Anda di halaman 1dari 200

KONTRIBUSI KETAULADANAN DAN PROFESIONALITAS GURU

TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PAI


DI SMAN 1 KOTA CIREBON

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat


Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Islam
pada Program Studi Pendidikan Islam
Konsentrasi Pendidikan Agama Islam

Disusun oleh:
KHAIRUN NISA
505830030

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2010

TESIS
KONTRIBUSI KETAULADANAN DAN PROFESIONALITAS GURU
TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PAI
DI SMAN 1 KOTA CIREBON
Yang diajukan oleh:
KHAIRUN NISA
NIM: 505830030

Telah diujikan pada tanggal 28 April 2010


Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh gelar
Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I)
Cirebon, 1 Mei 2010
Dewan Penguji
Ketua/ Anggota,

Sekretaris/ Anggota

Prof. Dr. H. Adang Djumhur S, M.Ag

Prof. Dr. H. Abdullah Ali, MA

Pembimbing I/ Penguji II

Pembimbing II/ Penguji III

Prof. Dr. H. Abdus Salam DZ, MM

Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, M.Ag

Penguji I

Prof. Dr. Hj. Mintarsih D, M.Pd


Direktur

Prof. Dr. H. Adang Djumhur S, M.Ag


NIP. 150 216 322

KONTRIBUSI KETAULADANAN DAN PROFESIONALITAS


GURU PAI TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI
BELAJAR PAI (STUDI KASUS DI SMAN 1 KOTA CIREBON)

Diajukan Oleh:
KHAIRUN NISA
NIM: 505830030

Telah Disetujui Pada Tanggal

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof.Dr.H. Abdus Salam DZ, MM

Prof.Dr. H. Cecep Sumarna, M.Ag

KONSENTRASI PENDIDIDKAN AGAMA ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIEBON
2010

PERNYATAAN KEASLIAN


Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama

: Khairun Nisa

NIM

: 505830030

Program Studi

: Pendidikan Islam

Konsentrasi

: Pendidikan Agama Islam (PAI) pada program


Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Syekh Nurjati Cirebon

Menyatakan bahwa TESIS ini secara keseluruhan ASLI hasil penelitian saya,
kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya dan disebutkan dalam daftar
pustaka.
Pernyataan ini dibuat dengan sejujurnya dan dengan penuh kesungguhan hati,
disertai dengan kesiapan untuk menanggung segala resiko yang mungkin
diberikan, sesuai dengan peraturan yang berlaku, apabila di kemudian hari
ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan atau ada klaim terhadap
keaslian karya saya ini.

Cirebon, 7 April 2010


Yang Menyatakan,

KHAIRUN NISA
NIM: 505830030

Prof.Dr. H. Abdus Salam DZ, MM.


Program Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

NOTA DINAS
Lamp. : 5 Eksemplar
Hal

: Penyerahan Tesis

Kepada Yth;
Direktur Program Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
Di
CIREBON
Assalamualaikum Wr. Wb.
Setelah membaca, meneliti dan merevisi seperlunya, kami berpendapat
bahwa tesis saudara Khairun Nisa NIM. 505830030 yang berjudul: Kontribusi
Ketauladanan dan Profesionalitas Guru PAI terhadap Peningkatan Prestasi
Belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon telah dapat diujikan. Bersama ini, kami
kirimkan naskahnya untuk segera dapat diujikan dalam sidang tesis Program
Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Atas perhatian saudara, saya sampaikan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Cirebon, 7 April 2010


Pembimbing I

Prof. Dr. H. Abdus Salam DZ, MM

Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, M.Ag


Program Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

NOTA DINAS
Lamp. : 5 Eksemplar
Hal

: Penyerahan Tesis

Kepada Yth;
Direktur Program Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
Di
CIREBON
Assalamualaikum Wr. Wb.
Setelah membaca, meneliti dan merevisi seperlunya, kami berpendapat
bahwa tesis saudara Faizah NIM. 505830039 yang berjudul: Kontribusi
Ketauladanan dan Profesionalitas Guru Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar
PAI di SMAN 1 Kota Cirebon telah dapat diujikan. Bersama ini, kami kirimkan
naskahnya untuk segera dapat diujikan dalam sidang tesis Program Pascasarjana
IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Atas perhatian saudara, saya sampaikan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Cirebon, 7 April 2010


Pembimbing II,

Prof. Dr. H. Cecep Sumarna M.Ag

KATA PENGANTAR


Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena dengan limpahan
rahmat dan hidayahnya penyusunan tesis ini telah selesai dengan baik. Tesis ini
mengungkapkan Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru Terhadap
Peningkatan Prestasi Belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak akan dapat diselesaikan
dengan baik, tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Dalam kesempatan ini penulis
ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada berbagai
pihak yang telah memberi bantuan berupa kesempatan, arahan, bimbingan dan
motivasi selama penulis studi dan sampai penyusunan tesis ini. Oleh karena itu
penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. H. Moh. Matsna H.S, M. Ag, selaku Rektor IAIN Syekh Nurjati,
yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengikuti
pendidikan pada IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
2. Prof. Dr. H. Adang Djumhur S, M. Ag, selaku Direktur Program
Pascasarjana dan seluruh unsur pengelola Program Pascasarjana IAIN
Syekh Nurjati Cirebon, yang telah memberikan pelayanan dan pembinaan
kepada penulis sampai berakhirnya studi.
3. Prof. Dr. H. Abdus Salam DZ, MM, Pembimbing I dalam penulisan tesis
ini yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan kesabaran

tanpa mengenal lelah serta mencurahkan pemikirannya untuk penulis


dalam rangka selesainya penulisan tesis ini dengan baik.
4. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, M. Ag, Pembimbing II dalam penulisan tesis
ini, yang telah banyak membantu, mengarahkan, membimbing dan
memberi motivasi hingga tesis ini selesai.
5. Kepala SMAN 1 Kota Cirebon beserta stafnya, serta para guru yang telah
memberi kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian dan
penyelesaian tesis ini.
6. Teman-teman Mahasiswa Program Beasiswa Depag Pascasarjana IAIN
Syekh Nurjati Cirebon yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu telah
memberikan dukungan moril, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi
dan penulisan tesis ini.
7. Suami, Ibu, anak tercinta beserta seluruh keluarga besar penulis, yang
telah ikut serta memotivasi baik langsung maupun tidak langsung kepada
penulis sehingga program studi dan penulisan tesis ini dapat selesai
dengan baik.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut diatas senantiasa
mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, dan semoga karya ilmiah ini
bermanfaat bagi diri penulis, dan bagi almamater sebagai setitik sumbangan di
bidang pengembangan ilmu pengetahuan.
Cirebon, 28 April 2010
Khairun Nisa

ABSTRAK
Khairun Nisa, Nim. 505830030. Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru
Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cerdas,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Fenomena awal melalui pengamatan di lapangan,
kurangnya hormat siswa terhadap guru, dan terhadap peraturan-peraturan yang
ditetapkan sekolah, dan ini merupakan bagian dari prestasi PAI siswa. Pencapaian
tujuan pendidikan tersebut dapat diwujudkan apabila didukung oleh ketauladanan guru
yang baik, mulai dari ucapan, perbuatan, dan sikap sehari-hari yang ditampilkan di
lingkungan sekolah. Profesionalitas guru PAI yang di dalamnya tercakup kemampuan
dalam memenej, merencanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang jelas dan terukur.
Masalahnya adalah Apakah ketauladanan dan profesionalitas guru PAI berkontribusi
terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon baik secara
parsial maupun simultan.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan ketauladanan guru PAI SMAN
1 Cirebon dalam proses belajar mengajar di sekolah; 2) Mendeskripsikan profesionalitas
guru PAI SMAN 1 Cirebon dalam proses belajar mengajar di sekolah; 3)
Mendeskripsikan prestasi belajar pendidikan Agama Islam siswa SMAN 1 Cirebon; 4)
Menemukan kontribusi ketauladanan dan profesionalitas guru PAI terhadap peningkatan
prestasi belajar Pendidikan agama Islam siswa SMAN 1 Cirebon, baik secara parsial
maupun simultan.
Dalam penelitian ini digunakan metode survey, baik survey deskriptif (descriptive
survey), maupun survey eksplanatori (explanatory survey). Metode ini digunakan untuk
menjelaskan hubungan-hubungan korelasional antara satu variabel dengan variabel
lainnya. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner berbentuk skala likert, angket
disusun berdasarkan indikator variabel. Sampel berjumlah 90 orang siswa kelas III
tahun ajaran 2009/2010, dari jumlah populasi 1011 siswa SMAN 1 Kota Cirebon,
dengan menggunakan stratified proportional random sampling. Analisis data dengan
menggunakan analisis korelasional dan regresi program SPSS 16.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: terdapat hubungan yang rendah (0,216)
antara ketauladanan dengan prestasi belajar PAI siswa., terdapat hubungan yang kuat
(0,73) antara profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI, dan terdapat
hubungan yang kuat (0,671) antara ketauladanan dan profesionalitas guru PAI secara
bersama-sama dengan prestasi belajar PAI. Setiap terjadi penambahan satu skor atau
nilai ketauladanan dan profesionalitas guru PAI, akan dapat menambah kenaikan nilai
prestasi belajar PAI sebesar 0,67 dan 71.8 point. Dengan demikian ketauladanan dan
profesionalitas guru PAI secara bersama-sama berpengaruh positif dan cukup signifikan
(45 %) terhadap peningkatan prestasi belajar PAI, adapun sisanya (55 %) adalah di luar
faktor ketauladanan dan profesionalitas guru PAI. Dengan demikian semakin baik
ketauladanan dan profesionalitas guru, akan semakin berpengaruh positif terhadap
peningkatan prestasi belajar PAI SMAN 1 Kota Cirebon.

vi

ABSTRACT

Khairun Nisa, NIM. 505830030. The Contribution Of Modeling Teacher And Teacher
Profesionalism in Improvement Student Learning Quality 0n SMAN 1 Cirebon
City.
The National education that targeted to development of student potential than will
be can as human faithful and good following to god the just one, diligent, good ethic,
vet, had knowledge, creative, independent and will be can a civil of democratic and
responsibility. Initial phenomenon passed the observation in field, students' lack of
respect towards teachers, and to the regulations specified by schools, and this is learning
quality PAI. Hade take a education target that will be get if that model teachers provide
good examples to students utterance, act, and daily attitude as well in which are
presented in scholl area. The teacher professional PAI include in managing, planning
and evaluating learning of good and measurable. Its problems is What both the
modelling of teacher and the teacher professional PAI contribute to improvement the
student learning quality PAI SMAN 1 Cirebon, either parsial or simultan?
The problems of the research can formulated as follows: 1) Descriptive the
modelling of teacher PAI SMAN 1 Cirebon in learning process on school; 2)
Descriptive teacher professional PAI SMAN 1 Cirebon in learning process on school; 3)
Descriptive the student learning quality PAI SMAN 1 Cirebon; 4) Found contribute
both the modelling of teacher and the teacher professional PAI to improvement the
student learning quality PAI SMAN 1 Cirebon, either parsial or simultan?
The research uses survey method which consists of descriptive method and
explanatory method. It is used to the describe the correlation between variables. The
instrument to collect data used questionnaires of scale likert. the questionnaires were are
arranged based on variable indicator. The sample to 90 students of the third grades in
2009/ 2010 school year, thus 1011 population on SMAN 1 Cirebon by using stratified
proportional random sampling. The analysis of data uses correlation analysis and
regretion at program SPSS 16.
The results showed that: there is low correlation (0.216) between modelling of
teacher academic achievement of students., There is a strong correlation (0.73) between
the professionalism of teachers and the learning achievement PAI PAI, and there is a
strong correlation (0.671) and between modelling of teacher and teacher of
professionalism PAI together with the achievements of Islamic education. Each
additional one score or value modelling of teacher and professionalism of teachers PAI,
will be able to add the increase in the value of learning achievement and PAI 0.67 for
71.8 points. Thus modelling of teacher and professionalism of teachers jointly PAI
positive and significant effect (45%) on improving the academic achievement PAI, as
for the rest (55%) are outside of modelling of teacher factor and PAI teacher
professionalism. Thus the better modelling of teacher and professionalism of teachers,
will be increasingly positive effect on improving the academic achievement of PAI
SMAN 1 Cirebon City.

vii

ABSTRAK
Khairun Nisa, Nim. 505830030. Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru
Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cerdas,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Fenomena awal melalui pengamatan di lapangan,
kurangnya hormat siswa terhadap guru, dan terhadap peraturan-peraturan yang
ditetapkan sekolah, dan ini merupakan bagian dari prestasi PAI siswa. Pencapaian
tujuan pendidikan tersebut dapat diwujudkan apabila didukung oleh ketauladanan guru
yang baik, mulai dari ucapan, perbuatan, dan sikap sehari-hari yang ditampilkan di
lingkungan sekolah. Profesionalitas guru PAI yang di dalamnya tercakup kemampuan
dalam memenej, merencanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang jelas dan terukur.
Masalahnya adalah Apakah ketauladanan dan profesionalitas guru PAI berkontribusi
terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon baik secara
parsial maupun simultan.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan ketauladanan guru PAI SMAN
1 Cirebon dalam proses belajar mengajar di sekolah; 2) Mendeskripsikan profesionalitas
guru PAI SMAN 1 Cirebon dalam proses belajar mengajar di sekolah; 3)
Mendeskripsikan prestasi belajar pendidikan Agama Islam siswa SMAN 1 Cirebon; 4)
Menemukan kontribusi ketauladanan dan profesionalitas guru PAI terhadap peningkatan
prestasi belajar Pendidikan agama Islam siswa SMAN 1 Cirebon, baik secara parsial
maupun simultan.
Dalam penelitian ini digunakan metode survey, baik survey deskriptif (descriptive
survey), maupun survey eksplanatori (explanatory survey). Metode ini digunakan untuk
menjelaskan hubungan-hubungan korelasional antara satu variabel dengan variabel
lainnya. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner berbentuk skala likert, angket
disusun berdasarkan indikator variabel. Sampel berjumlah 90 orang siswa kelas III
tahun ajaran 2009/2010, dari jumlah populasi 1011 siswa SMAN 1 Kota Cirebon,
dengan menggunakan stratified proportional random sampling. Analisis data dengan
menggunakan analisis korelasional dan regresi program SPSS 16.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: terdapat hubungan yang rendah (0,216)
antara ketauladanan dengan prestasi belajar PAI siswa., terdapat hubungan yang kuat
(0,73) antara profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI, dan terdapat
hubungan yang kuat (0,671) antara ketauladanan dan profesionalitas guru PAI secara
bersama-sama dengan prestasi belajar PAI. Setiap terjadi penambahan satu skor atau
nilai ketauladanan dan profesionalitas guru PAI, akan dapat menambah kenaikan nilai
prestasi belajar PAI sebesar 0,67 dan 71.8 point. Dengan demikian ketauladanan dan
profesionalitas guru PAI secara bersama-sama berpengaruh positif dan cukup signifikan
(45 %) terhadap peningkatan prestasi belajar PAI, adapun sisanya (55 %) adalah di luar
faktor ketauladanan dan profesionalitas guru PAI. Dengan demikian semakin baik
ketauladanan dan profesionalitas guru, akan semakin berpengaruh positif terhadap
peningkatan prestasi belajar PAI SMAN 1 Kota Cirebon.

viii

ABSTRACT

Khairun Nisa, NIM. 505830030. The Contribution Of Modeling Teacher And Teacher
Profesionalism in Improvement Student Learning Quality 0n SMAN 1 Cirebon
City.
The National education that targeted to development of student potential than will
be can as human faithful and good following to god the just one, diligent, good ethic,
vet, had knowledge, creative, independent and will be can a civil of democratic and
responsibility. Initial phenomenon passed the observation in field, students' lack of
respect towards teachers, and to the regulations specified by schools, and this is learning
quality PAI. Hade take a education target that will be get if that model teachers provide
good examples to students utterance, act, and daily attitude as well in which are
presented in scholl area. The teacher professional PAI include in managing, planning
and evaluating learning of good and measurable. Its problems is What both the
modelling of teacher and the teacher professional PAI contribute to improvement the
student learning quality PAI SMAN 1 Cirebon, either parsial or simultan?
The problems of the research can formulated as follows: 1) Descriptive the
modelling of teacher PAI SMAN 1 Cirebon in learning process on school; 2)
Descriptive teacher professional PAI SMAN 1 Cirebon in learning process on school; 3)
Descriptive the student learning quality PAI SMAN 1 Cirebon; 4) Found contribute
both the modelling of teacher and the teacher professional PAI to improvement the
student learning quality PAI SMAN 1 Cirebon, either parsial or simultan?
The research uses survey method which consists of descriptive method and
explanatory method. It is used to the describe the correlation between variables. The
instrument to collect data used questionnaires of scale likert. the questionnaires were are
arranged based on variable indicator. The sample to 90 students of the third grades in
2009/ 2010 school year, thus 1011 population on SMAN 1 Cirebon by using stratified
proportional random sampling. The analysis of data uses correlation analysis and
regretion at program SPSS 16.
The results showed that: there is low correlation (0.216) between modelling of
teacher academic achievement of students., There is a strong correlation (0.73) between
the professionalism of teachers and the learning achievement PAI PAI, and there is a
strong correlation (0.671) and between modelling of teacher and teacher of
professionalism PAI together with the achievements of Islamic education. Each
additional one score or value modelling of teacher and professionalism of teachers PAI,
will be able to add the increase in the value of learning achievement and PAI 0.67 for
71.8 points. Thus modelling of teacher and professionalism of teachers jointly PAI
positive and significant effect (45%) on improving the academic achievement PAI, as
for the rest (55%) are outside of modelling of teacher factor and PAI teacher
professionalism. Thus the better modelling of teacher and professionalism of teachers,
will be increasingly positive effect on improving the academic achievement of PAI
SMAN 1 Cirebon City.

ix


.505830030 . )
.(1

.
.
.
.

(1 : 1
2 ( 1
(3 1 (4

) (
) ( .
.
. 90 2010/2009
1 1011
. 16 .
: ) (0.216
) (0.73
) (0.671 .


0.67 71.8 .
45 ) ( 55
.
1 .

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................ ii
PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................................ iv
NOTA DINAS ................................................................................................... v
ABSTRAK .......................................................................................................... vii
ABSTRACTION ................................................................................................ viii
ABSTRAK (Arab) ............................................................................................. viii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ix
DAFTAR ISI....................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv
BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................... 14
C. Perumusan Masalah .................................................................... 15
D. Tujuan Penelitian ........................................................................ 16
E. Manfaat Penelitian ...................................................................... 17

BAB II

: LANDASAN TEORI TENTANG KETAULADANAN,


PROFESIONALITAS GURU, DAN PRESTASI BELAJAR PAI
A.Ketauladanan
1. Makna dan Teori Ketauladanan .......................................... 18
2. Pentingnya Ketauladanan Guru .......................................... 23
3. Efek Negatif Hilangnya Ketauladanan ............................... 28
4. Indikator Ketauladanan ....................................................... 32
B. Profesionalitas Guru PAI
1. Konsep Profesionalisme dan Profesionalitas ...................... 38
2. Kompetensi Profesionalitas Guru PAI ................................ 47
3. Indikator Profesionalitas Guru PAI .................................... 54
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Profesionalitas
Guru PAI ............................................................................. 59
xi

C. Prestasi Belajar PAI


1. Makna dan Teori Prestasi Belajar ................................. 64
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar....... 66
3. Indikator-indikator Prestasi Belajar Siswa .................... 68
4. Fungsi Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam .......... 73
D.Hubungan Teoretik antara Ketauladanan, Profesionalitas
Guru PAI dengan Prestasi Belajar PAI ...................................... 77
E. Penelitian yang Relevan ........................................................... 84
F. Kerangka Pemikiran ................................................................. 87
G. Paradigma dan Hipotesis Penelitian ......................................... 93
BAB III

: METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Penelitian ....................................................................... 95
B. Pendekatan dan Metode Penelitian ........................................... 105
C. Operasionalisasi Variabel ......................................................... 106
D. Populasi dan Sampel ................................................................ 113
E. Prosedur Pengumpulan Data .................................................... 115
F. Pengujian Instrumen Penelitian
1.
2.
3.
4.

Uji Validitas ........................................................................ 117


Uji Reliabilitas .................................................................... 119
Analisis Instrumen Penelitian ............................................. 121
Hasil Pengujian Instrumen................................................... 121

G. Analisis Data ............................................................................ 130


BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Ketauladanan Guru PAI SMAN 1 Cirebon .......................... 134
B. Profesionalitas Guru PAI SMAN 1 Cirebon......................... 137
C. Prestasi Belajar Siswa dalam Bidang Studi
Pendidikan Agama Islam (PAI) .......................................... 139

xii

D. Pengujian Hipotesis
1. Kontribusi Ketauladanan Guru PAI terhadap Peningkatan
Prestasi Belajar PAI SMAN 1 Cirebon ............................. 143
2. Kontribusi Profesionalitas Guru PAI terhadap Peningkatan
Prestasi Belajar PAI SMAN 1 Cirebon ........................... 150
3. Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru PAI
secara bersama-sama terhadap Peningkatan Prestasi Belajar
PAI SMAN 1 Cirebon........................................................ 158
E. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Kontribusi Ketauladanan Guru terhadap Peningkatan
Prestasi Belajar PAI SMAN 1 Cirebon ............................. 166
2. Kontribusi Ketauladanan Guru terhadap Peningkatan
Prestasi Belajar PAI SMAN 1 Cirebon ............................. 169
3. Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI SMAN 1 Cirebon . 170
BAB V

: PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................. 173
B. Rekomendasi Ilmiah ............................................................... 175

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 176


LAMPIRAN-LAMPIRAN

xiii

DAFTAR TABEL
No.
Nama Tabel
Halaman
Tabel
3.1 Nama-nama Guru SMAN 1 Cirebon..................................................... 99
3.2 Perolehan Ujian Akhir 5 Tahun Terakhir.............................................. 102
3.3 Rata-rata siswa yang melanjutkan ke Perguruan
Tinggi dalam Prosentase....................................................................... 102
3.4 Prestasi Akademik SMAN 1 2008/2009 ............................................... 103
3.5 Prestasi Belajar SMA Non Akademik 2008/2009 ................................ 104
3.6 Operasionalisasi Variabel...................................................................... 108
3.7 Jumlah Populasi .................................................................................... 113
3.9 Distribusi Sampling............................................................................... 115
3.10 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel (X1) ........................................ 124
3.11 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel (X2) ........................................ 125
3.12 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel (Y) .......................................... 127
3.13 Hasil Perhitungan Reliabilitas masing-masing Variabel ...................... 129
4.3 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r.................................................. 132
4.4 Test of Normality.................................................................................. 143
4.3 Test of Homogeneity ............................................................................ 145
4.4 Descriptive Statistic .............................................................................. 143
4.5 Nilai Korelasi Hasil Pengujian Variabel X1 dengan Y......................... 145
4.6 Cooeffecients ........................................................................................ 147
4.7 ANOVA................................................................................................ 148
4.8 Cooeffecients ........................................................................................ 149
4.9 Descriptive Statistic .............................................................................. 151
4.10 Nilai Korelasi Hasil Pengujian Variabel X2 dengan Y......................... 152
4.11 Cooffecients.......................................................................................... 155
4.12 ANOVA................................................................................................ 156
4.13 Cooeffecients ........................................................................................ 156
4.14 Descriptive Statistic .............................................................................. 159
4.15 Model Summary ................................................................................... 161
4.16 Cooffecients.......................................................................................... 163
4.17 ANOVA................................................................................................ 164
4.18 Cooeffecients ........................................................................................ 164

xiv

DAFTAR GAMBAR

No.Gambar
3.1

Nama Gambar

Halaman

Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Cirebon


Tahun Pelajaran 2008/2009.................... 101

xv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu sistem yang teratur dalam mengemban misi


yang cukup luas, segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan
fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial sampai
kepada masalah kepercayaan atau keimanan. Pada hakekatnya pendidikan
sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dengan melalui pendidikan
manusia akan mampu meningkatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi,
sehingga makin bertambah waktu maka semakin luas juga wawasan berfikir
manusia dari generasi satu kepada generasi yang lainnya. M. Noer Syam dkk
mengatakan bahwa pendidikan merupakan hasil atau prestasi yang dicapai oleh
perkembangan manusia dan usaha-usaha lembaga-lembaga tersebut dalam
mencapai tujuannya.1

UUD 1945, pada pasal 31 ayat 3, yaitu Pemerintah mengusahakan dan


menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-undang. Redaksi lebih tegas
1

M. Noer Syam dkk, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya: Usaha Nasional.


2008, hlm. 46

terdapat pada pasal 31 ayat 5, Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan


tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa
untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia

Makna yang amat dalam terhadap tujuan yang akan dicapai oleh
pendidikan nasional Indonesia. Ilmu, Iman dan taqwa (Imtaq) dan akhlak mulia
(akhlakul karimah) adalah barometer sebagai bangsa yang cerdas. Sebaliknya,
pendidikan nasional berusaha mencetak manusia Indonesia yang cerdas dengan
berpijak kepada ilmu, nilai iman, taqwa dan akhlak mulia. Selanjutnya
diharapkan terbentuk insan-insan yang berilmu dan bertekhnologi, bersatu serta
memiliki peradaban yang maju. Generasi dan anak bangsa kedepan adalah
generasi atau individu yang smart and good atau cerdas dan baik dalam arti
cerdas rasional, emosional, spritual, demokratis, taat hukum, religius dan
beradab.2

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional


menjelaskan bahwa sebagai suatu sistem, pendidikan agama dimaksudkan
untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa

Winataputra, Komitmen dan Tanggung Jawab Daerah dalam Upaya Peningkatan Mutu
Pendidikan Seyogyanya Daerah Merespon Tantangan desentralisasi Pendidikan, Jakarta:
Universitas terbuka, 2000. hlm. 5

kepada Tuhan yang Maha Esa serta berakhlak mulia.3 Mengacu pada tujuan
pendidikan nasional, salah satu upaya perwujudan manusia Indonesia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dicapai melalui
pendidikan agama Islam. PAI sebagai pendidikan nilai tidak cukup hanya
mempelajari rukun iman, ibadah, muamalah, dan akhlak dalam tinjauan umum,
akan tetapi perlu digali makna-makna yang dapat diangkat sebagai nilai-nilai
Islami yang mudah difahami dan diaktualisasi siswa dalam kehidupan seharihari.

Pendidikan butuh lembaga, sarana, alat-alat dan pendidik yang


berkualifikasi/ profesional. Selain itu, pendidikan harus dilengkapi dengan visi
dan misi yang jelas, manajemen yang berkualitas, kurikulum serta lingkungan
yang kondusif. Begitu banyak faktor yang menjadi penopang pencapaian
tujuan pendidikan, maka faktor yang berkualitas dan kompeten adalah
termasuk faktor yang urgen dan sangat dibutuhkan.

Akhlak

siswa sebagai barometer dari keberhasilan pendidikan sangat

memperihatinkan. Kecendrungan di lapangan menunjukkan prilaku siswa yang


sukar dikendalikan, diantaranya nakal, keras kepala, merebaknya pornografi,

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI


tentang Pendidikan, Jakarta: Departemen Agama RI, 2006. hlm. 65.

pornoaksi, dan lain-lain. Selanjutnya prilaku siswa yang indisipliner, baik


indisipliner terhadap tata tertib sekolah, indisipliner dalam melaksanakan
ibadah di sekolah, dan indisipliner dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Prilaku indisipliner ini mencerminkan orang itu tidak memiliki rasa tanggung
jawab, tidak peduli, acuh dan apatis.

Menurut S. Nasution prestasi belajar adalah: Kesempurnaan yang dicapai


seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat.Prestasi belajar dikatakan
sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan
psikomotor.4 Pendidikan agama Islam merupakan penanaman keyakinan
ajaran agama

Islam

yang aplikatif,

yaitu pengetahuan

yang harus

ditindaklanjuti dengan sebuah pemahaman, penghayatan dan pelaksanaan


secara lahir dan batin. Ajaran tersebut menjadi sebuah pedoman dan pandangan
hidup yang mampu mengantarkan prilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai
agama.

Prestasi belajar PAI di sekolah umum bertujuan untuk menyiapkan siswa


agar memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan ajaran Islam
(doing), dan melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (being).

J. Mursell dan S. Nasution, Mengajar dengan Sukses, Jakarta: Bumi Aksara, 2006. hlm.

27

Dengan demikian, tujuan utama pendidikan agama Islam di sekolah umum


adalah keberagamaan, yaitu menjadi muslim yang sebenarnya. Keberagamaan
inilah yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Pendidikan yang maju tidak dapat lepas dari peran serta guru sebagai
pemegang kunci keberhasilan. Guru menjadi fasilitator yang melayani,
membimbing, membina dengan piawai dan mengusung siswa menuju gerbang
keberhasilan. Hidup dan mati sebuah pembelajaran bergantung sepenuhnya
kepada

guru.

Guru

mempunyai

tanggung

jawab

menyusun

strategi

pembelajaran yang menarik dan yang disenangi siswa, yakni rencana yang
cermat agar peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau
belajar, dan tertarik untuk terus-menerus mempelajari pelajaran.

Ketauladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan


terbukti sangat berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral,
spritual, dan etos sosial anak.

Ketauladanan guru adalah mencontoh atau

meneladani segala apa yang ditampakkan oleh pendidik dalam proses


pembelajaran dan diluar pembelajaran. Pendidik menampakkan dirinya sebagai
contoh dalam setiap situasi baik dilingkungan sekolah dan masyarakat.

Ketauladanan menjadi syarat penting dijadikan alternatif metode atau


media dalam proses pembelajaran, hal ini mengingat semakin hilangnya citra
guru, merupakan tugas mulia yang pantas untuk ditiru. Hubungan antara
tingkat pendidikan dengan tingkat prilaku yang ditampilkan siswa seharusnya
berbanding lurus (horizontal), semakin tinggi tingkat pendidikan yang
dilaluinya akan semakin baik pula prilakunya. Kecendrungan akhir-akhir ini
menunjukkan kurva terbalik arah, antara tingkat pendidikan dengan prilaku
yang lahir dari siswa semakin jauh dari yang diharapkan. Inilah yang menjadi
patokan bagi para pendidik, ataukah memang tokoh pendidik itu sendiri tidak
lagi dicontoh siswa sebagai seorang profil pendidik yang baik, sehingga siswa
kehilangan tokoh sebagai uswatun hasanah.

Pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak didik, yang tindak
tanduknya, sopan santunnya disadari atau tidak, akan ditiru oleh mereka.
Bahkan bentuk perkataan, dan tingkah lakunya akan senantiasa tertanam dalam
kepribadian anak. Seorang pendidik muslim mesti menjadikan Nabi
Muhammad sebagai idola dan model dalam mendidik siswa-siswanya,
termaktub dalam al-Quran surat al-Ahzab (33): 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.5
Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa metode pendidikan Islam berpusat
pada ketauladanan dan secara psikologis ternyata manusia memang
memerlukan tokoh tauladan dalam hidupnya, ini adalah sifat pembawaan.6
Pada dasarnya manusia sangat cendrung memerlukan sosok tauladan yang
mampu mengarahkan manusia pada jalan kebenaran, dan sekaligus menjadi
perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syariat Allah
SWT.

Guru yang mampu menjadikan siswanya manusia yang berkualitas dan


berakhlak karimah menuju arah kehidupan yang lebih baik, pada kenyataannya
tidak mudah untuk dilaksanakan, tentu saja membutuhkan beberapa syarat
yang harus dipenuhi. Sejumlah syarat yang dapat menjawab tantangan dan
peluang pembelajaran serta menyusun strategi pembelajaran yang unggul dan
profesional. Profesionalitas guru bukan hanya memproduksi siswa menjadi
pintar dan skilled, akan tetapi bagaimana mengembangkan potensi-potensi

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahan, Madinah Al-Munawwarah:


Mujamma Al-Malik Fahd, 1990. hlm. 595
6
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, Bandung: Rosdakarya, 2001. hlm.
143.

yang dimiliki siswa menjadi aktual. Inilah kepribadian profesional guru yang
diidamkan.

Alwi

Suparman

dalam

Tjepy

Supriatna

memberikan

pengertian

profesionalitas guru adalah guru yang memiliki pengetahuan yang luas,


keterampilan yang tinggi dan bervariasi serta etika/ moral yang baik, sehingga
mampu bekerja secara sistematik, efektif dan efesien.7 Berkaitan dengan
kinerja seorang pendidik atau guru agama Islam, pada dasarnya hal itu lebih
terarah pada prilaku seorang pendidik dalam pekerjaannya dan masalah
efektivitas pendidik dalam menjelaskan kinerja yang dapat memberikan
pengaruh kepada para siswa yang lebih Islami. Hal ini tampak dari prilaku
pendidik dalam proses pembelajaran serta interaksi antara pendidik dan siswa.
Seorang guru agama yang profesional akan lebih berkonsentrasi terhadap etika
atau moral keagaman dan tanggung jawab profesionalnya dibandingkan dengan
yang lainnya.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 10


dikemukakan bahwa kompetensi guru itu mencakup kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Indra
Djati Sidi mengatakan bahwa: Profesionalisme pendidik dituntut dengan
sejumlah persyaratan minimal antara lain memiliki kualifikasi pendidikan

Tjepy Supriatna, Karya Tulis Prestasi Perseorangan, Jakarta:Lembaga Administrasi


Negara Republik Indonesia, 2002. hlm. 36

profesi yang memadai, memiliki kompetensi keilmuan, mempunyai jiwa


kreatif, produktif, etos kerja yang tinggi, komitmen tinggi terhadap profesinya
dan selalu melakukan pengembangan diri secara kontinu (continuous
improvement).8 Keseluruhan proses pendidikan disekolah, guru memegang
peranan yang sangat penting dan utama. Prilaku guru dalam proses pendidikan
akan membawa pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan prilaku dan
kepribadian siswa.

