Anda di halaman 1dari 19

Presentasi Kasus

OTOMIKOSIS

Presentator : Dika Amelinda


Moderator : dr. Anna Mintarti

Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher


Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada / RSUP DR. Sardjito
Yogyakarta
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Otomikosis atau Fungal Ototitis Eksterna adalah infeksi jamur


yang melibatkan pinna dan kanalis auditorius eksternus, namun dengan
adanya perforasi membran timpani, juga dapat melibatkan telinga tengah.
Karakteristik otomikosis berupa peradangan, gatal, otalgia, otore, rasa penuh
di telinga, gangguan pendengaran dan tinnitus. Kasus otomikosis yang disertai
perforasi membran timpani, infeksi telinga tengah dan keterlibatan infeksi
tulang temporal, sering berhubungan dengan kondisi pasien yang
mengalami imunosupresi1,2,3.
Penyebab otomikosis pada umumnya adalah spesies jamur saprofitik
yang banyak terdapat di alam dan merupakan sebagian dari flora komensal
pada kanalis auditorius normal. Spesies terbanyak adalah Aspergillus dan
Candida. Aspergillus niger memproduksi koloni hitam yg memberikan
gambaran pepper like sedangkan Candida albicans dan Aspergillus
fumigatus memberi gambaran klasik seperti fluffy white discharge 4.
Kejadian otomikosis banyak ditemukan di daerah iklim tropis dan

subtropis yang lembab. Prevalensi otomikosis 9%-22,7% dari total kasus otitis
externa, dan 30% pada pasien dengan gejala keluarnya cairan pada telinga 5.
Distribusi jenis jamur pada otomikosis tergantung lokasi geografis.
Walaupun jarang menimbulkan bahaya, keberadaannya memberi tantangan
dan rasa frustasi pada pasien dan ahli THT karena memerlukan follow up dan
pengobatan jangka panjang yang disebabkan oleh tingginya angka rekurensi 5,6.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar,
telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar terdiri dari aurikula, kanalis
auditorius eksternus hingga lapisan epital membran timpani. Aurikula dan
kanalis auditorius eksternus mengandung tulang rawan elastis yang berasal dari
mesoderm dan sedikit jaringan subkutan, yang ditutupi oleh kulit dengan
kelenjar pelengkapnya7.
Aurikula merupakan tulang rawan elastis yang simetris secara bilateral.
Lekukan utama aurikula terdiri dari heliks, antiheliks, tragus, antitragus, dan
konka. Heliks merupakan lingkaran aurikula terluar yang besar. Heliks berakhir
di inferior pada lobulus, satu-satunya bagian aurikula yang tidak disangga oleh
tulang rawan. Konka aurikula adalah bagian tengah aurikula yang bergaung,
dan kanalis auditorius eksternus berjalan mulai dari daerah ini. Elevasi di
anterior pada pembukaan kanalis auditorius eksternus, yang terletak di depan
konka adalah tragus. Elevasi lain yang berlawanan dengan tragus, dan terletak
di atas lobulus adalah antitragus. Lingkaran berlekuk yang lebih kecil, paralel
dan terletak anterior dari heliks adalah antiheliks. Aurikula berhubungan dengan
banyak otot-otot intrinsik dan ekstrinsik.9

Gambar 1. Anatomi Aurikula (Sumber: Grays Anatomy for Student,2007)

Seluruh kanalis auditorius eksternus dilapisi oleh epitel skuamosa


berlapis dengan keratinisasi, yang lebih tebal di bagian tulang rawan (0,5
sampai 1 mm) dibandingkan bagian osseus (0.2 mm). Pada kanalis auditorius
eksternus bagian tulang rawan terdiri dari lapisan epidermis dengan
papillanya, dermis dan subkutan melekat dengan perikondrium. Lapisan
kulit kanalis auditorius eksternus bagian tulang tidak mengandung papilla,
melekat erat dengan periosteum tanpa lapisan subkutan, berlanjut menjadi
lapisan luar dari membran timpani dan menutupi sutura antara tulang timpani
dan tulang skuama. Kulit ini tidak mengandung kelenjar dan rambut8.
Kanalis auditorius eksternus dapat dibagi menjadi dua bagian. 40%
bagian luar merupakan tulang rawan dan mengandung lapisan tipis jaringan
subkutan antara kulit dan tulang rawan. Kulit bagian tulang rawan kanalis
mengandung banyak sel-sel rambut dan kelenjar-kelenjar sebasea dan apokrin
seperti kelenjar serumen. Ketiga struktur ini bersama-sama memberikan fungsi
protektif dan disebut sebagai unit apopilosebasea. Sekresi dari kelenjar ini,

