Anda di halaman 1dari 9

Yusuf Subekti

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 28 Oktober 2011


IMPLIKATUR PENGGUNAAN BAHASA DALAM KOMENTATOR
SEPAK BOLA DI ANTV
A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang Masalah
Komunikasi adalah hal mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Hal tersebut muncul dan berkembang seiring dengan besarnya manfaat komunikasi yang
didapatkan manusia. Manfaat tersebut berupa dukungan identitas diri, untuk membangun
kontak sosial dengan orang di sekitar kita, baik itu lingkungan rumah, sekolah, kampus
maupun lingkungan kerja (Mulyana, 2001: 4).
Selain itu, komunikasi digunakan untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan
orang lain. Jadi, komunikasi dapat berkembang dengan bertukarnya informasi yang
dimiliki oleh setiap manusia. Tindakan komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai
macam cara. Ada yang dilakukan secara langsung seperti percakapan tatap muka dan
yang dilakukan secara tidak langsung seperti komunikasi lewat medium atau alat
perantara seperti surat kabar, majalah, radio, film, dan televisi. Media televisi telah
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban kehidupan manusia, hampir dalam
keseharian manusia selalu berhubungan dengan media komunikasi massa yang paling
berpengaruh ini.
Ketika menginginkan informasi, manusia dapat menonton siaran berita di televisi, juga
ketika orang ingin memperoleh hiburan, maka televisi selalu dapat menyajikan tayangantayangan hiburan yang menarik. Dengan menonton televisi maka akan banyak hal baru
yang dapat diketahui manusia. Singkat kata, kini manusia hidupnya sudah sangat
bergantung dengan media televisi. Siaran televisi telah memungkinkan masyarakat luas
dapat dengan cepat dan mudah mengetahui berbagai perkembangan mutakhir yang terjadi
di berbagai penjuru dunia. Siaran TV juga mempunyai daya jangkau yang luas dan
mampu menembus batasan wilayah geografis, sistem politik, sosial, dan budaya
masyarakat pemirsa. Televisi potensi sebagai salah satu unsur yang bisa mempengaruhi
sikap, pandangan, gaya hidup, orientasi dan motivasi masyarakat.
Stasiun televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya sangat
banyak dan jenisnya sangat beragam. Berbagai jenis program itu dapat dikelompokkan
berdasarkan jenisnya, yaitu: (1) program informasi (news), (2) program hiburan (non
news/entertainment). Program informasi kemudian dibagi lagi kedalam jenis berita keras
(hardnews) yang merupakan laporan berita terkini yang harus segera disiarkan. Dan
berita lunak (softnews) yang merupakan kombinasi dari fakta, gossip dan opini.
Sementara program hiburan terbagi atas tiga kelompok besar yaitu: musik, drama,
permainan (gameshow), pertunjukkan dan sport (Morrisan, 2005: 100).

Sepakbola merupakan olahraga popular dan merakyat di muka bumi ini, tentu saja karena
banyak diminati setiap orang. Tayangan sepakbola sendiri bisa dinikmati untuk segala
jenis usia, baik anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua. Namun demikian, tidak bisa
dipungkiri, bahwa fenomena sepakbola memang bisa membuat kita terpana. Sepakbola
telah menjelma menjadi ideologi universal di muka bumi.
Dengan banyaknya tayangan sepakbola di televisi, orang sanggup untuk duduk berjamjam di depan televisi. Bahkan rela bangun tengah malam untuk menyaksikan tim
kesayangannya bermain dan tidak memikirkan resiko apa yang akan didapat apabila pada
pagi harinya akan melakukan suatu aktivitas. Bagi stasiun televisi itu sangat
menguntungkan karena stasiun televisi sendiri bisa mendapatkan penonton yang banyak
dengan rating yang besar. ANTV sebagai salah satu stasiun televisi di Indonesia
memanjakan pemirsanya dengan tayangan langsung pertandingan sepakbola nasional dari
ajang Djarum Indonesia Super League, yang melibatkan 15 klub terbaik.
Secara rinci alasan dipilihnya komentator sepak bola di Antv sebagai objek kajian
penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Sepak bola menjadi hal yang paling digemari semua masyarakat di penjuru dunia.
b. Banyak televisi yang menyiarkan secara langsung pertandingan sepak bola.
c. Komemtator sepak bola adalah sebagai pengantar informasi dari kejadian yang terjadi
dilapangan kepada pemirsa dilayar kaca. Sehingga komentator sepak bola harus bisa
membuat atmosfir di layar kaca sesuai dengan atmosfir dilapangan.
2. Identifikasi masalah
1. Bentuk tuturan yang mengandung implikatur percakapan pada komentator sepak bola
di Antv .
2. Implikatur yang terjadi pada bahasa yang diucapkan oleh komentator sepak bola di
Antv.
3. Faktof yang mengakibatkan adanya pemakain implikatur pada percakapan komentator
sepak bola di Antv.
4. Tujuan pemakaian ilplikatur pada percakapan komentator sepak bola di Antv.
3. Pembatasan masalah
1. Bentuk tuturan yang mengandung implikatur percakapan pada komentator sepak bola
di Antv .
2. Implikatur yang terjadi pada bahasa yang diucapkan oleh komentator sepak bola di
Antv.
3. Faktof yang mengakibatkan adanya pemakain implikatur pada percakapan komentator
sepak bola di Antv
4. Rumusan masalah
1. Bagaimana bentuk tuturan yang mengandung implikatur percakapan pada komentator
sepak bola di Antv ?
2. Bagaimana Implikatur yang terjadi pada bahasa yang diucapkan oleh komentator sepak
bola di Antv?
3. Apa saja faktof yang mengakibatkan adanya pemakain implikatur pada percakapan
komentator sepak bola di Antv?
5. Tujuan penelitian
1. Mengidentifikasi bentuk tuturan yang mengandung implikatur percakapan pada

