Anda di halaman 1dari 15

Titrasi argentometri merupakan teknik khusus yang digunakan untuk menetapakan perak dan

senyawa halida. Penetapan kadar zat analit didasari oleh pembentukan endapan. Empat teknik
argentometri telah dikembangkan yaitu metode Mohr, Volhard, Fajans dan Liebig.
Mohr mengembangkan titrasi argentometri untuk menetapkan kadar klorida dan bromida
dalam suasana netral. Larutan standar yang dipergunakan adalah perak nitrat, dengan
indikator kalium kromat. Pada penambahan perak nitrat akan terbentuk endapan berwarna
putih sampai mencapai titik ekivalen, penambahan sedikit saja perak nitrat akan
menyebabkan terjadi endapan merah yang berasal dari perak kromat. Hal ini
mengindikasikan bahwa seluruh klorida atau bromida sudah bereaksi.
Teknik Volhard, dikembangkan untuk menetapkan kadar perak, sedangkan Fajans dan Liebig
kedua-duanya mengembangkan teknik penetapan titik ekivalensi titrasi. Fajans
mnegembangkan indikator adsorbsi, dimana warna teradsorpsi pada permukaan endapan
sehinga terjadi perubahan warna pada endapan sebagai titik akhir titrasi. Sedangkan Liebig
terbentuknya larutan yang kurah karena adanya senyawa kompleks sianida.
TITRASI ARGENTOMETRI
Argentometri Metode Fajans
Indicator adsorbsi dapat dipakai untuk titrasi argentometri. Titrasi argentometri yang
menggunakan indicator adsorbsi ini dikenal dengan sebutan titrasi argentometri metode
Fajans. Sebagai contoh marilah kita gunakan titrasi ion klorida dengan larutan standart Ag+.
Dimana hasil reaksi dari kedua zat tersebut adalah:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)
Endapan perak klorida membentuk endapan yang bersifat koloid. Sebelum titik ekuivalen
dicapai maka endapat akan bermuatan negative disebakkan teradsorbsinya Cl- di seluruh
permukaan endapan. Dan terdapat counter ion bermuatan positif dari Ag+ yang teradsorbsi
dengan gaya elektrostatis pada endapat. Setelah titik ekuivalen dicapai maka tidak terdapat
lagi ion Cl- yang teradsorbsi pada endapan sehingga endapat sekarang bersifat netral.
Kelebihan ion Ag+ yang diberikan untuk mencapai titik akhir titrasi menyebabkan ion-ion
Ag+ ini teradsorbsi pada endapan sehingga endapan bermuatan positif dan beberapa ion
negative teradsorbsi dengan gaya elektrostatis sebagai counter ion.
Indikator adsorbsi merupakan pewarna, seperti diklorofluorescein yang berada dalam
keadaan bermuatan negative dalam larutan titrasi akan teradsorbsi sebagai counter ion pada
permukaan endapan yang bermuatan positif. Dengan terserapnya ini maka warna indicator
akan berubah dimana warna diklorofluorescein menjadi berwarna merah muda. Mekanisme
teradsorbsinya indicator ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:
Argentometri Metode Volhard
Konsentrasi ion klorida, iodide, bromide dan yang lainnya dapat ditentukan dengan
menggunakan larutan standar perak nitrat. Larutan perak nitrat ditambahkan secara berlebih
kepada larutan analit dan kemudian kelebihan konsentrasi larutan Ag+ dititrasi dengan
menggunakan larutan standar tiosianida (SCN-) dengan menggunakan indicator ion Fe3+. Ion
besi(III) ini akan bereaksi dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna merah.
Reaksi yang terjadi dalam titrasi argentometri dengan metode volhard adalah sebagai berikut:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)
Ag+(aq) + SCN-(aq) -> AgSCN(s) (endapan putih)
Fe3+(aq) + SCN(aq) -> Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)
Titrasi dengan cara ini disebut sebagai titrasi balik atau titrasi kembali. Mol analit diperoleh
dari pegurangan mol perak mula-mula yang ditambahkan dengan mol larutan standar
tiosianat. Karena perbandingan mol dari reaksi adalah 1:1 semua maka semua hasil diatas
dapat langsung dikurangi.
Mol analit = mol Ag+ total mol SCN

