Anda di halaman 1dari 16

ACARA III & IV

PENGUKURAN ENTALPI, ENERGI BEBAS, DAN ENTROPI PADA


SISTEM KESETIMBANGAN IODIUM-IODIDA
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum
Menentukan nilai perubahan entalpi H, entropi S dan energi bebas G dalam
2.
3.

sistem kesetimbangan iodium-iodida melalui pengukuran.


Waktu Praktikum
Rabu, 19 November 2014
Tempat Praktikum
Lantai III, Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Energi bebas Gibbs didefinisikan sebagai: G= H TS. Untuk suatu perubahan
pada T dan P konstan, maka G= H - TS. Sesuai dengan hukum kedua, setiap
perubahan spontan yang terjadi pada suatu sistem harus disertai dengan penurunan
tenaga bebas, ini berarti bahwa G harus negatif (G < 0). Jadi, perubahan tenaga bebas
Gibbs, G, terdiri atas dua faktor yang memberikan kontribusi terhadap spontanitas,
yaitu H dan S (Sastrohamidjojo, 2005: 223-224).
Pengertian entalpi dipakai untuk perubahan-perubahan pada tekanan tetap
tergantung keadaan awal dan akhir sistem. Besarnya perubahan entalpi dan sistem :
H = H2 H1
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : H, E atau q positif, artinya sistem
memperoleh energi ; W>0 kerja dilakukan terhadap sistem. Panas reaksi dapat
dinyatakan sebagai perubahan energi produk dan reaktan pada volume konstan (E)
atau pada tekanan konstan (H) (Dogra, 1990 : 327).
Energi bebas pembentukan standar. Gof suatu senyawa didefinisikan sebagai
perubahan energi bebas yang terjadi dalam reaksi embentukan satu mol senyawa dari
unsur unsurnya. Denagn semua zat berada dalam keadaan standar. Energi bebas
pembentukan standar senyawa dapat ditentukan secara eksperimen dan hasil penentuan
ini,dalam kj/mol atau kkal/mol , biasanya dilakukan pada suhu 25 oC (Achmad, 2001 :
153).
Tingkat kecenderungan terjadinya korosi pada logam dinyatakan dengan
perubahan energi bebas G sedangkan laju korosi ditentukan oleh energi aktivasi G++
27

yang menunjukan penghalang energi yang harus dilawan oleh atom-atom logam supaya
terjadi korosi. Perubahan secara alami ( spontan ) terjadi jika perubahan energi bebas
G negatif yaitu terjadi pelepasan energi (Sidiq, 2013).
Untuk setiap proses ekstraksi, larutan ekstrak dipisahkan dari ampasnya
dengan penyaringan dan setelah 3 kali ekstraksi filtrat dicampur jadi satu. Selanjutnya,
hasil ekstraksi didestilasi pada temperatur 60C untuk memisahkan minyak dari
pelarutnya menggunakan alat rotary evaporator vakum. Hasil ekstraksi serbuk kulit biji
jambu mete menggunakan campuran pelarut dalam berbagai perbandingan diperoleh
hasil tertinggi dengan campuran pelarut heksana-etanol perbandingan 3:1, dengan
rendemen 44,38% (Simpen, 2008).
Energi bebas Gibbs (F) dalam hal ini digunakan untuk menentukan apakah
sistem difusi piroksikam merupakan suatu proses yang spontan atau sebaliknya. Nilai
yang positip ini menunjukkan bahwa sistem permeasi tersebut berjalan tidak spontan.
Hal ini juga terlihat dari nilai H yang positip, menunjukkan bahwa proses difusi
tersebut merupakan proses endotermik (Aryani, 2007).
Iodium adalah zat gizi esensial bagi tubuh. Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKI) merupakan salah satu masalah gizi yang menjadi faktor penghambat
pembangunan sumber daya manusia karena dapat menyebabkan terganggunya
perkembangan mental dan kecerdasan manusia. Penentuan iodida dapat dilakukan
dengan spektrofotometer metoda spektrofotometri sinar tampak dengan memanfaatkan
metode kolorimetri yaitu dengan cara pembentukan kompleks amilum-iodium yang
berwarna biru dan menyerap cahaya pada panjang gelombang 615 nm (Febrianti, 2013).
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat-alat Praktikum
a. Buret 50 ml
b. Corong kaca 100 mm
c. Corong pisah 500 ml
d. Erlenmeyer 100 ml
e. Gelas kimia 100 ml
f. Gelas kimia 1000 ml
g. Gelas ukur 100 ml
h. Kain lap
i. Hot plate
j. Klem
k. Labu takar 250 ml
l. Pipet tetes
m. Pipet volume 10 ml
n. Rubber bulb
o. Statif
28