Pasal 39 ayat (2) UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang


berbunyi:

Pendidik

merupakan

tenaga

profesional

yang

bertugas

merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil


pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melaksanakan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada
perguruan tinggi.

Fenomena yang terjadi dilapangan sehubungan dengan prestasi belajar


pendidikan agama Islam siswa di SMAN 1 Cirebon, menunjukkan bahwa
masih dijumpai siswa yang menunjukkan prilaku yang kurang baik. Ini
diperoleh berdasarkan observasi awal dan wawancara lansung dengan para
siswa SMA kelas XII tahun 2008/2009 di SMAN 1 Cirebon, adalah sebagai
berikut :
8

Indra DJati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan,
Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 2003. hlm. 38

10

Pertama, siswa kurang menghormati guru, ini dapat dilihat ketika berjumpa
siswa tidak menegur/ menyapa dan tidak mengucapkan salam. Kedua,
banyaknya pelanggaran terhadap aturan-aturan sekolah yang dilakukan siswa
kelas XII, seperti tidak disiplin dalam memakai seragam sekolah, terlambat,
dan tidak mengikuti les belajar tambahan sore. Ketiga, siswa banyak yang tidak
menjalankan perintah agama, seperti melaksanakan ibadah sholat. Ini terbukti
dari pengakuan jujur siswa kelas XII . Keempat, siswa terbiasa bertutur kata
tidak sopan, bahkan sebagian ada yang terlibat tawuran. Kelima, kurangnya
perhatian siswa terhadap kebersihan lingkungan sekolah, apabila mereka
diarahkan untuk mengambil sampah, maka masih ada yang menghindar, dan
membiarkan sampah begitu berterbangan disekitar halaman kelas dan sekolah,
tidak mau membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.
Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut diatas, menunjukkan prilakuprilaku siswa yang indisipliner, baik indisipliner terhadap tata tertib sekolah,
indisipliner dalam melaksanakan ibadah di sekolah, dan indisipliner dalam
kegiatan pembelajaran. Prilaku indisipliner atau sikap tidak mencerminkan
disiplin akan bertentangan dengan arah dan tujuan pendidikan. Prilaku
indisipliner ini mencerminkan orang itu tidak memiliki rasa tanggung jawab,
tidak peduli, acuh dan apatis.
Berdasarkan dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui
studi dokumen, diperoleh gambaran bahwa nilai rata-rata hasil UAS pada mata

11

pelajaran agama Islam selama 2 tahun terakhir menunjukkan adanya


peningkatan sebesar 1,80 dari tahun pelajaran 2007/ 2008 sebesar 80,45,
meningkat menjadi 82,85 pada tahun pelajaran 2008/ 2009. Secara prestasi
akademik tampak dinilai cukup berhasil, tetapi apabila dilihat dari prestasi non
akademik kurangnya minat siswa mengikuti perlombaan yang bernuansa
agama, baik yang dilakukan dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah.
Selain itu juga ditinjau dari sikap, sebagian siswa belum menunjukkan prestasi
yang baik. Bukankah keberhasilan pendidikan disuatu sekolah tidak hanya
diukur dengan prestasi akademik siswanya secara kuantitas semata, melainkan
harus diukur pula prestasi secara komprehensif, baik prestasi akademik
maupun non akademik.
Fenomena-fenomena yang menjadi fokus masalah utama adalah munculnya
prilaku siswa yang kurang baik di SMAN 1 Cirebon, ini menunjukkan bahwa
prestasi pendidikan agama Islam belum optimal. Dimana peneliti melihat
berdasarkan hasil observasi awal bahwa para guru, khususnya guru pendidikan
Agama Islam sudah menunjukkan sikap ketauladanan yang baik dan
menyenangkan bagi siswanya, indikatornya adalah perilaku guru yang berbicara
sopan, penuh kasih sayang dalam memberikan ilmunya, selalu meluangkan
waktunya dalam mengatasi problema siswa, berbusana rapi dan sopan, memiliki

12

dedikasi yang tinggi, loyalitas, dan lain-lain. Prilaku guru PAI ini, sudah
menunjukkan sosok figur yang pantas ditiru dan diteladani oleh siswa.
Profesionalitas guru, khususnya guru pendidikan agama Islam, juga telah
dikembangkan secara optimal. Indikatornya adalah telah memenuhi persyaratan
baik secara administratif maupun keilmuan (kwalifikasi akademik), secara
keilmuan sudah selesai pendidikan SI, dan sudah ada guru PAI yang lulus uji
sertifikasi, sebagai tanda keprofesionalan seorang guru. Dan secara administratif
sudah menunjukkan manajemen pembelajaran yang baik, terbukti dengan para
guru yang mengajar dikelas X difasilitasi sekolah media pembelajaran yang
bermuatan tekhnologi terbaru seperti Laptop dan OHP. Selain itu juga telah
dipenuhinya

manajemen

pembelajaran

yang

baik,

yang

mencakup

merencanakan, mengorganisir, dan mengevaluasi hasil kegiatan mengajar


belajar, menciptakan suasana yang kondusif dalam kegiatan pembelajaran, guru
selalu memberikan motivasi dalam proses pembelajaran, semuanya dikelola
dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang sudah dirancang terlebih dahulu,
walaupun mungkin juga masih ditemukan kekurang mampuan sebagian guru
mengoperasikan media-media pembelajaran yang bermuatan tekhnologi terbaru
(Komputer, Laptop dan OHP).

13

Berdasarkan fenomena-fenomena yang penulis temukan dilapangan,


seharusnya dengan ketauladanan yang ditampilkan guru PAI dalam proses
pembelajaran sehari-hari, dan profesionalitas yang dimiliki guru PAI dalam
menyampaikan

materi

pembelajaran

kepada

siswa-siswanya,

dapat

memberikan rangsangan positif pada diri mereka untuk meningkatkan prestasi


belajar PAI, dengan indikator-indikator berikut ini: 1) Kerajinan melaksanakan
ibadah sesuai dengan ajaran agama Ialam; 2) Kerajinan mengikuti kegiatan
keagamaan; 3) Jujur dalam perkataan dan perbuatan; 4) Mematuhi peraturan
sekolah; 5) Hormat terhadap guru; 6) Tertib dan disiplin ketika mengikuti
pelajaran dikelas atau ditempat lain.
Peneliti melihat terjadi ketimpangan yang memerlukan suatu pemecahan
masalah untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Kajian dalam penelitian ini
dibatasi pada permasalahan Seberapa besar kontribusi ketauladanan dan
profesionalitas guru

PAI terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa

SMAN 1 Kota Cirebon baik secara parsial maupun simultan. Untuk


menjawab persoalan tersebut, perlu dilakukan penelitian yang mendalam.

14

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas, yang merupakan pokok permasalahan serta
berkaitan dengan judul penelitian, maka masalah yang dijumpai dapat
diidentifikasi sebagai berikut:
1. Masih dijumpai siswa yang menunjukkan prilaku yang kurang baik, baik
prilaku indisipliner terhadap tata tertib sekolah, indisipliner dalam
melaksanakan ibadah di sekolah, dan indisipliner dalam kegiatan
pembelajaran. Prilaku indisipliner atau sikap tidak mencerminkan disiplin
akan bertentangan dengan arah dan tujuan pendidikan. Prilaku indisipliner
ini mencerminkan orang itu tidak memiliki rasa tanggung jawab, tidak
peduli, acuh dan apatis.
2. Kurangnya minat siswa mengikuti perlombaan yang bernuansa agama,
baik yang dilakukan dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Selain
itu juga ditinjau dari sikap, sebagian siswa belum menunjukkan prestasi
yang baik. Bukankah keberhasilan pendidikan disuatu sekolah tidak hanya
diukur dengan prestasi akademik siswanya secara kuantitas semata,
melainkan harus diukur pula prestasi secara komprehensif, baik prestasi
akademik maupun non akademik yang terdiri dari aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik.

15

3. Profesionalitas guru pendidikan agama Islam seperti menguasai berbagai


strategi, metode, pendekatan dan dapat mengoperasikan media-media
pembelajaran yang bermuatan tekhnologi terbaru, selain itu pendidik juga
harus mampu menjadi teladan atau model oleh pebelajar. Masalah ini
menjadi urgen dan prioritas apabila dikaitkan dengan tujuan pendidikan
nasional terutama berkenaan dengan prestasi belajar PAI pada aspek
afektifnya (sikap). Memanfaatkan media pendidikan merupakan tuntutan
kompetensi guru sebagai pelatih dan sebagai pendidik. Dalam hal ini guru
harus mampu membuat ide-ide baru atau agent of change dalam dunia
pendidikan,

agar

perkembangan

teknologi

tidak

salah

dalam

menggunakannya. Keseluruhan proses pendidikan disekolah, guru


memegang peranan yang sangat penting dan utama.
Dengan

demikian

dapat

dikatakan

bahwa

faktor-faktor

yang

mempengaruhi prestasi belajar PAI sangatlah luas dan komplek. Oleh karena
itu dibatasi pada faktor ketauladanan guru dan profesionalitas guru PAI
berdasarkan persepsi siswa. Hal ini berdasarkan fenomena yang terjadi di
lapangan sangat dominan berkenaan dengan kedua faktor tersebut.

C. Perumusan Masalah
Agar lebih tegas dan jelas, permasalahan yang akan diteliti dapat
dirumuskan dalam bentuk pertanyaaan penelitian dibawah ini, yaitu :

16

1. Bagaimana ketauladanan guru PAI SMAN 1 Cirebon dalam proses belajar


mengajar di sekolah ?
2. Bagaimana profesionalitas guru PAI SMAN 1 Cirebon dalam proses
belajar mengajar di sekolah ?
3. Bagaimana prestasi belajar pendidikan Agama Islam siswa SMAN 1
Cirebon?
4. Seberapa besar kontribusi ketauladanan dan profesionalitas guru PAI
terhadap peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa
SMAN 1 Cirebon, baik secara parsial maupun simultan?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan ketauladanan guru PAI SMAN 1 Cirebon dalam
proses belajar mengajar di sekolah.
2. Untuk mendeskripsikan profesionalitas guru PAI SMAN 1 Cirebon dalam
proses belajar mengajar di sekolah.
3. Untuk mendeskripsikan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam SMAN 1
Cirebon.
4. Untuk menemukan kontribusi ketauladanan dan profesionalitas guru PAI
terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Cirebon, baik
secara parsial maupun simultan.

17

E. Manfaat Hasil Penelitian


Hasil Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi tenaga kependidikan,
terutama :
1. Tenaga pendidik (guru), dapat menambah wawasan khazanah ilmu
dalam meningkatkan ketauladanan dan dapat memberikan tauladan
untuk menciptakan siswa yang berakhlakul karimah.
2. Kepala SMA, khususnya kepala SMAN 1 Cirebon tentang pentingnya
peningkatan guru dan memotivasi guru-guru untuk memberikan
tauladan yang baik dan profesionalitas yang tinggi, demi menciptakan
prestasi belajar yang berkualitas baik prestasi akademik dan prestasi
non akademik.
3. Para pengambil kebijakan dalam pengangkatan tenaga guru, bahwa
syarat guru yang memiliki ketauladanan (uswah hasanah) dan
profesionalitas, merupakan pertimbangan penting dalam pengangkatan
tenaga guru untuk menciptakan generasi yang unggul dan berakhlakul
karimah.
4. Para peneliti selanjutnya sebagai tambahan informasi untuk meneliti
yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa, ketauladanan dan
profesionalitas guru, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
5. Kepada peneliti sendiri dalam rangka menambah ilmu pengetahuan
tentang

permasalahan

indisipliner

siswa,

prosedur

penelitian,

ketauladanan dan profesionalitas guru, yang diaflikasikan dalam proses


mengajar belajar (pembelajaran).

18

BAB II

LANDASAN TEORI TENTANG KETAULADANAN,


PROFESIONALITAS GURU, DAN PRESTASI BELAJAR PAI
A. Ketauladanan
1. Makna dan Teori Ketauladanan
Ketauladanan berasal dari kata tauladan berarti patut ditiru, dicontoh
atau perbuatannya patut diteladani. Dalam istilah lain dikenal sebagai
model atau uswah hasanah.9 Dalam al-Quran kata tauladan
diproyeksikan dengan kata uswah, yang kemudian diberi sifat hasanah
yang berarti baik. Sehingga terdapat ungkapan uswatun hasanah yang
artinya teladan yang baik.
Menurut Sondang P. Siagian, ketauladanan berarti melakukan apa
yang harus dilakukan dan tidak melakukan hal-hal yang tidak boleh
dilakukan, baik karena keterikatan kepada peraturan perundang-undangan
yang berlaku maupun karena limitasi yang ditentukan oleh nilai-nilai
moral, etika dan sosial.10
Pengertian diatas memberikan penekanan bahwa ketauladanan harus
diproyeksikan pada kepribadian yang tercermin dalam disiplin hidup yang
positif. Dengan adanya disiplin pribadi yang tinggi sebagai manifestasi
dari ketauladanan. Wayson mengatakan

sebagai berikut: Responsible

Bobi De Poerter, Quantum Teaching; Orchestrating Student success, terj. Ari Nilandari,
Bandung: Kaifa, 2000. hlm. 40.
10
Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005,
hlm. 105.

19

behavior is an internalized commitmen to do what one has agreed to do


without outside coercion.11(Tindakan yang dilakukan dalam segala
bentuk ucapan, perbuatan, dan pikiran merupakan wujud dari sikap
tanggung jawab terhadap ketentuan yang telah disetujuinya).
Ketauladanan merupakan pangkal tolak masalah kepribadian, dapat
dikaji

melalui

teori

yang

bersifat

evolusionalistik.

McDougall

mengungkapkan dalam Sjarkawi:


Seorang pengkaji teori evolusionalistik memandang tindakan manusia
sebagai tindakan yang muncul dari seperangkat impuls biologis yang
mempunyai ciri-ciri tersendiri, sedangkan impuls-impuls biologis
tersebut merupakan hasil seleksi alami. Akan tetapi, begitu impuls
alami dinyatakan, terlepaslah ia dari asalnya yang alami itu, dan
pada saat itu juga ia diorganisasi secara hirarkis dalam tatanan
konsep diri.12
Menurut Browner kepribadian adalah corak tingkah laku sosial,
dorongan dan keinginan, corak gerak-gerik, opini dan sikap.

13

Tingkah

laku itu kadang-kadang kelihatan (overt) dan kadang-kadang tidak


kelihatan (covert). Boleh dikatakan tingkah laku manusia adalah gerakgerik suatu badan, sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik
badan manusia.
Menyikapi tindakan yang dilakukan oleh guru dalam proses
pendidikan, Dewantara dalam Dedi Supriadi menjelaskan sebagai berikut:
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Ing ngarso sung tulodo mengandung makna bahwa keseluruhan sikap,
11

Wayson, W., Handbook for Developing School with Good Dicipline, Indiana: Phi Delta
Kappa, 1982, hlm. 77.
12
Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, Peran Moral, Intelektual, Emosional, dan
Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, Jakarta: Bumi Aksara, 2008. hlm. 22
13
Ibid, hlm. 18

20

tingkah laku, dan perbuatan seorang guru harus sesuai dengan norma yang
berlaku, sehingga siswa menjadikan guru sebagai teladan, panutan dan
mengikutinya.14
Ketauladanan guru adalah mencontoh atau meneladani segala apa
yang ditampakkan oleh pendidik dalam proses pembelajaran dan diluar
pembelajaran, baik berupa perkataan, prilaku maupun sikap. Pendidik
menampakkan dirinya sebagai contoh dalam setiap situasi baik
dilingkungan sekolah dan masyarakat.

Semua guru adalah guru agama. Artinya, tugas untuk menanamkan


nilai-nilai etis religius bukan hanya tugas guru bidang studi keagamaan
saja, melainkan tugas semua orang di lembaga pendidikan ini. Semua
orang dalam komunitas sekolah harus mampu menjadi tauladan bagi
peserta didik. Bahkan, peserta didik yang senior harus mampu menjadi
teladan bagi adik-adiknya.

Ketauladanan yang dikembangkan di sekolah adalah ketauladanan


secara total, tidak hanya dalam hal yang bersifat normatif saja seperti
ketekunan

dalam

beribadah,

kerapian,

kedisiplinan,

kesopanan,

kepedulian, kasih sayang, tetapi juga hal-hal yang melekat pada tugas
pokok atau tugas utamanya. Membangun ketauladanan tidak ubahnya
seperti membangun kultur (budaya), watak dan kepribadian.
14

Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adi Cita Karya
Nusa, 2004, hlm. 105.

21

Untuk mengembangkan ketauladanan, seorang pemimpin pendidikan


dan guru harus rela berkorban. Jiwa pengorbanan inilah yang ditanamkan
di lembaga-lembaga pendidikan. Dengan semangat rela berkorban guru
dapat merelakan uangnya untuk membeli bahan ajar, rela mengorbankan
waktu malamnya untuk membuat persiapan mengajar, ikhlas mendoakan
keberhasilan anak didiknya, rela mengorbankan sebagian kepentingan
pribadi dan keluarganya demi anak didik dan sekolahnya, sabar ketika
menghadapi prilaku siswa yang kurang menyenangkan, serta telaten
membimbing anak didiknya yang memiliki kekurangan.

Inilah guru yang berjiwa besar, yang ketauladanannya sangat


membekas dalam jiwa anak didiknya, guru yang benar-benar dapat
digugu dan ditiru, seorang pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi sungguh
sangat besar jasanya. Bukti bahwa identitas sebagai guru sudah melekat
dengan diri seseorang yang berprofesi sebagai guru, dapat dilihat bahwa
masyarakat jarang sekali menyapa dengan sebutan nama kepada seorang
guru, melainkan dengan sapaan Pak Guru atau Buk Guru. Dari
panggilan itu saja, terlihat dengan jelas bahwa sosok guru memiliki
kharisma tersendiri di mata orang lain dan profesi ini sangat dihargai.

22

Berkaitan dengan ketauladanan ini, Ahmad Barizi mengatakan


setiap tenaga pendidik (guru dan karyawan) di lembaga pendidikan harus
memiliki tiga hal yaitu competency, personality dan religiosity.
Competency menyangkut kemampuan dalam menjalankan tugas secara
profesional yang meliputi kompetensi materi (substansi), keterampilan
dan metodologi. Personality menyangkut integritas, komitmen dan
dedikasi, sedangkan religiosity menyangkut pengetahuan, kecakapan dan
pengamalan dibidang keagamaan. 15

Ketiga hal tersebut, guru akan mampu menjadi model dan mampu
mengembangkan keteladanan dihadapan siswanya. Seorang pelajar pasti
selalu melihat gurunya, sehingga kata guru selalu dipergunakan sebagai

identitas.

Sosok guru dan profesinya melekat di mana saja mereka

berada. Oleh karena itu, seorang guru mempunyai pengaruh kuat dan
besar dalam pembentukan kepribadian seorang murid. Rasulullah sendiri
dapat mempengaruhi khalayak ramai saat itu hanya dengan ketauladanan
beliau yang baik. Tentang pentingnya keteladanan ini, Al-Quran
menjelaskan dalam firman Allah SWT berikut: Sesungguhnya telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi
orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, hari akhir (kiamat), dan dia
banyak menyebut Allah, (QS al-Ahzab [33]: 21).

15

Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul, Yogyakarta: AR-Ruzz Media, 2009, hlm: 69

23

Ahmad Barizi menegaskan Ketauladanan adalah kunci keberhasilan,


termasuk keberhasilan seorang guru dalam mendidik anak didiknya. Syair
Arab mengatakan, Qawul ul-hal afshah min lisaani l-maqaal
(ketauladanan lebih fasih daripada perkataan). Dengan ketauladanan
guru, siswa akan menghormatinya, memperhatikan pelajarannya. Inilah
implementasi etika religius dalam proses pembelajaran . 16

2. Pentingnya Ketauladanan Guru

Perubahan perilaku yang dapat ditunjukkan oleh peserta didik harus


dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki
oleh seorang guru. Untuk itulah guru harus dapat menjadi contoh (suri
teladan) bagi peserta didik, diperlukan niat yang kuat dan mantap karena
pada dasarnya guru adalah representasi dari sekelompok orang pada suatu
komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi teladan, yang
dapat digugu dan ditiru. Seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil
belajar yang dapat ditunjukkan oleh peserta didiknya.

Mengingat ketauladanan guru sangat diharapkan bagi anak didik,


seorang guru harus benar-benar mampu menempatkan diri pada porsi yang
benar. Porsi yang benar yang dimaksudkan, bukan berarti bahwa guru
harus membatasi komunikasinya dengan siswa atau bahkan dengan sesama
guru, tetapi yang penting bagaimana seorang guru tetap secara intensif
16

Ibid, hlm. 72

24

berkomunikasi dengan seluruh warga sekolah, khususnya anak didik,


namun tetap berada pada alur dan batas-batas yang jelas. Seorang guru
bahkan harus mampu membuka diri untuk menjadi teman bagi siswanya
dan tempat siswanya berkeluh-kesah terhadap persoalan belajar yang
dihadapi. Namun, dalam porsi ini, ada satu hal yang mesti diperhatikan,
bahwa dalam kondisi apapun, siswanya harus tetap menganggap gurunya
sosok yang wajib ia tauladani, meski dalam praktiknya diperlakukan siswa
layaknya sebagai teman.

Berkomunikasi secara intensif dengan seluruh siswa sangat penting


artinya dalam upaya menggali potensi yang dimiliki masing-masing siswa.
Sebab, setiap siswa memiliki latar belakang berbeda dan potensi diri yang
tentu berbeda pula. Potensi itu bisa saja tersimpan rapi, jika guru tidak
berupaya menggalinya. Dengan demikian, seorang guru harus mampu
mendapatkan informasi itu dari siswanya agar bisa diarahkan untuk hal-hal
positif yang menunjang karir dan prestasi siswa. Untuk menjadi teladan
bagi siswa, bukanlah perkara mudah. Banyak indikator tingkah laku yang
harus ditunjukkan dalam sikap dan perkataan, baik di sekolah, di

25

lingkungan sekolah, lebih lagi di lingkungan masyarakat.

Meski tidak

mudah, bukan berarti tidak bisa.

Pentingnya ketauladanan, mengingat pendidikan dilakukan oleh dua


pribadi, dalam arti pribadi guru dan murid. Membangun hubungan erat dan
berkesinambungan mesti diawali dan dihiasi dengan saling percaya, kasih
sayang

dengan

pribadi

masing-masing,

hampir

dapat

dipastikan

komunikasi dan proses pembelajaran akan terbentuk dengan sempurna.


Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Tafsir, bahwa metode
pendidikan Islam berpusat pada keteladanan dan secara psikologis ternyata
manusia memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini adalah
sifat pembawaan.

Ketauladanan

dapat

dilakukan

melalui

pembiasaan

ataupun

pengajaran yang intensif. Sejalan dengan pendapat Ulwan dalam


Ramayulis yang menjelaskan sebagai berikut:

Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influitif yang paling


meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk
moral, spritual dan sosial anak. Hal ini adalah karena pendidikan
adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya
dalam tindak tanduknya, dan tata santunnya, disadari atau tidak
bahkan tepatri dalam jiwa dan perasaannya gambaran seorang

26

pendidik dan tercermin dalam ucapan dan perbuatan materil dan


spritual dan tidak diketahui.17

Dalam proses pembelajaran, ketauladanan merupakan sebuah metode,


yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Hal ini diakui oleh AlGhazali bahwa metode ketauladanan bagi mental anak-anak, pembinaan
budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada diri mereka.
Pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang erat
antara dua pribadi, yaitu guru dan murid. Dengan demikian faktor
ketauladanan menjadi bagian dari metode pengajaran yang amat penting.18
Demikian juga Nuruhbiyah berpendapat, dalam bukunya Ilmu Pendidikan
Islam, menurutnya metode yang cukup besar pengaruhnya dalam mendidik
anak adalah metode pemberian contoh atau teladan.19

Seorang pendidik yang baik menurut Ibnu Sina, dalam Abudin Nata
adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik
akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari
berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya, tidak bermuka masam,

17

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2005. hlm.

120.
18
19

Ibid, hml: 94.


Nuruhbiyah, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1987. hlm. 8

27

sopan santun, bersih dan suci murni.20 Apa yang menjadi ciri khas guru
ini, cendrung akan ditiru oleh yang dididik. Artinya, siswa cendrung
meneladani gurunya, ini diakui oleh semua ahli pendidikan baik dari Barat
maupun dari Timur.

Good and Brophy dalam Prayitno menghimpun berbagai temuan


tentang harapan siswa terhadap guru yang dapat menjadi teladan, antara
lain sebagai berikut:

a. Profil guru yang diharapkan siswa, terdiri dari:1) periang; 2) suka


berteman; 3) beremosi matang; 4) jujur apa adanya, dan tidak berpurapura; 5) dapat dipercaya; 6) sehat mental; 7) dapat menyesuaikan diri;
8) merupakan pribadi yang kuat; memiliki otoritas (tetapi tidak
otoriter).
b. Sikap guru yang diharapkan siswa, terdiri dari: 1) pengakuan dan
penerimaan; 2) kasih sayang dan kelembutan; 3) bersikap sabar,
melindungi dan memaafkan; 4) bersikap dan berkomunikasi secara
lembut, sopan dan bertatakrama; 5) ketegasan dalam mendidik, seperti
bagaimana mengendalikan diri, tidak terburu-buru bertindak, objektif
dan penuh pertimbangan.21

20

Abudin Nata, Pemikiran para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo, 2000.

hlm: 77.
21

Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Jakarta: Grasindo, 2009. hlm. 186

28

3. Efek Negatif Hilangnya Ketauladanan


Ada beberapa dampak negatif hilangnya ketauladanan guru bagi
anak didik, diantaranya tidak ada hubungan emosional antara guru
dengan murid, guru cendrung diacuhkan murid, tidak ada efek
perubahan, dan guru akan dikeluarkan dari sekolah. Tanpa ketauladanan,
pendidikan akan berjalan dengan pincang. Seorang guru yang kehilangan
keteladanan, sikap prilakunya tidak mencerminkan ilmu, status dan
tanggung jawab pribadi dan sosialnya, maka akan lahir banyak hal-hal
negatif yang sangat merugikan dunia pendidikan.
Adapun hal-hal negatif yang timbul dari hilangnya ketauladanan
guru menurut Jamal Mamur Asmani, adalah sebagai berikut:
a. Tidak ada hubungan emosional antara guru dengan murid
Hubungan antara guru dan murid idealnya tidak hanya secara fisik, tapi
juga lahir dan batin. Ada hubungan emosional yang dalam antara guru
dan murid. Kalau guru tidak bisa digugu dan ditiru, maka hubungan
guru dan murid sebatas hubungan lahir, pelajaran yang disampaikan
tidak berpengaruh dan tidak membekas sama sekali dalam jiwa anak
didik.
b. Diacuhkan murid
Karena tidak ada keteladanan dari guru, maka murid akan bersikap
apatis, pasif dan acuh tak acuh. Dengan demikian pembelajaran tidak
bisa dilakukan secara efektif, dan secara psikologis guru tersebut
sudah tidak bisa diterima murid-muridnya.

29

c. Tidak ada efek perubahan


Guru yang tidak mempunyai keteladanan, apapun pelajaran yang
disampaikan tidak akan membawa perubahan, khususnya perubahan
karakter, sikap, prilaku, dan lain-lain. Perubahan adalah inti dari
pendidikan. Kalau seorang guru tidak mampu menimbulkan efek
perubahan, maka esensi pendidikan telah hilang dalam jiwanya.
d. Dikeluarkan dari sekolah
Guru yang berbuat diluar batas kewajaran, menyimpang norma agama
dan hukum negara, maka guru tersebut bisa dikeluarkan dari sekolah
tempatnya mengajar, demi menyelamatkan anak-anak, lembaga
pendidikan dan masyarakat secara keseluruhan.22

Ibnu Sina menyatakan dalam Abudin Nata, ketauladanan guru yang


baik itu terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, telaten
dalam membimbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu,
gemar bergaul dengan anak-anak, tidak keras hati

dan senantiasa

menghiasi diri, mengetahui etika dalam majelis, sopan santun dalam


berdebat, berdiskusi dan bergaul.23 Apa yang menjadi ciri khas guru ini
cendrung akan ditiru oleh yang dididik. Ini diakui oleh semua ahli
pendidikan baik dari Barat maupun dari Timur. dasarnya adalah secara
psikologis anak memang senang meniru, meneladani gurunya, tidak saja

22

Jamal Mamur Asmani, Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif dan Inovatif, Yogyakarta:
Diva Press, 2009. hlm. 85
23
Abudin Nata, Pemikiran para Tokoh Pendidikan Islam, hlm. 77

30

yang baik, yang jelekpun mereka tiru. Oleh karena itu Ketauladanan ini
dianggap penting, karena termasuk dalam kawasan afektif.

Ramayulis menyebutkan ketauladanan dapat juga disebut sebagai


media dalam pembelajaran. Metode pendidikan Islam baru dapat
diterapkan secara efektif, bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi
psikologis peserta didik, sebab perkembangan dan kondisi psikologis
peserta didik memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap
internalisasi dan transformasi nilai.24

Dengan demikian, ketauladanan menjadi penting dalam pendidikan,


ketauladanan akan menjadi metode yang ampuh dalam membina
perkembangan anak didik, sehingga diharapkan anak didik mempunyai
figur pendidik yang dapat dijadikan panutan.

Rasulullah SAW bersabda:




Barang siapa menyeru kepada hidayah, dia berhak mendapat pahala


seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, dan itu sama sekali tidak
akan mengurangi pahala mereka. Dan barang siapa menyeru kepada
kesesatan, dia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang

24

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, hlm.8

31

mengikutinya, dan itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali.


(H.R. Tirmidzy)25
Hadits tersebut memberi arti lain dari sebuah ketauladanan.
Ketauladanan sama dengan investasi jangka panjang yang sangat penting.
Memberi tauladan yang baik, sama artinya menabung untuk hari esok di
akhirat dengan tabungan yang tanpa batas. Selama orang lain masih
mengikuti contoh yang telah diberikan, maka selama itu orang yang
memberi contoh tersebut mendapatkan balasan kebaikannya. Bahkan,
seluruh kebaikan yang kita lakukan, tidak lain adalah tabungan yang kita
simpan di sisi Allah, yang akan dikembalikan secara utuh. Allah SWT
berfirman artinya, "Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu,
tentu kamu akan mendapatkan pahalanya di sisi Allah." (QS. 2: 110).

Menerapkan tauladan yang baik, dalam lingkup apapun, segalanya


harus dimulai dari diri sendiri. Banyak cara untuk bisa menjadi tauladan.
Tetapi menjadi tauladan, tidak sama dengan ingin menjadi segala-galanya.
Menjadi tauladan, artinya seseorang berusaha untuk memberikan contoh
yang baik, dalam berbagai sisi kehidupan. Dengan tetap menjaga
kehormatan diri tanpa menyombongkan dan merendahkan diri. Tauladan
yang baik, tidak akan pernah bosan untuk membaca dan mengaca ke dalam
dirinya sendiri. Bercermin pada hati nuraninya, sebagai cermin yang paling
jujur serta memohon ridha dan taufik kepada Allah SWT.