Aplikasi dari argentometri dengan metode Volhard ini adalah penentuan konsentrasi ion
halide. Kondisi titrasi denga metode Volhard harus dijaga dalam kondisi asam disebabkan
jika laruran analit bersifat basa maka akan terbentuk endapat Fe(OH)3. Jika kondisi analit
adalah basa atau netral maka sebaiknya titrasi dilakukan dengan metode Mohr atau fajans.
Argentometri Metode Mohr
Konsentrasi ion klorida dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan cara titrasi dengan
larutan standart perak nitrat. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses titrasi
berlangsung dan digunakan indicator larutan kalium kromat encer. Setelah semua ion klorida
mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan
indicator membentuk endapan coklat kemerahan Ag2CrO4 (lihat gambar). Prosedur ini
disebut sebagai titrasi argentometri dengan metode Mohr.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)
Ag+(aq) + CrO42-(aq) -> Ag2CrO4(s) (coklat kemerahan)
Penggunaan metode Mohr sangat terbatas jika dibandingkan dengan metode Volhard dan
Fajans dimana dengan metode ini hanya dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi ion
Cl- , CN-, dan Br-.
Titrasi argentometri dengan metode Mohr banyak dipakai untuk menentukan kandungan
klorida dalam berbagai contoh air, misalnya air sungai, air laut, air sumur, air hasil
pengolahan industri sabun, dan sebgainya.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi dengan metode Mohr adalah titrasi
dilakukan dengan kondisi larutan berada pada pH dengan kisaran 6,5-10 disebabkan ion
kromat adalah basa konjugasi dari asam kromat. Oleh sebab itu jika pH dibawah 6,5 maka
ion kromat akan terprotonasi sehingga asam kromat akan mendominasi di dalam larutan
akibatnya dalam larutan yang bersifat sagat asam konsentrasi ion kromat akan terlalu kecil
untuk memungkinkan terjadinya endapan Ag2CrO4 sehingga hal ini akan berakibat pada
sulitnya pendeteksian titik akhir titrasi. Pada pH diatas 10 maka endapan AgOH yang
berwarna kecoklatan akan terbentuk sehingga hal ini akan menghalangi pengamatan titik
akhir titrasi. Analit yang bersifat asam dapat ditambahkan kalsium karbonat agar pH nya
berada pada kisaran pH tersbut atau dapat juga dilakukan dengan menjenuhkan analit dengan
menggunakan padatan natrium hydrogen karbonat.
Disebabkan kelarutan AgCl dan Ag2CrO4 dipengaruhi oleh suhu maka semua titrasi
dilakukan pada temperature yang sama. Pengadukan/ pengocokan selama larutan standar
ditambahkan sangat dianjurkan disebabkan hal ini dapat mempermudah pengamatan
pencapaian titik akhir titrasi dan perak kromat yang terbentuk sebelum titik akhir titrasi
dicapai dapat dipecah sehingga terlarut kembali.
Larutan silver nitrat dan endapan perak klorida yang terbentuk harus dilindungi dari sinar
matahari hal ini disebabkan perak klorida dapat terdekomposisi menurut reaksi berikut:
AgCl(s) -> Ag(s) + Cl2(g)
Titrasi asam-basa sering disebut juga dengan titrasi netralisasi. Dalam titrasi ini, kita dapat
menggunakan larutan standar asam dan larutan standar basa. Pada prinsipnya, reaksi yang
terjadi adalah reaksi netralisasi yaitu :

Reaksi netralisasi terjadi antara ion hidrogen sebagai asam dengan ion hidroksida sebagai
basa dan membentuk air yang bersifat netral. Berdasarkan konsep lain reaksi netralisasi dapat
juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).

Dalam menganalisis sampel yang bersiaft basa, maka kita dapat menggunakan larutan standar
asam, metode ini dikenal dengan istilah asidimetri. Sebaliknya jika kita menentukan sampel
yang bersifat asam, kita akan menggunkan lartan standar basa dan dikenal dengan istilah
alkalimetri.
Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH,
khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi, hal ini dilakukan untuk mengurangi
kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 15.16.
Gambar 15.16. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH
Analit bersifat asam pH mula-mula rendah, penambahan basa menyebabkan pH naik secara
perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH=7). Penambahan
selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. Dari Gambar
15.16, juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan
kisaran pH pH 7 10 (Tabel 15.2).
Tabel 15.2. Indikator dan perubahan warnanya pada pH tertentu
Pamanfaatan teknik ini cukup luas, untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan
kadar asam sitrat. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg kedalam 100
ml air. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0.1 N dengan menggunakan indikator
phenolftalein. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah
muda. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat, proses
titrasi dilakukan dengan cara melarutkan 250 mg sampel kedalam 15 ml etanol 95% dan
tambahkan 20 ml air. Titrasi dengan NaOH 0.1 N menggunakan indikator phenolftalein,
hingga larutan berubah menjadi merah muda.
Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks
yang seringa dipergunakan oleh para penjual bakso. Proses analisis dilakukan dengan
melaruitkan sampel seberat 500 mg kedalam 50 mL air dan ditambahkan beberapa tetes
indikator metal orange, selanjutnya dititrasi dengan HCl 0.1 N.
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat
lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi
yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka
disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi
oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks
dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa)
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya diletakan di dalam
Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai titer dan
biasanya diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.
Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam
basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan
larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya
secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai titik
ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume
titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume
titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.