dikombinasikan dengan lapisan keratin deskuamasi dari stratum korneum,


membentuk

asam (pH 6,0-6,5), mantel lilin dari cerumen yang berfungsi

sebagai penghalang terhadap infeksi dan luka pada kulit. 60% bagian dalam
merupakan tulang, dibentuk terutama oleh anulus timpani, dan mengandung
jaringan lunak yang sangat sedikit. Oleh sebab itu, kulit bagian tulang kanalis
tidak mengandung kelenjar-kelenjar dan sel-sel rambut. Panjang rata-rata
kanalis auditorius eksternus orang dewasa adalah 2,5 cm. Pertemuan bagian
kartilago dan bagian tulang kanalis merupakan bagian yang menyempit yang
disebut isthmus.7

Gambar 2. Potongan koronal kanalis auditorius eksterna. Kulit pada bagian kartilago
dan bagian tulang diperbesar. (Sumber: Lalwani, 2008)

Kanalis melekuk sedikit di superior dan posterior dalam bentuk huruf S


dari lateral ke medial. Aurikula perlu ditarik secara halus ke arah atas, keluar
dan ke bawah untuk meluruskan kanalis pada pemeriksaan. Ada tiga
mekanisme perlindungan makroskopis yang melindungi kanalis auditorius
eksternus dan permukaan lateral membran timpani : tragus dan antitragus, kulit
dengan lapisan serumennya, dan isthmus kanalis auditorius eksterna. Lapisan

serumen secara bertahap berpindah melewati isthmus ke bagian lateral kanalis


dan mengelupas di luar7.
Kanalis auditorius eksternus merupakan struktur yang normalnya dapat
melindungi dan membersihkan diri sendiri. Epitel kanalis auditorius eksterna
mempunyai kapasitas untuk bermigrasi ke lateral, yang memungkinkan kanalis
tetap tidak terobstruksi oleh debris. Kecepatan migrasi epitel adalah 0,07
mm/hari dan terjadi pada lapisan sel basal. Gerak saluran telinga yang
disediakan oleh gerakan mengunyah biasa bersama-sama dengan proses
proliferasi epitel dan migrasi lateral yang mendorong serumen ke luar dengan
cara self-cleansing 8 .
Vaskularisasi
Telinga luar mendapatkan suplai darah dari cabang arteri carotis
eksterna, adapun vaskularisasi bagian anterior dari a . Auriculo temporalis (a.
temporalis superficialis), bagian posterior dari a. Auricularis posterior, bagian
medial dari a. Auricularis profunda ( a. maxillaris )7.
Inervasi
Persarafan telinga luar terdiri dari Nervus auricularis mayor cabang
nervus spinalis C2-C3 yang menginervasi kulit auricula dan 1/3 lateral kulit
diatas permukaan prosesus mastoideus. Nervus occipitalis minor

(bag C2)

menginervasi kulit auricula 1/3 posterior. Nervus auriculo temporalis


merupakan cabang N. V (trigeminus) yang menginervasi kulit auricula 2/3
anterior, 1/2 bag anterior KAE dan membrana timpani. Nervus tympanicus,
cabang dari N IX (N glosopharyngeus) yang menginervasi permukaan luar
membran timpani. Nervus Arnold cabang dari nervus vagus (N. X) yang
menginervasi sebagian kecil auricula, 1/2 bagian posterior kanalis auditorius
eksternus dan membran timpani9,10.

