Anda di halaman 1dari 3

PRO_DRUG

yaitu senyawa yang secara biologik tidak aktif, akan tetapi dalam organisme
diubah secara enzimatik atau tak enzimatik menjadi bentuk yang aktif.
Pengembangan
pro-drug
baru
dilakukan
jika
sifat-sifat
teknologi,
farmakokinetika, farmakodinamika atau toksikologi dari bahan berkhasiat perlu
diperbaiki. Jadi sintesis pro-drug diperlukan pada bahan berkhasiat dengan rasa
tak enak, kelarutan dalam air tidak cukup pada pemakaian parenteral yang
dibutuhkan, kurang dapat terabsorpsi, pengaruh lintas pertama besar, lama kerja
singkat, distribusi kedalam organ sasaran tak cukup, keselektifan kerja rendah
atau toksisitas tinggi.
Pentothal
yang biasa disebut Natrium-thiopental merupakan obat yang
termasuk golongan barbiturate. Turunan barbiturate bekerja dengan menekan
transmisi sinaptik pada system pengaktifan retikula di otak dengan cara
mengubah permeabilitas membrane sel, sehingga mengurangi rangsangan
polisinaptik dan menyebabkandeaktivasi korteks serebral. Sandberg (1951)
membuat postulat bahwa untuk memberi efek penekanan system saraf pusat,
turunan asam barbiturate harus bersifat asam lemah dan mempunyai nilai
koefisien partisi lemak/air dengan batas tertentu. (Kimia Medisinal 2, Siswandono
MS dan Dr. Bambang Soekardjo, SU., 2000: hlm 232). Natrium tiopental adalah
obat dari golongan barbital yang memiliki aksi sebagai anestesi jangka waktu
singkat. Turunan barbiturat bekerja dengan menekan transmisi sinaptik pada
system pengaktifan retikula di otak dengan cara mengubah permeabilitas
membrane sel sehingga mengurangi rangsangan polisinaptik dan menyebabkan
deaktivasi koerteks serebral. Zat ini tidak mempunyai sifat analgesic dan batas
keamanannya sangat sempit, sehingga dapat menimbulkan gejala overdosis
berupa depresi kardiorespiratori. Larutannya bersifat sangat alkali dan karena itu
bersifat iritatif bila penyuntikan keluar dari vena dan untuk injeksi arteri sangat
berbahaya. Pemulihan kesadaran dari pembiusan dengan thiopental dosis
menengah terjadi cepat karena obat mengalami redistribusi di dalam tubuh.
Struktur Na-thiopental
H
N
S
N
H

O
C2H5
CH CH2 CH2 CH3
O CH3

Gugus karbonil pada posisi 2 bersifat asam lemah, karena dapat


bertautomerisasi bentuk keto berada dalam keseimbangan dengan bentuk
laktim (enol). Bentuk laktim bereaksi dengan alkali membentuk garam yang larut
dalam air. Penggantian unsur O pada aton C di posisi 2 dengan unsure S, yang
umumnya disebut tiobarbiturat, menaikkan kelarutan lemak.
Perubahan sruktur yang menaikkan kelarutannya dalam lemak, akan
menurunkan mula kerja dan lama kerja obat, menaikkan metabolisme
pengrusakan dan ikatan terhadap protein, serta sering kali menaikkan efek