1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian


membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah
dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalent.
2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi
dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah
titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat
tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya
dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya
adalah dua hingga tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin
dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan
sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut
sebagai titik akhir titrasi.
Rumus Umum Titrasi
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa,
maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus
diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada
asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH (pada basa)
Jenis-jenis Titrasi Asam Basa
TITRASI ASAM BASA: BASA LEMAH VS ASAM KUAT
Titrasi basa lemah dan asam kuat adalah analog dengan titrasi asam lemah dengan basa kuat,
akan tetapi kurva yang terbentuk adalah cerminan dari kurva titrasi asam lemah vs basa kuat.
Sebagai contoh disini adalah titrasi 0,1 M NH4OH 25 mL dengan 0,1 HCl 25 mL dimana
reaksinya dapat ditulis sebagai:
NH4OH + HCl -> NH4Cl + H2O
Kurva titrasinya dapat ditulis sebagai berikut:

Kurva titrasi 0,1 M

NH4OH dengan 0,1 M HCl


Pada awal titrasi dalam Erlenmeyer hanya terdapat NH4OH, karena NH4OH adalah basa
lemah maka tidak semua akan terionisasi untuk mencari pH nya maka kita gunakan rumus:

[OH-] = (10exp-5 x 0,1 )exp1/2


[OH-] = 10-3 M
pH = 11
Setelah titrasi berlangsung maka akan terbentuk sistem buffer disebabkan dalam larutan
sekarang terdapat NH4OH dan NH4Cl. Pada saat ini kurva titrasi berada pada daerah yang
landai dan pH larutan ditentukan oleh pebandingan [NH4Cl]/[NH4OH].
Pada titik tengah titrasi yaitu setengah jumlah mol baik HCl dan NH4OH bereaksi maka
[NH4Cl] akan sama dengan [NH4OH] akibatnya pH akan sama dengan pKb (ingat
persamaan Henderson-Hasselbalch. Kb NH4OH adalah 10-5.

pH = pKb = 5
Pada saat titik ekuivalen dicapai maka dalam larutan sekarang hanya terdapat NH4Cl adalah
garam dari asam kuat dan basa lemah sehingga dalam larutan akan terhidrolisis parsial
dengan reaksi sebagai berikut:
NH4Cl -> NH4+ + ClNH4+ + H2O -> NH4OH + H+
Dalam larutan sekarang akan bersifat asam disebabkan terdapat H+ dari hidrolisis parsial
NH4Cl. pH larutan dapat dihitung dengan persamaan:

[H+] = { (10exp-14/10exp-5) }exp1/2 . 0,05


[H+] = 7.07.10-6 M
pH = 5,15
karena pH pada titik ekuivalen titrasi NH4OH dengan HCl jatuh pada kisaran pH 5,15
maka indicator yang memenuhi trayek pH ini adalah metil merah yang memiliki trayek pH

4,4 sampai dengan 6,2 atau juga bisa digunakan metil orange (MO) yang trayek pHnya 3,1
4,4.
TITRASI ASAM BASA: ASAM LEMAH VS BASA KUAT
Asam lemah yang dicontohkan disini adalah asam asetat CH3COOH (biasanya kita singkat
menjadi HOAc) dan dititrasi dengan basa kuat NaOH. Reaksi yang terjadi dapat ditulis
sebagai berikut:
HOAc + NaOH -> NaOAC + H2O
Dan kurva titrasi antara 0,1 M HOAc 50 mL dengan 0,1 M NaOH 50 mL dapat digambarkan
sebagai berikut:
Kurva titrasi 0,1 M CH3COOH dengan 0,1 M

NaOH
Pada saat sebelum titrasi dalam Erlenmeyer hanya terdapat asam asetat. HOAc adalah asam
lemah sehingga dalam laruta tidak terdisosiasi sempurna, dan untuk mencari konsentrasi H+
nya kita menggunaka rumus pH asam lemah. 0,1 M HOAc dengan volume 50 mL memiliki
pH sekitar 3.
pH dihitung dengan rumus:

