Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS

KANDIDIASIS VULVOVAGINITIS

Pembimbing :
dr. Citra Primanita, Sp.KK

Disusun Oleh :
Yuni Purwati
G4A014085

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS

KANDIDIASIS VULVOVAGINITIS

Disusun oleh:
Yuni Purwati

G4A014085

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu tugas di
bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Margono Soekarjo
Purwokerto.

Purwokerto,

Mei 2016

Pembimbing:

dr. Citra Primanita, Sp.KK

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan
anugerah-Nya

sehingga

presentasi

kasus

dengan

judul

Kandidiasis

Vulvovaginitis ini dapat diselesaikan.


Presentasi kasus ini merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan
kritik untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang.
Tidak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1.

dr. Citra Primanita., Sp.KK selaku dosen pembimbing.

2.

Dokter-dokter spesialis kulit dan kelamin di SMF Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin di RS. Margono Soekarjo.

3.

Rekan-rekan Dokter Muda Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin atas
semangat dan dorongan serta bantuannya.
Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi semua pihak yang ada di

dalam maupun di luar lingkungan RS. Margono Soekarjo.

Purwokerto, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan............................................................................................ i
Kata Pengantar.................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
I. LAPORAN KASUS......................................................................................... 1
A. Identitas Pasien................................................................................... 1
B. Anamnesis.......................................................................................... 1
C. Pemeriksaan Fisik............................................................................... 2
D. Resume............................................................................................... 3
E. Diagnosis Banding.............................................................................. 4
F. Diagnosis Kerja.................................................................................. 4
G. Pemeriksaan penunjang...................................................................... 4
H. Terapi.................................................................................................. 4
I. Prognosis............................................................................................ 5
II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 6
A. Definisi............................................................................................... 6
B. Epidemiologi...................................................................................... 6
C. Etiologi............................................................................................... 6
D. Patogenesis......................................................................................... 7
E. Patofisiologi........................................................................................ 8
F. Gejala Klinis....................................................................................... 8
G. Diagnosis............................................................................................ 9
H. Terapi.................................................................................................. 11
I. Prognosis............................................................................................ 13
III. PEMBAHASAN............................................................................................ 14
IV. KESIMPULAN.............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 17

I.

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama

: Sdr. Seli

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 20 tahun

Suku

: Jawa

Alamat

: Keniten

Pekerjaan

:-

B. Anamnesis
Keluhan utama

: Keluar keputihan dari alat kelamin.

Riwayat Penyakit Sekarang

: Pasien datang ke Puskesmas Baturaden 1


pada tanggal 17 Mei 2016 dengan keluhan
keluar

keputihan

dari

alat

kelamin.

Keluhan ini sudah dirasakan sejak 7 hari


yang

lalu.

keputihan,

Pasien

mengeluh

keluar

putih

susu

berwarna

menggumpal dan kental. Keluhan dirasakan


semakin lama semakin memberat. Selain itu
pasien juga mengeluhkan rasa gatal pada
daerah kemaluan, keputihan berbau amis
tetapi tidak terasa panas dan mengeluhkan
nyeri perut bagian bawah terutama saat
buang air kecil.
Riwayat Penyakit Dahulu

: Riwayat keluhan yang sama diakui pasien


Riwayat sakit kulit disangkal
Riwayat alergi (makanan seperti udang,
ikan laut, telur, debu, maupun obat-obatan)
disangkal
Riwayat asma disangkal

Riwayat DM dan hipertensi disangkal


Riwayat Penyakit Keluarga

: Riwayat menderita keluhan yang sama


disangkal
Riwayat alergi (makanan seperti udang,
ikan laut, telur, debu, maupun obat-obatan)
disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat penyakit DM dan hipertensi
disangkal
Pasien memiliki pacar yang mengeluhkan
sama dengan pasien, yang mengeluhkan
keluar cairan putih dari kelamin dan nyeri
panggul.

Riwayat Sosial Ekonomi

: Pasien tinggal dengan kedua orang tua dan


seorang kakak laki-laki. Pasien sehari-hari
tidak bekerja. Pasien mengakui melakukan
hubungan seksual pertama kali sejak usia
18

tahun

(2

tahun

yang

lalu)

dan

menggunakan kondom saat berhubungan,


tetapi 7 hari sebelum pasien memeriksakan
diri ke puskesmas, pasien mengakui tidak
menggunakan kondom saat berhubungan
sekual. Pasien menyangkal bergonta-ganti
pasangan seksual.
C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Vital Sign
TD

