Anda di halaman 1dari 17

genesa mineral

Genesa Mineral
Genesa/Genesis mineral merupakan tempat atau lingkungan dimana suatu mineral terbentuk.
Ada 3 macam genesa mineral, yaitu:

Lingkungan magmatik

Lingkungan sedimen

Lingkungan metamorfik

A. Lingkungan Magmatik
Lingkungan ini mempunyai karakter yang sangat khas, yaitu memiliki tekanan dan
temperatur yang sangat tinggi, dan tentunya sangat berhubungan dengan aktivitas magma.
Berdasarkan keterjadiannya, lingkungan magmatik ini dibagi menjadi empat tipe,
yaitu Batuan beku, Pegmatit, Urat hidrotermal, dan Deposit mata air panas.
1. Batuan Beku
Tersusun atas mineral-mineral yang sederhana. Terdapat 7 kelompok mineral yang terdapat
pada batuan beku, yaitu : kelompok kuarsa, feldspar, feldspatoid, piroksen, hornblende, biotit,
dan olivin. Kisaran jumlah dari mineral-mineral penting yang terdapat dalam batuan beku
sangat lebar. Ada juga batuan beku yang mengandung hampir 100% mineral yang sama,
contohnya seperti Dunityang hampir seluruhnya tersusun atas mineral olivine.
Berdasarkan warnanya, mineral batuan beku dibagi menjadi 3 kelompok,
yaitu Leucocratic (terang),Mesocratic (sedang), dan Melanocratic (gelap).Pengelompokkan
ini didasarkan pada kandungan dari mineral fero-magnesium. Semakin banyak kandungan
mineral tersebut, maka warna nya akan semakin gelap.
Lingkungan geologi tertentu akan memberikan pengaruh tertentu yang tercermin terhadap
ukuran butir mineralnya. Selain itu tekstur pada batuan beku juga mencerminkan kondisi
pembekuannya, urutan kristalisasi, komposisi, viskositas magma, kecepatan pembekuan, dan
pertumbuhan kristalnya.
Pembekuan kristal yang cepat akan menghasilkan kristal yang kecil. Hal ini disebabkan
karena tidak tersedia waktu yang cukup untuk membentuk kristal yang sempurna. Biasanya
terjadi di permukaan saat kontak langsung dengan air ataupun udara saat magma keluar.
Tekstur yang dihasilkan adalah afanitik (halus). Sedangkan, pembekuan yang lambat akan
menghasilkan membentuk kristal yang besar, karena masih memiliki waktu yang cukup untuk
membentuk itu. Pembekuan yang lambat ini terjadi di dalam perut bumi, dan menghasilkan
batuan beku dengan tekstur faneritik(kasar).
Berdasarkan kandungan SiO2 nya, batuan beku dibedakan menjadi 4 jenis.
Batuan beku asam yang mengandung lebih dari 65% silika, ex: Granit.
Batuan beku menengah (intermediate) yang mengandung silika antara 53%-65%, ex: Diorit,
Syenit.

Batuan beku basa dengan kandungan silika antara 45%-53%, ex: Gabbro.
Batuan beku ultrabasa yang mengandung silika <45%, ex: Dunit, Peridotit.
2. Pegmatit dan Urat-Urat Hidrotermal
Pegmatit ini terbentuk dari cairan silikat sisa proses kristalisasi fraksional yang kaya akan
kandungan alkali, alumunium, mengandung air, dan zat volatil. Cairannya tidak selalu
berbentuk cair disebabkan karena konsentrasi volatil. Apabila mencukupi, tekanan volatil
akan menginjeksi cairan di sepanjang permukaan lemah pada batuan yang merupakan bagian
dari batuan beku intrusi yang sama, ataupun batuan lain yang sudah terbentuk lebih awal.
Kebanyakan pegmatit yang dijumpai berasosiasi dengan batuan plutonik, umumnya granit.
Pegmatit granit terutama tersusun oleh kuarsa dan feldspar alkali, serta sejumlah muskovit
dan biotit. Dengan demikian, komposisinya mirip dengan granit, namun berbeda dalam
tekstur. Pegmatit bertekstur khusus, yaitu berbutir sangat kasar, dan berbentuk tabular.
3. Deposit Hidrotermal
Merupakan pengembangan dari pegmatit. Ciri-cirinya adalah urat-urat yang mengandung
sulfida, yang mengisi rekahan pada batuan semula. Namun juga dapat berupa suatu massa tak
teratur, yang mengganti seluruh atau sebagian batuan. Proses hidrotermal ini merupakan
suatu proses yang penting dalam pembentukan mineral-mineral bijih. Berdasarkan tingkat
kedalaman dan suhunya, deposit hidrotermal dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Deposit hidrotermal : suhu antara 300-500 derajat C, dan terbentuk di kedalaman


yang sangat dalam. Dicirikan oleh mineral Molibdenit[MoS2],
Kasiterit [SnO2], Skhelit [CaWO4].