Setelah titrasi dijalankan dengan penambahan sedikit demi sedikit NaOH maa dalam larutan
akan terbentuk NaOAc sebagai hasil reaksi antara NaOH dan HOAc. Dalam larutan sekarang
terdapat HOAc yang belum bereaksi serta NaOAc sehingga terbentuk sistem buffer. pH
larutan pun sedikit demi sedikit beranjak naik sebagai fungsi perubahan perbandingan
[OAc-]/[HOAc].
Penambahan 10 mL NaOH 0,1 M pada analit HOAc akan merubah pH larutan menjadi 4,3
(hitung pH dengan persamaan Henderson-Hasselbalch).

pH = 5 + log 0,0167/0,067
pH = 4,3
Pada titik tengah titrasi dimana setengah dari jumlah total mol baik NaOH dan HOAc telah
bereaksi maka konsentrasi OAc- akan sama dengan konsentrasi HOAc ( [OAC-] = [HOAc] )
sehingga pH nya akan sama dengan pKa yaitu 5.

pH = 5 + log 0,033/0,33
pH = 5
Pada titik ekuivalen, HOAc habis bereaksi dan sekarang kita mempunyai larutan NaOAc.
NaOAc adalah garam yang dibangun dari basa kuat dan asam lemah, sehingga dalam air akan
terhidrolisis sebagian dengan reaksi sebagai berikut:
NaOAc -> Na+ + OAcOAc- + H2O -> HOAc + OHAdanya OH- sebagai akibat hidrolisis parsial NaOAc akan menyebabkan pH larutan menjadi
bersifat basa, sehingga pH pada titik ekuivalen titrasi asam lemah dan basa kuat adalah basa,
dan pHnya ditentukan oleh konsentrasi NaOAc.

[OH-] = { (10exp-14/10exp-50 }exp1/2 . 0,05


[OH-] = 7.07.10-6 M
pOH = -log 7.07.10-6 M = 5,15
pH = 14 5,15 = 8,85
Jadi pH larutan pada saat titik ekuivalen adalah 8,85. pH ini adalah berada pada trayek pH
indicator pp oleh sebab itu titrasi asam asetat dengan NaOH dipakai indicator pp. Jika
indicator MO dipakai maka warnanya akan berubah begitu titrasi dimulai dan secara gradual
berubah menjadi warna pada kondisi basa pada sekitar pH diatas 6 sebelum titik akhir titrasi
di capai. Oleh sebab itulah maka indicator titrasi asam lemah yang diapaki adalah indicator
yang memiliki transisi perubahan warna pada kisaran pH 7 sampai 10 dan indicator pp
memenuhi kriteria ini.
Dengan penambahan NaOH maka OH- dari hasil hidrolisis NaOAc dapat diabaikan sebab
OH- dari NaOH yang akan mendominasi. Oleh sebab itu adanya penambahan NaOH maka
pHnya ditentukan oleh konsentrasi OH- dari NaOH dengan demikian pHnya semakin naik ke
pH basa.
TITRASI ASAM BASA: ASAM KUAT VS BASA KUAT
Titrasi asam basa melibatkan reaksi neutralisasi dimana asam akan bereaksi dengan basa
dalam jumlah yang ekuivalen. Titran yang dipakai dalam titrasi asam basa selalu asam kuat
atau basa kuat. Titik akhir titrasi mudah diketahui dengan membuat kurva titrasi yaitu plot
antara pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan.
Sebagai contoh titrasi asam kuat dan basa kuat adalah titrasi HCl dengan NaOH. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:
HCl + NaOH -> NaCl + H2O
H+ + OH- -> H2O
Reaksi umum yang terjadi pada titrasi asam basa dapat ditulis sesuai dengan reaksi kedua
diatas. Ion H+ bereaksi dengan OH- membentuk H2O sehingga hasil akhir titrasi pada titik
ekuivalen pH larutan adalah netral. Kurva titrasi antara 50 mL HCl 0,1 M dengan 50 mL
NaOH 0,1 M dapat ditunjukkan dengan gambar berikut ini:

Kurva Titrasi 0,1 M HCl dengan 0,1 M NaOH

Pada awal sebelum titrasi berlangsung maka dalam Erlenmeyer hanya terdapat 0,1 M HCl
shingga pH larutan adalah 1. Selanjutnya setelah proses titrasi berlangsung maka pH
meningkat sedikit demi sedikit dikarenakan jumlah H+ yang semakin berkurang. Sebagai
perbandingan saja jika 90% HCl telah bereaksi dengan NaOH maka konsentrasi H+ dalam
larutan berkisar 5,3.10-3 M dan pHnya adalah 2,3, dan secara gradual pHnya akan meningkat
sampai pada saat titik ekuivalen diperoleh. Pada titik ekuivalen maka pH larutan adalah sama
dengan 7, dalam larutan hanya terdapat NaCl dan H2O.
Penambahan NaOH selanjutnya akan membuat pH semakin meningkat dari konsentrasi 10-7
M untuk OH- hingga bisa mencapai 10-3 M hanya dengan penambahan 5 mL NaOH saja.
Pada kurva titrasi diatas ditunjukkan 2 penggunaan indicator yaitu metil orange (MO) dan
fenolthalein (PP). Untuk titrasi HCl dan NaOH diatas maka digunakan indicator pp
disebabkan trayek pH indicator pp adalah 8,3 10 dimana trayek pH ini adalah dekat dengan
pH titik ekuivalen titrasi HCl-NaOH yaitu pada pH 7. Pemilihan indicator yang baik adalah
setidak-tidaknya antara -1 pH titik ekuivalen sampai dengan +1 pH titik ekuivalen. Indikator
lain yang bisa dipakai adalah Bromothymol blue.
Jika kita pergunakan indicator MO maka titik akhir titrasi akan terjadi terlebih dahulu
sebelum titik ekuivalen tercapai. Hal ini tentu saja akan membuat perhitungan analisa kita
jauh dari akurat.
Bila yang dipergunakan sebagai titer adalah HCl maka kurva titrasinya adalah kebalikan dari
kurva titrasi HCl-NaOH diatas
Salah satu aplikasi stoikiometri larutan adalah titrasi. Titrasi merupakan suatu metode yang
bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah
diketahui agar tepat habis bereaksi dengan sejumlah larutan yang dianalisis atau ingin
diketahui kadarnya atau konsentrasinya. Suatu zat yang akan ditentukan konsentrasinya
disebut sebagai titran dan biasanya diletakkan di dalam labu Erlenmeyer, sedangkan zat
yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai titer atau titrat dan biasanya
diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun titran biasanya berupa larutan.
Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,
sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa atau
aside alkalimetri, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi
kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain
sebagainya. (Pada site ini hanya dibahas tentang titrasi asam basa).

PRINSIP TITRASI ASAM BASA


Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan
asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer
tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan
titer tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator.
Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama
dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan
jumlah asam yang dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai titik akhir titrasi. Titik
akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik
ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut juga sebagai titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian catat volume titer yang
diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran,
volume dan konsentrasi titer maka bisa dihitung konsentrasi titran tersebut.
Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan (netralisasi). Salah satu contoh titrasi asam
basa yaitu titrasi asam kuat-basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) dengan asam
hidroklorida (HCl), persamaan reaksinya sebagai berikut:
NaOH(aq) + HCl(aq)
NaCl (aq) + H2O(l)
contoh lain yaitu:
NaOH(aq) + H2SO4(aq)
Na2SO4 (aq) + H2O(l)
Gambar set alat titrasi
CARA MENGETAHUI TITIK EKUIVALEN
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, antara lain:
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian
membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah
dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalen.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan dua hingga tiga tetes (sedikit
mungkin) pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna
ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan. Indikator yang dipakai dalam
titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH.
Pada umumnya cara kedua lebih dipilih karena kemudahan dalam pengamatan, tidak
diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis, walaupun tidak seakurat dengan pH
meter. Gambar berikut merupakan perubahan warna yang terjadi jika menggunakan
indikator fenolftalein.
RUMUS UMUM TITRASI
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa,
maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan volume, maka
rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada
asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume

M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa)
INDIKATOR ASAM BASA
TABEL DAFTAR INDIKATOR ASAM BASA
pH
NAMA
RANGE
WARNA
TIPE(SIFAT)
Biru timol
1,2-2,8
merah kuning
asam
Kuning metil
2,9-4,0
merah kuning
basa
Jingga metil
3,1 4,4
merah jingga
basa
Hijau bromkresol 3,8-5,4
kuning biru
asam
Merah metil
4,2-6,3
merah kuning
basa
Ungu bromkresol 5,2-6,8
kuning ungu
asam
Biru bromtimol 6,2-7,6
kuning biru
asam
Merah fenol
6,8-8,4
kuning merah
asam
Ungu kresol
7,9-9,2
kuning ungu
asam
Fenolftalein
8,3-10,0
t.b. merah
asam
Timolftalein
9,3-10,5
t.b. biru
asam
Kuning alizarin 10,0-12,0 kuning ungu
basa
Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa yaitu indikator fenolftalein. Tabel
berikut ini merupakan karakteristik dari indikator fenolftalein.
pH
<0
08.2
8.212.0
>12.0
Sangat
Asam atau mendekati
Kondisiasam
netral
Basa
Sangat basa
pink
Tidak
Warna Jingga
Tidak berwarna
keunguan
berwarna
konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah prosedur titrasi.
Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara
konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus
diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap.
Hantaran sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran
akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-ion
yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya
efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk
elektrolit-elektrolit lemah.
Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang tetapan
selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang konduktivitasnya
diketahui dengan tepat, misal, suatu larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu
lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur.
Bila konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000. nilai d/a =S
merupakan faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel tertentu sehingga
disebut tetapan sel.
Titrasi Konduktometri (Frekuensi Rendah)
Penambahan suatu elektrolit ke elektrolit lain pada keadaan yang tidak ada perubahan volum
yang begitu besar akan mempengaruhi konduktivitas larutan terjadi reaksi ionik atau tidak.
Jika tidak terjadi reaksi ionik, maka perubahan konduktivitas sedikit sekali atau hampir tidak
ada. Bila terjadi reaksi ionik, maka perubahan konduktivitas yang relativ cukup besar
sehingga dapat di amati, seperti pada titrasi basa kuat oleh asam kuat. Dalam titrasi ini terjadi