p. Stopwatch
q. Termometer 100C
2. Bahan-bahan Praktikum
a. Aquades (H2O(l))
b. Es batu (H2O(s))
c. Larutan H2SO4 (Asam sulfat) 1 M
d. Larutan KI (Kalium iodida) 0,1 M
e. Larutan KI 10 %
f. Larutan I2 jenuh dalam CCl4
g. Larutan indikator amilum
h. Larutan Na2S2O3 (Natrium tiosianat) 0,02 M
D. SKEMA KERJA
1. Proses Ekstraksi
Sebanyak 4 perlakuan
100 mL KI 0,1 M
Dimasukkan ke dalam labu takar 250 mL

+ 2 mL H2SO4 1 M

+ 20 mL larutan I2 jenuh dalam CCl4

Ditutup

Larutan 1

Larutan 2

Larutan 3

Fase organik

Larutan 4

Diekstraksi masing-masing pada kondisi


suhu: 20, 30, 40, dan 50 C selama 30 menit
Dibiarkan hingga terjadi pemisahan secara
sempurna (5-10 menit)
Diukur suhu larutan
Dimasukkan masing-masing fase larutan ke
dalam erlenmeyer untuk dititrasi
Fase air

2. Pengukuran/Analisis Kimia
a. Penentuan I2 dalam fase organik
Fase organik

Diekstraksi balik dengan 20 mL KI 10 %

Fase organik
+ 3 tetes indikator amilum

Fase air

organ

29

Dititrasi dengan Na2S2O3 0,02 M

Hasil
b. Penentuan I3- dalam fase air

E. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel PerubahanWarna

20 mL fase air
+ 3 tetes indikator amilum
Dititrasi dengan Na2S2O3 0,02 M
Hasil

Perlakuan
1. Proses Ekstraksi
100 mL KI + 2 ml H2SO41 M

Hasil Pengamatan
Warna awal larutan KI = bening,
H2SO4

keduanya
+ 20 mL larutan jenuh I2 dalam
CCl4

bening,

setelah

bercampur

larutan

menjadi berwarna bening keruh.


Warna awal larutan I2 jenuh
dalam CCl = ungu pekat, setelah

Diekstraksi 30 menit dalam


kondisi suhu 20 , 30 , 40C
dan 50C

ditambahkan

dalam

larutan,

larutan menjadi berwarna coklat


bening kekuningan.
Setelah
larutan

diekstraksi,

terbentuk 2 fase yaitu fase air


(bagian atas) berwarna kuning
dan fase organik (bagian bawah)
berwarna ungu pekat.
2. Pengukuran atau Analisis Kimia:
a. Penentuan I2 dalam fase air
Diekstraksi kembali dengan 20
ml KI 10%

Larutan

fase

organik

setelah

ditambahkan larutan KI 10%


warna

larutan

menjadi

pink.

Setelah diekstraksi terbentuk 2


fase dalam larutan. Fase organik
Fase organik yang didapat

(bagian bawah) berwarna ungu.

ditambahkan amilum 3 tetes

Fase air (bagian atas) berwarna


30

Dititrasi dengan Na2S2O3 0,02


M

b. Penentuan I3- dalam fase air


20 mL fase air yang didapat +

kuning.
Larutan menjadi berwarna pink.
Setelah dititrasi warna larutan
menjadi putih susu.

3 tetes indikator amilum


Dititrasi dengan Na2S2O3 0,02
M

Setelah dititrasi larutan menjadi


berwarna bening.

2. Penentuan I2 dalam Fase Air


Kondisi Suhu
(C)

Volume I2 Fase Organik


(mL)

Volume Na2S2O3 0,02 M


(mL)

20
30
40
50

17
14
15
16

5,4
9,5
10,4
16

Kondisi Suhu
(C)

Volume I2 dan I3- Fase Air


(mL)

Volume Na2S2O3 0,02 M


(mL)