Deposit mesotermal : suhu antara 200-300 derajat C, dengan kedalaman yang


menengah. Mineral yang mecirikannya adalah mineral-mineral sulfida
seperti Pirit [FeS2], Galena[PbS]. Urat kuarsa mengandung emas yang merupakan
suatu deposit penting, mungkin adalah deposit mesotermal.

Deposit epitemal : terbentuk pada temperatur rendah, antara 50-200 derajat C.


Mineral pencirinya adalah Perak native [Ag], Emas
native [Au], Silvanit [(Au,Ag)Te2].

4. Deposit Air Panas dan Fumarol


Deposit air panas merupakan hidrotermal yang sampai ke permukaan. Mineral yang dijumpai
adalah silika opal, sejumlah kecil sulfur, dan sulfida. Sedangkan, deposit fumarol terdapat
pada gunungapi yang masih aktif. Gas-gas panasnya mengendapkan mineral-mineral seperti
sulfur, dan khlorida, terutama Khlorida Amonium [NH3Cl]. Selain itu, mungkin juga
terdapat Magnetit [Fe3O4], Hematite[Fe2O3], dan Realgar [AsS].
B. Lingkungan Sedimen
Proses sedimentasi merupakan perpaduan dari interaksi atmosfer dan hidrosfer terhadap
lapisan kerak bumi. Dalam proses sedimentasi terdapat fase pelapukan, yang dapat
menyebabkan mineral berubah menjadi mineral-mineral baru yang bersifat lebih stabil
daripada sebelumnya.
Pada kebanyakan lingkungan pengendapan, proses yang berlangsung adalah oksidasi karena
terkena pengaruh dari atmosfer. Namun, di beberapa tempat ada yang tidak terkena kontak
atmosfer, sehingga proses yang berlangsung adalah reduksi.

Berdasarkan stabilitas mineralnya, lingkungan sedimen dibagi menjadi 6 klasifikasi:


1. Resistat
Merupakan endapan yang tersusun atas mineral yang tahan terhadap pelapukan, sehingga
tidak mengalami perubahan. Salah satu mineral yang dikenal paling tahan terhadap pelapukan
adalah Kuarsa [SiO2]. Kadar silika dalam sedimen-sedimen resistat dapat mencapai 90%,
sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber dalam perindustrian.
Mineral-mineral lainnya yang tahan terhadap pelapukan adalah Zirkon [ZrSiO4],
Andalusit [Al2SiO5], Topaz [Al2SiO4(OH,F)2]. Endapan resistat disebut juga sebagai
placer deposit karena bernilai ekonomi.
2. Hidrolisat
Terbentuk dari mineral-mineral silikat yang mengalami proses dekomposisi kimia. Mineral
yang paling umum terdapat di endapan ini adalah mineral lempung, berupa aluminosilikat
hidrat yang bertekstur filosilikat dengan ukuran butir yang sangat halus.
Di daerah tropis, tempat dimana perbedaan basah dan kering sangat kontras, proses
pelapukan akan terjadi lebih baik, dan dapat menghasilkan endapan aluminosilikat yang
sangat bagus. Yaitu, dengan hilangnya kandungan silika, dan meninggalkan residu berupa
oksida alumunium hidrat, seperti Gibsit [Al(OH)3]. Residu ini dikenal dengan endapan
bauksit, merupakan endapan komersial yang menghasilkan bijih alumunium.
3. Oksidat
Merupakan endapan hidroksida feri, yang merupakan hasil oksidasi senyawa besi dalam
suatu larutan, dan mengendap. Contohnya adalah Gutit [HFeO2] yang memberikan warna
coklat, dan Hematit [Fe2O3] yang memberikan warna merah. Bila kedua mineral ini terdapat
dalam jumlah yang besar, maka dapat menjadi sangat bernilai karena bijih besinya.
Mineral lainnya yang terdapat pada endapan oksidat adalah mangan. Contohnya
adalah Manganit [MnO(OH)], dan Psilomelane [(Ba,H2O)2Mn5O10], yang sebagian besar
tersusun atas MnO2.
4. Reduzat
Terbentuk karena proses reduksi, dikarenakan tempat terbentuknya yang terisolir dari
atmosfer, sehingga kekurangan oksigen. Endapan jenis ini jarang sekali dijumpai.
Di laut, biasanya endapan ini terdapat pada daerah palung. Dengan kondisi yang tenang,
pengendapan material-material organik, akan menyebabkan berkurangnya oksigen, dan
terbentuk H2S. Contoh mineral yang terbentuk adalah Pirit (pada keadaan asam), dan
Markasit (pada keadaan yang lebih asam).
Di darat, pengendapan dari bahan rombakan tumbuhan-tumbuhan akhirnya akan berubah
menjadi lapisan-lapisan batubara. Dengan keadaan reduksi yang tinggi, memungkinkan
terjadinya pengendapan karbonat fero berupa Siderit, yang dapat digunakan menjadi deposit
bijih besi.
Mineral lain yang terbentuk dalam suasana reduksi adalah Sulfur [Cu], yang biasanya
dijumpai berasosiasi dengan kubah garam dan minyak bumi.
5. Presipitat
Endapan ini berhubungan dengan berbagai aktivitas organisme yang mensekresi gamping,
maka dari itu tempat yang paling baik bagi pengendapan jenis ini (karbonatan) adalah di
bawah laut.