25

Isa Muhammad bin Isa bin Surah, Al-Jamius Shahih Wa-Huwa Sunan a-t Tirmidzy,
Darul Kutub Alamiyah, Juz 7, Beirut, Libanon, 1995. hlm. 49

32

4. Indikator Ketauladanan Guru PAI


Ketauladanan menjadi syarat penting dijadikan alternatif metode atau
media dalam proses pembelajaran yang disuguhkan kepada peserta didik.
Hal ini mengingat semakin hilangnya citra guru, merupakan tugas mulia
yang pantas untuk ditiru. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan
tingkat akhlak yang ditampakkan oleh seorang siswa seharusnya
berbanding lurus (horizontal), semakin tinggi tingkat pendidikan yang
dilaluinya akan semakin baik pula akhlak dan sikapnya. Kecendrungan
akhir-akhir ini menunjukkan kurva terbalik arah, antara tingkat pendidikan
dengan akhlak yang lahir dari setiap siswa, semakin jauh dari yang
diharapkan.
Inilah yang menjadi patokan bagi para pendidik, termasuk guru
agama, ataukah memang tokoh pendidik itu sendiri yang tidak lagi
dicontoh siswa sebagai seorang profil pendidik yang baik, sehingga siswa
kehilangan tokoh sebagai uswatun hasanah. Metode ketauladanan
dianggap penting karena aspek agama yang paling terpenting adalah
akhlak yang termasuk dalam kawasan afektif yang terwujud dalam bentuk
tingkah laku (behavioral). Contoh yang diperlihatkan Nabi Muhammad

33

SAW dalam bidang tugasnya menjadi tauladan bagi umatnya dimasa


mendatang dan sekarang.26
Bobbi De Poerter, Dkk mengungkapkan bahwa indikator ketauladanan

seorang pendidik itu sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Teladankan komunikasi yang jelas


Akui setiap usaha
Senyumlah
Gunakan energi untuk menciptakan lebih banyak energi
Jadilah pendengar yang baik
Ungkapkan pikiran mereka dengan kata-kata anda sendiri
Keluarlah dari zona nyaman anda secara teratur, dan beritahu mereka
bahwa anda sedang melakukan hal tersebut.
8. Nyatakan kembali situasi negatif untuk menemukan hal-hal yang
positif di dalamnya.27
Imam al-Ghazali dalam Ramayulis memberikan kriteria seorang guru
yang baik akhlaknya, kelakuannya, dan layak menjadi pengemban tugas
guru, harus memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu:

Pertama: karena mengajar dan membimbing adalah tugas seorang


guru, maka sifat pokok yang harus dimiliki adalah kasih sayang dan
lemah lembut. Pergaulan murid dengan dirinya akan melahirkan sikap
percaya diri dan rasa tentram. Kedua: seorang guru harus
mempertautkan tujuan hidupnya terhadap tujuan hidup muridnya,
yaitu untuk menjadi manusia berguna di dalam kehidupannya,
mengabdi kepada Allah SWT dan kepada kemanusiaan. Ketiga:
seorang guru harus menjadi pembimbing yang terpercaya dan jujur
terhadap muridnya. Keempat: hendaknya seorang guru menyesuaikan
kemampuan pemahaman murid, jangan sampai memberi materi
pelajaran yang belum bisa dijangkau oleh pemikiran mereka. Kelima:

26

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu dan Pemikiran,
2001. hlm. 96.
27
Bobbi De Poerter, Dkk, Quantum Teaching; Orchestrating Student Success. Terj, Ari
Nilandari, Bandung: Kaifa, 2000. hlm. 39

34

hendaknya seorang guru mampu memahami jiwa anak didik,


mengetahui sifat anak didik yang dihadapinya.28

Seorang guru di samping harus menguasai ilmu pengetahuan yang


akan diajarkan kepada siswa, harus juga memiliki sifat-sifat tertentu yang
dengan sifat-sifat ini diharapkan apa yang diberikan guru kepada murid
dapat didengar dan dipatuhi, tingkah lakunya dapat ditauladani dengan
baik serta diaplikasikan di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Muhammad Athiyah Al-Ibrasy dalam Abudin Nata, lebih tegas
menyebutkan bahwa sifat guru itu sebagai berikut:
1. Seorang guru harus memiliki sifat zuhud
2. Seorang guru memiliki jiwa yang bersih dari sifat dan akhlak yang
buruk
3. Seorang guru itu harus ikhlas dalam melaksanakan tugasnya
4. Seorang guru itu harus bersifat pemaaf kepada muridnya
5. Seorang guru itu harus dapat menampakkan dirinya sebagai seorang
bapak sebelum ia menjadi seorang guru
6. Seorang guru harus mengetahui bakat, tabiat, dan watak muridmuridnya
7. Seorang guru itu harus dapat menguasai bidang studi yang akan
diajarkannya.29
Para ahli dan Cendekiawan Islam telah menetapkan beberapa ciri
seorang guru yang tauladan. Ciri-ciri tersebut adalah:

a. Ikhlas dalam Mengemban Tugas sebagai Pengajar

Guru harus mempunyai falsafah hidup bahwa tugasnya tersebut


merupakan bagian dari ibadah. Tentu saja suatu ibadah tidak akan
diterima Allah bila tidak disertai dengan keikhlasan. Amat jauh
28

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2008. hlm. 61


Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam , hlm. 72-76

29

35

perbedaan antara seorang guru yang ikhlas dan saleh dengan seorang
guru yang munafik. Seorang pelajar biasanya dapat berprestasi karena
keikhlasan dan kesalehan gurunya. Hal itu telah dijamin oleh Allah
dalam firman-Nya berikut: Hendaklah kalian menjadi orang-orang
yang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah),
karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap
mempelajarinya. (QS Ali Imran [3]: 79).

b. Memegang Amanat dalam Menyampaikan Ilmu

Bagi seorang guru, ilmu merupakan amanat dari Allah yang harus
disampaikan kepada anak didiknya dengan tanpa ada yang dikurangi. Ia
juga harus menyampaikannya sebaik dan sesempurna mungkin. Jika ada
seorang guru menahan atau menyembunyikan ilmu yang dimilikinya,
maka ia berarti telah berkhianat pada amanat yang telah diberikan Allah
kepadanya.

Secara umum Allah telah memerintahkan untuk menyampaikan


amanat (kepada yang berhak), termasuk amanat ilmu. Allah SWT.
berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian)
apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan
dengan adil , (QS An-Nisa [4]: 58). Rasulullah SAW. juga bersabda,
Seseorang yang tidak mempunyai sifat amanah tidak dapat dikatakan

36

beriman. Seseorang yang tidak menunaikan perjanjian tidak dapat


dikatakan mempunyai agama, (HR Ahmad).

c. Memiliki Kompetensi dalam Ilmunya

Sudah menjadi keharusan bagi seorang pengemban tugas sebagai


pengajar untuk memilki penguasaan yang cukup atas ilmu yang akan
ia ajarkan. Ia juga dapat menggunakan sarana-sarana pendukung
dalam menyampaikan ilmu. Allah memerintahkan setiap orang untuk
menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan yang diinginkan-Nya.
Karakter

ini

berlandaskan

Sabda

Rasulullah

SAW

berikut:

Sesungguhnya Allah menyukai seorang di antara kalian yang bila


bekerja ia menyelesaikan pekerjaannya (dengan baik), (HR. AlBaihaqi). 30

Selanjutnya Asef Umar Fakhruddin, dalam bukunya Menjadi Guru


Favorit, ada beberapa karakteristik sikap ketauladanan yang harus
dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut:

a. Sabar, kesabaran akan membingkai semua tutur kata dan jalinan sikap
seorang guru agar selalu dalam kebajikan. Kesabaran menjadi obat
dalam pusparagam kenakalan yang ditampilkan anak didik.

30

http://bk-stkip-pontianak.webs.com/apps/blog/show/678257-ciri-ciri-guru-konstruk

37

b. Bisa menjadi sahabat, seorang guru yang bisa menjadi sahabat bagi
anak-anak didiknya, ditambah dengan kemampuannya mengkristalkan
bahasa hati didalam setiap laku dan ungkapannya, akan membuatnya
menjadi guru idaman, guru yang senantiasa diidolakan semua
muridnya, tidak hanya pada saat disekolah saja, tetapi juga setelah
lulus dan bahkan pula seumur hidup.
c. Konsisten dan komitmen dalam bersikap
Seorang guru akan berhasil memberikan pemahaman dan pengetahuan
kepada anak-anak didiknya, jika dia konsisten dan komitmen pada
tindakan dan prilakunya. Guru dalam mengemban tugasnya harus
memiliki konsistensi, berarti selalu istiqomah, ajeg, fokus, sabar serta
ulet. Guru yang selalu melakukan perbaikan secara terus menerus juga
termasuk guru yang konsisten.
d. Bisa menjadi pendengar dan penengah
Kemampuan guru menjadi pendengar yang baik, yaitu sikap diri yang
siap mendengarkan keluhan, saran atau bahkan kemarahan dari murid,
sehingga guru bisa menjadi bagian dari orang yang dipercaya siswa.
Sedangkan kemampuan guru menjadi penengah adalah bagian untuk
melakukan filterisasi datangnya berbagai informasi, kemampuan
memberikan solusi, membuat anak didik bisa menjadikan gurunya
sebagai jembatan untuk meningkatkan kreativitas.
e. Visioner dan misioner

38

Seorang guru yang memiliki visi dan misi yang bagus akan menyikapi
anak sebagai manusia mulia yang sangat mungkin berkembang, akan
menghadirkan suasana dialogis-menantang agar anak didiknya
berusaha memaksimalkan potensi dan bakatnya.
f. Rendah hati
Seorang guru yang bersikap rendah hati akan sangat mudah
memberikan nilai positif kepada anak didiknya, tidak akan pernah
menganggap dirinya mengetahui semua hal, bahkan tidak akan
canggung menempatkan anak-anak didiknya sebagai partner untuk
mengasah keilmuan dan kebijaksanaan. 31

B. Teori tentang Profesionalitas Guru PAI


1. Konsep Profesionalisme dan Profesionalitas Guru
Bila ditinjau dari segi bahasa, maka satuan bahasa profesionalisme
guru merupakan bentukan frase endosentris atributif, sebuah kelompok
kata yang terdiri atas kata profesionalisme, yang merupakan unsur inti
frase. Dan kata guru sebagai unsur tambahannya. Kata profesionalisme itu
sendiri dibangun oleh dua morfem, yaitu morfem profesional yang
kedudukannya sebagai

morfem bebas dan morfem

isme yang

kedudukannya sebagai morfem terikat. Kata profesional berasal dari


31

101-105.

Asef Umar Fakhruddin, Menjadi Guru Favorit, Yogyakarta: Diva Press, 2009. hlm.

39

bahasa Inggris yang memiliki arti bersifat profesi atau memiliki keahlian
dan keterampilan karena pendidikan dan latihan.32
Kata Profesi telah dirumuskan dalam sejumlah defenisi yang
berlainan. Walaupun begitu, tentang substansinya tidak banyak berbeda.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia mendefenisikan profesi sebagai
suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di
perguruan tinggi dan dikuasai suatu kode etik khusus. Menurut
Dictionary of Education dalam Syafaruddin Nurdin bahwa: profession is
an occupation usually involving relatively long and specialized
preparation on the level of higher education and governed by its own code
of ethic: profession is one who has acquired a learned skill and conforms
to ethical standar of the profession in which he practice to skill.33
Menurut McCully: Profession is a vocation an which professional
knowledge of some department a learning science is used in its application
to the of other or in the practice of an art founs it.34
Dari dua defenisi diatas, jelas bahwa tidak setiap pekerjaan bisa
disebut profesi, karena harus memenuhi sejumlah kriteria tertentu. Profesi

32

Badudu, J.S dan Zain, Sutan Muhammad, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2001. hlm. 1090
33
Syafaruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Quantum
Teaching.2005. hlm. 13
34
Ibid, hlm. 13

40

adalah

bidang

pekerjaan

yang

dilandasi

pendidikan

keahlian

(keterampilan, kejujuran tertentu). Sedangkan profesional adalah (1)


bersangkutan dengan profesi; (2) memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya;

(3)

mengharuskan

adanya

pembayaran

untuk

melakukannya.
Morfem isme dalam kata profesionalisme, jika dilihat dari segi bahasa
berasal dari bahasa Inggris ism. Termasuk golongan klitik yang
memiliki arti aliran.35 Dengan demikian kata profesionalisme dapat
diartikan sebagai aliran yang bersifat profesi atau suatu ajaran seseorang
atau kelompok yang memiliki keahlian dan keterampilan karena
pendidikan dan latihan.
Kata profesionalisme, apabila ditinjau dari segi istilah dapat diartikan
sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan
kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategistrategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan
profesinya itu.36

35

Echols, John, M dan Shadily, Hasan, Kamus-Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama, 2003. hlm. 332
36
Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme
Tenaga Kependidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2002. hlm. 22-23

41

Profesionalitas berasal dari kata profesi (profession) yang dapat


diartikan sebagai jenis pekerjaan yang khas atau pekerjaan yang
memerlukan pengetahuan, atau dapat juga berarti beberapa keahlian atau
ilmu pengetahuan yang digunakan dalam aplikasi untuk berhubungan
dengan orang lain, instansi, atau sebuah lembaga. Profesional adalah
seseorang yang memiliki seperangkat pengetahuan atau keahlian yang
khas dari profesinya.37
Kata Profesionalitas atau profesionality merupakan kata benda dalam
bahasa Inggris, secara etimologi berasal dari kata kerja profers, the
adversed. Istilah ini berarti (1) follow as ones profession; (2) teach as a
professor, yang artinya mengikuti profesi seseorang atau mengajar seperti
seorang profesor. Sedangkan kata profesional merupakan kata sifat dalam
bahasa Inggris mengandung arti relating to, beloging to, or connested with
a profession, berarti berhubungan dengan, memiliki atau erat kaitannya
dengan sebuah profesi.38
Sementara itu Sanusi dkk, dalam Dadi Permadi berpendapat bahwa:
Profesionalitas (sebagai nomina faham, kesepakatan dan keyakinan)
merujuk pada komitmen para anggota organisasi profesi untuk
meningkatkan standar kemampuan profesionalnya, serta nomina
produk atau kadar suatu produk) mengacu pada sikap, derajat
pengetahuan, dan keahlian yang dipraktekkan tatkala seorang
profesional menjalankan profesinya. Sedangkan profesionalisasi
(sebagai nomina proses), merujuk kepada upaya dan proses
37

Mukhtar, Desain Pembelajaran PAI, Bandung: Mitsaqan Ghaliza, 2003. hlm. 79


Sallis Edward, Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu Pendidikan
(Alih Bahasa Ahmad Ali Riyadi dan Fahrur Rozi, Yogyakarta: Ircisod, 2006. hlm. 46
38

42

peningkatan berbagai dasar, persyaratan, kriteria, standar kualifikasi,


kemampuan, keahlian, perlindungan, pembinaan dan pengawasan bagi
pengakuan atau peningkatan suatu profesi.39

Dari beberapa pengertian diatas, maka profesionalitas merupakan


kepemilikian seperangkat keahlian atau kepakaran di bidang tertentu yang
dilegalkan dengan sertifikat oleh sebuah lembaga. Seorang yang
profesional berhak memperoleh reward yang layak dan wajar, yang
menjadi pendukung utama dalam merintis kariernya kedepan. Formulasi
profesionalitas ini tidak hanya dilakukan pada tataran teoritis, akan tetapi
pada tataran praktis. Jadi, ide-ide yang tertuang secara teoritis, hendaknya
mampu untuk diaplikasikan atau diimplementasikan oleh seorang pendidik
dalam kehidupan nyata.
Menurut Mukhtar Lutfi, ada delapan kriteria yang harus dipenuhi
oleh suatu pekerjaan agar dapat disebut profesi, yaitu:
a. Panggilan hidup yang sepenuh waktu
Profesi adalah pekerjaan yang menjadi panggilan hidup seseorang yang
dilakukan sepenuhnya serta berlangsung untuk jangka waktu yang
lama, bahkan seumur hidup;
b. Pengetahuan dan kecakapan/keahlian
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan atas dasar pengetahuan dan
kecakapan/keahlian khusus yang dipelajari.
c. Kebakuan yang universal

39

Dadi Permadi, Kepemimpinan Mandiri (Profesional) Kepala Sekolah, Bandung: Sarana


Panca karya, 2008. hlm. 101-102

43

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan menurut teori, prinsip,


prosedur dan anggapan dasar yang sudah baku secara umum, sehingga
dapat dijadikan pedoman dalam pemberian pelayanan terhadap mereka
yang membutuhkan.
d. Pengabdian
Profesi

adalah

pekerjaan

terutama

sebagai

pengabdian

pada

masyarakat bukan untuk mencari keuntungan secara material/


finansial bagi diri sendiri.
e. Kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif
Profesi adalah pekerjaan yang mengandung unsur-unsur kecakapan
diagnostik dan kompetensi aplikatif terhadap orang atau lembaga yang
dilayani.
f. Otonomi
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan secara otonomi atas dasar
prinsip-prinsip atau norma-norma yang ketetapannya hanya dapat
diuji atau dinilai oleh rekan-rekannya seprofesi.
g. Kode etik
Profesi adalah pekerjaan yang mempunyai kode etik yaitu normanorma tertentu sebagai pegangan atau pedoman yang diakui serta
dihargai oleh masyarakat.

44

h. Klien
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan untuk melayani mereka yang
membutuhkan pelayanan (klien) yang pasti dan jelas subjeknya.40
Dari pengertian dan karakteristik profesi diatas, dapat difahami bahwa
status profesioanal hanya dapat diraih melalui perjuangan yang berat dan
waktu yang cukup panjang. Menurut T. Raka Joni bahwa proses
profesionalisasi sekurang-kurangnya melalui enam tahap, yaitu:
a. Bidang layanan ahli unik yang diselenggarakan itu harus ditetapkan.
b. Kelompok profesi dan penyelenggaraan pendidikan pra-jabatan yang
mempersiapkan tenaga guru yang profesional, guna meyakinkan agar
pendatang baru di dunia profesional ini memiliki kompetensi minimal
bagi penyelenggaraan layanan ahli yang mempersatukan kepentingan
pemakai layanan.
c. Adanya mekanisme untuk memberikan pengakuan resmi kepada
program pendidikan pra-jabatan yang memenuhi standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya untuk pemberian pengakuan
terhadap kelayakan program pendidikan pra-jabatan selayaknya tidak
ditujukan terbatas pada gambaran statis masukan instrumental yang
dimiliki oleh lembaga penyelenggara pendidikan, tetapi juga terhadap
proses pemanfaatan masukan instrumental itu dalam menyelenggarakan
pendidikan pra-jabatan.

40

Syafaruddin Nur, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, hlm. 14

45

d. Adanya mekanisme untuk memberikan pengakuan resmi kepada lulusan


program pendidikan pra-jabatan yang memiliki kemampuan minimal
yang diisyaratkan (sertifikasi). Karena besarnya resiko yang dapat
terjadi, apabila bekerja profesional melakukan kesalahan dalam bekerja
memberikan layanan ahlinya, maka sertifikasi saja sering dianggap
belum cukup untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat
umumnya, dan pemakai layanan khususnya. Di samping sertifikasi,
juga dianggap perlu diberlakukan mekanisme pemberian izin praktek
(licensure).
e. Secara perorangan dan kelompok, kaum pekerja profesional
bertanggung jawab penuh atas segala aspek pelaksanaan tugasnya. Oleh
karena itu, untuk dapat memanfaatkan segala keahliannya dalam
melaksanakan tugas-tugasnya, seorang pekerja profesional diberi
kebebasan untuk mengambil keputusan secara mandiri. Sedangkan
penilaian oleh pihak lain, berupa penilaian oleh sejawat yang sederajat
tingkat keahliannya. Tanpa kebebasan ini tidak akan ada penilaian
independen yang didasarkan pada pertimbangan ahli dan pada
gilirannya tanpa independent judgment mustahil dapat terwujud
profesionalisme.
d. Kelompok profesional memiliki kode etik yang merupakan dasar untuk
melindungi para anggota yang menjunjung tinggi nilai-nilai profesional,
disamping merupakan sarana untuk mengambil tindakan penertiban
terhadap anggota yang melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan

46

suara dan semangat kode etik itu. Selanjutnya, baik secara perseorangan
maupun kelompok, pekerja profesional berkewajiban secara terus
menerus menjaga dan meningkatkan kehandalan layanannya, baik dari
segi

kemampuan

maupun

dari

segi

integritas

proses

penyelenggaraannya.41
Dari keenam tahap ini, dapat disimpulkan ada dua aspek yang harus
saling menunjang sehingga sesuai bidang layanan, memenuhi syarat
dinyatakan sebagai profesi, yaitu: 1) keterandalan layanan, dan 2) layanan
yang khas itu, diakui dan dihargai oleh masyarakat dan pemerintah.
Selanjutnya suatu layanan dapat diandalkan, apabila: 1) pemberi layanan
menguasai betul apa yang dikerjakan, dan 2) penerima layanan dapat
mempercayai

bahwa

kemaslahatannya

didahulukan

dalam

proses

pemberian layanan itu.


Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang
memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh
sembarang orang diluar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya
hal-hal tersebut diluar bidang kependidikan. Jadi, guru adalah orang
dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar,
dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang
yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta
mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan

41

Ibid, hlm. 16-18

47

pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir


dari proses pendidikan.
Berdasarkan pengertian profesionalitas dan profesionalisme diatas,
penulis berkesimpulan bahwa kata profesionalitas yang lebih tepat
disandangkan pada kata guru. Perbedaannya Profesionalisme guru berarti
guru yang mengagumi orang yang ahli dalam bidang keguruan, sedangkan
profesionalitas guru adalah guru yang memiliki kemampuan, sikap, dan
keahlian dalam bidang keguruan. Alwi Suparman dalam Tjepy Supriatna
memberikan makna profesionalitas guru adalah guru yang memiliki
pengetahuan yang luas, keterampilan yang tinggi dan bervariasi serta etika/
moral yang baik, sehingga mampu bekerja secara sistematik, efektif dan
efesien.42 Tuntutan profesionalitas ini menghendaki adanya kematangan
pribadi bagi seorang pendidik untuk senantiasa mempersiapkan diri dalam
melakukan profesi kependidikan yang diembannya, dalam melakukan
interaksi,

komunikasi,

melaksanakan

bimbingan

dan

penyuluhan,

administrasi, penelitian dan penguasaan materi pembelajaran yang akan


disampaikan di kelas, maupun kompetensi untuk melakukan evaluasi.

2. Kompetensi Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Islam

Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu ? Louise Moqvist (2003)


mengemukakan bahwa competency has been defined in the light of actual
circumstances relating to the individual and work. Sementara itu, dari
42

Tjepy Supriatna, Karya Tulis Prestasi Perseorangan, Jakarta:Lembaga Administrasi


Negara Republik Indonesia, 2002. hlm. 36

48

Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes dalam Petter Jerves


menyebutkan bahwa : A competence is a description of something which a
person who works in a given occupational area should be able to do. It is a
description of an action, behaviour or outcome which a person should be able
to demonstrate.43
Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa
kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya
dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa
kegiatan, prilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau
ditunjukkan.

Defenisi yang biasa dikenal bahwa yang disebut guru merupakan orang
yang harus digugu dan ditiru, dalam arti orang yang memiliki kharisma atau
wibawa sehingga perlu untuk ditiru dan diteladani. Mengutip pendapat
Laurence D. Hazkew dan Jonathan C. Mc Lendon dalam bukunya This is
Teaching adalah: Teacher is professional person who conducts classes.
(guru adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dalam menata dan
mengelola kelas). sedangkan menurut Jean D. Grambs dan C. Morris Mc Clare
dalam Foundation of Teaching, an Introduction to Modern Education adalah:
Teacher are those persons who consciously direct the experiences and
behavior of an individual so that education takes places. (Guru adalah mereka

43

Petter Jerves, Standars and Competencies, Londong: Kogo Page, 1983. hlm. 54

49

yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang
individu hingga dapat terjadi pendidikan)44

Dari pengertian istilah-istilah kata diatas, maka kompetensi profesionalitas


guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat
dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa
kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan. Telah disyaratkan
dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa
untuk dapat memangku jabatan guru, minimal memiliki kualifikasi pendidikan
D4/S1.

Guru agama Islam juga merupakan salah satu pekerjaan profesional.


Pekerjaan profesional sebagai pendidik pada dasarnya bertitik tolak dari
adanya panggilan jiwa, tanggung jawab moral, tanggung jawab sosial, dan
tanggung jawab keilmuan. Kinerja seorang pendidik atau guru agama Islam
merupakan suatu prilaku atau respon yang memberikan hasil yang mengacu
pada apa yang mereka kerjakan ketika menghadapi suatu tugas. Kinerja guru
agama menyangkut semua aktivitas atau tingkah laku yang dikerjakan oleh
seorang pendidik agama Islam dalam mencapai suatu tujuan atau hasil
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Berkaitan dengan kinerja seorang pendidik atau guru agama Islam, pada
dasarnya hal itu lebih terarah pada prilaku seorang pendidik dalam
pekerjaannya dan masalah efektivitas pendidik dalam menjelaskan kinerja yang
44

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di


Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2008. hlm. 15

50

dapat memberikan pengaruh kepada para siswa yang lebih Islami. Hal ini
tampak dari prilaku pendidik dalam proses pembelajaran serta interaksi antara
pendidik dan siswa. Seorang guru agama yang profesional akan lebih
berkonsentrasi terhadap etika atau moral keagaman dan tanggung jawab
profesionalnya dibandingkan dengan yang lainnya.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 10
dikemukakan bahwa kompetensi guru itu mencakup kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional
Pendidikan, pasal 28 disebutkan bahwa: Pendidik harus memiliki kualifikasi
akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.45
Empat kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik termasuk guru
agama, akan diuraikan sebagai berikut:
a. Kompetensi Paedagogik
Kompetensi paedagogik adalah kemampuan dalam pemahaman terhadap
peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi ini meliputi:
1) Subkompetensi memahami peserta didk secara mendalam, memiliki
indikator esensial, memahami peserta didik dengan memanfaatkan
prinsip-prinsip perkembangan kognitif, memahami peserta didik
45

Anonim, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standarisasi Pendidikan


Nasional, Jakarta. Yudistira: 2007. hlm. 28

51

dengan

memanfaatkan

prinsip-prinsip

kepribadian,

dan

mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik;


2) Subkompetensi

merancang

pembelajaran,

termasuk

memahami

landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran, menerapkan


teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran
berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai,
dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan
strategi yang dipilih.
3) Subkompetensi melaksanakan pembelajaran yang meliputi, menata
latar (setting) pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang
kondusif.
4) Subkompetensi merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran
meliputi, merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses
dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode,
menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan
tingkat ketuntasan belajar (mastery learning), dan memanfaatkan hasil
penilaian

pembelajaran

untuk

perbaikan

kualitas

program

pembelajaran secara umum.


5) Subkompetensi

mengembangkan

peserta

didik

untuk

mengaktualisasikan berbagai potensinya yaitu memfasilitasi peserta


didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik dan non
akademik.

52

b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi

kepribadian

merupakan

kemampuan

personal

yang

mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa,


dan akhlak mulia. Subkompetensi ini meliputi:
1) Subkompetensi kepribadian yang mantap dan stabil, memiliki
indikator esensial bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial,
dan norma agama;
2) Subkompetensi kepribadian yang dewasa, memiliki indikator essensial
menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan
memiliki etos kerja sebagai guru;
3) Subkompetensi kepribadian yang arif, memiliki indikator essensial
menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta
didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam
berfikir dan bertindak.
4) Subkompetensi kepribadian yang berwibawa, memiliki indikator
essensial memiliki perilaku yang positif terhadap peserta didik dan
memiliki perilaku yang disegani.
5) Subkompetensi akhlak mulia, memiliki indikator essensial bertindak
sesuai dengan norma religius (iman, taqwa, jujur, ikhlas, suka
menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan
bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga

53

kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.


Subkompetensi ini meliputi:
1) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta
didik. Subkompetensi ini memiliki indikator essensial berkomunikasi
secara efektif dengan peserta didik.
2) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama
pendidik dan tenaga kependidikan.
3) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/
wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
d. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum
mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya,

serta

penguasaan

terhadap

struktur

dan

metodologi

keilmuannya. Subkompetensi ini meliputi:


1) Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi,
memiliki indikator essensial memahami materi ajar yang ada dalam
kurikulum sekolah, memahami struktur; konsep dan metode keilmuan
yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan
konsep antar mata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep-konsep
keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

54

2) Menguasai struktur dan metode keilmuan yang memiliki indikator


essensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk
memperdalam pengetahuan/ materi bidang studi.46
Kemudian dalam bab III pasal 7 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005,
tentang guru dan dosen, dijelaskan lebih detail bahwa seorang guru tidak cukup
memiliki empat syarat tersebut diatas, melainkan harus memiliki perinsip
profesionalitas sebagai berikut:
1) Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme;
2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketaqwaan, dan akhlak mulia;
3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai
dengan bidang tugasnya;
4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
8) Memilki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan dan;
9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur halhal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

3. Indikator Guru Profesional


Hamzah B. Uno menyatakan bahwa seorang guru perlu mengetahui dan
menerapkan beberapa prinsip mengajar agar ia dapat melaksanakan tugasnya
secara profesional, yaitu sebagai berikut:
1. Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi
pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan
sumber belajar yang bervariasi.
2. Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam
berfikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.
46

Ditjen PMPTK, Pedoman Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Nasional, Jakarta:


Depdiknas: 2007. hlm. 14-15.

55

3. Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran


dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta
didik.
4. Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki peseta didik (kegiatan apersepsi), agar
peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajaran yang
diterimanya.
5. Sesuai dengan perinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapkan
guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga
tanggapan peserta didik menjadi jelas.
6. Guru wajib memerhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara
mata pelajaran dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
7. Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan
cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung,
mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.
8. Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina
hubungan sosial, baik dalam kelas maupun diluar kelas.
9. Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara
individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya
tersebut.47

Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung


kepada peran guru. Abin Syamsuddin, mengemukakan bahwa dalam
pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat
berperan sebagai :

1. Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma


kedewasaan;
2. Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
3. Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
4. Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui
penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi
dengan sasaran didik;
5. Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat
dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang
mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran
didik, serta Tuhan yang menciptakannya). 48
47
48

62

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, hlm. 16


Abin Syamsuddin, Psikologi Kependidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005. hlm.

56

Dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin


menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di
mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga
mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau
masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial
teaching).49

Moh. Surya mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga


dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran,
pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah
pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru
berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di
masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer),
penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).50

Peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan


administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang
psikologis.

Tugas

guru

yang

paling

utama

adalah mengkondisikan

lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan prilaku peserta didik,


menciptakan iklim belajar yang menarik dan kondusif. Dalam

hubungannya

dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan


sebagai :

49

ibid, hlm. 65
Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Bani Quraisy,
2004. hlm. 58
50

57

1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;


2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa
suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
3. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus
diajarkannya;
4. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik
melaksanakan disiplin;
5. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar
pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
6. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk
mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang
akan menjadi pewaris masa depan; dan
7. Penterjemah
kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk
menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan
sebagai :

1. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan


pelayanan kepada masyarakat;
2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara
terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
3. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap
peserta didik di sekolah;
4. Model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus
dicontoh oleh/ para peserta didik; dan
5. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan
akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :
1. Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang
memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
2. Seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations),
artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan
suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik
sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
3. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk
menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai
tujuan pendidikan;

58

4. Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang
mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang
baik; dan
5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru
bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Ada sejumlah dimensi dan indikator profesionalitas seorang pendidik,
termasuk guru agama, yang ditampilkan dalam tabel berikut:51

DIMENSI
1.Komitmen
kompetensi

atau

2.Tanggung Jawab

3.Keterbukaan

4.Orientasi reward
atau punishment
5.Kemampuan atau
kreativitas

INDIKATOR
a.Komitmen terhadap karir, pekerjaan;
b. Konsisten kepada setiap orang
a. Tanggung jawab terhadap pekerjaan
b. Tanggung jawab terhadap karir
c. Berorientasi pada pelayanan stake holder
d. Bekerja sesuai perioritas
e. Tanggung jawab sosial, moral, dan keilmuan
a. Orientasi terhadap dunia luar
b. Terbuka terhadap ide-ide baru
c. Orientasi prestise
d. Menghargai atau memiliki kode etik
a. Memiliki kepastian upah atau gaji
b. Memiliki status yang jelas c. Orientasi prestise
d. Menghargai atau memiliki kode etik
a. Mampu dan memiliki perilaku pamong
b. Mengembangkan norma kolaborasi
c. Mampu bekerja sama dalam masyarakat
d. Mampu memecahkan masalah
e. Mampu mengajar dan menganalisis data
f. Mampu meningkatkan strategi
g. Pengendalian resiko
h. Mampu menghadapi setiap manusia yang berbeda
i. Mampu saling mendorong
j. Memiliki keahlian khusus dan kompetensi

Muhaimin dalam bukunya Rekonstruksi Pendidikan Islam mengatakan


bahwa karakteristik ustad (guru yang profesional) harus tercermin dalam segala
aktivitasnya sebagai murabbiy, muallim, mursyid, mudarris dan muaddib.
Sebagai ustad, guru akan selalu komitmen terhadap profesionalitas, yang
melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil
51

Mukhtar, Desain Pembelajaran PAI, hlm. 87

59

kerja, serta sikap continous improvement. Sebagai muallim guru harus


menguasai

ilmu

dan

mampu

mengembangkannya

dalam

kehidupan,

menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, atau sekaligus melakukan transfer


ilmu, internalisasi, serta amaliah (implementasi). Sebagai murabbiy, guru harus
mampu mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta
mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak mnimbulkan
malapetaka bagi masyarakat dan alam sekitarnya. Sebagai mursyid, guru akan
mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri. Sebagai mudarris, guru
harus memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbarui
pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan. Sebagai muaddib, guru
harus mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang
berkualitas di masa depan.52

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Profesionalitas Guru

Guru merupakan ujung tombak keberhasilan kependidikan dan dianggap


sebagai orang yang berperan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan
yang merupakan pencerminan mutu pendidikan. Keberadaan guru dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor
internal dan eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja guru.
Adapun faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:

52

Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, Dari Paradigma Pengembangan,


Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2009. hlm. 112

60

a. Kepribadian dan dedikasi

Setiap guru memiliki pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi


yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru
dengan guru lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah suatu masalah
abstrak, yang hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara
berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan. Hal tersebut sesuai
dengan pendapat Zakiah Darajat dalam Syaiful Sagala, bahwa kepribadian
yang sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat dan diketahui secara
nyata.53

Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur


psikis dan fisik, artinya seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan
suatu gambaran dari kepribadian orang itu, baik tidaknya citra seseorang
ditentukan oleh kepribadiannya. Kepribadian inilah yang akan menentukan
apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya.
kepribadian guru akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam
membina dan membimbing anak didik. Semakin baik kepribadian guru,
maka semakin baik dedikasinya dalam menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya sebagai guru.

