Anda di halaman 1dari 21

Presentasi Kasus

OTOMIKOSIS

Presentator : Rahmawati Nurul Syabani


Moderator : dr. Ratna K

Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher


Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada / RS DR. SardjitoYogyakarta

2015
BAB I
PENDAHULUAN
Otomikosis atau Fungal Otitis Eksterna adalah infeksi jamur yang
melibatkan pinna dan kanalis auditorius eksternus, namun dengan adanya
perforasi membran timpani, juga dapat melibatkan telinga tengah. Karakteristik
otomikosis berupa peradangan, gatal, otalgia, otore, rasa penuh di telinga,
gangguan pendengaran dan tinnitus. Kasus otomikosis yang disertai perforasi
membran timpani, infeksi telinga tengah dan keterlibatan infeksi tulang
temporal, sering berhubungan dengan kondisi pasien yang mengalami
imunosupresi1,2,3.
Penyebab otomikosis pada umumnya adalah spesies jamur saprofitik
yang banyak terdapat di alam dan merupakan sebagian dari flora komensal
pada kanalis auditorius normal. Spesies terbanyak adalah Aspergillus dan
Candida. Aspergillus niger memproduksi koloni hitam yg memberikan
gambaran pepper like sedangkan Candida albicans dan Aspergillus
fumigatus memberi gambaran klasik seperti fluffy white discharge 4.
Kejadian otomikosis banyak ditemukan di daerah iklim tropis dan
subtropis yang lembab. Prevalensi otomikosis 9%-22,7% dari total kasus otitis
externa, dan 30% pada pasien dengan gejala keluarnya cairan pada telinga 5.
Distribusi jenis jamur pada otomikosis tergantung lokasi geografis.
Walaupun jarang menimbulkan bahaya, keberadaannya memberi tantangan
dan rasa frustasi pada pasien dan ahli THT karena memerlukan follow up dan
pengobatan jangka panjang yang disebabkan oleh tingginya angka rekurensi 5,6.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar,
telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar terdiri dari aurikula, kanalis
auditorius eksternus hingga lapisan epitel membran timpani. Aurikula dan
kanalis auditorius eksternus mengandung tulang rawan elastis yang berasal dari
mesoderm dan sedikit jaringan subkutan, yang ditutupi oleh kulit dengan
kelenjar pelengkapnya7.
Aurikula merupakan tulang rawan elastis yang simetris secara bilateral.
Lekukan utama aurikula terdiri dari heliks, antiheliks, tragus, antitragus, dan
konka. Heliks merupakan lingkaran aurikula terluar yang besar. Heliks berakhir
di inferior pada lobulus, satu-satunya bagian aurikula yang tidak disangga oleh
tulang rawan. Konka aurikula adalah bagian tengah aurikula yang bergaung,
dan kanalis auditorius eksternus berjalan mulai dari daerah ini. Elevasi di
anterior pada pembukaan kanalis auditorius eksternus, yang terletak di depan
konka adalah tragus. Elevasi lain yang berlawanan dengan tragus, dan terletak
di atas lobulus adalah antitragus. Lingkaran berlekuk yang lebih kecil, paralel
dan terletak anterior dari heliks adalah antiheliks. Aurikula berhubungan dengan
banyak otot-otot intrinsik dan ekstrinsik.9
Seluruh kanalis auditorius eksternus dilapisi oleh epitel skuamosa
berlapis dengan keratinisasi, yang lebih tebal di bagian tulang rawan (0,5
sampai 1 mm) dibandingkan bagian osseus (0.2 mm). Pada kanalis auditorius
eksternus bagian tulang rawan terdiri dari lapisan epidermis dengan
papillanya, dermis dan subkutan melekat dengan perikondrium. Lapisan
kulit kanalis auditorius eksternus bagian tulang tidak mengandung papilla,
melekat erat dengan periosteum tanpa lapisan subkutan, berlanjut menjadi

lapisan luar dari membran timpani dan menutupi sutura antara tulang timpani
dan tulang skuama. Kulit ini tidak mengandung kelenjar dan rambut8.