Bentuk kalsium karbonat yang paling stabil adalahKalsit, namun dapat juga
terbentuk Aragonit. Araganit dapat berubah menjadi kalsit, ataupun tetap menjadi aragonit,
hal itu dapat terjadi apabila strukturnya berubah menjadi lebih stabil, karena kandungan ionion asing. Selain itu, kalsit dan aragonit dapat diendapkan di lingkungan terestrial, seperti di
dalam gua batugamping, yang di sekelilingnya terdapat mata air yang jenuh akan kandungan
CaCO3.
Salah satu presipitat laut yang jarang ditemukan, namun sangat bernilai dari segi ekonomi
adalah Fosforit yang digunakan sebagai sumber pupuk fosfat.Seperti yang kita ketahui, air
laut di bagian dasar samudera sangat jenuh oleh fosfat kalsium, dan karena terjadi perubahan
pada kondisi fisik-kimianya, walaupun hanya sedikit akan menyebabkan fosforit
terpresipitasi. Bila sedimentasi dari bahan-bahan lainnya lebih sedikit, maka akan terbentuk
lapisan fosforit yang lebih murni.
6. Evaporit
Proses penting dalam pembentukan sedimen evaporit adalah penguapan. Endapan ini
mempunyai fungsi khusus, yaitu untuk menginterpretasi sejarah geologi daerah itu, sebagai
indikator untuk keadaan yang kering. Berdasarkan asal mula pengendapannya, sedimen
evaporit dibagi menjadi 2, yaitu:
Endapan evaporit marin terbentuk di laut yang disebabkan oleh air laut yang menguap.
Apabila air laut menguap pada keadaan yang alami, maka yang pertama kali akan mengendap
adalah kalsium karbonat, diikuti oleh dolomit. Dengan berlanjutnya evaporasi,
terendapkanlah kalsium sulfat, yang dapat berupa gipsum, yang bergantung kepada
temperatur dan salinitas air laut, dan pada giliran berikutnya akan terbentuk halit.
Kebanyakan endapan evaporit terdiri atas kalsium karbonat, namun pada keadaan tertentu
dapat juga terendapkan garam kalsium dan magnesium.
Endapan evaporit non marin relatif jarang ditemui, atau sangat terbatas, baik dalam
penyebarannya maupun besarnya, tetapi sangat penting dalam arti ekonomi, karena endapan
ini menghasilkan senyawa Boron [B] dan Yodium[I]. Endapan ini terbentuk di darat karena
menguapnya suatu danau garam. Disamping kedua senyawa tadi, terkandung pula nitratnitrat, sejumlah garam kalsium, bromida, dan gipsum.
C. Lingkungan Metamorfik
Lingkungan ini berada jauh di bawah permukaan bumi dengan suhu dan tekanan ekstrem
yang menyebabkan re-kristalisasi pada material batuan, namun tetap terjadi pada fase padat.
Faktor lain yang sangat penting dalam metamorfisme adalah aksi dari cairan kemikalia aktif,
karena cairan tersebut dapat merangsang terjadinya reaksi melalui larutan dan pengendapan
kembali. Jika terjadi perubahan material batuan yang disebabkan oleh cairan ini, maka
prosesnya disebut dengan metasomatisme.
1. Tipe-Tipe Metamorfisme & Batuan Metamorf
Terdapat 2 tipe metamorfisme, yaitu metamorfisme termal, dan regional. Metamorfisme
termal adalah tipe metamorfisme adalah tipe yang berkembang di sekitar tubuh batuan
plutonik. Pada tipe ini, temperatur metamorfisme ditentukan oleh jauh dekatnya dengan
intrusi magma. Batuan khas dari metamorfisme ini adalah batutanduk (hornfels). Batu ini
mempunyai butir yang halus, dan terkadang mengandung mineral yang mempunyai kristal
yang besar. Berdasarkan komposisi mineralnya, batutanduk terbagi menjadi batutanduk biotit,
piroksen, dan silikat gamping.
Metamorfisme regional adalah jenis metamorfisme yang berkembang pada suatu daerah yang
sangat luas, sekitar 1.500 km persegi. Batuan khas dari metamorfisme ini adalah Gneiss, yang

