Anda di halaman 1dari 7

Paraf Asisten

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


Judul

: Percobaan 9. Ekstraksi Pigmen dan Analisa Tlc-Nya

Tujuan Percobaan

1. Mempelajari teknik pemisahan senyawa pigmen (karotenoid) dari sampel padatan.


2. Mempelajari teknik analisa thin layer chromatography (TLC).
Pendahuluan
Karotenoid merupakan pigmen alami dan dikenal secara luas dari warnanya terutama
warna kuning, orange dan merah. Pigmen ini ditemukan pada tumbuhan besar, ganggang, jamur
dan bakteri dalam jaringan fotosintesis maupun jaringan non fotosintesis. Selain pada tumbuhan,
karoten juga ditemukan pada hewan, misalnya sebagai pigmen warna pada burung, ikan dan
beberapa hewan invertebrata (Gross, 1991).
Karotenoid merupakan lipid sehingga pigmen ini bersifat liposoluble (larut dalam lemak)
dan larut dalam pelarut nonpolar. Pada

-karoten, pemecahan pada pusat molekul yang

dikatalisis oleh enzim 15-15-dioksigenase membentuk 2 molekul retinal yang kemudian


direduksi menjadi molekul retinol yang merupakan vitamin A (Glover, 1960). Bentuk retinol
mengalami esterifikasi, lalu diangkut ke getah bening dan disimpan dalam hati (Gross, 1991).

Sebagai pigmen, karotenoid pada umumnya menyerap cahaya biru dan memantulkan warnawarna berpanjang gelombang besar (merah sampai kuning kehijauan). Pewarna alami pada
kisaran merah, jingga, sampai kuning banyak yang merupakan anggotanya, seperti likopena,
karotena, lutein, dan zeaxantin. Zat-zat inilah yang biasanya menyebabkan warna merah, kuning
atau jingga pada buah dan sayuran. Peran terpenting karotenoid dalam proses fisiologi adalah
sebagai zat antioksidan dan penghantar elektron dalam fotosintesis, selain itu beberapa
karotenoid dapat diubah menjadi vitamin esensial (Wikipedia, 2014).
Hal yang perlu diingat adalah karotenoid bukanlah senyawa yang stabil.

-karoten

dapat terdegradasi membentuk isomer-isomernya karena faktor lingkungan seperti suhu, cahaya
dan jumlah oksigen sehingga menyebabkan senyawa ini kehilangan fungsinya baik sebagai
antioksidan maupun prekursor vitamin A (Gunstone, 1987).
Klorofil (chlorophyll) adalah zat pembawa warna hijau pada tumbuh-tumbuhan, pada
tanaman tingkat tinggi ada 2 macam klorofil yaitu klorofil-a (C55H72O5N4Mg) yang berwarna
hijau tua dan klorofil-b (C55H70O6N4Mg) yang berwarna hijau muda. Klorofil-a dan b paling
kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), sedangkan yang paling sedikit cahaya
hijau (500-600 nm). Dan cahaya berwarna biru dari spektrum tersebut diserap oleh karotenoid
yang berperan membantu mengabsorpsi cahaya sehingga spektrum matahari dapat dimanfaatkan
dengan lebih baik. Energi yang diserap karotenoid diteruskan kepada klorofil-a untuk diserap
dan digunakan dalam proses fotosintesis, demikian pula dengan klorofil-b (Campbell, 2002).

