasan
Menghilangkan ketakutan / phobia
Menjadi lebih santun
Menjadi lebih mudah memaafkan
Bertambahnya
harapan
untuk

kesembuhan

penyembuhan
i. Menyembuhkan ganguan kejiwaan (Psikosomatis)
j. Lebih dekat kepada Tuhan sesuai iman masing-masing
k. Melahirkan kharisma secara alami
l. Meningkatkan kemampuan berbagai indrawi
m. Proteksi diri terhadap energi negatif
n. Kemampuan mawas diri (self awareness) (T.Efendi,
2005)
Pada umumnya moving meditation dalam kemajuan
pertama adalah fokus pada fisik, tubuh eterik (eterik), dan
emosional. Dengan fisik tubuh, kita mulai melarutkan diri
dari atas kepala, dan kemudian dari waktu ke waktu
praktek

sesi-larut

dapat

membersihkan

tubuh

dari

penyumbatan yang bersifat fisik sampai bagian bawah


kaki. Kemudian beralih ke fokus pada penyumbatan dalam
tubuh eterik, di mana mulai melarutkan bagian atas tubuh
eterik di atas kepala dan bawah, finishing di tantien
bawah.

Kemudian

mulai

lagi

di

atas

kepala

dan

melarutkan turun ke bawah tubuh eterik di bawah kaki.


Maka kita mungkin mengambil emosional tubuh, di mana
kita

mengikutiperkembangan

dari

eterik

tubuh

atas

sampai eterik tubuh bawah tan tien dan kemudian dari


atas ke bawah eterik tubuh.
Moving meditation dapat melarutkan sumbatan pada fisik
tubuh , misalnya pengalaman dari masa lalu (cedera atau
sakit, misalnya) yang bersarang di tempat tertentu. Bila
42

kita menemukan sumbatan tersebut, fokuskan pikiran


pada gerakan lembut. Melarutkan penyumbatan dalam
tubuh akan meningkatkan semua aspek kemampuan fisik
termasuk

kecepatan,

kekuatan,

kesehatan umum. Penggunaan

keseimbangan,
meditasi Cina

dan
untuk

meningkatkan sirkulasi darah.Gerakan ke tempat-tempat


tertentu dalam tubuh dapat menyembuhkan penyakit
atau cedera. Pandangan dalam pengobatan Cina sebagian
besar penyakit disebabkan oleh penyumbatan dari eterik
atau

darah

dalam

tubuh

(Frantzis,

2001).

Dapat

disimpulkan bahwa moving meditation dapat melancarkan


sirkulasi darah sehingga meningkatkan

metabolisme

tubuh oleh sebab itu didapatkan kebugaran dan daya


tahan tubuh tinggi.
3. Mekanisme Eight-Forms of Moving Meditation
Latihan eight-forms of moving meditation merupakan latihan fisik
dengan gerakan peregangan. Menurut Michael dan Alter (1999) dalam
Norhanania A. (2012) peregangan kepala: berfungsi untuk mengulur
M. Trapezius.

Peregangan

tangan

dan

lengan;

bertujuan

untuk meregangkan otot triceps, deltoid, biceps, fleksor. Peregangan


pinggang dan perut; ditujukan untuk meregangkan otot seratus, rectus
abdominis,

latisimus

inscription ekstensor.

dorsi,

eksternal

Peregangan

tungkai

oblique, dan
dan

kaki;

tendinous
bertujuan

untuk meregangkan otot hamstring, gluteus, semitendinosus, gracilis,


gastrocnemius, peroneus, dan vastus. Peregangan-peregangan tersebut
berguna untuk mengurangi kram otot dan nyeri tulang yang merupakan
ciri kelelahan otot. Berdasarkan fisiologis diatas eight-forms of moving
meditation tidak hanya mengatasi kelelahan otot tapi juga kelelahan

