Anda di halaman 1dari 90

MODUL PRAKTIKU

PERANCANGAN TEKNIK INDUST

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


1
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena atas
rahmat, berkat, izin dan petunjuk dari-Nyalah kami dapat
menyelesaikan Modul Praktikum Perancangan Teknik Industri IV.
Sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri tatkala kami dapat
menyelesaikan modul ini, mengingat begitu banyak hambatan
yang menghadang.
Modul ini disusun dengan tujuan membantu para mahasiswa
dalam mempelajari dan mendalami pretest market sebuah produk
baru yang akan diproduksi. Modul ini berisikan 3 bagian yaitu
desain kuisioner, analisis statistik, dan focus group discussion.
Modul ini juga menjadi pedoman yang digunakan dalam praktikum
Perancangan Teknik Industri IV yang dilaksanakan di Jurusan Teknik
Industri Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakara pada
semester 6.
Penyusunan modul praktikum ini merupakan salah satu
inovasi yang dilakukan oleh Laboratorium Sistem Logistik dan
Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dengan penyusunan
modul yang lebih menarik dan profesional, kualitas dari praktikum
yang dilakukan juga semakin meningkat. Dengan itu diharap
pemahaman dari mahasiswa juga meningkat dengan adanya studi
kasus dari produk praktikum sebelumnya yang telah terintegrasi.
Untuk ke depannya juga diharapkan modul ini dapat bermanfaat
tidak hanya bagi mahasiswa Teknik Industri UNS saja tetapi
mahasiswa dengan jurusan lain dan universitas lain.
Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penulisan modul ini. Kami
menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna termasuk
modul yang kami susun ini. Untuk itu, kami sangat mengharapkan
kritik, saran dan masukkan dari pembaca yang bersifat
membangun
demi
kesempurnaan
modul-modul
praktikum
selanjutnya. Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
dan dapat memenuhi harapan pembaca.
Surakarta,
2016

Maret

Tim Penulis

TATA TERTIB
1. Sebelum praktikum dimulai, praktikan wajib membaca
seluruh ketentuan tata tertib pelaksanaan praktikum, sistem
asistensi dan sistem penilaian.
2. Praktikan wajib datang 15 menit sebelum praktikum
dilaksanakan.
3. Praktikan wajib menjaga ketertiban, kedisplinan dan
kebersihan lab selama praktikum.
4. Praktikan harus sungguh-sungguh dan aktif dalam
melaksanakan praktikum.
5. Praktikan harus mempelajari modul praktikum sebelum
melaksanakan praktikum.
6. Praktikan wajib memakai pakaian sopan (berkerah) dan
bersikap sopan selama praktikum.
7. Praktikan tidak diperbolehkan makan, minum dan merokok
selama pelaksanaan praktikum.
8. Selama praktikum, Lab. Sistem Logistik dan Bisnis hanya
dibuka untuk praktikan sampai jam 17.00 WIB.
9. Praktikan yang melanggar tata tertib praktikum akan dikenai
sangsi dari asisten.
10.
Sangsi awal adalah teguran, sangsi kedua adalah nilai
D (tidak lulus).

SISTEM PENILAIAN
1. Tahap 1 UKD 1, tahap 2 UKD 2, tahap 3 UKD 3, tahap 4 UKD 4
2. T.1 (25%) TP (15%), Pretest (15%), Asistensi (40%), Output
(30%)
T.2 (25%)
Asistensi (40%), Output (40%), Attitude (20%)
T.3 (25%) Asistensi (25%), Output (25%), FGD (30%), Attitude
(20%)
T.4 (25%)Presentasi (60%), Laporan (40%)
3. Diadakan remedial untuk nilai yang kurang dari 60 (per UKD)
pada akhir praktikum.

SISTEM ASISTENSI
1. Setiap kelompok didampingi oleh 1 orang asisten.
2. Jadwal asistensi sesuai dengan kesepakatan antara asisten
dan praktikan.
3. Lembar asistensi harus dibawa setiap kali asistensi.
4. Saat asistensi seluruh anggota kelompok harus ada,
kecuali dengan alasan tertentu yang dapat diterima oleh
asisten.
5. Keaktifan praktikan dalam menjawab pertanyaan asisten pada
saat asistensi akan masuk dalam perhitungan nilai.

GAMBARAN UMUM

DAFTAR ASISTEN
Finda Arwi Mahardika
I0312030

Ika Shinta Mardikanigsih


I0312035

089 635 031 004

082 226 541 360

Indah Kunrniyati
I0312037

Violita Effelin Puteri


I0312056

082 135 715 672

085 642 000 426

Virda Hersy Lutviana Saputri


I0312057
085 747 101 501

KELOMPOK

JADWAL PRAKTIKUM

DAFTAR ISI
Halaman
Judul ..................................................................................................
...............
1
Kata
Pengantar ..........................................................................................
......................
2
Tata
Tertib .................................................................................................
.......................
3
Sistem
Penilaian ............................................................................................
.................
3
Sistem
Asistensi ............................................................................................
..................
4
Gambaran
Umum ...............................................................................................
.............
4
Daftar
Asisten ..............................................................................................
....................
5
Kelompok ..........................................................................................
................................
6
Jadwal
Praktikum ..........................................................................................
.................
7
Daftar
Isi ......................................................................................................
.....................
8

10

PENDAHULUAN .......................................................................................
.......................
9
BAGIAN 1
Desain
Kuesioner
25
Teknik

Sampling

32
BAGIAN 2
Analisis
.
36
Analisis
SPSS
51

Statistik

Statistik
dengan
.........................................................................

BAGIAN 3
Focus
Group
..................................................................................
76

Discussion

Daftar
Pustaka
............................................................................................................
..
80

PENDAHULUAN

11

SEGMENTATION, TARGETING, AND POSITIONING


Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai dasar teori
penentuan segmentasi pasar (segmentation), penentuan target
pasar (targeting), dan penentuan posisi produk (positioning).
1. Segmentation
Segmentasi pasar adalah suatu proses untuk membagi pasar
menjadi kelompok-kelompok konsumen yang lebih homogen,
dimana tiap kelompok konsumen dapat dipilih sebagai target pasar
untuk dicapai perusahaan melalui strategi bauran pemasarannya.
Dalam setiap segmen terdiri dari individu dengan kebutuhan dan
keinginan yang sama, dan mempunyai respons yang sama
terhadap usaha pemasaran yang ditawarkan (Kotler dan Keller,
2012).Dasar segmentasi pasar konsumen meliputi: segmentasi
geografis, segmentasi demografis, segmentasi psikografis, dan
segmentasi perilaku.
Segmentasi geografis mengharuskan pembagian pasar
menjadi unit-unit geografis yang berbeda, seperti: negara-negara
bagian, wilayah, propinsi, kota, atau lingkungan rumah tangga.
Perusahaan dapat memutuskan untuk beroperasi dalam satu atau
sedikit wilayah geografis atau beroperasi dalam seluruh wilayah
tetapi memberikan perhatian pada variasi lokal (Kotler dan Keller,
2012).
Dalam Segmentasi demografis, pasar dibagi menjadi
kelompok-kelompok berdasarkan variabel-variabel demografis
seperti: usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin,
penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi,
kewarganegaraan, dan kelas sosial. Variabel demografis merupakan
dasar yang paling populer untuk membedakan kelompok
pelanggan. Satu alasan adalah bahwa keinginan, preferensi, dan
tingkat pemakaian konsumen sering sangat berhubungan dengan
variabel demografis. Alasan lain adalah bahwa variabel demografis
lebih mudah di ukur daripada sebagian besar variabel. Bahkan jika
pasar sasaran di uraikan ke dalam faktor non demografis
(katakanlah jenis kepribadian) hubungan dengan karakteristik
demografis dibutuhkan untuk mengetahui ukuran pasar sasaran
dan media yang harus digunakan untuk menjangkaunya secara
efisien.

12

Dalam segmentasi psikografis, pembeli dibagi menjadi


kelompok yang berbeda berdasarkan gaya hidup atau kepribadian
akan nilai. Orang-orang dalam kelompok demografis yang sama
dapat menunjukkan gambaran psikografis yang sangat berbeda.
Segmentasi pasar adalah pengelompokan pasar menjadi
kelompok-kelompok konsumen yang homogen, dimana tiap
kelompok (bagian) dapat dipilih sebagai pasar yang dituju
(ditargetkan) untuk pemasaran suatu produk. Agar segmentasi
pasar atau pengelompokan pasar dapat berjalan dengan efektif
maka harus memenuhi syarat-syarat pengelompokan pasar
sebagai berikut:
a. Measurability, yaitu ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu pembeli
harus dapat diukur atau dapat didekati.
b. Accessibility, yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dapat
secara
efektif
memusatkan
(mengarahkan)
usaha
pemasarannya pada segmen yang telah dipilih.
c. Substantiability, yaitu segmen pasar harus cukup besar atau
cukup menguntungkan untuk dapat dipertimbangkan
program-program pemasarannya.
Prosedur segmentasi pasar
Ada 3 langkah dalam mengidentifikasi segmen pasar: survei,
analisis, dan pembentukan profil:
Pertama: tahap survei. Pada tahap ini periset harus melakukan
wawancara untuk mencari penjelasan dan membentuk kelompok
fokus untuk mendapatkan pemahaman atas motivasi, sikap dan
perilaku konsumen. Selanjutnya periset menyiapkan kuesioner
dalam rangka untuk mengumpulkan data mengenai atribut yang
dibutuhkan.
Kedua: tahap analisis. Periset menerapkan analisis faktor
terhadap data untuk membuang variabel-variabel yang berkorelasi
tinggi, kemudian periset menerapkan analisis kelompok untuk
menghasilkan jumlah segmen yang berbeda-beda secara
maksimum.
Ketiga: tahap pembentukan. Masing-masing kelompok
dibentuk berdasarkan perbedaan sikap, perilaku, demografis,
psikologis, psikografis, dan pola media. Masing-masing segmen
dapat diberi nama berdasarkan sifat-sifat dominan yang ada pada
kelompok tersebut.

13

2. Targeting
Targeting adalah proses penyeleksian produk, baik barang
maupun jasaatau pelayanan terbaik sehingga benar-benar berada
pada posisi yang terbaik guna mencapai keberhasilan. Setelah
perusahaan
mengidentifikasikan
peluang
segmen
pasar,
selanjutnya adalah mengevaluasi beragam segmen tersebut untuk
memutuskan segmen mana yang menjadi target pasar. Dalam
mengevaluasi segmen pasar yang berbeda perusahaan harus
melihat dua faktor yaitu daya tarik pasar secara keseluruhan serta
tujuan dan sumber daya perusahaan (Kotler, 2003). Perusahaan
harus melihat apakah suatu segmen potensial memiliki
karakteristik yang secara umum menarik seperti ukuran,
pertumbuhan, profitabilitas, skala ekonomi, risiko yang rendah dan
lain-lain. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan apakah
berinvestasi dalam segmen tersebut masuk akal dengan
mempertimbangkan tujuan dan sumber daya perusahaan.
Penentuan target pasar
Perusahaan dalam menetapkan sasaran pasar, terlebih dahulu
melakukan segmentasi pasar, perusahaan dapat mengembangkan
posisi/kedudukan produknya di setiap sasaran pasar sekaligus.
Dengan mengembangkan acuan pemasaran (marketing mix) untuk
setiap sasaran pasar tersebut. Proses yang dilakukan dalam hal ini
adalah:
a. Identifikasi basis untuk mensegmentasikan pasar.
b. Mengembangkan profiles dari segmen pasar yang
dihasilkan.
c. Mengembangkan ukuran/kriteria dari daya tarik segmen
pasar yang ada.
d. Memilih pasar sasaran.
e. Mengembangkan posisi produk untuk setiap segmen pasar
sasaran.
f. Mengembangkan acuan pemasaran (marketing mix) untuk
setiap segmen pasar sasaran itu.
Sasaran pasar adalah suatu kelompok konsumen yang agak
homogen, kepada siapa perusahaan ingin melakukan pendekatan
guna dapat menariknya (appeal) untuk membeli produk yang di
pasarkan.