Klorofil merupakan salah satu metabolisme sekunder yang potensial. Zat hijau daun ini tak
hanya penting dalam proses fotosintesis tumbuhan saja, tetapi juga sangat berguna untuk
menunjang kesehatan bagi yang mengkonsumsinya. Seorang penelitian bernama Franz Miller
menganjurkan penggunakan klorofil sebagai obat istimewa kerena keberadaannya dapat
memperbaiki kondisi kesehatan yang buruk. Selain itu klorofil juga merupakan zat pewarna hijau
bagi tumbuhan. (Campbell, 2002)
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana komponen yang dipisahkan
terdistribusi dalam 2 fase. Salah satu fase tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan
permukaan yang luas yang lainnya seperti fluida yang mengalir lembut disepanjang landasan
stasioner. Ketika pita tersebut melewati kolom, pelebaran disebabkan oleh rancangan kolom dan
kondisi pengerjaan dan dapat diterangkan secara kuantitatif dengan pengertian jarak dengan teori

kolom adalah jantung kromatografi, pemisahan sesungguhnya komponen dicapai dalam kolom
( Underwood, 2006 ).
Kromatografi lapis tipis merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa
murni dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan kromatografi juga merupakan analisis
cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik menyerap maupun merupakan cuplikan KLT
dapat digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofilik seperti lipid-lipid
dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat digunakan
untuk mencari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi dengan sifat
kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapis tipis seperti silika gel adalah senyawa yang tidak
bereaksi dengan pereaksi-pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat ( Fessenden, 2003 ).
TLC sangat terkenal dan rutin digunakan di berbagai laboratorium. Media pemisahannya
adalah lapisan dengan ketebalan sekitar 0,1-0,3 mm zat padat adsorben pada lempeng kaca,
plastik dan aluminium. Lempeng yang paling umum digunakan yang berukuran 8x2 inchi. Dan
zat padat yang digunakan adalah alumina, TLC kadang-kadang disebut dengan kromatografi
planar. Tidak ada cara yang mudah dalam mengelusi komponen sampel dari lempengan (kertas)
untuk melintasi sebuah detektor tetapi telah dikembangkan peralatan untuk mengamati
lempengan dengan sifat-sifat sampel seperti itu adsorpsi sinar UV dan pengedaran ( Undewood.
2002 ).
KLT merupakan contoh dari kromatografi adsorpsi. Pertimbangan untuk pemilihan pelarut
pengembang (aluen) umumnya sama dengan pemilihan eluen untuk kromatografi kolom.
Pengelusi eluen naik sejalan dengan pelarut (misalnya dari heksana ke aseton, ke alkohol, ke air).
Eluen pengembang dapat berupa pelarut tunggal dan campuran pelarut dengan susunan tertentu.
Pelarut-pelarut pengembang harus mempunyai kemurnian yang tinggi, terdapatnya sejumlah air
atau zat pengotor lainnya dapat menghasilkan kromatogram yang tidak diharapkan ( Soebagio,
2002 ).
Secara teori, pemisahan kromatografi yang baik akan diperoleh jika fase diam mempunyai
luas permukaan sebesar-besarnya sehingga terjadi kesetimbangan yang baik antara fase gerak
dan fase diam. Persyaratan kedua agar pemisahan baik adalah fase gerak bergerak dengan cepat
sehingga difusi menjadi sekecil-kecilnya ( Gritter, 1991 ).
Prinsip Kerja
Prinsip kerja pada percobaan ini yaitu memisahkan sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini menggunakan fase diam dari
bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan.

Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran
antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
Alat
Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain Mortar, pestle, spatula,
tabung reaksi, chamber TLC, gelas ukur, pipet tetes, pinset, penggaris, lampu UV.

