Anda di halaman 1dari 5

Tutorial

Discussion

task

(Sanksi

Adat

Kasepekang dan HAM)


1. Apakah penerapan sanksi adat kasepekang bertentangan
dengan HAM?
2. Jika merujuk pada pandangan bahwa HAM merupakan nilai
yang universal, apakah sanksi adat kasepekang yang merujuk
pada nilai tradisional dapat diabaikan?

Jawaban:
1. Bertentangan karena merujuk Pasal 1 angka Undang-Undang
nomor 39 tahun 1999 tentang HAM yang berbunyi Hak Asasi
Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha
Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati,
dijunjung
pemerintah

tinggi
dan

dan
setiap

dilindungi
orang

oleh
demi

negara,

hukum,

kehormatan

serta

perlindungan harkat dan martabat manusia. Dapat juga dilihat


di Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang nomor 39 tahun 1999
tentang HAM mengatakan bahwa Setiap orang berhak hidup
di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai,
aman, dan tenteram, yang menghormati, melindungi dan
melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban
dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.
Dalam Pasal 40 Undang-Undang nomor 39 tahun 1999
tentang HAM juga mengatakan bahwa Setiap orang berhak
untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak . Dan
dapat juga dilihat dari Undang-Undang Dasar Tahun 1945
Pasal 28H ayat (1) mengatakan Setiap orang berhak hidup
sejahtera lahir dan batin bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan

hidup

yang

baik

dan

sehat

serta

berhak

memperoleh pelayanan kesehatan. Jadi penerapan sanksi

tersebut sudah melanggar hak seseorang untuk tinggal dan


bersosialisasi terhadap sesamanya.
2. Tidak bisa karena tradisi adat tersebut sudah melekat dalam
pemikiran

masyarakat

adat

setempat

namun

dapat

disesuaikan apabila adanya ketentuan dari pemerintah untuk


memberikan tanggungan terhadap orang yang mengalami
hak tersebut.

Tutorial 2 (Pariwisata dan Migrasi)


1. Apakah berwisata merupakan suatu Hak Asasi Manusia?
2. Bagaimanakah status pengakuan hak untuk berwisata sebagai
Hak Asasi Manusia dalam konteks hukum nasional dan hukum
internasional?
Jawaban:
1. Berwisata

merupakan

suatu

Hak

Asasi

Manusia

karena

menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang


Kepariwisataan huruf b menimbang tentang kepariwisataan
yang mengatakan bahwa kebebasan melakukan perjalanan
dan memanfaatkan waktu luang dalam wujud berwisata
merupakan bagian dari hak asasi manusia. Dapat juga dilihat
dari Pasal 19 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan menyatakan bahwa
setiap orang berhak memperoleh dan memenuhi kebutuhan
wisata.
2. -Dalam Perspektif Nasional
Secara implisit, refleksi pengakuan kegiatan berwisata
sebagai HAM terdaoat dalam UUD 1945 pasal 28 C ayat 1
yang

menyebutkan

mengembangkan

diri

bahwa
melalui

Setiap
peme-

orang
nuhan

berhak
kebutuhan

dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh


manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejah-

teraan

umat

manusia.

Menyangkut

batasan

kesejahteraan, Undang-Undang nomor 11 Tahun 2009 tentang

Kesejahteraan

Sosial

lantas

menyebutkan

bahwa

Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan


material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup
layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat
melaksanakan fungsi sosialnya. Pengakuan yang lebih tegas
terdapat dalam menimbang point b Undang-Undang nomor 10
Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (UUK), disebutkan bahwa
kebebasan melakukan perjalanan dan memanfaatkan waktu
luang dalam wujud berwisata merupakan bagian dari hak
asasi manusia
ketentuan

ini

Pasal 5 point b UUK kemudian menjabarkan


dengan

menyatakan

penyelenggaraan

kepariwisataan berdasarkan pada prinsip menjunjung tinggi


hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal.
Selanjutnya pada pasal 19 ayat 1 point a UUK menyebutkan
bahwa

setiap

orang

berhak

memperoleh

kesempatan

memenuhi kebutuhan wisata.