Gambar

1. Anatomi Aurikula

(Sumber:

Grays Anatomy

for

Student,2007)
Kanalis auditorius eksternus dapat dibagi menjadi dua bagian. 40%
bagian luar merupakan tulang rawan dan mengandung lapisan tipis jaringan
subkutan antara kulit dan tulang rawan. Kulit bagian tulang rawan kanalis
mengandung banyak sel-sel rambut dan kelenjar-kelenjar sebasea dan apokrin
seperti kelenjar serumen. Ketiga struktur ini bersama-sama memberikan fungsi
protektif dan disebut sebagai unit apopilosebasea. Sekresi dari kelenjar ini,
dikombinasikan dengan lapisan keratin deskuamasi dari stratum korneum,
membentuk

asam (pH 6,0-6,5), mantel lilin dari cerumen yang berfungsi

sebagai penghalang terhadap infeksi dan luka pada kulit. 60% bagian dalam
merupakan tulang, dibentuk terutama oleh anulus timpani, dan mengandung
jaringan lunak yang sangat sedikit. Oleh sebab itu, kulit bagian tulang kanalis

tidak mengandung kelenjar-kelenjar dan sel-sel rambut. Panjang rata-rata


kanalis auditorius eksternus orang dewasa adalah 2,5 cm. Pertemuan bagian
kartilago dan bagian tulang kanalis merupakan bagian yang menyempit yang
disebut isthmus.7

Gambar 2. Potongan koronal kanalis auditorius eksterna. Kulit pada


bagian kartilago dan

bagian tulang diperbesar. (Sumber:

Lalwani, 2008)
Kanalis melekuk sedikit di superior dan posterior dalam bentuk huruf S
dari lateral ke medial. Aurikula perlu ditarik secara halus ke arah atas, keluar
dan ke bawah untuk meluruskan kanalis pada pemeriksaan. Ada tiga
mekanisme perlindungan makroskopis yang melindungi kanalis auditorius
eksternus dan permukaan lateral membran timpani : tragus dan antitragus, kulit
dengan lapisan serumennya, dan isthmus kanalis auditorius eksterna. Lapisan
serumen secara bertahap berpindah melewati isthmus ke bagian lateral kanalis
dan mengelupas di luar7.

Kanalis auditorius eksternus merupakan struktur yang normalnya dapat


melindungi dan membersihkan diri sendiri. Epitel kanalis auditorius eksterna
mempunyai kapasitas untuk bermigrasi ke lateral, yang memungkinkan kanalis
tetap tidak terobstruksi oleh debris. Kecepatan migrasi epitel adalah 0,07
mm/hari dan terjadi pada lapisan sel basal. Gerak saluran telinga yang
disediakan oleh gerakan mengunyah biasa bersama-sama dengan proses
proliferasi epitel dan migrasi lateral yang mendorong serumen ke luar dengan
cara self-cleansing 8 .
Vaskularisasi
Telinga luar mendapatkan suplai darah dari cabang arteri carotis
eksterna, adapun vaskularisasi bagian anterior dari a . Auriculo temporalis (a.
temporalis superficialis), bagian posterior dari a. Auricularis posterior, bagian
medial dari a. Auricularis profunda ( a. maxillaris )7.
Inervasi
Persarafan telinga luar terdiri dari Nervus auricularis mayor cabang
nervus spinalis C2-C3 yang menginervasi kulit auricula dan 1/3 lateral kulit
diatas permukaan prosesus mastoideus. Nervus occipitalis minor

(bag C2)

menginervasi kulit auricula 1/3 posterior. Nervus auriculo temporalis


merupakan cabang N. V (trigeminus) yang menginervasi kulit auricula 2/3
anterior, 1/2 bag anterior KAE dan membrana timpani. Nervus tympanicus,
cabang dari N IX (N glosopharyngeus) yang menginervasi permukaan luar
membran timpani. Nervus Arnold cabang dari nervus vagus (N. X) yang
menginervasi sebagian kecil auricula, 1/2 bagian posterior kanalis auditorius
eksternus dan membran timpani9,10.
Limfonodi