53

Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung:


Alfabeta, 2008. hlm. 33

61

b. Pengembang Profesi Guru

Profesi guru kian hari menjadi perhatian seiring dengan perubahan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi yang menuntut kesiapan agar tidak ketinggalan.
Pengembangan profesionalitas guru menekankan kepada penguasaan ilmu
pengetahuan dan kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.

Dimensi lain dari pola pembinaan profesi guru yang dapat dilakukan,
yaitu:
1) Peningkatan dan pembinaan hubungan yang eat antara Perguruan
Tinggi dengan pebinaan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas; 2) Meningkatkan
bentuk rekrutmen calon guru; 3) Program penataran yang dikaitkan dengan
praktek dilapangan; 4) Meningkatkan mutu pendidikan calon pendidik; 5)
Pelaksanaan suoervisi yang baik; 6) Peningkatan mutu manajemen
pendidikan; 7) Melibatkan peran serta masyarakat berdasarkan konsep
linck and match; 8) Pemberdayaan buku teks dan alat-alat pendidikan
penunjang; 9) Pengakuan masyarakat terhadap profesi guru; 10) Perlunya
pengukuhan program Akta Mengajar melalui peraturan perundangundangan; 11) Kompetensi profesional yang positif dengan pemberian
kesejahteraan yang layak.54

Ada lima penyebab rendahnya profesionalitas guru, yaitu:

1) Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total; 2)


Rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi
keguruan; 3) Pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih
setengah hati dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak yang terlibat; 4)
Masih belum smoothnya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar
yang diberikan kepada calon guru; 5) Masih belum berfungsi PGRI
sebagai organisasi profesi yang berupaya secara maksimal meningkatkan
profesionalisme anggotanya.55

54
55

Hasan AM, (2001), http: // word press, Wednesday, Des 2009.


Akadum (1999), http: // word press, Wednesday, Des 2009.

62

Upaya meningkatkan profesionalitas guru menurut Pidarta, diantaranya


melalui:
1) Belajarnya lebih lanjut; 2) Menghimbau dan ikut mengusahakan sarana
dan fasilitas sangar-sanggar seperti sanggar Pemantapan Kerja Guru; 3)
Ikut mencarikan jalan agar guru-guru mendapatkan kesempatan lebih
besar mengikuti penataran-penataran pendidikan; 4) Ikut memperluas
kesempatan agar guru-guru dapat mengikuti seminar-seminar pendidikan,
yang sesuai dengan minat dan bidang studi yang dipegang dalam usaha
mengembangkan profesinya; 5) Mengadakan diskusi-diskusi lmiah secara
berkala di sekolah; 6) Mengembangkan cara belajar berkelompok untuk
guru-guru bidang studi.

Pola pengembangan dan pembinaan profesi guru yang diuraikan diatas,


sangat memungkinkan terjadinya perubahan paradigma dalam pengembangan
profesi guru sebagai langkah antisipatif terhadap perubahan peran dan fungsi
guru yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dan
pengetahuan bagi siswa, melainkan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa
dalam pembelajaran.

d. Hubungan dengan masyarakat

Sekolah merupakan lembaga sosial yang tidak dapat dipisahkan dari


masyarakat lingkungannya. Sekolah merupakan lembaga formal yang
diserahi mandat untuk mendidik, melatih, membimbing generasi muda,
sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan. Guru harus
bersikap sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, responsive
dan komunikatif terhadap masyarakat, toleran dan menghargai pendapat
mereka.

63

e. Kesejahteraan

Faktor kesejahteraan menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap kinerja


guru di dalam meningkatkan kualitasnya, sebab semakin sejahteranya
seseorang, makin tinggi kemungkinan untuk meningkatkan kinerjanya.
Terpenuhinya berbagai macam kebutuhan manusia, akan menimbulkan
kepuasan dalam melaksanakan apapun tugasnya. Bila kebutuhan dan
kesejahteraan guru telah layak diberikan pemerintah, maka tidak akan ada
lagi guru yang membolos karena mencari tambahan diluar.

f. Iklim Kerja

Iklim sekolah memegang peranan penting, iklim itu menggambarkan


kebudayaan, tradisi-tradisi dan cara bertindak personalia yang ada di
sekolah, khususnya dikalangan guru-guru. Iklim adalah keseluruhan sikap
guru-guru di sekolah terutama yang berhubungan dengan kesehatan dan
kepuasan mereka. Jadi ikilim kerja adalah hubungan timbal balik antara
faktor-faktor pribadi, sosial dan budaya yang mempengaruhi sikap
individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah tercermin dari suasana
hubungan kerjasama yang harmonis dan kondusif antara kepala sekolah
dengan guru, antara guru dengan guru, dan guru dengan kepala sekolah.
keseluruhan kompetensi itu harus menciptakan hubungan dengan peserta
didik, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran tercapai.

64

C. Prestasi Belajar PAI


1. Makna dan Teori tentang Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi
merupakan hasil dari proses belajar. Banyak ahli yang mengemukakan
pendapat mengenai belajar. Diantaranya WS. Winkel dalam bukunya yang
berjudul : Psikologi Pengajaran, Menurutnya pengertian belajar adalah:
Suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, ketrampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara
relatif konstan dan berbekas.56
Jp. Chaplin dalam bukunya Dictionary of Psycology, menyebutkan
bahwa belajar dapat diartikan sebagai: 1) perolehan dari sembarang
perubahan yang relatif menetap (permanent) dalam tingkah laku, sebagai
hasil dari praktek atau hasil dari pengalaman; 2) proses mendapatkan reaksireaksi, sebagai hasil dari praktek atau hasil pengalaman.57
Pelaksanaan belajar mengajar erat kaitannya dengan pencapaian prestasi
belajar. Prestasi berasal dari bahasa Belanda prestatie yang kemudian
diadopsi kedalam bahasa Indonesia yang berarti hasil usaha.58 Sedangkan
Moh. Surya, mendefenisikan prestasi adalah keseluruhan kecakapan yang

56

Ws. Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo, 1991. hlm. 36


J.P Chaplin, Dictionary of Psycology, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999. hlm. 27
58
Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional; Perinsip, Tekhnik-Prosedur, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1991. hlm. 2
57

65

diperoleh dalam belajar mengajar disekolah yang dinyatakan dengan nilainilai yang berdasarkan tes belajar.59
Prestasi belajar merupakan sebuah tahapan akhir dari pelaksanaan
evaluasi dalam pengertian suatu penilaian tingkat keberhasilan siswa dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu program. Menurut Tohirin
yang dimaksud prestasi belajar adalah apa-apa yang telah dicapai siswa
setelah melakukan kegiatan belajar.60 Menurut B.S Bloom yang menyatakan
bahwa ada tiga dimensi hasil belajar, yaitu dimensi kognitif, dimensi afektif
dan dimensi psikomotorik.61

Teori Bloom ini termasuk aliran teori Humanistik, sebagaimana


diungkapkan oleh Gredler Margaret Bell dalam Hamzah B. Uno bahwa bagi
penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia
itu sendiri. Teori ini sangat menekankan pentingnya isi daripada proses
belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan
dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Prinsip ini
mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya
mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak
seutuhnya. Apa artinya kemampuan intelektual jika tidak diikuti sikap yang

59

Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani


Quraisyi, 2004. hlm. 9
60
Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI (Nuansa Integritas dan Kompetisi), Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2008. hlm. 151
61
Benyamin S. Bloom, Taxanomy of Education Objectives, London: Longman, 1981. hlm.
8

66

baik atau tidak diikuti oleh pengembangan seluruh potensi yang ada dalam
diri anak.62

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi


belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima,
menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses
belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat
keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan
dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses
belajar mengajar.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Setiap peserta didik di sekolah dapat menunjukkan prestasi yang


berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini disebabkan
oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar seseorang.
Faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi faktor internal dan faktor
eksternal.63

a. Faktor Internal, merupakan segala sesuatu yang bersumber dari dalam


individu. Faktor internal meliputi dua aspek penting, yaitu fisiologis dan
psikologis. Aspek fisiologis adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan
kondisi umum jasmani dan tegangan otot yang menandai tingkat

62

Hamzah B.Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara,
2008. hlm. 13
63
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Rosdakarya,
2005. hlm. 132-135

67

kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, ini dapat mempengaruhi


semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Adapun faktor
psikologis yang berpengaruh pada prestasi belajar siswa adalah berkaitan
dengan kondisi kejiwaan/ mental anak didik, seperti intelegensi
(kecedasan), sikap (kecendrungan untuk mereaksi atau merespon), bakat
(aptitude) atau kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang, minat atau suatu
kecendrungan dan kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu, dan motivasi
atau suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktorfaktor tertentu didalam organisme yang membangkitkan, mengelola,
mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran.
b. Faktor Eksternal, adalah faktor yang datang dari luar seseorang, yang
mencakup faktor lingkungan sosial dan faktor non sosial. Salah satu faktor
yang mencakup lingkungan sosial adalah lingkungan sekolah. Lingkungan
sekolah seperti: guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat
mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Selain itu yang termasuk
dalam lingkungan sosial pula adalah masyarakat, tetangga dan teman
sepermainan di sekitar tempat tinggal siswa tersebut. Lingkungan sosial
yang banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah orang tua dan
keluarga. Sedangkan lingkungan non sosial yang dipandang turut
menentukan tingkat keberhasilan siswa adalah kenyamanan ruang belajar
atau gedung sekolah, sarana dan prasarana belajar, rumah tempat tinggal

68

keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, waktu dan suasana
yang meliputinya.

3. Indikator-indikator Prestasi Belajar Siswa

Ada beberapa indikator prestasi belajar yang diperoleh baik bersifat


kognitif, afektif dan psikomotor. Sebagaimana Gagne yang dikutip oleh
Nana Sudjana, mengemukakan lima kategori prestasi belajar, yaitu:

a. Informasi Verbal (verbal information), adalah tingkat pengetahuan yang


dimiliki seseorang yang dapat diungkapkan melalui bahasa lisan maupun
tulisan kepada orang lain. Siswa harus mempelajari berbagai bidang ilmu
pengetahuan, baik yang bersifat praktis maupun teoritis. Informasi verbal
amat penting dalam pengajaran, terutama pada pendidikan dasar.
b. Kemampuan Intelektual (intelectual skill), ini menunjuk pada knowing
how, yaitu bagaimana kemampuan seseorang berhubungan dengan
lingkungan hidup dan dirinya sendiri. Sebagai contoh siswa belajar
bagaimana merubah pecahan menjadi desimal.
c. Pengaturan Kegiatan Kognitif (cognitive strategi), yaitu kemampuan yang
dapat menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri,
khususnya bila sedang belajar dan berfikir. Orang yang mampu mengatur
dan mengarahkan aktivitas mentalnya sendiri dalam bidang kognitif akan
dapat menggunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari jauh
lebih efektif dan efesien, daripada orang yang tidak berkemampuan
demikian.

69

d. Sikap (attitude), yaitu sikap tertentu seseorang terhadap suau obyek.


Misalnya siswa bersikap positif terhadap sekolah, sekolah berguna
baginya.
e. Keterampilan Motorik (motor skill), yaitu seseorang yang mampu
melakukan suatu rangkaian gerak gerik jasmani dalam urutan tertentu,
dengan mengadakan koordinasi antara gerak gerik berbagai anggota badan
secara terpadu. Misalnya sopir mobil dengan terampil mengenderai
kenderaannya, sehingga konsentrasinya tidak hanya pada kenderaannya,
tetapi pada arus lalu lintas dijalan.64

Menurut Tohirin, bahwa klasifikasi prestasi belajar dapat dirumuskan


kedalam tiga aspek kemampuan,65 yaitu:

a. Tipe Prestasi Belajar bidang Kognitif

Hasil belajar yang bersifat kognitif ditandai dengan kemampuan siswa


dalam menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang diterima
mereka,

serta

kemampuan

membedakan

dan

mengelompokkan,

memfokuskan sesuatu yang diterimanya selama belajar. Adapun indikator


kognitif hasil belajar akan nampak pada enam segi, yaitu:1) pengetahuan;
2) pemahaman; 3) aplikasi; 4) analisis; 5) sintesis; 6) evaluasi.66

64

Nana Sudjana, Evaluasi Pendidikan, Bandung: Tarsito, 2005. hlm. 154

65

Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, hlm. 151


Muhibbin Syah, Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2005. hlm. 143
66

70

b. Tipe Prestasi Belajar Bidang Afektif

Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang bisa
diramalkan perubahan-perubahannya. Apabila seseorang telah menguasai
bidang kognitif tingkat tinggi, ada kecendrungan bahwa prestasi belajar
bidang afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru cendrung lebih
memerhatikan atau tekanan pada bidang kognitif saja. Tipe prestasi belajar
afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti atensi atau
perhatian terhadap pelajaran berisikan bidang kognitif, tetapi bidang afektif
harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut, dan harus tampak dalam
proses belajar dan prestasi belajar yang dicapai.

Tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe prestasi belajar


mencakup: 1) receiving atau attending, yaitu kepekaan dalam menerima
rangsangan (stimulus), dan gejala; 2) responding atau jawaban, yaitu reaksi
yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar; 3) valuing
(penilaian), yaitu berkenaan dengan penilaian dan kepercayaan terhadap
gejala atau stimulus; 4) organisasi, yaitu pengembangan nilai kedalam suatu
organisasi, termasuk menentukan hubungan suatu nilai dengan nilai lain dan
kemantapan serta prioritas nilai yang telah dimilikinya; 5) internalisasi nilai,
yaitu keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang
memengaruhi pola kepribadian dan perilakunya.

71

3. Tipe Prestasi Belajar Bidang Psikomotor

Tipe prestasi belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk


keterampilan (skill), dan kemampuan bertindak seseorang. Adapun
tingkatan keterampilan itu meliputi: a) gerakan refleks (keterampilan pada
gerakan yang sering tidak disadari karena sudah merupakan kebiasaan); b)
keterampilan pada gerakan-gerakan dasar; c) kemampuan perspektual
termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan
lain-lain; d) kemampuan di bidang fisik seperti kekuatan, keharmonisan dan
ketepatan; e) gerakan-gerakan yang berkaitan dengan skill, mulai dari
keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks; dan f)
kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti
gerakan ekspresif dan interpretatif.

Tipe-tipe prestasi belajar seperti dikemukakan diatas tidak berdiri


sendiri, tetapi selalu berhubungan satu sama lain. Seseorang yang berubah
tingkat kognisinya sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap
dan prilakunya. Carl Rogers dalam Sudjana menyatakan bahwa seseorang
yang telah menguasai tingkat kognitif, maka prilaku orang tersebut sudah
bisa diramalkan.67 Dibawah ini akan dijabarkan jenis indikator (tipe-tipe
prestasi belajar dan cara mengevaluasinya dalam bentuk tabel.

67

Sudjana, Desain Instructional, Jakarta: Proyek Pengembangan Pusat, 2002. hlm. 25

72

Jenis Indikator (Tipe-tipe Prestasi Belajar)


dan Cara Mengevaluasinya
Ranah/ Jenis Prestasi

Indikator/ Tipe-tipe

Cara Mengevaluasi

-Dapat menunjukkan
-Dapat membandingkan
-Dapat menghubungkan

1. Tes lisan
2. Tes tertulis
3.Observasi

2. Ingatan

-Dapat menyebutkan
-Dapat menunjukkan kembali

1. Tes lisan
2. Tes tertulis
3. Observasi

3.Pemahaman

-Dapat menjelaskan
-Dapat
mendefenisikan
dengan lisan sendiri

1. Tes lisan
2. Tes tertulis

4. Penerapan

-Dapat memberikan contoh


-Dapat menggunakan secara
tepat

1. Tes tertulis

5.Analisis
(pemeriksaan
dan
pemilahan
secara
teliti)

-Dapat menguraikan
-Dapat
mengklasifikasikan/
memilah-milah.

1. Tes tertulis
2. Pemberian tugas

6.Sintesis
paduan
utuh)

-Dapat menghubungkan
-Dapat menyimpulkan
-Dapat
mengklasifikasikan
dan
menggeneralisasikan
(membuat perinsip umum)

1. Tes tertulis
2. Pemberian tugas

a.Ranah
(kognitif)
1. Pengamatan

Cipta

(membuat
baru dan

73

B.Ranah Rasa (Afektif)


1. Penerimaan

2.Sambutan

3.Apresiasi
menghargai)

(sikap

4.Internalisasi
(pendalaman)

5.Karakteristik
(penghayatan)

C.Ranah Psikomotor
1.Keterampilan
bergerak
dan
bertindak
2.Kecakapan ekspresi
verbal dan nonverbal

-Menunjukkan
sikap
menerima
-Menunjukkan sikap menolak

1. Tes tertulis
2.Tes skala sikap
3.Observasi

-Kesediaan berpartisipasi atau


terlibat
-Kesediaan memanfaatkan

1.Tes skala sikap


2.pemberian tugas
3.Observasi

-Menganggap
bermanfaat
-Menganggap
harmonis
-Mengaguni

1.Tes skala penilaian atau


sikap
2.Pemberian tugas
3.Observasi

penting

dan

indah

dan

-Mengakui dan meyakini


-Mengingkari
-Melembagakan
atau
meniadakan
-Menjelmakan dalam pribadi
dan prilaku sehari-hari

-Mengoordinasikan
gerak
mata, tangan, kaki dan
anggota tubuh lainnya
-Mengucapkan
-Membuat mimik dan gerakan
jasmani

1.Tes skala sikap


2.Pemberian tugas ekspresif
(yang menyatakan sikap
proyektif
dan
pikiran
ramalan)
1.pemberian tugas ekspresif
dan proyektif
2.Observasi

1.Observasi
2.Tes tindakan
1.Tes lisan
2.Observasi
3.Tes tindakan

1. Fungsi Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pendidikan agama Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang


bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan
seluruh potensi manusia, baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.
Potensi jasmani manusia adalah yang berkenaan dengan seluruh organorgan fisik manusia. sedangkan potensi rohaniah itu meliputi kekuatan
yang terdapat dalam batin manusia, yakni akal, kalbu, nafsu, roh dan
fitrah.

74

Dengan latar belakang potensi manusia tersebut diatas, maka ada


beberapa aspek pendidikan yang perlu diajarkan dan dididikkan kepada
manusia, yaitu aspek pendidikan ketuhanan dan akhlak, pendidikan akal
dan ilmu pengetahuan, pendidikan jasmaniah, kemasyarakatan, kejiwaan,
keindahan dan keterampilan, yang kesemuanya itu diaplikasikan secara
seimbang. Penyelenggaraan pendidikan agama Islam dapat dilakukan pada
empat tempat yaitu: di rumah, masyarakat, tempat ibadah dan di sekolah.
Pendidikan agama Islam pada dasarnya harus menyentuh tiga aspek
secara terpadu, yaitu: a. knowing, yakni agar peserta didik dapat
mengetahui dan memahami ajaran dan nilai-nilai agama; b. doing, yakni
agar peserta didik dapat mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai agama; c.
being, yakni agar peserta didik dapat menjalani hidup sesuai dengan ajaran
dan nilai-nilai agama. Pendidikan agama yang dikehendaki adalah proses
internalisasi nilai-nilai ajaran agama, dengan mengutamakan nilai-nilai keIslaman, walaupun tidak menyisihkan dimensi kultural dan aspek
tradisional yang tidak berlawanan secara prinsipil dengan ajaran agama
Islam.
Pendidikan agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang wajib
diberikan pada setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan. pendidikan
agama Islam yang diajarkan di sekolah adalah pendidikan agama Islam
sebagai ilmu dan pendidikan agama Islam sebagai agama, karena agama
selain pengetahuan juga merupakan keyakinan, anutan, dan kepercayaan
dalam hidup.

75

Pendidikan agama Islam di SMAN 1 Cirebon, diberikan kepada


peserta didik secara terpadu, meliputi:
a. Keimanan,

memberikan

peluang

kepada

peserta

didik

untuk

mengembangkan pemahaman adanya Allah SWT sebagai sumber


kehidupan makhluk sejagat.
b. Pengalaman, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mempraktikkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhlak
dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah-masalah dalam kehidupan.
c. Pembiasaan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
membiasakan akhlak mulia sesuai ajaran Islam dan budaya bangsa dalam
mengahadapi masalah kehidupan.
d. Rasional, usaha memberikan peranan pada rasio peserta didik dalam
memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam materi pokok
serta kaitannya dengan perilaku yang baik dan yang buruk dalam
kehidupan duniawi.
e. Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam
menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
f. Fungsional, menyajikan bentuk semua materi pokok (alQuran, keimanan,
ibadah/ fiqh, akhlak), dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
g. Keteladanan, yaitu menjadikan figur pendidikan agama dan non agama
serta petugas sekolah lainnya sebagai cermin manusia berkepribadian
agama.

76

Pada pendidikan agama Islam, penilaian hasil belajar siswa dilakukan


melalui pengamatan terhadap perubahan tingkah laku dan sikap untuk menilai
perkembangan afeksi dan psikomotorik peserta didik, serta melalui ulangan,
dan penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Pengamatan
tersebut dilaksanakan sesuai dengan indikator-indikator berikut ini :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kerajinan melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama Islam;


Kerajinan mengikuti kegiatan keagamaan;
Jujur dalam perkataan dan perbuatan;
Mematuhi peraturan sekolah;
Hormat terhadap guru;
Ketertiban dan kedisiplinan ketika mengikuti pelajaran dikelas atau
ditempat lain.
Zainal Arifin dalam Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa fungsi

prestasi belajar antara lain adalah:


a. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang
dimiliki anak didik.
b. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang
dimiliki anak didik.
c. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
d. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
e. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi
pendidikan. Indikator intern dalam arti prestasi belajar dapat dijadikan
indikator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Indikator ekstern
dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan
indikator tingkat kesuksesan anak didik di masyarakat.

77

f. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan)


anak didik.68
Dari uraian diatas, dapat difahami bahwa fungsi prestasi belajar dapat
diklasifikasikan kedalam 5 kategori, yaitu: (1) Bagi siswa, prestasi belajar
menjadi tolok ukur pemahaman dan penguasaan terhadap materi yang
dipelajari; (2) Bagi guru, prestasi belajar menjadi umpan balik untuk
mengetahui penguasaan dan pemahaman siswa terhadap proses pembelajaran;
(3) Bagi orang tua, prestasi belajar sebagai laporan kemajuan pembelajaran
siswa; (4) Bagi lembaga, prestasi belajar sebagai standar kompetensi hasil
pembelajaran; (5) Bagi Pemerintah, prestasi belajar sebagai standar
kompetensi nasional.

D.

Hubungan Teoritik antara Ketauladanan, Profesionalitas Guru


Pendidikan Agama Islam dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama
Islam (PAI)
Ketauladanan hendaknya diartikan dalam arti luas, yaitu berbagai ucapan,
sikap, perilaku yang melekat pada pendidik. Jika hal ini telah dilakukan dan
dibiasakan dengan baik sejak awal, maka akan memiliki arti penting dalam
membentuk karakter sebagai seorang guru yang mendidik, dengan meminjam
istilah lama adalah mereka yang harus atau layak digugu dan ditiru.
Sebagaimana diungkapkan oleh Cecep Sumarna (2008:223), manusia dalam
jenis ini adalah mereka yang memiliki kecakapan dan kelebihan tertentu
dalam bidang ilmu pengetahuan (dapat dibaca memiliki IQ tinggi), memiliki
karakter dengan indikator mampu memiliki empati sosial yang tinggi (dapat
68

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2008. hlm. 175

78

dibaca kecerdasan sosial), dan memiliki penghayatan yang mendalam


terhadap posisinya sebagai tokoh publik yang gerak dinamiknya berpengaruh
besar terhadap tatanan masyarakat luas (ESQ).69

Muhammad Abd al-Qadir Ahmad menuturkan bahwa Rasul sosok sang


pendidik, para sahabat sebagai subjek didik kala itu menangkap teladan yang
luhur pada dirinya, berakhlak baik, memiliki ilmu dan memiliki keutamaan
dalam semua gerak-geriknya. Jika seorang pendidik mempunyai karakter
seperti di atas, akan disenangi oleh peserta didik, dengan sendirinya akan
disenangi ilmu yang diajarkannya. Muhammad Abd al-Qadir mengatakan,
Banyak siswa yang membenci suatu ilmu atau materi pelajaran karena watak
guru yang keras, akhlak guru yang kasar dan cara mengajar guru yang sulit.
Di pihak lain, banyak pula siswa yang menyukai dan tertarik untuk
mempelajari suatu ilmu atau mata pelajaran, karena cara perlakuan yang baik,
kelembutan dan keteladanannya yang indah.70

Pepatah lama yang sangat populis dikalangan dunia pendidikan Guru


kencing berdiri murid kencing berlari, Sebait kalimat tersebut mengandung
makna filosofis bahwa pekerjaan mendidik yang dilakukan oleh seorang guru
sangatlah erat kaitannya dengan ketauladanan. Hal ini memiliki konsekuensi
akan tanggung jawab yang berbeda di emban oleh seorang yang berprofesi
sebagai pendidik dengan profesi yang lain.
69

Cecep Sumarna, Revolusi Peradaban, Mencari Tuhan dalam Batang Tubuh Ilmu,
Bandung: Mulia Press, 2008. hlm. 215
70

Muhammad Abd al-Qadir Ahmad. Thuruq al-Tarbiyah al-Islamiyyah. Kairo: Maktabah


al-Nahdlah al-Mishyyah, 1980. hlm. 125

79

Berbicara tentang keteladanan, maka ada tiga hal yang harus diperhatikan
: pertama Keteladanan mensyaratkan komitmen untuk memberikan contoh
terbaik dalam setiap tingkah laku seorang pendidik yang maujud dengan
tidak dibuat-buat, tetapi asli muncul kepermukaan sebagai sebuah kepribadian
kedua, keteladanan juga menuntun seseorang untuk menyikapi sebuah
persoalan dengan bijak serta dengan kesadaran penuh berusaha untuk tetap
selalu konsisten. Ketiga, seseorang yang diteladani tidak pernah berharap
untuk disanjung, dipuji karena keteladanannya dan jika orang segan dengan
kharismanya maka itu hanyalah efek dari keteladanannya tanpa pernah
membuatnya ujub dan sombong.

Dunia pendidikan sebagai sebuah proses penempaaan anak didik, maka


keteladanan seorang pendidik adalah sebuah keniscayaan. Sebab jika aspek
keteladanan telah tercerabut maka dapat dipastikan transfer of knowledge
(ilmu pengetahuan) tidak akan berbarengan secara seimbang dengan transfer
of value (nilai) yang dinginkan oleh proses ideal pendidikan. Seorang
pendidik dipandang sebagai figur yang diteladani, diharapkan dapat tampil
dalam suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan dengan
menciptakan

suasana

pembelajaran

yang

dinamis,

dialogis,

dan

menghantarkan siswa mencapai pretasi yang baik. Oleh sebab itu guru PAI
yang memberikan ketauladanan positif akan memberikan kontribusi positif
terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam. Prestasi belajar pendidikan
agama Islam merupakan gambaran kualitas anak didik dalam memahami dan

80

melaksanakan ajaran agama Islam yang mencakup aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik.

Seorang pendidik atau guru agama yang profesional adalah pendidik


yang memiliki suatu kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang
kependidikan keagamaan, sehingga ia mampu untuk melakukan tugas, peran,
dan fungsinya sebagai pendidik dengan kemampuan yang maksimal. Guru
agama harus peka dan tanggap terhadap perubahan-perubahan, pembaharuan,
serta ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus berkembang seiring dengan
tuntutan kebutuhan masyarakat dan zaman. Guru agama sebagai pendidik
yang profesional hendaknya mampu mengantisipasi hal-hal tersebut, sehingga
apa yang disampaikan kepada siswa selalu berkenaan dihati siswa dan
bersifat up to date, tidak out of date.

Tuntutan peran dan tanggung jawab guru agama sangatlah besar,


meskipun pada dasarnya tugas ini merupakan tanggung jawab semua pihak.
Pendidikan agama Islam mempunyai peran besar dalam sistem pendidikan
yang membangun kepribadian atau karakter bangsa. Suatu generasi dapat
berperilaku secara etis dalam segala aspek kehidupan, tentunya tergantung
pada berhasil atau tidaknya pendidikan yang menekankan pada kepribadian
bangsa.

Guru yang profesional dalam proses mengajar belajar, akan


menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap apa yang mesti dilakukan

81

kepada siswa, dengan kemampuan yang dimiliki, ia akan memberikan


bimbingan yang maksimal, kontrol yang optimal terhadap perkembangan
kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Peran dan fungsi guru
sebagaimana dijelaskan Dedi Supriadi dalam Cecep Sumarna, bahwa
tuntutan untuk menjadi guru profesional, minimal harus memenuhi lima
syarat. Kelima syarat dimaksud adalah sebagai berikut:

Mempunyai komitmen pada peserta didik dalam proses belajar; b.


menguasai secara mendalam bahan/ materi pelajaran; c.bertanggung
jawab memantau hasil belajar peserta didik; d. mampu berfikir
sistematis, dan; e. menjadi bagian dari masyarakat belajar.
Karakter profesionalisme guru tadi, tugasnya dapat lebih rinci
dijabarkan kedalam kegiatan sebagai berikut:
1) Informator, yaitu guru berperan sebagai pelaksana pembelajaran melalui
kegiatan belajar dikelas, dilaboratorium, studi lapangan dan sumber
informasi

kegiatan akademik lain,

yang secara langsung dapat

meningkatkan kualitas pembelajaran.


2) Organisator, yaitu guru berperan sebagai pengelola, koordinator kegiatan
akademik, penyususn silabus, penyelenggara workshop dan kegiatan
akademik lainnya.
3) Motivator, yaitu guru berperan sebagai pendorong, perangsang dan
reinforcement untuk mendinamisasi potensi siswa, menumbuhkan
swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) siswa, sehingga terjadi
dinamika dalam setiap kegiatan belajar mengajar.

82

4) Pengarah, yaitu pembimbing kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan


yang dicita-citakan.
5) Inisiator, yaitu pencetus ide-ide dalam proses belajar.
6) Transmitter, yaitu penyebar kebijakan pendidikan dan pengetahuan.
7) Fasilitator, yaitu pemberi kemudahan dalam proses belajar mengajar.
8) Mediator, yaitu penengah dalam kegiatan belajar mengajar siswa.
9) Evaluator, yaitu penilai prestasi belajar anak didik dalam bidang akademik
maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan posisi anak
didiknya berhasil atau tidak.71
Pendapat demikian, dapat dikorelasikan dengan tulisan M. Naquib Al
Attas (1998), Hasan Langgulung (1988), dan Omar Mohammad al Tomy al
Syaibany (1975), dalam Cecep Sumarna, yang menyebut bahwa visi dan
orientasi pendidikan harus menjadi dasar pemahaman tentang siapakah guru
yang diisyaratkan Quran dan Sunnah. Guru dalam literatur tadi disebut dengan
istilah murobbi, muallim dan muaddib. Istilah ini mengisyaratkan bahwa
seorang pendidik seharusnya memiliki kualifikasi robbaniyah, alim dan
beradab. Dengan kualifikasi ini, maka seorang guru seharusnya bertanggung
jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik dalam perkembangan
jasmani maupun rohaninya secara seimbang.
Muhaimin dalam bukunya Rekonstruksi Pendidikan Islam mengatakan
bahwa karakteristik ustad (guru yang profesional) harus tercermin dalam segala
aktivitasnya sebagai murabbiy, muallim, mursyid, mudarris dan muaddib.
71

217-218

Cecep Sumarna, Revolusi Peradaban, Mencari Tuhan dalam Batang Tubuh Ilmu, hlm.

83

Sebagai ustad, guru akan selalu komitmen terhadap profesionalitas, yang


melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil
kerja, serta sikap continous improvement. Sebagai muallim guru harus
menguasai

ilmu

dan

mampu

mengembangkannya

dalam

kehidupan,

menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, atau sekaligus melakukan transfer


ilmu, internalisasi, serta amaliah (implementasi). Sebagai murabbiy, guru harus
mampu mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta
mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan
malapetaka bagi masyarakat dan alam sekitarnya. Sebagai mursyid, guru akan
mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri. Sebagai mudarris, guru
harus memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbarui
pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan. Sebagai muaddib, guru
harus mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang
berkualitas di masa depan.
Seorang pendidik untuk mencapai predikat sebagai pendidik yang
berkualitas tentunya harus memiliki seperangkat kecerdasan intelektual,
emosional dan moral, serta kecerdasan spritual yang dapat mendukung
tumbuhnya sikap profesionalitas, kemandirian, kreativitas dan inovasi pendidik
tersebut. Profesionalitas seorang pendidik bertitik tolak dari panggilan jiwa,
tanggung jawab moral dan sosial, komitmen/ konsistensi, keterbukaan,
kemampuan/ kreativitas, dan orientasi reward/ punishment dalam segi
keilmuannya.