-Dalam Perspektif Internasional
Mengerucut kepada pengakuan

HAM

bagi

kegiatan

berwisata, Article 24 Universal Declaration of Human Rights


menyatakan bahwa Everyone has the right to rest and
leisure, including reasonable limitation of working hours and
periodic holidays with pay. Selanjutnya dalam International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights Article 7
menyatakan bahwa

The

States

Parties

to

the present

Covenant recognize the right of everyone to the enjoyment of


just and favourable conditions of work which ensure, in
particular:
a.

Remuneration

which

provides

all

workers,

as

minimum, with:
i. Fair wages and equal remuneration for work of equal
value without distinction of any kind, in particular
women being guaranteed conditions of work not

inferior to those enjoyed by men, with equal pay for


equal work;
ii.

A decent living for themselves and their families in

accordance

with

the

provisions

of

the

present

Covenant;
b. Safe and healthy working conditions;
c. Equal opportunity for everyone to be promoted in his
employment to an appropriate higher level, subject to no
considerations

other

than

those

of

seniority

and

competence;
d. Rest, leisure and reasonable limitation of working hours
and periodic holidays with pay, as well as remuneration for
public holidays.
Dari pemaparan dua perjanjian internasional diatas, telah
terdapat pengakuan HAM bagi kegiatan berwisata. Namun
pengakuan tersebut hanya diberikan kepada individu dalam
kapasitasnya sebagai pekerja, sebagai imbalan non-materiil
yang

diberikan

atas

pemenuhan

kewajibannya

sebagai

pekerja. Dengan demikian, pengakuan HAM bagi kegiatan


berwisata belum menyentuh individu-individu yang berada
diluar lingkungan kerja, misalnya anak-anak, mereka yang
belum atau tidak bekerja, dan mereka yang telah memasuki
masa purna tugas.
Dari sisi pariwisata, Kode Etik Pariwisata Global (Global Code
of Ethics Tourism) yang ditetapkan oleh United Nations World
Tourism Development (UNWTO) mencanangkan 10 prinsip
dasar pengembangan pariwisata yang terangkum dalam Kode
Etik Global Pariwisata (Global Code of Ethics for Tourism),
yaitu:
1)

Kontribusi

pariwisata

bagi

pemahaman

saling

pengertian dan saling menghargai antara manusia dan


komunitasnya,

(Tourisms

contribution

to

mutual

understanding

and

respect

between

peoples

and

societies),
2) Pariwisata sebagai wahana/kendaraan bagi pemenuhan
kebutuhan, baik bagi individu maupun kelompok (Tourism
as a vehicle for individual and collective fulfilment),
3)

Pariwisata

sebagai

pembangunan

salah

berkelanjutan

satu

faktor

(Tourism,

dalam

factor

of

sustainable development),
4) Sebagai pengguna atau pengambil manfaat atas
keberadaan benda-benda peninggalan budaya, pariwisata
harus member kontribusi bagi pengembangan benda
peninggalan budaya (Tourism, a user of the cultural
heritage

of

mankind

and

contributor

to

its

enhancement),
5)

Pariwisata

menguntungkan

harus
bagi

merupakan
negara

aktivitas

tuan

yang

rumah

dan

komunitasnya (Tourism, a beneficial activity for host


countries and communities),
6) Pembangunan pariwisata merupakan tanggung jawab
para

stakeholdernya

(Obligations

of

stakeholders

in

tourism development),
7) Menjunjung tinggi hak-hak kepariwisataan (Rights to
tourism),
8)

Menjunjung

tinggi

kebebasan

bagi

pergerakan

wisatawan (Liberty of tourist movements),


9)

Menjunjung

tinggi

hak-hak

para

pekerja

dan

wirausahawan dalam industri pariwisata (Rights of the


workers and entrepreuners in the tourism industry),
10)

Penerapan

prinsip-prinsip

Kode

Etik

Global

bagi

pariwisata (Implementation of the principles of the Global


Code of Ethics for Tourism).

Anda mungkin juga menyukai