Aliran limfe kanalis auditorius eksternus merupakan jalur penting untuk


penyebaran infeksi. Kelenjar limfe telinga luar terdiri dari tiga bagian yaitu : 1)
Limfonodi parotis superfisialis yang menerima aliran kelenjar limfe dari daerah
tragus dan bagian anterior aurikula, 2) Limfonodi retroaurikuler yang menerima
aliran kelenjar limfe dari posterior dan kranial aurikula, 3) Limfonodi cervikalis
superfisialis yang menerima aliran kelenjar limfe dari daerah lobulus7,9,10.
B. OTOMIKOSIS
1. Definisi
Otomikosis adalah infeksi jamur pada kulit liang telinga luar. Walaupun
jamur bisa menjadi agen penyebab primer, jamur biasanya juga menyertai
infeksi bakteri kronis di liang telinga luar atau telinga tengah.2
2. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Beberapa penulis menyatakan bahwa jenis Aspergillus dan Candida
banyak ditemukan pada pasien-pasien dengan otomikosis. Jenis yang lain
seperti Mucor, Fusarium, Scedosporium, Hendersonula, Rhodotorula, dan
Cryptococcus jarang menyebabkan otomikosis. Jamur dari jenis Monilial dan
dermatophyta (Trichophyton ssp, Microsporum spp, dan Epidermophyton
floccosum) diduga juga berhubungan dengan kejadian otomikosis.13
Selain adanya agen penyebab yaitu jamur, kejadian otomikosis juga
berhubungan dengan berbagai macam faktor predisposisi. Faktor lingkungan
terdiri dari suhu dan kelembaban. Faktor lokal termasuk infeksi kronik pada
telinga, penggunaan tetes telinga, penggunaan steroid, adanya infeksi jamur
pada bagian tubuh lainnya seperti dermatomikosis atau vaginitis, gangguan
fungsi imunitas, malnutrisi dan perubahan hormonal tubuh yang dapat memicu
timbulnya infeksi seperti pada keadaan menstruasi ataupun pada wanita hamil.
Otomikosis meningkat pada iklim panas dan lembab karena kondisi ini sangat
sesuai untuk proses pertumbuhan jamur. Kondisi panas dan lembab juga

berpengaruh pada permukaan epitel liang telinga karena dalam kondisi ini liang
telinga lebih banyak menyerap air sehingga sangat rentan terhadap infeksi.15
3. Patogenesis
Pada kondisi normal, terdapat berbagai mikroorganisme pada liang
telinga yang merupakan organisme komensal. Organisme ini bersifat non
patogen selama terdapat keseimbangan antara sistem pertahanan tubuh dengan
berbagai organisme tersebut. Kelembaban dan lingkungan tropis memberikan
kondisi yang dibutuhkan jamur untuk berproliferasi. Kanalis auditorius yang
intak mempunyai kemampuan untuk membersihkan dirinya sendiri dengan
migrasi sel epitel yang terkelupas keluar bersama dengan serumen. Serumen
menjaga kanalis auditorius eksternus dalam kondisi asam. pH kanalis auditorius
eksternus mempunyai rentang antara 4,2 hingga 5,6. Kondisi asam tersebut
mempunyai efek anti-mikotik dan bakteriostatik. Kerusakan dari setiap
pelindung KAE dapat menyebabkan kolonisasi dan invasi oleh organisme
patogen4,13
Meningkatnya insidensi otomikosis mungkin berhubungan dengan
meningkatnya pengeluaran keringat dan berubahnya kelembaban udara di
permukaan epitel liang telinga. Epitel di liang telinga banyak menyerap air pada
keadaan tersebut sehingga lebih mudah terkena infeksi. Pada pasien-pasien
dengan penyakit gangguan imun berat otomikosis yang invasif juga banyak
ditemukan. Adanya pertumbuhan jamur yang berlebihan tampak pada pasien
yang menggunakan antibiotik hal tersebut terjadi karena terganggunya flora
normal yang terdapat dalam tubuh.3,16