hipnotik.
Pemerian serbuk hablur, putih sampai hamper putih kekuningan atau kuning
kehijauan pucat; higroskopis; berbau tidak enak. Larutan bereaksi basa terhadap
lakmus, terurai jika dibiarkan, jika didihkan terbentuk endapan. Natriumtiopental, merupakan obat anestesi sistemik turunan tiobarbiturat, mempunyai
awal dan masa kerja yang sangat singkat sehingga dimasukkan ke dalam
golongan barbiturate dengan kerja sangat singkat.
Natrium-tiopental berdifusi sangat cepat keluar dari otak dan jaringan lain yang
mendapat aliran darah banyak dan selanjunya mengalami redistribusi menuju
otot bergaris, lemak dan akhirnya ke seluruh jaringan tubuh. Natrium-thiopental
merupakan obat yang termasuk golongan barbiturate. Thiopental, obat anestesi
sistemik turunan tiobarbiturat, mempunyai awal dan masa kerja yang sangat
singkat, sehingga dimasukan dalam golongan barbiturate dengan kerja sangat
singkat. Contoh paten obat golongan barbiturate dengan awal dan masa kerja
yang sangat cepat adalah Phanodorn, cyclopal, medomin, ortal, Nembutal
sodium, ceconal.
Barbiturat bekerja pada seluruh sistem saraf pusat, walaupun pada setiap
tempat tidak sama kuatnya. Dosis nonanestesi terutama menekan respon pasca
sinaps. Bariturat memperlihatkan beberapa efek yang berbeda pada eksitasi dan
inhibisi transmisi sinaptik. Barbiturat bekerja pada seluruh sistem saraf pusat,
walaupun pada setiap tempat tidak sama kuatnya. Kapasitas barbiturate
membantu kerja GABA sebagian menyerupai kerja benzadiazepin, namun pada
dosis tinggi barbiturt menimbulkan depresi sistem saraf pusat yang berat.
Berdasarkan masa kerjanya, turunan barbiturate dibagi menjadi 4, yaitu:
1. Turunan barbiturate dengan masa kerja panjang (6 jam atau lebih)
Contohnya : barbiturate, metarbital, fenobarbital
2. Turunan barbiturate dengan masa kerja sedang (3-6 jam)
Contoh :alobarbital, amobarbital, aprobarbital
3. Turunan barbiturate dengan masa kerja pendek (0,5-3 jam)
Contoh : heptabarbital, heksetal
4. Turunan barbiturate dengan masa kerja sangat pendek (<0,5 jam)
Contoh : thiopental, hamital
Thiopental, obat anestesi sistemik turunan tiobarbiturat, mempunyai awal dan
masa kerja yang sangat singkat, sehingga dimasukan dalam golongan
barbiturate dengan kerja sangat singkat. Thiopental berdifusi sangat cepat
keluar dari otak dan jaringan lain yang mendapat aliran darah banyak dan
selanjutnya mengalami redistribusi menuju otot bergaris, lemak, dan akhirnya ke
seluruh jaringan tubuh. Dengan barbiturate, keseimbangan plasma otak terjadi
dengan cepat, karena kelarutan dalam lipid yang tinggi. Thiopental berdifusi
sangat cepat keluar dari otak dan jaringan lain yang mendapat aliran darah
banyak dan selanjutnya mengalami redistribusi menuju otot bergaris, lemak, dan
akhirnya ke seluruh jaringan tubuh. Oleh karena perpindahannya yang cepat dari
jaringan otak, maka satu dosis thiopental lama kerjanya sangat pendek.
Metabolisme thiopental jauh lebih lambat bila dibandingkan redistribusinya dan
terutama terjadi di hati. Kurang dari 1% dari dosis thiopental yang diberikan
mengalami eliminasi dalam bentuk tidak berubah lewat ginjal. Thiopental

mengalami metabolisme dengan kecepatan 12%-16% per jam dalam tubuh


manusia setelah pemberian dosis tunggal. Dalam dosis tinggi, thiopental
menyebabkan tekanan darah arteri, volume sekuncup, dan curah jantung yang
efeknya bergantung pada dosis.

Thiopental (pKa = 7,6), mempunyai nilai koefisien partisi lemak/air = 100. dalam
plasma darah yang mempunyai pH = 7,4, thiopental terdapat dalam bentuk
tidak terionisasi kurang lebih 50%, yang mempunyai kelarutan dalam lemak
sangat besar. Thiopental yang berada dalam plasma darah dengan cepat
terdistribusi dan dihimpun dalam depo lemek; makin lama makin banyak
sehingga kadar obat dalam plasma menurun secara drastic. Untuk mencapai
keseimbangan, thiopental yang berada pada jaringan otak masuk kembali ke
plasma darah sehingga kadar anestesi tidak tercapai lagi dan efek anestesi
seger berakhir (masa kerja obat singkat)
Masa kerja thiopental tidak bergantung pada kecepatan distribusinya. Setelah 3
jam pemberian, kadar thiopental dalam depo lemak 10 kali lebih besar
disbanding kadar obat dalam plasma. Dalam lambung tikus, pada pH 1
penyerapannya 46%. Sedangkan pada pH 8 penyerapannya 34%. (Kimia
Medisinal, Siswandono MS dan Dr. Bambang Soekardjo, SU.,1995: hlm 10).
Indikasi Pentothal anestesi sebelum pemberian anestesi lain, juga sebagai
anestesi tunggal untuk operasi singkat. Kontra indikasi : kehilangan rasa sakit
secara sempurna, status asmatikus, porfiria, laten, atau monifes. Hati-hati pada
hipertensi sedang, penyakit kardiovaskuler parah, bertambahnya tekanan
intrakarnial, asma, miestemia gravis, dan anemia parah. Efek samping dari obat
ini dapat berupa depresi pernafasan, depresi otot jantung, artemia jantung,
bersin, batuk, bronkostamus, dan laringospasmus.