Anda di halaman 1dari 11

Amanah UU utk Perkuat Anggaran Prom & Prev

UU no 36 th 2009 pasal 171


Amanah UU untuk perkuat anggaran promotif preventif menurut UU NO 36 Tahun 2009 pasal
171
1. Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen)
dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji.
2. Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan
minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji.
3. Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya
2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara
dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.
4. Yang dimaksud dengan kepentingan pelayanan publik dalam ketentuan ini adalah

pelayanan kesehatan baik pelayanan preventif, pelayanan promotif, pelayanan kuratif,


dan pelayanan rehabilitatif yang dibutuhkan masyarakat dalam meningkatkan derajat
kesehatannya. Biaya tersebut dilakukan secara efisien dan efektif dengan mengutamakan
pelayanan preventif dan pelayanan promotif dan besarnya sekurang-kurangnya 2/3 (dua
pertiga) dari APBN dan APBD (PENJELA
SAN PASAL 171 AYAT 3).
Estimasi Budget Pelaksanaan Preventive dan promotif
Sebagai Dokter Gigi pelayanan primer wajib melaksanakan upaya preventif dan promotif
(mengubah kebiasaan dalam menjaga kesehatan giginya) agar lebih banyak peserta yang
akan sehat di masa datang, dan pembiayaan untuk tindakan pelayanan gigi menjadi berkurang.
Pelaksanaan Preventive dan promotif untuk Dokter Gigi pelayanan primer harus bersifat
intervensi pada kebiasaan dan tindakan pencegahan gigi yang dapat diaplikasikan secara masal.
Pelaksanaan awal yang dibutuhkan seorang Dokter Gigi layanan primer adalah maping peserta
menjadi kategori Tinggi/high risk(mempunyai resiko kesehatan gigi tinggi karena kondisi
kesehatan gigi dan mulut serta kebiasaan yang jelek), Sedang/Medium risk(mempunyai resiko
kesehatan sedang, dan memiliki kesadaran kesehatan gigi yang cukup namun masih perlu
perawatan gigi yang intensif), rendah/Low risk (mempunyai resiko kesehatan rendah, dan
memiliki kesadaran kesehatan gigi yang baik). Untuk dapat melaksanakan maping agar
menjadi dasar upaya preventif dan promotif maka diperlukan pembiayaan sebagai berikut:
Caries Risk assesment: adalah sebuah sistem untuk mendeteksi kondisi gigi dan mulut
peserta agar dapat dikelompokkan sesuai kategori di atas. Beberapa tes yang perlu
dilakukan salah satunya adalah test saliva, ICDAS, perhitungan skor DMF/def, OHI/phpm,
CPITN dan anamnesa kebiasaan kesgilut. Tata cara pelaksanaannya adalah setiap peserta
BPJS yang berkunjung ke praktek Dokter Gigi layanan primer harus selalu dilakukan Caries
risk assesment oleh Dokter Gigi yang telah dikontrak BPJS tersebut. Alokasi budget untuk

bahan dan alat pelaksanaan maping kondisi gigi dan mulut ini adalah Rp. 2.956,-/
kunjungan Rp. 600.000,-/bulan
Transportasi target grup: Setelah didapatkan kelompok kategori yang telah ditetapkan, maka
peserta yang termasuk dalam High risk perlu mendapatkan kunjungan (home visit) untuk
dilihat faktor lingkungan, kebiasaan dan cek kondisi air yang di komsumsi (segala sesuatu
yang mengakibatkan kondisi gigi dan mulut jelek). Budget alokasi biaya perbulan adalah Rp.
600.000,- perminggu adalah Rp 150.000,-, apabila tiap hari Dokter Gigi layanan primer
dapat melakukan upaya preventif dan promotif maka pagu tiap harinya adalah Rp.
30.000,Media Promotif: adalah upaya Dokter Gigi layanan primer melakukan promosi kesehatan
gigi dan mulut dengan menggunakan media yang dapat disebarkan pada seluruh peserta yang
menjadi tanggung jawabnya. Media tersebut dapat berupa buku, poster ataupun dalam bentuk
CD interaktif yang dibuat agar peserta dapat meningkatkan kesadaran kesgilutnya. Pagu budget
untuk media ini perbulan adalah Rp.250.000,-.
Keseluruhan budget upaya preventif dan promotif ini dapat menjadi jasa pelayanan apabila
diserahkan pada mitra kerja Dokter Gigi (perawat gigi) untuk menjalankannya.
STRATIFIKASI PELAYANAN KESEHATAN
Stratifikasi pelayanan kesehatan merupakan pengelompokan pemberian pelayanan kesehatan
berdasarkan tingkat kebutuhan subjek layanan kesehatan.
Stratifikasi pelayanan kesehatan yang dianut oleh tiap negara tidaklah sama. Namun secara
umum stratifikasi pelayanan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:
1.

Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat
yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka (promosi kesehatan). Yang dimaksud
pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan yang bersifat pokok (basic
health services), yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai
strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada umumnya pelayanan kesehatan
tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan (ambulatory/ out patient services). Bentuk
pelayanan ini di Indonesia adalah Puskesmas, Puskesmas pembantu, Puskesmas keliling, dan
Balkesmas.

2.

Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua


Yang dimaksud pelayanan kesehatan tingkat kedua adalah pelayanan kesehatan yang lebih
lanjut yang diperlukan oleh kelompok masyarakat yang memerlukan rawat inap (in patient

services) yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer dan memerlukan
tersedianya tenaga-tenaga spesialis. Bentuk pelayanan ini misalnya Rumah Sakit tipe C dan D.
3.

Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga


Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat ketiga adalah pelayanan kesehatan yang
diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh
pelayanan kesehatan sekunder, bersifat lebih komplek dan umumnya diselenggarakan oleh
tenaga-tenaga superspesialis. Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah Rumah Sakit tipe A dan
B (Azwar, 1996).
F.JENJANG PELAYANAN KESEHATAN
Berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan maka jenjang pelayanan
kesehatan dibedakan atas lima, yaitu:
1. Tingkat rumah tangga
Pelayanan kesehatan oleh individu atau oleh keluarga sendiri.
2. Tingkat masyarakat
Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong mereka sendiri, misalnya: posyandu, polindes,
POD, saka bakti husada, dan lain-lain.

3. Fasilitas pelayanan tingkat pertama


Upaya kesehatan tingkat pertama yang dilakukan oleh puskesmas dan unit fungsional
dibawahnya, praktek dokter swasta, bidan swasta, dokter keluarga dan lain-lain.
4. Fasilitas pelayanan tingkat kedua
Upaya kesehatan tingkat kedua (rujukan spesial) oleh balai: balai pengobatan penyakit paru
(BP4), balai kesehatan mata masyarakat (BKMM), balai kesehatan kerja masyarakat (BKKM),
balai kesehatan olah raga masyarakat (BKOM), sentra pengembangan dan penerapan pengobatan
tradisional (SP3T), rumah sakit kabupaten atau kota, rumah sakit swasta, klinik swasta, dinas
kesehatan kabupaten atau kota, dan lain-lain.
5. Fasilitas pelayanan tingkat ketiga

Upaya kesehatan tingkat ketiga (rujukan spesialis lanjutan atau konsultan) oleh rumah sakit
provinsi atau pusat atau pendidikan, dinas kesehatan provinsi dan departemen kesehatan.

BENTUK DAN JENIS PELAYANAN KESEHATAN

Bentuk pelayanan kesehatan adalah:


1.

Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer)


Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar dan dilakukan bersama
masyarakat dan dimotori oleh:
a.Dokter Umum (Tenaga Medis)
b.Perawat Mantri (Tenaga Paramedis)
Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan masyarakat
adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan masyarakat pada
saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau kecelakaan. Primary health care pada
pokoknya ditunjukan kepada masyarakat yang sebagian besarnya bermukim di pedesaan, serta
masyarakat yang berpenghasilan rendah di perkotaan. Pelayanan kesehatan ini sifatnya berobat
jalan (Ambulatory Services). Diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat
yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.

