Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGENDALIAN GULMA


IDENTIFIKASI GULMA

Oleh :
Nama

: Ahmad Fitra

NIM

: 135040201111066

Kelas

:A

Kelompok

: Selasa, jam 8.45

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
MALANG
2016

I . PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Kehadiran gulma sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) pada
lahan pertanian dapat mengakibatkan terjadinya kompetisi atau persaingan
dengan tanaman pokok (tanaman budidaya) dalam hal penyerapan unsur-unsur
hara, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang lingkup, mengotori
kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma,
dapat mengeluarkan zat atau cairan yang bersifat toksin (racun) serta sebagai
tempat hidup atau inang tempat berlindungnya hewan-hewan kecil, insekta
dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang
biak dengan baik, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai
perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia,
menaikkan biaya-biaya usaha pertanian dan menurunkan produktivitas.
Gulma menurut Mangoensoekarjo (1983) adalah tumbuhan pengganggu
yang nilai negatif apabila tumbuhan tersebut merugikan manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung dan sebaliknya Dalam kurun waktu yang
panjang, kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat
hama atau penyakit. Oleh karena itu, untuk menangani masalah gulma, maka
perlu dilakukan identifikasi gulma yang dimaksudkan untuk membantu para
petani dalam usaha menentukan program pengendalian gulma secara terarah
sehingga produksi dapat ditingkatkan sebagaimana yang diharapkan. Adapun
pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
dengan cara preventif (pencegahan), secara fisik, pengendalian gulma dengan
sistem budidaya, secara biologis, secara kimiawi dan secara terpadu.
Identifikasi berasal dari kata identik yang artinya sama atau serupa dengan,
dan untuk ini kita dapat terlepas dari nama latin.

1.2.

TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum identifikasi gulma ini adalah untuk memberikan

pengetahuan kepada mahasiswa tentang cara mengidentifikasi gulma, dan agar


mahasiswa mampu mengenali jenis jenis gulma,nama daerah,nama latin spesis
gulma,bentuk morfologi,dan bagian anatomi ,dan membedakan golongan gulma.
II . TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI IDENTIFIKASI


Identifikasi adalah proses pengenalan, menempatkan obyek atau individu
dalam suatu kelas sesuai dengan karakteristik tertentu (Uttoro, 2008).
Identifikasi adalah penentuan atau penetapan identitas seseorang atau
benda (Poerwadarminto, 1976)
2.2 DEFINISI GULMA
Gulma menurut Mangoensoekarjo (1983) adalah tumbuhan pengganggu
yang nilai negatif apabila tumbuhan tersebut merugikan manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung dan sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki
nilai positif apabila mempunyai daya guna manusia. Pengertian gulma menurut
sutidjo (1974) adalah tumbuhan yang tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan
tidak dikehendaki serta mempunyai nilai negatif.
Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilai negatif apabila tumbuhan
tersebut merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan
sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai daya
guna manusia (Mangoensoekarjo 1983). Pengertian gulma adalah tumbuhan yang
tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan tidak dikehendaki serta mempunyai
nilai negative (Johnny, Martin. 2006).
2.3 KLASIFIKASI GULMA
klasifikasi adalah penggolongan atau pengelompokkan. Ada beberapa
pengertian mengenai klasifikasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut
kaidah atau standar yang ditetapkan.
Adanya berbagai definisi dan dekripsi gulma menunjukkan bahwa
golongan gulma mempunyai kisaran karakter luas dan mempunyai konsekuensi
dalam pemberantasan dan pengelolaannya. Dalam mengidentifikasi gulma dapat
ditempuh satu atau kombinasi dari sebagian atau seluruh cara-cara dibawah ini:
Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah

diidentifikasi di herbarium.
Konsultasi langsung dengan para ahli dibidang yang bersangkutan
Mencari sendiri melalui kunci identifikasi
Membandingkan dengan determinasi yang telah ada.
Membandingkan dengan ilustrasi yang tersedia