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36 C

Status Generalis : Dalam Batas Normal


Kepala
: Mesochepal, rambut hitam, distribusi merata
Mata
: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung
: Simetris, deviasi septum (-), sekret (-)
Telinga: Bentuk daun telinga normal, sekret (-)
Mulut
: Mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-)
Tenggorokan : T1 T1 tenang , tidak hiperemis
Thorax
: Simetris, retraksi (-)
Jantung
: BJ I II reguler, murmur (-), Gallop (-)
Paru
: SD vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-)
Abdomen
: Supel, datar, BU (+) normal
Kelenjar Getah Bening: Tidak teraba
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-)

Status Dermatologis
Lokasi

Vulva agina
Efloresensi

Tampak eritem pada labia minora dekstra et sinistra dan pada daerh vulva.
Tampak adanya fluor albus. Tak tampak adanya benjolan di labia mayora dan
minora dekstra et sinistra dan tidak nyeri saat palpasi.

Gambar 1.1 Sekret putih susu pada pasien


D. Resume
Pasien, perempuan 20 tahun datang dengan keluhan keluar cairan putih
kental seperti susu dari jalan lahir. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 7 hari
yang lalu. Pasien mengatakan keluhan dirasakan semakin lama semakin
memberat. Riwayat sakit yang sama sebelumnya diakui pasien. Selain itu
pasien juga mengeluhkan saat keluar keputihan terasa gatal, berbau amis tetapi
tidak terasa panas. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut bagian bawah saat
berkemih.
Riwayat alergi makanan, debu, maupun obat-obatan disangkal. Riwayat
asma disangkal. Riwayat keluarga yang mempunyai keluhan yang sama
disangkal. Pasien mempunyai pacar dan mengakui mulai berhubungan seksual
sejak dua tahun yang lalu, setiap berhubungan seksual pasien mengatakan
selalu menggunkan kondom tetapi saat berhubungan seksual terakhir yaitu 7
hari sebelum ke puskesmas berhubungan seksual terakhir dan tidak
menggunakan kondom. Riwayat alergi pada keluarga juga disangkal. Riwayat
sosial, pasien mengaku tidak bergonta-ganti pasangan seks.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Keluar sekret putih susu dari ostium
urethra eksterna.

E. Diagnosis Banding
-

Trichomoniasis

Bakterial vaginosis

F. Diagnosis Kerja
Kandidiasis vulvovaginitis
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopis.
usulan pemeriksaan penunjang lain adalah pemeriksaan kultur vagina, namun
kultur tidak diperlukan jika pemeriksaan mikroskopis positif, tapi kultur
vagina harus dilakukan pada wanita yang menunjukkan gejala kandidiasis

vulvovaginitis dengan pemeriksaan mikroskopis negatif dan pH vagina yang


normal.
H. Terapi
Medikamentosa

1. Ketokonazole 2 x 200 mg
2. Cetirizine 2 x 10 mg
3. Salep Clotrimazole 1% 2 dd ue.
Non Medikamentosa

1. Rutin minum obat.


2. Hentikan hubungan seks sementara hingga pengobatan selesai.
3. Hindari bergonta-ganti pasangan seks.
4. Jaga kebersihan dan higienitas terutama sekitar alat kelamin.
5. Banyak minum air dan makan makanan yang bergizi secara teratur.
6. Kontrol kembali hari ke 7 pengobatan.
I. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : ad bonam

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kandidiasis vulvovaginitis adalah penyakit infeksi yang terjadi
pada daerah vulva dan vagina yang disebabkan oleh adanya berbagai jenis
Candida, secara sekunder bisa juga terjadi akibat penurunan daya tahan tubuh
seseorang, ditandai oleh adanya secret bewarna putih serta adanya rasa gatal di
daerah vagina. Kandidiasis vulvovaginitis merupakan penyebab infeksi
terbanyak kedua pada infeksi vulvovaginal, dimana pada nomor urut satu
bacterial vaginosis merupakan penyebab terbanyak (Simatupang, 2012).