2.

Contohnya : Puskesmas, Puskesmas keliling, klinik.


Pelayanan kesehatan tingkat kedua (sekunder)
Pelayanan kesehatan sekunder adalah pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan bahkan
kadang kala pelayanan subspesialis, tetapi masih terbatas. Pelayanan kesehatan sekunder dan
tersier (secondary and tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan
perawatan lebih lanjut (rujukan). Di Indonesia terdapat berbagai tingkat rumah sakit, mulai dari
rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A.
Pelayanan kesehatan dilakukan oleh:
a.Dokter Spesialis
b.Dokter Subspesialis terbatas
Pelayanan kesehatan ini sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient
services).Diperlukan untuk kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah
tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.
Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D.

3.

Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tersier)


Pelayanan kesehatan tersier adalah pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan
subspesialis serta subspesialis luas.
Pelayanan kesehatan dilakukan oleh:

a.Dokter Subspesialis
b.Dokter Subspesialis Luas
Pelayanan kesehatan ini sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan rawat inap
(rehabilitasi).Diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat
ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder.
Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.
Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya mengutamakan pelayanan kesehatan
promotif dan preventif. Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan masyarakat
ke arah yang lebih baik lagi dan yang preventif mencegah agar masyarakat tidak jatuh sakit agar
terhindar dari penyakit.
Sebab itu pelayanan kesehatan masyarakat itu tidak hanya tertuju pada pengobatan individu
yang sedang sakit saja, tetapi yang lebih penting adalah upaya-upaya pencegahan (preventif) dan
peningkatan kesehatan (promotif). Sehingga, bentuk pelayanan kesehatan bukan hanya
puskesmas atau balkesma saja, tetapi juga bentuk-bentuk kegiatan lain, baik yang langsung
kepada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, maupun yang secara tidak langsung
berpengaruh kepada peningkatan kesehatan.
1)

Jenjang UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat)


Jenjang

UKM

Strata I (Dasar)

Ujung tombaknya adalah Puskesmas

Mendayagunakan

IPTEK

dasar kepada masyarakat.

kesehatanyang didukung secara lintas sektoral


dan

didirikan

sekurang-kurangnya

satu di setiap kecamatan

Strata II (Lanjutan)

Penanggung

mendayagunakan

IPTEK kesehatanKesehatan

spesialistik

ditujukan

masyarakat

yang

jawab

adalah

Dinas

Kabupaten/Kota

yang

kepadadidukung secara lintas sektoral.

Strata III (Unggulan)


Mendayagunakan

IPTEK

Penanggung

jawab

adalah

Dinas

KesehatanKesehatan Provinsi dan Departemen

subspesialistik kepada masyarakat.

Kesehatan

yang

didukung

secara

lintas sektoral.

2)

Jenjang UKP (Upaya Kesehatan Perorangan)


Jenjang

UKP

Strata I (Dasar)
Praktik bidan, praktik perawat, praktik
Mendayagunakan
IPTEKdokter,praktik dokter gigi, poliklinik, balai
kesehatan dasar kepada perorangan. pengobatan, praktik dokter/klinik 24 jam,
praktik bersama dan rumah bersalin.
Termasuk Puskesmas
Strata II (Lanjutan)
Praktik dokter spesialis, praktik dokter gigi
mendayagunakan IPTEK kesehatanspesialis, klinik spesialis, balai pengobatan
spesialistik kepada perorangan.
penyakit paru-paru (BP4), balai kesehatan
mata
masyarakat
(BKMM),
balai
kesehatan jiwa masyarakat (BKJM), rumah
sakit kelas C dan B non pendidikan
Strata III (Unggulan)
praktik dokter spesialis konsultan, praktik
mendayagunakan IPTEK kesehatandokter gigi spesialis konsultan, klinik
subspesialistik kepada perorangan. spesialis konsultan, rumah sakit kelas B
pendidikan dan kelas A

Tujuan Promkes
Pada dasarnya tujuan utama promosi kesehatan adalah untuk mencapai 3 hal, yaitu :