Cara identifikasi dengan membandingkan tumbuhan gulma dengan


gambar paling praktis dan dapat dikerjakan sendiri di tempat, oleh karena telah
banyak publikasi gambar dan foto-foto gulma. Dua publikasi gulma P3GI yang
disebutkan pada alinia pertama bab ini, sangat berguna untuk keperluan tersebut.
Identifikasi dengan membandingkan determinasi dari spesies gulma kemudian
mencari dengan kunci identifikasi sedikit banyak kita harus memahami istilah
biologi yang berkenaan dengan morfologi (Sastroutomo. 1990). Bila ada spesies
gulma yang sukar diidentifikasi, maka herbarium gulma (lengkap daun, batang,
bunga, bunga dan akarnya) tersebut dapat dikirim ke herbarium.
Tanda-tanda yang dipakai dalam identifikasi dan penelaahan spesies
gulma; terbagi atas sifat-sifat vegetatif yang bisa berubah sesuai dengan
lingkungan dan sifat-sifat generatif yang cenderung tetap.Sifat vegetatif gulma
antara lain : perakaran, bagian batang dan cabangnya, kedudukan daun, bentuk
daun, tepi daun dan permukaan daun, terdapat alat-alat tambahan misalnya daun
penumpu atau selaput bumbung, beragam dan berbeda-beda untuk tiap spesies
gulma. Bagian generatif yang dapat digunakan sebagai kriteria tanaman antara
lain adalah : jumlah dan duduknya bunga, bagian-bagian bunga, warna kelopak
bunga, warna mahkota bunga, jumlah benang sari, serta bentuk ukuran -warnajumlah buah/biji (Steenis, van. 1981).
Identifikasi sangat penting terutama dalam memahami tanda-tanda
karakteristik seperti yang berkenaan dengan morfologi (terutama morfologi luar)
gulma. Dengan memahami karakteristik tersebut, dalam melakukan upaya
pengendalian gulma akan lebih mudah. Disamping itu juga kita harus
memperhatikan faktor-faktor lain, seperti misalnya iklim, jenis tanah, biaya yang
diperlukan,

dan

pengaruh-pengaruh

negatif

yang

ditimbulkannya

(Tjitrosoedirjdjo, 1984).
2.4 KARAKTERISTIK GULMA
Berdasarkan karaktristik yang dimiliki, gulma dibedakan menjadi 3
kelompok, yaitu teki, rumput, dan gulma daun lebar.
2.4.1 Gulma Berdaun Sempit (Grasses)
Menurut Barus (2003), gulma berdaun sempit memiliki ciri khas sebagai
berikut: daun menyerupai pita, batang tanaman beruas-ruas, tanaman tumbuh

tegak atau menjalar, dan memiliki pelepah serta helaian daun. Contoh-contoh
gulma berdaun sempit adalah sebagai berikut.
- Axonopus compressus
- Brachiaria miliformis
- Cynodon datylon
- Cyrtococcum accrescens
- Panicum brevifollium
2.4.2 Gulma Teki-Tekian (Sedges)
Menurut Barus (2003), gulma jenis teki-tekian mirip dengan gulma berdaun
sempit, namun memiliki batang berbentuk segitiga. Beberapa contoh jenis gulma
teki-tekian adalah sebagai berikut.
- Cyperus brevolius
- Cyperus digilatus
- Cyperus rotundus
- Lipocarpha corymbosa
- Scirpus mucronatus
2.4.3 Gulma Berdaun Lebar (Broad Leaves)
Pada umumnya, gulma berdaun lebar merupakan tumbuhan berkeping dua,
meskipun ada juga yang berkeping satu. Gulma berdaun lebar memiliki ciri-ciri
daun melebar dan tanaman tumbuh tegak atau menjalar. Contoh-contoh jenis
gulma berdaun lebar adalah sebagai berikut.
- Ipomoea cairica
- Alocasia macrorrhiza
- Amaranthus spinosus
- Croton hirtus
- Curculigo villosa
- Pistia stratiotes
2.4.4 Gulma Pakis-Pakisan (Ferns)

Menurut Barus (2003), gulma jenis pakis-pakisan (ferns) pada umumnya


berkembang biak dengan spora dan berbatang menjalar. Contoh gulma jenis
pakis-pakisan adalah sebagai berikut.
- Dicranopteris linearis
- Lygodium flexuosum
- Taenitis blechnoides
- Nephrolepis biserrata

III . BAHAN DAN METODE


3.1 ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang di unakan dalam praktikum identifikasi gulma di
sajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan Bahan

No
Alat dan Bahan
Alat
1
Buku Identifikasi
2
Alat Tulis
3

Kain bewarna biru

Kamera

Fungsi
Untuk mengidentifikasi gulma
Untuk menulis hasil identifikasi
gulma
Sebagai
Background
saat
mendokumentasikan
Untuk mendokumentasikan gulma

Bahan
1
Spesimen gulma lengkap dan segar
3.2 ALUR KERJA

Sebagai bahan percobaan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 HASIL
1. Gulma Golongan Teki
A. Teki (Cyperus rotundus)
Kingdom
Subkingdom
Super Divisi
Divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
Ciri morfologinya

: Plantae
: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Commelinidae
: Cyperales
: Cyperaceae
: Cyperus
: Cyperus rotundus L.

