Anda di halaman 1dari 2

PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI

Penyakit jantung hipertensi adalah suatu penyakit yang berkaitan dengan dampak sekunder
pada jantung karena hipertensi sistemik yang lama dan berkepanjangan. Sampai saat ini
prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar antara 5-10%. Sejumlah 85-90% hipertensi tidak
diketahui penyebabnya atau disebut sebagai hipertensi primer (hipertensi esensial atau
idiopatik). Hanya sebagian kecil hipertensi yang dapat ditetapkan penyebabnya (hipertensi
sekunder).
Epidemiologi
Tidak ada data akurat mengenai prevalensi hipertensi sekunder dan sangat tergantung di
mana angka itu diteliti. Diperkirakan terdapat sekitar 6% pasien hipertensi sekunder sedangkan
di pusat rujukan dapat mencapai sekitar 35%. Hampir semua hipertensi sekunder didasarkan
pada 2 mekanisme yaitu gangguan sekresi hormon dan gangguan fungsi ginjal. Pasien hipertensi
sering meninggal dini karena komplikasi jantung (yang disebut sebagai penyakit jantung
hipertensi). Hal ini terjadi pada sekitar 7 dari 1000 orang.
Etiologi dan Faktor Risiko
Tekanan darah tinggi meningkatkan beban kerja jantung, dan seiring dengan berjalannya
waktu hal ini dapat menyebabkan penebalan otot jantung. Karena jantung memompa darah
melawan tekanan yang meningkat pada pembuluh darah yang meningkat, ventrikel kiri
membesar dan jumlah darah yang dipompa jantung setiap menitnya (cardiac output) berkurang.
Tanpa terapi, gejala gagal jantung akan makin terlihat.
Tekanan darah tinggi adalah faktor resiko utama bagi penyakit jantung dan stroke. Tekanan
darah tinggi dapat menyebabkan penyakit jantung iskemik ( menurunnya suplai darah untuk otot
jantung sehingga menyebabkan nyeri dada atau angina dan serangan jantung) dari peningkatan
suplai oksigen yang dibutuhkan oleh otot jantung yang menebal.
Patofisiologi
Patofisiologi dari penyakit jantung hipertensi adalah satu hal komplek yang melibatkan
banyak faktor yang saling mempengaruhi, yaitu hemodinamik, struktural, neuroendokrin, seluler,
dan faktor molekuler.
Peningkatan tekanan darah menyebabkan perubahan yang merugikan pada struktur dan
fungsi jantung melalui 2 cara: secara langsung melalui peningkatan afterload dan secara tidak
langsung melalui neurohormonal terkait dan perubahan vaskular. Peningkatan perubahan tekanan
darah dan tekanan darah malam hari dalam 24 jam telah dibuktikan sebagai faktor yang paling

berhubungan dengan berbagai jenis patologi jantung, terutama bagi masyarakat Afrika-Amerika.
Patofisiologi berbagai efek hipertensi terhadap jantung yakni:
1. Hipertrofi ventrikel kiri
Pada pasien dengan hipertensi, 15-20% mengalami hipertrofi ventrikel kiri (HVK). Risiko
HVK meningkat dua kali lipat pada pasien obesitas.
HVK didefinisikan sebagai suatu penambahan massa pada ventrikel kiri, sebagai respon
miosit terhadap berbagai rangsangan yang menyertai peningkatan tekanan darah. Hipertrofi
miosit dapat terjadi sebagai kompensasi terhadap peningkatan afterload. Rangsangan mekanik
dan neurohormonal yang menyertai hipertensi dapat menyebabkan aktivasi pertumbuhan sel-sel
otot jantung, ekspresi gen (beberapa gen diberi ekspresi secara primer dalam perkembangan
miosit janin), dan HVK. Sebagai tambahan, aktivasi sistem renin-angiotensin melalui aksi
angiotensin II pada reseptor angiotensin I mendorong pertumbuhan sel-sel interstisial dan
komponen matrik sel. Jadi, perkembangan HVK dipengaruhi oleh hipertrofi miosit dan
ketidakseimbangan antara miosit dan struktur interstisium skeleton cordis.
2. Abnormalitas Atrium Kiri
Peningkatan afterload membebani atrium kiri lewat peningkatan tekanan end diastolik
ventrikel kiri sebagai tambahan untuk meningkatkan tekanan darah yang menyebabkan gangguan
pada fungsi atrium kiri ditambah peningkatan ukuran dan penebalan atrium kiri. Peningkatan
ukuran atrium kiri pada kasus hipertensi yang tidak disertai penyakit katup jantung atau disfungsi
sistolik menunjukkan kronisitas hipertensi dan mungkin berhubungan dengan beratnya disfungsi
diastolik ventrikel kiri.
3. Penyakit Katup
Meskipun penyakit katup tidak menyebabkan penyakit jantung hipertensi, hipertensi yang
kronik dan berat dapat menyebabkan dilatasi cincin katup aorta, yang menyebabkan terjadinya
insufisiensi aorta signifikan.