43

sentral atau psikologis lewat gerakan meditasi yang bersifat spiritual dan
gerakan yang lambat sehingga mendapatkan kerileksan.
4. Latihan Eight-Forms of Moving Meditation
a. Fungsi
Eight-Forms of Moving Meditation (EFMM) memiliki efek
kebugaran, tetapi juga menyelaraskan, membantu
orang yang pikirannya tersebar menjadi fokus, dan
dengan

demikian

mencapai

kesatuan

tubuh

dan

pikiran. Setelah rajin berlatih, dapat diterapkan dalam


kehidupan, selalu beristirahat dan bersantai.
b. Objek
Eight-Forms of Moving Meditation dapat dilakukan
segala usia, terlepas dari sehat atau sakit, siapa pun
bisa.
c. Waktu
Setiap saat mungkin dapat dilakukan, tetapi jika
setengah

jam

setelah

makan,

dianjurkan

untuk

menggunakan Eight-forms Zen Dharma Drum Heart


untuk dapat berelaksasi.
d. Lokasi
Hanya butuh cukup ruang dan sirkulasi udara, dapat
indoor dan outdoor, tapi menghindari tempat terlalu
berangin.

Nama-nama

dari

eight-forms

menurut

Master Sheng Yen tercantum pada Tabel 2.2


Tabel 2.2
Prosedur Eight-Forms of Moving Meditation
No.

Prosedur

Keterangan

44

Form Pertama: Gerakan Bahu


1. Tubuh duduk, santai.
Tangan secara alami
terkulai.
Bahu perlahan-lahan
bergerak, sehingga
mendekati telinga.
2. Bahu perlahan maju
dan rotasikan dengan
lingkaran besar secara
lambat.
3. Ditumpuk dua tangan.
Memperlambat bahu
kiri bawah tekanan,
a. Bahu kanan
perlahan-lahan
bergerak, satu
tinggi dan satu
bahu rendah.
Regangkan!
b. Bahu kiri dan
kanan perlahanlahan maju dan
dibawah, bahu
kanan kembali
perlahan-lahan,
c. Pada kiri atas,
bahu interaktif
menggambar
lingkaran
perlahan
berputar. Lakukan
ke bahu
sebaliknya.

45

Form Kedua: Gerakan Leher


1. Tangan kiri diletakkan
di atas kepala, tangan
perlahan bergerak dan
jari tangan mencoba
menempel di pipi
sebelah kanan.
Kemudian sandarkan
kepala perlahan ke
lengan atas kiri, setelah
itu mencoba kepalanya
untuk berbelok ke
dalam kiri. Leher
diputar dengan
perasaan.
2. Tundukan kepala
secara lambat ,
sehingga dagu
menyentuh dada.
Kemudian perlahan
turunkan bahu sampai
jari tangan memegang
kaki, dan bahu
menyandar pada lutut
atau kaki.Kemudian
naikkan kembali kepala
secara lambat dari
bawah ke atas.
Gerakan ,
menggambarkan
lingkaran besar
peregangan.

46

Form Ketiga: Peregangan


Punggung Bawah
1. Tubuh perlahan
menunduk. Cobalah
untuk menyentuh jari
kaki dengan kedua
tangan.
Leher, toraks, lumbar,
ekor merasa
melengkung.
2. Tangan berpegangan
pada lutut kiri,
perlahan-lahan tubuh
bergerak kebawah,
mencoba dagu
menyentuh lutut.
Begitu juga dengan
kaki sebelahnya.
3. Naikkan dan lipat
pergelangan kaki kiri
pada kaki kanan,
tangan kiri tekan lutut
kiri, tangan kanan
pegang paha kanan.
Kemudian tubuh
perlahan-lahan maju
fleksi, mencoba
menyentuh kepala kaki
kiri. Begitu juga dengan
kaki sebelahnya.