4. Diagnosis

Penegakan diagnosa otomikosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa pasien dengan otomikosis
biasanya akan sering didapatkan keluhan rasa gatal pada liang telinga. Selain
itu gejala lain yang sering dirasakan adalah rasa penuh pada telinga, otore
(keluar cairan dari telinga), otalgia (sakit pada telinga), gangguan pendengaran
dan tinnitus. Gejala gangguan pendengaran pada kasus otomikosis biasanya
disebabkan oleh adanya akumulasi dari debris mikotik dalam liang telinga.13
Pemeriksaan fisik pada pasien otomikosis akan ditemukan adanya
debris berwarna putih, kehitaman, atau membran abu-abu yang berbintik-bintik
di liang telinga. Bercak karena Aspergillus niger cenderung berwarna gelap
kehitaman, Aspergillus fumigatus berwarna kecoklatan, dan Candida albicans
berwarna putih.2,17
Diagnosa pasti dari otomikosis ditegakan dengan pemeriksaan
penunjang yang cukup sederhana, yaitu dengan memeriksa sampel debris atau
swab bercak pada kaca preparat yang difiksasi dengan larutan KOH 15% - 30%
selanjutnya dilihat melalui mikroskop dan akan tampak hifa ataupun spora dari
jamur. Pemeriksaan penunjang lain adalah kultur debris dari liang telinga
dengan menggunakan media Saborauds dextrose.13
5. Terapi
Terapi efektif pada pasien dengan kolonisasi kronis Aspergillus pada
kanalis akustikus eksternus adalah dengan kombinasi antara pembersihan debris
dan anti jamur topikal. Pengobatan sistemik tidak direkomendasikan, kecuali
mungkin pada kasus invasif otitis (akut atau kronis) eksterna maligna dengan
komplikasi mastoiditis atau meningitis, atau keduanya. Kebanyakan pasien
berhasil dengan pengobatan topikal. Keuntungan anti jamur topikal yaitu
aplikasi lokal, konsentrasi yang diinginkan dari obat pada permukaan kulit akan

dicapai tak lama setelah aplikasi, dan konsentrasi yang lebih tinggi dari anti
jamur tersebut pada lokasi yang terinfeksi. Perhatian khusus harus diberikan
kepada pilihan sediaan yang antara lain: solution, suspensi, krim, salep, atau
gel. Pasien otomikosis dengan membran timpani yang intak dapat
menggunakan formulasi anti jamur antara lain, salep, gel, dan krim. Ketika
membran timpani perforasi, obat-obat ini tidak boleh digunakan karena partikel
kecil dari krim, salep, atau gel dapat menyebabkan peradangan, dengan
perkembangan jaringan granulasi di telinga tengah. Obat topikal anti jamur
yang soluble (obat tetes telinga atau strip kasa diresapi dengan solution) sebagai
pengobatan membran timpani perforasi sangat dianjurkan. Yang harus
dipertimbangkan agar tepat memilih obat anti jamur topical, antara lain larut
dalam air, risiko rendah ototoksik, efek alergi rendah setelah pemberian
berulang, obat anti mikotik spektrum

luas

dengan efek lokal yang baik

terhadap ragi dan jamur, cocok untuk aplikasi pada pasien anak dan tersedia di
pasaran11,12.
Sediaan anti jamur dapat dibagi menjadi tipe spesifik dan non spesifik.
Antijamur non spesifik termasuk larutan asam dan dehydrating solution seperti:
1) Asam asetat 2% adalah asam cuka untuk menjaga pH telinga tetap asam. 2)
Gentian Violet dipersiapkan sebagai solusi konsentrat yang rendah (misalnya
1%) dalam air. Telah digunakan untuk mengobati otomikosis karena merupakan
pewarna anilin dengan antiseptik, antiinflamasi, antibakteri dan antijamur. Hal
ini masih digunakan di beberapa negara dan disetujui FDA (Food and Drug
Administration). Studi melaporkan hingga 80% efficacy. 3) Castellanis paint
(aseton, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol). 4) Cresylate (merthiolate, M-cresyl
asetat, propilen glikol, asam borat dan alkohol). 5) Merkurokrom, sebuah

