Anda di halaman 1dari 7

UPAYA MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS DALAM UPAYA

PERLINDUNGAN TERHADAP NOTARIS YANG BERMASALAH


Lembaga notariat di Indonesia berasal dari negeri Belanda dan dikenal
sejak Belanda menjajah Indonesia. Pada mulanya lembaga notariat ini terutama
diperuntukkan bagi bangsa Belanda dan golongan Eropa lainnya serta golongan
Bumi Putera yang karena undang-undang maupun karena sesuatu ketentuan
dinyatakan tunduk kepada hukum yang berlaku untuk golongan Eropa dalam
bidang hukum perdata atau menundukkan diri pada Burgelijk Wetboek (B.W) atau
umumnya disebut Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Fungsi dan peranan Notaris dalam gerak pembangunan nasional yang
semakin kompleks dewasa ini semakin luas dan berkembang, hal ini disebabkan
karena kepastian hukum dari pelayanan dan produk-produk hukum yang
dihasilkan oleh Notaris semakin dirasakan oleh masyarakat, oleh karena itu
pemerintah dan masyarakat khususnya sangat mempunyai harapan kepada Notaris
agar jasa yang diberikan oleh Notaris benar-benar memiliki citra nilai yang tinggi
serta bobot yang benar-benar dapat diandalkan dalam peningkatan perkembangan
hukum nasional. Hukum berfungsi sebagai sarana pembaharuan masyarakat dan
pengayom masyarakat sehingga hukum perlu dibangun secara terencana agar
hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat dapat berjalan secara serasi,
seimbang, selaras dan pada gilirannya kehidupan hukum mencerminkan keadilan,
kemanfaatan sosial dan kepastian hukum.
Dengan adanya tuntutan fungsi dan peranan Notaris maka diperlukan
Notaris yang berkualitas baik kualitas ilmu, amal, iman, maupun taqwa serta
menjunjung tinggi keluhuran martabat Notaris dalam memberikan pelayanan jasa
hukum bagi masyarakat. Untuk itu Notaris harus mampu memberikan pelayanan
yang baik atau profesional karena jasa Notaris dirasakan sangat penting bagi
masyarakat. Apabila seorang Notaris tidak mampu untuk memberikan pelayanan
yang baik atau tidak professional, maka akan terdapat banyak pihak yang
dirugikan sebagai akibat hukum dari kesalahaan atau kelalaian yang telah
diperbuat oleh Notaris. Selain itu Notaris juga harus mampu untuk memberikan

informasi yang jelas bagi masyarakat, agar Notaris dapat menghindarkan klaim
atas informasi yang menyesatkan (misrepresentation) dari awal berkontrak yang
merupakan kewajiban dan tanggung jawab Notaris supaya jangan terjadi
misleiding. Notaris bertanggung jawab memastikan info yang didapat satupihak
bukan merupakan sesuatu deskripsi yang misrepresentation supaya jangan terjadi
kontrak dalam perjanjian yang misleiding(menyesatkan).
Seiring dengan pentingnya Notaris dalam kehidupan masyarakat
khususnya dalam pembuatan akta otentik yang digunakan sebagai alat bukti, maka
Notaris mempunyai kedudukan sebagai pejabat umum yang satu-satunya
berwenang membuat akta otentik dan sekaligus Notaris merupakan perpanjangan
tangan pemerintah.
Di bidang kehakiman, misalnya, sudah ada Komisi Yudisial, di samping
adanya Majelis Kehormatan Hakim (MKH) dalam sistem internal Mahkamah
Agung. Di Mahkamah Konstitusi juga ada mekanisme Majelis Kehormatan
Hakim (MKH) MK. Di dunia pers dan jurnalistik, terdapat Dewan Pers. Di
lingkungan lembaga legislatif, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) juga telah diatur dalam UU tentang MPR, DPR, DPR,
dan DPRD adanya Badan Kehormatan DPR dan Badan Kehormatan DPD sebagai
lembaga penegak kode etik.
Bidang kenotariatan-pun juga mengatur mengenai upaya mekanisme
penegakan kode etik dalam profesinya melalui lembaga penegak kode etik,
sebagaimana diatur dalam pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2014 tentang Jabatan Notaris (UUJN) yaitu:
(1) Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau
hakim dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah berwenang:
a. Mengambil fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang
dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam
penyimpanan Notaris; dan
b. Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan
dengan Akta atau Protokol Notaris yang berada dalam
penyimpanan Notaris.