Meskipun kemajuan terapi semakin pesat, kandidiasis vulvovaginitis


tetap menjadi masalah umum di seluruh dunia, dan bisa menyerang semua
strata masyarakat. Pemahaman mekanisme anti candida pertahanan hospes di
vagina telah berkembang secara lambat, meskipun demikian penelitian serta
penemuan factor risiko diakui cukup banyak, namun pemahaman mendasar
dari mekanisme patogenik terusluput dari kita (Yan, 2012)
Tidak adanya identifikasi cepat, tes diagnostik sederhana, dan murah
sehingga menyebabkan adanya overdiagnosis dan underdiagnosis dari
kandidiasis vulvovaginitis. Adapun faktor resko terjadinya kandidiasis
vulvovaginitis, antara lain, kehamilan, penggunaan antibiotik, penggunaan
corticosteroid, immunocompromised, dan diabetes, sebagian besar dari faktor
resiko di atas hampir berhubungan dengan pertahanan tubuh (Damani, 2003).
B. Epidemiologi
Kandidiasis vagina adalah penyebab paling umum dari keputihan.
Lebih dari 50% wanita yang umurnya lebih dari 25 tahun terserang kandidiasis
vulvovaginitis, kurang dari 5% dari wanita mengalami kekambuhan. Infeksi
biasanya karena C. albicans .Kejadian infeksi karena ragi selain C. albicans
memiliki meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dari jumlah tersebut
spesies non-albicans, C. tropicalis, dan C. glabrata yang paling penting.Terapi
obat saat ini digunakan(misalnya, imidazoles) tidak cukup untuk membasmi
spesies non-albicans. Sebuah penjelasan untuk pemilihan terakhir meningkat
dari spesies mungkin merupakan terapi anti jamur disingkat (1 - untuk 3-hari
rejimen) yang menekan C. albicans tapi menciptakan ketidakseimbangan flora
yang memfasilitasi pertumbuhan berlebih dari spesies non-albicans spesies
(Nabhan, 2006).
C. Etiologi
Antara 85-90% dari yeast strain yang diambil sebagai sampel
didapatkan adanya Candida albicans, sedang kasusanya sebanyak 12-14 %
merupakan non Candida albicans, yang umum ditemukan yaitu Candida

glabrata, Candida glabrata ditemukan pada 10-20 % wanita, dari 15-17% dari
keseluruhan vaginitis, dan jarang yang disebabkan oleh Candida parapsilosis,
Candida tropicalis, dan Candida krusei, walaupun demikian jenis kandida
yang paling terkait dengan penyakit ini, selain itu juga mempunyai gejala klinis
yang sama dengan Candida albicans, malah spesies ini biasanya lebih resiten
terhadap pengobatan (Simatupang, 2012).
Penyebab banyaknya Candida albicans yang menginfeksi vagina
dibandingkan non albicans adalah faktor virulensi dari Candida albicans itu
sendiri, dimana Candida albicans melekat jauh lebih kuat pada epitel-epitel
vagina dibandingkan dengan yang lainnya. Sehingga membantu proses
bertunas dan meningkatkan kolonisasi, dan juga memfasilitasi invasi
kejaringan, biasanya pada suhu 370C. Albicans gagal melakukan proses
bertunasnya (Faraji, 2012)
D. Patogenesis
Candida albicans bertanggung jawab sekitar 80-92% terhadap
episode kandidiasis vulvovaginitis. Baru-baru ini, peningkatan frekuensi
infeksi jenis candida lain, khususnya Candida glabrata telah dilaporkan.
Organisme kandida mendapatkan akses ke dalam lumen vagina dan sekret
terutama melalui area dekat perianal. Mekanisme pertahanan anti kandida yang
efektif dalam vagina memungkinkan keberadaan jangka panjang candida
sebagai organisme komensil vagina dalam fase avirulen. Kebanyakan wanita,
tapi tidak semua, membawa kandida pada beberapa daerah di vagina mereka
dalam hidup mereka, meskipun tanpa gejala atau tanda-tanda vaginitis dan
biasanya dengan konsentrasi rendah ragi kandida (Darmani, 2003).
Serangan sporadik kandidiasis vulvovaginitis biasanya terjadi tanpa
faktor predisposisi yang diketahui kecuali pada pasien dengan diabetes yang
tidak terkontrol. Adanya faktor-faktor predisposisi menyebabkan pertumbuhan
jamur kandida di vagina menjadi berlebihan sehingga terjadi koloni
simptomatik yang mengakibatkan timbulnya gejala gejala penyakit kandidiasis
vagina. Patogenesis penyakit dan bagimana mekanisme pertahanan tuan rumah

terhadap kandida belum sepenuhnya dimengerti. Pada keadaan normal, jamur


candida dapat ditemukan dalam jumlah sedikit di vagina, mulur rahim dan
saluran pencernaan. Jamur kandida disini hidup sebagai saprofit tanpa
menimbulkan keluhan atau gejala (asimptomatis), jamur ini dapat tumbuh
dengan variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya akan lebih baik pada pH
4,5 - 6,5. Bersama dengan jamur kandida pada keadaan normal di vagina juga
didapatkan basil Doderlein Lactobasilus (lactobasilus) yang hidup sebagai
komensal.