merupakan batuan yang berfoliasi kasar, yang berupa suaru lapisan yang kontras dengan tebal
1-10mm, dan biasanya berseling di antara mineral terang dan gelap. Sedangkan Sekis adalah
batuan foliasi halus dengan laminasi yang berkembang baik, sehingga, jika batuan itu pecah,
maka akan terpecah pada bidang laminasi tersebut.
2. Mineralogi Batuan Metamorf
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, faktor utama yang mengontrol derajat
metamorfisme adalah temperatur. Namun, batas antara temperatur setiap derajat
metamorfisme tidak dapat diketahui secara pasti.
Dalam prakteknya, derajat metamorfisme dapat diketahui dengan mineraloginya. Yaitu
dengan melihat mineral yang hilang dan muncul secara bersamaan. Contohnya, Biotit adalah
mineral yang paling umum di batuan metamorf, namun tidak ditemukan di metamorf yang
berderajat rendah, dan digantikan dengan Muskovit dan Khlorit.
Dalam batuan metamorf berderajat rendah, mineral plagioklas muncul sebagai albit, yang
akan bertambah kandungan kalsiumnya seiring dengan meningkatnya derajat metamorfisme.
Mineral lain seperi kuarsa dapat ditemukan hampir di semua derajat metamorfisme, sehingga
tidak bisa dijadikan indikator dari derajat metamorfisme.

Genesa Mineral

Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan,


proses pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan
faktor-faktor pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah
sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru,
mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu dalam
penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang akan diterapkan, serta membantu
dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan galian tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya
disebut dengan endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah
terubah melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes) disebut
dengan endapan sekunder (supergen).
2.2 Proses Pembentukan Endapan Mineral Primer
Pembentukan Mineral primer secara garis besar dapat diklasifikasikan
menjadi lima jenis endapan, yaitu :
a. Fase Magmatik Cair
b. Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal

e. Fase Vulkanik
Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat endapan yang
berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan :
1. Kristalisasi magmanya
2. Jarak endapan mineral dengan asal magma
a. intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku
b. peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku
c. crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
d. apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
e. tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku
3. Bagaimana cara pengendapan terjadi
a. terbentuk karena kristalisasi magma atau di dalam magma
b. terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
c. metosomatisme (replacement) yaitu :reaksi kimia antara batuan yang telah ada
dengan larutan pembawa bijih
4. Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan
5.Waktu terbentuknya endapan
a. syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan
batuan
b. epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan pembentukan
batuan.
a. Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)
Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana
mineral terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya dengan
cara gravitational settling). Mineral yang banyak terbentuk dengan cara ini adalah
kromit, titamagnetit, dan petlandit Fase magmatik cair ini dapat dibagi atas :
1. Komponen batuan, mineral yang terbentuk akan tersebar merata diseluruh masa
batuan. Contoh intan dan platina.
2. Segregasi, mineral yang terbentuk tidak tersebar merata, tetapi hanya kurang
terkonsentrasi di dalam batuan.
Injeksi, mineral yang terbentuk tidak lagi terletak di dalam magma (batuan beku),
tetapi telah terdorong keluar dari magma.
b. Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)

Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma.
Sebagai akibat kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma,
maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan
disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras
tekanan dan temperatur antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga
pembekuan berjalan dengan lambat. Mineral-mineral pegmatit antara lain : logamlogam ringan (Li-silikat, Be-silikat (BeAl-silikat), Al-rich silikat), logam-logam berat
(Sn, Au, W, dan Mo), unsur-unsur jarang (Niobium, Iodium (Y), Ce, Zr, La, Tantalum,
Th, U, Ti), batuan mulia (ruby, sapphire, beryl, topaz, turmalin rose, rose quartz,
smoky quartz, rock crystal).
c. Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)
Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma
dalam lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontakmetamorfisme, karena adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua dengan
magma yang lebih muda. Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan
temperatur tinggi dari magma kontak dengan batuan dinding yang reaktif. Mineralmineral kontak yang terbentuk antara lain : wolastonit (CaSiO3), amphibol, kuarsa,
epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit, turmalin, diopsit, dan skarn.
Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi
batuan beku intrusi dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu: baking
(pemanggangan) dan hardening (pengerasan).
Igneous metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang
berhubungan dengan penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh masa
batuan pada umumnya akan ter-rekristalisasi, terubah (altered), dan tergantikan
(replaced). Perubahan ini disebabkan oleh panas dan fluida-fluida yang memencar
atau diaktifkan oleh terobosan tadi. Oleh karena itu endapan ini tergolong pada
metamorfisme kontak.
Proses pneomatolitis ini lebih menekankan peranan temperatur dari aktivitas
uap air. Pirometamorfisme menekankan hanya pada pengaruh temperatur
sedangkan pirometasomatisme pada reaksi penggantian (replacement), dan
metamorfisme kontak pada sekitar kontak. Letak terjadinya proses umumnya di
kedalaman bumi, pada lingkungan tekanan dan temperatur tinggi.

Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida


sederhana dan oksida misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bornit, dan beberapa
molibdenit. Sedikit endapan jenis ini yang betul-betul tanpa adanya besi, pada
umumnya akan banyak sekali berisi pirit atau bahkan magnetit dan hematit. Scheelit
juga terdapat dalam endapan jenis ini (Singkep-Indonesia).
d. Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai
hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif
ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan.
Berdasarkan

cara

pembentukan

endapan,

dikenal

dua

macam

endapan

hidrothermal, yaitu :
1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam
batuan.
2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan
unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan
hidrothermal, antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T 1500C3500C), dan Hipothermal (T 3000C-5000C). Setiap tipe endapan hidrothermal diatas
selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut altersi yang
ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi minera-mineral seperti pirit
(FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu terdapat
dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au),
magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit
(FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4),
kasiterit (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs), spalerit (ZnS),
dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa,
tourmalin,

silikat-silikat,

karbonat-karbonat

Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite


(Sn, Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida,
stibnit (Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan
kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa,
dan pirit.

Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper


(Cu), argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2),
cinabar (HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan mineralmineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit (MnCO3),
barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat).
e. Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)
Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan bijih
secara primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas
Ekshalasi dibagi menjadi : fumarol (terutama terdiri dari uap air H2O), solfatar
(berbentuk gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), saffroni (berbentuk baron).
Bentuk (komposisi kimia) dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat, air
karbonat, air silikat, air nitrat, dan air fosfat.
Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari phase vulkanik
adalah : belerang (kristal belerang dan lumpur belerang), oksida besi (misalnya
hematit, Fe2O3). Sulfida masif volkanogenik berhubungan dengan vulkanisme
bawah laut, sebagai contoh endapan tembaga-timbal-seng Kuroko di Jepang, dan
sebagian besar endapan logam dasar di Kanada.
2.3 Proses Pembentukan Endapan Sedimenter
Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan
batuan sedimen, dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama sedimentasi,
atau pelapukan maupun dibentuk oleh proses hidrotermal. Mineral bijih sedimenter
umumnya mengikuti lapisan (stratiform) atau berbatasan dengan litologi tertentu
(stratabound). Endapan sedimenter yang cukup terkenal karena proses mekanik
seperti endapan timah letakan di daerah Bangka-Belitung dan endapan emas placer
di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Endapan sedimenter karena
pelapukan kimiawi seperti endapan bauksit di Pulau Bintan dan laterit nikel di
Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/ Selatan.
Y. B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter
berdasarkan sumber metal dan berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan sumber
metal dibagi dua yaitu endapan supergen endapan yang metalnya berasal dari hasil

rombakan batuan atau bijih primer), serta endapan hipogen (endapan yang metalnya
berasal dari aktivitas magma/epithermal). Sedangkan berdasarkan host-rock
(dengan pengendapan batuan sedimen) dibagi dua, yaitu endapan singenetik
(endapan yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan) serta endapan
epigenetik

(endapan

mineral

terbentuk

setelah

batuan

ada).

Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat faktor yaitu :
sumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau hypogene (primer atau
sekunder), erosi dari daerah mineralisasi yang kemudian diendapkan dalam
cekungan (supergene), dari biokimia akibat bakteri, organisme seperti endapan
diatomae, batubara, dan minyak bumi, serta dari magma dalam kerak bumi atau
vulkanisme (hypogene).
1. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil
Pelapukan Permukaan dan Transportasi
Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan
mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan
material lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan
geokimia yang baru dinamakan dispersi geokimia. Berbeda dengan dispersi
mekanis, dispersi kimia mencoba mengenal secara kimia penyebab suatu dispersi.
Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia sekunder.
Dispersi geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi di dalam kerak bumi,
meliputi proses penempatan unsur-unsur selama pembentukan endapan bijih, tanpa
memperhatikan bagaimana tubuh bijih terbentuk. Dispersi geokimia sekunder adalah
dispersi kimia yang terjadi di permukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali polapola dispersi primer oleh proses yang biasanya terjadi di permukaan, antara lain
proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan. Bahan terangkut pada proses
sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan akhirnya diendapkan pada suatu
tempat. Mobilitas unsur sangat mempengaruhi dispersi. Unsur dengan mobilitas
yang rendah cenderung berada dekat dengan tubuh bijihnya, sedangkan unsurunsur dengan mobilitas tinggi cenderung relatif jauh dari tubuh bijihnya. Selain itu
juga tergantung dari sifat kimianya Eh dan Ph suatu lingkungan seperti Cu dalam
kondisi asam akan mempunyai mobilitas tinggi sedangkan dalam kondisi basa akan
mempunyai mobilitas rendah.
Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada endapan
lateritik. Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber oksigen dari

udara atau air permukaan. Oksidasi berjalan ke arah bawah sampai batas air tanah.
Akibat proses oksidasi ini, beberapa mineral tertentu akan larut dan terbawa
meresap ke bawah permukaan tanah, kemudian terendapkan (pada zona reduksi).
Bagian permukaan yang tidak larut, akan jadi berongga, berwarna kuning
kemerahan, dan sering disebut dengan gossan. Contoh endapan ini adalah endapan
nikel laterit.
2. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik
Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan
dari residu. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung
oleh besar butir dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser
terpenting adalah Pt, Au, kasiterit, magnetit, monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet,
tantalum, rutil, dsb.
Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan dapat dibagi
menjadi :
1. Endapan plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih
primer. Mereka terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan), material
mengalami pelapukan setelah pencucian. Sebagai contoh endapan platina di Urals.
2. Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting. Terbentuk di sungai
bergerak kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral bijih yang
berat akan bergerak ke bawah sungai. Intensitas pengayaan akan didapat kalau
kecepatan aliran menurun, seperti di sebelah dalam meander, di kuala sungai dsb.
Contoh endapan tipe ini adalah Sn di Bangka dan Belitung. Au-plaser di California.
3. Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang memukul
pantai dan mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Mineral yang umum di sini adalah
ilmenit, magnetit, monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari batuan terabrasi.
4. Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami
pembatuan dan kadang-kadang termetamorfkan. Sebagai contoh endapan ini
adalah Proterozoikum Witwatersand, Afrika Selatan, merupakan daerah emas
terbesar di dunia, produksinya lebih 1/3 dunia. Emas dan uranium terjadi dalam
beberapa lapisan konglomerat. Mineralisasi menyebar sepanjang 250 km. Tambang
terdalam di dunia sampai 3000 meter, ini dimungkinkan karena gradien geotermis
disana sekitar 10 per 130 meter.
3. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia
a. Lingkungan Darat

Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah
akibat oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut red beds. Kalau
konsentrasi elemen logam dekat permukaan tanah atau di bawah tanah tempat
pengendapan

