Anda di halaman 1dari 48

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN

MEI 2016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

O.S. Ulkus Kornea

OLEH :
Wismoyo Indra Zoelman
10542 0158 10
PEMBIMBING :
dr. Sitti Soraya, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Wismoyo Indra Zoelman, S.Ked

NIM

: 10542 0158 10

Judul Referat

: O.S. Ulkus Kornea

Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada


bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar,

Mei 2016

Pembimbing

(dr. Sitti Soraya, Sp.M)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

HALAMAN PENGESAHAN

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

BAB II LAPORAN KASUS

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV KESIMPULAN

36

DAFTAR PUSTAKA

39

BAB I
PENDAHULUAN

Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan
ganguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah,
namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai.1
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas
cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform,
avaskuler dan deturgenses. Deturgenses atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea,
dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan
endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan cedera
kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan selsel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, cedera
pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat stroma kornea yang akan menghilang bila
sel-sel epitel telah beregenerasi.1
Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma oleh benda asing atau penyakit yang
menyebabkan masuknya bakteri atau jamur ke dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi
atau peradangan. Ulkus kornea merupakan luka terbuka pada kornea. Keadaan ini
menimbulkan nyeri, menurunkan kejernihan penglihatan dan kemungkinan erosi kornea.2
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat
supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari
epitel sampai stroma. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat
untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descematokel, perforasi,
endoftalmitis, bahkan kebutaan. Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan
kornea dan merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia.2
Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab
kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Kekeruhan kornea ini
terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan virus dan bila

terlambat didiagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma
dan meninggalkan jaringan parut yang luas.2
Insiden ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 juta per 100.000 penduduk di Indonesia,
sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian
lensa kontak, dan kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya.3

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Suku/Bangsa
Pekerjaan
Alamat
No. Register
Tanggal Pemeriksaan
Rumah Sakit
Pemeriksa

: Ny. N
: Perempuan
: 20 tahun
: Islam
: Bugis/Indonesia
: Ibu Rumah Tangga
: Jl. Bantaeng Lr. 4
: 08.60.26
: 2 Mei 2016
: Balai Kesehatan Mata Masyarakat
: dr. P

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Terasa nyeri pada mata kiri
Anamnesis Terpimpin :
Pasien datang ke poliklinik mata BKMM dengan keluhan nyeri pada mata kiri (+)
sejak 3 hari yang lalu. Keluhan tersebut bersamaan dengan mata merah (+) pada mata kiri.
Pasien memiliki kebiasaan memakai lensa kontak sejak berumur 17 tahun. Pasien mengaku
bahwa dia sering memperhatikan tanggal expired (batas pemakaian) setiap kali membeli
lensa kontak di apotik. Pasien juga tidak pernah bergonti-ganti lensa dengan orang lain
(pemakai perorangan) dan merendam lensa dengan menggunakan air khusus lensa kontak
bila tidak digunakan.
Pasien sekarang dalam keadaan hamil anak pertama, dengan usia kandungan 6 bulan
dan usia pernikahan kurang lebih 1 tahun. Keluhan lain: rasa mengganjal (+), air mata
berlebih (+), kotoran mata berlebih (-), rasa gatal (-), rasa silau (-), riwayat penggunaan
kacamata (-), riwayat demam (+).

Riwayat Penyakit Terdahulu :


-

Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya (-)


Riwayat penyakit mata sebelumnya (+)
Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat trauma (-)
Riwayat alergi (-)

Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga dan sosial
Tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga pasien.

OD

OS

Gambar 1.
Kondisi mata
kedua pasien
tampak luar

Gambar 2.
Fluorescence
Test (+) pada
mata kiri

C. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
1

Pemeriksaan Inspeksi
OD

OS

Edema (-)

Edema (+)

Normal, sekret (-)

Normal, sekret (-)

Lakrimasi (-)

Lakrimasi (+)

Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

Bola mata

Normal

Normal

Kornea

Jernih

Agak Keruh

Bilik Mata
Depan
Iris

Normal

Normal

Coklat, Kripte (+)

Coklat, Kripte (+)

Pupil

Bulat, Sentral

Bulat, Sentral

Lensa

Jernih

Jernih

Palpebra
Silia
Apparatus
Lakrimalis
Konjungtiva

Mekanisme

Ke

muscular

Ke segala arah

segala
arah

Pemeriksaan Palpasi
Palpasi

OD

OS

Tensi Okuler

Tn

Tn

Nyeri tekan

(-)

(-)

Massa tumor

(-)

(-)

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Glandula preaurikuler
3

Tonometri
TOD : 14 mmHg
TOS : 9 mmHg

Visus
VOD 20/40
VOS 20/60f

Campus Visual
Tidak dilakukan Pemeriksaan

Color sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

Light Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

Diafanoskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan

Penyinaran Oblik
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Pemeriksaan
Konjungtiva
Kornea
Bilik mata depan
Iris
Pupil

6.