: berakar serabut yang tumbuh menyamping dengan


membentuk

umbi

yang

banyak,

tiap

umbi

mempunyai mata tunas, batang tumbuh tegak dan


berbentuk tumpul atau segitiga, memiliki ciri bentuk
pita

dengan

pertulangan

daun

sejajar

tidak

mempunyai ligula atau aurikula, arah daun tersebar


merata mengelilingi batang, serta penampang daun
Daur Hidup

berbentuk huruf V (Anonymous, 2010).


: Gulma ini hampir selalu ada di sekitar tanaman
budidaya karena dapat berkembangbiak melalui biji,
umbi akar dan rhizoma yang sangat sulit untuk

Habitat

dikendalikan secara mekanis.


: Tempat-tempat basah, di sepanjang pinggir jalan
dan di rawa-rawa, daerah dibudidayakan, dan

Nilai Ekonomis

terutama di sawah
: Dalam persaingan dengan tanaman budidaya,
gulma menghasilkan zat allelopati yang dapat
meracuni atau menekan pertumbuhan tanaman
budidaya, dan berguna sebagai bahan pakan bagi
ternak (Anonymous, 2014).

B. Cyperus iria

Kingdom :
Subkingdom :
Super Divisi :
Divisi
:
Kelas
:
Sub Kelas :
Ordo
:
Famili
:
Genus
:
Spesies
:
Ciri Morfologinya

Plantae
Tracheobionta
Spermatophyta
Magnoliophyta
Liliopsida
Commelinidae
Cyperales
Cyperacea
Cyperus
Cyperus iria

:Batang: 3 menyudut tajam, berumbai, halus, 5-80cm tinggi. Daun: basal, kasar menyentuh di bagian
atas, linier, lembek, dengan secara bertahap
meruncing titik dan 3-8 mm lebar; selubung
cokelat kemerahan atau keunguan, membungkus
batang di pangkalan. Bunga majemuk: umbel
sederhana atau senyawa yang terdiri dari berbagai
tegak-menyebarkan 3-10 mm panjang spikelets
diratakan. Buah: tiga-siku, kacang 1,0-1,5 mm
dengan

sisi

sedikit

cekung, dan mengkilap

Habitat

berwarna coklat tua sampai hitam.


: Tumbuh subur di padi sawah, lahan kering

Daur Hidup

tanaman tahunan, dan tanaman perkebunan.


: Berkembang biak dengan cepat, dapat
menghasilkan bibit 3,000-5,000 per tanaman, bibit
muncul segera setelah padi ditanam; bunga bulan
kemudian dan dapat membangun generasi kedua

Nilai Ekonomis

dalam musim yang sama. Bunga sepanjang tahun.


: Berguna sebagai bahan pakan bagi ternak
(Buhman,1999).

C. Rumput Kenop (Cyperus kylingia)

Kingdom
Subkingdom
Super Divisi
Divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Commelinidae
: Cyperales
: Cyperaceae
: Cyperus
: Cyperus kyllingia
Endl.

Ciri Morfologinya
:
Batang : ada yang tumpul berbentuk segitiga dan tajam, dengan tinggi
antara 10 80 cm
Daun
: berisi 4 5 helai berjejal pada pangkal batang dengan pelepah
daun tertutup tanah, helaian daun berbentuk garis, bagian atas berwarna
hijau mengkilat, panjang daun 10 60 cm,
lebar daun 2 6 mm, anak bulir berkumpul menjadi bulir pendek dan tipis,
keseluruhan terkumpul lagi menjadi memanjang. Daun pembalut 3 4.
Tepi daun kasar dan tidak rata. Jari- jari payung 6 9.
Bunga : Berisi 10 40, panjang lebih kurang 3 mm. Benang sari 3,
tangkai putik bercabang3
Buah : Buah memanjang sampai bulat telur sungsang, segitiga berwarna
coklat, panjang lebih kurang 5 mm
Habitat
: tanaman terna, menahun.
Daur Hidup
: berkembang biak dengan menggunakan biji.
Nilai Ekonomis
: Berguna sebagai bahan pakan bagi ternak
2. Golongan Gulma Air
A. Teratai (Nymphaea)
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyt
Kelas: Magnoliopsida
Sub Kelas: Magnoliidae
Ordo: Nymphaeales
Famili: Nymphaeaceae
Genus: Nymphaea
Spesies: Nymphaea nouchali Brum F