antiseptik topikal terkenal, anti jamur tetapi tidak lagi disetujui oleh FDA
karena kandungan merkuri di didalamnya12.
Terapi anti jamur spesifik terdiri dari: 1) Nystatin adalah antibiotik
makrolida poliena yang menghambat sintesis sterol pada membran sitoplasma.
Banyak cetakan dan ragi yang sensitif terhadap Nystatin termasuk spesies
Candida. Sebuah keuntungan besar dari Nystatin adalah mereka tidak terserap
dalam kulit utuh. Nystatin tidak tersedia sebagai larutan otik untuk otomikosis
Nystatin dapat diresepkan sebagai krim, salep atau bubuk. Dengan tingkat
keberhasilan hingga 50-80% . 2) Azoles adalah agen sintetis yang mengurangi
konsentrasi ergosterol merupakan sterol penting dalam membrane sitoplasma
normal. Clotrimazole yang paling banyak digunakan sebagai azol topikal
tampaknya menjadi salah satu agen terapi yang paling efektif dalam otomikosis
dengan bunga efektifitas 95-100%. Clotrimazole memiliki efek bakterisid dan
hal ini merupakan keuntungan bila terdapat infeksi campuran dari bakteri dan
jamur. Ketokonazole dan Fluconazole memiliki aktivitas spektrum yang luas.
Efikasi Ketoconazole dilaporkan 95-100% terhadap spesies Aspergillus dan
Candida. Sediaan yang sering adalah sebagai krim 2%. Fluconazole topikal
telah dilaporkan efektif dalam 90% kasus. Krim Miconazole 2% juga telah
menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 90%. Bifonazole adalah agen anti
jamur dan umum digunakan dalam 80-an. Potensi larutan 1% mirip dengan
Clotrimazole dan Miconazole. Bifonazole dan turunannya menghambat
pertumbuhan jamur hingga 100% . Itraconazole juga memiliki invitro dan efek
vivo terhadap spesies Aspergillus12.
Prinsip penatalaksanaan pada pasien otomikosis adalah pengangkatan
jamur dari liang telinga, menjaga agar liang telinga tetap kering serta
bersuasana asam, pemberian obat anti jamur, serta menghilangkan faktor risiko.
Tindakan pembersihan liang telinga bisa dilakukan dengan berbagai macam

10

cara antara lain dengan lidi kapas/kapas yang dililitkan pada aplikator, pengait
serumen, atau suction. Beberapa penulis mempercayai bahwa yang terpenting
dari terapi otomikosis adalah mengetahui jenis agen penyebab infeksi tersebut
sehingga terapi yang tepat dapat diberikan. Clotrimazole memiliki efek anti
bakteri sehingga memberikan keuntungan terdapat infeksi campuran jamurbakteri. Anti jamur krim dari Ketoconazole dan Fluconazole juga bisa dapat
digunakan. Infeksi Candida biasanya mengunakan Tolnaftate. Nystatin juga
dipercaya efektif melawan Candida 5.
Terapi otomikosis dengan anti jamur membutuhkan waktu 3 minggu
untuk mencegah rekurensi. Terapi berkelanjutan diberikan walaupun pasien
sudah bebas dari gejala18.
Edukasi antara lain tidak mengorek-ngorek telinga baik dengan korek
telinga ataupun jari, menjaga kelembaban dan pH normal seperti tidak
menggunakan obat steroid dan antibiotik berlebihan pada kanalis auditorius
eksternus 4,11,13,15

BAB III
LAPORAN KASUS

11

A. IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Alamat
Rekam medis

: Ny. R P
: 23 tahun
: Perempuan
: Karyawan
: Kebumen
: 1.72.28.11

B. ANAMNESA
Keluhan utama : Telinga kiri terasa penuh
Sejak 1 minggu sebelum os berobat ke poliklinik THT Dr. Sardjito, os
merasakan telinga kiri terasa penuh. Pendengaran pun dirasakan berkurang.
Pasien sering mengorek telinga dengan cotton bud. Ada riwayat penggunaan
obat tetes telinga yang dibelinya sendiri di apotek karena nyeri telinga. Setelah
10 hari diberi obat tetes, os mengeluh liang telinga kiri gatal. Rasa nyeri pada
telinga sudah tidak ada saat datang berobat. keluar cairan dari telinga tidak ada,
telinga berdenging tidak ada, sakit kepala berputar tidak ada. Batuk, pilek, dan
demam juga tidak dikeluhkan. Pasien tidak mempunyai kebiasaan berenang.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat penyakit serupa sebelumnya disangkal
Riwayat alergi disangkal
Riwayat kencing manis disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit alergi pada keluarga disangkal
Riwayat kencing manis dalam keluarga disangkal
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum:
Baik, compos mentis, gizi cukup