84

Kemandirian pendidik dapat tercermin dari kemampuannya tampil dalam


segala situasi dan kondisi, namun tetap dalam kinerja yang optimal.
kemandirian pendidik ini dapat dilihat dari dimensi kemantapan, kekuatannya,
keutuhan dan keharmonisannya sebagai pribadi yang diharapkan dapat
meningkatkan kualitas siswa. Kreativitas dan inovasi seorang pendidik dapat
dilihat dari upayanya dalam menciptakan nilai dan cara baru dalam upaya
meningkatkan prestasi dirimya maupun siswa, dan siap untuk memanfaatkan
setiap peluang untuk memperoleh sesuatu yang baru, hal ini dapat terlihat
melalui persiapan mengajar, aktivitasnya selama mengajar, dan keterlibatannya
dalam masyarakat.
E. Penelitian yang Relevan
Penelitian terdahulu tentang profesionalitas guru, telah ada penelitian yang
dilakukan sebelumnya, diantaranya adalah:
1. Profesionalitas Guru: FR. Maria Susila Sumartiningsih, penelitiannya berjudul:
Pengaruh Kompetensi Profesional dan Iklim Organisasi terhadap Kinerja
Dosen (Studi Kasus pada Akademi Keperawatan Budi Luhur dan Ahmad
Yani Cimahi. Dalam penelitian ini lebih menitik beratkan pada upaya
pencapaian mutu pendidikan termasuk pada keperawatan, merupakan
persoalan yang mendasar dalam pendidikan saat ini. Salah satu faktor yang
mempengaruhinya adalah faktor kinerja dosen. Kinerja dosen dipengaruhi
oleh berbagai faktor, antara lain faktor kompetensi profesional dosen dan
iklim organisasi. Berdasarkan hal tersebut, permasalahan ini mengungkap

85

tentang pengaruh kompetensi profesional dosen dan iklim organisasi terhadap


kinerja dosen.
2. Prestasi Belajar, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh:
a. Ajid Nurdin, dengan judul Kompetensi Profesional dan Motivasi Kerja
Guru dalam pendidikan serta pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar Siswa
(Studi Empirik di MTS Putri-PUI Telaga Kab. Majalengka. Tesis ini
membahas satu masalah Adakah hubungan kompetensi profesional dan
motivasi kerja guru dengan prestasi siswa, dan Apakah kompetensi
profesional dan motivasi kerja guru tersebut berpengaruh terhadap
peningkatan prestasi belajar siswa. Proses pendidikan di sekolah sangat
tergantung kepada guru, guru dituntut memiliki kompetensi profesional
dan motivasi kerja yang tinggi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya
sesuai tuntutan pendidikan. Dari persfektif pengelola tenaga kependidikan
yang direfleksikan oleh para guru di sekolah, bahwa untuk menghasilkan
siswa berprestasi, guru dituntut dapat melaksanakan kompetensi
profesionalnya, yakni dalam perencanaan dan mendesain program
pembelajaran, melaksanakan proses belajar mengajar serta menilai hasil
pembelajarannya.
b. Siti Komariah, 2008, dengan judul: Hubungan antara Bimbingan Konseling
dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar PAI di SMK Negeri 2
cirebon. Temuan hasil penelitian ini sebagai berikut:

86

1) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara bimbingan konseling


dengan prestasi belajar PAI di SMK Negeri 2 Cirebon.
2) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa
dengan prestasi belajar PAI di SMK 2 Cirebon.
3) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara bimbingan konseling dan
motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar PAI di SMK Negeri 2
Cirebon
2. Selanjutnya oleh Ani M. Hasan (2003), dalam artikelnya yang berjudul:
Pengembangan

Profesionalisme

Guru

di

abad

Pengetahuan,

menyimpulkan bahwa kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh


kurikulum tentang kurangnya kurangnya kemampuan profesionalisme
guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme menekankan kepada
penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen, serta strategi
penerapannya. Profesionalisme bukan sekedar pengetahuan tekhnologi dan
manajemen, tetapi lebih merupakan sikap pengembangan profesionalisme
lebih dari seorang tekhnisi. Guru yang profesional pada dasarnya
ditentukan oleh perilakunya yang berarti pada tataran kematangan, yang
mempersyaratkan kemauan dan kemampuan, baik secara intelektual
maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisme harus dipandang
sebagai proses yang terus menerus. Usaha meningkatkan profesionalisme
guru merupakan tanggung jawab besar antara LPTK sebagai pencetak
guru, instansi yang membina guru (dalam hal ini DepDikNas atau Yayasan
swasta), PGRI dan masyarakat.

87

Berdasarkan ketiga peneliti dan artikel sebelumnya menjadi pendukung


bagi penelitian yang penulis lakukan yakni Kontribusi Ketauladanan dan
Profesionalitas Guru PAI dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PAI (Studi
Kasus di SMAN 1 Kota Cirebon).
Dari hasil peneliti sebelumnya dapat difahami bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar PAI tersebut selain profesionalisme guru,
motivasi kerja guru, motivasi belajar siswa, dan bimbingan/ konseling,
diprediksikan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar
PAI, sebab presentase yang diperoleh belum maksimal.
F. Kerangka Pemikiran

Menurut S. Nasution prestasi belajar adalah: Kesempurnaan yang dicapai


seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan
sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor,
sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu
memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Salah satu faktor ekstern yang
dapat mempengaruhi belajar adalah keadaan sekolah. Keadaan sekolah ini
meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat
pelajaran dan kurikulum. Ketauladanan dan profesionalitas guru yang kurang
baik akan mempengaruhi prestasi belajar.

88

Menurut Muhaimin pendidikan agama Islam adalah upaya mendidikkan


agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life
(pandangan dan sikap hidup) seseorang. 72Prestasi belajar PAI merupakan tolok
ukur dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik
untuk berakhlakul karimah atas dasar kepercayaan dan keimanan kepada Allah
SWT, dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Pada pendidikan
agama Islam, penilaian hasil belajar siswa dilakukan melalui pengamatan
terhadap perubahan tingkah laku dan sikap, untuk menilai perkembangan
afeksi dan psikomotorik siswa. Sedangkan untuk mengukur aspek kognitif
siswa melalui nilai ulangan, penugasan dan nilai ujian akhir semester.

Pengamatan tersebut dilaksanakan sesuai dengan indikator-indikator


berikut ini: 1) Kerajinan melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama
Islam; 2) Kerajinan mengikuti kegiatan keagamaan; 3) Jujur dalam perkataan
dan perbuatan; 4) Mematuhi peraturan sekolah; 5) Hormat terhadap guru; 6)
Ketertiban dan kedisiplinan ketika mengikuti pelajaran dikelas atau ditempat
lain.
Ketauladanan guru adalah mencontoh atau meneladani segala apa yang
ditampakkan

oleh

pendidik

dalam

proses

pembelajaran

dan

diluar

pembelajaran. Pendidik menampakkan dirinya sebagai contoh dalam setiap


situasi baik dilingkungan sekolah dan masyarakat. Pentingnya keteladanan,
mengingat pendidikan dilakukan oleh dua pribadi, dalam arti pribadi guru dan

72

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah,


dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009, hlm. 7

89

murid. Membangun hubungan erat dan berkesinambungan mesti diawali dan


dihiasi dengan saling percaya, kasih sayang dengan pribadi masing-masing,
hampir dapat dipastikan komunikasi dan proses pembelajaran akan terbentuk
dengan sempurna. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Tafsir, bahwa
metode pendidikan Islam berpusat pada keteladanan dan secara psikologis
ternyata manusia memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini
adalah sifat pembawaan.
Sifat-sifat Nabi yang meliputi siddiq (benar), amanah (jujur), fathanah
(cerdas), tabligh (menyampaikan), merupakan acuan pokok yang dimiliki
seorang pendidik, sehingga muaranya akan mengalir kepada siswa sebagai
objek pendidikan. Apabila dididik oleh orang yang berakhlak mulia, maka
akhlak itu akan mempribadi dalam jiwa yang menerima pendidikan itu.
Guru sebagai figur yang akan ditiru dan diteladani oleh siswa. Guru yang
berprilaku baik, seperti disiplin, tanggung jawab, loyalitas, menyenangkan bagi
siswanya, dan lain-lain, akan memberikan kontribusi terhadap prilaku siswa
yang baik. Siswa akan senantiasa mencontoh gurunya, oleh sebab itu guru yang
memberikan ketauladanan positif akan memberikan kontribusi positif terhadap
prestasi belajar PAI, baik yang bersifat akademik maupun non akademik.

Ketauladanan guru di sekolah sangat penting untuk diperhatikan dan


dipertahankan sebagai pendidik, walaupun interaksi antara guru dengan siswa

90

hanya relatif singkat, namun sangat memberi arti terhadap perkembangan


akhlak siswa, karena guru merupakan figur bagi siswa. Keberhasilan
pendidikan disuatu sekolah tidak hanya diukur dengan prestasi akademik
siswanya secara kuantitas semata, melainkan harus diukur pula prestasi secara
komprehensif, baik kognitif, afektif dan psikomotorik.

Kriteria keteladanan yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses belajar
mengajar, akan semakin lengkap sebagaimana kriteria yang dikemukakan oleh
Crow and Crow dalam bukunya, Pengantar Ilmu Pendidikan ( terj), ada
sepuluh ciri yang dimiliki seorang guru, yaitu:

Memiliki perhatian dan kesenangan pada subjek didik;(2) Memiliki


kecakapan dalam merangsang subyek didik untuk belajar dan mendorong
berfikir; (3) Berpenampilan simpatik; (4) Bersikap jujur dan adil terhadap
para siswa; (5) Dapat menyesuaikan diri dan memperhatikan pendapat
orang lain; (6) Menampakkan kegembiraan dan antusiasme; (7) Luas
perhatiannya; (8) Adil dalam tindakan; (9) menguasai diri; (10) Menguasai
ilmu yang diajarkan.73

Guru sebagai pendidik profesional tidak hanya berfungsi sebagai pengajar,


tetapi juga harus kreatif, inovatif, dan mengajak siswa dalam proses
pembelajaran. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, tentang
Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 disebutkan bahwa: Pendidik harus

73

Crow and Crow, Pengantar Ilmu Pendidikan, Edisi III, Yogyakarta: Rake Sarasi, 1996.

hlm. 20

91

memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran,


sehat rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.

Cecep Sumarna, mengungkapkan fungsi dan tugas guru dengan berbagai


kompetensi idealitasnya tadi, berimplikasi pada pentingnya melakukan
perenungan (kontemplasi) terhadap berbagai fenomena kemanusiaan; subjek
dan objek didik. guru dituntut mampu mendorong seluruh peserta didik agar
menjadi Abdullah sekaligus khalifah Allah. Guru yang demikian, akan
mendorong terciptanya jalinan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan,
dan manusia dengan alam. Dua tugas tadi telah menjadi alasan untuk disebut
bahwa guru akan menjadi motivator sekaligus mediator utama dalam
mendidik anak didik yang ahsani taqwim (al Thin/95:4).74

Guru profesional mempunyai tanggung jawab menyusun strategi


pembelajaran yang menarik dan yang disenangi siswa, yakni rencana yang
cermat agar peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau
belajar, dan tertarik untuk terus-menerus mempelajari pelajaran. Menurut
Sardiman, untuk dapat mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik,

74

Cecep Sumarna, Revolusi Peradaban, Mencari Tuhan dalam Batang Tubuh Ilmu,
Bandung: Mulia Press, 2008. hlm. 215

92

guru harus memiliki kemampuan profesional yaitu terpenuhinya 10 (sepuluh)


kompetensi guru, yaitu:

1. Menguasai bahan
2. Mengelola program belajar mengajar
3. Mengelola kelas
4. Menggunakan media/sumber
5. Menguasai landasan-landasan kependidikan
6. Mengelola interaksi belajar mengajar
7. Menilai kepentingan siswa untuk kepentingan pengajaran
8. Mengenal fungsi program bimbingan dan penyuluhan di sekolah
9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10. Memahami perinsip-perinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan
guna keperluan mengajar.75
Dengan cara demikian menurut Uzer Usman:
Dia akan memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan untuk
melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dalam interaksi belajar
mengajar sehingga dengan kemampuannya, baik dalam hal metode
mengajar, gaya mengajar ataupun penyampaian materi pelajaran bisa
menyukseskan interaksi belajar mengajar ataupun proses belajar
mengajar.76
Dalam Islam, setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional, dalam
arti harus dilakukan secara benar, yang hanya dilakukan oleh orang yang ahli.
Rasul SAW bersabda: Bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak
ahli, maka tunggulah kehancurannya. Profesionalitas seorang pendidik,
termasuk guru agama Islam dalam proses mengajar belajar, akan
menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap apa yang mesti dilakukan

75

Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, Jakarta: Quantum Teaching,


2005. hlm. 75.
76
M.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung:Rosdakarya, 2002. hlm. 9.

93

kepada siswa, dengan kemampuan yang dimiliki, ia akan memberikan


bimbingan yang maksimal, kontrol yang optimal terhadap perkembangan
kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Seorang guru agama yang
profesional akan lebih berkonsentrasi terhadap etika atau moral keagamaan
dan tanggung jawab profesionalnya dibandingkan dengan yang lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan

profesionalitas guru PAI dapat

memberikan rangsangan positif pada prestasi belajar pendidikan agama Islam,


yang teraplikasi dalam sikap dan perilaku siswa dalam kehidupannya seharihari.

G. Paradigma dan Hipotesis Penelitian


1. Paradigma Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan
statistik korelasional, karena ingin menemukan hubungan antara variabelvariabel yang ada, menurut Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa,
Penelitian korelasional dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara dua
fenomena (variabel) atau lebih.77Melalui teknik korelasi seorang peneliti
dapat mengetahui hubungan antara sebuah variabel dengan variabel yang lain.
Besar atau tidaknya hubungan itu dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi.
77

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian , Jakarta: Rineka Cipta, 1993. hlm. 236

94

Untuk

memberikan

gambaran

kontribusi

ketauladanan

(X1),

dan

Profesionalitas guru PAI (X2), terhadap Prestasi Belajar PAI (Y), akan lebih
jelas dapat difahami dengan paradigma penelitian seperti gambar dibawah ini:

Ketauladanan
Guru (X1)
Prestasi Belajar
PAI ( Y )

Profesionalitas
Guru PAI ( X2 )

Gambar 1. Desain penelitian X1, X2 dan Y

2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka hubungan variabel penelitian, maka dapat
dirumuskan hipotesis penelitian dibawah ini :
a. Ketauladanan guru berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar PAI
siswa SMAN 1 Kota Cirebon
b. Profesionalitas guru PAI berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar
PAI siswa

SMAN 1 Kota Cirebon.

c. Ketauladanan dan Profesionalitas guru PAI secara bersama-sama


berkontribusi terhadap prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.

95

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Obyek Penelitian
1. Lokasi
Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Kota Cirebon, dengan alamat Jl.Dr.
Wahidin Sudirohusodo No. 81 Cirebon Telp. 0231-203666/ Fax. 0231208011. SMA Negeri 1 Cirebon didirikan di atas tanah seluas 9.510 M 2,
Status kepemilikan tanah adalah hak milik Pemerintahan Kota (Pemkot),
dengan NSS. 30.102.6301.004, dan Nomor Induk Sekolah 300010.
2.Visi Sekolah
Visi sekolah merupakan Profil Sekolah dimasa yang akan datang (masa
depan) di tahun 2010, visi SMAN 1 Cirebon merupakan komitmen pada 3
in 1 (sekolah, murid, orang tua/ masyarakat), yang berisi: Dengan
Dilandasi dengan Keimanan dan Ketaqwaan Pendidikan SMA Negeri 1
Cirebon Menjadi SMA Nomor Satu di Jawa Barat dan Kompetitif di
Tingkat Nasional tahun 2010.
Berapa kata/ kalimat kunci yang tercantum dalam visi sekolah adalah:
a. Keimanan dan Ketaqwaan, merupakan landasan produk SMAN 1 Cirebon
yang sangat penting menuju Life Skill di masyarakat.
b. Nomor satu di Jawa Barat merupakan satu cita-cita SMAN 1 Cirebon
sebagai sekolah yang berakreditasi A (amat baik) di Jawa Barat. Dengan

96

akreditasi A menunjukkan bahwa SMAN 1 Cirebon sebagai sekolah yang


tergolong Sekolah Papan Atas
c. Kompetitif di tingkat Nasional merupakan suatu semangat bagi warga
SMAN 1 Cirebon, terutama pada siswa untuk berani bersaing dalam
kegiatan-kegiatan yang berskala Nasional, baik kurikuler. Kalimat kunci 3
ini merupakan Tantangan Nyata bagi SMAN 1 Cirebon.
d. Tahun 2010 merupakan tahun pencapaian tiga kata kunci diatas. dari tahun
2002/2003, SMAN 1 Cirebon telah berkemas-kemas untuk mencapai visi
yang diharapkan secara bertahap sampai tahun 2010 secara total dapat
tercapai.
3. Misi Sekolah
a. Membangun dan menumbuhkan kegiatan-kegiatan penghayatan dan
pengamalan ajaran agama.
b. Reorientasi pembelajaran yang merujuk pada Kurikulum Berbasis
Kompetensi.
c. Melaksanakan proses pembelajaran yang mengacu pada konsep
General Life Skill serta Specific Life Skill.
d. Megembangkan empat pilar pendidikan, yaitu:1) Learning to know,
sebagai wujud peningkatan intelektual siswa; 2) Learning to do, sebagai
wujud gemar bekerja dan berkarya dalam dunia nyata; 3) Learning to
be, sebagai wujud pembentukan generasi muda yang penuh dengan citacita masa depan; 4) Learning to life together; sebagai wujud

97

pemahaman dan pengalaman ilmu bersama orang lain dalam bingkai


Negara Kesatuan Republik Indonesia.
e. Melaksanakan evaluasi pembelajaran secara kontinu mencakup 3
aspek, yaitu knowledge, afektif dan psikomotorik mengacu pada
Obyektivitas, untuk peningkatan Mutu Hasil Belajar.
f. Mengadalakan kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran dan
sekolah.
g. Membangun Kultur Sekolah yang kondusif pembelajaran di
sekolah.
h. Melaksanakan pengawasan pembelajaran serta pengawasan supervisi
bagi Kepala Sekolah.
i. Melaksanakan manajemen berbasis sekolah demi terwujudnya
kemandirian sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
j. Membangun kerjasama yang sinergi dengan masyarakat serta
Stakeholder pendidikan.
4. Tujuan Sekolah
a. Menyiapkan dan membekali siswa SMA untuk dapat melanjutkan ke
tingkat pendidikan tinggi.
b. Menyiapkan dan membekali siswa SMA yang akan terjun ke
masyarakat atau dunia kerja. Oleh sebab itu dapat kita rumuskan
tujuan SMA Negeri 1 Cirebon adalah sebagai berikut:

98

c. Membangun kampus yang representatif bagi pembelajaran siswa-siswi


yang berprestasi.
d. Membuat analisis kebutuhan sarana dan prasarana untuk kegiatan
pembelajaran serta sarana dan prasarana sekolah.
e. Menjadikan SMAN 1 Cirebon sebagai aset Kota Cirebon merupakan
Sekolah yang Bermutu Tinggi, yang diminati masyarakat se Wilayah
III Cirebon (Ciayu Maja Kuning).
f. Menjadikan SMAN 1 Cirebon mampu berkompetisi di tingkat Jawa
Barat dan Tingkat Nasional.
g. Menjadikan SMAN 1 Cirebon dapat bersaing, baik kualitas maupun
kuantitas dalam memasuki Perguruan Tinggi di Indonesia.
h. Menjadikan SMAN 1 Cirebon dengan proses belajar mengajar yang
bermutu, sehingga meningkatkan mutu lulusannya.
5. Sasaran Sekolah
a. SMA Negeri 1 Cirebon selaku mengupayakan pendidik dan tenaga
kependidikan mendapat pelatihan melalui In House Training atau
pelatihan lain di tingkat kota, tingkat provinsi atau tingkat Nasional
supaya

guru

dapat

meningkatkan

kompetensinya

untuk

mengembangkan bahan ajar, metode dan strategi pembelajaran untuk


memberikan pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif, dan tenaga
kependidikan dapat meningkatkan efisiensi dan efktivitas sistem
administrasi.

99

b. SMA Negeri 1 Cirebon berupaya mengembangkan prestasi siswa di


bidang akademik dan non akademik melalui kegiatan ekstarkurikuler
dan lomba ditingkat Kota/ Kabupaten, tingkat Provinsi dan tingkat
Nasional.
c. SMA Negeri 1 Cirebon berusaha memaksimalkan sarana dan jaringan
TIK untuk kegiatan pembelajaran administrasi sekolah dan
komunikasi internal/eksternal.
6. Tenaga Kependidikan dan Struktur Organisasi Sekolah
Pengelolaan tenaga kependidikan SMAN 1 Cirebon terdiri dari komite
sekolah, kepala sekolah, tenaga pendidik sebanyak 60 orang, dan non
kependidikan 1 0rang. Nama-nama guru dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 3.1
Nama-nama Guru SMAN 1 Cirebon
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

NAMA
Drs.H.Eman Surtama, M.Pd
Hj.E.H. Sadiyah, S.Ag
Dra. Sri Juminah N
Jumaenah, S.Pd
Sugiarti, S.Pd
Hj. Rosmawati
Dra. Sri Hartati
Dra. Umi Praptiwi
Drs. H. Moch. Suhud AS
Dra. Ida Dalia
Dra. Hj. Ety Darmastuti, MA
Dra. Meimunah
Dra. Elly Paganti P
Dra. Fify Aliwinoto
Drs. Bekti Susilo

BIDANG STUDI
Matematika
Pend.Agama Islam
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
Ekonomi
Bahasa Inggris
Sosiologi
Sejarah
Geografi
PKN
Sosiologi
Bahasa Indonesia
Bahasa indonesia
Bahasa Inggris
Fisika

PEND
S2
SI
SI
SI
SI
D3
SI
SI
SI
SI
S2
SI
SI
SI
SI

100

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.

Drs. Ade Sukarna


Dra. Nurmanudin Fatha
Drs. Aam Agustiana
Heri fajari, S.Pd
Drs. M. Saleh Ramis
Dalil Junaedi, S.Pd
Elfrida Roselina S
Dian Susiani
Dra.Hj. Andri Windarti
T. Yayat Suparti, S.Pd
Usman Riyadi, S.Pd, M.Pd
Dra. Hj. Dian Supartati
Drs. H.M. Wirto
Drs. H. Taufik Sugiarto
Endang Purwati, S.Pd
Drs. Ruslani
Drs. Sumaryono, M.Pd
Drs. Puji Nirmo
Dra. Sumaenah
Drs. Abdul Rofik
Hj. Dede Mardiana
Dra. Iskandar
Abdul rachman, ST
M. Akhlas, S.Pd
Siti Hasanah, S.Pd
Dra. Titi Saptaningsih
Drs. Nono Suharno
Kuanta, S.Pd
A. Dedi Kenedi, S.Pd
Karnengsih, S.Pd
Hermin, S.Pd
Nurkhasanah, S.Pd
Abdul Haris M, S.Pd
Dra. Elis Sulistiowati
Ir. Faisal Afandi
Ir. Suryati
Ayi Tresnowati, S.Pd
Shoha Alawiyah S, SH
Yandriana F.M, SE
Supriyanto, S.Pd
Dra. Nina Ratih Andyani
Sri Rahayu, S.Pd
Drs. Santoso
Dwi haryanti, S.Pd

Fisika
Kimia
Geografi
Penjaskes
Fisika
Bahasa Inggris
Fisika
Seni Budaya
Biologi
Kimia
Fisika
Bahasa Indonesia
Pend. Agama Islam
Sejarah
Biologi
Matematika
Biologi
Kimia
PKN
Matematika
Matematika
Matematika
TIK
Biologi
Matematika
Bahasa Indonesia
Penjaskes
Kimia
Penjaskes
Seni Budaya
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Sejarah
Biologi
Fisika
Matematika
Seni Budaya
PKN
Ekonomi
Bahasa Inggris
Ekonomi
Kimia
Bahasa Inggris
Bahasa Inggris

SI
SI
SI
SI
SI
SI
D3
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
S2
SI
SI
SI
D3
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI

101

7. Struktur organisasi SMA Negeri 1 Cirebon Tahun pelajaran 2008/ 2009


Gambar 3.1
Struktur Organisasi SMAN 1 Cirebon
KOMITE
SEKOLAH

KEPALA SEKOLAH
Drs. H. Eman Surtama,M.Pd

BENDAHARA

Ka. TATA USAHA

WKS.KURIKUL
UM

WKS.
KESISWAAN

WKS. HUMAS

WKS.
SARANA

GURU MAPEL

GURU BP/
BK

PENGELOLA
LAB.

PENGELOLA
PERPUS

WALI KELAS

WALI
KELAS

SISWA/ OSIS

102

8. Prestasi SMAN 1 Cirebon


Secara umum prestasi belajar seluruh siswa selalu mengalami
peningkatan yang signifikan, baik kualitas maupun kuantitas setiap
tahunnya. Prestasi akademik SMAN 1 Cirebon dapat dilihat dari perolehan
nilai Ujian Nasional 5 tahun terakhir, sebagaimana dalam tabel dibawah
ini:
Tabel 3.2
Perolehan Ujian Nasional 5 Tahun Terakhir
Tahun

Program

Pelajaran
2003/2004

2004/2005

2005/2006

2006/2007

2007/2008

Jumlah

Lulusan

Peserta

Tidak

Presentase

Lulus

kelulusan

100%

IPA

215

215

IPS

133

133

100%

IPA

228

228

100%

IPS

108

107

99,7%

IPA

265

265

100%

IPS

105

105

IPA

295

295

IPS

85

85

IPA

278

278

IPS

83

83

100%
-

100%
100%

100%
100%

Tabel 3.3
Rata-rata Siswa yang Melanjutkan Ke Perguruan Tinggi dalam Prosentase
No.

Tahun Pelajaran

Program
IPA

Keterangan
IPS

1.

2003/ 2004

82%

81%

2.

2004/ 2005

84%

75%

3.

2005/ 2006

84%

83%

4.

2006/ 2007

85%

78%

5,

2007/ 2008

86%

75%

103

Tabel 3.4
Prestasi Akademik Siswa SMAN 1 Cirebon 2008/ 2009
N0.

Tahun

Jenis Kegiatan/ Lomba

Hasil

Tingkat

Waktu

Juara II dan
III

Kota Cirebon

Juli 2008

Juara I

Wilayah III

Juli

Prestasi
1.

2008

2.

2008

3.

2008

4.

2009

5.

2009

Lomba
karya
tulis
Bahasa Inggris tentang
Flu Burung di dewan
Pendidikan Cirebon a.n.
Hilda dan Kevin
Olimpiade Matematika
di Unswagati Cirebon a.n
Novika Rilla
Lomba Debat Bahasa
Inggris TK. SMA seKota Cirebon oleh Dinas
Pendidikan a.n. Hilda
Lomba
Personal
Computer
assembling
TK. SMA se-Jabar dalam
rangka Dies Natalis
Mahasiswa
Ilmu
Komputer UPI Bandung
Olimpiade Sain TK.
Kota Cirebon

Agustus 2008
Juara I & II

Kota Cirebon

Okt 2008

Juara II

Jabar

Jan 2009

Juara I

Kota Cirebon

April 2009

Juara II

Kota Cirebon

April 2009

Juara I

Kota Cirebon

April 2009

Juara I

Kota Cirebon

April 2009

-Komputer a.n. Adzan


Juara II
-Biologi a.n. Nurhayati
-Kimia a.n. Mufidatul
Juara III

6.

2009

7.

2009

8.

2009

Olimpiade
Sain
Kebumian a.n. Fidia
Siswa Berprestasi Tk.
Kota Cirebon a.n. Avian
Kls XI
Lomba Simulasi KTT
ASEAN
berbahasa
Inggris Tk. Kota Cirebon

s/d

104

Tabel 3.5
Prestasi Belajar Siswa Non Akademik TP. 2008/ 2009
No.
1.

Tahun
Pelajaran
2008

2.

2008

3.

2008

4.

2008

5.

2008

6.

2008

7.

2008

8.

2008

9.

2008

10.

2008

11.

2008

12.

2008

Jenis
Kegiatan/
Lomba
Liga Baseball antar
SMA se-Kota Cirebon
a.n. Bayu
Liga Softball antara
SMA se-Kota Cirebon
Dance Competition di
Gramedia a.n. Priliani
dkk
Dalam rangka HUT
Pramuka ke-47
Lomba Futsal, a.n.
M.Egi
Lomba Foster, a.n.
Kemala T
Pidato Bahasa Cirebon,
a.n. SA
Lomba
Penulisan
Cerita Remaja Islami
(CERIS)
siswa
SMA/SMK DEPAG RI
a.n. Lukman al-Hakim
Pengarang
Aldinar
Y.Tata
Bahasa
&
Najma H.Editor
Lomba
Karnaval
Polresta a.n. Vidi dkk
Dance Competition 24
th Anniversri PMR
SMAN 2 Cirebon a.n.
Alda dkk
Wall
Climbing
Competition a.n. Henry
A
Writing Competition
TK SMP/SMA seJabar Banten
Tournamen
Softball/Baseball
Satcheet peace Cup 7
th 2008 Putra/Putri dan
Tropi
Bergilir
Putra/Putri a.n. Erli &
Yudha
Invitasi Basket antara
SMA Putra/Putri ITB
Bandung
Lomba Karya Tulis dan
Pestasi Biologi TK.

Hasil Prestasi

Tingkat

Waktu

Juara I

Kota
cirebon

Juli 2008

Juara II

Kota
Cirebon
Kota
Cirebon

Juli 2008

Juara I

Juara I

Agust
2008
Agus
2008

Juara II
Juara I

Kota
Cirebon

Juara II

Nasional

Agust
2008

Juara II

Kota
Cirebon
Kota
cirebon

Agust
2008
Agust
2008

Juara III

Kota
Cirebon

Agust
2008

Juara III

Jawa Barat

Sept
2008

Juara I

Kota
Cirebon

Nop
2008

Juara III

Jawa Barat

Nop
2008

Juara II

Nasional

Nop
2008

Juara II

105

13.

2008

14.

2009

15.

2009

Nasional Departemen
Gizi Masyarakat di IPB
Bogor
Bogor
a.n.
Alfian dan Avian
Lomba Tari Topeng
Tk. SMA a.n. Ike W &
Seni Lukis a.n Mita
Lomba Jelajah Internet
2009 di SMAK 1
Cirebon Tk. SMA, an.
Amiruddin
Kejuaraan
Baseball,
Softball di Stadion
Bima Tropi Coach
2009
Bance
Competition
Grage Mall Cirebon

Juara II dan III

Kota
Cirebon

Nop
2008

Juara II dan III

Kota
Cirebon

Jan 2009

Juara II

Wilayah
III Cirebon

Maret
2009

Juara III

Wilayah
III Cirebon

B. Pendekatan dan Metode Penelitian


Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kuantitatif, sebab analisis penelitian dimaksud erat kaitannya
dengan skala data-data statistik. Pendekatan kuantitatif, menurut Brannen
dalam Abdullah Ali mengemukakan bahwa:
Penelitian kuantitatif lebih dikenal dengan metode ilmiah, karena
bersifat empirik, behavioristik, fungsionalis, deduktif, makro, klasik,
tradisional, reduksionis dan atomistik. Dalam penelitian ini peneliti
bergerak dari suatu data kearah formulasi hipotesis untuk menguji dan
melakukan verifikasi. Oleh karena itu penelitian kuantitatif selalu bekerja
dengan angka-angka yang datanya berwujud bilangan, skore, nilai,
peringkat atau frekuensi. Analisis dilakukan secara statistik untuk
menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian, sehingga dapat
memprediksi sejauhmana signifikansi pengaruh variabel X1 dan X2
terhadap variabel Y.78
Sasaran atau satuan analisis penelitian ini adalah para siswa di SMA
Negeri 1 Kota Cirebon. Dalam hal ini, obyek yang diteliti meliputi variabel X 1

78

Abdullah Ali, Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah, Yogyakarta: STAIN
Cirebon Press, 2007, hlm. 36

106

adalah Kontribusi Ketauladanan Guru, variabel X2 adalah Profesionalitas Guru


PAI, dan variabel Y adalah Prestasi Belajar PAI.
Disamping pendekatan penelitian yang diperlukan, metode penelitian
juga sangat diperlukan. Menurut Sugiono, Metode penelitian merupakan cara
ilmiah

yang

digunakan

untuk

mendapatkan

data

dengan

tujuan

tertentu.79Adapun metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode


survey, baik survey deskriptif (descriptife survey), maupun survey
eksplanatori (exsplanatory survey). Metode ini digunakan untuk membuktikan
signifikansi kontribusi variabel X1 adalah ketauladanan guru PAI, dan variabel
X2 adalah profesionalitas guru PAI terhadap variabel Y, yakni prestasi siswa
pada mata pelajaran PAI, di SMA Negeri 1 Kota Cirebon.80
C. Operasionalisasi Variabel
Sesuai dengan karakteristik penelitian causal relationship, maka tiaptiap variabel yang diamati terdiri dari: Variabel, Konsep, Dimensi,
Indikator dan skala pengukuran. Operasionalisasi variabel-variabel
tersebut dideskripsikan sebagai berikut:
1. Ketauladanan guru PAI adalah mencontoh atau meneladani segala apa
yang ditampakkan oleh pendidik PAI dalam proses pembelajaran dan
diluar pembelajaran, baik berupa perkataan, prilaku maupun sikap.