Ciri morfologinya

: Nymphae sp. memiliki daun yang lebar dengan


bentuk yang melingkar, dan tepi daun bergerigi.
Nymphae sp. memiliki batang yang berfungsi untuk
menyangga daun mengapung di atas air. Batang
sebagian besar tenggelam di dalam air, namun ada
beberapa yang muncul di atas permukaan air.
Batang memiliki ruang udara yang berkembang
dengan baik.Sistem akar pada hidrofi seperti
Nymphae sp. kurang berkembang dengan baik dan
tidak memiliki bulu akar maupun tudung akar. Akar
pada Nymphae sp. memiliki fungsi utama sebagai
jangkar, pelekat atau pencengkeram. Absorbsi lebih

Daur Hidup

Ban yak dilakukan oleh batang dan daun.


: Perbanyakan bisa dengan biji dari bunga, daun,
dan anakan. Di bunga teratainya akan berbunga
setiap 3-4 hari, dari pagi sampai sore hari. Setelah
layu, mahkota bunga mulai rontok dan menyisakan

Habitat
Nilai Ekonomis

dasar bunga yang jadi bakal buah.


: Danau dan Kolam.
: Teratai menjadi tanaman di kebun-kebun karena
bunganya yang indah. Pelukis Perancis bernama
Claude Monet terkenal dengan lukisan bunga
teratai. Teratai merupakan tanaman air yang unik.
Teratai yang tumbuh di air yang sangat berlumpur
(kotor, coklat), warna bunganya lebih cemerlang.
Warna bunga bila putih lebih putih, bila merah lebih
merah, bila merah muda makin terang warnanya.

B. Ganggang hijau(Cyanophyta)

Divisio
Classsis
Ordo
Familia
Genus
Species

Daur Hidup

: Chlorophyta
: Cholrophyceae
: Ulvales
: Ulvaceae
: Ulva
: Ulva sp.

: Ganggang hiaju hidup secara autotrof. Namun ada


pula yang bersimbiosis dengan organism lain,
mislanya dengan jamur membentuk lumut kerak.
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan
zoospore, yaitu spora yang dapat bergerak atau
berpindah

tempat.

berlangsung
berupa
Habitat
Nilai Ekonomis

secara

suatu

Reproduksi
konjugasi.Hasil

zigospora

aseksualnya
konjugasi

zigospora

tidak

mempunyai alat gerak.


: Danau dan Kolam.
: sebagai plankton dan merupakan komponen
penting dalam rantai makanan air tawar, dapat
dipakai sebagai makanan, misal Ulva dan Chlorella,
penghasil

O2

dari

proses

fotosintesis

yang

diperlukan oleh hewan-hewan air.


3. Golongan Berdaun Lebar
A. Kirinyuh (Chromolaena odorata L.)
Kingdom : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Sub Kelas : Asteridae
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Chromolaena
Spesies : Chromolaena odorata (L.) King
& H.E. Robins.

Ciri morfologinya

: daun berbentuk segita, mempunyai tiga tulan daun


yang nyata terlihat dan bila diremas akan terasa bau
yang khas, percabangan berhadapan, perbungaan

Habitat

majemuk yang dari jauh terlihat berwarna putih.