Kemudian pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004


tentang Jabatan Notaris oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Nomor 49/PUU-X/2012yang dimana pada substansinya yaitu:
(1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
(2) Frasa dengan persetujuan MPD dalam Pasal 66 ayat (1) UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat;
Adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor
49/PUU-X/2012, maka penyidik, penuntut umum atau hakim dapat langsung
mengambil fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada
Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris dan memanggil
Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang
dibuatnya tanpa perlu lagi dengan persetujuan MPD. Pada tanggal 15 Januari
2014, disahkanlah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris yang
diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3
(yang selanjutnya disebut UUJN-P). Dalam UUJN-P ini diatur mengenai
dibentuknya Majelis Kehormatan Notaris (selanjutnya disebut MKN) yang
beranggotakan perwakilan Notaris, pemerintah dan akademisi, yang berfungsi
sebagai lembaga perlindungan hukum bagi Jabatan Notaris terkait dengan akta
yang dibuat oleh atau dihadapannya, sebagaiamana termuat dalam Pasal 66 ayat
(1) UUJN-P yaitu:
Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau
hakim dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris berwenang:
a) mengambil fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan
pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris;
dan
b) memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan
dengan Akta atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan
Notaris.

Sehingga dalam hal ini jelaslah bahwa eksistensi MPD sudah berganti
menjadi Majelis Kehormatan Notaris. Namun pada kenyataannya eksistensi
Majelis Kehormatan Notaris (MKN) hanya terbatas pada aturan hukum semata
dalam UUJN-P tidak ditindaklanjuti ke dalam aturan teknisnya seperti Peraturan
Pemerintah. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa telah terjadi
kekosongan norma dalam penerapan Pasal 66 ayat (1) UUJN-P, karena tidak ada
peraturan yang menjelaskan mengenai kedudukan serta bentuk perlindungan
hukum yang diberikan terhadap jabatan Notaris melalui MKN terkait dengan
permasalahan notaris dalam kaitannya pelanggaran kode etik.
Padahal kita pahami bersama bahwa keberadaan lembaga Notaris dilandasi
oleh kebutuhan masyarakat dalam membuat akta otentik sebagai suatu alat bukti
yang mengikat. Peran Notaris dalam memberikan pelayanan kepentingan umum
tersebut adalah memberikan pelayanan dalam pembuatan akta dan tugas-tugas lain
yang memerlukan jasa Notaris. Akta yang diterbitkan oleh Notaris memberikan
jaminan kepastian hukum bagi masyarakat. Notaris mempunyai peran serta dalam
menjalankan profesi hukum yang tidak dapat dilepaskan dari persoalan-persoalan
mendasar yang berkaitan dengan fungsi serta peranan hukum itu sendiri.
Sehingga manakala seorang notaris dalam kapasitasnya sebagai seorang
profesional diduga melakukan malpraktek atau pelanggaran kode etik profesinya,
maka MKN inilah yang bertindak dalam upaya perlindungan hukumnya. Dalam
memberikan perlindungan hukum kepada Notaris, MKN harus melihat dengan
cermat apakah Notaris yang dilaporkan tersebut terbukti dengan sengaja atau tidak
telah melakukan pelanggaran dalam proses pembuatan akta otentik. Apabila
Notaris tersebut terbukti telah melakukan suatu bentuk tindak pidana, maka dalam
hal ini MKN sebagai lembaga perlindungan hukum tidak perlu memberikan suatu
bentuk perlindungan hukum apapun kepada Notaris seperti itu, karena selain
mencoreng nama baik institusi Notaris juga akan berdampak sosiologis dalam
masyarakat, bahwa Notaris sebagai lembaga kepercayaan akan kehilangan
kepercayaan publik. Dalam hal ini sebagai implementasi dari Pasal 66 ayat (1)
UUJN-P, maka MKN berwenang memberikan persetujuan kepada penyidik yang