Form Keempat: Peregangan


Depan
1. Tangan jari
interlaced /gabungkan
jari-jari di masingmasing sela jari kedua
tangan, gerakkan
telapak tangan
tersebut ke depan.
47

2. Tangan perlahan-lahan
mencapai kembali.
3. Kedua tangan perlahan
ditempatkan di kursi,
sejajar pantat.
Pinggang,
membungkuk perlahan
ke depan, kepala
miring ke belakang.
Form Kelima : Gerakan Putar
1. Tangan kanan
ditempatkan di bahu
kiri, pergelangan
tangan kiri menahan
siku kanan dan
janganlah menekan.
2. Putar tubuh kiri secara
lambat. Kepala
berpaling ke kanan
belakang.
3. Tubuh perlahan kembali
ke keadaan semula.
Tangan ke bawah.
Begitu juga dengan
bagian kiri.
Form Keenam : Peregangan
Tubuh
1. Tangan kanan tepat di
belakang leher, tangan
kiri memegang siku
tangan kanan.
Tubuh perlahan-lahan
meninggalkan
lengkungan ke
lateral,rasakan dengan
jelas melakukan
peregangan.
2. Pada langkah gambar
kiri, perlahan tangan
48

membungkuk kearah
belakang,untuk
mencoba peregangan
Tepat setelah
kebelakang coba untuk
meregangkan lambat
dari bawah ke atas.
tekan tangannya
sebanyak mungkin.
Lakukan tangan bagian
satunya.
7

Form Ketujuh: Gerak Kaki


1. Rilekskan tubuh, kaki
selurus mungkin.
Tangan Anda di
pangkuan Anda. Kaki
perlahan-lahan
gerakkan kedalam.
2. Kaki menekan
perlahan-lahan.
3. Kaki berputar perlahan
dari kiri ke kanan.

Form Kedelapan : Hukum


Kefokusan
Tubuh duduk, tangan
ditumpuk, telapak diletakkan
di paha. Dada dan punggung
lurus, kepala lurus, dagu
tertutup, santai.
1. Tangan kiri perlahan
bergerak, bergerak
keluar setinggi dada,
bagian atas kaki kiri,
tangan dibawa ke
dalam secara perlahan
ke tengah dada
kemudian, perlahan49

lahan menurun ke kaki


Tai.
2. Tangan kanan perlahan
bergerak, bergerak
keluar setinggi dada,
bagian atas kaki kanan,
tangan dibawa ke
dalam secara perlahan
ke tengah dada
kemudian kembali ke
kaki.
3. Tangan kanan perlahan
bergerak, setinggi
dada, atau tangan
dibawa secara perlahan
keluar ke tengah
sejajar dengan bahu
kanan kemudian
telapak tangan
diluruskan vertikal
setinggi dada.
Perlahan tangan
kembali ke dada, dan
diletakan kembali ke
kaki.
4. Begitu juga dengan
tangan kiri
Lakukan masing-masing
langkah di atas secara
bertahap dan berulang.
Konsentrasikan secara sadar
dan rileks terhadap setiap
gerakan yang dilakukan.
(Dharma Drum Mountain Center, 2012)

4. Kontraindikasi

50

Sebagian besar gerakan- gerakan yang dilakukan


berdasarkan tabel diatas merupakan gerakan peregangan
dan juga merupakan gerakan yang mengolah konsentrasi
pikiran dan jiwa maka gerakan tersebut memilki
kontraindikasi yaitu:
a. Patah tulang, otot, tulang, tendon, fasia dan ligamen
b.
c.
d.
e.
f.
g.

terakhir.
Memar (jika chronified).
Proses inflamasi atau infeksi akut
Penyakit otot bawaan (miopati).
Luka dan bekas luka baru.
Kelainan jiwa.
IQ rendah atau idot.

5. Indikasi
Berdasarkan manfaat dan fisiologis uraian tentang
meditasi didapatkan indikasi dari eight-forms of moving
meditation adalah sebagai berikut:
a. Pasien lemah atau fatique.
b. Pasien yang mengalami stres dan kecemasan.
c. Pasien yang mengalami nyeri.
E. Kerangka Teori
Gagal Ginjal Akut dan
Kronis
(Brunner dan Suddart,
Penatalaksanaan gagal
ginjal:
1. Dialisis
a. Dialisis Peritonial
b. Hemodialisis
2. Transplantasi Ginjal
(Sudoyo, dkk., 2007)