: Penyebaran meliputi 50 1000 m diatas

Nilai Ekonomis

permukaan laut
: Chromolaena odorata adalah salah satu tumbuhan
yang dapat digunakan sebagai larvasida alami.
Tumbuhan ini mengandung senyawa fenol, alkaloid,
triterpenoid,

tanin,flavonoid

(eupatorin)

dan

limonen. Kandungan tanin yang terdapat dalam


daun kirinyuh adalah 2,56%.
B. Krokot (Portulaca oleraceae L)
Kingdom : Plantae

Ciri morfologinya

Ordo:

Caryophyllales

Famili:

Portulacaceae

Genus:

Portulaca

Spesies:

P. oleracea

: Batangnya berwarna merah keunguan, bentuknya


gemuk

dan tebal.

berdaging,

dan

sulfur.Daun

tanaman

Daunnya

bunganya

juga tebal dan


berwarna

krokot merupakan

kuning
daun

tunggal berwarna hijau berbentuk bulat telur, ujung


dan pangkalnya tumpul. Tepi daunnya rata dan
berdaging yang memiliki panjang 1-3 cm dan lebar
1-2cm. Bunga Krokot merupakan bunga majemuk
yang terletak di ujung cabang. Tanaman krokot juga
memiliki kelopak bunga bewarna hijau, bertajuk,
dan bersayap. Mahkota bunga krokot berbentuk
jantung, memiliki 3-5 kepala putik bewarna putih

dan kuning. Buah krokot berbentuk kotak, berwarna


hijau, dan memiliki biji yang banyak. Bijinya bulat
kecil mengkilap, bewarna hitam. Sistem perakaran
Habitat

tanaman krokot yaitu akar tunggang.


: Penyebaran meliputi 50 1000 m diatas

Nilai Ekonomis

permukaan laut
: Sebagai pakan ternak,sayur, tanaman obat, dan
Gelang biasa dapat dijadikan insektisida, karena
mengandung

zat

tanin,

fosfat,

mengandung

magnesium dalam jumlah yang banyak, zat besi,


aluminium, mangan, kalsium, potasium, sodium,
dan urea
C. Putri malu (Mimosa pudica)
Kingdom: Plantae
Divisi:

Magnoliophyta

Kelas:

Magnoliopsida

Ordo:

Fabales

Famili:

Fabaceae

Upafamili: Mimosoideae

Ciri morfologinya

Genus:

Mimosa

Spesies:

M. pudica

: aun putri malu atau sikejut berupa daun majemuk


menyirip ganda dua yang sempurna. Jumlah anak
daun pada setiap sirip sekitar 5 - 26 pasang. Helaian
anak daun berbentuk memanjang sampai lanset,
ujung runcing, pangkal memundar, tepi rata. Jika
kita raba pada permukaan atas dan bawah daun
terasa licin, panjang 6 - 16 mm, lebar 1-3 mm. daun
berwarna hijau, akan tetapi pada tepi daun
umumnya berwarna ungu. Jika daun tersentuh akan
melipatkan diri, menyirip rangkap. Sirip terkumpul
rapat dengan panjang 4-5,5 cm. Batang tumbuhan
putri malu berbeda dengan tumbuhan lainnya, yaitu

batang putri malu berbentuk bulat. Pada seluruh


batangnya terdapat rambut dan mempunyai duri
yang menempel , batang tumbuhan putrid malu
dengan rambut sikat yang mengarah secara miring
kepermukaan tanah atau kearah bawah. Putri malu
biasanya mempunyai bunga yang berbentuk bulat
seperti bola dan tidak mempunya mahkota atau
kelopak bunga yang besar seperti bunga-bunga yang
lain. Akan tetapi kelopak bunga putrid malu
bentuknya sangat kecil dan bergigi empat seperti
selaput putih. Tabung mahkotanya juga berukuran
sangat

kecil,

bertaju

empat

seperti

selaput

putih.Buah putri malu berbetuk polong, pipih seperti


garis dan berukuran sangat kecil jika disbandingkan
dengan buah-buah tumbuhan lainnya.Sama halnya
seperti buah, tanaman putri malu juga memiliki biji,
yang berukuran kecil dan bulat,berbentuk pipih .
putri malu termasuk kedalam tumbuhan yang berbiji
tertutup
Habitat

(Angiospermae)

dan

berkembangbiak

dengan biji.
: Tanaman putri malu biasanya tumbuh diatas tanah
yang lapang baik itu diladang, diperkebunan,
diperkarangan rumah dan pada tempat yang lainnya

Daur hidup
Nilai Ekonomis

disekitar kita.
: berkembang biak dengan biji
: sebagai tanaman obat, dan pencegah erosi karena
memiliki akar yang kuat.