hendak memanggil Notaris untuk diperiksa dalam persidangan. Hal ini dilakukan
untuk menjaga keluhuran dan martabat dari jabatan Notaris itu sendiri, agar
perlindungan hukum terhadap jabatan Notaris ini tidak disalahgunakan oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang melibatkan Notaris.
Apabila ada Notaris yang diduga melakukan kesalahan (adanya dugaan
malpraktek) dalam proses pembuatan akta otentik, padahal Notaris tersebut telah
melakukan tugas dan kewenangannya sesuai dengan aturan hukum (sesuai dengan
UUJN-P, dan Kode Etik Notaris), maka MKN harus memberikan suatu
perlindungan hukum kepada Notaris yang bersangkutan dengan memanggil dan
memeriksa Notaris tersebut untuk diminta keterangannya sebelum memberikan
persetujuan atau menolak permintaan yang diajukan oleh penyidik yang hendak
memeriksa Notaris tersebut.
Kembali lagi bahwa realitanya eksistensi MKN secara yuridis-normatif
seperti fungsi, peran, prosedur atau tata cara pelaksanaan tugas dari MKN tersebut
belum diatur secara tegas, maka dalam hal ini dapat dilakukan suatu cara atau
langkah yang dapat digunakan dalam menyelesaikan kasus atau perkara yang
harus ditangani melalui MKN, yaitu dengan menggunakan suatu perbandingan
kewenangan dengan lembaga MPD, yang pada dasarnya merupakan lembaga
yang mempunyai peran atau kewenangan yang sama dengan MKN. Sehingga
dalam hal ini untuk mengoptimalkan fungsi atau peran dari MKN ini apabila
terjadi kasus dalam dunia kenotarisan yang terkait dengan pemanggilan Notaris
oleh penyidik yang notabene harus mendapatkan persetujuan dari MKN, maka
dalam hal ini MKN dapat menggunakan prosedur penanganan yang sama seperti
MPD. Hal ini dilakukan guna mempertegas keberadaan lembaga MKN ini sebagai
lembaga perlindungan hukum bagi jabatan Notaris.
Dalam hal terjadi kasus atau perkara terkait dengan adanya dugaan
malpraktek yang dilakukan oleh Notaris, maka polisi, penuntut umum maupun
hakim yang ingin memanggil Notaris tersebut, harus terlebih dahulu mendapat
izin dari MKN. MKN merupakan lembaga yang berwenang memeriksa terlebih

dahulu Notaris yang diduga melakukan pelanggaran (malpraktek) dalam proses


pembuatan akta sebelum memberikan persetujuan atau menolak permintaan dari
penyidik yang akan memanggil dan memeriksa Notaris tersebut. Apabila terjadi
kasus terkait dengan adanya dugaan malpratek yang dilakukan oleh Notaris dalam
proses pembuatan akta otentik yang menyebabkan kerugian bagi salah satu pihak
dalam akta yang dibuatnya, maka dalam hal ini kembali kepada substansi pasal 66
UUJN-P.
Untuk itu sekarang ini langkah-langkah teknis yang cukup realistis untuk
mempositivisasi kedudukan hukum Majelis Kehormatan Notaris dalam rangka
melindungi

kepentingan

notaris

manakala

sebelum

terjadinya

sengketa/permasalahan dan sesudah terjadinya sengketa/permasalahan menurut


penulis, yaitu ada beberapa cara:
1. Untuk sementara dalam hal mengisi kekosongan hukum,
Kemenkumham segera membentuk Peraturan Menteri untuk
menegaskan kedudukan MKN dan aturan-aturan yang bersifat teknis
dalam upaya perlindungan notaris sebagai amanat pasal 66 UUJN-P.
Dan dalam hal ini aturan yang dibuat disamping mengatur teknisnya,
pperan serta fungsinya, harus mengatur pula mekanisme ditubuh
MKN ini secara vertikal dan horizontal. Adapun secara vertikal tidak
boleh bertentangan dengan lembaga yang lebih superior, dan secara
horizontal tidak boleh bersinggungan dengan aturan sederajat atau
lembaga sederajat. Disamping itu harus diatur pula mengenai
mekanisme pemanggilan notaris sampai detail pemberian persetujuan
hingga ke tingkat kepolisian atau penyidikan.
2. Mengenai kedudukan dari MKN sebaiknya dibentuk secara berjenjang
mulai dari tingkat kabupaten atau kota (daerah), wilayah, dan pusat,
hal ini bertujuan untuk menghindari penumpukan perkara yang masuk
dan harus diselesaikan melalui MKN, dan selain itu agar lembaga
MKN dapat dengan cepat tanggap dalam memberikan keputusan
untuk menyetujui atau menolak permintaan dari penyidik terkait
dengan pengambilan fotokopi minuta akta atau pemanggilan Notaris
itu sendiri untuk kepentingan proses peradilan. Hal ini dikarenakan
undang-undang hanya memberikan waktu 30 hari untuk memberikan
putusan tersebut. Apabila tidak ada jawaban dalam rentang waktu itu,
majelis kehormatan dianggap menyetujui permintaan tersebut.
3. Perlindungan hukum terhadap jabatan Notaris melalui MKN dapat
dilakukan secara represif karena terkait dengan penerapan Pasal 66
ayat (1) UUJN-P, yaitu dalam memberikan persetujuan atau menolak

permintaan penyidik yang hendak memanggil Notaris dalam proses


peradilan. Keberadaan MKN ini pada dasarnya menggantikan peran
dari MPD sebagai lembaga perlindungan hukum terhadap jabatan
Notaris. Perlindungan hukum yang diberikan kepada Notaris bertujuan
untuk menghindari tindakan yang sewenang-wenang dari penyidik
yang hendak memanggil Notaris dalam persidangan. Karena dalam hal
ini pengaturan mengenai kedudukan serta upaya hukum yang
diberikan oleh MKN ini belum diatur secara tegas dalam suatu
peraturan perundangundangan.