penurunan konduktivitas karena terjadi penggantian ion hidrogen, yang mempengaruhi


konduktivitas tinggi, dengan kation lain yang mempunyai konduktivitas rendah.
Pada titrasi penetralan, pengendapan, dll, penentuan titik akhir titrasi ditentukan berdasarkan
perubahan konduktivitas (hantaran) dari reaksi kimia yang terjadi. Hantaran di ukur pada
setiap penambahan sejumlah pereaksi dan titk pengukuran tersebut bila dialurkan
memberikan 2 garis lurus yang saling perpotongan dinamakan titik ekivalensi titrasi.
Ketepatan metode ini bergantung pada sudut perpotongan dan kerapatan titik pengukuran.
Secara praktek konsentrasi penitran 20-100 kali lebih pekat dari larutan yang dititrasi.
Kelebihan titrasi ini, baik untuk asam yang sangat lemah seperti asam borat dan fenol yang
secara potensiometri tidak dapat dilakukan. Selain itu titrasi konduktometri tidak diperlukan
kontrol suhu.
Titrasi Konduktometri (Frekuensi Tinggi)
Metode ini sesuai untuk sel yang terdiri atas sistem kimia yang dibuat bagian dari atau
dipasangkan dengan sirkuit osilator beresonansi pada frekuensi beberapa mega hertz.
Keuntungan-keuntungan cara ini antara lain elektroda ditempatkan diluar sel dan tidak
langsung kontak dengan larutan uji. Kerugiannya adalah respon tidak spesifik karena
bergantung pada konduktivitas (hantaran).
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik suatu
larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di
dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan
ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar.
Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik
mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua
elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas permukaanelektroda (A)
dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda
G = l/R = k (A / l)
dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1.
Daya Hantar Ekivalen (Equivalnductance)
Kemampuan suatu zat terlarut tuk menghantarkan arus listrik disebut daya hantar ekivalen (^)
yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di antara dua elektroda
dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen adalah berat
molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2 adalah BM
BaCl2 dibagi dua. Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut
diberikan oleh,
V = 100 / C
dengan C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1 liter = 1000
cm3. Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak kedua elektroda (1).
V= l A
Dengan l sama dengan 1 cm
V = A = 100 / C
Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,
G = 1/R = 1000k/C
Daya hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram ekivalen
larutan terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm.^ = 1000k/C Daya hantar ekivalen
pada larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion.
Pengukuran Daya Hantar Listrik

Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan
jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

Gambar Konduktometri
Sumber listrik
Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan merupakan proses
faradai, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda. Sedangkan arus AC tidak
memerlukan reaksi elektro kimia pada elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus
listrik bukan akibat proses faradai. Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat
listrik sel, maka pengukuran konduktometri didasarkan pada arus nonparaday atau arus AC.
Tahanan Jembatan
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran daya hantar.
Sel
Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang elektroda yang terbuat
dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi logam platina untuk
menambah efektifitas permukaan elektroda.
Titrasi Konduktometri
Metode konduktometri dapat digunakan untuk menentukan titik ekivalen suatu titrasi, berupa
beberapa contoh titrasi konduktometri dibahas berikut,
Titrasi asam kuat- basa kuat
Sebagai contoh larutan HCl dititrasi ole NaOH. Kedua larutan ini adalah penghantar listrik
yang baik. Kurva titrasinya menunjukkan bahwa daya hantar H+ turun sampai titik ekivalen
tercapai. Dalam hal ini jumlah H+ makin berkurang di dalam larutan, sedangkan daya hantar
OH- berrtambah setelah titik ekivalen (Te) tercapai karena jumlah OH- di dalam larutan
bertambah. Jumlah ion Cl- di dalam larutan tidak berubah, karena itu daya hantar konstan
dengan penambahan NaOH. Daya hantar ion Na+ bertambah secara perlahan-lahan sesuai
dengan jumlah ion Na+.
Aplikasi Titrasi Konduktometri
Dasar Analisis Tablet Aspirin dengan Metode Titrasi Konduktometri
Menurut hukum Ohm I = E/Reaksi; di mana: I = arus dalam ampere, E = tegangan dalam
volt, Reaksi = tahanan dalam ohm. Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi elektroda
tidak terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan sehingga I =
EL. Satuan dari hantaran (konduktansi) adalah mho. Hantaran Lsuatu larutan berbanding
lurus pada luas permukaan elektroda a, konsentrasi ion persatuan volume larutan Ci, pada
hantaran ekivalen ionik S1, tetapi berbanding terbalik dengan jarak elektroda d, sehingga:
L = a/d x S Ci S1