Keduanya

mempunyai

peranan

penting

dalam

menjaga

keseimbangan ekosistem di dalam vagina. Doderlein berfungsi mengubah


glikogen menjadi asam laktat yang berguna untuk mempertahankan pH vagina
dalam suasana asam (pH 4 -5) (Faraji, 2012).
Pada semua kelainan yang mengganggu flora normal vagina dapat
menjadikan vagina sebagi tempat yang sesuai bagi kandida untuk berkembang
biak. Masih belum dapat dipastikan apakah kandida menekan pertumbuhan
basil doderlein atau pada keadaan basil Doderlein mengalami gangguan lalu
diikuti dengan infeksi dari jamur candida. Kenyataannya pada keadaan infeksi
ini dijumpai hanya sedikit koloni doderlein. Infeksi kandida dapat terjadi
secara endogen maupun eksogen atau secara kontak langsung. Infeksi endogen
lebih sering karena sebelumnya memang kandida sudah hidup sebagai saprofit
pada tubuh manusia. Pada keadaaan tertentu dapat terjadi perubahan sifat
jamur tersebut dari saprofit menjadi patogen sehingga oleh karena itu jamur
kandida disebut sebagai jamur oportunistik. Jamur kandida bersifat dimorfik,
sehingga jamur kandida pada tubuh manusia mungkin ditemukan dalam bentuk
yang berbeda sesuai dengan phasenya. Bentuk blastopsora ( Blastoconida)
merupakan bentuk yang berhubungan dengan kolonisasi yang asimptomatik.
Pada koloni asimptomatik jumlah organisme hanya sedikit, dapat ditemukan
bentuk blaspora atau budding tapi tidak ditemukan bentuk pseudohypa
(Darmani, 2003).
Bentuk filamen kandida merupakan bentuk yang biasanya dapat dilihat
pada penderita dengan gejala-gejala simptomatik. Bentuk filamen kandida
dapat menginvasi mukosa vagina dan berpenetrasi ke sel-sel epitel vagina.

Germinasi kandida ini akan meningkatkan kolonisasi dan memudahkan invasi


ke jaringan. Sobel dkk menunjukan secara invivo jamur kandida yang tidak
mengalami germinasi atau membentuk tunas, tidak mampu menyebabkan
kandidiasis vaginalis. Belum banyak diketahui bahwa enzim proteolitik, toksin
dan enzim phospholipase dari jamur kandida dapat merusak protein bebas dan
protein sel sehingga memudahkan invasi jamur ke jaringan. Jamur kandida
dapat timbul didalam sel dan bentuk intraseluler ini sebagai pertahanan atau
perlindungan terhadap pertahanan tubuh (Darmani, 2003).
Kandida dapat dibawa oleh aliran darah ke banyak organ termasuk
selaput otak, tetapi biasanya tidak dapat menetap di sini dan menyebabkan
abses-abses milier kecuali bila inang lemah. Penyebaran dan sepsis dapat
terjadi pada penderita dengan imunitas seluler yang lemah, misalnya mereka
yang menerima kemoterapi kanker atau penderita limfoma, AIDS, atau
keadaan-keadaan lain (Simatupang, 2009).
Faktor yang dapat memicu kolonisasi jamur pada vagina dapat berbeda
dari masing-masing faktor yang memediasi kolonisasi asimptomatik ke
simptomatik vaginitis.4 Faktor pemicu dibagi menjadi 2 yaitu faktor endogen
dan eksogen (Simatupang, 2009).
Faktor endogen
a. Kehamilan, karena perubahan pH vagina
b. Diabetes Mellitus, HIV/AIDS
c. Pemberian antimikroba yang intensif (yang mengubah flora bakteri normal)
d. Terapi progesterone, kontrasepsi
e. Terapi kortikosteroid
f. Immunodefisiensi
(Simatupang, 2009)
Faktor eksogen
a. Kebersihan diri
b. Kontak dengan penderita, yang punya aktifitas seksual tinggi maupun yang
tidak punya, baik muda maupun tua.
(Simatupang, 2009)

Gambar 1. Faktor resiko terjadinya Kandidiasis vulvovaginitis


E. Gejala Klinis
Pada kandidiasis vulvovaginitis dapat timbul gejala berikut ini :
a. Rasa gatal / iritasi serta keputihan tidak berbau atau kadang berbamasam
( asam )
b. Discharge berwarna putih seperti susu pecah dan kental
c. pada vulva dan vagina terdapat tanda-tanda radang disertai maserasi,
pseudomembran, fisura, lesi satelit papulo pustular. Labia mayor tampak
bengkak, merah dan ditutupi oleh lapisan putih yang menunjukkan maserasi
(Leon, 2012).