79

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Alfabeta: Bandung,


2008. hlm. 2
80
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula,
Alfabeta: Bandung, 2008, hlm. 10

107

Pendidik menampakkan dirinya sebagai contoh dalam setiap situasi baik


dilingkungan sekolah dan masyarakat.

2. Profesionalitas guru PAI adalah guru yang memiliki pengetahuan yang


luas, keterampilan yang tinggi dan bervariasi serta etika/ moral yang
baik, sehingga mampu bekerja secara sistematik, efektif dan efesien.
Berkaitan dengan kinerja seorang pendidik atau guru agama Islam, pada
dasarnya hal itu lebih terarah pada prilaku seorang pendidik dalam
pekerjaannya dan masalah efektivitas pendidik dalam menjelaskan
kinerja yang dapat memberikan pengaruh kepada para siswa yang lebih
Islami. Hal ini tampak dari perilaku pendidik dalam proses pembelajaran
serta interaksi antara pendidik dan siswa.
3. Prestasi belajar adalah apa-apa yang telah dicapai oleh siswa setelah
melakukan kegiatan belajar. Prestasi belajar PAI merupakan tolok ukur
dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik
untuk berakhlakul karimah atas dasar kepercayaan dan keimanan kepada
Allah SWT, dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Prestasi belajar tersebut harus memuat 3 kemampuan/ domain yaitu:
kognitif, afektif, dan psikomotorik.

108

Tabel 3.6
OPERASIONALISASI VARIABEL
VARIABEL
Ketauladanan
Guru (X1)

KONSEP
Ketauladanan guru
adalah mencontoh
atau meneladani
segala apa yang
ditampakkan oleh
pendidik dalam
proses pembelajaran
dan diluar
pembelajaran, baik
berupa perkataan,
prilaku maupun
sikap.
(Jamal Mamur
Asmani:2009:77)

DIMENSI
1.Perkataan/
ucapan

2.Prilaku/
Perbuatan

INDIKATOR
-Guru tidak pernah
menggunakan katakata yang tidak
baik setiap
berbicara.
-Tidak suka berolokolok dengan siswa
-Guru membiasakan
musyafahah,
menebar salam,
serta tegur sapa
dengan kalimahkalimah thayyibah.
-Guru tidak suka
menggunakan katakata kotor
-Guru tidak suka
mencaci maki
siswa.
-Tutur kata
disampaikan
dengan kalimat
yang santun.
-Kemampuan
bertutur kata
dengan baik.
- Memberikan kasih
sayang yang tulus.
-Memberikan solusi
apabila terdapat
keluhan-keluhan
siswa.
-Mengembangkan
kemampuan siswa
-Melakukan
bimbingan terhadap
minat dan bakat
siswa
-Berbusana rapi dan
bersih
-Memakai pakaian
yang bernuansa

109

Islami/menutup
aurat
-Berkepribadian
luwes dan fleksibel
-Menghargai
perbedaan yang
dimiliki siswa
-Tidak suka
memaksakan
pendapat
-Memberi hukuman
bagi siswa yang
bersalah
-Tidak suka
membeda-bedakan
siswa
-Bertanggung jawab
pada profesi
-Bertanggung jawab
pada kesalahan
-Guru tidak terlambat
masuk kelas
-Guru mempedomani
aturan sekolah
-Disiplin terhadap
segala aturan
sekolah
-Menghargai
pendapat orang
lain.
-Menggunakan katakata yang jelas
dalam
berkomunikasi.
3.Sikap

-Berupaya menjadi
contoh bagi siswa.
-Ditempat kerja
dikembangkan
sikap demokratis.
-Guru menjadi model
dilingkungan
masyarakat
-Memberikan
motivasi kepada
siswa.
-Mencintai profesi
menjadi dasar
kinerja

110

-Berpegang teguh
pada sikap
kejujuran
-Tidak pernah
melakukan
manipulasi
-Menerima saran
pimpinan dalam
melaksanakan
pekerjaan
-Menyikapi siswa
sebagai manusia
mulia
-Berusaha
memaksimalkan
potensi dan
bakatnya
-Mengembangkan
kemampuan untuk
memperbaiki sikap.
-Mengembangkan
metode KBM
untuk mencapai
kualitas terbaik.
-Mengabdi kepada
Allah dan kepada
kemanusiaan
-Malu melakukan
kesalahan
-Guru aktif
mengikuti kegiatan
di sekolah dan
masyarakat
-Bersikap jujur dan
adil kepada semua
siswa.

Profesionalitas
Guru PAI (X2)

Profesionalitas guru
1.Menguasai
-Dapat
PAI adalah guru
manajemen
mengemukakan
yang memiliki
pembelajaran
contoh-contoh
pengetahuan yang
terdiri dari:
-Proaktif dengan
luas, keterampilan
a.Menguasai bahan pertanyaanyang tinggi dan
pertanyaan siswa
bervariasi serta etika/
Mengkomunikasikan
moral yang baik
tujuan pembelajaran
sehingga mampu
kepada siswa
bekerja secara
-Menyampaikan

111

sistematik, efektif
dan efesien.
(Alwi suparman
dalam Djepy
Supriatna,2002:36)

materi dengan
bahasa yang mudah
dimengerti
-Memotivasi siswa
untuk aktif dalam
mengikuti
pembelajaran

b.Menguasai
program
pembelajaran

Telah
disyaratkan
dalam
UndangUndang No. 14 c.Mengelola kelas
Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen
bahwa untuk dapat
memangku jabatan
guru,
minimal
memiliki kualifikasi
pendidikan D4/S1.
d.Mengelola
interaksi belajar
mengajar

2.Memiliki
Kualifikasi
Akademik/
administrasi
pendidikan

-Memperhatikan
ruangan kelas
-Menciptakan iklim
belajar mengajar
yang serasi

-Mengamati kegiatan
belajar mengajar
siswa
-Menguasai
keterampilan dasar
pembelajaran

-Mengatur siswa
dalam kegiatan
pembelajaran
-Memberikan
rangsangan belajar
diskusi

-Latar belakang
pendidikan sesuai
dengan bidang
tugasnya
- Memiliki
kemampuan
filosofi pendidikan
- Menguasai
substansi keilmuan
yang terkait dengan
bidang studi
-Mengembangkan
metode KBM
untuk mencapai
kualitas terbaik
-Menambah LKS

112

untuk materi
pelajaran
-Memberikan tugas
PR sebagai
tambahan pelajaran
-Memiliki
keterampilan IT
-Membuat RPP,
silabus sebelum
materi pelajaran
disampaikan
-Melakukan strategi
dalam
pembelajaran

Prestasi belajar
PAI (Y)

Prestasi belajar
adalah apa-apa yang
telah dicapai oleh
siswa setelah
melakukan kegiatan
belajar.
(Tohirin, Psikologi
Pembelajaran
PAI:2008:151)
Prestasi belajar PAI
merupakan
tolok
ukur
dalam
penguasaan
pengetahuan,
keterampilan
dan
sikap peserta didik
untuk
berakhlakul
karimah atas dasar
kepercayaan
dan
keimanan
kepada
Allah SWT, dalam

3.Berbudi pekerti
luhur

-Berjiwa kreatif
-Demokratis
-Loyalitas
-Dedikasi yang tinggi
-Komitmen terhadap
karir, pekerjaan dan
kepada setiap orang.
-Tanggung jawab
terhadap pekerjaan,
karir, sosial, moral
dan keilmuan.

1. Prestasi
akademik

-Nilai harian
-Nilai tugas
-Mid Semester
-Semester
-Nilai raport
-UAS dan UAN

2.Prestasi non
akademik

-Datang ke sekolah
tepat waktu
-Hormat pada guru
-Hormat pada orang
tua
-Jujur dalam berkata
-Jujur dalam
bertindak
-Disiplin dalam
belajar
-Disiplin dalam
mematuhi peraturan
tata tertib sekolah
-Disiplin dalam
melaksanakan

113

menerapkan
ilmu
pengetahuan
dan
tekhnologi.
Prestasi belajar
tersebut harus
memuat 3
kemampuan/ domain
yaitu:
1.Kognitif
2.Afektif, dan
3.Psikomotor
(Taksanomi Bloom
dalam Kartono dan
Toto Sutarto: 2006:
117)

ibadah di sekolah
-Santun dalam
bertutur kata
-Puasa senin kamis
-Sholat dhuha
-Sholat dzuhur
berjamaah
-Hasil kegiatankegiatan
ekstrakurikuler
-Mengikuti
perlombaan
bernuansa Islami

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII yang terdiri dari 9
kelas pada tahun pelajaran 2009/2010. Dipilihnya seluruh kelas XII karena
mereka telah dididik selama + 3 tahun oleh guru mereka, dan proses interaksi
mereka disekolah lebih lama bila dibandingkan dengan kelas X dan XI.
Adapun perincian jumlah siswa pada masing-masing kelas dapat dilihat
dalam tabel dibawah:
Tabel 3.7
Jumlah Populasi
No.

KELAS

JUMLAH SISWA

1.
2.
3.

X
XI
XII

335
351
405

JUMLAH SELURUHNYA

1011 SISWA

114

2. Sampel
Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan teknik simple random
sampling, merupakan pengambilan sampel tanpa memperhatikan strata di
dalam populasi. Populasi dianggap homogen, dilakukan dengan angka
random (acak).81 Teknik random sampling yang dipergunakan adalah
dengan cara undian. Langkah pertama adalah dengan memberikan nomor
urut pada masing-masing sampel, setelah membuat nomor yang dimasukkan
kedalam gelas yang berlubang diambil sebanyak 90 kali. Nomor yang keluar
dipergunakan sebagai sampel penelitian.
Untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini didasarkan kepada
pendapat Suharsimi Arikunto, dimana bila jumlah populasi lebih dari 100
orang, maka pengambilan sampel dapat diambil antara 10 %, 15 %, atau
antara 20-25 %..82 Pada penelitian ini, penulis mengambil sampel 10 %
dari populasi jumlah total siswa 1011 siswa, maka perhitungannya dengan
teknik pengambilan sampel rumus Taro Yamane. Dengan menggunakan
rumus dari Taro Yamane sebagai berikut:
n = ___N_____
+ 1
Keterangan:
N = Jumlah populasi
n = Jumlah sampel yang dicari
81

M. Fitri Rahmadana, SPSS 12.0 For Windows, Bandung: Citapustaka Media, Cet. 1,
2006. hlm. 10
82
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula,
Bandung: Alfabeta, 2004. hlm. 65.

115

= Presesi yang ditetapkan (0,1, 0,05, 0,01)

Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

n = ___N_____
+ 1
= 1011___________=

1011______= 1011_= 90

1011 ( 0,1) + 1

1011 ( 0,01 ) + 1

11,11

Dari hasil perhitungan diatas, penulis mengambil sampel random 90


orang siswa SMA Negeri 1 Cirebon, maka diperoleh distribusi sampling
sebagai berikut:
Tabel 3.8
Distribusi Sampling
Kelas

XIIa

XIIb

XIIc

XIId

XIIe

XIIf

XIIg

XIIh

XIIi

Jumlah

Populasi

45

44

45

44

46

45

45

45

46

405

Sampel

10

10

11

10

10

10

11

90

E. Prosedur Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penyusunan
tesis ini sebagai berikut :

1. Kuesioner atau angket

116

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk


memperoleh informasi dari responden, dalam arti laporan tentang
pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner ini penulis sebarkan
kepada responden/ siswa SMAN 1 Cirebon. Kuesioner merupakan
sejumlah daftar pernyataan yang harus dijawab secara tertulis oleh
responden.
2. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang
tertulis.83. Didalam melaksanakan metode dokumentasi penulis meminta
hal-hal yang berkaitan dengan subyek maupun

obyek penelitian,

diantaranya semua nama-nama siswa SMAN 1 Cirebon, peraturan sekolah


yang masih berlaku, perolehan ujian akhir 5 tahun terakhir, prestasi
akademik dan non akademik 2008/ 2009, maupun dokumen yang lain.
3. Wawancara
Wawancara ialah salah satu metode untuk mendapatkan data anak atau
orang dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan
(face to face relation). Metode ini digunakan untuk memperoleh data
yang memerlukan penjelasan langsung dari informan, dalam hal ini
adalah kepala sekolah, para guru, siswa dan pihak lain yang terkait.
Wawancara dimaksudkan untuk mencari informasi tambahan yang tidak
tercover dari kuesioner.
83

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta: Bina


Aksara, 2004, hlm. 131

117

F. Pengujian Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam
pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik,
dalam arti lebih lengkap dan sistematis, sehingga lebih mudah diolah.84 Dalam
suatu penelitian, data memegang peranan penting, karena data merupakan
penggambaran dari variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian
hipotesis.
Oleh karena itu kebenaran data sangat menentukan mutu atau tidaknya
hasil penelitian. Instrumen dalam hal ini angket yang baik harus memenuhi dua
persyaratan yaitu validitas dan reliabilitas.
1. Uji Validitas
Menurut Suharsimi Arikunto, validitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen.85
Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi, sebaliknya
instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Suatu alat
ukur mempunyai validitas tinggi, jika korelasinya juga tinggi. Mengukur
validitas tersebut dimaksudkan

agar alat

ukur yang digunakan

menunjukkan kemampuan menguji yang sesungguhnya dari responden.


Oleh karena itu, agar penelitian dapat terlaksana dengan baik, harus
digunakan alat ukur yang memadai, sehingga perlu diadakan pengujian
terhadap validitas alat ukur supaya kebenarannya diakui.

84

Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

hlm. 128.
85

ibid, hlm. 168.

118

Uji validitas instrumen dimaksudkan untuk mendapatkan instrumen


penelitian yang valid. Dengan instrumen penelitian yang valid, maka
akan didapatkan data yang valid pula, yaitu terdapat kesesuaian data dari
apa yang terjadi pada obyek penelitian. Uji validitas dilakukan dengan
mengkoordinasikan masing-masing item pertanyaan dengan total skor
item pada setiap variabel.

Validasi data dilakukan secara empiris dan isi (content validity).


Validasi empiris dilakukan dengan menggunakan Eksplanatory Factor
Analysis (EFA) dan Comfirmatory Factor Analysis (CFA). Sedangkan
validasi isi dilakukan dengan mengidentifikasi konstrak yang telah
dikembangkan dalam indikator-indikator (skala) yang relevan.

Disamping koofisien korelasi, untuk mengukur validitas ini


digunakan juga matriks covarians, sebagaimana yang direkomendasikan
Hair dkk, bahwa agar para peneliti menggunakan matriks varians/
covarians pada saat pengujian teori, sebab varian/ covarians lebih

119

memenuhi asumsi-asumsi metodologi dan bentuk data yang lebih sesuai


untuk memvalidasi hubungan-hubungan kausalitas.86

2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu alat ukur berkisar pada persoalan stabilitas
skor persoalan kekonsistenan hasil pengukuran. Reliabilitas menunjang
pada kekonsistenan atau ketepatan dari nilai yang diperolah dari
sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan tes yang
sama atau itemnya ekuivalen. Reliabilitas menunjukkan pada pengertian
bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat
pengumpul data, karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang
dipercaya akan menghasilkan data yang dipercaya juga. Reliabilitas ini
berhubungan dengan masalah kepercayaan.87
Reliabilitas dapat menjadi alat ukur yang memiliki taraf kepercayaan
tinggi, jika alat ukur tersebut dapat memberikan suatu hasil yang sama
meskipun diterapkan pada waktu yang berbeda, untuk menetapkan
reliabilitas diperlukan suatu ketetapan alat ukur. Data memiliki
kedudukan yang penting bagi suatu penelitian, karena didalam data
digambarkan variabel-variabel yang diteliti dan dapat berfungsi untuk
alat pembuktian hipotesa. Oleh karena itu data yang diperoleh sangat
menentukan mutu atau tidaknya hasil penelitian.

86

Hair dkk, Multivariate Data Analysis. 4 th New Jersey: Prentice Hall, Bandung: Kaifa,
2000. hlm. 125
87
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, hlm. 168

120

Data sangat tergantung pada instrumen pengumpul data, dari itu


instrumen haruslah reliabel. Alat pengumpulan data dikatakan reliabel,
jika alat tersebut mempunyai ketetapan atau kekonsistensi artinya apabila
alat itu dikenakan pada subyek yang sama dalam waktu yang berlainan,
hasilnya akan relatif sama atau tetap. Untuk pengujian reliabilitas
instrumen menggunakan rumus alpha cronbach sebagai berikut:
r = (M:M-1)(1-vx:vt)
Keterangan: r = Koefisien korelasi
vx = Variasi butir
vt = Variasi total
M = Jumlah butir soal88
Nilai batas yang digunakan untuk derajat reliabilitas adalah
Cronbachs Alpha. Patokan yang umumnya telah diterima secara luas
adalah bentuk indikator yang mendapat koefisien lebih besar dari 0,70
dinyatakan reliabel, walaupun angka tersebut bukanlah angka mati.
Artinya jika penelitian yang dilakukan bersifat exploratory, maka nilai
dibawah 0,70 pun masih dapat diterima sepanjang disertai alasan-alasan
empirik yang terlihat dalam proses eksplorasi. Untuk menghindari
kebiasan, seyogyanya digunakan juga koefisian Wert-Linn Joreskog (pc)
secara bersama-sama dengan Cronbach Alpha. Pada dasarnya sebuah alat
ukur disebut reliabel bila nilai Cronbach adalah lebih besar atau sama

88

Sutrisno Hadi, Analisis Butir-Butir untuk Instrumen Angket, Tes dan Skala Nilai dengan
Basica, Yogyakarta: Andi Ofset, 1991. hlm. 65

121

dengan 0,70 dan nilai pc adalah lebih besar atau sama dengan 0,50.
(Bazogi; Werts, Lindd & Joreskog, 1974).
3. Analisis Instrumen Penelitian
Analisis instrumen penelitian dimaksud adalah salah satu bentuk alat
ukur yang digunakan untuk menguji apakah instrumen penelitian ini
memenuhi syarat-syarat alat ukur yang baik atau tidak sesuai dengan
standar metode penelitian. Menurut Cooper dan Schindler bahwa suatu
instrumen dikatakan baik apabila instrumen tersebut memiliki tiga
persyaratan utama, yaitu: a. valid atau sahih; b. reliabel atau andal; dan c.
praktis.89
Sesuai dengan standar pembuatan instrumen, bahwa sebelum
instrumen diterapkan sebagai alat uji ukur penelitian, maka harus diuji
cobakan dalam bentuk pre-test kuesioner kepada sekurang-kurangnya 30
responden sebagai try out. sebelum kuesioner benar-benar disebarkan
kepada responden sasaran, telah diuji cobakan terlebih dahulu terhadap
90 responden, dilaksanakan pada bulan Januari 2010.
4. Hasil Pengujian Instrumen
Pengujian dilakukan untuk mengetahui kesahihan (validitas) dan
kehandalan (reliabilitas) terhadap tiga variabel yang dijadikan sasaran
penelitian. Tiap-tiap variabel diuji berdasarkan indikator-indikator,
yang kemudian dikembangkan dengan sejumlah pernyataan penelitian
89

hlm. 210

Carver, C. & Scheier, M, Perspectives on Personaliti (5th ed.), Boston: Pearson, 2001,

122

sesuai ruang lingkup masing-masing variabel. dari ketiga variabel ini,


diujikan melalui 132 item pernyataan. Masing-masing variabel terdiri
dari: variabel ketauladanan guru (X1) sebanyak 45 item, variabel
profesionalitas guru (X2) sebanyak 47 item, dan variabel prestasi belajar
PAI (Y) sebanyak 40 item.
Uji coba dari butir-butir instrumen penelitian terhadap 90 orang
siswa, yang menguji semua variabel tersebut dimaksudkan untuk
menguji keabsahan dan kehandalan butir-butir instrumen yang
digunakan dalam penelitian. Validitas instrumen diujikan dengan
menggunakan korelasi skor butir dengan skor total product moment
(Pearson) sesuai yang dituntut dalam prosedur dan persyaratan
pengujian. Dari 132 butir instrumen ini dimaksudkan apakah butir-butir
kuesioner yang telah dibuat benar-benar difahami, dimengerti serta
diyakini dapat direspons oleh para responden secara benar sesuai
keadaan yang sesungguhnya.
Analisis dilakukan terhadap seluruh instrumen melalui komputer
program SPSS 16, dimana batas angka kritis atas adalah 0,05. Kriteria
pengujian dengan membandingkan antara r
tabel,

hitung

dengan r

tabel.

Jika r

hitung

maka instrumen dianggap valid (sahih), sebaliknya jika r

hitung

r tabel maka dianggap tidak valid (drop), sehingga instrumen yang

drop ini tidak dapat digunakan dalam penelitian.

123

Instrumen penelitian diberikan kepada 90 orang responden siswa


yang dipilih secara acak dari SMAN 1 Kota Cirebon untuk menyatakan
persepsi, tanggapan, penilaian maupun pandangannya secara obyektif,
transfaran, jujur dan sesuai keadaan yang sesungguhnya apa yang
dilihat, diketahui, difahami dan dirasakan selama ini dilingkungan
sekolahnya, bukan untuk menyatakan yang seharusnya, tanpa
bertendensi sama sekali mencari kelemahan dan kekurangan hingga
dapat mempengaruhi terhadap nilai/ prestasi yang diperoleh siswa.
a. Variabel Ketauladanan Guru
Berdasarkan kajian teori tentang ketauladanan guru yang
dianalisis

dalam

bentuk

premis,

diperoleh

indikator

yang

dikembangkan menjadi 45 butir item pernyataan instrumen yang


diujikan kepada 90 orang responden (siswa) untuk memberikan
pernyataannya, yang diambil berdasarkan teknik sampling yang telah
ditentukan.
Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen penelitian
kepada 90 responden dengan taraf signifikansi 0,05 (5 %) dipakai uji
satu arah dan df = N 2 atau 90 2 = 88, dari tabel r
disebut sebagai r

kritis

tabel

yang

didapat hasil 0,207 untuk keseluruhan tabel

yang diuji. Hasil uji validitas selengkapnya untuk masing-masing


variabel disajikan dalam tabel sebagai berikut:

124

Tabel 3.9
Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Ketauladanan Guru (X1)

No.
Item
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.

r hitung

r kritis

Keputusan

0,295
0,319
0,551
0,526
0,540
0,328
0,240
0,265
0,385
0,510
0,390
0,580
0,519
0,318
0,420
0,342
0,269
0,592
0,550
0,317
0,354
0,363
0,204*
0,485
0,080*
0,512
0,191*
0,293
0,329
0,130*
0,045*
0,299
0,226
0,234
0,243
0,284
0,368
0,243
0,284

0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak valid
Valid
Tidak valid
Valid
Tidak valid
Valid
Valid
Tidak valid
Tidak valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

125

40.
41.
42.
43.
44.
45.

0,208
0,425
0,336
0,510
0,704
0,394

0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Hasil uji validitas untuk variabel ketauladanan guru (X1) dari 45


butir pernyataan yang disampaikan para responden melalui kuesioner,
maka berdasarkan data angka-angka diatas menunjukkan 40 item
dinayatakan valid karena ternyata 40 item r

hitung

tabel

dan 5 item

tidak valid yaitu item No.23, 25, 27, 30 dan 31, karena ternyata r

hitung

r tabel.
b. Variabel Profesionalitas Guru PAI (X2)
Tabel 3.10
Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Profesionalitas Guru ( X2)

No.
Item
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

r hitung

r kritis

Keputusan

0,467
0,494
0,608
0,539
0,748
0,442
0,351
0,790
0,762
0,446
0,630
0,375
0,782
0,377
0,833
0,409

0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

126

17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.

0,457
0,458
0,311
0,378
0,610
0,107
0,157
0,527
0,206
0,571
0,139
0,546
0,353
0,117
0,205
0,469
0,338
0,481
0,515
0,549
0,474
0,566
0,467
0,504
0,204
0,344
0,460
0,401
0,360
0,473
0,407

0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak valid
Tidak valid
Valid
Tidak valid
Valid
Tidak valid
Valid
Valid
Tidak valid
Tidak valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Berdasarkan tabel diatas, ternyata dari 47 butir/ item instrumen


penelitian untuk variabel X2 (Profesionalitas Guru), 40 item dinyatakan
valid karena ternyata 40 item r

hitung

r tabel dan 7 item tidak valid yaitu

item No. 22, 23, 25, 27, 30, 31, 41., karena ternyata r hitung r tabel. Hasil
pengolahan data melalui alat statistik program SPSS 16.

127

c. Variabel Prestasi Belajar Siswa (Y)


Tabel 3.11
Hasil Perhitungan Uji Validitas Variabel Y
No.
Item
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.

r hitung

r kritis

Keterangan

0,258
0,360
0,560
0,400
0,294
0,463
0,525
0,292
0,474
0,406
0,527
0,568
0,440
0,615
0,588
0,544
0,652
0,739
0,766
0,682
0,581
0,589
0,607
0,506
0,603
0,506
0,312
0,327
0,294
0,235
0,339
0,328
0,386
0,322
0,312
0,495
0,374

0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207
0,207

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

128

38.
39.
40.

0,466
0,301
0,271

0,207
0,207
0,207

Valid
Valid
Valid

Hasil uji validitas untuk variabel prestasi belajar PAI (Y) dari
40 butir pernyataan yang disampaikan para responden melalui
kuesioner, maka berdasarkan data angka-angka diatas menunjukkan
seluruhnya valid (sahih), karena ternyata 40 item r

hitung

tabel.(Hasil

pengolahan data melalui alat statistik program SPSS 16)


d. Hasil Pengujian Reliabilitas
Pengujian terhadap koefisien reliabilitas instrumen dimaksudkan
untuk melihat konsistensi jawaban (keandalan) butir-butir pernyataan
yang diberikan oleh responden. Untuk menguji reliabilitas ini
digunakan alat dengan metode belah dua (split half), yakni
mengkorelasikan skor total ganjil lawan genap, selanjutnya dihitung
reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach.
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer
program SPSS 16. Untuk pengujian reliabilitas ini dibandingkan antara
r

alpha

yang diperoleh dengan r

kritis.

Berdasarkan pendapat Bazogi,

(1981); Werts, Lindd & Joreskog, (1974) bahwa seluruh alat ukur
disebut reliabel apabila nilai koefisien Cronbach a adalah lebih besar
atau sama dengan 0,70 dan atau nilai pc adalah lebih besar atau sama
dengan 0,50.

129

Hasil perhitungan reliabilitas untuk masing-masing variabel


disajikan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 3.12
Hasil Perhitungan Reliabilitas Masing-masing Variabel

No.
1.
2.
3.

Variabel
Ketauladanan Guru (X1)
Profesionalitas Guru
PAI (X2)
Prestasi Belajar PAI (Y)

r alpha

r kritis

Keputusan

0,791
0,803

0,70
0,70

Reliabel
Reliabel

0,864

0,70

Reliabel

Menurut Sugiyono pemberian interpretasi terhadap reliabilitas (rill)


pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut: Reliabilitas uji coba
sama dengan atau lebih dari 0,70 berarti hasil uji coba tesnya memiliki
reliabilitas tinggi, kurang atau dibawah dari 0,70 berarti hasil uji coba
tesnya memiliki reliabilitas rendah (un-reliable). Koefisien Cronbach-a
yang diperoleh dari uji coba terhadap instrumen penelitian ini ternyata
hasil ketiga variabel seluruhnya diatas atau lebih dari 0,70. Hal ini
menunjukkan bahwa instrumen penelitian yang digunakan untuk
pengujian variabel Ketauladanan Guru, Profesionalitas Guru PAI dan
Prestasi Belajar PAI, seluruhnya memiliki reliabilitas sangat tinggi.
Hasil perhitungan reliabilitas instrumen Ketauladanan guru,
memperoleh r alpha sebesar 0,791, dan r alpha variabel Profesionalitas
guru PAI sebesar 0,803, dan r alpha variabel Prestasi belajar PAI
sebesar 0,864. Hal ini berarti instrumen ketiga variabel dinyatakan
reliabel (handal), sehingga memenuhi persyaratan untuk digunakan

130

sebagai

dasar

pengambilan

kesimpulan

hasil

penelitian.(Hasil

pengolahan data dengan alat statistik program SPSS 16)


G. Analisis Data
Setelah data yang terdiri atas tiga variabel, maka pada data tersebut
sebelumnya dilakukan berbagai perlakuan (treatment), seperti dilakukan
sorting atau menyeleksi data berdasarkan kriteria tertentu, memisah data
dan sebagainya. Kemudian pada data dapat dilakukan analisis statistik,
yang meliputi statistik deskriptif dan statistik inferensial menggunakan alat
bantu program SPSS 16.
Selain menggambarkan data, kegiatan pengolahan data deskriptif ini
juga menyajikan data dalam bentuk tabel. Kegiatan pembuatan tabel
(tabulasi) pada dasarnya adalah menghitung data-data dan memasukkan
kedalam tabel berdasarkan kategori-kategori tertentu. tabel tersebut
berguna untuk mengetahui hubungan antar kedua variabel yang ada
dalam penelitian ini. Tujuan Basic Tables adalah memberikan gambaran
(deskripsi) tentang suatu data, seperti berapa nilai rata-rata, standar
deviasi, varians dan sebagainya. Data yang digunakan dapat kuantitatif
atau kualitatif.
Berkenaan dengan analisis data tersebut, bahwa penelitian ini
digunakan dengan pendekatan deskriptif dengan metode survey dan tipe
penelitian verifikatif, yakni menguji hipotesis tentang keterkaitan yang
bersifat

kausalitas.

Untuk

analisis

deskriptif

dalam

rangka

131

mendeskripsikan tentang ketauladanan guru, profesionalitas guru PAI


dan prestasi belajar PAI digunakan pengolahan statistik deskriptif
melalui: basic table, sparate table, crosstabs, ANOVA dan frequensys.
Sedangkan untuk pengujian hipotesis, digunakan alat pengolah data
statistik korelasi, dalam hal ini korelasi product moment. Korelasi
product moment dilambangkan dengan (r) dengan ketentuan nilai r tidak
lebih dari harga (-1 < r < + 1). Apabila nilai r = -1 berarti korelasinya
negatif sempurna; r = 0 tidak ada korelasi; dan r = 1 berarti korelasinya
sangat kuat, dengan rumus:

rxy

N XY ( X )( Y )

N X

( X ) 2 N Y 2 ( Y ) 2

Sedangkan untuk rumus korelasi ganda (R) :

R y. X1 X 2

r 2 x1x2 r 2 x1x2 2ryx1 ryx2 rx1x2


1 rx1x2

Dalam memberikan interpretasi secara sederhana terhadap angka


Indeks korelasi r Product Moment (rxy), pada umumnya dipergunakan
pedoman atau ancar-ancar sebagai berikut:90

90

J.P. Guilford, Fundamental Statistics in Psychology and Education, Edisi ke II, ( New
York: MC Graw Hill Book Company, Inc, 1950), hlm. 164-165

132

Tabel 3.13
Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r

Besarnya r
Product Moment (rxy)
0,00-0,199

0,20-0,399
0,40-0,599
0,60-0,799
0,80-1,00

Interpretasi
Antara variabel X dan variabel Y memang terdapat
korelasi, akan tetapi korelasi itu sangat lemah atau
sangat rendah sehingga korelasi itu diabaikan
(dianggap tidak ada korelasi antara variabel X dan
variabel Y)
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi
yang lemah atau rendah.
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi
yang sedang atau cukupan.
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi
yang kuat atau tinggi.
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi
yang sangat kuat atau yang sangat tinggi.

Selanjutnya, untuk mencari besarnya kontribusi variabel Ketauladanan


guru (X1), Profesionalitas Guru PAI (X2) terhadap variabel Prestasi Belajar
PAI (Y) digunakan rumus:
KP =

x 100%

Dimana KP = Nilai Koefesien Determinan


2 = Nilai Koefesien Korelasi
100 %= Nilai Konstanta

Pengujian dilanjutkan dengan uji signifikansi yang berfungsi untuk


mencari makna hubungan variabel X1 dengan Y, X2 dengan Y, maka hasil
koelasi product moment tersebut diuji signifikansi dengan rumus t
sebagai berikut:

t hitung = r n 2
1 - r2
Dengan kaidah pengujian bahwa:

hitung

133

Jika t hitung t tabel, maka Ho ditolak. Artinya signifikan


Jika t hitung t tabel, maka Ho diterima. Artinya tidak signifikan.
Mengingat skala pengukuran data variabel-variabel yang diteliti adalah
rata-rata berskala ordinal, maka untuk dapat memenuhi persyaratan
digunakannya

korelasi

product

moment,

skala

data

ordinal

harus

ditransformasikan terlebih dahulu menjadi skala data interval melalui MSI


(Method of Successive Interval).91 Digunakannya rumus ini untuk mengukur
tingkat atau eratnya hubungan antar dua variabel yaitu variabel bebas (X 1),
(X2) dan variabel terikat berskala ordinal.
Mengetahui tingkat kesesuaian dari dua variabel terhadap group yang
sama, mendapatkan validitas empiris (concurent validity) alat pengumpul
data, dan mengetahui reliabilitas (keajegan) alat pengumpul data yang
dimodifikasi dengan William Brown. Untuk pengolahan data selengkapnya
digunakan alat bantu soft-whare komputerisasi dengan program SPSS 16
untuk penelitian.

91

53

Riduan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2002, hlm.