Tanda S menyatakan bahwa sumbangan berbagai ion terhadap konduktansi bersifat aditif.
Karena a, dan d dalam satuan cm, maka konsentrasi C tentunya dalam ml. Bila konsentrasi
dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000. nilai d/a = S merupakan
faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan
sel. Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang
tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang konduktivitasnya
diketahui dengan tepat, misal, suatu larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu
lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur. Pengaliran arus melalui
larutan suatu elektrolit dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam komposisi larutan di
dekat sekali dengan lektrode-elektrode, begitulah potensial-potensial dapat timbul pada
elektrode-elektrode, dengan akibat terbawanya sesatan-sesatan serius dalam pengukuranpengukuran konduktivitas, kecuali kalau efek-efek polarisasi demikian dapat dikurangi
sampai proporsi yang terabaikan.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-ion
yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan,
konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan untuk membawa
arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain
dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan
diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk
elektrolit-elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.
Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit lain pada kondisi-kondisi yang
tak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi konduktans (hantaran)
larutan, tergantung apakah ada tidaknya terjadi reaksi-reaksi ionik. Jika tak terjadi reaksi
ionik, seperti pada penambahan satu garam sederhana kepada garam sederhana lain (misal,
kalium klorida kepada natrium nitrat), konduktans hanya akan naik semata-mata. Jika terjadi
reaksi ionik, konduktans dapat naik atau turn; begitulah pada penambahan suatu basa kepada
suatu asam kuat, hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion hidrogen yang
konduktivitasnya tinggi oleh kation lain yang konduktivitasnya lebih rendah. Ini adalah
prinsip yang mendasari titrasi-titrasi konduktometri yaitu, substitusi ion-ion dengan suatu
konduktivitas oleh ion-ion dengan konduktivitas yang lain.
Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah
prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika
perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan
sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus
tetap. Hantaran sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi
pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi dengan
konsentrasi. Hendaknya diperhatikan pentingnya pengendalian temperatur dalam
pengukuran-pengukuran konduktans. Sementara penggunaan termostat tidaklah sangat
penting dalam titrasi konduktometri, kekonstanan dalam temperatur dituntut, tetapi biasanya
kita hanya perlu menaruh sel konduktivitas itu dalam bejana besar penuh air pada temperatur
laboratorium. Penambahan relatif (dari) konduktivitas larutan selama reaksi dan pada
penambahan reagensia dengan berlebih, sangat menentukan ketepatan titrasi; pada kondisi
optimum kira-kira 0,5 persen. Elektrolit asing dalam jumlah besar, yang tak ambil bagian
dalam reaksi, tak boleh ada, karena zat-zat ini mempunyai efek yang besar sekali pada
ketepatan. Akibatnya, metode konduktometri memiliki aplikasi yang jauh lebih terbatas
ketimbang prosedur-prosedur visual, potensiometri ataupun amperometri.
Asam salisilat adalah golongan khusus dari asam hidroksi. Penggunaan utama dari asam
salisilat adalah dalam pembuatan aspirin. Reaksi dengan anhidrida asetat mengubah gugus
hidroksil fenolik dari asam salisilat menjadi ester asetil, yaitu aspirin.