14

Setelah mengevaluasi segmen-segmen yang berbeda,


perusahaan dapat mempertimbangkan lima pola pemilihan
segmentasi pasar, yaitu: (Kotler & Keller, 2012)
a. Konsentrasi segmen tunggal
Perusahaan bisa memilih dan menentukan sebuah segmen
tunggal. Seperti contoh: PT Sayap Mas berkonsentrasi pada pasar
sabun dan sejenisnya. Perusahaan orang tua berkonsentrasi pada
pasar makanan dan minuman berenergi. Keuntungan jika
perusahaan memilih berkonsentrasi pada pasar tertentu, maka
perusahaan bias mendapatkan pengetahuan yang luas dan
mendalam tentang perilaku konsumen produk yang ditawarkan.
Sedangkan kelemahannya adalah ketika konsumen mulai
meninggalkan produk perusahaan dikarenakan konsumen sudah
mulai bosan, atau adanya pesaing yang mendadak memproduksi
barang yang sama maka perusahaan akan menghadapi risiko di
atas risiko normal.
b. Spesialisasi selektif
Perusahaan memilih sejumlah segmen, secara obyektif
memang masing-masing segmen sangat menarik dan memadai.
Mungkin terdapat sedikit atau tidak ada sinergi di antara segmensegmen tersebut, namun masing-masing segmen berpotensi
sebagai penghasil uang. Cakupan multisegmen itu memiliki
keuntungan pendifersifikasian risiko perusahaan.
c. Spesialisasi produk
Dalam
hal
ini,
perusahaan
berkonsentrasi
dalam
menghasilkan produk tertentu yang dijual ke beberapa segmen.
Contohnya adalah: perusahaan kayu yang berkonsentrasi membuat
dan menjual hasil produknya seperti meja dan bangku sekolah ke
sekolah-sekolah negeri dan swasta. Kelebihan strategi spesialisasi
produk ini adalah strategi ini mampu membangun reputasi yang
kuat di bidang produk tertentu tapi kelemahannya adalah jika
produk meja dan bangku kayu benar-benar digantikan oleh kursi
alumunium
maka
perusahaan
akan
ditinggalkan
oleh
konsumennya.
d. Spesialisasi pasar
Perusahaan
berkonsentrasi
untuk
melayani
berbagai
kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu. Sebagai
contoh: perusahaan yang menjual bermacam-macam produk ke

15

laboratorium universitas yang terdiri dari mikroskop, osiloskop,


pembakar Bunsen, dan lab kimia. Kelebihan dari strategi ini adalah
perusahaan
mendapatkan
reputasi
yang
kuat
dengan
mengkhususkan diri dalam melayani kelompok pelanggan dan
menjadi saluran pemasaran bagi semua produk yang mungkin
digunakan oleh kelompok pelanggan ini. Risiko yang tidak
menguntungkan adalah bahwa kelompok pelanggan itu mungkin
harus memotong anggaran mereka.
e. Cakupan seluruh pasar
Perusahaan berusaha melayani seluruh pelanggan dengan
menyediakan semua produk yang dibutuhkan pelanggan. Biasanya
perusahaan yang cukup besar yang bisa dan mampu melayani
semua kebutuhan dan melayani strategi cakupan seluruh pasar.
Perusahaan besar dapat mencakup seluruh pasar dengan dua cara
umum, yaitu melalui pemasaran yang tidak terdiferensiasi atau
melalui pemasaran yang terdiferensiasi.
Dalam pemasaran yang tidak terdiferensiasi, perusahaan
mengabaikan perbedaan segmen pasar dan meraih seluruh pasar
dengan satu tawaran pasar. Ia memusatkan perhatian pada
kebutuhan pembeli yang bersifat dasar dan bukannya pada
perbedaan diantara pembeli. Sedangkan dalam pemasaran yang
terdiferensiasi,perusahaan beroperasi di berbagai segmen pasar
dan merancang program yang berbeda bagi masing-masing
segmen. Pemasaran yang terdiferinsiasi biasanya menciptakan
lebih banyak penjualan total dari pada pemasaran yang tidak
terdiferensiasi. Namun ia juga meningkatkan biaya untuk berbisnis.
Di antara biaya-biaya tersebut antara lain adalah biaya modifikasi
produk,biaya manufaktur, dan biaya administrasi.
Beberapa yang dipertimbangkan dalam memilih segmen
pasar, yaitu:
a. Pilihan atas dasar pasar sasaran
Dalam hal ini perusahaan berusaha membidik bagaimana dan
untuk apa strategi pemasaran yang dijalankan perusahaan.
Pemasaran yang memiliki tanggung jawab sosial mengharuskan
adanya dan pembidikan yang melayani tidak hanya kepentingan
perusahaan melainkan juga kepentingan mereka yang di jadikan
sasaran.
b. Interelasi dan segmen super
16

Dalam memilih lebih dari satu segmen untuk dilayani,


perusahaan harus mencermati interelasi antar segmen dalam hal
biaya, kinerja, dan teknologi. Perusahaan yang memiliki biaya tetap
dapat meningkatkan jumlah produk untuk menyerap dan
menanggung bersama biaya tersebut. Perusahaan juga harus
mencoba beroperasi di segmen super dan bukannya di segmen
yang terisolasi. Segmen super adalah sekumpulan segmen yang
memiliki kesamaan yang dapat di ambil keuntungannya.
c. Rencana serangan segmen per segmen
Jika perusahaan berencana memasuki satu segmen tertentu
atau akan melakukan ekspansi total, maka pesaing tidak
diperkenankan untuk melihat sedikit pun rencana strategi serangan
tersebut. Dan sulit dilakukan oleh perusahaan. Sehingga harus ada
upaya maksimal dan total dari perusahaan untuk melakukan
strategi mega marketing. Yang dimaksud dengan mega marketing
di sini adalah koordinasi strategis keahlian ekonomi, psikologis,
politik dan hubungan masyarakat untuk mendapatkan kerja sama
dari sejumlah pihak guna memasuki dan atau beroperasi di pasar
tertentu.
d. Kerja sama antar segmen
Secara ideal, dalam mengelola segmen-segmen maka
perusahaan bisa mengangkat seorang manajer segmen dengan
catatan manajer segmen haruslah seorang yang benar-benar
mumpuni,mampu mengelola dan menjalin kerja sama antar
segmen, maupun bekerjasama dengan beberapa segmen dari
perusahaan lain.
Penentuan target pasar
a. Konsentrasi segmen tunggal. Perusahaan memilih
berkonsentrasi pada segmen tertentu. Hal itu dilakukan
karena dana yang terbatas, segmen tersebut tidak
memiliki pesaing, dan merupakan segmen yang paling
tepat sebagai landasan untuk ekspansi ke segmen
lainnya.
b. Spesialisasi selektif. Perusahaan memilih sejumlah
segmen pasar yang menarik dan sesuai dengan tujuan
serta sumber daya yang dimiliki.
c. Spesialisasi pasar. Perusahaan memusatkan diri pada
upaya melayani berbagai kebutuhan dari suatu

17

kelompok pelanggan tertentu.


d. Spesialisasi produk. Perusahaan memusatkan diri pada
pembuatan produk tertentu yang akan dijual kepada
berbagai segmen pasar.
e. Pelayanan penuh (full market coverage). Perusahaan
berusaha melayani semua kelompok pelanggan dengan
semua produk yang mungkin dibutuhkan. Hanya
perusahaan besar yang mampu menerapkan strategi
ini, karena dibutuhkan sumber daya yang sangat besar.
3. Positioning
Positioning
produk
adalah
cara
pandang
konsumen
terhadap produk tersebut pada atribut yang paling penting,
yang pada akhirnya akan menghasilkan citra positif atau citra
negatif dari konsumen terhadap suatu produk (Kotler dan Keller,
2012). Penetapan posisi produk dipandang sebagai salah satu
elemen yang amat penting dalam strategi pemasaran perusahaan,
karena mengarahkan seluruh bauran pemasaran perusahaan.
Laporan penetapan posisi yang tepat dan jelas merupakan penentu
arah aktivitas promosi.
Dalam melaksanakan positioning produk, bisa ditetapkan
melalui salah satu dari empat pendekatan sebagai berikut:
a. Ciri produk
b. Harga dan kualitas
c. Penggunaan
d. Pengguna produk
Sedangkan dalam rangka menetapkan posisi, pemasar dapat
menerapkan beberapa strategi sebagai berikut:
a. Penetapan posisi berdasarkan ciri khas produk.
b. Penetapan posisi berdasarkan manfaat produk
c. Penetapan posisi berdasarkan penggunaan sesuai dengan
event.
d. Penetapan posisi berdasarkan tingkat pengguna tertentu.
e. Penetapan posisi berdasarkan pembanding langsung dengan
produk pesaing.
f. Penetapan produk berdasarkan perbedaan kategori produk.
Secara umum tugas positioning terdiri dari tiga tahap yaitu:
a. Mengidentifikasikan sejumlah kemungkinan keunggulan

18

bersaing untuk membangun posisi


b. Memilih keunggulan bersaing yang tepat
c. Mengomunikasikan secara efektif dan mengantarkan posisi
yang terpilih ke pasar.
Fokus utama positioning adalah persepsi pelanggan terhadap
produk yang dihasilkan dan bukan hanya sekedar produk fisik.
Keberhasilan positioning sangat ditentukan oleh kemampuan
sebuah perusahaan untuk mendiferensiasikan atau memberikan
nilai superior kepada pelanggan. Nilai superior sendiri dibentuk dari
beberapa komponen.
Sedangkan kunci utama keberhasilan positioning terletak pada
persepsi yang diciptakan dari: persepsi perusahaan terhadap
dirinya sendiri, persepsi perusahaan terhadap pesaing, persepsi
perusahaan terhadap pelanggan, persepsi pesaing terhadap dirinya
sendiri, persepsi pesaing terhadap perusahaan, persepsi pesaing
terhadap pelanggan, persepsi pelanggan terhadap dirinya sendiri,
persepsi pelanggan terhadap perusahaan, dan persepsi pelanggan
terhadap pesaing.
PRE-TEST MARKET
Evaluasi produk merupakan salah satu metode yang paling
sering digunakan untuk mengevaluasi konsumen potensial dengan
mendeskripsikan produk baru tersebut dan menanyakan umpan
balik konsumen dalam keinginan untuk membeli produk baru
tersebut. Bentuk evaluasi produk yang lebih canggih yaitu pre-test
market(Urban,dkk, 1994).
Pre-test market adalah kegiatan yang dilakukan untuk
mengetahui umpan balik konsumen mengenai produk baru yang
sedang dikembangkan. Pengujian pasar meliputi pengujian konsep
dan positioning, uji kegunaan produk, dan test marketing(Silk, dkk,
2007). Pre-test market dilakukan untuk mengetahui bagaimana
produk baru diterima oleh pasar dan mendapatkan strategi
pemasaran untuk memasarkan produk baru tersebut. Pemeriksaan
asumsi pemasaran dengan uji pasar dapat mengurangi resiko
kesalahan biaya yang dikeluarkan. Data dari Pre-test market dapat
mengurangi resiko ketidakcocokan antara strategi pemasaran
dengan target pasar (Markgraf, 2015).
Pengujian pasar dengan Pre-test market dapat juga untuk
memperkirakan volume produksi dan persediaan berdasarkan
19

permintaan. Uji ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui


presentase konsumen akan membeli produk. Hal tersebut dapat
dilakukan melalui survey konsumen dengan menunjukkan contoh
produk kepada konsumen atau menjual produk dengan persediaan
terbatas. Dari dilakukannya hal tersebut, dapat diketahui berapa
banyak konsumen yang mau membeli produk tersebut, sehingga
dapat dipastikan berapa banyak stok yang harus disediakan untuk
memenuhi permintaan konsumen (Markgraf, 2015).
Pengujian produk di lini produksi tidak sama dengan pengujian
di dunia nyata, oleh karena itu pre-test market menempatkan
produk untuk diuji secara langsung ke tangan konsumen. Pre-test
marketmemastikan bahwa produk bekerja sesuai dengan yang
diharapkan oleh produsen dan konsumen. Hal ini juga dapat
mengidentifikasi mengenai pengujian keselamatan dari produk,
sehingga ketika produk sudah dipasarkan, produk tidak akan
membahayakan. Karena pada saat pre-test marketditemukan
bahwa produk bermasalah, produsen dapat mengubah desain
produk.
Penelitian pre-test marketmemberikan hasil umpan balik dari
konsumen yang akurat mengenai bagaimana produk anda
dibandingkan dengan pesaing. Data dari hasil survey tersebut
dapat digunakan sebagai acuan dalam memodifikasi desain produk.

20

4P PEMASARAN

Gambar 1. Target MarketProduct (Produk)


Produk merupakan komponen utama yang mendasari
pemasaran suatu perusahaan. Karena dibuatnya suatu produk,
maka sebuah usaha mempunyai misi bagaimana caranaya produk
yang diproduksi dapat dijual. Akan tetapi produk saja tidak cukup,
akan tetapi sebuah produk harus memiliki kualitas dan kuantitas.
Kuantitas berarti dapat memenuhi kebutuhan pasar sedangkan
kualitas adalah produk itu mamapu memuaskan keinginan
Customers sebgai pengguna produk yang kita produksi. Sehingga

21

perusahaan harus mampu memproduksi membuat produk yang


mampu menjawab keinginan pelanggan. Terkait pembuatan
produk, maka perusahaan memerlukan harus bekerjasama dengan
bagian informasi perusahaan supaya produksi yang dialakukan
tidak salah sasaran.
1. Price (Harga)
P yang ke dua adalah Price (harga). Maksudnya adalah harga
sebuah produk harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan
tempat produk tersebut diapsaarkan. Research pasa perlu
dilakukan agar penetapan harga suatu produk sesuai dengan daya
beli lingkungan. Karena tanpa pertimbangan tersebut bisa jadi
suatu produk tidak akan laku dipasaran.
2. Place (Tempat)
Tempat yang strategis merupakan salah satu kunci suskses
pemasaran suatu produk. Terkait dengan temapat perusahaan
harus mamapu memilih lokasi yang mampu dijagkau oleh siapa
saja. Sehingga pelanggan tidak merasa kesulitan untuk
menjangkau tempat tersebut. Selain itu sarana parkir merupakan
fasilitas yang tidak boleh ditinggalkan.
3. Promotion (Promosi)
Promosi merupakan tahapan memperkenalkan suatu produk
kepada Customers. Pada tahapan ini tidak jarang sebuah
perusahaan memerlukan pengeluaran yang besar uintuk promosi
tersebut. Promosi mutlak dilakukan oleh sebuah perusahaan,
karena meski produk yang dihasilkan perusahaan memlikiki
kuantitas dan kualitas yang memenuhi permintaan pasar, akan
tetapi bisa jasa tidak laku karena produk yang kita buat tidak
banyak orang yang mengetahuinya. Pada kenyataa saat ini
teknologi informasi sudah sangat kompleks, sehingga mengenai
media promosi yang diguanakan tentunya disesuaikan dengan
target pasar dan kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk
melakukan promosi.

22

4. Product (Produk)
Menurut
Sumarni
dan
Soeprihanto
(2010),
Produk
adalah setiap apa saja yang bisa ditawarkan di pasar untuk
mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi
yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan. Produk tidak
hanya selalu berupa barang tetapi bisa juga berupa jasa ataupun
gabungan dari keduanya (barang dan jasa).
PRODUK
Produk yang digunakan dalam praktikum PTI IV merupakan
produk luaran praktikum PTI II, yaitu kursi kuliah. Dalam praktikum
ini terdapat tiga model kursi kuliah, setiap model memiliki
karakteristik yang berbeda-beda. Gambar 1, gambar 2, dan gambar
3 menunjukkan produk yang digunakan dalam praktikum ini.