20
30
40
50

20
20
20
20

24,8
26,5
12,2
25,5

3. Penentuan I3- dalam Fase Air

F. ANALISIS DATA
1. Persamaan Reaksi
a. I2(aq) + 2S2O32-(aq) S4O62-(aq) + 2Ib. I-(aq) + I2(aq)

I3-(aq)
31

2. Perhitungan
Nilai Kd pada Berbagai Suhu
T (oC)

25,0

38,4

49,7

68,1

Kd

89,9

92,6

95,5

98,6

30

40

50

Grafik Hubungan antara T dengan Kd

Intersep

Intersep {x, y}

= {0, 84,88}

Slope

= 0,204
a. Penentuan Kd
1) Untuk T = 20 C
Kd = (Slope x T) + intersep
= (0,204 x 20) + 84,88
= 88,96
2) Untuk T = 30 C
Kd = (Slope x T) + intersep
= (0,204 x 30) + 84,88
= 91
3) Untuk T = 40 C
Kd = (Slope x T) + intersep
= (0204 x 40) + 84,88
= 93,04
4) Untuk T = 50 C
Kd = (Slope x T) + intersep
= (0,204 x 50) + 84,88
= 95,08
Tabel Analog
T (oC)

20

32

Kd

88,96

91

93,04

95,08

b. Penentuan [I2]air dari [I2]organik


1) Untuk T = 20 C
a). mmol I2 organik

b). [I2]organik

M
c). [I2]air

2) Untuk T = 30 C
a) mmol I2 organik

b) [I2]organik

c) [I2]air

33

3) Untuk T = 40 C
a) mmol I2 organik

b) [I2]organik

c) [I2]air

4) Untuk T = 50 C
a) mmol I2 organik

b) [I2]organik

c) [I2]air

c. Penentuan [I3-]air
1) Untuk T = 20 C
34

a) mmol [I3-]air

b) Mfase air

c) [I3-]air

= Mfase air - [I2]air


= 0,0124 3,5707 x 10-5
= 0,0124 M

2) Untuk T = 30 C
a) mmol [I3-]air

b) Mfase air

c) [I3-]air

= Mfase air - [I2]air


= 0,0133 7,4568 x 10-5
= 0,0132 M

3) Untuk T = 40 C
a) mmol [I3-]air

b) Mfase air

c) [I3-]air

= Mfase air - [I2]air


= 6,1 x 10-3 7,4520 x 10-5
= 6,0255 x 10-3 M
35

4) Untuk T = 50 C
a) mmol [I3-]air

b) Mfase air

c) [I3-]air

= Mfase air - [I2]air


= 0,0128 10,5175 x 10-5
= 0,0127 M

d. Penentuan [I-]air
1) Untuk T = 20 C
[I-]air
= 0,1 0,0124
= 0,0876 M
2) Untuk T = 30 C
[I-]air
= 0,1 0,0132
= 0,0868 M
3) Untuk T = 40 C
[I-]air
= 0,1 6,0255 x 10-3
= 0,0940 M
4) Untuk T = 50 C
[I-]air
= 0,1 0,0127
= 0,0873 M
e. Penentuan Kc
1) Untuk T = 20 C
Kc

= 3964,2790
36

2) Untuk T = 30 C
Kc

= 2039,3967
3) Untuk T = 40 C
Kc

= 860,1860
4) Untuk T = 50 C
Kc

= 1383,2402
f. Penentuan Nilai ln K dari Kc
1) Untuk T = 20 C
ln K = ln Kc
= ln 3964,2790
= 8,2851
2) Untuk T = 30 C
ln K = ln Kc
= ln 2039,3967
= 7,6204
3) Untuk T = 40 C
ln K = ln Kc
= ln 860,1860
= 6,7571
4) Untuk T = 50 C
ln K = ln Kc
= ln 1383,2402
= 7,2322
g. Penentuan

dari T

1) Untuk T = 20 C
= 293 K
= 3,4130 x 10-3 K-1
2) Untuk T = 30 C
= 303 K
37

= 3,3003 x 10-3 K-1


3) Untuk T = 40 C
= 313 K
= 3,1949 x 10-3 K-1
4) Untuk T = 50 C
= 323 K
= 3,0960 x 10-3 K-1
h. Tabel Analog
T (C)

T (K)

20
30
40
50

293
303
313
323

i. Grafik Hubungan antara

Intersep {x, y}

(K-1)
3,4130 x10-3
3,3003 x10-3
3,1949 x10-3
3,0960 x10-3

Kc

ln K

3964,2790
2039,3967
860,1860
1383,2402

8,2851
7,6204
6,7571
7,2322

dengan ln K

= {0, ; 5,107}

Slope

= 3,869
j. Penentuan Nilai H dan S
38

1) H
2) S

= - (slope x R)
= - (3,869 x 8,314)
= - 32,1669 J/mol
= intersep x R
= 5,107 x 8,314
= 42,4596 J/K mol