tinggi

memungkinkan

terjadi

konsentrasi

larutan

logam

dan

mengalami pencucian (leaching/pelindian) meresap bersama air tanah yang


kemudian mengisi antar butir sedimen klastik. Koloid bijih akan alih tempat oleh
penukaran kation antara Fe dan mineral lempung atau akibat penyerapan oleh
mineral lempung itu sendiri.
b. Lingkungan Laut
Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat
yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang
tinggi dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut mempunai elemen yang
rendah. Sebagai contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk
konsentrasi mineral logam yang berharga hal ini dapat terjadi kalau mempunyai
keadaan yang khusus (terutama Fe dan Mn) seperti :
a. Adanya salah satu sumber logam yang berasal dari pelapkan batuan di daratan atau
dari sistem hidrotermal bawah permukaan laut.
b. Transport dalam larutan, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang dominan
dan terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
c. Endapan di dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH)3, FeCO3 atau Fe-silikat
tergantung perbedaanpotensial reduksi (Eh).
Bijih dalam lingkungan laut ini dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh larutan koloid
membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk kulit yang
simetris disebabkan perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan pertumbuhan yang
terus menerus, oolit tersebut akan stabil di dasar laut dimana tertanam dalam
material lempungan karbonatan yang mengandung beberapa besi yang bagus. Di
dasar laut mungkin oolit tersebut reworked. Dengan hasil keadaan tersebut bijih besi
dan mangan sebagai contoh ferromanganese nodules yang sekarang ini menutupi
daerah luas lautan.

Geologi adalah ilmu yang mempelajari Bumi, meliputi sifat fisik dan
kimia,Komposisi,sturktur, proses pembentukan dan sejarah terjadinya baik yang berada
dipermukaan Bumi dan dibawah permukaan Bumi.
Sedangkan orang yang mempelajarinya disebut Geologist/ Geolog

Eksplorasi Geologi

adalah : pencarian sumberdaya alam


batuan,mineral dengan menggunakan
prinsip prinsip dasar ilmu Geologi

MINERAL
DAN
BATUAN
Apakah
Mineral ?
Definisi mineral menurut beberapa ahli :
L.G.Berry dan B.Mason,1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam
Terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas -batas tertentu dan
mempunyai atom atom yang tersusun secara teratur
D.G.A Whitten dan J.R.V Brooks,1972
Mineral adalah suatu bahan padat secara struktural homogen mempunyai
Komposisi kimia tertentu,dibentuk oleh proses alam yang anorganik
A.W.R. Potter dan H. Robinson,1977
Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi
Kimia tertentu atau dalam batas dan mempunyai sifat tetap,dibentuk dialam dan bukan hasil
suatu kehidupan
Sebagian besar mineral ini terdapat dalam keadaan padat, akan tetapi dapat juga berada dalam
keadaan
Setengah padat,gas ataupun cair

Batuan
adalah material padat yang tersusun
dari satu atau lebih mineral yang membangun bumi

Bagaimana
mineral terbentuk ?
Magma sebagai larutan silikat alam mengandung
semua ion ion yang bakal membentuk semua mineral
penyusun batuan

Magma adalah cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk


Secara alamiah,bersifat bergerak,bersuhu antara 900 - 1100c

yang berasal dari kerak Bumi bagian bawah atau selubung Bumi
Bagian atas ( Vide F.F.Grouts,1947; Turner & Verhoogen, 1960;
H.Williams,1962 )
Sifat Magma
dapat berubah menjadi magma dengan sifat yang lain,
Oleh proses proses yang disebut
Hibridisasi
Pembentukan magma baru,karena pencampuran
dua magma yang berlainan jenisnya
Sinteksis
Proses pembentukan magma baru
karena proses asimilasi dengan batuan samping
atau terlarutnya Batuan asing kedalam magma
Anateksis
Pembentukan magma dari peleburan batuan
pada kedalaman yang sangat besar

Proses dan Genesa jebakan Mineral


karena larutan Magma
Proses
Diferensiasi
Magma :
proses pemisahan magma karena pendinginan/ penurunan
temperatur dan tekanan membentuk satu atau lebih jenis mineral
baik mineral logam dan non logam
A.Kristalisasi magma
B. Metasomatisme kontak
C. Endapan Hidrothermal
D. Aktivitas Vulkanik

Kristalisasi
Magma
Sifat magma yang mobil, selalu bergerak melalui celah- celah
batuan membentuk intrusi menerobos lapisan kulit bumi,
Pada keadaan tekanan dan termperatur tinggi (> 600c ) sudah diawali
dengan pembentukan mineral mineral logam dan non logam.
Proses pergerakan magma yang diikuiti dengan penurunan tekanan
dan temperatur yang menerus mengakibatkan terjadinya kristalisasimineral silikat dengan
unsur unsur yang lebih volatil ( Pembentuk gas )

Magmatik awal
Disemination :

Kristal yang terbentuk akan tersebar merata,apabila tidak terjadi konsentrasi


Segregation :
Pemisahan kristal dan terjadi konsentrasi pada tempat tempat tertentu
Penerobosan ( injection ) :
Mineral yang sudah terbentuk akan berpindah dan terkonsentrasi