Gambar 2.Kandidiasis vulvovaginitis

Gambar 3.Kandidiasis vulvovaginitis


F. Diagnosis
Tanda dan gejala klinis pada kandidiosis vulvaginalis meliputi pruritus
vulvovaginitis, iratasi, nyeri, dispareunia, nyeri berkemih, keputihan, cairan
yang bau. Karena gejala dan tanda-tanda kandidiasis vulvovaginitis tidak
spesifik, diagnosis tidak dapat dibuat semata-mata berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Penegakan diagnosis berdasarkan gejala klinis yang
kemudian dikonfirmasi dengan preparat KOH yang diambil dari permukaan
mukosa. Pada pemeriksaan mikroskopis ini dapat dijumpai germ tubes atau

budding dan pseudohypa sebagai sel-sel memanjang seperti sosis yang


tersusun memanjang. Kultur vagina sebaiknya dilakukan pada wanita yang
menunjukkan gejala kandidiasis vulvovaginitis tapi dengan pemeriksaan
mikroskopis negatif dan pH vagina yang normal. Diagnosis kandidiasis
vulvovaginitis membutuhkan korelasi antara gejala klinis, pemeriksaan
mikroskopis, dan kultur vagina (Neerja, 2006).
Penegakan diagnosis dilakukan dengan cara yaitu anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Nabhan, 2006).
1. Anamnesis
Pertanyaan

yang

diajukan

kepada

pasien

dengan

dugaan

kandidiasis vuvovaginitis meliputi:


a. Keluhan dan riwayat penyakit saat ini.
b. Keadaan umum yang dirasakan.
c. Pengobatan yang telah diberikan, baik topikal ataupun sistemik dengan
penekanan pada antibiotik.
d. Riwayat seksual yaitu kontak seksual baik di dalam maupun di luar
pernikahan, berganti-ganti pasangan, kontak seksual dengan pasangan
setelah mengalami gejala penyakit, frekuensi dan jenis kontak seksual,
cara melakukan kontak seksual, dan apakah pasangan juga mengalami
keluhan atau gejala yang sama.
e. Riwayat penyakit terdahulu yang berhubungan dengan IMS atau
penyakit di daerah genital lain.
f. Riwayat penyakit berat lainnya.
g. Riwayat keluarga yaitu dugaan IMS yang ditularkan oleh ibu kepada
bayinya.
h. Keluhan lain yang mungkin berkaitan dengan komplikasi IMS,
misalnya erupsi kulit, nyeri sendi dan pada wanita tentang nyeri perut
bawah, gangguan haid, kehamilan dan hasilnya.

i. Riwayat alergi obat.


2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan

fisik

yang

dilakukan

kepada

pasien

harus

memperhatikan hal penting seperti kerahasiaan pribadi pasien. Pertama


inspeksi dari daerah OUE untuk melihat sekret yang keluar, catat warna,
kekentalan, dan jumlah. Kemudian lakukan pemeriksaan daerah genitalia
lainnya. Mula-mula inspeksi daerah inguinal dan raba adakah pembesaran
kelenjar dan catat konsistensi, ukuran, mobilitas, rasa nyeri, serta tanda
radang pada kulit di atasnya. Pada waktu bersamaan, perhatikan daerah
pubis dan kulit sekitarnya, adanya pedikulosis, folikulitis atau lesi kulit
lainnya. Lakukan inspeksi labia mayora, labia minora dan daerah vulva
apakah eritema, adakah lesi superfisial dan palpasi dengan hati-hati apakah
ada nyeri tekan. (Daili, 2009).
Untuk menilai keadaan di dalam vagina, gunakan spekulum
dengan informed consent kepada pasien terlebih dahulu. Lakukan
pemeriksaan bimanual untuk menilai ukuran, bentuk, posisi, mobilitas,
konsistensi dan kontur uterus serta deteksi kelainan pada adneksa (Daili,
2009).
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Mikroskopis
Cara yang paling sederhana mengambil cairan vagina ialah dengan
bantuan spekulum, cairan vagina diambil dari fornix vagina. Selain dari duh
tubuh vagina, bahan pemeriksaan dapat pula diambil dari pseudomembran.
Bahan pemeriksaan selanjutnya dibuat sediaan langsung dengan KOH 10%
atau dengan pewarnaan Gram. 8,9,11 Pada pemeriksaan mikroskopis ini dapat
dijumpai kandida dalam bentuk sel ragi (yeast form) yang berbentuk oval,
fase blastospora berupa sel-sel tunas yang berbentuk germ tubes atau
budding dan pseudohifa sebagai sel-sel memanjang seperti sosis yang
tersusun memanjang. Pada sediaan dengan pewarnaan Gram, bentuk ragi
bersifat gram posistif, berbentuk oval, kadang-kadang berbentuk germ tube