Lensa

OD
Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, kripte (+)
Isokor, Bulat, Sentral,
RC(+)
Jernih

OS
Hiperemis (-)
Agak keruh
Normal
Coklat, kripte (+)
Isokor, Bulat, Sentral,
RC(+)
Jernih

10 Pemeriksaan Slit Lamp


a

SLOD : konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat,

kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+), lensa jernih


SLOS : konjungtiva hiperemis (+), kornea agak keruh, BMD kesan normal, Iris
coklat, kripte (+), pupil bulat sentral RC (+), lensa jernih.

11 Pemeriksaan laboratorium
OS : Pemeriksaan KOH (-)

RESUME
Seorang perempuan berumur 20 tahun datang ke poliklinik mata Balai Kesehatan
Mata Masyarakat Makassar dengan keluhan utama nyeri pada mata kiri sejak kurang lebih 3
hari yang lalu. Pasien memiliki kebiasaan memakai lensa kontak (+) sejak berumur 17 tahun.
Pasien sekarang dalam keadaan hamil anak pertama, dengan usia kandungan 6 bulan dan usia
pernikahan kurang lebih 1 tahun. Keluhan lain : rasa mengganjal (+), air mata berlebih (+),
kotoran mata berlebih (-), rasa gatal (-), rasa silau (-), riwayat penggunaan kacamata (-),
riwayat demam (+), riwayat penyakit mata sebelumnya (+).
Pada pemeriksaan oftalmologi (visus) VOD : 20/40, VOS : 20/60f. Dan pemeriksaan
tekanan intraokuler TOD : 14 mmHg; dan TOS : 9 mmHg. Pada pemeriksan slit lamp,
didapatkan : OD tampak lensa dan kornea jernih, sedangkan pada OS tampak lensa dan
kornea agak keruh; sklera hiperemis. Pada pemeriksaan palpasi tidak ditemukan kelainan.
D. DIAGNOSIS KERJA
OS Ulkus Kornea
E. DIAGNOSIS BANDING
OS Sikatriks Kornea
F. TERAPI
Non Medikamentosa
Hentikan pemakaian lensa kontak, kurangi pajanan debu, sinar matahari dengan
menggunakan kacamata.
Medikamentosa
- OS Spooling
- Levocin 6xI gtt OS

G. PROGNOSIS
- Qua ad vitam
- Qua ad sanationam
- Qua ad functionam
- Qua ad cosmeticam

: Bonam
: Bonam
: Dubia ad Bonam
: Dubia ad Bonam

H. DISKUSI
Dari anamnesis yang dilakukan pada pasien perempuan umur 20 tahun
didapatkan keluhan nyeri pada mata kiri yang telah dirasakan sejak kurang lebih 3
hari yang lalu dan dirasakan semakin parah. Selain itu pasien mengeluhkan adanya
mata merah, rasa mengganjal, lakrimasi, dan rasa gatal. Riwayat penggunaan lensa
kontak sejak lama, hal ini didapatkan pada riwayat penderita dengan ulkus kornea.
Pasien sekarang dalam keadaan hamil anak pertama, dengan usia kandungan 6 bulan .

Hasil pemeriksaan fisik pada kedua mata pasien, terdapat tajam penglihatan VOD :
20/40 dan VOS : 20/60f. Hal ini mengindikasikan bahwa kelainan fungsi penglihatan
berupa mata kabur pada pasien bukan disebabkan oleh kelainan refraksi, namun oleh
penyebab organik.
Inspeksi langsung pada mata, mata terlihat merah. Pemeriksaan pada mata
selanjutnya memberikan gambaran kornea yang agak keruh, ini menandakan gejala
penglihatan kabur yang mungkin disebabkan oleh terganggunya fungsi kornea sebagai
media refraksi.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang kemudian mengarahkan
diagnosis kerja pada O.S. Ulkus Kornea. Maka penatalaksanaan dilakukan sesuai
penatalaksanaan yang ada.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA


Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal sebuah
jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada
persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm
di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior,
kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan
epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan
endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa
cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Kalau kornea udem karena suatu
sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga
penderita akan melihat halo.1

Gambar 3. Anatomi Kornea

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar ke dalam:


1. Lapisan epitel

Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal
berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya
melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air,
elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.

Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren.

Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2. Membran Bowman

Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Jaringan Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan
yang lainnya. Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian
perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen
memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit
merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat
kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen
dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

4. Membran Descement

Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea


dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.

Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40
m.

5. Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m.


Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula
okluden.4

Gambar 4. Corneal Cross Section


Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma
kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause
untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah
limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.4
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air
mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. Transparansi
kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.1

B. ULKUS KORNEA
B.1 DEFINISI 2,4
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan
kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, dan
diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma.

B.2 EPIDEMIOLOGI
Di Amerika insiden ulkus kornea bergantung pada penyebabnya yaitu apakah
mikroorganisme, asupan makanan, trauma, kelainan yang disebabkan kongenital. Insidensi
ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan
predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa
kontak, dan kadang-kadang tidak di ketahui penyebabnya. Walaupun infeksi jamur pada
kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879 tetapi baru mulai periode 1950 keratomikosis
diperhatikan. Banyak laporan menyebutkan peningkatan angka kejadian ini sejalan dengan
peningkatan penggunaan kortikosteroid topikal, penggunaan obat imunosupresif dan lensa
kontak. Singapura melaporkan selama 2.5 tahun dari 112 kasus ulkus kornea 22 beretiologi
jamur. Mortalitas atau morbiditas tergantung dari komplikasi dari ulkus kornea seperti parut
kornea, kelainan refraksi, neovaskularisasi dan kebutaan. Berdasarkan kepustakaan di USA,
laki-laki lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitu juga dengan
penelitian yang dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin
disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga meningkatkan
resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.3

B.3 ETIOLOGI1,4,5,6
1

Radang

Infeksi

Devisiensi vitamin A

Lagoftalmos akibat parese saraf ke VIII

Lesi saraf ke III (neurotrofik)

Ulkus Mooren

Penyebab tukak kornea adalah bakteri, jamur, achantamoeba dan herpes simpleks.
bakteri :

Streptokokus alfa hemolitik,

Stafilokokus aureus,

Moraxela likuefasiens

Psedomonas aeruginosa,

Nocardia asteroides,

Alcaligenes sp.,

Streptokokkus anaerobik,

Streptokokkus betahemolitik,

Enterobakter hanifae,

Proteus sp,

Stafilokkokus epidermidis

Infeksi campuran :
o erogenes dan stafilokokus aureus
o moraxella sp dan staf.ilokokus aureus

o streptokokus alfa hemolitik dan stafilokokus aureus.


Infeksi
Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella
merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk sentral. Gejala klinis
yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang bersifat
khas menunjukkan infeksi P aeruginosa.

Infeksi Jamur : disebabkan

oleh Candida, Fusarium, Aspergilus,

Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.

Infeksi virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas
dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah
akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila
mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster,
variola, vacinia (jarang).

Acanthamoeba
Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat di dalam air yang
tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh
acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna lensa
kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi
juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air
atau tanah yang tercemar.
Noninfeksi

Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.


Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik dan
organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi
pengendapan protein permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi
maka tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial

saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih yang
mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi
penghancuran kolagen kornea.

Radiasi atau suhu


Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang akan
merusak epitel kornea.

Sindrom Sjorgen
Pada Sindrom Sjorgen salah satunya ditandai keratokonjungtivitis sicca yang
merupakan suatu keadan mata kering yang dapat disebabkan defisiensi unsur
film air mata (akuos, musin atau lipid), kelainan permukan palpebra atau
kelainan epitel yang menyebabkan timbulnya bintik-bintik kering pada kornea.
Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan defek pada
epitel kornea terpulas dengan flurosein.

Defisiensi vitamin A
Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A
dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun
pemanfaatan oleh tubuh.

Obat-obatan
Obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun, misalnya; kortikosteroid,
IDU (Iodo 2 dioxyuridine), anestesi lokal dan golongan imunosupresif.

Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.