4. Golongan Berdaun Sempit


A. Jukut Pahit (Axonopus compressus)
Kingdom
Divisi
Kelas
Ordo
Family
Genus
Spesies

: Plantae
: Spermatophyta
: Dicotyledoneae
: Poales
: Poaceae
: Axonopus
: Axonopus compressus

(Swartz) Beauv.
Ciri morfologinya

Sistem perakaran tunggang. Akar jukut pahit

memiliki panyak percabangan. Akar jukut pahit


memiliki warna coklat keputih-putihan. Akar jukut
pahit tidak lagi memiliki rambut-rambut halus.
Batangnya tidak berongga, bentuknya tertekan ke
arah lateral sehingga agak pipih, tidak berbulu,
tumbuh tegak berumpun, sering membentuk geragih
yang pada setiap ruasnya dapat membentuk akar
dan tunas baru, di lapangan sering tumbuh rapat
membentuk sheet.
Daunnya berbangun daun lanset, pada
bagian pangkal meluas dan lengkung, ujungnya
agak tumpul, permukaan sebelah atas ditumbuhi
bulu-bulu halus yang tersebar sedang sebelah bawah
tidak berbulu, ukuran panjangnya 2,5-37,5 cm dan
ukuran lebar 6-16 mm.
Bunga jukut pahit (Axonopus compressus (Swartz)
Beauv.) terdiri dari dua sampai tiga tangkai yang
ramping semuanya tergabung secara simpodial
muncul dari upih daun paling atas berkembang
secara berturut-turut, tangkai perbungaan tidak
berbulu, pada bagian ujung (apex) terbentuk dua
cabang bunga atau bulir (spica) yang berhadapan
berbentuk huruf V.

Buah jukut pahit (Axonopus compressus


(Swartz) Beauv.) tersusun dalam dua baris yang
berselang-seling pada kedua sisi sumbu yang rata.
Buah jukut pahit tidak saling tumpang tindih. Buah
jukut pahit berwarna hijau muda. Buah jukut pahit
berukuran kecil. Buah jukut pahit memiliki ukuran
yang kecil.
Biji jukut pahit (Axonopus compressus
(Swartz) Beauv.) berbentuk sangat kecil. Biji jukut
pahit berada di dalam buahnya. Biji jukut pahit
tidak memiliki rambut-rambut halus atau bulu-bulu
halus diseluruh permukaan bijinya. Biji jukut pahit
memiliki warna putih atau memiliki warna putih
kehijau-hijauan. Gulma ini beradaptasi dengan iklim
Daur Hidup

tropis.
: Gulma tahunan ( perennial weeds ), gulma yang
umurnya lebih dari 2 tahun. Gulma ini umumnya
berkembang biak secara vegetatif dan generatif.
Organ

perkembangbiakan

organ-organ
Habitat

tersebut

stolon.

biasanya

Pemotongan
terjadi

saat

pengolahan tanah.
: Tempat-tempat basah, di sepanjang pinggir jalan
dan di rawa-rawa, daerah dibudidayakan, dan

Nilai Ekonomis

terutama di sawah
: Sebagai pakan ternak

B. Eleusine indica (L.) Gaertn


Subkingdom
Super Divisi
Divisi
Kelas
Sub kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Commelinidae
: Poales
: Poaceae
: Eleusine
: Eleusine indica (L.)

Gaertn
Ciri morfologinya

: Memiliki perakaran yang kuat, berumpun dengan


jumlah sedikit buluh sering bercabang pada begian
pangkalnya, tinggi tiap buluh bias mencapai 50 cm,
tiap buku terdapat 3-5 daun yang saling menutupi,
dari ketiak daun tumbuh tunas baru. Pelepah
berwarna hijau muda, berbulu halus panjang.
Perbungaan tegak berdiri diatas 4-6 butir terpusat
diujung, 1 atau 2 butir yang dibawah berseling,
panjang bulir 3-5 cm, buliran rata dan licin 4-12

Daur Hidup

bunga.
: Semusim, Berumur pendek, Berkembangbiak

Habitat

dengan biji, Dapat tumbuh pada 200 m dpl.


: Jenis rumput belulang ini Tumbuh liar, biasanya di
lapangan atau pinggir pinggir jalan, memmiliki
sedikit bulu halus, akar sangat kuat, dapat tinggi

Nilai Ekonomis

sampi 50cm.
: Rumput ini sebagai makan ternak oleh peternak
Guinea pig sejak dulu dan rumput ini juga di
berikan sebagai pakan kambing. rumput ini sangat
terbatas untuk jumlah besar. Sangat di sukai Guinea
Pig.