Limfonodi
Aliran limfe kanalis auditorius eksternus merupakan jalur penting untuk
penyebaran infeksi. Kelenjar limfe telinga luar terdiri dari tiga bagian yaitu : 1)
Limfonodi parotis superfisialis yang menerima aliran kelenjar limfe dari daerah
tragus dan bagian anterior aurikula, 2) Limfonodi retroaurikuler yang menerima
aliran kelenjar limfe dari posterior dan kranial aurikula, 3) Limfonodi cervikalis
superfisialis yang menerima aliran kelenjar limfe dari daerah lobulus7,9,10.
B. OTOMIKOSIS
1. Definisi
Otomikosis atau Fungal Ototitis Eksterna adalah infeksi jamur yang
melibatkan pinna dan kanalis auditorius eksternus, namun dengan adanya
perforasi membran timpani, juga dapat melibatkan telinga tengah 1.

2. Etiologi
. Beberapa penulis menyatakan bahwa jenis Aspergillus dan Candida
banyak ditemukan pada pasien-pasien dengan otomikosis. Jenis yang lain
seperti Mucor, Fusarium, Scedosporium, Hendersonula, Rhodotorula, dan
Cryptococcus jarang menyebabkan otomikosis. Jamur dari jenis Monilial dan
dermatophyta (Trichophyton ssp, Microsporum spp, dan Epidermophyton
floccosum) diduga juga berhubungan dengan kejadian otomikosis11.
3. Patogenesis dan Faktor Predisposisi
Pada kondisi normal, terdapat berbagai mikroorganisme pada liang
telinga yang merupakan organisme komensal. Organisme ini bersifat non
pathogen selama terdapat keseimbangan antara sistem pertahanan tubuh dengan
berbagai organisme tersebut. Kanalis auditorius yang intak mempunyai
kemampuan untuk membersihkan dirinya sendiri dengan migrasi sel epitel yang
terkelupas keluar bersama dengan serumen. Serumen menjaga kanalis
auditorius eksternus dalam kondisi asam. pH kanalis auditorius eksternus

mempunyai rentang antara 4,2 hingga 5,6. Kondisi asam tersebut mempunyai
efek anti-mikotik dan bakteriostatik. Kerusakan dari setiap pelindung KAE
dapat menyebabkan kolonisasi dan invasi oleh organisme patogen4,11.
Kejadian otomikosis berhubungan dengan berbagai faktor predisposisi.
Faktor yang mempengaruhi perubahan jamur saprofit komensal menjadi agen
pathogen antara lain : Faktor lingkungan terdiri dari suhu dan kelembaban.
Faktor lokal termasuk infeksi kronik pada telinga, penggunaan tetes telinga,
penggunaan steroid, adanya infeksi jamur pada bagian tubuh lainnya seperti
dermatomikosis, gangguan fungsi imunitas, malnutrisi dan perubahan hormonal
tubuh yang dapat memicu timbulnya infeksi seperti pada keadaan menstruasi
ataupun pada wanita hamil. Otomikosis meningkat pada iklim panas dan
lembab karena kondisi ini sangat sesuai untuk proses pertumbuhan jamur.
Kondisi panas dan lembab juga berpengaruh pada permukaan epitel liang
telinga karena dalam kondisi ini liang telinga lebih banyak menyerap air
sehingga sangat rentan terhadap infeksi1,11,12 .
Ho et all menyebutkan laki-laki lebih banyak menderita otomikosis
daripada wanita, hal ini diduga karena laki-laki lebih banyak bekerja di luar
rumah, ditempat lingkungan yang berdebu, sehingga mengakibatkan mudah
terpapar spora jamur14.
4. Diagnosa
Penegakan diagnosa otomikosis berdasarkan anamnesa, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan otoskopik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa
pasien dengan otomikosis biasanya akan didapatkan keluhan gangguan
pendengaran. Selain itu gejala lain yang sering dirasakan adalah keluhan rasa
gatal, otore (keluar cairan dari telinga), otalgia (sakit pada telinga), dan tinnitus.
Gejala gangguan pendengaran pada kasus otomikosis biasanya disebabkan oleh
adanya akumulasi dari debris mikotik dalam liang telinga. Viswanatha meneliti
bahwa pada pasien immunocompromised 80 % mengeluhkan gatal, diikuti