komentator sepak bola di Antv.


2. Mendeskripsikan Implikatur yang terjadi pada bahasa yang diucapkan oleh komentator
sepak bola di Antv.
3. Mengetahui faktof yang mengakibatkan adanya pemakain implikatur pada percakapan
komentator sepak bola di Antv.
6. Manfaat penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dilaporkan agar dapat memberikan masukan (sumbangan pikiran) dan
memperkaya ilmu pengetahuan khususnya dalam studi bahasa Indonesia terutama yang
menyangkut tentang ilmu pragmatik, dalam hal ini menyangkut implikatur percakapan
komentator sepak bola di Antv.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti lain di dalam usahanya untuk
memperkaya wawasan ilmu pragmatik dan mengetahui hal-hal yang terungkap dalam
implikatur percakapan, khususnya implikatur percakapan komentator sepak bola di Antv.
B. KAJIAN PUSTAKA
1. Penelitian Relefan
Penelitian mengenai implikatur percakapan sudah banyak dilakukan diantaranya dapat
dipaparkan yaitu skripsi Chotamul Hidayah berjudul Implikatur Percakapan dalam
Pembelajaran di SD Plus Al Firdaus Surakarta (Kajian Pragmatik). Hasil penelitiannya
adalah (1) tuturan yang mengandung implikatur pada pembelajaran di SD Plus Al Firdaus
Surakarta berjenis tindak tutur asertif, direktif, komisif, maupun ekspresif. Tindak tutur
direktif merupakan tindak tutur yang banyak ditemukan, (2) dalam penerapan prinsip
kerjasama (PKS) dan prinsip kesopanan pada implikatur percakapan dalam pembelajaran
di SD Plus Al Firdaus Surakarta terjadi pelanggaran terhadap maksim kuantitas, kualitas,
relevansi, maupun cara. Pelanggaran terhadap maksim-maksim kerjasama tersebut
sebagian besar diciptakan untuk menerapkan maksim-maksim prinsip kesopanan, (3)
implikatur percakapan dalam pembelajaran di SD Plus Al Firdaus Surakarta memiliki
fungsi kompetitif (competitive), menyenangkan (convivial), bekerjasama (collaborative),
dan bertentangan (conflictive). Dari keempat fungsi tersebut, fungsi kompetitif paling
banyak ditemukan.
Skripsi Anwar dengan judul Analisis Penggunaan Implikatur Percakapan Antara
Resepsionis dan Tamu Check In di Guest House Paradiso Surakarta . Hasil penelitiannya
yaitu (1) Implikatur yang tercipta berbeda antara tuturan yang satu dengan yang lain. Hal
itu disebabkan adanya fakta berbeda yang terjadi di setiap percakapan, (2) semua
percakapan yang dibahas dalam analisis mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan
teori prinsip kerjasama Grice. Dalam percakapan tersebut memang maksim-maksim
kerjasama Grice bersifat mengambang sehingga kerjasamanya bersifat kasat mata.
Namun demikian, para resepsionis telah mampu menggunakannya dan memposisikannya
secara benar.
2. Kajian Teori