N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2

Tabel 1 BOM Kursi Smart


BILL OF MATERIAL
Jumla
Nama Part
Material
h
Rangka
Baja Profil 20x20
1
Penyangga As
Engsel
Baja Pelat
1
As Engsel
Baja Poros
1
Klem
Alumunium 6061
balok
2
Meja
Komposit
1
Lapisan
Meja Triplek Melamin
Atas
Putih
1
Lapisan
Meja
Bawah
Triplek 3mm
1
Penahan
Sandaran
Baja Pelat
2
Penahan
Dudukan
Baja Pelat
4

Kebutuhan
7460mm
200mm x 30mm
300mm
40mm x 30mm x
20mm
500mm x 325mm
500mm x 325mm
500mm x 325mm
500mm
60mm
450mm x 200mm

Sandaran

Busa & Kain

Dudukan

Busa & Kain

490mm x 490mm
450mm x 200mm
Alas Sandaran

Triplek 3mm
23

1
3
1
4
1
5
1
6

490mm x 490mm
Alas Dudukan

Triplek 8mm

End Cap

Karet

Sekrup

5mm

12

20mm x 20mm
12
4
Sekrup

8mm

Gambar 2. Produk Praktikum PPTI II Desain Kursi Smart


Rangka kursi dibuat dari bahan besi yang disambung dengan
teknik las listrik. Meja berbahan utama komposit kertas yang
dilapisi dengan triplek dan triplek melamin. Untuk sandaran dan
dudukan menggunakan kain dan busa dan disangga dengan baja
pelat serta dilapisi dengan triplek.

24

Gambar 3. Produk Praktikum PPTI II Desain Kursi Dynamic

N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 2 BOM Kursi Dynamic


BILL OF MATERIAL
Jumla
Nama Part
Material
h
Baja
pipa
Rangka
20mm
1
Penyangga As
Engsel
Baja Pelat
1
As Engsel
Baja Poros
1
Klem
Alumunium 6061
balok
2
Meja
Komposit
1
Lapisan
Meja Triplek Melamin
Atas
Putih
1
Lapisan
Meja
Bawah
Triplek 3mm
1
Sandaran
Busa & Kain
1
Dudukan
Busa & Kain
1

25

Kebutuhan
10200mm
200mm x 30mm
300mm
40mm x 30mm x
20mm
500mm x 325mm
500mm x 325mm
500mm x 325mm
490mm x 200mm
490mm x 380mm

1
0
1
1
1
2
1
3
1
4

490mm x 200mm
Alas Sandaran

Triplek 3mm

Alas Dudukan

Triplek 8mm

End Cap

Karet

490mm x 380mm
20mm
12
Sekrup

5mm

12
4

Sekrup

8mm

Rangka kursi dibuat dari bahan besi yang disambung dengan


teknik las listrik. Meja berbahan utama komposit kertas yang
dilapisi dengan triplek dan triplek melamin putih. Untuk sandaran
dan dudukan menggunakan kain dan busa dan disangga dengan
baja pelat serta dilapisi dengan triplek.

N
o
1
2
3
4

Tabel 3 BOM Kursi Elegant


BILL OF MATERIAL
Jumla
Nama Part
Material
h
Rangka
Baja Profil 20x20
1
Baja Profil 25x25
1
Penyangga As
Engsel
Baja Pelat
1
As Engsel
Baja Poros
1
Klem
Alumunium 6061
balok
2

26

Kebutuhan
6690 mm
3502 mm
200mm x 30mm
300mm
40mm x 30mm x
20mm

5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1

Meja
Lapisan
Meja
Atas
Lapisan
Meja
Bawah
Penahan
Sandaran
Penahan
Dudukan

Komposit
Triplek Melamin
Kayu

Triplek 3mm

Baja Pelat

Baja Pelat

Sandaran

Busa & Kain

620mm x 500mm
620mm x 500mm

1
620mm x 500mm
500mm
60mm
450mm x 400mm
490mm x 490mm

Dudukan

Busa & Kain

1
450mm x 400mm

Alas Sandaran

Triplek 3mm

2
490mm x 490mm

Alas Dudukan

Triplek 8mm

2
20mm x 20mm

End Cap

Karet

Penutup Rak

HPL

520mm x 250mm
435mm x 450mm
Rak

Rel

435mm x 20mm
12
Sekrup

5mm

12
4

Sekrup
Kaki Adjustable
Adjuster Knock

8mm

4
2

340mm

25mm x 25mm

Baja profil 20x20


Baja Silinder

27

Gambar 4. Produk Praktikum PPTI II Desain Kursi Elegant


Rangka kursi dibuat dari bahan besi yang disambung dengan
teknik las listrik. Meja berbahan utama komposit kertas yang
dilapisi dengan triplek dan triplek melamin putih. Untuk sandaran
dan dudukan menggunakan kain dan busa dan disangga dengan
baja pelat serta dilapisi dengan triplek. Dibagian bawah kursi
terdapat rak yang dapat digunakan untuk menyimpan alat ataupu
barang pengguna. Terdapat pula adjustable dibagian kaki kursi
untuk dapat mengatur ketinggian kursi.

28

FLOWCHART PRAKTIKUM
Praktikum PTI IV terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama terdiri
dari desain kuesioner, uji validitas dan reabilitas, survei STP,
analisis STP. Sedangkan tahap kedua merupakan tahap desain
kuesioner untuk produk, uji validitas dan reabilitas, dan survei pretestmarket. Tahap ketiga merupakan tahap analisis deskriptif,
analisis crosstab, analisis MDS, dan analisis cluster. Tahap keempat
merupakan tahap terakhir, yaitu tahap pelaksanaan focus group
discussion (FGD). Berikut pada Gambar 5 dipaparkan flowchart
praktikum PTI IV.

Gambar 5. Flowchart Praktikum PTI IV


29

BAGIAN 1
DESAIN KUESIONER
Terdapat berbagai macam kuesioner yang sering digunakan
dalam pengumpulan data. Beberapa macam kuesioner/formulir
isian yang sering digunakan dalam pengumpulan data, yaitu:
1. Formulir isian untuk keperluan administrasi.
2. Formulir isian untuk observasi.
3. Daftar pertanyaan (kuesioner).
Yang akan kita bahas lebih mendalam pada modul ini adalah
daftar pertanyaan (kuesioner). Daftar pertanyaan adalah suatu
sarana dalam pengumpulan data untuk memperoleh gambaran
yang sebenarnya tentang sesuatu keadaan (Kasnodihardjo, 1993).
Kuesioner mempunyai peranan penting sebab di dalamnya
mencakup semua tujuan dari survei maupun penelitian. Di samping
harus sudah mencakup tujuan survei, suatu kuesioner yang baik
harus juga memenuhi persyaratan mudah ditanyakan, mudah
dijawab, dan mudah diproses atau mudah dilakukan pengolahan
data. Pengertian mudah dalam hal ini sangat relatif dan tergantung
dari jenis surveinya maupun petugas yang melakukannya.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner biasanya dilakukan
dengan wawancara. Namun terkadang terdapat penyurvei
(surveyor) yang hanya memberikan form pertanyaan tanpa
menanyai secara langsung. Hal ini dapat menimbulkan bias karena
responden yang tidak paham tidak dapat menanyakan secara
langsung maksud pertanyaan sehingga apa yang dimaksud
penyurvei berbeda dengan apa yang dipahami responden. Oleh
sebab itu, dibutuhkan adanya dialog antara pewawancara
(interviewer)
dengan
responden
sehingga
memungkinkan
didapatkan jawaban yang lebih akurat.
Masalah-Masalah Dasar
Masalah penting yang sering timbul dari penggunaan kuesioner
dalam suatu survei adalah adanya variasi dari responden terutama
30

menyangkut (a) tingkat pendidikan, (b) prasangka, (c) perbedaan


daerah di mana responden bertempat tinggal, (d) latar belakang
pekerjaan, dan lainnya. Cara apapun yang digunakan dalam
pemilihan responden (sampel), tetap akan memunculkan
perbedaan individual yang dijadikan objek penelitian. Oleh sebab
itu, jauh sebelum menyusun suatu kuesioner, peneliti harus
menyadari hal-hal yang demikian untuk mengantisipasi kuesioner
yang dibuat. Dengan adanya variasi responden, hal-hal yang
mungkin timbul dalam pengumpulan data menggunakan kuesioner
antara lain sebagai berikut:
1. Responden tidak mengerti pertanyaan: jawaban yang diberikan
tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan.
Pewawancara tidak selalu menyadari tentang hal itu, karena
pewawancara menganggap jawaban yang diberikan masih logis.
Barangkali jika pewawancara memahami benar pertanyaan dan
kondisi responden ketika menjawab, akan menyadari tidak
relevannya jawaban dengan pertanyaan.
2. Responden memahami pertanyaan yang diberikan dan
mempunyai informasi yang dibutuhkan, akan tetapi mungkin
tidak mengetahui informasi apa yang penting yang diingat dan
harus diberikan. Misalnya pertanyaan tentang "Berapa kali
dilakukan fogging setahun yang lalu?", responden mengetahui
pertanyaan tersebut tentang fogging akan tetapi tidak
mengetahui secara tepat frekuensinya. Seandainya waktu yang
ditanyakan adalah sebulan yang lalu mungkin dapat dijawab
lebih tepat oleh responden.
3. Responden memahami pertanyaan dan mempunyai informasi
yang dibutuhkan, tetapi tidak mau menjawab/memberikan
informasi yang dimaksud. Hal ini umumnya menyangkut
pertanyaan-pertanyaan tentang masalah pribadi misalnya
mengenai gaji, pemilikan seperti menyimpan emas atau tidak,
mempunyai tabungan di bank, dan lain sebagainya.
4. Responden mengerti pertanyaan dan mau menjawab, tetapi
tidak mampu untuk mengemukakan. Ada tiga alasan pokok yaitu
pertama responden tidak mampu menguraikannya. Kedua,
pertanyaannya kurang tepat diajukan kepada responden.
Misalnya responden tidak menangani langsung tentang
pelaksanaan fogging di lapangan, ditanya tentang berapa kali
31

dalam bulan ini telah dilakukan fogging. Ketiga, responden tidak


mengetahui jawabannya.
Prinsip-Prinsip Pembuatan Kuesioner
Pembuatan kuesioner perlu memperhatikan masalah-masalah
yang sering timbul sebagaimana telah diuraikan di atas. Sebagai
pedoman di sini diuraikan bagaimana sebaiknya suatu kuesioner
yang dibuat dapat memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Jelas
Pada umumnya masalah yang timbul menyangkut
penggunaan kata-kata yang tepat supaya responden
memahami benar pertanyaan yang diajukan. Ada kalanya
hanya karena satu kata yang ganjil maka jawabannya
berbeda dan jauh dari yang diharapkan.
Penggunaan double negative yang merupakan kesalahan.
Diusahakan menghindari membuat pertanyaan misalnya:
Tidakkah sebaiknya penderita demam berdarah tidak....
Penggabungan beberapa pertanyaan ke dalam satu
pertanyaan, misalnya Mengapa Saudara lebih meyukai cara
pemberantasan penyakit demam berdarah melalui PSN
dengan menggerakkan peran serta masyarakat daripada
fogging atau abatisasi?
Pertanyaan yang mengacu ke jawaban sebelumnya, namun
tidak menyebutkan secara jelas pertanyaan yang mana. Oleh
karena itu, sebaiknya pertanyaan yang mengacu pada
jawaban sebelumnya perlu dicantumkan, misalnya Sewaktu
Saudara melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang
PSN, apakah Saudara mengalami hambatan dalam rangka
menumbuhkan peran serta masyarakat?
Pertanyaan yang terlalu luas batasannya, misalnya
Beberapa kali Saudara melakukan supervisi dalam rangka
kegiatan program pemberantasan DBD di Puskesmas?. Di
sini batasan waktu terlalu luas, mungkin setahun yang lalu
atau bahkan 3 bulan yang lalu. Sebaiknya diberikan batasan
waktu misalnya Dalam 3 bulan terakhir ini Saudara berapa
kali
melakukan
supervisi
dalam
rangka
program
pemberantasan DBD di Puskesmas?

32

2. Membantu ingatan responden


Pertanyaan
harus
dibuat
sedemikian
rupa
sehingga
memudahkan responden untuk mengingat kembali hal-hal yang
diperlukan untuk menjawab suatu pertanyaan. Cara yang sering
dipakai ialah menggunakan "timeline" dengan mengambil suatu
peristiwa penting yang mudah diingat oleh responden.
Kemudian setahap demi setahap menuju ke pertanyaan yang
betul-betul diinginkan. Sebagai contoh misalnya ingin
menanyakan berapa kali melakukan supervisi selama 3 bulan
terakhir ini. Diikuti dengan pertanyaan di Puskesmas mana
melakukan supervisi. Berapa kali melakukan supervisi.
3. Membuat responden bersedia untuk menjawab
Bagaimanapun baiknya suatu kuesioner akan tidak ada artinya
kalau responden tidak mau atau menolak untuk memberi
jawaban. Hal ini bisa terjadi karena susunan pertanyaan
ataupun kata-katanya kurang tepat. Usahakan jangan
menanyakan hal-hal yang sulit atau bersifat sangat pribadi pada
permulaan wawancara. Susunlah pertanyaan tentang hal-hal
yang sangat mudah dijawab dan kalau bisa menyenangkan
responden. Misalnya dengan pertanyaan "Sudah berapa tahun
Saudara tugas di kantor Dinas ini?. Meskipun tidak tercantum
dalam kuesioner, interviewer dapat menambahkan dengan
pertanyaan "Sudah cukup lama juga dinas di sini? dan
seterusnya. Pertanyaan yang sulit yang memerlukan ingatan
sebaiknya ditanyakan menjelang akhir wawancara.
4. Menghindari bias
Kadang-kadang
responden
mengetahui
jawaban
yang
sebenarnya dari suatu pertanyaan tetapi dia menolak atau
memberi jawaban yang lain. Paling sering ialah tentang income,
oleh sebab itu di saat menanyakan income atau pengeluaran
sebaiknya meminta ditanyakan jumlah tepatnya tetapi dengan
menanyakan dalam bentuk "range". Hal lain adalah penggunaan
kata-kata yang agak muluk dan sekaligus mengundang bias,
misalnya responden akan memberi jawaban karena alasan
ekonomi. Pada pertanyaan kenapa Ibu berobat ke dukun,
daripada menjawab ke dukun murah maka kata ekonomis lebih