otore 64 %, otalgia 48 %, rasa penuh pada telinga 44 %, penurunan


pendengaran 28 % dan Tinnitus 24 %. Dimana hasil ini ternyata tidak jauh
berbeda pada pasien immunocompetent6,13,16.
Pemeriksaan fisik pada pasien otomikosis akan ditemukan adanya
debris berwarna putih, kehitaman, atau membran abu-abu yang berbintik-bintik
di liang telinga. Bercak karena Aspergillus niger cenderung berwarna gelap
kehitaman dan Candida albicans berwarna putih5,11.
Diagnosa pasti otomikosis ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang
yang cukup sederhana, yaitu dengan memeriksa sampel debris atau swab bercak
pada kaca preparat yang difiksasi dengan larutan KOH 15% - 30%. Selanjutnya
dilihat melalui mikroskop dan akan tampak hifa ataupun spora dari jamur.
Pemeriksaan penunjang lain adalah kultur debris dari liang telinga dengan
menggunakan media Saborauds dextrose 5,11.
5. Terapi
Terapi efektif pada pasien dengan kolonisasi kronis Aspergillus pada
kanalis akustikus eksternus adalah dengan kombinasi antara pembersihan debris
dan anti jamur topical. Pengobatan sistemik tidak direkomendasikan, kecuali
mungkin pada kasus invasif otitis (akut atau kronis) eksterna maligna dengan
komplikasi mastoiditis atau meningitis, atau keduanya. Kebanyakan pasien
berhasil dengan pengobatan topikal. Keuntungan anti jamur topikal yaitu
aplikasi lokal, konsentrasi yang diinginkan dari obat pada permukaan kulit akan
dicapai tak lama setelah aplikasi, dan konsentrasi yang lebih tinggi dari anti
jamur tersebut pada lokasi yang terinfeksi . Perhatian khusus harus diberikan
kepada pilihan sediaan yang antara lain: solution, suspensi, krim, salep, atau
gel. Pasien otomikosis dengan membran timpani yang intak dapat
menggunakan formulasi anti jamur antara lain, salep, gel, dan krim. Ketika
membran timpani perforasi, obat-obat ini tidak boleh digunakan karena partikel

kecil dari krim, salep, atau gel dapat menyebabkan peradangan, dengan
perkembangan jaringan granulasi di telinga tengah. Obat topikal anti jamur
yang soluble (obat tetes telinga atau strip kasa diresapi dengan solution) sebagai
pengobatan membran timpani perforasi sangat dianjurkan. Yang harus
dipertimbangkan agar tepat memilih obat anti jamur topical, antara lain ; larut
dalam air, risiko rendah ototoksik, efek alergi rendah setelah pemberian
berulang, obat anti mikotik spektrum

luas

dengan efek lokal yang baik

terhadap ragi dan jamur, cocok untuk aplikasi pada pasien anak dan tersedia di
pasaran11,12.
Sediaan anti jamur dapat dibagi menjadi tipe spesifik dan non spesifik.
Antijamur non spesifik termasuk larutan asam dan dehydrating solution
seperti : 1) Asam asetat 2% adalah asam cuka untuk menjaga pH telinga tetap
asam. 2) Gentian Violet dipersiapkan sebagai solusi konsentrat yang rendah
(misalnya 1%) dalam air. Telah digunakan untuk mengobati otomycosis karena
merupakan pewarna anilin dengan antiseptik, antiinflamasi, antibakteri dan
antijamur. Hal ini masih digunakan di beberapa negara dan disetujui FDA
(Food and Drug Administration). Studi melaporkan hingga 80% efficacy. 3)
Castellanis paint (aseton, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol). 4) Cresylate
(merthiolate, M-cresyl asetat, propilen glikol, asam borat dan alkohol). 5)
Merkurokrom, sebuah antiseptik topikal terkenal, anti jamur tetapi tidak lagi
disetujui oleh FDA karena kandungan merkuri di didalamnya 12.
Terapi anti jamur spesifik terdiri dari: 1) Nystatin adalah antibiotik
makrolida poliena yang menghambat sintesis sterol pada membran sitoplasma.
Banyak cetakan dan ragi yang sensitif terhadap Nystatin termasuk spesies
Candida. Sebuah keuntungan besar dari Nystatin adalah mereka tidak terserap
dalam kulit utuh. Nystatin tidak tersedia sebagai larutan otik untuk otomikosis