Peningkatan pengetahuan atau sikap masyarakat

Peningkatan perilaku masyarakat

Peningkatan status kesehatan masyarakat

Contoh : Mengubah orang untuk sesuai dgn lingkungan, dan sedikit berbuat untuk lingkungan
sbg tempat yang lebih sehat untuk ditinggali. Alat bagi individu dalam berproses untuk
meningkatkan kesehatan diri individu Menurut Green (1990) tujuan promosi kesehatan terdiri
dari 3 tingkatan, yaitu :
Tujuan Program : Merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai dalam periode waktu
tertentu yang berhubungan dengan status kesehatan.
Tujuan Pendidikan : Merupakan deskripsi perilaku yang akan dicapai dapat mengatasi masalah

kesehatan yang ada.


Tujuan Perilaku : Merupakan pendidikan atau pembelajaran yang harus tercapai (perilaku yang
diinginkan). Oleh sebab itu, tujuan perilaku berhubungan dengan pengetahuan dan sikap.

Tujuan Promosi Kesehatan.


Green,1991 dalam Maulana,2009,tujuan promosi kesehatan terdiri dari tiga tingkatan
a.

yaitu:
Tujuan Program
Refleksi dari fase social dan epidemiologi berupa pernyataan tentang apa yang akan
dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan dengan status kesehatan. Tujuan program ini
juga disebut tujuan jangka panjang, contohnya mortalitas akibat kecelakaan kerja pada pekerja

menurun 50 % setelah promosi kesehatan berjalan lima tahun.


b.
Tujuan Pendidikan
Pembelajaran yang harus dicapai agar tercapai perilaku yang diinginkan. Tujuan ini
merupakan tujuan jangka menengah, contohnya : cakupan angka kunjungan ke klinik perusahaan
meningkat 75% setelah promosi kesehatan berjalan tiga tahun.
c.

Tujuan Perilaku
Gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah kesehatan. Tujuan ini
bersifat jangka pendek, berhubungan dengan pengetahuan, sikap, tindakan, contohnya:
pengetahuan pekerja tentang tanda-tanda bahaya di tempat kerja meningkat 60% setelah promosi

kesehatan berjalan 6 bulan


Jenis Jenis Metode Promkes
Secara garis besar, metode dibagi menjadi dua, yaitu metode didaktif dan metode sokratik.
a. Metode Didaktif
Metode ini didasarkan atau dilakukan secara satu arah. Tingkat keberhasilan metode
didaktif sulit dievaluasi karena peserta didik bersifat pasif dan hanya pendidik yang aktif.
b.

Misalnya: ceramah, film, leaflet, booklet, poster dan siaran radio.


Metode Sokratif
Metode ini dilakukan secara dua arah. Dengan metode ini, kemungkinan antara pendidik
dan peserta didik bersikap aktif dan kreatif. Misalnya: diskusi kelompok, debat, panel, forum,
seminar, bermain peran, curah pendapat, demonstrasi, studi kasus, lokakarya dan penugasan
perorangan.

Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik Komunikasi, Sasaran yang
dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi. Metode berdasarkan tekhnik komunikasi:
a.

Metode Penyuluhan Langsung


Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan sasaran.
Termasuk disini antara lain: kunjungan rumah, pertemuan diskusi, pertemuan di balai desa

pertemuan di posyandu, dll.


b. Metode Penyuluhan Tidak Langsung
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran,
tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara media. Contohnya, publikasi dalam bentuk
media cetak, melalui pertunjukkan film dan sebagainya berdasarkan jumlah sasaran yang
dicapai.
Metode berdasarkan jumlah sasarannya dibagi menjadi 3 (Menurut Notoatmodjo, 1993 dan
a.

WHO, 1992):
Metode Pendidikan Individual (Perorangan)
Metode yang bersifat individual digunakan untuk membina perilaku baru atau membina
seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Setiap orang
memiliki masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku

1)

baru tersebut. Bentuk pendekatannya :


Bimbingan dan penyuluhan (Guidence and counceling)
Perubahan perilaku terjadi karena adanya kontak yang intensif antara klien dengan

2)

petugas dan setiap masalahnya dapat diteliti dan dibantu penyelesainnya.