33

disenangi, meskipun ke duanya mempunyai arti sama. Oleh


karena itu, dalam pertanyaan "multiple choice" jawabanjawabannya harus dipikirkan agar tidak mengundang bias.
5. Mudah mengutarakan
Dalam banyak hal responden mengetahui jawabannya, hanya
saja mengalami kesulitan dalam mengutarakan. Dengan
bantuan gambar atau skala, responden cukup hanya menunjuk
jawaban mana yang dimaksud daripada harus menerangkan
dengan kata-kata yang sulit. Contohnya adalah tentang jenis
obat yang diminum.
Sebaiknya interviewer membawa berbagai macam obat
misalnya pil, kapsul atau cairan untuk ditunjukkan kepada
responden. Responden tinggal memilih atau menunjuk mana
yang dia telah minum daripada harus menerangkan bentuknya
dengan kata-kata.
6. Dapat menyaring responden.
Penting sekali langkah untuk menyaring responden sebab kalau
tidak pertanyaanpertanyaan tertentu mungkin tidak bisa
dijawab karena ditanyakan ke responden yang salah. Misalnya
pertanyaan tentang frekuensi supervisi yang dilakukan dalam
rangka pelaksanaan program pemberantasan DBD, ditanyakan
kepada responden yang tidak pernah melakukan supervisi.
Tentunya yang bersangkutan tidak tidak akan bisa menjawab.
Oleh sebab itu, untuk pertanyaan khusus yang hanya
ditanyakan kepada responden tertentu harus didahului dengan
pertanyaan penyaring. Contohnya Apakah Saudara dalam
tahun anggaran ini pernah melakukan supervisi dalam
kaitannya dengan pelaksanaan program pemberantasan DBD?.
Bila jawabannya "Ya" baru ditanyakan mengenai frekuensi.
Sudah berapa kali?, selanjutnya Di daerah mana saja?
Macam-Macam Pertanyaan
Macam pertanyaan sangat bergantung pada informasi/data
yang diinginkan dari responden dan juga perlu dipikirkan
bagaimana pengolahannya.
1. Free response

34

Jenis pertanyaan ini jawabannya tidak terbatas dan terserah


kepada responden. Biasanya jenis pertanyaan ini digunakan
untuk mengenai opini, persepsi atau motif tertentu dan
responden. Misalnya Bagaimana pendapat Saudara tentang
program pemberantasan DBD?. Pertanyaan seperti ini
memperbolehkan responden untuk menjawab apa yang dia
pikir, ketahui dan sebagainya. Kelemahan dari jenis pertanyaan
semacam ini adalah sulit untuk diolah/ditabulasi karena adanya
perbedaan interpretasi jawaban.
2. Directed response.
Berbeda sedikit dengan free response, jenis pertanyaan ini
sudah sedikit diarahkan, tidak terlalu luas, misalnya pertanyaan
tentang program pemberantasan DBD. Di sini hanya dipilih
salah satu metode, yaitu PSN. Jawabannya lebih terarah dan
lebih mudah untuk dibandingkan antara jawaban dari satu
responden ke lainnya karena hanya menyangkut masalah yang
lebih kecil dan sama.
3. Multiple choice.
Jenis pertanyaan ini jawabannya sudah disediakan dan
responden tinggal memilih satu jawaban yang sesuai dengan
opininya. Misalnya Bagaimana pendapat Saudara tentang perlu
tidaknya pemberantasan DBD melibatkan masyarakat? (a) Tidak
tahu, (b) Tidak perlu, (c) Perlu. Keuntungan jenis pertanyaan
ini ialah kemudahan dalam menjawab karena hanya memilih
dan mudah dalam pengolahan. Perlu diingat bahwa jenis
pertanyaan ini baik digunakan apabila pewawancara tahu benar
kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang akan diajukan.

4. Check List
Bentuk ini adalah modifikasi dari multiple choice. Di sini kita
diberi kebebasan untuk memilih jawaban sebanyak mungkin.
Sebagai contoh dalam hal ini adalah pertanyaan tentang tempat
bersarangnya nyamuk penular DBD.
(a) bak mandi
(b)tempayan

35

(c) ban bekas


(d)pot bunga
(e) dan seterusnya.
Jawaban responden bisa lebih dari satu dan bahkan mungkin
semua akan di-check yang berarti responden mengetahui di
mana saja nyamuk DBD dapat berkembang biak/bersarang.
5. Ranking Question.
Untuk pertanyaan semacam ini responden diminta untuk
mengurutkan jawabanjawaban yang tersedia sesuai dengan
pendapat responden. Misalnya Menurut pendapat Saudara,
metode apa yang dianggap paling efektif dan efisien untuk
memberantas penyakit demam berdarah?
- Fogging
- Fogging dan Abatesasi
- Fogging, Abatesasi dan PSN
Di sini responden cukup memberikan jawaban pertama apa
kedua atau ke tiga.
6. Dichotomous Question.
Di sini responden hanya diberikan kebebasan untuk memilih
satu jawaban saja dari dua jawaban yang sudah disediakan.
Jenis pertanyaan ini banyak menggunakan "Ya dan Tidak".
Misalnya Apakah Saudara dalam satu bulan terakhir ini
melakukan supervisi dalam kaitannya dengan pelaksanaan
program pemberantasan DBD?.
Jawabannya ialah "Ya" atau "Tidak".
7. Open End Question.
Jenis pertanyaan semacam ini banyak digunakan dalam
kualitatif research. Biasanya pertanyaan dimulai dengan salah
satu subject dan atas dasar jawaban responden maka
dilanjutkan dengan pertanyaan yang disusun sebagai kelanjutan
dari jawaban tersebut.
Prosedur Menyiapkan Kuesioner

36

Dalam
menyiapkan
kuesioner
diperlukan
urut-urutan
pembuatannya secara sistematik dan baik. Beberapa step atau
langkah dalam pembuatan kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Dalam perencanaan harus sudah ditentukan informasi/data apa
yang diperlukan dan dari sumber mana data tersebut akan
diperoleh.
2. Informasi/data yang ingin diperoleh dari sumber tersebut harus
didaftar mulai dari data pokok yang diperlukan dan seterusnya.
Umumnya tidak semua data yang didaftar akhirnya benar-benar
diperlukan. Oleh sebab itu data yang tidak penting perlu
dihilangkan. Hal tersebut harus didasarkan pada kerangka
pemikiran semula. Model atau kerangka dasar pemikiran akan
mengarahkan pemikiran kita ke arah hipotesis. Berdasarkan
model atau hipotesis kita akan dapat menentukan data apa
yang kita perlu ditanyakan.
3. Pewawancara mencoba menempatkan diri dalam posisi orang
yang akan memberikan informasi tersebut. Apakah dalam posisi
tersebut kita mampu memberikan informasi. Hal-hal apa yang
sulit untuk dijawab.
4. Menentukan urutan topik. Topik mana yang paling baik sebagai
pembuka wawancara dan mana yang baik sebagai penutup dan
lain sebagainya. Dalam hal ini bila perlu dapat ditentukan
pertanyaan-pertanyaan tertentu untuk tidak ditanyakan pada
kelompok responden tertentu.
5. Topik/item tersebut perlu diurutkan, kemudian baru menentukan
tipe pertanyaan yang harus digunakan untuk memperoleh
informasi yang dikehendaki/dibutuhkan. Apakah multiple choice,
free response, check list dan lainnya.
6. Setelah menentukan pertanyaan apa yang akan digunakan,
barulah menuliskan susunan kata-kata untuk tiap pertanyaan.
Pertanyaan-pertanyaan ini harus ditulis dengan jelas agar
mudah diketahui apakah pertanyaan tersebut terdiri dari satu
elemen atau lebih serta hubungannya dengan pertanyaan
sebelumnya. Penulisan pertanyaan ini biasanya diperbaiki
berkali-kali agar baik susunan kata-katanya maupun urutan
pertanyaan dan benar-benar telah sesuai dengan tujuan dari
surveinya.

37

7. Setelah penulisan pertanyaan selesai, tentukan formatnya.


Sediakan ruangan yang cukup untuk jawabannya. Kalau ada
pertanyaan multiple choice ataupun check list harus sudah
disiapkan kemungkinan jawaban-jawabannya.
8. Format kuesioner sudah selesai termasuk di dalamnya
pertanyaan pertanyaan yang telah tersusun dan jawaban yang
diperlukan, tetapi kemungkinan masih terdapat kejanggalankejanggalan baik kata-katanya maupun susunannya. Oleh
karena itu, setelah format tersebut selesai, diteliti kembali dan
kalau perlu diperbaiki lagi.
9. Apabila sudah yakin dan dirasa sesuai dengan yang dimaksud
tempatkan kembali diri kita sebagai responden. Dapatkah
menjawab semua pertanyaan tersebut dan hitunglah waktu
yang diperlukan. Kalau ternyata waktu yang diperlukan terlalu
lama perlu dipikirkan kembali apakah ada hal/pertanyaan yang
dapat dihilangkan.
10. Berikutnya
adalah
menempatkan
diri
kita
sebagai
interviewer. Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut sudah baik
dan mudah ditanyakan. Apakah bahasanya wajar? Apakah
mudah dibaca dan mudah untuk menuliskan jawabannya?
11. Sampai dengan langkah ini semua pekerjaan dilakukan oleh
yang berkepentingan ataupun instansi. Mungkin semuanya
sudah dianggap baik, tetapi sebaiknya tidak mudah puas
dengan yang telah dicapai. Agar kuesioner lebih baik lagi perlu
dimintakan pendapat/saran dari pihak yang banyak tahu tentang
topik/masalah yang hendak kita survei/teliti.
12. Kuesioner kemudian diuji coba di lapangan dengan beberapa
responden (pretest) untuk mengetahui apakah mudah
digunakan di lapangan atau tidak. Uji coba ini penting untuk
penyempurnaan.
13. Setelah uji coba, kuesioner siap untuk diperbanyak dan siap
untuk digunakan dalam penelitian/survei yang sebenarnya.

TEKNIK SAMPLING
Sugiyono (2001) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
38

populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka
peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2001).
Margono (2004: 125) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik
sampling adalah cara untuk menentukan sampelyang jumlahnya sesuai dengan
ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan
sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.Untuk
menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik
sampling yang digunakan. Secara skematis, menurut Sugiyono (2001) teknik
sampling ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 6.Teknik Sampling


Dari gambar di atas terlihat bahwa teknik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan
menjadi
dua
yaitu
Probability
SamplingdanNon
ProbabilitySampling. Probability sampling meliputi: simple random sampling,
proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random
sampling, dan area (cluster) sampling (sampling menurut daerah). Nonprobability
sampling meliputi: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental,
purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
Menurut Sugiyono (2001) dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan
sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada
dalam populasi itu
Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi
yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk
mewakili populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap
homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam
suatu populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa

39

program S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari
populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun
tabel bilangan random. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.

.
Gambar 7. Teknik Simple Random
Menurut Sugiyono (2003) Sampling adalah teknik pengambilan sample. Ada dua
macam teknik pengambilan sampel menurut Sugiyono yaitu:
1. Random Sampling, adalah teknik pengambilan sampel dimana semua
individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi
kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel. Cara
pengambilan sampel dengan random ada tiga cara:
a

Cara undian adalah pengambilan sampel dengan cara memberikan


kesempatan kepada setiap individu untuk menjadi anggota sampel.

Cara ordinal adalah cara pengambilan sampel dengan cara kelipatan dari
sampel sebelumnya, misalkan kelipatan dua, kelipatan tiga, dan
seterusnya.

Cara randomisasi adalah pengambilan sampling melalui tabel bilangan


random.

2. Non Random Sampling, adalah cara pengambilan sampel yang tidak semua
anggota sampel diberi kesempatan untuk dipilih sebagai anggota sampel. Cara
pengambilan sampel dengan non random sanpel ada tujuh cara yaitu:
a. Proportional sampling adalah pengambilan sampel yang memperhatikan
pertimbangan unsur-unsur atau kategori dalam populasi penelitian.
b. Stratified sampling adalah cara pengambilan sampel dari populasi yang
terdiri dari strata yang mempunyai susunan bertingkat.
c. Proporsive sampling adalah cara pengambilan
menetapkan ciri yang sesuai dengan tujuan.
40

sampel

dengan

d. Quota sampling adalah ruang dan tempat belajar baik yang tersedia
dirumah maupun dikampus.
e. Double sampling atau sampling kembar sering digunakan dalam research
dan penelitian yang menggunakan angket lewat usaha menampung
mereka dan mengembalikan dalam angket.
f. Area probability sampling adalah cara pengambilan sampel yang
menunjukkan cara tertentu atau bagian sampel yang memiliki ciri-ciri
populasi.
g. Cluster sampling adalah cara pengambilan sampel yang berdasarkan pada
cluster-cluster tertentu.
h. Combinet adalah gabungan antara beberapa sampling dalam teknik
random sampling dan teknik non random sampling di atas sehingga
menyiapkan tampilan komunikasi.

41

BAGIAN 2
ANALISIS STATISTIK
Pengujian Data
1. Uji Normalitas
Menguji distribusi data apakah normal atau tidak.

Data yangbaik adalah yang berdistribusi normal (berbentuk


lonceng), menggambarkan bahwa data-data minim nilai
esktrim dan outlier.

Selain itu distribusi normal menggambarkan bahwa data


tidak memiliki kecenderungan ke kanan maupun ke kiri
(menceng).

Uji ini dilakukan pada masing-masing variabel, dengan logika


bahwa secara individual variabel memenuhi normalitas, maka
secara bersama (multivariat) juga bisa dianggap normal.