Hemodialisa
(Price & Wilson,
2015)

Neurologi: kelemahan,
fatigue,
kecemasan,
Muslukoskleletal: kram
penurunan konsentrasi,
otot,
hilangnya
disorientasi,
tremor,
kekuatan otot, renal
seizures,
kelemahan
osteodistropi,
nyeri
Bagan 2.1 Kerangka
Teori
pada
lengan, nyeri pada 51
tulang, fraktur, Fatique
dan
Eight-Forms telapak
of Movingkaki, perubahan
drop.Latihan
Pengaruhfoot
Eight-Forms
of Moving Meditation terhadap Fatique
Meditation
tingkah laku
(Sherwood,
L., 2001)
Pada Pasien Post-Haemodialysis
(Smeltzer & Bare,

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep
Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh eight-forms of moving
meditation terhadappenurunanfatique pada pasien post-haemodialysis di Unit
Rawat Jalan RSUD Prof. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016. Ada
pun variabel yang dibahas penelitian ini, tertera pada kerangka konsep di
bawah ini.

52

Pengaruh Eight-Forms of Moving Meditation Terhadap Fatique Pada Pasien PostHaemodialysis Di Unit Rawat Jalan RSUD Prof. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Tahun 2016

Pemberian latihan eightforms of moving meditation

Fatique pasien post-Fatique pasien posthaemodialysis


haemodialysis
Pre-test

Post-test

X1----------------------------Perlakuan-----------------------------X2
B. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi untuk membatasi ruang lingkup atau
pengertian variabel-variabel yang diamati atau diteliti yang bermanfaat untuk
mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel
yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (notoatmodjo, 2005).
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang
dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep
pengertian tertentu (Notoadmojo, 2005). Berdasarkan tujuan kepustakaan dan
kerangka konsep diatas, maka defenisi operasional dalam penelitian ini
sebagai berikut:
No
1

Variabel

Definisi
Operasional

Cara Ukur

Alat Ukur

Skala

Hasil

Dependen

Perasaan lesu,

Melakukan

Ukur
Ukur
Fatique diukur Ordinal Terjadi

Fatique

ngantuk dan

pengukuran

dengan fatique

Penurun

assessment

an

scale (FAS)

<Mean
Tidak

pada pasien pusing;


fatique
Kurang mampu
setelah
dilakukan
hemodialisa berkonsentrasi; sebelum

jika

53

Berkurangnya

pemberian

terjadi

tingkat

latihan eight-

penurun

kewaspadaan;

forms of

an

Persepsi yang

moving

buruk dan

meditation

lambat;

dan setelah

Berkurangnya

pemberian

gairah untuk

latihan eight-

bekerja;

forms of

Menurunnya

moving

jika

Me
an

kinerja jasmani meditation


dan rohani
Penurunan
energi akibat
hemodialisa
2.

Independen Memberitahu
Pemberian
pasien eight-forms
latiahan
of moving
eight-forms
meditation akan
of moving
membuat tubuh
meditation
kita dapat

Melakukan
eight-forms

Lembaran

of moving

observasi
(Standar

meditation

Operasional

Dilakukan

Prosedur)

meningkatkan
daya tahan
tubuh,
ketenangan
batin, lebih
berkonsentrasi,
dan oksigen dalam
aliran darah
54

terpenuhi sehingga
aliran darah
menjadi lancar
sehingga tubuh
menjadi bugar dan
penuh energi.

a. Hipotesis
Ha
: Ada pengaruh eight-forms of moving meditation terhadap
penurunan fatiquepada pasien post-haemodialysis di Unit Rawat Jalan RSUD
Ho

Prof. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.