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain Aseton, kertas saring, pelarut
aseton:heksana (3:7), lempeng silika.
Prosedur Kerja
1. Preparasi sampel. Potong-potong kecil 5 gram sampel (daun, buah atau umbi) yang sudah
bersih dan kering (dengan jumlah air minimum). Gerus sampel menggunakan mortar dan
pestle dengan menambahkan aseton 5 mL. Dekantasi larutan ekstrak sambil peras padatan
yang tersisa menggunakan spatula (pada dinding mortar) hingga ekstrak aseton maksimum
yang diperoleh atau gunakan bantuan kertas saring untuk memeras pasta tersebut.
2. Masukkan ekstrak dalam tabung reaksi atau vial 5 mL (sampel 1).
3. Siapkan kolom kromatografi dengan melarutkan atau membentuk bubur silika terlebih dahulu.
Kemudian bubur silika dimasukkan kedalam kolom (pipet Pasteur yang telah disumbat
dengan kapas pada bagian ujung bawahnya). Alirkan eluen atau pelarut aseton:heksana (3:7)
kedalam kolom silika sehingga penampakan packing kolom baik dan rapat.
4. Masukkan sampel 1 sebanyak 1 mL kedalam kolom, lalu lewatkan eluen jika sampel sudah
tersisa sedikit diatas kolom. Tampung isolat pigmen (sampel 2) dalam gelas ukur sesuai
dengan warna pita ekstrak yang lewat dalam kolom.
5. Siapkan chamber TLC dan tempatkan pelarut aseton:heksana (3:7) kira-kira setinggi 0.5 cm.
Tempatkan lempeng silika ukuran tertentu, yang sebelumnya telah ditotolkan sedikit sampel
ekstrak: sampel 1 dan sampel 2 ( 1 cm dari batas bawah kertas), pada TLC chamber. Lalu
tutup chamber dan tunggu pergerakan pelarut hingga sampai batas atas (

0.5 cm dari

batas atas kertas). Ambil lempeng dengan menggunakan pinset dan keringanginkan.
6. Jika sudah kering, amati pemisahan pigmen yang terjadi pada lempeng menggunakan sinar
UV. Ukur jarak yang ditempuh senyawa dan pelarut tersebut. Hitung factor retensi (Rf) untuk
masing-masing komponen.

Waktu yang dibutuhkan


Prosedur kerja
Ekstraksi pigmen
Analisa TLC

Waktu
07.00 09.30 WIB
09.30 10.00 WIB

Lama waktu
2 jam 30 menit
30 menit

Hasil
Bahan

Tomat

Massa

5,12 gram

Fraksi yang dihasilkan

Rf
Fraksi :

1,3
4

Sampel :

1,2
4

Kuning jernih

Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu tentang ekstraksi pigmen dari buah-buahan berwarna dalam
hal ini bahan yang digunakan adalah tomat. Pigmen yang terdapat dalam tomat yaitu antara lain
-karoten dan likopen. Karotenoid merupakan senyawa organik yang bersifat non polar
sehingga pelarut yang digunakan juga harus bersifat non polar salah satu yang digunakan yaitu
aseton. Pemisahan pigmen ini awalnya menggunakan metode kromatografi kolom. Kromatografi
kolom didasarkan pada afinitas kepolaran analit dengan fase diam, sedangkan fase gerak selalu
memiliki kepolaran yang berbeda dengan fase diam. Fase diam bersifat lebih polar dan fase
gerak bersifat non-polar. Sehingga pada saat sampel dialirkan bersamaan dengan pelarut
komponen yang bersifat lebih polar akan tertahan oleh fase diam sedangkan komponen yang
lebih non polar akan turun bersamaan dengan pelarut, dengan begitu komponen-komponen
tersebut dapat dipisahkan.
Pada percobaan ini zat yang lebih dulu turun yaitu
kemudian diikuti dengan

-karoten yang berwarna kuning

-karoten yang berwarna orange tetapi

-karoten yang berwarna

orange ini tidak dapat sampai pada ujung kolom disebabkan penempatan bubur silika yang
kurang rapat sehingga cairan

-karoten yang berwarna orange tertahan pada rongga-rongga

silikanya, jadi zat yang benar-benar diperoleh yaitu

-karoten berwarna kuning. Kekurangan

lain dari percobaan ini yaitu tidak dihasilkan pigmen likopen yang berwarna merah meskipun

prosedur pertama ini telah dilakukan berulang-ulang. Pigmen yang dihasilkan pada percobaan ini
keduanya merupakan

-karoten karena kisaran warnanya yaitu kuning dan orange.