Uji KolmogorovSmirnov, ShapiroWilk

2. Uji Homoskedasitas
Menguji
homogenitas
responden/pengamatan.

varians

data

antar

LaveneTest, Analisis Residual

Analyze, Descriptives Stat, Explore, input variable,


plots, aktifkan lavene test

3. Uji Linieritas
Hubungan antara variabel dependent dengan variabel
independent.
42

Dependenciesmethod

Linierity, grafik

Analyze, compare means, means, input data, options,


aktifkan linierity test

Kesalahan Dalam Pengukuran Data


Dalam mengukur derajat kesalahan pengukuran yang ada
dalam setiap ukuran, peneliti harus melakukan uji validitas dan
reliabilitas dari ukuran (measure).
Uji Validitas adalah tingkat keandalan dan kesahihan alat
ukur yang digunakan. Instrumen dikatakan valid berarti
menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan
data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur (Sugiyono, 2004:137). Dengan demikian,
instrumen yang valid merupakan instrumen yang benar-benar
tepat untuk mengukur apa yang hendak di ukur. Dengan kata lain,
uji validitas ialah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap
isi (content) dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur
ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian.
Menurut Djaali dan Pudji (2008), Validitas dibagi menjadi tiga
macam yaitu, validitas isi, validitas konstruk, dan validitas empiris.
Sedangkan, uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah
instrumen yang dalam hal ini kuesioner dapat digunakan lebih dari
satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan
menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas
instrumen mencirikan tingkat konsistensi dalam suatu penelitian.
Reliabilitas suatu penelitian merujuk pada derajat stabilitas,
konsistensi, daya prediksi, dan akurasi. Uji reliabilitas digunakan
untuk mengetahui adanya konsistensi alat ukur dalam
penggunaannya, atau dengan kata lain alat ukur tersebut
mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan berkali-kali
pada waktu yang berbeda. Logikanya, jika kita lakukan penelitian
yang sama, dengan tujuan yang sama dan karakteristik responden
yang sama, maka hasil pengambilan data berikutnya akan kita
dapatkan respons yang kurang lebih sama. Kecuali pada kasuskasus tertentu, misalnya pada kasus penelitian tentang preferensi

43

terhadap susu formula merek X, jika suatu saat terdapat isu bahwa
susu formula merek tertentu tercemar oleh bakteri, maka
kemungkinan respons terhadap penelitian sejenis terhadap semua
merek susu akan berpengaruh, sehingga respons yang didapat
kemungkinan tidak akan sama dengan respons penelitian terdahulu
sebelum isu cemaran tersebut beredar.
Rumus Uji Validitas
Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
validitas konstruk (construct validity). Menurut Jack R. Fraenkel
(dalam Siregar 2010:163) validitas konstruk merupakan yang
terluas cakupannya dibanding dengan validitas lainnya,karena
melibatkan banyak prosedur termasuk validitas isi dan
validitas kriteria. Uji validitas digunakan rumus korelasi
product moment sebagai berikut:
1. Rumus Korelasional Product Moment
Rumus :

Keterangan:
rxy
= koefisien korelasi suatu butir/item
N
= jumlah subyek
X = skor suatu butir/item
Y = skor total (Arikunto, 2005: 72)
Nilai r kemudian dikonsultasikan dengan rtabel (rkritis). Bila rhitung dari
rumus di atas lebih besar dari r tabel maka butir tersebut valid, dan
sebaliknya
2. Rumus KorelasionalPoint Biserial
Apabila variabel I berupa data diskret murni atau data
dikotomik,sedangkan variabel II berupa data kontinu, maka teknik
korelasi yang tepat untuk digunakan adalah teknik korelasi point
biserial dengan rumus:

Keterangan:

44

rpbi

= Koefisien korelasi point biserial yang melambangkan


kekuatan korelasi antara variabel I dengan variabel II, yang
dalam hal ini dianggap sebagai Koefisien Validitas Item.
Mp = Skor rata-rata hitung yang dimiliki otel testee, yanguntuk
butir item yang bersangkutan telah dijawab dengan betul.
Mt = Skor rata-rata dari skor total.
SDt = Deviasi standar dari skor total.
p = Proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir item yang
sedang diuji validitas itemnya.
q = Proporsi testee yang menjawab salah terhadap butir item yang
sedang diuji validitas itemnya
Rumus Uji Reabilitas
1. Rumus Alpha Cronbach
Uji Reliabilitas dilakukan dengan uji Alpha Cronbach.
Rumus Alpha Cronbach sebagai berikut:

Keterangan:
r11
= reliabilitas yang dicari
n
= Jumlah item pertanyaan yang di uji
t2 = jumlah varians skor tiap-tiap item
t2 = varians total
Jika nilai alpha> 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient
reliability) sementara jika alpha> 0,80 ini mensugestikan seluruh
item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal
karena memiliki reliabilitas yang kuat. Atau, ada pula yang
memaknakannya sebagai berikut:Jikaalpha> 0,90 maka reliabilitas
sempurna. Jika alpha antara 0,70 0,90 maka reliabilitas tinggi. Jika
alpha antara 0,500,70 maka reliabilitas moderat. Jika alpha< 0,50
maka reliabilitas rendah. Jika alpha rendah, kemungkinan satu atau
beberapa item tidak reliabel: Segera identifikasi dengan prosedur
analisis per item. Item analysis adalah kelanjutan dari tes Alpha
sebelumnya guna melihat item-item tertentu yang tidak reliabel.
Lewat item analysis ini maka satu atau beberapa item yang tidak

45

reliabel dapat dibuang sehingga Alpha dapat lebih tinggi lagi


nilainya.
Reliabilitas item diuji dengan melihat koefisien alpha dengan
melakukan reliability analysis dengan SPSS ver. 16.0 for Windows.
Akan dilihat nilai Alpha Cronbach untuk reliabilitas keseluruhan
item dalam satu variabel. Agar lebih teliti, dengan menggunakan
SPSS, juga akan dilihat kolom corrected item total correlation. Nilai
tiaptiap item sebaiknya 0.40 sehingga membuktikan bahwa item
tersebut dapat dikatakan punya reliabilitas. Konsistensi Internal
Item-item yang punya koefisien korelasi <0.40 akan dibuang
kemudian uji reliabilitas item diulang dengan tidak menyertakan
item yang tidak reliabel tersebut. Demikian terus dilakukan hingga
Koefisien Reliabilitas masing-masing item adalah 0.40.
2. Rumus Spearman Brown
Rumus yang digunakan dalam hal ini adalah rumus SpearmanBrown (Arikunto, 2010):
Rumus:

Keterangan:
rnn = Besarnya koefisien reliabilitas sesudah tes tersebut ditambah
butir soal baru.
n = Berapa kali butir-butir soal itu ditambah
r
= Besarnya koefisien reliabilitas sebelum butir-butir soalnya
ditambah
3. Rumus Flanagan
Rumus Flanagan memiliki syarat diantaranya data yang
digunakan merupakan instrumen dengan skor 1 dan 0 jumlah
butir pertanyaan genap. Langkah: skor-skor dikelompokkan
menjadi dua berdasarkan belahan bagian soal, ganjil-genap.
Rumus:

46

Keterangan:
r11 = reliabilitas instrumen
V1 = variansi belahan pertama
V2 = variansi belahan kedua
Vt

= variansi skor total

4. Rumus Rulon
Rumus Rulon (belah dua awal-akhir). Bila menggunakan rumus
yang tergolong pada teknik belah dua ada 2 persyaratan yang
harus dipenuhi, yaitu butir pertanyaan harus genap dan antara
belahan pertama dan kedua harus seimbang. Menurut Rulon
reliabilitas dapat dipandang dari adanya selisih skor yang diperoleh
oleh responden pada belahan pertama dengan belahan kedua.
Selisih tersebut yang menjadi sumber variasi error sehingga bila
dibandingkan dengan variasi skor akan dapat menjadi dasar untuk
melakukan estimasi reliabilitas tes.
Rumus:

Keterangan:
r11
= reliabilitas instrumen
Vt
= variansi skor total
Vd

= variansi beda

= skor pada belahan awal dikurangi dengan skor pada


belahan akhir

5. Rumus K-R 20
Rumus Kuder-Richardson, yang dikenal dengan nama KR20 danKR-21.
Rumus :

Keterangan :
r11
= reliabilitas tes secara keseluruhan
p
= Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
47

q
= Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
(q = 1p)
pq = Jumlah hasil perkalian p dan q
N = Banyak item
S = Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians)
6. Rumus K-R 21
Rumus ini dianggap lebih sederhana dalam penghitungan jika
dibandingkan dengan rumus Kuder-Richardson sebelumnya.
Rumus:

Keterangan:
r11
= reliabilitas instrumen
S
= varians skor total
n
= banyaknya butir pertanyaan
M = skor rata-rata

7. Rumus Hoyt
Syarat dari rumus ini ialah data yang
merupakan instrumen dengan skor 1 dan 0.
Rumus:

digunakan

Keterangan:
r11
= reliabilitas instrumen
Vt = varians skor total
Vs
= varians sisa
Metode Analisis Multivariat
Metode dependensi merupakan untuk mengetahui pengaruh
dan ramalan (Regresi, Discrimant analysis, Manova, korelasi
kanonikal,
comjoint
analysis).
Sedangkan
metode
interdependensimerupakan untuk mengelompokka, mereduksi

48

variabel.(Analisis faktor, analsisi kluster, Multidimensional scaling,


analisis korespondensi).
Metode Interdependensi
Analisis
multivariate
dengan
menggunakan
metode
interdipendensi/saling ketergantungan, untuk mencari faktor
penyebab timbulnya masalah atau membantu mencari informasi
yang diinginkan. Dalam hal ini, peneliti ingin mengetahui sesuatu
yang belum tahu yang merupakan masalah. Tujuannya untuk
memberikan arti (meaning) kepada sekelompok variable atau
mengelompokkan sekumpulan variable menjadi kelompok yang
lebih sedikit jumlahnya dan masing-masing kelompok membentuk
variable baru yang disebut faktor (mereduksi banyaknya variable).
Jadi metode interdependensi dilakukan untuk pengelompokkan
atau mereduksi variable yang banyak sekali menjadi variable baru
yang lebih sedikit, tetapi tidak mengurangi informasi yang
terkandung dalam variable asli. Jika peneliti focus pada variable,
maka metode interdependensi yang digunakan adalah analisis
faktor, sedangkan jika peneliti focus pada objek, maka metode
interdependensi yang digunakan adalah (Priatna, nd): Analisis
klaster, Penskalaan multidimensi, dan Analisis kanonikal.
1. Analisis Faktor
Analisis faktor, adalah analisis untuk menentukan variable
baru yang disebut faktor yang jumlahnya lebih sedikit
dibandingkan dengan banyaknya variable asli dimana faktor-faktor
tersebut
tidak
berkorelasi
satu
dengan
yang
lain
(multikolonearitas). Variabel baru tersebut harus memuat sebanyak
mungkin informasi yang terkandung dalam variable asli. Dalam
proses mereduksi banyaknya variable, informasi yang hilang harus
seminimal mungkin.
Variabel baru yang disebut faktor,
dipergunakan untuk melakukan analisis regresi linear berganda,
dengan variable-variabel bebas yang tidak lagi saling multikolinear
yang merupakan syarat dari analisis regresi linear berganda.
Analisis faktor terdiri dari: 1) Principal-component analysis, dan 2)
Common factor analysis.
2. Analisis Klaster
49

Adalah analisis untuk mengelompokkan elemen yang mirip


sebagai objek penelitian menjadi kelompok (cluster) yang berbeda
dan saling asing (mutually exclusive). Berbeda dengan analisis
diskriminan dimana kelompok sudah ditentukan, kemudian suatu
fungsi diskriminan dipergunakan untuk menentuakan suatu elemen
(objek) harus masuk kelompok yang mana, sebaliknya analisis
klaster, kelompok (cluster) dibentuk berdasarkan criteria tertentu
dengan memperhatikan data yang ada yang ditunjukkan oleh bilai
banyak variable.
3. Analisis Korespondensi
Digunakan untuk mengakomodasi dua hal, yaitu: a) data non
metric (kualitatif, nominal dan ordinal); dan b) hubungan nonlinear.
Dalam analisis korespondensi digunakan suatu table kontingensi,
yaitu table silang (crosstab) dari dua variable kategori. Kemudian
mengubah data nonmetrik (kualitatif, nominal dan ordinal) menjadi
data metric (kuantitatif, interval dan rasio) dan melakukan reduksi
dimensional (mirip dengan analisis faktor) dan perceptual mapping
(mirip dengan analisis multidimensional).
4. Penskalaan Multidimensi
Bertujuan untuk membentuk pertimbangan atau penilaian
pelanggan mengenai kemiripan (similarity) atau preferensi
(perasaan lebih suka) kedalam jarak (distances) yang diwakili
dalam ruang multidimensional. Jika objek A dan B dinilai pelanggan
sebagai pasangan objek yang paling mirip dibandingkan dengan
pasangan lain, teknik penskalaan multidimensional akan
memposisikan objek A dan B sedemikian rupa sehingga jarak antar
objek dalam ruang multidimensional akan lebih pendek/kecil
dibandingkan dengan jarak pasangan objek yang lainnya.
Metode Cluster
Analisis cluster adalah analisis utuk mengelompokkan elemen
yang mirip sebagai objek penelitian untuk menjadi kelompok
(cluster) yang berbeda (Supranto, 2000). Analisi cluster termasuk
dalam analisis statistik multivariat metode interpenden, maka
tujuan analisis cluster tidak untuk menghubungkan ataupun

50

membedakan dengan sampel atau variabel lain. Analisis cluster


berguna untuk meringkas data dengan jalan mengelompokkan
objek-objek berdasarkan kesamaan karakteristik tertentu diantara
objek-objek yang akan dikaji. Analisis cluster memiliki dua metode,
yaitu:
1. Metode hirarki
Metode hirarki dimulai dengan mengelompokkan dua atau
lebih objek yang mempunyai kesamaan yang paling dekat.
Proses selanjutnya diteruskan ke objek lain yang mempunyai
kedekatan kedua. Demikian seterusnya sampai cluster akan
membentuk semacam pohon hirarkiyang jelas antar objek dari
yang paling mirip sampai paling tidak mirip.
2. Metode non-hirarki
Pada metode non-hirarki, digunakan jarak Euclidian untuk
menetapkan nilai kedekatan antara objek. Tahap Cluster
pertama adalah klasifikasi pertama dalam set data. Tahap
kedua adalah observasi lengkap berikutnya yang dipisahkan
dari tahap pertama oleh jarak minimum khusus.
Analisis cluster adalah suatu alat untuk mengelompokkan
sejumlah n objek berdasarkan p variabel yang secara relatif
mempunyai kesamaan karakteristik diantara objek-objek tersebut,
sehingga

keragaman

dalam

suatu

kelompok

tersebut

lebih

kecildibandingkan dengan keragaman antar kelompok. Objeknya


dapat

berupa

barang,

jasa,

hewan,

manusia

(responden,

konsumen, atau yang lain). Objek tersebut akan diklasifikasikan ke


satu atau lebih cluster, sehingga

dalam satu cluster akan

mempunyai kemiripan atau kesamaan karakter.Adapun ciri-ciri


cluter adalah:
1. Homogenitas (kesamaan) yang tinggi antar anggota dalam
satu cluster.