atau Budding. Candida albicans adalah satu-satunya ragi patogen penting


yang secara invivo menunjukan adanya pseudohypa yang banyak, yang
mudah dideteksi dari duh tubuh vagina dengan pewarnaan Gram.
Sensitifitas pemeriksaan ini pada penderita simptomatik sama dengan
biakan (Darmani, 2012).
b. Pemeriksaan Biakan
Kultur vaginal sangat bermanfaat, tapi tidak rutin diperlukan dalam
diagnosis kandidiasis vulvovaginitis. Karena tidak rutin, kultur tidak
diperlukan jika pemeriksaan mikroskopis positif, tapi kultur vagina harus
dilakukan pada wanita yang menunjukkan gejala kandidiasis vulvovaginitis
dengan pemeriksaan mikroskopis negatif dan pH vagina yang normal.
Kultur vaginal dapat mengidentifikasi spesies kandida namun didapatnya
Candida albicans pada kultur tidak dapat menegakkan diagnosis kandidiasis
karena Candida merupakan penghuni normal dari saluran pencernaan (Wolf,
2009).
Bahan pemeriksaan dibiakan pada media Sabouraud Dextrose Agar.
Dapat dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan
bakteri. Pembenihan ini disimpan pada suhu kamar atau suhu 37 oC. Koloni
tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony, warna putih
kekuning-kuningan, di tengah dan dasarnya warnanya lebih tua,
permukaannnya halus mengkilat dan sedikit menonjol. Untuk identifikasi
spesies kandida dapat dilakukan cara-cara berikut, bahan dari koloni
dibiakan pada Corn meal agar dengan Tween 80 atau Nickerson
polysaccharide trypan blue ( Nickerson Mankowski agar) pada suhu 250 C,
digunakan untuk menumbuhkan klamidokonida, yang umumnya hanya ada
pada Candida albicans. Tumbuh dalam 3 hari. Jamur tumbuh pada biakan
diinokulasi ke dalam serum atau koloid (albumin telur) yang diinkubasi
selama 2 jam pada suhu 370C. Dengan pemeriksaan mikroskop tampak
:germ tube yang khas pada Candida albicans (Darmani, 2003).
Test Fermentasi. Fermentasi oleh jamur yang diambil dari spesimen
dapat menghasilkan karbon dioksida dan alkohol. Produksi gas yang banyak

dibandingkan

perubahan

pH

yang

signifikan

merupakan

indikasi

dilakukannya fermentasi. Candida albicans dapat memfermentasikan


glukosa, maltosa dan galaktosa tetapi tidak terhadap sakarosa (Prabha,
2012).
Test Asimilasi. Percobaan ini dapat dilakukan untuk membedakan
masing-masing spesies. Uji ini didasarkan pada kemampuan ragi untuk
mengasimilasi senyawa organik. Candida parakrusei mengadakan asimilasi
glukosa, galaktosa dan maltosa, sedangkan Candida krusei hanya
mengasimilasikan glukosa (Darmani, 2003).

Gambar 4. Pseudohifa pada tes mikroskopik

Gambar 5. Kultur Candida albicans pada Sabouroud Dextrose Agar

Gambar 6. Germ tube pada tes mikroskopis


G. Terapi
Penatalaksanaan kandidiasis vulvovagina bertujuan untuk menyembuhkan
seorang

penderita dari penyakitnya dan mencegah infeksi berulang

(Hamigsih, 2010).
a. Pemberian Obat Anti Jamur
Pengobatan kandidiasis vulvovagina dapat dilakukan secara topikal
maupun sistemik. Obat anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk yaitu :
krim, tablet vagina, suppositoria dan tablet oral.
1) Sistemik:
Obat anti jamur sistemik terdiri dari golongan azoles merupakan
agen fungistatik sintetik dengan aktiviti spektrum luas. Azoles
menghambat enzim fungal sitokrom P450 3A (CYP3A) dan lanosin
14-demetilase yang diperlukan dalam proses konversi lanosterol ke
ergosterol yaitu sterol utama dalam membrane sel jamur. Penurunan
dari ergosterol mengubah komponen membran dari sel jamur seterusnya
menghambat replikasi dari sel-sel tersebut. Azoles juga menghambat
transformasi sel-sel ragi jamur kepada hifa. Obat-obat yang dapat
diberikan adalah ketokonazol, itrakonazol dan flukonazol:
-