k. Penentuan Nilai G
1) Untuk T
= 20 C
= 293 K
G = H (T x S)
= (-32,1669) (293 x 42,4596)
= - 12472,8297 J/mol
2) Untuk T
= 30 C
= 303 K
G = H (T x S)
= (-32,1669) (303 x 42,4596)
= -12897,4257 J/mol
3) Untuk T
= 40 C
= 313 K
G = H (T x S)
= (-32,1669) (313 x 42,4596)
= -1332,0217 J/mol
4) Untuk T
= 50 C
= 323 K
G = H (T x S)
= (-32,1669) (323 x42,4596)
= -13746,6177 J/mol
G. PEMBAHASAN
Entalpi adalah istilah dalam termodinamikayang menyatakan jumlah energi dari
suatu sistem termodinamika. Total entalpi (H) tidak bisa diukur langsung. Untuk
mengukur entalpi suatu sistem, kita harus menentukan titik reference terlebih dahulu,
baru kita dapat mengukur perubahan entalpi. Perubahan H bernilai positif untuk reaksi
endoterm dan negatif untuk eksoterm. Entropi merupakan salah satu besaran
termodinamika yang mengukur energi dalam sistem per satuan temperatur yang tak
dapat digunakan untuk melakukan usaha. Entropi sebuah sistem tertutup selalu naik dan
pada kondisi transfer panas, energi panas berpindah dari komponen yang bersuhu lebih
tinggi ke komponen yang bersuhu lebih rendah. Energi bebas gibbs didefinisikan
sebagai perbedaan antara energi entalpi (H) dengan energi yang tidak digunakan untuk
kerja berupa entropi (S) pada temperatur absolut (T). Perubahan energi bebas gibbs
(DG) merupakan salah satu besaran termodinamika yang dapat digunakan untuk
meramalkan arah reaksi kimia.
39

Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan


kepadatannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang
lainnya pelarut organik. Pada praktikum ini proses ekstraksi yang digunakan adalah
ekstraksi cair-cair. Ekstraksi cair-cair dilakukan untuk mendapatkan suatu senyawa
dalam campuran berfase cair dengan pelarut lain yang memiliki fase cair juga. Ekstraksi
cair-cair sangat berguna untuk memisahkan analit yang dituju dari pengganggu dengan
cara melakukan partisi sampel antara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Salah
satu fasenya seringkali berupa air dan fase yang lainnya adalah pelarut organik.
Pada praktikum ini bertujuan untuk menentukan nilai perubahan H, entropi S
dan energi bebas gibbs G dalam sistem kesetimbangan iodium-iodida melalui
pengukuran konsentrasi zat saat setimbang. Dalam praktikum ini dilakukan dua
percobaan.
Pertama, proses ekstraksi. Dilakukan empat perlakuan berbeda terhadap larutan
KI. Kemudian pada larutan KI ditambhakan larutan asam sulfat. Warna awal kedua
larutan, bening. Setelah dicampurkan larutan menjadi bening keruh. Dalam hal ini ion I dalam larutan KI akan terurai membentuk fase air. Selanjutnya ditambahkan larutan I 2
jenuh dalam CCl4, membuat larutan menjadi coklat bening kekuningan. Hal ini
menyebabkan ion I- membentuk ion I3- hingga mencapai kesetimbangan. Iodium
bertindak sebagai oksidator dan ion iodida sebagai reduktor. Sedangkan H 2SO4
berfungsi sebagai zat pengoksidasi yang merupakan oksidator cukup kuat yang nantinya
akan bereaksi dengan ion iodida berlebih. CCl4 juga merupakan pelarut organik non
polar yang akan membentuk fase organik. Selanjutnya larutan diekstraksi pada kondisi
suhu 20 , 30 , 40C dan 50C. Setelah larutan diekstraksi, terbentuk 2 fase pada
larutan, dimana pada lapisan atas berwarna kuning yang merupakan fasei air dan pada
lapisan bawah berwarna ungu pekat yang merupakan fase organik. Terbentuknya dua
fase tersebut disebabkan karena adanya perbedaan berat jenis, dimana fase organik
mengandung unsur halogen yaitu Cl yang menyebabkan massa jenis fase organik lebih
besar dan fase organik pun berada pada lapisan bawah.
Percobaan kedua, pengukuran atau analisis kimia. Dilakukan dua kali percobaan
atau perlakuan. Pertama, penentuan I2 dalam fase organik. Digunakan fase organik yang
telah didapatkan sebelumnya untuk diekstraksi balik dengan ditambahkan larutan KI 10
%. Setelah diekstraksi terbentuk dua fase pada larutan. Lapisan atas berwarna kuning
(fase air) dan lapisan bawah berwarna ungu (fase organik). Fase organik yang didapat
40