a) Pengertian Pragmatik
Pragmatik adalah satu cabang dari linguistik yang menjadi objek bahasa dalam
penggunaanya, seperti komunikasi lisan maupun tulis. Menurut Lecch
(Wijan,1996:3)pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa
berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi,morfologi,sintaksis dan
semantik. Didalam bahasa pragmatik terkadang juga memperhatikan suara dan struktur
kalimat beserta makna kalimat tersebut.
Wijan (1996:2) menjelaskan bahwa makna yang dikaji oleh prakmatik adalah makna
yang terikat. Semantik tidak bisa dipisahkan dengan kajian pemakaian bahasa. Konteks
tuturan dalam bentuk yang berbeda dapat mempunyai arti yang sama, sedangkan tuturan
yang sama dapat mempunyai arti atau maksud yang lain.
b) Peristiwa Tutur
Dala studi pragmatik terdapat pula peristiwa tutur. Peristiwa tutur merupakan faktor lain
yang mempengaruhi bentuk makna dan makna wacana. Menurut Yule (2006:99)
peristiwa tutur adalah suatu kegiatan di mana peserta berinteraksi dengan bahasa dalam
cara-cara konvensional untuk mencapai satu hasil.
c) Situasi tutur
Situasi tutur dibutuhkan untuk memahami satu bahasa dimana peristiwa tutur itu terjadi.
Tuturan agar dapat dipahami menurut Leech (Wijan,1996:10) menyebutkan sejumlah
aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi prakmatik.
d) Pengertian Implikatur
Istilah implikatur dipakai oleh Grice untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan,
disarankan atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda dengan apa yang sebenarnya
dikatakan oleh penutur (Brown danYule, 1996: 31). Dalam suatu tindak percakapan,
setiap bentuk tuturan (utterance) pada dasarnya mengimplikasikan sesuatu. Implikasi
tersebut adalah proposisi yang biasanya tersembunyi di balik tuturan yang diucapkan, dan
bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut. Pada gejala demikian tuturan berbeda
dengan implikasi (Wijana, 1996: 37). Adanya perbedaan antara tuturan dan implikasi
kadang-kadang dapat menyulitkan mitra tutur untuk memahaminya, namun pada
umumnya antara penutur dan mitra tutur sudah saling berbagi pengalaman dan
pengetahuan sehingga percakapan dapat berjalan dengan lancar. Dengan demikian,
implikatur mengisyaratkan adanya perbedaan antara tuturan dengan maksud yang ingin
disampaikan.
Menurut Wijana (1996: 38), dengan tidak adanya keterkaitan semantik antara suatu
tuturan dengan yang diimplikasikan, maka dapat diperkirakan bahwa sebuah tuturan akan
memungkinkan menimbulkan implikatur yang tidak terbatas jumlahnya. Dalam contoh
(1), (2), dan (3) berikut ini terlihat bahwa tuturan (+) Bambang datang memungkinkan
memunculkan reaksi yang bermacam-macam Rokoknya disembunyikan, Aku akan pergi,
dan Kamarnya dibersihkan. Masing-masing reaksi itu memunculkan implikasi yang
berbeda-beda.
(1) + Bambang datang
- Rokoknya disembunyikan
(2) + Bambang datang
- Aku akan pergi dulu
(3) + Bambang datang
- Kamarnya dibersihkan

Jawaban (-) dalam (1) mungkin mengimplikasikan bahwa Bambang adalah perokok,
tetapi ia tidak pernah membeli rokok. Merokok kalau ada yang memberi, dan tidak
pernah memberi temannya, dan sebagainya. Jawaban (-) dalam (2) mungkin
mengimplikasikan bahwa (-) tidak senang dengan Bambang. Akhirnya jawaban (-) dalam
(3) mengimplikasikan bahwa Bambang adalah seorang pembersih. Ia akan marah-marah
melihat sesuatu yang kotor. Penggunaan kata mungkin dalam menafsirkan implikatur
yang ditimbulkan oleh sebuah tuturan tidak terhindarkan sifatnya sehubungan dengan
banyaknya kemungkinan implikasi yang melandasi kontribusi (-)
dalam (1), (2), (3).
Menurut Levinson implikatur percakapan (conversational implcature) merupakan konsep
yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal:
1) konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak
terjangkau oleh teori linguistik.
2) konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang
dikatakan secara lahiriah.
3) konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isideskripsi semantik.
4) konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat.
(http://lisadypragmatik.blogspot.com/2011/06/pragmatik-oleh-sidon.html).