Ketokonazol 400 mg selama 5 hari

Itrakonazol 200 mg selama 3 hari atau 400 mg dosis tunggal

2)

Flukonazol 150 mg dosis tunggal

Topikal:
Butoconazole,

clotrimazole,

miconazole,

tioconazole

dan

terconazole adalah obat topical dari golongan azoles. Obat-obat ini


bekerja di sel membrane dari jamur dengan mengganggu tranportasi
asam amino ke jamur. Nistatin dari golongan antibiotik polin makrolid
pula bekerja dengan mengganggu permeabilitas dan fungsi transportasi
di membran sel jamur. Obat-obat topical tersedia dalam bentuk krim,
ointment, tablet vagina dan suppositoria diberikan secara intravaginal.
Dosis dan cara pemberiannya adalah seperti berikut:
Butoconazole 2% kream, 5 gr 3 hr
Butoconazole 2% kream, 5 gr, aplikasi intravagina tunggal
Clotrimazole 1% kream, 5 gr 7-14 hr
Clotrimazole 100 mg, vaginal tablet 7 hr
Clotrimazole 100 mg, vaginal tablet, 2 tablet 3 hr
Clotrimazole 500 mg, vaginal tablet, 1 tablet dalam aplikasi tunggal
Miconazole 100 mg, vaginal suppositoria, 1 suppositoria 7 hr
Miconazole 200 mg, vaginal suppositoria, 1 suppositoria 3 hr
Tioconazole 6,5% ointment, 5 gr, intravagina dalam aplikasi tunggal
Terconazole 0,4% kream, 5 gr, intravaginal 7 hr
Terconazole 0,8% kream, 5 gr, intravaginal 3 hr
Terconazole 80 mg, vagina suppositoria, I suppositoria 3 hr
Nistatin 100,000 unit, vaginal tablet, 1 tablet 14 hr
b. Pencegahan
Usaha pencegahan terhadap timbulnya kandidiasis vagina
meliputi penanggulangan faktor predisposisi dan penanggulangan
sumber infeksi yang ada. Penanggulangan faktor predisposisi misalnya
tidak menggunakan antibiotika atau steroid yang berlebihan, tidak
menggunakan pakaian ketat, mengganti kontrasepsi pil atau AKDR

dengan kontrasepsi lain yang sesuai, memperhatikan higiene.


Penanggulangan sumber infeksi yaitu dengan mencari dan mengatasi
sumber infeksi yang ada, baik dalam tubuhnya sendiri atau diluarnya
(Hamingsih, 2010).
H. Prognosis
Prognosis baik bila faktor predisposisi dapat diminimalkan (Simatupang,
2012).

III.

PEMBAHASAN

Pada pasien ini didiagnosis dengan kandidosis vulvovaginalis


didasarkan pada anamnesis yang berhubungan dengan gejala yakni adanya
keputihan yang dialami berwarna putih dan menggumpal seperti susu basi.
Keputihan tersebut disertai rasa gatal sehingga aktivitas sehari-hari
terganggu. Keputihan berbau amis dan tidak berbusa. Anamnesis juga
menunjukan adanya faktor resiko yang dimiliki oleh pasien yaitu pasien
memiliki riwayat higienitas genital yang kurang baik dan juga mempunyai
kebiasaan memakai celana ketat. Selain itu pasien mengakui kurang
menjaga kebersihan setelah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya.
Kemaluan terasa panas disangkal, namun terasa nyeri pada bagian perut

bawah. Faktor resiko ini menjadikan pasien memiliki kemungkinan untuk


menderita

infeksi

jamur

yaitu

infeksi

kandida.

Pada

kandidosis

vulvovaginitis juga didapatkan keputihan yang dialami berwarna putih dan


menggumpal seperti susu basi, namun keputihan tidak berbau dan tidak
berbusa, yang sesuai dengan keluhan yang dirasakan oleh pasien.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tampak eritem pada labia minora
dekstra et sinistra dan pada daerah vulva, dengan lesi satelit di daerah
sekitar vulva. Tampak adanya fluor albus. Tak tampak adanya benjolan di
labia mayora dan minora dekstra et sinistra. Hasil pemeriksaan ini
menunjukan infeksi yang terjadi karena infeksi kandida. Untuk diagnosis
pasti kandidosis vulvovaginitis perlu untuk dilakukan pemeriksaan
penunjang yakni kemudian dikonfirmasi dengan preparat KOH yang
diambil dari permukaan mukosa. Pada pemeriksaan mikroskopis ini dapat
dijumpai germ tubes atau budding dan pseudohypa sebagai sel-sel
memanjang seperti sosis yang tersusun memanjang. Kultur vagina sebaiknya
dilakukan pada wanita yang menunjukkan gejala kandidiasis vulvovaginitis
tapi dengan pemeriksaan mikroskopis negatif dan pH vagina yang normal.
Diagnosis kandidiasis vulvovaginitis membutuhkan korelasi antara gejala
klinis, pemeriksaan mikroskopis, dan kultur vagina.
Untuk penatalaksanaan pasien sendiri, pada pasien ini diberikan
pengobatan ketokonazol yang diberikan secara oral dan topikal, pengobtan
ini sudah sesuai dengan literatur yang ada. Pemberian ketokonazol sendiri
berfungsi