12

TD: 120/70 MmHg, Nadi: 90x/menit, Suhu: 36C, Frekuensi Pernapasan:


20x/menit
Pemeriksaan THT:
Pemeriksaan telinga
Inspeksi

Auris Dextra
Auris Sinistra
Aurikula : hiperemi (-), Edema (-), Aurikula : hiperemi (-), Edema (-),

Palpasi
Otoskopi

Deformitas (-)
Deformitas (-)
Nyeri tragus (-), Nyeri mastoid (-)
Nyeri tragus (-), Nyeri mastoid (-)
KAE: discharge (-), hiperemis (-), KAE: tampak debris berwarna
edema (-), Membran timpani intak, putih. hiperemis (+), edema (+),
refleks cahaya (+)

Membran timpani intak

Pemeriksaan hidung
Inspeksi
Palpasi
Rhinoskopi Anterior

Dextra
Sinistra
Deformitas (-), discharge (-), hiperemi (-), lesi (-)
Deformitas (-), krepitasi (-)
Konka: hiperemis (-), Konka: hiperemis (-), edema (-),

Rhinoskopi Posterior

edema (-), massa (-)


massa (-)
Septum : deviasi (-)
Septum : deviasi (-)
Konka: hiperemis (-), Konka: hiperemis (-), edema (-),
edema (-), massa (-)
Septum : deviasi (-)

massa (-)
Septum : deviasi (-)

Pemeriksaan orofaring tidak didapatkan hiperemis maupun pembesaran tonsil (T1-T1)


Pemeriksaan laringoskop indirek tidak ditemukan kelainan
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan swab debris dari liang telinga kiri dengan pemeriksaan KOH 10%
diperoleh hasil (+) hifa
E. DIAGNOSA

13

Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka dapat


ditegakkan diagnosis terhadap pasien ini adalah Otomikosis Auris Sinistra
F. PENATALAKSANAN
Membersihkan debris pada liang telinga kiri (aural toilet)
Terapi medikamentosa berupa:
Tampon Miconazole pada telinga kiri
Cetirizine 1 x 10 mg
Memberikan edukasi kepada pasien:
- Menjaga agar telinga tetap kering
- Tidak boleh mengorek-ngorek telinga dengan jari maupun cotton bud
G. MASALAH
Rekurensi
H. PLANNING
Kontrol 2 hari
I. FOLLOW UP
Setelah 2 hari, pasien kontrol ke poliklinik THT didapatkan keluhan gatal
sudah berkurang. Pada pemeriksaan otoskopi telinga kiri didapatkan debris
minimal dan hiperemis berkurang. Pasien dilanjutkan terapi tampon
Miconazole selama 2 minggu dengan evaluasi tampon 2 hari sekali.

14

BAB IV
DISKUSI
Pada pasien ini diagnosis otomikosis ditegakkan berdasarkan anamnesa,
yaitu adanya rasa penuh pada liang telinga dan rasa gatal pada liang telinga.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan liang telinga bengkak, kemerahan, dan
adanya kotoran berwarna putih. Hal tersebut disebabkan oleh adanya akumulasi
dari debris mikotik dalam liang telinga. Pemeriksaan penunjang dengan
melakukan pemeriksaan KOH didapatkan hasil (+) infeksi jamur. Pada
pemeriksaan KOH, bila disebabkan oleh jamur yang membentuk filamen maka
akan tampak hifa atau anyaman hifa dan kadang-kadang ditemukan spora.11-13
Faktor risiko terjadinya otomikosis pada pasien ini adalah penggunaan
obat tetes telinga yang cukup lama yang dibelinya sendiri. Karena penggunaan
obat tetes ini liang telinga menjadi lembab sehingga mempengaruhi permukaan
epitel liang telinga. Epitel telinga yang lembab lebih banyak menyerap air
sehingga rentan terhadap infeksi.15 Obat tetes telinga yang digunakan
mengandung antibiotik. Jamur bisa tumbuh berlebihan pada pasien yang
menggunakan antibiotik karena terganggunya flora normal yang terdapat dalam