10

Nystatin dapat diresepkan sebagai krim, salep atau bubuk. Dengan tingkat
keberhasilan hingga 50-80% . 2) Azoles adalah agen sintetis yang mengurangi
konsentrasi ergosterol merupakan sterol penting dalam membrane sitoplasma
normal. Clotrimazole yang paling banyak digunakan sebagai azol topikal
tampaknya menjadi salah satu agen terapi yang paling efektif dalam otomikosis
dengan bunga efektifitas 95-100%. Clotrimazole memiliki efek bakterisid dan
hal ini merupakan keuntungan bila terdapat infeksi campuran dari bakteri dan
jamur. Ketokonazole dan Fluconazole memiliki aktivitas spektrum yang luas.
Efikasi Ketoconazole dilaporkan 95-100% terhadap spesies Aspergillus dan
Candida. Sediaan yang sering adalah sebagai krim 2%. Fluconazole topikal
telah dilaporkan efektif dalam 90% kasus. Krim Miconazole 2% juga telah
menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 90% . Bifonazole adalah agen anti
jamur dan umum digunakan dalam 80-an. Potensi larutan 1% mirip dengan
Clotrimazole dan Miconazole. Bifonazole dan turunannya menghambat
pertumbuhan jamur hingga 100% . Itraconazole juga memiliki invitro dan efek
vivo terhadap spesies Aspergillus12.
Prinsip penatalaksanaan pada pasien otomikosis adalah pengangkatan
jamur dari liang telinga, menjaga agar liang telinga tetap kering serta
bersuasana asam, pemberian obat anti jamur, serta menghilangkan faktor risiko.
Tindakan pembersihan liang telinga bisa dilakukan dengan berbagai macam
cara antara lain dengan lidi kapas/kapas yang dililitkan pada aplikator, pengait
serumen, atau suction. Beberapa penulis mempercayai bahwa yang terpenting
dari terapi otomikosis adalah mengetahui jenis agen penyebab infeksi tersebut
sehingga terapi yang tepat dapat diberikan. Clotrimazole memiliki efek anti
bakteri sehingga memberikan keuntungan terdapat infeksi campuran jamurbakteri. Anti jamur krim dari Ketoconazole dan Fluconazole juga bisa dapat

11

digunakan. Infeksi Candida biasanya mengunakan Tolnaftate. Nystatin juga


dipercaya efektif melawan Candida 5.
Terapi otomikosis dengan anti jamur membutuhkan waktu 3 minggu
untuk mencegah rekurensi. Terapi berkelanjutan diberikan walaupun pasien
sudah bebas dari gejala15.
Edukasi antara lain tidak mengorek-ngorek telinga baik dengan korek
telinga ataupun jari, menjaga kelembaban dan pH normal seperti tidak
menggunakan obat steroid dan antibiotik berlebihan pada kanalis auditorius
eksternus 4,11,12,14.

BAB III
LAPORAN KASUS

12

A. IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Alamat
Rekam medis

: Tn. A,F
: 42 tahun
: Laki-laki
: Wiraswasta
: Condong Catur, Yogyakarta
: 01.49.06.74

B. ANAMNESA
Keluhan utama : gatal pada liang telinga kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
4 minggu sebelum os berobat ke poliklinik THT RSUP Dr. Sardjito, os
merasakan gatal pada liang telinga kanan Rasa gatal dirasakan terus menerus
dan semakin memberat 5 hari terakhir. Os juga merasa liang telinga kanan
terasa penuh dan pendengarannya terganggu. Rasa nyeri pada telinga tidak ada,
keluarnya cairan dari telinga tidak ada, telinga berdenging tidak ada, sakit
kepala berputar tidak ada. Pasien belum pernah mendapat pengobatan
sebelumnya. os memiliki riwayat kencing manis sudah 5 tahun, dan tidak
pernah berobat maupun kontrol rutin untuk cek gula darah. Keluhan hidung dan
tenggorokan tidak ada.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat gatal pada liang telinga sebelumnya ada
Riwayat alergi disangkal
Riwayat kencing manis ada sudah sejak 5 tahun
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit alergi pada keluarga disangkal
Riwayat kencing manis dalam keluarga ada

C. PEMERIKSAAN FISIK

13

Keadaan Umum:
Sedang, compos mentis, gizi cukup
TD: 130/70 MmHg, Nadi: 90x/menit, Suhu: 36,7C, Frekuensi Pernapasan:
22x/menit
Pemeriksaan THT:
Pemeriksaan Telinga
Auris Dextra
Inspeksi
Palpasi
Otoskopi