C. Paspalum conjugatum Berg.


Kingdom
Divisio
Subdivisio
Kelas
Ordo
Family
Genus
Spesies

: Plantae
: Spermatophyta
: Angiospermae
: Monocotyledoneae
: Poales
: Poaceae
: Paspalum
: Paspalum conjugatum

Berg.
Ciri morfologinya

: Akar Jukut Pahit ( Paspalum conjugatum Berg )


merupakan akar serabut (radix adventica) yang

halus. Berwarna putih hingga kekuning-kuningan


dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop)
mencapai 20 cm di dalam tanah. Selain itu, akar
terbentuk seperti benang (filiformis) serta tidak
memiliki ruas-ruas dan tudung akar (calyptra).
Batang Jukut Pahit ( Paspalum conjugatum
Berg ) agak pipih (phyllocladium) dengan tinggi 2075 cm, serta tidak berbulu. Warnanya hijau bercorak
ungu, tumbuh tegak (erectus) dan termasuk batang
rumput

(calmus).

Permukaan

batang

berusuk

(costatus) dimana terdapat rigi-rigi yang membujur.


Daun Jukut Pahit ( Paspalum conjugatum
Berg ) memiliki helai daun berbentuk pita
(ligulatus) dengan ujung daun runcing (acutus).
Serta berbulu di sepanjang tepinya dan pada
permukannya. Pangkal daun membulat (rotundatus),
dengan panjang daun berkisar 2,5-37,5 cm dan lebar
6-16 mm. Selain itu, tepi daun tampak berombak
(repandus).
Bunga Jukut Pahit ( Paspalum conjugatum
Berg ) termasuk tumbuhan berbunga tunggal (planta
uniflora) yang tumbuh pada ujung batang (flos
terminalis). Selain itu, ibu tangkai bunga tidak
bercabang-cabang,

sehingga

bunga

langsung

terdapat pada ibu tangkainya. Berkembangbiak


Habitat

dengan biji.
: Tumbuh sampai ketinggian sekitar 2.000 m dpl.
Senang tumbuh di tempat yang lembab dan tidak
menyukai kekeringan. Menghasilkan daun yang
sedikit, kebanyakan tumbuh sebagai gulma yang

Nilai Ekonomis

mengganggu tanaman pertanian.


: Dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

D. Rumput Jukut caladi (Melinis minutiflora)


Kingdom

: Plantae

Subkingdom
Superdivision
Division
Class
Subclass

: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Commelinidae

Order Cyperales
Family
: Poaceae
Genus
: Melinis P. Beauv.
Species
: Melinis minutiflora
P. Beauv.
Ciri morfologinya

Rumput perennial membentuk hamparan yang

tebal. Batang yang tau mempunyai sifat merambat.


Perakarannya luas dan dalam. Daunnya halus
ditutupi oleh bulu-bulu dan menghasilkan semacam
eksudat yang bersifat lekat. Daun tersebut juga
menghasilkan

semacam

minyak

eteritis

yang

menyebabkan bau rangsang, tetapi dilaporkan


bahwa bau ini tidak mempengaruhi bau air susu atau
daging dari sapi yang memakannya. Bungany
berbentuk

mayang

dengan

warna

keunguan.

Sedangkan bijinya mempunyai daya tumbuh yang


Daur Hidup

cukup baik.
: Terdapat di sungaidaerah dataran rendah terbuka.
Dapat tumbuh di tanah berat atau ringan, sepanjang

Habitat

sungai dan saluran air, di lahan sawah.


: Ada pada daerah tropis yang berasal dari afrika

Nilai Ekonomis

tropis
: Sebagai pakan ternak

E. Eleusine indica (L.) Gaertn


Kingdom
: Plantae
Superdivision : Spermatophyta
Division
: Magnoliophyta
Class
: Liliopsida
Subclass
: Commelinidae
Ordo
: Cyperales
Family
: Poaceae
Genus
: Leptochloa P. Beauv.
Species
: Leptochloa chinensis (L.)

Nees
Ciri morfologinya

Sebuah tanaman tahunan yang berumbai dan

halus, memiliki tinggi sampai dengan 120 cm.