Sebagai contoh adalah sebagai berikut:


(4) A: Jam berapa sekarang?
B: Korannya sudah datang.
Kalimat (4A) dan (4B) tidak berkaitan secara konvensional. Namun, pembicara kedua
sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikan sudah cukup untuk menjawab
pertanyaan pembicara pertama, sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa
diantarkan. Marmo Soemarmo (1994:172) menyatakan bahwa kebanyakan dari apa yang
diucapkan seseorang dalam percakapan sehari-harinya mengandung implikatur sebagai
contohnya adalah percakapan dua orang yang duduk sebangku dalam bus kota sebagai
berikut:
Hari itu sangat panas, apalagi dengan keadaan bus yang sesak. Salah satu orang diantara
keduanya (peneliti andaikan sebagai B) mengeluarkan rokok dari sakunya dan merokok.
Tidak lama kemudian muncullah percakapan seperti di bawah ini:
A: cuaca hari ini sangat panas
B: maaf . . . . . . .
Dengan mengerti implikatur yang ingin diungkapkan si A, si B memahami bahwa ujaran
si A bukanlah ujaran yang memberikan informasi bahwa cuaca hari ini sangat panas,
melainkan sebuah permintaan agar ia tidak merokok, maka ia pun meminta maaf dan
mematikan rokoknya.
e) Jenis Implikatur
Grice, seperti diungkap oleh Thomas menyebut dua macam implikatur, yaitu:
1) Implikatur Konvensional

Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika,


ujaran yang mengandung implikatur jenis ini, seperti diungkap oleh Gunarwan (2004:14)
dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. Contoh:
(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya.
Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri
Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan.
2) Implikatur Konversasional
Implikatur Konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan
konteks tertentu. Contoh:
(6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok.
Contoh (6) di atas merupakan implikatur konversasional yang bermakna tidak dan
merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak
saya?.
(http://tulisanmakyun.blogspot.com/2011/06/linguistik pragmatik.html)
C. METODE PENELITIAN
1. Subjek dan Objek Kajian
Subjek penelitian atau populasi adalah merupakan tempat- tempat data yang diteliti
ditemukan. Subjek atau populasi adalah keseluruhan individu dari segi-segi tertentu
bahasa (Subroto,1992:32).Subjek dari dari penelitian ini adalah komentator sepak bola di
Antv.
Objek penelitian atau sampel adalah sebgian dari satu populasi yang dijadikan objek
penelitian langsung (Subroto,1992:32) Sedangkan Objek dari penelitian ini adalah bentuk
tuturan komentator sepak bola di Antv.
2. Teknik pemerolehan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian sangat penting. Penyediaan data merupakan
upaya seorang peneliti dalam menyediakan data yang berkaitan langsung dengan masalah
yang dimaksud (Sudaryanto, 1993 :5).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik rekam dan catat untuk memperoleh
data. Teknik rekam adalah teknik yang dilakukan dengan perekaman yang menggunakan
tape recorder tertentu sebagai alatnya. Teknik catat adalah teknik yang dilakukan
pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi
(Sudaryanto,1993:135)
Dalam penelitian ini, akan menggunakan teknik simak catat. Jadi dalam penelitian ini
peneliti merekam percakapan komentator sepak bola di Antv. Setelah diadakan
perekaman, menyimak tuturan-tuturan tersebut dan mentranskripsikannya dalam kartu
data. Tujuan pentranskripsian ini adalah agar peneliti mudah mengamati data- data yang
nantinya akan dianalisis.
3. Teknik analisis data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka setelah data diklasifikasikan, peneliti
menganalisis data dengan metode padan. Menurut Sudaryanto (1993:13-14), metode
padan merupakan analisis data yang memiliki alat penentu di luar bahasa, terlepas, dan
tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Sedangkan teknik yang digunakan
adalah teknik referensial dan teknik prakmatis. Teknik referensial digunakan untuk
mendeskripsikan bentuk bentuk implikatur, sedangkan teknik pragmatis digunakan untuk

menjelaskan implikasi dan mengetahui faktor yang menyebabkan pemakaian implikatur.