Auris Sinistra

Aurikula : hiperemi (-), Edema (-), Aurikula : hiperemi (-), Edema (-),
Deformitas (-)
Deformitas (-)
Nyeri tragus (-), Nyeri mastoid (-)
Nyeri tragus (-), Nyeri mastoid (-)
KAE : tampak debris berwarna KAE : discharge (-), hiperemis (-),
putih. hiperemis (+), edema (-), edema (-), Membran timpani intak,
Membran timpani intak
refleks cahaya (+)

Pemeriksaan Hidung
Dextra

Sinistra

Inspeksi
Palpasi

Deformitas (-), discharge (-), hiperemi (-), lesi (-)


Deformitas (-), krepitasi (-)

Rhinoskopi Anterior

Konka: hiperemis (-), Konka: hiperemis (-), edema (-),


edema (-), massa (-)
massa (-)
Septum : deviasi (-)
Septum : deviasi (-)

Rhinoskopi Posterior

Konka: hiperemis (-), Konka: hiperemis (-), edema (-),


edema (-), massa (-)
massa (-)
Septum : deviasi (-)
Septum : deviasi (-)

Pemeriksaan orofaring tidak didapatkan hiperemis maupun pembesaran tonsil (T1-T1)


Pemeriksaan laringoskop indirek tidak ditemukan kelainan
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan swab debris dari liang telinga dengan pemeriksaan KOH 10%
diperoleh hasil hifa (+).

14

E. DIAGNOSA
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka dapat
ditegakkan diagnosis terhadap pasien ini adalah Otomikosis Auris Dextra .
F. PENATALAKSANAN
Membersihkan debris pada liang telinga kanan (aural toilet)
Terapi medikamentosa berupa:
Tampon kassa Miconazole pada telinga kanan
Cetirizine 1 x 10 mg
Konsultasi ke bagian Penyakit Dalam untuk tatalaksana Diabetes Mellitus
Memberikan edukasi kepada pasien
- Menjaga agar telinga tetap kering
- Tidak boleh mengorek-ngorek telinga dengan jari maupun cotton bud
G. MASALAH
Rekurensi
H. PLANNING
Kontrol 2 hari
I. FOLLOW UP
Setelah 2 hari, pasien kontrol ke poliklinik THT didapatkan keluhan gatal
sudah berkurang. Pada pemeriksaan otoskopi telinga kanan didapatkan
debris minimal dan hiperemis berkurang. Pasien dilanjutkan terapi tampon
Miconazole selama 2 minggu dengan evaluasi tampon 2 hari sekali.

15

BAB IV
DISKUSI

Diagnosis otomikosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesa,


yaitu adanya rasa gatal pada liang telinga, rasa penuh pada liang telinga,
penurunan pendengaran dan kotoran berwarna putih. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan debris berwarna putih pada liang telinga kanan. Pemeriksaan
penunjang dengan melakukan pemeriksaan KOH didapatkan hasil hifa (+).
Pasien adalah penderita Diabetes Mellitus yang tidak pernah berobat
maupun rutin kontrol untuk memeriksa gula darah. Rekurensi terjadi karena
pasien adalah penderita diabetes yang tidak terkontrol. Fasunla et al
berpendapat bahwa risiko terjadinya rekurensi pada otomikosis salah satunya
adalah karena tidak terkontrolnya glukosa plasma akibat ketidak patuhan pasien
terhadap pengobatan hiperglikemianya. Hiperglikemia merupakan salah satu
kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi jamur untuk dapat tumbuh3.

16

Hallawa et al menyebutkan terapi otomikosis dengan anti jamur


membutuhkan waktu 3 minggu untuk mencegah rekurensi. Terapi
berkelanjutan diberikan walaupun pasien sudah bebas dari gejala15
.

Meskipun pada pasien ini telah dilakukan pembersihan liang telinga dan

pemberian tampon anti jamur, namun rekurensi masih menjadi pertimbangan


masalah kedepan. Hal tersebut bisa disebabkan beberapa faktor, antara lain
adanya faktor predisposisi yaitu Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol pada
pasien, kepatuhan pasien dalam menjalankan edukasi yang telah diberikan,
kepatuhan dalam menggunakan obat sesuai aturan, dan respon jamur terhadap
pengobatan.