inilah yang akan dititrasi. Sebelum dititrasi larutan ditambahkann indikator amilum dan
larutan menjadi berwarna pink. Penggunaan amilum, dikarenakan amilum dapat
membentuk ikatan kompleks dengan iodium. Indikator ini berfungsi untuk
menunjukkan titik akhir titrasi saat iodium habis bereaksi. Setelah dititrasi dengan
Na2S2O3 larutan berubah menjadi putih susu. Seharusnya setelah dititrasi larutan
menjadi bening karena ion iodida dalam larutan yang dititrasi habis bereaksi dengan ion
S2O32- dari Na2S2O3. Hal ini dapat terjadi karena dalam proses ekstraksi, pengadukan
atau pengocokan yang dilakukan tidaklah konstan. Dalam percobaan ini didapatkan
volume fase organik dalam berbagai suhu yang berbeda secara berturut-turut ialah 17
ml, 14 ml, 15 ml dan 16 ml dengan volume Na2S2O3 yang digunakan pada saat dititrasi
sebanyak 5,4 ml ; 9,5 ml ; 10,4 ml dan 16 ml. Berdasarkan analisis data didapat [I 2]
organik sebesar 3,1765 x 10-3 M ; 6,7875 x 10-3 M ; 6,9333 x 10-3 M dan 10-2 M.
Kedua, penentuan I3- dalam fase air. Dalam percobaan ini digunakan fase air
yang telah didapat untuk selanjutnya dititrasi. Sebelum dititrasi larutan ditambahkan
larutan indikator untuk mengetahui titik akhir titrasi. Setelah Na2S2O3 larutan berubah
menjadi bening. Volume Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi secara berturu-turut
sebanyak 24,8 ml ; 26,5 ml ; 12,2 ml dan 25,5 ml. Berdasarkan data yang didapat nilai
[I3-] air adalah 0,0124 M ; 0,0312 M ; 6,0255 x 10-3 M dan 0,0127 M.
Untuk menentukan nilai H, S dan G, sebelumnya kita menghitung nilai 1/T
pada masing-masing suhu. Didapatkan 1/T pada masing-masing suhu ialah 3,4130 x 10-3
K-1 ; 3,3003 x 10-3 K-1 ; 3,1949 x 10-3 K-1 dan 3,0960 x 10-3 K-1. Kemudian ln K yang
didapat nilai slope sebesar 3,869. Selanjutnya kita dapat menentukan nilai H, S dan
G. H yang didapat sebesar 32,1669 J/mol, S sebesar 42,4596 J/K mol, sedangkan
nilai G pada masing-masing suhu sebsar -12472,8297 J/mol ; -12897,4257 J/mol ;
-13322,0217 J/mol dan -1346,6177 J/mol. Pada nilai G didapat nilai negatif yang
menandakan reaksi berlangsung spontan, dan nilai H yang bernilai negatif
menandakan reaksi berlangsung secara eksoterm (melepas kalor). Reaksi spontan yang
terjadi juga dapat dibuktikan dengan nilai S yang positif.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan analisis data yang didapat
melalui sistem kesetimbangan iodium-iodida, diperoleh nilai H = 32,1669 J/mol, S
= 42,4596 J/K.mol dan nilai G berturut-turut adalah -12472,8297 J/mol ; -12897,4257
J/mol ; -13322,0217 J/mol dan -1346,6177 J/mol.
41

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 2001. Stoikiometri dan Energetika Kimia. Bandung : PT. Citra Adhitya
Bakti.
Aryani, Ni Luh Dewi dan Suwaldi Martodihardjo. 2007. Uji Permeabilitas Intrinstik
dan Termodinamika Difusi Piroksikam secara In Vitro. Surabaya : Universitas
Surabaya.
Dogra, S.K. 1990. Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta : UI Press.
Febrianti, Sita, dkk. 2013. Penentuan Kadar Iodida secara Spektrofotometri
berdasarkan Pembentukan Kompleks Amilum-Iodium menggunakan Oksidator
Iodat. Malang : Universitas Brawijaya.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM Press.
Sidiq, M. Fajar. 2013. Analisa Korosi dan Pengendaliannya. Slawi : Akademi Perikanan
Baruna Slawi.
Simpen, I N. 2008. Isolasi Casshew Nut Shell Liquid dari Kulit Biji Jambu Mete
(Anacardium occidantale L) dan Kajian Beberapa Sifat Fisika-Kimianya. Bukit
Jimbaran : Universitas Udayana.

42