Wawancara (interview)
Untuk mengetahui apakah klien memiliki kesadaran dan pengertian yang kuat tentang informasi

b.

yang diberikan (prubahan perilaku ynag diharapkan).


Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pada kelompok,yang harus diperhatikan adalah besarnya kelompok
sasaran dan tingkat pendidikan formalnya. Besarnya kelompok sasaran mempengaruhi efektifitas

metode yang digunakan.


1)
Kelompok besar
a)
Ceramah
Sasaran dapat berpendidikan tinggi maupun rendah. Penceramah harus menyiapkan dan
menguasai materi serta mempersiapkan media. Metode dengan menyampaikan informasi dan
pengetahuan saecara lisan. Metode ini mudah dilaksanakan tetapi penerima informasi menjadi
pasif dan kegiatan menjadi membosankan jika terlalu lama.
b)
Seminar

Metode seminar hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan formal
menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi)dari suatu ahli atau beberapa ahli
2)
a)

tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat.
Kelompok kecil
Diskusi kelompok
Metode yang dilaksanakan dalam bentuk diskusi antara pemberi dan penerima
informasi, biasanya untuk mengatasi masalah. Metode ini mendorong penerima informasi
berpikir kritis, mengekspresikan pendapatnya secara bebas, menyumbangkan pikirannya untuk
memecahkan masalah bersama, mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif
jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama.

b)

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :


Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal
Curah pendapat (Brain storming)
Adalah suatu pemecahan masalah ketika setiap anggota mengusulkan dengan cepat semua
kemungkinan pemecahan yang dipikirkan. Kritik evaluasi atas semua pendapat tadi dilakukan
setelah semua anggota kelompok mencurahkan pendapatnya. Metode ini cocok digunakan untuk
membangkitkan pikiran yang kreatif, merangsang, partisipasi, mencari kemungkinan pemecahan
masalah, mendahului metode lainnya, mencari pendapat-pendapat baru dan menciptakan suasana

yang menyenangkan dalam kelompok.


c)
Bola salju (snow balling)
Metode ini dilakukan dengan membagi secara berpasangan (satu pasang- dua orang).
Setelah pasangan terbentuk, dilontarkan suatu pernyataaan atau masalah, setelah kurang lebih 5
menit setiap 2 pasangan bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah yang
sama dan mencari kesimpulannya. Selanjutnya, setiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4
orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya, demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi
seluruh kelas.
d)
Kelompok-kelompok kecil (Buzz group)
Kelompok dibagi menjadi kelompok kecil untuk mendiskusikan masalah kemudian
kesepakatan di kelompok kecil disampaikan oleh tiap kelompok dan kemudian di diskusikan
untuk diambil kesimpulan.
e)
Memainkan peranan (role play).
Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran tertentu
untuk memainkan peranan.

f)

Permainan simulasi (simulation game)


Merupakan gabungan antara role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan
disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli, menggunakan dadu,
petunjuk arah dan papan monopoli. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lainnya

berperan sebagai narasumber.


3)
Metode pendidikan massa
Metode ini untuk mengomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada
masyarakat. Sasaran pendidikan pada metode ini bersifat umum tanpa membedakan umur, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi dan sebagainya, sehingga pesan-pesan
kesehatan dirancang sedemikian rupa agar dapat ditangkap oleh massa tersebut. Metode ini
bertujuan untuk mengguagah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi. Metode ini biasanya
bersifat tidak langsung.
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Ceramah umum (public speaking)


Pidato/diskusi
Simulasi
Menggunakan media televise
Menggunakan media surat kabar
Bill board
Metode berdasarkan Indera Penerima. Metode melihat/memperhatikan. Dalam hal ini pesan
diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan
Gambar/Photo, Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film

a.

Metode pendengaran. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera pendengar,

b.

umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll


Metode kombinasi. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dicium,
diraba dan dicoba).