134

BAB IV
HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN
A. Ketauladanan Guru PAI SMAN 1 Cirebon (X1)
Pada bab ini disajikan hasil analisis deskriptif maupun statistik dari data
yang diperoleh melalui responden di obyek penelitian sebagai temuan hasil
penelitian. Penyajian hasil penelitian meliputi dua bagian: bagian pertama
analisis deskriptif yang menggambarkan keadaan tiap-tiap variabel, yang
diawali dengan ilustrasi menyangkut masing-masing variabel; bagian kedua
disajikan pengolahan data melalui statistik untuk menemukan kausalitas
keberpengaruhan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil
selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar di sekolah dipengaruhi oleh
sejumlah faktor. Penelitian tentang faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
telah banyak dilakukan. Faktor yang paling sering dikaitkan dengan prestasi
belajar

di

antaranya

adalah

ketauladanan

dan

profesionalitas

guru.

Ketauladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Siswa mencontoh
atau meniru kelakuan gurunya. Ketauladanan guru akan selalu dicontoh atau
ditiru oleh peserta didik. Karennya, guru menampakkan dirinya sebagai sosok
yang harus diteladani peserta didik.
Ketauladanan guru merupakan upaya seorang guru untuk selalu
memperlihatkan prilaku yang baik, karena disadari atau tidak, kata-kata dan
prilaku seorang guru akan menjadi panutan bagi murid-muridnya. seorang guru

135

agar dapat menjadi teladan yang baik adalah dengan selalu mengadakan
muhasabah pada diri sendiri, mengoreksi akan kekurangan-kekurangan diri dan
berusaha untuk memperbaikinya, karena bagaimana mungkin guru akan
menjadi teladan sedangkan dirinya penuh dengan kekurangan.
Pentingnya keteladanan ini, mengingat proses pendidikan terjadi interaksi
antara

guru

dan

peserta

didik.

Membangun

hubungan

erat

dan

berkesinambungan, mesti diawali dan dihiasi dengan saling percaya, dan kasih
sayang. Sebagaimana dikatakan Ahmad Tafsir bahwa cara pendidikan Islam
berpusat pada ketauladanan secara psikologis, ternyata manusia memerlukan
imago ideal yang menjadi tokoh yang diteladani.
Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui keterkaitan hubungan
ketauladanan guru PAI terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran
PAI di SMAN 1 Kota Cirebon. Data variabel X1, yaitu ketauladanan guru PAI
yang akan diangkat adalah ketauladanan yang dapat diterapkan guru dalam
proses pembelajaran, yaitu: memiliki perhatian dan kesenangan pada peserta
didik, memiliki kecakapan dalam merangsang peserta didik untuk belajar dan
berpikir, berpenampilan simpatik, bersikap jujur dan adil, menyesuaikan diri
dan memperhatikan pendapat orang lain, menampakan kegembiraan dan
antusiasme, luas perhatiannya, bijak dalam bertindak, menguasai diri, dan
menguasai ilmu yang diajarkan.
Perbuatan guru PAI di SMAN 1 Kota Cirebon sudah menunjukan disiplin
terhadap tata tertib sekolah, tanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya

136

kepada peserta didik, menaati ketentuan sekolah dan ketaatan dalam beragama.
Perbuatan guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon dalam menerapkan ketaatan dan
kepatuhan selalu menunjukan ketepatan waktu kehadiran di sekolah jam 07.00
setiap hari kerja, berada di kelas lebih awal dari siswa, selalu membawa alQuran dan terjemahnya, mengucapkan salam mengawali pembelajaran,
mengajak berdoa saat memulai dan mengakhiri pelajaran, mengajak siswa
sholat berjamaah di mesjid sekolah, menskor waktu saat terdengar suara adzan,
dan mengajak siswa merapikan kelas.
Penampilan guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon, selalu berpakaian rapih
menyelaraskan dengan ketentuan sekolah, memakai baju Taqwa dan berkopiah
pada hari Jumat, selalu tersenyum bertemu sesama guru atau siswa,
menunjukan sifat ramah ketika ada siswa yang mendatanginya, dan
menunjukan sipat simpatik kepada semua siswa.
Pemikiran dan perkataan yang dilakukan guru PAI agar dicontoh dan
ditiru peserta didik di sekolah yaitu guru selalu memberi nasehat,
menyelaraskan perbuatan dengan ucapan, humoris, setiap ucapannya didukung
dengan fakta dan data, mengajak siswa mendahulukan husnuzhon atau positif
thinking dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan hubungan
sesama teman dalam pergaulan di sekolah dan masyarakat, bersikap jujur dan
adil.
Dari deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa secara umum guru-guru
SMAN 1 Kota Cirebon khususnya Guru PAI sudah dapat dikatakan memiliki

137

ketauladanan yang tinggi baik dalam tampilan sikap, perbuatan dan tutur kata.
Ketauladanan dalam pendidikan adalah metode influitif yang paling
meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk moral,
spritual dan sosial anak, yang semua ini merupakan bagian dari prestasi belajar
PAI siswa pada aspek afektifnya.
B. Profesionalitas Guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon
Profesionalitas guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
profesionalitas guru dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam serta telah
berpengalaman dalam mengajar Pendidikan Agama Islam, sehingga ia mampu
melaksanakan tugas dan fungsinya dengan kemampuan yang maksimal serta
memiliki kompetensi sesuai dengan kriteria guru profesional, dan profesinya
itu telah menjadi sumber mata pencaharian.
Tugas guru secara umum dalam berbagai bidang studi adalah tugas
profesi, kemanusiaan dan kemasyarakatan. Kompetensi profesional antara lain
mengembangkan tanggung jawab, melaksanakan peranan-peranannya, mampu
bekerja dan berusaha mencapai tujuan pendidikan, mampu melaksanakan
perannya dalam proses belajar mengajar di sekolah, khususnya di kelas.
Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses pendidikan yang
bermutu. Untuk dapat menjadi profesional, guru harus mampu menemukan jati
diri dan mengaktualkan diri. Pemberian prioritas yang sangat rendah pada
pembangunan pendidikan selama beberapa puluh tahun terakhir berdampak
buruk yang sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

138

Profesionalitas seorang pendidik, termasuk guru agama Islam dalam


proses mengajar belajar, akan menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap
apa yang mesti dilakukan kepada siswa, dengan kemampuan yang dimiliki, ia
akan memberikan bimbingan yang maksimal, kontrol yang optimal terhadap
perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Seorang guru agama
yang profesional akan lebih berkonsentrasi terhadap etika atau moral
keagamaan dan tanggung jawab profesionalnya dibandingkan dengan yang
lainnya.
Sikap profesionalitas Guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon yang ditampilkan
adalah kesiapan mental individu untuk memberikan respon positif yang
dilandasi dengan kemampuan, komitmen, atau janji hati secara terbuka dan
kemauan untuk meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan berbagai tugas
guru di sekolah dan di lingkungan masyarakat.
Pengaruh profesional guru PAI dalam meningkatkan prestasi belajar siswa
dalam bidang studi PAI, hasil penelitian melalui wawancara dengan guru PAI
yaitu; guru PAI berupaya memahami perkembangan anak, menurutnya aspek
ini bukanlah pekerjaan mudah, sebab yang dipelajari bukanlah benda mati,
tetapi subjek individu yang dinamis berkembang terus menerus. Sikap
Profesionalitas yang dimiliki guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon adalah
kemampuan dalam menyusun assesment keterampilan proses, merupakan
proses pengumpulan informasi tentang penguasaan prosedur atau langkahlangkah pemerolehan dan pemrosesan informasi ilmiah yang dilakukan siswa.

139

Perkembangan setiap anak bervariasi, keanekaragaman itu disebabkan


oleh berbagai faktor yang sangat komplek. Karena itu memerlukan
pengetahuan dasar, kesabaran, keuletan, komitmen pada tugas, ketekunan,
semangat kerja dan kesediaan untuk selalu meningkatkan diri untuk
pelaksanaan tugas. Menurut Guru PAI SMAN 1 Cirebon, profesionalitas
adalah guru mesti memiliki pengetahuan dasar optimal, rasa cinta terhadap
tugas, semangat besar melaksanakan tugas dan dorongan kuat meningkatkan
kualitasnya akan berpengaruh langsung terhadap prestasi belajar siswanya.
Kegiatan yang dilakukan guru PAI dalam aspek ini adalah menyusun
instrument keterampilan proses, ini dilakukan dalam upaya meningkatkan
prestasi belajar siswa. Guru PAI di SMAN 1 Kota Cirebon terbiasa mengajar
dengan membuat RPP. Menurutnya guru yang memiliki pengetahuan dan
pengalaman, komitmen atau janji melaksanakan tugas untuk sang Khalik dan
makhluknya yaitu manusia dalam kegiatannnya akan nampak keinginan kuat
untuk meningkatkan kualitas kerjanya dan hal ini akan berpengaruh langsung
terhadap kemampuan dirinya dalam mempersiapkan kualitas pembelajarannya.
C. Prestasi Belajar Siswa Dalam Bidang Studi PAI SMAN 1 Kota Cirebon
Prestasi belajar merupakan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa
dalam menyelesaikan tahapan studi atau akhir studi. Tahapan studi yang biasa
dilakukan sekolah adalah catur wulan, semesteran, UAS dan UAN. Pada
setiap tahapan selalu

dilakukan penilaian dan pengukuran tingkat

keberhasilan belajar siswa dengan mengadakan tes, seperti tes formatif dan

140

tes sumatif. Tes formatif adalah penilaian kegiatan sehari-hari setelah jam
pelajaran berakhir. Tes ini dilakukan untuk mengukur kemampuan
pengetahuan dan keterampilan siswa pasca selesai bidang studi disampaikan
di kelas.
Sedangkan tes sumatif adalah tes yang dilakukan dalam tahapan
caturwulan, UAS dan UAN. Tes ini dilakukan untuk mengukur dan menilai
kemampuan siswa dalam aspek pengetahuan, pemahaman dan psikomotorik.
Hasil tes ini dituangkan berupa simbol-simbol angka dan huruf. Angka-angka
tersebut dituangkan dalam buku raport, transkip nilai atau ijazah.
Prestasi belajar PAI di sekolah umum bertujuan untuk menyiapkan siswa
agar memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan ajaran Islam
(doing), dan melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (being).
Dengan demikian, tujuan utama pendidikan agama Islam di sekolah umum
adalah keberagamaan, yaitu menjadi muslim yang sebenarnya. Keberagamaan
inilah yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Dari hasil penelitian tentang prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota
Cirebon dalam dua tahun terakhir ini melalui studi dokumentasi pada buku
rapor, hasil tes Sumatif, UAS menunjukan tahun ajaran 2007-2008 rata-rata
Nilai bidang studi PAI siswa kelas XII 80,45, dan pada tahun 2008-2009 ratarata 82,85. Terdapat peningkatan 1,80 dalam satu tahunnya. Secara kognitif
prestasi akademik PAI sudah dapat dikatakan baik, namun dari prestasi non

141

akademik yang terdiri dari: kurang minatnya siswa mengikuti kegiatan


keagamaan dan kurang berprestasi dalam perlombaan keagamaan; dan juga
dari aspek afektif masih kurang. Adanya peningkatan dari aspek kognitif dan
kurangnya dari aspek afektif ini, sehingga menjadi fokus penelitian untuk
mengetahui faktor apa yang menjadi pengaruhnya. Asumsi peneliti ingin
mencoba melihat dari faktor ketauladanan Guru PAI dan Profesionalitas Guru
PAI sebagai faktor independen dalam penelitian ini.

D. Pengujian Hipotesis Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru


PAI Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI (Studi Kasus di SMAN 1
Kota Cirebon)
Sebelum dilakukan analisis korelasi dan regresi, terlebih dahulu data akan
diuji tentang normalitas dan homogenitasnya. Untuk menguji apakah data
berasal dari populasi yang berdistribusi normal/ tidak. Pada penelitian ini untuk
pengujian normalitas untuk penyebaran skor atau data digunakan uji
Kolmogorov-Semirnov dan Kurva Plot Normal, adapun taraf signifikansinya 5
% (a= 0,05), digunakan sebagai dasar atau menerima keputusan normal atau
tidaknya suatu distribusi data. Hipotesis yang akan diajukan untuk uji
normalitas selanjutnya dikonfirmasikan dengan cara apabila nilai Sig < a
(0,05).
Hasil Uji normalitas distribusi data ketiga variabel dapat dilihat pada tabel
berikut ini:

142

Tabel 4.1
Tests of Normality
a

Kolmogorov-Smirnov
Statistic

df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

VAR00001

.121

90

.002

.937

90

.000

VAR00002

.140

90

.000

.806

90

.000

VAR00003

.140

90

.000

.806

90

.000

a. Lilliefors Significance Correction

Berdasarkan uji normalitas diatas, diperoleh nilai kenormalan data variabel


ketauladanan (X1) Sig sebesar 0,002, variabel profesionalitas (X2) Sig sebesar
0,000, dan variabel prestasi belajar PAI (Y) Sig sebesar 0,000. Sesuai dengan
kriteria nilai Sig dari ketiga variabel lebih kecil dari a (0,05), maka dapat
disimpulkan ketiga variabel data berdistribusi normal.
Kemudian untuk uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan teknik
Levene Statistic. Hasil analisis memberikan nilai F hitung sebesar 11.289
dengan probabilitas keliru (p) = 0,006, karena probabilitas keliru lebih kecil dari
taraf signifikansi (a)= 0,05, atau p < a, dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa variansi kelompok-kelompok populasi tidak berbeda secara signifikan.
Dengan demikian ketiga variabel penelitian berasal dari populasi yang homogen.
Hasil homogenitas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

143

Tabel 4.2
Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic

df1

11.289

df2
18

Sig.
50

.006

1. Kontribusi Ketauladanan Guru terhadap Prestasi Belajar PAI (X1)


Sebelum dianalisis tentang seberapa besar kontribusi ketauladanan guru
terhadap prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon, maka perlu dianalisis
terlebih dahulu data statistik deskriptif. Data deskriptif ini dimaksud untuk
dapat mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat
homogen atau tidak sehingga akan berpengaruh pada validitas data yang
digunakan. Untuk mengetahui homogenitas dan validitas data ini dianalisis dari
nilai rata-rata (mean) yang dibandingkan dengan standar deviasi pada setiap
variabel. Statistik deskriptif untuk ketiga variabel yang dihasilkan dari
pengolahan data melalui program SPSS 16 diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3
Descriptive Statistics
Mean

Std. Deviation

VAR00003

1285.634

64.282

90

VAR00001

1317.897

488.997

90

VAR00002

1564.901

62.757

90

Berdasarkan data deskriptif diatas diketahui bahwa dari jumlah kasus


yang diteliti adalah 90 responden, didapat nilai mean untuk X1 = 1317.897 dan
standar deviasi = 488.997, X2 = 1564.901 dan standar deviasi = 62.757, serta

144

Y = 1285.634 dan standar deviasi = 64.282, dengan nilai standar deviasi


yang semuanya lebih kecil dari nilai mean dapat menggambarkan bahwa data
variabel yang dihasilkan dari penelitian lebih homogen. Artinya bahwa
temuan penelitian diperoleh dari sumber yang sama, dan ini menunjukkan
validitas data yang dihasilkan.
Dengan berpedoman pada data hasil statistik deskriptif tersebut,
selanjutnya dapat dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian yang
telah dirumuskan. Hipotesis pertama dalam penelitian ini dirumuskan:
Terdapat kontribusi positif yang signifikan antara ketauladanan guru
terhadap peningkatan prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Untuk pengujian hipotesis tersebut dilakukan analisis korelasi dan regresi
ganda dengan dua prediktor terdiri dari: dua variabel X, yakni variabel
ketauladanan guru (X1), dan profesionalitas guru PAI (X2) dengan variabel Y
prestasi belajar PAI.
Sebelum dilakukan analisis regresi yang bermaksud untuk mengetahui
bagaimana kausalitas diantara variabel-variabel tersebut, terlebih dahulu
dilakukan pengujian dengan analisis korelasi, dengan maksud untuk
mengetahui apakah ada hubungan antara variabel X1 dengan Y, X2 dengan Y,
dan kedua variabel X1, X2 dengan Y. Hasil pengolahan data melalui program
SPSS 16 diperoleh hasil korelasi sebagaimana tampak dalam tabel berikut:

145

Tabel 4.4
Nilai Korelasi Hasil Pengujian Variabel X1 dengan Y
Correlations
VAR00001
VAR00 Pearson Correlation
001

VAR00002
1

Sig. (2-tailed)
N

90

90

.049

.732

**

.000

90

90

90

**

VAR00 Pearson Correlation

.216

003

.041

.000

90

90

90

002

Sig. (2-tailed)

.216

.041

.208

.208

.049

VAR00 Pearson Correlation


Sig. (2-tailed)

VAR00003

.732

90

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Untuk variabel ketauladanan guru pada matrix correlation diperoleh


angka 0,216 menunjukkan koefisien korelasi (r) antara variabel X1 dengan Y.
Angka 0,216 merupakan r hitung. Untuk menguji hipotesis yang diajukan
apakah diterima atau ditolak, melalui keputusan signifikansi ini. Dengan
ketentuan apabila signifikansi atau probabilitas dibawah atau sama dengan
0,05, maka H0 ditolak, artinya bahwa terdapat hubungan yang positif antara
ketauladanan guru dengan peningkatan prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota
Cirebon.
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka korelasi X1 dengan Y = 0,216
dan r tabel = 0,205 Setelah dibandingkan dengan r
besar daripada r

tabel

tabel

ternyata r

hitung

lebih

atau 0,216 0,205, maka Ho ditolak. Dengan demikian

146

dapat dijelaskan bahwa terdapat hubungan yang positif antara ketauladanan


guru dengan peningkatan prestasi belajar PAI sebesar 0,216 Artinya makin
besar tingkat ketauladanan guru dalam mendukung program pendidikan maka
semakin mendorong meningkatnya prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota
Cirebon.
Sedangkan untuk menyatakan seberapa besar kontribusi variabel
ketauladanan guru (X1) terhadap peningkatan prestasi belajar PAI (Y), diukur
dengan koefisien determinan dengan rumus =

x 100%, atau 0,2162 x 100

% = 4,7 %, ini menunjukkan nilai koefisien determinan. Artinya bahwa


ketauladanan guru memberikan kontribusi positif dan berpengaruh terhadap
peningkatan prestasi belajar PAI siswa di SMAN 1 Kota Cirebon sebesar 4,7

%, sisanya (95,3 %) adalah dari faktor variabel atau faktor lain yang tidak
diteliti dalam penelitian ini.
Selanjutnya Untuk mengetahui signifikansi atau keberartian hubungan
ketauladanan guru dengan prestasi belajar PAI tersebut, akan diketahui
dengan merumuskan hipotesis statistik sebagai berikut:
Ho = Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketauladanan guru
dengan prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Ha = Terdapat hubungan yang signifikan antara ketauladanan guru dengan
prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.

147

Hipotesis Statistiknya:
Ho: rx1y 0
Ha: rx1y = 0
Pengujian

dilakukan

dengan

satu

pihak,

maka

pengambilan

keputusannya didasarkan pada angka probabilitas:


Jika probabilitas 0,05 maka Ho diterima, yang berarti hubungannya tidak
signifikan.
Jika probabilitas 0,05 maka Ho ditolak, berarti hubungannya signifikan.
Untuk menemukan signifikansi hubungan tersebut dapat diketahui dari
koefisien korelasi, sebagaimana disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.5
Coefficientsa
Unstandardized Coefficients
Model

(Constant)
1
VAR00001
VAR00002
a.

Std. Error

Standardized
Coefficients
Beta

37.518

19.494

1.925

.117

.130

.067

.618

.064

.718

8980
9.654

Sig.
.058
.372
.000

Dependent Variable: VAR00003

Dari hasil pengolahan data melalui program SPSS, diketahui tingkat


signifikansi koefisien korelasi satu sisi (1-tailed) dari output (diukur dari
probabilitas) untuk variabel ketauladanan guru dengan variabel prestasi
belajar PAI menghasilkan angka Sig. 0,041 Oleh karena angka probabilitas
ini lebih kecil dari angka 0.050 maka Ho ditolak, yang berarti bahwa

148

ketauladanan guru memiliki hubungan erat signifikan dengan prestasi


belajar PAI siswa di SMAN 1 Kota Cirebon.
Untuk dapat mengetahui apakah penggunaan model regresi ini dapat
dipakai untuk memprediksi peningkatan prestasi belajar PAI, dapat
dianalisis dari tabel ANOVA sebagai berikut:
Tabel 4.6
ANOVAb

Model

Sum of Squares

Df

Mean Square

1 Regression

12349.335

6174.668

Residual

10532.220

87

121.060

Total

22881.556

89

a.
b.

F
51.005

Sig.
.000a

Dependent Variable: VAR00003


Predictors: (Constant), VAR00002, VAR00001

Berdasarkan tabel ANOVAb atau F test diatas, didapat f hitung adalah 51.005
dengan tingkat signifikansi .000a . Karena angka Sig 0.000 berada pada posisi
jauh dibawah angka 0.050, maka Ho ditolak. Artinya model regresi dapat
dipakai untuk memprediksi tinggi rendahnya peningkatan prestasi belajar PAI
di SMAN 1 Kota Cirebon.
Selanjutnya tabel coeffecients menggambarkan bahwa persamaan regresi
sebagai berikut: = a + b1 + X1 = 37.518 + .067 X1

149

Tabel 4.7
Coefficientsa
Unstandardized Coefficients
Model

1 (Constant)
VAR00001
VAR00002
b.

Std. Error

Standardized
Coefficients
Beta

37.518

19.494

1.925

.117

.130

.067

.618

.064

.718

8980
9.654

Sig.
.058
.372
.000

Dependent Variable: VAR00003

Nilai konstanta dari koefesien korelasi diperoleh angka sebesar 37.518.


Hal ini menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari variabel
ketauladanan guru (X1), maka prestasi belajar PAI siswa adalah 37.518 atau
37.00 point. Koefisien regresi X1 sebesar 0,67. Hal ini menyatakan bahwa
setiap terjadi penambahan satu skor atau satu nilai ketauladanan guru akan
dapat meningkatkan prestasi belajar PAI siswa sebesar 6,7 point.
Selanjutnya dilakukan uji t, hal ini dimaksudkan untuk menguji
signifikansi konstanta dan variabel (X1), yakni ketauladanan guru. Kriteria uji
koefisien regresi dari variabel kontribusi ketauladanan guru terhadap
peningkatan prestasi belajar PAI siswa adalah sebagai berikut:
Ho = Ketauladanan guru berpengaruh tidak signifikan terhadap peningkatan
prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Ha = Ketauladanan guru berpengaruh signifikan terhadap peningkatan prestasi
belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Hipotesis Statistiknya:
Ho: rx1y 0

150

Ha: rx1y = 0
Dasar pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai t tabel sebagai
berikut:
Jika nilai t hitung t tabel maka Ho ditolak, artinya koefisien regresi signifikan.
Jika nilai t

hitung

tabel

maka Ho diterima, artinya koefisien regresi tidak

signifikan.
Berdasarkan koefisien regresi X1 di atas diperoleh nilai t

hitung

sebesar 8.980

tingkat signifikansi (a) = 0,05 dk (n-2) = 90 2 = 88 dilakukan uji satu pihak,


sehingga diperoleh nilai t tabel adalah 1.658. Karena nilai t hitung t tabel atau 8.980
1.658 maka Ho ditolak, artinya bahwa ketauladanan guru berpengaruh positif
dan signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa di SMAN 1 Kota
Cirebon.
2. Kontribusi Profesionalitas Guru terhadap Prestasi Belajar PAI
Sebelum dianalisis tentang seberapa besar kontribusi profesionalitas guru
terhadap prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon, maka perlu dianalisis
terlebih dahulu data statistik deskriptif. Data deskriptif ini dimaksud untuk dapat
mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat homogen
atau tidak sehingga akan berpengaruh pada validitas data yang digunakan. Untuk
mengetahui homogenitas dan validitas data ini dianalisis dari nilai rata-rata
(mean) yang dibandingkan dengan standar deviasi pada setiap variabel. Statistik

151

deskriptif untuk ketiga variabel yang dihasilkan dari pengolahan data melalui
program SPSS 16, diperoleh hasil sebagai berikut
Tabel 4.8
Descriptive Statistics

VAR00003
VAR00001
VAR00002

Mean

Std. Deviation

1285.634

64.282

90

1317.897

488.997

90

1564.901

62.757

90

Berdasarkan data deskriptif diatas diketahui bahwa dari jumlah kasus yang
diteliti adalah 90 responden, didapat nilai mean untuk X1 = 1317.897 dan standar
deviasi = 488.997, X2 = 1564.901 dan standar deviasi = 62.757, serta Y = 1285.634
dan standar deviasi 64.282. Dengan nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai
mean dapat menggambarkan bahwa data variabel yang dihasilkan dari penelitian
lebih homogen. Artinya bahwa temuan penelitian diperoleh dari sumber yang
sama, dan ini menunjukkan validitas data yang dihasilkan.
Dengan berpedoman pada data hasil statistik deskriptif tersebut, selanjutnya
dapat dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian yang telah dirumuskan.
Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah: Profesionalitas guru PAI
berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar PAI
SMAN 1 Kota Cirebon.

152

Untuk pengujian hipotesis tersebut dilakukan analisis korelasi dan regresi


ganda dengan dua prediktor terdiri dari: dua variabel yakni variabel ketauladanan
guru (X1), dan profesionalitas guru (X2) terhadap prestasi belajar PAI (Y).
Sebelum dilakukan analisis regresi yang bermaksud untuk mengetahui
bagaimana kausalitas diantara variabel-variabel tersebut, terlebih dahulu
dilakukan pengujian dengan analisis korelasi, dengan maksud untuk mengetahui
apakah ada hubungan antara variabel X1 dengan Y, X2 dengan Y, dan kedua
variabel X1, X2 dengan Y. Hasil pengolahan data melalui program SPSS 16
diperoleh hasil korelasi sebagaimana tampak dalam tabel berikut:
Tabel 4.9
Nilai Korelasi Hasil Pengujian Variabel X2 dengan Y
Correlations
VAR00001
VAR00 Pearson Correlation
001

VAR00002
1

Sig. (2-tailed)
N

90

90

.049
90
*

90

**

003

.041

.000

90

90

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

**

90

.216

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

.732

.000

VAR00 Pearson Correlation

90

002

Sig. (2-tailed)

.216

.041

.208

.208

.049

VAR00 Pearson Correlation


Sig. (2-tailed)

VAR00003

.732

90

153

Dari data hasil pengujian correlations pada tabel 4.9 diatas diketahui
terdapat hubungan antara profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI
siswa SMAN 1 Kota Cirebon. Besarnya hubungan antar variabel tersebut
Untuk pada matrix korelasi diperoleh angka 0,732. Angka ini menunjukkan
koefisien korelasi (r) antara variabel X2 dengan Y. Angka 0,732 merupakan r
hitung.

Berdasarkan hasil pengolahan data, maka korelasi X2 dengan Y = 0,732


dan r tabel = 0,205 Setelah dibandingkan dengan r
besar daripada r

tabel

tabel

ternyata r

hitung

lebih

atau 0,732 0,205, maka Ho ditolak. Dengan demikian

dapat dijelaskan bahwa terdapat hubungan yang positif antara ketauladanan


guru dengan peningkatan prestasi belajar PAI sebesar 0,732 Artinya makin
besar tingkat profesionalitas guru dalam mendukung program pendidikan maka
semakin mendorong meningkatnya prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota
Cirebon.
Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya kontribusi profesionalitas
guru PAI terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota
Cirebon dapat diketahui dari koefisien determinan, dengan rumus =

x 100

%, atau 0,7322 x 100 % = 53 %, ini menunjukkan koefisien determinan.

Artinya bahwa profesionalitas guru terhadap peningkatan prestasi belajar PAI


di SMAN 1 Kota Cirebon memberikan kontribusi sebesar 53 %, sisanya 47 %
adalah dari faktor atau variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

154

Selanjutnya Untuk mengetahui signifikansi atau keberartian hubungan


profesionalitas guru dengan prestasi belajar PAI tersebut, akan diketahui
dengan merumuskan hipotesis statistik sebagai berikut:
Ho = Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara profesionalitas guru
dengan prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Ha = Terdapat hubungan yang signifikan antara profesionalitas guru dengan
prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon.
Hipotesis Statistiknya:
Ho: rx2y 0
Ha: rx2y = 0
Pengujian dilakukan dengan satu pihak, maka pengambilan keputusannya
didasarkan pada angka probabilitas:
Jika probabilitas 0,05 maka Ho diterima, yang berarti hubungannya tidak
signifikan.
Jika probabilitas 0,05 maka Ho ditolak, berarti hubungannya signifikan.
Untuk menemukan signifikansi hubungan tersebut dapat diketahui dari
koefisien korelasi, sebagaimana disajikan dalam tabel berikut:

155

Tabel 4.10
Coefficients

Standardized
Unstandardized Coefficients
Model

Std. Error

1 (Constant)

37.518

19.494

VAR00001

.117

.130

VAR00002

.618

.064

a.

Coefficients
Beta

Sig.

1.925

.058

.067

8980

.372

.718

9.654

.000

Dependent Variable: VAR00003

Dari hasil pengolahan data melalui program SPSS 16, diketahui tingkat
signifikansi koefisien korelasi satu sisi (1-tailed) dari output (diukur dari
probabilitas) untuk variabel profesionalitas guru PAI dengan variabel
prestasi belajar PAI menghasilkan angka Sig. 0.000. Oleh karena angka
probabilitas lebih kecil dari angka 0.050 maka Ho ditolak, yang berarti
bahwa profesionalitas guru memiliki hubungan erat yang signifikan dengan
peningkatan pretasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Untuk dapat mengetahui apakah penggunaan model regresi ini dapat
dipakai untuk memprediksi peningkatan prestasi belajar PAI, dapat
dianalisis dari tabel ANOVA sebagai berikut:

156

Tabel 4.11
b

ANOVA

Model

Sum of Squares

Df

Mean Square

1 Regression

12349.335

6174.668

Residual

10532.220

87

121.060

Total

22881.556

89

c.
d.

Sig.

51.005

.000

Dependent Variable: VAR00003


Predictors: (Constant), VAR00002, VAR00001

Berdasarkan tabel ANOVA atau F

test

diatas, diperoleh f

hitung

adalah

51.005 dengan tingkat signifikansi 0.000. Karena angka 0.000 berada pada
posisi jauh dibawah angka 0,050, maka Ho ditolak. Artinya model regresi
dapat dipakai untuk memprediksi peningkatan prestasi belajar PAI di SMAN
1 Kota Cirebon.

Selanjutnya tabel coeffecient menggambarkan bahwa persamaan regresi


sebagai berikut: = a + b1 + X2 = 37.518 + 0,718 X2
Tabel 4.12
Cooffecient
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model

Std. Error

1 (Constant)

37.518

19.494

VAR00001

.117

.130

VAR00002

.618

.064

a.

Coefficients
Beta

Sig.

1.925

.058

.067

8980

.372

.718

9.654

.000

Dependent Variable: VAR00003

Nilai konstanta dari koefisien korelasi diperoleh angka sebesar 37.518


Hal ini menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari variabel

157

ketauladanan guru (X1), maka prestasi belajar PAI siswa adalah 37.518 atau
37.00 point. Koefesien regresi sebesar 0,718 .menyatakan bahwa setiap
terjadi penambahan satu skor atau satu nilai ketauladanan guru akan dapat
meningkatkan prestasi belajar PAI siswa sebesar 7.18 point.
Selanjutnya dilakukan uji t, hal ini dimaksudkan untuk menguji
signifikansi konstanta dan variabel dependen (prestasi belajar PAI). Kriteria
uji koefisien regresi dari variabel profesionalitas guru terhadap peningkatan
prestasi belajar PAI siswa adalah sebagai berikut:
Ho = Profesionalitas guru tidak signifikan terhadap peningkatan prestasi
belajar PAI siswa
Ha

= Profesionalitas guru berpengaruh signifikan terhadap peningkatan


prestasi belajar PAI siswa.