51

2. Heterogenitas (perbedaan) yang tinggi antar cluster yang satu


dengan cluster yang lain.
Tujuan utama analisis cluster adalah mempartisi suatu set
objek menjadi dua kelompok atau lebih berdasarkan kesamaan
karakteristik khusus yang dimilikinya. Tujuan analisis cluster,
sebagai berikut:
1. Deskripsi Klasifikasi
Deskripsi klasifikasi bertujuan mengeksplorasi dan membentuk
suatu klasifikasi atau taksonomi secara empiris. Struktur
analisis

cluster

yang

sederhana

dapat

menggambarkan

adanya hubungan atau kesamaan dan perbedaan yang tidak


dinyatakan sebelumnya.
2. Pemilihan pada Pengelompokkan Variabel
Pemilihan variabel harus sesuai dengan teori dan konsep yang
umum

digunakan

didasarkan

pada

dan

harus

teori-teori

rasional.
eksplisit

Rasionalitas
atau

ini

penelitian

sebelumnya. Variabel-variabel yang dipilih hanyalah variabel


yang dapat mencirikan objek yang akan dikelompokkan dan
secara spesifik harus sesuai dengan tujuan analisis cluster.
Proses analisis cluster meliputi:
1. Menentukan ukuran ketidakmiripan antara kedua objek
Proses pertama yaitu mengukur seberapa jauh ada kesamaan
antar objek. Dengan memiliki sebuah ukuran kuantitatif untuk
mengatakan dua objek tertentu lebih mirip dibandingkan
dengan objek lain. Salah satu yang bisa menjadi ukuran
ketidakmiripan adalah fungsi jarak antara objek a dan b.
Fungsi tersebut biasa dinotasikan dengan d(a,b). Adapun sifatsifat ketidakmiripan adalah:
d(a,b) 0
d(a,b) = 0
d(a,b) = d(b,a)
52

(a,b) meningkat seiring semakin tidak miripnya kedua

objek a dan b
d(a,c) d(a,b) + d(b,c)

Jarak yang paling umum digunakan adalah jarak Euclidian.


Ukuran jarak atau ketidaksamaan antar objek ke-i dengan
objek ke-h, dapat disimbolkan dengan dih. Adapun nilai
dihdiperoleh melalui perhitungan jarak kuadrat sebagai berikut:
dih = (xij xhj)2
Keterangan:
dih= jarak kuadrat Euclidian antar objek ke-i dengan objek ke-h
p = jumlah variabel cluster
xij = nilai dari objek ke-i pada variabel ke-j
xhj = nilai dari objek ke-h pada variabel ke-j
2. Membuat Cluster
Proses pembuatan cluster dapat dilakukan dengan dua tahap,
yaitu:
a. Metode Hirarki
Pada metode ini, dimulai dengan mengelompokkan data
yang mempunyai kesamaan yang paling dekat. Kemudian
diteruskan ke objek lain yang mempunyai kedekatan
kedua. Demikian seterusnya sehingga kelompok akan
membentuk semacam pohon, dimana ada hirarki yang
jelas antar objek, dari yang paling mirip sampai yang
paling tidak mirip. Metode yang dilakukan adalah single
linkage. Metode ini akan mengelompokkan dua objek yang
mempunyai jarak terdekat terlebih dahulu. Jadi pada
setiap tahapan, banyaknya cluster akan berkurang satu.
Hasil berupa single linkage dapat disajikan dalam bentuk
suatu dendogram atau diagram pohon. Cabang-caang
pohon

menunjukkan

cluster.

53

Cabang-cabang

tersebut

bertemu

bersama-sama

pada

simpul

yang

posisinya

sepanjang suatu sumbu jarak. Ini menunjukkan tingkat di


mana penggabungan terjadi.
b. Metode Non-Hiirarki
Metode ini dimulai dengan proses penentuan jumlah clster
terlebih dahulu, dan menggunakan metode k-means.
Metode k-means digunakan sebagai alternatif metode
cluster untuk data dengan ukuran yang besar karena
memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan metode
hierarki.
3. Setelah cluster terbentuk, selanjutnya adalah melakukan
interpretasi terhadap cluster yang terbentuk.
4. Melakukan Validasi Cluster
Untuk menguji validasi cluster diggunakan uji parsial F dengan
signifikasi .
Hipotesis:
H0
:
Variabel

penggerombolan.
H1 : Variabel i

bukan

variabel

merupakan

variabel

pembeda
pembeda

dalam
dalam

penggerombolan.
Statistik Uji :
means square cluster
F = means square error
Kriteria uji: Tolak H0 jika F > F,k-1,n-k
Metode Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk
menganalisis
data
dengan
cara
mendeskripsikan
atau
menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
atau generalisasi.
Ukuran Numerik
Ukuran numerik dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Ukuran pemusatan data meliputi mean, median, modus

54

2. Ukuran penyebaran data meliputi rentang, variansi, dan


simpangan baku
a) Ukuran Pemusatan
Ukuran pemusatan atau ukuran lokasi adalah beberapa ukuran
yang menyatakan dimana distribusi data tersebut terpusat.
(Howell, 1982). Ukuran pemusatan berupa nilai tunggal yang bisa
mewakili suatu kumpulan data dan karakteristiknya (menunjukkan
pusat dari nilai data).
Jenis-Jenis Ukuran Pemusatan antara lain:
1. Rata-rata (Mean)
Rata-rata merupakan ukuran pemusatan yang sangat
sering digunakan. Keuntungan dari menghitung rata-rata
adalah angka tersebut dapat digunakan sebagai gambaran
atau wakil dari data yang diamati. Rata-rata peka dengan
adanya nilai ekstrim atau pencilan.
2. Median atau Nilai Tengah
Median merupakan suatu nilai ukuran pemusatan yang
menempati posisi tengah setelah data diurutkan
3. Modus
Modus adalah nilai yang paling sering muncul dari
serangkaian data. Modus tidak dapat digunakan sebagai
gambaran mengenai data (Howell, 1982).
b) Ukuran Penyebaran Data/Dispersi (Dispersion)
Ukuran penyebaran adalah suatu ukuran baik parameter atau
statistika untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan data.
Melalui ukuran penyebaran dapat diketahui seberapa jauh datadata menyebar dari titik pemusatannya.
Jenis-Jenis Ukuran Penyebaran antara lain:
1. Rentang (Range) (=R)
Rentang (Range) dinotasikan sebagai R, menyatakan ukuran
yang menunjukkan selisih nilai antara maksimum dan
minimum. Rentang cukup baik digunakan untuk mengukur
penyebaran data yang simetrik dan nilai datanya menyebar
merata. Ukuran ini menjadi tidak relevan jika nilai data
maksimum dan minimumnya merupakan nilai ekstrim
2. Variansi (Variance) (=S2 atau 2)

55

Variansi (variance) dinotasikan sebagai S2 atau 2 adalah


ukuran penyebaran data yang mengukur rata-rata kuadrat
jarak seluruh titik pengamatan dari nilai tengah (meannya).
3. Simpangan Baku (=s atau )
Simpangan baku (standar deviation) dinotasikan sebagi s atau
, menunjukkan rata-rata penyimpangan data dari harga rataratanya. Simpangan baku merupan akar pangkat dua dari
variansi.
Metode Analisis Crosstab

Analisis crosstab adalah suatu metode analisis berbentuk


tabel, dimana menampilkan tabulasi silang atau tabel kontingensi
yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengetahui apakah
ada korelasi atau hubungan antara satu variabel dengan variabel
yang lain. Singkatnya, analisis crosstab merupakan metode untuk
mentabulasikan beberapa variabel yang berbeda ke dalam suatu
matriks. Tabel yang dianalisis di sini adalah hubungan antara
variabel dalam baris dengan variabel dalam kolom.
Crosstabs (Tabulasi Silang) merupakan metode untuk
mentabulasikan beberapa variabel yang berbeda ke dalam suatu
matriks. Hasil tabulasi silang disajikan ke dalam suatu tabel
dengan variabel yang tersusun sebagai kolom dan baris. Crosstabs
ini mudah dipahami karena menyilangkan dua variabel dalam satu
tabel.
Crosstabs dilihat dari beberapa metode uji yang digunakan yaitu
berupa
uji chi-squre test untuk mengetahui hubungan antara baris dan
kolom

uji directional measures untuk


hubungan variabel.

mengetahui

Uji tatistic
measures untuk
berdasarkan chi-square.

Uji contingency tatistict untuk mengetahui koefisien kontingensi


korelasi antar dua variabel.

mengetahui

56

kesetaraan
hubungan

antar
setara

Uji lambda Berfungsi merefleksikan reduksi pada error bilamana


value-value dari suatu variabel digunakan untuk memprediksi
value-value dari variabel lain.

Uji Phi dan Cramers V: Untuk menghitung koefisien phi dan varian
cramer.

Uji Goodman dan Kruskal tau Digunakan untuk membandingkan


probabilitas error dari dua situasi.
Uji hipotesis yang dilakukan adalah :
Ho = tidak ada hubungan antara baris dan kolom
H1 = ada hubungan antara baris dan kolom
2.

Kegunaan Analisis Crosstab dalam Perencanaan


Secara umum, dalam analisis crosstab variabel-variabel
dipaparkan dalam satu tabel dan berguna untuk :
a. Menganalisis hubungan-hubungan antar variabel yang terjadi.
b. Melihat
bagaimana
kedua
atau
beberapa
variabel
berhubungan.
c.
Mengatur data untuk keperluan analisis tatistic.
d. Untuk mengadakan kontrol terhadap variabel tertentu
sehingga dapat dianalisis ada tidaknya hubungan.
Analisis crosstab ini juga diperlukan dalam hal perencanaan wilayah
dan kota. Yaitu secara umum adalah untuk mengetahui hubungan
sebab akibat dari suatu peristiwa yang terjadi. Misalnya untuk
mencari

apakah

berpengaruh

atau

tidak

suatu

kepadatan

penduduk dengan jumlah sarana atau prasarana yang ada di suatu


kota. Untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh tersebut, dapat
digunakan

analisis

crosstab

(tabulasi

silang).

Atau

untuk

menganalisis masalah kependudukan. Sebagai contoh, pendapatan


masyarakat

dengan

kecenderungan

masyarakat

tersebut

berbelanja, dan sebagainya.


Metode Analisis Multi Dimensional Scaling
Analisis Multidimensional Scalling (MDS) merupakan salah satu teknik
peubah ganda yang dapat digunakan untuk menentukan posisi suatu obyek lainnya
57

berdasarkan penilaian kemiripannya. MDS disebut juga Perceptual Map. MDS


berhubungan dengan pembuatan map untuk menggambarkan posisi sebuah obyek
dengan obyek lainnya berdasarkan kemiripan obyek-obyek tersebut. MDS juga
merupakan teknik yang bisa membantu peneliti untuk mengenali (mengidentifikasi)
dimensi kunci yang mendasari evaluasi objek dari responden (pelanggan).
Konsep dan ruang lingkup penskalaan multidimensional (multidimensional
scaling=MDS) dalam riset pemasaran dan menguraikan berbagai aplikasinya;
menguraikan

langkah-langkah

yang

harus

dilalui

di

dalam

penskalaan

multidimensional tentang data persepsi, meliputi perumusan masalah, mendapatkan


data input, memilih prosedur MDS, memutuskan banyaknya dimensi, memberikan
interpretasi kepada konfigurasi (configuration) dan memberikan penilaian (to asses)
keandalan dan kesahihan (reability and validity), menjelaskan penskalaan data
preferensi; menjelaskan analisis korespondensi dan kebaikan serta kelemahannya;
memahami hubungan antar MDS, analisis diskriminan, dan analisis faktor.
MDS dapat menentukan:
1. Dimensi apa yang dipergunakan oleh responden ketika mengevaluasi objek.
2. Berapa dimensi yang akan dipergunakan untuk masalah yang dihadapi
(sedang diteliti).
3. Kepentingan relatif dari setiap dimensi.
4. Bagaimana objek dikaitkan atau dihubungkan secara perseptual?
MDSdigunakan untuk mengetahui hubungan interdepensi atau saling
ketergantungan antar variabelatau data. Hubungan ini tidak diketahui melalui reduksi
ataupun pengelompokan variabel, melainkan dengan membandingkan variabel yang
ada pada setiap obyek yang bersangkutan dengan menggunakan perceptual map.
Konsep dasar MDSadalah pemetaan.
Analisis penskalaan multidimensional ialah suatu kelas prosedur untuk menyajikan
persepsi dan preferensi pelanggan secara spasial dengan menggunakan tayangan
yang bisa dilihat (a visual display). Persepsi atau hubungan antara stimulus secar
psikologis ditunjukkan sebagai hubungan geografis antara titik-titik di dalam suatu
ruang multidimensional. Sumbu dari peta spasial diasumsikan menunjukkan dasar
58

psikologis (phychological basis) atau dimensi yang mendasari (underlying


dimensions) yang dipergunakan oleh pelanggan/ responden untuk membentuk
persepsi dan preferensi untuk stimulus. Analisis penskalaan multidimensional
dipergunakan didalam pemasaran untuk mengenali (mengidentifikasi), hal-hal
berikut.
1. Banyaknya

dimensi

dan

sifat/

cirinya

yang

dipergunakan

untuk

mempersepsikan merek yang berbeda di pasar.