Untuk

itu

perlu

adanya

anjuran

kontrol

ulang

secara

berkesinambungan untuk mengevaluasi respon penyakit sehingga tidak


menimbulkan komplikasi kedepannya3 13.

BAB V
KESIMPULAN

Dilaporkan pasien laki-laki, usia 42 tahun dengan diagnosis otomikosis


pada kanalis auditorius eksterna kanan. Terhadap pasien ini telah dilakukan
pembersihan liang telinga, pemberian tampon anti jamur, dan diberikan
edukasi. Setiap 2 hari sekali, pasien dianjurkan untuk kembali agar dapat
dievaluasi hasil terapi yang telah diberikan. Diharapkan terapi yang diberikan
cukup efektif sehingga kemungkinan terjadinya kekambuhan dapat dihindari.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Barati, B., et al. "Otomycosis in central iran: a clinical and mycological
study."Iranian Red Crescent Medical Journal 2011 : 873.
2. Mahmoudabadi AZ, Masoomi SA, Mohammadi H. Clinical and
mycological studies of otomycosis.Pak J Med Sci 2010 : 187-190.
3. Fasunla, J., Ibekwe, T. and Onakoya, P. (2008), Otomycosis in western
Nigeria. Mycoses,2007.
4. Alexis Jackman, Robert Ward, Max April, John Bent, Topical antibiotic
induced
otomycosis,
International
Journal
of
Pediatric
Otorhinolaryngology, Volume 69, Issue 6, June 2005.
5. Sampath Chandra Prasad, Subbannayya Kotigadde, Manisha Shekhar, et
al., Primary Otomycosis in the Indian Subcontinent: Predisposing
Factors, Microbiology, and Classification, International Journal of
Microbiology, 2014.
6. Ajay Philip, Regi Thomas, Anand Job, V. Rajan Sundaresan, Shalini
Anandan, and Rita Ruby Albert, Effectiveness of 7.5 Percent Povidone
Iodine in Comparison to 1 Percent Clotrimazole with Lignocaine in the
Treatment of Otomycosis, ISRN Otolaryngology, vol. 2013.
7. Bailey, Byron J.; Johnson, Jonas T.; Newlands, Shawn D, Head & Neck
Surgery-Otolaryngology, 4th Edition, Chapter 135: Infections of The
External Ear, Lippincott Williams & Wilkins.2014.

18

8. Lalwani AK, Disease of The External Ear. In: Current Diagnosis &
treatment otolaryngology Head & Neck Surgery,2nd ed. Chapter 47,
McGrawhill Lange. New York.2008.h.624-6.
9. Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Ear Anatomy. In: Grays anatomy for
student, Chapter 8, Elsevier.2007:855-858.
10. Liston SL, Duvall III AJ. Embriologi, anatomi dan fisiologi telinga. Dalam:
Boies: Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.1997.h.27-31.
11. Vennewald, I., Nat, R., Klemm E. Otomycosis: diagnosis and treatment.
Clinics in Dermatology 2010; 28: 202211.
12. Munguia R, Daniel SJ, 2008. Ototopical antifungals and otomycosis: a
review. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 2008; 72:
453 459.
13. Viswanatha, Borlingegowda,M.S., D.L.O., Sumatha, D., M.B.B.S., &
Vijayashree, Maliyappanahalli Siddappa,M.B.B.S., M.S.. Otomycosis in
immunocompetent and immunocompromised patients: Comparative
study and literature review.Ear, Nose & Throat Journal, 91(3), 2012,
114-21.
14. Ho T, Vrabec JT, Yoo D, Coker NJ. Otomycosis: clinical features and treatment
implications. Otolaringology-Head and Neck Surgery 2006; 135: 787-791.

15. Abou-Halawa AS, Khan MA, Alrobaee AA, Alzolibani AA, Alshobaili
HA. Otomycosis with perforated tympanic membrane: self medication
with
topical
antifungal
solution
versus
medicated
ear
wick. International Journal of Health Sciences. 2012;6(1):7377.
16. Anwar K, Gohar MS. Otomycosis; clinical features, predisposing
factors and treatment implications. Pak J Med Sci 2014;30(3):564-567.

19