Hipotesis Statistiknya:
Ho: rx2y 0
Ha: rx2y = 0
Dasar pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai t

tabel

sebagai

berikut:
Jika nilai t hitung t tabel maka Ho ditolak, artinya koefisien regresi signifikan.
Jika nilai t
signifikan.

hitung

tabel

maka Ho diterima, artinya koefisien regresi tidak

158

Berdasarkan koefisien regresi di atas diperoleh nilai t

hitung

sebesar 9.654

tingkat signifikansi (a) = 0,05 dk (n-2) = 90 2 = 88 dilakukan uji satu pihak,


sehingga diperoleh nilai t

tabel

adalah 1.658 Karena nilai t

hitung

tabel

atau

9.654 1.658 maka Ho ditolak, artinya bahwa profesionalitas guru


berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar PAI
siswa di SMAN 1 Kota Cirebon.
3. Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru PAI terhadap Peningkatan
Prestasi Belajar PAI
Berbeda dengan pengujian hipotesis pertama dan kedua, dimana
pengujian keduanya dilakukan dengan korelasi dan regresi sederhana dan
menguji satu pihak. Pada pengujian hipotesis ketiga ini, yakni hipotesis yang
menyatakan bahwa Ketauladanan Guru (X1) dan Profesionalitas Guru PAI
(X2) memberikan pengaruh positif secara signifikan terhadap peningkatan
Prestasi Belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon. Oleh karena pada
pengujian hipotesis ini terdiri dari tiga variabel secara bersama-sama
(simultan), maka pengujiannya digunakan statistik korelasi dan regresi ganda
melalui program SPSS 16.
Namun demikian, sebelum dianalisis tentang apakah ketauladanan guru
dan profesionalitas guru berkontribusi dan berpengaruh terhadap prestasi
belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon, perlu dianalisis data statistik
deskriptif serta hubungan korelasional kedua variabel tersebut. Data deskriptif
ini dimaksud untuk dapat mengetahui apakah data yang digunakan dalam
penelitian ini bersifat homogen atau tidak, sehingga akan berpengaruh pada

159

validitas data yang digunakan. Untuk mengetahui homogenitas dan validitas


data ini dianalisis dari nilai rata-rata (mean) yang dibandingkan dengan
standar deviasi pada setiap variabel. Statistik deskriptif untuk kedua variabel
yang dihasilkan dari pengolahan data melalui program SPSS 16 diperoleh
hasil sebagai berikut:
Tabel 4.13
Descriptive Statistics
Mean

Std. Deviation

VAR00003

1285.634

64.282

90

VAR00001

1317.897

488.997

90

VAR00002

1564.901

62.757

90

Berdasarkan data deskriptif diatas diketahui bahwa dari jumlah kasus yang
diteliti adalah 90 responden, didapat nilai mean untuk X1 = 1317.897 dan
standar deviasi = 488.997, X2 = 1564.901 dan standar deviasi = 62.757, serta Y
= 1285.634 dan standar deviasi 64.282. Dengan nilai standar deviasi yang lebih
kecil dari nilai mean dapat menggambarkan bahwa data ketiga variabel yang
dihasilkan dari penelitian lebih homogen. Artinya bahwa temuan penelitian
diperoleh dari sumber yang sama, dan ini menunjukkan validitas data yang
dihasilkan.
Dengan berpedoman pada data hasil statistik deskriptif tersebut,
selanjutnya dapat dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian yang telah
diumuskan. Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah: Ketauladanan guru

160

(X1) dan profesionalitas guru PAI (X2) memberikan kontribusi positif dan
berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa
SMAN 1 Kota Cirebon. Untuk pengujian hipotesis tersebut dilakukan analisis
korelasi dan regresi ganda dengan dua prediktor, yakni dua variabel X:
Ketauladanan guru (X1), dan Profesionalitas guru PAI (X2) dengan variabel Y
prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Untuk pengujian hipotesis tersebut dilakukan analisis korelasi dan regresi
ganda dua prediktor terdiri dari dua variabel X, yakni variabel ketauladanan
guru (X1), dan profesionalitas guru PAI (X2) dengan variabel Y prestasi
belajar PAI.
Sebelum dilakukan analisis regresi yang bermaksud untuk mengetahui
bagaimana kausalitas diantara variabel-variabel tersebut, terlebih dahulu
dilakukan pengujian dengan analisis korelasi, dengan maksud untuk
mengetahui apakah ada hubungan antara variabel X dengan variabel Y, baik
variabel X1 dengan Y, variabel X2 dengan Y, dan kedua variabel X1 dan X2
secara bersama-sama dengan variabel Y. Hasil pengolahan data melalui
program SPSS 16, diperoleh hasil korelasi sebagaimana tampak dalam tabel
berikut:

161

Tabel 4.14
b

Model Summary
Model

R Square
.671

Adjusted R Square

.450

Std. Error of the Estimate

.437

5030.42261

a. Predictors: (Constant), VAR00003, VAR00001


b. Dependent Variable: VAR00002

Untuk variabel ketauladanan dan profesionalitas guru pada matrix


correlation R = 0,671 dan dari data hasil pengujian Model Summary diperoleh
R = 0,671. Angka ini menunjukkan koefisien korelasi R antara variabel X 1 dan
X2 dengan Y. Setelah dibandingkan dengan r
daripada r

tabel

tabel

ternyata r

hitung

lebih besar

atau 0,671 0,205, maka Ho ditolak. Dengan demikian dapat

dijelaskan bahwa terdapat hubungan yang positif antara ketauladanan dan


profesionalitas guru secara simultan dengan peningkatan prestasi belajar PAI
sebesar 0,671. Artinya makin besar tingkat profesionalitas guru dalam
mendukung program pendidikan maka semakin mendorong meningkatnya
prestasi belajar PAI di SMAN 1 Kota Cirebon. Hal ini menunjukkan terdapat
hubungan yang sangat erat antara ketauladanan dan profesionalitas guru PAI
secara simultan dengan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya kontribusi ketauladanan
dan profesionalitas guru PAI terhadap prestasi belajar PAI dapat diketahui dari
koefisien determinan, R Square = 0,450 atau 45,0 %. Artinya bahwa
ketauladanan guru serta profesionalitas guru PAI secara bersama-sama

162

memberikan kontribusi positif dan berpengaruh terhadap prestasi belajar


PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon sebesar 45,0 %, sisanya 55,0 %
terbentuknya prestasi belajar PAI tersebut disebabkan oleh variabel atau
faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi atau keberartian hubungan
ketauladanan dan profesionalitas guru PAI terhadap prestasi belajar PAI
siswa SMAN 1 Kota Cirebon tersebut akan diketahui dengan merumuskan
hipotesis statistik sebagai berikut:
Ho = Tidak ada hubungan yang signifikan antara ketauladanan dan
profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI.
Ha = Terdapat hubungan yang signifikan antara ketauladanan dan
profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI.
Hipotesis Statistiknya:
Ho: rx1x2y 0
Ha: rx1x2y = 0
Pengujian

dilakukan

dengan

satu

pihak,

maka

pengambilan

keputusannya didasarkan pada angka probabilitas:


Jika probabilitas 0,05 maka Ho diterima, yang berarti hubungannya tidak
signifikan.
Jika probabilitas 0,05 maka Ho ditolak, berarti hubungannya signifikan.

163

Tabel 4.15
Cooffecient
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model

Std. Error

1 (Constant)

37.518

19.494

VAR00001

.117

.130

VAR00002

.618

.064

a.

Coefficients
Beta

Sig.

1.925

.058

.067

8980

.372

.718

9.654

.000

Dependent Variable: VAR00003

Dari hasil pengolahan data melalui program SPSS 16, diketahui tingkat
signifikansi koefisien korelasi satu sisi (2-tailed) dari out (diukur dari
probabilitas) untuk variabel ketauladanan guru (X1), dan profesionalitas guru
PAI (X2) dengan variabel prestasi belajar PAI (Y), menghasilkan angka
Sig.0,000. Oleh karena angka probabilitas (0,000) ini berada jauh dibawah
angka 0,050 maka Ho ditolak atau Ha diterima, yang berarti bahwa
ketauladanan guru dan profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI
memiliki hubungan sangat erat dan signifikan terhadap peningkatan prestasi
belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Untuk dapat mengetahui apakah penggunaan model regresi ini dapat
dipakai untuk memprediksi peningkatan prestasi belajar PAI siswa, dapat
dianalisis dari tabel ANOVA sebagai berikut:

164

Tabel 4.16
ANOVA

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

1 Regression

12349.335

6174.668

Residual

10532.220

87

121.060

Total

22881.556

89

Sig.

51.005

.000

a. Dependent Variable: VAR00003


b. Predictors: (Constant), VAR00002, VAR00001

Berdasarkan tabel ANOVA atau F

test

diatas, diperoleh f

hitung

adalah

51.005 dengan tingkat signifikansi 0.000. Karena angka 0.000 berada pada
posisi jauh dibawah angka 0,050, maka Ho ditolak. Artinya model regresi
dapat dipakai untuk memprediksi peningkatan prestasi belajar PAI di SMAN 1
Kota Cirebon. Selanjutnya tabel coeffecient menggambarkan bahwa persamaan
regresi sebagai berikut: = a + b1 + X2 = 37.518 + 0,718 X2
Tabel 4.17
Cooffecient
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

Std. Error

(Constant)

37.518

19.494

VAR00001

.117

.130

VAR00002

.618

.064

a.

Coefficients
Beta

Sig.

1.925

.058

.067

8980

.372

.718

9.654

.000

Dependent Variable: VAR00003

Nilai konstanta dari koefisien korelasi diperoleh angka sebesar 37.518.


Hal ini menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari variabel
ketauladanan guru (X1), dan profesionalitas guru PAI (X2), maka nilai

165

keduanya 3.7 point. Koefesien regresi X1 dan X2 sebesar 0,067 dan 0,718. Hal
ini menyatakan bahwa setiap terjadi penambahan satu skor atau nilai
ketauladanan guru dan profesionalitas guru PAI akan dapat menambah
kenaikan nilai prestasi belajar PAI sebesar 0.67 dan 7.18 point.
Selanjutnya dilakukan uji t, hal ini dimaksudkan untuk menguji
signifikansi konstanta dan variabel dependen (prestasi belajar PAI). Kriteria
uji koefisien regresi dari variabel ketauladanan guru dan profesionalitas guru
PAI terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa adalah sebagai berikut:
Ho

= Ketauladanan dan Profesionalitas guru PAI berpengaruh tidak


signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN
1 Kota Cirebon

Ha

= Ketauladanan dan Profesionalitas guru PAI berpengaruh signifikan


terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota
Cirebon.

Hipotesis Statistiknya:
Ho: rx1x2y 0
Ha: rx1x2y = 0
Dasar pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai t

tabel

sebagai berikut:
Jika nilai t hitung t tabel maka Ho ditolak, artinya koefisien regresi signifikan.

166

Jika nilai t

hitung

tabel

maka Ho diterima, artinya koefisien regresi tidak

signifikan.
Berdasarkan koefisien regresi X1 dan X2 diperoleh nilai t

hitung

sebesar

1.925. Tingkat signifikansi (a) = 0,05 dk (n-2) = 90 2 = 88 dilakukan uji


satu pihak, sehingga diperoleh nilai t
t

tabel

tabel

adalah 1.658. Karena nilai t

hitung

atau 1.925 1.658 maka Ho ditolak, artinya bahwa ketauladanan

dan profesionalitas guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap


peningkatan prestasi belajar PAI siswa di SMAN 1 Kota Cirebon.

E. Pembahasan Hasil Penelitian


1. Kontribusi Ketauladanan Guru terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI
Siswa SMAN1 Kota Cirebon.
Dari hasil penelitian tentang ketauladanan guru PAI SMAN 1 Kota
Cirebon melalui penyebaran kuesioner atau angket terhadap 90 subjek
penelitian, dari 40 item diperoleh angka untuk variabel ketauladanan guru
PAI yaitu; nilai mean 1317.897 dan nilai std.deviation 488.997. Berpijak
dari angka nilai modus 148, nilai median 147 dan nilai rata-rata 145, ini
menunjukan bahwa sikap peserta didik terhadap ketauladanan Guru PAI
SMAN 1 Kota Cirebon menunjukan sikap keragaman dalam memberikan
jawaban terhadap perbuatan, penampilan, pemikiran dan perkataan yang
ditampilkan guru dalam kesehariannya di sekolah.

167

Temuan lain yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa koefisien
korelasi ketauladanan guru terhadap prestasi belajar PAI siswa dalam
kategori rendah. Temuan ini diperoleh angka korelasi sebesar r = 0,216.
Berdasarkan pedoman dalam memberikan interpretasi terhadap angka 0,216
berada diantara 0,20-0,40, yang artinya antara variabel X1 dengan Y terdapat
korelasi pada tarap rendah. Sedangkan sisanya berasal dari variabel lain
yang ikut berkontribusi kepada prestasi belajar PAI. Selanjutnya
berdasarkan uji determinasi diperoleh data bahwa ketauladanan memberi
kontribusi sebesar 4,7 % terhadap prestasi belajar PAI, sekalipun faktor
yang lain tetap berkontribusi terhadap prestasi belajar PAI.
Sehubungan dengan itu, maka untuk meningkatkan ketauladanan guru
dalam rangka meningkatkan prestasi belajar PAI siswa, maka hal-hal yang
perlu dilakukan guru adalah:
Pertama, guru harus menegakkan ketauladanan, membenahi diri
mengenai penguasaan pengetahuan tentang ketauladanan, sehingga dengan
ketauladanan guru menjadi panutan bagi para siswa walaupun hanya
bertatap muka dengan guru dalam proses pembelajaran di sekolah.
Ketauladanan guru itu meliputi, cara guru berbicara, sikap yang lemah
lembut, mampu mengendalikan diri dari kemarahan yang berlebihan,
membelajarkan kepada siswa bagaimana bersikap sopan santun, mampu
mengendalikan emosi dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga siswa
menjadikan model dalam setiap perbuatan guru. Kedua, guru hendaknya
tidak selalu berfungsi sebagai pimpinan atau atasan, melainkan juga harus

168

mampu menyesuaikan pada kondisi-kondisi tertentu, sehingga sewaktuwaktu dapat berfungsi sebagai teman, pengayom, pembina, pengawas, dan
boleh jadi bertindak sebagai orang tua.
Pentingnya ketauladanan, mengingat pendidikan dilakukan oleh dua
pribadi, dalam arti pribadi guru dan murid. Membangun hubungan erat dan
berkesinambungan mesti diawali dan dihiasi dengan saling percaya, kasih
sayang dengan pribadi masing-masing, hampir dapat dipastikan komunikasi
dan proses pembelajaran akan terbentuk dengan sempurna. Hal ini
sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Tafsir, bahwa metode pendidikan
Islam berpusat pada ketauladanan dan secara psikologis ternyata manusia
memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini adalah sifat
pembawaan.

Menyikapi tindakan yang dilakukan oleh guru dalam proses


pendidikan, Dewantara dalam Dedi Supriadi menjelaskan sebagai berikut:
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Ing ngarso sung tulodo mengandung makna bahwa keseluruhan sikap,
tingkah laku, dan perbuatan seorang guru harus sesuai dengan norma yang
berlaku, sehingga siswa menjadikan guru sebagai teladan, panutan dan
mengikutinya.

Dengan demikian ketauladanan guru PAI di SMAN 1 Kota Cirebon


perlu ditingkatkan lagi, hal ini dapat menggiring prestasi belajar PAI

169

terutama dalam aspek afektif atau sikap siswa kepada akhlak yang baik.
Ketauladanan merupakan cerminan sikap dan prilaku baik yang
ditampilkan guru agama Islam didalam lingkungan sekolah dan diluar
lingkungan sekolah.

2. Kontribusi Profesionalitas Guru terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI


Siswa SMAN 1 Kota Cirebon
Dari hasil penelitian tentang profesionalitas guru PAI SMAN 1 Kota
Cirebon melalui penyebaran kuesioner atau angket terhadap 90 subjek
penelitian, setelah dilakukan proses kuantifikasi data yaitu mengubah data
kualitatif kepada data yang bersifat kuantitatif diperoleh angka untuk
variabel X2 yaitu nilai mean 1564.901 dan nilai std deviation 62.757.
Berpijak dari angka nilai modus 154, nilai median 152 dan nilai rata-rata
153, ini menunjukan bahwa sikap peserta didik terhadap profesionalitas
guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon berada pada level positif dan respon
tinggi.
Kontribusi profesionalitas guru PAI terhadap prestasi belajar PAI, hal
ini menggambarkan bahwa prestasi belajar PAI siswa ditentukan oleh faktor
profesionalitas guru PAI, diperoleh koefisien kontribusi korelasi sebesar r =
0,732, Berdasarkan pedoman dalam memberikan interpretasi terhadap angka
0,732 berada diantara 0,60-0,799, yang artinya antara variabel X2 dengan Y
terdapat korelasi pada tarap kuat/ tinggi. Dengan demikian bertanda positif
antara profesionalitas guru PAI terhadap prestasi belajar PAI.

170

Selanjutnya berdasarkan uji determinasi diperoleh data bahwa


profesionalitas guru PAI memberi dukungan angka sebesar 0,53. Ini berarti
profesionalitas guru PAI berkontribusi 53 % terhadap prestasi belajar PAI,
sekalipun faktor yang lain tetap berkontribusi terhadap prestasi belajar PAI.
Dengan demikian profesionalitas guru PAI di SMAN 1 Kota Cirebon perlu
dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi, seperti peningkatan kemampuan
untuk menyajikan pelajaran, memperhatikan kebutuhan dan karakteristik
awal kemampuan siswa sampai remedial. Masih ada sebagian kecil
ditemukan manajemen guru PAI di SMAN 1 Kota Cirebon bertaraf rendah,
ini dipengaruhi oleh faktor lain misalnya kualifikasi akademik, kurangnya
minat membaca buku yang relevan, dan tidak mampu memanfaatkan
teknologi/ media pembelajaran.
Guru yang profesional dalam proses mengajar belajar, akan
menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap apa yang mesti dilakukan
kepada siswa, dengan kemampuan yang dimiliki, ia akan memberikan
bimbingan yang maksimal, kontrol yang optimal terhadap perkembangan
kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.

3. Kontribusi Ketauladanan dan Profesionalitas Guru PAI


Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa SMAN 1 Kota Cirebon

terhadap

Dari hasil penelitian tentang ketauladanan guru dan profesionalitas


guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon terhadap peningkatan prestasi belajar
PAI, melalui penyebaran kuesioner atau angket terhadap 90 subjek
penelitian, setelah dilakukan proses kuantifikasi data yaitu mengubah data

171

kualitatif kepada data yang bersifat kuantitatif diperoleh angka untuk


variabel Y yaitu nilai mean 1285.634 dan nilai std deviation 64.282.
Berpijak dari angka nilai modus 149, nilai median 148 dan nilai rata-rata
150, ini menunjukan bahwa sikap peserta didik terhadap ketauladanan dan
profesionalitas guru terhadap prestasi belajar PAI SMAN 1 Kota Cirebon
berada pada level positif dan respon tinggi.
Ketauladanan dan profesionalitas guru PAI secara bersama-sama
berkontribusi terhadap prestasi belajar PAI siswa, dengan koefisien
sebesar R = 0,671. Berdasarkan pedoman dalam memberikan interpretasi
terhadap angka indeks korelasi, maka angka 0,671 berada diantara 0,60
0,799, yang artinya kontribusi variabel X1 dan X2 terhadap Y dalam
kategori kuat/ tinggi.
Dengan demikian faktor ketauladanan dan profesionalitas guru PAI
berkontribusi positif secara bersama-sama sebesar 45 % terhadap prestasi
belajar siswa dalam Bidang Studi Agama Islam di SMAN 1 Kota Cirebon,
adapun 55 % lagi adalah dari faktor atau variabel lain yang tidak diteliti
dalam penelitian ini.
Faktor ketauladanan dan profesionalitas guru PAI merupakan dua
kriteria untuk meningkatkan prestasi belajar PAI siswa. Ketauladanan
merupakan cerminan sikap dan prilaku yang baik yang ditampilkan guru
agama Islam didalam lingkungan sekolah dan diluar lingkungan sekolah.
Sedangkan profesionalitas guru menuntut kompetensi guru sebagai guru
yang profesional dalam bentuk kemampuan dalam proses perencanaan

172

pembelajaran, pengorganisasian, strategi pembelajaran, menggunakan


media sampai kepada mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Semua
pernyataan diatas memberikan kontribusi yang baik dalam meningkatkan
prestasi belajar PAI, terutama pada aspek afektif siswa menuju akhlah
yang baik dimasa yang akan datang.
Peneliti menemukan faktor lain di lapangan yang belum mendapat
perhatian yang memadai dari para guru pendidikan agama Islam, yaitu
kekurang mampuan menggunakan media pembelajaran, yang dapat
menunjang pembelajaran, baik yang berhubungan dengan elektronik atau
lainnya. Memanfaatkan media pendidikan merupakan tuntutan kompetensi
guru sebagai pelatih dan sebagai pendidik. Dalam hal ini guru harus
mampu membuat ide-ide baru atau agent of change dalam dunia
pendidikan,

agar

perkembangan

teknologi

tidak

salah

dalam

menggunakannya.
Sebagian kecil para guru kurang memperhatikan buku-buku yang
relevan, sebagai literatur tambahan dalam proses mengajar belajar, yang
dipakai hanya satu paket saja, buku panduan siswa sama dengan guru, dan
guru memadakan apa adanya.
Ternyata kontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa
guru yang menunjukkan ketauladanan bagi siswanya, sekaligus menuntut
keprofesionalan sebagai pendidik untuk mencetak generasi yang berilmu.
pengetahuan, terampil, beriman dan berakhlak mulia sebagaimana
dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional.

173

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hasil penelitian tentang ketauladanan dan profesionalitas guru PAI
terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Ketauladanan guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon sudah dapat dikatakan
memiliki ketauladanan yang baik, walaupun demikian masih terus
ditingkatkan dan sangat penting diperhatikan. Ketauladanan guru sangat
penting diperhatikan dan dipertahankan, walaupun interaksi antara guru
dan siswa hanya relatif singkat, yaitu di lingkungan sekolah, namun
sangat memberi arti terhadap perkembangan afektif siswa. Guru
merupakan figur bagi siswa, apa yang dikatakan guru itulah yang
utama, tidak hanya ucapan namun diaflikasikannya dalam perbuatan
dimanapun ia berada, khususnya di lingkungan sekolah, prilaku guru
akan semakin mewarnai perkembangan akhlak siswa menjadi
berakhlakul karimah yang merupakan aspek yang paling penting dari
prestasi belajar PAI.
2. Profesionalitas guru PAI SMAN 1 Kota Cirebon sudah dapat
dikategorikan baik. Hal ini dapat dilihat dari manajemen pembelajaran
yang dilakukan oleh guru PAI dalam proses pembelajaran, dan ini
merupakan bagian penting dalam meningkatkan prestasi belajar PAI.

174

Proses mengajar belajar di kelas merupakan inti dari pendidikan,


sebagai tugas pokok dalam pembelajaran. Guru yang profesional dalam
proses pembelajaran, imbasnya, siswa menjadikan gurunya sebagai
tokoh yang tidak dilupakan sepanjang zaman, dapat membangun
karakter atau akhlak siswa kearah yang lebih terkendali dan Islami,
pada saat ini dan masa yang akan datang. Pembinaan guru Pendidikan
Agama Islam dengan adanya sistem KTSP, menuntut guru mampu
membangun konsep sendiri dalam mengembangkan ide-ide dengan
karakteristik dan kebutuhan siswa (caracter building).
3. Berdasarkan hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang cukup kuat (0,671) dan signifikan antara ketauladanan
dan profesionalitas guru PAI dengan prestasi belajar PAI siswa SMAN
1

Kota

Cirebon.

Dengan

demikian

faktor

ketauladanan

dan

profesionalitas guru PAI berpengaruh positif dan memberi kontribusi


secara bersama-sama sebesar 45 % terhadap peningkatan pretasi belajar
siswa dalam Bidang Studi Agama Islam di SMAN 1 Kota Cirebon,
adapun sisanya (55 %) adalah diluar dari faktor ketauladanan dan
profesionalitas guru PAI. Makin baik ketauladanan dan profesionalitas
guru PAI, akan semakin berpengaruh positif terhadap peningkatan
prestasi belajar PAI siswa SMAN 1 Kota Cirebon.

175

B. REKOMENDASI ILMIAH
Berdasarkan kesimpulan hasil temuan penelitian diatas, dapat disimpulkan
rekomendasi sebagai berikut:
1. Guru-guru diharapkan menjadi contoh teladan, memberikan keteladanan
dalam perkataan, sikap dan perbuatan, sehingga akan dapat memberikan
kontribusi yang positif dalam meningkatkan prestasi belajar PAI yang
didalamnya tercakup aspek kognitif (knowing), afektif (being) dan
psikomotorik (doing) siswa kearah yang lebih baik dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Guru-guru

diharapkan

untuk

dapat

meningkatkan

profesionalitas

pembelajaran di kelas, sebagai suatu kegiatan interaksi proses


pembelajaran didalam mengembangkan bakat dan kemampuan siswa
untuk masa depan. Guru yang profesional akan memberi kontribusi
terhadap generasi yang berakhlak karimah dan berilmu pengetahuan
sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
3. Adanya hubungan dan pengaruh yang kuat antara ketauladanan dan
profesionalitas guru PAI terhadap prestasi belajar PAI, kiranya dapat
dijadikan preferensi bagi para guru umumnya, untuk lebih dapat
meningkatkan ketauladanan dan profesionalitasnya sebagai pendidik.
Bagi Kepala sekolah, diharapkan senantiasa mengutamakan dan menjadi
perhatian pada aspek profesionalitas guru, melalui kegiatan-kegiatan
MGMP (musyawarah guru mata pelajaran), seminar, diklat, memberi
kesempatan pendidikan dan pelatihan secara merata.

176

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. Peraturan Pmerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standarisasi


Pendidikan Nasional. Yudistira, Jakarta.
Akadum . 1999. http: // word press, Wednesday, Des 2009.
Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional; Perinsip, Tekhnik-Prosedur.
Remaja Rosdakarya, Bandung.
Arikunto,Suharsimi , 1993. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta.
Asmani, Mamur, Jamal, 2009.Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif dan
Inovatif. Difa Press, Yogyakarta.
Ali, Abdullah, 2007. Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah.
STAIN Cirebon Press, Yogyakarta,
Badudu, J.S dan Zain, Sutan Muhammad, 2001. Kamus Umum Bahasa
Indonesia . Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Bloom, S. Benyamin, 1981. Taxanomy of Education Objectives. Longman,
London.
Carver. C. & Scheier. M. 2001, Perspectives on Personality (5 th ed) , Boston:
Pearson.
Chaplin, P., 1999. Dictionary of Psycology. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Crow and Crow, 1996. Pengantar Ilmu Pendidikan. Edisi III. Rake Surasi,
Yogyakarta.
Danim, Sudarwan, 2002. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan
Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Pustaka Setia, Bandung.
Daulay, Putra, Haidar, 2004. Dinamika Pendidikan Islam. Citapustaka Media,
Bandung.
De Poerter, Bobi, 2000.Quantum Teaching; Orchestrating Student success. terj.
Ari Nilandari, Kaifa, Bandung.
Departemen Agama RI, 2001. Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.
Departemen Agama RI. 1990. Al-Quran dan Terjemahan. Madinah AlMunawwarah: Mujamma Al-Malik Fahd.

177

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2006. Undang-Undang dan Peraturan


Pemerintah RI tentang Pendidikan . Departemen Agama RI, Jakarta.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2006. Undang-Undang dan Peraturan
Pemerintah RI tentang Pendidikan. Departemen Agama RI, Jakarta.
Ditjen PMPTK, 2007. Pedoman Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Nasional.
Depdiknas, Jakarta.
Djatnika, Rahmat, 1996. Sistem Etika Islami: Akhlak Mulia Pustaka Panjimas,
Jakarta.
Mulyasa E. , 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Remaja Rosda
Karya, Cet III, Bandung.
Echols, John, M dan Shadily, Hasan, 2003. Kamus-Inggris-Indonesia.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Edward, Sallis, 2006. Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu
Pendidikan (Alih Bahasa Ahmad Ali Riyadi & Fahrus Rozi, Incisod, Yogyakarta.

Fajar, Malik, A, 2001. Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan


Sumber Daya Manusia. Logos, Jakarta.
Fuad bin Abdul Azis Al-Syalhub, 2005. Panduan Praktis Bagi Para pendidik
Quantum Teaching, 38 Langkah Belajar Mengajar EQ Cara Nabi SAW.
Zikrul Hakim, Jakarta.
Hair, Dkk. 2000, Multivariate Data Analysis. 4 th, New Jersey: Prentice Hall,
Kaifa, Bandung.
Hamzah Yaqub, 1985. Etika Islam Pembinaan Akhlakul Karimah: Suatu
Pengantar, Diponegoro, Bandung.
Hasan AM, 2001. http: // word press, Wednesday, Des 2009.
Http;//www,akhmad sudrajat.co.id.Download; Sunday; 10.30 a.m Aug 2009.
Isa Muhammad bin Isa bin Surah, 1995. Al-Jamius Shahih Wa-Huwa Sunan at
Tirmidzy . Darul Kutub Alamiyah, Juz 7, Beirut, Libanon.
Murshell J. & S. Nasution, 2006. Mengajar Dengan Sukses, Bumi Aksara, Cet
IV, Jakarta.
Guilford. J.P, 1950, Fundamental Statistics in Pschology and Education, Edisi
ke II, MC Graw Hill Book Compary inc, Newyork.
Jerves, Petter, 1983. Standars and Competencies, Kogon Page, London.

178

Kusnandar, 2008. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, Rajawali Pers,
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Muhaimin, 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Muhammad Abd al-Qadir Ahmad. 1980. Thuruq al-Tarbiyah al-Islamiyyah.
Maktabah al-Nahdlah al-Mishyyah, Kairo.
Mukhtar, 2003. Desain Pembelajaran PAI. Mitsaqan Ghaliza, Bandung.
Muhaimin, 2009. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Nata Abudin, 2001. Persfektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid .
Raja Grafindo, Jakarta .
Nurdin, Syafaruddin, 2005. Guru Profesional
Kurikulum,.Quantum Teaching, Jakarta.

dan

Implementasi

Nuruhbiyah, 1987. Ilmu Pendidikan Islam. Pustaka Setia, Bandung.


Permadi, Dadi, 2008. Kepemimpinan Mandiri (Profesional) Kepala Sekolah.
Sarana Panca Karya, Bandung.
Pidarta, Made, 2005. Peranan Kepala Sekolah pada Pendidikan Dasar,
Gramedia, Jakarta.
Prayitno, 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Grasindo, Jakarta.
Rahmadana, Fitri, M., , 2006. SPSS 12.0 For Windows. Citapustaka Media,
Cet. 1, Bandung.
Ramayulis, 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Kalam Mulia, Jakarta.
Riduwan, 2004. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti
Pemula. Alfabeta, Bandung.
Sambas Ali Muhidin, Maman Abdurahman, 2007. Analisis Korelasi, Regresi,
dan Jalur Dalam Penelitian, Pustaka Setia, Bandung.
Sidi DJati Indra, 2003. Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma
Baru Pendidikan. Logos Wacana Ilmu, Jakarta.
Sjarkawi, 2008. Pembentukan Kepribadian Anak, Peran Moral, Intelektual,
Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri.
Bumi Aksara, Jakarta.

179

Sondang P. Siagian. 2005, Teori dan Praktek Kepemimpinan", Rineka Cipta,


Jakarta.
Sudijono, Anas,
Yogyakarta.

1986. Teknik dan Evaluasi Pendidikan. UD Rama,

Sudjana, 2002. Desain Instructional. Proyek Pengembangan Pusat, Jakarta.


Sudjana, Nana. 2005. Evaluasi Pendidika. Tarsito, Bandung.
Sumarna, Cecep, 2008.Revolusi Peradaban, Mencari Tuhan dalam Batang Tubuh
Ilmu. Mulia Press, Bandung.
Surya, Mohammad, 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Pustaka
Bani Quraisyi, Bandung.
Sutrisno Hadi, 1991. Analisis Butir-Butir untuk Instrumen Angket, Tes dan Skala
Nilai dengan Basica. Andi Ofset, Yogyakarta.
Syafarudin dan Irwan Nasution, 2005. Manajemen Pembelajaran. Quantum
Teaching. Jakarta.
Syah, Muhibbin, 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Rosdakarya, Bandung.
Syaiful Sagala, 2005. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat; Strategi
Memenangkan Persaingan Mutu. Nimas Multima, Jakarta.
Syamsuddin, Abin, 2005. Psikologi Kependidikan. Prima Press, Cet Ke 2,
Bandung.
Tohirin, 2008. Psikologi Pembelajaran PAI
Kompetisi). Raja Grafindo Persada, Jakarta.

(Nuansa

Integritas

dan

Usman, Uzer , M., 2002. Menjadi Guru Profesional . Rosdakarya, Bandung.


Uno, Hamzah B., 2008. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran,. Bumi
Aksara, Jakarta.
Winataputra, 2000. Komitmen dan Tanggung Jawab Daerah dalam Upaya
Peningkatan Mutu Pendidikan Seyogyanya Daerah Merespon Tantangan
Desentralisasi Pendidikan . Universitas Terbuka, Jakarta.
Winkel, Ws., 1991. Psikologi Pengajaran. Grasindo, Jakarta.
Wayson, W., 1982. Handbook for Developing School with Good Dicipline. Phi
Delta Kappa, Indiana.

180

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: KHAIRUN NISA

Tempat/ Tanggal Lahir

: Perbaungan, 24 Juni 1975

Alamat

: Jalan Laksana No. 18 A


Kecamatan Perbaungan
Serdang Bedagai- SUMUT

Nama Ayah

: Alm. Adnan

Nama Ibu

: Syarifah Hanum

Nama Suami

: Ahmad Yerri Ramadhan Siregar, ST

Nama Anak

: Syakila Balqis Mumtaza Siregar

Riwayat Pendidikan:
1. SD : SD Swasta Perguruan Setia Budi Perbaungan

Tahun Lulus 1987

2. MTS : MTS Yayasan Sinar Serdang Perbaungan

Tahun Lulus 1990

3. MA : MAS Alwashliyah Perbaungan

Tahun Lulus 1993

4. SI

Tahun Lulus 1998

: - Fakultas Syariah IAIN Medan


- Fakultas Tarbiyah STAI.S Medan

5. S2

: IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Tahun Lulus 2002


Tahun Lulus 2010

Motto Hidup : Optimisme dalam menjalani hidup dan kehidupan