2. Penempatan (positioning) merek yang diteliti dalam dimensi ini.
3. Penempatan merek ideal dari pelanggan dalam dimensi ini.
ANALISIS STATISTIK DENGAN SPSS
Pada praktikum PTI IV ini, hasil dari survey kuesioner akan
diolah dengan metode analisis statistik dengan menggunakan
bantuan software SPSS Statistic 20. Banyak jenis analisis yang
dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS baik
statistika parametrik maupun non parametrik. Namun pada
praktikum ini analisis data hanya akan dibagi menjadi tiga bagian
analisis yaitu analisis deskriptif, analisis crosstab dan analisis Multi
Dimensional Scaling (MDS).
Menyiapkan Data
Sebelum melakukan analisis statistik menggunakan SPSS,
terlebih dahulu data hasil survey kuesioner dipindahkan ke dalam
file SPSS. Input data pada SPSS hampir sama dengan input data
melalui Microsoft Excel maupun software pengolah angka lainnya.
Perbedaan proses input data pada SPSS terletak pada proses inisiasi
variabel sebelum data dimasukkan. Setiap jenis variabel harus
terlebih dahulu dideklarasikan namanya, skala yang digunakan,
tipe, label dan atribut-atribut lain yang berkaitan dengan variabel
tersebut. Deklarasi variabel ini akan memudahkan proses analisis
menggunakan SPSS.

59

Berikut merupakan contoh kuesioner yang akan dianalisis


menggunakan SPSS. Sebelum memasukkan data hasil kuesioner
tersebut terlebih dahulu dideklarasikan variabelnya dengan
langkah-langkah berikut:
o Data Pribadi
1. Setelah jendela SPSS terbuka, kita klik menu variable view
di pojok kiri bawah, bersebelahan dengan menu data view.

2. Berdasarkan kuesioner, data pertama yang akan kita simpan


di SPSS adalah data Nama yang akan dianggap sebagai

60

variabel Nama. Untuk mendeklarasikannya, kita tulis


nama variabel Nama pada baris pertama kolom name di
jendela variable view. Setelah nama variabel kita tulis, maka
kolom-kolom pada baris tersebut akan berisi atribut-atribut
variabel yang selanjutnya akan kita deklarasikan.

3. Atribut yang terlebih dahulu dideklarasikan setelah name


adalah type. Type menunjukkan tipe atau jenis dari variabel
yang dideklarasikan. Terdapat berbagai jenis variabel yang
tersedia di dalam SPSS seperti numeric, comma, currency,
dan string. Untuk merubah jenis variabel terlebih dahulu klik
pada cell tersebut, lalu klik tombol yang muncul di bagian
kanan cell tersebut hingga muncul sebuah jendela dengan
pilihan jenis-jenis variabel.

Data Nama merupakan data yang berisikan karakter/huruf


yang tidak memiliki kode atau nilai tertentu. Jenis variabel
yang sesuai untuk data tersebut adalah tipe string. Untuk
memilihnya cukup dengan meng-klik tombol radio button

61

pilihan string. Di sebelah kanan jenis-jenis variabel terdapat


box untuk mengisikan width, yaitu banyaknya karakter
maksimal yang dapat dimasukkan pada variabel tersebut,
dan decimal places, yaitu jumlah digit desimal yang akan
tampil pada data SPSS.
Namun ketika jenis variabel sudah dipilih menjadi jenis
string, maka kotak yang berganti menjadi kotak characters
yang memiliki fungsi yang sama dengan kotak width.
Sebagai contoh kotak tersebut akan diisi 25 yang berarti
maksimal sebanyak 25 karakter yang dapat dimasukkan ke
dalam data SPSS pada variabel Nama. Kemudian klik OK
untuk menyudahi deklarasi jenis variabel.

Setelah jenis variabel selesai dideklarasikan, isi dari kolomkolom sebelah kanan kolom typeakan menyesuaikan sesuai
dengan jenis variabel yang dipilih. Kolom widthakan
otomatis terisi sesuai dengan panjang karakter yang sudah
ditentukan sedangkan kolom decimal akan bernilai 0 karena
data berbentuk string. Kolom label berisi keterangan lebih
rinci
dari
variabel
yang
dideklarasikan,
misalnya
kepanjangan dari nama variabel. Pada kasus ini label dari
variabel Nama akan diisi Nama Responden. Kolom
values digunakan untuk memberikan keterangan apabila
variabel yang digunakan bersifat kategori. Tidak ada
62

kategori khusus untuk setiap data Nama sehingga kolom


values dapat diabaikan untuk variabel Nama. Contoh
penggunaan kolom values adalah saat mendeklarasikan
variabel jenis kelamin. Kolom missing berisi keterangan data
apa saja yang akan dianggap hilang dan tidak diikutkan
dalam analisis. Kolom ini bisa diabaikan karena semua data
akan digunakan. Kolom columns berisi keterangan lebar
kolom tempat data variabel dimasukkan. Kolom align berisi
keterangan posisi rataan data. Kolom columns dan align
dapat dirubah sesuai dengan keinginan dan tidak akan
berpengaruh pada analisis. Kolom measure berisi
keterangan skala yang digunakan pada variabel tersebut.
Untuk variabel Nama skala yang digunakan adalah
nominal. Setelah itu deklarasi untuk variabel pertama, yaitu
Nama, selesai.

Variabel kedua yaitu jenis kelamin, dapat dideklarasikan


dengan cara yang sama saat mendeklarasikan variabel
Nama. Perbedaan saat mendeklarasikan terletak pada
jenis variabel yang digunakan. Jenis variabel yang
digunakan adalah numerical karena data jenis kelamin
merupakan data kategori yang nilainya tertentu. Untuk jenis
kelamin laki-laki akan dikategorikan sebagai jenis kelamin
1 sedangkan jenis kelamin perempuan dikategorikan
sebagai jenis kelamin 2.

Untuk data yang bersifat kategori, kolom values harus diisi


keterangan dari setiap kategori. Untuk mengisi kolom
values, klik cell tersebut kemudian klik tombol yang muncul
di bagian kanan dari cell tersebut hingga muncul kotak
dialog untuk mendeskripsikan setiap kategori. Kotak value
berisi kategori yang akan dideklarasikan sedangkan kotak
label berisi keterangan kategori tersebut. Contoh untuk
63

mengkategorikan jenis kelamin laki-laki, kotak value diisi


dengan nilai 1 dan kotak label diisi dengan laki-laki
kemudian klik tombol add, maka kategori tersebut sudah
berhasil dideklarasikan. Untuk mendeklarasikan kategori
perempuan dapat dilakukan dengan cara yang sama. Klik
OK apabila semua kategori sudah dideklarasikan.

Selain pada kolom values, terdapat perbedaan pada kolom


measure untuk data variabel yang bersifat kategori. Untuk
data variabel kategori, skala yang digunakan pada kolom
measure adalah scale, yaitu ukuran untuk skala interval dan
rasio.

4. Dengan cara yang sama untuk memasukkan variabel nama


maupun jenis kelamin, variabel-variabel lain dapat
dideklarasikan sesuai dengan jenis masing-masing variabel.
Pendeklarasian variabel ini perlu diperhatikan karena akan
berpengaruh pada proses analisis.

64

o Pertanyaan Bagian 1
Deklarasi variabel pada pertanyaan bagian 1 dilakukan
dengan cara yang sama dengan deklarasi variabel pada
pertanyaan data pribadi. Pertanyaan-pertanyaan pada
pertanyaan bagian 1 dapat dijadikan sebagai label variabel.
Sedangkan nama variabel dapat berupa karakter/huruf khusus

yang cukup singkat.

Pilihan jawaban responden (STS, TS, S, SS) akan digunakan


sebagai kategori data variabel setiap pertanyaan di
pertanyaan bagian 1 sehingga jenis variabel yang digunakan
adalah numeric dengan values terdiri atas 4 kategori pilihan
jawaban dan ukuran yang digunakan adalah scale.

65

Pertanyaan Bagian 2
Pertanyaan bagian 2 memiliki karakteristik yang menyerupai
pertanyaan bagian 1. Sehingga deklarasi variabel pada
pertanyaan bagian 2 dilakukan dengan cara yang sama
dengan pertanyaan bagian 1.

Namun setiap pilihan jawaban pada pertanyaan 2 memiliki


karakteristik masingmasing. Karakteristik dari setiap pilihan
jawaban ini diduga dapat menggambarkan karakteristik dari
setiap responden yang memilih pilihan jawaban tersebut.
Gabungan dari semua jawaban yang dipilih pada pertanyaan
bagian 2 diharapkan dapat menggambarkan kelompokkelompok responden sesuai dengan karakteristik setiap
pilihan jawaban. Untuk melakukannya diperlukan analisis
yang berdasarkan pilihan jawaban bukan pertanyaan
kuesioner sehingga pilihan-pilihan jawaban pada pilihan
pertanyaan 2 akan dijadikan variabel tersendiri.
Deklarasi variabel-variabel pilihan jawaban pada pertanyaan
bagian 2 menyerupai dengan deklarasi variabel pertanyaan
bagian 1 maupun bagian 2. Kategori data untuk variabel
tersebut adalah dipilih atau tidak dipilihnya pilihan jawaban.
Pada umumnya label dipilih dikategorikan dengan nilai 1
sedangkan label tidak dipilih dikategorikan dengan nilai 0.

66

Setelah semua variabel telah dideklarasikan, kolom-kolom


pada menu data view otomatis akan memiliki judul sesuai
dengan nama variabel yang telah dideklarasikan. Langkah
selanjutnya adalah mengisikan data yang sudah diperoleh
dari hasil survey kuesioner. Pengisian data bisa langsung
dilakukan di SPSS atau mengopi dari file lain misalnya dari file
Microsoft Excel.

67

Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif pada praktikum ini bertujuan untuk
menggambarkan data yang sudah terkumpul agar mudah dan cepat
dipahami oleh orang lain. Penyajian data deskriptif dapat berupa
tabel, grafik, nilai pemusatan dan nilai penyebaran. Nilai pemusatan
dapat berupa rata-rata, median ataupun modus sedangkan nilai
penyebaran dapat berupa range, variansi ataupun standar deviasi.
Dengan menyajikan data dalam bentuk deskriptif diharakan mampu
untuk menggambarkan berbagai karakteristik yang ada dengan
mudah dan cepat.
Dengan menggunakan software SPSS 20, penyajian data
dalam bentuk tabel, nilai pemusatan maupun nilai penyebaran
dapat dibuat dalam satu tampilan. Sedangkan untuk penyajian
dalam bentuk grafik dapat dibuat dengan berbagai pilihan bentuk
grafik yang ada di SPSS 20. Pemilihan bentuk grafik akan
berpengaruh pada kemudahan membaca data yang disajikan.

68

Sebagai contoh akan disajikan data deskriptif mengenai jenis


kelamin, dan usia.

o Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan data yang bersifat kategori. Nilainilai dari variabel tersebu telah ditentukan sebelumnya. Untuk
vaiabel ini penggambaran menggunakan grafik maupun tabel
lebih cocok. Ukuran nilai pemusatan secara umum bisa
langsung diketahui di dalam grafik. Ukuran nilai penyebaran
tidak terlalu diperlukan karena nilai variabel sudah ditentukan.
1. Untuk membuat grafik pada SPSS dapat menggunakan
fungsi menu Graph.

2. Pilih jenis grafik yang diinginkan dengan memilih pada


bagian legacy dialog. Pada contoh ini diambil jenis diagram
pie. Pilih summaries for group of cases hingga muncul
dialog box untuk mengatur data yang akan ditampilkan.

69

3. Pada bagian kiri berisi variabel-variabel yang sudah


dideklarasikan yang akan dipilih untuk disajikan dalam
grafik. Bagian kanan berisi keterangan cara data
ditampilkan. Kotak slice represent berisi keterangan apakah
isi dari grafik. Kotak define slices by berisi keterangan
variabel apa yang akan ditampilkan. Sedangkan kotak panel
by berisi keterangan tambahan apabila penyajian grafik
dibagi berdasarkan variabel tertentu lainnya.
Untuk menampilkan grafik jenis kelamin terlebih dahulu pilih
variabel JK pada daftar variabel kemudian klik tombol
panah di sebelah kotak define slices by. Penyajian grafik ini
tidak dibagi menjadi beberapa bagian. Oleh karena itu
tombol OK bisa langsung diklik.

70

4. Hasil grafik deskriptif variabel jenis kelamin akan muncul


pada jendela output. Untuk memodifikasi tampilan grafik
dapat dilakukan dengan meng-klik dua kali pada area grafik.
Sebagai contoh untuk memberikan label besar data pada
grafik dapat diakukan dengan meng-klik icon show data
labels, sehingga label grafik akan muncul.

71

72

o Usia
Karakteristik untuk data variabel usia agak berbeda dengan
variabel jenis kelamin. Data variabel jenis kelamin bersifat
diskrit sedangkan variabel usia bersifat kontinu. Karena bersifat
kontinu,
analisis
deskriptif
dapat
dilakukan
dengan
menggunakan
ukuran
nilai
pemusatan
maupun
nilai
penyebaran.
1. Untuk melakukan analisis nilai pemusatan maupun nilai
penyebaran bisa dilakukan menggunakan menu Analyze
Descriptive Statistic Descriptives.
2. Seperti pada variabel jenis kelamin, masukkan variabel usia
ke kotak variables. Untuk menentukan parameter apa saja
yang akan ditampilkan klik tombol options. Pilih parameter
apa saja yang akan ditampilkan dengan memberikan tanda
check. Setelah parameter-paramater yang akan dianalisis
dipilih, selanjutnya klik OK. Tabel berisi nilai dari parameterparameter tersebut akan muncul pada jendela output.