: Tidak ada pengaruh eight-forms of moving meditation terhadap
penurunan fatique pada pasien post-haemodialysis di Unit Rawat Jalan RSUD
Prof. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan
prosedur penelitian (Hidayat, 2008). Desain penelitian yang peneliti gunakan
adalah desain quasi eksperimen dengan pre dan post test. Dimana sebelum
55

dilakukan intervensi pemberian latihan eight-forms of moving meditation,


klien diukur level fatique. Kemudian setelah dilakukan intervensi pemberian
latihan eight-forms of moving meditation, klien diukur kembali level fatique.
Selanjutnya diidentifikasi apakah ada penurunan atau tidak pada level fatique
tersebut.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Ruang Hemodialisa RSUD Prof. Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada bulan juli tahun 2016. Peneliti memilih rumah sakit
ini karena dekat dengan kampus dan tempat-tinggal sehingga sangat strategis
dan mudah dijangkau. RSUD Prof. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi satusatunya tempat tujuan terapi hemodialisa bagi pasien yang membutuhkan di
Kota Bukittinggi.
C. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti (Notoadmojo,
2002:29).

Populasi

adalah

seluruh

subjek

atau

objek

dengan

kharakteristik tertentu yang akan diteliti. Bukan hanya objek atau subjek
yang dipelajari saja tapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki
subjek atau objek tertentu (Hidayat, 2008). Populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa di ruang
hemodialisa RSAM Bukittinggi. Populasi target pada penelitian ini
adalah pasien yang menjalani hemodialisa, sedangkan populasi
terjangkau pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan RSUD Prof. Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi yang menjalani hemodialisa pada tahun
2015 sebanyak 80 pasien .
2. Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah
dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2008).
Menurut Roscoe (1982: 253) dalam Sugiyono (2006: 91)
untuk

penelitian

eksperimen

sederhana,

yang
56

menggunakan

kelompok

eksperimen

dan

kelompok

kontrol, jumlah anggota sampel masing-masing antara 10


s.d. 20 (Taniredja dan Mustafidah, 2012). Penelitian akan
dilakukan pada 20 pasien.
Sampel yang dipilih pada penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria
inklusi dan kriteria ekslusi yang telah ditetapkan.
a. Kriteria inklusi:
1) Pasien hemodialisa yang rawat jalan di ruangan hemodialisa
RSAM Bukittinggi.
2) Pasien yang berada di tempat saat peneliti melakukan penelitian
3) Pasien yang menjalani hemodialisa 2-3 kali seminggu
4) Pasien yang mampu melakukan Eight Foms of Moving
Meditation (EFMM)
5) Pasien yang bersedia menjadi responden
b. Kriterian eklusi:
1) Pasien yang tidak mampu melakukan Eight Foms of Moving
Meditation
2) Tidak bersedia menjadi responden
3) Pasien yang mengalami patah tulang, otot, tulang,
tendon, fasia dan ligamen terakhir, memar (jika
chronified), proses inflamasi atau infeksi akut,
penyakit otot bawaan (miopati), luka dan bekas
luka baru, kelainan jiwa dan ber-IQ rendah atau
idot sesuai dengan kontraindikasi pelaksanaan
EFMM.
3. Teknik Sampling
Sampling adalah suatu proses yang akan menyeleksi
proporsi dari populai untuk dapat mewakili populasi
(Nursalam, 2013). Teknik sampling adalah suatu proses
seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari
populasi

yang

ada,

sehingga

jumlah

sampel

akan

mewakili keseluruhan populasi yang ada (Hidayat, 2008).