Pajanan (exposure)

Neurotropik

Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)

Granulomatosa wagener

Rheumathoid arthritis

B.4 PATOFISIOLOGI
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam
perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya
tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior
dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu
pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di
kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di
daerah pupil. 5
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera
datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan
kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja
sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat
dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel
mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya
infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.6
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik
superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga
diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan
menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan
fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. 1
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel
leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu
melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat
sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran
Bowman dan sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan
menyebabkan terjadinya sikatrik.5

B.5 PERJALANAN PENYAKIT


Perjalanan penyakit tukak kornea dapat progresif, regresi atau membentuk jaringan parut.
1

Pada proses yang proresif : dapat terlihat infiltrasi sel leukosit dan limfosit yang
memakan bakteri atau jaringan nekrotik yang terbentuk.

Pada pembentukan jaringan parut akan terdapat epitel, jaringan baru dan fbroblas.

B.6 KLASIFIKASI
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:
1. Ulkus kornea sentral
a

Ulkus kornea bakterialis

Ulkus kornea fungi

Ulkus kornea virus

Ulkus kornea acanthamoeba

Ulkus kornea perifer


a

Ulkus marginal

Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden)

Ulkus cincin (ring ulcer)

B.7 MANIFESTASI KLINIS


Gejala yang diberikan (subjektif):

Mata merah

Sakit mata ringan hingga berat

Fotofobia

Penglihatan menurun

Mata terkadang kotor.

Tanda:

Kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang bila diberi
pewarnaan flouresen akan berwarna hijau ditengahnya.

Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi sel radang pada
kornea.

Gejala penyerta: penipisan kornea, lipatan descement, reaksi jaringan uvea (akibat
gangguan vaskularisasi iris) berupa suar, hipopion, hifema dan sinekia posterior.

Pada tukak kornea yang disebabkan :


Kokus gram (+),

Pseudomonas

Jamur

Virus

staf aureus dan


treptokok pnemoni.
Tukak yang

Tukak akan

Infiltrat akan

Bila tukak

terbatas, Berbentuk

melebar dengan

berwarna abu-abu

berbentuk dendrit

bulat atau lonjong,

cepat, bahan

dikelilingi infiltrat

akan terdapat

Berwarna putih

purulen berwarna

halus disekitarnya

hipestesi pada

abu-abu pada anak

kuning hijau

(fenomena satelit).

kornea.

tukak yang

terlihat melekat

supuratif.

pada permukaan
tukak.

Akan

Jamur dan bakteri


terdapat defek epitel

dikelilingi leukosit polimorfnuklear.

Virus
yang Akan terlihat reaksi hipersensitivitas
disekitarnya.

Bila proses pada tukak berkurang maka akan terlihat berkurangnya rasa sakit,
fotofobia, berkurang infiltrat pada tukak dan defek epitel kornea menjadi bertambah kecil.

B.8 DIAGNOSIS
Diagnosis laboratorium tukak kornea :

Keratomalasia dan

Infiltrat sisa karat benda asing.

Pemeriksaan laboratorium :
1

Untuk setiap tukak kornea : pemeriksaan agar darah, sabouraud, triglikolat, dan agar
coklat.

Untuk tukak yang disebabkan karena jamur : sediaan hapus yang memakai larutan
KOH.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien
penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing,
abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi
virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian
obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit
bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi
akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi
khusus.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea
edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang
disertai dengan hipopion.
Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :
Ketajaman penglihatan
Tes refraksi
Tes air mata

Pemeriksaan slit-lamp
Keratometri (pengukuran kornea)
Respon reflek pupil
Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

Gambar 5. Kornea ulcer dengan fluoresensi

Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH)
Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari
dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau
Giemsa. Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan
periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar
ekstrak maltosa.

Gambar 6. Pewarnaan gram ulkus kornea fungi

Gambar 7. Pewarnaan gram


ulkus kornea herpes simplex

Gambar 9. Pewarnaan gram


ulkus kornea bakteri

Gambar 8. Pewarnaan gram


ulkus kornea herpes zoster

Gambar 10. Pewarnaan gram


ulkus kornea

B. 9 PENGOBATAN
Tujuan pengobatan pada tukak kornea adalah :
Menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotika dan mengurangi reaksi radang
dengan steroid.
Pengobatan umum untuk tukak kornea adalah :
1. Siklopegik
2. Antibiotik yang sesuai topikal dan subkonjungtiva
3. Pasien dirawat bila mengancam perforasi,
4. Pasien tidak dapat memberi obat sendiri,

5. Tidak terdapat reaksi obat


6. Perlu obat sistemik.
7. Penanganannya:

Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi
sebgai inkubator.

Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali satu hari.

Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder.

Debridement sangat membantu penyembuhan.

Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya diberi lokal kecuali
keadaan berat.

Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epiteliasasi dan mata terlihat tenang kecuali bila
penyebabnya pseudomonas yang memerlukan pengobatan ditambah 1 2 minggu.
Pada tukak kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasti apabila :

Dengan pengobatan tidak sembuh

Terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan


Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata

agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea
tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus,
anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat
bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat
dan perlunya obat sistemik.
a. Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah
1

Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya

Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang

Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan


mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih

Berikan analgetik jika nyeri

b. Penatalaksanaan medis
1. Pengobatan konstitusi
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum yang
kurang dari normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang
bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang
mengandung vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang
disebabkan kuman yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat
diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan
hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan
sampai melebihi 39,5C. Akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya
antibodi dalam badan dan menjadi lekas sembuh.
2. Pengobatan lokal
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea
sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis,
dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok,
gigi atau tempat lain harus segera dihilangkan.
Infeksi pada mata harus diberikan :

Sulfas atropine sebagai salap atau larutan,


Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu.
Efek kerja sulfas atropine :
-

Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.


Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi
sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor

pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat
dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru

Skopolamin sebagai midriatika.

Analgetik.
Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau
tetrakain tetapi jangan sering-sering.

Antibiotik
Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum
luas diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan
ulkus sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat
penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali.

Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat
komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi
:
1.

Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal


amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10
mg/ml, golongan Imidazole

2.

Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal,


Natamicin, Imidazol

3.

Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol

4.

Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa,


berbagai jenis anti biotik

Anti Viral

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal


untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi
sekunder analgetik bila terdapat indikasi.
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon
inducer.
Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena dapat
menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap
perkembangbiakan kuman penyebabnya. Perban memang diperlukan pada ulkus yang bersih
tanpa sekret guna mengurangi rangsangan.
Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan :
1

Kauterisasi
a

Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan murni trikloralasetat

Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau termophore. Dengan


instrumen ini dengan ujung alatnya yang mengandung panas disentuhkan pada
pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan.

Pengerokan epitel yang sakit


Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak menunjukkan

perbaikan dengan maksud mengganti cairan coa yang lama dengan yang baru yang banyak
mengandung antibodi dengan harapan luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan flap
konjungtiva, dengan melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik
menutupi ulkus dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk
mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap konjungtiva ini dapat dilepaskan
kembali.
Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan berikan sulfas
atropine, antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring dan jangan melakukan gerakangerakan. Bila perforasinya disertai prolaps iris dan terjadinya baru saja, maka dapat
dilakukan:

Iridektomi dari iris yang prolaps

Iris reposisi

Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva

Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang kuat


Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung lama, kita obati

seperti ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai akhirnya sembuh menjadi
leukoma adherens. Antibiotik diberikan juga secara sistemik.

Gambar 11. Ulkus kornea perforasi, jaringan iris keluar dan


menonjol, infiltrat pada kornea di tepi perforasi.

3. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak berhasil.
Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea
yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :
1

Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita

Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.

Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

Gambar 12. Keratoplasti

B. 10 PENCEGAHAN 7
Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli
mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea dapat
mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.

Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata

Jika mata sering

kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup

sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah

Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat
lensa tersebut.

B. 11 KOMPLIKASI 7
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:
Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat
Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis
Prolaps iris
Sikatrik kornea
Katarak
Glaukoma sekunder

I. 12 PROGNOSIS 3,8
Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya
mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi
yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena

jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya
mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk.
Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal
ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka
dapat menimbulkan resistensi.
Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan
pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode; migrasi
sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan pembuluh darah
dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh dengan cepat melalui metode
yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan
fibroblas dapat membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik.

I. ULKUS KORNEA SENTRAL


I. 1 ETIOLOGI
Ulkus kornea sentral biasanya bakteri (Pseudomonas, Pneumokokkus, Moraxela
liquifaciens, Streptokokkus beta hemolitik, Klebsiela pneumoni, E. Coli, Proteous), virus
(Herpes simpleks, Herpes zoster), jamur (Candida albikans, Fusarium solani, Spesies
nokardia, Sefalosporium, dan Aspergilus).
Mikroorganisme ini tidak mudah masuk ke dalam kornea dengan epitel yang sehat.
Terdapat factor predisposisi untuk terjadinya tukak kornea seperti erosi pada kornea, keratitis
neurotrofik, pemakai kortikosteroid atau imunosupresif, pemakai obat anastetika, pemakai
I.D.U, pasien diabetes mellitus dan ketuaan.

