Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem musculoskeletal merupakan salah satu sistem tubuh yang
sangat berperan terhadap fungsi pergerakan dan mobilitas seseorang. Masalah
atau gangguan pada tulang akan dapat mempengaruhi sistem pergerakan
seseorang. Salah satu masalah musculoskeletal yang sering kita temukan di
sekitar kita adalah fraktur atau patah tulang. Fraktur merupakan patah tulang
yang disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik, kekuatan dan sudut tenaga
fisik, keadaan itu sendiri, serta jaringan lunak di sekitar tulang akan
menentukan apakah fraktur yang terjadi lengkap atau tidak lengkap (Helmi,
2012).
Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang berlebih
dibandingkan kemampuan tulang dalam menahan tekanan, tekanan yang
terjadi pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang menyebabkan fraktur
bersifat spiral atau oblik, tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur
transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur
impaksi, dislokasi atau fraktur dislokasi (Helmi, 2012).
Tanda dan gejala fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi pergerakan,
deformitas (kelainan dan trauma), pemendekan ekstremitas, krepitus (rasa
gemeratak yang timbul pada sendi yang sakit), pembengkakan lokal, dan
perubahan warna (Smeltzer dan Bare, 2007 dalam Lukman dan Ningsih,
2009).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) dalam
Djamal (2015) , kasus fraktur terjadi di dunia kurang lebih 13 juta orang pada
1

tahun 2008, dengan angka prevalensi sebesar 2,7%. Sementara pada tahun
2009 terdapat kurang lebih 18 juta orang dengan angka prevalensi sebesar
4,2%. Tahun 2010 meningkat menjadi 21 juta orang dengan angka prevalensi
3,5%. Terjadinya fraktur tersebut termasuk didalamnya insiden kecelakaan,,
cedera olahraga, bencana kebakaran, bencana alam dan lain sebagainya.
Sedangkan

berdasarkan

hasil

Riset

Kesehatan

Dasar

(RISKESDAS) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI tahun


2007 di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh cedera antara
lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam/tumpul. Dari
45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang
(3,8%), dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang mengalami fraktur
sebanyak 1.770 orang (8,5%), dari 14.127 trauma benda tajam/tumpul, yang
mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7%) (Depkes RI, 2007).
Fenomena ini, angka kejadian fraktur yang telah terdata sampai
saat ini mendorong para peneliti bidang kesehatan melakukan penelitian
terhadap intervensi yang dapat diberikan untuk meringankan nyeri. Menurut
penelitian Rampengan (2014) distraksi atau pengalihan perhatian dapat
meringankan nyeri yang dirasakan orang yang mengalami fraktur. Hasil
penelitian yang dilakukan terhadap 15 responden didapatkan hasil responden
dengan intensitas nyeri sedikit lebih nyeri dan intensitas nyeri lebih nyeri
yaitu berjumlah masing-masing 5 orang atau 33,3%, reponden lain
mengalami intensitas sangat nyeri berjumlah 4 orang (26,7%) dan nyeri
sangat hebat 1 orang (6,7%). Setelah diberikan teknik distraksi terdapat 1

orang (6,7%) menyatakan tidak nyeri. Setelah dilakukan teknik distraksi tidak
terdapat pasien yang mengalami intensitas nyeri sangat nyeri dan nyeri sangat
hebat.
Ini menandakan adanya pengaruh yang cukup besar dari pemberian
intervensi distraksi terhadap intensitas nyeri. Distraksi merupakan metode
pengalihan perhatian klien ke hal lain dan dengan demikian menurunkan
kewaspadaan klien terhadap nyeri (Potter & Perry, 2010). Nyeri merupakan
suatu sensori yang tidak menyenangkan dari suatu emosional disertai
kerusakan jaringan secara aktual maupun potensial atau kerusakan jaringan
secara menyeluruh (Ignatavicius, 1991 dalam Lukman dan Ningsih, 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan dari peneliti di dapat data dari
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nene Mallomo kabupaten sidnreng
rappang (Sidrap) pada tahun 2013, jumlah penderita fraktur yang di rawat di
rumah sakit sebanyak 165 orang, kemudian tahun 2014 sebanyak 90 orang,
dan tahun 2015 sebanyak 109 orang. Fenomena yang ada di rumah sakit,
distraksi belum menjadi intervensi yang umum untuk mengatasi nyeri yang di
rasakan oleh pasien yang di rawat di rumah sakit, sehingga peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang pengaruh distraksi pendengaran terhadap
intensitas nyeri pada klien fraktur di RSUD Nene Mallomo Kabupaten Sidrap
Tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah pada


penelitian ini yaitu : Apakah distraksi pendengaran berpengaruh terhadap
intensitas nyeri pada klien fraktur di RSUD Nene Mallomo kabupaten Sidrap
tahun 2016?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui pengaruh distraksi pendengaran terhadap
intensitas nyeri pada klien fraktur di RSUD Nene Mallomo kabupaten
Sidrap tahun 2016
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui rata-rata skor nyeri sebelum di berikan distraksi
pendengaran pada pasien fraktur
b. Untuk mengetahui rata-rata skor nyeri setelah di berikan distraksi
pendengaran pada pasien fraktur
c. Untuk mengetahui selisih skor nyeri sebelum dan setelah diberikan
distraksi pendengaran pada pasien fraktur
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan dan merupakan salah satu bahan bacaan bagi peneliti
selanjutnya.

2. Manfaat Institusi

Manfaat yang diharapkan setelah penelitian ini selesai adalah agar


dapat bermanfaat dalam pengembangan informasi yang mempunyai
kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam
pendidikan keperawatan tentang penanganan pasien fraktur.
3. Manfaat Praktis
Dapat dijadikan informasi yang berguna, sehingga dapat di jadikan
salah satu penanganan yang umum dan dapat membantu meringankan nyeri
fraktur terkhusus dalam ruang lingkup rumah sakit.