Didalam titrasi konduktometri kita akan mendapatkan beberapa kemudahan yang


mungkin tidak kita dapatkan jika kita menggunakan dengan titrasi lainya, misal tidak
menggunakan indikator, karena dalam titrasi konduktometri ini kita hanya mengukur daya
hantar larutan. Jadi dalam titrasi konduktometri ini kita tidak perlu mencari titik eivalen
dengan melihat adanya perubahan warna. Walaupun demikian masih banyak kelemahan
kelamahan dalam titrasi konduktometri ini. Karena kita tahu bahwa dalam titrasi
konduktometri hanya terbatas untuk larutan yang tergolong kedalam larutan elektrolit saja.
Sedangkan untuk larutan non elektrolit tidak dapat menggunakan titrasikonduktometri. Titrasi
konduktometri ini sangat berhubungan dengan daya hantar listrik, jadi juga akan
berhubungan dengan adanya ion ion dalam larutan yang berperan untuk menghantarkan
arus listrik dalam larutan. Arus listrik ini tidak akan bisa melewati larutan yang tidak terdapat
ion ion, sehingga larutan non elektrolit tidak bisa menghantarkan arus listrik.
Dalam titrasi konduktometri ini juga sangat berhubungan dengan konsentrasi dan
temperatur dari larutan yang akan ditentukan daya hantarnya. Sehingga ikita harus menjaga
temperatur larutan agar berada dalam keadaan konstan, sehingga kita dapat memebedakan
perbedaan dari daya hantar larutan hanya berdasarkan perbedaan konsentrasi saja. Jika
temperatur berubah ubah maka bisa saja konsentrasi yang besar seharusnya memilki daya
hantar yang besar malah memiliki daya hantar yang kecil karena suhunya menurun. Sehingga
ion ion dalam larutan tidak dapat begeraka dengan bebas.

KESIMPULAN
Konduktometri adalah suatu metode yang didasarkan pada hantaran atau konduktansi dari ion
Metode konduktometri menggunakan sel konduktometri, yaitu alat untuk mengukur tahanan
sel untuk menganalisa sampel secara kuantitatif.
Daya hantar listrik dalam titrasi konduktometri sangat berhubungan dengan konsentrasi dan
gerakan bebas dari ion.

Tiitik ekivalen dari titrasi konduktometri ditandai dengan konstannya nilai daya hantar yang
tertera dalam konduktometri.
Titrasi konduktometri hanya dapat digunakan untuk larutan elektrolit.
Titrasi konduktometri lebih mudah dari titrasi volumetri, karena titrasi konduktometri lebih
efisien dan lebih efektif dalam pengguanaan zat, selain itu juga, kita tidak perlu
menggunakan indikator untuk mengetahui titik ekivalen dari titrasi.
Titrasi konduktometri tidak menggunakan indikator, karena titik ekivalen dapat diketahui dari
daya hantar larutan yang terukur pada konduktometer, yaitu dengan konstannya nilai daya
hantar.
Volume tidak berpengaruh terhadap daya hantar larutan, karena didalam titrasi
konduktometer ini yang berperan penting yaitu konsentrasi dari suatu larutan.
itrasi yang dapat dilakukan adalah:
- Titrasi konduktometri yang dilakukan dengan frekuensi arus rendah (maksimum 300 Hz)
- Titrasi konduktometri yang dilakukan dengan frekuensi arus tinggi yang disebut titrasi
frekuensi tinggi
Titrasi konduktometri frekuensi arus rendah
Penambahan suatu elektrolit lain pada keadaan yang tidak ada perubahan volum yang
begitu besar akan mempengaruhi konduktivitas larutan karena akan terjadi reaksi ionik
atau tidak. Jika terjadi reaksi ionik akan terjadi perubahan konduktivitas yang cukup besar
sehingga dapat diamati reaksi yang terjadi, seperti pada titrasi asam kuat dan basa kuat.
Pada titrasi ini terjadi penurunan konduktivitas karena terjadinya penggantian ion yang
mempunyai konduktivitas rendah.
Pada titrasi penetralan, pengendapan, penentuan titik akhir titrasi ditentukan berdasarkan
konduktivitas dari reaksi kimia yang terjadi. Hantaran diukur pada setiap penambahan
sejumlah pereaksi pengukuran titik akhir titrasi berdasarkan dua alur garis yang saling
berpotongan. Titik potong ini disebut titik ekivalen.
Secara praktek, konsentrasi penitran 20-100 kali lebih pekat dari larutan yang dititrasi,
kelebihan dari titrasi ini, baik untuk asam yang sangat lemah yang secara potensiometri
tidak dapat dilakukan dengan cara koduktometri dapat dilakukan, selain itu secara
konduktometri contoh suhu tidak perlu dilakukan.
Titrasi konduktometri frekuensi arus tinggi
Titrasi ini sesuai untuk sel yang terdiri atas sistem reaksi yang dibuat bagian atau dipasang
sirkuit osilator berionisasi pada frekuensi beberapa MHz. Keuntungan cara ini antara lain
elektroda ditempatkan diluar sel dan tidak langsung kontak dengan zat lain, sedangkan
kerugiannya respon tidak spesifik karena tidak bergantung pada hantaran dan tetapan
dielektrik dari sistem, selain itu tidak dipengaruhi oleh sifat kimia dari komponenkomponen system.