15

tubuh.3,16 Selain itu kebiasaan mengorek telinga menggunakan cotton bud juga
menjadi faktor risiko terjadinya otomikosis pada pasien ini. Kebiasaan ini dapat
menyebabkan trauma (biasanya kecil dan tanpa gejala) pada kulit kanalis
auditorius eksternus dan menyebabkan terjadinya endapan jamur pada luka
tersebut sehingga terjadi infeksi jamur.5
Prinsip penatalaksanaan pada pasien otomikosis adalah pengangkatan
jamur dari liang telinga, menjaga agar liang telinga tetap kering serta suasana
asam, pemberian obat anti jamur, serta menghilangkan faktor risiko. Tindakan
pembersihan liang telinga bisa dilakukan dengan berbagai macam cara antara
lain dengan lidi kapas/kapas yang dililitkan pada aplikator, pengait serumen,
atau suction. Pemberian terapi medikamentosa pada pasien ini dengan
pemasangan tampon mikonazol. Semua golongan anti jamur dari golongan
azoles seperti clotrimazole, fluconazole, ketoconazole, dan miconazole lebih
efektif yang kemudian diikuti oleh golongan nystatin dan tolnaftate. 14 Menurut
Phillip dan Roosen, clotrimazole efektif untuk pengobatan Tinea pedis, Tinea
corporis, Tinea cruris, Tinea versicolor, serta kandidiasis. Pemberian tetes
Clotrimazole telah digunakan dan efektif untuk pengobatan otomikosis di
Inggris dan India. Sedangkan menurut Venewald dan Wollina terapi efektif pada
pasien dengan kolonisasi kronis aspergillus pada kanalis auditorius eksternus
adalah dengan kombinasi antara pembersihan debris dan clotrimazole topikal.1722

Meskipun pada pasien ini telah dilakukan pembersihan liang telinga dan
pemberian tampon telinga antijamur, namun rekurensi masih menjadi
pertimbangan masalah kedepan. Hal tersebut bisa disebabkan beberapa faktor,
antara lain kepatuhan pasien dalam menjalankan edukasi yang telah diberikan,
kepatuhan dalam menggunakan obat sesuai aturan, dan respon jamur terhadap
pengobatan.

Untuk

itu

perlu

adanya

16

anjuran

kontrol

ulang

secara

berkesinambungan untuk mengevaluasi respon penyakit sehingga tidak


menimbulkan

komplikasi

kedepannya.

Pasien

juga

disarankan

untuk

meninggalkan kebiasaan yang dapat menyebabkan terjadinya otomikosis


dimasa yang akan datang, antara lain dengan tidak mengorek telinga, menjaga
liang telinga agar tidak basah dan biasakan berobat ke dokter jika ada keluhan
3,24

BAB V
KESIMPULAN
Telah dilaporkan pasien perempuan, berusia 23 tahun dengan diagnosis
otomikosis pada liang telinga kiri. Terhadap pasien ini telah dilakukan
pembersihan liang telinga, pemberian antijamur topikal telinga, dan diberikan
edukasi. Setelah 2 hari pasien dianjurkan untuk kembali agar dapat dievaluasi
hasil terapi yang telah diberikan. Diharapkan terapi yang diberikan cukup
efektif sehingga kemungkinan terjadinya kekambuhan dapat dihindari.

17

DAFTAR PUSTAKA
1.

Barati, B., et al. "Otomycosis in central iran: a clinical and mycological

2.

study."Iranian Red Crescent Medical Journal 2011 : 873.


Mahmoudabadi AZ, Masoomi SA, Mohammadi H. Clinical and

3.

mycological studies of otomycosis.Pak J Med Sci 2010 : 187-190.


Fasunla, J., Ibekwe, T. and Onakoya, P. (2008), Otomycosis in western

4.

Nigeria. Mycoses, 2007.


Alexis Jackman, Robert Ward, Max April, John Bent, Topical antibiotic
induced

5.

otomycosis,

International

Journal

of

Pediatric

Otorhinolaryngology, Volume 69, Issue 6, June 2005.