Peneliti menggunakan teknik sampling yaitu accidental
57

sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan


cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan
yang

dikehendaki

peneliti

(tujuan/masalah

dalam

penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili


karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya
(Nursalam, 2013).
D. Pengumpulan Data
Peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian yang dikeluarkan oleh
Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Perintis Sumbar yang ditujukan
kepada Kepala Puskesmas Plus Mandiangin Bukittinggi. Setelah peneliti
mendapatkan izin dari Kepala Diklat, Kepala Pelayanan, Kepala Bidang
Keperawatan dan Direktur RSAM Bukittinggi, peneliti menyiapkan diri
dengan melakukan latihan stretching active dan brisk walking. Peneliti datang
ke Ruang Hemodialisa RSAM Bukittinggi. Peneliti juga meminta kerjasama
dari Kepala Ruangan dan perawat pelaksana kemudian memberikan
penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penelitian, serta meminta
ijin untuk mengadakan latihan eight-forms of moving meditation. Peneliti
menentukan jumlah dan nama responden yang termasuk kriteria inklusi.
Selanjutnya peneliti menemui responden ke Ruang Hemodialisa yang telah
selesai menjalani hemodialisa. Peneliti menjelaskan tujuan prosedur
penelitian dan teknik penelitian pada responden. Peneliti meminta persetujuan
dari calon responden untuk berpartisipasi dalam penelitian. Setiap responden
diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk
menjadi subjek penelitian. Setelah calon responden menyatakan bersedia
untuk mengikuti prosedur penelitian, maka responden diminta untuk menanda
tangani lembar informed consent yang telah disiapkan peneliti. Setelah
responden mengisi lembar informed consent, kemudian responden diminta
untuk mengisi data demografi meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan
dan pekerjaan. Peneliti memberikan penjelasan mengenai latihan eight-forms
of moving meditation dan lama waktu yang dibutuhkan untuk latihan eight58

forms of moving meditation yang akan dijalani responden. Peneliti


menginformasikan bahwa eight-forms of moving meditation yang dilakukan
oleh responden akan dilakukan bersama dan akan di observasi oleh peneliti.
Peneliti membagikan pedoman / SOP latihan eight-forms of moving
meditation dan melakukan kontrak waktu untuk melakukan latihan. Penelitian
akan dilakukan selama 2 kali seminggu dalam 20 - 30 menit pada jam sesuai
dengan kontrak waktu dengan responden. Pada saat sebelum latihan fatique
responden akan diukur, peneliti dan responden akan bersama-sama
melakukan latihan dan hasil akan diobservasi dan di dokumentasikan serta
dilakukan pengukuran fatique setelah dilakukan intervensi. Setelah penelitian
selesai peneliti memberikan reinforcement positif pada semua responden atas
keterlibatannya dalam penelitian. Setelah prosedur pengumpulan data selesai
dilakukan maka hasil pencatatan data selanjutnya diolah ke dalam program
pengolahan data SPSS ( Statistical Product and Service Solution ).
E. Cara Pengolahan Data dan Analisa Data
1. Cara Pengolah Data
Setelah data dikumpulkan, selanjutnya peneliti akan melakukan
pengolahan data yang dilakukan melalui beberapa tahapan proses sebagai
berikut;
a. Pengecekan (Editing)
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan lembar observasi
dan FAS, apakah sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten.
b. Pemberian Kode (Coding)
Pemberian kode atau tanda pada ceklis () pada format pemberian
latihan eight-forms of moving meditation pada tiap-tiap tindakan
yang telah dilakukan oleh peneliti.
c. Pemberian Nilai (Scoring)
Merupakan proses pengolahan data untuk memberikan nilai skor
pada lembaran kuisoner fatique, jika jawaban responden tidak ada
fatique maka diberi 1, kadang-kadang fatique diberi nilai 2, jika
jawaban responden fatique menetap maka diberi nilai 3, jika

59

jawaban responden sering fatique maka diberi nilai 4, dan jika


jawaban responden selalu fatique maka diberi nilai 5.
d. Proses (Processing)
Peneliti melakukan kegiatan proses data terhadap semua kuisoner
yang lengkap dan benar untuk dianalisis. Pengolahan data dengan
bantuan program computer yang dimulai dengan entry data ke dalam
program computer menggunakan rumus uji t.
e. Pembersihan Data (Cleaning)
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry
apakah ada kesalahan atau tidak.

F. Analisa Data
1. Analisa Univariat
Analisa Univariat yaitu data yang ditabulasi dan disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan analisis
dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian sesuai
dengan kepustakaan yang ada untuk mengambil suatu
kesimpulan.

Analisa

univariat

digunakan

untuk

menganalisa variabel dependen yaitu penurunan fatique


pada pasien post-haemodialisis di Ruang Hemodialisa
RSAM Bukittinggi.
2. Analisa Bivariat.
Analisa bivariat mempunyai tujuan untuk menganalisis
perbedaan

dua

variabel.