4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah televisi. Yaitu siaran sepak bola
yang ditayangkan oleh Antv, kemudian direkam dengan alat perekam. Langkah
selanjutnya mencari data- data yang berhubungan dengan implikatur. Setelah data
didapatkan kemudian data dianalisis dengan teori yang sudah ada. Terakhir adalah
menyimpulkan hasil penelitian.
D. JADWAL KEGIATAN
No Kegiatan Tujuan/ Minggu kePenanggung jawab
1. Penyusunan draf unstrumen penelitian Memperoleh draf instrumen penelitian / Peneliti
1, 2, 3
1.1 Penentuan sempel penelitian Memperoleh sempel tuturan percakapan komentator
sepak bola yang akan diteliti / Peneliti 3,4
2. Sosialisasi instrumen penelitian Memperoleh unstrumen penelitian yang siap untuk
dipakai / Peneliti 5,6
3. Pengumpulan data
3.1 Pemilihan informal Mencari informasi program yang akan direkam / Peneliti 7,
3.2 Perekaman data Memperoleh data dalam bentuk rekama 8, 9
3.3 Pentranskripsian data Memperoleh data yang tela ditrankripsi ke dalam implikatur
percakapan./ Peneliti 10, 11, 12
4. Analisis data
4.1 Analisis bentuk tuturan implikatur bahasa. Menganalisis data dengan tori bentuk
tuturan implikatur bahasa / Peneliti 13, 14, 15
4.2 Analisis implikatur bahasa Menganalisis data dengan teori implikatur bahasa /
Peneliti. 16,17,18
4.3 Analisis faktor implikatur bahasa Menganalisis faktor- faktor yang menyebabkan
implikatur bahasa / Peneliti 19, 20,21
5. Pelaporan Tersususnya laporan penelitian/ Peneliti. 22
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rofik. 2002. Analisis Penggunaan Implikatur Percakapan Antara Resepsionis
dan Tamu Check in di Guest House Paradiso Surakarta. Skripsi. Surakarta : Universitas
Sebelas Maret
Brown, Gillian dan Yule, George. 1996. Analisis Wacana. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Hidayah , Chotamul. 2006. Implikatur Percakapan dalam Pembelajaran di SD Plus
Al Firdaus Surakarta (Kajian Pragmatik).Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Hidayah, Chotamul, dkk. 2005. Analisis Implikatur Percakapan dalam Pembelajaran
DiSekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) An Nur Gemolong Sragen. Laporan Program
Penelitian Inovatif Mahasiswa Provinsi Jawa Tengah. Surakarta: Universitas Sebelas

Maret.
Soemarmo, Marmo. 1994. PELLBA 7. Yogyakarta : Kanisius
Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitisn Linguistik Struktural. Surakarta :
Sebelas Maret Press.
Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik; Ke Arah Memahami Metode Linguistik.
Yogyakarta: Gadjahmada University Press.
_________ . 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.as Maret.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi Ofset.
(http://lisadypragmatik.blogspot.com/2011/06/pragmatik-oleh-sidon.html).
(http://tulisanmakyun.blogspot.com/2011/06/linguistik pragmatik.html)
PROPOSAL PENELITIAN
IMPLIKATUR PENGGUNAAN BAHASA DALAM KOMENTATOR SEPAK BOLA
DI ANTV
Disusun Oleh:
Yusuf Subekti
(08003023)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2011
Diposkan oleh Yusuf di 07.13
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

AN ANALYSIS OF JARGON IN FOOTBALL SPORT


ABSTRACT
Language is a means of communication to express the ideas and feelings. People
communicate with each other using language in their activities. Many activities in this
life have their own special language. The research entitled An Analysis of Jargon in
Football Sport is intended to find out the forms of jargon in football sport, the meanings
of jargon in football sport, and the functions of jargon in football sport.
In this research, the writer uses qualitative method. The use of qualitative method is
appropriate with the methods of analyzing data in this research. The data of this research
focuses on words matter than numbers and there is no statistical procedure. Some
instruments to support the data in this research are internet, football magazine, football
match, football player, football commentator. The writer uses the noting and interview
techniques to collect the data. The analysis is focused on the forms, the meanings, and the

functions of jargon in football sport using descriptive qualitative method.


The result of this research shows that there are four forms of jargon in football sport, they
are word, phrase, abbreviation and acronym forms. Word has the highest frequency of
occurrence. There are 55 or 56.12% of the total data, 36 phrases or 36.73% of the total
data, 5 abbreviations or 5.10% of the total data and acronym is the smallest frequency,
there are 2 acronyms or 2.04% of the total data. Jargon in football sport has denotative
and connotative meanings. The percentage of denotative meaning found in jargon in
football sport is higher than connotative meaning. There are 96 or 97.96% denotative
meanings of the total data and 2 connotative meanings or 2.04% of the total data. The
functions of jargon in football sport are to give a person sense of belonging to a specific
group, to make it easier for a person to communicate with their friends and to show
effective signals for identification.
http://skripsi-maft.blogspot.com/2008/10/analysis-of-jargon-in-football-sport.html