Sampath Chandra Prasad, Subbannayya Kotigadde, Manisha Shekhar, et
al., Primary Otomycosis in the Indian Subcontinent: Predisposing Factors,
Microbiology, and Classification, International Journal of Microbiology,

6.

2014.
Ajay Philip, Regi Thomas, Anand Job, V. Rajan Sundaresan, Shalini
Anandan, and Rita Ruby Albert, Effectiveness of 7.5 Percent Povidone
Iodine in Comparison to 1 Percent Clotrimazole with Lignocaine in the
Treatment of Otomycosis, ISRN Otolaryngology, vol. 2013.

18

7.

Bailey, Byron J.; Johnson, Jonas T.; Newlands, Shawn D, Head & Neck
Surgery-Otolaryngology, 4th Edition, Chapter 135: Infections of The

8.

External Ear, Lippincott Williams & Wilkins.2014.


Lalwani AK, Disease of The External Ear. In: Current Diagnosis &
treatment otolaryngology Head & Neck Surgery,2nd ed. Chapter 47,

9.

McGrawhill Lange. New York.2008.h.624-6.


Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Ear Anatomy. In: Grays anatomy for

student, Chapter 8, Elsevier.2007:855-858.


10. Liston SL, Duvall III AJ. Embriologi, anatomi dan fisiologi telinga. Dalam:
Boies: Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.1997.h.27-31.
11. Kaur Ravinder et all, 2000. Otomycosis: a clinicomycologic study. ENTEar Nose & Throat Journal; 79:606-609
12. Gray RF, 1992. Disease of The External Ear. In: Synopsis of
otolaryngology. 5th ed. Butterworth Heineman ltd Oxford. P: 81-97.
13. Vennewald, I., Nat, R., Klemm E, 2010. Otomycosis: Diagnosis and
treatment. Clinics in Dermatology; 28: 202211.
14. Munguia R, Daniel SJ, 2008. Ototopical antifungals and otomycosis: a
review. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 2008; 72:
453 459.
15. Ho T, Vrabec JT, Yoo D, Coker NJ. Otomycosis: clinical features and
treatment implications. Otolaringology-Head and Neck Surgery 2006; 135:
787-791.
16. Gill
King.

Otitis

Externa

Mycotica.

Article.

Arch

Otolaryngology. 1932;16(1):76-82
17. Inouye S, Uchida K, Yamaguchi H, 2001. In-vitro and In-vivo AntiTrichophyton Activity of Essential Oils by Vapaour Contact, Mycoses; 44:
99-107.
18. Buckle J, 2003. Aromatherapy : What is it? HerbalGram; 57: 50-56
19. Abou-Halawa AS, Khan MA, Alrobaee AA, Alzolibani AA, Alshobaili HA.
Otomycosis with perforated tympanic membrane: self medication with

19

topical antifungal solution versus medicated ear wick. International


Journal of Health Sciences. 2012;6(1):7377.
20. Phillip RM, Rosen T. Topical Antifungal Agents. Comprehensive
Dermatologic Drug Therapy. WB Saunders Company. Philadelphia, USA.
P: 497-523.
21. Vennewald I, Wollina U, 2005. Cutaneus Infections due to Oppurtunistic
Molds: uncommon presentation. Clindermatol; 23:565-571.
22. Reynolds JEF, Martindale, 1996. The Extra Pharmacopoela 31st ed. The
Council of The Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. P:
403Hughes GB, Pensak ML, 2007. Clinical Otology. 3rd ed. New York :
Thieme Medical Publishers.
23. Linstrong CJ, Lucente FE, 2006. Infection of the External Ear. In: Head &
Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Lippincot Williams & Wilkins.
Philadelpia. P: 1987-2000
24. Viswanatha, Borlingegowda,M.S., D.L.O., Sumatha, D., M.B.B.S., &
Vijayashree, Maliyappanahalli Siddappa,M.B.B.S., M.S.. Otomycosis in
immunocompetent and immunocompromised patients: Comparative study
and literature review.Ear, Nose & Throat Journal, 91(3), 2012, 114-21.

20