Magmatik akhir
Residual liquid segregation :
Sisa dari magma yang sudah mengkristal akan membentuk mineral mineral
dan terkonsentrasi
Residual liquid injection :
Sisa dari magma yang mengkristal menerobos ke tempat lain yang keadaan
tekanan lebih rendah membentuk mineral dan terkonsentrasi
Immiseible liquid separation and Accumulation :
Penerobosan sisa magma terhadap mineral mineral yang sudah terbentuk pada magma awal
yang kemudian membentuk mineral mineral baru dan terkonsentrasi
Karena pengaruh penerobosan/ injeksi mineral mineral yang telah terbentuk pada
magmatik awal dibawa
oleh sisa magma ke tempat lain dan terkonsentrasi bersama dengan mineral lain.
Contoh endapan magmatis dan asosiasi mineralnya :
Timah berasosiasi dengan batuan granit
Intan terjadi pada batuan kimberlit jenis peridotit
Aluminium berasosiasi dengan batuan felspatoid
Tembaga nikel berasosiasi dengan norit
Platina berasosiasi dengan norit, peridotit atau batuan ubahan ( batuan beku basa ultra
basa )
Khromit terdapat pada peridotit, anortosit dan batuan beku ultra basa

Metasomatisme
kontak :
Setelah proses pembekuan magmatis, larutan sisa magmanya disebut larutan pegmatitis
pneumatolitis ( metasomatis )
Larutan sisa magma ini terdri dari cairan HCL dan HF serta sedikit gas HO CO, HBO
Berusaha mencari jalan keluar melalui rekahan menerobos batuan beku yang telah ada dan
batuan samping, dan mengadakan reaksi kimia membentuk mineral baru. Karena proses
pendinginan larutan tersebut membentuk endapan pegmatitis
Contoh endapan mineral yang dihasilkan
Pada temperatur tinggi
Berupa mineral : magnetit, hematit, spinel
Wolframit, scheelit, kasiterit dan martit
Pada temperatur rendah
Berupa mineral pirit, kalkopirit, galena,
Sfalerit dan arsenopirit.

Endapan

Hidrothermal :
Disebabkan oleh karena proses pengendapan dari larutan/ cairan sisa magma yang telah
mengintrusi dengan temperaturnya cukup rendah
( 372c )Larutan ini mengandung oksida dan sulfida dari logam Au (emas ), Ag
( Silver ),Pb( Lead/ Timah hitam ),Zn (zine),Hg dan Fe.
Bentuk jebakan hidrotermal mengikuti bentuk rongga atau rekahan yang telah ditembus dan
diisinya
Endapan Hidrothermal terbagi dalam 3 jenis :
1) Endapan Hypothermal
Diendapkan pada tekanan dan temperatur yang paling tinggi
Berupa urat urat dan Dike pada kedalaman yang paling besar dibawah bumi.Endapan
berupa sulfida : pirit, kalkopirit, galena, sfalerit serta oksida besi.Bila menembus granit akan
menghasilkan endapan Au,Pb,Sn,W danZn
2) Endapan Mesothermal
Diendapkan pada tekanan dan temperatur yang lebih rendah dari hypothermal,terjadi dekat
dengan permukaan Bumi dan endapannya berasosiasi dengan batuan beku asam basa.
Endapan berupa sulfida Au,Cu,Ag,As,Sb dan oksida Sn.
3) Endapan Epithermal
Diendapkan pada tekanan dan temperatur yang paling rendah dibawah mesothermal,terjadi
dekat dengan permukaan Bumi
dan endapannya berasosiasi dengan Au dan Ag

Karena
aktivitas vulkanik

Proses aktivitas vulkanik selain menghasilkan/ mengeluarkan material piroklastik juga


menghasilkan uap dan gas yang mengandung unsur- unsur logam dan non logam. Material
uap dan gas tersebut mengalami pengendapan langsung dalam temperatur dan tekanan yang
rendah disekitar kepundan gunungapi
Contoh mineral yang dihasilkan
Akibat vulkanisme :
Mineral Nacl, belerang, garam KCL.
Mineral logam antara lain Tembaga,seng
Khlorida besi, oksida besi dan tembaga

Hubungan
konsep Geologi
dengan proses Mineralisasi
Kosep Geologi
adalah konsep mengenai proses proses geologi yang berlangsung secara menerus dan
berulang Sepanjang sejarahgeologi,
proses tersebut sering diikuti dengan pembentukan endapan mineral.