ULKUS KORNEA BAKTERIALIS


Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah
kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi
ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi
kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia.

Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan
disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara
adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit.
Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.
Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus
sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat
mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus yang
berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang
bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang
banyak.

Gambar 13. Ulkus Kornea Bakterialis

Gambar 14. Ulkus Kornea Pseudomonas

Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi
ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran
karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh
dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus
yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan
hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.diagnosa
lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.

ULKUS KORNEA FUNGI


Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu
sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini.
Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak
kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian

epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga
terdapat satelit-satelit disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang
disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik.
Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai
hipopion.

Gambar 15. Ulkus Kornea Fungi

ULKUS KORNEA VIRUS


Ulkus KorneaHerpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan
perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata
ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat
terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang
bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abuabu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit keadaan
yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.
Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes
simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda
injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea
disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada kornea secara
lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit
herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan
diujungnya.

Gambar 16. Ulkus Kornea Dendritik

Gambar 17. Ulkus Kornea Herpetik

ULKUS KORNEA ACANTHAMOEBA


Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan
fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat
perineural.

Gambar 18. Ulkus Kornea Acanthamoeba

II. ULKUS KORNEA PERIFER


Ulkus Marginal
Ulkus marginal merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk khas yang
biasanya terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan tempat kelianannya.Dasar
kelainannya : suatu reaksi Hipersensitivitas terhadap eksotoksin stafilokokus.
(blefarokonjungtivitis stafilokokus).

Gambar 19. Ulkus Marginal


Etiologi :

Alergi, toksik, infeksi dan penyakit kolagen vascular.

Pada infeksi local dapat mengakibatkan keratitis kataral marginal, yang


biasanya

terdapat

pada

pasien

setengah

umur

dengan

adanya

blefarokonjungtivitis.

Dapat juga terjadi bersama-sama dengan radang konjungtiva yang disebabkan


Moraxella (disebut konjungtivitis angular), basil Koch weeks atau proteus
vulgaris.

Perjalanan Penyakit :
Dapat berubah-ubah, dapat sembuh cepat dapat pula timbul atau kambuh dalam waktu
singkat.
Pathogenesis : Ulkus timbul akibat sensitisasi terhadap produk bakteri, antibodi dari
pembuluh limbus bereaksi dengan antigen yang telah berdifusi melalui epitel kornea.
Infiltrat dan ulkus marginal mulai berupa infiltrat linier atau lonjong terpisah dari limbus
oleh interval bening dan hanya pada akhirnya menjadi ulkus dan mengalami
vaskularisasi. Proses ini sembuh sendiri umumnya setelah 7 sampai 10 hari.

Manifestasi klinis :
Biasanya bersifat recurrent dengan kemungkinan terdapatnya streptococcus
pneumonie, hemophillus aegepty, Moraxella Lacunata dan Esrichia.
Gejala dan tanda :

Subjektif (keluhan pasien)


Penglihatan / visus menurun

Rasa sakit pada mata

kompleks Ag dan Ab secara

Fotofobia

histoptologik : terlihat sebagai

Lakrimasi

ulkus/abses.

Objektif (tanda klinis)


Infiltrate dan tukak yang diduga

Terdapat satu mata blefarospasme,


injeksi konjungtiva, infiltrate /
ulkus yang memanjang dan
dangkal. Dapat terbentuk
neovaskularisasi dari arah limbus.

Pada konjungtivitis angular yang


disebabkan oleh Moraxella
(diplobasil), menghasilkan bahanbahan proteoitik yang
mengakibatkan defek epitel.

Terapi : Antibiotik dengan steroid local dapat diberikan sesudah kemungkinan infeksi
virus herpes simpleks disingkirkan. Pemberian steroid sebaiknya dalam waktu yang
singkat disertai dengan pemberian vitamin B dan C dosis tinggi.

Ulkus Mooren (ulkus serpinginosa kronik / ulkus roden)


Albert Mooren adalah seorang dokter Jerman pada tahun 1828-1899 yang
menguraikan tukak serpiginosa kronik yang terdapat pada lansia.