sebagai

anti

fungi

yang

bekerja

dengan

menghambat

pembentukan glukosa sehingga jamur kandida tidak mempunyai sumber


makanan.

IV. KESIMPULAN

1. Kandidiasis merupakan penyakit yang 70-80% disebabkan oleh Candida


albicans. Candida albicans merupakan jamur komensal yang dapat
ditemukan pada traktus gastrointestinal dan kulit.
2. Pada penderita wanita, dengan diabetes melitus, penggunaan steroid, alat
kontrasepsi, memakai celana ketat dan baju sintetik, peningkatan estrogen,
penggunaan antibiotik dan imunosupresi, terjadi kerentanan sehingga
mikroba komensal yang bervirulensi rendah dapat berubah menjadi
patogen.
3. Pada pasien ini di diagnosis sebagai kandidiasis vulvovaginitis yang
berdasarkan dari anamnesis, gejala klinis dan penunjang yang mengarah
pada kandidiasis vulvovaginitis.
4. Untuk penegakan pasti diagnosis kandidiasis vulvovaginitis diperlukan
adanya pemeriksaan mikroskopis dengan pemeriksaan sediaan dengan
KOH 10% untuk menemukan pseudohifa.
5. Jika anamnesis dan gejala klinis mengarah ke kandidiasis vulvovaginitis
namun dengan pemeriksaan KOH 10% tidak didapatkan pseudohifa maka
perlu untuk dilakukan pemeriksaan kultur sekret vagina.
6. Untuk penatalaksanaan sendiri diberikan ketokonazol oral dan topika
dengan tujuan sebagai anti fungi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Yan ZE. Vulvovaginal candidiasis. Clinical Prevention Services. 2012
2. Leon EM, Jacober JS, Sobel DJ, Foxman B. Prevalence and risk factors
for vaginal Candida colonization in women with type 1 and type 2

diabetes. Updated: 2002. Available from: URL: www.biomedcentral.com.


Accessed may 30, 2012.
3. Sobel
DJ.
Vaginitis.
The
medicine.1997;337:1896-903.

New

England

Journal

of

4. Darmani H.E. Hubungan Antara Pemakaian AKDR Dengan Kandidiasis


Vagina Di RSUP Dr. Prngadi Medan. Updated : 2003. Available from:
URL:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6376/1/D0300597.pdf.
Accesed May 22,2012.
5. Simatupang M.M. Candida albicans. Updated : 2009. Available from:
URL: repository.usu.ac.id. Accessed May 22,2012.
6. Wolf K, Johnson R.A. Genital Candidiasis. In Fitzpatricks Color Atlas &
Synopsis of Clinical Dermatology 6th ed. New York: McGraw-Hill; 2009.
p.727-30.
7. Nabhan A. Vulvovaginal Candidiasis. ASJOG. 2006;3:73-9.
8. Prabha. Vaginal yeast Infection. Updated: 2012. Available from: URL:
http://ehealthadvice.info. Accessed may 30,2012
9. Harningsih Dena. Kandidiasis. Updated 2010. Available from:
URL:http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=kandidiasis.
Accessed may 30, 2012.
10. Faraji R, Rahimi MA, Rezvanmadani F, Hashemi M. Prevalence Of
Vaginal Candidiasis Infection In Diabetic Women. African Journal Of
Microbiology Research. 2012;6(11):2773-8.
11. Neerja J, Aruna A, Paraamjet G. Significance of candida culture in women
with vulvovaginal symptoms. J Obstet Gynecol India. 2006;56(2):139-41.
12. Djuanda, Adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 6 (cetakan
kedua 2011). FK UI. Jakarta p.383-388
13. Linda O. Eckert.2006. Acute Vulvovaginitis. The New England Journal of

medicine.p355:1244-52.
http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMcp053720

Anda mungkin juga menyukai