Analisis

bivariat

akan

menguraikan perbedaan mean variabel penurunan fatique


pada pasien post-haemodialisis sebelum dan sesudah
dilakukan EFMM. Analisis bivariat dilakukan dengan uji
statistik dependent sampel paired t-test (uji beda ratarata untuk sampel yang berhubungan) yaitu apabila data
yang dikumpulkan dari dua sampel yang berhubungan,

60

artinya satu sampel akan mempunyai dua data seperti


perbedaan rata-rata penurunan fatique pada pasien posthaemodialisis sebelum dan sesudah dilakukan EFMM.
Kriteria pengujian adalah bila p value derajat kepercayaan
95% atau = 0,05. Jika nilai p value (alpha), maka
pengaruh

tersebut

secara

statistik

ada

pengaruh

bermakna, tetapi jika p value > (alpha), maka secara


statistik tidak signifikan atau tidak ada pengaruh yang
bermakna. Semua data pengolahan dilakukan dengan
bantuan software komputer.
Rumus :

d
SDd / n
Keterangan:
d = rata-rata deviasi atau selisih sampel 1 dan 2
SD = standar deviasi dari deviasi 1 dan 2
n = sampel
T = perbedaan ( Hastono, 2011)
T=

G. Etika Penelitian
1. Prosedur Pengambilan Data
Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengurus proses
penelitian dan perizinan dari prodi S1 Keperawatan STIKES
Perintis Bukittinggi. Kemudian mengajukan permohonan
pengambilan data ke RSUD Prof. Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi,
kepala

lalu

bagian

peneliti
Humas

mengunjungi
yang

dan

merupakan

menemui
perwakilan

direktur, kemudian ke kepala bidang SDM, kepala bidang


pelayanan

dan

kepala

bidang

keperawatan

untuk

memperoleh izin melakukan penelitian di ruangan yang


akan diteliti dan mencari responden yang sesuai dengan
61

kriteria sampel. Setelah mendapatkan responden yang


sesuai dengan kriteria, peneliti memberikan penjelasan
tentang tujuan penelitian. Setelah responden setuju,
responden
concern.

diminta
Menurut

untuk
Hidayat

menandatangani
(2009),

informed

masalah

etika

penelitian yang harus diperhatikan diantaranya:


a. Informed concern
Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan
responden dengan memberikan lembar persetujuan.
Informed

concern

penelitian

dilakukan

persetujuan

tersebut

untuk

diberikan

sebelum

dengan

memberikan

lembar

menjadi

responden.

Tujuan

informed concern adalah subjek mengerti maksud dan


tujuan penelitian, mengetahui dampaknya, jika subjek
bersedia maka mereka harus menandatangani lembar
persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka
peneliti harus menghormati hak pasien.
b. Anomity (Tanpa Nama)
Merupakan
masalah
etika
dalam

penelitian

keperawatan dengan cara tidak memberikan nama


responden pada lembar alat ukur, hanya menuliskan
kode pada lembar pengumpulan data.
c. Confidentiality (Kerahasiaan)
Merupakan
masalah
etika
dengan
kerahasiaan

dari

hasil

penelitian,

baik

menjamin
informasi

maupun masalah-masalah lainnya, semua informasi


yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh
peneliti hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil riset.
d. Asas Kemanfaatan
Peneliti harus secara jelas mengetahui manfaat dan resiko yang
mungkin terjadi. Penelitian boleh dilakukan apabila manfaat yang
diperoleh lebih besar daripada resiko atau dampak negatif yang akan
62

terjadi. Peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur


penelitian guna mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal
mungkin bagi subjek penelitian dan dapat digeneralisasikan di
tingkat populasi (beneficence). Penelitian yang dilakukan harus
bebas dari penderitaan yaitu dilaksanakan tanpa mengakibatkan
penderitaan kepada subjek khususnya jika menggunakan tindakan
khusus (Setiadi, 2007).

63