Ulkus mooren suatu ulkus menahun superfisial yang dimulai dari tepi kornea,
dengan bagian tepinya bergaung dan berjalan progresif tanpa kecenderungan
perforasi. Lambat laun ulkus ini akan mengenai seluruh kornea.
Merupakan tukak kornea idiopatik unilateral ataupun bilateral. Pada usia lanjut,
sering disertai rasa sakit dan merah. Penyakit ini sering terdapat pada wanita usia
pertengahan. Pasien terlihat sakit berat dan 25% mengalami billateral.

Gambar 20. Mooren's Ulcer

Dasar kelainan : rx. Hipersensitivitas terhadap protein tuberculosis, virus, auto


imun,dan alergi terhadap toksin ankilostoma.

Pathogenesis :
Tukak ini menghancurkan membran Bowman dan stroma kornea, tidak
terdapat neovaskularisasi pada bagian yang sedang aktif, bila kronik akan terlihat
jaringan parut dan vaskularisasi. Jarang terjadi perforasi ataupun hipopion.
Proses yang terjadi kemungkinan kematian sel yang disusul dengan
pengeluaran kolagenase. Banyak pengobatan yang dicoba, namun belum ada yang
memberikan hasil yang memuaskan.
Gejala dan Tanda
Subjektif
1 Sakit terlihat berat

Objektif
Pasien tua

terutama

laki-laki,

75%

25% bilateral

unilateral dengan rasa sakit yang tidak

proses yang terjadi : kematian sel berat, prognosis sedang dan jarang
yang disusul dengan pengeluaran perforasi.

kolagenase.

Pasien muda laki-laki, 75% binocular,


dengan rasa sakit dan berjalan progesif.
Prognosis

buruk,

1/3

kasus

terjadi

perforasi kornea.

Terapi :
Pengobatan yang dicoba seperti steroid, antibiotika, anti virus, anti jamur, kolagenase
inhibitor, heparin dan pembedahan keratektomi, lameler keratoplasti dan eksisi
konjungtiva. Semua cara pengobatan biasanya belum memberi hasil yang memuaskan.

Ulkus Cincin (Ring Ulcer)


Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang berbentuk
melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang
timbul perforasi. Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu
menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan
konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun.

BAB IV
KESIMPULAN
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat
supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari
epitel sampai stroma
Penyebab :
Infeksi

Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies


Moraxella

Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus,


Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.

Infeksi virus

Acanthamoeba
Noninfeksi

Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.

Radiasi atau suhu

Sindrom Sjorgen

Defisiensi vitamin A

Obat-obatan

Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.

Pajanan (exposure)

Neurotropik

Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)

Granulomatosa wagener

Rheumathoid arthritis

Gejala yang diberikan (subjektif):

Mata merah

Sakit mata ringan hingga berat

Fotofobia

Penglihatan menurun

Mata terkadang kotor.

Tanda :

Kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang bila diberi
pewarnaan flouresen akan berwarna hijau ditengahnya.

Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi sel radang pada
kornea.

Gejala penyerta: penipisan kornea, lipatan descement, reaksi jaringan uvea (akibat
gangguan vaskularisasi iris) berupa suar, hipopion, hifema dan sinekia posterior.

Pengobatan Umum :

Siklopegik

Antibiotik yang sesuai topikal dan subkonjungtiva

Pasien dirawat bila mengancam perforasi

Pasien tidak dapat memberi obat sendiri

Tidak terdapat reaksi obat

Perlu obat sistemik.

Penanganan :

Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi sebgai
inkubator.

Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali satu hari.

Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder.

Debridement sangat membantu penyembuhan.

Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya diberi lokal kecuali keadaan
berat.

Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epiteliasasi dan mata terlihat tenang kecuali bila
penyebabnya pseudomonas yang memerlukan pengobatan ditambah 1 2 munggu.
Pada tukak kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasti apabila :

Dengan pengobatan tidak sembuh

Terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan

DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan D. Opthalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika, Jakarta, 2000.


2. Suharjo, Fatah widido. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito Sebagai Tempat
Pelayanan Mata Tertier.
3. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga FKUI, Jakarta, 2004.
4. Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, Ulkus Kornea dalam : Ilmu Penyakit Mata
Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisike 2,Penerbit Sagung Seto,
Jakarta, 2002.
5. Wijaya. N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989.
6. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section 11. San
Fransisco: MD Association, 2005-2006.
7. James, Bruce., Chew, Chris., Bron Anthony. Lecture Notes Oftamolog i.
Jakarta : Penerbit Erlangga, 2006 Hal. 5.