Batang : ramping, berongga, tegak atau meninggi
dari dasar bercabang, perakaran pada node yang
lebih rendah, halus dan tanpa bulu, umumnya
memiliki 10-20 node, dan dapat mencapai setinggi
50-100-cm. Daun : halus, linier, panjang 10-30 cm,
panjang membrane ligule 1-2. Perbungaan: sempit
oval, malai longgar, panjang poros utama 10-40 cm,
dan dengan cabang yang berbentuk duri seperti
cabang menyirip, panjang bulir 2-3,2 mm, keunguan
Daur Hidup

atau hijau dan 4-6 bunga.


: Lahan basah, rawa, atau sungai di daerah dataran
rendah terbuka.Dapat tumbuh di tanah berat atau
ringan, sepanjang sungai dan saluran air, di lahan

Habitat

sawah
: Afrika Tenggara, dari Kenya ke Afrika Selatan,
Asia, dari India dan Sri Lanka ke Asia Tenggara,
juga China, Jepang, dan Korea, Australia, New

Nilai Ekonomis

Guinea.
: digunakan sebagai pakan untuk hewan.Biji-bijinya
dapat berfungsi sebagai makanan bencana kelaparan
di Afrika Timur.

4.2 PEMBAHASAN
Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial)
dan alami (natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan
hanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja,
sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai
hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan
sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan
mungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demkian inilah yang
merupakan kelemahan utama dari kalsifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi
sistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat
morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasi
sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang
mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok
yang sama.
Cara klasifikasi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas
dasar pengelompokan yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma
menjadi kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang berbeda pula.
Masing-masing kelompok memperlihatkan perbedaan di dalam pengendalian.
Gulma dapat dikelompokan seperti berikut ini :
a. Gulma setahun (gulma semusim, annual weeds), yaitu gulma yang
menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun
atau paling lama satu tahun (mulai dari berkecambah sampai
memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya
hanya seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut sering disebut
sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan,
tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma
tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek,
menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji
yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya. Di Indonesia
banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun, contohnya Echinochloa
crusgalli, Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis
flava, Fimbristylis littoralis dan lain sebagainya.
b. Gulma dua tahun (biennial weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan
siklus hidupnya lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun.

Pada

tahun

pertama

digunakan

untuk

pertumbuhan

vegetatif

menghasilkan bentuk roset dan pada tahun kedua berbunga,


menghasilkan biji dan kemudian mati. Pada periode roset gulma
tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk gulma dua tahun
yaitu Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium
altissimum dan Artemisia biennis.
c. Gulma tahunan (perennial weeds), yaitu gulma yang dapat hidup lebih
dari dua tahun atau mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun).
Kebanyakan berkembang biak dengan biji dan banyak diantaranya yang
berkembang biak secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di
musim kemarau) gulma tersebut seolah-olah mati karena bagian yang
berada di atas tanah mengering, akan tetapi begitu ada air yang cukup
untuk pertumbuhannya akan bersemi kembali.

V . KESIMPULAN
Gulma menurut Mangoensoekarjo (1983) adalah tumbuhan pengganggu
yang nilai negatif apabila tumbuhan tersebut merugikan manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung dan sebaliknya tumbuhan dikatakan
memiliki nilai positif apabila mempunyai daya guna manusia.
Dalam mengidentifikasi gulma dapat ditempuh satu atau kombinasi dari
sebagian atau seluruh cara-cara dibawah ini:
Membandingkan gulma tersebut dengan

material

yang

diidentifikasi di herbarium.
Konsultasi langsung dengan para ahli dibidang yang bersangkutan
Mencari sendiri melalui kunci identifikasi
Membandingkan dengan determinasi yang telah ada.
Membandingkan dengan ilustrasi yang tersedia

telah

DAFTAR PUSTAKA
Barus, Emanuel. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta
Buhman, R dkk. 1999. Gulma dan Teknik pengendaliannya. Yogyakarta:
Konisius
Djafarudin. 1996.Dasar-dasar

Perlindungan Tanaman Umum. Jakarta: Bumi

Aksara.
Moenandir, j. 1993. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya. Jakarta.
Nurjanah,Uswatun dkk. 2013. Penuntun Praktikum Pengendalian Gulma.
FAPERTA UNIB. Bengkulu.
Sasfroutomo, s.s. 1990. Ekologi Gulma. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka.
Sukman,Yernelis dan Yakup.1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya.
Palembang: FAPERTA UNSRI
Rukman, Rahmat dan Sugandi Saputra. 1999.Gulma dan Teknik Pengendalian.
Jogjakarta: Kanisius