Prosedur selanjutnya yaitu analisa TLC untuk memastikan zat yang diperoleh. Prinsip TLC
ini juga hampir sama dengan kromatografi kolom dimana pemisahan komponen didasarkan pada
kesamaan kepolaran sampel dengan pelarut. Plat yang digunakan dalam prosedur ini berupa plat
silika yang dibagi menjadi dua bagian karena bahan yang digunakan adalah zat hasil ekstraksi
dan sampel saja sedangkan pelarutnya berupa aseton:heksana yang bersifat non polar. R f yang

dihasilkan dari TLC ini yaitu

1,3
4

untuk zat hasil ekstraksi dan

1,2
4

untuk sampel. Hasil

ini diperoleh dari jarak yang ditempuh oleh zat/ bahan dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh
pelarut sehingga dari hasil ini kedua zat dapat dibandingkan. Untuk menentukan jarak masingmasing zat dapat dilihat dibawah cahaya lampu kemudian diberi tanda dan diukur panjangnya.
Hasil Rf ini menunjukkan bahwa zat hasil ekstraksi atau

-karoten bersifat lebih non polar

dibandingkan dengan sampel sebab jika Rf-nya semakin besar maka jarak yang ditempuh zat
juga semakin panjang disebabkan ia bersifat lebih non polar, karena pigmen yang dihasilkan dari
kromatografi kolom hanya satu maka kepolaran pigmen ini tidak dapat dibandingkan.
Secara umum, percobaan ini telah sesuai dengan teori yaitu yang pertama pada percobaan
kromatografi kolom dimana senyawa yang lebih non polar akan lebih dulu turun ke dasar kolom
karena tidak tertahan oleh fase diamnya yang bersifat lebih polar, hal ini dapat dilihat dari warna
pigmen yang diperoleh berwarna kuning. Pada analisa TLC juga sesuai dengan teori dimana zat
yang lebih non polar akan memiliki Rf yang lebih besar dibandingkan dengan zat yang lebih
polar. Hal ini dapat dilihat dari hasil R f-nya dimana zat hasil ekstraksi memiliki R f yang lebih
besar dibandingkan sampel.
Kesimpulan
Hal yang dapat disimpulkan dari percabaan ini yaitu senyawa pigmen dapat dipisahkan
dari campurannya dapat berupa metode kromatografi kolom dimana pemisahannya didasarkan
pada perbedaan afinitas kepolaran analit dan fase diam. Zat yang memiliki kemiripan sifat
dengan pelarut akan terpisah lebih dahulu. Cara lain yang digunakan untuk memisahkan suatu
campuran yaitu dengan metode kromatografi lapis tipis yang prinsip kerjanya didasarkan pada
kesamaan kepolaran analit dan pelarut. Semakin dekat sifat kepolaran sampel dengan pelarut
maka besar jarak yang ditempuh sampel semakin besar dengan demikian harga R f juga semakin

besar.
Referensi
Campbell, A,dkk.2002.Biologi. Jakarta: Erlangga.
Day,R.A dan Underwood,A.L.2002.Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam.Jakarta: Erlangga.
Fessenden,Ralph. J.1994. Kimia organik.Jakarta: Erlangga.
Glover,J.1960. The conversion of 2-carotene into vitamin A.New York: Academic Press.
Gritter,Roy J,dkk. 1991. Pengantar Kromatografi Edisi Kedua. Bandung : ITB
Gross,J.1991. Pigments in Vegetables: Chlorophyll and Carotenoids.New York: Van Nostrand
Reinhold.
Gunstone F. D.1987.Critical Report on Applied Chemistry. New York: John Wiley and Sons.
Soebagio, dkk. 2002.Kimia Analitik II.Malang: JICA FMIPA UNM.
Wikipedia.2014.Karotenoid.Http://id.wikipedia.org//.Diakses pada tanggal 27 maret 2014.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini praktikan lebih hati-hati dan cepat dalam
menuangkan bubur silika ke dalam pipet Pasteur agar susunan silika dalam pipet padat dan rata
sehingga pada saat digunakan akan diperoleh hasil yang baik.
Nama Praktikan
Zuhrotul Lutfia (121810301058)