73

Analisis Crosstab
Analisis crosstab (tabulasi silang) sebenarnya merupakan
bagian dari analisis deskriptif. Hanya saja pada analisis crosstab
melibatkan
lebih
dari
satu
variabel.
Analisis
crosstab
memungkinkan untuk melihat hubungan dari dua atau lebih
variabel.
Pada contoh ini akan dicari hubungan antara beberapa
variabel pada data pribadi dengan variabel pada pertanyaan bagian
1. Variabel data pribadi yang digunakan adalah jenis kelamin dan
pekerjaan, sedangkan variabel pada pertanyaan bagian 1 diambil
pertanyaan nomor 1. Untuk melakukan analisis tersebut dapat
dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1. Untuk
melakukan
analisis
crosstab
dapat
dilakukan
menggunakan
menu
AnalyzeDescriptive

74

StatisticsCrosstabs. Kotak dialog akan muncul untuk


mengatur variabel-variabel yang akan di-crosstab-kan.
2. Apabila hanya dua variabel yang akan dianalisis cukup
menggunakan kotak row dan column. Namun karena analisis
yang akan dilakukan menggunakan tiga variabel sekaligus
(dalam satu tabel), maka perlu menggunakan kotak layer.
Pada contoh ini kotak columnakan digunakan untuk variabel
pertanyaan bagian 1 nomor 1, kotak row akan digunakan untuk
variabel pekerjaan sedangkan yang akan menjadi layer adalah
variabel jenis kelamin. Setelah itu klik tombol OK hingga
muncul tabel hasil crosstab pada jendela output.

3. Pada tabel hasil crosstab dapat diketahui gambaran jawaban


pada pertanyaan bagian 1 nomor 1 yang sudah dibagi
berdasarkan
jenis
kelamin
dan
pekerjaan.
Contoh
interpretasinya adalah dapat diketahui bahwa tidak ada
responden perempuan yang sangat setuju bahwa traveling
menjadi agenda wajib liburan.

75

Analisis MDS ( Multi Dimensional Scaling )


Analisis Multi Dimensional Scaling (MDS) merupakan teknik
analisis yang digunakan untuk menggambarkan posisi suatu obyek
(dalam hal ini variabel) berdasarkan kemiripan dengan obyek
lainnya. Semakin mirip obyek tersebut dengan obyek yang lain
maka posisinya akan semakin dekat. Pengukuran kemiripan obyekobyek yang dianalisis berdasarkan pada nilai dari beberapa dimensi
yang sudah ditentukan.
Pada praktikum ini analisis MDS digunakan untuk
mengelompokkan responden berdasarkan jawaban pertanyaanpertanyaan tertentu. Sedangkan dimensi yang digunakan berjumlah
sebanyak dua dimensi pengukuran. Sebagai contoh pada kuesioner
penelitian minat traveling, responden akan dikelompokkan
berdasarkan pilihan jawaban pada pertanyaan bagian 2.
1. Untuk melakukan analisis MDS dapat menggunakan menu
AnalyzeScale Alscal. Sebuah kotak dialog akan muncul
untuk mengatur proses analisis MDS.
2. Pada kotak variabel, masukkan semua variabel yang akan
digunakan untuk dianalisis MDS, pada contoh ini adalah
variabel semua pilihan jawaban di pertanyaan bagian 2.

76

3. Pada kotak distance, pilih create distance from data, karena


analisis dilakukan berdasarkan hasil jawaban.

4. Klik pada tombol model hingga muncul kotak dialog baru. Pada
kotak level of measurement pilih ratio, pada kotak
conditionality pilih matrix, sedangkan pada kotak scaling mode
pilih Euclidean distance. Kemudian klik continue.

77

5. Lanjutkan pengaturan dengan meng-klik tombol options.


Beri tanda check pada group plots dan data matrix.
Kemudian klik continue.

78

6. Pengaturan analisis MDS selesai. Kemudian klik OK untuk


melihat hasil analisis MDS pada jendela output.

79

80

81

7. Hasil
dari
analisis
MDS
dapat
digunakan
untuk
mengelompokkan responden berdasarkan jawaban pada
pertanyaan bagian 2. Contoh dari pengelompokan responden
adalah sebagai berikut:

8. Contoh dari interpretasi adalah bahwa adanya kelompok


responden yang memiliki karakteristik serupa yaitu responden
yang pada pertanyaan bagian 2 nomor 1 memilih pilihan
jawaban 2 dan 3, memilih pilihan jawaban 2 pada pertanyaan
nomor 2, pilihan jawaban 1 pada pertanyaan nomor 3, pilihan
jawaban 3 pada pertanyaan nomor 4 dan pilihan jawaban
nomor 3 pada pertanyaan nomor 5.

82

Interpretasi tersebut lebih jelas digambarkan pada tabel


berikut:
Kelompok
Kelompok
Responden 1
Responden 2
Wisata hiburan/belanja
Kendaraan umum
Wisata kuliner
Keluarga/kelompok
kecil Perjalanan 2
Kendaraan khusus
7 hari
traveling
Kerajinan/makanan
Perjalanan sendiri
khas
Perjalanan > 7 hari
Produk bermerek

Kelompok
Responden 3
Wisata alam
Kendaraan
pribadi
Rombongan paket
wisata
One day trip
Tidak membeli
cindera mata

BAGIAN 3
FOCUS GROUP DISCUSSION
Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD)
adalah suatu proses pengumpulan informasi suatu masalah
tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto,
1998). Menurut Henning dan Coloumbia (1990), diskusi kelompok
terarah adalah wawancara dari sekelompok kecil orang yang
dipimpin oleh seorang narasumber atau moderator yang secara
halus mendorong peserta untuk berani berbicara terbuka dan
spontan tentang hal yang dianggap penting yang berhubungan
dengan topik diskusi saat itu. Interaksi diantara peserta merupakan
dasar
untuk
memperoleh
informasi.
Peserta
mempunyai
kesempatan yang sama untuk mengajukan dan memberikan
pernyataan,
menanggapi,
komentar
maupun
mengajukan
pertanyaan. Tujuan FGD adalah untuk memperoleh masukan
83

maupun informasi mengenai suatu permasalahan. Penyelesaian


tentang masalah ini ditentukan oleh pihak lain setelah masukan
diperoleh dan dianalisa.
Karakteristik FGD
Peserta terdiri dari 6-12 orang dengan maksud agar setiap
individu mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan
pendapat.
Umumnya FGD dilaksanakan pada populasi sasaran yang
homogen (mempunyai ciri-ciri yang sama)< ciri-ciri yang sama
tersebut ditentukan oleh tujuan dari penelitian.
Ada beberapa alasan dipergunakannya FGD, yaitu:

Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat


dipahami dengan metode survei atau wawancara.
Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu
yang relatif singkat.
Sebagai metode yang dirasa cocok bagi permasalahan yang
bersifat sangat lokal dan spesifik oleh karena itu FGD yang
melibatkan
masyarakat
setempat
dipandang
sebagai
pendekatan yang paling serasi.
Untuk menumbuhkan peranan memilih dari masyarakat yang
diteliti, sehingga pada peneliti memberikan rekomendasi,
dengan mudah masyarakat mau menerima rekomendasi
tersebut.

Pembentukan FGD
Setiap FGD dibutuhkan 1 (satu) orang moderator, 1 (satu)
pencatat proses, 1 (satu) pengembang peserta dan 1 (satu) atau 2
(dua) orang logistik dan blocker (Irwanto, 1998). Tugas utama
moderator atau fasilitator adalah :
1. Menjamin terbentuknya suasana yang akrab , saling percaya
dan
yakin
diantar
peserta.
Peserta
harus
saling
diperkenalkan.
2. Menerangkan tata cara berinteraksi dengan menekankan
bahwa semua pendapat dan sasaran mempunyai nilai yang

84

3.

4.

5.

6.
7.

8.

sama dan sama pentingnya dan tidak ada jawaban yang


benar atau salah.
Cukup
mengenal
permasalahannya
sehingga
dapat
mengajukan pertanyaan yang sesuai dan bersifat memancing
peserta untuk berpikir. Perlu adanya garis besar topik yang
akan didiskusikan untuk menentukan arah diskusi.
Moderator harus bersikap santai, antusias, lentur, terbuka
terhadap saran-saran, bersedia diinterogasi, bersabar dan
harus dapat mengendalikan suaranya.
Memperhatikan keterlibatan peserta, tidak boleh berpihak
atau membiarkan beberapa orang tertentu memonopoli
diskusi dan memastikan bahwa setiap orang mendapat
kesempatan yang cukup untuk berbicara.
Memperhatikan komunikasi atau tanggapan yang berupa
bahasa tubuh atau non verbal.
Mendengarkan diskusi sebaik-baiknya sambil memperhatikan
waktu dan mengarahkan pembicaraan agar dapat berpindah
dengan lancar dan tepat pada waktunya sehingga semua
masalah dapat dibahas sepenuhnya. Lama pertemuan tidak
lebih dari 90 menit, untuk menghindari kelelahan.
Peserta diskusi adalah orang dari populasi sasaran terpilih
secara acak sehingga dapat mewakili populasi sasaran. Tetapi
sering kali cara ini tidak mungkin dilakukan atau tidak
diinginkan karena adanya keterbatasan ekonomi, demografis
atau kebudayaan, maka lebih baik membentuk kelompok
yang umumnya, yaitu dengan menyaring berdasarkan
karakteristik tertentu.

Persiapan dan Perancangan FGD

1. Membentuk Tim
Tim FGD umumnya mencakup:
Moderator, yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan
memahami masalah yang dibahas serta tujuan penelitian
yang hendak dicapai serta terampil mengelola diskusi.

85

2.

3.

4.

5.

Co-Fasilitator, yaitu orang yang intensif mengamati jalannya


FGD, membantu moderator mengenai waktu, fokus diskusi,
dan keaktifan peserta FGD.
Notulen, yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan
yang didiskusikan serta dinamika kelompoknya.
Penghubung
Peserta,
yaitu
orang
yang
mengenal,
menghubungi, dan memastikan partisipasi peserta.
Penyedia Logistik, yaitu orang-orang yang membantu
kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan transportasi,
kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi, dan sebagainya.
Dokumentasi, yaitu orang yang mendokumentasikan kegiatan
dan dokumen FGD.
Memilih dan Mengatur Tempat
Tempat FGD yang dipilih hendaknya merupakan tempat yang
netral, nyaman, aman, tidak bising, berventilasi cukup, dan
bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul. Selain
itu tempat FGD juga harus memiliki ruang dan tempat duduk
yang memadai. Dalam pelaksanaan Tahap FGD Praktikum PTI
IV, FGD dilaksanakan di Ruang Praktikum Laboratorium
Sistem Logistik dan Bisnis Teknik Industri UNS.
Menyiapkan Logistik
Logistik adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan
sebelum, selama, dan sesudah FGD terselenggara. Umumnya
meliputi peralatan tulis, dokumentasi, dan kebutuhankebutuhan peserta FGD.
Peserta
Dalam FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang
harus dipertimbangkan. Menurut Irwanto (2006), jumlah
peserta FGD yang ideal adalah 7-11 orang. Terlalu sedikit
tidak memberikan variasi yang menarik, dan terlalu banyak
akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk
memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah
peserta dapat dikurangi atau ditambah tergantung dari
tujuan penelitian dan fasilitas yang ada. Peserta dapat
merupakan para perwakilan responden (jika diawali dengan
menyebar kuesioner) ataupun para ahli/expert sesuai topik
yang di bahas.
Menyusun Pertanyaan FGD

86

Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, perlu diperhatikan


hal-hal berikut:
Tujuan penelitian
Tujuan FGD
Jenis informasi seperti apa yang ingin didapatkan dari
FGD
Bagaimana akan menggunakan informasi tersebut
6. Pelaksanaan FGD
Berikut contoh tata cara pelaksanaan FGD:
Pembukaan
Pemaparan topik yang akan dibahas
Pengajuan pertanyaan pertama kepada peserta FGD
Diskusi
Pembacaan kesimpulan FGD
Penutup
7. Analisis Data dan Penyusunan Laporan FGD
Pada tahap akhir, dapat dicari masalah-masalah yang
menonjol dan berulangulang muncul dalam FGD. Jangan lupa
untuk merujuk catatan yang dibuat selama proses FGD
berlangsung.

87

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

(2012).

Strategi

Pemasaran

7P.

Available

online https://brankaseverest.wordpress.com/2012/10/05/strat
egi-pemasaran-7p/. Diakses pada 28 Februari 2016.
Irwanto.

(2006).

Focused

Group

Discussion

(FGD):

Sebuah

Pengantar Praktis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Kotler.


(2009). Principles of Marketing (14th ed.).
Margono. (2004) Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Markgraf, B. (2015). What is Pre-Market Research?. Available online
http://smallbusiness.chron.com/premarket-research64719.html. Diakses pada 28 Februari 2016.
Silk, J., Urban, L. (2007). Pre-Test-Market Evaluation of New
Packaged Goods: A Model and Measurement Methodology.
Journal of Marketing Research, Vol. 15, No. 2. (May, 1978), pp.
171-191.
Sitepu, R., Irmeilyana., Gultom, B. (2011). Analisis Cluster Terhadap
Tingkat Pencemaran Udara Pada Sektor Industri di Sumatera
Selatan. Jurnal Penelitian Sains. Vol 14 No 3(A).
Sugiyono (2001). Metode Penelitian Administrasi. Penerbit Alfabeta Bandung
Sugiyono. (2003). Metode Penelitian Bisnis. Bandung. Pusat Bahasa Depdiknas.
Sumarni., Murti., Soeprihanto, J. 2010. Pengantar Bisnis (Dasardasar Ekonomi Perusahaan). Edisi ke 5. Yogyakarta: Liberty
Yogyakarta.
Supranto, J. (2000). Teknik Sampling Untuk Survei dan Eksperimen.
Edisi Baru. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Urban, L., Weinberg, B., Hauser, J. (1994). Premarket Forecasting of
Really New Products. The International Center for Research on

88

the Management of Technology. Cambridge: Massachusetts


Institute of Technology Boston University.

89